Poll

kira-kira lagu apa yang cocok buat MP Aljoana

"Wonderful Tonight" By Eric Clapton
3 (18.8%)
"Baby Can I Hold You Tonight"  By. Boyzone
3 (18.8%)
"One Night" By The Corrs
10 (62.5%)
terserah author (glodak!)
0 (0%)

Total Members Voted: 16

Author Topic: Re: THE MAESTRO (chapter 22 ---- 31 Juli 2011)  (Read 35032 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 21 ---- 17 Juli 2011)
« Reply #1110 on: July 24, 2011, 08:39:13 pm »
mian, belum bisa update yg ini. hehehe.
ga pa2,, lanjut hospital dulu nyuk,, lebih ngebet ama yg itu [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 21 ---- 17 Juli 2011)
« Reply #1111 on: July 24, 2011, 09:57:50 pm »
oh no,kuciwa..@sakitbrgaldian
[/size][/color][/b]

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 21 ---- 17 Juli 2011)
« Reply #1112 on: July 25, 2011, 12:04:44 am »
mian, belum bisa update yg ini. hehehe.
ga pa2,, lanjut hospital dulu nyuk,, lebih ngebet ama yg itu [hmpfh]
100persen SETUJUUUUUUUUU..... [AddEmoticons04246] [AddEmoticons04246] [AddEmoticons04246]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 21 ---- 17 Juli 2011)
« Reply #1113 on: July 25, 2011, 12:28:40 am »
mian, belum bisa update yg ini. hehehe.
ga pa2,, lanjut hospital dulu nyuk,, lebih ngebet ama yg itu [hmpfh]
100persen SETUJUUUUUUUUU..... [AddEmoticons04246] [AddEmoticons04246] [AddEmoticons04246]
ada yg setuju ama gw nih [hmpfh]

sisi, ya udah update hospital aja #narik2handuksisiampengelorotkebawah [hmpfh] buka warung dong [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 21 ---- 17 Juli 2011)
« Reply #1114 on: July 25, 2011, 12:43:53 am »
aww....romentooss bgt [lovestruck] [lovestruck] kata Aldian -----> I can't live without you,Joan!! [biggrin] [biggrin]
tapi tetep masi ngeri sama chintya nanti [goodgrief] [goodgrief]
selalu ada tapinya  [rofl] [rofl] jangan khawatir  [briggin] #mewakili author

 [what] [what] sejak kapan gue punya wakil?  [what] [what]
UNIQ yee emang lu kaga ngeri sama chintya?? [dry] [guns] kalo ane si ngeri,pengennya dia cptan kawin ma cowo laen

SISI cantik sih cantik tapi posisinya bukan pada tempatnya gara2 Aldian [wacko] [hmpfh]

Love you more than I can say

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 21 ---- 17 Juli 2011)
« Reply #1115 on: July 25, 2011, 05:24:54 am »
 [what] [what] ni maksudnya apa, ya... kok handuk gue jadi mlorot gini...

 [on] [on]

malu dunk ma bang aldian  hang  [AddEmoticons04231]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 21 ---- 17 Juli 2011)
« Reply #1116 on: July 25, 2011, 04:18:40 pm »
aww....romentooss bgt [lovestruck] [lovestruck] kata Aldian -----> I can't live without you,Joan!! [biggrin] [biggrin]
tapi tetep masi ngeri sama chintya nanti [goodgrief] [goodgrief]
selalu ada tapinya  [rofl] [rofl] jangan khawatir  [briggin] #mewakili author

 [what] [what] sejak kapan gue punya wakil?  [what] [what]
UNIQ yee emang lu kaga ngeri sama chintya?? [dry] [guns] kalo ane si ngeri,pengennya dia cptan kawin ma cowo laen

SISI cantik sih cantik tapi posisinya bukan pada tempatnya gara2 Aldian [wacko] [hmpfh]
ngerila,cintya kan punya anak dr aldian pst dapat dukungan tuh dr harriot potter kalo tau.ihh serem.iya bener dikawinin ma damian aj.haha...gak vpdate makin ngawur
[/size][/color][/b]

Offline mbah dukun

  • Junior
  • **
  • Posts: 142
  • My Name Is JangKelin
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 21 ---- 17 Juli 2011)
« Reply #1117 on: July 27, 2011, 06:50:10 am »
Ku Diam Ku Jauh Ku Hilang bukan berarti Ku Lupa dirimu My Little Sista.miss uuuu...Authornya tega ihh [cry]

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 21 ---- 17 Juli 2011)
« Reply #1118 on: July 28, 2011, 07:59:49 pm »
author kok belum update ya??? kenapa???

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 21 ---- 17 Juli 2011)
« Reply #1119 on: July 29, 2011, 09:44:08 am »
 [head break] [head break] [head break] datang-datang banyak tagihan


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 21 ---- 17 Juli 2011)
« Reply #1120 on: July 30, 2011, 11:08:22 am »
THE MAESTRO
Chapter 22





Song Of the Day
Your Love by Diana Rose

Sometimes when I'm sitting all alone
I think of things that I have done
And start to wonder if there's one thing
That means more than others I have known
And suddenly it's clear to me
Without your love where would I be

Your love has kept me going
Through good and bad times
It's kept me growing
Like a steady flame
Your love has kept on burning
Through sweet and sad times
I'll keep returning to the magic of your love

Through the years my dreams may come and go
For fortune is a fleeting time
And no one knows what time may bring
But through the highs and lows of it I'll know
That there's one thing of which I'm sure
The one thing I've been living for

Your love has kept me going
Through good and bad times
It's kept me growing
Like a steady flame
Your love has kept on burning
Through sweet and sad times
I'll keep returning to the magic of your love

Your love has kept me going
Through good and bad times
It's kept me growing
Like a steady flame
Your love has kept on burning
Through sweet and sad times
I'll keep returning to the magic of your love

I'll keep returning to the magic of your love
Your love




Subuh telah menjelang, pasangan itu masih terus berbincang. Kandungan caffeine dari teh membuat keduanya terjaga semalaman. Aldian masih setia merangkul Joana, sesekali menciuminya. Dia ingin mengungkapkan kerinduannya lewat sentuhan-sentuhan itu. Sungguh kerinduan yang begitu menyiksa selama seminggu penuh dan selama itu dia tak sanggup tertidur. Wajah malaikat itu, tawa renyahnya, tubuh mungilnya, aroma tubuh yang bagaikan sore hari di musim semi bahkan rengekan manjanya. Aldian menginginkan semua itu setiap harinya, di mana pun dia berada. Sungguh aneh, pesona sang istri sudah sangat menjeratnya, menariknya bagai daya bermagnet bahkan membuatnya kecanduan bagai zat adiksi.

Hingga Joana mengakhiri semua itu dan mulai merapikan cangkir-cangkir dan poci teh. Aldian sadar semua ini akan berakhir, dan masa-masa muram di kota ini menantinya lagi. Dia memandang ke manapun istrinya bergerak. Di wastafel ketika wanita itu mencuci piring dan gelas kotor, membereskan tempat tidur, bahkan menyapu. Tanpa dia membantu karena memang Joana melarang. Dan tubuh mungil itu kini tersembunyi di kamar mandi, namun Aldian masih menatap pintu kamar mandi yang tertutup itu.

Sungguh berat dia mendesah, mengeluarkan ganjalannya di dada. Mungkin dia egois, dia ingin Joana di Bussan. Dia telah kalah, bahkan berniat menganulir keputusannya sendiri. Dilangkahkannya kaki panjangnya itu menuju kamar mandi. Memasuki ruangan itu dengan mudah karena memang tidak terkunci.

Joana terpejam waktu itu, namun mata hatinya tahu kalau Aldian mengamatinya. Lengkungan indah tercetak samar di bibirnya. “Apa aku secantik itu, Oppa?” Pertanyaan bodoh yang membuat Aldian melonjak. Mata lebar Joana terbuka perlahan. Aldian duduk di pinggiran bath up, memandangnya lekat-lekat.”Bisakah kau bolos pagi ini?” tanya Aldian.

Tentu saja Joana menggeleng,”Ada tes mata Kuliah Miss Mary nanti siang.” Aldian mendesah. Hal yang membuat Joana semakin menyesali keadaan. Tapi apa mau dikata. Bukankah ini keputusan suaminya? Joana berharap Aldian menerima rencananya, bahwa dia tinggal di Bussan, pulang-pergi kampus dengan memakai MTR dan pasangan Kim yang menjemputnya di stasiun yang ada di Seoul.

“Yeobo…, aku menyerah,” suara Aldian melemah saat mengatakannya. Dahi Joana berkerut.”Apa maksudnya, Oppa?”

Aldian berdehem, tenggorokannya tiba-tiba serasa kering walau pun semalam sudah tidak batuk-batuk lagi. Mungkin Joana akan mentertawakannya jika tahu di balik kata ‘menyerah’ itu. Tapi dia menjelaskan juga,”Aku ingin kau tinggal di sini. Bersamaku!” Mata Joana mengerjap saat kalimat itu akhirnya terucap. Kedua tangannya menangkup pipi Aldian dan dengan membalas tatapan penuh pengharapan dari Aldian, dia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ne, Oppa… Joan bersedia. Joan akan tinggal di sini bersama Oppa.”

Diraihnya tubuh Joana, Aldian benar-benar memeluk erat. Tak peduli tubuh basah Joana.  Istrinya menangis di dadanya. Semuanya jelas sudah, Joana juga merindukannya. Aldian tersenyum. Selamat tinggal masa suram penuh kesendirian. Hanya cinta Joana yang membuatnya mampu melewati berbagai masa yang terbentang.

Saat Joana menyiapkan bath up untuk Aldian di pagi itu. Energinya benar-benar kembali. Penyakit thipus yang aneh. Hilang begitu saja dalam waktu semalam, atau mungkin memang dia sudah menderita penyakit ini sejak beberapa hari yang lalu dan kemarin adalah puncaknya. Tapi Aldian tidak perduli hal itu, yang dia tahu rendaman air hangat itu meredakan nyeri di sekujur tubuhnya.

Namun Joana masih saja menyajikan bubur di meja makan. Tentu saja Aldian berkernyit. “Ayo, Oppa… dimakan..,” bujuk rayu Joana agar dia mau membuka mulut. “Oppa ini aneh, semalam Oppa makan begitu lahap, kenapa sekarang malas makan?”

“Kau tahu, kan… kalau aku tidak suka bubur,” protesnya sambil menampik sendok penuh bubur yang terulur di mulutnya.

“Semalam Oppa tidak bilang begitu.”
“Semalam aku lapar berat,” Aldian garuk-garuk kepala saat mengatakannya. Mata Joana membulat seketika. “Memangnya Oppa tidak makan?”

“Aku tidak makan sejak sabtu pagi.”

Ya, Tuhan. Pantas saja penyakit thipus langsung bersarang. Masih untung maag kambuhannya juga tidak kumat. “Tapi Oppa harus makan bubur. Dokter bilang seperti itu.” Aldian mendengus mendengarnya.

“Ayolah, Oppa…, Joan harus segera kembali ke Seoul,” mata Joana mengiba pada Aldian. Mau tak mau Aldian membuka mulutnya dan suapan pertama mendarat sukses di lidahnya walau pun dikunyah dengan dahi berkernyit.

“Anak pintar… ,” canda Joana sambil menepuk-nepuk bahu Aldian.

Bahkan saat Joana memasuki impressernya, Aldian seakan tak rela Joana ke Seoul. Aldian masih saja melongok Joana dari luar mobil, memangkukan lengannya di jendela mobil. “Joan akan pulang jam tiga, terus memberesi pakaian dan langsung  ke sini lagi, Oppa,” terang Joana saat mulai menstarter mobil.

“Aku akan menjemputmu nanti. Aku akan ke Seoul dengan kereta, jadi aku yang menyopir nanti.”

Joana menggeleng. Keadaan Aldian belum sembuh benar. “Tidak perlu. Oppa istirahat saja sepulang kerja. Jangan kawatir, Joan lagi kecanduan menyopir sekarang.” Aldian tertawa mendengar omongan Joana. Tapi benar juga, saat seseorang merasa berhasil menempuh jarak jauh sendirian pertama kali dengan mobil, tentu ingin mengulanginya lagi dan lagi. Aldian pernah mengalami hal itu jua. Saat pertama kali pergi ke Jeju sendirian dengan mobilnya di kelas Senior.

“Baiklah, apa pun katamu akan kuturuti, Nyonya Lee,” Aldian mencubit pipi berlesung pipit itu. Dan lesung pipit itu akhirnya hilang karena Aldian terlalu keras mencubit. Katherine Kim yang akan memasuki mobilnya melihat mereka dan menyapa ramah,”Tuan Lee? Anda sudah sembuh?”

Sesaat Aldian menoleh ke sumber suara itu. Dia tersenyum mengiyakan. Katherine mengangguk-anggukkan kepalanya. “Penyakit rindu rupanya.” Pasangan itu mendadak malu-malu kucing. Aldian berusaha mengalihkan pembicaraan, “Kau akan ke kampus?”

“Ne,” jawab Kate sambil membuka pintu mobil. “Senang bertemu anda Nyonya Lee,” sapa Kate. Joana mengangkat tangannya. Kate memasuki mobil dan berlalu dari hadapan mereka.

“Tetangga yang baik,” ujar Joana sambil mengamati mobil Kate yang semakin lenyap dari pandangan. “Tentu. Dia seumuranmu,” kata Aldian. Joana hanya tersenyum.

“Joan pergi dulu, Oppa,” ucap Joana. Aldian mundur beberapa langkah. Joana melambaikan tangan saat Impresser mulai melaju, dibalas Aldian dengan senyuman hangat di bibir.

Joana sampai di kampus tepat pukul sembilan pagi. Dia bersyukur di lokernya masih ada pakaian bersih sehingga tidak harus kuliah dengan baju yang dipakainya kemarin. Dia memang tidak sempat pulang ke rumah. Kuliah professor Jang dimulai pukul setengah sepuluh, dan dosen itu tidak menyukai keterlambatan mahasiswanya. Apalagi pagi ini ada kuliah dari dosen tamu, di sini Joana Goo sempat heran, kenapa juga professor mumpuni itu mengundang pembicara lain di kelasnya. Lebih heran lagi karena dosen tamu itu adalah Damian Yoo, penyair yang baru naik daun. Ya… walau pun tak dipungkiri Joana kalau buku karya Damian, kabarnya menembus angka penjualan tertinggi, tahan cemoohan dan kritikan, serta membuat para wanita meleleh dengan kata-kata puitisnya.

Mulut Joana mengkerucut saat melihat wajah itu lagi. Wajah Damian Yoo yang… e… sebenarnya tampan walau tak setampan suaminya. Joana masih belum bisa melupakan kelakuan Damian setahun yang lalu. Apalagi di pertemuan terakhir mereka di toko buku beberapa waktu yang lalu, pria itu dengan tegas menandaskan bahwa ‘JL’ adalah dirinya. Namun Joana mengikuti juga kuliah itu dengan antusias. Damian Yoo memang mempunyai kepiawaian menarik perhatian audiens, pemilihan kalimatnya bagus. Dari kurikulum vitae yang dibacakan moderator tadi, Joana baru tahu kalau Damian Yoo lulusan sastra Korea dari Seoul National University, fakta yang begitu mencengangkan.

“Musik bisa berdiri sendiri, tapi lyrics… tentu tidak,” penjelasan Damian dari depan kelas. Tubuh jangkung itu menegak, lalu dengan mengacungkan telunjuknya, penjelasan berlanjut,”Tunggu! Saya tidak bicara mengenai puisi di sini, tentu saja puisi bisa berdiri sendiri tanpa music.  Yang saya bicarakan adalah lyric lagu.”

Beberapa mahasiswa tampak menulis sesuatu, memberi catatan-catatan penting di notesnya. Sedangkan yang lain lebih memilih manggut-manggut saja karena merekam penjelasan itu. Mahasiswa memang diharuskan membuat review yang musti dikumpul seminggu kemudian. Damian melangkah menuju tengah kelas. Berdiri di antara deretan mahasiswa yang duduk. Dara melambaikan tangan begitu Damian menatap ke arahnya. Dahi Albert berkerut sedangkan Joan mencibir.

“Lyrics yang buruk, akan memperburuk musics. Di sinilah letak kekuatan lirik, sehingga tak semua orang yang bisa bermain music, sanggup membuat lirik. Tentu kalian pernah melihat film Drew Barymore dan Hugh Grant, Lyrics and Musics, bukan?”

Serempak mahasiswa menjawab sudah. Siapa juga yang belum tahu film itu?

“Kedua tokoh di film itu bahu membahu membuat sebuah lagu dengan lyrics dan musik yang indah. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah… kenapa musti perlu dua orang yang berbeda untuk mengurusi lyrics ataupun music? Kenapa tidak satu orang saja mengurus keduanya?”

“Jika ada yang bisa melakukan keduanya kenapa tidak?” suara Joana memecah kebisuan para mahasiswa. “Oh, ya?” Damian menoleh pada Joana saat menanyakan itu. Joana hanya tersenyum simpul.

Senyuman itu, Damian selalu menyukai hal itu dari Joana. Timbul ide untuk menguji kemampuan Joana. “Bisa kau buktikan ?” sebenarnya Damian tahu hasil dari pengujian itu. Bukankah Joana pernah menjadi editor buku Andrea?

“Bagaimana jika kau membuat lirik, plus music tentunya, temanya tentang…,” Damian agak berpikir di sini. Semua mahasiswa mulai tersenyum namun senyuman Joana tetap yang paling indah bagi Damian. “Senyuman,” Damian menjetikkan jarinya. “That’s it! Senyuman.”

“O…, anda menguji Joana Goo, Damian-ssi. Mahasiswa terpandai di kelas ini,” kata spontan Professor Jang yang membuat mahasiswanya tertawa.

“Jinja?” Damian menoleh pada Professor Jang. Dosen itu memerintah pada Joana,”Kacha, Joana. Tunjukkan kemampuanmu.”

Joana berjalan ke arah piano. Membungkuk sebentar di depan professor Jang lalu mulai duduk di depan piano. Intro music segera terdengar lewat kelincahan jemari Joana di atas tuts piano. Lyrics indah tersaji kemudian, tentang sebuah senyuman… senyuman yang indah, walau pun hidup tak seindah bayangan.

“Ketika kedinginan merebak, kesedihan pun berhambur.
Kesendirian yang kelam, serta tangis yang menerpa.
Dalam segala kebimbangan, tersentaklah didalam kehidupanmu.
Saat sebuah roman menari, bercerita tentang derai yang tak pernah berhenti.”

Hingga masuklah bagian reff, Damian semakin tahu makna untaian kalimat Joana sebelumnya yang tidak menyinggung senyuman sama sekali itu.

“Dan ketika senyum itu mengembang….
Namun tiada pula kebahagian
Karena kehidupan hanyalah sandiwara…
… dan ketika… senyum itu mengembang…”
Irama piano memelan. Damian menelan ludah kering. Kehidupan sandiwara? Dia bahkan harus bersandiwara, menekan perasaan cintanya tiap kali melihat Joana. Kelas yang bodoh! Bagaimana mungkin manajernya menerima tawaran kuliah tamu di kelas ini. Tapi ini juga bukan kesalahan manajemen, mereka tidak tahu ada Joana di sini.

Wanita itu berdiri menyambut  applaus yang membahana untuk dirinya. Sang dosen angkat topi. Joana begitu menikmati penghargaan itu. Aura kecantikkannya selalu bersinar dan Damian menyaksikan itu dengan harap-harap cemas. Takut jika asa itu muncul kembali. Dara memang selalu mengagumi Damian. Tapi ketika melihat raut wajah Damian yang menatap Joana seperti itu, tanda tanya besar muncul di kepalanya. “JL,” tiba-tiba Dara mendesiskan inisial itu. “Joana Lee?” entah kenapa jadi itu yang Dara simpulkan.

Saat Damian menghampiri siang itu, Joana sedang duduk sendirian di taman belakang kampus. Membaca materi yang akan diujikan Miss Marry sehabis jam makan siang nanti sambil menikmati sandwich kecilnya.

“Ehm,” Damian berdeham untuk memulai pembicaraan. Joana mendongak. Lelaki itu sudah berdiri di depannya. Menghalangi pandangan Joana dari cahaya mentari yang semakin jarang di musim bersalju. “Puisi yang bagus.” Damian baru saja mengeluarkan pujiannya padahal kelas professor Jang sudah berlalu. “Gumawo!” hanya itu yang mampu diucapkan Joana.

Diantara kekakuan itu, Damian menawarkan diri, “Bolehkah aku duduk di sini?” Mata lebar Joana mengerjap, bertanya-tanya sebenarnya apa yang diinginkan lelaki di depannya itu. “Jika kau ingin gossip timbul keesokan harinya, silahkan saja.”

Damian tertawa.”Gosip apa memangnya?” Dan Joana menjawab,”Gosip kalau penyair muda Damian Yoo berkencan dengan istri seseorang.” Sekali lagi Damian tertawa. “Benarkah kau setenar itu?” tapi Damian duduk juga di sampingnya.

“Aku tidak menyangka kau seorang sastrawan.” Joana meneruskan bacaannya saat mengatakan itu. Semilir angin berhembus, membawa aroma menyegarkan parfum Joana di hidung Damian. “Mungkin karena penampilanku dulu yang begitu urakan jadi image preman melekat padaku.”

Joana tersenyum mengingat semua itu. Damian memang berantakan di masa lalu. “Kau seniman, tentu saja kau berhak tampil nyentrik,” Joana mulai bisa bercanda tentang Damian yang dulu.

“Apa kabar suamimu?” entah kenapa Damian merasa tidak sopan menanyakan itu. “Ah, kau tidak harus menjawabnya jika tak mau.”

“Dia baik, sangat baik,” Joana menatap Damian saat berucap. Pandangan yang memberi signal kalau rumah tangganya baik-baik saja, dan memohon supaya Damian tidak mengganggunya. Damian menghindari tatapan mata itu. Salju-salju yang menempel di dedaunan lebih menarik perhatiannya sekarang. Tidak! Daya tarik wanita di sampingnya itu terlalu kuat, dan dia tidak ingin terbuai.

“Aku ingin bekerja sama dengannya di penerbitan bukuku selanjutnya.”

Joana tertawa renyah. “Jika kau ingin berbisnis dengannya, bukankah kau bisa menghubunginya, Damian Yoo-ssi? Bukannya mendekatiku dan membuatku risih seperti ini.” Pernyataan yang terlalu gamblang. Joana terlalu berterus terang, sangat kontras dengan pemakaian kalimatnya saat berpuisi. “Mianata. Kau menganggapku seperti itu. Yang ingin ku tawarkan hanyalah persahabatan,” ucapan lirih Damian.

Joana menggeleng,”Anhi, yang kau tawarkan adalah asa. Kau secara terang-terangan berkata kalau ‘JL’ adalah aku.  Apa jadinya jika akhirnya semua orang tahu, dan… ,” Dia menghela nafas sebentar,”Aku sangat mencintai suamiku, aku tidak mau rumah tanggaku berantakan.”

“Joana Lee, aku yakin suamimu tidak sepicik itu. Istrinya adalah seorang seniman, dan setiap seniman tentu punya penggemar.” Damian tersenyum kemudian. “Adakah kembaranmu di dunia ini?”

Riak-riak tawa Joana terdengar. Damian gembira menatap keriangan Joana di depannya. “Kau ada-ada saja,” ucap wanita itu sambil menepuk-nepuk bahunya.

“Teman selamanya?” tanya Damian sambil melengkungkan jari kelingkingnya. Joana melingkarkan jari kelingkingnya, bertautan dengan kelingking Damian. “Tentu, tapi itu jika kau tidak macam-macam.”  Mereka tertawa bersama. Sungguh kebersamaan yang indah.

Mina Im enggan melepas kepergian Joana sore harinya. Keputusan Joana begitu mendadak, apalagi saat gadisnya itu mengatakan kalau dia tidak usah ikut ke Bussan dulu. “Nany di sini dulu saja. Apartemen Oppa sangat kecil, hanya ada satu kamar di sana. Joan tidak mau Nany tidur di sofa ruang tamu, tidak baik untuk tulang-tulang Nany.”

“Oh, Sayang,” desah Mina sambil mengamati Joana yang sibuk memasukkan pakaian dan perlengkapan harian di dalam koper. “Nany bisa tidur di mana saja. Lagian suamimu itu aneh sekali, cepat benar dia merubah keputusan, dulu bukannya dia bilang tidak ingin kau terlalu capek.”

Mina Im banyak memprotes, Joana tertawa mendengarnya. “Kondisi Oppa di sana berantakan sekali, Nany-a. Sama sekali tak terurus.”

“Huh! Pria itu manja sekali. Baru berpisah seminggu saja sudah sakit begitu.”
“Hahahaha, bukannya Oppa memang dari dulu manja, Nany ? Di Lee Manshion saja pelayannya bejibun, tentu saja dia tidak betah tinggal sendiri.”

Joana menepuk-nepuk tangannya. Barang-barang yang kira-kira dia butuhkan selama di Busan sudah masuk semuanya ke dalam koper, dia melirik tas selempangnya, buku-buku juga sudah rapi di dalamnya. “Selesai!” teriaknya nyaring. Dia menyeret kopernya ke arah tas slempangnya berada, lalu menyampirkan tas itu ke pundaknya.

“Makan dulu, Joan,” peringatan Nany.
“Joan sudah makan di kampus tadi, Nany-a.” Joana masih tetap berjalan keluar kamar. Menuruni satu persatu tangga, dan Mina berjalan di belakangnya. “Kalau begitu, biar Nany bungkuskan masakan untukmu. Nanti kau tinggal memanaskannya saja di sana. Tunggu, ya?”

Joana tersenyum dan mengangguk. Mina menuju dapur, sedangkan dia melangkah ke Impresser, memasukkan koper di bagasi. Sebentar saja, Mina sudah membawakan rantang untuknya. “Ini bawalah, besok kau bawa lagi rantang ini ke Seoul. Aku akan menunggumu di stasiun tiap sore, untuk membawakan masakan.”

“Tapi, Nany…
“Ssst, jangan protes. Dengan begini, kau tidak perlu pusing masalah makan malam selama di Bussan. Tinggal memikirkan sarapan saja tiap harinya. Araso!”

Mau tak mau Joana mengangguk. Mina Im menghela nafas. “Kau pasti akan sangat capek nantinya. Tapi karena ini sudah pilihanmu, Nany bisa bilang apa lagi.”

Joana tersenyum saat menerima rantang itu dan menempatkannya di jok belakang. “Joan pergi dulu, Nany,” katanya ketika siap di depan kemudi.

“Ne, urus bayi besarmu itu baik-baik,” sungut Mina Im, dia masih sebal dengan keputusan Aldian menjauhkan gadisnya itu darinya. Joana tertawa ngakak. Dengan diliputi rasa geli, dia melajukan mobilnya. Seperti biasa Nany melambaikan tangan padanya. Joana mampu melihat itu. Dia masih syok dengan perkataan Mina, beberapa waktu yang lalu, Mina bilang kalau dialah ‘si bayi besar’ dan sekarang wanita itu bilang kalau suaminya juga ‘bayi besar’. Jadi ada dua bayi besar di dalam rumah selama ini. Joana bertambah geli saja. “Bayi besar dua, I’m coming!” sorak Joana dalam hatinya.

Saat Joana sampai di apartemen mereka di Bussan, tentu saja ‘si bayi besar dua’ sudah menyambutnya. Joana tersenyum-senyum tak jelas saat Aldian mencium kedua pipinya. Raut mukanya tidak bisa menyembunyikan rasa geli. Aldian tahu itu, bahkan bertanya saat mengambil alih koper dan tas slempangnya  untuk dibawa ke kamar, “Kenapa kau tersenyum seperti itu?”

“Ah, aniyo, Oppa,” jawab Joana sambil mengibaskan tangan. Dia berjalan ke kompor, mencari-cari panci untuk memanaskan sayur, dan teko untuk memasak air. Aldian menggaruk-garuk kepala saat menutup pintu, lalu memasuki kamar.

Sebentar kemudian pintu kamar terbuka kembali, Aldian berdiri dekat bar table dengan rasa ingin tahu. “Ada yang bisa kubantu?” Joana tersenyum saat menyalakan kompor. “Tidak ada. Oppa mandi saja.”

“Araso!” Aldian ngeloyor ke kamar mandi, tapi tak lama, dia keluar lagi. Kening Joana berkerut melihatnya. “Yeobo, ajari aku menyiapkan bathup untuk mandi.”

Tentu saja Joana tambah geli dibuatnya, apa lagi Aldian merasa kesal karena wajah Joana itu,”Ya…, jangan mengolokku!” Joana Cuma bisa geleng-geleng kepala. “Selama ini bagaimana Oppa mandi?”

“Aku sudah coba mempersiapkan sendiri, tapi tetap saja tak bisa sepertimu. Kadang airnya terlalu panas, kadang terlalu dingin, kadang juga… busanya terlalu banyak.”

“Baik, tunggu sebentar.” Joana mematikan dulu nyala api untuk masakan yang kelihatannya sudah mulai panas. Lalu berjalan ke kamar mandi dengan Aldian yang mengekorinya.

“Pertama-tama, masukkan air dingin ke dalam bath up, kira-kira seperempatnya,” terang Joana sambil memutar keran air dingin. Setelah air itu sampai seperempat bath up, Joana menghentikan aliran air dingin itu dan beralih ke keran air panas,” Setelah itu alirkan air panasnya, atur kehangatan air dengan memasukkan telapak tangan dalam bak, jadi tidak terlalu panas, atau terlalu dingin.” Aldian mengangguk-angguk mendengar penjelasannya.

“Lalu masukkan ini,” ucap Joana sambil menyodorkan seplastik bubuk putih. “Apa ini?” Aldian menerimanya dengan dahi berkerut. “Garam mineral, ini bisa menghilangkan badan yang pegal, tiga sendok takar saja, Oppa.”

“Araso,” kata Aldian sambil menaburkan tiga sendok takar garam mineral dalam bath up. Joana mengaduk-aduk air dengan tangannya hingga butiran-butiran garam itu terlarut seluruhnya, saat suhu air kira-kira sudah bisa ditolelir tubuh Aldian, dia menghentikan aliran air panas. “Nah, sekarang sabun cairnya. Setiap merk ada aturan pakainya, Oppa bisa membaca di labelnya.”

“Jinja? Aku tidak pernah memperhatikan hal itu.” Joana hanya bisa menghela nafas mendengar perkataan Aldian. Disodorkannya sebotol sabun cair pada suaminya itu.”Di sini tertulis tiga tutup takar saja cukup. Dijamin busanya tidak akan kebanyakan.”

Teko berbunyi nyaring, tanda air sudah mendidih. Joana bisa mendengar itu dan segera keluar dari kamar mandi. “Selamat mandi, Oppa!” serunya sambil menutup pintu kamar mandi. Dia segera mematikan kompor, membuat susu teh hangat sebagai minuman di makan malam, dan mulai menata meja makan. Setalah selesai dengan semua itu, Joana menyeret kardus-kardus di pojok ruangan ke dalam kamar, membukanya satu persatu dan memasukkan isinya ke dalam lemari. Kopernya sendiri terbuka kemudian, dan melakukan hal yang sama pada baju-bajunya. Joana sengaja tidak membawa semua pakaiannya. Sisa pakaian akan dia bawa ke Busan secara menyicil setiap harinya. Hanya perlu waktu setengah jam bagi Joana melakukan hal itu. Kini tinggal merapikan peralatan kosmetiknya di meja rias.

Aldian memasuki kamar dengan lilitan handuk di pinggang, sementara tangan kanannya mengusap-usap rambut yang basah dengan handuk kecil. “Oh, kau merapikannya?” ujarnya sambil duduk di ranjang.

“Tentu saja, memangnya Oppa? Kok bisa sih, tinggal seminggu tapi tidak juga memasukkan baju ke dalam lemari?”

“Tidak ada waktu, Yeobo,” jawab Aldian sambil nyengir. “Alasan,” cibir Joana. Lalu mengambil kaos dan sweater serta celana santai untuk Aldian. “Pakai ini! Sekarang giliran Joan mandi.”

“Kau tidak mau memakaikannya?” goda Aldian.
“Anhi!” tolak Joana sewot lalu keluar kamar. Aldian tertawa dibuatnya. Pintu tertutup kemudian. Sayup-sayup nyanyian Joana dari dalam kamar mandi terdengar di antara gemericik air. Aldian segera memakai bajunya. Hatinya sedang sangat gembira sekarang dan itu karena kehadiran istrinya di sini. Mulai sekarang dan seterusnya, akan seperti inilah suasana di apartemen ini. Apartemen kecil yang indah bagi Aldian, karena ada cinta Joana di dalamnya.

Makan malam begitu indah di malam ini. Aldian melahap masakan Mina sambil memperhatikan wajah istrinya. Semakin dipandang, wajah itu semakin cantik. Laksana boneka porselen jepang, tapi tentu saja hati Joana lebih cantik. Lebih indah dibandingkan Alicia. Ah, demi Tuhan, kenapa Aldian masih membandingkannya dengan Alicia. Tentu saja Joana lebih cantik. Tak dipungkiri Alicia sudah tidak lagi menghantui Aldian sejak pernikahannya dengan Joana. Mungkinkah pribadi Alicia sudah merasuk dalam Joana? Ah, terlalu naïf berpikir begitu. Bagaimana pun juga, Joana lebih baik seribu persen dari Alicia dan seribu persen pula Aldian jatuh cinta pada Joana.

Bahkan saat Joana belajar di ruang tengah. Aldian masih tidak membiarkannya begitu saja. Sengaja dia tidur dengan kepala di pangkuan Joana, sementara istrinya itu asyik membaca buku. Sesekali tangan mungil Joana mengelus rambutnya. Lagu ‘Your Love- Diana Rose’ yang lembut mengalun lembut dari DVD player. Aldian yang semakin terlena tersesat di alam mimpi.

Joana tersenyum melihat Aldian yang tertidur. ‘Bayi besar’ itu sungguh pulas. Joana meneruskan belajar di selingi suara Diana Rose dan dengkuran lirih Aldian. Saat materi yang dihafalnya sudah masuk semua dalam otak, sekali lagi dia memandangi wajah Aldian. Meletakkan buku di meja kecil samping sofa dan mengalihkan perhatian sepenuhnya pada wajah Aldian. Semakin disadarinya kalau Aldian semakin tampan, wajah tampan yang membuatnya kawatir wanita lain merebut Aldian darinya. Tapi kepercayaannya pada Aldian telah tumbuh, waktu sudah membuktikannya. Aldian tidak bisa hidup tanpa dirinya, itu adalah bukti yang nyata.

Perlahan dia menunduk, mencium kening Aldian di pangkuannya itu. Aldian membuka matanya perlahan. Lagu sudah berganti dengan ‘Don’t sleep away this ninght’. Aldian bangkit dan duduk di samping Joana. “Sudah selesai?”

Joana mengangguk. Aldian menguap sambil menutupi mulutnya. Matanya mengerjap-ngerjap menghilangkan rasa kantuk lalu meregangkan otot-otot pinggangnya ke kiri dan ke kanan. “Kita ke kamar sekarang,” kata Aldian, lalu mengangkat tubuh Joana dalam dekapannya. Menggendongnya memasukki kamar.

Direbahkannya tubuh Joana di atas ranjang, dan mulai menatap wajah cantik itu dalam. “Kau tidak terlalu capek malam ini, bukan?”

“Tentu saja tidak, Oppa.” jawab Joana lembut. Tangan Aldian perlahan membuka kancing gaun Joana, dan Joana membiarkannya saja. “Hanya Tuhan yang tahu, begitu aku merindukan saat-saat seperti ini,” bisik Aldian sambil melucuti pakaian Joana dengan lembutnya.

Lengkungan indah tersungging di bibir Joana, saat  ketelanjangan tubuhnya akhirnya terpampang indah di depan Aldian. Kulit Joana yang putih begitu bersinar di mata Aldian. Seketika Aldian menanggalkan semua pakaiannya. Saat Aldian menatap di atasnya  tanpa seutas benang pun di tubuh kokoh itu, Joana sudah tak bisa melarikan lagi dari gairah yang menjeratnya. Hingga timbullah desahan-desahan dari dalam kamar itu. Menumpahkan kerinduan seminggu penuh yang tertahan dibalik sentuhan, erangan bahkan bisikan  menggoda yang menggelitik telinga. Sentuhan suci yang hanya bisa dilakukan oleh suami-istri seperti mereka. Yang tak dipungkiri bisa mempererat ikatan suci itu… selamanya…


BERSAMBUNG
« Last Edit: July 30, 2011, 11:17:19 am by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 22 ---- 31 Juli 2011)
« Reply #1121 on: July 30, 2011, 07:55:35 pm »
thanks yua update adik mungilku tersayang,..ternyata oppa nyerah jg g kuat pisah ranjang ma istri tp gw kecewa kok bkan aldian sih yg ke seoul ntar joana susah hamil lg krn kecapean(nunjuk2mukaoppa)..eh oppa cemburu g ya ma kedekatan joan n damian?trus trus kapan nih joan tau about cintya n kdtangan jeni serta pertemuan dgn ke2 ortunya?gw g sabar nunggu yg itu.biasa pengen liat ketakutan aldian.jodohn itu keti ma pujangga insaf.btw nany slama ni sabar ya ngadepin 2baby,baby doll n baby huey..
[/size][/color][/b]

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 22 ---- 31 Juli 2011)
« Reply #1122 on: July 30, 2011, 08:29:44 pm »
Yihaaaa sudah update gomawo sisi ^^
Tetep romantis bayi besar akhirnya nyerah juga.
Tapi takut nih klo joan bolak balik busan-seoul apa ga menggangu kandungan?
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 22 ---- 31 Juli 2011)
« Reply #1123 on: July 30, 2011, 09:18:19 pm »
Makasi ya apdetannya....

Kok gue punya firasat buruk ya ama pindahnya Joan ke Busan...Mudah2an cuma pikiran gue aja...hehehe...Kasian Joana, harus pulang pergi Seoul-Busan. Ampe Busan masih harus melayani suami...bener2 deh dia istri superrrr.... [heh]...Awas aja tu Aldian kalo masih macem2... [smiley-whacky103]...

Ditunggu lanjutannya lagi yaaa...

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 22 ---- 31 Juli 2011)
« Reply #1124 on: July 31, 2011, 12:27:48 am »
ternyata gw lupa sesuatu,chap ni suit dah n next chap minggu depan ya.author g boleh libur cukup anak sekolah aj.bu farm g boleh kemenongmenong..okey
[/size][/color][/b]