Poll

kira-kira lagu apa yang cocok buat MP Aljoana

"Wonderful Tonight" By Eric Clapton
3 (18.8%)
"Baby Can I Hold You Tonight"  By. Boyzone
3 (18.8%)
"One Night" By The Corrs
10 (62.5%)
terserah author (glodak!)
0 (0%)

Total Members Voted: 16

Author Topic: Re: THE MAESTRO (chapter 22 ---- 31 Juli 2011)  (Read 35109 times)

Offline zHIe_rIsa

  • Junior
  • **
  • Posts: 151
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 14 --- 22 May 2011)
« Reply #780 on: May 24, 2011, 04:03:34 am »

pokoke setelah MP, cerita nyesek dimulai.
[/quote]

baca tulisan 'cerita nyesek dimulai' nggak kebayang nasib Joana. Pasti sakit perasaannya.. Nangis tersedu-sedu setiap malam di kamar mandi  [what] [what] [hmpfh]

Kenapa Aldian nggak jujur aja sikh, kejujuran kan penting dalam sebuah hubungan  [goodgrief]
Jika aldian dah jujur,  Joana bisa ngerti dan siap mental kalau Chintya muncul di kehidupan mereka.




Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 14 --- 22 May 2011)
« Reply #781 on: May 24, 2011, 09:44:04 pm »
kasi semangat dulu buat author...
SEMANGATTTT YA [clap] [clap] [clap]
[/size][/color][/b]

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 14 --- 22 May 2011)
« Reply #782 on: May 25, 2011, 01:05:41 am »
oke konflik dimulai, siap-siap nyiapin tabung oksigen biar gak nyesek ngeliat unni joan  [cry] [cry] [cry], oh iya buat sound aku dah vote, milih terserah author aje dah  [hmpfh]

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 14 --- 22 May 2011)
« Reply #783 on: May 25, 2011, 11:06:39 am »
Sist sisi udah jarang mampir kesini,kok gw jd kangen sm mylil sista [heh] [goodgrief]
[/size][/color][/b]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 14 --- 22 May 2011)
« Reply #784 on: May 26, 2011, 08:29:08 am »
 [AddEmoticons04224] [AddEmoticons04224] iya... musti siap-siap tissu berlembar-lembar  [hmpfh] [hmpfh]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 14 --- 22 May 2011)
« Reply #785 on: May 26, 2011, 12:29:04 pm »
Apapun yg terjadi tetap jadi pendukung setia Aljo YeAy [smiley-gen013] [smiley-dance013]
[/size][/color][/b]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 14 --- 22 May 2011)
« Reply #786 on: May 27, 2011, 09:33:10 am »
awas ya ,ntar lo pada protes dan FF ku di band  [AddEmoticons04236]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline dalbyeol

  • Senior
  • ****
  • Posts: 803
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 14 --- 22 May 2011)
« Reply #787 on: May 28, 2011, 06:20:02 am »
onnie...gumawo,dh d update [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] (biarpn telat,tetep hrs ngasih koment [hmpfh])

Joana bantu2 suami nih,critanya...good wife [AddEmoticons04246]

msh bahagia...wlopn blm ambles [hmpfh]...tp,gw msh blm tenang coz si Chintya msh trs membayangi (kasian Joana...coba,bang Aldian ngaku aja...jujurlh pd istrimu,bang [sweat])

next chap...mdh2an mood MP-nya Sisi-onnie kembali dgn selamat sentosa [hmff]

HWAITING,onnie [AddEmoticons04262]


And I'll never promise to
be true to anyone,unless it's you...The Day I Fall in Love

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 14 --- 22 May 2011)
« Reply #788 on: May 28, 2011, 08:34:21 am »
THE MAESTRO
Chapter 15






"One Night"

by. The corrs

Long day and I'm ready
I'm waiting for your call
'Cause I've made up my mind
My heart aches with a hunger
And I want that you were mine
No I cannot deny

So for one night
is it all right
That I give you

My heart
My love
My heart
Just for one night
My body
My soul
Just for one night
My love
My love
For one night
One night
One night

When morning awakes me
Well I know I'll be along
And I feel I'll be fine
So don't you worry about me
I'm not empty on my own
For inside I'm alive

That for one night
It was so right
That I gave you

My heart
My love
My heart
Just for one night
My body
My soul
Just for one night
My love
I loved
For one night
One night
One night

<Guitar Solo>

For one night
It was so right
That I gave you

My heart
My love
My heart
Just for one night
My body
My soul
Just for one night
My love
I loved
For one night
We loved
One night
One night
One night

Hari ulang tahun Aldian tiba sedangkan pria itu sudah meninggalkan rumah pagi-pagi buta. Sepertinya dia melupakan hari kelahirannya. Hal itulah yang terlihat oleh Joana saat Aldian mencium keningnya pagi ini. “Aku pergi dulu, Yeobo.”

Joana yang sedang mengolesi roti dengan mentega terkejut. “Oppa belum sarapan,” teriaknya sambil mengejar Aldian di pintu depan.

“Sudah tidak ada waktu lagi, aku harus mengejar kereta pertama ke Bussan,” celoteh Aldian sambil mengenakan Jasnya. Sekali lagi diciumnya kening sang istri,”Nanti aku ceritakan hasilnya.”

“Tapi…,” kalimat Joana terputus karena Aldian sudah melesat menuju halte bis. Joana menutup pintu sambil mayun. Mina Im menertawakannya saat di dapur. Gadis itu duduk di bar table, berpangku dagu.

“Setidaknya dia tidak mengganggu kita mempersiapkan pesta kejutan, Joan,” kata Mina Im. Joana mendongakkan kepala, menyetujui perkataan Mina Im dalam hati. “Nany benar. Kita siapkan semuanya sekarang, Nany,” lonjak Joana girang.

“Kau tidak kuliah?” tanya Mina. Joana mengibaskan tangannya,”Sekali-kali bolos tak ada salahnya, kan.”

“Aush. Kau ini…,” goda Mina sambil mencolek dagu Joana. Gadis itu tersenyum-senyum senang.

Mereka mempersiapkan semuanya dengan keriangan hati, terutama Joana. Dia bekerja sambil bersenandung. Menghiasi ruang demi ruang rumah itu dengan kerlap-kerlip warna ceria.

“Kamar Nany tidak usah dihias, Joan,” larang Mina Im saat Joana akan membuka pintu kamarnya.

“Tapi, Nany.”

“Nany akan menginap di rumah keluarga Chang saja nanti malam.”

“Waeyo, Nany?” Joana mengekori Mina menuju dapur. Wanita paruh baya ini sedang mengolah daging agar terasa lembut.

“Ini malam kalian berdua,” ucap Mina Im sambil mengoleskan bumbu di daging ham. “Bersenang-senanglah tanpa gangguan.”

Joana menduduki kursi di depan bartable sambil menunduk. Mina jadi keheranan melihatnya. Sepertinya ada yang ingin Joana bicarakan tapi ragu-ragu.

“Nany…,” panggil Joana.
“Ne?”

Joana menghela nafas. Kening Mina Im jadi berkerut, “Waeyo?”

Masih ada keraguan di wajah Joana saat gadis itu mengibaskan tangan sambil berkata cepat, “Aniyo.” Kemudian ngeloyor pergi, membereskan potongan-potongan kertas yang dia tinggalkan di ruang tengah.

Aneh juga, anak itu, pikir Mina Im sambil mengocok telur.

“Nany, Joan bingung.”

Mina Im agak melonjak, kaget karena Joana tiba-tiba sudah di depannya lagi. Dia jadi mengelus dada, “Kau membuat Nany jantungan saja.”

“Nany…,” gadis itu merengek di depannya. “Joan takut.”

“Takut? Wae?” Mina semakin bingung.

“Joan…. Joan….,” gadis itu masih ragu-ragu. Tangannya memilin-milin ujung rok gugup.

“Kau ini kenapa, Sayang?” tanya Mina tidak sabar.

“Nany…, Joan takut kalau di rumah sendiri sama Oppa.”

Gubrak! Dunia serasa runtuh bagi Mina Im. “Kau ini apa-apaan, Joan. Kau bahkan sudah tinggal semalam dengannya sebelum Nany menyusul kalian ke sini.”

Joana meloncat-loncat kecil menghilangkan kegugupan. “Nany…,” rengeknya sambil menarik-narik lengan baju Mina. “Joan takut Oppa mengajak Joan… e… e…”

“Maksudmu sex?” pasti Mina Im. Joana mengangguk cepat. Sang pengasuh melongo seketika,”Jadi kalian belum pernah melakukannya?”

Joana mengangguk. Mulut Mina semakin ternganga.

“Joan takut jika Oppa mulai menyentuh. Jantung Joan jadi berdetak cepat sekali, lalu perut Joan serasa ngilu. Joan tidak berani membayangkannya.”

Mina Im ngakak seketika. “Tidak perlu dibayangkan, Sayang… tapi harus dilakukan.”

“Apakah harus?” potong Joana dengan tatapan sungguh-sungguh.

“Ne,” angguk Mina Im. “Jika kalian tidak melakukannya, bagaimana kalian bisa punya anak? Kau sendiri pernah bilang ingin melahirkan anak-anak Aldian, bukan?”

Joana terisak. Mina menghela nafas karenanya. Sejenak dia meninggalkan aktifitas memasaknya untuk mengelus lembut kepala Joana yang menunduk itu. “Dengar, Sayang,” panggil Mina sambil mendongakkan wajah momongannya itu. “Serahkan saja segalanya pada suamimu. Biasanya pria-lah yang membimbing istrinya saat pertama kali melakukan itu.”

“Tapi Joan takut, Nany.”

Mina Im tersenyum lembut. “Tanggalkan ketakutan itu, Sayang.  Karena setelah ketakutan itu ada sorga di sana. Araso?”

“Apakah ini seperti Sorga yang dijanjikan pada mujahid perang?” tanya Joana. Sekali lagi Mina Im tertawa, “Bukan, Sayang. Tapi sorga yang dijanjikan pada Ibu yang melahirkan anak-anaknya. Kau tahu, kan bagaimana perasaan Ibu setelah anak-anaknya lahir?”

Joana mengangguk.

“Seperti itulah sorga itu nantinya. Kebahagiaan,” pasti Mina Im.
“Memangnya apa yang akan terjadi, Nany?”

Agak susah Mina Im menjelaskannya. Tapi kalimat demi kalimat akhirnya meluncur dari bibirnya dan Joana mendengarkannya dengan sungguh-sungguh.


(Author’s  note : Ku jadi ingat cerita mantan atasanku tentang ‘Si gadis rujak’.  Begini ceritanya, dahulu kala, ada seorang gadis lugu yang dijodohkan dengan seorang pria. Singkat kata, pernikahan akhirnya berlangsung dan malam pertama di depan mata. Si gadis rujak mondar-mandir di depan kamar pengantin tampak takut dan bingung. Sang Ibu yang tahu hal itu bertanya padanya dan dia menceritakan ketakutannya. Sang Ibu mengusulkan suatu solusi kalau dia akan mengawasi si gadis rujak dari luar kamar, caranya begini, jika suami gadis rujak mulai mencium, si gadis harus berteriak, ‘Mangga.” Jika suami sudah mulai membuka bajunya, sang gadis rujak harus berteriak, ‘Pepaya.” Begitu seterusnya sampai semua buah di sebut. Dan akhir cerita sang ibu heran, saat didengarnya sang putri berteriak dari dalam kamar, “Rujak! Rujak!”

Kok rujak, sih? ya iyalah… rujak kan campuran dari buah-buahan di atas. Hehehe)

(Plak! Digablok reader! Note gak penting!!! Lanjutin gak, ceritanya?)

(Author: Iya… iya…, tapi sampai di mana tadi, Ya? )


Susah payah pula Joana menerima penjelasan dari Mina Im. “Kau jelas sekarang, Joan?”

Gadis itu mengangguk. Mina Im menatapnya sungguh-sungguh. “Mai-mai hanya mengajarimu tentang cara menjadi istri yang pengertian. Aku heran kenapa dia tidak mengajarimu tentang ini. Ah, tentu saja. Dia adalah wanita kolot yang beranggapan masalah tempat tidur tabu untuk dibicarakan,” urai Mina menyimpulkan.

“Sekarang kita lanjutkan kerja kita. Semua harus sudah selesai sebelum suamimu itu datang,” perintah Mina. Joana mengangguk lalu menuju ruang tengah.

Semuanya rampung tepat pukul empat sore. Aldian sudah menelphon, mengabarkan akan sampai di rumah jam tujuh malam. Masih ada tiga jam lagi waktu yang tersisa. “Mandilah sekarang, Joan!” perintah Mina.

“Masih lama, Nany. Nanti saja,” elak Joana.

“Mandi sekarang! Berlama-lamalah di bathtube sampai otot-ototmu tidak tegang. Lalu akan ku dandani kau.”

“Berdandan?”

“Ne, kita buat agar penampilanmu agak menggoda,” Mina Im jadi tertawa membayangkannya. Joana mengkerutkan dahi. “Aniyo!” kilah wanita paruh baya itu. “Mandi sana, gih!”

Joana mengangguk. Hal yang paling mewah di rumah ini adalah Jakuzi di kamar mandi pasangan itu. Sungguh aneh karena keduanya jarang menggunakan karena sama-sama sibuk. Karena perintah Mina Im, Jakuzi itu menawarkan kemewahan mandi bagi tubuh Joana. Gadis itu bermain-main busa yang dihasilkan sabun ‘Karissima’  setelah mencuci rambutnya dengan shampoo bermerk sama.

“Sudah satu jam, Sayang,” teriak Mina dari luar. Joana terpaksa menghentikan keasyikkannya. Perlahan pintu kamar mandi terbuka, Joana muncul dengan tubuh terlilit handuk dan rambut basah yang tergerai.

“Duduk di sini,” Mina Im menggiring Joana ke kursi di depan meja rias. Joana heran pada kehadiran Mei di situ. “Anyong, Joan-a.”

Kedua wanita itu mengamati Joana dari atas ke bawah.

“Gaya klasik cocok untuknya. Bagaimana menurutmu, Mina?”
“Ne, aku setuju,” mereka membicarakan Joana.
“Oke, kita mulai.”

Keduanya memulai proyek yang sudah direncanakan sebelumnya. Mendandani Joana menjadi bak ratu sejagad. Mina mengurusi tata rias, sedangkan Mei mempermak rambut Joana. Gadis itu merasa geli saat kuas bermain-main di wajahnya. Dengan terpejam mengira-ira apa yang dilakukan Mei-mei pada rambutnya.

“Buka matamu, Sayang,” perintah Mina saat semuanya selesai. Joana ingin bercermin, tapi kedua wanita itu menutup cermin di meja rias. Mei mengolesi lengan dan kaki Joana dengan lotion. “Kau memang wanita yang dikaruniai kecantikan luar biasa walau pun kurang bisa berdandan.”

“Ne, lihat saja penampilannya yang polos bak anak sekolahan itu setiap hari,” omel Mina.

Mei tertawa. “Tanpa berdandan saja, Aldian sudah tergila-gila padanya,” protesnya.

“Karena itu kita buat Aldian tambah tergila-gila padanya,”

Dahi Joana berkernyit mendengar kalimat mina yang terakhir. Mina Im memamerkan gaun merah yang menjuntai di depannya. “Saatnya sentuhan terakhir.”

Mei tertawa renyah,”Belum, ini belum yang terakhir.”

“Pakailah gaun ini, Sayang.”

Joana menimang-nimang gaun di depannya. “Terlalu terbuka, Nany,” tolaknya.

“Ini hadiah dari kami. Tidak sopan jika kau menolaknya,” Mei memandang galak. Mau tak mau Joana mengenakan gaun itu. Gaun sutra berwarna merah menyala tanpa lengan, berpotongan leher rendah, dan memamerkan kemulusan punggung Joana saat Mina membantu menarik resleting di belakang gaun.

“Nah, sekarang benar-benar yang terakhir,” kata Mei sembari menyodorkan sepasang sepatu berwarna senada dengan gaunnya. Joana memakai sepatu itu hingga tampak tubuh mungil itu menjuntai anggun. Kekaguman terpancar pada pandangan dua wanita paruh baya di depannya, menatap hasil karya mereka.

“Perfecto,” gumam Mina Im.
“Ne,” perkataan Mei mengamini Mina Im.

Jam dinding berdentang delapan kali. Rupanya mereka lupa waktu. “Ya, Tuhan. Untung saja Aldian terlambat pulang.” Mina menepuk jidat.

“Ayo kita ke rumahku, Mina. Kau sudah berkemas, kan? Jangan sampai ada barangmu yang ketinggalan dan harus mengambilnya saat mereka berduaan,” pesan Mei. Mina tertawa menutupi mulut. “Jangan kawatir, Chingu.”

“Nany…, boleh Joan bercermin?” rengek Joana. Mei-mei melarang keras,”Biarkan Aldian yang pertama melihat ini.”

“Kacha, Mei,” ajak Mina.

“Jangan lupa nyalakan lampu spiritusnya untuk memanaskan sup,” pesan Mina sebelum menutup pintu depan. Joana mampu melihat dari jendela, kedua wanita itu berjalan beriring menyeberangi jalan menuju rumah Chang Dong Wook.
 
Perlahan Joana melangkah ke ruang tengah. Gaun panjang itu menjuntai ke tanah saat dia berjalan. Seperti perintah Mina tadi, dinyalakannya lampu spiritus untuk memanaskan sup. Selain sup, hidangan lain juga sudah tersaji di atas meja makan. Joana melihat hanya ada dua kursi di situ. Rupanya Mina sudah menyiapkan semuanya. Pesta itu bukan hanya kejutan bagi Aldian, tapi ternyata juga untuk Joana.

Kotak terbungkus indah tergeletak di atas piano. Itu adalah kado berisi stelan jas, kemeja dan dasi yang sudah lama dipersiapkannya. Saat menatap kado itu, siluet bayangan dirinya terpampang jelas lewat jendela kaca. Joana jadi menepuk-nepuk pipi. Wanita bergaun merah panjang dengan rambut tergerai yang agak bergelombang berdiri di situ. Benarkah ini aku? Batin Joana tak mempercayai penampilannya saat ini. Kedua orang tua itu punya selera yang luar biasa me’makeover’ Joana.

Suara pintu depan terbuka. “Yeobo, mian terlambat. Kau tidak percaya kalau keretanya mengalami keterlambatan,” kata Aldian sambil menyampirkan Jas ke kapstok di lemari samping pintu. Joana tak mendengar karena begitu tertegun dengan bayangannya sendiri.

“Yeobo?” panggil Aldian menuju ruang tengah.  Joana masih berdiri membelakanginya. Aldian mendekat perlahan. Terpana dengan penampilan istrinya walau baru mampu melihatnya dari belakang.

“Yeobo…, kaukah itu?” gumam Aldian. Dari jendela kaca itu, Joana mampu menangkap bayangan Aldian. Perlahan dia berbalik, menatap Aldian malu-malu.

“Ya, Tuhan,” desis Aldian saat sampai di depan istrinya.  Gadis itu tertunduk tak mampu membalas tatapan kagum Aldian. Tangan Aldian mendongakkan wajahnya. Kini tampak wajah ayu itu berkilau. Senyum manis tersungging di wajah itu kemudian.

“Kau cantik sekali, Chagiya,” puji Aldian.
“Jinja?”
Kecupan hangat didaratkan di kening Joana. “Ne… sangat cantik.”

“Nany dan Mei Halmoni yang melakukan ini. Saengil Chukae, Oppa,” ucap Joana. Aldian tersenyum. Lelaki itu  benar-benar melupakan ulang tahunnya.

“Aku bahkan lupa hari ini berulangtahun.”
“Ne, Joan tahu itu.”

Mereka berpelukan hangat. Aldian menciumi pundak Joana di antara pelukan itu. “Kau benar-benar kesenanganku, Yeobo.”

Joana terpaksa meregangkan pelukan. Perutnya sudah sangat lapar sekarang. “Kita makan, Oppa,” tawarnya. Aldian mengangguk mantap,”Tentu, Yeobo.” Lalu berjalan beriringan menuju meja makan.

Aldian menarik kursi untuk Joana dan baru duduk di kursinya setelah Joana. “Kau pasti mempersiapkan ini dari pagi,” ujar Aldian saat Joana menuangkan sup di mangkuknya.

“Ne, dengan bantuan Nany tentu saja,” jawab Joana.
Aldian menoleh ke sekitar ruangan.”Di mana, Nany?”

“Dimakan, Oppa,” perintah halus Joana.
“Araso.”

Aldian segera melupakan pertanyaannya perihal Mina Im. Dia tahu benar Mina Im sengaja menghindar. Dan dari keheningan rumah ini, dia berkesimpulan Mina Im sudah mengungsi ke suatu tempat.

“Hm.. daging ham ini empuk sekali,” puji Aldian. Mereka sudah menikmati hidangan utama.

“Nany memang pandai mengolah daging.”
“Kau tidak membantunya memasak, Yeobo?”
Joana menggeleng, “Aku mendekor ruangan ini dan kamar kita.”

Aldian memandang antusias. “Kamar kita? Kau mendekor kamar kita?”

“Ne, Oppa.”

“Kalau begitu ayo kita ke sana!” ajak Aldian sambil berdiri. Joana menarik lengannya dan menggeleng. “Kita nikmati sampai hidangan penutup, Oppa. Hargailah Nany yang sudah memasak.”

Aldian mendengus sebal. “Oke, kita percepat saja, mana hidangan penutupnya?”

“Araso,” jawab Joana sebelum melesat ke dapur. Sekali lagi gaunnya yang menjuntai bergerak elok menyapu tanah. Aldian menatap penuh nafsu hingga menginginkan hidangan penutup yang lain.

Dalam waktu lima menit, Joana muncul dengan Ice cream cake berlilin di tangannya. Melangkah menuju meja makan sambil bersenandung lembut , “Happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday… happy birthday… happy birthday to you.”

Wajah Aldian sumringah menatap roman ketulusan Joana. “Make a wish, Oppa,” perintahnya. Aldian memejamkan mata di depan nyala lilin itu, berdoa untuk kebahagiaan mereka kemudian meniup lilin itu sampai padam.

Kini wajah mereka hanya terpisah oleh Ice cream cake yang dipegang Joana. Keduanya saling menatap. Cake itu sama sekali tidak mendapat respon Aldian. Wajah manis Joana lebih menarik minatnya hingga dengan lembut tangannya mengambil alih cake itu untuk diletakkan di atas meja. “Aku memikirkan hidangan penutup lain, Yeobo.”

Joana menunduk. Masih diingatnya semua pesan Mina Im tadi pagi. Dia tidak boleh takut. Kebahagiaannya adalah menjadi istri Aldian dan dia ingin menjadi istri yang sempurna di ulang tahun suaminya.

Telunjuk Aldian terulur, mendongakkan wajah ayu Joana hingga tatapan mata mereka bertaut. “Inikah saatnya, Yeobo?” tanya Aldian. Joana mengangguk perlahan mengiyakan permintaan itu.

Aldian tersenyum lega. Penantian sepertinya akan berakhir malam ini. Kepala Aldian mulai mendekat seiring mata Joana yang terpejam. Waktu seakan melambat, saat bibir Aldian memberikan sensasi panas pada ciuman mereka. Sebuah ciuman yang semakin lama semakin dalam dan menuntut. Tangan kanan Aldian semakin menarik tubuh Joana mendekat, sedang tangan kirinya menyangga kepala istrinya seiring bertambah panasnya ciuman itu. Perlahan, dia bisa merasakan kedua tangan Joana merembet di sekitar lehernya, semakin membuat keduanya terbuai.

Joana bahkan melupakan kado yang sudah lama dipersiapkannya. Aldian menggendongnya menuju kamar. Sepertinya pernak-pernik di kamar itu juga tidak dia perhatikan. Bagi Aldian, joana adalah kado istimewanya malam  ini.
 
Pria itu membaringkan istrinya di ranjang. Ditatapnya Joana yang berada di bawahnya lekat-lekat. Joana menatap dengan pandangan berbinar, mengharapkan surga yang diceritakan Mina Im tadi pagi. Sesaat Aldin mencium bibir mungil itu kembali. Joana mendesah saat ciuman itu merambat ke leher dan memekik lemah saat Aldian agak menyesap.

Tanpa di sadari, tangan Aldian sudah menelusup ke bawah tubuh Joana. Menarik resleting melonggarkan lilitan gaun. Ditariknya gaun sang istri perlahan ke bawah. Keelokan dada  Joana terpampang pada awalnya, lalu perutnya yang rata dan kemudian kakinya yang indah.

Aldian menatap tubuh polos  itu dengan pandangan berkilat. Joana yang pemalu menutup mata. Dengan gerakan lambat, Aldian membalik tubuh Joana hingga tengkurap. Mata Joana terbuka di posisi ini, dia bisa merasakan Aldian menyibak rambutnya, lalu menciumi sepanjang tulang belakang  dari tengkuk merambat ke bawah. Sungguh desiran sensasional saat merasakan kelembaban bibir Aldian terasa di punggungnya. Dan saat ciuman itu terus turun ke mata kakinya, Joana sudah tak mampu menahan gejolak lagi.

Sesaat sentuhan itu berhenti. Aldian membuka baju dengan cepat mengingat nafsu yang sudah diubun-ubun. Saat dia melentangkan tubuh Joana kembali, dia sudah telanjang sepenuhnya. Joana memandang lekat, tak menyangka keelokan tubuh suaminya selama ini, dada yang begitu bidang, perut yang rata dan berlekuk-lekuk seperti sosok malaikat dalam lukisan Renaissance.

Sekali lagi, Aldian mencium bibir istrinya. Bunyi kecapan sesekali terdengar saat lidah keduanya saling bertaut. Joana menggeliat saat tangan kekar Aldian memainkan dadanya. Jantungnya berdetak cepat. Rasa ngilu di perutnya hadir kembali.

Sedapat mungkin Joana menahan rasa takut saat kepala Aldian semakin ke bawah. Matanya perlahan memejam saat Aldian mengulum dadanya. Aldian tahu sang istri begitu menikmati, tanpa sadar menggigit karena gemas.  Joana mendesis menahan sakit. Tapi Aldian belum akan berhenti.  Dia masih ingin membuai wanita itu, meneruskan ciuman di perut dan saat melihat tujuan akhir dari semua itu, batin Aldian berkata, “Inilah saatnya,”

“Inilah saatnya, Yeobo,” bisiknya pula di telinga Joana. Sedangkan Joana belum bisa mencerna maksud ucapannya tadi.

Wanita itu mendesah saat Aldian menindihnya. Membujuk untuk berbuat lebih lanjut. Joana menggelijang hebat dan menjerit saat Aldian memasukinya. Tangannya meremas sprei kuat-kuat. Susah payah, Aldian berusaha di liang yang sempit. Kadang berhenti saat di rasakan detak jantung istrinya semakin keras. “Tenang, Yeobo…. Tenang…,” bisik Aldian di telinga Joana. Diciumnya kening Joana sebelum meneruskan usahanya lagi. Kali ini dia-lah yang menjerit karena Joana menggigit lengannya untuk menahan sakit.

Saat berhasil, mulailah gerakan instens yang membuat keduanya semakin terbuai. Rasa sakit dan ketakutan yang dirasakan Joana hilang sudah, berganti dengan kebahagiaan sorga seperti yang dijanjikan Mina Im.

Aldian bahagia mendengar dengkuran Joana yang lebih menunjukkan kepuasan. Persetan dengan teori bersin dari majalah Cosmo itu. Joana bagaikan candu di kehidupan Aldian. Memberi kenikmatan yang teramat dalam di hati pria itu malam  ini.  

Hingga pada akhirnya keduanya terkapar .  Aldian merasa bahwa Joana sudah menjadi miliknya seutuhnya. Hati dan raga wanita itu telah berserah pasrah padanya. Dan saat keduanya tertidur berperlukan malam itu, Aldian merasa bagai pria yang paling beruntung sedunia.




BERSAMBUNG
« Last Edit: May 28, 2011, 09:00:12 am by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

iiuuu

  • Guest
Re: THE MAESTRO (Chapt 15 --- 28 May 2011)
« Reply #789 on: May 28, 2011, 09:35:44 am »
sesuai janji q dfb td.. aq comment dcm.. lol

waduh joan mo bkn dede.. yg bntuin buat bertempur byk ye.. wah, nany pinter bgd si ngungsi dulu..bentar hmpf..
depan blkg joan dhayati bgd ama aldian ye nie.. hmpf hmpf
wah ntr joan lgsg tekdung ga ya nie?
aq jga pernah dger nie gadis rujak... hmpf..hmpf..
next chapt ngenes ya nie?? @bhasa q, jawa gado2 hmpf..
makasi uda update onnie.. n.n   ...

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 15 --- 28 May 2011)
« Reply #790 on: May 28, 2011, 09:42:23 am »
sesuai janji q dfb td.. aq comment dcm.. lol

waduh joan mo bkn dede.. yg bntuin buat bertempur byk ye.. wah, nany pinter bgd si ngungsi dulu..bentar hmpf..
depan blkg joan dhayati bgd ama aldian ye nie.. hmpf hmpf
wah ntr joan lgsg tekdung ga ya nie?
aq jga pernah dger nie gadis rujak... hmpf..hmpf..
next chapt ngenes ya nie?? @bhasa q, jawa gado2 hmpf..
makasi uda update onnie.. n.n   ...

q gak tahu next chap gimana, lum bikin sih... thank dah baca... [flowers]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 15 --- 28 May 2011)
« Reply #791 on: May 28, 2011, 10:32:08 am »
akhirnyaa JEBOL juga [lovestruck] sisi next chap huek..huek..ya??? [hmff] [hmff] itukan janji [laughing] [laughing]

Love you more than I can say

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 15 --- 28 May 2011)
« Reply #792 on: May 28, 2011, 10:44:46 am »
akhirnyaa JEBOL juga [lovestruck] sisi next chap huek..huek..ya??? [hmff] [hmff] itukan janji [laughing] [laughing]

 [hmpfh] [hmpfh] belum tentu juga kali. [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 15 --- 28 May 2011)
« Reply #793 on: May 28, 2011, 10:49:24 am »
akhirnyaa JEBOL juga [lovestruck] sisi next chap huek..huek..ya??? [hmff] [hmff] itukan janji [laughing] [laughing]

 [hmpfh] [hmpfh] belum tentu juga kali. [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
[what] [what] belum?? brati ngegol lagi dong?? [on] [on] pan belum cetak [laughing] [laughing]

Love you more than I can say

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 15 --- 28 May 2011)
« Reply #794 on: May 28, 2011, 10:54:52 am »
akhirnyaa JEBOL juga [lovestruck] sisi next chap huek..huek..ya??? [hmff] [hmff] itukan janji [laughing] [laughing]

 [hmpfh] [hmpfh] belum tentu juga kali. [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
[what] [what] belum?? brati ngegol lagi dong?? [on] [on] pan belum cetak [laughing] [laughing]
[hmpfh] [hmpfh] kena tendangan pinalti, saeng...


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]