Author Topic: THE HOSPITAL-- Chapter 19 (11 Agustus 2011)  (Read 24025 times)

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 18 (24 Juli 2011)
« Reply #660 on: August 06, 2011, 10:17:57 pm »
Sisi kemana yak??biasanya hari minggu selalu nongol =="
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 18 (24 Juli 2011)
« Reply #661 on: August 09, 2011, 09:32:41 pm »
Ni dilanjut, gak ya?


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline My My

  • Junior
  • **
  • Posts: 165
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 18 (24 Juli 2011)
« Reply #662 on: August 09, 2011, 09:41:56 pm »
Ni dilanjut, gak ya?
Kirain di update,,mau baca
lanjut dong sisi
update sekarang aja ya,,ya,,ya,,ya,,(guling-guling di ranjang)

Offline My My

  • Junior
  • **
  • Posts: 165
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 18 (24 Juli 2011)
« Reply #663 on: August 09, 2011, 09:43:06 pm »
Ni dilanjut, gak ya?
Kirain di update,,mau baca
lanjut dong sisi
update sekarang aja ya,,ya,,ya,,ya,,(guling-guling di ranjang)
Request Update BTSS juga ya

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 18 (24 Juli 2011)
« Reply #664 on: August 10, 2011, 02:39:25 am »
Laanjut donk eonn,,,,

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 18 (24 Juli 2011)
« Reply #665 on: August 10, 2011, 10:57:34 pm »
Hyun Joong sama sekali tak bisa berbagi rahasia itu. Dia begitu menyesali keadaan. Janji itu benar-banar mengikat. “Jika ada sesuatu yang serius terjadi, tetaplah mendukung atasanmu,” hanya itu yang bisa Hyun Joong nasihatkan, sebelum meninggalkan Soe Eun, diiringi tatapan penuh tanda tanya dari gadis itu....


Hye Sun dan Min Ho tidak terpengaruh dengan kebisingan itu. Memang letak duduk mereka berjauhan, tapi keduanya masih saling memandang dengan senyuman di bibir masing-masing. Seolah jarak beberapa hasta itu tak berarti. Jarak yang akan hilang beberapa waktu lagi, diperikat oleh kesucian dihadapan sumpah saling setia, sehidup semati. Angan yang begitu membuat keduanya melayang.

“Aunty! Lihat, ada burung terbang!” Merasa dicuekin, Sae Hyun memegang  pipi Hye Sun hingga Hye Sun menoleh dari Min Ho ke obyek yang ditunjuknya. “Mereka membentu huruf V, Aunty!” HYe Sun merespon teriakan itu dengan mengangguk-anggukkan kepala.



“Jangan bicara lagi, Hyun joong-a. dengarkan Appamu ini baik-baik sebelum nafasku benar-benar habis.” Farmasis Kim menyedot udara sampai terdengar suara mendesing dari hidungnya, ‘Dan… dan… jangan katakan … hal… ini… pada siapa pun.”

“Appa… Appa…,” Hyun Joong tergugu di depan Ayahnya.  Keadaan Kim Gab So sungguh-sungguh menyedihkan.  Suasana muram di penjara membuat tubuh tua itu semakin ringkih.
« Last Edit: August 10, 2011, 11:09:07 pm by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 18 (24 Juli 2011)
« Reply #666 on: August 10, 2011, 11:05:42 pm »
Hyun Joong sama sekali tak bisa berbagi rahasia itu. Dia begitu menyesali keadaan. Janji itu benar-banar mengikat. “Jika ada sesuatu yang serius terjadi, tetaplah mendukung atasanmu,” hanya itu yang bisa Hyun Joong nasihatkan, sebelum meninggalkan Soe Eun, diiringi tatapan penuh tanda tanya dari gadis itu....


Hye Sun dan Min Ho tidak terpengaruh dengan kebisingan itu. Memang letak duduk mereka berjauhan, tapi keduanya masih saling memandang dengan senyuman di bibir masing-masing. Seolah jarak beberapa hasta itu tak berarti. Jarak yang akan hilang beberapa waktu lagi, diperikat oleh kesucian dihadapan sumpah saling setia, sehidup semati. Angan yang begitu membuat keduanya melayang.

“Aunty! Lihat, ada burung terbang!” Merasa dicuekin, Sae Hyun memegang  pipi Hye Sun hingga Hye Sun menoleh dari Min Ho ke obyek yang ditunjuknya. “Mereka membentu huruf V, Aunty!” HYe Sun merespon teriakan itu dengan mengangguk-anggukkan kepala.



“Jangan bicara lagi, Hyun joong-a. dengarkan Appamu ini baik-baik sebelum nafasku benar-benar habis.” Farmasis Kim menyedot udara sampai terdengar suara mendesing dari hidungnya, ‘Dan… dan… jangan katakan … hal… ini… pada siapa pun.”

“Appa… Appa…,” Hyun Joong tergugu di depan Ayahnya.  Keadaan Kim Gab So sungguh-sungguh menyedihkan.  Suasana muram di penjara membuat tubuh tua itu semakin ringkih.





cuma spoiler doank ye [cry] [cry] [cry] [cry] ayo up date up date [head break] [head break] [hmff] tp tengkyu say dah mo lanjut lagi HOSPITAL [huglove]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Namutz

  • Junior
  • **
  • Posts: 197
  • nona goo is inspiring women
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- spoiler (11 Agustus 2011)
« Reply #667 on: August 10, 2011, 11:17:03 pm »
haaaaaaaa spoilerrrrrrrrr duangggggg  [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [bored] [bored] [bored] [bored] [bored] [bored] [bored] [bored] [bored] [bored]

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- spoiler (11 Agustus 2011)
« Reply #668 on: August 11, 2011, 05:25:07 am »
Yaaaahhhh???kok mala menjurus ke kim family??
Katanya udah ijab kabul?
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline miss_princess

  • Junior
  • **
  • Posts: 141
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- spoiler (11 Agustus 2011)
« Reply #669 on: August 11, 2011, 06:06:18 am »
Kok cuman spoilerr sihhh..

Kawinnya kapaaannn???

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- spoiler (11 Agustus 2011)
« Reply #670 on: August 11, 2011, 11:12:29 am »
THE HOSPITAL
Chapter 19

Pagi ini tak seperti biasanya karena Hyun Joong tiba-tiba ingin mengunjungi adiknya di instalasi farmasi. Kabar angin yang terdengar membuatnya melakukan hal demikian. Melalui Soe Eun, Hyun Joong ingin mengkonfirmasi kabar tersebut. Dan tentu saja Soe Eun menyambutnya antusias, “Tumben, Oppa kemari?” sapa Soe Eun saat Hyun Joong menduduki sofa di ruangannya. Gadis ini segera menggelanyut manja di lengan Hyun Joong. Pertemuan mereka memang terbilang jarang. Hyun Joong lebih memilih tinggal sendirian di apartemen, sedangkan  Soe Eun bersama Yong Hwa di rumah peninggalan farmasis Jung.

“Kabar angin yang membuatku kemari, dongsaeng,” jawab Hyun Joong sambil mengucek poni Soe Eun. Tindakannya membuat monyong bibir Soe Eun. Soe Eun tidak terima masih diperlakukan seperti anak kecil dan juga memprotes alasan kakaknya itu mengunjunginya, “Jadi kalau tidak ada kabar itu, Oppa tidak mengunjungiku?”

Hyun Joong tertawa renyah melihat respon Soe Eun. “Miane, tapi memang itu alasanku datang kemari.” Soe Eun menghela nafas, eksistensinya sebagai adik Hyun Joong terkalahkan oleh kabar angin. Hyun Joong mengitarkan pandangan di ruangan Soe Eun. Saat tatapan matanya bersitohok dengan tulisan yang ada di whiteboard : “Senin Sore, dinas di stase anak.”, dahi Hyun Joong mulai berkerut. “Kau lembur hari ini?” tanyanya.

“Ne, Oppa,” jawab Soe Eun sembari mengangguk.

Senin Sore ini sejatinya adalah jadwal Hye Sun sebagai farmasi klinik di stase anak, jika Soe Eun yang bertugas, berarti dia menggantikan Hye Sun. “Di mana atasanmu?” tanya Hyun joong lagi.

“Oppa belum tahu? Pagi ini prosesi pelamaran Hye Sun di Jeju.”

Jadi semuanya benar, pikir Hyun Joong. Dia mulai menghela nafas berat, seakan memikul beban paling berat sedunia. “Andaikan saja Hye Sun tidak memasuki Keluarga Lee,” ucapnya mengambang tapi cukup terdengar oleh Soe Eun.

“Kenapa Oppa menyayangkan hal itu?” Soe Eun jadi heran dengan sikap Hyun Joong. “Oppa berkata seolah memasuki keluarga Lee adalah nasib buruk bagi Hye Sun.”

Di sini Hyun Joong mulai tergagap. Soe Eun sama sekali tidak mengetahui rahasia yang tersimpan rapi di dirinya. Rahasia yang diungkapkan ayah mereka sebelum meninggal. Karena rahasia itu, ayahnya membuatnya berjanji, untuk melindungi orang-orang yang dicintainya jika saat itu tiba. Masa gemilang Keluarga Lee mulai dipertaruhkan.

“Min Ho adalah satu-satunya pewaris Keluarga Lee saat ini, dan Sae Hyun yang masih dibawah umur berada dalam perwalian Hye Sun. Bagaimana jika Min Ho meninggal?”

“Apa maksud Oppa? Min Ho akan meninggal? Memangnya dia sakit apa?”

Hyun Joong menoleh pada Soe Eun. “Anhi, dia sehat wal afiat,” jawabnya.

Ya, Min Ho sehat. Yo Won juga sangat sehat, tapi mendadak meninggal juga. Sekali lagi Hyun Joong menghela nafas. Benarkah ramalan kuno itu akan terjadi? Rahasia yang tersimpan rapat itu, yang membuatnya bertingkah laksana musuh dalam selimut bagi Keluarga Lee. Dan akankah Hye Sun menjadi salah satu orang yang harus dia lindungi?”

“Atau ada seseorang yang akan mencelakai Min Ho?” Soe Eun menjadi curiga. Selama ini dia tahu kalau Hyun Joong termasuk dalam komplotan Tae Woong. Hal yang membuat Hyun Joong sangat geli, karena Soe Eun salah paham.

“Oppa, kesalahanku di masa lalu membuat Oppa harus mengikuti semua perintah Tae Woong, aku harap hentikan sekarang. Biar aku yang menanggung semuanya.”

Hyun Joong merasa prihatin. Kesalahpahaman Soe Eun benar-benar tak terkendali. Demi meyakinkan Soe Eun, dipegangnya pundak Soe Eun kiri dan kanan, dan menjelaskan dengan menekan setiap kata dalam kalimatnya, “Kau salah, Dongsaeng. Semua ini bukan karena kesalahan itu, dan bahkan tidak sesempit Lee International Hospital.”

“Apa maksud, Oppa?”

Hyun Joong sama sekali tak bisa berbagi rahasia itu. Dia begitu menyesali keadaan. Janji itu benar-banar mengikat. “Jika ada sesuatu yang serius terjadi, tetaplah mendukung atasanmu,” hanya itu yang bisa Hyun Joong nasihatkan, sebelum meninggalkan Soe Eun, diiringi tatapan penuh tanda tanya dari gadis itu
.


---oOo---

udara agak dingin saat Min Ho menggandeng tangan Hye Sun, berjalan meniti tangga pesawat pribadi Lee Corporation. Di dalam pesawat, telah menunggu Hwo Young, Ji In, Ah In, dokter Jo dan Sae Hyun. Pasangan itu memang agak terlambat, pandangan mata Hwo Young sudah sangat memprotes.

“Aunty!” Sae hyun memanggil Hye Sun sambil menarik lengan Hye Sun agar duduk di sampingnya. Alhasil, pasangan itu harus terpisah. Hye Sun  bersama Sae Hyun dan Min Ho duduk di sisi lain bersama Ah In.

“Pasang sabuk pengamannya, Aunty! Seperti ini, nih!” Sae Hyun yang sok tahu, memperagakan cara memasang sabuk pengaman. Hye Sun sepertinya turut saja pada perintah Sae Hyun. “Oh, Araso..,” ujar Hye Sun sambil memasang sabuk pengaman.

Sesaat pesawat mengudara mulus. Kecerewetan Sae Hyun mulai mendominasi. Anak itu mengomentari apa saja yang ada di langit, yang dilihatnya dari jendela pesawat. Hwo Young dan Ji In bahkan semakin geli saat Sae Hyun berceloteh, “Oh.., jadi bintang tidak ada kalau pagi hari? Lalu orang meninggaknya kemana, ya?”

Hye Sun dan Min Ho tidak terpengaruh dengan kebisingan itu. Memang letak duduk mereka berjauhan, tapi keduanya masih saling memandang dengan senyuman di bibir masing-masing. Seolah jarak beberapa hasta itu tak berarti. Jarak yang akan hilang beberapa waktu lagi, diperikat oleh kesucian dihadapan sumpah saling setia, sehidup semati. Angan yang begitu membuat keduanya melayang.

“Aunty! Lihat, ada burung terbang!” Merasa dicuekin, Sae Hyun memegang  pipi Hye Sun hingga Hye Sun menoleh dari Min Ho ke obyek yang ditunjuknya. “Mereka membentu huruf V, Aunty!” HYe Sun merespon teriakan itu dengan mengangguk-anggukkan kepala.

Senyum Min Ho semakin lebar melihat keakraban itu. Sedangkan Ah In menatap hampa. Iri? Ataukah sirik? Yang dia pikirkan adalah bagaimana menjadi wakil yang baik dari keluarga Lee di prosesi pelamaran Hye Sun. Hatinya bagai teriris, melamarkan gadis yang dicintainya untuk orang lain.

Dan saat Ibu tiri Hye Sun tahu hal ini, dia terkejut. Tapi tetap bungkam. Hye Sun sudah memutuskan. Ah In bahkan tidak bisa dibilang masa lalu Hye Sun karena gadis itu sama sekali lupa padanya. Semua orang sibuk di ruang tengah, rumah keluarga Goo. Keluarga Lee memberikan semua seserahan di prosesi ini kepada Keluarga Goo, sedangkan Hye Sun, seperti tradisi yang berlaku, harus memasuki kamar yang ditempatinya semasa gadis dan hanya boleh keluar setelah dipanggil.

Ah In berkata mantap sambil menyembunyikan kegetiran di hatinya,” Saya di sini sebagai wakil keluarga Lee, untuk meminta putri Anda, Goo Hye Sun..

Min Ho menunduk saat suara Ah In mendayu. Tak terasa butir-butir keringat menetes di dahinya. Dia gugup. Upacara yang kaku ini membuatnya mati kutu. Jadi inikah rasanya meminang anak gadis orang?

“ Untuk menikah dengan salah satu putra dari Keluarga kami, Lee Min Ho,” sambung Ah In. Ji In semakin nelangsa mendapati nasib putranya. Usahanya di pagi buta itu nyatanya tidak membuahkan hasil sama sekali. Perbuatan yang tak disadarinya telah memicu emosi Min Ho.

Goo Joon Yup manggut-manggut mendengar perkataan Ah In. “Kalau untuk masalah ini, Hye Sun-lah yang berhak memutuskan.” Lalu dia menoleh pada Hyun Jung, istrinya. “Yeobo, panggil Hye Sun kemari!” perintahnya.

Hyun Jung mengangguk. Perlahan dia menuju kamar putri tirinya itu, lalu mengetuk pintunya, “Hye Sun-a, keluarlah, Sayang.”

HYe Sun menghela nafas. Perlahan kegugupan kecil menyelinap di hatinya. Detak jantungnya sudah tak beraturan lagi. Dia keluar kamar dengan wajah bersemukan merah. Menggapai gandengan tanan Hyun Jung menuju ruang tengah, lalu menduduki kursi yang disediakan untuknya, di samping Joon Yup. Sedikit dia melirik Min Ho, pria itu masih menunduk, dan dari warna merah di sekitar cuping telinga Min Ho, dia tahu kalau pria itu merasakan hal yang sama dengan yang dia rasakan.

“Hye Sun sayang,” panggil Joon Yup membuat Hye Sun mendongak perlahan. “Hari ini  Lee Min Ho membawa keluarganya untuk melamarmu, semua keputusan ada di tanganmu, kerana kau lah yang akan menjalaninya. Bersediakah kau menerima lamaran ini?”

Hye Sun mengangguk pelan, lalu menunduk menutupi rasa malu yang sudah tak terselamatkan. Bahasa tubuh yang membuat semua orang menghela napas lega bercampur bahagia. “Puji Tuhan, Sayang,” ujar Joon Yup sambil menepuk-nepuk bahu Hye Sun. Lalu pandangannya beralih pada keluarga Lee. “Saya serahkan putriku ini untuk memasuki Keluarga Lee, bimbinglah dia agar menjadi menantu yang baik bagi kelurga ini. Semoga Tuhan melindungi niat suci ini.”

Joon Yup membimbing Hye Sun agar berdiri. “Sekarang duduklah di samping calon suamimu.” Perlahan, Hye Sun disandingkan pada Min Ho. Keduanya masih sama-sama menunduk, membuat yang lain tampak gelid an berbisik-bisik. Kecuali Ah In tentu saja (Bang Ah In sama gue saja, ya….)

Joong Yup menumpukan tangan Min Ho pada Hye Sun. Min Ho jadi menoleh pada Hye Sun dan Hye Sun pun menatap mata Min Ho dengan pandangan menghamba. Samar-samar Min Ho tersenyum pada gadisnya. Di sambut Hye Sun dengan lengkungan bibir semanis madu. Tak sadar, Ah In mengepalkan tangan. Bersembunyi di antara hatinya yang bergejolak. Tepuk tangan riuh membahana kemudian.


---oOo---

“Apa maksud, Appa? Ramalan?” tanya Hyun Joong.

Farmasis Kim mengatur nafasnya dengan susah payah. Keadaannya sudah sangat memprihatinkan tapi masih juga nekat berbicara, “Ne…,” sekali lagi dia menggapai udara. Desisan demi desisan mengiringi suaranya,”Ramalan… atau lebih tepatnya kutukan, Hyun… Joong… -a.”

“Appa jangan bicara lagi, keadaan Appa tidak memungkinkan,” larang Hyun Joong sambil berusaha memasang masker oksigen di mulut Farmasis Kim. Tapi pria tua ini memberontak, melepaskan kembali masker itu. “Berjanjilah…, berjanjilah akan melindungi orang-orang yang kau cintai jika hal itu tiba.”

“Appa!” Hyun Joong semakin tak habis pikir. Bagaimana mungkin ayahnya begitu perduli dengan keberlangsungan dinasti Lee.

“Jangan bicara lagi, Hyun joong-a. dengarkan Appamu ini baik-baik sebelum nafasku benar-benar habis.” Farmasis Kim menyedot udara sampai terdengar suara mendesing dari hidungnya, ‘Dan… dan… jangan katakan … hal… ini… pada siapa pun.”

“Appa… Appa…,” Hyun Joong tergugu di depan Ayahnya.  Keadaan Kim Gab So sungguh-sungguh menyedihkan.  Suasana muram di penjara membuat tubuh tua itu semakin ringkih.


“Hyun Joong-a,” panggilan Eun Ye membuyarkan lamunan Hyun Joong. Gadis manis itu sudah berdiri di hadapannya, berkacak pinggang. Hyun Joong tersenyum, penampilan Eun Hye selalu berhasil membuatnya terpesona. Untuk sementara dia melupakan kegundahan hatinya.

“Soe Eun bilang kau ke instalasi farmasi pagi ini?”tanya Eun Hye sambil menghempaskan punggung di sofa. Hyun Joong mengangguk. Eun Hye mendengus sebal, “Lalu kenapa kau tidak mampir ke kantorku?”

“Aku hanya ada perlu dengan Soe Eun, Eun Hye-a,” jawab Hyun Joong dengan senyuman.

“huh, aku memang kekasih yang tak kau anggap,” Eun HYe jadi jengkel dan membuang muka. Hyun Joong terkekeh. Didekatinya Eun Hye, lalu memegang dagunya agar wajah manis itu tepat berada di depannya, “Apa maksudmu, Manis?”

Eun Hye menghempaskan pegangan tangan itu, “Jangan sok romantic, kenapa kau menanyakan Hye Sun?”

“Soe Eun sudah cerita semua padamu, ya?”
“Ne, dongsaengmu itu kawatir padamu. Dia bahkan menyuruhku menginterogasimu. Cih, membuatku curiga saja. Kau menyukai Hye Sun?”

“Bo?’ Hyun Joong jadi gelagapan, “Apa maksudmu?”
“Aush!! Kenapa sih semua pria jatuh cinta padanya?”

“Oh, I see..,” Hyun Joong mengkedipkan sebelah matanya. Dia mulai tahu arah pembicaraan ini. “Kau cemburu?”

“Bo?” Kali ini giliran Eun Hye yang gelagapan. Hyun Joong tertawa lepas kemudian memeluk Eun Hye erat. Mulanya Eun Hye meronta, tapi lama kelamaan dia pasrah juga.

“Hanya kau yang berhasil menerobos pertahananku, Eun Hye-a,” bisik Hyun Joong di telinga Eun Hye.
“Jinja?” Eun Hye menatap Hyun Joong, meminta kepastian.
“Ne,” Hyun Joong mengangguk. Dia si pria dingin telah menyerah kalah pada pesona si gadis centil Eun Hye. Dan tak malu mengakui hal itu. Bahkan image cool di luar sana, seketika meleleh jika bersama Eun Hye. Berubah menjadi pria yang super romantic.

Dikecupnya perlahan bibir Eun Hye. Gadis itu selalu tanggap dengan apa yang terjadi selanjutnya. Dengan melingkarkan lengannya di leher Hyun Joong, ciuman mereka semakin panas. Hingga Eun Hye menginginkan lebih. Inilah beda Eun Hye dengan Hye Sun, Eun Hye lebih berani. Tangan kananya perlahan turun, melepas kancing kemeja Hyun Joong satu persatu masih diantara ciuman itu. Hingga dada polos Hyun joong membuat tangannya leluasa mengelus, memberi aba-aba bagi pria itu.

Ketika Hyun Joong yang merasa tangan Eun Hye mempermainkan kesensitifannya, menghentikan ciuman. Eun Hye berbisik menggoda, “Aku siap, Sayang. Sangat siap.” Semua semakin tak terkendali. Dan di sore hari itu, entah untuk yang keberapa kali mereka melakukan hubungan intim.

Hyun Joong terkapar kalah. Menghadapi nafsu liar Eun Hye benar-benar membuatnya kewalahan. Wanita itu terbaring dengan posisi menelungkup, lengannya terulur menggapai tubuh Hyun Joong lalu mendekap tubuh Hyun joong lagi. “Ampun, Eun Hye-a. Biarkan aku bernafas dulu,” elak Hyun Joong.

Eun Hye terkekeh di dada Hyun Joong. “Kau akan selalu kewalahan jika bersamaku.” Lalu duduk menyandar, sedangkan Hyun Joong masih menatap langit-langit, mengatur nafas.

“Aku pria yang ke berapa dalam hidupmu?” tanya Hyun Joong tiba-tiba. Terkejut, Eun Hye menoleh ke arahnya. “Kau sendiri, bagimu, aku ini wanitamu yang ke berapa?” tanya Eun Hye balik.

Hening, untuk sesaat tidak ada jawaban dari masing-masing. “Aku bukan gadis suci seperti Hye Sun,” desah Eun Hye kemudian.  Hyun joong ikut-ikutan menyandar di kepala ranjang, “Aku bukan Min Ho yang menjunjung tinggi keperawanan.”

Eun Hye terkekeh, “Mereka berdua manusia langka.” Hyun Joong menyetujui anggapan Eun Hye.

“Jadi…, kenapa kau mengkawatirkan Hye Sun?” tanya Eun Hye. Hyun Joong mendesah. Soe Eun rupanya telah menceritakan semuanya. “Aku tidak mengkawatirkannya, aku hanya memastikan apakah kabar tentang pelamaran di Jeju itu benar.”

“Tentu saja benar, bahkan pernikahan mereka dua hari lagi di villa Lee. Kau mau datang? Kita bisa ke sana bersama.”
“Aku dan Min Ho berteman sejak kecil, aku pasti datang.”

Eun Hye menyandarkan kepala di pundak Hyun Joong. Tangan mereka saling bertautan. “Kira-kira… kapan, ya… giliran kita?” Eun Hye bertanya dengan pandangan menerawang. Hyun Joong jadi menatap kekasihnya hampa. “Apa keluargamu setuju kalau kau menikah denganku, Eun Hye-a?”

“Pertanyaan macam apa itu?” Eun Hye membalas tatapan itu sengit.
“Aku yatim-piatu, Eun Hye-a.”
“Aku tidak perduli!”

Hyun Joong menghela nafas. Tak dipungkiri; dia merasa rendah diri di hadapan keluarga Eun Hye. Sewaktu Eun Hye membawanya untuk menemui pasangan Yon beberapa waktu yang lalu, dia bisa merasakan keberatan mereka menyerahkan Eun Hye padanya.

“Apa kau siap meninggalkan keglamoranmu? Tinggal di apartemen kecil ini untuk menjadi istri dokter miskin sepertiku?” Hyun joong jadi sangsi.

Eun Hye memukul dada Hyun Joong agak keras. “Bodoh!” Hyun Joong meringis. Ungkapan Hyun Joong tadi bagaikan lelucon bagi Eun Hye. “Aku tidak mungkin melepaskan dokter tampan sepertimu, Hyun Joong-ssi,” kata Eun Hye sambil memeluk Hyun Joong.

“Kau harus segera melamarku! Persetan dengan keputusan orang tuaku nantinya, kalau mereka tidak setuju, kita kawin lari saja. Araso!” omel Eun Hye tanpa ujung pangkal. Hyun Joong tertawa terpingkal-pingkal. “Arraso, my future wife,” canda Hyun Joong sambil menyentil hidung Eun Hye.



---oOo---

Langkah Ringan Hye Sun menyusuri jalur karpet merah yang terhampar dari pintu keluar Villa Lee menuju kapel dadakan yang dibangun di belakang Villa. Di sebelah kanannya, Goo Joon Yup, sang Ayah menghantarkan menuju pelaminan, dimana Min Ho telah menunggu. Sae Hyun selaku pembawa ranjang yang berisi cincin kawin mereka, berbalut gaun putih yang memberi kesan imut, berjalan paling depan dari iring-iringan itu. Para gadis pengiring pengantin mengekori ketiganya.

Para tamu, kerabat, teman, siapa pun yang diundang menatap kehadirannya. Beberapa berbisik-bisik.  Hwo Young begitu terharu, anak laki-laki satu-satunya akhirnya menikah, walau keluarga tengah berduka. Ji In bertanya dalam hati, apa yang terjadi pada surat yang diberikannya pada Hye Sun. Surat itu ternyata tak mempan merubah keadaan. Tentu saja Ji In tak tahu menahu nasib malang surat kenangan itu.

Ah In terdiam di antara semua itu, tak menyadari kesalahan fatal yang dilakukan Ibunya. Dipandanginya penampilan Hye Sun dari atas ke bawah.  Cinta dalam hati-nya tak mungkin lagi terungkap. Semua bersemanyam indah dalam goa hatinya. Sekuat tenaga menekan perasaan demi melihat kebahagiaan wanita yang dicintai. Senyum bahagia itu, kentara sejak prosesi pelamaran di Jeju. Ah In mampu melihat senyum manis itu. Bahkan Ah In mampu melihat begitu dalam Hye Sun mencintai Min Ho. Mata lebar di balik kain penutup itu tak mampu berbohong. Ada cinta di sana, dan cinta itu bukan untuknya.

Wajah bersemu bahagia yang begitu kentara di balik cadar pengantin. Hye Sun tampak cantik, dan Min Ho begitu takjub melihat penampilannya sekarang. Tak usahlah dibicarakan gaun super mahal yang dibuat dalam waktu kilat itu. Aura kebahagiaan yang terpancar lebih mempercantik wanita ini. Hingga ketika Hye Sun telah sampai di depannya, Min Ho tetap kekeh dengan keterpanaan, dan Joon Yup sang calon mertua musti menyadarkan lamunan itu dengan deheman singkat, “Ehem!” membuat para tamu sedikit tergelak dan Min Ho dengan wajah bersemu merah meraih tangan Hye Sun yang diulurkan Joon Yup  padanya. Lalu membimbing gadisnya untuk sama-sama menghadap pendeta.

“Pagi ini, kita berkumpul untuk menjadi saksi bersatunya dua anak manusia, dalam sebuah ikatan suci pernikahan yang diberkati sepenuhnya,” pendeta memulai sebuah kotbah yang panjang, tentang kesakralan dan kesucian pernikahan. Air mata Hwo Young semakin beranak sungai. Go Hyun Jung ikut merasa bahagia, apalagi melihat rasa bangga Joon Yup pada putrinya itu.

Eun Hye yang datang bersama Hyun Joong mampu memandang sahabatnya yang sedang kasmaran. Sangat aneh dan bukan Hye Sun banget, menurutnya. Masih diingatnya ketika Hye Sun menelphon, mengabarkan perihal pernikahan yang dipercepat.


“Eun Hye! Aku menikah dua hari lagi!” teriak HYe Sun di telephon. Bahkan Eu Hye harus agak menjauhkan ganggang telephon dari kuping mengingat sorakan Hye Sun.

“Ya! Kau mau bikin aku tuli, ya?”

Hye Sun bahkan tertawa renyah di telephon. Eun Hye bisa mendengar helaan nafas Hye Sun kemudian. Seakan menghempaskan beban berat di dada lewat hembusan udara dari paru-paru. “Aku sangat mencintainya, Eun Hye-a. Sangat!”

“Ya… aku bisa lihat itu dari suaramu,” respon Eun Hye. “Tunggu! Kau mengingatku?” Eun Hye merasa ada yang aneh di sini.

“Kau ini berkata apa, Eun Hye-a. Tentu saja aku mengingatmu.”
“Tapi bukankah kau melupakanku?” Kening Eun Hye berkerut saat menanyakan ini. Ada yang aneh di sini. Benar-benar aneh!

“Ya…, kau sendiri yang bilang kalau kita sahabat waktu kuliah di SNU.”

“Dan kau percaya begitu saja?” Eun Hye masih saja penasaran. Dia curiga ada sesuatu di diri Hye Sun. Dia curiga Hye Sun berbohong selama ini. Pura-pura hilang ingatan.

“Aku tidak tahu siapa yang aku percayai. Soe Eun juga bilang kalau kau temanku waktu kuliah. Yong Hwa juga begitu, bahkan beberapa asisten juga, jadi… apakah perkataan orang banyak tidak aku percayai, Eun Hye-a?”


Di Sini Eun Hye tidak mampu berkata apa-apa lagi. Beberapa orang di instalasi farmasi memang berupaya mendekatkan mereka lagi. Orang-orang itu kagum dengan kekompakan mereka merombak instalasi farmasi, dan ingin agar Hye Sun mengingat persahabatan mereka kembali. Dan tentang Ah In? Eun Hye menghela nafas menatap keadaan Ah In yang berdiri beberapa kursi darinya itu. Hanya pria bodoh yang melepaskan gadis semurni Hye Sun, dan kau adalah pria bodoh itu, Ah In-a.

“Goo Hye Sun-ssi! Bersediakah kau menerima pria yang berada di sampingmu ini, Lee Min Ho menjadi suamimu? Mencintainya dalam suka dan duka sampai ajal memisahkan?” tanya pendeta.

“Ya, saya bersedia,” jawab Hye Sun mantap.

“Lee Min Ho-ssi, Bersediakan kau menerima wanita ini, Goo Hye Sun, menjadi istrimu. Mencintainya dalam suka dan duka, sampai ajal memisahkan?” pendeta beralih pada Min Ho.

“Ya, Saya bersedia.”
“Keduanya telah terikat, dan silahkan memakaikan cincin pernikahan di mempelai anda, Min Ho-ssi.”

Min Ho mengambil sebuah cincin dari keranjang yang dibawa Sae Hyun. Ditatapnya muka Sae Hyun yang agak cengo, dan mengucek puncak kepala anak itu sambil berkata, “Gumawo.” Lalu memakaikan cincin itu dengan hati-hati di jari manis tangan kiri Hye Sun.

“Dan Goo Hye Sun-ssi, giliran anda memakaikan cincin pernikahan di tangan Lee Min Ho-ssi.”

Seperti halnya Min Ho, Hye Sun membungkuk saat mengambil cincin di keranjang milik Sae Hyun. Sesaat berjongkok di depan Sae Hyun untuk mencium pipi Sae Hyun kiri dan kanan. Air mata para hadirin semakin tak terbendung. Apalagi bagi yang tahu alasan mereka mempercepat pernikahan. “Gumawo, Sae Hyun-a,” bisik Hye Sun di telinga Sae Hyun. Dia tersenyum melihat tatap mata Sae Hyun yang menyipit. Sae Hyun tidak tahu maksud pengantin itu sama-sama berterima kasih padanya.

Akhirnya cincin itu melingkar indah di jari masing-masing. Diiringi doa-doa dari pendeta dan para hadirin.

“Kini kalian telah syah menjadi suami istri dan apa pun yang telah dipersatukan oleh Tuhan, tidak bisa dipisahkan oleh manusia. Silahkan mencium pengantin anda, Min Ho-ssi.”

Kegugupan tampak jelas pada diri Min Ho. Tangannya bergetar membuka kain tipis penutup wajah Hye Sun. Gadisnya menunduk, menutupi rona kemerahan yang tak mungkin lagi disembunyikan. Perlahan… jemari telunjuk Min Ho menyentuh dagu Hye Sun. mengangkat wajah menunduk itu agar mampu menyelami pandangan mata lebar penuh cinta itu. Hingga akhirnya wajah yang saling mendekat, menghilangkan jarak keduanya. Bahkan Hye Sun mampu merasakan hembusan hangat nafas Min Ho, yang membuat mata bulatnya reflek meredup. Menantikan saat pertama seorang pria menciumnya, dan pria itu benar-benar sangat dicintainya.

Dan ketika ciuman itu terjadi. Sebuah sentuhan kecil yang meresap jauh dalam hati keduanya yang sama-sama polos. Namun mereka bukanlah orang pandir yang tidak cepat belajar. Saat kegugupan keduanya akhirnya menghilang, ciuman semakin dalam. Menggetarkan perasaan sukma. Hye Sun mampu merasakan kakinya yang melumer bagaikan agar-agar. Sedangkan Min Ho seakan melayang, terbuai akan permainan yang dibuatnya sendiri.

Para tamu merasa geli melihat keintiman mereka berdua. Bahkan deheman pendeta sebanyak  tiga kali seperti bisikan halus bagi mereka. Mungkin karena tak tahan, pendeta akhirnya mengakhiri ciuman itu dengan menepuk pundak Min Ho. Merasa disadarkan dari mimpi, keduanya mati kutu. Apalagi mendengar tawa yang menggelegar akhirnya di pagi yang cerah itu.

Hyun Joong menatap kebahagian dengan mata hatinya. Semuanya jelaslah sudah. Hye Sun-lah orang yang harus dia lindungi. Bahkan dia memuji Min Ho. Kau memang hebat, Min Ho-ssi. Aku yakin kau memilih Hye Sun bukan tanpa alasan.

Hyun Joong beralih menatap Hye Sun. wanita itu tampak bahagia menikmati kasih sayang Min Ho yang merangkulnya, menyambut jabat tangan tetamu yang memberikan ucapan selamat. Hye Sun-a, mulai sekarang, segalanya pasti penuh gejolak bagimu. Ada kalanya kau sendirian, namun kau tetap bertahan demi satu-satunya penghiburan bagimu. Dan selama hal itu terjadi….


 Aku akan mengawasimu…

dari jauh…




BERSAMBUNG


errrr... gue mikir apa, sih... ni....??? kok gue nikahin juga, ya... mereka? bukankah gue antis???  [sweat] [sweat]
« Last Edit: August 11, 2011, 11:32:20 am by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- Chapter 19 (11 Agustus 2011)
« Reply #671 on: August 11, 2011, 10:47:15 pm »
ckckck, cm kena hack.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- Chapter 19 (11 Agustus 2011)
« Reply #672 on: August 11, 2011, 11:15:23 pm »
lo! coment voldy tadi mana?


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- Chapter 19 (11 Agustus 2011)
« Reply #673 on: August 11, 2011, 11:20:46 pm »
sisi, thank you thank you [huglove] [huglove] udaih up date the Hospital and komen gw I really really love this chapter

minsun akhirnya nikah dan akhirnya mereka melakukan ciuman pertama mereka *ciuman bibir* ampe pendeta kudu nepok pundak minho baru berenti [hmpfh]

memangnya kutukan apa yang menghinggapi keluarga Lee?????? kenapa harus melindungi hye sun???? dan juga kenapa dengan min Ho juga, apa ada yng coba membunuhnya dan menghancurkan kel.Lee???

perasaan jadi ga enak nih buat nexy chapter [heh] dan akhirnya Sae Hyun berada dalam pengawasan min ho dan hye sun.

buat ah in terima aja nasibmu karena sudah melepaskan wanita paling berharga [head break] [head break]

next chapter kyknya nikahan eun hye dan hyun joong [hmpfh]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline miss_princess

  • Junior
  • **
  • Posts: 141
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- Chapter 19 (11 Agustus 2011)
« Reply #674 on: August 12, 2011, 12:49:09 am »
Sisicaaa..
Kok jadi antis minsun..
Emangnya ada apa!!

Maaf kagak tau..

Waahh udah kawin..
#tampangmesum..