BEHIND THE SHINING STAR III
PART 3
(End Part)
Acara talkshow yang dipandu oleh Sun mendapat sambutan hangat dari public korea. Acara tersebut memang dinilai sarat dengan pendidikan terutama bagi ibu-ibu muda. Rating terus melonjak dan Sun yang juga didaulat menjadi duta dari sponsor tunggal acara ini, Mom & Baby Shop, mulai menampakkan sinar bintangnya kembali, selain itu dia juga bisa menghemat uang untuk membeli perlengkapan bayi karena toko itu mensuplai semua kebutuhan calon bayinya. Hal ini sempat membuahkan protes dari Mino karena apartemen mereka jadi semakin penuh saja, terlebih-lebih Mino memang sudah mempersiapkan semua perlengkapan bayi jauh sebelum toko itu mensuplay.
Sinar Sun semakin terang saat acara itu diambil alih stasiun televisi nasional, sponsor lain terus berdatangan mendukung, honor Sun meroket, dan puncaknya adalah saat kehamilannya masuk sembilan bulan, dia memenangkan penghargaan insan pertelevisian kategori pembawa acara terbaik. Sun menghadiri acara penghargaan itu dengan perut yang sangat buncit walau gaun hitamnya berusaha memberi kesan langsing di tubuhnya. Dia agak kerepotan saat berjalan ke panggung untuk menerima kemenangannya hingga harus dipapah oleh Mino. Berjuta-juta mata menyaksikan kemesraan mereka berdua dengan haru, mereka memuji segala perhatian Mino pada istrinya yang sedang mengandung.
Selepas dari acara, pasangan suami-istri itu pun pulang. Sun masih saja menimang-nimang sayang piala kemenangannya saat mereka di dalam lift, sesekali dia menggerak-gerakkan benda itu di depan Mino. Mino tersenyum melihat tingkah istrinya. Sun memang sedang memamerkan keberhasilan di depannya. Perhatian Mino akhirnya buyar saat HPnya berbunyi,”Yoboseyo?”
Sun agak mencondongkan telinganya, dia juga ingin mendengar percakapan Mino, tapi tak satu pun yang berhasil dia tangkap. Mino terkekeh dibuatnya walau telinganya masih mendengarkan kata-kata di telephon. “Oke, gomawo jika semua telah siap. Besok kami ke sana,” kalimat itu mengakhiri percakapan telephone.
“Mwo? Kami?” tanya Sun heran. Mino tertawa, dia merangkul Sun sementara lift sudah menginjak ke lantai yang mereka tuju,”Ayo segera masuk, Baby.”
Mino segera membuka pintu. Dan….”SURPRISE!!!!” teriakan dari dalam terdengar sangat meriah. Sun terkejut, rupanya Mr. Goo, B-lady, dan Mrs. Lee sudah menyiapkan pesta kejutan untuknya. “Chukae, Sunny!” Mr. Goo mengacungkan jempol ke arahnya.
“Appa…, gomawo, “Sun menghambur ke pelukan ayahnya. Mino jadi ngeri melihat Sun, “Hati-hati, Baby. Kau membuatku jantungan dengan lari-lari seperti itu!” Mr. Goo hanya tertawa dengan tingkah mereka.
“Hai, kau hanya merindukan Appa?” B-lady protes. Sun melepas pelukan ayahnya lalu beralih memeluk B-lady,”Oemma, Bogosipho…”
“Sudah, sudah, sekarang ayo kita makan, jangan sampai masakan itu terlanjur dingin,” sela Mrs. Lee.
“Kacha!” seru Sun bersemangat, dia memang yang paling lapar sekarang ini, janin di perutnya sudah menendang-nendang dari tadi. Sebentar saja mereka sudah duduk mengelilingi meja makan. Tanpa menunggu lama, Sun mulai lahap. “Ini untukmu, Sunny,” Mr. Goo menyodorkan kimchi ke mulut Sun. dan segera dilahap oleh Sun. B-lady mencubit lengan suaminya keras.
“Arch! Apa salahku?” teriak Mr. Goo kesakitan. Semua menoleh ke arahnya.
“Kau pikir Sun masih kecil hingga kau perlakukan seperti itu? Dia istri orang sekarang!” jawab B-lady.
“Bo? Memang apa salahnya, dia masih tetap gadis kecil bagiku,” Mr. Goo masih tidak terima.
“Oemma… , tidak apa-apa, aku senang dimanja Appa.”
Mrs Lee tersenyum,”Mino, kau pasti tidak perhatian pada istrimu hingga dia jadi seperti ini.”
“Mwo?” kali ini Mino jadi gelagapan, emang apa hubungannya coba? Sudah dari sononya Sun selalu manja kalau di depan Ayahnya kok aku yang disalahkan, dalam hati dia protes.
“Appa, Oemma, malam ini menginap di sini, ya? Aku ingin tidur bertiga sama kalian seperti dulu.”
Mino jadi tersedak mendengar permintaan Sun. Susah payah dia melancarkan kerongkongannya dengan air. Tidur bertiga? Yang benar saja? Lalu aku? Aish…!
“Jangan begitu, Sunny. Kau seorang istri sekarang, Sudah pasti kau harus tidur dengan Mino-ssi.”
Tepat sekali jawabanmu, Appa mertua. Aku bisa insomnia jika tidur tanpa istri mungilku. Mino merasa lega.
“Tapi Appa dan Oemma tetap harus menginap, Sun masih rindu.”
“Kabulkan saja permintaannya Tuan Goo. Mungkin Sun memang sangat merindukan kalian,” kali ini Mrs. Lee yang meminta. “Ne,” Mr. Goo mengangguk. Sun meloncat-loncat di kursinya sambil bertepuk tangan. “Baby!” Mino yang kawatir mendelik ke arahnya.
------ > * < ------
Sun terbangun dari tidurnya. Perutnya tiba-tiba melilit. Di sampingnya, Mino terlelap. Sun segera memindahkan tangan Mino dari tubuhnya lalu berjalan menuju kamar mandi. Agak tertatih Sun berjalan, dia agak menegakkan tubuhnya, tangan kirinya menyangga perut sedang tangan kanannya memijat-mijat tulang belakangnya. Entah kenapa serasa ngilu di bagian itu. Sun agak mengaduh saat tendangan kuat dilakukan bayi di dalam kandungannya. Rasa ngilu di bagian punggungnya semakin menjadi saja, seakan mau patah bagian itu. Sun mengatur pernafasannya. Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya. Kedua kakinya semakin gemetaran hingga akhirnya dia bersimpuh di salah satu pojok dinding kamar mandi. Kedua tangannya mengepal kuat-kuat menahan sakit,”Min… Min-a…”pangil Sun lemah. Suara itu terlalu pelan, Mino yang terlalu lelap tidak mendengarnya.
Sun merangkak menggapai botol sabun cair, rasa nyeri semakin melebar di rahim. Dia bisa merasakan kepala bayinya semakin menekan kebawah. Saat botol itu sampai di dekatnya, dia berusaha meraih botol itu tapi malang karena botol beling itu akhirnya jatuh dan menimbulkan bunyi pecahan yang nyaring. Mino terbangun mendengar bunyi benda yang pecah dan setengah sadar dia menuju ke sumber suara.” Baby!!!” pekik Mino.
“Min…, Min… Huft… Huft… dia akan… lahir… huft…”
“Ada apa?” Mr. Goo dan B-lady yang mendengar teriakan Mino menghambur ke kamar mandi. B-lady mendekati putrinya,”Siapkan mobil, Goo!” perintah B-lady. Mr. Goo segera melakukan perintah istrinya. Mino mulai mengangkat tubuh Sun untuk dibawa ke dalam mobil.
“Tunggu..!” cegah Sun diantara sesak nafasnya,”Tas itu…. Tas pink…. Di …. Huft huft…,” Sun menunjuk arah lemari. B-lady segera mengambil tas yang dimaksud. Mino menggendong Sun menuju mobil yang dipersiapkan Mr. Goo di depan gedung apartemen.
Mobil keluarga Goo akhirnya melaju. B-lady duduk di samping suaminya yang sedang mengemudi, melihat ke kursi belakang dengan cemas. Di situ tampak putrinya yang berjuang menahan rasa sakit dan menantunya yang berusaha menenangkan walau tampangnya terlihat panik. Sun menggenggam erat tangan kokoh Mino untuk melawan rasa sakit di sekujur rahim dan pinggangnya, sementara nafasnya tersenggal-senggal, dia berusaha agar tidak mengejan, dia yakin ini belum saatnya. Kepala bayi itu serasa makin mendesak ke bawah saja. Hingga akhirnya darah segar keluar dari rahimnya dan merembes keluar piyama putihnya. Mino semakin panik,” Percepat mobilnya, Aboji!”
B-lady gelisah. Mino mencium kening Sun dalam, “Tahan, Baby. Tahan….”
Mobil itu berhenti di sebuah rumah sakit terdekat. B-Lady segera memanggil suster untuk menolong Sun. Dalam sekejap Sun sudah terbaring di ruang bersalin dan Mino masih setia di sampingnya. Para tenaga medis dengan sigap membuka semua bajunya, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut. Salah seorang suster tampak mengamati bagian bawah tubuhnya. Darah segar sudah mengalir dari rahim Sun. Suster itu terkejut, dia mendekati dokter yang masih memeriksa tanda-tanda vital Sun lalu berbisik,”Pembukaan sempurna, dok.”
Dokter mengangguk. Suster itu kembali ke bagian bawah tubuh Sun, dia membuat sedikit sayatan di situ. Sementara Sun masih sibuk mengatur jalan nafasnya, posisi tangan kanannya masih menggenggam tangan Mino, sesekali dia meremas tangan kokoh itu jika rasa sakit tak tertahankan.
Dokter itu berbisik kepadanya, “Anda sangat cerdas, Nyonya Lee. Sekarang lah saatnya. Ikuti aba-aba saya.”
Mino melongo mendengar ucapan dokter. Sun mengangguk tanda mengerti.
“Tarik nafas.”
Sun menarik nafasnya pelan-pelan.
“Dorong!”
Seiring aba-aba itu, Sun mulai mengejan. Dia mengerang kesakitan dan tangan kanannya semakin meremas telapak tangan Mino. Mino bisa ikut merasakan kesakitan Sun lewat tangannya yang tergenggan erat oleh Sun.
“Jangan menjerit, Nyonya. Itu akan membuat nafasmu pendek!” cegah dokter itu. Sun mengangguk, masih mengatur nafasnya. Mino memejamkan mata, dia tak tega melihat Sun. Baby, berjuanglah, aku mohon selamatkan anak istriku, Tuhan…..
“Baik, kita coba lagi, Tarik nafas…. Dorong !”
Sun mendorong lagi, kali ini tanpa erangan. Diantara tarikan nafas dan dorongan yang dilakukan, Sun mengatur nafasnya. Hal itu dia lakukan terus hingga akhirnya bayi merah berhasil keluar dan tangisnya yang keras memenuhi ruangan. Suster yang bertugas di bawah Sun segera memotong ari-ari bayi itu dan menyerahkannya pada dokter. Sementara suster lain mengambil alih dengan segera membersihkan bagian bawah Sun. Dokter membersihkan tubuh bayi, mengikat tali pusatnya dan meneteskan larutan di mata sang bayi lalu menempatkannya di antara perut dan dada Sun dalam posisi menelungkup.
Sun menangis haru. Kesakitan yang barusan dialami lenyap sudah saat makhluk mungil itu berada di atasnya. Dia bisa merasakan jantung bayinya berdetak, bersahutan dengan detak jantungnya. Mino yang tidak mempercayai pemandangan indah di depannya tertawa bahagia, sementara air mata keluar dari kedua pelupuk matanya. Bayi itu berhenti menangis saat suhu hangat tubuh sang ibu sudah menjalar ke tubuh kecilnya. Dia berusaha mencari puting Sun dengan mulutnya. Kepalanya bergerak-gerak, sementara mulut mungil itu menjilat-jilat dada Sun. Saat bayi mungil itu menemukan puting susu Sun, dia mulai menghisap ASI Sun. Mino terkesima. “Ajaib, bukan?” tanya dokter itu.
“Ne,” jawab Mino. Matanya belum lepas dari sang bayi.
“ASI yang keluar pertama kali banyak mengandung Colustrum yang baik untuk system imun, dan itu hanya didapat sesaat bayi lahir. Dan anehnya bayi yang baru lahir bisa menemukan puting susu ibunya dengan cepat tanpa diarahkan, suhu tubuh ibu adalah penghangat tepat yang bisa menghentikan tangisnya,” jelas dokter itu panjang lebar. “Untuk sementara biarkan dia menyusu, Tuan Lee. Sampai dia melepaskan putingnya.”
Mino mengangguk. Dokter itu menutupkan selimut di dada Sun lalu melanjutkan tugasnya lagi. Mino mencium kening Sun lalu membisikkan doa-doa di telinga bayi mungil itu.
-------- > * < ---------
Pagi ini Sun sudah bisa pulang dari rumah sakit. Sun keluar dari pintu belakang rumah sakit karena press sudah berjejal di depan. Mino bahkan harus memakai mobil baru Kakaknya untuk menjemput Sun. Dia ingin melindungi bayi mungilnya dari paparan press. Putriku bukan bahan konsumsi media, begitu pikirnya. Dia mengendarai mobil itu dengan hati-hati, bukan takut mobil pinjaman itu tergores, tapi ingin membuat dua penumpangnya yang tersayang merasa nyaman di dalam mobil. Pangkuan Sun kini tidak kosong lagi. Di situ putrinya terbaring, dalam balutan selimut pink yang sudah lama dipersiapkan Mino di tas pink dalam almari yang ditunjuk saat merasa mulas. Bayi didekapannya bergerak-gerak. Waktunya menyusu sekarang, tangisan keras pun terdengar. Cepat-cepat Sun membuka kemejanya dan mulai menyusui. Mino yang sedang mengemudi melirik kepadanya. Sun memandangi bayinya, sambil sesekali membelai sayang pipi montoknya,” Min-a, kau sudah mempersiapkan nama untuk putri kita?”
Mino tersenyum, “Tentu, dari dulu aku ingin anak perempuan, dan sudah pasti ku persiapkan nama itu sudah lama.”
“Kenapa tidak mengatakan padaku dari dulu?”
“Kau-nya yang tidak tanya,” Mino mencolek dagu Sun. “Hye Na, namanya Lee Hye Na.”
“Lee Hye Na?”
“Ne. Kau setuju?”
“Tentu, nama itu terdengar manis.” Sun menutupi dadanya dengan syal tipis, Hye Na menyusu di dalamnya. Dia tidak mau konsentrasi mengemudi Mino kabur karena terus meliriknya. Dia mulai menyusuri pemandangan luar dan baru menyadari kalau Mino melewati jalan yang tidak biasanya,”Kita mau ke mana, Min-a?”
“Ikut saja,” kini pandangan Mino sudah lurus lagi ke depan. Mobil itu mulai memasuki kawasan elit baru di luar Seoul. Sun semakin heran, tampak di matanya beberapa rumah mewah yang asri dan Mino menghentikan mobilnya di depan salah satu rumah itu. Mino segera turun dan membukakan pintu di samping Sun,”Turunlah, Baby.”
Sun keluar dari mobil dengan pelan, di gendongannya Hye Na masih menyusu. Sun memandang takjub bangunan di depannya. Sebuah rumah bernuansa hangat dengan halaman yang luas. Rumput di halaman itu sepertinya baru ditanam kemarin sehingga belum merata. Tampak dua bibit pohon palm di kiri kanan jalan masuk rumah itu. Sun memandang wajah Mino dengan penuh tanya.
“Kita masuk sekarang, Baby. Udara luar kurang bagus buat Hye Na.”
Sun mengangguk. Mino memapah Sun untuk memasuki rumah itu. Sun semakin takjub. Matanya yang bulat melebar seketika melihat aksen interior rumah itu yang begitu nyaman dan tampak kekeluargaan, selama di apartemen Mino, dia tidak mendapati aksen itu, yang ada hanya aksen bujangan khas Mino. Sun semakin bertanya-tanya siapa yang memilih warna krem manis buat dinding rumah itu. “Min-a, rumah siapa ini?”
Mino makin menuntun Sun ke ruang keluarga.”Rumah orang-orang dalam foto itu,” Mino menunjuk foto besar yang tergantung di salah satu sisi ruangan itu. Sun melangkah semakin mendekati foto yang dimaksud. Foto pernikahan mereka yang selama ini tergantung di ruang tengah apartemen Mino sudah terpampang di depannya. Sun berbalik ke arah Mino,”De?”
“Ya, ini rumah Kita,” Mino memeluk Sun lembut, takut menggangu Hye Na yang masih menyusu.
“Ceongmal?” Sun bertanya dengan mata berbinar. Mino mengangguk,”Hye Na membutuhkan lingkungan yang bagus dan aku rasa apartemen sudah tidak cocok lagi untuk keluarga kita. Sebenarnya rumah ini sudah siap di hari kau menerima penghargaan, aku berencana menunjukkan padamu keesokan harinya, tapi ternyata Hye Na keburu lahir.”
Sun tersenyum. Dia mulai mengerti maksud perkataan suaminya di lift tempo hari. Mino mencolek dagunya,”Kenapa kau tidak meloncat-loncat, bukankah kau selalu meloncat jika senang?”
“Malu, Min-a,” Sun menunduk dengan wajah semerah tomat,”Aku seorang oemma sekarang.”
“Kenapa musti malu, Sunny!” Mr. Goo muncul tiba-tiba, diikuti B-lady dan Ibu Mino.
“Kalian?” Sun berseru nyaring. Mungkin dia tidak meloncat tapi masih berteriak jika merasa senang.
Mino tersenyum geli. “Sini biar ku gendong dia,” pinta Mrs. Lee, tangannya terbuka menyambut Hye Na.
“Tapi dia sedang menyusu,” Sun membuka syal di dadanya, di dalam rupanya Hye Na sudah tertidur pulas tanpa dia sadari. Akhirnya Sun menyerahkan Hye Na ke tangan ibu mertuanya dan merapikan tampilan kemejanya.
“Ha! Kau gendong dia selagi tidur, nanti waktu bangun giliran aku yang main dengannya,” celoteh Mr. Goo.
“Ah, crewet, kau. Cepat selesaikan masakanmu, jangan sampai gosong,” B-lady menghalau suaminya kembali ke dapur. Mrs. Lee membawa Hye Na ke kamar bayi di samping kamar Mino dan Sun.
“Oemma mau kemana?” tanya Sun pada B-lady.
“Kau tidak lihat pakaian Oemma? Tentu saja berkebun. Oemma akan menanam mawar di halaman belakang, di samping kolam renang. Kalian istirahat saja di kamar!”
Sun cemberut mengantarkan kepergian Oemmanya,”Rumah ini juga punya kolam renang?” tanyanya pada Mino yang masih berdiri di sampingnya.
“Tentu.”
“Tapi kan kau kurang bisa berenang?”
Mino tertawa terbahak,” Sudah pasti aku bisa lebih banyak berlatih jika di rumah ada kolam renang. Ayo kita lihat kamar kita,” ajak Mino. Sun mengangguk. Mino menggandeng tangannya menuju kamar dan Sun semakin terkesima dengan interior di dalam kamar itu. Mino sengaja menampilkan kembali nuansa kamar Sun di Penthouse-nya dulu yang sudah lama ditinggalkan karena pindah ke apartemen Mino. Semua hal di kamar itu mengingatkannya pada penthousenya. Ranjang itu, meja kecil di sisi kanan dan kiri ranjang, lampu knop, sofa di depan ranjang, almari dinding yang besar, wall paper pink serta fitur pintu yang menghubungkan ruangan itu dengan kamar mandi mewah di sebelahnya.
“Kau suka, Baby?” tanya Mino sembari melingkarkan lengannya ke pinggang Sun. Sun mengibaskan tangan Mino dari pinggangnya. “Waeyo?” tanya Mino heran.
“Tunggu program dietku berhasil baru kau boleh melingkarkan lenganmu ke pinggangku.”
Mino ngakak mendengar jawaban Sun. Dia akhirnya memeluk istrinya yang sedang manyun itu,”Kau ada-ada saja, Baby. Aku justru akan melarangmu berdiet, kau masih menyusui, kau harus terus makan makanan yang bergizi.”
“Aku tidak mau tampil jelek di depanmu,” Sun masih saja memprotes. Mino jadi gemas dan akhirnya mencium bibir mungil yang masih manyun itu dengan mesra. Dia mempererat pelukannya kini dagunya berada di atas salah satu pundak Sun,”Kau tetap cantik bagiku, Sunny. Kaulah segalanya bagiku. Sudah ku bilang selamanya ku tak akan melepasmu, Sunny.”
Sun melepaskan diri dari pelukan Mino. “Apa kau bilang tadi?”
“Selamanya tak melepasmu?”
“Kata terakhir?”
“Sunny?”
“Kya! Lee Min Ho… jangan kau panggil aku seperti itu!”
“Aku ingin seperti Appamu yang memanggil Oemmamu dengan panggilan sayang. Masa tetap memanggilmu Cho ding atau Baby di depan Hye Na?” protes Mino panjang lebar.
“Kau boleh memanggilku apa saja, asal jangan Sunny, panggilan itu khusus buat Appa saja.”
“Lalu aku harus memanggilmu apa?”
“Apa saja asal jangan Sunny!” teriak Sun. Mino menutup telinga,”Baik, baik, bagaimana kalau Sunshine?”
Sun mengangguk mantap.”Aku adalah Sunshine bagi Lee Min Hoo. Yiheee!” teriak Sun narsis. Mino ngakak, sekali lagi mereka berpelukan erat. Sementara Mrs. Lee memandangi wajah malaikat Hye Na yang terlelap sambil mendendangkan lagu-lagu dan doa lembut. Mr. Goo masih sibuk dengan masakannya, dan B-Lady mulai menyirami tanah gembur yang sudah mengandung benih mawar yang baru saja dia tanam. Aura kebahagiaan memenuhi suasana rumah itu, juga hati orang-orang di dalamnya. Semoga kedamaian selamanya ada di kehidupan mereka, dan tentu saja bagi kita semua yang membaca kisah ini.
----------THE END----------
Huft! The End juga akhirnya, ini seasone paling gaje yang harus kubuat karena ku berusaha memasukkan tema inisiasi menyusui dini, sekali lagi…..
-----------THE END---------