Author Topic: THE HOSPITAL-- Chapter 19 (11 Agustus 2011)  (Read 23633 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL (SINOPSIS & CAST) 6 JAN 2011
« Reply #30 on: January 07, 2011, 09:49:20 am »
huwoo....ada ah in oppa!! Apapun yg terjadi gw dukung ah in oppa *ngajak mino rujakan bareng gw ma ah in* gw suka idenya. Paling demen nih kalo cembukor cembukoran (?) update...
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL (SINOPSIS & CAST) 6 JAN 2011
« Reply #31 on: January 07, 2011, 10:01:38 am »
huwoo....ada ah in oppa!! Apapun yg terjadi gw dukung ah in oppa *ngajak mino rujakan bareng gw ma ah in* gw suka idenya. Paling demen nih kalo cembukor cembukoran (?) update...
kok rujakan, vol. maksudnya?


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL (SINOPSIS & CAST) 6 JAN 2011
« Reply #32 on: January 07, 2011, 10:20:17 am »
Maksudnyaaaa.....update!!
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Surie_Riri

  • Full
  • ***
  • Posts: 297
  • i'm silent reader, mian...
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL (SINOPSIS & CAST) 6 JAN 2011
« Reply #34 on: January 07, 2011, 12:38:21 pm »
[smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] update update update  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [hmpfh]
[lovestruck]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL (SINOPSIS & CAST) 6 JAN 2011
« Reply #35 on: January 07, 2011, 10:30:27 pm »
THE HOSPITAL
Chapter I


Song Of the Chapter :
Because You Love Me
By. Celine Dion

For all those times you stood by me
For all the truth that you made me see
For all the joy you brought to my life
For all the wrong that you made right
For every dream you made come true
For all the love I found in you
I'll be forever thankful baby
You're the one who held me up
Never let me fall
You're the one who saw me through through it all

You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn't speak
You were my eyes when I couldn't see
You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn't reach
You gave me faith 'coz you believed
I'm everything I am
Because you loved me

You gave me wings and made me fly
You touched my hand I could touch the sky
I lost my faith, you gave it back to me
You said no star was out of reach
You stood by me and I stood tall
I had your love I had it all
I'm grateful for each day you gave me
Maybe I don't know that much
But I know this much is true
I was blessed because I was loved by you

You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn't speak
You were my eyes when I couldn't see
You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn't reach
You gave me faith 'coz you believed
I'm everything I am
Because you loved me

You were always there for me
The tender wind that carried me
A light in the dark shining your love into my life
You've been my inspiration
Through the lies you were the truth
My world is a better place because of you

You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn't speak
You were my eyes when I couldn't see
You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn't reach
You gave me faith 'coz you believed
I'm everything I am
Because you loved me

I'm everything I am
Because you loved me


Angin musim kering bertiup, membawa butir-butir debu yang terkadang ditumpangi virus,sebuah benda sangat kecil yang membuat manusia, yang katanya makhluk paling sempurna di muka bumi, terkadang terkapar, mengakui kekalahan. Di luar hawa panas tersebar. Namun di sini, di ruang rapat sebuah rumah sakit, semua itu seakan tersembunyi, tertutup pendingin ruangan dan peredam suara. Beberapa orang terlibat pembicaraan serius di dalamnya. Mereka masih sangat berduka atas meninggalnya farmasis mereka. Bukannya belum ada pengganti, bahkan seorang asisten farmasis yang berhasil lulus pun sudah siap menggantikan posisi farmasis yang meninggal. Tapi mereka tidak habis pikir dengan keputusan pemilik rumah sakit yang bersikukuh dengan keinginannya untuk mempekerjakan orang baru. Ya, mereka adalah beberapa orang yang mempunyai kedudukan strategis dalam kepengurusan Lee International Hospital.

“Aku tidak habis pikir dengan keinginan orang itu. Soe Eun sudah lulus dari pendidikan profesinya, dan tentu saja dia bisa menggantikan Farmasis Jung, kenapa tidak pakai dia saja? Toh, Soe Eun juga sudah lama bekerja di sini sebagai Asisten, pasti dia sudah tahu situasi kerja di sini,” kata Hyun Joong, dokter sekaligus Wadir Yanmed.

Beberapa orang manggut-manggut. Dr. Jo Soo Bin, direktur Rumah Sakit menimpali,”Hm… selama ini Lee International Hospital dibawah kepemilikan Almarhum Mr. Lee, beliau selalu mempercayakan kepengurusan Rumah sakit ini kepada pengurus, tapi tidak begitu dengan putranya, anak muda itu sepertinya punya visi sendiri.”

“Kita tidak bisa diam saja, Min Ho-ssi memang ahli waris dari Mr. Lee, tapi dia tidak bisa begitu saja melangkahi pengurus, dia anggap apa kita, patung?” kata dr. Uhm, Wadir penunjang medik.

“Bagaimana menurutmu, dr. Yoo?” tanya dr. Jo. Yoo Ah In adalah seorang dokter sekaligus kepala instalasi ICU-ICCU. Dia adalah orang yang sedari tadi hanya diam. Tidak seperti biasanya, dia memang terkenal vokal.

“Kalau menurut saya, akan lebih baik jika kita memberi kesempatan pada orang baru itu,saya rasa dia pasti punya kemampuan lebih dibandingkan Soe Eun, jika tidak, Min Ho tidak akan memilihnya, bukan?”

Orang yang dipanggil dr. Uhm atau Uhm Tae Woong mulai nyinyir, “Min Ho memilih orang ini, karena orang ini adalah calon istrinya, tidak ada itu hubungannya dengan kemampuan atau apalah kata dia kemarin? Kompetensi ?”

Orang-orang tambah geram, mereka menganggap hal ini adalah nepotisme tingkat tinggi, mereka berlagak seolah-olah mereka masuk rumah sakit ini bukan karena kedekatan mereka dengan Almarhum Mr. Lee. Kasak-kusuk terdengar memenuhi ruangan,menambah panas suasana, seolah pendingin ruangan itu tiada berarti. Beberapa orang mengusulkan agar dikirimkan note protes kepada pemilik. Dr. Jo, selaku direktur menenangkan, “Akan sangat sulit merubah keputusan Min Ho, dia bahkan akan ke sini besok, dan membawa calon istrinya itu.”

“Hah ! kita lihat saja bagaimana rupa wanita itu besok, apakah dia cukup punya keberanian setelah kita tunjukan sikap penolakan,” seloroh Tae Woong.

Mereka seolah tidak sabar menunggu esok. Dan waktu yang dinantikan pun tiba, Min Ho kini berada di tengah-tengah mereka, namun mereka hanya terdiam. Dr. Jo memulai pembicaraan,”Maaf, Min Ho-ssi, sebagai direktur, saya mewakili rekan-rekan,ingin mengatakan bahwa…

Handphone Min Ho berbunyi, dengan tangannya, Min Ho mengisyaratkan supaya dr. Jo menghentikan pembicaraan dan segera mengangkat handphone. Hanya sebentar saja dia melakukan pembicaraan di telephone. Dia lalu berkata, “Sebentar lagi, orang yang kita tunggu tiba, saya harap kalian bisa bekerja sama dengannya, saya punya tujuan baru untuk rumah sakit ini, sudah lama rumah sakit ini dalam keadaan statis. Hm…, bahkan laporan keuangan kalian negatif.”

“Min Ho-ssi, rumah sakit ini didirikan oleh ayah anda sebagai organisasi nirlaba, anda tidak bisa berkata bahwa kami gagal hanya karena laporan keuangan yang negatif,” jelas Tae Woong. Semua orang menyetujui perkataan Tae Woong. Tae Woong seperti mendapat udara segar dia berusaha menyudutkan Min Ho, “Lagipula, apa hubungan antara laporan keuangan dengan keputusan penunjukan farmasis yang baru.”

Min Ho tersenyum, “Jangan ingatkan saya akan berdirinya Rumah Sakit ini, dr.  Uhm. Tentu saja saya lebih tahu mengenai hal itu daripada Anda, karena sayalah yang menjadi inspirasi appa dalam pendirian rumah sakit ini.”

Tae Woong ingin mendebat, dengan isyarat wajah, dr. Jo melarangnya melakukan hal itu. Situasi tidak memungkinkan, tidak sesuai dengan garis komando.

“Rumah sakit dalam 5 tahun terakhir ini mendapat subsidi silang dari laba bisnis lain Lee Corporation. Sebagai ahli waris, saya tidak mengijinkan hal ini terjadi, walaupun bersifat nirlaba, tidak seharusnya rumah sakit merugi seperti ini,” terang Min Ho,”Dan saya sudah meneliti, bahwa masalah terletak pada manajemen obat. Dalam hal ini saya tidak menyalahkan Almarhum Farmasis Jung, beliau sudah terlalu tua dengan masalah penyakitnya.”

Yoo Ah In tunjuk tangan, “Apakah anda yakin bahwa orang yang anda pilih mampu mengatasi keadaan itu?”

“Iya..! kenapa anda tidak memilih Soe Eun?” Hyon Joong seperti mendapat angin.

“Oh, jadi ini mengenai adik anda, Soe Eun?” Min Ho tersenyum cerdik. Hyun Joong tertunduk. Min Ho melanjutkan argumennya,”Jadi dr. Kim menganggap saya memakai Hye Sun karena dia calon istri saya?”

Dr. Jo menengahi, “Kami mohon maaf, Min Ho-ssi. Maaf sekali jika kata-kata kami seperti menyudutkan anda, tapi sebenarnya bukan hanya dr. Kim saja yang beranggapan demikian.”

Min Ho tersenyum. Sangat mengherankan dia masih bisa tenang dalam suasana seperti itu.

“Keadaan seperti ini sudah saya duga sebelumnya.” Min Ho menghela nafas. ‘Baiklah, saya akan menjelaskan, dan mungkin penjelasan saya ini sekaligus sebagai jawaban atas pertanyaan dr. Yoo. Saya memakai Hye Sun  karena dia mempunyai latar belakang pendidikan yang sesuai dengan tugas ini. Dia lulusan magister manajemen, dan punya pengalaman sebagai farmasis, pengajar maupun asisten farmasis sebelumnya. Jadi dia tidak hanya menguasai teori tapi juga praktek.”

Pintu ruangan diketuk dari luar. Min Ho mempersilahkan masuk. Seorang wanita dengan setelan blaser hitam memasuki ruangan. Min Ho menyambut wanita tersebut dan memperkenalkan wanita itu pada hadirin, “Saudara-saudara sekalian, inilah farmasis kalian yang baru, Goo Hye Sun.”

Sang wanita tersenyum simpul, “Saya adalah farmasis yang baru, semoga kerja sama kita bisa terjalin.”

Min Ho memperkenalkan satu per satu pengurus rumah sakit kepada Hye Sun. Beberapa orang masih dengan sikap acuh tak acuh, tapi sebagian mulai menampakkan kerja sama. Saat Min Ho memperkenalkan antara Ah In dan Hye Sun, keduanya tampak terkejut. Hye Sun buru-buru menutupi kecanggungan yang terjadi dengan mengulurkan salam, “Senang bertemu anda, dr. Yoo.”

Min Ho mengernyitkan kening. Bukankah seharusnya Hye Sun berkata, senang berkenalan dengan anda, bukannya senang bertemu dengan anda?

Tampak ragu, Ah In membalas jabat tangan Hye Sun,”Demikian dengan saya, Hye Sun-ssi.”

Kedua tangan itu berjabat erat, sementara masing-masing dengan angan yang kembali ke masa silam, bertahun-tahun yang lalu, di sebuah restoran di Seoul. Saat keduanya bertemu untuk menyelesaikan suatu masalah. Hari itu, tanggal 14 Februari 2008, di saat semua orang berkasih sayang dibawah naungan hari Valentin, di saat setiap pasangan muda-mudi dengan asmara yang meletup-letup, namun tidak demikian dengan sepasang kekasih ini.  Bahkan saat Ah In menawari Hye Sun makan, gadis itu sama sekali tidak tertarik. Dia hanya memesan ice lemon tea, ya…hanya itu saja, kemudian dia tertunduk, mendengarkan Ah In yang memesan  hot plate steak dan vegetable juice.

Pembicaraan dimulai saat pelayan mulai meninggalkan mereka. Hye Sun menatap Ah In tajam, akhirnya Ah In tertunduk. Mata lebar itu terkadang lemah, tapi kadang menusuk juga. Aku tidak boleh lemah, pikir Ah In. Ini semua demi Omma, beliau satu-satunya orang tuaku di dunia ini setelah Appa meninggal.

“Siapa dulu yang bicara?” tanya Hye Sun.
“Apakah semua ini harus?” komentar Ah In.

“Kita sudah sepakat, dalam pertemuan ini, lima menit pertama, salah satu diantara kita akan bicara, dan tanpa ada interupsi dari pihak lain, dan lima menit berikutnya, pihak lain bicara dan masih tanpa interupsi,” jelas Hye Sun.

“I think… lady first, Why do you love me?” tanya Ah In.
Hye Sun menghela nafas,”Jadi itu yang ingin kau ketahui dalam lima menit pertama?”

Ah In mengangguk.

“Yoo Ah In-ssi….apakah semuanya belum jelas? Aku jatuh cinta padamu, karena saat pertama kita bertemu, aku merasa kau lah orangnya, kaulah pria yang nantinya aku harapkan menjadi suamiku.”
Hye Sun mengatur nafas,” Jika kau bertemu denganku lima tahun yang lalu, kau tidak akan menjumpai diriku yang sekarang, mungkin kau akan menjumpai seorang gadis dengan penampilan cupu, gadis yang hanya bisa memendam rapat-rapat perasaannya di depan orang yang dia cintai, sangat bertolak belakang denganku yang sekarang.”

Panas dan pedih menjalar di pelupuk mata Hye Sun,satu per satu aliran air mata merambat di atas lekuk-lekuk wajahnya,” Tapi diantara perubahanku itu, aku masih menyimpan sebuah prinsip, yang tidak mungkin dan tidak akan pernah aku langgar, aku akan mencintai pria karena Tuhan, ya, aku mencintaimu, karena aku mencintai Tuhan, dan aku yakin kau juga mencintai-Nya,ya… aku mencintaimu, karena kau mencintai Tuhan.”

Tangis Hye Sun tumpahlah sudah, dia sudah merendahkan harga dirinya sedemikian rupa sebagai wanita, menyatakan semua perasaannya pada pria yang dicintai. Ah In terlalu gengsi untuk mengakui bahwa dirinya sangat prihatin. Jika saja situasi tidak seperti ini, mungkin dia sudah memeluk gadis itu, mengatakan bahwa perasaannya sama juga dengan gadis itu. Kalau saja egonya sebagai laki-laki tidak terlalu tinggi, dia ingin menangis bersama Hye Sun , tapi tidak, abojinya selalu melarang dia menangis. Anak laki tidak boleh menangis!!!

Hye Sun membuang nafas, ”And now, its your turn…”

“Dari awal aku sudah bilang, bahwa hubungan ini tidak akan berhasil, Ommaku ingin aku beristrikan seorang dokter, dan sebagai anak lelaki satu-satunya, aku ingin memenuhi keinginan beliau.”

Ah In menghentikan ucapannya untuk memperhatikan reaksi Hye Sun. Tampak di depannya Hye Sun membuang muka. Ah In menengguk ludah kering,”Baliau adalah satu-satunya orang tuaku yang masih hidup. Dulu aku pernah jatuh cinta pada seorang perawat, dan saat kuperkenalkan  pada Omma, serta merta beliau menolak, kau bisa bayangkan jika aku memperkenalkanmu. Aku rasa itu alasan logis kenapa hubungan ini tidak berhasil.”

“Semua itu logis bagimu tapi tidak bagiku,” protes Hye Sun.”Kau selalu bilang kalau kau tidak pernah ingin menyakitiku, tapi pada kenyataannya kau telah melakukannya.”

Hye Sun memberi penekanan pada kalimatnya yang terakhir. Perasaannya campur aduk, kecewa karena mencintai orang yang salah, pria yang tak berniat memperjuangkannya, membahagiakan seorang Omma? Seorang Omma? Lalu bagaimana dengan perasaannya? Ah In anggap apa perasaan Hye Sun? Lalu kenapa Ah In tadi menanyakan kesungguhan cintanya? Hanya untuk bahan olokan? Hanya dianggap sampah yang harus dibuang?

“Lalu bagaimana jika jodohmu bukan seorang dokter?”

Ah In diam. Hye Sun mengulang pertanyaannya. Dia tetap diam….

“Bagaimana jika Tuhan menghendaki jodohmu bukan seorang dokter?” Hye Sun mengulangi pertanyaannya untuk ketiga kali.

Ah In tampak ragu, tapi dia harus menjawab pertanyaan itu,”Aku tidak tahu.”

Jawaban bodoh!  Hye Sun, kau sungguh cerdas, pertanyaanmu itu memang sulit kujawab, pikir Ah In.

“Yang aku pikir saat ini adalah aku ingin membahagiakan omma, dan mulai saat ini bisakah kita menjadi teman?”

Suasana hening bertahun-tahun yang lalu itu, kini masih terasa saat keduanya berada di dalam lift. Mereka sama-sama terkenang saat itu, walau pun sekarang semuanya telah berubah. Pintu lift terbuka, Hye Sun keluar dari dalamnya, menuju kantor barunya. Ah In terdiam menyaksikan pintu lift yang akhirnya tertutup, menghalangi pandangannya terhadap sosok Hye Sun, kini yang ada hanyalah besi kosong di depannya, bukan hanya sosoknya, bahkan hati gadis itu pun bukan lagi untuknya.

………………………………………………………………………………………………………

Min Ho menunggui Hye Sun saat gadis itu membeli bunga sebagai oleh-oleh untuk Omma Min Ho. Dia tersenyum saat gadis itu akhirnya memasuki mobilnya. Dalam hati dia tertawa melihat calon istrinya itu gugup, maklum ini adalah kali pertama Hye Sun menemui calon mertuanya.

“Kau yakin Ommamu menyukai bunga anggrek?” tanya Hye Sun.
“Ne, kau tidak percaya?”

Hye Sun tersenyum. Min Ho memandangi tanaman Anggrek yang ada di pangkuan Hye Sun.”Kenapa kau tidak membeli bunganya saja?”

“Aku dulu pernah praktek kultur jaringan tanaman anggrek dan itu tidak mudah, karena itu aku tidak mau merusak tanaman anggrek.”

Min Ho tertawa. Dia menghidupkan mobilnya dan segera menuju Lee Manshion.

Lee Hyo Young, Omma Min Ho adalah seorang melankolis, beliau sangat menyukai Anggrek,  beliau juga membudidayakan tanaman tersebut. Beberapa kali beliau mangikutsertakan tanaman Anggrek koleksinya dalam berbagai kontes, walau pun belum pernah meraih juara umum, janda Lee ini cukup puas karena setidaknya  anggrek koleksinya sudah tampil.

Semenjak suaminya meninggal, aktifitasnya sehari-hari adalah merawat kebun anggreknya. Sepertinya hanya tanaman itu yang mampu mengusir sepi hatinya. Apa boleh buat, kedua anaknya sudah dewasa, kakak Min Ho,Lee Yo Woon lebih memilih tinggal di rumah mertuanya walau pun masih sekota. Min Ho sendiri sibuk dengan bisnisnya. Setiap hari dia membenamkan diri dengan tanaman itu, dan akan berhenti jika matahari mulai tergelincir dari singgasananya. Di saat itulah, Hyo Young akan keluar dari konservatorium untuk membersihkan diri, lalu menuju ruang minum teh untuk menikmati suasana sore.

Ketika Min Ho dan Hye Sun sampai di Lee Manshion, Min Ho segera tahu dimana Hyo Young berada. Digandengnya tunangannya itu menuju ruang minum teh. Saat mereka menjumpai Hyo Young di sana, Min Ho segera mencium kening ibunya. Hye Sun terkejut dengan kedekatan mereka. Kini mereka tampak berbisik-bisik di depan Hye Sun. Hye Sun tahu bahwa ibu dan anak itu sedang membicarakannya. Dia tersenyum saat Hyo Young memandangnya sedang berdiri kikuk tanpa tahu harus berbuat apa.

Hyo Young membalas senyum Hye Sun, “Duduklah, Nak.”

Hye Sun segera mengambil tempat duduk di samping Min Ho, kegugupan tampak jelas dari tingkahnya, Min Ho menyadari hal itu dan segera memegang tangannya, “Tenang saja, Sayang,” bisik Min Ho padanya.

“Anggrek ini untuk Anda,”Hye Sun menyodorkan tanaman itu pada Hyo Young.

Hyo Young mengamati tanaman itu. “Aku senang kau membawakanku Anggrek.”
Hye Sun tersenyum lega.

“Tapi sayang tanaman ini sakit,” sambung Hyo Young.

Hye Sun terkejut, mana tahu dia mana Anggrek yang sehat mau pun sakit. Dia melirik Min Ho. Lelaki itu malah asyik menghirup aroma teh di cangkirnya,”Mianhamnida, Saya tidak tahu kalau tanaman itu tidak bagus, saya memang tidak mengerti masalah tanaman.”

“Aku senang kau bawa tanaman ini kesini.”
“Senang? Waeyo?”
“Kau seperti seseorang yang membawa pasien ke ruang UGD, tanaman ini perlu seseorang untuk menolongnya.”

Hye Sun melongo.

“Jangan kawatir, aku akan mengobati tanaman ini.”

Min Ho menengahi,”Oemmaku sayang, Hye Sun memang sama sekali tidak tahu mengenai tanaman tapi dia sangat ahli dalam bidang obat-obatan.”

Ibu dan anak itu tertawa, Hye Sun merasa aneh, apanya yang lucu, pikirnya.

Hyo Young merasa geli dengan wajah bingung Hye Sun, dia segera memegang tangan gadis yang disodorkan Min Ho sebagai calon istrinya itu.” Omma tidak tahu apa yang selama ini diceritakan Min Ho padamu, tapi percayalah bahwa Omma tidak segalak itu.”

Min Ho tertawa terbahak-bahak. Dia menunjuk-nunjuk wajah Hye Sun, “Wajahmu lucu sekali jika tegang.”

Hye Sun cemberut. Tak disangka bahwa Min Ho menceritakan hal-hal yang tidak benar mengenai ibunya. Min Ho selama ini cerita kalau Hyo Young itu orangnya kaku dan galak padahal Hyo Young adalah seorang yang lembut dan pengertian.

Hyo Young mencubit lengan Min Ho hingga anaknya itu meringis kesakitan,”Jahat sekali kamu membuat kekasihmu cemberut.”

Hye Sun tersenyum. “Apa kabar, Nyonya Lee.”
“Hm..Kau kaku sekali, Nak. Akan lebih baik jika kau panggil aku omma saja.”
“Ne, Omma.”
“Nah, itu lebih enak didengar.”
“Omma, bagaimana menurut Omma pilihan anakmu ini? Hye Sun cantik,kan?”
“Ya… Hye Sun cantik.”

Handphone Min Ho berbunyi. Sementara dia meninggalkan kedua wanita itu untuk menerima telephone.
“Kau mau melihat-lihat koleksi anggrekku, Nak?” pinta Hyo Young pada Hye Sun.

Hye Sun mengangguk. Dia segera mengikuti Hyo Young menuju konservatorium. Hyo Young meletakkan tanaman anggrek pemberian Hye Sun diantara tanaman lain koleksinya. Hye Sun berdecak kagum dengan keindahan isi konservatorium itu.

“Bangunan ini adalah hadiah ulang tahunku dari Appa Min Ho, hadiah terakhir yang beliau berikan sebelum meninggal,” kata Hyo Young.

Hye Sun melihat sekeliling, “Dari bangunan ini, tampak sekali bahwa beliau sangat mencintai Oma.”

Hyo Young termangu, sekelebat bayang masa lalu menari di angannya. Memori saat suaminya masih hidup, “Ya, dia sangat mencintaiku, dia bahkan menganggap bangunan ini adalah Taj Mahal.”

“Taj mahal?” Hye Sun manggut-manggut, “Saya suka dengan anggapan itu, saya rasa memang rumah kaca ini adalah Taj Mahal bagi anda.”

Hyo Young memegang tangan Hye Sun, “Aku harap kau bahagia dengan putraku kelak, Nak.”

“Kenapa Omma berkata demikian?”

“Min Ho sangat mirip dengan Appanya, dia tidak mudah untuk jatuh cinta, sebenarnya aku sangat kawatir saat dia belum juga memutuskan untuk menikah padahal teman-teman sebayanya rata-rata sudah punya dua orang anak. Dan saat dia bilang akan segera memperkenalkan calon istrinya, aku sangat senang sekali.”

“Saya harap saya bisa menjadi menantu yang Omma inginkan.”

Hyo Young tersenyum,”Cukuplah dengan mencintai Min Ho, kau pasti akan menjadi menantu yang aku inginkan.”

Min Ho tiba-tiba muncul di antara mereka berdua, “Jadi, apa yang kalian bicarakan?”

Hyo Young memberi isyarat agar Hye Sun tidak menceritakan apa yang sudah mereka bicarakan.

“Tidak ada, Min Ho-ssi. Aku dan Omma hanya melihat-lihat bunga anggrek koleksi Omma.”

Hyo Young menggandeng tangan putranya, “Min Ho sayang, bagaimana jika kita ajak Hye Sun makan malam. Omma sudah menyiapkan makanan yang sangat enak.”

Pertemuan itu memang sangat akrab hingga hari sudah sangat malam saat Min Ho mengantarkan Hye Sun ke rumahnya. Dalam perjalanan sesekali dia melirik calon istrinya itu, perasaannya sangat bahagia karena telah berhasil menyatukan dua wanita yang sangat dia cintai, Hyo Young dan Hye Sun. Sementara tangan kanannya mengatur kemudi mobil, tangan kirinya tiba-tiba mencubit pipi Hye Sun. Hye Sun terkejut.”Min Ho-ssi, kita sudah bukan ABG lagi.”

“Memangnya salah sedikit berekspresi?” Min Ho membela diri. “Jujur, aku sangat senang malam ini. Aku senang kau akhirnya bertemu Oma. Apa yang kalian bicarakan sewaktu di konservatorium?”

“Hm… rahasia,” goda Hye Sun.

Min Ho tertawa,”Omma sangat melankolis jika menyangkut konservatorium, dia pasti bercerita perihal Taj Mahal ala Appa.”

“Bagaimana kau tahu?”
“Dia selalu menceritakan hal itu pada setiap orang yang diajak ke tempat itu.”

Hye Sun mengkerlingkan mata. “Jadi sudah ada gadis lain yang diajak Ommamu ke rumah kaca itu?”
Min Ho kelabakan, “Bukan begitu maksudku.”

“Satu sama,” Hye Sun tertawa,”Aku masih dendam karena kau menceritakan hal-hal yang tidak benar mengenai ommamu.”

Handphone Hye Sun berbunyi, rupanya Appanya yang menelphone. Sesaat dia terlibat pembicaraan serius dengan orang tuanya itu.

“Salam buat Appamu,” Min Ho mengingatkan.

Hye Sun menutup telephon setelah menyampaikan salam Min Ho, dia tampak melamun setelah itu.

“Ada apa?” tanya Min Ho.
“Tidak ada apa-apa.”
“Appamu bilang apa?”
“Dia hanya menanyakan keadaanku.”
“Kau sudah menceritakan padanya tentang rumahmu?”

Hye Sun mengangguk.

“Sebenarnya aku tidak setuju saat kau memilih rumah itu, letaknya jauh dari pusat kota, aku bisa belikan apartemen bagus di tengah kota.”

Hye Sun menggeleng, “Aku suka pemandangan di rumah itu, jika pagi tiba, aku bisa melihat matahari yang muncul di tengah-tengah deburan ombak. Dan saat malam seperti ini, jika aku tidak bisa tidur, aku bisa jalan-jalan sebentar menikmati semilir angin pantai Haeundaae.”

“Sebenarnya aku berharap kau bisa tinggal dengan Ommaku.”

Hye Sun menoleh ke arah Min Ho,”Pada akhirnya nanti kita akan tinggal bersama, kan?”

Mobil Min Ho telah memasuki komplek rumah Hye Sun. “Kau tidak mampir?” tanya Hye Sun.

Min Ho menggeleng. Saat Hye Sun akan membuka pintu mobil, Min Ho menarik tubuh gadis itu. Sesaat tubuh Hye Sun sudah berada dalam pelukan Min Ho, “Aku sudah tidak sabar menanti saat itu tiba, saat kau dan aku serta Omma tinggal bersama sebagai keluarga.”

“Aku juga, sayang. Aku juga.”

Min Ho melepaskan pelukannya.”Dan sekarang, tidurlah. Aku tidak mau calon istriku terlihat kurang tidur di hari pertamanya kerja.”

Hye Sun tersenyum, dia segera keluar dari mobil. Memberikan lambaian tangan saat mobil Min Ho melaju meninggalkannya dan segera memasuki rumah.

Ternyata malam ini Hye Sun tidak bisa tidur. Dia berdiri di depan jendela, memandangi suasana pantai di malam hari, dengan nuansa lembut bulan sabit yang tampak bercermin di perairan. Dia memikirkan percakapan dengan Ayahnya di telephone.

“Ommamu kembali, Sunny,” kata Ayahnya di telephon tadi.

“Mwo?” Dia agak terkejut, seketika wajahnya menegang. Dan Min Ho yang menyetir seperti tahu betul akan suasana hatinya hingga mendiamkannya berbicara serius dengan sang Ayah.

“Ommamu kembali. Sepertinya dia sudah menyesali perbuatannya,” jelas Ayahnya lagi.

“Lalu?” hanya itu kata yang dia lontarkan demi menanggapi kalimat Ayahnya. Dia tidak ingin Min Ho tahu semuanya. Min Ho memang sudah mengetahui latar belakang keluarganya yang broken, tapi dia tidak ingin calon suaminya itu tahu kelakuan Ibu tirinya.

“Appa menerimanya. Kami sudah serumah lagi sekarang,” jawab  Ayahnya lagi, dan itu sungguh merupakan tamparan keras di wajah Hye Sun. Ibu tirinya yang selama ini pergi tanpa pamit dan meninggalkan banyak hutang, ternyata telah kembali. Dan Appanya dengan tangan terbuka menerima kembali Ibu tirinya itu. Dia tidak habis pikir dengan sikap Appanya itu. Bukankah wanita itu sudah banyak menyusahkan keluarga? Masih tampak jelas bagaimana kehidupan keluarganya dulu saat wanita itu pergi, bagaimana appanya yang berusaha berhemat untuk melunasi hutang-hutang yang ditinggalkan wanita itu, dan kini wanita itu datang begitu saja tanpa rasa bersalah?

Ah, dia tidak tahu, mungkin Sang Ayah merasa sudah cukup tua untuk menyimpan dendam sehingga memilih untuk memaafkan. Sesaat dia berkhayal, apa yang akan dia lakukan jika berhadapan dengan wanita itu kelak, bisakah dia memaafkannya? Ataukah dia akan menampakan wajah pendendam seperti yang dia tampakan pada orang-orang yang pernah menyakitinya?

Apa untungnya mendendam?
Hye Sun tiba-tiba teringat kalimat itu, kalimat yang selalu diucapkan Ah In setiap kali dia curhat mengenai kepergian ibu tirinya. Dulu, Ah In yang selalu dijadikan tempat berkeluh kesah. Andaikan saja persahabatan itu tidak terhancurkan oleh asmara, mungkin saja malam ini dia sudah berada di hadapan Ah In.

“Tidak, kenapa semuanya serba kebetulan, kenapa wanita itu harus datang bersamaan dengan waktu aku bertemu kembali dengan Ah In.”

 Hye Sun duduk di depan meja riasnya. Dilihatnya pantulan wajahnya di cermin,”Min Ho sangat mencintaiku, dan Ah In….”  Hye Sun menghela nafas,” Dia hanyalah masa lalu.”

TBC Chapter 2
« Last Edit: January 07, 2011, 11:22:09 pm by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

nanaa46

  • Guest
Re: THE HOSPITAL--Chapter I (8 JAN 2011)
« Reply #36 on: January 07, 2011, 11:22:46 pm »
Lam kenal sista,,,,,, Congrats atas launching chp perdananya,,,,ih suasana baruuu........ [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]
ihhh karakter mino disini masih juga semaunya sendiri ya,,, n aq suka gimana mino ngebohongin HS pas mereka bertemu dgn ommanya MH,,,,,,,,,HS jd Salting gt....dasar MH, oh ya sist, berarti si AH in ma HS belum pacaran kan,,,,???????.....Koq AH IN ada tanya begitu ke HS,,,,, apa HS yg naksir AH IN duluan?/.
I[color=pink] think… lady first, Why do you love me?” tanya Ah In.
Hye Sun menghela nafas,”Jadi itu yang ingin kau ketahui dalam lima menit pertama?”[/color]


Aq suka gimana HS memberika pertanyaan yg membuat AH IN nga bisa berkutik  "
Code: [Select]
“Bagaimana jika Tuhan menghendaki jodohmu bukan seorang dokter?” Hye Sun mengulangi pertanyaannya untuk ketiga kali.

Ah In tampak ragu, tapi dia harus menjawab pertanyaan itu,”Aku tidak tahu.”
,,,,IHHH keren sist,,,,,i like it,,,,,,Di tunggu ya chap selanjutnya,,,,,jangan lama2............... [wacko] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter I (8 JAN 2011)
« Reply #37 on: January 07, 2011, 11:28:04 pm »
Lam kenal sista,,,,,, Congrats atas launching chp perdananya,,,,ih suasana baruuu........ [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]
ihhh karakter mino disini masih juga semaunya sendiri ya,,, n aq suka gimana mino ngebohongin HS pas mereka bertemu dgn ommanya MH,,,,,,,,,HS jd Salting gt....dasar MH, oh ya sist, berarti si AH in ma HS belum pacaran kan,,,,???????.....Koq AH IN ada tanya begitu ke HS,,,,, apa HS yg naksir AH IN duluan?/.
I[color=pink] think… lady first, Why do you love me?” tanya Ah In.
Hye Sun menghela nafas,”Jadi itu yang ingin kau ketahui dalam lima menit pertama?”[/color]


Aq suka gimana HS memberika pertanyaan yg membuat AH IN nga bisa berkutik  "
Code: [Select]
“Bagaimana jika Tuhan menghendaki jodohmu bukan seorang dokter?” Hye Sun mengulangi pertanyaannya untuk ketiga kali.

Ah In tampak ragu, tapi dia harus menjawab pertanyaan itu,”Aku tidak tahu.”
,,,,IHHH keren sist,,,,,i like it,,,,,,Di tunggu ya chap selanjutnya,,,,,jangan lama2............... [wacko] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono]

Lam kenal juga, sista... ntar juga tahu,lah... capa yang duluan naksir sebenarnya, iya.. mino emang karakternya suka seenaknya sendiri, ku paling suka jika mino meranin karakter itu [lovestruck] [lovestruck]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline el_minoz

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • upssss.....
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter I (8 JAN 2011)
« Reply #38 on: January 08, 2011, 02:20:50 am »
 [clap] [clap] [clap] yhanx sist dah d update.....
t'yata hye sun punya someone in the past y [what] [what] [what] [what]

apa hye sun takut klo ibu tirirnya balik bakalan ngacoin hub y ma minho and ngebongkar klo hye sun ma ah in pernah punya hub spesial gt???? [what] [what] [what] (mian banyak nanya' [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh])
penasaran sist lanjutannya!jangan lama2 y punk punk punk punk punk punk

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter I (8 JAN 2011)
« Reply #39 on: January 08, 2011, 04:06:44 am »
[clap] [clap] [clap] yhanx sist dah d update.....
t'yata hye sun punya someone in the past y [what] [what] [what] [what]

apa hye sun takut klo ibu tirirnya balik bakalan ngacoin hub y ma minho and ngebongkar klo hye sun ma ah in pernah punya hub spesial gt???? [what] [what] [what] (mian banyak nanya' [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh])
penasaran sist lanjutannya!jangan lama2 y punk punk punk punk punk punk
[hmpfh] ibu tirinya sun mah emg kenal ma ah in, tp gak pduli ma hub mrk, sun cuma takut lo ibu tirinya it myakiti hati ayahnya lg,gt.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter I (8 JAN 2011)
« Reply #40 on: January 08, 2011, 09:54:17 pm »
setelah baca part ini, kok gw ragu sebnrnya hyesun tuh mencintai minho pa nggak ya [sweat] [sweat]
and perjumpaan mereka kyk apa? ceritain dong, gw penasaran. setelah berpisah ama ah in,apa yg terjadi pada hyesun [what]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter I (8 JAN 2011)
« Reply #41 on: January 08, 2011, 10:42:44 pm »
setelah baca part ini, kok gw ragu sebnrnya hyesun tuh mencintai minho pa nggak ya [sweat] [sweat]
and perjumpaan mereka kyk apa? ceritain dong, gw penasaran. setelah berpisah ama ah in,apa yg terjadi pada hyesun [what]

ff ni kebalikan dari Dinasti Lee, mom. lo di DL, Mino yang punya masa lalu, tapi di sini, Sun yang punya masa lalu. di ff ni, sun adalah wanita dengan prinsip lebih baik dicintai daripada mencintai [hmpfh] [hmpfh]ntar deh ketauan kenapa hye sun bisa punya prinsip seperti itu [lovestruck]
setelah berpisah dengan Ah in?  [chin] [chin]setelah pisah ma Ah in, ya... Hye Sun ketemu Minho [hmff]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter I (8 JAN 2011)
« Reply #42 on: January 08, 2011, 10:51:03 pm »
setelah baca part ini, kok gw ragu sebnrnya hyesun tuh mencintai minho pa nggak ya [sweat] [sweat]
and perjumpaan mereka kyk apa? ceritain dong, gw penasaran. setelah berpisah ama ah in,apa yg terjadi pada hyesun [what]

ff ni kebalikan dari Dinasti Lee, mom. lo di DL, Mino yang punya masa lalu, tapi di sini, Sun yang punya masa lalu. di ff ni, sun adalah wanita dengan prinsip lebih baik dicintai daripada mencintai [hmpfh] [hmpfh]ntar deh ketauan kenapa hye sun bisa punya prinsip seperti itu [lovestruck]
setelah berpisah dengan Ah in?  [chin] [chin]setelah pisah ma Ah in, ya... Hye Sun ketemu Minho [hmff]
yee ketemunya gimana hammer2 hammer2 (pingin digetok nih anak [hammer] [hammer] , sekalian ditembak aja [guns] [guns] [hmff] [hmff] )

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter I (8 JAN 2011)
« Reply #43 on: January 08, 2011, 10:56:53 pm »
setelah baca part ini, kok gw ragu sebnrnya hyesun tuh mencintai minho pa nggak ya [sweat] [sweat]
and perjumpaan mereka kyk apa? ceritain dong, gw penasaran. setelah berpisah ama ah in,apa yg terjadi pada hyesun [what]

ff ni kebalikan dari Dinasti Lee, mom. lo di DL, Mino yang punya masa lalu, tapi di sini, Sun yang punya masa lalu. di ff ni, sun adalah wanita dengan prinsip lebih baik dicintai daripada mencintai [hmpfh] [hmpfh]ntar deh ketauan kenapa hye sun bisa punya prinsip seperti itu [lovestruck]
setelah berpisah dengan Ah in?  [chin] [chin]setelah pisah ma Ah in, ya... Hye Sun ketemu Minho [hmff]
yee ketemunya gimana hammer2 hammer2 (pingin digetok nih anak [hammer] [hammer] , sekalian ditembak aja [guns] [guns] [hmff] [hmff] )

 [heh] gimana ya ketemunya [chin]
ya gak gimana-gimana, cuma ketemu ja gitu, deh... [heh]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter I (8 JAN 2011)
« Reply #44 on: January 08, 2011, 10:59:38 pm »
setelah baca part ini, kok gw ragu sebnrnya hyesun tuh mencintai minho pa nggak ya [sweat] [sweat]
and perjumpaan mereka kyk apa? ceritain dong, gw penasaran. setelah berpisah ama ah in,apa yg terjadi pada hyesun [what]

ff ni kebalikan dari Dinasti Lee, mom. lo di DL, Mino yang punya masa lalu, tapi di sini, Sun yang punya masa lalu. di ff ni, sun adalah wanita dengan prinsip lebih baik dicintai daripada mencintai [hmpfh] [hmpfh]ntar deh ketauan kenapa hye sun bisa punya prinsip seperti itu [lovestruck]
setelah berpisah dengan Ah in?  [chin] [chin]setelah pisah ma Ah in, ya... Hye Sun ketemu Minho [hmff]
yee ketemunya gimana hammer2 hammer2 (pingin digetok nih anak [hammer] [hammer] , sekalian ditembak aja [guns] [guns] [hmff] [hmff] )

 [heh] gimana ya ketemunya [chin]
ya gak gimana-gimana, cuma ketemu ja gitu, deh... [heh]
yee sama aja ga dijawab hammer2 ketemu, ya cuma ketemu gitu aja,, gw jg tahu [head break] [head break] [head break] moso hyesun lgs dinyamperin terus blg 'hey nona cantik sekali. mau ga jadi pacarku [what] [sweat] "

sekali lagi [guns] [guns] [head break] [hammer] [fighting] mampus lu [dry] [goodgrief] [hmff] [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun