Poll

kira-kira lagu apa yang cocok buat MP Aljoana

"Wonderful Tonight" By Eric Clapton
3 (18.8%)
"Baby Can I Hold You Tonight"  By. Boyzone
3 (18.8%)
"One Night" By The Corrs
10 (62.5%)
terserah author (glodak!)
0 (0%)

Total Members Voted: 16

Author Topic: Re: THE MAESTRO (chapter 22 ---- 31 Juli 2011)  (Read 35500 times)

Offline apri minsun

  • Junior
  • **
  • Posts: 149
    • View Profile
emmmmmmmm [chin] [chin],idem di grup yo CUCAK ROWO [hmpfh] [hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
emmmmmmmm [chin] [chin],idem di grup yo CUCAK ROWO [hmpfh] [hmpfh]

 [head break] [head break] [head break] [head break]

 [hammer] [hammer] [hammer] [hammer] [hammer]

 [collapse] [collapse] [collapse] [collapse] [collapse]

 [angry] [angry] gak di FB, gak dimari pengennya cucak rowo mlulu... [angry] [angry]

 [rofl] [rofl] [rofl] [rofl]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
jadi kpn ni mo diupdate?..udah sountracknya lagu rosa aja yg malam pertama..aduh joan persiapkanlah kejutan buat bikin suami ketagihan.. [hmff] [bav]

minsunlover

  • Guest
Love me tender - Elvis Presley

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
jadi kpn ni mo diupdate?..udah sountracknya lagu rosa aja yg malam pertama..aduh joan persiapkanlah kejutan buat bikin suami ketagihan.. [hmff] [bav]

 [AddEmoticons04259] [AddEmoticons04259]

Mood gue hilang gara-gara cucak rowonya si Apri   

[AddEmoticons04263] [AddEmoticons04263]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
yeee jgn mpe moodx hlg dong,kn bsok diupdate..pdhal br mau ikutan ngawur jg nyumbangin lagu [hmpfh]...rayuan pulau kelapa or naik naik ke puncak gunung..
[/size][/color][/b]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
yeee jgn mpe moodx hlg dong,kn bsok diupdate..pdhal br mau ikutan ngawur jg nyumbangin lagu [hmpfh]...rayuan pulau kelapa or naik naik ke puncak gunung..

tambah hilang mood gue...  [head break] [head break] [head break]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
yeee jgn mpe moodx hlg dong,kn bsok diupdate..pdhal br mau ikutan ngawur jg nyumbangin lagu [hmpfh]...rayuan pulau kelapa or naik naik ke puncak gunung..

tambah hilang mood gue...  [head break] [head break] [head break]
Nooo [nono] [nono] [cry] [cry] [cry] [cry] terserah gw mau di [hammer] [head break] [fighting] [guns] tp jgn mpe ilfil.makin cepat diupdate kmungknan org ngawur makin sdikit. [goodgrief] [goodgrief] [wacko] [cry]
[/size][/color][/b]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
yeee jgn mpe moodx hlg dong,kn bsok diupdate..pdhal br mau ikutan ngawur jg nyumbangin lagu [hmpfh]...rayuan pulau kelapa or naik naik ke puncak gunung..

tambah hilang mood gue...  [head break] [head break] [head break]
Nooo [nono] [nono] [cry] [cry] [cry] [cry] terserah gw mau di [hammer] [head break] [fighting] [guns] tp jgn mpe ilfil.makin cepat diupdate kmungknan org ngawur makin sdikit. [goodgrief] [goodgrief] [wacko] [cry]

masa naik2 ke puncak gunung2, gunung joana gak stinggi itu, kali.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
klu gw sih asal jebol aja [hmpfh] udah ga usah pakai lagu2an deh [laughing] [laughing] [laughing] atau .. mau gw nyumbang lagu mandarin/canton without translation [jumpy] [jumpy] [hmff] #lgs digetok ama sisi [laughing] [bye]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
klu gw sih asal jebol aja [hmpfh] udah ga usah pakai lagu2an deh [laughing] [laughing] [laughing] atau .. mau gw nyumbang lagu mandarin/canton without translation [jumpy] [jumpy] [hmff] #lgs digetok ama sisi [laughing] [bye]

 [AddEmoticons04259] [AddEmoticons04259] without translation??? malah gak bisa menghayati... lawong tahuku cuma bahasa jawa, inggris ma indonesia, ko....  [hmpfh] [hmpfh]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Seru kali' baca the maestro tengah malam gini episode MP.. [on] [on] [smiley-gen013] [smiley-gen013] whistling whistling
[/size][/color][/b]

Offline mumu

  • Junior
  • **
  • Posts: 200
  • Tatapanmu mengalihkan duniaku....
  • Location: indonesia
    • View Profile
kapan yg ini update,udah gak tahan untuk menyaksikan acara penjebolan...wkwkwk
DALIMUNTE, PROFESOR MUDA DENGAN ROMANTISME KELUARGA KECILNYA...mau...mau...

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
ini kapan update..minggu lohh [wave] [wave] [wave] [yoyopulizietk2]
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
THE MAESTRO
Chapter 14


Additional Cast :

Yoo Ah In as Damian Yoo
Yon Eun Hye as Andrea Yoo
Jessica Park as Jessica
Lee You Hwon as Ms. Han




Song: I Still Believe In You   
Artist: Gill Vince

Everybody wants a little piece of my time
But still I put you at the end of the line
How it breaks my heart to cause you this pain
To see the tears you cry fallin' like rain

Give me the chance to prove
And I'll make it up to you

I still believe in you
With a love that will always be
Standing so strong and true
Baby I still believe in you and me

Somewhere along the way, I guess I just lost track
Only thinkin' of myself never lookin' back
For all the times I've hurt you, I apologize
I'm sorry it took so long to finally realize

Give me the chance to prove
That nothing's worth losing you

I still believe in you
With a love that will always be
Standing so strong and true
Baby I still believe in you and me


Hari ini kuliah Mr. Liu kosong, seperti halnya remaja yang lain, Joana menikmati suasana mall bersama teman-temannya di kelas musik klasik. Di rombongan itu, hanya Joana yang tanpa pasangan. Aldian sibuk dengan desain grafisnya. Usaha itu mulai berkembang. Usulan Joana beberapa waktu yang lalu benar-benar ditindaklanjuti Aldian. Alhasil kesibukan ekstra melilit pria itu. Pulang malam tentu saja dia lakukan, bahkan walau sore ada di rumah, Aldian harus siap ditelepon untuk datang tengah malam jika ada kerusakan mesin pencetak. Dan seperti yang sudah-sudah, Joana tidak pernah protes, membukakan pintu bagi suaminya itu di tengah malam dengan wajah yang segar dan senyuman manis selalu dia lakukan. Rahasia kecil Joana agar selalu bisa melakukan itu adalah tidur di sore hari dan bangun satu jam sebelum suaminya pulang agar bisa mandi dan berdandan. Mei-meilah yang membagi rahasia ini. Trik yang berhasil karena kepenatan Aldian langsung hilang ketika melihat sosok istri mungilnya.

Di setiap plesirannya di mall, hal yang selalu Joana perhatikan adalah busana pria. Sedapat mungkin Joana menyisihkan tabungan untuk memberi kado istimewa di ulang tahun suaminya. Bulan ini bulan Juni. Tepat enam bulan pernikahan mereka yang juga bulan kelahiran Aldian. Joana sudah mewanti-wanti Nany akan adanya pesta kejutan. Di mall ini, hari ini, Joana ingin mewujudkan kado itu. Diperhatikannya satu persatu kemeja yang tergantung di situ. Albert yang juga merupakan personil dari rombongan jadi ingin tahu apa sebenarnya yang dicarinya. “Apa yang kau cari?”

Joana tersenyum sesaat dan bertanya,”Albert-ssi, apa menurutmu warna ini cocok untuk Aldian Oppa?”

Albert jadi memperhatikan kemeja yang ditunjuk Joana. “Hijau? Kau memilih warna hijau?” tanya Albert heran.

“Ne, waeyo?” Albert terbahak mendengarnya. Joana pun cemberut seketika. “Warna hijau sedang tidak trend tahun ini,” lanjut Albert.

“Jinja?”

“Ne,” pasti Albert. “Warna tahun ini adalah ungu muda.” Kepala Albert jadi mencari-cari warna yang di maksud. Saat dia menangkap sosok manekin yang memamerkan warna yang dia maksud, Albert menunjuk, “Nah, ungu yang seperti itu.”

Joana manggut-manggut sebelum mendekati manekin itu. “Hei,” teriak Albert yang merasa tak dihiraukan. Pria itu masih saja mengekori Joana.

“Huh, kenapa sih kau buntuti aku terus? Pacarmu mana?” Joana merasa risih juga. Pria yang bikin risih itu Cuma nyengir kuda. “Dara nonton sama yang lainnya. Dia juga yang menyuruhku mengawalmu.”

“Bo? Mengawal?” Joana jadi gelagapan sendiri mendengarnya. Albert mengangguk. “Gak percaya? Perlu ku telephon dia sekarang?”

“Anhi,” tolak Joana. Albert tersenyum puas. “Kau yakin warna ini cocok untuk Oppa?” tanya Joana lagi.

“Ne,” jawab Albert agak jengkel,”Memangnya kau mau beli berapa kemeja?”

“Cuma satu,” jawaban Joana yang membuat Albert ngakak seketika.

“Joan akan memadukannya dengan stelan jas yang sudah kubuat untuknya,” ujar Joana kemudian. Albert terpana mendengarnya. “Kau membuat stelan jas untuk suamimu?”

“Ne,” Joana mengangguk senang. “Baru selesai dua hari yang lalu. Joan mengerjakannya sembunyi-sembunyi. Takut ketahuan Oppa. Kalau ketahuan bukan kejutan lagi namanya.”

Satu lagi fakta yang membuat Albert semakin mengagumi Joana. Ada keirian kecil di hati Albert pada Aldian karena cinta Joana yang begitu besar pada suaminya itu. “Mian, tadi aku asal pilih. Apa warna itu cocok dengan stelan yang kau buat?” tanya Albert yang jadi ragu dengan pilihannya. Joana memandangnya mantap. “Warnanya hitam jadi cocok dengan warna apa pun. Karena itu Joan agak bingung tadi.”

Albert jadi membulatkan mulutnya. Pantas saja tadi Dara berkeras agar aku mengikuti Joana, jadi yang dia maksud tadi ini? pikir Albert.

“Albert, maukan, kau pilihkan juga dasi yang cocok dengan kemeja ini?” tanya Joana kemudian. Albert menyunggingkan senyum senang. “Kacha!” ajaknya pada Joana untuk memilih-milih dasi.

Mereka memerlukan waktu sepuluh menit untuk aktivitas yang satu itu diselingi ocehan Joana tentang Aldian. “Bisnis Oppa semakin berkembang. Dia perlu pakaian resmi ketika melobi di kantor-kantor dan instansi. Tolong pilihkan juga dasi yang sesuai dengan warna biru dan abu-abu.”

“Araso, Nyonya Lee,” canda Albert masih menekuri deretan dasi-dasi yang terpajang lalu mengambil tiga diantaranya yang sesuai dengan warna ungu, biru dan abu-abu.

“Ada yang lain lagi?” tanya Albert ketika joana akan membayar barang-barang yang dibelinya di kasir.

“Aniyo,” gadis itu menggeleng.

“Kau tidak membelikan sepatu untuk suamimu?” tanya Albert lagi. Sekali lagi Joana menggeleng, “Oppa sudah beli sepatu lagi seminggu yang lalu.”

Transaksi dengan kasir pun berlalu. Albert menawarkan diri untuk mengantar Joana pulang karena gadis itu tidak mau terlambat mengantarkan makan siang untuk Aldian. “Kau tidak memikirkan Dara?” protes Joana.

“Filmnya baru mulai setengah jam yang lalu. Aku bisa ke sini lagi untuk menjemputnya nanti. Ayolah, kau bisa lebih cepat sampai rumah kalau kuantar dengan mobilku,” sanggah Albert.

“Oke,” akhirnya Joana bersedia juga menerima kebaikan hati Albert. Mereka menuju basecamp untuk mengambil mobil Albert. Kendaraan itu meluncur kemudian di jalanan Seoul.

“Sepertinya kehidupan kalian semakin mapan?” kesimpulan Albert di perjalanan itu.

“Puji Tuhan. Terima kasih  atas doa dan dukungan kalian,” ujar Joana. Albert tersenyum ketika menulusur pandang ke jalanan yang agak macet. “Orang baik selalu disayang Tuhan, bukan?” gurau Albert.

“Ne,” angguk Joana.
“Kau pasti bahagia sekali.”
“Sangat.”

Albert manggut-manggut memikirkan fakta itu. Seorang gadis yang menikah di usia muda tapi masih bisa menikmati masa remajanya dengan berjalan-jalan di mall. Itulah Joana. Hal itu pula yang mengubah pandangan Albert pada pernikahan sekarang ini.

Mobil melambat saat sampai di komplek rumah Joana. “Stop di sini, Albert-ssi,” pinta Joana.
“Arasso,” kata Albert sambil mengerem mobilnya tepat di depan rumah Joana. Gadis itu turun kemudian. “Kau tidak mampir? Nany pasti senang kau datang,” tawar Joana.

“Aniyo,” tolak Albert. “Kau juga pasti buru-buru mengantar makan siang untuk suamimu.”

Joana mengangguk riang. “Gumawo, Albert-ssi.”

“No problem,” kata Albert sebelum mobil itu melaju kembali. Tatapan mata Joana mengiringi kepergiannya sampai mobil itu menghilang di kelokan.

“Oh… akhirnya kau pulang juga,” sambut Mina saat Joana memasuki rumah.

“Waeyo, Nany?” Joana jadi heran melihat tingkah ibu asuhnya. “Aniyo,” jawab Nany.

“Makanan sudah siap satu jam yang lalu tapi kau tidak datang-datang,” terang Mina. Joana segera menyadari kesalahannya. “Tadi aku membeli kemeja untuk Oppa.”

Mata Mina segera mengamati bungkusan yang ditenteng Joana. “Sini, Nany bungkuskan dengan stelan jasnya,” kata Mina sambil merebut bungkusan itu.

“Gumawo, Nany. Jangan sampai ketahuan Oppa, Ya?”
“Beres!” pasti Mina Im. “Sekarang kau antar makan siang buat suamimu itu. Jangan sampai maagnya kumat lagi gara-gara telat makan.”

Joana terbahak mendengar ucapan Mina. Dua hari yang lalu, Aldian memang terkena maag gara-gara telat makan. Suaminya itu memang sering tidak memperhatikan kesehatan jika kelewat sibuk. Terburu-buru Joana menuju halte bis. Menumpangi bis untuk pergi ke ruko mereka.

“Jangan lupa kau juga makan,” Joana mengingat pesan Nany sebelum pergi tadi. Wanita paruh baya itu menyisipkan sekerat roti isi daging yang sekarang ini dimakan Joana di dalam bis.

“Mengantar makan siang, Nyonya Lee?” tanya Pak Jung yang kebetulan bertugas di bis yang Joana tumpangi.

“Ne, Ajhussi,”

Pak Jung tersenyum melalui kaca spion. Dalam hati kagum pada keromantisan pasangan ini. Sungguh suami-istri yang serasi. Doa selalu dipanjatkan untuk mereka agar kebahagiaan selalu menyelimuti.

“Gumawo, Ajhusi,” ucap Joana sambil menuruni bis. Ruko tempat usaha Aldian kini sudah berada di depannya. Perlahan dia memasuki bangunan itu. Menuju kantor suaminya.

Agak ragu, diketuknya pintu ruangan Aldian. Dia sudah tahu dari para pekerja kalau suaminya itu sedang ada tamu. Nicky-lah tamu yang dimaksud. Pria itu memang lebih berlaku sebagai humas, menggiring konsumen yang dibutuhkan di usaha ini.

“Masuk!” suara dari dalam memerintah yang diyakini Joana sebagai suara suaminya. Mereka menghentikan obrolan saat Joana memasuki ruangan dan mendekati Aldian. Mata Nicky membulat seketika. “Wow, mataku jadi segar karena kehadiranmu, Nona manis,” canda pria flamboyant itu yang membuat Aldian agak cemburu.

“Apa maksudmu dengan nona?” protes Aldian sambil menarik lengan istrinya agar terduduk di sampingnya.”Nona manis yang kau maksud ini adalah Nyonya Lee, istriku,” lanjut Aldian sambil mencium  pipi Joana. “Suapi aku, Yeobo,” bisiknya. Rona merah segera tampak di pipi Joana.

Nicky terbahak seketika. “Ottoke? Kau terima job mencetak buku Andrea Yoo?” tanya Nicky.

Joana sudah mulai membuka bekal yang dibawanya. “Bukankah novelis itu sudah punya penerbit tetap?” respon Aldian. Joana menyodorkan salah satu rantang pada Nicky. Pria itu menampik halus tawarannya, “Aku sudah makan di kantor tadi, Joan.”

“Ne, tapi dia memutuskan kontrak,” terang Nicky kemudian.
“Waeyo?” tanya Aldian.  Joana menyodorkan sendok yang berisi makanan ke dekat mulutnya. Mau tak mau Aldian membuka mulut, menerima suapan itu. Nicky jadi menahan tawa karenanya.

“Editing di penerbit itu suka asal memotong kalimat-kalimat penting sehingga dia memutuskan untuk menerbitkan bukunya sendiri,” terang Nicky, masih sambil mengamati Joana yang terus menyuapi Aldian. Sebenarnya yang berumur belasan tahun di sini siapa, sih? batin Nicky.

“Jadi ini buku baru?” pasti Aldian  sambil mengunyah makanan di mulutnya.

“Ne,” angguk Nicky.”Dia juga mengharapkan kita mengedit bukunya kalau bisa.” Aldian jadi memandang serius ke arahnya.”Editing?”

Nicky mengangguk. Aldian jadi tidak habis pikir,”Usaha kita adalah percetakan dan desain grafis, bukan pengedit buku.”

“Joan bisa, Oppa,” kata Joana tiba-tiba. Kedua pria itu segera beralih pandang ke arahnya. “Jangan main-main, Yeobo,” peringatan Aldian.

“Joan sering melakukan itu waktu di senior high school, mengedit artikel yang masuk di majalah sekolah,” yakin Joana. Aldian jadi menghela nafas. “Itu lain, Chagiya… Kau tidak kenal siapa Andrea Yoo? Dia novelis terkenal. Jika editor kenamaan saja dia tolak, bagaimana denganmu?”

“Apa salahnya kita coba, Aldian-ssi?” keputusan Nicky itu membuat Aldian terperanjat. “Jangan gila, Nick.”

Nicholas Jang tertawa. “Anhi. Aku tahu siapa Andrea Yoo. Selama ini dia selalu ingin menampilkan bahasa khas anak muda di setiap bukunya. Dan kau tahu Editor-editor di penerbit sebelumnya? Rata-rata umur mereka sudah tiga puluh ke atas, mereka selalu menggunakan bahasa baku juga. Karena itu seperti yang Andrea Yoo bilang, mereka selalu asal memotong kalimat-kalimat penting. Sedangkan Joana….,”

“Umurnya masih muda,” lanjut Aldian sambil mengamati istrinya.
“Ne,” sambung Nicky. “Kita perkenalkan saja mereka berdua dulu.”

Aldian masih ragu dengan keputusan ini. Pertama, sifat pria konservatif yang tidak mengijinkan sang istri bekerja masih melekat di dirinya. Kedua, Joana selama ini sudah sibuk dengan kegiatan menjahitnya. Ketiga, Joana masih kuliah. Dia takut kegiatan ini mengganggu kuliahnya. Pria ini masih saja memandangi istrinya, menimbang-nimbang sesuatu.

Joana menggenggam tangan Aldian. Perasaan hangat tersalur bersamaan genggaman tangan mungil itu. “Percayalah, Oppa… Joan bisa. Joan janji tidak akan kerepotan,” janji Joana untuk meyakinkan Aldian.

“Ottoke, Chingu?” tanya Nicky. Aldian mendengus. Matanya tertutup sebelum memutuskan,”Oke, kita coba.”

Nicky mengangkat tangannya, mengajak Joana melakukan tos. Telapak tangan keduanya beradu tepat di hadapan Aldian. “Kalian sekongkol?” tanya Aldian curiga.

“Bo? Ketemu istrimu saja baru hari ini,” kata Nicky.

“Oke, Joana menangani editing.”

“Andrea Yoo ingin editing selesai selama satu minggu,” Nicky mengumumkan fakta itu. Aldian semakin kaget. “Kau pikir istriku mesin editing?”

“Joan bisa, Oppa,” protes Joan. Jari Nicky jadi menunjuk ke arahnya, “Kau dengar itu?”

Aldian mengibaskan tangan. “Terserah kalian, lah…”

“Joan mengurus editing. Yong Hwa mengurus desain bukunya. Dan kau….,” kalimat Aldian terpotong oleh ucapan Nicky, “Wow, wow, jangan beri aku tugas, Aldian-ssi. Aku sudah sangat sibuk di kantor pencatatan sipil. Bukankah aku sudah membawakan klien besar, Andrea Yoo untukmu?”

Aldian jadi mencibir karenanya.”Kau ini….,” lalu mendesah mengingat tingkah Nicky yang sok jadi penanam saham di bisnis ini.”Oke, aku yang menangani proyek di majalah modeling.”

“Mo..mo…modeling?” Joana jadi gelagapan. Dia tidak menyangka Aldian menerima proyek pencetakan majalah  modeling itu. Itu berarti Aldian akan bertemu dengan model-model cantik. Hatinya merasa cemburu.

“Jangan kawatir, Yeobo,” bisik Aldian seakan tahu kegundahan istrinya, “Berjuta wanita cantik di luar sana, hanya kau-lah yang tercantik bagiku.” Lalu mencium lagi pipi Joana.

“Yah… kalian membuatku iri. Lebih baik aku kembali ke kantor saja,” protes Nicky. Aldian jadi terbahak.”Salah sendiri tidak segera menikah,” ejeknya.

Pria flamboyant itu mulai bertingkah konyol, “Well, sayang jika aku menjatuhkan pilihan sekarang, Chingu… Kau tahu? Eva bibirnya sensual, Jessy bokongnya bagus, Lidya bermata indah, Liza payudaranya….,” Nicky menghentikan kalimat untuk menggerak-gerakkan tangannya di dada.  Joana melotot melihat tingkahnya. Dasar playboy, pikirnya. Dia jadi cemas jika Aldian terus-terusan bergaul dengan pria ini.

“Tapi yang paling penting…,” kata Nicky sambil berjongkok didepan  Joana. Pria itu mengangkat tangan kanan Joana dan menciumnya lembut,” karena wanita yang masuk criteria wanita idamanku ini sudah menjadi istrimu.”

Aldian segera menarik tangan Joana yang dipegang Nicky. Wajah Joana memerah menahan malu. Sementara Aldian menatap Nicky galak, pria itu malah ngakak berjalan ke arah pintu. “Aku serius dengan ucapanku. Kalau dulu kau tetap menikahi Jenifer, aku yang akan menikahinya.”

Aldian yang geram melempar bantal sofa ke arah Nicky. Nicky berhasil menghindar dengan sekali elakan. “Aku pergi dulu, anyong!”

“Bukankah Nicholas Jang  berpacaran dengan Chintya Uni ?” tanya Joana. Aldian agak terkesiap mendengar nama Chintya disebut. Sebulan setelah pesta ulang tahun  Joana, Nicky mengabarkan kalau Chintya marah besar, memergoki playboy itu bermesraan dengan model yang bernama Elizabeth Kim.

“Hubungan mereka sudah berakhir,” jawab Aldian.
“Berakhir?” Joana sama sekali tidak percaya dengan berita Aldian.
“Nicky terlalu playboy. Pria itu sudah menganut pergaulan bebas sejak dari kelas senior.”

Aldian jadi teringat malam gilanya bersama Chintya. Wanita itu sama sekali tidak mau ditemui setelah itu. Hanya dari Nicky, Aldian tahu kabar Chintya tapi setelah pasangan itu putus, Aldian kehilangan jejak. Chintya seperti sengaja memutuskan tali silaturahmi dengan orang-orang yang dikenalnya dan waktu akhirnya berjalan begitu cepat. Pernikahan mendadak dengan Joana, membuat Aldian melupakan Chintya. Kini istrinya menyebut-nyebut wanita itu, mau tak mau Aldian teringat kembali dosanya dan itu membuahkan ketakutan hingga Aldian memeluk Joana erat-erat.

“Waeyo, Oppa?” Joana sama sekali tidak mengerti alasan Aldian memeluknya. Tergagap, Aldian berkilah, “Anhi. Berjanjilah kau selalu di sampingku apa pun yang terjadi, Yeobo,”

Aldian memandang istrinya penuh pengharapan. Dia tak sangggup mengatakan pada Joana tentang peristiwa itu. Dia takut kehilangan istri mungilnya. Joana mengangguk, menyunggingkan senyum manis yang membuat hati pria itu menyejuk bagai tertetes embun. Sekali lagi mereka berpelukan, lebih erat dari yang pertama. “Joan akan selalu menjadi istri Oppa. Seumur hidup hanya bersama Oppa. Percayalah…”

Kepercayaan… hal yang selalu ingin dibangun dalam hubungan keduanya. Bahkan setelah kini Aldian sibuk dalam proyek bersama majalah modeling. Beberapa kali pria ini menerima rayuan dari para model iseng. Hal yang sangat menjengkelkan baginya.

“Call me, Honey,” kata salah satu model yang bernama Jessica sambil menjejalkan secarik kertas di saku kemejanya. Aldian hanya tersenyum tipis. Saat model itu berlalu, Aldian menyobek-nyobek kertas itu tanpa membacanya.

 Aldian lebih suka bertemu langsung dengan pemilik majalah modeling itu,  karenanya, dia selalu langsung menuju kantor Nyonya Han tiap ke gedung perkantoran majalah itu. Langsung bicara bisnis tanpa berbasa-basi. Keduanya memang sudah menikah dan menjunjung tinggi lembaga pernikahan. Nyonya Han juga sangat memuja suaminya. Pernikahannya dikaruniai dua anak yang sudah menginjak dewasa, salah satu anaknya seusia Joana.

“Salam untuk istrimu, Tuan Lee,” kata Nyonya Han setiap mereka akan berpisah. “Saya puas dengan hasil jahitan istrimu yang terakhir.” Nyonya Han  juga merupakan pelanggan tetap usaha tailor Joana.

Aldian mengangguk sebagai jawaban. Sekali lagi keluar dari ruangan Nyonya Han, menelusuri lorong untuk keluar gedung dan berpapasan dengan model-model centil.

“Kau sama sekali tidak menelponku?” goda Jessica. Mau tak mau Aldian satu lift dengan model ganjen ini sekarang. Pria itu tersenyum tipis dengan pandangan penuh penolakan.

“Waeyo?” Gadis ini tetap saja tak tahu malu dengan bergelayut mesra di leher Aldian. Pria itu melepaskan diri agak kasar lalu menunjukkan jari manis  kirinya yang bercincin, “Aku pria yang sudah menikah, Jess,” bentak Aldian sambil menekankan tiap perkataannya. Aldian cepat-cepat keluar lift walau pun lantai yang dituju belum tiba.

Sementara itu, Joana….

“Joana, Andrea. Andrea, Joana,” kata Nicky memperkenalkan Joana pada Andrea Yoo. Wanita itu tersenyum menjabat tangan Joana.”Senang berkenalan dengan anda, Joana Goo.”

“Begitu juga saya, Nona Yoo,” balas Joana.

“Aku harap kalian bisa bekerja sama,” kata Nicky. Keduanya merespon bersamaan, “Tentu.”

Kesibukan sebagai editor buku Andrea, membuat Joana harus menyambangi kediaman novelis itu setiap sore. Hal itu mungkin sederhana jika Andrea tinggal sendiri. Yang jadi masalah adalah Kakak Andrea, Damian, yang menaruh hati pada Joana.

“Apakah kalimat ini sesuai?” tanya Joana pada Andrea yang duduk di depannya ketika mengunjungi Yoo Manshion untuk kesekian kalinya.

“Kehampaan menyelimuti hati pria yang menduda selama tiga belas tahun itu,” ucap Andrea membaca tulisan Joana.

“Ne, otoke?” tanya Joana lagi. Andrea berpikir sejenak. “Ini bagus, aku bahkan tidak memikirkan kata ‘kehampaan’ sebelumnya.”

“Kehampaan di hati Oppa selama tiga belas tahun,” bisik Joana ngelantur.
“Mwo?” Andrea tidak mengerti maksud kalimat lirih itu. Joana jadi mengibaskan tangan sambil tersenyum, “Aniyo, Uni.”

Obrolan mereka terhenti saat pelayan mendekat, memberitahukan adanya telephon yang mesti diangkat Andrea. “Aku angkat  telephon dulu, Joan-a. sepertinya penting.” Novelis itu meninggalkan ruangan setelah lawan bicaranya mengangguk. Di saat itulah, Damian yang sudah lama mengamati gerak-gerik mereka memasuki ruangan. Mendekati Joana dengan gaya yang membuat muak. “Sore, Cantik.”

“So…so..re, Damian-ssi.” Joana selalu ketakutan jika pria ini mendekat. Alarm hatinya selalu memperingatkan kalau pria ini memandang penuh nafsu padanya.

Benar juga. Pria itu semakin mendekat, hidungnya membaui tubuh Joana dan membuat gadis itu menyusut untuk menghindar.”Kau selalu menawan, Cantik…. Aku suka bau parfummu,” puji Damian.

Ya, Tuhan. Selamatkan saya dari pria gila ini, doa Joana dalam hati.

“SUAMI  saya yang memilihkan parfum ini,” ujar Joana dengan menekankan kata ‘Suami’

Damian tertawa ngakak. Dia berjongkok di depan Joana dan memandang lekat-lekat. “Suamimu…. Aldian Lee… pria yang menduda selama tiga belas tahun karena ditinggal mati kakak perempuanmu itu?”

Joana mengangguk takut,”I… iya,”

“Apa yang kau lihat dari pria itu, Joana Goo?” selidik Damian dengan kerling menggoda. Joana menarik nafas lalu menghembuskan perlahan. “Kepercayaan,” kata Joana tiba-tiba.

“Mwo?”

“Saya percaya kalau suami saya… Aldian Lee… bisa mencintai saya setulus hati. Saya percaya kalau dengannya, saya bisa mendapatkan kebahagiaan dimana pun kami berada. Dan saya percaya jika takdir menghendaki kami bersama selamanya.”

“Jinja?” Damian masih saja menggoda Joana.
“Ne,” Kali ini Joana berdiri di depan Pria itu. “Anda tahu makna kata ‘percaya’, Damian Yoo-ssi?”

Damian berdiri juga. Tangannya berusaha mengelus pipi Joana tapi segera ditepis gadis itu.

“Seperti kau mempercayai Tuhan. Kau selalu melakukan perintahnya dan menjauhi larangannya tanpa bertanya atau mempertanyakan lebih lanjut, Damian-ssi,” ucap Joana dengan mata berkilat.

Keberuntungan bagi Joana karena Andrea memasuki ruangan itu kembali. “Jadi… bisa kita lanjutkan?”

Joana memandang Andrea sembari tersenyum. “Ne, Andrea-ssi. Kita lanjutkan, saya harap semuanya selesai sebelum suami saya menjemput.”

Kedua wanita itu kembali ke tempat semula. Damian meninggalkan ruangan dengan hidung tersungut dan rahang mengeras. Joana sudah memutuskan, hari ini dia akan menyelesaikan semuanya dengan Andrea sehingga tidak perlu mengunjungi Yoo Manshion lagi dan sejujurnya… sudah menjadi niatnya untuk menjadikan kunjungan sore ini  sebagai kunjungan terakhir.

Proses editing novel Andrea Yoo selesai dalam waktu empat hari. Sang novelis terlihat puas dengan perubahan tata bahasa yang terjadi. Naskah naik cetak lebih cepat dari yang diperkirakan, hingga peluncuran perdananya di sebuah toko buku di pusat kota berjalan semarak.

“Terima kasih pada Joana Goo, yang membantu saya dalam editing buku ini. Sungguh pengalaman yang mengesankan mengingat baru kali ini saya menerbitkan buku sendiri,” pidato Andrea Yoo pada acara itu. “Saya harap kita bisa bekerja sama lagi di kesempatan yang akan datang.”

Hadirin bertepuk tangan riuh. Sementara Joana Goo tersenyum tipis, merasa enggan jika harus mengunjungi Yoo Manshion lagi karena keberadaan si brengsek Damian. Tapi setidaknya DIGIPRO memperoleh banyak keuntungan dari proyek ini, batin Joana saat mengapit lengan Aldian.



BERSAMBUNG


MOOD GUE HILANG BUAT MP GARA-GARA CUCAK ROWO  [hmpfh]
« Last Edit: May 21, 2011, 09:37:07 pm by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]