Poll

kira-kira lagu apa yang cocok buat MP Aljoana

"Wonderful Tonight" By Eric Clapton
3 (18.8%)
"Baby Can I Hold You Tonight"  By. Boyzone
3 (18.8%)
"One Night" By The Corrs
10 (62.5%)
terserah author (glodak!)
0 (0%)

Total Members Voted: 16

Author Topic: Re: THE MAESTRO (chapter 22 ---- 31 Juli 2011)  (Read 35090 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (theme song for next chap)
« Reply #975 on: June 24, 2011, 01:13:19 am »
yaaloh..lagi seru2x nyanyi the lazy song nya bruno mars dgn monyet2 malah dikirimin lagu,untung fav juga punk punk

gak mau aku yang lazy lazy, ntar jadinya malah lazy betulan


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (theme song for next chap)
« Reply #976 on: June 24, 2011, 01:19:55 am »
gw sudah ketularan joana,tp puitis gw g jelas.haha...hari ini diupdate kok,minggu jg.

oh.. ketularan si mungil muda, toh... makanya kok ada kata menghampiri segala... kenapa gak pake tersurat ma tersirat sekalian...  [hmpfh] [hmpfh]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (theme song for next chap)
« Reply #977 on: June 24, 2011, 01:24:48 am »
kak sisi baru engeh lagunya sering bgt di puterin sama nyokap, hahaha suka-suka. update minggu ya.

yup, lagu favorit gue, tuh hehehe


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (theme song for next chap)
« Reply #978 on: June 24, 2011, 05:23:46 am »
what?minggu,bsok pagi gmn??g mau jd org sabar kl itunya lebar..jgn ke gunung lg dong sist,capek.g pake kta itu aj sdh ada yg gubrak,palagi kalo pake kata tersirat nanti windanya colaps..btw joan umurx g usah ditambhn ntar bingung si mungil tua..UPDATE
[/size][/color][/b]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (theme song for next chap)
« Reply #979 on: June 24, 2011, 05:24:32 am »
what?minggu,bsok pagi gmn??g mau jd org sabar kl itunya lebar..jgn ke gunung lg dong sist,capek.g pake kta itu aj sdh ada yg gubrak,palagi kalo pake kata tersirat nanti windanya colaps..btw joan umurx g usah ditambhn ntar bingung si mungil tua..UPDATE
[/size][/color][/b]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (theme song for next chap)
« Reply #980 on: June 24, 2011, 10:05:10 am »
what?minggu,bsok pagi gmn??g mau jd org sabar kl itunya lebar..jgn ke gunung lg dong sist,capek.g pake kta itu aj sdh ada yg gubrak,palagi kalo pake kata tersirat nanti windanya colaps..btw joan umurx g usah ditambhn ntar bingung si mungil tua..UPDATE

 [laughing] gak papa itunya lebar... malah gampang lo melahirkan  [laughing]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (theme song for next chap)
« Reply #981 on: June 25, 2011, 04:19:49 am »
lha..emang kalo ngelahirin lwat itu?bukan lwat itu?..updet dong drpd tmbh ngawur [rofl]
[/size][/color][/b]

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (theme song for next chap)
« Reply #982 on: June 25, 2011, 04:26:09 am »
Update si mungil joan dan Mr.perfect minho donk

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (theme song for next chap)
« Reply #983 on: June 25, 2011, 10:08:50 am »
THE MAESTRO
Chapter 18




Song Of The Day :

Something Stupid
by Robbie Williams & Nicole Kidman
________________________________________

I know I stand in line
until you think you have the time
to spend an evening with me
And if we go some place to dance
I know that there's a chance
you won't be leaving with me

And afterwards we drop into a quiet little place
and have a drink or two
And then I go and spoil it all
by saying something stupid
like :I love you...

I can see it in your eyes
you still despise the same old lies
you heard the night before
And though it's just a line to you
for me it's true
and never seemed so right before

I practice everyday
to find some clever lines to say
to make the meaning come true
But then I think I'll wait
until the evening gets late
and I'm alone with you

The time is right
your perfume fills my head
the stars get red
and oh, the night's so blue
And then I go and spoil it all
by saying something stupid
like: I love you...

The time is right
your perfume fills my head
the stars get red
and oh, the night's so blue
And then I go and spoil it all
by saying something stupid
like: I love you...
I love you...
I love you... (continues till fade)


Yang tampak dari Joana saat Mina Im kembali ke rumah adalah sinar wajahnya yang berseri-seri. Dipeluknya sang ibu asuh erat-erat. Tak disadarinya kalau kedua orang itu, Aldian dan Mina saling mencuri pandang. Tatapan keduanya seolah bersuara lantang,”Jaga janjimu!”

“Apakah saudara Nany sudah sembuh?” pertanyaan spontan Joana membuat Mina agak melonjak. Sesaat Mina melupakan kebohongan perihal cerita saudaranya yang tengah sakit. Dengan menunduk, seolah takut Joana memergoki kebohongannya, dia menjawab,” Puji Tuhan, dia masih diberi umur panjang.”

“Syukurlah, Nany,” akhirnya Aldian buka suara juga. Aldian mengelus kepala Joana, seakan tidak ingin Joana menginterogasi lagi, dia memerintah,”Istirahatlah, Nany. Istri mungilku ini masih menjadi tanggungjawabku hari ini.”

Panggilan itu membuat wajah Joana memerah. Mina menyaksikan perubahan wajah Joana dengan nafas tertahan. Ditinggalkannya kamar pasangan itu dengan gelengan kepala, mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran buruk jika Joana tahu masalah Chintya. Tidak, Joana tidak boleh tahu. Setidaknya di masa-masa ini.

Joana kini begitu menikmati kasih sayang suaminya. Aldian menyuapinya dengan sabar. Sesekali terdengar tawa kecil dari mulutnya. Aldian mengeluh jika kembalinya Nany di rumah ini pasti akan membatasi kebebasan mereka.

“Nanymu itu pasti akan menggoda kita terus-terusan seperti yang lalu. Kau ingat, kan? Waktu dia memergoki kita berciuman di ruang tengah?” gerutuan  Aldian membuat Joana tak bisa berhenti tertawa. Masih segar di otak Joana masa-masa itu. Karena tertawa tak pada tempatnya, Joana tersedak. Aldian menyodorkan segelas air padanya. Sesaat dinginnya air melancarkan kerongkongannya. Tapi tawanya tergelak lagi kemudian.

“Ssst, berhenti tertawa!” larang Aldian sambil menempelkan telunjuk di bibir.

“Ya… siapa yang mulai?” ujar Joana sewot. Hal ini membuat Aldian memandangnya dalam. Hati Aldian mensyukuri senyuman itu. Apa pun akan kulakukan untuk senyummu, Yeobo… . Termasuk melakukan kebohongan itu. Miane, aku berharap kau tidak pernah tahu.  Dan hal paling berdosa yang sempat terlintas di otakku adalah… aku berharap anak itu tidak terlahir selamat. Dan Chintya…  aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ini semua keinginannya. Kau lihat, Joan? Bahkan Chintya tak tega menyakitimu.

“Oppa…,” panggilan itu membuat Aldian berhenti melamun.
“Ne?” Mata Aldian mengerjap untuk mengembalikan alam sadarnya.
“Joan sudah kuat, Oppa. Besok Joan boleh kuliah, ya?”
“Tapi…,”
“Please, Oppa,” mohon Joan. Tidak ada yang bisa menolak tatapan penuh pengharapan itu. Aldian mengangguk karenanya.  Senyum Joana mengembang kemudian. Dipeluknya sang suami erat-erat. Aldian menepuk-nepuk punggungnya. “Mulai besok, Oppa bisa fokus lagi di DIGIPRO. Bukankah Nany sudah pulang? Nany yang akan mengurusku.”

Aldian tertawa renyah. Dipandangnya wajah Joana lekat-lekat. Jari telunjuknya mencolek hidung mungil Joana. “Jangan nakal selama di kampus. Hati-hati jika berjalan di tangga.”

Anehnya Joana terkekeh kembali. “Oppa juga harus teratur makan, Araso?”

“Arraso, Nyonya Lee,” goda Aldian sambil mencubit pipi Joana. Sesaat dia merenung. Ada baiknya jika Joana tidak repot-repot lagi menghantarkan makan siang. “Dengar, Yeobo. Akan lebih baik kalau kau tidak ke ruko lagi setiap makan siang.”

“Mwo? Waeyo?”
“Kau… konsentrasilah dengan kuliahmu. Sudah saatnya kau tidak ikut campur urusan lelaki, kau mengerti?”

“Oppa..,” Joana cemberut. Dia merasa terusir dari DIGIPRO.”Oppa sudah bosan padaku?”

“Bo?” Aldian jadi gelagapan. Joana salah mengerti maksudnya.”Bukan begitu maksudku, Yeobo….Aku hanya tidak ingin kau jatuh sakit lagi. Lagipula aku bukan anak kecil yang harus selalu diingatkan makan.”

“Oke, Oppa,” Joana mengedipkan sebelah matanya. “Tapi Oppa harus janji, makan yang teratur supaya sakit maagnya tidak kambuh.”

“Arasso, mungil,” jawab Aldian. Diciuminya pipi Joana kiri dan kanan hingga menimbulkan suara. Kekehan lirih Joana terdengar kemudian. “Oppa semakin lama semakin banyak mencium.”

“Memangnya salah mencium istri sendiri.” Tawa Joana bertambah lebar mendengar perkataan Aldian.

Tentu saja Joana bahagia kembali ke kampus. Hubungan Dara dan Albert sudah mengalami banyak  perkembangan.  Dara menggantikan posisi Joana ketika sakit dan itu merupakan kartu struck buat mereka dalam memperdalam hubungan. Joana begitu terkejut dengan kabar yang mereka bawa di hari pertamanya masuk. Apalagi saat melihat tingkah Albert yang lain dari biasanya. Pemuda itu terlihat lebih serius, dengan suara berat mengatakan,” Sepertinya kami akan segera menyusulmu.”

Dara mendadak malu-malu kucing. Joana mengamati dengan wajah penuh tanya tapi tetap tak bisa mengerti maksud kata Albert.”Menyusul? Maksudnya?”

Albert tertawa seketika. Lengan kanannya terulur menarik pinggang Dara agar tubuh gadisnya itu lebih mendekat. “Menikah… tentu saja,” ujarnya yang membuat Dara semakin tersipu.

“Wah, sepertinya aku ketinggalan banyak berita, ya?” ucap Joana sumringah. Albert mengangguk, “Ne.” Joana mengkernyitkan dahi saat Albert tiba-tiba mengelus-elus perut Dara. “Lebih dari itu, Joana,” sambung Albert. “Kami benar-benar menyalipmu.”

Albert merasa geli sendiri.”Perut rata ini sebentar lagi tinggal kenangan,” ucapan albert membuat Dara cemberut. “Tidak lucu, Albert-ssi.”

“Jadi kau hamil?” tanya Joana. Benar-benar suatu kabar yang mengejutkan. Dara menganggukkan kepala sambil tersenyum lebar.

“Wah… Chukae!” seru Joana sambil mengacungkan jempolnya.
“Ne, datang, ya… di pernikahanku. Ajak juga Tuan Lee dan Nany,” dengan ceria Dara menyodorkan undangan pada Joana.

“Tentu, tak akan kulewatkan,”

Percakapan itu berhenti saat Mr. Liu memanggil Albert. Entah urusan apa yang akan mereka bicarakan. Sepertinya urusan penting yang hanya mereka ketahui sehingga membuat keduanya memisahkan diri dari para wanita yang ada di situ. Sementara Joana dan Dara saling memeluk, berbagi kebahagiaan.

“Ssst, ngomong-ngomong, kapan kejadiannya?” iseng-iseng Joana menggoda Dara.
“Kejadian apa maksudmu?”
Joana terkikik sebentar. “Kau dan Albert…,” candanya sambil menyatukan kedua telapak tangannya yang mengkerucut berulang-ulang.

“Ya… mau tau aja,” sungut Dara. Tawa Joana tambah meledak. “Serius, nih… . Aku benar-benar tanya.”

“Semua juga gara-gara kamu.”
“Aku?” tunjuk Joana di hidungnya sendiri.
“Ne,” Dara mengangguk mantap,”Selepas adegan horormu di tangga, aku sangat takut. Lalu…
“Lalu adegan horror itu berubah jadi adegan mesum setelah kalian pulang dari rumah sakit,” potong Joana. Tawa ngakak terdengar kemudian yang membuat Dara semakin keki.”Ssst… jangan keras-keras….”

“Lagian kalian aneh, aku terpuruk karena kehilangan anak, eh… kalian malah buat anak.”

Dara menghela nafas. Sekali lagi dia merasa geli. Dielusnya perutnya yang masih rata itu. Sambil melayangkan ingatan di masa itu, mulutnya mulai melantur,”Semua terjadi begitu saja, Joan-a. Aku senang karena anak ini membuat kami bersatu. Sejujurnya aku masih sangsi pada perasaan Albert.”

“Sangsi?” Joana memiringkan kepalanya. Dara mengulum senyum lagi.”Kadang aku merasa dia masih mencintaimu, dan aku hanya sebagai pelarian saja.”

“Oh, Dara-ssi,” Joana menghembuskan nafas panjang.”Kalau pun Albert memaksakan kehendaknya padaku, semua tetap sia-sia karena aku sangat mencintai Oppa.”

“Ne, aku tahu. Fakta itu juga yang membuatku bertahan mengejar Albert,” Keduanya terkekeh bersama. Joana meletakkan telapak tangannya di perut Dara, perasaan sedih menjalar kembali. Perasaan sedih kehilangan bayinya.

“Suatu saat nanti, kau juga mengalaminya lagi, Joan,” Dara sepertinya tahu apa yang dirasakan sahabatnya. “Masih banyak kesempatan bagi kalian.”

Kelegaan tampak di senyuman Joana. Kata-kata Dara membuat Joana merasa lebih baik hingga wanita ini mengangguk mantap. Namun bukan berarti Joana melupakan kesedihan itu. Dia tidak seriang dulu. Secara sengaja bahkan membatasi kegiatan. Usaha tailor pun sengaja dia tutup. Tak dipungkiri usaha Aldian semakin meroket tapi bukan itu yang melatarbelakangi keputusannya. Dia masih terobsesi pada kelahiran anak. Impiannya hanyalah melahirkan anak Aldian. Dia sengaja mempersiapkan diri untuk kehamilan berikutnya.

Bukan hal mudah bagi pasangan Aldian dan Joana.Walau pun dokter mengatakan keduanya normal, anak yang dinanti tak kunjung hadir. Bahkan saat ulang tahun pernikahan mereka. Joana mengeluh. Dia memilih menghabiskan hari itu dengan melamun, memandangi bintang-bintang  dari balkon kamar sementara hamparan salju menyelimuti kota. Tangannya terangkat ke atas, menunjuk salah satu bintang paling terang di situ. Berharap bintang itu adalah bayinya yang meninggal. Anak, Omma… jadilah bintang paling terang di nirwana. Bimbinglah dongsaeng-dongsaengmu untuk menemui Appa dan Omma. Karena Tuhan begitu menyayangimu sehingga tak mengijinkan kejamnya dunia merusak kesucian jiwamu.

Aldian yang baru datang menghampiri Joana. Digapainya punggung Joana, menghirup aroma parfum yang lembut dan agak memberikan sentuhan romantisme di leher jenjang itu. Hari ini rencana hanya tinggal rencana. Rencananya untuk pulang lebih awal gagal total karena kesibukan pekerjaan. Usaha yang berkembang itu memerlukan lahan lebih luas sehingga Aldian harus bernegosiasi dengan pemilik ruko sebelah mengenai uang sewa.

“Kau melamun, yeobo?” bisik Aldian ketika Joana menggeliat. “Miane. Aku terlambat.”

Joana mendongak. Bintang yang paling terang itu masih memancarkan sinarnya. Tangannya pun menunjuk kembali. “Bintang terang itu anak kita, Oppa.” Aldian menelusurkan pandang ke arah istrinya menunjuk.

“Dia akan membimbing dongsaeng-dongsaengnya untuk menemui kita,” sambung Joana. Aldian mengangguk di antara pelukan itu. Akhir-akhir ini Joana bertambah melankolis. Dia bahkan cemburu pada Dara yang sedang mengandung.

“Kandungan Dara semakin besar, Oppa,” Aldian menghela nafas waktu Joana mengatakan itu. Entah sudah berapa kali Joana menyinggung masalah perut Dara yang semakin membuncit.

“Kira-kira kapan, ya… Joan mengandung lagi?” sebuah pertanyaan yang sulit. Keduanya bahkan sudah menuruti perkataan dokter-dokter itu. “Lakukanlah saat usia subur!” Bahkan laci di meja samping tempat tidur penuh dengan alat pendeteksi kesuburan. “Setelah lakukan, angkat kaki sang istri hingga melebihi tinggi kepala.” Dan  itu membuat Aldian ngakak setengah mati karena melihat Joana melakukan itu sembunyi-sembunyi saat dia pura-pura tertidur. Intinya adalah… Mereka sudah mencoba semua teori konyol itu.

“Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, Yeobo…,” hibur Aldian.

Joana berbalik perlahan. Ditatapnya mata Aldian lekat-lekat. “Oppa sudah makan? Joan panaskan makanannya, ya?”

Aldian menggeleng,”Tidak perlu. Aku sudah makan. Tadi ada diner dengan klien. Siapkan saja bathup. Aku ingin mandi.”

Joana menuju kamar mandi. Aldian merebahkan tubuh lelahnya di sofa. Sesaat terdengar bunyi gemericik air. Pintu kamar mandi terbuka dan kepala Joana nongol dari dalam. “Oppa yakin mau mandi? Kelihatannya sangat dingin.”

“Ne, siapkan saja air hangat.”
“arasso, Oppa.”

Iseng-iseng Aldian membaca majalah yang tergeletak di meja samping sofa. Suara gemericik air masih terdengar. Saat Aldian setengah terbuai dengan bacaan yang ada di tangannya, Joana memanggil dari dalam kamar mandi, “Sudah siap, oppa!”

Agak terkesiap Aldian mendengarnya. Dengan agak malas Aldian memasuki kamar mandi. Joana sudah berendam di bathup. Seakan tak percaya dengan penglihatannya, Aldian mengerjap. Aroma sabun tercium dari bathup, tapi bukan wangi sabun yang biasa dipakai Aldian, melainkan wangi sabun Karissima. Aldian mendekat dengan berkacak pinggang lalu duduk di pinggiran bathup. “Yeobo, kenapa jadi kamu yang berendam?”

Seakan tak perduli kejengkelan suaminya, Joana tersenyum manis kemudian mengulurkan tangannya, melepas dasi Aldian yang mencekik. “Oppa tidak keberatan dengan wangi Karrissima, kan?”  Belum sempat Aldian mencerna kalimat itu, Joana memberikan kerling  menggoda sementara tangannya membuka salah satu kancing baju Aldian lalu menyelipkan telapak tangannya di balik baju Aldian, mengusap, memutar-mutar demi membangkitkan hasrat pria itu.

Aldian mencondongkan kepalanya ke Joana. “Hmm… kau mulai nakal,” lalu memberi gigitan di kuping Joana. Mendengar bisikan itu Joana terkekeh. Apalagi saat Aldian mulai mencopot pakaian yang dikenakannya satu per satu, Joana semakin bungah dan meluangkan tempat bagi Aldian di bath up. Air membludak saat Aldian memasuki bathup. Joana menyambut dengan pelukan dan disusul ciuman mesra. Tak dipungkiri lagi tubuh basah keduanya menempel erat. Aldian semakin hilang akal saat Joana mengelus punggungnya. “Kita langsung ke intinya saja, Yeobo,” bisik Aldian.

Dipelukan itu, Aldian bisa merasakan Joana mengangguk. Air beriak-riak saat Aldian menggerak-gerakkan tubuhnya atas Joana. desahan sesekali terdengar dari mulutnya dan Joana kadang mengerang bagaikan aba-aba yang memberi perintah untuk berbuat lebih. Aldian terkadang kewalahan menghadapi keagresifan Joana. Itulah resiko menikahi wanita yang berusia jauh lebih muda. Karenanya Aldian selalu berusaha bugar dengan olah raga teratur dan makan makanan sehat. Jangan harapkan perut Aldian membuncit seperti yang terjadi pada teman-temannya yang sudah menikah. Dia tidak ingin tampil jelek di samping Joana. berusaha selalu awet muda untuk istrinya.

Joana mendesis lemah dan leguhan panjang mengakhiri segalanya. Kini mereka sama-sama kelelahan di bak perendaman itu. Seakan belum rela semuanya berakhir, Joana merebahkan kepala di dada Aldian, tangannya masih usil mengelus dada suaminya lalu bergerak turun, memain-mainkan kesensitifan di situ. “Ampun, Yeobo… geli.. geli,” ucap Aldian diantara tawanya yang berderai-derai.

“Geli?” goda Joana. Aldian menjawab,”Ne,” tapi masih tertawa keras karena tangan Joana semakin mempermainkannya.

“Oke.., oke, sekali lagi, Mungil.” Joana melengkungkan tubuhnya lagi pada Aldian. Keintiman itu terjadi lagi. Kali ini sampai keduanya mencapai klimaks. Dalam sekali hentakan, Aldian melepaskan diri lalu meloncat keluar dari bathup. Joana tersentak melihatnya. Aldian  berlari ke bawah pancuran dan membersihkan tubuhnya lagi dengan sabun pribadinya.

“Oppa kenapa berbilas lagi, sih?” protes Joan.
“Aku memang suka dengan parfummu, Yeobo… tapi aku tetap ingin bau tubuhku lebih maskulin.”

Joana mendengus sebal lalu membenamkan diri di bathup. Dia masih saja berlama-lama di situ walau pun Aldian sudah mengakhiri acara mandinya dan memasuki kamar. Aldian masih geli dengan kejadian barusan tapi rencana malam ini harus tetap berjalan walau pun Joana sudah mendahuluinya tadi. Dia merogoh sesuatu di dalam tas kerja, memungut sebuah kotak persegi panjang dari dalamnya.

Joana keluar dari dalam kamar mandi dengan balutan handuk kimono. Aldian cepat-cepat menyembunyikan kotak itu di saku jubahnya. Saat Joana mendekati lemari pakaian, Aldian menghidupkan VCD player. Instrument piano dari Bob Acri melantunkan ‘Sleep away’ .  suasana  romantis segera menghiasi ruangan itu.

Joana masih sibuk memilah-milah baju di lemari saat Aldian melingkarkan lengan di perutnya. Dengan sekali tarikan, tubuh mungil itu menempel erat di dada Aldian. Joana menoleh. “Dance with me, sexy,” bisik Aldian di tengkuk Joana.

Joana berbalik, ditatapnya Aldian yang kini menarik pinggangnya lagi, “Sini!”

Mereka berdansa dengan latar belakang alunan lembut ‘Sleep Away’. Dan Aldian memeluk Joana erat dan agak mengangkat tubuh Joana lalu memutarnya sekali putaran saat irama ‘Sleep Away’ berjalan agak cepat. Joana tertawa lepas. Dan akhirnya dansa berakhir seiring memelannya  irama itu. Joana menatap dengan pandangan berbinar. Mata jeli itu bertambah lebar saat Aldian menunjukkan isi kotak persegi yang dikeluarkan dari kantong jubahnya. “Hadiah hari jadi kita, Yeobo.”

Joana melepaskan pelukan. Dia masih saja menatap isi kotak itu dengan menutup mulutnya. Benda itu begitu berkilau terterpa cahaya lampu. Sebuah kalung emas berliontinkan batu rubi sedang. “Kenapa terkejut begitu?” tanya Aldian.

Tangan Joana terulur, dielusnya kalung emas itu. Ingatannya menerawang pada perhiasan warisan neneknya yang mereka jual untuk modal usaha dulu.

“Aku memesan liontin ini khusus untukmu.”
“Mwo?”
“Aku masih ingat semua bentuk  perhiasanmu yang ku jual.” Aldian tersenyum lega. Tangannya terarah ke kening.”Semuanya kuingat di sini.”

“Satu per satu aku akan mengembalikannya lagi, Yeobo,” sambung Aldian.

“Oh, Oppa,” Joana begitu terharu. “Joan tidak mengharapkan semuanya kembali. Joan iklas. Sungguh!”

Aldian memungut liontin itu dari tempatnya lalu melingkarkannya di leher Joana. “Ijinkan aku memanjakanmu malam ini.” Joana menunduk, menatap liontin yang dipegangnya yang kini melingkar di lehernya. Aldian mengecup keningnya begitu dalam. Dan akhirnya mereka berpelukan lagi.

“Saranghe, oppa… .”
“Sarangheyo….”

Malam semakin sunyi. Angin dingin bertiup melalui pintu balkon yang masih terbuka. Aldian bergegas menutupnya. Joana kembali pada kegiatan awalnya, memilih-milih piyama untuk dipakai.

“Apa yang kau lakukan, Mungil?” tanya Aldian yang sudah berdiri di belakangnya sehingga membuat Joana melonjak kaget. Aldian tertawa melihatnya,”Mian, mengagetkan, ya?”

“Ne,” Joana mengangguk sambil memajukan bibir sebal. Piyama yang dia ingin pakai sudah ketemu. Dia ingin mengenakan baju itu, tapi Aldian sudah menarik tali kimononya. Joana menghadap Aldian dengan tatapan penuh tanya. Perlahan, tangan Aldian menyelip ke pinggangnya melalui gaun itu, lalu menariknya lembut. Sepertinya Joana cukup tanggap dengan yang akan terjadi selanjutnya. Mereka berciuman kembali. Handuk kimono itu meluncur turun kemudian. Teronggok begitu saja di antara kakinya.

Sementara ciuman Aldian semakin merambat turun di lehernya.  Joana menarik tali jubah Aldian. Dia ingin lebih menempel pada suaminya, tapi kepala Aldian semakin ke bawah, hasrat liarnya bergelora. Dia melengkungkan badan sambil mendesah. Berusaha melepaskan diri dari sensasi itu tapi Aldian tak mengijinkannya. Sebenarnya mereka terlalu lelah, tapi malam hari jadi ini begitu sayang jika tak dimanfaatkan. Hingga pada akhirnya Aldian membopong tubuh istrinya ke atas ranjang. Mereka melanjutkan kembali kisah itu di pembaringan.

Joana menghela nafas kini. Aldian yang tertidur memeluknya erat. Perlahan dia menunduk, memandang liontin pemberian Aldian yang melingkar di lehernya. Pandangan matanya segera beralih ke Aldian. Bahkan wajah suaminya itu masih terlihat tampan saat tidur. Dia bergerak, perlahan mencium pipi Aldian. “Saranghe, Oppa…,” bisiknya kemudian. Aldian membuka mata sebentar. Dengan gerakan malas dan tersenyum, Aldian mempererat pelukan lalu tertidur kembali. Dan di malam hari jadi ini, sekali lagi mereka saling mengisi, satu terhadap yang lain.


BERSAMBUNG
« Last Edit: June 25, 2011, 10:49:03 am by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 18----26 Juni 2011)
« Reply #984 on: June 25, 2011, 12:05:16 pm »
sisi,,Joanaldian pan udah ngisi atu sama lain ni [on] [on] ..brati besok pagi kluar kamarnya udah bertiga dong?? [what]
masa masih betah berdua mulu [sweat] [sweat] kan udin diisi tuh [drool]

Love you more than I can say

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 18----26 Juni 2011)
« Reply #985 on: June 25, 2011, 12:19:38 pm »
sisi,,Joanaldian pan udah ngisi atu sama lain ni [on] [on] ..brati besok pagi kluar kamarnya udah bertiga dong?? [what]
masa masih betah berdua mulu [sweat] [sweat] kan udin diisi tuh [drool]

 [what] [what] emangnya diisi apaan, ya???

 [wacko] [wacko] diisi apaan, sih???


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 18----26 Juni 2011)
« Reply #986 on: June 25, 2011, 03:37:13 pm »
Dara ama Albert emang couple yg hmmmmm disaat Joan sedìh kehlangan anak eh mereka malah bikin anak,hmf. Ngakak gw liat scene bathup maksud aldian mau berendam eh istri mungilnya malah ngeduluin berendam jdnya kan ehem ehem,hmf. Aldian sweet bgt ampe membelikan hadiah anniversary mereka kalung liontin batu rubi yg sama persis u/joana walau gw tetep kesel dg pikiran jahat Aldian soal anak chyntia. Berharap kebhagiaan ini terus berlanjut tp tetep aja was was jika joan akan mengetahui rahasia busuk Aldian,hufff. Sisi tengkyu udin diupdate and kudunya tokcer tu joana coz ampe 3 ronde pan ,hmf


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 18----26 Juni 2011)
« Reply #987 on: June 25, 2011, 05:55:23 pm »
Gumawo eon dach update.joan makin lama mkin agresif.weleh weleh weleh albert ma dara tmen lgi kehilangan anak malah buat anak.kira2 kpn nih joan pnya anak,klo bleh minta anaknx prempuan ja biar mungil kya joan.och jgn lupa update mr.perfect.

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 18----26 Juni 2011)
« Reply #988 on: June 25, 2011, 08:47:12 pm »
Akhirnya diupdet juga setelah penantian lama dikaki gunung [hmpfh] makasih ya [flowers] [flowers] tapi kok pendek g puasss  [goodgrief] [goodgrief] [goodgrief] [goodgrief] maklum reader tak beriman gak punya rasa syukur..

yaelah..adeku si mungil muda tambah genit.nakal lagi,kelakuannya cute banget  nyiapin air hangat buat dirinya sendiri [hmff],sempat kepkiran sih pasti ada hot-hotnya nih pas disumbangin lagu ternyata berbagi kamar mandi [on] [on] [on] [on].
dikasi anak aja author kasian tuh mereka dah nikah setahun belum punya momongan malah udah dilambung kiri kanan ma dara n albert,gak nyangka.btw hub.nanny ma oppa jadi kaku ya semenjak kejadian itu,joana gak curiga tuh??kalung yg dipake joan waktu g pake busana mengingatkan pada titanic. [hmpfh]..sekali lagi thank you dah di updet author teririt [biggrin] [biggrin]
[/size][/color][/b]

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 18----26 Juni 2011)
« Reply #989 on: June 25, 2011, 08:59:03 pm »
joan..joan...kau memang si mungil liar..next bikin dia hamidun dong kasian kan uda kebelet pngen pnya anak dr aldian ampe berusaha keras 3 ronde..next update hospital ya sekalian lngsng kawinin.. [hmpfh]