Poll

kira-kira lagu apa yang cocok buat MP Aljoana

"Wonderful Tonight" By Eric Clapton
3 (18.8%)
"Baby Can I Hold You Tonight"  By. Boyzone
3 (18.8%)
"One Night" By The Corrs
10 (62.5%)
terserah author (glodak!)
0 (0%)

Total Members Voted: 16

Author Topic: Re: THE MAESTRO (chapter 22 ---- 31 Juli 2011)  (Read 35472 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
THE MAESTRO
Chapter 11

Additional Cast :
Kim Dong Hyun : Chang Dong Wook
Yoon Mira : Mei mei



Song Of The Day :


LOVE STORY
By. Andy Williams

Where do I begin
To tell the story Of how greatfull love can be
The sweet love story  That is older than the sea
That sings the truth about the love she brings to me
Where do I start

With the first hello. She gave the meaning
To this empty world of mine
That never did another love another time
She came into my life and made a living fine
She fills my heart

She fills my heart with very special things
With angel songs, with wild imaginings
She fills my soul with soo much love
That anywhere I go, Im never lonely
With her along who could b lonely
I reach for her hand, Its always there

How long does it last
Can love be measured by the hours in a day
I have no answers no but this much I can say
I know I’ll need her till this love song burn away
And she’ll b there...

How long does it last
Can love b measured by the hours in a day
I have no answers no but this much I can say
I know I’ll need her till this love song burn away
And she'll be there...



“Ini….,” bibir Joana ternganga menatap bangunan yang berada di depannya. Aldian merangkul pinggangnya dan berujar lembut,”Masih ingat rumah ini, kan?”

Joana masih saja mengamati rumah itu. Rumah mungil dua lantai peninggalan Kolonel Goo. Dia berjalan lebih mendekati pintu dan mengelus papan kayunya lembut.”Rumah Haraboji,” gumam lirih Joana dengan air mata yang menetes.

Aldian mengangguk, lalu mencari-cari sesuatu di kantong celananya. “Sial! Kenapa kuncinya tidak kubawa?”

“Oppa, gwencana?” Joana agak terkejut mendengar umpatan itu. Aldian pun menyadari kesalahannya. Sang istri tidak terbiasa dengan kata-kata kasar. “Gwencana, Yeobo. Oppa lupa bawa kuncinya.”

Pandangan Joana beralih ke jendela kaca. “Kita pecahkan saja jendelanya, Oppa.” Aldian hanya meringis,”Eee…, sebenarnya semenjak kita pindah ke Lee Manshion, aku memasang teralis di tiap jendela.”

Joana jadi geli melihat tingkah bodoh Aldian yang menggaruk-garuk rambut seperti itu. “Ya… kenapa kau tertawa?” protes Aldian.

“Miane, Oppa.”

“Kita harus pinjam alat untuk mencongkel pintu,” ide Aldian. Kepalanya menoleh ke rumah yang berada di depan rumah kecil itu.”Mungkin Chang Haraboji bisa membantu.”

“Chang Haraboji?” tukas Joana. Rupanya dia ingat juga pada orang yang dimaksud suaminya,”Beliau masih hidup?”

Sekali lagi Aldian memeluk Joana.”Tentu, Yeobo. Aku mengunjunginya jika mampir ke sini,” jelas Aldian. Bibir Joana tiba-tiba mengkerucut,”Kenapa Oppa tidak pernah cerita?”

“Oh.. jadi itu penting untuk diceritakan, ya?” goda Aldian. Istrinya jadi tambah ngambek.”Aku bahkan tidak tahu kalau kita masih punya rumah ini. Kalau aku tahu, aku bisa membersihkannya tiap hari.”

Aldian tertawa melihat kemanjaan Joana yang lagi ngambek,”Sudah-sudah, ayo kita ke rumah Chang Haraboji, sebelum tambah larut.”

Pasangan pengantin baru itu melangkah menuju rumah yang berada di seberang jalan. Rumah seorang pensiunan tentara juga. Bisa dibilang kalau Chang Dong Wook adalah teman Kolonel Goo di ketentaraan. Aldian mengetuk pintu rumah keluarga Chang. Suasana di dalam rumah kelihatan sepi. Chan Dong Wook memang hanya tinggal berdua saja dengan istrinya, Mei-mei.

Sesaat terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah mendekati pintu. Lalu rumah itu terbuka lebar untuk mereka berdua, disambut oleh lelaki tua yang masih kelihatan segar di usia senja.

“Aldian-ssi?” tanya lelaki itu sambil membetulkan letak kaca matanya. Aldian mengangguk dengan senyuman lebar. Pandangan lelaki itu beralih pada Joana. “Nughu?” tanyanya pada Aldian.

“Joana Imnida, Haraboji,” sapa Joana sambil mengulurkan tangan yang segera disambut lelaki itu dengan jabatan erat dan wajah sumringah. Mereka berdua mengkerutkan kening saat Chang Dong Wook tiba-tiba memanggil istrinya keras-keras, “Mei! Siapkan makan malam! Tetangga baru yang kita tunggu-tunggu akhirnya datang!”

Chang Dong Wook membimbing kedua tamunya ke ruang makan. Sekali lagi senyum ceria selalu dia tampakkan. Aldian tampak ragu menduduki kursi.”Miane, Haraboji. Kami hanya ingin  meminjam linggis untuk…

“Ah…, urusan gampang. Yang penting makan dulu,” potong Dong Wook sambil menarik kursi untuk Joana. Gadis itu mau tidak mau duduk juga, tidak enak menolak sopan-santun  Dong Wook. Aldian masih saja berdiri terpaku hingga Joana memandanginya.

“Ayo duduk, Aldian-ssi!” perintah Dong Wook.”Kau tidak lihat istrimu sudah pucat begitu?”
Aldian dan Joana serempak menoleh ke arahnya.

“Kami sudah tahu, Aldian-ssi,” Mei-mei, istri Dong Wook muncul dari dapur sambil membawa dua piring masakan khas cina. Mei-mei memang keturunan cina. “Infotainment memberitakan kalian besar-besaran.”

“Dong Wook, ambilkan nasinya!” perintah Mei-mei pada suaminya sambil menata piring-piring itu di meja makan.  Dong Wook pun segera melesat ke dapur.

“Joan bantu, Halmoni?” Joana menawarkan bantuan yang segera ditolak Mei-mei secara halus. “Jangan, Joana. Kau tamu di rumah ini. Kami sudah terbiasa melayani satu sama lain di sini. Jadi kau tenang saja.”

Mei-mei menuju dapur lagi dan gantian Dong Wook memasuki ruang makan dengan Magic Com di tangannya. “Infotainment selalu menggembar-gemborkan berita. Mei-mei menyukainya, aku selalu protes jika dia menonton itu.”

“Tapi dari acara itu, kau tahu juga kabar mereka,” protes Mei-mei yang sudah kembali ke ruangan itu, menata piring dan sendok. “Aku juga yang berkesimpulan kalau kalian pasti kemari.”

Aldian dan Joana berpandangan lalu Aldian menggenggam tangan istrinya erat.

“Sudah siap!” teriak Mei-mei saat meja makan itu dipenuhi hidangan makan malam dan peralatan makan. Kakek-nenek itu duduk bersisihan, mulai menatap sajian di depannya. Tamu mereka saja masih terpaku. “Ayo dimakan!” perintah Mei-mei lalu menyendokkan nasi di piring Joana. Joana masih saja memandang kosong. Aldian juga masih bimbang menerima kebaikan itu.

“Hai, anak muda. Ayo makan! Istrimu sudah pucat begitu, kau tidak lihat? Kalian pasti belum makan sejak siang tadi, bukan?” hardik Dong Wook. Kali ini Joana tersenyum lalu menyendokkan nasi dan sayur ke piring Aldian. “Makan, Oppa.”

Sang suami menatap penuh haru,  tersenyum, menyuapkan makanan ke Joana,”Kau yang lebih membutuhkannya, Yeobo.” Joana membalas senyum itu dan perlahan membuka mulutnya. Rasa masakan cina yang khas seketika menari di lidahnya.

“Oh… so romantic,”kata Dong Wook yang membuat keduanya jadi menunduk malu.  Mei-mei jadi geram dan memukul kepala Dong Wook,”Kau membuat mereka malu!”

“Auw, Apho!” jerit Dong Wook sambil mengelus-elus kepalanya. “Hehehehe, Ayo makan, Aldian-ssi,” lelaki itu mempersilahkan tamunya lagi.

Suasana kekeluargaan di ruang makan tercipta kemudian. Memang hanya makan malam sederhana jika dibandingkan setiap makan malam mereka di Lee Manshion, tapi Joana merasa makan malam ini adalah makan malam yang paling dia nikmati. Makan malam pertamanya dengan Aldian sebagai suaminya. Di depan mereka, Kakek dan Nenek Chang masih menampakkan kemesraan walau pun usia pernikahan mereka sudah lama. Mereka juga menginginkan hal itu nantinya, saling mencintai sampai ajal menjemput.

“Haraboji,” panggil Aldian, saat makanan sudah ludes oleh mereka dan tinggal menikmati teh hijau sebagai minuman penutup.”Kami hanya ingin meminjam linggis untuk membuka pintu rumah.”

“Linggis?” pasti Dong Wook.
“Ne, Haraboji.”
“Tidak perlu! Aku masih menyimpan kuncinya.”
“Mwo!” seru Aldian dan Joana serempak.

Lelaki  itu memamerkan tawanya yang khas. “Kau lupa, Joana? Dulu haraboji dengan mudah masuk-keluar rumah untuk main catur dengan harabojimu.”

“Haraboji tidak pernah cerita selama ini,” ujar Aldian. Sekali lagi tawa khas Dong Wook terdengar. “Kau pikir bagaimana bisa rumah kosong itu tidak disatroni maling?”

Mei-mei tersenyum mendengar ocehan suaminya. “Dong Wook tidur di rumah itu dua hari sekali.”

“Ne,” Dong Wook mengangguk.”Aku tidur di kamar Harabojimu. Menjaga rumah itu sambil mengenang masa lalu. Masa-masa perjuangan.”

“Saat kami mendengar berita itu, kami berkesimpulan kalau kalian pasti kemari. Karena itu, kami mempersiapkan makan malam ini,” urai Mei-mei. Joana menunduk. Air mata menetes lagi, genggaman erat Aldian di tangan mungilnya berusaha menenangkan.

“Ah, Joana, kenapa kau menangis?” kata Mei-mei lembut.”Seorang pengantin tidak boleh menangis di saat seperti ini. Lebih baik kau bantu aku mencuci piring, Kacha!” ajak Mei-mei. Joana mengangguk dan tersenyum, lalu membantu Mei-mei memberesi peralatan makan untuk dibawa ke dapur.

“Kenapa kau tidak mampir kemarin ?” tanya Dong Wook saat para wanita sudah asyik di dapur. Aldian mengkerutkan dahi. “Aku mendengar suara mobilmu datang kemarin malam. Kau pasti kemari, kan?” tanya Dong Wook lagi.

“Miane, Haraboji,” sesal Aldian.
“Anak nakal!” Dong Wook memberi pukulan kecil di bahu Aldian. “Kau bahkan tidak mengundang kami di pernikahanmu.”

Sekali lagi Dong Wook tertawa. Aldian hanya tersenyum tipis. “Kau sangat mencintai Joana?” tanya Dong Wook setelah tawanya berhenti.

“Sangat!” jawab Aldian pasti.
“Bukan karena dia mirip Alicia?”
Aldian menggeleng. Dong Wook menepuk-nepuk bahunya. “Kau seorang suami sekarang. Tanggung jawabmu adalah mendidik istrimu dengan baik dan menafkahinya. Apa rencanamu untuk itu?”

Aldian tersenyum. Tawaran Nicky tempo hari melayang di kepalanya. “Ada teman yang menawari kerja sama. Saya akan menjajagi kerja sama itu.”

“Kerja sama?”
“Bisnis design grafis.”

“Bagus! Berusahalah!” Dong Wook menyemangati, “Lalu kuliah Joana?”
“Dia tetap kuliah!” Aldian yakin benar hal itu.”Pendidikannya tidak boleh putus hanya karena pernikahan ini. Masalah biaya aku yang akan menanggungnya.”

Sekali lagi Dong Wook kagum dengan pemuda di depannya.”Bagus, Aldian-ssi. Itulah sosok suami yang baik.”

Sementara di dapur, para wanita sudah sibuk mengeringkan peralatan makan dengan serbet sebelum di tata di rak penyimpanan. Sesekali terdengar tawa di antara mereka. Mei-mei tengah mengenang masa kecil Joana dan hal itu membuat Joana geli. Wanita usia senja itu tidak pernah menyangka gadis cilik itu kini sudah besar. Berada di depannya dan sudah menjadi istri orang.

“Joana sayang,” panggil Mei-mei. Joana yang masih sibuk dengan sendok yang harus dia keringkan, menoleh ke arahnya.

“Kau tahu peran seorang istri itu apa?” tanya Mei-mei.
“Mencintai suaminya segenap hati,” jawab Joana mantap. Mei mei tersenyum mendengarnya,”Dan bukti dari cinta itu?” tanya Mei-mei lagi.

Joana memang belum bisa menjawabnya. Yang dia tahu, dia sangat mencintai Aldian dan akan melakukan apa saja untuk membuat suaminya bahagia. Mei-mei mendekati untuk mengelus kepalanya,”Jadilah wanita yang selalu menyenangkan di mata suamimu.”

“Hanya itu, Halmoni?”

Mei-mei mengangguk. “Memang kalimatnya sederhana, tapi penerjemahannya sangat luas. Tidak mungkin Halmoni menerangkan dalam waktu singkat.”

“Joan tahu maksudnya, itu berarti Joan harus selalu tampil cantik di depan Oppa,” ocehan Joana. Mei-mei tertawa geli mendengar pemilihan kalimat Joana. Sangat mencerminkan kepolosan seorang Joana.”Ya… itu salah satunya.”

“Tapi hal yang pasti, ada perbedaan peran dalam rumah tangga. Suami mencari nafkah, dan istri mengurus rumah. Kalau pun istri mencari nafkah, perannya hanya untuk membantu. Kau bukan pencari nafkah utama. Kau mengerti?”

“Ne, halmoni.”

“Yebo, ayo kita pulang!” panggil Aldian dari ruang makan. Joana merengut karena masih ingin mendengar wejangan Mei-mei tentang menjadi istri yang baik. Mei-mei jadi tertawa melihat wajahnya,”Jangan begitu, Joana. Kau bilang tadi kalau kau harus selalu cantik di depan suamimu. Apa wajah cemberut itu juga termasuk wajah cantikmu?”

Joana jadi terkekeh mendengar sindiran Mei-mei.
“Nah, begitu, dong… tersenyumlah untuk suamimu,” goda Mei-mei.

“Yebo…,” panggil Aldian lagi.
“Ne, Oppa,” jawab Joana, pandangannya beralih kembali ke Mei-mei,”Joan pergi dulu, Halmoni.” Lalu meninggalkan dapur setelah Mei-mei mengangguk.


>==***==<

“Home sweet home,” kata Aldian saat pintu rumah peninggalan Kolonel Goo akhirnya terbuka. Joana tersenyum. Kakinya segera melangkah memasuki rumah.

“Tunggu,” cegah Aldian tiba-tiba.
“Waeyo, Oppa?” tanya Joana heran. Aldian memandang  misterius, lalu agak membungkuk untuk mengangkat tubuh istrinya,”Tradisi harus selalu dilakukan,” ujarnya setelah tubuh mungil itu terangkat di dekapannya. Joana tertawa-tawa senang dan melingkarkan lengan di leher suaminya.

“Joan tidak pernah tahu ada tradisi seperti ini,” kata Joana.
“Seorang pengantin pria harus menggendong istrinya ketika memasuki rumah mereka,” jelas Aldian. Joana memandangi wajah tampannya dengan rona bahagia.”Apakah ini tradisi korea?”

“Tradisi internasional, Yeobo,” jawab Aldian lalu mencium bibir Joana. “Dimulai waktu tentara romawi yang memenangkan peperangan atas Yunani, lalu mereka harus menggendong pengantin wanita yang mereka nikahi secara paksa untuk memasuki kamar pengantin.”

Tawa Joana bertambah lebar saat Aldian mulai memasuki rumah itu. “Tapi Joan bukan pengantin yang terpaksa, Oppa.”

“Ne, kita menikah karena sama-sama saling cinta.” Aldian menurunkan tubuh Joana saat sampai di ruang tengah, lalu mencium kening istrinya lembut. Sesaat dia mencari saklar lampu. Ruangan itu menjadi terang saat lampu demi lampu rumah ini dinyalakan.

Kini Joana terpaku di tempatnya. Dia berdiri di ruang tengah, tempat dimana seharusnya piano tua berada. Aldian mendekat dan memeluknya dari belakang. Ciuman di pipi segera Aldian daratkan pada Joana.

“Ada yang kurang, Oppa,” ujar Joana lirih. Aldian meneruskan pandangan Joana dan mulai bisa menyimpulkan yang dipikirkan istrinya. “Ne, piano tua itu.”

“Dulu Oppa selalu mengajari Joan di sini, dan piano itu….

“Yeobo, aku berjanji akan membelikan piano baru untukmu.”

Joana tersenyum mendengar janji suaminya.”Aku selalu bermimpi, Oppa bermain piano dan aku menari dengan gaun putih.”

Aldian tertawa di tengkuk leher Joana. “Sekarang pun kau memakai gaun putih, Sayang.”

“Tapi tidak ada piano,” sambung Joana. Aldian membalikkan tubuh Joana hingga bisa menatapnya, lalu membimbing tangan Joana menyentuh dadanya.”Dengarkan dadaku, Yeobo… ada alunan music yang kumainkan di dalam sini.”

Aldian memegang tengkuk Joana,  membimbing kepala wanita itu untuk menempel di dadanya yang bidang,”Lagu apa itu? Kau dengar?”

Joana mendongak dan menggeleng. Aldian tersenyum melihat tatapan mata istrinya. “Love Story, lagu yang kumainkan saat perjumpaan pertama kita, Yeobo.”

Aliran bening berjejal keluar lagi dari pelupuk mata Joana. “Dan sekarang… ayo kita berdansa,” ajak Aldian.

”Tetaplah dengarkan music di hatiku, Sayang,”  saran Aldian. Lalu mereka berdansa diiringi senandung lirih Aldian, “Where do I begin…. To tell the story of how greatful love can be…The sweet love story  That is older than the sea….That sings the truth about the love she brings to me….Where do I start…”

Joana berdansa dengan membenamkan kepala di dada Aldian. Di sinilah kisah ini dimulai dan lagu itu yang mengawali segalanya. “With the first hello……She gave the meaning to this empty world of mine….That never did another love another time …. She came into my life and made a living fine…. She fills my heart…..”
 
“She fills my heart…..With very special things…With angel songs ….With wild imaginings…She fills my soul….With soo much love….
 
“That anywhere I go… I’m never lonely….With her along who could be lonely….I reach for her hand…Its always there…”

Dulu, Aldian tidak pernah tahu kenapa dia memainkan lagu ini. Tapi sekarang dia mengerti. Lagu itu untuk Joana. Wanita yang selama tiga belas tahun ini memberi kebahagiaan baginya. Gadis cilik yang sekarang menjadi istrinya itu. Kesendiriannya selama tiga belas tahun dan Joana-lah selalu di sampingnya.

“How long does it last…Can love be measured by the hours in a day….I have no answers no
….But this much I can say….I know I’ll need her till this love song burn away….And she’ll be there...”

Dansa berakhir dengan  tatapan Joana yang penuh pemujaan pada suaminya. Aldian membelai wajah ayunya lembut. “Dari dulu, ternyata lagu itu bercerita tentangmu, Yeobo…”

Joana menangis lagi walau senyum tersungging di bibirnya. Aldian mengecup pipinya lalu menjilat air mata Joana dengan penuh perasaan. “Kau sangat pandai menangis, biarkan aku mengeringkan air matamu, karena ini adalah kesedihanmu yang terakhir. Aku berjanji, Yeobo.”

“Saranghe, Oppa…” bisik Joana.
“Sarangheyo,” balas Aldian. Mereka berpelukan lagi.  Aldian mengunci pipi Joana dengan kedua tangannya dan memberikan ciuman lembut .  Joana agak terkejut saat ciuman itu semakin dalam. Ciuman itu sangat menuntut. Bibirnya sangat kaku. Aldian bisa menyimpulkan kegugupan istrinya dan melepaskan ciuman seketika.

“Istri mungilku yang polos,” goda Aldian. Joana menunduk, rona merah segera menyebar di wajah ayunya. “Lagi, Oppa?” pintanya.

Aldian terkekeh sebentar lalu menuruti kemauan gadis polos itu. Kali ini Joana bisa mengatasi ciuman itu. Aldian menyambutnya dengan kebahagian yang membuncah hingga tanpa mematahkan ciuman, diangkatnya tubuh Joana memasuki salah satu kamar di rumah itu.

Joana bisa merasakan tubuhnya kini terbaring di kasur yang nyaman walau pun ciuman belum terlepas. Dia juga bisa merasakan tangan kokoh Aldian menjamah lehernya. Saat tangan itu turun ke dadanya, ciuman Aldian menuruni leher jenjangnya. Usapan Aldian di dadanya membuat aliran darah berdesir hebat. Dia bisa merasakan jantungnya berdetak cepat dan memekik saat Aldian menyesap lehernya.

Detak jantung itu begitu cepat dan Joana semakin takut. Rasa aneh muncul di perutnya, seperti kupu-kupu yang beterbangan di situ, bahkan saat Aldian tiba-tiba menyingkap gaunnya dan membelai pahanya.

“Oppa… Oppa..,” panggil Joana diantara nafasnya yang tersenggal-senggal lalu dia menangis sesenggukan. Hal itu membuat Aldian berhenti dan menatap dengan pandangan serba salah.

“Joan takut, Oppa… Joan takut… .”  Aldian kini menyadari kesalahannya. Istrinya benar-benar gadis polos. “Kita tidak harus melakukannya jika kau belum siap, Yeobo.”

Joana agak kesulitan mengatasi sedu tangisnya. “Bisa… bisakah itu?”

Aldian mengangguk.
“Oppa tidak marah?” pasti Joana.
“Ne, Chagiya,” jawab Aldian.

Sekali lagi tangisan Joana berhambur. Aldian memeluknya untuk menenangkan. “Kalau saja yang Oppa nikahi adalah Jenifer Uni,” kata Joana di pelukan itu,”Oppa tidak akan mengalami semua ini.”

“Apa maksudmu, Sayang?”

“Oppa tidak perlu menunggu,” jawab Joana seiring tangis yang meledak kembali. Aldian mendekatkan jarinya ke bibir Joana, “Ssst… Jangan bicarakan masa lalu, saat ini hanya ada kau, aku dan pernikahan kita.”

Aldian tersenyum untuk meyakinkan istrinya kemudian merebahkan tubuh Joana dan berbaring di sampingnya. “Kita istirahat sekarang. Besok aku harus menemui Nicky untuk masalah pekerjaan.”

“Peluk Joan, Oppa,” ujar Joana manja. Aldian tersenyum saat memeluk tubuh mungil Joana dan membenamkan kepalanya di tengkuk lehernya. Wangi tubuh Joana kini dihirupnya dalam-dalam. Aroma yang selama ini begitu dia kagumi yang kini mengantarkan suami-istri itu ke alam mimpi. Mimpi tentang masa depan mereka dan jalan yang akan mereka  tempuh. Jalan yang berliku dan tidak akan semulus kehidupan mereka yang lalu. Tapi Aldian yakin jalan itu pasti penuh kebahagiaan karena selalu ada Joana di sampingnya.


BERSAMBUNG
« Last Edit: April 21, 2011, 11:14:12 am by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 11 and then I hiatus again)
« Reply #496 on: April 21, 2011, 11:14:48 am »
Yah padahal udinan ditungguin dr maren kirain bakal gol ternyata ga jd lol aldian suami yg pengertian good husband tp jgn lama2 ye 19th udinan bs kok ntu #PLAK


ADAM COUPLE SELCA

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 11 and then I hiatus again)
« Reply #497 on: April 21, 2011, 11:26:06 am »
blon dijebol juga?? [wacko] [wacko] kalo jadi Joan jg gw takut sisi,,jadi wajar. hiatus ampe kpn?? [what]

Love you more than I can say

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 11 and then I hiatus again)
« Reply #498 on: April 21, 2011, 11:38:36 am »
Yah padahal udinan ditungguin dr maren kirain bakal gol ternyata ga jd lol aldian suami yg pengertian good husband tp jgn lama2 ye 19th udinan bs kok ntu #PLAK

emang 19 tahun udah bisa, tapi joana takut... takutnya itu karena dag dig dugnya itu, lho... namanya juga ABG polos  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 11 and then I hiatus again)
« Reply #499 on: April 21, 2011, 11:45:19 am »
jadi kapan jebolnya? lagi-lagi .. #plak

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 11 and then I hiatus again)
« Reply #500 on: April 21, 2011, 11:48:32 am »
jadi kapan jebolnya? lagi-lagi .. #plak


 [sweat] [sweat] [sweat] kapan-kapan, mam  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 11 and then I hiatus again)
« Reply #501 on: April 21, 2011, 11:50:25 am »
blon dijebol juga?? [wacko] [wacko] kalo jadi Joan jg gw takut sisi,,jadi wajar. hiatus ampe kpn?? [what]
iya... lo jadi joan ku juga takut... hehehe

hiatus mpe pertengahn mei...  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

 [AddEmoticons04272] [AddEmoticons04272] [AddEmoticons04272]
« Last Edit: April 22, 2011, 08:33:07 pm by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

minsunlover

  • Guest
Re: THE MAESTRO (Chapt 11 and then I hiatus again)
« Reply #502 on: April 21, 2011, 12:13:38 pm »
Gw pikir bakalan jebol.....ternyata oh ternyata.....

minsunlover

  • Guest
Re: THE MAESTRO (Chapt 11 and then I hiatus again)
« Reply #503 on: April 21, 2011, 12:27:00 pm »
Setelah gw perhatiin setelah baca chap ini rata2 yg komen pasti 1 suara : kok blm jebol n kapan jebolnya? Wkwkwkwkwkwkwk

Pokoke chintya ga boleh hamdan ya........^^

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 11 and then I hiatus again)
« Reply #504 on: April 21, 2011, 03:39:28 pm »
Telattt..thank u very very..mylil sista update..
Tak ada kunci linggis pun jd..btw Joana dh ketghan tuh ditium2..betul itu joana hrs tetap kuliah dy kn pintar sapa tau dpt beasisw..oppa sih org diks wejangan blm smpe kearah sana udh diajk pulang jadix joana ketakutan tuh gak tau mesti ngapain.tp tenang aj bsok pst mei halmonie ngajarn msk,mencuci n gmn crax melyni suami..oppa siap2 aj diterkam wkwk.
[/size][/color][/b]

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 11 and then I hiatus again)
« Reply #505 on: April 22, 2011, 07:04:02 pm »
Pertama kali emang dag dig duerrrrrrr abis ntu ketagihan next chap udinan jebol ye lol


ADAM COUPLE SELCA

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 11 and then I hiatus again)
« Reply #506 on: April 22, 2011, 07:40:12 pm »
waduh... pada satu suara, ya..... don't wory... pasti jebol kok... tenang saja...

 agree agree agree agree agree agree

tapi jebolnya enam bulan lagi...  [AddEmoticons04233] [AddEmoticons04233] [AddEmoticons04233] [AddEmoticons04233] [AddEmoticons04233]

jadi harap tenang ya para reader... Emoticons0426 Emoticons0426 Emoticons0426 Emoticons0426

soal chyntia....

 [AddEmoticons04284] [AddEmoticons04284] [AddEmoticons04284] [AddEmoticons04284]

siap-siap saja... mungkin ada hal yang menyesakkan nantinya...


 [AddEmoticons04219] [AddEmoticons04219] [AddEmoticons04219]

tapi tenang... [AddEmoticons04274] .... tidak akan mengganggu hubungan mereka kok... 

[AddEmoticons04268] [AddEmoticons04268]

jadi siap-siap aja

 [AddEmoticons04264] [AddEmoticons04264]

peace....  [AddEmoticons04257]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 11 and then I hiatus again)
« Reply #507 on: April 22, 2011, 08:36:25 pm »
Setelah gw perhatiin setelah baca chap ini rata2 yg komen pasti 1 suara : kok blm jebol n kapan jebolnya? Wkwkwkwkwkwkwk

Pokoke chintya ga boleh hamdan ya........^^

 [AddEmoticons04254] [AddEmoticons04254] iya, nih... para reader sukanya yang jebol-jebol...

soal hamdan atau tidak, itu mah gampang... yang penting kan istri kagak tahu, hehehe

 [AddEmoticons04258] [AddEmoticons04258] [AddEmoticons04258]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 11 and then I hiatus again)
« Reply #508 on: April 22, 2011, 08:44:16 pm »
Telattt..thank u very very..mylil sista update..
Tak ada kunci linggis pun jd..btw Joana dh ketghan tuh ditium2..betul itu joana hrs tetap kuliah dy kn pintar sapa tau dpt beasisw..oppa sih org diks wejangan blm smpe kearah sana udh diajk pulang jadix joana ketakutan tuh gak tau mesti ngapain.tp tenang aj bsok pst mei halmonie ngajarn msk,mencuci n gmn crax melyni suami..oppa siap2 aj diterkam wkwk.

 [AddEmoticons04263] [AddEmoticons04263] [AddEmoticons04263]
iya juga... belum dikasih wejangan mpe sana udah diajak pulang

jadinya Joana kaget gitu....

ya... memang pelan-pelan kasih pengertiannya...

 Emoticons0426 Emoticons0426 Emoticons0426 Emoticons0426

jadi tambah gemes ma joana gue...

 [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 11 and then I hiatus again)
« Reply #509 on: April 22, 2011, 09:10:48 pm »
kasimannnnnnnn nih aldian mau dapet jatah malah gak jadi !!!!!!!!! [whip] [whip] [whip] [whip] [whip] [whip] [whip] [whip]