Author Topic: THE HOSPITAL-- Chapter 19 (11 Agustus 2011)  (Read 23898 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter IV (23 JAN 2011)
« Reply #120 on: January 23, 2011, 02:33:50 am »
Weh sampon diupdate maturnuwon [laughing] [laughing] [laughing]
Author-nya bener2 cinta budaya lokal mpe nyelipin bahasa jawi [hmff]

hehehe, sekali~kali myempilkan budaya lokal dlm fanfic, biar g lupa ma asal qt.hehehe.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline lee sun ho

  • Full
  • ***
  • Posts: 265
  • onnie you're so pretty
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter IV (23 JAN 2011)
« Reply #121 on: January 23, 2011, 11:30:59 am »
sicia pinter sanget boso jawine......jenengan wong jawi yo sist......
Sist gw mpe [laughing] [laughing]bacanya.......ngebayangin hye sun pke bhsa jwa..trs ngebayangin tampangnya so eun yg melongo,cengo smbil melongo hohoho dengerin hye sun ngomong ma pasiennya..
Lanjuuuuuut sist yg lucu2 y sist.....biar bacanya smbil ketawa2 sndiri ky orang gila hahaha.......
MinSun....''I will always love Them''
forever and ever

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter IV (23 JAN 2011)
« Reply #122 on: January 23, 2011, 07:02:54 pm »
sicia pinter sanget boso jawine......jenengan wong jawi yo sist......
Sist gw mpe [laughing] [laughing]bacanya.......ngebayangin hye sun pke bhsa jwa..trs ngebayangin tampangnya so eun yg melongo,cengo smbil melongo hohoho dengerin hye sun ngomong ma pasiennya..
Lanjuuuuuut sist yg lucu2 y sist.....biar bacanya smbil ketawa2 sndiri ky orang gila hahaha.......
hehehe


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter IV (23 JAN 2011)
« Reply #123 on: January 24, 2011, 12:33:16 am »
gw [wacko] [wacko] ama bahasa jowonya---ga ngerti [hmpfh] [hmpfh]

minho perfect ya di sini? wah wah,, gw makin cinta [lovestruck] jgn bikin dia patah hati ya sis, apalagi ama ah in--si brengsek itu [nono] [nono] (gw dukung minho 100% [lovestruck] [lovestruck] )

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter IV (23 JAN 2011)
« Reply #124 on: January 24, 2011, 12:46:08 am »
gw [wacko] [wacko] ama bahasa jowonya---ga ngerti [hmpfh] [hmpfh]

minho perfect ya di sini? wah wah,, gw makin cinta [lovestruck] jgn bikin dia patah hati ya sis, apalagi ama ah in--si brengsek itu [nono] [nono] (gw dukung minho 100% [lovestruck] [lovestruck] )
pokoknya dsni q buat minho kalem sekalem kalemnya,deh.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter IV (23 JAN 2011)
« Reply #125 on: January 24, 2011, 12:49:42 am »
gw [wacko] [wacko] ama bahasa jowonya---ga ngerti [hmpfh] [hmpfh]

minho perfect ya di sini? wah wah,, gw makin cinta [lovestruck] jgn bikin dia patah hati ya sis, apalagi ama ah in--si brengsek itu [nono] [nono] (gw dukung minho 100% [lovestruck] [lovestruck] )
pokoknya dsni q buat minho kalem sekalem kalemnya,deh.
kalem? bukannya dia suka seenaknya ke hyesun [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter IV (23 JAN 2011)
« Reply #126 on: January 24, 2011, 12:53:37 am »
gw [wacko] [wacko] ama bahasa jowonya---ga ngerti [hmpfh] [hmpfh]

minho perfect ya di sini? wah wah,, gw makin cinta [lovestruck] jgn bikin dia patah hati ya sis, apalagi ama ah in--si brengsek itu [nono] [nono] (gw dukung minho 100% [lovestruck] [lovestruck] )
pokoknya dsni q buat minho kalem sekalem kalemnya,deh.
kalem? bukannya dia suka seenaknya ke hyesun [hmpfh]



maksudnya kalem tuh,g mta ehm2 sblm maried gt, mam, hahaha.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter IV (23 JAN 2011)
« Reply #127 on: January 24, 2011, 01:10:07 am »
O--pura2 bego [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter IV (23 JAN 2011)
« Reply #128 on: January 24, 2011, 01:42:58 am »
gw [wacko] [wacko] ama bahasa jowonya---ga ngerti [hmpfh] [hmpfh]

minho perfect ya di sini? wah wah,, gw makin cinta [lovestruck] jgn bikin dia patah hati ya sis, apalagi ama ah in--si brengsek itu [nono] [nono] (gw dukung minho 100% [lovestruck] [lovestruck] )
agree agree ma mami sis....besok2 musti ada translatetannya dari sis sisicia... [hmpfh]
ayo sis,,kapan mau di update lg?? langsung di [hammer3]

Love you more than I can say

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter IV (23 JAN 2011)
« Reply #129 on: January 24, 2011, 02:14:10 am »
gw [wacko] [wacko] ama bahasa jowonya---ga ngerti [hmpfh] [hmpfh]

minho perfect ya di sini? wah wah,, gw makin cinta [lovestruck] jgn bikin dia patah hati ya sis, apalagi ama ah in--si brengsek itu [nono] [nono] (gw dukung minho 100% [lovestruck] [lovestruck] )
agree agree ma mami sis....besok2 musti ada translatetannya dari sis sisicia... [hmpfh]
ayo sis,,kapan mau di update lg?? langsung di [hammer3]
sekali kali gak papa dunk, mino patah hati, lsg dgetok minoz, trnslate? pokokx it td hye sun nerangkan tntg obt tbc,hehehe.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter IV (23 JAN 2011)
« Reply #130 on: January 24, 2011, 02:46:23 am »
 happybday to you... happybday to you... happybday happybday..... happybday to you!!!!!!

happy b'day ya sis....wish u all de best,,GBU!! [weird]

Love you more than I can say

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter IV (23 JAN 2011)
« Reply #131 on: January 27, 2011, 02:54:04 am »
happybday to you... happybday to you... happybday happybday..... happybday to you!!!!!!

happy b'day ya sis....wish u all de best,,GBU!! [weird]
thank thank thank, muah muah muah.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter IV (23 JAN 2011)
« Reply #132 on: January 27, 2011, 04:45:41 am »
O--pura2 bego [hmpfh] [hmpfh]
hehehe, mami ada-ada saja,  [hmpfh] [hmpfh]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter IV (23 JAN 2011)
« Reply #133 on: January 28, 2011, 01:48:09 pm »
THE HOSPITAL
Chapter V

Song of the chapter:

More Than Words.
By.  Westlife

Saying I love you, Is not the words I want to hear from you
It's not that I want you, Not to say, but if you only knew
How easy it would be to show me how you feel
More than words is all you have to do to make it real
Then you wouldn't have to say that you love me
Cos I'd already know

What would you do if my heart was torn in two,
 More than words to show you feel, That your love for me is real,
What would you say if I took those words away,
Then you couldn't make things new
Just by saying I love you

More than words

Now I've tried to talk to you and make you understand
All you have to do is close your eyes ,And just reach out your hands and touch me
Hold me close don't ever let me go
More than words is all I ever needed you to show
Then you wouldn't have to say that you love me
Cos I'd already know

What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel, That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn't make things new
Just by saying I love you

Macau yang sibuk, membuat beberapa pengusaha menaruh minat padanya, tempat yang menjanjikan. Begitu juga bagi Min Ho dan keputusannya untuk ikut meramaikan bisnis di sini. Kini dia sedang berdiri di dalam ruang rapat,  menghadap ke arah dinding kaca hingga nampak di depannya suasana luas kesibukan kota yang terlihat jelas dari ruangan yang terletak di lantai lima itu. Penandatanganan atau lebih tepat disebut pengambilalihan telah dilakukan tiga puluh menit yang lalu, masih tampak di angan Min Ho mimik para petinggi perusahaan yang dia ambil alih, tatapan mata para karyawan terhadap dirinya seakan bertanya,”Hai, apa yang akan dilakukan oleh bos baru ini?” atau sekedar rasa memelas,”Tolong, jangan pecat kami.”

Min Ho menghela nafas. Kini dia mengerti kenapa Hye Sun sangat tidak menyukai akuisisi, bisa dibilang seperti penjajahan. Dia mulai berpikir apa yang akan dia lakukan terhadap perusahaan barunya ini. Akankah dia bertindak sebagai broker atau tetap menjalankan saja dengan usaha perampingan dan pendanaan yang minim, lalu bagaimana dengan tatapan memelas itu, tatapan yang seakan berkata, “Tolong, jangan pecat kami.”

Di saat pikirannya yang kalut itu, dia mengingat Hye Sun, kata-kata Hye Sun yang tidak menyukai akuisisi dan lebih memilih aliansi strategic dan merger lalu dia mengira-ira apa yang tengah dilakukan gadisnya itu sekarang. Ya, itulah satu-satunya hiburan yang selalu menyertainya di jam-jam sibuk, diantara kerja kerasnya mempertahankan Dinasti Lee, dengan mengingat-ingat segala hal yang akan direncanakannya dengan gadisnya itu, gadis yang sangat dicintainya, sebuah pernikahan! Dan kini Min Ho tersenyum simpul dalam lamunannya. Andai saja semuanya berbeda, andai saja dia bukan pewaris dari Lee Corporation, dia lebih ingin menghabiskan banyak waktu dengan Hye Sun.

Angannya kembali menuju ke masa awal perkenalannya dengan Hye Sun. Masa ketika dirinya dan Hye Sun masih berstatus sebagai mahasiswa Magister Manajemen di Korean University. Gadis itu begitu cuek dan Min Ho tak habis pikir kalau ternyata ada orang yang lebih cuek dari dirinya. Gadis itu selalu menggunakan pakaian seenaknya, berbicara dengan suara keras dan tertawa lepas. Tapi dia suka dengan tingkahnya itu. Dia suka saat suara Hye Sun lebih mendominasi dari pada suara teman-temannya, seperti gelas kaca, ya… gelas kaca bening yang begitu jujur menampilkan apa saja yang ada di hatinya tanpa sedikit pun yang ditutupi.

Min Ho begitu penasaran pada waktu itu hingga menyuruh orang untuk menyelidiki siapa Hye Sun, dan jawabannya seperti yang telah dia duga. Hye Sun tidak sedang bersama seseorang dan tidak ada pria yang sedang menunggunya. Min Ho melonjak kegirangan saat menerima kabar itu dan berjanji dalam hati akan lebih memperhatikan Hye Sun lagi. Mungkin perhatian Min Ho begitu berlebihan hari itu, saat dia dan Hye Sun menghadiri workshop di Fakultas kedokteran. Min Ho begitu perhatian hingga mengambilkan snack untuk Hye Sun.

“Tak seperti biasanya?” pikir Hye Sun dalam hati.

“Kau mau tambah minumnya?” tanya Min Ho dengan manis. Hye Sun mengangguk. Min Ho segera menuju stand minuman dan Hye Sun melongo begitu mendapati Min Ho kembali dengan segelas minuman di tangannya.

“Apa kau mau buah?” tanya Min Ho lagi.

“Kalau tidak merepotkan,” jawab Hye Sun sambil memakan snack, lagi-lagi Min Ho segera berlalu dan kembali dengan sepiring buah ditangannya. Hye Sun pun sukses dibuat keheranan oleh Min Ho. Dia mulai batuk-batuk, Min Ho menepuk-nepuk punggungnya sambil menyodorkan minuman.

“Hari ini kau aneh sekali,” protes Hye Sun setelah berhasil mengatasi tersedaknya.
“Aneh bagaimana?”

“Ya aneh, tidak seperti biasanya,” jawab Hye Sun seenaknya,”Biasanya kalau orang bertingkah tidak seperti biasanya….., biasanya orang itu akan mati.”

Hye Sun terbahak sambil menutupi mulutnya dan Min Ho memandangnya dengan muka merah padam, sungguh tidak bisa dimaafkan karena Hye Sun mendoakan kematiannya. Dengan geram Min Ho nyelonong pergi dari Hye Sun yang masih saja tertawa sambil memegangi perut. Langkah pertamanya memberikan perhatian pada Hye Sun gagal total, ternyata gadis itu memang tidak mempunyai sisi romantis sama sekali, benar-benar menjengkelkan.

Begitulah Hye Sun, sangat tidak berperasaan, terlalu banyak bercanda, tapi akhirnya saat itu datang juga, dan anehnya datang di tempat yang sama sekali tidak terbayangkan oleh mereka yaitu di sebuah taman bermain di komplek kampus. Min Ho sangat mengingatnya, pada hari itu dia menghadiri seminar kesehatan dengan tema seks pra nikah. Semua pasti tahu tema itu bercerita tentang aids dan pergaulan  anak-anak jaman sekarang yang semakin memprihatinkan dan tiba-tiba forum dikejutkan oleh pertanyaan konyol seorang peserta wanita,”Bagaimana dengan fantasi seks sebelum menikah? Apakah itu berdosa?”

Sontak semua orang heboh, penasaran karena tidak bisa melihat siapa wanita yang dengan polosnya menanyakan hal itu, tapi Min Ho tahu siapa wanita itu. Siapa lagi kalau bukan gadis bertubuh kecil tapi bersuara keras. Dia heran juga karena Hye Sun ternyata tertarik dengan acara semacam ini.
Para yoja memandang Hye Sun tajam, sangat tidak sopan, kira-kira begitulah arti tatapan mereka.

“Waeyo? Jangan Munafik !” protes Hye Sun. Min Ho geleng-geleng kepala sambil mengira-ira ekspresi wajah gadis itu di ujung sana.

Ternyata tebakan Min Ho tidak meleset, gadis itu memang benar Hye Sun. Kini Hye Sun tengah bermain ayunan di taman bermain yang ada di dekat Hall tempat acara  itu berlangsung. Acara sudah selesai sejak tadi. Dengan agak ragu, Min Ho mendekati gadis itu. Bagaimana tidak? Gadis itu sekarang begitu feminin sangat bertolak belakang dengan penampilan yang selalu ditunjukkannya selama ini.

“Oh, berarti benar kalau yoja tadi kamu,” sapa Min Ho setelah sampai di depan Hye Sun. Hye Sun menoleh sebentar, lalu melanjutkan bermain ayunan.

“Pertanyaan macam apa itu tadi? Masa hal itu ditanyakan gadis?” cerca Min Ho lagi. Hye Sun hanya senyum-senyum. Hye Sun masih mengingat kejadian di workshop tempo dulu dimana Min Ho yang marah karena omongannya ngeloyor pergi begitu saja. Memang Hye Sun sangat risih dengan perhatian Min Ho waktu itu, dia tidak biasa diperhatikan semacam itu, Ayahnya selalu melatihnya untuk mandiri setelah Ibunya meninggal, sehingga dia tidak bergantung pada perhatian orang lain. Tapi perhatian yang diberikan oleh Min Ho memang berbeda, dia mengakui itu, Hye Sun juga tahu maksud dari perhatian yang Min Ho berikan, dia bukannya orang yang tidak berperasaan.

Hye Sun tiba-tiba menghentikan aktifitasnya dengan ayunan. Dia memiringkan wajahnya demi melihat ekspresi wajah Min Ho yang membelakangi sinar matahari, hal itu memang membuat pandangan mata Hye Sun serasa silau. Saat tubuh Min Ho menutupi cahaya menyilaukan itu, Hye Sun bersuara,”Kau mau jadi calon suamiku?”

Serta-merta wajah Min Ho memerah dibuatnya. Mimpi apa dia semalam? Seharusnya dialah yang menyatakan cinta, melamar atau apalah istilahnya tapi kenyataannya cewek bertubuh mungil ini yang duluan, di tempat yang sungguh jauh dari romantis dan di jam setengah dua siang, saat matahari terik-teriknya tapi bukankah hal ini yang dia inginkan tak peduli siapa yang memulai, dimana dan jam berapa.
“Mau tidak?” ulang Hye Sun. Kali ini Hye Sun sudah berdiri di depan Min Ho. Min Ho jadi linglung,”E….e…., Aku…aku belum siap untuk menikah.”

“Hei, aku memintamu menjadi calon suamiku, bukan menikahiku besok!” seloroh Hye Sun sambil berlalu.

“Ckakman!” cegah Min Ho. Hye Sun membalikkan badannya dan Min Ho sekali lagi berjalan mendekat,”Kau tidak mengharapkan ku menjawabnya sekarang, kan? Di film-film biasanya mereka meminta waktu satu atau dua hari untuk menjawab pertanyaan itu.”

Hye Sun mengibaskan tangannya,”Ah, terserah kaulah, tapi jangan salahkan aku jika besok ku berubah pikiran!”

Berubah pikiran? Bagaimana jika Hye Sun berubah pikiran? Min Ho jadi ngeri, dia tergagap waktu gadis itu hendak meninggalkannya lagi, dia berlari dan menghadang langkah Hye Sun. Kedua tangannya segera memegang pundak Hye Sun saat gadis itu berada di depannya dan dia mulai mengatur nafas,”Ne, ne, Aku mau jadi calon suamimu.”

Hye Sun tersenyum menang,”Nah, gitu dong.”

Hye Sun meneruskan langkahnya lagi.

”Cuma begitu?” tanya Min Ho.
“Cuma begitu apanya?”
“Kau hanya menanyakan itu?”
“Lalu kau maunya apa?”

Aish, yoja ini bodoh atau apa,sih? pikir Min Ho. Sepertinya Min Ho memang harus sabar pada Hye Sun. Gadis itu memang agak tidak jelas, semenit yang lalu dia memaksa Min Ho menjadi calon suaminya dan sekarang mau pergi dari Min Ho begitu saja, sangat tidak romantis, pikir Min Ho lagi. “Kau mau pergi kemana? Aku bisa mengantarmu?” tanya Min Ho mengalihkan perhatian.

“Pulang ke asrama,” jawab Hye Sun.
“Oh, aku antar, ya?”

Hye Sun mengangguk dan itulah awal dari masa-masa Min Ho bersama Hye Sun. Min Ho jadi geli mengingat peristiwa itu, sementara kesibukan Macau masih terpampang di depannya. Seorang laki-laki paruh baya mendekati Min Ho, rupanya itu adalah Mr. Han, penasehat keuangannya,”Saya tidak tahu kalau anda masih di sini, Min Ho-ssi.”

Min Ho masih tetap memperhatikan view yang membentang di bawahnya,”Ne, kau sudah meneliti keuangan di perusahaan ini?”

“Ne, banyak kebocoran.”

“Pastikan kau tempatkan orang kepercayaan kita di sini, angkat orang yang benar-benar handal, jika perlu seorang workhaholik yang masih idealis.”

“Araso, Min Ho-ssi.”

Min Ho menuju notebooknya yang sedari tadi tergeletak di atas meja rapat. Saat dia akan membereskan notebook itu…

“Miane, Min Ho-ssi, mungkin yang saya tanyakan ini agak lancang.”

Min Ho menoleh ke arah akuntan itu,”Ada apa?”

“Bagaimana dengan Lee International Hospital? Bukankah lebih baik jika kita segera melepaskannya selagi bisa?”

Min Ho terkejut, memang sudah lama Mr. Han mengingatkannya tentang Lee International Hospital yang hampir bangkrut, dan saran dari akuntan itu agar segera menjual saja rumah sakit itu sebelum terlalu banyak menyusahkan keuangan Lee Corporation.”Han-ssi, anda tahu sejarah berdirinya rumah sakit itu, bukan?”

“Tentu, Min Ho-ssi, rumah sakit itu didirikan sebagai pelayanan kesehatan karyawan Lee Corporation tapi kita tidak bisa terus-terusan mempertahankan ‘dog’ itu hanya akan memperlama penderitaannya.”
Min Ho tersenyum, “Dog? Cow? Star? Lalu Question Mark? Lalu siapa yang Cow? Siapa ?” Dia menggelengkan kepala, “Anda anggap Lee Corporation itu sapi perah, Tuan akuntan?”

“Bukan begitu maksud saya, Min Ho-ssi.”

“Kau ingin aku menggunakan strategi apa? Niche?” tantang Min Ho.”Salah satu tanggungjawab industri adalah moral responsibilities. Anggap saja keputusanku untuk mempertahankan rumah sakit itu adalah bentuk tanggungjawab moral Lee Corporation.”

Mr. Han memahami pendirian bosnya dan Min Ho pun segera berlalu dari ruangan itu.
[/size]

------------------------------------------------------------


Di Lee Manshion sedang berlangsung pertemuan keluarga, di setiap acara pasti ada bintang pesta, dan sekarang ini yang menjadi bintang pesta adalah Hye Sun karena Hyo Young sibuk memperkenalkan calon menantunya itu pada sanak keluarganya. Hye Sun jadi sangat tidak enak hati pada Hyo Young, tahu begini dia tadi pulang dulu untuk berganti baju, bukannya datang dengan masih memakai baju kerja berwarna ungu muda yang sempat jadi bahan olokan Jin Woo tadi siang, tapi hal itu dilakukannya karena kesibukan instalasi farmasi, dia bahkan hampir lupa dengan acara itu.

Pertemuan Keluarga, perlu digarisbawahi, Pertemuan Keluarga atau ditulis dengan huruf capital, PERTEMUAN KELUARGA adalah kegiatan yang sangat dibenci oleh Hye Sun. Kalau Hye Sun disuruh memilih antara kerja lembur atau pertemuan keluarga, dia pasti memilih kerja lembur. Dia tidak pernah betah di acara yang satu itu, jadilah dia sekarang cuma bengong-bengong melihat keadaan sekelilingnya dimana ibu-ibu kurang kerjaan saling pamer kekayaan suaminya atau bergosip. Hyo Young masih saja mengajaknya berkeliling untuk berkenalan dengan para tamunya,”Nah, ini adalah Yoo Ji In, dia Omma dari Yoo Ah In,” kata Hyo Young saat memperkenalkan Ji In. Hye Sun pun terkaget.

“Ajhuma di sini juga?” tanya Hye Sun pada Ji In.
“Jadi kalian sudah saling kenal?” Hyo Young terkejut dengan tingkah Ji In dan Hye Sun.

Ji In mengangguk,”Kami berkenalan tadi pagi, aku menyeberang dengan asal hingga hampir tertabrak mobil Hye Sun.”

“Ah, Sopir Yoon keterlaluan sekali, seharusnya dia lebih hati-hati, kau harus menegurnya, Hye Sun-a.”
“Ah, sudahlah, Hyo Young-ssi, aku juga yang salah karena tidak hati-hati.”
“Jadi Ah In dan Min Ho bersaudara?” tanya Hye Sun.
“Ne, kakek Min Ho adalah kakak  dari nenek Ah In,” Hyo Young menjelaskan.

”Oo..” Hye Sun manggut-manggut. Seorang ibu-ibu rumpi menghampiri mereka, Hye Sun mencoba mengingat-ingat nama Ibu gembul itu, bukankah tadi Hyo Young sudah memperkenalkan mereka, tapi otak Hye Sun serasa buntu, banyak sekali nama yang harus dia ingat sore ini.

“Kau manis sekali, nak,”puji Ibu gembul itu sambil mengayunkan kipasnya,”Andai saja putraku dulu memilihmu.”

Hye Sun tersentak. Wanita gembul itu adalah Ibu dari salah satu mantan pacarnya. Sesaat Hye Sun memperhatikan Hyo Young, Wajah calon mertuanya itu sangat bijaksana, entah mengapa Hye Sun merasa sangat sedih sekali,”Saya akan mengambil makanan dulu,” Hye Sun undur diri dan segera menuju meja makan.

Ya, dia ingat sekali waktu itu, dia sangat berniat sekali waktu itu, bahkan dia sudah hampir menikah dengan pria itu. Tapi keluarga dari pihak pria sepertinya tidak setuju, hal ini disebabkan oleh status keluarganya yang brokenhome, bahkan Ibu gembul tadi yang paling keras menolaknya dan anehnya calon suaminya itu sangat bodoh dengan mengatakan semua keberatan keluarganya itu padanya. Tapi Hye Sun masih bertahan dan berusaha menenangkan dirinya kalau mungkin ini cobaan tapi kepercayaan calon suaminya mulai luntur, hingga dia memutuskan hubungan, dan ironisnya dia memutuskan itu hanya lewat SMS!

Masih lewat SMS, saat Hye Sun menanyakan apa alasan hingga harus memutuskan hubungan, apakah ada wanita lain?  Lelaki itu masih diam, dan saat Hye Sun terus mendesak adanya alasan yang terungkap. Pria brengsek itu mengetik,”Dari awal itu sebenarnya aku sudah ilfill sama kamu, kamu bukan tipeku, kamu cupu, kamu terlalu kurus untukku.”

Cukup! Dasar lelaki brengsek! Seminggu lebih Hye Sun meratapi dirinya, meratapi fisiknya hingga dia membuka buku anatomi dan fisiologi manusia, dia menghitung berapa berat badan normal untuk wanita dengan tinggi 160 centimeter, ya.. itu adalah tinggi badannya dan mendapati bahwa berat badannya yang waktu itu tergolong ideal untuk wanita setinggi itu. Yang lebih parah adalah saat dia memvonis dirinya sendiri kalau dia menderita Achilles syndrome, sungguh dia harus menjalani terapi untuk keluar dari keterpurukan itu hingga dia mengambil keputusan yang paling bodoh yaitu menanggalkan penampilan cupunya. Dia seperti ingin membuktikan bahwa yang dipikirkan oleh lelaki brengsek dan keluarganya itu salah. Dan sekarang di sinilah dia, menjadi calon menantu Dinasti Lee, setelah kegagalan cintanya dengan lelaki brengsek itu dan Ah In, dia menemukan Min Ho, pria yang memujanya, Min Ho yang mencintainya dengan tulus tak perduli latar belakang keluarganya yang broken home dan tingkah lakunya yang kadang seenaknya. Min Ho yang memperlakukannya seperti barang antik yang mudah pecah hingga tak berani bertindak macam-macam yang merusak kesuciannya.

Apalagi yang dia harapkan sekarang? Tidak! Dia tidak ingin wanita gembul itu merusak suasana hatinya sekarang. Dia sudah sangat tidak betah dengan suasana pertemuan ini, acara yang memang sangat tidak dia sukai sejak kecil.

“Pabo! Pabo! Pabo! Ini bukan saatnya mengenang masa-masa itu,” Hye Sun berbicara sendiri sambil memukul-mukul kepalanya.

“Onti memang bodoh memukul-mukul kepala seperti itu,” suara itu sangat cempreng dan tidak enak didengar. Hye Sun membuka mata dan mendapati Sae Hyun sudah berdiri di depannya. Anak berumur enam tahun itu sudah nyegir. Sejak kapan dia memperhatikanku? Pikir Hye Sun.

“Hai, kau di sini juga?” tanya Hye Sun sadis.

“Ini rumah halmoniku, apa aku tidak boleh di sini?” ocehan Sae Hyun sambil berusaha meraih potongan brownies di meja makan. Kakinya menjinjit karena meja makan itu terlalu tinggi untuknya lalu dia meloncat-loncat dan Hye Sun masih cuek saja dengan tingkah anak kecil yang bawel itu.

“Tolong ambilkan dong, Onti,” pinta Sae Hyun
“Ha! Kau ternyata minta tolong juga.”
“Terpaksa.”
“Apa?”
“Ambilkan!” bentak Sae Hyun.
“Ambil sendiri!”

“Hai, ternyata kalian di sini?” tanya Yo Won saat mendapati Hye Sun dan Sae Hyun di dekat meja makan,”Apa yang kalian lakukan?”

Hye Sun tersenyum dan mengelus-elus kepala Sae Hyun, dia kelihatan sangat munafik dengan tingkahnya itu, lalu dia mengambil sepotong brownies untuk diberikan pada Sae Hyun,”Oh, gwencana, Uni. Sae Hyun Cuma minta tolong diambilkan ini.”

Sae Hyun segera berlari setelah merebut brownies itu dari tangan Hye Sun.

“Wah, kalian memang benar-benar akrab, ya. Aku jadi semakin tenang menitipkan Sae Hyun padamu.”
Hye Sun cengar-cengir, sekali lagi dia tidak habis pikir jika saat itu tiba, saat Sae Hyun harus tinggal selama seminggu di rumahnya. Seorang teman lama menyapa Yo Won, dia akhirnya meninggalkan Hye Sun yang masih sibuk memilih-milih snack yang ingin dia makan. Sae Hyun memperhatikannya dari seberang kolam renang. Hye Sun sadar kalau anak bawel itu memperhatikannya, Sae Hyun bahkan mengikutinya dari belakang. Dengan risih Hye Sun mendelik dan mengacungkan tinjunya ke arah anak itu.

Hye Sun memang sangat canggung dan terkesan cuek jika di depan anak kecil. Dia masih ingat, teman-teman kuliahnya selalu merasa gemas jika melihat anak kecil yang lucu. Mereka langsung mendekat, menciumi atau menggendong jika ada anak kecil yang lucu di dekat mereka. Bahkan kadang mereka cuma sekedar berujar,”Ih.. lucunya….” Tapi lain dengan Hye Sun, saat teman-temannya mengerubuti anak kecil yang lucu, dia cuek-cuek saja, pandangan matanya seperti bicara,”Tau, ah.. gelap!” Ternyata ada juga salah satu temannya yang menyadari keanehannya itu, dia bahkan mengkritik Hye Sun habis-habisan, menjudge kalau rasa keibuannya belum muncul dan harus segera dimunculkan. Hye Sun tak ambil pusing dengan kritikan temannya itu, “Bodo amat.”

Tiba-tiba Sae Hyun mendekatinya lagi, mau apa lagi, nih anak, pikirnya.
“Kenapa onti mau menjagaku selama Appa dan Omma pergi?”
“Mwo?”
“Bukankah Onti tidak suka padaku?”
Hye Sun tersenyum, Sae Hyun melengos, “Senyuman yang tidak enak dilihat.”

“Aku memang tidak suka denganmu, tapi aku juga tidak tega kalau kau sendirian di rumah.”
“Aku bisa tinggal bersama Ongkel,” Sae Hyun ngeyel.

“Hah? Bersama Ongkel? Yang benar saja, yang ada kamu hanya dicuekin kalau Ongkelmu itu sibuk.”
“Aku tidak apa-apa tinggal sendiri, aku kan sudah besar!”
Yiah… anak ini benar-benar ngeyel.

“Oh ya? Ambil brownis di meja makan saja musti dibantu, masih bilang sudah besar!”

Kali ini Sae Hyun tidak bisa menjawab, mulutnya megap-megap. Hye Sun tersenyum puas, merasa menang di depan anak bawel itu lalu meninggalkan Sae Hyun yang perhatiannya mulai tertuju pada mobil-mobilan yang dimainkan oleh anak Tae Woong. “Bodo amat!”


To Be Continued
« Last Edit: January 28, 2011, 02:04:23 pm by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter V (29 JAN 2011)
« Reply #134 on: January 28, 2011, 06:38:17 pm »
Masa lalu hye sun sgt tdk menyenangkan. Hye sun yg merasa diremehkan(hub.asmaranya) jd ini alasan hye sun nerima mino krn mino yg perhatian,mencintai & menyayangi hye sun yg tdk peduli sikap aneh,suara nyaring dan sikap hye sun lainnya. Min ho .... Beneran trully man.gw cinta ama karakter min ho disini. Walah rpnya hye sun jg yg ngajak min ho mau jd calon suaminya,hehe. Sae hyun sae hyun ni bocah pgn tau aje,ngintilin hye sun pasti lama2 akrab juga.


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho