CallMinsun
Welcome,
Guest
. Please
login
or
register
.
1 Hour
1 Day
1 Week
1 Month
Forever
Login with username, password and session length
News:
Home
Search
Calendar
Login
Register
CallMinsun
»
FANFIC
»
Short Fanfic
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
KRISAN update 23 april
« previous
next »
Print
Pages:
1
[
2
]
3
Go Down
Author
Topic: KRISAN update 23 april (Read 2960 times)
moow
Senior
Posts: 854
Re: KRISAN
«
Reply #15
on:
January 05, 2011, 08:57:09 am »
blom launching udah hiatus???
ckckck.......
Logged
Love you more than I can say
Diamond of Minsun
Senior
Posts: 714
Your smile make me cool..Your love around me,,
Re: KRISAN
«
Reply #16
on:
January 06, 2011, 12:41:11 am »
Kyaaa..
Ada ff baru..
Yg laen pd hiatus tuh..gmn ni jg hiatus??
Logged
From the bottom of my heart,,
i wish you here with me ever and forever..
Become a real couple..
Aza aza hwaiting!!!
itaraya
Senior
Posts: 722
~can' t take my eyes off you~
Re: KRISAN
«
Reply #17
on:
January 07, 2011, 07:09:48 am »
maknya balita iblis ff lo ini kapan di launching..
selingkuh ama ah in mulu sih jadi gak konsenkan
btw ini sad ending juga kah
Logged
saggy credit to mami love
voldi
Hero
Posts: 1051
Location: Indonesia
Re: KRISAN
«
Reply #18
on:
January 07, 2011, 09:42:30 am »
Mak iblis balita?
berarti ah in bokap iblis balita dong?
wah parah nih, masa gw dibilang alien, suer diajak kawin ah in oppa deh, gw manusia tulen. Alasan dibalik pembuatan ff ini (ehm!) ya karena gw liat kebanyakan ff minsun hanya dgn genre romance, humor, drama, hurt/comfort, dan horror. Gw pengn yg beda, makanya gw coba genre fantasy untuk fict vampire, dan adventure untk fic ini, jadi bukan karena gw alien ya.
Ita, iya nih, ah in oppa pengen 'itu' mulu, rujakan maksudnya
Logged
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME
itaraya
Senior
Posts: 722
~can' t take my eyes off you~
Re: KRISAN
«
Reply #19
on:
January 07, 2011, 10:42:07 am »
kan lo sendiri yang biikin image si balita iblis so terima nasib*peluk2 ayank ah in*
btw ff ini yg hyesun hamdan ama minong*lirik2 sms voldi*
Logged
saggy credit to mami love
lee sun ho
Full
Posts: 265
onnie you're so pretty
Re: KRISAN
«
Reply #20
on:
January 07, 2011, 12:10:23 pm »
Anyong smua'y...lam knl y aku newbie dsni....eh sbnr'y g sih...slma nie jd SR(g d yg nnya)wah...sist FF'y mkin byk z y...jd sng deh(lebay mood on)
Logged
MinSun....''I will always love Them''
forever and ever
itaraya
Senior
Posts: 722
~can' t take my eyes off you~
Re: KRISAN
«
Reply #21
on:
January 07, 2011, 09:50:26 pm »
anyong lee sun ho welcome to cm sista, rajin2 koment ya
yup voldi ff banyak but jarang di update lg sbk selingku jd ffnya di hiatus-in semua *peyuk2 mino n' ah in*
Logged
saggy credit to mami love
Shanty_minsun
Hero
Posts: 2262
Re: KRISAN
«
Reply #22
on:
January 08, 2011, 01:45:13 am »
VOLDI, ni kapan mo diluncurkan say, ane pantengin nich kavling lom di up date2 juga
Ayo Vol!! semangat ya dear
Logged
#Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho
sisicia
Hero
Posts: 1974
My Lovely Sunny
Re: KRISAN
«
Reply #23
on:
January 08, 2011, 04:16:07 am »
voldy lg ngajak rujakan mino ma ah in, tau tuh maksudnya apa.
Logged
Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya
voldi
Hero
Posts: 1051
Location: Indonesia
Re: KRISAN
«
Reply #24
on:
January 09, 2011, 05:41:39 pm »
hai, lee sun ho, welcome.
Ita, lu yg mulai manggil gw mak iblis balita
Logged
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME
Diamond of Minsun
Senior
Posts: 714
Your smile make me cool..Your love around me,,
Re: KRISAN
«
Reply #25
on:
January 26, 2011, 02:52:50 am »
Sist voldi update dunk,,,
update,,
update,,
update,,
update,,
update,,
update,,
update,,
update,,
update,,
Logged
From the bottom of my heart,,
i wish you here with me ever and forever..
Become a real couple..
Aza aza hwaiting!!!
voldi
Hero
Posts: 1051
Location: Indonesia
Re: KRISAN
«
Reply #26
on:
April 22, 2011, 06:19:28 pm »
Gadis itu berdiri di atas lengkung jembatan. Semilir angin berhembus menyibakkan rambut coklatnya yang panjang. Ia menatap dan meneliti refleksi dirinya sendiri pada kolam di bawah yang penuh akan lili air tersebut. Wajah ayu itu kini begitu tirus dan hampa. Tak ada senyum yang menghiasi bibirnya layaknya kebanyakan anak kecil pada umumnya.
Ia tidak senang berada di sini. Ia ingin keluar dari sini, mencari kebahagiaan yang selama ini tidak didapatkannya di dalam tempat ini. Tapi bagaimana bisa? Tak ada aturan yang boleh dilanggar di rumah ini—dan semua aturan tersebut bersifat mengekang dan merugikan satu pihak; dirinya. Semua aturan tersebut membuatnya menjadi anak yang antisosial, serta tidak memiliki kegiatan lain selain sekolah di rumah, mengurung diri di kamar dan menggambar.
Namun kemudian, ia mendengar suara. Ia menoleh. Sebuah bola baru saja menggelinding masuk ke halaman rumahnya. Dengan penuh rasa penasaran, ia berjalan mendekati bola tersebut dan mengambilnya. Bola itu masih terlihat baru, meski sesungguhnya cipratan lumpur sudah menodai permukaannya.
Ia mendengar suara lagi setelah itu, dan ketika ia menengadah, mendadak seluruh anggota tubuhnya berhenti berkoordinasi.
Ia kaget dan ketakutan melihat seorang anak laki-laki seumurannya baru saja berhasil melompati pagar rumahnya dan kini berpijak pada rumput halaman rumah yang bukan teritorinya. Anehnya, anak laki-laki itu tampak santai-santai saja, meski seharusnya ia tahu bahwasannya tiada satupun orang yang dapat masuk tanpa seizin tuan rumah. Ia juga tampak tidak mempertimbangkan kalau-kalau anjing penjaga berlari menerkamnya tepat sebelum ia berhasil memijakkan kaki—ia beruntung. Tampaknya anjing-anjing galak itu sedang dikurung dalam kandang.
Sejenak, mata kedua anak itu saling beradu. Anak laki-laki itu menatap sang anak perempuan dengan tatapan bingung. Sementara itu, si gadis masih terdiam kaku. Kini, tubuhnya mulai bergetar. Ia makin takut jikalau anak laki-laki di hadapannya akan berbuat hal yang tidak baik kepadanya.
Kini, ia berharap anjing-anjing galak itu berada di sini, menggigit pakaian anak laki-laki di hadapannya sampai habis.
Anak laki-laki itu menaruh kaki kanannya di depan, membuat si anak perempuan menaruh kaki kirinya di belakang. Semakin anak laki-laki itu maju, semakin menjauhlah si anak perempuan tersebut. Namun kakinya yang pendek membuat si anak perempuan kalah langkah. Anak laki-laki itu berhasil mendekatinya dan kini tubuh anak perempuan itu benar-benar membeku tatkala bocah di hadapannya tinggal berjarak sepuluh sentimeter darinya.
"Hei," sapa si laki-laki itu. "Kau anak dari pengusaha kaya itu, kan?"
Sang gadis tak berani membuka mulut untuk menjawab.
"Itu bolaku. Aku mau mengambilnya," lanjut si anak laki-laki.
Sang gadis pun akhirnya mencoba mengendalikan tubuhnya. Ia mengembalikan bola yang sedari tadi dipeluknya kepada anak yang mengaku sebagai pemiliknya tersebut.
"Terima kasih," senyum si anak laki-laki itu. "Oh, ya. Mengapa aku tak pernah melihatmu bermain di luar bersama dengan yang lain?"
Si gadis hanya bisa menggigit bibir. Perlukah ia menjelaskan alasannya? Apakah peach dress, pita rambut, kaus kaki selutut serta sepatu hitam mengkilap yang dikenakannya tidak cukup untuk membuatnya paham?
"Hei, tak usah takut begitu," cepat-cepat si anak laki-laki berujar. "Ayo, ikut saja bermain bersamaku dan adikku. Kau pernah bermain bola? Asyik, lho."
Gadis itu terdiam. Kali ini, ia mencoba untuk berbicara sepatah kata. Namun tatkala ia membuka mulutnya, ia menunda untuk berucap karena melihat uluran tangan dari anak laki-laki di hadapannya. Dengan ragu, ia melihat tangan itu, lalu kepada anak laki-laki itu. Ia melihat tangan itu lagi, anak laki-laki itu lagi, tangan, anak laki-laki, sampai akhirnya ia terfokus kepada tangan itu.
Saat itu juga, ingatannya tentang semua aturan yang berlaku di rumah itu buyar. Dengan disertai sebuah senyum kecil, ia mengenggam tangan anak laki-laki itu dan untuk pertama kalinya, ia berhasil melompat pagar keluar dari penjara hidupnya.
KRISAN by voldi
INCEPTION by christoper nolan
[/size][/color]
"Min Ho."
Pemuda itu menoleh mendengar namanya dipanggil. Terlihat Jung Il Woo, partnernya sejak dahulu kala, berjalan mendekati dirinya yang sedang berbenah barang-barang. Tanpa menoleh, Min Ho tahu wajah Il Woo pasti sedang dalam strata hampir-tidak-senang, sebab aura yang dikeluarkannya serta nada bicaranya menyiratkan sesuatu.
"Mana Hye Sun?" tanya Il Woo, sesuai dengan apa yang diperkirakan oleh Min Ho. "Ini sudah sore dan harusnya kuliahnya sudah selesai."
"Kau tidak mengontak ayahmu?" Min Ho menanggapi pertanyaan Il Woo dengan santai. Sudah lama ia berada di samping Il Woo, jadi ia sudah kenal baik sifatnya. Dan ia rasa, sifatnya yang satu ini tak perlu dianggap sebagai sesuatu yang tidak biasa.
"Ia tidak mengangkatnya," Il Woo mengangkat bahu. "Mungkin sibuk dengan murid-muridnya tersayang...entahlah. Atau mungkin ia turut memberikan pelajaran tambahan pada seluruh muridnya—termasuk Hye Sun?"
Min Ho terkekeh.
"Sudahlah. Coba kau susul Hye Sun ke kampusnya. Mungkin saja sebenarnya kuliahnya sudah selesai sejak tadi. Mungkin ia menghabiskan waktu dengan teman-temannya atau mencari mahasiswa ganteng."
"Ck," decak Min Ho, tidak menganggap serius segala pernyataan Il Woo barusan. Tangannya masih sibuk membereskan barang-barang di meja.
"Aku serius, Min Ho—cepat susul dia," ujar Il Woo, kini berkacak pinggang. "Ada proyek penting yang harus kita bicarakan secepatnya. Lagipula, memangnya kau tidak mau mengecek keadaan kekasihmu itu?"
Il Woo menghela napas. "Aku khawatir sejak ia pulang dari Jeju—kampung halamannya—dua minggu yang lalu. Ada yang berubah dengan dirinya. Ia jadi sedikit...pemurung, kau tahu? Apa kau tidak menyadarinya?"
Min Ho tidak segera menanggapinya, dan itu membuat Il Woo merasa gemas.
"Hei, apakah kau tidak khawatir kalau dia direbut oleh mahasiswa muda yang keren dan muda?" tanya Il Woo memancing.
Min Ho masih tidak merespon. Tetapi ketika meja telah rapi, ia mengambil kunci mobil dan mengambil jasnya, menyampirkannya di bahu sebelum akhirnya berbalik. Tatkala ia melintas di samping, ia sengaja menyenggol bahu sahabatnya.
"Untuk perhatian, dia bukan pacarku," kata Min Ho dengan sebuah seringai nakal di bibirnya.
.
.
Waktu sudah menunjukkan satu jam sejak kuliah selesai, namun pelataran gedung kampus itu masih ramai akan muda-mudi yang merupakan pelajar di universitas tersebut. Kebanyakan dari mereka bercengkrama, bernyanyi bersama, bermain papan luncur, atau bahkan kegiatan yang paling langka terlihat di sana; membaca buku pelajaran.
Hye Sun bukan termasuk golongan orang-orang kutu buku tersebut. Ia lebih memilih mengobrol bersama teman-teman perempuannya, menggosipkan topik yang sedang hangat atau saling melontarkan lelucon pengundang tawa. Menghabiskan waktu sore seperti ini memang begitu menyenangkan. Sudah jarang sekali ia mendapatkan waktu-waktu seperti ini, dan ia merindukannya. Sejak beberapa bulan yang lalu, ia disibukkan dengan berbagai proyek seorang pria bernama Jung Il Woo; anak tiri dari profesornya di universitas, Miles. Prof. Miles meminta Hye Sun untuk menjadi partner kerja Il Woo, dan Hye Sun menyanggupinya. Pekerjaan itu memang menantang, tapi ia tak begitu menyangka ia harus mengorbankan waktunya bersama teman-temannya. Bosan dengan menuruti aturan Il Woo, maka mulai dua minggu yang lalu—tepat setelah kepulangannya dari rumah orang tuanya di Jeju, ia mulai melakukan sedikit pemberontakkan dengan selalu terlambat mengikuti rapat. Tentu saja Il Woo langsung memberikan "kuliah tambahan" kepadanya setibanya Hye Sun di markas. Hari ini pun pasti Il Woo akan mengomel lagi.
Tetapi, sebelum Il Woo mengomelinya, pria itu pasti akan melakukan sesuatu terlebih dahulu. Il Woo akan mengirim Min Ho untuk menjemputnya, dan Hye Sun benci akan hal itu, sebab ia tidak bisa mengatakan "tidak" jikalau urusannya sudah bersama Min Ho.
Lucunya, ia sendiri juga tidak tahu mengapa ia tidak bisa berkata "tidak" kepada pemuda itu, meski ia sudah memaksa diri sampai limitnya.
Hye Sun yakin Il Woo sudah mengirim Min Ho untuk menjemputnya. Tidak, lebih tepatnya, Hye Sun yakin bahwasannya Min Ho sudah sampai di kampusnya. Itu terbukti dari suara decitan rem serta deru mesin yang baru saja berhenti. Jaraknya mungkin hanya sekitar sepuluh meter dari tempat dimana Hye Sun berdiri. Setengah mati Hye Sun berusaha untuk tidak menggubris kedatangan Min Ho dan berharap bahwa teman-temannya tak ada yang memperhatikan—
"Hei, Hye Sun. Tampaknya pacarmu sudah menjemput."
—tapi bagaimana caranya kau mengacuhkan seorang pemuda dengan senyum menawan yang bersandar pada pintu Porsche peraknya?
Hye Sun menghela napas pasrah, kemudian menengadah melihat wajah teman-temannya yang tampak sangat menggebu-gebu melihat pemuda yang memarkirkan mobil mewahnya di pinggir jalan. Well, memang sudah berkali-kali teman-teman Hye Sun melontarkan perasaan mereka tentang Min Ho kepada Hye Sun. Pada akhirnya, semua pertanyaan berinti, "Aku iri padamu karena kau bisa mendapatkan pacar seorang konglomerat yang tampan."
Ia menoleh ke belakang. Min Ho sedang melihat ke arah lain. Tapi tampaknya ia menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan—oleh Hye Sun, sehingga kini ia menengok kepada Hye Sun. Sejurus kemudian, sebuah senyum terkembang di bibirnya—Hye Sun yakin teman-teman di belakangnya sudah hampir pingsan.
"Well, kawan-kawan. Aku harus pergi dahulu," ucapnya setelah kembali berbalik kepada teman-temannya. "Sampai jumpa." Ia pun melambai sembari melangkah meninggalkan kawan-kawannya. Sengaja ia melambatkan langkahnya. Tapi toh, pada akhirnya, ia memang harus berhadapan dengan Min Ho.
Ekspresi Min Ho masih sama; senyum itu masih terkembang di bibirnya. Ia membukakan pintu untuk Hye Sun dan menutupnya setelah gadis itu masuk ke dalam. Barulah ia masuk dan mengendarai mobil tersebut kembali ke jalan raya.
Hye Sun tidak pernah merasa nyaman setiap kali ia berada bersama Min Ho berdua saja dalam suatu tempat. Apalagi di mobil ini. Ia tidak suka bagaimana setiap orang memberikan pandangan aneh kepada mereka. Ia juga tidak suka karena Min Ho selalu saja menyetel lagu-lagu klasik yang membosankan, seperti yang dilakukannya sekarang ini.
"Apakah kau tidak punya musik lain? Rihanna, Eminem, atau apalah?" Itulah yang selalu dilontarkan oleh Hye Sun. Namun sialnya, setiap diprotes seperti itu, Min Ho malah mengencangkan volume suara musik itu dan hanya memberikan senyum itu.
Ya, hal lain yang tidak disukai Hye Sun dari Min Ho adalah senyumnya. Senyum yang selalu dikembangkan Min Ho pada bibir kecilnya. Entah mengapa, bagi Hye Sun, ada sebuah sisi sarkastik di balik setiap senyum yang diberikan Min Ho padanya, dan Hye Sun tahu kebanyakan dari setiap senyum itu menjadi pertanda bahwa pemuda itu sedang menggodanya.
Tanpa sadar, mobil sport itu memasuki garasi markas mereka. Kim Bum—salah satu anggota kelompok mereka—membantu menutupkan pintu garasi segera setelah mobil masuk. Tatkala Hye Sun turun, ia langsung dapat melihat Il Woo di ujung ruangan, sedang melipat tangan tanda tak senang. Hye Sun berusaha untuk menghiraukannya dan duduk pada salah satu kursi yang melingkari Il Woo—si pemimpin yang berdiri di tengah.
"Sebab arsitek kita sudah datang, kurasa kita bisa memulai rapatnya," ucap Il Woo membuka rapat kecil itu. "Hyung Joong mau kita melakukan sebuah insepsi
(1)
lagi kepada pesaing bisnisnya."
"Heh," Geun Suk, si ahli menyamar, menyeringai kepada Hyung Joong yang berdiri di belakang Il Woo, bersandar pada meja sambil bersedekap. "Masih belum cukup puas kau merusak kesuksesan orang?"
Hyung Joong tidak bereaksi apa-apa—wajahnya masih tetap dingin. Kemudian, ia maju mendekati Il Woo. Bersamaan dengan itu, Il Woo memutar papan tulis yang ada di sebelahnya. Permukaan papan yang kini menghadap kepada para peserta rapat menampakkan beberapa foto dari seorang pria bertuksedo dengan tampang seorang businessman yang sukses.
"Namanya James Gibbs," ucap Hyung Joong. "Ia pemilik Gibbs corp."
"Perusahaan yang baru saja naik daun tersebut?" tanya Kim Bum.
"Ya," jawab Hyung Joong. "Bagiku, sekarang ia sudah menyamai Fischer, target kita dahulu. Sebenarnya perusahaan ini sudah lama berdiri. Hanya saja, dahulu ia dianggap sebagai kuda hitam, sebab perusahaanku dan Fischer masih menjadi raja dalam bidang kami. Namun ketika kita melakukan insepsi kepada Fischer—membuat ia tidak menjadi pesaing bagiku lagi, kini Gibbs dan perusahaannya muncul ke permukaan. Mereka sedang berada dalam zenitnya."
"Bah," rutuk Geun Suk. "Kalau begitu, setiap kali kita berhasil melakukan insepsi kepada pesaingmu, akan terus saja ada yang menjadi kompetitor utamamu. Semuanya jadi terasa percuma."
Di sebelah Geun Suk, Min Ho terkikik.
"Oke. Kurasa tak ada lagi yang harus kujelaskan," lanjut Il Woo. "Kalian tahu tugas kalian masing-masing. Maka, kerjakanlah."
.
.
Malam datang. Markas itu tampak masih terang. Kentara sekali orang-orang di dalam sana masih bekerja. Ya, tentu saja; mereka sedang mempersiapkan proyek yang cukup besar. Memang, setelah berhasil melakukan insepsi yang pertama kalinya—yaitu kepada Fischer, mereka menjadi ahli perusak mimpi orang. Tapi bagaimanapun juga, setiap proyek harus direncanakan sedetil-detilnya, sehingga berjalan tanpa cela.
Hye Sun sendiri sebenarnya harus belajar, mengejar apa yang ditinggalnya saat ia cuti beberapa minggu yang lalu. Tapi apa boleh buat; Il Woo secara tidak langsung menuntutnya untuk menyelesaikan pekerjaannya hingga esok pagi. Well, mungkin ini juga merupakan bentuk hukuman akibat pemberontakannya.
Yang kini dilakukannya adalah berkhayal dalam imajinya, melukiskan tempat yang akan digunakan sebagai tempat insepsi pada benaknya. Namun nihil; ia tidak mendapatkan barang satu inspirasipun. Ia menarik napas, berusaha mencerahkan pikirannya. Sebab tak mendapatkan apa-apa, ia pun menarik sebuah buku di dekatnya. Buku inspirasi arsitektur.
Dibukanya halaman per halaman. Tercetak pelbagai gambar tempat-tempat termahsyur dari seluruh dunia. Istana Buckhingham di Inggris, Empire State Building di New York, Forbidden City di Cina—
—napasnya terhenti tatkala tangannya membuka satu halaman. Halaman dimana tertera gambar suatu tempat. Tepatnya, suatu taman. Taman dengan sebuah kolam, yang pada permukaannya dipenuhi oleh banyak lili air. Pada bagian tengah kolam tersebut, terdapat sebuah jembatan kayu yang melengkung, menghubungkan satu sisi dengan sisi yang lainnya.
Claude Monet's Garden, Giverny, France.
Itulah yang tertulis di bawah foto berukuran besar tersebut. Tapi tanpa melihat tulisan tersebut pun, Hye Sun sudah tahu tempat itu. Taman pribadi milik Claude Monet, salah satu pelukis yang dikaguminya. Tempat yang mengingatkannya akan satu tempat yang mirip dengan taman ini.
Jeju.
Ah, tidak! Mengapa ia memikirkan tempat itu lagi? Bukankah ia sudah cukup puas mengunjungi kediaman orang tuanya pada kesempatan yang lalu?
...
Sesungguhnya, ia tidak puas. Ia malah pulang dengan rasa
sakit hati
.
.
.
Gadis itu akhirnya mendapatkan kebahagiaannya. Kebahagiaan itu ia dapat dengan cara melompati pagar rumahnya setiap hari tatkala para anjing sedang dikurung, kemudian berlari dan menemui anak laki-laki itu. Ya, anak laki-laki yang telah menyuguhkan apa arti bergembira yang sebenarnya.
Layaknya anak gadis berumur sembilan tahun lainnya, ia menemukan sebuah rasa dalam hatinya, yang mencelos setiap kali ia berada di dekat anak laki-laki itu. Ia pernah mendengar, perasaan itu disebut sebagai rasa suka. Ya, ia menyukai anak laki-laki itu.
Tapi, tak ada yang adil di dunia ini.
.
[/i]
"Aku harus pindah."
Gadis itu membelalak, kaget bukan kepalang.
"Pindah? Kenapa kau harus pindah? Kenapa kau tidak tetap di sini bersamaku?"
"Orangtuaku mendapatkan pekerjaan baru, dan aku harus ikut mereka ke Inggris," ucap anak laki-laki itu lirih. "Aku juga sebenarnya mau tinggal, namun..."
Air mata merebak di mata gadis itu tanpa ia sadari. Jikalau anak laki-laki di hadapannya ini pergi, maka ia akan kembali terkurung dalam rumahnya, kembali berkutat di kamar dengan gambar-gambarnya. Ke mana lagi ia akan mendapat kebahagiaan? Kepada siapa lagi ia akan menaruh hatinya?
"Sweetheart, ayo kemari!" Seruan ibu anak laki-laki itu terdengar dari jauh.
"Ya, Mum! Aku datang!" anak laki-laki itu balas berseru, kemudian ia kembali menatap gadis di depannya sambil tersenyum.
"Sampai jumpa."
Dan anak laki-laki itu mendaratkan bibirnya di pipi sang gadis yang basah karena air mata, membuat pipi yang merah itu makin memerah. Kemudian, ia berbalik dan berlari ke arah rumahnya.
"Tunggu!" cegah gadis tersebut. "Aku belum tahu siapa namamu!" Ya, itulah kesalahan darinya. Ia sudah bermain dengan anak laki-laki itu, tapi ia sama sekali apati terhadap nama—bagian terkecil dari seorang manusia. Anak laki-laki itupun tak pernah menanyakan nama gadis tersebut, membiarkan persahabatan mereka penuh dengan tanda tanya.
Anak laki-laki itu berhenti berlari dan berbalik.
"Temui aku sepuluh tahun lagi dari sekarang tepat di atas jembatan di halaman rumahmu!" ia berteriak. "Kita ulang dari awal lagi—kau akan memperkenalkan diri dan aku akan menyebut namaku!"
.
.
Hye Sun menutup buku yang dipegangnya dengan cukup keras. Sudah, ia tidak mau memikirkannya lagi. Ia menutup wajahnya dengan satu telapak tangannya sambil mendesah. Ia lelah. Ia hanya butuh beristirahat sebentar...
...atau mungkin melakukan sesuatu yang lain?
Ia merogoh totem
(2)
pada saku kantungnya, menggenggamnya erat-erat, sebelum akhirnya memejamkan mata dan mencoba untuk tidur.
.
.
Lagi-lagi ia berdiri di tempat itu setelah dua minggu yang lalu ia juga berdiri di atas sana.
Jembatan di halaman rumah orang tuanya. Jembatan yang sudah ada sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu, namun estetikanya belum termakan oleh usia. Juga kolam di bawahnya, dengan lili air yang menyebar di permukaannya. Semuanya masih tampak terawat, meski sudah bertahun-tahun ditinggal oleh pemiliknya; kedua orang tua Hye Sun yang telah dua tahun bernaung di nirwana.
Taman rumahnya selalu mengingatkannya akan pekarangan pribadi Claude Monet, pelukis kesukaannya. Ia masih ingat alasan mengapa tamannya dibuat semirip taman Monet di Prancis itu; sebab ibunya langsung terpana tatkala berbulan madu bersama ayahnya ke kediaman Monet di Giverny.
Ia juga masih ingat karena taman inilah ia menyukai Claude Monet. Karena Claude Monet lah ia jadi menyukai menggambar—satu-satunya kegiatan yang dilakukannya sebelum akhirnya ia bertemu dengan anak laki-laki itu. Anak laki-laki yang berjanji menemuinya sepuluh tahun sejak kepindahannya ke Inggris. Anak laki-laki yang menjadi cinta pertamanya.
Karena itulah dua minggu yang lalu ia pulang ke Jeju, kembali ke tempat yang dulu merupakan "penjara" baginya sebab aturan kedua orangtuanya yang kelewat protektif itu. Tapi sampai berjam-jam ia tunggu di atas jembatan itu, laki-laki itu tidak kunjung menampakkan wajahnya. Membuat Hye Sun pulang dengan rasa sakit di hatinya.
Kini ia berdiri kembali di sini, sama seperti yang dilakukannya dua minggu yang lalu. Berharap bahwa tiba-tiba lelaki itu muncul, meski ini hanyalah mimpinya.
Astaga... lirihnya dalam hati. Harusnya sekarang ia tidak berdiri di sini. Berdiri di sini hanya menambah kepedihan. Namun kenapa benaknya masih melayangkan tujuannya kemari?
Ia mendesah. Ia menopang dagu sembari menerawang jauh, merasakan sentuhan angin yang berhembus, mengkhayal tentang anak laki-laki itu. Sudah menjadi apa anak laki-laki itu sekarang? Yang Hye Sun yakini, ia pasti telah menjadi seorang pemuda yang tampan dan cakap. Mungkin sekarang ia sukses sebagai pengusaha, atau malah bermain sepakbola di Inggris. Mungkin sekarang ia menjadi orang yang terkenal, hanya Hye Sun saja yang tidak pernah memperhatikannya. Mungkin saja sekarang ia sudah memiliki kekasih seorang penyanyi yang tenar dan cantik mempesona. Mungkin saja—
"Permisi, nona."
—ia sedang berdiri tak jauh darinya.
Tubuh Hye Sun terasa berat tatkala ia menjauhkan dagunya dari tangannya. Perlahan-lahan, ia membalikkan badannya, mencoba melihat siapa yang memanggilnya. Ketika ia melihat ada seorang laki-laki berdiri tak jauh darinya, ia membelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Min Ho?"
.
Jelas saja Hye Sun tidak percaya dengan kehadiran seorang Min Ho di hadapannya. Hanya ada dua kemungkinan mengapa ia ada di sini. Pertama, karena Hye Sun memimpikan Min Ho berada di sini—dan itu tidak mungkin. Jadi kemungkinan lain adalah...
"Sedang apa kau memasuki mimpiku?"
Melihat kejengkelan Hye Sun, Min Ho terkekeh.
"Apakah aku masuk ke mimpimu? Rasanya tidak," ucap Min Ho. "Tampaknya kau yang memimpikanku, nona."
"Untuk apa aku memimpikanmu?" Kalaupun ia memimpikan Min Ho, pasti ia sudah membuat Min Ho JAUH lebih menyenangkan daripada Min Ho yang suka menggoda seperti ini.
"Tidak tahu. Kau hanya memimpikanku saja. Kau, kan, pacarku."
Hye Sun menahan amarahnya. Kata-kata itu selalu saja menjadi bahan godaan Min Ho kepada Hye Sun. Hye Sun jelas tidak suka—hanya karena Min Ho suka bercanda dengannya dan suka menjemputnya sepulang kuliah bukan berarti ia berpacaran dengannya, kan?
"Jadi...kau berangan-angan ingin pergi ke Prancis, eh?"
"Tidak, ini halaman rumahku di Jeju," terang Hye Sun sambil kembali melakukan pekerjaannya sebelum Min Ho merusak mimpinya.
"Mirip sekali."
"Ibuku memang membuatnya mirip dengan taman Monet. Ia penggemar berat taman itu."
"Hmm," gumam Min Ho. "Biar kutebak. Karena taman ini mirip sekali dengan taman Claude Monet, kau menyukai Monet sehingga kau ingin menjadi seorang seniman sepertinya?"
Checkmate.
"Kurasa tebakanku benar, berhubung kau tidak berkomentar apa-apa," titah Min Ho mengambil kesimpulan.
"Terserahlah."
Kembali Min Ho terkikik mendengar jawaban dingin dari Hye Sun tersebut.
"Sebenarnya, untuk apa kau membangun mimpi ini, Hye Sun?" tanya Min Ho. "Bukankah kau sudah mengunjungi tempat ini dua minggu yang lalu?"
"Yeah," jawab Hye Sun datar, menyiratkan ketidaksenangan. Min Ho mengernyit.
"Ah," komentar Min Ho pendek. "Jadi karena taman ini kau murung sejak kau pulang dari Jeju?"
Kedua mata Hye Sun membulat tak percaya.
"Aku...murung...?"
Min Ho mengangkat bahu. "Begitulah," lanjutnya. "Il Woo khawatir denganmu. Ia menyadari perubahan sifatmu setelah pulang dari kampung halamanmu."
Hye Sun terdiam merenung. Apakah benar ia menjadi pemurung sepulang dari Jeju? Sepulang dari Jeju? Ya Tuhan, apakah dampak dari laki-laki yang tak kunjung datang itu begitu besar baginya?
"Jadi..." ujar Min Ho. "Berminat untuk menceritakan ada apa?"
Hye Sun mendesah. Toh, mungkin tak ada buruknya juga bercerita kepada Min Ho tentang apa yang terjadi dengannya. Paling-paling, ia hanya akan menggoda, dan saat itu mungkin Hye Sun sudah tidak peduli dengan segala godaannya.
"Pernahkah kau dibohongi?"
.
Dengan saksama Min Ho mendengarkan segala keluh kesah Hye Sun, memahami setiap kekecewaan yang tercurah dari dalam hati Hye Sun. Setelahnya, ia tersenyum kecil.
"Jadi..." gumam Min Ho. "Kau membangun mimpi ini, berharap dapat bisa bertemu dengan laki-laki itu, meski sebenarnya ia hanyalah sebuah khayalan?"
"Entahlah."
"Bagaimana kalau sekarang ia datang ke hadapanmu?"
"Entahlah."
"Bagaimana kalau kau benar-benar bertemu dengan laki-laki itu?"
"Aku tidak tahu, Min Ho—!"
Lagi-lagi Hye Sun membeku. Kali ini disebabkan karena tatkala ia membalikkan badan kepada Min Ho, ia mendapati Min Ho sedang mengulurkan tangan kepadanya. Astaga, astaga...
"Well, bagaimana kalau kita mengulanginya dari awal lagi, nona?" Min Ho tersenyum. "Halo. Namaku Min Ho."
Hye Sun menatap Min Ho, kemudian menatap tangan Min Ho yang terulur. Ia kembali menengadah menatap Min Ho, lalu ke tangannya lagi, lalu kepada Min Ho lagi, lalu Min Ho, Min Ho, dan Min Ho...
Tergagap-gagap ia mengulurkan tangannya, dan dijabatnya tangan Min Ho yang panjang tersebut.
"Aku Hye Sun," bisik Hye Sun terisak. "Terimakasih karena telah membuatku sakit hati karena kau ingkar."
"Aku benar-benar minta maaf, Hye Sun," ucap Min Ho. "Aku tidak lupa, hanya saja..."
Percuma Min Ho melanjutkan kata-katanya. Hye Sun tidak akan mau mendengar ucapannya lagi. Ia sudah memalingkan mukanya, menampakkan pipinya yang memerah karena menahan tangisnya. Pipi yang sama seperti yang ia tunjukkan tatkala ditinggalkan oleh Min Ho sepuluh tahun yang lalu.
Maka Min Ho pun memutuskan untuk melakukan apa yang dilakukannya sepuluh tahun yang lalu. Dilandaskannya sebuah ciuman di pipi basah Hye Sun, membuat Hye Sun kembali menoleh kepada Min Ho dengan pipi yang makin memerah. Dengan mata berkaca-kaca itu, ia menatap Min Ho yang tersenyum.
Kali ini senyum tulus tanpa godaan sama sekali.
"Sampai jumpa, Hye Sun."
Lelaki itu berbalik dan melangkah meninggalkan Hye Sun yang ikut tersenyum kecil. Bersamaan dengan menghilangnya Min Ho dari matanya, pandangan Hye Sun ikut menipis.
.
.
Hye Sun melonjak dari kursinya dan melemparkan pandangan ke sekitarnya. Ia kembali, kembali ke markasnya. Diaturnya napasnya yang mulai tak karuan. Ditatapnya tangannya yang terkepal—entah kenapa rasanya sakit sekali, lalu dibukanya. Ah, totem.
Diletakannya sebuah pion catur di atas meja. Dengan satu tandadari pion tersebut, ia tahu bahwa ia benar-benar sudah ada di dunia nyata.
Ia menghempaskan diri ke sandaran kursinya, masih sambil mengatur napasnya. Lalu ia menoleh. Seketika, jantungnya berdegup kencang.
Seorang pemuda sedang duduk di mejanya, di seberang ruangan, sambil menelusuri berkas-berkas tentang target mereka berikutnya. Seakan—lagi-lagi—menyadari tatapan Hye Sun, pemuda itu menoleh kepada Hye Sun.
Itu adalah Min Ho. Dengan senyumnya yang begitu menawan.
Dan, itu
bukan mimpi
.
.
.
"Kudengar kau melakukan insepsi terhadap Hye Sun kemarin."
Min Ho menoleh. Il Woo lagi-lagi ada di belakangnya, kali ini dengan wajah apa-yang-sebenarnya-kau-lakukan-terhadap-gadis-itu.
"Dengar darimana kau?" Ia tahu Il Woo pasti bukan mendengar, tapi merasakan. Pria itu memang memiliki insting yang kuat.
"Sudahlah. Apa kau benar-benar menginsepsi Hye Sun?"
"Mm, anggap saja begitu."
"Apa yang kau insepsikan kepadanya?"
Min Ho menutup berkas yang sedang dibacanya, kemudian memutar kursinya ke belakang, tepat dimana Il Woo baru saja duduk di sana.
"Aku hanya membantumu—yang khawatir akan arsitekmu tersayang itu," terang Min Ho. "Dia murung sebab seorang laki-laki yang dikenalnya mengingkari janji untuk menemuinya setelah sepuluh tahun mereka tak bertemu. Jadi aku memberikan insepsi kepadanya bahwa aku adalah laki-laki itu."
"Hmm. Jadi kau menanamkan pikiran bahwa kau adalah orang yang sama seperti sepuluh tahun yang lalu, begitu?" gumam Il Woo mengerti. "Apalagi yang kau lakukan?"
"Tidak banyak. Hanya mengobrol, nostalgia tentang masa lalu, juga melakukan hal yang sama seperti yang laki-laki itu lakukan kepadanya sepuluh tahun—"
"Hei, hei. Tunggu," potong Il Woo. "Kau melakukan hal yang sama seperti yang laki-laki itu lakukan kepadanya sepuluh tahun yang lalu? Darimana kau tahu apa yang dilakukan laki-laki itu?"
Min Ho menyeringai.
"Menurutmu?"
FIN
[/size][/color]
Glosarium (untuk mereka yang lupa atau belum menonton film Inception):
(1) Inception (Insepsi): Melakukan implantasi ide terhadap orang melalui mimpi mereka; mempengaruhi atau mengubah pikiran seseorang dengan cara memasuki mimpi mereka.
(2) Totem: Semacam bidak untuk menentukan mana yang mimpi dan mana yang nyata.
Logged
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME
voldi
Hero
Posts: 1051
Location: Indonesia
Re: KRISAN update 23 april
«
Reply #27
on:
April 22, 2011, 06:27:15 pm »
yah, ff terpanjang yg pernah gw buat. 12 lembar, 4001 kata. tapi sebenarnya sih ff ini udah lama bgt, tapi baru sempat posting. untuk yang gak ngerti gw saranin nonton inception dulu deh.
untuk kata KRISAN sendiri, itu artinya awal yang baru. ya gw rasa cocok aja sama ff yang ini. mino dan hyesun memulai segalanya dari awal.
«
Last Edit: April 22, 2011, 06:51:39 pm by voldi
»
Logged
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME
iiuuu
Guest
Re: KRISAN update 23 april
«
Reply #28
on:
April 22, 2011, 07:15:19 pm »
kyaaa... akhrnya nembus cm jg...
widih.. say, ini berati cowok cnta pertamanya hyesun itu minho kan? buktinya dia tau smua yg pernah dlakuin cowok itu ke hyesun... ini cerita agak berat.. gua aja kudu 2x baca.. 4thumb bwt voldi.. ini mereka kelompok yg ketuanya si ilwo ya? ini kelompok rahasia ato khusus gtu ya,? kapan n gmn cranya mereka ktemu?? emang kalo jdoh gak kmn,.. papi yg dsuruh jmpt mami plg kmpus.. so sweet. lol ,.. UAN nya gmn? sukses ya.. oia, say nomermu uda aktf blon?
coba smua ff mu spanjang ini.. hahahaha.. ngarep.com
Logged
sisicia
Hero
Posts: 1974
My Lovely Sunny
Re: KRISAN update 23 april
«
Reply #29
on:
April 22, 2011, 08:24:00 pm »
bagus bangeeeeetttt, jadi Min Ho adalah anak laki-laki itu... hohohoho... ni one shoot,kan?... lagi, dunk...
Logged
Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya
Print
Pages:
1
[
2
]
3
Go Up
« previous
next »
CallMinsun
»
FANFIC
»
Short Fanfic
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
KRISAN update 23 april