Author Topic: THE HOSPITAL-- Chapter 19 (11 Agustus 2011)  (Read 25107 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 17 (9 Juli 2011)
« Reply #600 on: July 21, 2011, 08:50:07 pm »
AKU NAGIH HOSPITAL [goodgrief] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 17 (9 Juli 2011)
« Reply #601 on: July 22, 2011, 09:44:51 pm »
SISI, UP DATEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE

ANE DAH SIAP2 NI BUAT KE KAWINAN MINSUN ,
[hmpfh]


 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 17 (9 Juli 2011)
« Reply #602 on: July 23, 2011, 03:03:52 am »
ini kapan update????  [what] [what] [what] [what] [what]

sisi kan udah lulus,ayo dunk bu farmasi [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 17 (9 Juli 2011)
« Reply #603 on: July 23, 2011, 03:38:22 am »
yang ini update ntar malam,besok tret sebelah(mewakili author)..bye kabur
[/size][/color][/b]

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 17 (9 Juli 2011)
« Reply #604 on: July 23, 2011, 04:56:01 am »
Update yah. Biar nanti yah saya jadi pagar ayunya yah. Yah alhamdulillah yah
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 17 (9 Juli 2011)
« Reply #605 on: July 24, 2011, 03:46:11 am »
THE HOSPITAL
Part 18



Additional Cast :
Choi Min Hwan as Goo Min Hwan

Malam masih panjang, namun Hye Sun dan Sae Hyun sudah mengambil posisi masing-masing di tempat tidur. Memang akhirnya Hye Sun menginap di kediaman keluarga Lee. Dan semua ini gara-gara si ceriwis Sae Hyun. Entah kenapa sifat ceriwisnya kembali. Manja dan sungguh merepotkan. Tiba-tiba saja anak itu minta agar ranjangnya dipindahkan dekat jendela sore tadi. Tanpa bantahan, para pelayan menuruti kemauannya.

“Memangnya kenapa musti dipindah?” tanya HYe Sun waktu itu.  Dan anak itu menggerak-gerakkan tangannya, seolah mengatur letak ranjang agar sejajar dengan sesuatu. “Kurang ke kiri sedikiiiittt!” perintahnya.

“Apa sih, yang ingin kau sejajarkan dengan ranjang?” Pertanyaan percuma karena Sae Hyun tidak juga menjawab. “Aunty…, kira-kira nanti malam bintang bersinar terang tidak?”

Hye Sun hanya bisa menaikan bahu. “Entahlah… .”

Dan ketika mereka tidur satu ranjang malam ini, Hye Sun baru tahu apa yang dimaksudkan Sae Hyun. Apalagi ketika melihat Sae Hyun berbaring menatap langit lewat jendela kaca. Pertanyaan Sae Hyun tentang bintang semakin memperjelas maksudnya,”Apa benar orang yang sudah meninggal berubah jadi bintang di langit, Aunty?”

Mata Hye Sun menyipit. Baru kali ini dia mendengar cerita itu. “Siapa yang mengatakan semua itu padamu?”

“Omma…,”
“Omma?”
“Ne, dulu waktu dongsaeng Sae Hyun meninggal, Omma bilang kalau dongsaeng telah menjadi bintang di langit, mengawasi Sae Hyun dari sana.”

Hye Sun mendesah. Demi untuk menyenangkan Sae Hyun, dia mengangguk saja. Sebenarnya dia juga tidak yakin. Orang yang sudah meninggal berubah jadi bintang di langit? Yang benar saja? Yang Hye Sun tahu, meninggal adalah proses berpisahnya nyawa dari raga, ditandai dengan tidak berfungsinya denyut nadi sampai matinya batang otak. Oh, damn, selama ini Hye Sun terlalu realistis, dia bahkan tak mampu berimajinasi untuk menyenangkan anak kecil.

“Kalau begitu…,” Sae Hyun menunjuk salah satu bintang yang terlihat.”Bintang yang di sana pasti Omma.”  Hye Sun mengikuti arah telunjuk Sae Hyun. “Omma mengawasi kita, Aunty,” lanjut Sae Hyun sambil nyengir. Hye Sun hanya bisa tersenyum tipis.

“Omma…, jangan kawatir…, Aunty akan menjagaku,” ucap Sae Hyun seakan bintang itu adalah Yo Won. Hye Sun terpaksa menahan tangisnya. Terkekeh sambil mengusap air mata.

“Sae Hyun-a,” panggil Hye Sun. Sae Hyun menoleh lambat dengan mata lebar yang mengerjap. “Mwo?”

“Kau yakin mau tinggal sama Aunty?”
Sae Hyun mengangguk cepat.
“Aunty tidak bisa masak, lho,”
“Tidak apa-apa,” Sae Hyun menggeleng. Kelemahan HYe Sun itu bukan masalah baginya.
“Aunty juga galak, iya, kan?” Hye Sun menggerak-gerakkan telunjuk di muka Sae Hyun, dan mendapatkan cengiran khas dari anak itu,”Galak dan tak mau ngalah,” balas Sae Hyun. Mereka pun tertawa berdua.

“Kalau Aunty tinggal di sini, aunty kan tidak perlu memasak,” gurauan yang tepat di sasaran. Hye Sun menjitak jidat Sae Hyun pelan, membuahkan bibir monyong di muka Sae Hyun. Lalu berbalik, membelakangi Hye Sun lagi demi melihat bintang di langit. “Bintang yang kulihat di rumah Aunty lebih bagus.”

“Oh,” Hye Sun menyampirkan tangannya di pantat Sae Hyun, menepuk-nepuk agar anak itu lekas tidur.”Mungkin  itu karena rumah Aunty dekat pantai, jadi apa pun yang ada di langit serasa lebih indah di sana.”

“Jinja?
“Ne.. .”

“Oahhmmm,” rasa kantuk mulai menyerang mata Sae Hyun, mungkin karena lelah. “Kapan-kapan aku akan ke rumah itu lagi.”

Kening Hye Sun berkerut mendengarnya. Kok kapan-kapan?

“APa maksudmu? Kalau kau mau tinggal denganku, sudah pasti kau akan tinggal di sana.”

Untuk sementara Hye Sun tidak mendapatkan jawaban karena pintu tiba-tiba diketuk dari luar. Dan suara berat Min Ho terdengar,”Sae Hyun-a, kau sudah tidur?’

“Ne!” teriak Sae Hyun. Hye Sun melonjak kaget. Sepertinya anak ini sudah mulai mengantuk tadi, tapi malah menjawab lantang seperti itu.

“Bohong, masa tidur bisa ngomong,” protes Min Ho. Hye Sun mengulum senyum. Dia bisa membayangkan cengiran Min Ho yang dibalik pintu.

“Sae Hyun ngantuk, jangan ganggu!” teriak Sae Hyun lagi.

Sekali lagi suara ketukan pintu terdengar. “Apa Aunty di dalam?”

“Aunty tidur!”
“Hatjima!”
“Jeongmal, Uncle!”

“Ya…, jangan bohong begitu,” protes Hye Sun.
“Sssstt…, Aunty jangan berisik!”

Min Ho terkekeh pelan di balik pintu. Lamat-lamat dia bisa mendengar bisik-bisik di dalam kamar. Rupanya Sae Hyun ingin memonopoli Hye Sun malam ini. Tapi memang ada hal penting yang harus Min Ho rundingkan pada Hye Sun, jadi dia harus mengganggu niatan Sae Hyun. “Boleh pinjam Auntymu sebentar?” tanya Min Ho sambil mengetuk pintu.

“Sudah kubilang Aunty tidur!”

‘Bohong sama orang tua dosa, lho!’ goda Min Ho. Lalu memanggil Hye Sun, “Chagiya, bisa bicara sebentar?”

“TIdak boleh!” Yang menjawab malah Sae Hyun. Hye Sun tambah ngakak.
“Ya…, Chagi…, jangan tertawa begitu…, ini benar-benar penting!” Min Ho merasa dipermainkan. Hye Sun yang jadi serba salah, akhirnya bangkit, memakai jubahnya untuk menemui Min Ho, tapi tangan kecil Sae Hyun menariknya lagi. “Aunty… .”

“Sebentar saja, Sae Hyun-a,” ujar Hye Sun sambil memandang lembut. Perlahan, tangan yang menariknya itu terlepas, walaupun wajah Sae Hyun berubah mayun.

“Jangan lama-lama, Uncle!” protes Sae Hyun waktu Hye Sun mulai membuka pintu kamar. Min Ho hanya bisa terkekeh sedangkan Hye Sun geleng-geleng kepala.

“Ada apa, Min Ho-a?” tanya Hye Sun saat di depan Min Ho.
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu,” jawab Min Ho. Dia merasa seseorang di balik pintu menguping. Dia pun membuka pintu kamar, dan ternyata benar. Sae Hyun yang ketahuan jadi gelagapan, lari menaiki ranjang. “Jangan nguping pembicaraan orang tua!” tandas Min Ho.

“Kita ke perpustakaan, Chagi,” ajak Min Ho. Mau tak mau, Hye Sun mengikuti Min Ho ke perpustakaan.  Keduanya saling diam saat berjalan beriringan. Min Ho merasa gugup mengatakan keputusan Hwo Young akan pernikahan mereka yang dipercepat, sedangkan Hye Sun menerka-nerka apa yang akan dikatakan Min Ho.

Saat mereka tiba di perpustkaan, saat itu pula Min Ho bertambah gugup. Dia bahkan berusaha membelokkan keadaan dengan mendekati tea table dan menawarkan minum,”Mau minum teh dulu?”

“Anhi, aku sudah mau tidur, Min Ho-a. teh bisa membuat rasa kantukku hilang,” tolak Hye Sun. Min Ho mendesah. Membuat Hye Sun semakin penasaran. “Ada apa sebenarnya Min Ho-a?” Hye Sun bersedekap dan agak menyandar ke meja kerja.

“Tadi…,” sekali lagi Min Ho gugup. “Ah, kau yakin tidak mau minum dulu…, air  misalnya?”

Ya, Tuhan…, masih juga bikin bingung.
“Min Ho-a!” Hye Sun mendelik galak.
“Oke, oke!” Min Ho mendengus. Perlahan mendekati Hye Sun lalu memegang pundaknya kiri dan kanan.

“Hye Sun-a,” panggil Min Ho dengan tatapan sungguh-sungguh. “Omma minta…, agar pernikahan kita dipercepat.”

“Mwo?” kabar itu membuat Hye Sun terbelalak.
“Omma bahkan sudah mengatur prosesi lamaran ke Jeju besok,” kata Min Ho lagi. Rasa kantuk Hye Sun seketika hilang. “Tapi…, bukankah keluarga Lee sedang berduka? Bagaimana bisa ada keputusan seperti ini?” Hye Sun jadi tak habis pikir.

“Ini sudah keputusan Omma.”
“Tapi…,”
“Jadi kau tidak setuju?”
“Bukan begitu…,”

Keduanya berusaha meminta kepastian.  “Ini karena Sae Hyun?” selidik Hye Sun.  Min Ho mengangguk, “Ne, karena Sae Hyun dan… karena aku sangat mencintaimu.”

“Kau sama sekali tidak menghormati almarhumah Uni, Min Ho-a,” desis Hye Sun sambil beringsut menduduki sofa. Min Ho mengikuti gerakannya, berjongkok di hadapannya. “Aku yakin Noona juga setuju. Impiannya adalah melihat kita menikah, apalagi jika kita berdua jadi orang tua wali Sae Hyun, Noona pasti bahagia di sana.”

HYe Sun masih tak menjawab. Min Ho menggapai tangannya, mengusap-usap lembut, lalu mencium punggung tangan itu. “Ottoke, Chagiya?”

 HYe Sun menunduk, semakin dalam saat wajahnya bersemu merah. Min Ho duduk disampingnya, memeluk, dan mencium keningnya lalu berbisik,”Diam berarti iya.”
Hye Sun semakin malu. Dengan gemas dicubitnya dada bidang yang memeluknya itu. Sudah pasti Min Ho meringis. “Ya.., Chagi… kau ini..,” lalu mengangkat jemari Hye Sun yang mencubitnya tadi. “Pantas saja.., kukumu panjang begini.”

Hye Sun terkekeh pelan. “Ottoke, Hye Sun-a?” Min Ho masih saja meminta kepastian.
“Bukannya tadi kau bilang diam berarti iya?”

“Jadi iya?” Min Ho mengangkat wajah Hye Sun. tentu saja Hye Sun mengangguk cepat.
“Benar iya, Hye Sun-a?” tanya Min Ho lagi.
“Ne!” Hye Sun akhirnya berucap sambil mendelik.

“Yee!” Min Ho bersorak saat memeluk Hye Sun lagi. Dengan gerakan cepat, dia mencium kening Hye Sun, pipi kanan, pipi kiri lalu….

Min Ho tiba-tiba berhenti. Hye Sun tahu lanjutan dari semua itu. Sudah pasti bibirnya yang akan dicium Min Ho, tapi sepertinya Min Ho menimbang-nimbang sesuatu. Apalagi saat Min Ho mendorong Hye Sun pelan agar agak menjauh. “Kembalilah ke kamar, Chagiya.”

“Mwo?” dahi Hye Sun berkerut seketika. Min Ho membuang muka. Perasaan aneh bergemuruh di dadanya. Nafsu! Min ho tahu itu, sedapat mungkin Min Ho menahannya.

“Sae Hyun menunggumu.”
“Min Ho-a?”

Min Ho menghela nafas. “Jika kau tetap di sini…, aku tak sanggup menahannya.”  Hye Sun melongo.

“Mian,” Min Ho berucap sambil menekuri corak kotak-kotak karpet di bawahnya. “Aku bukan pria romantis, ya?”

“Maksudnya?”

“Kau tidak sadar?” Min Ho menjaga jarak dengan Hye Sun.

“Itu karena… kau pria yang baik, Min Ho-a. Aku tidak perlu pria romantis. Apa bagusnya pria romantis yang merenggut keperawanan kekasihnya sebelum menikah?”

“Karena itu kembalilah ke kamarmu,” perintah Min Ho. Mata Hye Sun menyipit, menahan tawa. “Cepatlah, sebelum terjadi hal yang tidak-tidak.”

Tawa Hye Sun tak terbendung lagi. “Ya…, Goo Hye Sun!!!” protes Min Ho.

“Araso…, Araso,” Hye Sun mengibas-ibaskan tangannya. Perlahan dia berdiri dan menjauhi Min Ho yang susah payah menahan hasrat.  “Ehm…, selamat mimpi basah, Lee Min Ho-nim,” goda Hye Sun sambil berlari menghindar tapi…

Buk! Bantal sofa mendarat juga di punggungnya. Awas kau, Chagi!


---oOo---


Ji In menyongsong kedatangan Ah In di ruang tamu. Ah In mendesah, menduduki sofa sambil melonggarkan ikatan dasinya yang mencekik. Seharian tadi sangatlah berat bagi dokter Yoo, dan hal yang membuatnya tak habis pikir adalah kelakuan Ji In saat ini. Ibunya itu hanya membisu sejak membukakan pintu untuknya tadi. “Ada apa, Omma?” tanya Ah In. Lebih mengherankan karena Ji In duduk di sampingnya.

“Tadi Nyonya Lee menelphon.”

Ah In mulai mengkerutkan keningnya. Suara Ji In semakin bertambah berat.”Pernikahan mereka di percepat, Ah In-a.”

Ah In mendesah. Dia bangkit, menyambar tas kerjanya sambil berkata,”Lalu apa urusannya denganku?”

Ah In akan meninggalkan ruang tamu, tapi suara Ji In menghentikan langkahya,”Mereka meminta kita ikut dalam prosesi pelamaran Hye Sun di Jeju.” Sebenarnya Ji In serasa berat mengatakannya. Ah In berbalik, menatapnya sekali lagi dengan pandangan menginterogasi.

“Karena kau adalah satu-satunya lelaki di klan keluarga Lee, maka kau-lah yang harus bicara, meminta Hye Sun dari keluarganya untuk Min Ho,” akhirnya kabar itu  terdengar juga dari Ji In. Ah In membuang muka, dan Sang Ibu semakin serba salah. “Kau tahu maksud Omma, bukan?”

Dan Ah In memilih berbalik, “Tentu saja, Omma.”

Ji In berjalan ke depan Ah In, menghalangi langkah putranya,”Kau yakin melakukan ini, Ah In-a?” tapi Ah In melewatinya begitu saja, bahkan mulai menaiki tangga menuju lantai ke dua. “Bagaimana dengan perasaanmu?” teriakan Ji In masih di ruang tamu. Ah In berhenti, ditatapnya sang Ibu yang mendongak padanya karena posisinya yang berada di tengah tangga sekarang.” Sekali saja, Aku mohon, Omma… Jangan campuri urusanku.”


---oOo---

Pagi tiba dengan berjuta kegembiraannya, terutama bagi Hye Sun. Beberapa peñata rias tampak sibuk mendandaninya. Muka cantik itu semakin bersinar karena kebahagiaan hati. Dan saat sebuah gaun cantik akhirnya melekat pas di tubuhnya, para peñata rias itu semakin berdecak kagum. Gaun putih berpotongan sederhana yang mampu menonjolkan keindahan kulitnya. Rambut pendek yang selama ini tergerai begitu saja, kini tampak ringkas tersanggul, serta bibir pink yang selalu melengkung indah. Jika orang bertanya bagaimana perasaannya sekarang, jawabannya adalah campur-campur. Bahagia, dan deg-degan bercampur jadi satu.

Hari ini keluarga Min Ho akan resmi melamarnya dan pernikahan akan dilakukan dua hari kemudian di Villa Lee di pegunungan Bhukasan. Sekali lagi Hye Sun mematut diri di cermin, berharap tiada cela dalam penampilannya. Semalam Hye Sun sudah menelpon ayahnya, mengabarkan perihal acara ini. Dan tentu saja Joon Yup, Ayahnya jadi gelagapan sendiri. “Kenapa bisa semendadak ini, Hye Sun-a?”

Hye Sun tertawa renyah, masih di telephon, dia mengabarkan alasan di balik semua ini,” Ini karena Sae Hyun, Appa. Appa tahu? Hye Sun seorang Ibu sekarang, itu karena Sae Hyun memilihku sebagai walinya. Tanpa menikah, Hye Sun tidak bisa jadi wali syah Sae Hyun.”

Joon Yup jadi terkekeh, membayangkan Hye Sun menjadi seorang ibu adalah hal lucu baginya,”Aku tidak menyangka, anak itu bisa memilih kau yang galak begitu.”

“Appa…,” Hye Sun jadi merajuk. Joon Yup semakin keras tertawa.

Hye Sun tersenyum di depan cermin. Membayangkan obrolannya dengan sang Ayah semalam membuatnya geli. Kini dia bisa membayangkan bagaimana sibuknya rumah di Jeju. Seperti yang dikatakan sang Ayah semalam, bahkan Hye Sun bisa mendengar teriakan Joon Yop memanggil Hyun Jung, Ibu tirinya,”Yeobo…, besok pagi-pagi benar, carilah makanan yang pantas untuk menerima tamu. Oh, ya… sekarang juga kau kabarkan berita ini pada Bibi Kim. Biar dia dan keluarganya membantu kita besok.”

“Ne!” Hye Sun bisa mendengar jawaban ibu tirinya, bahkan suara pintu yang akhirnya terbuka, pertanda Hyun Jung melakukan perintah suaminya.

“Hei! Min Hwan-a! Kau tidak dengar, Hah? Noonamu akan menikah!” cetus Joon Yop.
“Ne, aku tahu!” jawab seseorang yang Hye Sun kenal dari suaranya kalau itu Min Hwan, dongsaengnya.
“Lalu kau tunggu apa lagi, hah! Kumpulkan teman-temanmu untuk membantu kita besok!” teriak Joon Yop. Jengkel dengan polah anak itu yang terlalu santai.

“Huh! Siapa yang menikah, siapa juga yang repot,” tukas Min Hwan, sewot walau akhirnya membangkitkan tubuh malasnya untuk berkeliling komplek, meminta bantuan remaja di sekitar rumah.

“Appa!” panggil Hye Sun di teleppon.
“Ne, Sayang?”
“Tidak usah terlalu repot,” cegah Hye Sun.
“Aish! Tidak ada yang merasa direpotkan.”

Sekali lagi Hye Sun tersenyum. Semalam dia bahkan tidak bisa tidur nyenyak. Dua hari lagi, statusnya berubah. Dua hari lagi, ada seseorang yang selalu berada di sisinya, mencintainya sepenuh hati, bahkan membagi suka dan duka bersamanya. Hye Sun sangat bahagia, serasa bagaikan cinderela yang disunting pangeran hatinya. Ah, setiap anak perempuan di muka bumi ini selalu terpapar kisah-kisah macam itu, tentang putri yang akhirnya disunting pangeran tampan. Benarkah dia seorang putri? Dan benarkah Min Ho pangeran? Karena yang selama ini terjadi, pangeran tampan itu selalu menyembunyikan kata-kata indah darinya. Bahkan saat pertama kali mereka memutuskan bersama, Hye Sun-lah yang pertema kali memulainya, dengan  kalimat yang jauh dari romantis.

“Kau mau jadi calon suamiku?” Hye Sun masih ingat kalimat itu. Bahkan dia merasa malu jika mengingatnya. Bayangkan saja kalau Min Ho menolak, sudah pasti dia akan malu seumur hidup. Tapi yang terjadi adalah kebalikannya. Pria itu menerimanya, memaparkan perhatian yang berlebih kepadanya, bahkan meyakinkan cinta mereka setiap hari, hingga cinta itu semakin membentangkan jalan menuju gerbang pernikahan.

Tidak, kisah  cintaku lebih indah dari kisah-kisah itu. Kisah yang lebih realistis. Kami saling menghormati satu sama lain, dan aku bangga dengan kisah ini. Adakah yang lebih membanggakan bagi seorang wanita yang begitu dihormati kekasihnya?

“Hye Sun-a,” panggilan seseorang membuyarkan lamunan Hye Sun. Masih di balik cermin, Hye Sun mengamati orang itu.

Ji In mendekatinya. Dia berbalik, menatap Ji In di depannya yang tampak menyodorkan sesuatu. “Ji In ahjuma?”

Ji In tersenyum. Hye Sun menerima benda yang dia sodorkan dengan satu alis yang terangkat. “Apa ini, Ahjuma?” Hye Sun tampak menimang-nimang benda itu yang rupanya sebuah surat.

“Ah In bilang kau melupakan beberapa hal sejak kecelakaan di pegunungan Bukhasan,” kata Ji In.
“Ne, tapi… bukan hal penting sekarang,” tanggapan Hye Sun. “Lalu apa hubungannya dengan ini?” Hye Sun menggerak-gerakkan surat yang ada di tangannya.

“Bacalah, maka kau akan segera tahu,” hanya itu yang Ji In ucapkan. Jidat Hye Sun tambah berkerut. Min Ho muncul di antara mereka berdua. Ji In jadi gugup. Kegugupan itu bisa ditangkap oleh Hye Sun dan dia semakin heran dengan semua ini.

“Oh, Anda juga di sini, Ahjuma?” sapa  Min Ho. Ji In semakin serba salah, “Eh.., Ne, Min Ho-a. Aku hanya ingin mengucapkan selamat pada Hye Sun.”

“O,” Min Ho tersenyum mendengarnya.
“Aku permisi dulu,” kata Ji In yang akhirnya keluar dari ruangan itu. Pandangan mata Hye Sun dan Min Ho mengiringi kepergiannya. Tapi itu tidak lama karena sebentar kemudian, Min Ho memeluk Hye Sun, menatap wajah cantik kekasihnya itu dengan penuh pemujaan. “KAu cantik sekali, Chagiya.”

“Gumawo,” Hye Sun menjawab dengan roman wajah malu. Dia memandang sosok pria di depannya itu, sangat tegap dengan stelan jas yang melekat di tubuhnya. “Kau juga sangat tampan.”

“Jinja?”
“Tentu saja.”

Hye Sun menimang-nimang surat yang diberikan Ji In tadi. Min Ho jadi menaruh perhatian pada surat itu. Hye Sun meletakkan surat itu di atas meja rias, lalu merapikan gaunnya yang agak kusut.

“Apa ini?” Min Ho mengambil surat itu dari atas meja. Hye Sun menoleh, memandang surat di tangan Min Ho sambil menjawab, “Ahjuma-mu bilang, kalau surat itu akan mengingatkanku pada memori yang aku lupakan selama ini.”

“Memori yang kau lupakan?” Min Ho mulai mencurigai sesuatu.
“Ne, Kau tahu, kan? Sejak kecelakaan di pegunungan dulu, ada beberapa hal yang aku lupakan.”

Min Ho jadi ingin tahu apa isi surat itu. Kekawatiran kecil menyelinap di hatinya. Apalagi, dia baru tahu tadi pagi, kalau Ah In-lah yang akan mewakili keluarganya di prosesi pelamaran nanti. “Apa memori itu begitu penting saat ini, Chagiya?” tanya Min Ho.

Hye Sun menggeleng. “Aku sedang tidak ingin mengingat masa lalu.”

“Waeyo?”

Hye Sun beringsut mendekati Min Ho. Perlahan, dia mengulurkan kedua tangannya di leher Min Ho. Membuat pria itu agak gugup. “Karena yang terpenting adalah sekarang dan dua hari lagi,” kalimat yang membuat Min Ho tersenyum lebar. Dengan penuh perasaan, diciumnya kening Hye Sun, dan menarik kepala mungil itu di dadanya.

“Jadi kau tidak keberatan kalau aku yang menyimpan surat ini?” tanya Min Ho setelah Hye Sun melepas pelukannya dan mulai sibuk mematut diri di cermin lagi.

“Tentu,” jawab Hye Sun.
Min Ho tersenyum tipis. “Bersiaplah, Chagiya. Kita bertemu di pesawat setengah jam lagi.” HYe Sun menoleh lalu menjawab perintah itu dengan anggukan kepala.

Sekali lagi Min Ho mencium kening Hye Sun. Dengan langkah mantap, ditinggalkannya Hye Sun menuju ke kamarnya. Dia melihat surat itu saat duduk di ranjang kamarnya, bahkan dengan penasaran tingkat akut, dibukanya surat itu. Mencoba mengenali tulisan didalamnya yang dia yakini sebagai tulisan Hye Sun. Mata lebarnya semakin terbelalak membaca kata demi kata di surat itu. Jadi ini yang coba Ah In lakukan? Jadi ini yang dia lakukan untuk menggagalkan pernikahanku? Brengsek! Min Ho mensobek-sobek surat itu penuh emosi.


BERSAMBUNG
« Last Edit: July 24, 2011, 03:50:31 am by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 18 (24 Juli 2011)
« Reply #606 on: July 24, 2011, 04:23:51 am »
Huaaaaa kawin kawin..tidur ada yang nemenin..
Gomawo sisi udah update,chukae juga yak dah lulus..

Ohhhh minong romantissss bangeddd kok..
Suka banged waktu hye sun inget masa lalu dia ngajak mino nikah..
Ihhhh co cweet..
Kok kayanya agak pendek ya sisi??aku kira bakal sampai nikah.
Itu surat isinya apaan udah kepotong what what
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 18 (24 Juli 2011)
« Reply #607 on: July 24, 2011, 04:34:27 am »
Huaaaaa kawin kawin..tidur ada yang nemenin..
Gomawo sisi udah update,chukae juga yak dah lulus..

Ohhhh minong romantissss bangeddd kok..
Suka banged waktu hye sun inget masa lalu dia ngajak mino nikah..
Ihhhh co cweet..
Kok kayanya agak pendek ya sisi??aku kira bakal sampai nikah.
Itu surat isinya apaan udah kepotong what what

itu surat Hye sun ke ah in waktu mereka putus dulu


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline miss_princess

  • Junior
  • **
  • Posts: 141
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 18 (24 Juli 2011)
« Reply #608 on: July 24, 2011, 04:47:34 am »
Huuaaaaaaaa udahhh di updatee..

Aaahh kok pendek sihh..

Asikkkk dua harii lagi kawinn..

Kawin..kawin..kawin..kawin..

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 18 (24 Juli 2011)
« Reply #609 on: July 24, 2011, 05:27:03 am »
gomawo update nya eonni , untung aja hyesun jadi gadis penurut  [briggin] , mau menyerahkan surat itu ke minho  [hug] kira" apa ya isi suratnya  [what] sampai minho marah tingkat akut ke Ah In  [head break]
jadi ketawa pas minho menahan hasratnya  [hmpfh] dua hari lagi minho sabar ya  [biggrin]

Offline mbah dukun

  • Junior
  • **
  • Posts: 142
  • My Name Is JangKelin
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 18 (24 Juli 2011)
« Reply #610 on: July 24, 2011, 06:05:02 am »
makasi updatex sista...sae hyun ceriwis comeback..minho punya saingan berat nih si anak anak tua yg ceriwis abis.akhirnya mereka nikah 2hr lg.horeee..ji in licik ihhh,

siti minsun

  • Guest
Re: THE HOSPITAL-- chapter 18 (24 Juli 2011)
« Reply #611 on: July 24, 2011, 06:27:14 am »
thanks atas updatetannya sist....aku ga tw mw coment,,,,sweeettt bgt minho
 [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225]
aku yakin ko mrka kawin nanti pasti ada pangganggu di malam pertama yaitu si cerewet kecil.
kesel  dech liat ah in  hammer2 hammer2 hammer2 hammer2 hammer2 hammer2
ditunggu lanjutannya.... [AddEmoticons04237]

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 17 (9 Juli 2011)
« Reply #612 on: July 24, 2011, 07:10:33 am »
sisiiiii...pendek,kentang,setelah penantian 2mgg plus dandan secantik2nya mo kondangan,.eh blm jg...tp gw suka mino sopan bnget walaupun dia hrs sering mimpi basah.ha.ha.ha...itu yg kirim surat ibunya atau si ah in?..pokoknya sblm puasa update lg n minsun merit plus MK(Malam Kedua) krn gw yakin malam pertama mrk gagal krn sicerewet sae hyun.. [rofl]

Offline dalbyeol

  • Senior
  • ****
  • Posts: 803
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 18 (24 Juli 2011)
« Reply #613 on: July 24, 2011, 07:13:20 am »
gumawo Sisi-onnie buat update-annya [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

wah bentar lg Min Ho & Hye Sun bakaln...NIKAH...NIKAH...NIKAH [clap] [clap] [clap]

jd gak sabar nunggu next chap (mereka bakaln nikah d next chap kn,onnie???) [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

oh ya,onnie...i2 si Ah In ngapain pake acara ngasih surat ke Hye Sun sgala??? mau bikin kacau rencana ya??? pengen di [head break] rpnya si Ah In [dry]

ok,onnie...lanjut...HWAITING!!! [AddEmoticons04262]

And I'll never promise to
be true to anyone,unless it's you...The Day I Fall in Love

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 17 (9 Juli 2011)
« Reply #614 on: July 24, 2011, 08:57:41 am »
sisiiiii...pendek,kentang,setelah penantian 2mgg plus dandan secantik2nya mo kondangan,.eh blm jg...tp gw suka mino sopan bnget walaupun dia hrs sering mimpi basah.ha.ha.ha...itu yg kirim surat ibunya atau si ah in?..pokoknya sblm puasa update lg n minsun merit plus MK(Malam Kedua) krn gw yakin malam pertama mrk gagal krn sicerewet sae hyun.. [rofl]

yang kirim surat ya hye sun sendiri, la wong yang dikasihkan ke hye sun itu surat hye sun waktu putus ma ah in dulu  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]