Chapter one..
Min hye duduk menatap lukisannya, lukisan yang hampir setengah jadi itu terlihat tampak bersinar. Jemari lentik min hye menggerakkan kuas dengan lentur.
“masih sibuk ?..” sahut seseorang.
Min hye tersentak, ia sedikit kaget dengan kedatangan kakak kesayangannya didepan pintu. Jung woo berdiri sambil menatap kesibukan min hye dengan senyuman yang selalu ia kembangkan.
“ne...tinggal sedikit lagi..” jawab Min hye dengan pandangan masih lurus kedepan.
“jangan dipaksakan..” ucap Jung woo sambil merangkul punggung adiknya itu.
Min hye tersenyum, senyuman yang seolah menjawab bahwa ia masih ingin melakukan semua ini, dan Jung woo sadar akan senyuman itu.
“baiklah..lalu kapan pamerannya di gelar ??..”
“tiga hari lagi..” Jawab Min hye senang.
“baiklah aku akan datang dan mengabadikan moment-moment tersebut dengan jepretan telunjuku..” kata Jung woo sambil menggerak-gerakan jarinya seolah sekarang ia sedang memegang kamera.
Min hye tertawa.. “hahahha.. aku tahu hanya hal itu yang bisa oppa lakukan!..” ejeknya sambil tersenyum.
Tak lama kemudian mereka berdua tertawa bersama-sama, Kehangatan yang selalu mereka jalin saat mereka bersama. Hubungan kakak adik yang sudah benar-benar kental, dan semua ini lah yang membuat keluarga LEE menjadi keluarga yang sempurna.
****@@@@****
“nihh...” kata bum sambil menyodorkan sebuah undangan kepada Je min.
“apa..?” tanya laki-laki itu bingung.
“ini undangan pabo..” cibir bum kesal.
“O-“
“pameran..” tanya Je min ling-lung.
“ne..itu undangan pameran dari tuan besar Lee...” jawab bum meyakinkan.
Je min mengeriyitkan alisnya.. buat apa ia harus hadir ke pameran ini ?... sedangkan ia sama sekali tidak mengerti dengan yang namanya lukisan.
“heii..kau harus datang!!.. karena ini adalah pameran lukisan yang dibuat langsung oleh putri tuan Lee, jika kau tidak datang..maka sama saja kau meremehkan undangan darinya..” ucap Bum menerka-nerka.
Sedangkan Je min hanya manggut-manggut bertanda mengerti.
****@@@@****
@pameran lukisan
Je min dan Bum memasuki ruangan mewah tersebut dengan santai, mata mereka berdua menerawang setiap sudut ruangan tersebut dengan mata yang berbinar-binar. Lukisan-lukisan abstrak yang dipajang sungguh membuat mereka terkejut. Hampir 100 lukisan yang dipajang disini, dan yang lebih menabjubkan semua ini berasal dari satu tangan.
“iia menabjubkan..” ucap Bum terkagum-kagum.
Sedangkan Je min tak menghiraukan ucapan Bum, matanya masih sibuk memperhatikan seisi ruangan ini..
“je min-si..” tegus seorang laki-laki paruh baya yang didampingi wanita yang juga sebaya dengannya tapi masih terlihat cantik dan anggun.
“oh-“ Je min tersentak... “tuan Lee..” lanjutnya sambil membungkukan badan yang diikuti oleh Bum.
“ghamsahamida sudah datang..” ucapnya sambil tertawwa renyah.
“ne..saya juga sangat berterima kasih karena sudah di undang..” balas Je min sopan.
“yasudah kalau begitu silakan berkeliling, saya mau menyapa tamu yang lain dulu..saya harap kau tidak akan merasa bosan Je min-si..”
“tentu saja tidak tuan Lee..”
Tuan Lee dan istrinya pun berlalu dari hadapan Je min dan Bum. Sedangkan kedua pria itu melanjutkan perjalanan meraka melihat-lihat lukisan.
****
Sudah hampir satu jam Je min dan bum menglilingi tempat ini, tapi mereka masih belum merasa puas, dari tadi mereka melihat dan mengamati satu persatu lukisan disini dan semua ini sangat menghibur mereka.
“yaa... Je min aku kebelet nih!!..” ucap Bum sambil menjinjitkan kedua kakinya.
“yaiishh..ada-ada saja kau ini.....sudah sana pergi ke toilet..” cibir Je min kesal.
“ne.. tunggu di sini ya, kau jangan kemana-mana..” umpat Bum sambil berlari menuju toilet pria.
Detik selanjutnya Je min kembali mengalihkan perhatiannya kelukisan didepannya ini.. likisan ini terlihat berbeda dari lukisan yang lain, karena hanya lukisan inilah yang digambar tampa menggunakan cat warna. Lukisan yang menggambarkan ikan mas itu hanya becoretkan warna hitam, dan inilah yang membuat Je min penasaran.
Je min pun mengalihkan pandangannya kebawah lukisan itu, dan dia juga ditak menemukan keterangan dari lukisan ini, padahal dari setiap lukisan yang ia lihat semuanya pasti disertai papan keterangan dibawahnya, dan semua ini membuatnya bingung.
“anda bingung dengan lukisan ini ?..” tanya seorang wanita berkulit putih mulus yang tiba-tiba berdiri di samping je min.
“ne...kenapa lukisan ini ber..” kata-kata Je min terpotong oleh kata-kata wanita itu.
“berbeda dari yang lain, dan kenapa tidak ada keterangan gambar ?..” ucap wanita itu tegas.
“ne..”
Min hye tersenyum.. “lukisan ikan mas ini menggambarkan sebuah keberhasilan seseorang, sama seperti ikan mas yang dangan indahnya meloncat kedalam air.. dan kenapa ikan lukisan ini tidak diberi warna, semua itu karena sebuah impian dan harapan tidak boleh dipamerkan secara terang-terangan didepan orang lain..kita hanya perlu diam dan berusaha, agar suatu saat nanti semuanya akan tercapai..” jelas Min hye sambil tersenyum memandangi lukisan tersebut.
“lalu kenapa tidak diberi ketrangannya disisni?..” tanya Je min heran, dan berharap bisa mendapatkan jawaban seindah penjelasan yang tadi.
“ohh yang itu..aku LUPA..” jawab Min hye sambil tertawa..
Melihat tawa Min hye, Je min pun ikutan tertawa.. “Oh iya..aku Kim Je Min...” ucapnya sambil menjulurkan tangan ke arah Min hye.
“kalau begitu,Kim Je min kenalkan aku Lee Min Hye..” balasnya sambil menyambut tangan laki-lki tersebut.
“ne..aku tahu.”
“bagaimana bisa kau tahu?..” tanya Min hye heran.
“karena hanya sang pembuat lah yang tahu maksud dari lukisannya dan kau pastilah Lee min hye sang pembuat lukisan tersebut..”
“OH- ternyata..aku kira kau pesulap..” canda Min hye yang sukses membuat mereka berdua itu tertawa. Dan tanpa mereka sadari kedua tangan mereka masih saling menggenggam.
“HHEMMMM.....” tegur Bum yang melihat kejadian tersebut.
Je min dan Min hye langsung melepaskan genggaman tangan mereka. Dan sama-sama menundukan kepala, karena merasa malu dengan Bum.
“ehh..sudah selesai..” kata je min sambil menggarut-garut kepalanya yang tidak gatal.
“ne..sudah dari tadi..” ucap Bum jengkel.
“OHH...eh ini kenalkan, Lee Min hye.. putri dari tuan Lee sekaligus si pembuat semua likisan disini.
“wawww...kalau bagitu kenalkan nama ku Kim Bum..senang bisa berkenalan dengan anda..” ucap Bum sambil berjabatan dengan Min hye.
“ne..saya juga senang bisa berkenalan dengan anda Kim bum-sii..” balasnya sambil tersenyum halus.