Author Topic: THE HOSPITAL-- Chapter 19 (11 Agustus 2011)  (Read 23781 times)

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 15 (17 June 2011)
« Reply #480 on: June 17, 2011, 06:05:38 am »
Makasih ya atas updetannya...
Hari ini CM lagi error yak? Kok seharian susah banget masuk ke CM. Untung gue dah sempat ngesave Hospital... [hmpfh]...

Waduh, Hyesun jatuh dari kuda. Kasian bangettt...untung bang Miniho dateng tepat pada waktunya. kAlau nggak, wah...gawat deh...Gmanan tu nasibnya Hyesun. Untungnya (masih aja gue nungtungin)< semua rombongan dari RS yak. Jadi cepet2 deh medivec... [hmpfh] [hmpfh]...

Thanks ya, ditunggu lanjutannya.

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 15 (17 June 2011)
« Reply #481 on: June 17, 2011, 06:16:10 am »
Thanks ya eonn bwt updatetanx pl9ie chap kli nie lumayan pnjang..apkh stlah insiden ini minho menjadi semakin posesif trhdp hye sun,eon...

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 15 (17 June 2011)
« Reply #482 on: June 17, 2011, 06:17:38 am »
Thanks ya eonn bwt updatetanx pl9ie chap kli nie lumayan pnjang..apkh stlah insiden ini minho menjadi semakin posesif trhdp hye sun,eon...

iiuuu

  • Guest
Re: THE HOSPITAL-- chapter 15 (17 June 2011)
« Reply #483 on: June 18, 2011, 03:38:55 am »
pasti nanti dkamarnya hyesun, minho jadi satpamnya hyesun bisa diibaratkan kayak gavin ama eryn... hmpf lol...
secara.. kayaknya gak mgkn minho nggalin hyesun sndrian dkamar dlm keadaan sakit.. minho kan calonsuami siaga.. lol...

kayaknya ada yg merancang kecelakaan ini yg onnie?@ngasal
kok dokternye uda dihub..? ama sapa?..

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 15 (17 June 2011)
« Reply #484 on: June 18, 2011, 07:54:33 am »
cuman satu yg pingin gw nanyain,, itu si minho, setelah mengetahui hyesun punya hubungan ama ah in dulunya, apa masih yakin klu hyesun masih perawan ya [what] soalnya dia kan bukan sonsaengnim yang bisa menebak pikiran orrg [hmpfh] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Namutz

  • Junior
  • **
  • Posts: 197
  • nona goo is inspiring women
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 15 (17 June 2011)
« Reply #485 on: June 18, 2011, 12:13:36 pm »
ahirnya bisa baca kakinya gak ada masalah kan ???? jadi takutttttt

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 15 (17 June 2011)
« Reply #486 on: June 19, 2011, 10:30:14 am »
ulernya nakal bgt hammer2 hammer2

Love you more than I can say

Offline dalbyeol

  • Senior
  • ****
  • Posts: 803
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 15 (17 June 2011)
« Reply #487 on: June 19, 2011, 11:37:36 pm »
ada apa dgn kaki kirinya Hye Sun,onnie???

btw,gumawo dh d update ya,onnie [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

And I'll never promise to
be true to anyone,unless it's you...The Day I Fall in Love

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 15 (17 June 2011)
« Reply #488 on: June 20, 2011, 01:27:23 am »
hye sun still virgin, dari awal chap kan dah sdkt diterangin lo dia itu cewek lurus, walau pun dulu ada hubungan ma ah in, tapi tdk keluar batas kesusilaan, makanya wkt hye sun nembak min ho, dia lsg tanya apa min ho mau jd calon suaminya, bukan kekasih, itu bedanya. coba aja baca versi indonesianya di blog ku, ntar malah lebih jelas karakter hye sun tuh kaya gmana.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 15 (17 June 2011)
« Reply #489 on: June 28, 2011, 07:45:10 pm »
rumahsakit diupdate ya...disusul tetesan iler dr tret sebelah..ya ya xa
[/size][/color][/b]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 15 (17 June 2011)
« Reply #490 on: June 28, 2011, 10:16:04 pm »
THE HOSPITAL
Part 16




Suara derap kuda yang sampai di pelataran Villa Lee mengejutkan para petugas di gerbang depan, terlebih lagi saat mereka tahu siapa penunggang kuda itu. Lee Min Ho dengan raut muka panic, yang selama ini jarang diperlihatkannya, sedang menuruni kuda sekarang, menurunkan seseorang yang tampak tergolek lemah dari kuda lalu membopongnya ke kamar yang ditempati Hye Sun. Para pegawai yang sedang melakukan liburan di situ sontak gempar. Apalagi saat tiba-tiba Min Ho berteriak di antara mereka yang bergerombol,”Adakah perawat di sini!”

Mereka semua karyawan di rumah sakit, tentu saja ada perawat di situ. “Saya, Tuan Lee!” Perawat Son dan perawat Park serempak unjuk diri. Mereka mengisolir kamar Hye Sun dari gerombolan di depan pintu masuk dan mulai memeriksa keadaan Hye Sun.

“Dokter Jo akan segera kemari,” kabar Min Ho pada kedua perawat itu yang mulai mengamati luka di sekujur tubuh Hye Sun.

Ketiga orang yang menemani Hye Sun selama acara menunggang kuda tadi, mulai hadir di kerumunan. Ah In bahkan membuka pintu kamar Hye Sun tanpa mengetuk dulu, disusul Eun Hye dan Hyun Joong yang masuk dengan tergesa.

“Dia tak sadarkan diri,” Ah In mulai memeriksa Hye Sun. belum sempat tangannya menyentuh Hye Sun, Min Ho sudah berteriak,”Jangan dekati dia!”

Kedua perawat yang ada di situ sontak terkejut. Mereka tak habis pikir dengan jalan pikiran Min Ho. “Aku seorang dokter, Min  Ho-ssi. Aku bisa memeriksanya,” Ah In membela diri.

“Aku hanya percaya pada dokter Jo. So... lebih baik  kau keluar!”

“Min Ho-ssi, semua ini konyol. Ah In adalah dokter yang ada di sini sekarang, apa salahnya jika dia memeriksa Hye Sun,” Eun Hye berusaha membela Ah In. Tatapan tajam Min Ho segera terarah padanya,”Siapa, kau! Jangan ikut campur!”

Mulut Eun Hye sepertinya akan mengeluarkan protes lagi. Hyun Joong memberi kode agar Eun Hye mengurungkan niat. ketegangan akhirnya mencair dengan kedatangan dokter Jo. Dokter senior di Lee International Hospital itu mendekati Hye Sun saat kedua perawat mulai membersihkan luka-luka Hye Sun.

“Dia terseret kuda dengan posisi kaki tersangkut pedal, dokter,” Min Ho berusaha menerangkan kronologis kacelakaan Hye Sun walau tidak begitu jelas juga baginya. Dokter Jo memeriksa denyut jantung Hye Sun dengan stetoskop, dengan telapak tangan berusaha mengira-ira suhu tubuh Hye Sun dan perawat Park mulai tahu apa yang harus dilakukan dengan thermometer untuk mengukur suhu tubuh Hye Sun.

“Apa kepalanya terantuk sesuatu?” Tanya dokter Jo.
“Dia terseret dengan posisi tubuh terbalik, dokter. Saya tidak bisa memastikan apa saja yang mengenai kepalanya waktu itu,” Ah In belum juga keluar kamar. Sebenarnya hal ini membuat Min Ho berang, tapi dia tak bisa mengusir Ah In di depan dokter Jo. Bagaimana pun juga, Ah In adalah murid kesayangan dokter Jo. Pada Ah In-lah dokter Jo menurunkan kepandaian Ilmu spesialis bedahnya.

Dokter Jo mulai memeriksa kedua kaki Hye Sun. kaki kiri Hye Sun tampak membengkak, rupanya kaki itulah yang terjebak di pedal kuda, bisa dibilang keadaannya sangat mengerikan, warna putih bersih yang selama ini tampak, berganti dengan biru kehitaman. Dokter Jo mendesah.

“Ottoke, dokter?” Min Ho semakin kawatir ketika melihat kening dokter jo berkernyit.
“Bagaimana bisa kaki ini lagi,” jawab dokter Jo sambil menghela nafas. Ah In memicingkan mata, semakin penasaran dengan keadaan Hye Sun.

“Apa maksud anda, dokter?” Tangan Min Ho terkepal saat menanyakan itu. Berbagai pikiran buruk melintas di otaknya. “Harus ada pemeriksaan menyeluruh, Min Ho-ssi,” jawab dokter Jo akhirnya.

“Saya tidak bisa memeriksanya di sini. Dia harus segera kembali ke rumah sakit,”  perintah dokter Jo. Sambil membetulkan letak kaca matanya, dokter Jo melirik semua orang yang ada di situ. “Ah In-a, Hyun Joong-a, dan kau… Eun Hye, aku harap kalian keluar. Ini sudah bukan urusan kalian lagi.”

“Tapi dokter Jo, saya sahabat Hye Sun,” Min Ho mendelik pada Eun Hye saat dia mengatakan itu. Selama ini dia tidak mengenal gadis itu, dan melihat tingkah Eun Hye yang sok perhatian itu membuat Min Ho muak.

“Saya tahu, Eun Hye-a. Tapi sudah ada Min Ho di sini,” perkataan dokter Jo memang ampuh. Akhirnya ketiganya keluar ruangan. “Ganti pakaiannya, Suster,” perintah dokter Jo.

“Min Ho-ssi,” dokter Jo memojokkan Min Ho di sudut ruangan, sepertinya ada hal penting yang harus dibicarakan dan tidak boleh diketahui oleh kedua perawat itu. “Kau tahu bahwa kaki kiri Hye Sun memang sudah tidak normal sebelumnya, bukan?”

Min Ho menjawab lirih. Memang itu yang dikawatirkannya. “Bahkan terapi yang selama ini dijalaninya, belum seratus persen menormalkan syaraf motoriknya, dan sekarang…,” dokter Jo bergeleng seraya mendesah,”Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, mungkin akan terjadi paralis selamanya.”

“Maksud dokter lumpuh?” Min Ho semakin prihatin mendengar hal itu.
“Itu kemungkinan terburuk, Min Ho-ssi. Kita tunggu hasil rontgen dan CT-scannya.”
“Semoga tidak terjadi apa-apa. Aku mohon sembuhkan dia, dokter Jo!” Min Ho menggoncang-goncangkan tubuh renta dokter Jo histeris. Cengkeraman tangan Min Ho terlampau kuat, dia sepertinya tidak perduli walau pun dokter JO sudah meringis kesakitan.

“Farmasis Goo…,” suara perawat Son membuat kedua lelaki  di sudut ruangan menoleh. Hye Sun ternyata sudah sadar dan berusaha menyandar di ranjang.

“Chagiya,” Min Ho mendekati Hye Sun dengan kepanikan yang semakin tinggi. Tubuh Hye Sun terlihat  bersih setelah perawat mengganti bajunya. “Chagiya, kau lebih baik berbaring. Helicopter akan mengangkutmu ke rumah sakit.” Hye Sun sudah duduk menyandari ranjang saat Min Ho mengatakannya. Pandangan lemah masih Nampak di matanya. Dia merasa sekelilingnya berputar, hingga tak tahan lagi dengan rasa mual di perutnya, Hye Sun pun muntah seketika. Min Ho semakin panic.

“Tarik tubuhnya agar berbaring, Min Ho-ssi,” perintah dokter Jo. Dengan kening berkerut, Min Ho melakukan perintah itu. “Dia mengalami gegar otak ringan.”

“Sekarang bagaimana?” Min Ho semakin putus asa.
“Tak ada jalan lain, secepatnya kita harus ke rumah sakit.”

Min Ho segera mengangkat tubuh Hye Sun menuju helicopter di belakang Villa. Semua orang menatap saat dia melakukan itu. Seorang petinggi Lee Corporation menggendong calon istrinya dengan raut muka panic. Jika saja mereka tidak cukup sopan, mungkin ada salah satu yang memotret kejadian ajaib itu. Eun Hye masih saja kawatir dan mensejajari langkah Min Ho, “Bagaimana keadaannya, Min Ho-ssi?” dan Min Ho tetap bungkam.

“Min Ho-ssi!,” Eun Hye memanggil Min Ho yang semakin jauh meninggalkannya. Tampaknya Min Ho sama sekali tidak menggubris gadis itu, bahkan saat pada akhirnya helicopter itu terbang, membawa Min Ho, Hye Sun dan dokter Jo di dalamnya.

“Dasar orang kaya sombong!!!” teriak Eun Hye diantara suara Helicopter yang meraung. Akhirnya Eun Hye berbalik menuju Villa, dan bertemu Ah In yang terpaku di pintu masuk. Hal itu membuat Eun Hye menghentikan langkah. Wajah sohib lamanya itu terlihat sendu. Sesuatu pertanda kasih yang terpendam berhasil ditangkap EUn Hye.

“Aku lebih suka kalau kau yang jadi tunangan Hye Sun,” cetus Eun HYe. Ah In terkejut. Bagaimana bisa Eun Hye bicara ngawur seperti itu. “Jika kau masih mencintainya, kejar dia! Jangan Cuma seperti pungguk merindukan bulan.”

Dan Ah In hanya tersenyum tipis. Ditinggalkan Eun  HYe yang masih bersungut-sungut, merutuki tabiat Min Ho. Dia melangkah ke Istall, memasuki kandang kuda yang sempat membuat Hye Sun  celaka, lalu mengelus puncak kepala kuda itu. Tak dipungkiri, dia berharap mencuri perhatian Hye Sun di liburan ini, bahwa dia akan berusaha meyakinkan cinta mereka berdua kembali. Tapi memang semua yang terjadi merupakan bukti kalau impian itu memang sudah sirna, bahkan waktu tidak berpihak padanya.

Orang kaya yang sombong, Ah In tersenyum mengingat umpatan Eun Hye. Gadis itu benar, Min Ho memang sombong, tapi di depan Hye Sun, kesombongan Min Ho seakan lenyap. Hanya demi Hye Sun, Min Ho begitu kawatir, bahkan tak bisa mengontrol emosi. Baru sekali, Min Ho membentaknya, dan AH In semakin yakin, kalau Min Ho sudah mengetahui semuanya.

Malam semakin larut saat semua pemeriksaan yang harus dilalui Hye Sun berakhir. Seorang farmasis yang selama ini mengatur persediaan obat, kini menikmati ‘kemewahan’ layanan kamar VIP Lee International Hospital. Kemewahan yang semu karena kesakitan fisik lebih mendominasi. Simptom yang sudah diprediksi oleh dokter Jo sebelumnya, tubuh Hye Sun demam tinggi. Tim medis berusaha menurunkan suhu tubuhnya. Agar terhindar dari dehidrasi, infuse cairan elektrolit tersalur melalui venanya dengan kecepatan sekian tetes per menit. Denyut jantung normal, dan mereka sangat heran dengan tekanan darah Hye Sun yang berkisar 60/80. Tapi mengingat catatan kesehatan Hye Sun sebelumnya, mereka agak lega karena memang Hye Sun sudah menderita hipotensi sejak dulu.

Keadaan itu pula yang diterangkan pada Min Ho oleh dokter Jo di ruang prakteknya. Min Ho mencoba untuk memahami dengan pengetahuan kesehatannya yang pas-pasan, sementara dokter bijak itu menunjukkan hasil rontgen dan CT-Scan Hye Sun.

“Kau lihat di sini?” kata dokter Jo sambil melingkari salah satu sisi di hasil CT-Scan. “Kepala Hye Sun terantuk kaki kuda berulang-ulang, tapi yang aneh di sini adalah…, hanya sedikit kelainan terdeteksi.”

“Anda bilang dia mengalami gegar otak ringan.”

“Ne, setiap kali bangun, dia akan merasa dunia berputar dan itu memicu terjadinya vomitas.”  
“Vomitas?”
“Mian, maksudnya muntah,” dokter Jo lebih menerangkan karena Min Ho sepertinya tidak mengetahui istilah vomitas. “Apakah ini akan berlangsung lama, dokter?” Min Ho semakin mengkawatirkan Hye Sun. Dokter Jo menghela nafas berat,”Gejala itu akan hilang secara berangsur, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.”

Dahi Min Ho berkernyit. Apa sebenarnya yang akan terjadi pada tunangannya itu. “Sebenarnya apa yang bisa terjadi?”

“Beberapa pasien mengalami hilang ingatan, ada yang total… atau pun parsial… tapi hal ini hanya bisa diketahui setelah Hye Sun-ssi sadar.”

“Dia masih memanggilku sebelum aku angkut ke Villa.” Min Ho tahu benar hal itu. Hye Sun memanggilnya sebelum merintihkan rasa sakit di kakinya. “Lalu bagaimana dengan kaki kirinya?”

“Tidak ada yang patah,tapi kita harus menunggu bengkaknya hilang sebelum pemeriksaan lebih lanjut,” Segalanya serba menunggu, penjelasan yang membuat Min Ho semakin pusing. “Sebenarnya pemeriksaan apa yang dokter maksudkan?”

“Pemeriksaan terhadap syaraf di kakinya, seperti yang telah aku jelaskan di Villa,” dokter Jo kembali menekankan setiap kata-katanya.

“Dia masih kesakitan saat di Villa.”
“Berdoa saja, Min Ho-ssi,” kata dokter Jo akhirnya. “Pemeriksaan selanjutnya akan dilakukan oleh ahli neurologi dan syaraf, kau bisa menanyakan pada tim dokter itu nantinya.”
“Apa maksud, dokter Jo? Anda mengundurkan diri sebagai dokter pribadi Hye Sun?”
“Bukan begitu, kau tidak ingat… aku adalah ahli bedah, masalah yang dialami Hye Sun sekarang ini… lebih rumit sehingga perlu rujukan lebih lanjut.”

“Araso, dokter.” Dokter Jo lega setelah Min Ho mulai memahami keputusannya. Sesaat pria paruh baya itu memunguti lembaran film yang berserak di mejanya. Min Ho bisa melihat tangan keriput itu agak gemetar, alis Min Ho jadi agak meninggi.  Apalagi saat dokter Jo menghentikan gerakan tangannya dan mencoba memijit untuk melemaskan  otot-otot telapak tangan kanannya.

“Anda sakit, dokter Jo?”  pertanyaan itu dijawab dengan gelengan kepala. “Mungkin terlalu lelah. Aku akan baikan setelah istirahat.”

“MIanhamnida. Saya terlalu merepotkan,” sesal Min Ho. Dokter Jo tersenyum bijak. “JAngan sungkan. Aku senang kau masih mempercayaiku.”

“Hanya anda dan Hye Sun yang saya percayai di rumah sakit ini.”
“Ah, sudahlah… sana keluar, anak muda… temui kekasihmu.” Perkataan dokter Jo membuat Min Ho tersenyum. “Gamsahamnida, dokter,” ucapnya sebelum meninggalkan ruangan itu. Dokter Jo menghantarkan kepergian Min Ho dengan senyuman masih di tempat duduknya, sementara tangan kirinya masih memijit-mijit telapak tangan kanan yang gemetaran. Hingga akhirnya tangan gemetar itu membuka salah satu laci, mengambil sebuah botol, dan segera menelan salah satu isinya yang berupa tablet-tablet  putih berdiameter setengah sentimeter, yang mana semua orang medis tahu betul obat itu. Bahkan pecandu narkoba sering menyalahgunakan obat itu. Namun dalam kasus dokter Jo, obat itu dia gunakan untuk mengatasi….  tremor tangan kanannya.


---oOo---


Kamar serba putih yang begitu hening. Nafas Hye Sun terdengar teratur di telinga pria itu. lengkungan indah samar-samar terukir di wajah tampannya. Kekawatiran yang sungguh tidak beralasan. Kekawatiran yang membuatnya memutuskan kembali ke Bussan. Tangan putih itu terulur, membelai wajah pucat yang terbuai mimpi, tak terganggu sedikit pun.

“Hye Sun-a…,”panggilan pelan terdengar, diikuti helaan nafas panjang. Pandangannya mengitari kamar, lalu kembali ke insane terlelap di depannya. “Andai aku bisa mengucapkannya saat kau tersadar,” Dia terkekeh setelah berucap. Dia bicara seolah Hye Sun bisa mendengarnya, “Saranghae, Hye Sun-a… .”

Tangisan lirihlah yang terdengar kemudian. Dari belakang tampak gerakan bahu yang turun naik. Seseorang di ambang pintu sangat jelas dengan ucapan-ucapannya tadi. Ucapan yang menyulut emosi. Setengah mati orang itu menahan amarah, hingga diputuskannya berbalik, menutup pintu itu pelan dan menuju tempat rahasianya selama ini, toproof tertinggi di Lee International Hospital.


---oOo---


“Hye Sun sudah sadar!” pekik Min Ho ketika perawat menyongsongnya di depan pintu kamar Hye Sun. Tanpa menunggu jawaban dari perawat lamban itu, Min Ho memasuki kamar. Di tempat tidur, Hye Sun duduk menyandar, tersenyum di antara wajahnya yang pucat.

“Chagiya,” panggil Min Ho seraya memeluk Hye Sun. erat… sangat erat. Hye Sun menikmati kehangatan itu hingga matanya terpejam. Saking senangnya, Min Ho menggoyang-goyangkan tubuh di pelukannya itu, membuat Hye Sun merasa pusing kembali dan…”Huek!” Hye Sun berusaha menahan rasa mualnya dengan membekap mulut. Pelukan Min Ho longgar seketika. Secepat kilat, Min Ho menyodorkan kantong kertas yang tersedia di meja samping tempat tidur.

“Huek!” Hye Sun memutahkan isi perutnya dalam kantong kertas itu sedangkan Min Ho menepuk-nepuk punggungnya.

“Kepalaku pusing sejak tadi, Min Ho-a,” keluh Hye Sun. Min Ho menarik tubuh Hye Sun dengan lembut hingga berbaring. “Dokter Jo bilang hal ini akan hilang jika kau berbaring.”

“Ada apa denganku?” Hye Sun bertanya saat Min Ho membenarkan letak selimut hingga di dadanya.
“Dokter Jo bilang gegar otak ringan.”
“Begitukah?”
“Ne.”

“Min Ho-a…,” panggilan itu membuat Min Ho memandangnya lekat. “Miane…”
“Miane telah membuatmu kawatir,” sambung Hye Sun.

“Anhi…. Semua telah berlalu. Asal kau tetap mengingatku… semua baik-baik saja,” kata Min Ho. Hye Sun berusaha mencerna kata-kata itu. “Apa maksudmu, Min Ho-a?”

“Dokter Jo bilang ada kemungkinan kau hilang ingatan.”
“Aku?” tunjuk Hye Sun pada dirinya sendiri. Min Ho mengangguk. Dia meraih segelas air di meja lalu meminumkannya pada Hye Sun dengan bantuan sedotan,”Kau harus banyak minum, demam membuatmu dehidrasi.” Tawaran itu diterima Hye Sun dengan senang hati, kerongkongannya memang serasa kering. Perlahan Hye Sun menelan cairan itu sambil tersenyum memandang Min Ho yang kini mengelus wajahnya. Perlakuan Min Ho sungguh membuatnya nyaman. Angannya melayang jauh, berandai-andai jika Min Ho lebih berani bertindak lebih lanjut seperti menciumnya, tentu Min Ho menciumnya… kecupan di kening seperti biasanya. Entah kenapa Hye Sun menginginkan lebih sekarang, bukan hanya ciuman kening… tapi senyuman di bibirnya yang kini mengulum sedotan. Bibir padat Min Ho tersenyum kini. Bibir yang hanya akan mencium bibirnya setelah semuanya resmi, tak dipungkiri kalau Hye Sun juga tak sabar menantikan saat itu tiba. Dan lamunan itu lenyap setelah seseorang memasuki kamar itu dan berteriak nyaring, “Hye Sun-a! Syukurlah kau sudah sadar… aku langsung kemari setelah tahu.”

“Si… si.. apa, kau?” HYe Sun menyipitkan matanya. Orang yang berteriak tadi mengkernyit. “Ini aku… Eun Hye, sahabatmu.” Dahi Hye Sun tambah berlipat. Dia berusaha mengingat, rasa pusing muncul lagi. “Huek!” sekali lagi Hye Sun muntah, kali ini tepat di sepatu Eun Hye. “Ya.. Hye Sun-a… .”

Min Ho menahan tawanya saat membersihkan bibir Hye Sun dengan tissue. “Mian,” sesal Hye Sun susah payah. “Kau sahabatku? Sejak kapan?”

“Ya…, apa maksudmu? Aku teman kuliahmu di Seoul National University!” protes Eun Hye. “Tunggu!” Eun Hye dan Min Ho berpandangan. Seolah tahu apa yang dipikirkan Eun Hye, Min Ho segera keluar kamar mencari dokter Jo. Dokter itu harus menjelaskan semua ini. Mungkin yang dibilang dokter Jo benar, Hye Sun mengalami hilang ingatan parsial.

Eun Hye berusaha mengingatkan Hye Sun tentang dirinya. “Kita berteman sejak tingkat satu.”

“Aku pernah kuliah di SNU?” Hye Sun bertanya balik.
“Tentu saja! Kau dan aku di fakultas farmasi dan AH In di fakultas kedokteran, kita bertiga bertemu lagi di rumah sakit ini.”
“Ah In?”

 Eun Hye menahan nafas. Tingkah Hye Sun mengindikasikan kalau dia juga lupa pada Ah In. Tim dokter datang bersama Min Ho. “Maaf, kalian terpaksa keluar dulu,” kata salah satu dokter itu pada Eun Hye dan Min Ho. Dan akhirnya pintu kamar tertutup setelah mereka keluar dari kamar.


---oOo---



“Ini sangat aneh,” ujar dokter Jo di ruangan kerjanya. Di depannya Min Ho menanti penjelasan dengan harap-harap cemas. “Hasil tes menyatakan kalau Hye Sun-ssi hanya melupakan farmasis Yoo, dokter Kim dan dokter Yo.”

“Apakah ini buruk?”
“Yang tidak bisa ku mengerti… bagaimana ini bisa terjadi?”pertanyaan itu lebih ditujukan dokter Jo pada dirinya sendiri dari pada Min Ho. “Oh ya… kecelakaan itu… siapa saja yang ada di tempat kejadian?”

“Kim Hyun Joong, Ah In dan…gadis itu tadi?”
“Eun Ye-ssi?” pasti dokter Jo.
“Yup!”

“Hm…,” Dokter Jo tampak manggut-manggut. “Mungkin ini teori aneh. Hye Sun berusaha melupakan kenangan buruk itu, dan dampaknya… orang-orang yang ada di situ juga terlupakan.”

“Memangnya bisa seperti itu, dokter?”
Dokter Jo tersenyum simpul, sebenarnya dia juga agak sangsi. “Otak manusia adalah suatu hal yang misterius, bagaimana bisa sama-sama otak manusia, ada yang mampu mendengar hal-hal gaib, ada yang tidak, itu yang sedang dipelajari para ilmuwan di Jepang.”

Min Ho tampak sumringah sekarang. Masalah Hye Sun  melupakan Hyun Joong dan Eun Hye, dia tidak perduli. Tapi fakta kalau Hye Sun melupakan Ah In, itu merupakan hal yang menguntungkan baginya. Dia bersyukur karena keadaan sangat mendukungnya. Ah In bukanlah penghalang lagi, setidaknya untuk saat ini.


---oOo---

Hye Sun sudah hampir menyelesaikan makan siangnya. Perawat Park menyuapinya dengan agar-agar kaya gizi, mengingat dia selalu muntah jika memakan makanan berat. Sesekali Hye Sun mendengus, sudah dua jam sejak Min Ho menemui dokter Jo. Tunangannya itu berjanji menemaninya makan siang, tapi nyatanya… sampai kering ditunggu tidak datang-datang.

“Ini suapan terakhir, farmasis Goo,” kata perawat Park sambil menyuapkan potongan Jelly. Sekali lagi Hye Sun mendengus, dan agak malas membuka mulutnya. Dalam hati semakin dongkol. Min Ho ingkar janji. Baru kali ini pria itu mengingkari janjinya.

“Aunty!!!!” teriakan nyaring itu membuat Hye Sun tersedak. Sae Hyun sudah menghambur di depannya, dan terkekeh. Di belakang bocah itu, Yo Won tertawa-tawa geli. “Kau terlalu berlebihan, Sae Hyun-a.”

“Ya… berlebihan sekali,” Hye Sun sepertinya setuju dengan anggapan Yo Won.
“Aunty ini gimana, sih? Sae Hyun kawatir, tauuu!!! Waktu  uncle bilang Aunty kecelakaan, Sae Hyun gak bisa tidur,” omel Sae Hyun bersungut-sungut.

Yo Won langsung mencibir mendengarnya. Kakak perempuan Min Ho ini berbisik di telinga calon iparnya, “Dia bohong, dia tidur pulas saat Min Ho menelpon.” Hye Sun jadi geli.

“Mana unclemu?” Tanya Hye Sun jengkel.
“Uncle bilang ada rapat, makanya Sae Hyun di suruh kemari temani Aunty.”
“Bohong!”
“Benar! Kalau tidak percaya, Tanya saja Omma, iya kan, Omma?” Sae Hyun memiringkan kepalanya ke Yo Won.
“Benar, Hye Sun-a,” angguk Yo Won.
“Tuh, kan…” Sae Hyun merasa di atas angin. Lalu menaiki tempat tidur dan berbaring dengan cueknya di samping Hye Sun. “Ya…, ya…, siapa yang menyuruhmu. Ayo turun!” larang Hye Sun.

“Gak mau!” Anak itu memang bandel. Perawat Park dengan sabar memberi pengertian padanya. “Agashi.., tempat tidur ini untuk orang sakit…, jadi hanya aunty yang boleh tidur di sini…, kan aunty lagi sakit.”

“Sae Hyun juga sakit,”
“Bo… sakit apa, kau?” balas Hye Sun sengit.
“Pokoknya sakit!” teriak Sae Hyun sambil memeluk erat Hye Sun. “Ya… lepaskan!”

Yo Won ngakak melihat adegan di depannya.  Dengan isyarat tangan, dia menyuruh perawat Park meninggalkan kamar Hye Sun. Saat perawat itu mulai berjalan ke arah pintu masuk, Yo Won berpikir kalau baru kali ini Sae Hyun begitu antusias memperlihatkan perasaannya. “Sepertinya dia merindukanmu, Sun-a.”

Hye Sun mengamati wajah Sae Hyun yang cengar-cengir gaje. Sepertinya memang dia tak bisa lagi melepaskan diri dari bocah tengil itu. Aneh sekali, padahal selama ini dia berusaha bersikap galak pada Sae Hyun, tapi bocah itu bukannya menjauh, malah semakin nempel kaya perangko.

“Oh, ya, Hye Sun-a, doakan Jin Woo Opa agar menang. Dua hari lagi final turnamen Golf di Kanada,” kabar Yo Won. Hye Sun mengalihkan pandangannya dari Sae Hyun ke Yo Won. “Uni mau ke Kanada lagi?”

“Ne,”
“Tapi Sae Hyun?”
“Wah, Aunty mengkawatirkanku, ya?” goda Sae Hyun.

“Siapa juga yang kawatir?” Hye Sun jadi sewot.
“Iya… Aunty tidak kawatir, tapi mencemaskanku,” Sae Hyun terkikik kemudian. Hye Sun semakin sewot. Yo Won semakin geli. Putrinya punya kegemaran baru, menggoda sang bibi. “Omma yang akan menjaganya. Kau tenang saja.”

“Ne, Halmoni akan menjagaku. Aku tidak mau sama Park Haraboji, orangnya galak dan cerewet sekali,” cerocossan Sae Hyun.
“Ssst… tidak boleh bicara seperti itu tentang harabojimu, Sae Hyun-a,” nasihat bijak Yo Won.
“Tuh… dengar kata Omma, lagian kau juga cerewet, sifat harabojimu tuh menurun ke kamu, tahu…”

“Anhi.”
“Yah… tidak percaya lagi.”

Hye Sun dan Yo Won tertawa bersama. Sejenak Hye Sun melupakan kejengkelannya pada Min Ho. Pria itu memang selalu sibuk. Bukankah selama ini Hye Sun tidak begitu bergantung pada Min Ho? Rasa manja itu berangsur-angsur hilang seiring keadaannya yang semakin membaik. Bengkak di kakinya mengempis dan dengan kesabaran tinggi, dia harus menjalani terapi pemulihan fungsi otot-otot telapak kakinya. Dia tidak ingin kejadian yang lalu terulang. Dan tunangannya sangat bersyukur karena prediksi dokter Jo akan terjadinya kelumuhan tidak terbukti. Walau pun keluhan yang sering dialami Hye Sun sebelum kecelakaan di pegunungan Bukhasan masih ada  jika udara terlampau dingin.

Namun walau begitu, Hye Sun menyanggupi ajakan Min Ho ke pegunungan Bukhasan. Hye Sun memang tidak mengingat kecelakaan di rancha kuda. Benar perkataan dokter Jo, otaknya berusaha melupakan kejadian tragis itu, hingga saat Min Ho menyebutkan pegunungan Bukhasan, Hye Sun sama sekali tidak trauma. Min Ho mengajaknya di tanah milik keluarga Lee di pegunungan Bukhasan sebelah barat. Hye Sun memandangi hamparan hijau yang luas itu takjub.

“Aku akan mendirikan pusat pengobatan kanker di sini,” ucap Min Ho yang kini memeluk Hye Sun dari belakang.

“Tempat ini memang cocok untuk proyek itu, Min Ho-a.” Min Ho tertawa lega mendengar persetujuan Hye Sun. “Kau yang akan mengurusnya nanti,” declare Min Ho kemudian. “Rumah sakit ini akan kubangun atas namamu, dan kau yang harus mengurusnya.” Min Ho menghirup puncak kepala Hye Sun. “Karena itu, kau keluarlah dari LIH.”

Perkataan itu membuat Hye Sun terkejut. Serta merta dia berbalik, berhadapan dengan Min Ho dengan kening berkerut. “Kau memutuskan sesuatu tanpa bicara denganku lagi, Min Ho-a,” ujarnya sengit.

“Apanya yang salah?” elak Min Ho sambil tersenyum.

“Aku tidak mau,” tegas Hye Sun sambil berjalan ke arah mobil yang mereka tumpangi dari Bussan.
“Memangnya kenapa?” Min Ho mengikuti langkah Hye Sun. Tentu saja Min Ho tak habis pikir dengan sikap Hye Sun. Gadis lain pasti sudah menganggap hal ini adalah kesempatan emas, tapi Hye Sun sebaliknya. Dia merasa usahanya di LIH hampir berhasil dan Min Ho berusaha mengalihkan perhatiannya pada proyek lain.
 Hye Sun berbalik menghadapi Min Ho lagi, dengan lantang berkata,”Dulu kau bilang LIH bermasalah.”

“Iya, aku tahu tapi…
“Sssttt!!!” Hye Sun memotong ucapan Min Ho dengan menempelkan telunjuk di bibir. “Aku masih ingat kalimatmu dulu. Kau bilang, ‘Chagiya, manajemen di rumah sakit itu amburadul, terutama instalasi farmasinya. Hanya kau yang bisa menyelesaikan masalah ini’ Kau ingat?”

Min Ho mengangguk, “Iya, tapi…” sekali lagi ucapannya terpotong dengan kalimat halus Hye Sun, “Aku sudah hampir berhasil, Min Ho-a. Aku mohon…, biarkan aku menyelesaikan usahaku. Aku bukan tipe orang yang mengerjakan sesuatu setengah-setengah.”

“Disana sudah ada Eun Hye dan Soe Eun, mereka bisa menghandelnya untukmu.”

“Mola!” Hye Sun tetatp pada pendiriannya. “Proyek itu aku yang memulai, dan aku yang harus menyelesaikannya.”

Min Ho menghela nafas. Kekerasan hati Hye Sun memang tak pernah bisa terbujuk oleh apa pun. “Kau tidak perlu menjawabnya sekarang,” ujar Min Ho sambil merangkul Hye Sun. “Pikirkan baik-baik setelah sembuh.”

Tiba- tiba handphone Min Ho berbunyi. Dengan antusias, Min Ho mengangkat telepon setelah membaca nomor yang tertera di layar Handphone, “Omma?”

Suasana hening sejenak. Wajah Min Ho mendadak pucat, tubuh jangkung itu agak oleng. Hye Sun berusaha menyangga Min Ho agar tidak terjerembab, “Min Ho-a. Gwencana?”

Handphone meluncur dari tangan Min Ho dan pria itu mendadak seperti orang linglung, membuat Hye Sun semakin panic. Suara kremesek terdengar dari handphone. Min Ho terduduk lemas di atas rumput. Hye Sun memungut Handphone itu, isak tangis Ho Young terdengar di telephone. “Omma…, ini Hye Sun.”

Hye Sun memandangi Min Ho yang masih terduduk. Matanya mulai memerah menahan tangis. Asisten Han bilang di telephon kalau Halicopter akan segera menjemput mereka. Hye Sun mendekati Min Ho, duduk di sampingnya dan menepuk bahunya pelan, “Min Ho-a..” Min Ho memeluknya erat. Pria itu tidak menangis, sama sekali tidak menangis, kini Hye Sun-lah yang menangis, menumpahkan kesedihan di  dada bidang itu. Awan gelap menyelimuti Keluarga Lee yang tengah berduka.


Bersambung……

Hua!!! Semakin gaje! gaje! gaje!!!

Nyerah deh gue.... peace.....
« Last Edit: June 29, 2011, 08:40:50 am by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 16 (30 June 2011)
« Reply #491 on: June 28, 2011, 11:04:58 pm »
Huuuaaaaa itu kenapa??
Endingnya bikin geregetannn

Gomawo sisi dah updateee
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 16 (30 June 2011)
« Reply #492 on: June 29, 2011, 12:04:54 am »
Kasian Hyesun. Kakinya tambah parah aja. Tapi syukurnya gak jadi lumpuh. Yang gue bingung, malahan kena hilang ingatan...untungnya dia masih inget ama Minho. kalo ga, gawaaat....

Minho baik banget. Belum nikah, tapi udah mau buat Rumah Sakit atas namanya Hyesun. Emangnya Minho belum pernah lebih jauh nyium Hyesun selain di kening yak??? Waaalah. Langka neh cowo begini. Sopan, respectful, tajir, dan loving...Haduh, mau dunk cariin cowo kek Minho... [hmpfh] [hmpfh]...

Minho dapet telpon dari siapa, dan ada apa???? cepetan updetannya ya sist...biar gak penasaran ne....

MAKASIIII  [clap] [clap] [clap]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 16 (30 June 2011)
« Reply #493 on: June 29, 2011, 01:20:09 am »
makasi ya updet yang ini..entah knp bc chap ni hatiku jadi resah gelisah about ah in,diakan yg kepergok minho bilang cinta ma hyesun wkt dirumah skt.minho jg manusia sbaik apapun pst emosi kalo kekasih hatinya ada yg mengusik palg itu mantanx,wajar kok marah.kalo ada pria kyk mino aku mau bgt pesan satu.saehyun muncvl jg anak ceriwis nyebelin tp lucu.haha.btw dkter jo sakit,apa ntar yg gantiin dia buat ngerawat hs si ah in?oh no.trus kakaknya minho yg kecelakaan ya?.skali lg makasi ya dh divpdet.byk momen minsunnya.hoho
[/size][/color][/b]

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 16 (30 June 2011)
« Reply #494 on: June 29, 2011, 02:28:09 am »
Huaaa akhirnya setelah penantian berabad abad mr.perfect di update jga.Gumawo eon dah update
awan gelap menyelimuti kel.lee apkh maksudnx,apa omma dan appa sae hyun meninggal krn kcelakaan pesawat waktu mau brangkat ke kanada/waktu mau pulang dri kanada,truz tuh si ah in apkh stelah nie akan mencoba merebut hye sun dari minho.aduh smakin greget ja nih cerita.next updatenya jgn lma2 ya eon.