Wanita cantik itu duduk terpaku menatap dirinya di cermin . Ia menari nafas sejenak , teringat lagi kejadian sebulan yang lalu saat ia ditemukan dengan calon suaminya dari hasil perjodohan kedua keluarga
Hye sun POV
Tak terasa waktu itu akhirnya datang , dimana esok kehidupanku akan berubah . Menjadi nona lee , mempunyai keluarga sendiri . Tapi apa artinya jika pernikahan itu didasari dari kepentingan kedua keluarga . Bukan dari dua orang yang saling mencintai
Huuhhh sulit sekali menjadi aku
End Pov
hyesun masih terdiam melamun , matanya menerawang kearah cermin dihadapannya , mukanya terlihat lesu dan lemas . Tak ada rona kebahagiaan di wajahnya . Padahal esok adalah hari pernikahannya .
Lamunannya buyar ketika , suara pintu dibuka oleh seseorang . Hyesun berbalik memandang pintu itu , ternyata mrs.goo yang datang . Perlahan mrs.goo melangkah mendekati hyesun yang masih duduk , lalu mengelus rambut panjang sang anak dengan sayang . Hyesun masih terdiam , kemudian ditatapnya sang ibu yang sedang tersenyum manis . Tak tahan , hyesun pun memeluk sang ibu secara tiba-tiba , air mata mengalir dipipi gadis itu . Mrs.goo terkekeh melihat sikap sang putrinya itu , ia pun membalas pelukan itu . Mrs.goo kaget merasakan tubuh hye sun mulai terisak oleh tangisan . Dengan cepat ia melepaskan pelukannya dan berpaling mentap wajah hye sun
"Hei kau mengangis ? Kenapa sayang ?" tanyanya penasaran , mrs.goo menggenggam bahu hyesun
Hye sun hanya bisa menundukkan kepala , kemudian mencoba berbicara
"a .. Aku hanya takut omma , entahlah aku takut pernikahan ini salah" ucapnya lirih dengan pandangan mata yang senduh
Mrs.goo menarik nafas , ia pikir hyesun sudah bisa menerima perjodohan ini . Tapi dugaannya salah , ternyata sang anak masih meragukan rencananyd
"Sun-aa dengar omma sayang , tak ada yang salah . Omma percaya kau dan minho bisa menciptakan keluarga yang bahagia" Tukasnya menatap meyakinkan
Hye sun hanya bisa terdiam mendengar perkataan sang ibu . Keluarga bahagia ? Dengan minho ? Apakah bisa ? Pikirnya .
***
Bar
il-woo dan bum meneguk minumnya secara bersamaan . Mereka sedang asyiknya memandangi keramaian didalam bar sambil duduk disofa sudut ruangan . Pandangan mereka jatuh pada minho yang perlahan berjalan menghampiri mereka dengan rona wajah bahagia . Mereka berdua keheranan , apalagi il-woo pasalnya ia tak pernah melihat Minho memamerkam senyunya didepan umum
"Whats wrong ?" tanya minho yang kini berdiri dihadapan il-woo dan bum
"Anhiyo , kemana saja kau sebulan terakhir ini hah ?! Sudah sibuk bekerja ya , sampai lupa dengan kawan sendiri ?!" Il-woo berucap kesal pada Minho yang kini duduk disebelahnya
"Ya , kemana saja kau minho-ssi ? Kau melupakan kami" tambah Kim bum dengan ocehannya
Minho hanya tersenyum dan mulai menghisap rokoknya . Sesekali diselingi dengan tegukan alkohol . Il-woo merasa kesal , karna pertanyaanya tak dijawab .
"Hei , apa kau bisu ?! Jawab pertanyaanku" Tukas il-woo
Minho kemudian membuang rokoknya kebawah , dan menginjaknya hingga asap rokok itu tak berhembus lagi . Lalu , ia mengambil sesuatu didalam saku jasnya dan melemparnya kearah il-woo dan bum .
"Datanglah ! Kalau tidak kuhabisi kalian" gumam minho dengan nada mengancam
Il-woo dan bum tak percaya , sebuah undangan pernikahan tergenggam ditangan mereka . Il-woo tersenyum menunjuk-nunjuk kearah minho
"Aha ! Rupanya ini pekerjaanmu selama sebulan terakhir . Bravo ... Jahat sekali kau tak mengenalkannya pada kami"
"ah sudahlah besok kau juga akan melihatnya , makanya datang !" ucap minho sambil tersenyum
Ketiga pemuda itu kemudian tertawa bersama-sama , di tengah keramaian bar