Author Topic: one shoot : Forever...  (Read 2325 times)

Offline Heethi

  • Newbie
  • *
  • Posts: 75
  • annyong...
    • View Profile
one shoot : Forever...
« on: January 29, 2011, 11:14:20 pm »
annyong...
ini adalah one shoot pertamaku, semoga kalian suka, ya!
maaf kalau jelek atau kurang jelas, berhubung aku masih belajar, jadi mungkin belum bagus...

ff ini terinspirasi dari berita tentang mantan pacarnya eonni yang gambarnya ada di novel eonni "Tango" (aku lupa siapa namanya) sekaligus hari-hariku setelah melewati ulangan Biologi...  [heh] [heh] [heh]

selamat menikmati...  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]


Title : Forever...
Cast :
Lee Min-ho as Jung Yong-jae
Goo Hye-sun as Song Ji-eun
Yoon Ki-hoon
Choi Eun-young (sahabat Yong-jae dan Ji-eun)
Manajer Yong-jae
Song Ji-ah (adik Ji-eun)



Aku melihatnya…
Seperti bunga cantik yang tumbuh di antara rumput dan benalu
Begitulah artinya ia bagiku
Mungkin berlebihan, tetapi aku benar-benar merasakannya…



“Jung Yong-jae… Jung Yong-jae…"

   “Maaf ya, tetapi Yong-jae nya sedang sibuk. Nanti setelah pekerjaannya selesai, kami akan membuka wawancara bagi kalian…”

   “Yong-jae ssi… bisakah anda memberitahu kami sedikit tentang hubungan anda dengan Song Ji-eun ssi?”

   Aku semakin mempercepat langkahku. Dengan sigap, aku menghindari setiap mic ataupun kamera yang datang menghampiriku. Memang, inilah susahnya menjadi seorang aktor. Dikejar-kejar oleh wartawan yang memiliki keingin tahuan yang tinggi tanpa mempedulikan orang lain yang ingin memiliki privasi yang hanya diketahuinya seorang diri. Dan mungkin oleh orang-orang terdekat. Namun, ia harus mengerti dengan keadaan itu. Masing-masing orang memiliki kewajibannya masing-masing, dan kelihatannya wartawan itu harus melakukan hal itu, baik mereka mau ataupun tidak. Sama seperti diriku sekarang. Ingin atau pun tidak, aku harus rela menjadi orang yang selalu diikuti dan dicari meskipun kadang aku ingin bebas tanpa kekhawatiran setiap waktu.

   Akhirnya, aku dan manajerku berhasil kabur dari jepretan kamera dan rekaman handycam yang selalu dibawa oleh pencari berita itu. Setibanya di kamar ganti, seorang penata rias memberiku sebuah sapu tangan untuk menghapus keringat yang cukup membasahi dahi dan wajahku. Aku lalu berpikir untuk mandi lagi. Tetapi kelihatannya tidak bisa, karena waktu untuk pemotretan iklan baju casual untuk musim dingin ini hampir dimulai. Dan aku harus segera bersiap-siap untuk itu.

   “Yong-jae ssi… ayo, duduk disini! Sebentar lagi giliranmu untuk mengambil gambar.”

   Aku mengangguk pada Eun-young ssi, penata rias pribadiku di pemotretan kali ini. Setelah duduk di kursi yang dimaksud oleh Eun-young, aku lalu menengadahkan kepalaku sebentar. Badanku agak lelah. Aku memang tipe orang yang suka tidur pada waktu yang cukup, yaitu sekitar 6 jam sehari. Tetapi karena jadwal yang padat, aku kelihatannya harus menelan ludah ketika mengingat kebiasaanku itu, karena kini mungkin hanya 3 jam saja waktu yang bisa kugunakan untuk melakukannya. Itupun kadang aku harus mencuri waktu.

   “Tenanglah, jika kau bisa melakukannya nanti dengan sekali ‘OK’, maka kau punya satu jam yang tersisa untuk tidur,” kata Eun-young padaku, yang secara tersirat memberikan dukungan untukku.

   Aku mengangguk. Eun-young memang sangat tahu seperti apa aku. Ia mirip seperti manajerku. Dan aku senang karena bisa berteman dengan orang yang santai dan supel seperti dia.

   “Jadi, wartawan itu bertanya padamu tentang Ji-eun lagi?” tanya Eun-young, ingin tahu.

   Aku lagi-lagi mengangguk, sambil memejamkan mata. Aku tahu sekarang Eun-young pasti sedikit takut jika aku tertidur. Tetapi, mungkin aku belum bisa tertidur jika ia bertanya tentang Ji-eun, gadis cantik dan sangat menawan itu.

   “Lalu kau jawab apa?” tanya Eun-young lagi. Aku hanya diam. Dan Eun-young langsung mengerti apa arti dari sikapku yang diam itu.

   “Mungkin lebih baik begini. Kau diam dan Ji-eun juga diam. Aku mau tahu, sampai kapan ya kalian bisa bertahan?” ujar Eun-young, menyindirku.

   Aku langsung membuka mataku. Eun-young benar. Meskipun menyakitkan, tetapi kata-katanya mampu membuatku langsung merasa tertusuk. Dan aku benci ketika setiap ucapannya itu benar.

   “Apakah kau tidak berniat untuk mengucapkannya pada Ji-eun? Apakah kau tidak memiliki kepercayaan diri sama sekali untuk mengatakannya?”

   Aku mendesah dengan berat. Mungkin benar, aku memang seorang penakut yang sama sekali tidak bisa diandalkan. Tetapi mungkin juga tidak benar. Kenapa? Karena aku pikir, wajar jika aku diam saja ketika melihat Ji-eun yang hanya menganggapku sebagai adiknya. Ya, adiknya, karena ia lebih tua dariku 3 tahun. Dan kelihatannya itu sangat menjadi masalah bagiku saat ini. Membuat hatiku menjadi tidak tenang.

   Untung saja ada Eun-young, sahabat lama Ji-eun, yang memberiku semangat untuk melewatinya meskipun terkadang juga memaksaku untuk berani bertindak dan mempertahankan perasaan itu. Perasaan yang pasti kalian tahu. Perasaan yang indah pada awalnya, dan aku ingin perasaan itu tetap indah. Meskipun aku tahu jika perasaan itu bahkan tidak menjadi indah sekarang.

   Eun-young hanya menggeleng saat melihatku yang lagi-lagi diam. “Ya sudahlah. Toh inikan urusan kalian berdua. Mungkin seharusnya aku menjadi bagian dari hati kalian dulu baru bisa mengerti kebodohan kalian kenapa hanya diam seperti ini. Dan kalian mestinya juga tahu jika kalian telah berhasil membuat sebagian besar orang, termasuk aku, menjadi gemas!” seru Eun-young, sambil membuat rambutku agar sedikit berantakan. Ia ingin menambah kesan anak muda untukku.

   Jika Eun-young tahu, aku sebenarnya juga tidak menginginkannya. Ingin rasanya segera mengatakan segala isi di hati ini pada gadis yang kini menjadi belahan jiwa untukku (baru untukku ya, belum untuknya. Tetapi aku masih berharap jika ia juga menganggapku sebagai soulmate-nya). Tetapi… ini terlihat sangat rumit!

   “Sudah selesai. Cepat berganti baju dan bersiap di depan kamera! Aku tahu, ini akan menjadi mudah untukmu,” pesan Eun-young, lalu meninggalkanku pergi untuk memastikan model lain dalam penanganan yang baik.

   Aku segera berdiri. Ketika akan berjalan ke ruang ganti, tiba-tiba saja handphone-ku berbunyi. SMS. Sebenarnya aku ingin membuka pesan itu nanti, namun entah mengapa, hatiku tiba-tiba tergerak begitu saja untuk membacanya. Dan finally, aku tidak menyesal sedikitpun karena telah membacanya sekarang.
   
Aku ada sesuatu untukmu. Segera pergi ke café ku setelah menyelesaikan tugasmu, ya! Aku tahu, kau pasti akan tersenyum setelah melihatnya…


Ji-eun



Aku menghentikan mobilku di depan sebuah café yang bergaya modern itu dengan tersenyum. Seharian ini, aku belum bertemu dengan Ji-eun sama sekali. Bahkan mendengar suaranya saja belum. Tetapi, aku sudah bisa membayangkan dirinya yang tersenyum sangat manis dan mendengar suara imutnya itu sekarang.

   “Jung Yong-jae…”

   Aku melihat ke balkon di lantai dua yang berada di atasku. Ji-eun sedang melambaikan tangannya sambil tertawa. Dan tepat seperti dugaanku, seperti itulah wajah dan suaranya sekarang.

   Aku segera naik ke lantai dua untuk menemuinya. Dan setibanya disana, aku langsung terkejut. Sebuah lukisan bunga mawar dan kumbang telah menyambutku. Sementara itu, Ji-eun berdiri di samping lukisan yang menurutku sangat spektakuler itu dengan tersenyum, masih dengan senyumnya yang manis.

   “Ini…” gumamku.

   “Aku menirunya dari bola kaca berisi bunga dan kumbang yang kau berikan padaku ketika aku berulang tahun kemarin. Keren, kan? Aku bahkan tidak mengira jika aku bisa membuat lukisan yang tidak abstrak seperti ini,” cerita Ji-eun, sambil melihat lukisannya dengan berbinar-binar.

   Aku lalu menatap Ji-eun dengan tersenyum. “Berarti, aku sudah membantumu dong? Bagaimana kalau balasannya adalah…”

   “Aku tidak akan mentraktirmu. Itu sudah terlalu biasa. Sudah sangat membosankan. Bagaimana jika pergi piknik bersama keluargaku besok hari Minggu? Tetapi di tempat yang agak jauh dan terpencil ya, soalnya kau tidak mau kan jika kita sampai dilihat oleh wartawan?” kata Ji-eun dengan santai, tetapi mampu membuat jantungku langsung berhenti berdetak.

   Aku tidak percaya jika ia mengajakku pergi bersama keluarganya. Ini seperti… ya, kau tentu dapat menebak pikiranku kan? Meskipun aku sudah dikenal sebagai sahabat baik Ji-eun oleh keluarganya, tetapi tetap saja, aku boleh berharap lebih kan dengan ajakannya padaku tadi?

   “Baiklah. Jadi, kita ketemuan dimana?” tanyaku, berusaha bersikap biasa saja meskipun hatiku sebenarnya sudah tidak sabar untuk menunggu hari esok.

    “Di rumahku saja, nanti kita berangkat sama-sama. Kau setuju, kan?”

   Aku mengangguk. Ya, di situasi seperti ini, bagaimana aku bisa bilang tidak sih?

   Ji-eun menyuruhku untuk duduk di salah satu kursi yang ada di café miliknya itu. Aku sebenarnya takut salah paham, tetapi saat ia bertanya, “apakah kau sudah makan?” seperti tadi, aku benar-benar berharap lebih padanya.

   “Hm…”

   “Belum. Sudahlah, aku hangatkan nasi untukmu dulu ya. Setelah itu, aku akan masakkan tumis daging sapi kesukaanmu.”

   Ketika Ji-eun akan masuk ke dalam, aku segera meraih tangannya untuk mencegahnya pergi. “Tidak perlu repot-repot seperti ini. Cukup buatkan aku bubur ayam andalanmu saja! Itu sudah sangat membantu, Song Ji-eun,” kataku, tidak ingin membuatnya lelah di tengah-tengah jadwalnya yang mungkin sudah sangat melelahkannya.

   Ji-eun tersenyum. Ia kemudian melepaskan tanganku dari tangannya. “Tidak! Aku akan membuatkanmu masakan special malam ini. Kau sudah bekerja keras. Dan orang yang selalu bersemangat untuk bekerja, harus mendapat hadiah!” seru Ji-eun, tidak mau kalah dariku dan tetap teguh pada pendiriannya.

   Aku hanya bisa menghembuskan napasku dengan panjang. Mungkin itu keistimewaan yang dimiliki oleh Ji-eun. Meskipun sedikit membuatku kesal karena aku adalah orang yang tidak suka dengan kekalahan (tetapi tetap menjunjung sportivitas), tetapi hal itu secara tidak langsung juga telah membuatku tertarik. Dan akhirnya, aku jatuh pada satu kesimpulan. Aku telah menyukainya.

 

“Jadi, kau akan pergi piknik bersama Ji-eun?” tanya manajerku, saat aku selesai meletakkan tasku di mobil.

   Aku mengangguk. “Ne. Do’akan aku, ya!”

   Manajerku langsung nyengir. “Aku selalu mendo’akanmu, Jung Yong-jae! Tetapi, tetap saja tidak ada perubahan yang berarti di antara kau dan Ji-eun. Jadi, sebenarnya yang salah siapa, tentu kau kan?” seru manajerku, marah-marah karena kesal.

   Aku meringis. “Sudahlah. Mungkin nanti saatnya untuk berterus terang juga akan tiba. Kau tenang saja ya, Hyung,” jawabku, menghindar dari segala sindiran yang sudah terlalu sering kudengar darinya.
   “Aku pergi dulu, ya!” pamitku, lalu masuk ke dalam mobil kesayanganku.

   Manajerku mengangguk. Ia kemudian melambaikan tangannya kepadaku yang segera menjauh dari rumah dimana kami berdua tinggal.

   Sambil bernyanyi-nyanyi tidak jelas, aku terus mengemudi dengan riang. Senang rasanya karena akan menghabiskan satu hari lagi bersama orang yang kita sukai. Dan kini aku beruntung untuk merasakannya lagi. Meskipun tidak mengubah apapun, tetapi aku tetap bisa tersenyum dengan puas.

   Aku segera turun dari mobil setelah sadar bahwa aku hampir terlambat. Namun langkahku langsung terhenti. Ia… dan dia…

   Senyum di bibirku langsung memudar. Aku melihatnya. Song Ji-eun bersama dengan Yoon Ki-hoon, mantan pacarnya. Ya, Yoon Ki-hoon. Pemuda itulah yang selama ini ditunggu oleh Ji-eun. Bahkan, ketika pertama kali syuting denganku, aku masih mendengar desas-desus bahwa Ji-eun masih menyukai Ki-hoon. Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak mengenalnya. Aku hanya mengetahui Yoon Ki-hoon itu dari majalah yang membahas tentang Ji-eun. Dan pemuda itu ikut dibahas disana. Agak menyedihkan. Namun aku berusaha untuk mengindahkannya. Tetapi… mungkin kini aku tidak bisa mengindahkannya lagi.

   Yoon Ki-hoon, pemuda tampan yang kini menjadi seorang dokter spesialis itu berumur setahun lebih tua dari Ji-eun. Ia juga kelihatannya dewasa dan punya wibawa. Aku baru bisa melihatnya sekarang, ketika dengan nyata ia benar-benar berada di hadapanku. Dan menurut rekan-rekannya yang diwawancarai oleh majalah itu, Ki-hoon adalah tipe orang yang bertanggung jawab dan ramah pada setiap orang.

   Memang, jika boleh jujur, aku merasa bahwa semua yang dimiliki oleh Ki-hoon adalah apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh Ji-eun. Dan wajar saja jika Ji-eun tidak bisa melupakannya. Yang jelas, Ki-hoon beda jauh dariku yang hanya dianggapnya sebagai adik tampannya yang menambah daftar nomor handphone temannya di ponselnya itu.

   Dan kini, seberani apapun aku, sebagaimanapun Ji-eun memberi harapan padaku, semuanya sia-sia saja. Aku pun tidak heran jika Ji-eun memilih pemuda itu. Toh kalau aku yang jadi Ji-eun, aku juga memilihnya. Tidak hanya punya tampang, tetapi sebagai pemuda ia cukup sempurna. Dan aku sebagai orang ketiga, hanya bisa berpangku tangan saja ketika melihatnya.

   Aku lalu kembali ke mobilku untuk pulang. Hatiku sudah terlanjur sakit. Dan Ji-eun… dia pasti tidak akan masalah jika aku tidak datang hari ini. Entah karena maklum atau percaya dengan segala alasanku, atau karena ia sudah terlalu senang sebab menemukan sosok yang ia cari?



Ji-eun membuka ponselnya. Ia sudah mendengar dari manajernya Yong-jae jika Yong-jae sedang sakit hari ini. Memang mendadak. Dan itu wajar saja terjadi mengingat jadwal sebagai aktornya itu telah berhasil menguras tenaga pemuda tampan itu tanpa ampun.

   Hari sudah malam. Meskipun piknik berjalan tanpa Yong-jae, tetapi sudah ada yang menggantikannya. Tidak, bukan! Ji-eun tidak pernah berpikir untuk menggantikan Yong-jae dengan Ki-hoon pada piknik tadi. Tetapi, mungkin kehadiran Ki-hoon di piknik tadi siang memang bisa membuat suasana yang hampa tanpa Yong-jae menjadi lebih baik.

   Ji-eun menutup ponselnya. Entah kenapa, hatinya tiba-tiba menjadi tidak enak. Ia ingin sekali menghapus prasangka itu. Tetapi ia tidak bisa memungkirinya. Ia sekarang sedang khawatir pada Yong-jae yang tengah sakit. Tidak peduli apa penyakitnya, tetapi Ji-eun benar-benar ingin tahu jika Yong-jae tidak kenapa-napa. Dan rasanya, menelepon saja tidak cukup untuk memastikan kebenaran itu.

   Ji-eun segera mengambil jaket dan tas tangannya yang tergeletak begitu saja di atas kursi. Dan dengan cepat, Ji-eun melesat pergi ke rumah orang yang tengah dikhawatirkannya itu.

   Belum sempat Ji-eun masuk ke mobilnya, tiba-tiba saja Ki-hoon sudah muncul di depannya sambil tersenyum. Ji-eun melihat Ki-hoon sebentar. Ia lalu menutup pintu mobilnya dan berjalan menghampiri Ki-hoon untuk mengucapkan sesuatu.

   Di taman depan rumah Ji-eun…

   “Aku ingin berbicara sesuatu denganmu.” Ji-eun memulai pembicaraan mereka terlebih dahulu.

   “Aku juga ingin berbicara denganmu.” Ki-hoon membalas perkataan Ji-eun dengan santai.

   “Baiklah…”

   “Kejarlah dia!” Ki-hoon menatap Ji-eun. “Jangan bohongi perasaanmu lagi! Jangan karena perasaan konyolmu tentang umur itu maka kau jadi menyesal. Kau tahu, kau adalah seorang gadis yang kuat. Tetapi kau juga pasti tahu jika ada saat ketika kau tidak bisa kuat. Dan kau tahu, jika sampai kau kehilangan bocah itu, maka kau akan menangis berhari-hari dengan rapuh. Dan sekarang aku tahu, kau tentu terlalu bodoh untuk membiarkan hal itu terjadi, bukan?”

   Ji-eun balas menatap Ki-hoon dengan tidak percaya. Bagaimana bisa pemuda itu tahu?

   “Dan sekarang aku mengerti apa maksudmu tentang pohon dan air kemarin. Pohon memang membutuhkan air untuk hidup. Ia tidak akan bisa tumbuh tanpa air di sampingnya. Tetapi lain halnya dengan air. Air tidak membutuhkan pohon. Air hanya butuh sesamanya untuk hidup dan bertahan. Dan untuk itu, maka tidak terjadi kasih sayang di antara mereka meskipun mereka sama-sama membuat dunia ini menjadi hidup…”

   “Dan aku tidak ingin menjadi pohon itu…” Ji-eun menarik napasnya panjang. “Pokoknya, apapun yang terjadi, aku akan tetap menganggapmu sebagai sahabatku yang telah membantuku untuk hidup dan tumbuh. Dan tanpamu, tentunya aku tidak bisa berdiri tegak seperti sekarang ini.”

   Ki-hoon menatap Ji-eun dalam. Ji-eun pun melihat Ki-hoon dengan tersenyum. Ia lalu meninggalkan Ki-hoon sendirian setelah mengucapkan selamat malam pada pemuda itu. Sementara itu, Ki-hoon melihat kepergian gadis itu dengan sedikit perih, namun tetap berusaha tersenyum.

   “Dan sekarang, aku malah merasa bahwa akulah pohon itu, Song Ji-eun…” ucap Ki-hoon, pelan.
   


Yong-jae menarik selimutnya agar menutupi seluruh badannya yang mulai menggigil karena kedinginan. Yong-jae pun tak mengerti mengapa ia merasa seperti ini. Memang sih, sekarang sudah musim gugur. Tetapi, bukankah ia sudah menghidupkan pemanas ruangan? Mengapa masih dingin juga? Gerutuk Yong-jae dalam hati.

   Tok… tok… tok….

   Yong-jae mendengarnya. Suara ketukan pintu itu. Tetapi, ia malas untuk turun dari ranjangnya sekarang dan membuka pintu malam-malam begini. Mungkin, ia harus berharap jika manajernya masih bangun sekarang atau terbangun dan segera membuka pintu untuk tamu yang mungkin tetangga di sekitar rumahnya untuk meminta tolong.

   Suara pintu diketuk tidak lagi terdengar. Yong-jae akhirnya larut dalam mimpinya sendiri. Ia merasa senang karena bisa tidur dengan tenang, mengingat lelahnya tubuhnya hari ini dan sedikitnya waktu untuk bisa beristirahat full seperti sekarang. Dan mungkin dengan tidur, Yong-jae juga bisa melupakan kesedihan hatinya pada Ji-eun.

   Pintu kamar Yong-jae terbuka. Yong-jae agak menggeliat sedikit. Setelah meminta izin dan manajer Yong-jae keluar dari kamar serba putih itu, Ji-eun pun mulai melangkah masuk dengan hati-hati.

   Ia melihat Yong-jae yang tidur dengan tersenyum. Ia tidak sadar jika dirinya tersenyum. Mungkin karena terlalu rindu pada Yong-jae, makanya ia langsung tersenyum ketika melihat pemuda itu. Ia pun tidak tahu.

   Ji-eun memperhatikan wajah pemuda itu dengan seksama. Sungguh manis dan… tampan. Ia bahkan seharusnya sadar bahwa ia telah terpikat padanya sejak pertama kali mereka bertemu. Tetapi, dulu ia masih menghindarinya. Dan rasanya, ini sungguh tidak adil untuk Yong-jae yang jelas-jelas ia tahu bahwa pemuda itu telah menyukainya dengan sangat indah.

   Ji-eun mengelus pipi kemudian bibir Yong-jae dengan lembut. Ia kembali tersenyum. Setiap perkataan dan ucapan Yong-jae mungkin tidak terlalu puitis. Tetapi, semua yang keluar dari bibir itu telah membuatnya tersenyum selama ini.

   Ji-eun kemudian teringat dengan segala tawa dan senyuman yang nampak di wajah itu. Sungguh indah. Ji-eun sangat bahagia saat tawa dan senyuman itu terlihat dengan tulusnya.

   Ji-eun akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar Yong-jae dan membiarkannya tidur. Yang jelas, sekarang Ji-eun sudah tahu jika pemuda itu baik-baik saja. Dan itu sungguh melegakan untuk seorang Ji-eun.

   Karena kurang hati-hati, tanpa sengaja Ji-eun menubruk meja di pinggir pintu dan membuat vas bunga di atas meja itu jatuh ke lantai.

   PRANGGG….

   Yong-jae langsung terbangun. Ia benci seperti ini. Tidur lalu diganggu. Ia benar-benar benci!

   “HYUNG!!!” Yong-jae berteriak dengan sangat keras. “Jangan berisik kenapa, sih? Ambillah headset atau MP4 atau apapun yang kau mau asalkan jangan ganggu aku! Kau tahu, aku benar-benar lelah sekarang! Tidak bisakah kau membantuku dengan keluar dari kamarku sekarang juga?” berang Yong-jae, yang tentu saja membuat Ji-eun langsung kaget sekaligus ketakutan.

   Manajer Yong-jae segera masuk ke kamar Yong-jae untuk menenangkannya. “Hei, bukan aku yang melakukannya, tetapi Ji-eun ssi…”

   Yong-jae yang tadi berteriak dengan mata tertutup, langsung melek saat mendengar kata “Ji-eun”.
 
   “Ji-eun… ssi?” gumam Yong-jae, kurang yakin.

   Yong-jae lalu membalikkan badannya untuk melihat ke arah pintu. Dan benar. Song Ji-eun telah berada di depannya dengan muka yang menyiratkan perasaan penuh bersalah sekaligus tidak enak itu.

   “Hai… Yong-jae ya…” sapa Ji-eun, malu.

   Yong-jae masih memperhatikan gadis yang berdiri di depannya dengan seksama. Dan dengan  cepat, Yong-jae turun dari ranjangnya dan menghampiri Ji-eun yang masih tertunduk malu.
   


”Untuk apa datang menemuiku? Apakah ada masalah?” tanya Yong-jae, dengan sedikit khawatir.

   Ji-eun menggeleng cepat. Masih dengan sungkan, Ji-eun melihat Yong-jae sebentar.

   “Lalu?”

   Ji-eun menarik napasnya dengan panjang. “Aku… aku hanya ingin memastikan jika kau baik-baik saja. Aku takut penyakitmu tidak ringan,” jawab Ji-eun.

   Yong-jae mengangguk mengerti. Ia lalu memandang ke atas. Bulan dan bintang sedang bersinar dengan terangnya. Ia tidak tahu pertanda apa itu, tetapi ia merasa damai saat melihatnya.

   “Jadi, kau tidak apa-apa kan?” tanya Ji-eun, memastikan.

   Yong-jae kembali mengangguk. “Aku tidak apa-apa, kok. Kau tidak perlu khawatir.” Yong-jae melihat Ji-eun. “Oh iya, piknikmu bagaimana? Baik-baik saja, kan? Aku minta maaf ya karena tidak bisa menepati janjiku untuk datang.”

   Ji-eun mengangguk. Dan Yong-jae dapat menebak jawaban dari gadis itu sejak tadi.

   “Tetapi… sungguh tidak seru jika tidak ada kau, Yong-jae...” ucap Ji-eun tiba-tiba, yang jelas telah berhasil membuat Yong-jae memandangnya.

   “Apa maksudmu?”

   “Tidak ada yang bisa membuatku tertawa atau tersenyum selepas ketika aku bersamamu,” jawab Ji-eun, jujur. “Dan aku senang karena bisa melakukannya sekarang.”

   Yong-jae tidak senang sama sekali. Ia malah merasa bahwa Ji-eun sangat munafik. “Tetapi, bukankah Yoon Ki-hoon ssi tadi datang? Bukankah dia telah membuat suasana piknik menjadi lebih menarik atau lebih… ceria?”

   “Memang, memang karena ada dia maka piknik menjadi tidak membosankan.” Ji-eun menghentikan perkataannya sebentar. “Tetapi bukankah orang yang diundang adalah Jung Yong-jae? Bukankah jika ada dia maka itu yang terpenting?”

   Ji-eun menarik napas panjang. “Aku jadi ingat dengan perkataan Ji-ah padaku ketika aku memperlihatkan hadiah darimu padanya. Aku tidak mengira bahwa ia akan berpikir sebijak itu. Tetapi aku pikir, mungkin dia memang hebat dalam mengartikan semuanya.

   Bunga dan kumbang, dua benda dari banyaknya benda yang menempati jagat raya yang luas ini. Bunga dan kumbang sering dijadikan contoh untuk hubungan simbiosis mutualisme. Mereka berdua saling menguntungkan satu sama lain. Dan karena itu, mereka terlihat seperti melakukan barter dan melakukan semuanya untuk pemenuhan kebutuhan semata.

   Namun ternyata hubungan mereka tidak bisa dipandang dengan hanya seperti itu saja. Sebenarnya, jika diperhatikan, bunga dan kumbang saling membutuhkan satu sama lain, selain menguntungkan satu sama lain. Mereka saling membutuhkan bukan hanya untuk saling menguntungkan saja, tetapi juga karena satu hal sederhana yang paling mendasar di antara hubungan mereka. Bahwa sebenarnya, mereka berdua tidak bisa hidup tanpa satu sama lain.

   Bahwa sebenarnya bunga membutuhkan kumbang yang penolong untuk membantunya melakukan penyerbukan. Bahwa sebenarnya kumbang membutuhkan bunga untuk dapat bertahan hidup melalui sari yang diambilnya. Mungkin awalnya mereka mengira ini hanya sebuah keuntungan saja, tetapi sebenarnya ini adalah tanda bahwa mereka tidak akan bisa hidup jika mereka tidak bertemu, atau jika mereka tidak berinteraksi, atau jika mereka tidak saling memberikan perhatian. Dan itu sungguh indah untuk menjadi sebuah perumpamaan bahwa aku menganggapmu seperti kumbang yang selalu ada di dalam hatiku…”

   Yong-jae terpaku dengan segala kata-kata Ji-eun padanya. Ia tidak menyangka jika Ji-eun dapat mengerti dan mengetahui tanda itu. Padahal, ia memberikan hadiah itu hanya untuk menghibur Ji-eun saja jika gadis itu sedang sedih. Tidak disangkanya, ternyata gadis itu bisa membaca hadiah itu lebih dalam.

   Ji-eun menunggu Yong-jae untuk bicara sesuatu. Namun Yong-jae tetap diam di tempatnya. Akhirnya, karena tidak juga terjadi sebuah perubahan, Ji-eun pun memutuskan untuk pulang. Mungkin ia memang sudah terlambat untuk mengambil hati pemuda itu kembali.

   “Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu ya! Mungkin kau mau istirahat. Kau kan habis sakit. Maaf ya karena sudah mengganggumu malam-malam. Aku memang bersalah karena telah berbohong dan menyakitimu selama ini. Selamat malam… Jung Yong-jae… ssi!” ucap Ji-eun, pamit.

   Ji-eun lalu melangkahkan kakinya untuk semakin menjauh dari Yong-jae. Yong-jae melihat Ji-eun sebentar. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke pohon-pohon di sampingnya.

   Ji-eun ingin sekali berhenti sekarang. Tetapi tidak. Pemuda itu kelihatannya sudah enggan untuk berbicara dengannya. Ji-eun tahu rasa sakit itu. Tetapi ia berharap jika Yong-jae juga tahu bagaimana sakitnya ia. Berpura-pura tidak suka dan mengabaikan semua kata hatinya saat mereka bertemu. Namun… bukankah cinta sejati tidak akan datang untuk yang kedua kalinya? Apakah… ia benar-benar sudah meninggalkannya dulu?

   Yong-jae mencoba mengacuhkan pikirannya tentang Ji-eun. Ia lalu berjalan masuk ke dalam rumah dengan hati yang tidak tenang. Mungkin semuanya sudah berakhir. Teman adalah cara terbaik untuk mengakhirinya.

   Tiba-tiba kata hati Yong-jae kembali mengetuk perasaannya. Apakah memang ini yang diinginkannya? Membiarkan semua usahanya dan pengakuan Ji-eun terbuang  sia-sia begitu saja?

   Yong-jae lalu melihat ke belakang. Dengan cepat, dan keyakinan yang kuat, ia berlari untuk mengejar belahan jiwanya itu. Ji-eun dulu telah membiarkannya pergi, tetapi ia tidak akan melakukannya. Ia harus berjuang, tidak peduli sudah berapa lama ia tetap teguh untuk mempertahankannya.

   “Ji-eun na…”

   Ji-eun yang masih berdiri dengan lesu di depan mobilnya, langsung melihat ke asal suara berada. Ia tidak tahu harus bahagia atau sedih saat melihat pemuda itu datang mendekatinya.

   Yong-jae yang sudah berdiri di depan Ji-eun, langsung memeluknya dengan lembut dan erat, seolah-olah tidak ingin gadis itu pergi dari sisinya. Masih di dalam posisinya, tanpa bergerak sedikitpun, Yong-jae mengucapkan sesuatu. “Aku menyukaimu,” ucapnya dengan pelan dan tulus. Sementara itu, Ji-eun yang mendengar pengakuan dari pemuda yang tengah membuat hatinya hangat itu langsung tersentak kaget. Matanya kini berair karena tidak menyangka sama sekali.

   Yong-jae melepaskan pelukannya. “Maaf karena telah menjadi seorang pengecut dengan tidak mengatakan hal yang sebenarnya padamu. Tetapi aku ikhlas jika kau marah padaku. Mungkin aku…”

   “Bagaimana kalau traktir aku makan es krim di taman bunga besok malam?”

   Yong-jae mengernyitkan dahinya. “Tetapi, bukankah kau sudah bosan dengan segala traktiran… atau…”

   “Traktiran itu akan menjadi berbeda ketika aku melakukannya bersama pacarku,” ucap Ji-eun, sambil mengerlingkan matanya yang indah.

   Yong-jae tersenyum mendengar ucapan Ji-eun. Sekarang ia tahu mengapa bintang dan bulan tadi bersinar dengan indahnya. Ia lalu memeluk Ji-eun lagi. Dan Ji-eun dengan senang hati membalas pelukan itu dengan tidak kalah hangatnya…



Aku melihatmu…
Nampak manis  dengan segala kekurangan dan kelebihanmu
Tetapi aku tidak pernah menganggap ini seperti nyamuk dan manusia
Karena aku menganggapmu sebagai kumbangku yang berarti…

Share on Bluesky Share on Facebook


Offline goo meei

  • Full
  • ***
  • Posts: 404
  • i love MINSUN
  • Location: denpasar
    • View Profile
Re: one shoot : Forever...
« Reply #1 on: January 29, 2011, 11:42:16 pm »
wahh congrat buat ff'nya sist Heethi... [clap]
baca dulu ntar komen lagi [biggrin]

Offline Diamond of Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 714
  • Your smile make me cool..Your love around me,,
    • View Profile
Re: one shoot : Forever...
« Reply #2 on: January 30, 2011, 12:53:14 am »
Wah chukae atas ff one shootnya...

Bagus lho ffnya..di sini minsun jd artis ya..
Wah..gud job untuk heethi..

Tp, ff yg laen gimana??(adakan??)
jgn ditelantarin napa saii??
Ayo segera update..
From the bottom of my heart,,
i wish you here with me ever and forever..
Become a real couple..

Aza aza hwaiting!!!

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
Re: one shoot : Forever...
« Reply #3 on: January 30, 2011, 10:11:19 am »
keren sis......!!!! [AddEmoticons04225]

Love you more than I can say

Offline el_minoz

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • upssss.....
    • View Profile
Re: one shoot : Forever...
« Reply #4 on: January 31, 2011, 12:18:26 am »
wah keren sist FF y!smoga nanti d yg k 2 dst....(mau y...)

Offline lee sun ho

  • Full
  • ***
  • Posts: 265
  • onnie you're so pretty
    • View Profile
Re: one shoot : Forever...
« Reply #5 on: January 31, 2011, 07:48:34 pm »
anyong sist heethi....lam knl y...
Mian ru nongol*sok knal* [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
cukhae sist wat ffnya....
Walopun ru pertama tp dh bagoos ko sist
ayo...ayo....ditunggu updateanya lg.......hwaiting!!!
MinSun....''I will always love Them''
forever and ever

Offline Sasa_MinozSunniez

  • Junior
  • **
  • Posts: 107
  • Location: indonesia
    • View Profile
Re: one shoot : Forever...
« Reply #6 on: February 01, 2011, 02:19:54 am »
sis bli novel tango di mn ??
aku mw bli n cari" gk ada"

btw
ff nya bagus ^^

Offline Heethi

  • Newbie
  • *
  • Posts: 75
  • annyong...
    • View Profile
Re: one shoot : Forever...
« Reply #7 on: February 01, 2011, 03:21:12 am »
makasih ya...  [flowers] [flowers] [flowers]

sis bli novel tango di mn ??
aku mw bli n cari" gk ada"

btw
ff nya bagus ^^

sebenarnya aku gak beli, cuma aku dapat berita aja kalo di novel "Tango" Goo Hye-sun itu ada lukisan mantan pacarnya...
aku lupa siapa nama mantan pacarnya...
tapi yang jelas aku gak pernah beli novel itu...
maaf ya...  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: one shoot : Forever...
« Reply #8 on: February 02, 2011, 01:47:18 am »
wah keren sis ff one shootnya [lovestruck] [lovestruck] bikin lg donk #PLAK [hmpfh] [laughing]

iya tu bener di novel tango ada gambar mantan pacarnya didlm pecahan kaca gt kebetulan aku punya novelnya [biggrin]


ADAM COUPLE SELCA

Offline mutiara_minsun

  • Junior
  • **
  • Posts: 199
  • mino bilng."sayang kmu trmakn ak jd cow kmu?"hehe
    • View Profile
Re: one shoot : Forever...
« Reply #9 on: February 02, 2011, 10:00:29 am »
selama buat FF baru ny yaa...

gw suka ama imajinasi loh  [lovestruck]

tp ni FF dac tamat ato blm sih ??
jng yaa , jng tmat dongk !!

lanjut ya  [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline Sasa_MinozSunniez

  • Junior
  • **
  • Posts: 107
  • Location: indonesia
    • View Profile
Re: one shoot : Forever...
« Reply #10 on: February 02, 2011, 11:16:29 am »
wah keren sis ff one shootnya [lovestruck] [lovestruck] bikin lg donk #PLAK [hmpfh] [laughing]

iya tu bener di novel tango ada gambar mantan pacarnya didlm pecahan kaca gt kebetulan aku punya novelnya [biggrin]

bli di mn sis ??
aku udah nyari jkrt surabay ..
klilingin toko buku surabaya ..
gk dpt"
aku soal ' nya mw bli
stiap nyari di toko buku psti ujung"nya bli novel laen ..
novel teenlit  [hmpfh]
*ogg jdi ngo novel sie ..*


Offline Heethi

  • Newbie
  • *
  • Posts: 75
  • annyong...
    • View Profile
Re: one shoot : Forever...
« Reply #11 on: February 03, 2011, 12:28:57 am »
selama buat FF baru ny yaa...

gw suka ama imajinasi loh  [lovestruck]

tp ni FF dac tamat ato blm sih ??
jng yaa , jng tmat dongk !!

lanjut ya  [smiley-gen013] [smiley-gen013]

udah...
kan one shoot, jadi cuma cerpen aja...
makasih ya karena udah suka...  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

Offline mutiara_minsun

  • Junior
  • **
  • Posts: 199
  • mino bilng."sayang kmu trmakn ak jd cow kmu?"hehe
    • View Profile
Re: one shoot : Forever...
« Reply #12 on: February 03, 2011, 12:58:43 am »
selama buat FF baru ny yaa...

gw suka ama imajinasi loh  [lovestruck]

tp ni FF dac tamat ato blm sih ??
jng yaa , jng tmat dongk !!

lanjut ya  [smiley-gen013] [smiley-gen013]

udah...
kan one shoot, jadi cuma cerpen aja...
makasih ya karena udah suka...  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

yaaa padalah gw ngrep bngt ni FF ad lnjutan ny  [cry] [cry]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: one shoot : Forever...
« Reply #13 on: February 03, 2011, 01:27:11 am »
bagus,andai saja minsun begini, mari kita berdoa bersama  [flowers]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: one shoot : Forever...
« Reply #14 on: February 05, 2011, 03:28:49 am »
way keen sis of one shooting [love struck] [love struck] biking mg done #PLAK [HMO] [laughing]

its th beer do novel tango ada gamble man tan packing did pecans lava at kebab aku punya novelnya [biggrin]

bli di mn sis ??
aku udah nyari jkrt surabay ..
klilingin toko buku surabaya ..
gk dpt"
aku soal ' nya mw bli
stiap nyari di toko buku psti ujung"nya bli novel laen ..
novel teenlit  [hmpfh]
*ogg jdi ngo novel sie ..*



Di indo emang ga ada sis aku belinya di korea dibeliin sodaraku pas dy kesono novelnya si mami puitis bgt de pinter bgt ngrangkai kata2nya tp aku puyeng hrs dipahami bener2 tu bhsnya si mami [wacko]


ADAM COUPLE SELCA