Poll

kira-kira lagu apa yang cocok buat MP Aljoana

"Wonderful Tonight" By Eric Clapton
3 (18.8%)
"Baby Can I Hold You Tonight"  By. Boyzone
3 (18.8%)
"One Night" By The Corrs
10 (62.5%)
terserah author (glodak!)
0 (0%)

Total Members Voted: 16

Author Topic: Re: THE MAESTRO (chapter 22 ---- 31 Juli 2011)  (Read 36573 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 20 ---- 9 Juli 2011)
« Reply #1080 on: July 11, 2011, 07:01:13 am »
OMG mylilsista dijadiin makanan 3x shari,untung joannya msh muda jd....?emang lagunya apa?
iya, 3xsehari but cuma sehari dlm seminggu, sama juga bo'ong. Ai mta lagune daniel yg don't sleep away this night.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 20 ---- 9 Juli 2011)
« Reply #1081 on: July 11, 2011, 07:29:58 am »
kalo lagunya yang itu jd nextchap aljoan bakal makan memakan??jd g sabar..arrggh..sori malam ini gw error gara2 ovj.
[/size][/color][/b]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 20 ---- 9 Juli 2011)
« Reply #1082 on: July 11, 2011, 04:46:00 pm »
kalo lagunya yang itu jd nextchap aljoan bakal makan memakan??jd g sabar..arrggh..sori malam ini gw error gara2 ovj.
ada2 aja, makan memakan.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 20 ---- 9 Juli 2011)
« Reply #1083 on: July 12, 2011, 10:17:14 am »
numpang nyanyi ya.Denting by melly goeslaw..'denting yg berbunyi dr dinding kamarku,sadarkan diriku dr lamunan panjang,tak terasa malam kini semakin larut kumasih terjaga...sayang kau dimana aku ingin bersama,aku butuh semua untuk tepiskan rindu,mungkinkah kau disana merasa yg sama seperti diriku di malam ini...rintik gerimis mengundang kekasih dimalam ini,kita menari dalam rindu yg indah..sepi kurasa hatiku saat ini oh sayangku jika kau disini aku tenang'..berhubung readr dh nyanyi giliran author update.
[/size][/color][/b]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 20 ---- 9 Juli 2011)
« Reply #1084 on: July 12, 2011, 06:14:02 pm »
numpang nyanyi ya.Denting by melly goeslaw..'denting yg berbunyi dr dinding kamarku,sadarkan diriku dr lamunan panjang,tak terasa malam kini semakin larut kumasih terjaga...sayang kau dimana aku ingin bersama,aku butuh semua untuk tepiskan rindu,mungkinkah kau disana merasa yg sama seperti diriku di malam ini...rintik gerimis mengundang kekasih dimalam ini,kita menari dalam rindu yg indah..sepi kurasa hatiku saat ini oh sayangku jika kau disini aku tenang'..berhubung readr dh nyanyi giliran author update.
o o o, don't sleep away this night my baby, please stay with me until it dawn.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 20 ---- 9 Juli 2011)
« Reply #1085 on: July 13, 2011, 02:19:17 am »
tsamina mina eh eh waka waka eh eh...gol gol gol ole ole ole,tonight's the night we're gonna celebrate..the cup of life!!ole ole ole.(beri smangat pd pasangan yg tdk akn tidur semalaman..dan sayapun didepak dr tret ni)
[/size][/color][/b]

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 20 ---- 9 Juli 2011)
« Reply #1086 on: July 15, 2011, 06:51:43 pm »
Joan makin lama makin kolokan aja. Untung ada bibi mina dan May halmoni...(temennya kok org tua semua yak? Hihi).... Kalau ngga, jgn2 dia nyusul Aldian ke Busan.

Albert jg bnr2 teman yg baek. Coba kalau dia jahat, jangan2 malah ikut2an ngomporin Joan. Btw, gw lupa, chintya tinggalnya d mana ya sekarang? Di Busan jg bukan? Atau di Jeju??

Makasi buat updetnya yaaa...Lanjut sist...

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 20 ---- 9 Juli 2011)
« Reply #1087 on: July 15, 2011, 11:43:21 pm »
authornya msh berkutat ma kerjaan gw was was nunggu yg ini..jangan pergi jangan pergi(d'masiv modeon)
[/size][/color][/b]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 20 ---- 9 Juli 2011)
« Reply #1088 on: July 16, 2011, 11:49:54 am »
THE MAESTRO
Chapter 21


Additional Cast :
Kim Seo Oen as Katherrine Kim



Don't Sleep Away This Night
by. Danielle Sahuleka

Tomorrow’s near, never I felt this way
Tomorrow, how empty it’ll be that day
It tastes a bitter, obvious to tears to dried
To know that you’re my only light
I love you, oh I need you
Oh, yes I do

Don’t sleep away this night my baby
Please stay with me at least ’till dawn
It hurts to know another hour has gone by
And every minute is worthwhile
Oh, I love you

How many lonely days are there waiting for me
How many seasons will flow over me
’till the motions make my tears run dry
At the moments I should cry
For I love you, oh I need you
Oh, yes I do

Don’t sleep away this night my baby
Please stay with me at least ’till dawn
It hurts to know another hour has gone by
And every minute is worthwhile
It makes me so afraid

Don’t sleep away this night my baby
Please stay with me at least ’till dawn
It hurts to know  another hour has gone by
The reason is still I love you



Malam semakin menggelincir menuju dini hari. Bintang di langit tak hentinya berkerjap, menghiasi kelamnya langit, yang kini berusaha digapai indra penglihatan Aldian. Dengkuran lirih Joana di ujung telephone masih terdengar. Mimpi Joana mungkin telah sampai lapisan langit ketujuh, sementara sang suami masih menapak di bumi dan suara mesin pencetak sayup-sayup sebagai latar belakang. Aldian menghela nafas. Bisakah malam ini matanya terpejam? Malam tanpa Joana yang pertama semenjak mereka menikah.

Yong Hwa mengamati tubuh jangkung yang membelakanginya itu. Aldian Lee masih menatap langit. Dinginnya malam menghembuskan uap di antara helaan nafas keduanya. “Tidakkah lebih baik jika anda kembali ke apartemen, Tuan Lee?” Akhirnya Yong Hwa menyuarakan kegalauannya juga. Semenjak sampai di Bussan siang tadi, tak sekali pun bosnya istirahat.

“Pekerjaan kita belum selesai, Yong Hwa-ssi!” Aldian masih memunggunginya saat mengatakan itu.  Yong Hwa mensejajari Aldian di balkon. Sayup-sayup dengkuran Joana di telephon terdengar pula olehnya, membuat pria ini tertawa geli. Aldian pun mematikan telephone dengan raut wajah malu. “Istirahat saja, Tuan Lee. Semua bisa saya handle malam  ini.”

Uap menyembul dari hidung Aldian saat dia mendesah. “Oke, jika ada masalah, hubungi aku,”akhirnya pria ini menyerah juga. Yong Hwa menundukkan badan saat dia meninggalkan ruko menuju apartemen.

Rupanya malam ini begitu berat baginya. Kardus-kardus yang belum tertata menyambut penglihatan saat dia menyalakan lampu ruang tengah apartemennya. Apartemen satu kamar dengan ruang tengah multifungsi yang dibagi dua antara ruang tamu dan dapur berkesan minimalis serta satu kamar mandi disamping kamar utama. Bahkan kaki panjangnya musti melangkahi kardus-kardus itu.

Aldian bisa membayangkan kalimat yang terlontar dari bibir Joana jika melihat keadaan apartemen ini. Istri mungilnya itu selalu menjaga kerapian rumah mereka. Walau pun kecil, rumah di Seoul itu terlihat luas karena kepiawaian Joana pada penataan perabot. Dan melihat kacaunya apartemen ini, Joana pasti mengelus dada. Namun walau begitu, Aldian tetap melangkah menuju satu-satunya kamar di situ. Hatinya tambah nelangsa saat menduduki ranjang. Tidak ada Joana, hanya guling dingin yang terbujur kaku. Aldian jadi sangsi akankah mampu menembus alam mimpi. Hingga akhirnya dia berbaring, mencoba memejam tapi malah pikirannya semakin runyam dan bergerak-gerak gelisah.

Tubuhnya memang lelah, tapi keadaan yang tak seperti biasanya membuahkan imsonia. Akhirnya dia bangkit ke arah laptopnya. Tak ada gunanya dipaksakan, mungkin beberapa lembar proposal bisa membuatnya mengantuk tapi yang ada malah dia semakin tenggelam dengan pekerjaan itu hingga dini hari.

Tidak ada tidur malam tadi. Aldian menyadari itu saat handphonenya berbunyi dan suara riang Joana menyapanya di pagi hari,”Oppa sudah bangun?”

Aldian pura-pura menguap sebelum menjawab pertanyaan itu. “Ne, Yeobo. Kau sudah bangun juga?” Aldian tersenyum karena membohongi Joana, jika tidak begitu, si ceriwis mungil di seberang sana pasti mulai ngomel. “Tentu saja, Oppa.. Sekarang Oppa mandi terus cari sarapan, ya?” nah, mulai deh memerintah. Aldian semakin geli, “Ne, Yeobo.”

“Oh, iya… nanti pake kemeja yang warna biru muda, terus dipadu sama jas yang hitam, dasinya yang warna biru terus bergaris putih itu, ya?” perintah dari seberang telephon lagi.

“Ne,” Aldian keluar kamar dan berjalan ke arah kamar mandi.

“Joan tutup telephonnya , Oppa. Jangan lupa sarapan.” Aldian baru saja akan bersuara tapi Joana sudah menutup telephon. Kini pandangan nanar tertuju pada layar telephon itu. Bath up yang lebih kecil dari yang berada di rumahnya di Seoul, terpampang di depannya. “Yeobo…, bagaimana menyiapkan mandi aroma terapi hangat seperti yang kau lakukan?” pertanyaan itu hanya tercekat di angan-angan. Archhhhh! Semakin Pusing! Aldian mengacak-acak rambut frustasi.

Di rumah peninggalan keluarga Goo, Joana menuruni tangga dengan langkah riang. Seperti biasa, sudah tampil cantik dan rapi, bahkan ruangan demi ruangan itu sudah tersapu bersih sepuluh menit sebelum mandi tadi. Hidungnya mulai kembang kempis membaui masakan Mina Im yang sudah tersaji di meja makan. “Sepertinya enak,” gumamnya sambil mencelupkan ujung jari di masakan berkuah itu, lalu menjilat sesaat.

“Sudah rapi kau rupanya?” Mina Im menduduki kursi di depannya. Ditatapnya wajah sumringah Joana, sangat kontras dengan wajah yang kemarin. “Kau sepertinya girang sekali!”

Joana menduduki kursi di samping Mina. Kepala mungilnya mengangguk-angguk riang, seulas senyum menyembul di bibirnya, membuat pipi yang bersemu merah itu tertarik ke atas dan lesung pipit yang selalu ingin dicubit Aldian semakin kentara. “Oppa menelphonku semalam, dia juga menyanyikan lagu nina bobo untukku,” cerocos Joana di pagi hari ini.

“Jinja? Lagu apa, Sayang?” seperti biasa, Mina Im selalu ingin menggoda. “Ih, Nany… mau tahuuuu aja,” nyinyir Joana yang membuat Mina Im terbahak-bahak.

Joana mengawali pagi dengan senyuman di wajahnya. Bahkan senandung lirih terlontar dari bibir mungilnya saat mengendarai impressernya menuju kampus. Lalu-lalang Seoul menyambut perjalanannya, hingga mobil itu berhenti saat di pertigaan karena nyala merah traficlight. Senandung lirih itu semakin lirih saat mempertajam pandangan pada seseorang di mobil tepat di sebelah kanannya. Kaca jendela mobil itu terbuka, dan Joana tahu betul siapa orang itu. Rambut keperakannya begitu familiar dan Joana menunduk menyembunyikan wajahnya. Pria itu…, Harriot Lee, akhirnya melewati Joana begitu saja karena mobil yang dikemudikan sopirnya lebih dulu melaju. Joana menghembuskan nafas lega, sementara tangan kanannya mengelus-elus dada, sampai kapan pun…, belum ada keberanian untuk menghadapi keluarga Lee tanpa Aldian di sisinya.


--ooOoo—


“Apa? Kuliah Miss Mary kosong?” Dara berteriak di antara sorakan mahasiswa yang mengaung. Sudah menjadi kebiasaan para mahasiswa yang kegirangan jika ada mata kuliah yang kosong. “Ih! Tidak sopan sekali! Kosong kok pas jam terakhir, tahu begini lebih baik aku pulang tadi!” sungutnya sambil mengelus perutnya yang makin membuncit lalu melirik Joana yang asyik dengan earphone di telinga, mendengarkan music dari MP3, seakan tak terpengaruh dengan kegaduhan sekitarnya.

“Hm.., ni anak kalau sudah keasyikan…, ckckckck,” Dara berdecak jengkel. Dengan agak berat menyangga perutnya, dia bangkit dari kursi dan menghampiri Nyonya Lee yang masih asyik itu. Semakin geli juga saat kepala Joana bergoyang-goyang dengan mata terpejam mengikuti irama music yang hanya bisa didengarnya sendiri. “He!” panggil Dara sambil menepuk bahu Joana.

Joana membelalak, lalu menampakkan ekspresi wajah menginterogasi. “Kuliah Miss Marry kosong,” kata Dara.
“Mwo?” Tanya Joana sambil mencopot earphonenya. “Kuliah Miss Marry kosong,” ulang Dara lagi jengkel.

“O,” hanya itu yang diucapkan Joana lalu memberesi bukunya yang berantakan akibat mengotak-atik not balok saat menunggu Miss Mary tadi. “Eh,” tangan Dara menghentikan gerakan tangan Joana yang sibuk itu. Joana menatap dengan dahi berkernyit.

“Kita ngemall, yuk!” ajakan Dara membuat Joana hampir terjengkang. Bagaimana mungkin ibu-ibu hamil pengen jalan ke Mall?

“Ayolah, mumpung Albert tidak ada, jadi tidak ada yang cerewet di sini. Aku pengen lihat acara penerbitan perdana buku puisi Damian Yoo!” Pengharapan Dara membuat Joana meleleh hingga dia tidak begitu mendengar nama terakhir di kalimat itu.

“OKe!”
“Yes!” Dara bersorak. Mulut Joana mengkerucut.

“Pake mobilmu, ya? Mobilku dibawa Albert!”

Gubrak! Semakin berat tanggungjawab Joana menyopiri ibu-ibu hamil. Namun walau begitu, Joana mengangguk juga. Berdua mereka berjalan menuju Impresser silver milik Aldian di parkiran kampus. Setelah memastikan Dara memasang sabuk pengamannya, Joana melajukan mobilnya pelan. Lagu “Tonight (I’m loving you)-nya Eunrique Iglesias, mengiringi. Joana menyopir sambil mengangguk-anggukkan kepala, menggoyang-goyangkan pundaknya mengikuti irama ngebit itu. Sedangkan Dara yang tak bisa melakukan itu karena kebesaran perut hanya bisa cemberut. Joana semakin meliuk-liukkan pinggangnya di kursi, menggoda Dara saat lampu merah menyala.

“Ne… ne… kau masih seksi,” omel Dara. Joana ngakak seketika. “Senang banget kau hari ini!” cibir Dara lagi.

“Tentu,” respon Joana dengan senyum di kulum. Senyuman yang membuahkan tanda tanya di kepala Dara hingga mampu menebak asal, “Suamimu menelphon?”

“Ne!” angguk Joana.
“Sudah kuduga! Hal yang membuatmu bahagia cuma Aldian Lee!” dengus Dara. Joana tergelak kemudian, namun saat dia menoleh ke sebelah kirinya, sekali lagi dia terhenyak. Kali ini Victoria Lee ada di dalam mobil sebelah dan dia tahu betul itu. Joana menahan nafas, membiarkan mobil itu mendahuluinya saat lampu hijau menyala. Aneh, kenapa dia harus berpapasan dengan mereka di saat Aldian tidak ada di Seoul. “Oppa…, aku takut,” batin Joana masih takut menghadapi keluarga Lee.

Mall di pusat kota itu ramai seperti biasanya. Keduanya langsung menuju toko buku tempat acara berlangsung. Dara sangat antusias, panjang lebar dia ngerocos tentang penyair yang sedang naik daun itu. Lagu “Tonight (I’m loving you)-nya Eunrique Iglesias menyambut mereka saat memasuki toko buku. Dara tertawa melihat wajah heran Joana. Bagaimana bisa lagu ini lagi?

“Dulu kehidupannya sangat kacau!” kata Dara sambil menandatangani buku tamu. Joana masih asyik mendengarkan kata-kata Dara, hingga tidak menyadari poster-poster promosi acara itu. “Tapi kehidupannya berubah sejak setahun yang lalu. Entah apa penyebabnya?” sambung Dara lagi saat Joana mengambilalih buku tamu untuk di tanda tangani.

Mereka meneruskan langkah, Dara masih saja mengelus-elus perutnya. “Orang-orang bilang dia berubah karena seorang wanita. Bahkan dia menulis inisial wanita itu di bukunya, JL… .”

“JL?”
“Ne, JL!”

Joana menyapu interior toko buku  dengan  matanya yang semakin melebar. Hingga sampailah mereka di sekumpulan orang yang duduk di kursi berderet, melingkari seorang pria yang sedang memberikan kata sambutan untuk keberhasilan penerbitan buku puisi perdananya, mata lebar Joana mengerjap, seakan memperjelas pandangannya. Tak dipungkiri lagi, Joana mengenali lelaki itu sebagai Damian Yoo walau pun dengan penampilan yang jauh berbeda dari setahun yang lalu. Dara berbisik padanya,”Itu dia, Damian Yoo,” lalu menduduki salah satu kursi di situ.

Joana sempat terpaku, sehingga dia jadi satu-satunya orang yang berdiri di situ dan Damian melihatnya. Perkataan pria itu terpotong karena kehadirannya. Damian memandangnya dalam hingga semua hadirin menelusuri pandangan pria itu dan bertemu di satu titik yaitu padanya.

“Joana,” Dara menarik lengan Joana hingga terduduk.

Damian Yoo pun meneruskan sambutannya lagi dan berlanjut ke acara penandatanganan buku. Dia menandatangani satu buku di sana. Pembawa acara mengumumkan hal yang membuat hadirin berdebar-debar,”Siapakah di sini yang akan mendapatkan tanda tangan pertama Damian Yoo?” dan tentu saja semua orang yang ada di situ berteriak antusias termasuk Dara. Joana melirik sahabatnya itu tanpa suara. Semakin serba salah mengingat kenangan lama.

“Damian-ssi, coba tunjuk siapa diantara para wanita yang beruntung ini yang mendapat tanda-tangan pertamamu?” tanya sang MC. Sekali lagi Damian memandang Joana. wanita itu menunduk serba salah, seulas senyum tampak di wajah Damian. Kemudian tangannya menunjuk,”Pada ibu hamil yang di pojok kanan sana.”

Dara menutup mulutnya saking gembira. Joana menghela nafas lega. Dengan kegembiraan meluap, Dara maju untuk menerima buku itu. Lebih bahagia saat Damian mengelus perutnya,”Sudah berapa bulan, Nyonya?”

“Lima bulan!” jawab Dara sambil menunjukkan kelima jarinya.
“Chuke!” ujar Damian sambil menyalami Dara. “Boleh aku memelukmu?” rupanya jabatan tangan tidak cukup buat Dara. Damian mengangguk. Apa salahnya membuat ibu hamil senang? Akhirnya keduanya berpelukan dan Joana memandang dengan dahi berkernyit.

Damian punya waktu juga untuk berbincang dengan Joana, tanpa Dara yang mulai sibuk menelusuri puisi demi puisi di buku yang berhasil didapatkannya secara gratis di sofa pojok toko buku itu. Damian mendekati Joana yang melihat-lihat DVD, mencari-cari shimphony orchestra. “Apa kabar, Joana Lee,” sapanya ramah, membuat Joana memandangnya gugup.

“B… ba..ik!” jawaban terbata itu membuat Damian menghela nafas.”Aku tahu…, aku memang brengsek di masa lalu.”

“Bu… bukan begitu,” sekali lagi Joana menampakkan kegugupan. Damian tersenyum samar. “Aku berubah, Joana. Kata-katamu membuatku berubah.”

“Kata-kata? Yang Mana?” Joana memang sudah melupakan semua ucapannya pada pria itu di masa lalu. Tidak ada yang menarik dalam kata-kata pedas itu tapi Damian ingin mengingatkan Joana kembali, “Mencintai sesuatu karena Tuhan.”

Damian menyodorkan salah satu buku puisinya pada Joana. Yang disambut senyuman hangat pada akhirnya oleh Joana. “Gumawo!”

“JL,” gumam Joana saat membuka halaman kata sambutan di buku. Damian mengngguk lemah. “Joana Lee,” bisiknya lirih. Joana-lah sumber inspirasinya, Joana-lah yang membuatnya berubah dan lebih dari itu, Damian mencintai Joana jauh di lubuk hatinya. Namun, alam sadarnya masih memberinya keinsyafan, bahwa wanita ini tidak mungkin dia milikki. Karena itulah dia menuliskan inisial nama Joana dengan ‘JL’… Joana Lee, untuk selalu mengingatkannya bahwa hanya Aldian Lee yang berhak atas wanita itu.

Senyuman tipis melengkung di bibir Joana, lalu menghampiri Dara diiringi tatapan persahabatan dari Damian Yoo.  Aku mencintaimu…, namun biarlah aku menatapmu dari kejauhan. Senyuman di wajahmu saat bersama pria yang kau cintai lebih berarti bagiku…, daripada aku harus memaksakan kehendak.

Damian menikmati canda tawa itu. Gelak tawa Joana yang berderai saat Dara melontarkan lelucon konyol, dan Damian masih memandang di kejauhan. Orang bilang cinta tak harus memiliki, dan orang lain bilang kalau itu hanyalah kata-kata orang yang kalah dalam bercinta. Tapi apakah dalam cinta ada kalah atau menang? Tentu tidak, Joana Lee…, maka biarkanlah aku dengan kemenanganku jika bayangmu memang kemenangan bagiku… atau dengan kekalahanku, jika memang mereka menganggapku pecundang. Karena yang aku tahu adalah… mencintaimu bagaikan udara bagiku. … mencintaimu bisa membuat hidupku berubah… lebih baik dari setahun yang lalu….


--ooOoo--


Hari Minggu adalah hari yang tepat untuk bermalas-malasan. Tapi tidak bagi Joana. Pagi-pagi benar dia mempersiapkan penyambutan bagi Aldian. Masakan kesukaan Aldian tersaji di meja makan, dan seperti janjinya pada Aldian, berdandan secantik-cantiknya pun sudah dia lakukan. Bahkan impresser silver yang sudah dia cuci sabtu sore kemaren, siap menjemput Aldian ke stasiun jika pria itu menelphon. Mina Im hanya menggeleng melihat tingkahnya yang kini mondar-mandir di ruang tengah. Sementara handphonenya tergeletak di atas deks piano. Sesekali kepalanya melongok ke layar HP.

Mina Im mendesah. Sekali lagi kepala Joana terjulur ke HP lalu berjalan resah lagi sambil menggigiti kuku jari-jarinya. “Tanpa kau longok pun, kamu pasti dengar kalau HP itu bunyi, kau tidak mensilent-nya, kan?” keluh Mina yang sudah amat risih dengan tingkah momongannya. Joana terdiam sebentar, lalu mendengus sebal setelah meliriknya. “Memangnya kemarin apa yang dibilang suamimu itu? Dia naik kereta yang jam berapa?” tanya Mina lagi.

“Oppa bilang kereta paling pagi, Nany-a. Tapi kenapa sampai sekarang Oppa belum telephone untuk dijemput?”

“Mungkin keretanya terlambat, atau penuh sehingga Aldian naik kereta berikutnya,” Mina berusaha memberi pengertian pada Joana. “Ah, sudahlah berhenti! Jangan mondar-mandir  seperti itu! Aku pusing!” protesan Mina yang membuat Joana terpaksa duduk di kursi yang menghadapi piano. Dengan posisi itu, dia masih leluasa melongokkan kepala ke layar handphone.

“Kau tidak sarapan dulu?” tawar Mina Im untuk mengalihkan perhatian Joana. Tentu saja jawabannya mudah ditebak, Joana menggeleng mantap. Sekali lagi kepala Mina Im mendesah. Ditinggalkannya begitu saja Joana di ruang tengah, untuk meneruskan rajutan di dalam kamar.

Mungkin Mina Im terlalu asyik merajut, hingga tak sadar jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Wanita paruh baya itu keluar kamar dan mendapati Joana yang menangis sesenggukan di depan piano. “Joana, gwencana?” dengan kepanikan akut, Mina menghampiri Joana.

“Oppa tidak menjawab telephonku!” ucap Joana diantara isak tangisnya. Mina mengelus kepalanya lembut. “Mungkin sedang dalam perjalanan, Sayang.”

Dalam perjalanan? Bagaimana mungkin? Sekarang sudah jam sepuluh lebih, seharusnya Aldian menelphone untuk dijemput. Di sini Joana mulai panik, tangisannya terhenti seketika. Sekali lagi dihubunginya nomor Aldian. Tapi hubungan itu tidak juga tersambung. Joana berdiri seketika lalu menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas.

Mina Im terkejut melihatnya yang sudah rapi dengan mantel dan tasnya. “Mau kemana, Joan?”
“Jika Oppa tidak pulang, maka aku yang akan ke Bussan,” jawab Joana mantap.
“Tapi?”

Joana tidak memperdulikan Mina yang sepertinya akan memprotes. Ibu asuhnya semakin gusar saat dia memasuki mobil. “Tunggu! Kau tidak akan mengendarai mobil sendiri ke Bussan, bukan?”

“Apa salahnya, Nany. Aku kawatir terjadi sesuatu pada Oppa.”
“Tapi…
“Jangan kawatir,” potong Joana sebelum Mina memprotes lagi. “Joan sudah mendapatkan lisensi mengemudi, Joan janji akan lebih berhati-hati di jalan. Nany tunggu di rumah saja, jaga-jaga kalau Oppa datang.”

Bibir Mina Im mengkerucut. “Lalu apa yang akan aku bilang kalau dia benar-benar pulang dan kau tidak di rumah?”

Joana jadi berpikir sejenak. Apa yang dibilang Nany benar juga, tapi hatiku merasa kawatir pada Oppa. Sepertinya Oppa sedang mengalami kesulitan. Oppa tidak pernah ingkar janji sebelumnya. “Eh…, bilang saja Joan pergi sebentar ke rumah Dara, lalu Nany menelphonku, aku pasti langsung kembali, Nany.”

“Oke!” desah Mina Im. “Tapi tunggu sebentar, kau harus membawa makanan-makanan itu, siapa tahu kekawatiranmu itu benar. Tunggu, ya… aku ambilkan makanan itu.”

Joana hanya bisa mengangguk. Sementara Mina Im memasuki rumah untuk mengambil bekal, Joana mampu melihat dari kaca spion, kalau keluarga Chang sedang kedatangan tamu. Dari bentuk mobil yang terparkir di perataran rumah di seberang jalan itu, Joana menyimpulkan tamu Chang Dong Wook pasti orang yang berpengaruh. Lamunan Joana terhenti saat Mina menjulurkan rantang makanan melalui jendela mobil,”Bawa ini! Aku yakin kau akan memerlukannya nanti!”

“Gumawo, Nany-a,” ucap Joana sambil menghidupkan mobil. Mina menghantarkan kepergiannya dengan lambaian tangan lalu memasuki rumah saat dia melongok melalui spionnya.

Sekali lagi lalu-lintas Seoul menyapanya. Hari libur membuat jalanan yang biasanya semrawut itu jadi agak lenggang. Warga Seoul biasanya keluar kota di hari libur, dan tentu saja lalu lintas akan kembali ‘normal’ saat arus balik di Minggu sore. Dan inilah perjalanan jarak jauh pertama yang ditempuh Joana seorang diri. Tanpa sopir, tanpa Aldian dan jalanan yang licin karena salju. Kekawatirannya pada sang suami telah mengalahkan rasa takutnya. Dia sudah mulai mandiri, walau pun terkadang masih cengeng. Dia sudah agak tidak tergantung pada Aldian walau pun masih terdengar manja di telephone. Rupanya hubungan jarak jauh merupakan terapi mujarab bagi mentalitas Joana.

Hingga akhirnya suasana Seoul berganti dengan suasana metropolitan Bussan, Joana bisa merasakan perubahan udara yang berhembus di masing-masing kota. Senyuman indah tersungging di bibirnya dan kemudian teringat cerita Mei dua hari yang lalu,”Bayangkan jika kau harus berjalan jauh dengan mobil di malam gulita, hanya ada empat buah lampu mobil sebagai penerang jalanmu, sementara sekelingmu tidak ada satu pun lampu mercuri, maka hanya empat lampu itu sebagai andalanmu. Teruslah berdoa dan melangkah maju, karena sejengkal demi sejengkal, keempat lampu itu menerangi jalanmu, hingga kau sampai tujuan dengan selamat.”

Dan itulah yang kini Joana lakukan, jika kebingungan, Joana menanyakan arah pada polisi lalu-lintas, hingga akhirnya mobil impresser itu terparkir mulus di depan gedung apartemen Aldian. Joana menengadah, menatap tingginya gedung apartemen yang bagai pencakar langit itu walau tata bagunannya terbilang sederhana. Aldian harus berhemat untuk kehidupannya di Bussan, sementara dia masih bisa merasakan kemewahan di Seoul. Melihat hal itu, Joana semakin miris. Pria itu tinggal sendirian di Bussan, kekawatiran Joana sudah pasti beralasan. Apalagi saat tiba-tiba mobil Yong Hwa berhenti tepat di depannya, dan pria itu menuruni mobil, dengan dahi berkerut menatapnya,”Anda di sini, Nyonya? Bukankah Tuan Lee sudah berangkat ke Seoul?”

“Apa kau bilang? Oppa sudah ke Seoul?” Joana semakin kawatir. Yong Hwa menggeleng lemah. “Bukan begitu maksud saya. Tuan Lee bilang akan pulang hari Minggu ini dengan kereta paling pagi, jadi aku berkesimpulan kalau Tuan Lee sudah pulang ke Seoul.”

“Dia juga bilang begitu padamu?”
“Ne,” Yong Hwa mengangguk.
“Dia belum sampai ke Seoul.” Joana semakin lemas sudah. Yong Hwa berusaha menenangkan tangisan Joana. Seorang wanita yang melihat adegan itu menghampiri mereka, “Hei! Yong Hwa? Apa yang kau lakukan pada pacarmu sehingga menangis begitu,” tegur wanita itu asal.

Yong Hwa mendelik sebal ke arahnya. “Jangan ngawur, Kate. Ini istri Tuan Lee,” omel Yong Hwa yang membuat wanita itu membelalak tak percaya. “What  a surprise! Tak ku sangka istri Tuan Lee seumuranku, aku kira dia kekasihmu.”

Joana tidak memperdulikan obrolan mereka. Dia masih menangis sesenggukan. Yong Hwa semakin serba salah, “Sudahlah, Kau melihat Tuan Lee keluar apartemen pagi ini?”

Kate berpikir sebentar, dia berusaha mengingat-ingat. “Setahuku belum. Dia belum keluar apartemen pagi ini.”

“Kau yakin?” Yong Hwa masih saja menyelidik. Membuat Kate jadi sewot,”Tentu saja! Apartemen Tuan Lee kan tepat di sebelahku! Semalam dia batuk-batuk terus. Suara batuknya membuatku tidak bisa tidur!”

Joana berhenti menangis mendengar perkataan Kate. Lalu melesat menuju apartemen Aldian. “Hei!” Yong Hwa dan Kate mengejarnya. Joana mendahului mereka memasuki lift, sehingga keduanya harus menunggu terbukanya pintu lift sebelah.

Joana langsung memencet bel saat berada di depan apartemen Aldian. Tak puas dengan panggilan elektronik itu, Joana mengentuk-ketuk pintu sambil memanggil, “Oppa! Ini Joan.”

“Oppa!” Joana semakin keras memanggil saat pintu tak juga terbuka. Dia berhenti saat suara lemah langkah kaki mendekati pintu diselingi suara batuk dari dalam.

“Oppa…,” Joana menatap Aldian yang kini berdiri di hadapannya saat pintu itu akhirnya terbuka. “Yeobo…,” desah lirih Aldian yang akhirnya ambruk di bahu istrinya. Joana menahan tubuh oleng itu sekuat tenaga. Yong Hwa  yang menyusul di belakang segera menolong, memapah tubuh Aldian memasuki apartemennya.

“Aku akan menelphone dokter,” kata Kate yang tak kalah panik melihat kejadian di sebelah apartemennya. …..


“Bagaimana keadaannya, Nyonya?” tanya Yong Hwa saat dokter yang dipanggil Kate tadi sudah pergi dan si cerewet tetangga sebelah, Katerine Kim sudah pulang.

Joana meremas-remas jari tangannya. Yong Hwa melirik kegusaran itu, dan semakin menyadari keadaan Aldian mungkin parah.

“Dokter bilang penyakit tifus, tapi karena ketahanan tubuhnya lemah, akhirnya batuk-batuk juga. Apa majikanmu merokok selama di sini, Yong Hwa-ssi?”

Yong Hwa menahan nafas. Dia tidak bisa berbohong, Aldian mulai merokok setelah sampai di Bussan, mungkin stress memikirkan pekerjaan yang semakin berat.

“Yong Hwa-ssi!” panggil Joana. Yong Hwa mengerjap. “Miane, Nyonya. Saya tidak berani menegurnya.”

“Oh,” Joana semakin terenyuh. Lalu memandang sekeliling apartemen yang berantakan itu. Kardus-kardus pakaian yang belum juga disingkirkan, masih lengkap dengan isinya yang belum dimasukkan dalam lemari. Joana mulai bisa mengira-ira keadaan suaminya yang tak terurus selama seminggu ini. Dia berjalan ke dapur, mencari teko di lemari kemudian ke wastafel untuk mengisinya dengan air. Dia bermaksud merebus air untuk membuat teh. Bahkan melongok ke isi lemari es saat teko itu akhirnya berada di atas kompor yang menyala, tapi lemari es itu kosong melompong.

“Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?” Yong Hwa bisa melihat wajah kebingungan Joana.
“Bisa tunjukkan padaku di mana Swalayan terdekat? Aku butuh membeli persediaan untuk isi kulkas.”

Yong Hwa menggeleng, “Biar saya saja yang melakukannya. Sekalian menebus resep Tuan Lee,” Yong Hwa menawarkan bantuan.

“Kau yakin bisa?” Joana sepertinya sangsi pada uluran tangan Yong Hwa. Pria di depannya ini tersenyum. “Saya terbiasa membantu Omma saya berbelanja sejak kecil.” Senyuman penuh terima kasih tersungging di bibir Joana. disodorkannya kertas resep dan beberapa lembar uang kepada Yong Hwa.  

“Tolong belikan juga madu untuk Oppa, ya?”

“Tunggu di sini, Nyonya. Jaga Tuan Lee. Saya akan segera kembali,” pamit Yong Hwa sebelum meninggalkan ruangan itu.

Kini tinggallah Joana di ruangan yang berantakan itu. Air matanya berjejalan lagi. Inilah yang selalu dia takutkan. “Oppa…,” gumam Joana di antara tangisan tanpa suara itu. Lalu mengambil sebaskom air dingin, memasuki kamar di mana Aldian tertidur pulas. Dengan menahan isakan, Joana menyentuh dahi Aldian, serasa panas di punggung tangannya saat dia melakukan itu. Air matanya masih mengalir saat dia mengompres dahi Aldian. Ketika tangannya hendak membelai wajah pucat suami yang sangat dicintainya itu, Aldian menggenggam tangannya, menciumi punggung tangannya yang halus itu lalu mengarahkan ke dada hingga dia bisa merasakan denyut jantung Aldian di antara jemari tangannya.

Senyuman lemah tampak di bibir Aldian. “Rupanya aku tidak mampu lagi jika tanpa dirimu, Yeobo…,” bisikkan lirih Aldian itu masih bisa Joana dengar, membuatnya semakin tak bisa menahan tangis hingga dia menunduk, merebahkan kepalanya di dada bidang itu dan menangis sesenggukkan.

Karena Aldian terkena tifus, maka dia hanya boleh memakan makanan lunak. Masakan Nany akhirnya tidak mungkin termakan juga. Joana memberikannya pada Yong Hwa daripada mubajir yang diterima pria itu dengan wajah sumringah sembari berjanji akan menghabiskan bersama teman-temannya di ruko. Joana jadi memasak bubur untuk mereka berdua. “Suami istri harus selalu bersama dalam suka dan duka, jika suami makan bubur, istri juga harus makan bubur,”pikirnya saat mengolah beras menjadi bubur ayam yang super lunak yang bisa ditolelir pencernaan Aldian.

Joana menatap puas bahan makanan yang dibawa Yong Hwa tadi, perkataan Yong Hwa memang benar, pria itu sudah terbiasa berbelanja keperluan dapur. Hingga sepoci teh akhirnya siap, dan dua mangkok bubur ayam tersedia.

“Makan, Oppa,” Joana membangunkan Aldian yang memejamkan mata. Pria itu berusaha duduk menyandar, “Jika masih pusing lebih baik berbaring saja,” larang Joana.

“Anhi! Aku takut muntah jika makan sambil tidur,” kalimat Aldian sebelum Joana menyuapinya.
Joana tersenyum melihat suaminya yang makan dengan lahap. Semangkok bubur habis disantap Aldian. Joana membuka botol madu, menuangkan isinya di sendok lalu menyodorkannya di mulut Aldian.

“Apa ini, Yeobo,” tanya Aldian sambil berkernyit.
“Madu, Oppa! Agar Oppa cepat sembuh.”
Aldian tampak jijik dengan cairan kecoklatan itu. “Ayolah, oppa. Rasanya manis, kok.” Mau tak mau Aldian membuka mulutnya, dan akhirnya meneguk cairan manis itu. Sesaat rasa manis di lidahnya berganti pahit saat dia menelan empat tablet dari dokter. “Rasa cairan itu lebih enak dari pada tablet-tablet tadi,” keluh Aldian sambil menunjuk botol madu dengan mulutnya. Joana terkekeh dibuatnya.

“Sekarang Oppa istirahat, ya?”

Aldian mengangguk. Tubuh lemah itu terbaring kembali. Joana akan keluar dari kamar, tapi Aldian sudah menggenggam tangannya, melarang untuk meninggalkannya sendiri. Akhirnya Joana duduk di pinggir ranjang, menepuk-nepuk dada suaminya hingga pria itu tertidur. Dipandanginya wajah terlelap Aldian setelah itu. Wajah pucat itu mulai bercahaya lagi. Sekali lagi dia menyentuh dahi Aldian dan bersyukur  suhu tubuh Aldian berangsur normal.

Aldian benar-benar terlelap, perlahan Joana melepaskan genggaman tangan Aldian. Berjingkat keluar kamar dan sekali lagi ruang tengah yang berantakan menyapanya. Hal pertama yang dilakukan Joana adalah menyatukan kotak-kotak itu di salah satu sudut ruangan lalu membersihkan debu-debu yang ada di setiap inchi perabotan. Beberapa baju kotor berserakan di lantai, Joana harus mengumpulkannya dan memasukkan ke mesin cuci. Sebenarnya dia kawatir suara mesin cuci itu bisa membangunkan Aldian, tapi dia lega saat kerja mesin cuci itu ternyata hening. Catatan pertama untuk apartemen ini, harus segera memasang peredam suara pada dinding-dindingnya. Sembari menunggu kerja mesin cuci, Joana membersihkan lantai. Semuanya beres dan tinggal menunggu pakaian yang dijemur itu kering, Joana baru bisa menyantap bubur ayam yang keburu dingin. Namun dia merasa nyaman karena ruangan ini sudah sangat rapi. Begitu nyaman hingga dia tertidur saat duduk di sofa.

Joana tertidur di sofa ruang tengah, sementara Aldian mulai terbangun, badannya yang mulai membaik rupanya protes karena diajak tidur terus sejak siang tadi. Dia menggeliat, lalu memandang sekelilingnya yang begitu gelap  karena malam telah beranjak dan lampu ruangan itu belum juga menyala. Aldian pun berdiri, berjalan mencari saklar lampu. Joana sudah tidak ada di kamar itu. Dia menuju ruang tengah dan menemukan bidadarinya terlelap. Dia tersenyum pada wajah cantik yang terpejam itu. Ruangan itu sudah begitu nyaman, semuanya serasa mudah saat Joana bersamanya. Aldian mengelus wajah mulus itu, demi Tuhan dia sangat merindukan istrinya. Melihat istrinya di ruangan ini serasa mimpi saja. Seminggu itu sungguh melelahkan baginya. Mianata, Yeobo… ternyata aku memang tak bisa melakukan semua ini tanpamu. Selama ini aku merasa kalau kau lemah  sehingga perlu kulindungi. Ternyata… akulah yang lebih lemah.

Perlahan Joana menggeliat, lalu matanya mengkerjap. “Oppa…, sudah bangun?” tanya Joana. Aldian hanya tersenyum. “Mian, aku membangunkanmu.”

“Oppa tidur lagi saja. Oppa belum sembuh benar,” ujar Joana sambil menyentuh dahi Aldian. Gelengan kepala Aldian menampik semua itu,”Kau bisa merasakan sendiri, kan? Aku sudah tidak demam.” Joana hanya bisa tersenyum dan mengangguk.

“Ah, Sayang,” desah Aldian sambil merangkul Joana, menciumi pipinya yang mulus bahkan puncak kepalanya. “Aku sangat merindukanmu, Mungil. Sungguh!”

“Oppa…, Joan juga… sangat rindu.”
“Jangan tidur lagi, Yeobo… aku mohon jangan tidur.”
“Mwo?”

“Kita harus tetap seperti ini sampai fajar nanti, saling bercerita waktu seminggu yang terlewatkan begitu saja.”

“Tapi Oppa masih sakit,” protes Joana.
“Anhi…, aku tidak akan sakit jika kau di sisiku. Sakitku karena merindukanmu, dan sudah sembuh karena kau di sini.”

Joana tersenyum mendengarnya. Suaminya sepenuhnya miliknya saat ini. Aldian menceritakan hari-harinya yang berat selama di Busan dan Joana menceritakan segalanya tanpa terlewat, tentang orang tua Aldian, tentang pertemuan dengan para istri Veteran dan tentang perubahan drastis Damian Yoo. Mereka ingin menggantikan seminggu yang terlewat itu dalam semalam dan mereka benar-benar bahagia.  

“Saranghe, Yeobo.. .”
“Sarangheyo, Oppa…,”

Tak akan ada lagi yang terlewat, Aldian berjanji lagi dalam hatinya, walau pun dia harus menganulir keputusannya sendiri. Dia benar-benar tidak bisa hidup tanpa Joana, semuanya telah terbukti kini. Malam memang dingin tapi sepoci teh cukup menghangatkan tubuh yang duduk berangkulan itu. Berdua mereka berbincang hingga rembulan bersembunyi malu karena giliran sang surya telah tiba, memberikan kehangatan bagi semua insan dunia.

BERSAMBUNG

ah... selesai... especially for Ai yang request lagu ini...

ingat! jangn minta update ff yang lain lagi buat minggu ini, cz minggu aku seminar, senin ujian kompetensi, selasa presentasi di simpo internasional... intinya... GUE STRESS BERAT!!!!!!


doain semua lancar, ya...
« Last Edit: July 16, 2011, 11:59:31 am by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 21 ---- 17 Juli 2011)
« Reply #1089 on: July 16, 2011, 12:05:32 pm »
pdhl gw mau hospital [hmpfh] [hmpfh] tp gimanapun thanks buat updateannya,, gw koment setelah baca ya #ya iya lah-->kata sisi,, moso komen sebelum baca,,, emang mau koment apaan [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 21 ---- 17 Juli 2011)
« Reply #1090 on: July 16, 2011, 05:27:15 pm »
thank u sdh update yg ni dtengah2 kesibukannya.jd g enak..nah lo ternyata yg g bs pisah si oppa mpe sakit tifus,gmn enggak ade gw kan istri soleha,make bju aj joan yg pakein.habis ini apa joan tinggl dibusan or balik ke seoul??damian muncul lg dgn suasana bru,dan satupersatu org yg dulu2 dh muncul.bkal ada apa nih mpe joan ngeliat ke2 ortu aldian.n yg bkin penasaran tuh tamunya dongwok ada hub.nya kah dgn aljoan???authorx didoain deh moga lancar n sukses.tetap semangat ya.fighting
[/size][/color][/b]

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 21 ---- 17 Juli 2011)
« Reply #1091 on: July 16, 2011, 06:57:49 pm »
Sisi gomawo jadi terharu deh bikin special buat aii :D

Si aldian gak akan kerja di busan lagi ea?
Dia bener2 gak bisa klo ga ada joan.walau sweet momentnya dikit,tapi terharu bgd joan ngerawat suaminya :'D

Sukses buat seminarnya sisi,HWAITING
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline dalbyeol

  • Senior
  • ****
  • Posts: 803
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 21 ---- 17 Juli 2011)
« Reply #1092 on: July 16, 2011, 08:56:02 pm »
Sisi-onnie...gumawo dh update [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

wuihhhh,Aldian ahjussi...sakit ya??? kacian,untung aja Joana dtng ke Busan...klo gak,apa yg akan terjadi??? smua orang nyangka Aldian dh pulang ke Seoul [sweat]

sweet banget adegan trakhirnya [lovestruck]

lanjutkn,onnie...HWAITING!!! [AddEmoticons04262]

And I'll never promise to
be true to anyone,unless it's you...The Day I Fall in Love

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 20 ---- 9 Juli 2011)
« Reply #1093 on: July 16, 2011, 11:07:17 pm »
'OPPAAAA KNP OPPA TIDAK PULANG JOAN KAN KANGEN..JOAN ENGGA TAHAN'....'IYA MUNGIL OPPA JUGA ENGGA TAHAN APALAGI ADIK KECIL OPPA DIA UDA BELINGSUTAN GA KUAT NAHAN LAGI AMPE BOLAK BALIK KAMAR MANDI TERUS'..error.com....sisi update hospital dong..  [smiley-gen013]

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 21 ---- 17 Juli 2011)
« Reply #1094 on: July 17, 2011, 12:24:50 am »
Makasih ya sist buat apdetannya ...

Kasian Aldian. Ga bisa mandiri banget...Malah kok jadi Joana yang jad lebih tough. Kuat. Tapi teteup manja  [hmpfh] [hmpfh]...

Gimana tu akhirnya, Aldian bakal balik ke Seoul, atau Joana yang tinggal di BUsan???

Nyantai aja updetnya sist, tapi harus kembali yaa...jangan lama2...

Terima kasiii.... [arms] [arms]