Author Topic: THE HOSPITAL-- Chapter 19 (11 Agustus 2011)  (Read 25268 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter I (8 JAN 2011)
« Reply #60 on: January 11, 2011, 08:14:16 am »
Anneyong sisicia... salam kenal....  [hug]

Wew ada FF baru neh...  [drool] jadi makin rame wae CM...  [hmpfh]

Gara-gara momen KBS jd terinspirasi pasangin Hye sun ama YAI ya...  [hmpfh]

yup, gara2 penampilan ah in di kbs cocok bgt buat jd dokter.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter I (8 JAN 2011)
« Reply #61 on: January 13, 2011, 12:25:37 am »
Untuk chapter dua, fokus cerita lbh pada YAI,my hubby. :-P


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter I (8 JAN 2011)
« Reply #62 on: January 13, 2011, 12:25:46 am »
Untuk chapter dua, fokus cerita lbh pada YAI,my hubby. :-P


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter I (8 JAN 2011)
« Reply #63 on: January 13, 2011, 02:19:33 am »
Untuk chapter dua, fokus cerita lbh pada YAI,my hubby. :-P

ni dari kemaren YAI jd threading topic yech gara2 kemunculannya di KBS ama mami [goodgrief], dah buruan up date non, eke dah ga sabar pengen tahu kelanjutannya. tp hye sun jgn dibikin balikan ama YAI lg yech, awas aje kalo ampe YAI berani2 mefet Hye sun ntar gw [head break] [head break] authornya [hmpfh]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter I (8 JAN 2011)
« Reply #64 on: January 13, 2011, 02:23:53 am »
kok prinsip hye sun sama kyk prinsip gw " lebih baik dicintai daripada mencintai",  [hmpfh] [hmpfh]

Nutri, UP DATE UP DATE UP DATE UP DATE UP DATE UP DATE UP DATE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

btw gw suka karakter Umh jae Wong disini, cocok dgn tampang dingin and agak2 bengis jd org yg suka menentang keputusan min ho and org yg suka mencari gara2, gak sabar gw masalah apa yg ntr bakal dilakuin ama Dr Umh ke Hye sun, pasti ntar dia bakalan ganggu hye sun abis2an dan merusak hubungan hye sun dgn min ho dgn melibatkan Ah In, trus Dr Umh pengen merebut kekuasaan di Rumah sakit ini bukan, hehehe ( asbak mode on ) [hmpfh]

 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
 [smiley-gen013] yee,kok tau lo uhm tae woong d sni jd antagonis? Emg mudah ktebak,ya? Lo masalah prinsip hye sun, it jg prinsip gua, hahaha.[smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Umh Tae Wong kalo gak jd antagonis kurang seru, soalnya mukanya dah kyk mafia berdarah dingin [hmpfh] [hmpfh]
berarti prinsip kita bertiga ( gw, hye sun & nutri) sama donks. lebih baik dicintai dr pad mencintai [smiley-gen013] [smiley-gen013] berarti harapan gw dicintai mino sangat besar dunks [hmpfh] [hmpfh]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter I (8 JAN 2011)
« Reply #65 on: January 13, 2011, 03:53:02 am »
Untuk chapter dua, fokus cerita lbh pada YAI,my hubby. :-P

ni dari kemaren YAI jd threading topic yech gara2 kemunculannya di KBS ama mami [goodgrief], dah buruan up date non, eke dah ga sabar pengen tahu kelanjutannya. tp hye sun jgn dibikin balikan ama YAI lg yech, awas aje kalo ampe YAI berani2 mefet Hye sun ntar gw [head break] [head break] authornya [hmpfh]
[hmpfh] padahal rencananya ada adegan kaya gt.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter I (8 JAN 2011)
« Reply #66 on: January 13, 2011, 05:01:55 am »
Untuk chapter dua, fokus cerita lbh pada YAI,my hubby. :-P

ni dari kemaren YAI jd threading topic yech gara2 kemunculannya di KBS ama mami [goodgrief], dah buruan up date non, eke dah ga sabar pengen tahu kelanjutannya. tp hye sun jgn dibikin balikan ama YAI lg yech, awas aje kalo ampe YAI berani2 mefet Hye sun ntar gw [head break] [head break] authornya [hmpfh]
[hmpfh] padahal rencananya ada adegan kaya gt.

beneran nich Author minta di  [guns] [guns] [hmpfh] [hmpfh], ya terserah Authornye aje yg penting mino and hye sun kawin , py anak, happy sampe akhir hayat. AMIENNNNNNNN [hmpfh] [hmpfh]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter I (8 JAN 2011)
« Reply #67 on: January 13, 2011, 06:39:20 am »
THE HOSPITAL
Chapter II

Song of the Chapter:
All out of love
By Airsupply

I'm lying alone with my head on the phone. Thinking of you till it hurts
I know you hurt too but what else can we do. Tormented and torn apart
I wish I could carry your smile and my heart, For times when my life feels so low
It would make me believe what tomorrow could bring. When today doesn't really know,
doesn't really know

I 'm all out of love, I'm so lost without you, I know you were right believing for so long
I 'm all out of love, what am I without you, I can't be too late to say that I was so wrong

I want you to come back and carry me home, Away from this long lonely nights
I'm reaching for you, are you feeling it too.
Does the feeling seem oh so right, And what would you say if I called on you now
And said that I can't hold on
There's no easy way, it gets harder each day
Please love me or I'll be gone, I'll be gone

Oh, what are you thinking of?  What are you thinking of?
Oh, what are you thinking of?
What are you thinking of?

Additional Cast:
Yoo Ji In as mrs. Yoo
Jung Yong Hwa as Asisstant Jung
Son Hye Jin as Perawat Son
Sandara Park as Perawat Park


Yoo Ah In menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Seperti biasa, badannya serasa penat sehabis praktek, seperti biasa pula sang istri, Kim Min Ji belum pulang, dipandanginya bantal istrinya itu, dia menghitung sudah setahun perkawinannya bermasalah. Dia bahkan tidak tahu dimana Min Ji sekarang, mungkin bersama selingkuhannya. Ya, Min Ji berselingkuh, dia sudah mengetahui hal itu selama setahun, dan mendiamkannya. Hal itu dia lakukan karena ibunya, Yoo ji In. Min Ji adalah istri yang dipilihkan Sang Ibu untuknya. Jika dia tidak menjaga perasaan Ibunya, mungkin saja sekarang sudah menduda.

Dia mengingat pertemuannya dengan Hye Sun tadi pagi. Tak disangka Hye Sun adalah calon istri Min Ho. Hye Sun yang pernah dicintai dulu, kini akan berbahagia dengan pria lain. Hye Sun yang dulu dianggap tidak pantas untuk mendampinginya, hingga dia mengarang cerita  konyol tentang Ibunya yang menginginkan menantu dokter. Dia berpikir, mungkin kondisi perkawinan yang tengah dialaminya ini adalah suatu karma. Karma karena membohongi Hye Sun.

Dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju ruang kerja, ketika melewati kamar Sang Ibu dia berhenti, dilihatnya lampu kamar itu sudah padam, sama halnya dengan lampu-lampu lain di seluruh ruangan. Sesampai di ruang kerja, dia duduk dan terlihat mencari sesuatu di laci meja, terselip diantara lembar buku hariannya. Sebuah surat usang yang sudah berkali-kali dibacanya itu kini diselami lagi.


Anyong, Ah In-a,

Aku menulis surat ini untuk berjaga-jaga, kalau-kalau ku tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaanku. Kau lihat dua foto ini? Yang cupu adalah fotoku lima tahun yang lalu, sedangkan yang lain adalah fotoku dua bulan yang lalu. Kau bisa bayangkan, jika kedua orang dalam foto ini bertemu, mungkin keduanya akan saling bunuh, yang satu akan bilang kepada yang lain bahwa dia terlalu kolot dan sok alim, sedangkan yang lain akan menceramahinya dengan kata-kata agama. Tapi, Ah In-a, dibalik perubahanku itu, ada satu prinsip yang selama ini aku pegang teguh, bahwa aku akan mencintai pria karena cintaku kepada Tuhan, dan saat pertama kita bertemu, entahlah… aku tak tahu, tapi yang ku tahu, aku mulai jatuh cinta padamu, aku mencintaimu karena aku melihatmu sebagai sosok yang alim yang bisa membimbingku di jalan Tuhan, ya,,, aku mencintaimu karena Tuhan.

Ah In-a, kau pasti akan bilang lebih baik kita berteman, tapi untuk saat ini, sulit bagiku untuk mengubah anggapanku yang menginginkanmu lebih dari sebagai teman, menjadi hanya sebagai teman, karena itu, aku mohon beri aku waktu, jika aku sudah bisa menganggapmu sebagai teman, aku akan menghubungimu.

Hye Sun


“Hye Sun-a, kau bahkan tidak menghubungi sejak saat itu, mungkinkah kau belum bisa menganggapku sebagai teman?” Ah In bertanya-tanya dalam hati.

“Bagaimana kabar keluargamu?” Ah In masih bicara sendiri seolah Hye Sun ada di depannya.”Sebenarnya itulah yang ingin aku tanyakan padamu pagi tadi. Apakah Ayahmu sudah bercerai dengan Ibu tirimu?”

“Aku pengecut, Hye Sun-a. Aku egois, harusnya dulu ku mempertahankanmu.” Ah In tersenyum,”Bayangkan jika saja kita berdua menikah, sudah berapakah anak kita sekarang?”

Akhirnya dia tertidur menekuri kertas usang itu. Sang Ibu yang terbangun segera menuju ruang kerjanya saat melihat lampu di ruangan itu masih menyala. Ibu Ah In terkejut melihat anaknya tertidur dengan keadaan seperti itu. Didekatinya Ah In hingga dia mampu melihat kertas usang yang berada dibawah kepala Ah In. Dengan hati-hati dia menarik kertas itu kemudian membaca isinya.

“Hye Sun?” pikirnya, “Siapa Hye Sun?”

Dipandanginya wajah Ah In. Dia prihatin dengan keadaan putranya saat ini, dia kecewa dengan perkawinan yang dijalani putranya. Kini semuanya telah jelas, perkawinan itu tidak bahagia karena ada dosa masa lalu yang dilakukan putranya. Dosa Ah In pada wanita ini. Pada orang yang dalam surat ini tertulis bernama Hye Sun.

Dia keluar dari ruangan itu karena tak ingin Ah In mendengar isakan lirihnya. “Ah In-a, maafkan Omma, Nak. Jika saja Omma tidak terlalu menuntut. Ya…, jika saja Omma tidak terlalu menuntut.”

Ji In segera memasuki kamarnya. Pikirannya masih tertuju pada sosok Hye Sun. Seperti apakah gadis itu? Kenapa Ah In tidak pernah bercerita mengenai gadis itu? Dan pikiran itu dibawanya sampai akhirnya dia terbuai mimpi.

Malam itu hanya ada Ah In dan Ibunya, tanpa Min Ji. Hingga pagi menjelang, seperti biasanya Ah In memulai hari tanpa istrinya. Dia jogging di seputar rumah dan berhenti ketika tubuhnya basah oleh keringat.  Ketika menginjakkan kaki di beranda rumah, dia sempat melihat mobil keluarga Lee meninggalkan pekarangan rumahnya. Siapa yang bertamu sepagi ini? Tanyanya dalam hati. Dilihatnya sang Ibu tengah membereskan gelas bekas menjamu tamu tadi.

“Siapa yang datang?” tanya Ah In.

“Nyonya Lee ,” jawab Ji In sembari membawa gelas-gelas itu ke dapur untuk di cuci. “Lee Hyo Young tadi cerita bahwa  Min Ho telah membawa calon istrinya ke rumah.”

“Begitukah?” komentar Ah In. Dia duduk di meja makan dan menuangkan teh ke dalam cangkir.

“Iya, dia sepertinya sangat bahagia. Hm, sepertinya kita harus bersiap untuk resepsi bersejarah.”

Ji In duduk di samping Ah In setelah aktifitasnya dengan gelas-gelas kotor selesai.

“Hyo Young juga bilang bahwa gadis itu sangat formal. Terlalu formal malah.”

Ah In menghirup tehnya, “Gadis itu adalah farmasis yang menggantikan farmasis Jung.”

“Oh ya?”
Ah In mengangguk.
“Jadi staff di rumah sakit sudah mengenal gadis itu?”
“Dia baru kerja sehari.”
“Bagaimana dia? Cantik?” tanya Ji In.
Ah In mulai melamunkan Hye Sun, “Iya… Dia cantik. Ah, kenapa Omma menanyakan itu?”

Ah In segera meninggalkan ruangan itu untuk melakukan aktifitas selanjutnya. Semalam dia sudah mengatur agendanya untuk hari ini. Hari ini ada pengobatan gratis di panti jompo sampai pukul duabelas, jam satu siang ada rapat dengan pengurus rumah sakit, dan sore hari praktek pribadi, lalu jaga di UGD malam harinya.

Pengobatan gratis di panti jompo pun  berjalan dengan lancar, tingkah konyol para kakek-nenek itu sangat menggelikan. Ah In hanya tersenyum simpul saat salah satu dari nenek itu ingin menjodohkan salah satu koas bawahannya dengan cucunya. Beberapa sempat protes saat tape recorder memperdengarkan lagu-lagu tempo dulu, semua staff yang dia bawa agak terkejut saat kakek-nenek itu minta diperdengarkan lagu-lagu yang tengah hit. Akhirnya jadilah ajang dansa antara kakek-nenek itu di ruang tunggu pasien.

Saat tiba giliran Kakek Liu, salah satu penghuni panti yang terkenal mampu membaca pikiran orang lewat mimik wajah, Ah In segera memeriksa keadaan lelaki tua itu. Dia agak kikuk ketika Kakek Liu terus memandang wajahnya lekat-lekat. Ah In sempat heran dengan keadaan Kakek Liu, setiap kali Ah In memeriksanya, setiap kali pula Ah In melihat keadaan pria tua itu tidak berubah, tensi yang masih saja 130/85, berat badan yang masih 60 kg, dengan tinggi badan 160 cm, sungguh kondisi yang masih begitu fit.

“Kondisi anda bagus,” komentar Ah In,”Saya bangga dengan anda, saya rasa, saya cukup memberi vitamin saja.”

Ah In menyerahkan lembar resepnya. Dia terkejut saat tiba-tiba Kakek Liu menarik tangannya dan mengamati telapak tangannya. Sesaat Ah In membiarkan lelaki tua itu berbuat sekendak hati dengan telapak tangannya hingga akhirnya lelaki itu melepaskan tangannya dan mulai beranjak dari tempat duduk.

“Jangan pernah merebut yang sudah bukan milikmu, dok…. , “  kata Kakek Liu tiba-tiba. Kening Ah In berkerut, apa maksudnya? Kakek Liu hanya tersenyum.

 
 
---------------------------------------------------

Matahari sudah meninggi saat Yoo Ah In melangkahkan kakinya di ruang UGD, rapat pengurus rumah sakit ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan, semua orang bertanya-tanya sebab-musabab hal itu terjadi, dan semuanya menunjuk Hye Sun, farmasis baru itu sebagai biang keladi.
Hye Sun mengerahkan seluruh petugas  di instalasi farmasi untuk mengecek segala sediaan farmasi di rumah sakit itu. Dia sudah menyusun semua indikator-indikator yang ingin dia ketahui sebagai bahan evaluasi kinerja instalasinya, dan sebelum hal ini selesai, rapat belum bisa berjalan. Semua warga rumah sakit hanya bisa mendengus saat dia memberikan permohonan penundaan rapat pada direktur dan meminta maaf atas kelambanan kerjanya. Kelambanan kerja?  Bukankah dia baru satu hari kerja di rumah sakit?

Seperti yang kini terlihat di depan mata Ah In, para perawat berkasak-kusuk saat Hye Sun mengecek emergency kit di ruang UGD, perawat Park berbisik pada rekan kerjanya, “Oh, jadi ini yang namanya Hye Sun?”

Perawat Son, perawat yang diajak bicara oleh Perawat Park mengangguk, “Cantik juga.”
“Bukan hanya cantik, nasibnya juga baik, mengingat dia bisa menggaet bos.”
Keduanya tertawa.
“Andai saja aku seumuran dia, apa Min Ho-ssi melirikku?” canda perawat Son.
“Melirik sih iya, tapi kalau tertarik belum tentu, hehehe!’

Perawat Son mencubit lengan Perawat Park yang mengejeknya hingga rekan kerjanya itu meringis kesakitan. Kuku Perawat Son yang panjang membuat lengan Perawat Park berwarna merah.

Ah In berdehem saat berada di dekat mereka. Mereka jadi salah tingkah lalu berlalu untuk meneruskan tugas masing-masing. Sekarang tinggal Ah In di sisi ruang itu hingga dia bisa dengan jelas melihat apa saja yang diperbuat Hye Sun. Gadis itu membuka satu persatu emergency kit, entah apa yang dilihatnya dari benda itu karena terlihat sesekali dia menulis di buku catatannya.

Ah In berjalan menuju Hye Sun, setelah tubuhnya berjarak lima puluh sentimeter dari gadis itu, Ah In menyapa.

“Selamat siang, dokter Yoo, “ sapa Hye Sun balik. Ah In agak terkejut mendengar sapaan Hye Sun barusan. Dokter Yoo? Sudah dua kali Hye Sun memanggilnya lengkap dengan title, beda jauh dengan masa kuliah dulu.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Ah In.
“Hanya mengecek seluruh persediaan farmasi di ruangan ini?”
Ah In mengangguk-angguk, “Kenapa harus kau lakukan sendiri?”
“Apakah ada petugas lain yang bisa membantu?” tanya Hye Sun.
“Kau bisa menyuruh stafmu.”

“Sebagian staf mengerjakan tugas ini di unit lain, sebagian lagi mengerjakan tugas pelayanan, aku harus pandai-pandai menyiasati tugas, SDM di instalasi farmasi terbatas, aku bahkan menyuruh staf yang sift sore untuk masuk dan menghitungnya sebagai kerja lembur, lalu kepada siapa aku harus menyuruh lagi?”

Hye Sun menjelaskan panjang lebar. Ah In mulai mengerti. Memang seperti itulah keadaan instalasi farmasi. Dulu, beberapa kali farmasis Jung memohon untuk penambahan personel, tetapi beberapa kali pula usulan ditolak dan akibatnya instalasi farmasi adalah instalasi yang paling lamban perkembangannya. Ah In berpikir akankah ada perubahan pada instalasi itu setelah ada Hye Sun. Apalagi keberadaan Hye Sun yang menjadi kontroversi di rumah sakit ini.

“Oke, apakah kau akan terus berdiri di situ?” tanya Hye Sun membuyarkan lamunan Ah In.”Aku harus melanjutkan pekerjaanku.”

Ah In tersenyum, dia segera berjalan menjauhi Hye Sun. Dalam hati dia merasa Hye Sun sudah sangat berubah. Hye Sun terlihat lebih tegar, lebih kuat, dia bukanlah gadis rapuh itu, gadis yang selalu mendatanginya dengan mata merah untuk berkeluh-kesah akan keadaan orang tuanya. Dia berpikir sejak kapan Hye Sun berubah, sejak kejadian di restoran itukah? Atau sejak Hye Sun bertemu Min Ho? Ah, dia tidak tahu.

Siang itu agenda Ah In terbengkalai, dan akhirnya dia memutuskan untuk membantu UGD yang hari itu memang terlihat sangat sibuk. Hye Sun pun masih berkutat dengan aktivitasnya, sesekali dia melirik Ah In yang mulai sibuk dengan pasien UGD. Dalam hati dia mengagumi profesionalitas kerja Ah In. Dia ingat, Ah In dari dulu terlalu perfeksionis, mungkinkah hal itu yang mempengaruhi profesionalitas kerjanya. Hye Sun tiba-tiba menggelengkan kepalanya.

“Cukup, Sun-a. Teruskan pekerjaanmu!” perintah hati kecil Hye Sun. Dan akhirnya tubuh Hye Sun menurut, ditelitinya kembali deretan obat-obatan emergency kit didepannya, dihitungnya satu per satu jumlah dari tiap item obat, diperiksa tanggal kadaluarsa yang tercantum dalam tiap kemasan obat itu. Obat yang sudah kadaluarsa dia sendirikan, dimasukkan ke dalam plastic dan diberi etiket dari ruangan mana obat itu berasal. Hal itu nantinya digunakan untuk segera mengganti sediaan yang kadaluarsa atau habis. Obat emergency kit tidak boleh kosong, pikirnya dalam hati.

Dia mengkontak bagian gudang untuk membacakan obat-obatan dari UGD yang rusak, ED mau pun habis, bagian gudang menerangkan sediaan obat-obatan yang disebutkan masih ada, tetapi tidak ada orang yang bisa disuruh untuk mengantarkan obat-obatan tersebut karena semua orang sibuk dengan tugas yang Hye Sun berikan.  Hye Sun mulai geram,”Suruh tukang sapu untuk segera mengantarkannya kemari!”

Hye Sun berteriak, semua orang di ruang UGD menoleh ke arahnya, tak terkecuali Ah In dan Hye Sun mulai berbuat seolah tidak terjadi apa-apa. Dia melanjutkan pekerjaannya. Kali ini mengecek tiap-tiap tabung gas di ruangan itu. Semua orang yang pada mulanya menoleh kepadanya sekarang mulai kembali ke aktivitas semula.

Kenapa aku berbuat begitu? Apa tepat keputusanku menyuruh tukang sapu untuk mengantarkan persediaan ke UGD? Bagaimana jika ada obat yang memang memerlukan perlakuan khusus saat penghantaran?Apakah tukang sapu tahu akan hal itu? Hye Sun mulai was-was. Akhirnya dia mengalah, dilangkahkan kakinya meninggalkan UGD dan menuju ke gudang.

…………………………………………………………………………………………………………..

Kesibukan para staf di instalasi farmasi tersebut berakhir jam 12 malam, alhasil semua orang bekerja masing-masing 2 sift pada hari itu. Hye Sun melihat para stafnya yang kelelahan mulai membuka box makanan yang sengaja dia pesan untuk mereka pada malam itu. Di gudang terlihat mereka bercengkrama, sambil mengangkat gelasnya, Hye Sun mengumumkan sesuatu,”Saya berterimakasih atas kerjasamanya. Percayalah, semua ini kita lakukan untuk kemajuan instalasi kita. Data inilah yang nantinya dijadikan evaluasi kinerja kita selama ini.”

“Kinerja kita? Bukankah anda seharusnya menyebut itu kinerja kami? Mengingat anda baru satu hari kerja di sini,” salah seorang asisten farmasis protes. Soe Eun yang mendengar hal tersebut mengulum senyum. Dalam hati dia menunggu apa yang akan dikatakan oleh Hye Sun menanggapi protes Jung Yong Hwa, asisten farmasis itu.

Hye Sun menghela nafas,”Ya, kau betul, seharusnya aku menyebut ini sebagai kinerja kalian. Aku memang baru sehari kerja di sini, lalu kenapa? Apakah waktu sehari itu tidak begitu berharga untuk dianggap kinerja?”

Yong Hwa kebingungan dengan ungkapan Hye Sun. Tapi yang lain tidak perduli, mau dianggap kinerja kek, enggak kek, yang penting kesibukan hari ini telah rampung. Mereka pun sangat senang Hye Sun mau berbaik hati memesankan menu makanan yang enak-enak. Itu menandakan kemurahhatian kepala instalasi farmasi yang baru itu.

Hye Sun memandang ke arah Soe Eun. Soe Eun yang merasa diperhatikan jadi salah tingkah, lebih-lebih ketika Hye Sun mendekatinya. Sambil tersenyum, Hye Sun mengulurkan tangan untuk bersalaman, mau tak mau Soe Eun harus membalas jabat tangan itu.

“Bisa kita bicara di ruanganku sebentar?” pinta Hye Sun.

Soe Eun terdiam. Dia hanya menurut saat Hye Sun merangkulnya untuk memasuki ruang kerja Hye Sun. “Silahkan duduk,” pinta Hye Sun pada Soe Eun ketika mereka telah memasuki ruangan kerja Hye Sun.

Soe Eun menurut, sementara Hye Sun mulai menduduki kursi kerjanya. Kursi itu, kursi yang selama bertahun-tahun di duduki oleh Farmasis Jung sebagai kepala instalasi farmasi, dan kini seorang farmasis baru memimpin, berusaha menilai segala hal dalam instalasi ini, apakah ini masuk akal? Seseorang yang benar-benar asing merasa tahu betul akan instalasi ini? Soe Eun sibuk dengan pikiran itu.

Hye Sun mulai bicara, “Soe Eun-ssi, hanya kau dan aku farmasis di instalasi ini, karena itu aku sangat mengharapkan kerja sama darimu.”

Hye Sun tersenyum,”Aku tidak tahu apa yang dikatakan kakakmu, Hyun Joong padamu.”
Soe Eun terkejut. Dari mana Hye Sun tahu tentang kakaknya itu yang menjanjikan kedudukan farmasis Jung padanya.

“Dan aku juga tidak tahu yang dijanjikan Tae Woong padamu, tapi aku mohon kerja samamu untuk memajukan instalasi ini, bukankah teman sejawat adalah saudara kandung?” Hye Sun tersenyum. Soe Eun membalas senyum itu walau sedikit terdapat gurat paksaan di senyumannya. “Nah, sekarang kau boleh pulang, aku tahu kau lelah,”kata Hye Sun.

Soe Eun pun meminta diri. Kini tinggal Hye Sun di ruangan itu menatap bertumpuk kertas hasil kerja seharian tadi. Hye Sun mulai membuka satu persatu. Sample counting, ketidaksesuaian jumlah sediaan antara kartu stok dan computer 45%, ketidakcocokan antara kartu stok dan jumlah sediaan fisik 25%. Di sini, Hye Sun mulai menghela nafas. Dia memijit-mijit tengkuknya yang sedari tadi tegang. Dia melanjutkan lagi. Menelusuri lembar demi lembar kertas di atas mejanya itu. Yang terlihat adalah angka-angka yang menampilkan kekecewaan yang mendalam, angka yang menunjukan tidak bekerjanya system atau memang bekerjanya system yang salah.

Ketersediaan obat 70%, disini Hye Sun mulai mengkerutkan dahi. Dia terlalu serius menekuri kertas-kertas itu. Dia terkejut saat HPnya tiba-tiba berbunyi dan membuat ruangan yang hening itu berisik sejenak. “My luoy” tertulis di layar HP-nya, ternyata Min Ho yang menelpon.

“Kau dimana?” tanya Min Ho di ujung telephone.
“Masih di kantor,” jawab Hye Sun dengan suara serak.
“Bo? Masih di kantor? Kalau begitu aku akan menjemputmu.”

Belum sempat Hye Sun membalas. Min Ho sudah menutup telephone. Hye Sun mendengus, “Kebiasaan yang tidak baik,” umpatnya. Dia meneruskan pekerjaannya.

Seperempat jam kemudian Min Ho memasuki ruangan itu dan protes karena kesibukan Hye Sun., “Kau adalah pegawai di sini, bukannya pekerja rodi.”

“Aku tidak merasa kalau sedang kerja rodi,” jawab Hye Sun.
“Bekerja dari jam delapan pagi sampai jam dua dini hari, kau anggap ini bukan kerja rodi?”
“Bukankah ini rumah sakit keluargamu?”
“Ne.”
“Seharusnya kau senang aku melakukan semua ini.”

Min Ho mengibaskan tangannya. “Sudah, tidak usah banyak protes, ayo pulang!” perintah Min Ho. Hye Sun pun memunguti kertas-kertas di atas mejanya untuk dibawa pulang. Dia menurut saat Min Ho menggandeng tangannya atau lebih tepat dianggap menarik tangannya untuk segera keluar dari ruang kerja itu. Sesampainya di pelataran parkir, mereka berpapasan dengan Ah In yang kebetulan akan tugas shift malam di UGD. Ah In menghentikan langkahnya demi memperhatikan pasangan itu.

“Pagi, Ah In-a,” sapa Min Ho masih dalam posisis menarik  tangan Hye Sun.
“Pagi,” jawab Ah In.

Rupanya Min Ho sedang tidak ingin memperlama basa-basi itu. Dia segera menuju mobilnya yang terparkir berdekatan dengan mobil Ah In dan Ah In masih saja memperhatikan tingkah keduanya.  Min Ho masuk ke dalam mobil sesudah Hye Sun. Beberapa menit kemudian, mobil itu sudah berlalu dari area parkir. Ah In masih saja berdiri mematung. Dia berpikir apa yang terjadi sehingga Min Ho sepertinya menyeret Hye Sun. Dan akhirnya ditanggalkannya pikiran itu demi memasuki tugas yang sebenarnya telah memanggil 2 jam yang lalu.


TBC PArt 3
« Last Edit: January 13, 2011, 06:53:38 am by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter II (13 JAN 2011)
« Reply #68 on: January 13, 2011, 08:55:26 am »
Nutri hug kiss hug kiss,thnx dear da diupdate. B'rarti selama ini ah in ga p'nah cerita ke ny yoo soal hye sun & krn ketakutannya kalo ny yoo ingn py menantu seorg dokter,ah in memilih menyerah tanpa berjuang dulu,ckckck. Dgrin th kt kakek liu"jgn merebut yg sudah bkn milikmu lg". Ngakak gw bc part asisten park yg ngmong  ke si centil jin " melirikmu pasti tp tertarik padamu belum tentu"beuh nanceup di ulu hati. Wkwkwkkk. Next chapie GPL ah,hehehe


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter II (13 JAN 2011)
« Reply #69 on: January 13, 2011, 09:05:11 am »
Nutri hug kiss hug kiss,thnx dear da diupdate. B'rarti selama ini ah in ga p'nah cerita ke ny yoo soal hye sun & krn ketakutannya kalo ny yoo ingn py menantu seorg dokter,ah in memilih menyerah tanpa berjuang dulu,ckckck. Dgrin th kt kakek liu"jgn merebut yg sudah bkn milikmu lg". Ngakak gw bc part asisten park yg ngmong  ke si centil jin " melirikmu pasti tp tertarik padamu belum tentu"beuh nanceup di ulu hati. Wkwkwkkk. Next chapie GPL ah,hehehe
seminggu lagi,mungkin,,, hehehehe, ni si jin di sini cuma cameo doang, next part dah gak ada jin lagi [hmpfh] [hmpfh]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter II (13 JAN 2011)
« Reply #70 on: January 13, 2011, 09:44:55 am »
sist...maaf blom bisa koment  [hmpfh]

mau baca dulu... [laughing]

Love you more than I can say

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter II (13 JAN 2011)
« Reply #71 on: January 13, 2011, 10:00:25 pm »
kalo dulu ah in kekeh pertahanin hubungannya ga akan pernah ada donk minsun smoga ah in ga nekad ye [sweat] biarin de minsun idup bahagia [lovestruck] [lovestruck]

aku seneng sm hyesun disini walaupun banyak cibiran dy kerja disitu karna tunangannya tp dy tetep bs tersenyum dan maju terus pantang mundur abaikan aja orang2 model begitu sukanya nyela orang [dry] [dry]


ADAM COUPLE SELCA

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter II (13 JAN 2011)
« Reply #72 on: January 13, 2011, 10:20:05 pm »
sist...maaf blom bisa koment  [hmpfh]

mau baca dulu... [laughing]
silahkan, mau bc dulu dan resapi.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter II (13 JAN 2011)
« Reply #73 on: January 13, 2011, 10:26:00 pm »
kalo dulu ah in kekeh pertahanin hubungannya ga akan pernah ada donk minsun smoga ah in ga nekad ye [sweat] biarin de minsun idup bahagia [lovestruck] [lovestruck]

aku seneng sm hyesun disini walaupun banyak cibiran dy kerja disitu karna tunangannya tp dy tetep bs tersenyum dan maju terus pantang mundur abaikan aja orang2 model begitu sukanya nyela orang [dry] [dry]
tapi kayakx lo ah in nekat, blh juga nih. hehehe, gue tampung ide revinska, biar hdp hye sun tmbh runyam, serunyam dunia kerjanya.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter II (13 JAN 2011)
« Reply #74 on: January 14, 2011, 01:09:15 am »

tapi kayakx lo ah in nekat, blh juga nih. hehehe, gue tampung ide revinska, biar hdp hye sun tmbh runyam, serunyam dunia kerjanya.

jiaaaahhhhhhh tidaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkk nambah2in masalah hyesun [nono] [nono] yg lalu biarlah berlalu [hmpfh] [hmpfh]


ADAM COUPLE SELCA