Author Topic: Overprotective Daddy  (Read 1484 times)

minsunlover

  • Guest
Overprotective Daddy
« on: December 28, 2010, 01:05:21 am »
Overprotective Daddy


Summary :
Goo Jun Di, putri kesayangan Goo Jun Pyo dan Geum Jan Di mengatakan bahwa ia akan pergi untuk melewatkan malam minggu bersama dengan Danny Choi, seorang anak blasteran Korea-Amerika yang dikenalnya ketika mengikuti Youth Summer Camp di USA tahun lalu. Bagaimana Jun Pyo dan Jan Di menghadapi situasi ini?

 


“Eomma, bagaimana penampilanku? Apakah aku terlihat cantik mengenakan baju ini?” tanya Goo Jun Di, gadis cantik manis yang berusia enam belas tahun kepada ibunya, Geum Jan Di yang juga tak kalah cantik darinya. Ia mulai berputar-putar di depan cermin besar yang ada di dalam kamar tidurnya yang super mewah.

Jan Di memandang putrinya tersebut sambil tersenyum simpul. Waktu berlalu dngan sangat cepat. Jun Di yang dulu masih merupakan seorang bayi mungil kini telah menjelma menjadi seorang gadis remaja yang sangat cantik dan menawan.

“Kau sangat cantik, sayang” jawab Jan Di sambil membelai pipi Jun Di.

“Gamsahamni….” Jun Di tidak dapat menyelesaikan kalimatnya karena tepat pada saat itu Goo Jun Pyo, ayahnya yang sangat overprotected terhadapnya menerjang masuk ke dalam kamar bagaikan angin ribut seolah-olah ia baru saja mendapat kabar bahwa group ShinHwa telah bangkrut. Jun Pyo memang sudah uring-uringan sejak Jun Di mengatakan bahwa ia akan pergi keluar malam minggu ini dengan Danny Choi, teman Summer Camp-nya tahun lalu. Dan sifat uring-uringannya ini semakin menggila hari ini. sejak bangun tadi pagi sampai sekarang, Jun Pyo tidak berhentinya mengomel dan mendengus tanpa sebab yang jelas.

Jan Di yang memang sudah paham betul akan sifat suaminya ini hanya bisa diam saja, karena Jun Pyo pasti akan bertambah senewen jika Jan Di menasehatinya untuk tenang.

“Mana bisa aku tenang?!!!” raungnya semalam, ketika Jan Di berbicara kepadanya sebelum mereka tidur. “Putri kecilku akan pergi menghabiskan malam minggunya dengan si….si….si….” Jun Pyo mencoba mengingat-ingat siapa nama orang yang aka pergi dengan putri kecilnya tersebut. “siapa namanya?” tanyanya pada Jan Di dengan tampang yang culun.

“Namanya Danny Choi” kata Jan Di mengingatkannya.

“Ya, itu! Terserah apa namanya…aku tak perduli!” jawab Jun Pyo ketus. Wajahnya sudah mulai kembali menjadi keras dan galak “Memangnya dia pikir siapa dirinya? Berani-beraninya ia mengajak putriku berkencan tanpa minta ijin dulu kepadaku sebagai ayahnya! Memangnya hanya karena ia blasteran Korea-Amerika ia lantas sudah hebat begitu? Belum tahu siapa aku rupanya anak ingusan itu!”

“Jun Pyo, sudahlah…” tutur Jan Di lemah. Ia sebenarnya sudah sangat mengantuk dan juga lelah mendengar ocehan-ocehan tak jelas Jun Pyo tentang acara jalan-jalan malam minggu putri mereka besok sedari tadi pagi. “Jun Di kan hanya pergi jalan-jalan, bukan pergi untuk menikah”

“Justru karena itu! Pernikahan itukan awalnya dari jalan-jalan lalu berlanjut ke kencan kemudian baru menikah, jikalau dari awal saja ia sudah tidak minta ijin padaku, apalagi jikalau nanti menikah? Bisa-bisa putri kita akan dibawa kawin lari olehnya!” ujar Jun Pyo dengan tingkat emosi yang semakin menjadi. “Jikalau dia adalah Choi Siwon aku akan dengan senang hati melepas putriku untuk menghabiskan waktu malam minggunya, tapi ini Danny Choi…” Jun Pyo membuat dengusan panjang yang mencela sebelum melanjutkan perkataannya “Siapa dia??!!”

Jan Di hanya bisa menggelengkan kepala saja. Percuma berdebat dengan Jun Pyo saat kepala dan hatinya sedang panas, maka dari itu ia putuskan untuk tidur saja dan membiarkan Jun Pyo mengoceh-ngoceh sendirian dan melontarkan berbagai macam kutukan seolah-olah ia Harry Potter kepada Danny Choi sampai ia puas.


Dan kini, dihari yang telah ditentukan sebagai jadwal kencan Danny dan Jun Di, Jun Pyo berdiri dengan tegang dan kaku di dalam kamar Jun Di. Ia menatap Jun Di dari atas hingga bawah dengan pandangan yang tidak senang. Dilihatnya pakaian yang sedang dikenakan oleh Jun Di dengan tatapan mata yang penuh dengan kritikan.

“Bajumu itu terlalu terbuka. Tidak pantas dipakai olehmu. Cepat ganti sana!” perintah Jun Pyo.

Jun Di dan Jan Di hanya bisa tertegun mendengarnya, lalu mereka secara bersama-sama melihat kembali atasan kaus berlengan pendek yang berwana putih dan bawahan celana jeans selutut.

“Apanya yang terlalu terbuka, Appa?” Tanya Jun Di keheranan. Ia sendiri padahal sudah menambahkan sebuah syal panjang yang diikatkan ke lehernya.

Jun Pyo menyilangkan kedua tangannya di dada “Pakaianmu itu terlalu memperlihatkan kulit tangan dan kakimu yang putih mulus itu” jelasnya.

“Tapi yang pentingkan aku tidak mengumbar auratku dengan berpakaian seperti ini” protes Jun Di.

“Tetap saja memalukan!” kata Jun Pyo dengan kesal karena diprotes oleh Jun Di.

“Eomma…” Jun Di melihat Jan Di dengan pandangan yang tidak berdaya dan meminta pembelaan.

Jan Di maju selangkah untuk menghadapi suaminya yang keras kepala tersebut. Ia baru saja memulai membuka mulutnya untuk membela putrinya ketika tiba-tiba saja Jun Pyo memotong apa yang ingin ia ucapkan.

“Lalu, mana temanmu itu?” Tanya Jun Pyo pada Jun Di. Tapi ketika Jun Di hendak menjawabnya, Jun Pyo pun segera memotong perkataanya sama seperti yang ia lakukan kepada Jan Di.

“Ia sudah sangat terlambat” dengus Jun Pyo kesal “Datang terlambat berarti ia tidak menghargaimu dan juga keluarga Goo kita ini” Jun Pyo kini memindahkan tangannya di pinggang.

Jun Di hanya mampu kembali melihat kepada eomma-nya untuk meminta dukungan.

“Jun Pyo..” kata Jan Di.

Jun Pyo segera mengangkat tangannya kepada Jan Di sebagai tanda agar ia berhenti berbicara “Jan Di, si Danny Choi ini sebaiknya memiliki alas an yang bagus kenapa ia sampai datang terlambat untuk menjemput putri kita”

“Jun Pyo..” kata Jan Di lagi, tapi kali ini perkataannya pun kembali terpotong oleh Jun Pyo.

“Seperti misalnya tiba-tiba saja ia diserang oleh sekawanan orang jahat yang mematahkan tulang kakinya sehingga ia harus dengan terpaksa menyeret tubuhnya sendiri untuk datang ke rumah ini” ujar Jun Pyo dengan dingin.

“Jun Pyo..”

“Atau ia tiba-tiba ditengah jalan menabrak seseorang dan harus membawanya ke rumah sakit”

“Jun Pyo..”

“Atau justru ia sendiri yang tertabrak oleh orang dan sekarang sedang berada di rumah sakit dan dinyatakan oleh dokter bahwa ia mengalami koma”

“Jun Pyo..”

“Aku sama sekali tidak akan membiarkan seseorang yang sama sekali tidak dapat menghargai ketepatan waktu untuk membawa putriku ini keluar” raung Jun Pyo “Hmm mungkin saja ia saat ini sedang dalam kondisi mabuk sehabis minum-minum atau menggunakan obat terlarang”

“Appa!!” kali ini jeritan marah Jun Di berhasil menyita perhatian Jun Pyo secara utuh. “Danny bukan seorang pemabuk dan pemakai obat-obatan terlarang, Appa. Jadi kumohon janganlah berkata seperti itu tentang dia”

Jun Pyo memalingkan kepalanya untuk melihat putrinya tersebut. Wajahnya tampak semakin kesal saja mendengar pembelaan Jun Di terhadap Danny Choi. Jun Pyo sudah bersiap untuk kembali mencerca Danny dan mematahkan semua pembelaan Jun Di ketika pada saat yang bersamaan terdengarlah bunyi bel pintu depan rumah mereka.

“Itu pasti si Danny Choi yang tidak tahu diri itu!” geram Jun Pyo sembari mengambil langkah seribu untuk menuju ruang tamu diikuti oleh Jan Di dan Jun Di dari belakang. Benar saja, begitu sampai di ruang tamu telah terdapat sesosok pria muda dengan wajah blasteran berpakaian rapih dan menatap Jun Pyo dengan wajah yang malu-malu.

“Tuan Besar, tuan muda ini mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan anda” kata salah seorang pelayan keluarga Goo yang tadi membukakan pintu bagi pria muda tersebut.

“Ya ya ya, aku tahu” jawab Jun Pyo dengan kasar dan tidak sabaran. Ia kemudian memberi tanda agar pelayan tersebut segera kembali bekerja. Segera setelah pelayan tersebut menghilang dari hadapannya, Jun Pyo maju untuk mendekati anak muda itu. Ia berhenti hanya beberapa sentimeter didepannya dan memperhatikan penampilan anak tersebut dari atas sampai bawah dengan sorot mata yang tajam dan penuh selidik seolah-olah anak muda tersebut sedang membawa sebuah bom rakitan didalam tubuhnya.

“So, you must be the infamous Danny Boy” kata Jun Pyo menggunakan bahasa inggris yang ia telah ia latih dengan susah payah di depan cermin besar di kamar mandinya tadi malam karena tidak mau kehilangan muka di depan anak muda tersebut mengingat bahasa Inggris adalah salah satu bahasa yang sampai dengan saat ini pun tidak bisa ia kuasai dengan baik. Ya, memang mengherankan untuk president direktur perusahaan multinasional sekelas ShinHwa, Jun Pyo sama sekali paling tidak bisa jika disuruh berbicara bahasa Inggris.

“I know why you’re here. You’re here for my daughter right?” kata Jun Pyo lagi. Pemuda yang berdiri di hadapannya tersebut kini mengangkat kepalanya dan menatap Jun Pyo dengan keheranan, ia bersiap membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Jun Pyo tapi segera saja dipotong oleh Jun Pyo.

“I wanna let you know few ground rules about dating with the heir of ShinHwa” katanya yang kini mulai berjalan mengitari anak muda tersebut dengan kedua tangannya dilipat di depan dadanya.

“Uhm….Appa” tiba-tiba saja suara Jun Di muncul memecahkan ketegangan diantara kedua orang pria berbeda generasi tersebut.

Jun Pyo melihat sebentar kearah Jun Di dengan pandangan yang tidak senang “Jangan memotong pembicaraan Appa, Jun Di sayang. Appa sedang memberitahukan kepada si Danny boy ini mengenai hal yang pantas dan tidak pantas ia lakukan jikalau ia ingin mengajakmu berkencan”

“Tapi Appa…” potong Jun Di lagi.

Kali ini Jun Pyo benar-benar menghiraukan perkataan putri tercintanya tersebut dan kembali memusatkan pikirannya kepada seseorang yang berdiri gemetaran di hadapannya dan yang telah menjadi mimpi buruknya selama beberapa hari ini.

“First, if you make her sad, I will make you cry!” kata Jun Pyo dengan nada yang tegas.

“Appa…” Kata Jun Di lagi segera setelah ia mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya tersebut kepada tamu mereka itu. Tapi malang nasibnya karena usahanya kali inipun sama sia-sianya dengan usahanya sebelumnya.

“If you break her heart, I will break your bones!”

“Appa…”

“And if you dare to touch her in any way other than a firm handshake, I will definitely kill you”
“Ta…tapi Tu…tuan…” kata anak muda itu gemetaran.

“Ah, ternyata kau bisa berbicara bahasa Korea ya? Bagus….ini lebih mempermudah tugasku untuk menasehatimu” kata Jun Pyo lega karena sebenarnya ia sudah tidak tahu lagi apa yang harus diucapkannya dalam bahasa Inggris.

“Satu hal lagi yang harus kau ingat, aku memiliki banyak mata-mata dimana-mana. Jadi aku akan tahu kemana kau akan mengajak putriku pergi, apa yang sedang kalian lakukan dan juga apa saja yang kau katakan kepadanya. Ah, oh ya…aku juga akan tahu jikalau kau berani memandang daerah-daerah pribadi putriku dengan matamu itu dan bisa kupastikan bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi! MENGERTI???!!!” raung Jun Pyo.

Pemuda tersebut kini benar-benar sudah tidak memiliki keberanian untuk menatap mata Jun Pyo, maka ia hanya menganggukkan kepalanya saja dengan tubuh yang gemetaran dan wajah yang pucat-pasi.

“Appa!” Jun Di yang sudah tidak tahan lagi akan tindakan Appa-nya yang semena-menda tersebut akhirnya kini maju untuk mendekati Jun Pyo dengan tatapan mata yang penuh dengan kemarahan.

“Ada apalagi sih Jun Di? Apa kau tidak lihat bahwa Appa-mu ini sedang bercakap-cakap sedikit dengan Danny?” Tanya Jun Pyo begitu ia melihat putrinya datang mendekat.

“Dia.Bukan.Danny.Appa” kata Jun Di geram sambil member penekanan pada setiap suku kata yang ia ucapkan.

Jun Pyo tampak sangat terkejut mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Jun Di. Pandangannya kini jatuh kepada Jun Di, kemudian beralih kepada istri-nya Jan Di, lalu kepada anak muda yang menunduk dan gemetaran dihadapannya lalu kembali lagi kepada Jun Di “Dia bukan Danny?”

“Bukan!” jawab Jun Di sambil menggelengkan kepalanya.

“Lalu siapa kau?” kini Jun Pyo berpaling kearah pemuda tersebut dengan wajah yang penuh kecurigaan “Apa kau mata-mata dari si Danny Choi itu untuk mengintai rumah kami?”

“Na…nama saya D-De-Dennis O’Neil tu-tu-tuan Goo J—Jun Pyo” jawab pemuda tersebut sambil terbata-bata “Saya datang kemari karena disuruh oleh ayah saya, Richard O’Neil pemilik O’Neil Oil Industry, untuk mengantarkan undangan makan malam sekalian ingin berkenalan dan menjalin kerjasama dengan perusahaan anda” terangnya sambil menyerahkan sebuah amplop kuning besar kepada Jun Pyo.

Jun Pyo menerima amplop tersebut dengan gerakan yang sangat kaku, ia merasa sangat malu atas apa yang baru saja ia lakukan kepada anak muda tersebut.

“Oh….baiklah kalau begitu. Katakan kepada ayahmu bahwa saya akan dengan sangat senang hati menghadiri acara tersebut” jawab Jun Pyo.

“Baiklah….kalau begitu saya permisi dulu tuan Goo Jun Pyo” kata Dennis sambil melangkah meninggalkan ruangan dimana Goo Jun Pyo bersama istri dan anaknya berdiri mematung tersebut.

“Eh, tunggu sebentar….” Panggil Jun Pyo sebelum Dennis benar-benar meninggalkan mereka. Dennis memutar badannya yang sudah hampir mencapai pintu untuk kembali menatap Jun Pyo.

“Eerr, aku ingin meminta maaf atas semua ucapanku tadi kepadamu…” kata Jun Pyo.

Entah karena ia masih shock menerima perlakuan Jun Pyo yang begitu bersahabat tadi atau karena ia takut kepada Jun Pyo yang dalam pandangannya adalah orang super galak, Dennis tidak berani menjawab. Ia hanya menganggukan kepala sambil sedikit tersenyum sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Goo Mansion yang luas dan mewah tersebut.

Bersamaan dengan keluarnya Dennis, masuklah seorang gadis berpostur tinggi dengan rambut yang pendek menyerupai laki-laki .  Senyuman manis terpampang diwajahnya yang campuran timur dan barat. Segera setelah anak perempuan itu masuk, Jun Di langsung berteriak kegirangan.

“DANNY!!!” jeritnya penuh sukacita sambil berlari kearah gadis itu dan memberikan pelukan yang sangat kuat.

“Danny?” Tanya Jun Pyo keheranan.

“Hallo Danny, senang bisa bertemu denganmu” sapa Jan Di ramah. Ia maju untuk menghampiri tamu putrinya tersebut sambil tersenyum keibuan dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Danny.

“Danny?” ulang Jun Pyo masih dengan tingkat keheranan yang sama seperti sebelumnya.

“Senang bertemu dengan anda, Nyonya Goo. Jun Di sudah sering bercerita mengenai anda” tutur Danny sambil menyalami Jan Di dengan sopan dan ramah.

“Danny?”

Danny kini memandang kea rah Jun Pyo dengan takut-takut dan malu-malu. “Halo, apa kabar Tuan Goo Jun Pyo?” sapanya.

Jun Pyo tidak sanggup berkata-kata. Ia hanya berdiri dalam diam sambil memandang anak perempuan yang berdiri dihadapannya. Ini semua sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Danny adalah seorang wanita?

“Appa, perkenalkan ini Daniella Choi” ujar Jun Di kepada Appa-nya yang masih keheranan.

“Danny itu perempuan?” kata Jun Pyo segera setelah ia pulih dari keterkejutannya.

“Ya, memang” jawab Jun Di santai.

“Tapi, namanya Danny” kata Jun Pyo lagi.

“Itu nama panggilannya, Appa. Singkatan dari nama Daniela” terang Jun Di.

“Lalu kenapa kau tidak memberitahukan kepada Appa bahwa Danny adalah seorang perempuan?”

“Itukan karena Appa sama sekali tidak memberikanku kesempatan kepada Appa untuk menjelaskan semuanya. Appa sudah langsung marah-marah saja sejak aku mengatakan akan pergi jalan-jalan dengan Danny hari ini” jelas Jun Di.

Jun Pyo kini maju selangkah untuk mendekati Danny. Ia mengamati baik-baik wajah Danny “Kau seorang perempuan?” tanyanya penuh selidik.

“Ya, Tuan. Perempuan tulen sejak saya lahir” Jawab Danny sambil tersenyum.

Segera saja setelah mendengar jawaban dari Danny tersebut, Jun Pyo memutar tubuhnya untuk menghadapi Jun Di “Kau akan berkencan dengan seorang perempuan??!!” raungnya.

“APPA!!!” teriak Jun Di marah “Siapa yang akan pergi berkencan sih? Kan sudah aku bilang bahwa aku hanya akan pergi jalan-jalan saja”

“Ooo…jadi kau tidak pergi berkencan?” Tanya Jun Pyo kembali untuk lebih meyakinkan.

“Iya Appa. Lagipula darimana sih Appa mendapat pikiran bahwa aku akan pergi berkencan?” Tanya Jun Di.

“Yaaa, karena kau bilang kau akan pergi jalan-jalan dengan orang yang bernama Danny pada malam minggu nanti, makanya Appa pikir kau akan pergi berkencan karena tadinya Appa mengira bahwa Danny itu adalah seorang laki-laki” jawab Jun Pyo lemah karena malu akan kebodohannya sendiri.

Jun Di tidak menjawab. Ia hanya menghela napas sambil memutar kedua bola matanya. Appa-nya ini memang selalu mengambil kesimpulan yang salah kalau sifat overprotective-nya sudah keluar.

“Ah sudahlah, kalian berdua cepatlah pergi. Hari sepertinya akan hujan, kan tidak enak kalau kalian jalan-jalan sambil kehujanan” ujar Jan Di mencoba mencairkan ketegangan yang terjadi.

Wajah Jun DI kembali ceria. Ia tersenyum riang kepada Eomma-nya. “Baiklah eomma. Kami akan segera pergi” ujarnya sembari berlari keatas menuju kamarnya untuk mengambil jaket dan tas-nya.

“Kami pergi dulu,Appa” pamit Jun Di kepada Jun Pyo ketika ia telah bersiap untuk meninggalkan rumah. “Jangan kuatir, aku akan pulang sebelum pukul sepuluh malam dan aku berjanji tidak akan pergi ke tempat-tempat yang tidak pantas dikunjungi oleh anak gadis seusiaku” janji Jun Di.

Jun Pyo memandang wajah putri kecilnya tersebut. Dapat ia lihat bahwa Jun Di senang sekali dapat bertemu kembali dengan sahabat dekatnya ketika summer camp tahun lalu itu. Ia memang telah bertindak bodoh dengan bersifat seperti yang telah ia tunjukkan tadi. Tapi itu semua ia lakukan karena ia begitu menyayangi Jun Di dan begitu mengkhawatirkan keadaannya.

“Hati-hati” ujarnya singkat kepada Jun Di sambil menganggukan kepalanya sedikit.

“Kami permisi dulu Tuan dan Nyonya Goo” pamit Danny kepada Jan Di dan Jun Pyo.

“Bersenang-senanglah kalian berdua” kata Jan Di dengan nada yang riang sambil melambaikan tangannya kepada kedua orang remaja putri yang baru saja keluar melewati pintu ruang tamunya yang besar itu.

Segera setelah Jun Di dan Danny pergi, Jan Di memberikan Jun Pyo sebuah pandangan yang mematikan. “Kuharap kau mau belajar kelakuan burukmu hari ini, Goo Jun Pyo. Semua ini tidak akan terjadi jikalau saja kau bisa bersikap sedikit lebih tenang sejak awal dan mengijinkan putrimu untuk memberikan penjelasan mengenai siapa sebenarnya Danny itu dan apa yang akan mereka berdua lakukan hari ini”

Jun Pyo hanya bisa diam. Ia tidak berani membantah perkataan istrinya tersebut karena ia tahu bahwa ia memang telah salah karena telah begitu overprotective kepada Jun Di tanpa mau mendengarkan apa yang akan ia jelaskan tentang acara jalan-jalannya bersama dengan Danny hari ini.

“Jan Di-aa” kata Jun Pyo dengan nada yang memelas dan manja. Ditatapnya Jan Di dengan tatapan seperti seekor anak anjing yang hilang dan habis saja terguyur hujan dan basah kuyup.

“Jangan bermanja-manja denganku sekarang, Goo Jun Pyo!” bentak Jan Di. Jun Pyo langsung terkseiap melihat sikap tegas yang diberikan oleh istri tercintanya btersebut. Ia tahu Jan Di pasti masih marah akan kelakuannya tadi.

“Aku berjanji lain kali tidak akan bersikap seperti anak kecil lagi, Jan Di-aa. Aku juga tidak akan lagi terlalu overprotective kepada Jun Di” janji Jun Pyo masih dengan nada dan pandangan memelas yang sama seperti sebelumnya.

Jan Di memandang Jun Pyo untuk melihat sejauh mana ia benar-benar menyesal atas apa yang telah terjadi. Walaupun Jun Pyo kali ini tampak benar-benar menyesal, tapi Jan Di tahu bahwa sifat overprotective-nya terhadap Jun Di tidak akan mungkin hilang begitu saja. Jun Di adalah putri tunggal mereka dan Jun Pyo teramat sangat mencintainya….kaena itulah Jan Di bermaksud untuk menguji ucapan Jun Pyo itu.

“Baiklah. Kuharap kejadia ini tidak akan terulang lagi minggu depan” kata Jan Di.

“Minggu depan?” Tanya Jun Pyo penuh curiga “Memangnya ada apa minggu depan?”

“Jun Di akan pergi berkencan dengan seorag actor muda tampan yang saat ini sendang naik daun, namanya Lee Min Ho” jawab Jan Di.

“APA??????!!!!!!” teriak Jun Pyo memekakan telinga. “ANDHWE!!! POKOKNYA TIDAK BOLEH!!!!” ujar Jun Pyo kalang kabut, ia lantas menelepon sekretaris pribadinya untuk meminta bantuan mencari data-data tentang Lee Min Ho.

Jan Di hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja sembari menghela napas. Jun Pyo memang tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Dulu pada saat mereka berdua masih berpacaran ia adalah seorang pacar yang overprotective kepadanya. Kini setelah menjadi seorang ayah, ia adalah seorang ayah yang sangat overprotective kepada anaknya sendiri.


TAMAT

Share on Bluesky Share on Facebook


Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: Overprotective Daddy
« Reply #1 on: December 28, 2010, 03:32:36 am »
dasar Goo Jun Pyo , sifat Overprotective nya kgk pernah berubah, dr waktu jadi pacar jan di eh sekrg anaknya sendiri mengalami nasib yg sama dgn jan Di, ckckkkkkkk, kyknya Jun Pyo emang kgk akan rela kalo jun di aka replika jan di di kecengin ama namja2 keren and tajir [hmpfh] [hmpfh] mungkin pengecualian kalo pasangan Jun di itu anaknya Ji Hoo [hmpfh] [hmpfh]

Short story nya oks nich Nath, i like it [clap] [clap]
BTW, Nath, oh my dear kapan up date I Never Forget you dah mo taon baru ni say, up date dunks up date!!!!



    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: Overprotective Daddy
« Reply #2 on: December 28, 2010, 11:22:11 pm »
hahaha, lee min ho kencan ma jun di, bisa digetok para minsun ntar.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Chainezz_Vian

  • Guest
Re: Overprotective Daddy
« Reply #3 on: December 29, 2010, 08:29:19 am »
Hai sist [bye] 
haha, aQ suka bnget sist sama inti ff nya. Lucu sist [laughing]   
 
apa lagii, pas ketauan klo jp slh org. . .
Good story sist [clap] [clap]   
   
d tunggu sist karya km yg slanjutnya. Semangat!! [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline Heethi

  • Newbie
  • *
  • Posts: 75
  • annyong...
    • View Profile
Re: Overprotective Daddy
« Reply #4 on: December 29, 2010, 08:59:57 pm »
keren... keren...
makin lama penghuni cm makin kreatif ya...
cool banget...

aku suka ceritanya, tapi masih gak bisa bayangin itu beneran (meskipun di dalam hati pengennya beneran).. :)

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: Overprotective Daddy
« Reply #5 on: December 30, 2010, 02:36:11 am »
naaaaaaaaaaattttttttttttttttttt *peyuk2 nat* [hug] [hug] [hug] [hug] kereeeennnnnnn [lovestruck] [lovestruck] si jp ye emang kebangetan overprotectivenye ckckck bs stres tu si jundi kalo lama2 digituin trs [hmpfh] [laughing] untungnya jandi punya stok sabar yg banyak ye [hmff] [hmff]


ADAM COUPLE SELCA

gwendolyn

  • Guest
Re: Overprotective Daddy
« Reply #6 on: December 30, 2010, 06:45:37 am »
mntph bgt ff ny sist..................
gumawo Emoticons0427 Emoticons0427 Emoticons0427

minsunlover

  • Guest
Re: Overprotective Daddy
« Reply #7 on: December 31, 2010, 12:04:25 am »
@All : Wah, sorry sorry kelamaan reply-nya...lagi jarang main ke CM coz lagi seneng berkicau hehehehe
Anyway, thanks a lot sistas *big hug to you all*