Author Topic: Paint Pastel Princess Chapter 4 (Update Now 03.07.2011) ^^  (Read 6215 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: Paint Pastel Princess (SPOILER ONLY) ^^
« Reply #90 on: March 23, 2011, 07:29:27 am »
on... update di sini dong... si galak satine  [lovestruck] [lovestruck]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Re: Paint Pastel Princess (SPOILER ONLY) ^^
« Reply #91 on: May 10, 2011, 08:08:44 am »
Chapter 2

CAST





KIM JOON as Song Woo Bin Sahabat Karib Jin Ho



EUN HYUK as Jang Oppa




Jin Ho termenung didalam kamarnya, ia terduduk diranjangnya menyandarkan bahunya di tepi ranjang miliknya. Tatapannya kosong, ia masih sangat shock dengan kejadian tadi. Ia berharap semuanya hanya mimpi, namun ia sadar bahwa semua yang terjadi tadi bukanlah mimpi namun kenyataan pahit yang harus ia terima sebagai konsekuensi keabsenannya selama 5 tahun belakangan ini.


Jin Ho POV


Andaikan saja bukan Tae Yoon hyung yang menikahimu mungkin aku masih bisa berbesar hati untuk menerimanya siapapun yang kau pilih untuk mendampingimu, namun entah kenapa hatiku terasa sangat sakit bagaikan kau menusukkan sebilah pedang yang langsung menghujam ke jantungku yang membunuhku secara perlahan-lahan, Na Ra-ssi waeyo…? Kenapa takdir membuat kita seperti ini. Aku sungguh tidak percaya kau bisa membuatku menjadi seperti ini. Kenapa harus dia? Kenapa harus Hyung. Kenapa tidak ada satu katapun terucap darimu ketika aku bertanya mengapa. Kenapa kau hanya menangis. Apakah kau menyesal Na Ra-ssi apakah air mata yang kau teteskan sedemikian derasnya tadi adalah air mata penyesalanmu? Kalaupun kau menangis sekarang, semua sudah terlambat, semua sudah terjadi. Tidak akan bisa mengembalikan dirimu kembali.   


Perlahan Jin Ho memejamkan matanya, sebutir air bening mengalir membasahi pipinya. Ia menangis dalam sunyi.


******************************

Pagi itu, suasana di kediaman keluarga Lee masih sunyi. Nyonya Lee yang belum mengetahui apa yang terjadi kemarin malam masih sibuk mempersiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Ia masih bisa ceria dan lincah memberitahukan pelayan yang membantunya untuk menyiapkan ini dan itu, ia ingin membuat sarapan pagi ini istimewa karena sarapan pagi ini adalah sarapan pertama sejak Jin Ho pulang ke rumah. Karena itu Nyonya Lee mempersiapkan segala sesuatu yang disuka oleh putra bungsunya tersebut.


“Apa Jin Ho sudah bangun Pak Cho?” Tanya Nyonya Lee pada kepala pelayannya.


“Kelihatannya belum Nyonya, apa saya perlu membangunkan tuan muda?” jawabnya hormat.


“Ah tidak perlu, biar nanti saya yang membangunkannya sendiri, terima kasih anda boleh pergi sekarang” jawabnya sembari menyunggingkan senyuman dibibirnya.


Pak Cho, membungkukkan badannya sebelum pamit pergi. Sementara Nyonya Lee yang sudah selesai membereskan semuanya bersiap untuk membangunkan putranya, sebelum pergi ia kembali mengecek makanan yang tersaji dan tersenyum puas karena semuanya telah sesuai dengan apa yang diinginkannya.


Pagi ini hanya ia dan Jin Ho saja yang akan sarapan karena tadi pagi-pagi sekali Tae Yoon putra sulungnya memberi tahukan bahwa ia dan Na Ra istrinya pergi dari rumah karena ada urusan mendadak dan tidak memberitahunya tentang kejadian semalam. Nyonya Lee merasa sedikit lega karena baginya masih terlalu berat menyembunyikan kenyataan tersebut dari Jin Ho terutama dengan sikap mereka berdua kemarin. Disadari atau tidak perubahan sikap mereka jelas kentara dan dapat menimbulkan kecurigaan Jin Ho. Karena itu ada baiknya untuk sementara waktu mereka saling menghindar dahulu begitu pikir Nyonya Lee.


Nyonya Lee berjalan menuju ke lantai atas ketempat dimana kamar Jin Ho berada. Sesampainya didepan pintu kamar Jin Ho, Nyonya Lee terdiam sejenak kemudian mengetuk pintu kamar tersebut pelan. Ia menunggu sejenak tidak ada jawaban dari dalam. Nyonya Lee mengetuk pintu lebih keras sembari memanggil nama Jin Ho.


“Jin Ho-yya, apa kau sudah bangun? Omma masuk yah?” ujarnya seraya menekan ganggang pintu kamar tersebut. Nyonya Lee mendongakkan kepalanya kedalam. “Jin Ho..” panggilnya pelan sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam. Sesampainya didalam, ia memandang kesekeliling namun keadaan kamar tersebut sepi, tidak nampak sosok Jin Ho didalamnya. “Jin Ho” panggilnya ulang, tetap tidak ada jawaban, Nyonya Lee memeriksa kedalam kamar mandi dan kamar ganti namun tetap kosong yang didapatnya. “Kemana anak itu?” gumamnya cemas. Nyonya Lee kemudian bergegas keluar dari kamar Jin Ho untuk mencari tahu keberadaan putranya tersebut.


Nyonya Lee bertanya kepada beberapa pelayan yang berpapasan dengannya menanyakan kepada mereka tentang keberadaan Jin Ho namun rata-rata dari mereka menggeleng pertanda mereka tidak mengetahui keberadaan tuan mudanya tersebut. Kejelasan akhirnya didapatkan dari satpam rumah yang melihat tuan mudanya pergi meninggalkan rumah pagi-pagi sekali dengan mengendarai mobilnya. Nyonya Lee merasa heran kenapa Jin Ho tidak berpamitan ataupun memberitahunya apapun. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi handphone Jin Ho namun ternyata handphonenya juga mati, karena itu Nyonya Lee meninggalkan pesan kepada Jin Ho untuk menghubunginya segera setelah menerima pesan darinya.


******************************


Jin Ho tertidur disofa disebuah ruang tamu apartemen sederhana. Ia tampak tertidur sangat pulas. Suara – suara gaduh dari dapur sama sekali tidak menggangunya. Woo Bin yang tengah sibuk menyiapkan sarapan sesekali mengintip dan memperhatikan Jin Ho, ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya heran sambil sesekali menghela nafas dalam-dalam. Bagaimana tidak, pagi-pagi buta disaat semua orang masih sibuk terlelap dengan mimpinya, seorang Jin Ho tiba-tiba datang mengetuk pintu apartemennya.


Awalnya Woo Bin tidak menghiraukan suara ketukan pintu dan pencetan bel yang semakin lama semakin keras dan mengganggunya karena ia masih merasa berat untuk beranjak dari tidurnya. Namun akhirnya ia menyerah dengan semakin intensnya suara ketukan dan pencetan bel yang tidak kunjung berhenti. Ia sudah bersiap untuk mengumpat namun semuanya sirnah takkala melihat sosok Jin Ho dihadapannya. Woo Bin membelalakkan matanya tidak percaya, ia beberapa kali mengusap matanya dan menepuk pipinya.


“Yo man, what’s up” sapaan khas milik Jin Ho setiap kali mereka bertemu sontak membangunkannya.


“Jin Ho-yya?” tanyanya memastikan. “Kau hidup kembali atau kau ini arwah Jin Ho yang sedang berpamitan kepadaku” tanyanya polos. Ia memang belum tahu tentang kesadaran Jin Ho karena tidak ada seorangpun yang memberitahunya terutama Tae Yoon karena memang ia tidak seberapa dekat dengan kakak sulung Jin Ho tersebut.


Jin Ho tersenyum tipis menanggapi pertanyaan konyol Woo Bin. Tanpa bicara ia langsung menerjang masuk kedalam apartemen milik sahabatnya tersebut. Saat ia sudah berada didalampun ia langsung menghempaskan dirinya di satu-satunya sofa yang ada diruangan tersebut. “Kenapa tempat ini masih juga sama seperti dulu sama sekali tidak ada perubahan” oceh Jin Ho. Woo Bin masih memandang heran setengah bermimpi ia berjalan menghampiri Jin Ho.


“Mwo?” Tanya Jin Ho saat Woo Bin berdiri didepannya dengan tatapan mata tidak percaya.


“Shitttt!!! Apakah ini benar-benar kau yoo buddy?” Tanya Woo Bin


“Tentu saja kau pikir aku ini siapa? Hantu? Jangan konyol Woo Bin-aa jaman sudah canggih begini kau masih percaya dengan hantu?” jawab Jin Ho asal. Namun perkataannya tersebut langsung terpotong oleh teriakan Woo Bin.


“HYUNGGGGGGGGGGG-AAAA!!!!!” Woo Bin tiba-tiba menerjang tubuh Jin Ho dan memeluk pemuda dihadapannya tersebut.


“YYa…YYAAAAA.. WOO BIN-AAAA HENTIKAN!!!” protes Jin Ho, namun rupanya Woo Bin sudah kalap. Ia memeluk Jin Ho sangat erat, sebulir air mata jatuh dipipinya.


“Hyung… kau.. benar-benar kau….Oh My GOD.. Hyungggg”  teriaknya. “Welcome back bro-yyo” lanjutnya. Jin Ho yang awalnya merasa sedikit kesal akhirnya hanya bisa tersenyum melihat kekonyolan sahabatnya tersebut. Jin Ho menepuk bahu sahabatnya itu berulang-ulang.


Jin Ho segera menghentikan ulah Woo Bin yang terus memeluknya “Hey sudah hentikan” katanya. Woo Bin yang tersadar segera melepaskan pelukannya dan mengusap “setitik” air mata yang membasahi pipinya.


“Hahaha, Hyung kenapa kau menangis hah, kalau sampai anak buahmu melihat, bisa-bisa mereka akan segera meninggalkanmu” goda Jin Ho. Woo Bin hanya tersenyum mendengar ejekan Jin Ho. Woo Bin kemudian mengambil posisi duduk di samping Jin Ho.


“Apa yang terjadi hyung, kenapa pagi-pagi buta begini kau datang kemari kebiasaanmu memang tidak pernah berubah jika kau punya masalah” dengus Woo Bin, sementara Jin Ho hanya tersenyum tipis, wajahnya terlihat getir.


“Aku memang selalu tidak bisa menyembunyikan apapun darimu yah” tukas Jin Ho pelan, ia menghela nafasnya berat, seakan-akan ia tengah memanggul beban yang amat sangat berat. Sementara Woo Bin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan pertanda ia setuju dengan pernyataan Jin Ho barusan.


“Ini tentang Na Ra dan Tae Yoon hyung…” lanjutnya lemah, suaranya parau. Woo Bin sedikit tersentak namun ia tetap berusaha untuk menguasai dirinya. “Dari ekspresimu, aku rasa kau sudah tahu semuanya” lanjut Jin Ho melirik Woo Bin dengan ekor matanya. Woo Bin terdiam sesaat, ia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Jin Ho barusan.


“Hmmm” gumamnya pelan “Miane hyung aku tidak bisa menjaga Na Ra-ssi untukmu” sesal Woo Bin. Jin Ho hanya terpaku. Mereka berdua kembali terdiam. “Jujur pada saat itu, aku sempat bersitegang dengan Tae Yoon-ssi karena masalah ini” lanjut Woo Bin lemah “Tapi…..” Woo Bin tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia kembali terdiam, wajahnya menunjukkan ekspresi penyesalan yang sangat dalam.


Jin Ho meletakkan tangan kanannya di pundak Woo Bin seraya berkata “Sudahlah hyung jangan menyalahkan dirimu, gomawo….” Ujarnya, kali ini ia tersenyum getir. Ia tahu tidak sepantasnya melimpahkan kekesalannya kepada sahabatnya ini karena bagaimanapun ini semua adalah takdir. Hanya itu jawaban satu-satunya yang cocok dan bisa menghibur kegalauan hatinya saat ini.


******************************


“Hyung… bangun” ujar Won Bin sembari menggoyang-goyangkan tubuh Jin Ho pelan untuk membangunkan temannya tersebut.


“Mmmmmm” gumam Jin Ho malas, ia perlahan membuka matanya. Jin Ho melirik sekilas jam tangan yang dipakainya dan membaca angka 9 pagi. Ia perlahan bangkit dan merapikan rambutnya yang acak-acakan.


“YYa cepat cuci wajahmu dan makan sarapanmu yang sudah aku siapkan tadi” ujar Won Bin seraya menunjuk kearah meja makan dengan wajahnya. Jin Ho mengikuti arah pandangan Won Bin. Ia tersenyum geli.


“Yya, kenapa kau tersenyum hah” Tanya Won Bin penasaran.


“Kau ini sudah seperti istriku saja, karna itulah aku sangat mencintaimu Won Bin-aa” Goda Jin Ho, ia tertawa geli.


“Aish, kau membuatku jijik, sana cepat mandi sarapan lalu pergi” balas Won Bin, ia berpura-pura cemberut dengan godaan Jin Ho.


“Baiklah sayang, anything for you” Jin Ho masih semangat menggoda Won Bin, ia berlalu sambil mencolek dagu Won Bin.


“Yya, kau sama sekali tidak berubah, tetap gila” umpat Won Bin, ia tersenyum lega karena ternyata kekhawatirannya semalam tidak terbukti.


Jin Ho keluar dari kamar mandi 20 menit kemudian, wajahnya terlihat segar dengan rambut setengah basah. Ia menghampiri Won Bin yang tengah duduk menikmati sarapannya. Jin Ho menjatuhkan dirinya dikursi yang ada disamping Won Bin dan mulai melahap makanan yang ada dimeja tersebut. Won Bin memandang Jin Ho heran. “Waeyo? Ada yang aneh” seru Jin Ho masih dengan mulut yang penuh dengan makanan.


“Ahni, sudah makan dulu baru ngomong, ampun aku merasa seperti seorang baby sitter” balas Won Bin yang hanya dijawab dengan seulas senyuman oleh Jin Ho. “Ngomong-ngomong, apa ibumu sudah tau kau disini?” lanjutnya. Jin Ho hanya menggeleng.


“Aush, sudah kuduga” gumamnya. Ia lalu beranjak dari kursinya dan berjalan mengambil handphonenya. Memencet sederet nomor yang sudah dihafalnya diluar kepalanya, ia memutuskan untuk menghubungi Nyonya Lee karena ia sudah hafal benar dengan watak sahabatnya itu saat tengah dirundung masalah.


“Yeoboseyo, omoni” ujar Won Bin saat sebuah suara menyahut dari seberang. Jin Ho menghentikan sejenak aktivitas sarapannya ia menoleh kearah Won Bin dengan pandangan bertanya. Won Bin mengacuhkan pandangan Jin Ho.


“Yeoboseyo Won Bin-aa, benar ini kau?”


“Ne, omoni. Bagaimana kabar omoni?” sahut Won Bin


“Omoni baik-baik saja, ada apa kau menelponku apa Jin Ho ada ditempatmu?” ujar Nyonya Lee ragu-ragu.


“Ne, dia ada disini, omoni tidak usah cemas, saya akan menjaganya dan memastikan kalau ia akan pulang dengan selamat nanti” canda Won Bin terkekeh. Nyonya Lee tersenyum geli mendengar canda Won Bin, sahabat Jin Ho yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri. Ia ingat Won Bin meskipun usianya lebih muda dari Jin Ho namun sikapnya sangat dewasa, bahkan saat Jin Ho tengah bermasalah, Won Binlah yang selalu menemaninya dan menasehatinya. Malah seringkali saat Jin Ho tidak dapat dihubungi kabarnya, Won Binlah yang selalu menenangkannya.


“Syukurlah kalau begitu, omma minta tolong temani dia” ujar Nyonya Lee pelan, ada nada kesedihan dan cemas terselip disana, Won Bin dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Nyonya Lee saat ini.


“Ne, omoni anyong” tukas Won Bin. Ia mematikan handphonenya, kemudian menoleh kearah Jin Ho yang tengah menatap tajam kearahnya. Namun Won Bin sama sekali tidak gentar dengan tatapan Jin Ho. Ia berjalan kembali kearah Jin Ho dan saat sampai didekatnya, dijitaknya kepala sahabatnya itu.


Jin Ho meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya, ia mengumpat kesal “Yaishhhh…kau…” ujarnya merengut.


“Itu untuk kebodohanmu yang tidak sembuh-sembuh, aku kira dengan tidur selama 5 tahun kau bisa berubah ternyata sama saja” sahut Won Bin cuek ia meraih cangkir kopinya dan menghabiskan sisa setengah kopinya yang sudah mulai dingin. Jin Ho hanya terdiam mendengar omelan Won Bin. Ia sadar tingkahnya sudah terlewat batas saat ini, bukannya ia takut menghadapi kenyataan namun saat ini ia sangat terluka.


“Setelah ini sebaiknya kau pulang, jangan membuat ibumu cemas lagi karena beliau sudah cukup menderita selama kau absen” tukas Won Bin bijak. Jin Ho hanya tersenyum getir mendengarnya.


Sesaat kemudian Won Bin beranjak, setelah mencuci peralatan makannya ia kemudian berpamitan pada Jin Ho. “Hyung, aku pergi kerja dulu. Kalau kau masih ingin disini silahkan saja toh ini juga sudah seperti rumahmu sendiri” tukas Won Bin seraya menepuk bahu Jin Ho pelan.


“Gomawo” ujar Jin Ho membuat Won Bin berhenti “Sama-sama friend kita kan bro” Won Bin tertawa, memamerkan sederetan gigi putihnya yang rapi. Jin Ho ikut terkekeh ternyata Won Bin masih tidak melupakan ungkapan candaan mereka. Won Bin melambaikan tangannya setelah itu iapun bergegas pergi meninggalkan Jin Ho yang masih terpaku ditempatnya.


*************************************


Jin Ho berjalan dengan langkah gontai saat memasuki kediamannya. Ia akhirnya memutuskan pulang setelah 3 jam lamanya ia habiskan dengan merenung diapartemen Won Bin. Nyonya Lee tampak tergopoh-gopoh menyambut kedatangan putranya tersebut, dengan wajah khawatir ia menyambut Jin Ho. “Jin Ho-yya, gwenchana” seru Nyonya Lee sembari mengecek tubuh Jin Ho.


“Gwenchana omma, mian aku sudah membuat omma cemas” jawab Jin Ho datar.


“Syukurlah, omma takut jika terjadi apa-apa padamu, kenapa kau keluar tidak bilang-bilang. Kondisimu belum fit benar sayang, omma takut terjadi apa-apa padamu” seru Nyonya Lee, ia begitu khawatir melihat keadaan Jin Ho terlihat dari ekspresi wajahnya.


“Miane, omma gwenchana-yo, aku tidak akan membuat omma cemas lagi, promise” balas Jin Ho. Seulas senyuman tersungging dibibirnya.


“Chinja?” Nyonya Lee memandang wajah putranya “Ne” jawab Jin Ho pelan namun tegas. Jin Ho meraih tangan ibunya dan menggandengnya masuk ke dalam. Saat mereka sudah berada diruang tengah, Nyonya Lee membimbing Jin Ho untuk duduk di sofa kemudian.


“Jin Ho-yya, miane…omma ingin mengatakan sesuatu padamu” sesal Nyonya Lee. Jin Ho yang mengerti arah pembicaraan ibunya hanya bisa terdiam pasrah.


“Omma sudahlah aku mengerti” tukas Jin Ho.


“Ahni-yyo, seandainya saja omma lebih keras menentang pernikahan kakakmu dan Na Ra pasti hal ini tidak akan pernah terjadi, omma sungguh sangat menyesal”


“Omma sudahlah, ini semua bukan salah omma. Ini sudah takdir”


“Tapi sayang,……”


“Omma, sudah cukup.” Potong Jin Ho. “Aku tidak ingin mendengar lagi, benar saat ini hatiku sangat sakit, tapi aku akan mencoba untuk berkompromi dengan rasa sakit ini dan suatu saat aku ingin bisa memberikan restuku pada Hyung dan Na Ra dengan tulus, nanti….. jika aku sudah dapat merelakan semuanya, karena itu aku mohon pengertian omma, berikan aku waktu” ratap Jin Ho pelan. Nyonya Lee merasa batinnya teriris mendengar perkataan Jin Ho barusan, namun ia harus menghargai semua keputusan Jin Ho, ia ingin mendukung Jin Ho. Wanita cantik paruh baya itu kemudian tersenyum, ia meraih wajah Jin Ho dan mengelusnya pelan. “Putra omma sudah semakin dewasa, miane omma sudah mengecewakanmu sayang, tapi omma yakin suatu saat kau akan mendapatkan gadis yang pantas untukmu, omma akan selalu berdoa untuk itu” ujar Nyonya Lee bijak, ia tersenyum penuh kearifan.


Jin Ho meraih tubuh Nyonya Lee dan memeluknya lembut “Gomawo omma” ujarnya haru.
 

*************************************


“Noona, kau sudah pulang?” Chang Min segera bangkit dan meletakkan gitar yang sedari tadi dimainkannya. Satine hanya melirik sekilas kearah dongsaengnya itu dan menganggukkan kepalanya pelan. Ia berjalan kearah kamarnya namun langkahnya terhenti karena Chang Min menghalangi jalannya. Satine menatap pemuda tanggung yang ada dihadapannya dengan pandangan bertanya.


“Noonaaaaa, kenapa diam saja, kau masih marah padaku? Bukankah aku sudah meminta maaf berulang-ulang padamu” rajuk Chang Min memelas. Satine masih terdiam, ia hanya menatap Chang Min.


“Noonaaaaaa kumohon jangan kau diamkan aku seperti ini” Ia kembali merajuk, seperti seorang anak kecil yang tengah merayu ibunya. “Noona boleh menghukumku untuk melakukan apa saja asal noona tidak mendiamkanku ini sudah 3 hari 14 jam noona tidak bicara padaku” lanjutnya. Satine terdiam berpikir, ia menatap mata Chang Min seolah sedang mencari ketulusan disana.


“Arasso” akhirnya Satine-pun berbicara singkat.


“Dhe?”


“Aku bilang, aku mengerti” lanjutnya. Chang Min masih melongo dibuatnya. Ia sama sekali tidak mengerti perkataan Satine.


“Noonaaaa… app..” kalimat Chang Min tiba-tiba terputus “Buatkan noona sarapan” ujar Satine. Ia menatap Chang Min, kedua tangannya ia letakkan bersidekap didadanya.


“Mwo? A…Arasso” jawab Chang Min pelan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia pun bergegas pergi kedapur dan melaksanakan perintah Satine. Diam-diam tanpa sepengetahuan Chang Min, Satine tersenyum geli melihat tingkah dongsaengnya itu. Setiap kali Chang Min membuat masalah yang ia lakukan untuk menghukum anak bengal itu adalah dengan mendiamkannya. Dan Satine tahu kalau ia selalu berhasil dengan cara seperti itu daripada harus mengomel berkepanjangan tanpa ujung pangkal. Chang Min pasti akan selalu kelabakan sendiri jika Satine sudah mengeluarkan jurus diamnya, ia akan selalu berusaha merajuk kepada Satine untuk dimaafkan.


Satine beranjak masuk kedalam kamarnya, ia merebahkan dirinya sejenak di tempat tidurnya. Ia sangat lelah karena semalaman ia harus menemani tamu-tamu lelaki hidung belang yang dibencinya, namun ia sungguh tidak punya pilihan lain. Ia melirik kearah jam weker yang ada disamping ranjangnya. Jam 10 pagi ia membaca. Kemudian iapun bangkit dan meregangkan beberapa bagian ototnya yang pegal, setelah itu iapun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


30 menit kemudian, Satine keluar dari kamar mandi. Ia mengusap-usap rambutnya yang basah. Kali ini wajahnya sudah bersih dari polesan make-up tebal yang selalu ia kenakan saat sedang “bekerja”. Wajahnya yang putih mulus tampak bersemu merah. Satine melihat kearah Chang Min yang masih sibuk dengan kegiatannya didapur. Ia pun berjalan kearah Chang Min dan berdiri disebelahnya.


“Oh, noona kau sudah selesai mandi? Chakaman, sarapanmu akan siap beberapa saat lagi” seru Chang Min. Satine melirik kearah wajan yang dipegang oleh Chang Min. “Aku buatkan sarapan special untuk noona” seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Satine, Chang Min pun berusaha meraih simpati Satine. “Noona duduklah, aku siapkan mejamu” ujarnya kembali. Satinepun menurut, ia melangkah menuju meja makan dan menjatuhkan dirinya disana.


“Sarapan special untuk noona hari ini” seru Chang Min sembari meletakkan piring berisi daging panggang dan telur dadar gulung kesukaannya.


“Kau tidak kekampus hari ini?” Ujar Satine disela-sela sarapan pagi itu. “Ahni, kampus masih libur” jawab Chang Min.


Satine menghentikan makannya. Pandangannya mengarah pada mata Chang Min, berusaha mencari kepastian di sana,”Chinja-yyo?”. Chang Min menghentikan makannya dan balas menatap Satine. “Noonaaaaa, kenapa kau selalu tidak percaya padaku, aku tidak bohong” ujarnya memelas. Ia merasa sangat frustasi diinterogasi oleh Satine.


“Aku kan hanya bertanya, kalau benar yah sudah” jawab Satine cuek sembari melahap makanannya.


“Yaish…. Noona kau selalu membuatku frustasi setiap kali kau tidak percaya padaku. Noona aku tidak akan pernah bosan bicara tentang ini padamu, suatu hari nanti aku pasti akan bisa membuat noona bangga padaku dan aku akan membahagiakan noona jadi noona tidak perlu lagi bekerja sebagai….” tukas Chang Min berapi-api namun perkataannya itu terpotong oleh Satine. “Pabo-yya, aku akan selalu menunggumu merealisasikan janjimu itu anak bodoh” jawab Satine sembari menggetok kepala dongsaengnya itu membuat Chang Min meringis . Sejenak kemudian iapun beranjak dari tempat itu dan berjalan menuju ke kamarnya. Sebelum masuk ke kamarnya, ia berseru kepada Chang Min “Cuci piringnya sebelum kau pergi” kemudian iapun melangkah masuk meninggalkan Chang Min yang cemberut. “Aku kan sudah memasak masa cuci piring juga” omelnya pelan. Namun hal itu dilakukannya juga akhirnya. ^^


*************************************


Satine membaringkan tubuhnya diranjang, matanya belum terpejam, ia menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan menerawang. Sesekali ia mengerjabkan mata indahnya. Satine mengangkat kedua tangannya keatas seakan-akan ingin meraih sesuatu. Hanya sejenak kemudian ia turunkan kembali. Ia menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Saat ini ia meletakkan kedua tangganya menyilang didadanya, mencoba merasakan detak jantungnya sendiri. Perlahan namun pasti sebulir air mata menetes membasahi pipinya. Ia menangis untuk sesuatu yang sama sekali tidak ia ketahui alasannya. Hanya ingin menangis begitu pikirnya, tidak berapa lama iapun tertidur.


*************************************


“Sayang kau mau kemana dengan dandanan serapi itu” tegur Nyonya Lee pada Jin Ho saat dilihatnya putranya pagi itu berdandan rapi dengan jas dan dasi yang bertengger di lehernya.


“Aku mau pergi kerja omma, waeyo? Sudah terlalu lama aku vakum dari dunia itu” jawabnya santai.


“Mworagu? Tapi kau masih harus banyak istirahat sayang, kondisimu belum pulih benar” Nyonya Lee memandang dengan perasaan khawatirnya kepada Jin Ho.


“Omma, gwenchana. Semakin aku banyak berdiam diri pikiranku semakin kacau, karena itu aku mohon pada omma untuk mengijinkan aku kembali bekerja mengurus Lee Corp”


Nyonya Lee menatap wajah putranya tersebut dengan pandangan sayu, seolah tidak rela, namun sejenak kemudian ia tersenyum “baiklah” ujarnya pelan. “tapi jangan terlalu memaksakan dirimu oke, jangan berpikir terlalu berat” lanjutnya bijak yang hanya diamini oleh Jin Ho dengan anggukan kepala dan senyuman. “Aku pergi dulu omma” pamit Jin Ho seraya mengecup dahi Nyonya Lee lembut. Jin Ho berjalan menuju ke mobilnya, setelah melambaikan tangannya kepada ibunya iapun meluncur pergi. Nyonya Lee menatap kepergian Jin Ho sampai mobil yang ditumpanginya tidak terlihat lagi.


*************************************


Hari pertama Jin Ho bekerja kembali sungguh melelahkan, bukan hanya secara fisik namun juga secara batin. Ia bukan orang yang tuli untuk mendengarkan gunjingan-gunjingan dari beberapa karyawan kantor Lee Corp, meskipun tidak secara terang-terangan, namun pandangan beberapa orang yang tidak sengaja bertatap muka dengannya membuatnya muak. Padangan yang seolah-olah mengasihani nasibnya yang malang karena sudah menjadi rahasia umum sekarang tentang hubungannya dengan Na Ra dan Tae Yoon. Ingin rasanya ia menyumpal mulut orang-orang tersebut atau lebih extremenya mencakar-cakar wajah mereka, namun hal itu urung dilakukannya demi menjaga harga dirinya sebagai salah satu manajer Lee Corp.


Dan disinilah ia kini duduk disebuah bar kecil dipinggir kota yang kurang terkenal. Sengaja ia lakukan itu karena ia sudah muak dengan perlakuan orang-orang yang baca mengasihaninya. Ia paling benci dengan hal itu. Jin Ho menemukan bar tersebut saat sedang mengemudikan laju mobilnya tanpa arah, ia ingin memusnahkan bayangan Na Ra dari pikirannya. Ia duduk sambil meneguk beberapa gelas bir yang dipesannya. Tidak ia perdulikan beberapa wanita-wanita yang berdandan norak yang berusaha menggodanya. Saat pandangannya sudah semakin sayu, sayup-sayup ia mendengar suara merdu mengalun bersama dentingan piano yang menarik hatinya.



saehayan meopeulleoe eolgureul mutgo
bulgeojin nuneul kkamppagimyeo neol gidaryeosseo
museun yaegil hago peunji geu mal
al geotdo gateunde moreugesseo
eosaekhan nuninsae mogi meigo
han bal mulleo seon uri dul gonggane nunmul teojigo
hwaganaseo sorichideut garan nae mareun
beolsseo neon aju meolli darana beoryeosseo


oneul heeojyeosseoyo uri heeojyeosseoyo
nae mam al geot gatdamyeon yeopeseo gachi ureojwoyo
naneun andoenabwayo yeoksi aningabwayo
eolmana deoureoya jedaero saranghalkkayo


gwitgaen simjangsori geudae ulligo
jiun ni beonho jiulsurok deouk ttoryeotaejigo
eonjebuteo eodibuteo meoreojingeonji
bunmyeonghi eojekkajin nal saranghaenneunde


oneul heeojyeosseoyo uri heeojyeosseoyo
nae mam al geot gatdamyeon yeopeseo gachi ureojwoyo
naneun andoenabwayo yeoksi aningabwayo
eolmana deo ureoya jedaero saranghalkkayo


cham johasseo neomu johaseo deo apeujyo
sarange tto sogeun naega miwo


geunyang naoji mal geol geunyang apeuda hal geol
uri saranghan gieok geuge neol butjaba jul tende
neoneun naeireul salgo naneun oneureul sara
amudo amugeotdo nal utgehal suneun eobseo


oneul heeojyeosseoyo uri heeojyeosseoyo
nae mam al geot gatdamyeon yeopeseo gachi ureojwoyo
naneun andoenabwayo yeoksi aningabwayo eolmana
deo ureoya jedaero sarang halkkayo


Bait demi bait lagu itu terlantun dengan lembut dan penuh dengan perasaan. Jin Ho merasa terhanyut, ia mengamati dengan serius sosok yang sedang menyanyikan lagu tersebut. Sosok semungil itu bisa mengeluarkan suara seindah ini pikirnya, angannyapun melayang. Ia begitu terhanyut tanpa terasa air mata menetes dipipinya.


Pandangan Jin Ho masih tidak terlepas dari Satine sampai gadis itu selesai menyanyi dan beranjak dengan anggunnya dari piano yang dimainkannya tadi. Untuk ukuran seorang penyanyi bar ia termasuk angkuh, begitu pikir Jin Ho. Bagaimana tidak, seorang pelayan bar biasanya sangat ramah atau genit pada tamunya, namun Jin Ho tidak menemukan hal itu pada sosok Satine. Ia berjalan begitu angkuh, bahkan untuk tersenyum sekalipun Jin Ho tidak melihatnya kecentilan tersenyum kepada setiap lelaki yang dilewatinya.


Jin Ho kembali mengamati sosok gadis yang begitu menyita perhatiannya tersebut. Cara berdandannya tidak seperti kebanyakan “pelayan” bar kecil kebanyakan. Meskipun tubuhnya tidak terlalu tinggi dan kurus namun itu semua tertutupi sepenuhnya dengan cara membenahi kekurangan alami ini dengan penataan benda-benda yang ia kenakan. Gaun merah terusan yang menjuntai sampai dibawah lututnya tidak mengurangi keindahan lekuk kakinya. Kepalanya sungguh menawan, begitu mungil namun begitu pas dengan tubuhnya. Pasangkanlah dua mata coklat dalam bentuk oval yang sungguh mempesona dinaungi dengan sepasang alis sedemikian murninya sehingga terlihat laksana lukisan. Mata itu diselubungi oleh bulu mata nan lentik dan indah yang ketika merunduk menciptakan bayangan pada kedua belah pipinya yang memerah laksana mawar. Lukislah sebatang hidung yang lurus dan lembut, rancanglah selarik mulut dengan bibir mungil yang merekah anggun. Kulitnya yang putih dan mulus tampak bercahaya diantara lampu ruangan yang temaram. Dari gambaran itu kita akan mendapatkan garis besar dari wajah menawan itu. Rambutnya yang hitam tersanggul dengan beberapa helai ikal entah alami atau tidak menjuntai menutupi telinganya. Bagaimana kehidupannya yang keras meninggalkan ekspresi kekanakan pada wajah Satine, ekspresi yang menjadi kekhasan wajahnya adalah misteri yang hanya bisa kita ucapkan, tanpa sanggup untuk dipecahkan. 


Saat Satine berjalan melewatinya, ia melirik Jin Ho sekilas. Sejenak tatapan mereka bertemu, entah kenapa ada suatu perasaan aneh menjalari Jin Ho saat ini, mereka hanya terdiam beberapa detik. Satine kemudian berlalu ia berjalan menuju ke meja yang terletak diujung ruangan bar itu. Beberapa orang duduk disana. Satine menjatuhkan dirinya begitu saja di sofa. Mengambil segelas soju dan meminumnya dalam sekali tegukan. Pria yang berada disebelahnya menuangkan minuman sekali lagi dan mereka bersulang. Satine tersenyum namun semuanya hanya sebuah kepura-puraan. Jin Ho memandang semua itu sambil mendengus kesal.


“Wanita, semuanya sama saja” runtuknya pelan. 


*************************************


Satine urus pria mabuk ini, ia tertidur disini kalau ia tidak pergi kita tidak bisa menutup bar ini  sayup-sayup terdengar suara berat seorang pria yang mungkin pemilik bar ini batin Jin Ho di tengah kesadarannya yang menipis, matanya terlalu berat untuk dibuka dan badannya juga terlalu berat untuk digerakkannya.


Oppa kenapa selalu aku yang harus mengurus pria-pria tidak berguna ini kali ini suara seorang gadis, yah suara gadis itu gadis yang menyanyi tadi batin Jin Ho.


Pria yang dipanggil oppa oleh si gadis itu hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum, membuat Satine semakin cemberut. Perlahan-lahan Satine mendekati sosok Jin Ho yang tengah terkapar saking mabuknya “chogiyo”  Satine mengguncang tubuh Jin Ho pelan. Tidak ada reaksi dari Ji Ho matanya semakin berat akhirnya iapun tertidur.


“Huh, tidak bisa minum masih juga nekat” dengus Satine. Ia berpikir sejenak, kemudian menatap si pemilik bar. “Oppa, berapa banyak yang dia minum?” tanyanya. Pria yang dipanggil oppa tersebut menjulurkan badannya kedepan melihat kearah Jin Ho. “Entahlah, mungkin 5 gelas atau lebih” jawabnya cuek.


“Apa dia sudah membayar?” Tanya Satine kembali.


“Bagaimana aku bisa memintanya kalau dia sudah sangat mabuk seperti ini” jawab si pria enteng. Satine hanya bisa mendengus, “Selalu saja begini” gumamnya, ia menghela nafasnya berat. “Jang oppa Apa perlu kita menelpon seseorang dirumahnya?” Satine memandang bosnya meminta persetujuan.


“Aku sudah mencoba mencari handphonenya tapi tidak aku temukan, kelihatannya ia tidak membawa handphone”


“Bo…yya? Aish menyusahkan saja. Lalu bagaimana ini, apa perlu kita panggilkan taxi”


“Lalu kau mau menurunkannya dimana, apa kau tahu alamat rumahnya?” Satine hanya melirik Jang. Kemudian. “Dompet..!!!” seru mereka bersamaan. Satine langsung menggeledah saku kameja Jin Ho namun kosong yang didapatnya. Ia kemudian berpindah ke saku celananya dan menemukan dompet Jin Ho disana. “Got it!!!” serunya. Ia membuka dompet Jin Ho dan memeriksa isinya. Membolak-balik dompet itu namun tidak menemukan kartu identitas Jin Ho. Hanya ada beberapa lembar ribuan won dan kartu kredit dan ATM. Satine menaikkan alisnya heran


“Mwo?” Tanya Jang heran


“Tidak ada identitas” gumamnya pelan.


“Kau yakin” seru Jang, ia meraih dompet Jin Ho dari tangan Satine dan memeriksa isinya.


“Orang bodoh macam apa yang keluar rumah tanpa handphone dan identitas diri” runtuk Satine heran. “YYa,…. Bangun dimana rumahmu cepat pergi!!!” kali ini Satine mengguncang tubuh Jin Ho agak keras. Ia terlihat begitu kesal “Hah, kenapa kau ini begitu merepotkan!!!” ujarnya kembali


“YYa, Satine-aa apa yang kau lakukan? Hentikan” cegah Jang oppa. Membuat Satine semakin kesal.


“Lalu bagaimana oppa, apa kau mau aku tinggal disini sampai menunggu ia sadar?”


Jang oppa terdiam, ia tampak berpikir. Kemudian. “Bawa saja kerumahmu” putusnya.


“MWOOO? YYa--- oppa kau sudah gila yah, antwee aku tidak mau memangnya rumahku itu penginapan apa!!! Kenapa tidak ketempatmu saja hah” Satine mendelik kesal kearah Jang oppa.


“Miane, Satine-aa kalau bisa aku juga maunya begitu tapi… tapi…. Ditempatku ada…hehehe.. kau tahu kan….”


“Aush, kau ini selalu saja seenaknya, aku tidak mau pokoknya aku tidak mau antwee” tolaknya tegas


“Hey..hey..tenang dulu, coba pikirkan baik-baik tidak ada ruginya, kalau dilihat dandanannya kelihatannya ia orang kaya meskipun didompetnya saat ini tidak ada begitu banyak uang dan juga…”


“OPPAAAAAAAA!!!” bentak Satine kesal membuat Jang oppa menyusut.


“Kalau dilihat-lihat ia tampan juga, lumayan lho buat hiburanmu” lanjutnya pelan.


“YYA OPPAAAAAAAAA!!!”


Jang oppa tertawa geli “Mian…mian… aku hanya bercanda, kau ini kenapa pemarah sekali sih”


“TIDAK LUCU!!!!” umpat Satine kesal. Jang oppa tersenyum geli melihat Satine yang tengah naik darah. Ia selalu suka menggoda gadis itu.


“Lalu bagaimana, apa kita bawa ke hotel saja?” gumam Satine.


“Ide yang baik, tapi maaf aku tidak bisa mengantarmu, aku ada keperluan penting sekarang, kalau mau pakai saja mobilku aku bisa naik taxi”


“Mwo? kenapa… aush… oppaaaaa… kau ini selalu saja” Satine merengut giginya bergemerutuk menahan amarahnya . “Oppa kau ini PABO-yya. Karena sikapmu yang seperti ini yang membuat kita hampir bangkrut. Kenapa kau masih bisa memikirkan pelanggan seperti dia yang sama sekali tidak menguntungkan dan bahkan membuat kita kerepotan hah, coba pikirkan kapan kita bisa kaya kalau begini caranya” Lagi-lagi Satine mengomel. Jang oppa hanya bisa menunduk tanpa bisa membalas karena ia tahu kalau ia tidak akan pernah bisa menang melawan gadis itu.


“Miane Satine-aaa, kali ini saja aku minta tolong padamu terserah kau mau melakukan apa, ini kunci mobilku dan dompet pria ini” ujar Jang oppa memelas, ia menyodorkan kunci mobilnya dan meletakkan dompet Jin Ho di bar table. Satine cemberut, wajahnya mengeras menahan amarah. Jang oppa benar-benar hafal sifat Satine karena itu sebelum gadis itu meledak ia segera berlari pergi. “Tolong yah, kali iniiiiiiiiii saja kuserahkan padamu.” serunya saat berada didepan pintu dan secepatnya melesat pergi.


Satine berdiri memandang Jin Ho tajam “dasar Jang oppa sialan” umpatnya kesal sembari melirik Jin Ho yang tengah tertidur.   


*********************************


And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Re: Paint Pastel Princess (SPOILER ONLY) ^^
« Reply #92 on: May 10, 2011, 08:38:29 am »
Chapter 3



Jin Ho terbangun pagi itu oleh suara dentingan pelan piano yang samar-samar mulai merasuki telinganya. Alunan nadanya yang pelan namun membiaskan kesedihan yang dalam saat mendengarnya. Ia mulai berusaha membuka irisnya yang masih setengah berat untuk menerima pancaran cahaya sang mentari yang samar-samar merasuki sudut-sudut ruangan itu. Jin Ho menatap ke sekelilingnya, rupanya ia tertidur di sebuah sofa merah yang terletak disudut ruangan, Jin Ho memantapkan pandangannya kearah piano yang berada di tengah ruangan bar yang ia datangi semalam, ia ingin melihat lebih dekat sosok yang tengah menghantarkan senandung pagi itu.


Terlihat olehnya, gadis itu, gadis yang semalam sempat membuatnya terpana dengan nyanyiannya, sosok gadis “angkuh” untuk ukuran seorang wanita penghibur. Begitulah kira-kira penilaian Jin Ho padanya sejak kemarin. Jin Ho perlahan bangun dan duduk menyandarkan dirinya di sofa. Ia begitu menikmati alunan nada yang dimainkan oleh si gadis tersebut pagi ini. Meskipun kepalanya masih terasa berat, namun ia masih sanggup menerima asupan melodi dari dentingan piano Satine.


Satine menghentikan permainan pianonya saat ia merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Perlahan ia reflek menoleh ke belakang dan menatap sosok Jin Ho yang kini tengah memandangnya. Mereka berdua saling berpandangan cukup lama hingga akhirnya Satine pun beranjak dari bangku piano dan berjalan kearah Jin Ho.


“Anda sudah sadar tuan” Tukas Satine saat ia telah berada dihadapan Jin Ho. Nadanya kalem namun tajam.


“Ah..N..Ne…” sahut Jin Ho tergagap. “Dimana aku sekarang?” tanyanya polos.


“Shhhh…anda bahkan tidak tahu anda dimana?” desis Satine. “Kalau memang anda tidak kuat minum, saya sarankan anda untuk tidak mabuk sembarangan” sindir gadis itu kembali.


“Mwo?Yya, nona.. apa anda tidak bisa bicara sopan sedikit, setidaknya kau ini seorang wanita apa tidak bisa lembut sedikit” balas Jin Ho. Kali ini ia sudah sadar sepenuhnya. Satine hanya bisa mendengus kesal. Ia memajukan bibirnya beberapa centi.


“Orang yang tidak bisa minum, sok mabuk-mabukan dan sekarang ia malah ingin mengajar sopan santun yang benar saja” omel Satine pelan tampak seperti menggumam pada dirinya sendiri, namun malang baginya ternyata Jin Ho bisa mendengarnya dengan jelas.


“Mwo? apa kau bilang. Aush” tukas Jin Ho gusar, ia menatap tajam kearah Satine yang balas menatapnya tak kalah tajam. ^^

Jin Ho memandang Satine, ia mengamati gadis itu, tiba-tiba ia teringat sesuatu, ya gadis itu. Gadis yang sama saat mereka bertemu dirumah sakit dulu. “Kau!!! Aish ternyata kau pantas saja aku merasa kita pernah bertemu” ujarnya sambil menudingkan telunjuknya kearah Satine. Satine menjadi semakin bingung. Alisnya saling bertaut. Ia memandang Jin Ho dengan pandangan bertanya.   


“Iya, kau gadis bengal yang sudah salah tidak mau minta maaf, aku ingat sekali walaupun wajahmu terpoles make up tebal tapi aku pasti tidak salah”


Satine membulatkan matanya “Ternyata kau si pria manja itu yah, Cih.. sial sekali nasibku.” Satine memandang kearah Jin Ho dengan kesal. “Apa kau sudah selesai, kalau begitu cepat pergi. Palli… Ka…” ujar Satine dengan nada mengusir Jin Ho “Ah dan sebelumnya tolong anda bayar minuman yang sudah anda habiskan kemarin malam” lanjutnya. Jin Ho memandang Satine tajam, ia menarik sudut bibirnya keatas seolah-olah mengejek Satine. “Dasar gadis sombong” omelnya Jin Ho mengambil dompetnya dan membukanya “Berapa semuanya?” tanyanya ketus.


“Total semuanya 70.000 Won” Sahut gadis itu enteng. Jin Ho kembali menatap dompetnya ia menghitung lembaran uangnya. Jin Ho berhenti sejenak, ia kembali menatap kearah Satine.


“Waeyo, jangan bilang kalau kau juga tidak punya uang” tukas Satine ketus. 


“Bb…Bbooo? Yya.. nona aku punya uang ta..tapi…” ujar Jin Ho tergagap.


“Tapi apa? Sudah jangan banyak alasan cepat bayar atau”


“Atau apa?” potong Jin Ho tiba-tiba, ia terlihat gusar sekarang, wajahnya mengeras.


“Jadi benar kau tidak punya uang hah!!!”


“A..Aku punya. Tapi aku tidak membawa banyak sekarang, kalau begitu antar aku ke atm nanti aku bayar semuanya” Jin Ho berusaha mengelak meskipun saat ini sebenarnya ia sangat malu.


“MWO? sudah tidak bisa membayar kau masih menyuruhku mengantarmu? Yaishh, sungguh terlalu” Satine merasa sangat dongkol. Ia merasa amat sangat kesal sekarang.


“Aku akan membayarmu lebih, aku bayar semua termasuk ongkos antar, tidak perlu marah-marah seperti itu, sombong sekali kau untuk ukuran seorang wanita penghibur” seru Jin Ho keceplosan, mendadak ia merasa tidak enak, tenggorokannya seolah tercekat, ia merasa menyesal dengan apa yang dikatakannya barusan. Satine menoleh tajam kearah Jin Ho. Pandangannya berubah menjadi sinis.


“APA KAU BEGITU PUNYA BANYAK UANG HAH? KAU KIRA UANGMU BISA MEMBELI SEGALANYA? BENAR… AKU HANYA WANITA PENGHIBUR ATAU KAU MAU BILANG PELACUR SEKALIAN LANTAS KENAPA?WAE… APA SALAHNYA DENGAN MENJADI SEORANG WANITA PENGHIBUR!!!” tukas Satine kesal, ia begitu emosi dadanya naik turun menahan emosinya yang memuncak. Matanya tajam menusuk Jin Ho.


Jin Ho terdiam, ia menjadi serba salah. “Ma..maksudku… bukan begitu miane, cheongmal miane” ujarnya pelan dengan nada penuh penyesalan.


“Sudahlah ini salahku” tukas Satine pada akhirnya “Sekarang cepat pergi dari sini jangan membuatku semakin marah” lanjutnya pelan. Ia kemudian berjalan menuju kearah pintu dan membukanya kemudian memandang Jin Ho.


“Ta..tapi…” tukas Jin Ho, ia memandang Satine yang hanya menatap nanar kedepan tanpa suara. Akhirnya dengan berat hati Jin Ho pun meninggalkan bar kecil tersebut dengan perasaan kacau.


**************************************

Huffff, Jin Ho menghela nafasnya berat beberapa kali, ia terlihat melamun, bahkan ia tidak menyadari kehadiran Woo Bin di kantornya sedari tadi. Woo Bin yang melihatnya menjadi heran, apa sebegitu besarnya pengaruh Na Ra terhadap Jin Ho pikirnya. Perlahan iapun berjalan mendekati Jin Ho dan mengetuk meja yang ada dihadapan Jin Ho.


“Yo, Bro.. what’s up” sapanya. Jin Ho sontak menoleh kearah Woo Bin ia tersenyum. Jin Ho menjulurkan tangannya yang terkepal kearah Woo Bin yang segera disambut oleh Woo Bin. “Melamun?” Tanya Woo Bin yang hanya dijawab dengan senyuman oleh Jin Ho. “Kapan kau datang dan ada apa. Tumben mampir?” jawab Jin Ho.


“Mau mengajakmu makan siang, kau sibuk?”


Jin Ho melirik jam tangannya, sudah masuk jam istirahat, ia tidak menyadari hal tersebut karena terlalu sibuk melamunkan kejadian kemarin. “Tidak” jawabnya pendek. Jin Ho bangkit dari kursinya dan mengajak Woo Bin pergi. Keduanya berjalan menuju ke restoran yang ada dilantai paling atas gedung perkantoran Lee Corp tersebut. Seperti biasa mereka berdua memilih untuk duduk di VIP lounge karena tidak suka dengan suasana yang terlalu berisik dan ramai.


“Wegude? Apa yang terjadi? Kudengar kemarin kau tidak pulang?” Tanya Woo Bin saat mereka sudah berada didalam lounge. Jin Ho tidak menjawab, ia sibuk membolak balik menu yang ada didepannya. Akhirnya Jin Ho memesan satu set makanan berat untuk makan siangnya hari itu. Woo Bin memandangnya keheranan, karena setahunya selama ini ia tidak pernah melihat Jin Ho makan begitu banyak.


“Yo men, what’s up? Kau kelihatan sangat aneh hari ini” Tanya Woo Bin lagi.


“Nothing, I’m fine” jawab Jin Ho pendek. Woo Bin hanya bisa menghela nafasnya dan mengangkat bahunya tanda ia menyerah. Kalau sudah kumat begini susah baginya untuk mengorek lebih jauh tentang Jin Ho kalau tidak dia sendiri yang berbicara padanya.


“Bagaimana bisnis barumu? Lancar? Kenapa kau tidak kembali kemari dan bekerja bersamaku lagi” Tanya Jin Ho disela-sela makan siangnya.


Woo Bin terdiam, ia meletakkan sumpitnya. “Apa kau masih butuh asisten?” candanya seraya menyeruput minumannya.


Jin Ho terkekeh pelan “Tentu saja, pintu Lee Corp selalu terbuka lebar untukmu kapanpun kau mau kembali”


“Hmmm, aku pikir-pikir lagi deh, meskipun bisa dibilang bisnis yang aku geluti tidak seberapa lancar karena membutuhkan banyak pengorbanan tapi setidaknya ini sebagai pembuktian diriku untuk lepas dari bayang-bayang orang itu” Woo Bin mengambil kembali sumpitnya “Lagipula tidak asyik kalau selamanya menjadi asistenmu bisa-bisa aku telat nikah karena harus mengurusimu” lanjutnya tertawa.


Jin Ho tertawa “Sialan kau hahhaa!!! Masih berkutat dengan orang itu? well good luck bro apapun yang kau lakukan aku akan selalu mendukungmu” tukasnya.


Woo Bin mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian “Lalu kau sendiri bagaimana? Apa rencanamu selanjutnya. Bro, life must go on lupakan Na Ra dan carilah wanita lain. Diluar sana banyak yang antri untuk menjadi pacarmu atau bahkan istrimu kalau kau mau membuka mata dan hatimu” ujarnya setengah menasehati.


Jin Ho hanya tersenyum kecil dengan perkataan Woo Bin barusan. Dalam hati ia bergumam “Aku selalu berharap semoga aku bisa mengganti Na Ra dengan seseorang yang lebih baik, tapi yang aku tahu kenyataan tidak selalu sama seperti harapan. Betapa aku kini sadar kalau aku teramat sangat mencintai Na Ra”


**************************************

Jin Ho dan Woo Bin berjalan kembali menuju ke kantor Jin Ho, sesekali mereka bercanda akrab layaknya sebelum Jin Ho koma. Saat Jin Ho masuk keruangannya, ia tiba-tiba berhenti.


“Na Ra-ssi” gumamnya pelan. Woo Bin yang berada dibelakangnya melongok ke dalam ruangan itu dan mendapati sesosok wanita sedang berdiri di depan jendela ruangan kantor Jin Ho. Na Ra spontan menoleh kearah mereka berdua dan tersenyum lembut. Ia kemudian berjalan menghampiri mereka berdua.


“Woo Bin-ssi, apa kabar? Lama tak jumpa” sapanya pada Woo Bin. Mereka bersalaman dan berpelukan akrab.


“Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja, bagaimana kabarmu?” Tanya Woo Bin balik. Na Ra hanya menjawab dengan senyuman “Baik juga” jawabnya pendek. Jin Ho masih terdiam. Ia membisu ditempatnya. “Jin Ho-ssi bisa kita bicara sebentar” ujar Na Ra lembut, Jin Ho tidak menjawab, ia  berjalan menuju ke mejanya dan menghempaskan dirinya dikursi kerjanya.


“Oh, kalau begitu aku pamit dulu” tukas Woo Bin tiba-tiba, ia melambaikan tangannya kepada Jin Ho dan tersenyum kepada Na Ra sebelum pergi yang diamini oleh Na Ra dengan pandangan terima kasih atas pengertian Woo Bin.


Saat ini hanya tinggal mereka berdua diruangan itu sepeninggal Woo Bin. Jin Ho masih duduk dikursinya, pandangannya mengarah ke layar laptopnya meskipun pandangannya terbilang nanar.


“Ehem, Jin Ho-ssi” panggil Na Ra pelan, ia agak ragu-ragu memulai pembicaraan saat melihat Jin Ho seolah mengabaikannya.


“Hmm” jawab Jin Ho tanpa melepaskan pandangannya dari laptopnya.


“Bisakah kita mulai pembicaraan ini?”


“Bukankah dari tadi kau sudah bicara kakak ipar” tukas Jin Ho ketus, Na Ra tertunduk lesu ditempatnya. “Apa suamimu tahu kau pergi menemuiku karena setahuku Hyung orang yang pencemburu” lanjutnya. Na Ra semakin merasa terpojok, ia terdiam, hatinya mencelos matanya berkaca-kaca.


“Cukup Jin Ho-yya, cukup… katakan padaku aku harus bagaimana supaya kau bisa memaafkanku” ujar Na Ra pada akhirnya, ia sudah sangat pasrah sekarang. Bibirnya bergetar namun ia coba untuk tidak menangis. Jin Ho mencelos “Bodoh, lagi-lagi kau menyakiti hati seorang wanita, kenapa denganmu Jin Ho” batin Jin Ho.


Jin Ho beranjak dari kursinya, ia menatap keluar jendela, memandang barisan gedung-gedung di depannya. Ia kembali menghela nafasnya berat. Na Ra hanya bisa menatap siluet punggung Jin Ho dengan pandangan nanar, ingin rasanya ia memeluk punggung itu. Dulu hal itulah yang selalu dilakukannya, saat ini sejujurnya ia begitu merindukan hal itu, namun ia sadar hal itu tidak mungkin dia lakukan lagi “ah seandainya ini hanya mimpi betapa ingin aku kembali ke masa lalu” batinnya perih. 10 menit berlalu dalam keheningan hingga akhirnya Jin Ho berujar.


“Na Ra-ssi, sejujurnya sampai saat ini aku masih tidak bisa mempercayai semua ini, aku selalu berharap ini semua hanya mimpi” ujarnya pelan, ia membalikkan badannya perlahan, menatap lurus kearah Na Ra yang tertunduk. “Namun, aku sadar seberapa kerasnya hatiku menolak untuk menerima, tapi ini semua kenyataan yang harus aku hadapi. Jujur sampai sekarangpun aku masih tidak bisa mempercayai bahwa dirimu sekarang telah menjadi milik Hyung bahkan sebelum sampai aku melepaskan hidupku.” Jin Ho berhenti sejenak, ia menghela nafasnya pelan.


“Apa kau tahu betapa sakitnya hatiku sekarang, bahkan jika aku menangis sekarang, Itu pun tak bisa kembalikan dirimu lagi” lanjut Jin Ho, ia bergetar mencoba mengontrol emosinya. Ia kembali menatap Na Ra yang ada dihadapannya.


Gadis itu terisak pelan, air matanya mulai menetes satu persatu membasahi pipi mulusnya.  “Miane….” ia menangis. Jin Ho tersenyum hambar, perlahan, ia menjulurkan tangannya, menghapus air mata gadis itu dengan jari-jarinya.


“Kau tahu apa yang aneh Na Ra-ssi” ujarnya kembali, Na Ra yang sedari tadi merunduk, perlahan mendongakkan kepalanya.


“Bagaimanapun sakitnya hatiku, tapi aku sama sekali tidak bisa membencimu. Aku maafkan semua ini, meskipun setengah hatiku menjerit tidak ingin melihatmu lagi. Namun setengah hatiku berkata lain. Sungguh aku bisa memaklumi ketidaksabaranmu untuk menanti bejana cinta yang aku tinggalkan untuk sesaat”


Na Ra mendesah perlahan “Jin Ho-ssi….” Ia menatap Jin Ho dalam. 


“Sudahlah…..lupakanlah Na Ra-ssi. Kau tak mungkin lagi untuk kumiliki. Aku hanya berharap ini jalan yang terbaik untuk kita. Meskipun harus menanggung sakit yang terasa menikam jiwa untuk berpisah denganmu dan menghilangkan semua rasa yang pernah ada diantara kita, aku akan mencoba berdamai dengan perasaanku ini. Aku akan berdoa demi kebahagiaanmu dan Hyung” tukas Jin Ho lirih ia mencoba untuk tersenyum ikhas meskipun jauh didalam hatinya ia merasa sangat hancur saat ini. Kini ia merasa menjadi orang yang paling tolol sedunia, menjadi seorang pembohong yang dulu sangat dibencinya karena semua yang ia katakan sesungguhnya sangat bertentangan dengan hatinya.   


Na Ra tersenyum “gomawo-yyo Jin Ho-ssi, terima kasih atas pengertianmu sekali lagi maafkan aku” sesalnya. Ia tersenyum kearah Jin Ho


“Boleh aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya?” pinta Na Ra membuat Jin Ho agak gelagapan menanggapinya, namun perlahan ia merengkuh tubuh mungil Na Ra dan membawanya kedalam pelukannya. “Tentu” jawabnya kemudian. Merekapun berpelukan, sangat erat seolah tidak ingin dipisahkan.


“Saranghaeyo cinta pertamaku, maafkan aku yang telah menyakitimu dan selamat tinggal” batin Na Ra. Cukup lama mereka berpelukan sampai tidak menyadari bahwa beberapa meter dari tempat mereka berdiri, seseorang tengah memandang mereka dengan perasaan campur aduk.


**************************************

Satine memutuskan untuk menghabiskan liburannya dengan berjalan-jalan disepanjang daerah Insa-dong. Puas menikmati karya-karya seni tradisional yang banyak bertebaran disepanjang jalan, Satine berhenti di sebuah café mungil yang letaknya agak terpinggir dari keramaian jalan. Perlahan ia melangkah memasuki café tersebut. Suasana hangat dan nyaman langsung menyambutnya ketika ia masuk kedalam café. Mengingat dinginnya cuaca diluar.


Satine menikmati setiap sudut interior café tersebut. Ruangan dengan nuansa yang lembut dan menenangkan, beberapa lukisan terpajang apik dibeberapa sudut dinding ruangan. Alunan music klasik contemporer menambah nyaman suasana café tersebut.


Satine memilih duduk didekat jendela yang langsung menghadap keluar ruangan. Ia memesan segelas coffee latte panas saat pelayan datang menawarkan menu. Ia mengambil sebuah travel handbook yang diletakkan di sebuah rak buku tak jauh dari tempatnya duduk. Kali ini ia mengambil buku tentang benua Eropa. Satine membolak-balik halaman buku tersebut penuh rasa kagum, sesekali ia tersenyum kecil ketika ia melihat suatu hal yang menarik hatinya. Tanpa ia sadari seseorang memperhatikan gerak-geriknya sejak tadi.


Meskipun Satine memakai topi untuk menutupi sebagian wajahnya namun masih terlihat guratan senyuman yang menarik Jin Ho. Senyuman yang begitu tulus diwajah polosnya terlihat begitu cantik dengan kedua lesung pipi yang dalam saat gadis itu tersenyum. Sangat kontras ketika mereka bertemu terakhir kali. Namun Jin Ho merasa ada sesuatu yang kurang digadis itu. Ia berfikir sejenak. Ya pandangan mata gadis itu, meskipun ia selalu memandang Jin Ho tajam namun Jin Ho merasa melihat begitu banyak kesedihan dan kebencian disana. 


Perlahan Jin Ho bangkit dan berjalan mendekati Satine. “ehem” dehemnya pelan saat ia sudah berada didepan gadis tersebut. Satine spontan mengalihkan pandangannya dari buku yang dibacanya kearah Jin Ho. Wajah Satine mendadak berubah menjadi kecut ketika melihat sosok Jin Ho yang berdiri dihadapannya. Senyuman yang tadinya menghiasi bibirnya mendadak hilang berganti dengan bibir cemberutnya. Ekspresinya kembali datar dan dingin. Alisnya bertaut keatas seakan-akan berkata ‘Kau lagi’. Jin Ho menjadi salah tingkah dibuatnya. Seingatnya baru kali ini ia bisa tiba-tiba kehilangan rasa percaya dirinya ketika berhadapan dengan seorang wanita terlebih-lebih hanya seorang wanita penghibur.


“Apa aku boleh duduk disini? Kebetulan sekali kita bertemu lagi nona” sapanya ramah. Jin Ho mencoba bersikap wajar, sedangkan Satine ia hanya terdiam memandang Jin Ho tajam. 


“Apa café ini milikmu?” tebak gadis itu.


Jin Ho tersenyum seraya menjawab “Emm bukan juga sih, tapi ini punya ibuku. Aku hanya sesekali membantu mengelola café ini” jawabnya.


Satine sedikit kaget karena well tebakannya tidak meleset, iapun bergumam pelan “Sial sekali nasibku hari ini” gumamnya, Jin Ho mengernyitkan alisnya bingung.


“Yya, chakaman. Kau mau kemana” cegah Jin Ho saat ia melihat Satine mulai  membereskan barangnya dan bersiap beranjak pergi.   


“Menurutmu?” hardiknya. Iapun bersiap melangkah pergi namun langkahnya terhenti saat ia merasa ada tangan yang menahannya.


“YYa, nona kenapa kau ini pemarah sekali sih? Memang apa salahku padamu? Oke kemarin mungkin aku pernah menyinggungmu dan aku minta maaf soal itu jadi bisakah kita berdamai?” ujar Jin Ho memelas, Satine pun terdiam, ia tiba-tiba tersadar. Ya memang benar apa yang dikatakan oleh pemuda dihadapannya ini, sesungguhnya ia tidak berhak menyalahkan Jin Ho dan melampiaskan kekesalan dirinya pada pemuda itu. Satine melirik ke tangan Jin Ho yang masih meremas tangannya. Jin Ho mengikuti arah pandangan Satine dan refleks melepaskan genggamannya.


“Miane…” sekali lagi Jin Ho meminta maaf. Untuk orang yang mengenalnya hal ini merupakan hal yang luar biasa karena tidak biasanya ia meminta maaf berkali-kali apalagi kepada orang asing, namun entah kenapa Jin Ho seolah-olah tidak bisa berkutik dihadapan Satine.


“Sudahlah lupakan” jawab Satine. Ia kembali merebahkan tubuhnya di kursi sofa.


“Oh ya, kita belum berkenalan, kenalkan aku Lee Jin Ho dan agashi? Siapa nama anda?” Tanya Jin Ho basa-basi.


“Apa  pentingnya anda tau nama saya!! Lagipula bukan sesuatu yang istimewa untuk diingat” jawab Satine datar. Jin Ho terdiam mencerna kata-kata Satine barusan, ia hanya bisa tercengang dengan jawaban gadis dihadapannya tersebut.


“Setidaknya, dengan mengetahui nama anda adalah langkah pertama proses pertemanan kita”


“Anda tidak sedang mabuk kan? Teman? Jangan konyol. Orang terhormat seperti anda tidak mungkin memasukkan seorang wanita penghibur dalam friend listnya” ujar Satine dengan nada getir. Ia tersenyum simpul kearah Jin Ho.


“Sudahlah kalau memang anda tidak ingin menyebutkan nama, it’s ok. Saya tidak akan memaksa” ujar Jin Ho pada akhirnya. Ia terlalu capek untuk berdebat dengan Satine. Mereka berdua kembali terdiam. Satine mengalihkan pandangannya keluar jendela. Ia terlihat asyik memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang dikejauhan sana. Jin Ho hanya bisa ikut memandang kearah pandangan yang sama dengan Satine. Satine mengalihkan pandangannya pada langit kelabu yang menjatuhkan kristal es putih. Diluar sana salju mulai turun berterbangan dari langit laksana butiran-butiran kapas halus, sangat indah. Dan Jin Ho secara tidak sengaja menangkap sebuah senyuman dibibir mungil Satine. Meskipun sebentar namun sangat indah dengan mata yang memancar indah.


“Salju turun lagi…!” gumam Satine pelan.


“Kau suka salju ya..?” Tanya Jin Ho memecah kesunyian. Namun yang ditanya tak jua menjawab. Gadis itu hanya diam memandang butiran-butiran Kristal yang mulai berjatuhan ke bumi.


"Menurutmu, kalau salju mencair ia akan jadi apa?" akhirnya Satine bersuara, sebuah gumaman kecil lebih kepada berbicara kepada dirinya sendiri.


'Anak ini mempermainkanku, ya?' batin Jin Ho. "Sudah pasti jadi air, kan?" jawabnya. Satine hanya tersenyum tipis namun penuh arti mendengar jawaban Jin Ho. Ia menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin. Sejenak kemudian, iapun bersiap berkemas.


“Kau mau pergi? YYa kau bahkan belum menjawab pertanyaanku tadi” Tanya Jin Ho


“Pertanyaan yang mana..” jawab gadis itu alisnya mengernyit bingung.


“Tadi…, jawaban dari pertanyaanmu…!”


“Oh, yang itu?” 


“Dhe!!” tukas Jin Ho antusias


“Lupakan saja” jawab Satine cuek. Gubrak!!! Membuat Jin Ho terbengong oleh sosok gadis yang penuh misteri ini.


“Chakaman!!!” cegah Jin Ho saat Satine akan bersiap pergi.


“Apa lagi sih..?” ujar Satine sedikit kesal.


“Hutangku kemarin” ujar Jin Ho mengeluarkan dompet dari saku celananya. Diambilnya uang sebesar 100 ribu won dan disodorkannya kearah Satine yang melihatnya sekilas. Satinepun mengeluarkan dompetnya dan akan menarik beberapa lembar uang kembalian namun ditolak oleh Jin Ho dengan berkata


“Ambil kembaliannya!” ujarnya.


“Maaf, saya tidak terbiasa berhutang kepada pelanggan” tolak Satine juga dengan tetap menyodorkan uang sebesar 30ribu won kearah Jin Ho membuat pemuda itu semakin kikuk dibuatnya.


Tiba-tiba suara ponsel Satine berdering. Gadis itupun sontak meraih ponselnya dan menekan tombol jawab.


“Yeoboseyo, oppa. Dhe…dhe… iya sebentar lagi aku berangkat, dhe… bye”


Setelah pembicaraan singkat tersebut, Satinepun beranjak kearah kasir diikuti oleh Jin Ho dibelakangnya. Saat gadis itu akan membayar Jin Ho kembali mencegahnya.


“Sudahlah, aku traktir!!!” tukas Jin Ho membuat Satine sedikit terganggu olehnya. “Anggap saja, permintaan maafku atas kejadian kemarin nona, plis” lanjutnya cepat dengan nada memohon sebelum gadis itu kembali mengeluarkan amarahnya, senyuman tersungging di bibir Jin Ho.


“Hhhh….” dengus gadis itu. Namun ia urung marah ketika melihat senyuman maut Jin Ho. Segera dibiaskannya senyuman itu dengan melangkah keluar meninggalkan Jin Ho begitu saja. 


“Terima kasih” ujar Satine pelan. Jin Ho kembali tersenyum. Ia masih memperhatikan gerik gadis yang kini memunggunginya saat ia melangkah kepintu keluar. Satine merapatkan mantelnya sebelum ia melangkah keluar. Jin Ho masih memperhatikan bayangan diri Satine yang berjalan diantara reruntuhan salju dan memperhatikan sampai bayangan punggung itu menjauh dan menghilang.


“Kau pasti sudah gila Jin Ho” gumam Jin Ho pada dirinya sendiri.



**************************************


Satine berjalan menyusuri taman kota. Ia berhenti di sebuah halte bus dan ikut berdiri mengantri bersama beberapa calon penumpang yang lain. Ia mendongakkan kepalanya keatas, memandang kembali kearah butiran-butiran salju yang masih berjatuhan dan enggan untuk berhenti. Ia menghembuskan nafasnya yang membentuk uap udara mengingat dinginnya cuaca saat itu.


Dalam hati ia berpikir. ‘Kenapa aku menanyakan tentang itu padanya yah? Apa jawaban yang kau harapkan Satine-aa, tentu saja karena mereka orang yang berbeda’ batin gadis itu pelan. Tidak lama kemudian bus yang ia tunggupun datang. Satine bergegas melangkah masuk dan memilih duduk dibarisan paling belakang disebelah jendela yang agak sepi. Sepanjang perjalanan ia tidak pernah melepaskan pandangannya dari luar jendela.


“Menurutmu kalau salju mencair selanjutnya akan jadi apa?”


“Tentu saja air, pabo!!! Masa begitu saja tidak tahu…”


“Kau salah….!!!”


“Eh…?”


“Kalau salju sudah mencair tentunya ia akan menjadi ………”



Penggalan dialog-dialog dari masa lalunya, kini bergantian bernyanyi di pikiran Satine. Gadis itu kembali menghembuskan nafasnya. ‘Aku memang sudah gila…!!!’ gumamnya pelan.



**************************************

To Be Continued……




And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Emgx salju lo mencair jadi apa?


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Noonaaa, tengkyu udin di update Satine and jin ho. Nenk satine galak amat ya,ksian jin ho ampe jiper begono,heheh. Jin ho da mulai naksir ni kyknya gara2 senyuman manis nenk Satine. Penggalan dialog td itu obrolan satine ama siapa? Cowo dimasa lalu ya? Noona, miane u/ ff kolab blm bs ksh report coz kerjaan menggila. Tp msh gw kerjain and gw usahain asap,hehe

tambahan, ane baru ngeh kalo back song nya yg Falling Slowly itu yg pernah di nyanyiin Min Ho di FM pas ultahnya ya?? [heh]
« Last Edit: May 11, 2011, 03:28:32 am by Shanty_minsun »


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Hedeuh emaaakkkkkkk satinenya gumawo diupdate ane udinan nunggu lama ini paporit ane ni ^o^

My hae ga nungul mak #digabok si mak hmpf

Jinhoo merana ye nasib cintanya gpp de ntar jg dpt gantinya yg lebih bae satine wanita macan noh taklukin lol

si jinho secara ga langsung mule tertarik tu sm satine banyakin lg yo mak part satine jinhoo ane demen satine galak begono jinhoonya kalo kena semprot langsung mingkem lol



ADAM COUPLE SELCA

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
ayo ayo jebol satine #gubrak [hmpfh] [hmpfh] ,, balasan dr permintaan di FB [laughing] [laughing]

 [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
tadi demo sekarang di update [hmff] [hmff] ...akhirnya [smiley-gen013] [smiley-gen013]
jawaban salju apaan noona B?? [what] next chap jgn lama2 [hmpfh]

Love you more than I can say

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] sikkkkkkkk asikk btw itu jin ho kenapa musti bayar makk kan satine gak diapa apain  [on] [on]

 salju turun jadi dingin lah ,,,, [hmpfh] [hmpfh]

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
galak bener tuh satine, lagian jin ho keterlaluan bilang secara gamblang anak orang wanita penghibur lagi. tar kalau ketagihan dihibur satin tahu rasa lu [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [on] [on] [hmpfh] [hmpfh] [rofl] [rofl] [rofl] lanjut yuuuuuukkkkkkkkkkkkkkkk.................. [rofl] [rofl] [smiley-dance013]

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
Makasih ya sist, atas updetannya yang super duper panjang, dan langsung 2 chapter.....I love it so much deh...

Gue suka banget interaksi Satine dan Jin Ho. BIar mereka masih belum saling mengenal, tapi kemistri mereka udah dapet (jieeee, bahasa gue gak ku ku). Maksud gue, si Jin Ho kudah mulai ada tanda2 suka ke Satine, dan tanpa dia sadari dia mulai pengen Satine juga suka ama dia.

Masa lalu Satine sebenernya gimana sih? Dia pelacur atau penghibur sebenernya? Kalau pelacur pan, artinya dia tidur ama cowo2 hidung belang. tapi kalo penghibur doang, paling dipegang2.... [hmpfh]

Thanks banget ya...Ditunggu update lanjutannya.

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Emgx salju lo mencair jadi apa?

jadi aer #kate neng satine  [hmff]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Noonaaa, tengkyu udin di update Satine and jin ho. Nenk satine galak amat ya,ksian jin ho ampe jiper begono,heheh. Jin ho da mulai naksir ni kyknya gara2 senyuman manis nenk Satine. Penggalan dialog td itu obrolan satine ama siapa? Cowo dimasa lalu ya? Noona, miane u/ ff kolab blm bs ksh report coz kerjaan menggila. Tp msh gw kerjain and gw usahain asap,hehe

tambahan, ane baru ngeh kalo back song nya yg Falling Slowly itu yg pernah di nyanyiin Min Ho di FM pas ultahnya ya?? [heh]

iye emang dia galak kok pan ane dah bilang  [hmpfh], kl dialognya ma siape ntar aja ye tungguin next next chapter  [laughing] kl masalah ff ntu gak usah buru2 dah gapapa kok  [hmpfh]

iye falling slowly cucok pan ye ma chapter ini  [hmpfh] #pede

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Hedeuh emaaakkkkkkk satinenya gumawo diupdate ane udinan nunggu lama ini paporit ane ni ^o^

My hae ga nungul mak #digabok si mak hmpf

Jinhoo merana ye nasib cintanya gpp de ntar jg dpt gantinya yg lebih bae satine wanita macan noh taklukin lol

si jinho secara ga langsung mule tertarik tu sm satine banyakin lg yo mak part satine jinhoo ane demen satine galak begono jinhoonya kalo kena semprot langsung mingkem lol



Mak'eeee satine mah bukan macan tapi kucing klo dirimu iya kale anggota trio mak can  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] tenang mah kl neh FF emang si Jin Ho selalu kena semprot ma neng satine  [laughing]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
ayo ayo jebol satine #gubrak [hmpfh] [hmpfh] ,, balasan dr permintaan di FB [laughing] [laughing]

 [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

boleh mam klo yang ini juga mau dijebolin tapi dikau yang bikin yah  [on] [on] [on] [hmff]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^