Poll

kira-kira lagu apa yang cocok buat MP Aljoana

"Wonderful Tonight" By Eric Clapton
3 (18.8%)
"Baby Can I Hold You Tonight"  By. Boyzone
3 (18.8%)
"One Night" By The Corrs
10 (62.5%)
terserah author (glodak!)
0 (0%)

Total Members Voted: 16

Author Topic: Re: THE MAESTRO (chapter 22 ---- 31 Juli 2011)  (Read 35256 times)

Offline apri minsun

  • Junior
  • **
  • Posts: 149
    • View Profile

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 16 --- 4 June 2011)
« Reply #901 on: June 10, 2011, 03:59:36 am »
Butuh setitik iler [AddEmoticons04272]
[/size][/color][/b]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 16 --- 4 June 2011)
« Reply #902 on: June 10, 2011, 10:00:45 am »
 [AddEmoticons04243] NO ILER


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 16 --- 4 June 2011)
« Reply #903 on: June 10, 2011, 10:04:40 am »
Ini update tiap hari minggu kah onn sisi??
Dienyang boleh??BESOK?? Hmpfh
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 16 --- 4 June 2011)
« Reply #904 on: June 10, 2011, 10:18:16 am »
next chapt adalah penentuan lanjut tidaknya ff ini,

jika warga forum tidak setuju dengan jalan ceritanya akan kubawa ff ini di blog pribadi

jadi saya harap kedewasaannya dalam menyikapi isi cerita bab selanjutnya

ingat sign awal dari ff ini.....



17+


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 16 --- 4 June 2011)
« Reply #905 on: June 10, 2011, 12:28:32 pm »
[AddEmoticons04243] NO ILER
gak ada iler update pun jd,gw ikhlas  [smiley-dance013]
[/size][/color][/b]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 16 --- 4 June 2011)
« Reply #906 on: June 10, 2011, 12:34:04 pm »
next chapt adalah penentuan lanjut tidaknya ff ini,

jika warga forum tidak setuju dengan jalan ceritanya akan kubawa ff ini di blog pribadi

jadi saya harap kedewasaannya dalam menyikapi isi cerita bab selanjutnya

ingat sign awal dari ff ini.....



17+
[AddEmoticons04217] [AddEmoticons04217] NOOO [wacko]
[/size][/color][/b]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 16 --- 4 June 2011)
« Reply #907 on: June 10, 2011, 05:38:04 pm »
next chapt adalah penentuan lanjut tidaknya ff ini,

jika warga forum tidak setuju dengan jalan ceritanya akan kubawa ff ini di blog pribadi

jadi saya harap kedewasaannya dalam menyikapi isi cerita bab selanjutnya

ingat sign awal dari ff ini.....



17+
[AddEmoticons04217] [AddEmoticons04217] NOOO [wacko]
hehe, takt kejadian ma ff~ku yg lalu terulang lagi, ku kan menceritakan kisah manusia yg tak sempurna, so kalo tokoh d sni berbuat salah, ya wajar.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 16 --- 4 June 2011)
« Reply #908 on: June 10, 2011, 06:15:34 pm »
bingung [goodgrief] update ya biar g tambah bingung [biggrin]..authorx dihammerkan g papa itu cm bumbu penyedap.hehe.kalo yg dimaksud ms lalu oppa ma cintya gw dh maafin kok [sweat] tiap org kan punya ms lalu.jd NOOO YA [nono]
[/size][/color][/b]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 16 --- 4 June 2011)
« Reply #909 on: June 10, 2011, 07:56:58 pm »
huft, baru kali ini mau update deg2an.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 16 --- 4 June 2011)
« Reply #910 on: June 11, 2011, 07:13:58 pm »
THE MAESTRO

Chapter 17

(Warning! If not ready, don’t read! I write it with feelling blue but I must do it. I am ready with all your respon. I know this chapter will make your change of  this story)

Ready?
.
.
.
.
.

----ALL FOR JOANA----






Song Of The Day
Sacrifice by. Elton John


It's a human sign
When things go wrong
When the scent of her lingers
And temptation's strong

Into the boundary
Of each married man
Sweet deceit comes calling
And negativity lands

Cold cold heart
Hard done by you
Some things look better baby
Just passing through
And it's no sacrifice
Just a simple word
It's two hearts living
In two separate worlds

But it's no sacrifice
No sacrifice
It's no sacrifice at all

Mutual missunderstanding
After the fact
Sensitivity builds a prison
In the final act

We lose direction
No stone unturned
No tears to damn you
When jealousy burns


Aldian membopong  Joana ke dalam kamar, lalu membaringkan tubuh mungil itu di ranjang mereka. Untuk kesekian kalinya Joana berpaling memunggunginya. Dia mendesah perlahan. Istri kesenangannya itu masih berduka karena bayi mereka yang keguguran. Rasa bersalah yang sangat membuat Joana belum mampu menatap Aldian walau keadaannya semakin membaik dan dokter sudah membolehkannya pulang ke rumah.

Namun walau begitu, Aldian berusaha sabar. Diselimutinya tubuh mungil itu dan mengecup ujung kepalanya lembut. “Yeobo…,” panggilnya. Tak ada respon dari Joana. Sekali lagi Aldian mendesah.

“Istri mungilku yang cantik…, sampai kapan kau akan menghukum suamimu ini?” Aldian sudah sangat putus asa. Dia tidak tahan dengan keadaan ini. Semua begitu kaku. Dia menginginkan Joana yang dulu. Joana yang selalu menjadi kesenangannya. Joana yang selalu lincah dan ceria.

Akhirnya dia merasa lega saat melihat gerakan bahu Joana yang turun naik. Joana menangis, respon pertama setelah tiga hari istrinya itu mencuekan, hanya memunggungi tanpa menangis atau bersuara. “Menangislah jika memang itu membuatmu lega, jangan di tahan lagi,” katanya sambil menepuk-nepuk punggung Joana.

Aldian menarik nafas perlahan lalu menghembuskan pelan. Dia bermaksud memanggil Mina. Selama tiga hari terakhir, rasanya Joana hanya mau diajak komunikasi dengan Mina. Dan dia seperti orang asing saja bagi Joana. Apalagi melihat perubahan sikap Mina terhadap dirinya. Wanita paruh baya itu selalu memandang emosi padanya di tiga hari terakhir. Kesalahan apa yang dia perbuat? Selain penyakit maag kambuhan itu, dia tidak tahu.

“Oppa…,” langkah Aldian terhenti saat didengarnya Joana memanggil. Aldian tersenyum. Dia mengurungkan niat meninggalkan ruangan itu, kembali mendekati istrinya. “Waeyo, Yeobo?”

Joana berusaha duduk menyandar di ranjang. Dengan sigap Aldian membantu. Saat istrinya itu menatapnya lekat-lekat, dia meraih tangan Joana dan menciumnya lembut. “Oppa sudah makan siang?” Ya, Tuhan… pertanyaan itu membuat perasaan Aldian mencelos. Dalam keadaan seperti ini, Joana masih menanyakan masalah itu. Seketika kepala Aldian mengangguk.

“Jangan kawatir, Yeobo… Oppa janji akan lebih memperhatikan kesehatan,” janji Aldian yang membuat Joana tersenyum. Senyuman yang menyejukkan hati Aldian.

“Miane, Oppa… Joan sangat sedih tiga hari ini,” sesal Joana.

Aldian mengangguk. Dibelainya wajah lembut di hadapannya. Joana  menggapai tangan yang menyentuh pipinya itu dan menciumnya lembut. “Kesempatan itu masih ada, kan? Oppa, Joan sangat ingin melahirkan anak-anak Oppa. Katakan, Oppa… Kesempatan itu masih ada, kan?”

Air mata mengalir lagi di pipi mulus Joana.  Anak ? Aldian bahkan tidak memikirkan anak saat ini. yang dia pikirkan adalah keadaan Joana. Sejujurnya, dalam hati yang paling dalam, dia rela hidup tanpa anak, asalkan hidup untuk membuat Joana bahagia. Namun Joana sangat menginginkan anak darinya. Naluri seorang ibu sudah memanggil, bahkan perasaan sedih itu menyiksanya, merasa tak becus menjadi ibu. Tak ada yang bisa keluar dari bibir Aldian selain mengangguk.

“Kapan, Oppa? Setahun lagi? Oppa, Joan sudah tidak sabar,” rengek Joana. Aldian membelai kepala Joana lembut.”Yeobo…, kau tidak dengar kata dokter tadi? Kita harus menyehatkan kandunganmu dulu, Sayang…”

Aldian menarik lembut lengan istrinya. Sesaat mereka terbuai dalam pelukan. “Kita akan tetap berusaha setelah itu, Yeobo.”

“Jinja!” Joana berusaha meminta kepastian.
“Ne,”
“Oppa sabar menunggu?”
Aldian tersenyum. Dia mengangguk di antara pelukan itu.

“Sekarang… kau mau bertemu Nany?” tanya Aldian. Joana menggeleng,” Joan ingin ketemu Mei Halmoni,” jawab Joana. Aldian tertawa lega mendengarnya. Kekawatirannya lenyap sudah. Joana sudah mau berkomunikasi dengan orang lain selain Mina. Dengan antusias, dia menghubungi Dong Wook. Pasangan renta itu mengunjungi Joana lima menit kemudian.

Sementara Joana bercanda dengan pasangan Chang, Aldian menuju lantai dasar. Dia memasuki dapur. Sesaat mengubek-ubek kotak P3K untuk mengambil obat maag. Dia berbohong pada Joana tadi. Sebenarnya tiga hari ini, dia tidak nafsu makan. Perutnya seakan enggan menerima makanan. Hal ini lebih dikarenakan kekawatirannya terhadap Joana.

Saat dia meraih sebotol air mineral dalam lemari es, Mina Im memasuki dapur. Wanita ini menoleh ke sekeliling, lalu mengkunci pintu dapur.  Aldian memperhatikannya sembari menegak air mineral untuk membantu menelan obat maag. Lebih heran lagi saat Mina Im mendekat dan bicara lirih setelahnya.

“Aku bertemu Chintya di Seoul Hospital.” Mina Im bicara dengan suara di tekan. Aldian mengkerutkan dahi. Dadanya bergemuruh. Otaknya memwarning ada yang tidak beres. Setidaknya berkaitan dengan malam laknat itu.

“Perutnya membuncit,” saat mendengar kalimat itu, dunia serasa kelam bagi Aldian. Mina menatapnya dengan pandangan menusuk. Demi tuhan, bahkan saat ini nafasnya serasa berat. “Apa bayi itu milikmu, Aldian-ssi?

Wajah Aldian memucat seketika. Mulut Mina menganga, tubuhnya lemas sudah hingga berusaha menopangnya dengan lengan di bar table. “Jadi itu benar?” tanya Mina lagi.

“Entahlah,” mendadak Aldian bertindak linglung.
“Kau!” Mina menghardik dengan tatapan berkilat.
“Kau tahu dimana dia?” pria itu malah bertanya balik.
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Mencari tahu.”

Mina Im berusaha mengatur nafas. Durjana laknat, itulah yang dijeritkannya dalam hati untuk pemuda ini. jika saja Joana tidak begitu mencintai ‘durjana laknat ini’, ingin rasanya mencakar-cakar wajah Aldian.

“Mina?” Aldian menengadahkan tangan di depannya. Memaksa Mina untuk menyerahkan alamat Chintya. “Serahkan padaku!”

Mina terkejut mendengar teriakan itu. Mau tak mau dia menyerahkan secarik kertas. Dia tidak mau pembicaraan mereka diketahui orang lain terutama Joana. Aldian menggenggam kertas itu erat-erat, dia kebingungan sejenak. Dalam hati berdoa semoga anak itu bukan darah dagingnya. Rahangnya mengeras dan terdengar bunyi Giginya bergeletuk. Susah payah Aldian mengatur nafas. Sementara Mina terus memperhatikan dengan pandangan menusuk.

“Kau memberi tahu Joana?” tiba-tiba Aldian kawatir jika Joana tahu, mengingat tiga hari ini istrinya itu hanya mau berkomunikasi dengan Mina.

Wanita itu menggeleng. “Aku tidak sebodoh itu, Aldian-ssi.”

Aldian membuang nafas lega. Tiba-tiba dia menangis, Mina hanya terbengong melihat ulahnya.
“Aku mohon jangan sampai Joana tahu, Nany-a. Aku mohon,” isaknya lirih.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

 Aldian masih belum bisa menjawab pertanyaan itu. Bertanggungjawab? Dia tahu konsekuensinya. Dia pasti kehilangan istri mungilnya. Dia tidak mau itu terjadi.

Tapi dia tetap menemui Chintya. Wanita itu membuka pintu, tapi saat tahu siapa yang bertamu, cepat-cepat menutup pintu kembali. Aldian menghalangi pintu tertutup. Chyntia kewalahan karena kalah tenaga hingga akhirnya pintu itu terbuka lebar dan kedua saling tertegun, menatap satu sama lain.

“Apa maumu, Aldian-ssi?” tanya Chintya dengan memandang emosi.
“Kepastian,” jawab Aldian.
Aldian melirik perut Chintya. Dan Chyntia berusaha menutupi perutnya dengan syal yang dikenakannya.

 “Itu anakku?”
“Bukan!” jawab Chintya keras.
“Dia anakku jika usianya delapan bulan!” teriak Aldian.
“Aku bilang bukan!”
“Bohong!” bentak Aldian. Pria ini membuka paksa syal yang menyampir di perut Chintya. Tenggorokannya tercekat seketika. Dia memang tidak tahu masalah kehamilan, tapi melihat besarnya perut itu, dia mampu mengira-ira usia kandungan Chintya.

“Oh, ya Tuhan,” desah Aldian tak mempercayai semua ini. Chintya menangis seketika. Aldian berjongkok di depannya, tangannya terulur untuk memegang perut Chintya.

“Jangan sentuh  aku!” teriak Chintya. Secepat kilat dia menghindar. “Mina Im pembohong! Dia bilang tidak akan memberitahukan semua ini padamu. Nyatanya…

“Chintya….
“Aku jijik melihatmu!” cerca wanita itu. “Jadi jangan menyentuhku!”

Chintya terisak. Aldian berdiri kembali. Takdir yang aneh. Tiga hari  yang lalu dia kehilangan anak, dan sekarang ini ada anak lain yang akan lahir. “Aku tetap ayahnya, Chintya.”

“Bukan,” Chintya masih saja bersikeras. “Kau tidak akan jadi ayahnya jika aku tidak mengijinkan hal itu. Sudah ku bilang aku jijik padamu!”

Rahang Aldian mengeras. Egonya sebagai lelaki serasa diolok-olok.”Aku adalah lelaki. Mau tak mau aku harus bertanggungjawab!”

“Anhi. Jika kau bersikeras lebih baik aku tusuk perut ini!” jerat Chintya lagi.

Kepala Aldian serasa berputar mendapati hal ini. Aldian tersenyum tipis. Dia yakin Chintya tidak akan melakukannya. Jika Chintya mau, wanita ini bisa menggugurkan kandungan saat berumur masih muda. Tapi tidak, aldian tahu benar kalau Chintya tidak bisa menahan sakit. “Kau bohong, jika kau mau, kau bisa menggugurkannya dulu-dulu.”

Merasa kalah telak, Chintya terduduk di sofa. “Aku tidak bisa melakukan ini. Aku mohon jangan perdulikan aku. Aku tidak mau jadi duri di antara kalian,” isaknya.

Aldian memandang haru. Chintya bahkan tidak histeris lagi saat dia mengelus perutnya. “Aku akan tetap bertanggungjawab, Chintya.”

“Dengan apa?” tantang Chintya.”Janganlah kau menjejerkan aku dengan Joana. Aku tidak mau menyakiti Joana. Kau tahu sekali istrimu itu sangat labil.”

Aldian masih saja mengelus perut Chintya. Ada perasaan kasih menjalar di hatinya. Apalagi saat bayi dalam perut Chintya menendang, dia bisa merasakan itu dan tertawa di antara linangan air matanya. “Aku akan tetap menghidupi kalian!”

“Jawaban bodoh!” tampik Chintya. Emosinya meledak kembali. Terseok-seok dia berjalan ke arah pintu, membuka pintu itu dengan bahasa tubuh mengusir.”Keluar dari rumahku sekarang!”

“Anhi!” tolak Aldian.
“Kau ingin istrimu bunuh diri mengetahui semua ini? Sudah kubilang aku jijik padamu! Bahkan aku tak sudi jadi wanita simpananmu!”

“Oke, oke! Kau ingin Joana tidak tahu, baiklah! Joana tidak akan tahu! Kau juga sudah bersembunyi dari kami selama ini! tapi sampai kapan kau akan bersembunyi? Bagaimana jika kau melahirkan nanti? Siapa yang menolongmu? Apa kau bisa berjalan sendiri ke rumah sakit? Apa pernah kau pikirkan semua itu!”  

Chintya terdiam. Dia memang sama sekali tidak memikirkan hal ini sebelumnya.

“Aku tidak akan menikahimu. Itu kan yang kau mau? Fine! Mungkin kau ingin hidup seperti orang-orang barat, jadi single parent. Tapi aku tidak mau kalau anakku kekurangan, jadi aku akan tetap menghidupinya.”

“Tapi….
“Jangan mengelak lagi, Chintya. Mulai besok, Mina Im akan tinggal di sini, menjagamu sampai kau melahirkan,” putusan Aldian.

Chintya merosot lunglai. Aldian merasa menang atas Chintya. Di dekatinya wanita itu lalu membimbingnya menuju sofa. Sekali lagi dielusnya perut Chintya yang membuncit, walau enggan, dia harus melakukan itu. Anak ini adalah anaknya. Seorang anak yang sebenarnya dia harapkan dari rahim Joana seorang. “Anak Appa… tumbuhlah sehat di dalam sana. Kau tidak akan kekurangan. Percayalah pada Appamu ini. Oh ya, jika Omamu berniat kabur, tendanglah dia kuat-kuat!” Aldian melirik Chintya saat mengatakan kalimat yang terakhir. Chintya masih saja menatapnya penuh kebencian.

Dan Aldian benar-benar melakukan niatannya. Mina termasuk dalam komplotan itu. Hal itu dia lakukan lebih-lebih karena Joana.  Dia bahkan berbohong pada Joana dengan mengatakan akan merawat saudaranya yang sakit selama sebulan di Jeju.

“Oh, Nany… kenapa lama sekali… apa tidak bisa, saudara Nany itu dirujuk ke rumah sakit di Seoul. Joan bisa membantu biayanya nanti. Iya, kan, Oppa,” sesal Joana saat Mina berpamitan.

Aldian tidak menjawab saat pandangan Joana terarah padanya. Mina Im meliriknya dengan pandangan menusuk, tapi dengan suara yang didatarkan dia memberi jawaban wajar,”Saudara Nany itu orang tua yang kolot, Sayang. Dia bilang jika ingin mati, lebih baik mati di kampong halaman sendiri. Nany bisa apa kalau begitu.”

 Sungguh demi tuhan, ini adalah kebohongan Mina yang pertama pada momongannya itu, diusapnya kepala Joana lembut. Agak enggan sebenarnya meninggalkan Joana sekarang. Apalagi Joana masih belum kuat benar. Tapi dia lega, Mei-mei mau menjaga Joana selama dia pergi. Tentu saja Pasangan Chang tidak tahu menahu tujuan sebenarnya dari kepergiannya itu.

“Mei akan menjagamu selama aku pergi. Dia dan Dong Wook akan tinggal di kamar Nany selama sebulan. Jadi kau bisa focus dengan kesehatanmu, Araso!” pesan MIna.

Joana tersenyum saat Mina mencium jidatnya.

“Dan kau, Aldian-ssi!” panggil Mina tiba-tiba. Aldian terkesiap, dia kawatir Mina berkata yang tidak-tidak atau keceplosan di depan Joana.”Jaga pola makanmu. Jangan membuat gadis cilikku ini kawatir karena penyakit maag kambuhanmu itu.”

Aldian tertawa garing. Hatinya lega karena Mina tidak bicara ngawur. “Araso, Nany,” respon Aldian sambil memeluk erat Joana.

“Durjana laknat,” batin Mina. Sedapat mungkin dia merubah pandangan menusuknya menjadi tatapan sendu saat dilihat Joana begitu menikmati pelukan Aldian.

Joana tak bisa mengantar Mina  ke pintu depan karena keadaannya belum memungkinkan untuk turun naik tangga. Aldianlah yang mengantar. Dalam kebisuan, pria ini menjejalkan seamplop uang di tangan Mina Im. Uang itu untuk kebutuhan Chintya sehari-hari. Mina mengangguk saat Aldian memandanginya penuh pengharapan. Wanita ini tahu kalau Aldian juga menginginkan anak Chyntia. Dia jadi ngeri membayangkan semua itu. Joana sangat sedih karena keguguran padahal begitu ingin melahirkan anak Aldian. Apa yang terjadi jika Joana tahu pria laknat itu punya anak dari wanita lain?

Peran ganda Aldian dimulai. Sepak terjangnya untuk  mengunjungi Chintya begitu bebas karena Joana masih harus bedrest selama sebulan. Dia membelikan semua keperluan bayi Chintya. Dia melakukan semua itu demi bayinya. Hal pertama yang dia lakukan saat memasuki apartemen Chintya adalah mengelus perutnya. Tidak ada hal menarik di antara mereka. Aldian hanya mencintai bayi dalam kandungan  Chintya. Dia sama sekali tidak tertarik pada Chintya. Setidaknya itulah yang bisa Mina Im tangkap dari gelagatnya.

Setiap makan siang, Aldian melakukan itu di rumah. Tentu saja setelah mengunjungi Chintya. Dia selalu menampik tawaran Mina untuk makan karena ingin terlihat lapar di depan Joana agar Joana tidak curiga. Bahkan tingkahnya semakin mesra saat bersama Joana. Dia begitu takut kehilangan Joana. Namun sungguh, dalam hatinya dia juga tidak tahu apa yang akan direncanakan setelah anak Chintya lahir. Hanya satu, tetap menafkahi anak itu, mungkin mengirimkan sejumlah uang ke rekening Chintya setiap bulan tanpa sepengetahun istrinya. Ya… itu yang akan dia lakukan. Apa susahnya melakukan hal itu? Joana tidak pernah menginterogasinya masalah keuangan selama ini, bukan?

Tapi Aldian tidak tahu, Chintya punya rencana lain. Chintya takut Aldian berubah pikiran. Chintya tidak mau menyakiti Joana. Wanita murni itu…begitu tulus mencintai Aldian dan Chintya tidak mau merusak ikatan suci pernikahan mereka. Dia memerlukan Nany untuk meluluskan rencananya. Dia tidak yakin Mina mau membantu, tapi dengan ragu di mengutarakan pada Mina.”Apa Nany sangat mencintai Joana?” tanyanya di suatu pagi.

“Dhe?” Mina agak tidak mendengar pertanyaannya karena dia menunduk saat berbicara. Menunduk sambil mengelus perutnya.

“Nany mencintai Joana, karena itu nany bersedia menjadi bagian dari rahasia ini. Benar, kan?” selidiknya kemudian. Mina Im mengangguk mantap. “Apa yang akan Nany lakukan jika aku punya rencana lain?” tanya Chintya lagi.

“Apa maksud anda, Agashi?” pandang Nany penuh selidik.
Chintya menatapnya penuh pengharapan. Dia menggapai tangan Mina lalu mengarahkannya di perutnya,”Tolong kami melarikan diri dari Aldian.” Mina Im terperanjat mendengar kalimat itu.

“Jika kami tetap di sini, maksudku aku dan anak ini setelah lahir, cepat atau lambat Joana pasti tahu. Kau pasti tidak ingin hal ini terjadi, bukan?” tantang Chintya. Mina sepertinya tertarik pada rencana Chyntia. “Katakan apa yang harus aku lakukan, Agashi?” Dan terdengarlah bisik-bisik di antara keduanya.

Sebuah rencana sempurna yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Mereka merencanakan semuanya dengan sangat rapi. Hingga di suatu malam, Chintya mulai merasakan perutnya mulas-mulas. Mina Im segera memanggil dokter. Chintya bersikeras melahirkan di apartemen. Dia tidak mau keluarga Park tahu kalau dia masih di Seoul. Selama ini dia mengaku sudah kembali ke Australia. Mina merasa Aldian perlu melihat kelahiran anaknya, karena itu dia menelpon.

Aldian terbangun dari tidurnya saat telephon berdering. Rasa kantuk hilang seketika saat melihat nomor yang terpampang di layar HP-nya. Nomor milik Mina Im. “Yoboseyo…,”

Aldian menahan nafas saat Mina mengabarkan keadaan Chintya. Dia juga bisa mendengar Chintya mengerang kesakitan.  Dia tetap tenang dan menjawab pendek-pendek. “Ne, aku akan segera ke sana.”

Joana yang tidur di sampingnya menggeliat. Perlahan membuka mata dan mendapati suaminya sudah sangat rapi, duduk memandanginya. “Ada kerusakan mesin di ruko, Yeobo… Kau tidak apa kutinggal sendiri?”

Joana tersenyum dan mengangguk. Aldian mencium bibirnya sebelum pergi. “Baik-baik di rumah, Sayang.” Bisiknya ketika memeluk Joana erat. Sekali lagi ketakutan itu hadir. Takut kehilangan Joana jika rahasia ini terbongkar. Dibukanya pintu kamar perlahan, dia melihat Joana yang tersenyum dalam tidurnya ketika menutup pintu itu kembali, sesaat kekawatiran aneh menyelinap di benaknya sehingga dia memutuskan mengunci kamar itu dari luar.

Angin dingin bertiup saat Aldian keluar rumah. Dia agak menyusutkan jaket saat menyetop taxi. Guntur menggelegar ketika sampai di apartemen Chintya. Dokter sudah datang. Chintya mendesis-desis menahan sakit di sekitar rahim dan punggungnya. Pandangan mata wanita itu seakan tidak focus saat Aldian mendekat. Mukanya begitu pucat. Peluh menyelimuti sekujur tubuhnya. Aldian menggenggam tangannya menguatkan. Jika saja Chintya sadar, sudah pasti dia menampik uluran tangan Aldian. Tapi rasa sakit itu menghilangkan semuanya. Hatinya sebagai wanita tidak bisa dibohongi, ingin diperhatikan ayah dari anak yang akan dia lahirkan di saat seperti ini.

“Masih lama, Dokter?” tanya Aldian. Chintya berusaha mengatur nafas. Sesekali Aldian meringis karena cengkeraman Chintya semakin kuat.

“Anda suaminya?” tanya dokter itu. Mau tak mau Aldian mengangguk.
“Kira-kira bayi ini akan lahir jam lima pagi,” perkiraan sang dokter.
“Selama itu?”
Chintya masih saja mendesis, sesekali dia mendengkur, mengumpat-umpat tak jelas.

“Ne,” angguk sang dokter. Hujan di luar semakin deras. Terdengar suara petir menggelegar. “Bersyukurlah karena kandungan istri anda normal. Karena itu dia bersikeras melahirkan di rumah.”

Aldian menatap  Chintya yang  meregang nyawa. Mina terkadang mengelap dahi Chintya dengan lap basah. Tubuh wanita itu telanjang bulat, hanya kain selimut yang menutup di atasnya. Entah sadar atau tidak, Aldian mencium Chintya. Hal itu disadari Chintya, hati wanita itu serasa teriris. Dia tidak ingin pertahanannya runtuh. Dia tidak ingin menyakiti Joana dan lebih dari itu, dia tidak ingin menjadi duri dalam pernikahan mereka.

Saat dokter merasa pembukaan mencukupi, Chinta mengerang, mendorong bayi itu keluar dari rahim sekuat tenaga. Tidak mudah melakukannya dalam sekali dorongan. Ini adalah pengalaman pertamanya melahirkan. Dia mendorong lagi saat dokter kembali memberi aba-aba. Mata Aldian terpejam, mendoakan keselamatan Chintya dan bayinya. Hingga saat tangisan keras membahana di ruang tidur itu, bahkan melebihi kerasnya suara petir di luar. Orang-orang yang berada di situ merasa lega. Chintya begitu cepat pulih. Dia tertawa puas, menatap bayinya dengan linangan air mata saat Mina menyodorkan bayi mungil itu untuk di susui.

“Jangan menyentuh kami!” elak Chintya saat Aldian ingin membelai bayi itu.
“Chintya…”
“Aku bilang jangan!” teriaknya lagi, kali ini sambil mendekap bayinya erat-erat. Dia yakin benar jika Aldian melakukan kontak fisik sekali saja dengan makhluk mungil itu, maka Aldian tidak akan melepaskannya. Sang dokter mengkernyitkan dahi. Mina Im menyaksikan pertunjukan itu dengan tatapan prihatin.

“Keluar dari rumah ini, Aldian-ssi!”
“Chintya…”
“Aku bilang keluar! Keluar dari rumah ini! Bayi ini milikku! Milikku!”

Aldian mundur sambil menggeleng lemah. Chintya semakin histeris. Aldian tidak menyangka begitu dalam kebencian yang ditujukan padanya. Kesalahannya memang terlampau besar bagi Chintya.

Aldian memang kembali ke rumah. Tapi kali ini berjalan kaki. Taxi sangat jarang di areal apartemen Chintya. Waktu menunjukkan pukul enam pagi saat Aldian sampai di rumah. Dengan menyembunyikan kegalauan, dia menaiki tangga menuju lantai dua, dan terkejut saat Joana terkapar di lantai di dekat pintu masuk kamar.

“Joana!” pekik Aldian panik. Dia menepuk-nepuk pipi Joana. Perlahan istrinya yang setengah tersadar membuka mata. “Oppa…, Joan takut petir….”

Hatinya teriris mendengar ocehan Joana yang setengah sadar itu. Dia bahkan melupakan kelemahan Joana, padahal semalam petir begitu parah. Dipeluknya tubuh mungil itu erat-erat dan tanpa malu tergugu menangisi istrinya, “Miane, Yeobo.. jeongmal Miane.”

Diangkatnya tubuh Joana ke ranjang kembali.  Wanita itu masih saja mengigau,” Petir… jahat. Oppa…., pesawat… pesawat… Appa jatuh… karena petir… .”

Aldian menelepon dokter kemudian. Lega saat dokter menerangkan Joana baik-baik saja, hanya terlalu phobia dengan petir dan harus banyak istirahat. Dua hari, Aldian melupakan Chintya karena focus pada kondisi Joana yang drop. Waktu yang berharga untuk dimanfaatkan Mina meluluskan rencana Chintya.

Saat Aldian menyambangi Chintya lagi di apartemennya. Mina mendelik penuh emosi. Chintya telah kabur membawa bayinya dan dia membentak-bentak Mina.”Katakan di mana dia?”

Mina tahu benar di mana Chintya. Dia sudah menelpon saudaranya di Jeju untuk menyembunyikan Chintya dan bayinya sampai keduanya kuat terbang ke Australia. Chintya akan membesarkan anaknya di Negara itu, tanpa menganggu pasangan itu lagi. Tapi seperti janjinya pada Chintya, Mina tetap bungkam.

“Aku tahu kau dibalik semua ini, Mina!”

“Cukup, Aldian-ssi!” Mina pun tak mau kalah galak.”Ini semua keinginan Chintya agashi! Jangan kau ganggu mereka lagi!”

Aldian menunjuk-nunjuk,”Kau…., Kau berusaha memisahkan seorang anak dari ayahnya, Mina Im!”

Mina Im mendongak, “Kalau iya kenapa?” tantangnya.”Istrimu sedang terpuruk karena keguguran, padahal dia sangat ingin melahirkan anak untukmu, pernahkah kau berpikir bagaimana perasaannya saat mengetahui kau ternyata punya anak dari wanita lain? Atau yang lebih parah lagi, kau harus menikahi wanita lain karena sudah melahirkan anakmu! Pernahkah kau pikirkan itu!” Fakta itu bagaikan sebilah pedang yang merobek hati Aldian.

 “Joana yang malang. Kesalahan yang dia buat begitu besar! Kesalahan terbesar itu adalah… dia mencintai pria laknat sepertimu!”

“Mina…,”

“Aku sudah menganggap Joana seperti anak sendiri. Aku tidak rela jika dia menderita dan sayangnya kebahagiaannya ada di tanganmu, Aldian-ssi. Aku muak mendapati semua itu. Kau pikir kenapa aku mau melakukan perintah konyolmu selama sebulan ini?”

“Joana…,” desis Aldian.

“Ne! Aku menutupi kebusukanmu karena Joana. Ini adalah kebohonganku yang pertama dan terakhir untuknya.”

Aldian jadi terkejut mendengar ucapan Mina yang terakhir. Dua hari ini dia mencemaskan keadaan Joana. dia takut kondisi Joana drop lagi. “Jangan katakan  padanya, Mina. Aku mohon… .”

“Araso! Tapi aku punya syarat,” Mina berusaha tawar menawar dengan Aldian. Pria di depannya menatap cemas. “Aku lakukan apa saja keinginanmu, Nany… asalkan Joana tidak tahu tentang Chintya. Kau tidak tahu kondisinya drop lagi dua hari ini.”

Mina Im menghela nafas. “Syaratnya adalah…. Jangan ganggu Chintya agashi lagi. Kita tutup kasus Chintya sampai di sini. Kau kembalilah pada Joana, hidup bahagia bersamanya dan aku sebagai Nany di rumah.”

“Arasso, Araso, NAny-a…,” kesanggupan Aldian.

“Aku sungguh-sungguh dengan ucapanku, Aldian-ssi. Kau adalah durjana laknat! Sejujurnya… jika kau sampai menyakiti Joana karena masalah ini atau hal lain… Aku sendiri yang akan membunuhmu! Aku bersumpah!”

Mina Im bagaikan maestro yang sangat pintar memutarbalikkan keadaan sehingga anak asuh kesayangannya itu tidak tersakiti. Jika Mina tidak membantu Chintya melarikan diri. Mungkin hati Aldian dan Chintya luluh dan keduanya menyakiti Joana……

“All for Joana”

“Semua demi Joana.”

Selamat merenung….


BERSAMBUNG

« Last Edit: June 11, 2011, 07:36:13 pm by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 16 --- 4 June 2011)
« Reply #911 on: June 11, 2011, 07:45:20 pm »
next chapt adalah penentuan lanjut tidaknya ff ini,

jika warga forum tidak setuju dengan jalan ceritanya akan kubawa ff ini di blog pribadi

jadi saya harap kedewasaannya dalam menyikapi isi cerita bab selanjutnya

ingat sign awal dari ff ini.....



17+

wahh kenapa ini???? oke unni gue skrng jadi dag-dig-dug... Baca dulu dehhh tapi pake bismillah

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 17 --- 11 June 2011)
« Reply #912 on: June 11, 2011, 08:08:53 pm »
Ko chintya hamil sich eon bhkn smpe mlhirkn knp gk di buat anaknx mati 9ara2 di gugurin chintya atau wktu melahirkn anaknx mati,,kn kasian joan pria y9 d'cintainy punya ank dari wanita lain...kra2 9mna ya reaksi joan setelah tau rahasia bsar nie yach....och yach eon aku mau usul..buat ja chintya kecelakan pesawat wktu mlarikn diri dri aldian n chintya ma anakny mati atau klo gk anakny ja yan9 mati.(jahat b9t 9w tp 9k pa2 dech jahat2 dkit dmi kebaha9iaan joan )...please kbulin donk usulku  eon..please,please dmi joan kn ksian clama hdpnx joan gk prnah bh9ia slalu ja khilan9an oran9 y9 d'cintainx,please kbulin usulku ya eon...

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 17 --- 11 June 2011)
« Reply #913 on: June 11, 2011, 08:14:08 pm »
Selain joana.. Ternyata gue juga jatuh cinta sama tokoh Mina Im, pokonya berterima kasih bgt sama dia [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] yg menguntungkan disini itu sikapnya chintya, uhh Alhamdulilah ternyata ini cewek sadar diri juga.
gue kok jadi aneh ya liat aldian.. kok kaya laki-laki plin-plan? Ckk gimana ye kyaknnya gue jadi gak srek, tapi kasihan juga seh... But siapa yg mulai duluan tuh dosa? 
Heh, semua omongan mina im bener. kalo aja si joan gak cinta-cinta bgt sama aldian, bener dah unn gue mending nyuruh lu bikin tokoh satu lagi, kembarannye aldian kek (tp beda sifat) mngkin bisa dijadiin pasangan joan pas ending.
Author sadis, hahaha gue makin suka sama ceritanya... Eh durjana apa? Ckk gue ketawa pas nany bilang lngsng ke aldian kalau dia durjana laknat.
Ehm author, krna saya blm 17+, maaf aja ya kalau komentnya rada aneh.. Hahaha saya kalo ngmng yah gak pakai ngerangkai-ngerangkai, lngsng aja asal jeplakkk. Gomawo buat updateannya #peluk-peluk unni joan

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapt 17 --- 11 June 2011)
« Reply #914 on: June 11, 2011, 08:23:03 pm »
Ko chintya hamil sich eon bhkn smpe mlhirkn knp gk di buat anaknx mati 9ara2 di gugurin chintya atau wktu melahirkn anaknx mati,,kn kasian joan pria y9 d'cintainy punya ank dari wanita lain...kra2 9mna ya reaksi joan setelah tau rahasia bsar nie yach....och yach eon aku mau usul..buat ja chintya kecelakan pesawat wktu mlarikn diri dri aldian n chintya ma anakny mati atau klo gk anakny ja yan9 mati.(jahat b9t 9w tp 9k pa2 dech jahat2 dkit dmi kebaha9iaan joan )...please kbulin donk usulku  eon..please,please dmi joan kn ksian clama hdpnx joan gk prnah bh9ia slalu ja khilan9an oran9 y9 d'cintainx,please kbulin usulku ya eon...

ya... ntar ku kabulin, tapi tidak di chapter 18...


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]