CallMinsun
Welcome,
Guest
. Please
login
or
register
.
1 Hour
1 Day
1 Week
1 Month
Forever
Login with username, password and session length
News:
Home
Search
Calendar
Login
Register
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Full Of Love (Song of Life 2) Chapter 17, update
« previous
next »
Print
Pages:
1
2
[
3
]
4
5
...
27
Go Down
Author
Topic: Full Of Love (Song of Life 2) Chapter 17, update (Read 22067 times)
Diamond of Minsun
Senior
Posts: 714
Your smile make me cool..Your love around me,,
Re: Full Of Love (Song of Life 2)
«
Reply #30
on:
February 21, 2011, 05:20:49 am »
Gumawo sist ai udah update..
Si jung min masih seperti dulu..i like it..kok aq merasa cinta mereka kyk masih seger gitu..*sama kayak awal2 bercinta*habis, selalu mesra..h senengnya..
Namja2 ini pasti keren..ga kalah kyk jung min..
Suka deh, klo udah malu maluan gitu..becanda antar anak ma ortu..aq seneng liatnya..
En kyu gimana ya skrg..* i miss you* pasti tampan..
Rindunya uda bertumpuk..
Aq dukung buat pindah..supaya hye na ketemuan ma jung min dan anak2nya..
Ehmm...
Jung min masih mo nambah nih????
Ckckkc
ditunggu..
Logged
From the bottom of my heart,,
i wish you here with me ever and forever..
Become a real couple..
Aza aza hwaiting!!!
aiyuu_minsunnerz
Guest
Re: Full Of Love (Song of Life 2)
«
Reply #31
on:
February 21, 2011, 07:21:43 am »
Kak aii..gomawo sudah update chap perdana..
Lucu,kocak banged liad sikembar..
Yah,lagi2 jungmin ga bisa nemenin hyena brojol..
Jungmin jangan2 pengen minta lagi..wkkwkwk :D
Logged
minhye
Newbie
Posts: 89
Re: Full Of Love (Song of Life 2)
«
Reply #32
on:
February 21, 2011, 08:48:11 pm »
Thanks yuki udah diupdate chapter perdananya.....emg jungmin slalu telat yah pas kelahiran ank2nya..tapi tetep sikap ganjen ama hyena ga berubah..
trus anak2 jungmin and hyena jadi pindah ikut ke amrik????trus kisah cinta seung gi dimulai dimana nich...
ditnggu lanjutannya yach..
Logged
dafa yuvi
Junior
Posts: 202
love is trust
Location: surabaya
Re: Full Of Love (Song of Life 2)
«
Reply #33
on:
February 22, 2011, 02:17:13 am »
omooo,,,, seneng kaliii bca nih ff,,,
sumpahhhh keluarga besar yang bhagiaaa,,, lengkap deh,,,, appa dan eomma yang baik,,, anak cewe, cowo, kembar pula,,, complete....
mianhae gak pernah coment,,, huhuhu
Logged
ai_yuki
Hero
Posts: 1235
Location: Indonesia
Re: Full Of Love (Song of Life 2)
«
Reply #34
on:
February 24, 2011, 06:44:18 am »
pertanyaan yang sama ma mami yang belum sempat ai jawab...
nanti ai jawab di cerita aja ya...
di
satu tret...
klo tentang Seung gi... udah ai kasih pasangannya...
udah tua...kasihan kalo jomblo terus... cuman emang belum sempet ai kasih tahu siapa
Logged
apri minsun
Junior
Posts: 149
Re: Full Of Love (Song of Life 2)
«
Reply #35
on:
February 26, 2011, 08:01:48 pm »
annyeong new reader,hehe udah lama baca sich SOL part 1 tapi jd reader gelap gak pernah coment
.seneng banget dech ada part 2
,ditunggu next chap ea semangat
Logged
Imahminsun
Senior
Posts: 544
sweet momen's minsun
Location: seoul
Re: Full Of Love (Song of Life 2)
«
Reply #36
on:
March 06, 2011, 04:54:18 am »
sist kpan neh di updat...?kngen berat sma jung min & hye na sma anak" jg mlam ini updat ya..!pleeees q suka bnget sma ff sist yg stu ini.
Logged
Song hye sun
Newbie
Posts: 46
nomu.nomu.nomu chuaaaa
Re: Full Of Love (Song of Life 2)
«
Reply #37
on:
March 07, 2011, 06:38:08 am »
anyong sist aiiii
sist update lagi dong,,,,bagus nih cerita kamu....
seneng liat jungmin dan hyena yang semakin romantis aja [
buruan update dong sitt
Logged
you and i together it's just feel so right
Imahminsun
Senior
Posts: 544
sweet momen's minsun
Location: seoul
Re: Full Of Love (Song of Life 2)
«
Reply #38
on:
March 14, 2011, 08:53:12 am »
sista yuki... kapan neh di updat..? sudah tidak sbar nunggu lanjutannya...
Logged
ai_yuki
Hero
Posts: 1235
Location: Indonesia
Re: Full Of Love (Song of Life 2)
«
Reply #39
on:
March 26, 2011, 11:40:13 pm »
maaf belum bisa updet dalam waktu dekat...
Logged
Diamond of Minsun
Senior
Posts: 714
Your smile make me cool..Your love around me,,
Re: Full Of Love (Song of Life 2)
«
Reply #40
on:
March 26, 2011, 11:43:08 pm »
Quote from: ai_yuki on March 26, 2011, 11:40:13 pm
maaf belum bisa updet dalam waktu dekat...
don't worry but happy...*kagak nyambung..
Logged
From the bottom of my heart,,
i wish you here with me ever and forever..
Become a real couple..
Aza aza hwaiting!!!
lee sun ho
Full
Posts: 265
onnie you're so pretty
Re: Full Of Love (Song of Life 2)
«
Reply #41
on:
March 27, 2011, 12:13:10 pm »
Quote from: ai_yuki on March 26, 2011, 11:40:13 pm
maaf belum bisa updet dalam waktu dekat...
yah...knpa sist???*kuciwa 12 deh*
Logged
MinSun....''I will always love Them''
forever and ever
ai_yuki
Hero
Posts: 1235
Location: Indonesia
Full Of Love (Song of Life 2) Chapter 2, just update April 23
«
Reply #42
on:
April 22, 2011, 08:50:16 pm »
Chapter 2
Malam kembali menjelma, menggantikan teriknya matahari di siang hari. Bulan kembali hadir menemani sang bintang, menggantikan tugas sang surya. Jung min perlahan membuka pintu kamarnya, mengedarkan pandangannya dengan lampu yang terlihat redup, namun orang yang dicarinya tidak nampak. Perlahan Jung min melangkah masuk, membuka satu-satunya pintu yang tertutup di ruang itu, namun tetap saja, orang yang dicarinya belum diketemukannya.
Jung min keluar dari kamar itu dan mulai mencari kembali, rasa khawatir kembali muncul di hati dan pikirannya. Setelah hampir seminggu ia pergi, meninggalkan rumah dan keluarganya, keluarga kecilnya yang bertambah oleh kehadiran seorang bayi perempuan yang didambakannya, yang akhirnya ia dapatkan. Meninggalkan bidadarinya. Meninggalkan Seoul, dan kini ia kembali, namun ia tidak mendapati bidadarinya itu. Jung min terdiam sesaat, mencoba berpikir, mencari sesuatu dikepalanya.
Jung min melangkah keluar dari kamarnya perlahan, lorong di luar kamarnya terlihat lebih terang, membuat penglihatannya yang sedikit masih mengantuk dapat terbuka lebar, meskipun ia harus membbiasakan penglihatannya terlebih dahulu, tetapi akhirnya ia mampu menatap apapun yang berada tak jauh di depannya, hingga akhirnya langkahnya terhenti, ditatapnya sebuah pintu yang berdiri tegak di hadapannya, dengan pintu yang sedikit terbuka. Jung min menatapnya, rasa penasaran muncul di kepalanya. Dan semuanya terjawab oleh bau harum khas bayi yang keluar dari sana. Jung min tersenyum sesaat dan kemudian perlahan mendorong pintunya hingga terbuka lebar.
Jung min melangkahkan kakinya masuk, mengedarkan pandangannya, menatap, mencari seseorang yang sangat ia rindukan dan sangat ingin ia lihat saat itu, dan akhirnya… senyum Jung min semakin melebar, menatap bidadarinya yang tengah duduk, menelungkup di sisi ranjang bayi, namun kemudian rasa kesal menyergapnya, menggeser semua rasa senang dihatinya. Senyum di wajah Jung min menghilang.
Jung min melangkah cepat masuk dan menatap sang bidadarinya yang terlihat tertidur kelelahan di sisi ranjang, meletakkan lengannya di sisi bayi perempuan yang terlihat tertidur lelap di hadapannya.
“Hye na…”panggil Jung min lembut namun menyiratkan rasa kesal darinya. Hye na terlihat mengerjapkan matanya, seakan mendengar panggilan pelan Jung min dan kehadiran Jung min disana.
“ahh… Jung min… kau bangun… Ha na baru 1 jam yang lalu tertidur… apa aku membangunkanmu…? Atau…”
“bangun…”ucap Jung min pelan, cepat, menatap Hye na tajam.
“...ada apa…?”tanya Hye na menatap Jung min bingung
“bangun…” kata Jung min lagi
“ada apa… kenapa kau…akhhhh…”seru Hye na tiba-tiba, ketika ia mencoba untuk bangkit, menuruti permintaan Jung min, namun tiba-tiba kakinya seakan tidak kuat untuk menopang berat tubuhnya dan terjatuh. Dengan sigap Jung min, melingkarkan lengannya di perut Hye na dan menariknya kepelukan Jung min. Jung min menatap Hye na, marah. Hye na semakin bingung di buatnya.
Dengan cepat, dan tanpa basa basi lagi, Jung min mengangkat tubuh Hye na ke pelukannya dan membawanya keluar dari kamar Ha na.
“…kau kenapa…”tanya Hye na bingung, menatap Jung min yang masih terus berjalan untuk keluar dari kamar Ha na.
“auuusshhh… Lee Jung min…”panggil Hye na, berseru keras. Jung min menatap Hye na semakin marah dan berdesis keras, menatap Hye na “… yya… kau bisa membangunkan Ha na…”jawab Jung min, menatap Hye na. Hye na terdiam, menutup mulutnya dan mengkerut di pelukan Jung min, tidak percaya akan mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya.
Jung min meletakkan Hye na perlahan di ranjang keduanya dan menatapnya marah. “…kau… apa yang kau lakukan…”seru Jung min, marah
“…ada apa…? Kenapa kau marah…?”tanya Hye na bingung, menatap Jung min aneh. Jung min diam ditempatnya, menatap Hye na sesaat dan menghembuskan napasnya pelan.
“…kau menyakitiku sayang..”kata Jung min kemudian, menatap Hye na sedih, dan mendekap Hye na yang terlihat duduk di tempatnya.
“ada apa…”tanya Hye na lagi
“…aku mohon jangan lakukan lagi… jangan lakukan itu lagi… aku tidak akan terima jika kau melakukan itu”
Hye na diam, menatap Jung min bingung “… sebenarnya ada apa…?”tanya Hye na
“….berhenti menyiksa dirimu dengan membuat dirimu sibuk mengurusi anak-anak kita…” jawab Jung min. Hye na diam, menatap Jung min kemudian dengan cepat ia bangkit dari tempatnya. Kini keduanya saling berpandangan. Saling diam, menatap.
“ahniyo…antwe… aku tidak bisa…”
“waeyo…?”tanya Jung min, menatap Hye na marah “kau harus menuruti apa kataku…”
“tidak untuk yang satu ini… aku jelas-jelas menolaknya…”
“yya…!! Disini sudah banyak pelayan yang bisa membantumu mengurus anak-anak… jadi kau dapat memperhatikan dirimu juga…”
“antwe…!!”seru Hye na, menatap Jung min marah, yang dibalas Jung min dengan tatapan kesalnya. Keduanya terdiam saling menatap, namun tidak bertahan lama, kemudian Hye na sudah beranjak pergi dari tempatnya, meninggalkan Jung min. Namun hanya beberapa langkah, kemudian Hye na menghentikan langkahnya, terdiam sesaat, dan membalikkan tubuhnya cepat, menatap Jung min “... jika kau bermasalah dengan caraku… punya anak saja dari wanita-wanita yang lebih memilih pelayan untuk menjaga anak-anak mereka… sayangnya aku tidak seperti itu… dan jika kau tidak suka… aku akan pergi dan menjaga anak-anak ku sendiri…”ucap Hye na, menatap Jung min marah.
Jung min terlihat diam di tempatnya, terkejut dengan ucapan Hye na, dan rasa sesal mulai menyergapnya. Jung min menatap Hye na sesaat dan sesaat kemudian, Jung min menarik lengan Hye na dengan cepat dan membawanya ke dalam pelukannya.
“mianhe… jeongmal mianhe…”kata Jung min lirih, dan Hye na hanya terdiam di tempatnya, tanpa mengatakan apapun. “mianhe sayang… mianhe…”tambah Jung min penuh penyesalan “aku tidak bermaksud seperti itu… aku hanya terkejut ketika kau tidak ada disisiku kemudian mendapati kau tertidur dilantai dengan udara sedingin ini…membuatku…akkkhhh… bogoshipo…”kata Jung min, mempererat pelukannya. Hye na diam di tempatnya, mengerti apa yang sedang dialami oleh suami tercintanya itu.
“…bogoshipoyo sayang… bogoshipo… dan aku benar-benar kesal ketika kau tidak ada disampingku…dan kemudian aku melihatmu tertidur dilantai…mianhe…jeongmal mianhe…”
Hye na tersenyum dalam pelukan Jung min, dan membalas pelukan Jung min erat.
“aku sangat rindu padamu…sangat aneh, mendapati dirimu tidak ada…aku sangat rindu…dan aku mohon jangan pernah melakukan itu lagi… jangan… aku mohon”
“…ne…ne …ne… aku mengerti…aku juga sangat merindukanmu sayang… dan maaf… tidak ada disampingmu saat kau ingin berada disampingku dan… maaf juga karena membuatmu melihatku tertidur dilantai karena kelelahan… aku tidak akan pernah melakukan itu lagi…aku berjanji sayang…”
Jung min diam, senyum terlihat di wajahnya, sebuah senyum lebar, dan perlahan ia melepaskan pelukannya, menatap Hye na tajam.
“…yya… kau juga… kenapa kau lebih memilih anakmu dibandingkan aku… aku baru saja kembali dari pekerjaanku dan aku sangat rindu padamu… tapi kau malah sibuk mengurus anak-anak…dan lihat wajahmu… pucat… kau terlihat kurus… kau juga harus menjaga dirimu… memperhatikan dirimu sendiri..auusshhh… kau benar-benar menyakitiku…”
“auusshh… itu tugasku sebagai seorang ibu… apa salahnya aku mengurus anak-anak… yya…mereka juga anak-anakmu bukan…auuussshhh… dasar…”
Jung min diam, mengerucutkan bibirnya, dan menyilangkan tangannya didada, kesal. Keduanya terdiam
“arasso..arasso…”ujar Hye na kemudian, menyerah. “mianhe…jeongmal mianhe…”kata Hye na, menarik kedua lengan Jung min, dan membuatnya menatap dirinya. Senyum Hye na merekah lebar di wajahnya.
“mianhe sayang…”tambah Hye na. Menarik kedua tangan Jung min, melingkarkannya di pinggangnya. Hye na menatapnya lembut, tersenyum.
Jung min menatap Hye na diam, senyum tipis terlihat di wajahnya, kemudian tanpa Hye na duga, namun sempat muncul di pikiran Hye na “…aku terima… tapi hanya jika kau mengobati lukaku… “
“mwo?!? Kau terluka…?!? Bagaimana bisa…? Apa yang kau lakukan…?dimana?!” ujar Hye na, menatap Jung min khawatir, mencari luka yang dikatakan Jung min padanya.
“ne… aku terluka…disini…” Jung min, menunjukkan dadanya “…disini…” Jung min terlihat menunjuk ke kedua pipinya “…dan disini…”tambah Jung min kemudian, yang kini menunjuk pada bibirnya.
Hye na mengerucutkan bibirnya, menatap Jung min berpikir “…jika tidak… tidak ada…”sambung Jung min lagi.
“arasso…”potong Hye na kemudian, menatap Jung min, kesal, namun senyum terlukis di wajahnya. Hye na menatap Jung min yang terlihat terdiam ditempatnya, namun menunggu sesuatu. Perlahan Hye na melangkahkan kakinya mendekat, semakin mendekat, dan dengan cepat ia menarik kerah kemeja Jung min, membawa wajahnya semakin dekat kearahnya. Jung min diam, terkejut ditempatnya, tidak menyangka bidadarinya akan melakukan hal yang sering ia pikirkan namun ia rasa sangat mustahil untuk dilakukan kekasihnya itu.
Hye na tersenyum menatap Jung min, hampir tidak ada jarak diantara keduanya, perlahan hidung keduanya bersentuhan dan sesaat kemudian, bibir Hye na menyentuh hangat bibir padat Jung min. untuk sepersekian detik, Jung min benar-benar terkejut dengan perlakuan Hye na. Ia dapat merasakan lumatan Hye na di bibirnya dan sedetik kemudian, Jung min mulai menikmati lumata-lumatan Hye na, dan sesaat kemudian ia mulai melepaskan, menatap Hye na lembut, penuh kasih dan kerinduan. Disentuhnya lembut wajah Hye na.
“…aku senang saat rambutmu panjang… tapi kau lebih cantik dengan rambut pendekmu ini…”ujar Jung min lirih. Hye na tersenyum mendengar perkataan Jung min.
Perlahan kedua lengan Jung min mulai melingkar di perut Hye na dan lengan yang lain mulai melingkar di leher Hye na, membawa Hye na mendekat. Hye na merasakannya dan perlahan melingkarkan kedua lengannya di leher Jung min, menariknya. Gairah keduanya memuncak malam itu.
Lama, akhirnya Jung min melepaskan ciuman Hye na dan menatapnya lembut. Hye na terdiam, senyum terkembang di wajahnya, dan kemudian, Hye na menarik Jung min, memeluknya erat, merasakan kembali dekapan hangat dari suaminya itu. Jung min mendesah pelan, rasa yang sebelumnya membuncah kini seakan terendam oleh dekapan bidadarinya itu. Terendam oleh pelukan istrinya. Pelukan hangat yang sangat di rindukan Jung min. Pelukan hangat dari bidadarinya. Pelukan hangat yang sangat ia harapkan setelah beberapa lama ia berpisah dari kekasihnya itu.
“mianhe… jeongmal mianhe…”bisik Hye na, dalam dekapan hangat Jung min. Jung min tersenyum dan membawa Hye na semakin erat dalam pelukannya. “bogoshipo…”
******
Malam sunyi semakin memuncak. Sang rembulan masih tersenyum, menemani beberapa orang yang terlihat masih beraktivitas di tengah gelapnya malam dan dinginnya angin malam. Seung gi diam, menatap sesaat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi, tapi ia masih belum dapat menutup matanya. Dan ini terasa aneh untuknya. Malam itu ia merasa sangat terganggu oleh kedatangan seseorang yang selalu hadir di penglihatannya.
Seung gi menarik napas cepat dan menghembuskannya perlahan. Seseorang telah menyita pikirannya kini, dan itu membuatnya sangat tersiksa. Hampir setiap malam selama seminggu kedatangannya, membuat dirinya gelisah dan… aneh… tepatnya sangat aneh… ia sama sekali tidak pernah mengalami hal ini. Terakhir ia mengalami ini saat ia mengenal seorang…
“ahhh…”Seung gi mendesah pelan “…kenapa orang itu tidak mau pergi… benar-benar mengganggu…”
Dengan cepat Seung gi bangkit dari tempatnya, menatap sang penjaga malam yang tersenyum melalui jendela lebar apartemennya. Seung gi mengambil segelas kopi panas yang kini mulai terasa dingin di mulutnya. “akhhh… benar-benar dingin…”keluh Seung gi.
Seung gi menghela napas, menatap kopi dingin yang sebelumnya panas ditangannya dan dengan cepat meletakkan cangkir kopinya kembali. “seandainya…”gumam Seung gi yang kemudian disusul helaan napas darinya. Terdengar menyesal namun tidak akan pernah menyerah.
Lama terdiam, pandangan Seung gi terarah ke sebuah tumpukan map yang berserakan di mejanya. Sebuah map merah menarik perhatiannya. Hampir berada di paling bawah tumpukan itu, dan perlahan ia menariknya, mulai membacanya.
“kau… benar-benar menyita semua pikiranku…”keluah Seung gi yang kemudian duduk di sofa tak jauh dari tempatnya berdiri. Pikirannya mulai melayang pergi.
Flash back
“aussshhh… cepat Seung gi… aku sudah benar-benar terlambat sekarang… aku tidak mau melewatkannya… anakku…”seru Jung min kesal, menatap Seung gi disisinya yang saat itu tengah berperan sebagai supir Jung min. Saat itu keduanya memang sedang berada di mobil yang membawa Jung min ke rumah sakit untuk kelahiran anak keduanya. Kerumah sakit dimana Hye na sudah menunggu kedatangan Jung min.
“arasso… aku mengerti… ini saja sudah sangat cepat…”
“auusshhh… lebih cepat lagi…”paksa Jung min
Seung gi diam sesaat “…auuusshhh… setir saja sendiri… kau benar-benar menyebalkan…”seru Seung gi mulai merasa kesal. Seung memelankan laju mobilnya dan menatap Jung min tajam “…jika kau tidak bisa diam, aku akan menghentikan mobil ini dan membuang kuncinya…”ancam Seung gi
Jung min diam di tempatnya, tidak mampu melawan perkataan Seung gi, dan kembali duduk tenang di tempatnya. Seung gi tersenyum, “…begini lebih baik…”ucap Seung gi senang.
Jung min diam, dan perjalanan keduanya kembali mulus, tanpa keluh kesah dari ssiapapun, namun sepertinya ketenangan itu hanya sesaat, karena sesaat kemudian, setelah Seung gi membelokkan mobilnya masuk ke pelataran rumah sakit, dan menghentikan lajunya, Jung min langsung melesat turun dari mobil dan berlari masuk kedalam rumah sakit.
Kali ini, Seung gi tidak mampu melakukan apapun, ia hanya diam menggelengkan kepalanya, tersenyum “kali ini tidak ada yang bisa menghalangimu…”kata Seung gi kemudian. Seung gi melangkahkan kakinya perlahan, memasuki rumah sakit besar yang sudah sangat biasa ia masuki dengan berbagai macam kasus, dan kesemuanya berhubungan dengan seorang Jung min dan Hye na.
Seung gi terdiam di tempatnya saat itu dan melangkah perlahan meninggalkan rumah sakit. Seperti biasa, kebodohan Jung min membuatnya bertindak cepat. Seung gi melangkah perlahan kesebuah toko bunga tak jauh dari Hans hospital. Seperti sebelumnya…
“sebenarnya siapa yang menjadi suami Hye na…”gumam Seung gi pelan, mengambil seikat bunga lili putih kesukaan Hye na.
“ausshhh… kenapa laki-laki itu tidak ada romantic-romantisnya…” keluh Seung gi sembari kemudian melangkah pergi kembali kearah rumah sakit. Seung gi menatap seikat bunga lili putih di tangannya, dan tiba-tiba tanpa ia sadari seseorang membuatnya menjatuh bunga lili di tangannya. Seung gi mengalihkan wajahnya, ditatapnya kesal orang itu.
“…ahhh… mianhe… jeongmal mianhe…” katanya, menatap Seung gi khawatir. Seung gi menatap orang itu diam, sesuatu membuatnya terdiam di tempatnya menatap orang itu.
“…gwenchana…?”tanya orang itu lagi, memberikan seikat bunga lili Seung gi kembali padanya.
“mianhe…”kata orang itu lagi, menatap Seung gi yang masih diam di hadapannya, khawatir
“…”
“…”
Keduanya terdiam, saling menatap, namun dengan makna yang berbeda di setiap tatapannya.
“tuan…”panggil orang itu lagi, menyadarkan Seung gi dari keterdiamannya
“ahhh… ne…gwenchana… tak apa… mianhe…”jawab Seung gi cepat
“…baiklah kalau begitu… maafkan saya…sekali lagi…”kata orang itu lagi, menatap Seung gi lama, tidak yakin dengan apa yang ia dengar sebelumnya, karena, lagi-lagi Seung gi hanya diam di tempatnya, menatap orang dihadapannya diam. “…anda benar-benar tidak apa-apa…?”tanya orang itu lagi.
“…ne…”jawab Seung gi, yang terdengar seperti sebuah desahan.
“…” orang itu tersenyum menatap Seung gi. Senyum termanis yang pernah ia lihat. “…baiklah kalau begitu… sekal lagi maafkan saya…”kata orang itu yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Seung gi.
Seung gi menatap kepergian orang itu dalam diam, tidak melakukan apapun kecuali hanya menatap punggungnya dan kepergiannya. Seung gi menatap orang itu dalam, berpikir akan sesuatu hal.
End of Flashback
“…apa dia dokter di rumah sakit Han…? Siapa dia…?”gumam Seung gi, menatap bulan yang tersenyum padanya, dengan berjuta lampu kota di bawahnya yang berkedip, menggoda sang rembulan.
********
Jung min menggerakkan tubuhnya cepat, berbalik ke sisinya, bermaksud untuk memeluk seseorang yang seharusnya tertidur disisinya saat itu, namun, ia tidak merasakan siapapun disana. Jung min mengangkat kepalanya, membuka matanya perlahan, mengedarkan pandangannya, menatap sekelilingnya yang terlihat remang.
“Hye na… sayang…”panggil Jung min, mengambil selimut, dan melilitkan selimut itu ke sekujur tubuhnya, untuk menutupi tubuhnya, dan juga untuk melindungi dirinya dari angin dingin yang terasa menusuk tulang malam itu.
“Hye na…” panggil JUng min lagi, yang mulai mencari keberadaan sang kekasih. Jung min membuka pintu kamar mandi diujung ruangan, namun ia sama sekali tidak mendapati keberadaan Hye na disana. Jung min kembali melangkah, mencari Hye na, keluar dari kamarnya.
Jung min mengedarkan pandangannya di lorong gelap rumahnya. Masih mencari sang kekasih yang entah kemana. Malam semakin beranjak, angin dingin semakin menusuk dan Jung min masih melangkahkan kainya mencari keberadaan Hye na “Hye na…”panggil Jung min lirih, berjalan masuk kesebuah pintu yang sedikit terbuka.
“Hye na… kau disini…?”tanya Jung min, namun tidak terdengar jawaban apapun dari dalam. Jung min melangkah masuk perlahan.
“…Hye na…”panggil Jung min, menatap Hye na yang terlihat tertidur, dengan beralaskan lantai dingin, menumpukkan kepalanya di ranjang Ha na, di sisi Ha na. Jung min melangkah mendekat, cepat, tidak menyangka hal yang sebelumnya terjadi, terjadi kembali, bahkan lebih parah sekarang. Jung min melepaskan selimut yang ia lilitkan di tubuhnya dan menyelubungi tubuh Hye na dengan selimut itu “sayang… “panggil Jung min, mengusap lembut Hye na. Hye na masih terlihat terlelap di tempatnya, tidak mempedulikan panggilan Jung min.
Jung min diam di tempatnya, menatap Hye na. Tak lama, dialihkan pandangannya menatap Ha na yang terlelap di sisi Hye na. Jung min menatap Hye na kembali, helaan napas terdengar dari mulutnya, dan perlahan Jung min mengangkat Hye na, menidurkannya di sisi ranjang Ha na. Ranjang besar yang ada diruangan itu, khusus digunakan untuk membantu Hye na menyusui anak mereka. Jung min menatap Hye na sesaat, kemudian mengecup dahinya pelan.
Beberapa detik kemudian Jung min mengalihkan pandangannya menatap Hana. Bayi kecilnya itu terlihat tengah terlelap, menggenggam erat jari Hye na. Jung min tersenyum menatap wajah malaikatnya. “hai Ha na…”panggil Jung min, yang kemudian mengecup lembut pipi merah, tembem Ha na.
Tak ia duga, Hana membuka matanya perlahan, menatap Jung min tersenyum. Jung min diam sesaat di tempatnya, terkejut dengan reaksi Ha na “… kau bangun sayang…”tanya Jung min, menatap Ha na tersenyum, yang kemudian dibalas Ha na dengan tawa jenaka darinya.
“kau tertawa…”bisik Jung min, mengusap pelan, pipi Ha na dengan jarinya. Ha na melepaskan genggamannya di jari Hye na dan mencoba meraih jari Jung min. Jung min menjulurkan telunjuknya yang segera di genggam oleh Ha na, erat dan diayunkan oleh Ha na.
“anak appa…”kata Jung min, menatap Hana tersenyum. Bibir Hana terbuka semakin lebar, t terdengar semakin keras, dan semakin cepat mengayunkan jari Jung min yang ia genggam. Senyum Jung min semakin lebar, menatap Ha na, tanpa menyadari tatapan dan senyum yang lain yang menatap interaksi antara ayah dan anak perempuannya itu.
Hye na berdeham pelan, tersenyum menatap Jung min. “…baik sekali appa yang satu ini…”ujar Hye na, menatap Jung min tersenyum. Jung min terdiam ditempatnya menatap Hye na, rasa kesal menyerangnya kemudian, ketika menatap Hye na “…auuusshhh… jangan tersenyum seperti itu… aku sedang kesal denganmu…”
Hye na menghentikan senyumannya, menatap Jung min bingung “…ada apa lagi…”
“…auusshhh… masih bertanya… kau ini…”
Hye na diam, menatap Jung min sesaat, mencari kesalahan apa lagi yang membuat suaminya itu merasa kesal, keduanya terdiam. Hye na menatap Jung min, kemudian tertawa setelah mengetahui sesuatu.
“ahhh… aku tahu… apa itu menjadi masalah lagi sekarang…?”ujar Hye na, menatap Jung min, menantang. Jung min diam ditempatnya, menatap Hye na “…mwola…”tanya Jung min, menatap Hye na.
“…kau marah lagi karena itu…”
“…ausshhhh…ne..aku marah…marah lagi karena sikapmu… kenapa…” Jung min menghentikan perkataannya, menatap Hye na.
“aku sudah bilang bukan…kalau…”
“paling tidak.. jangan biarkan dirimu tertidur dilantai yang dingin sepert itu…”ujar Jung min keras, menatap Hye na.
Hye na diam di tempatnya, menyadari kesalahannya kini. Hye na menundukkan wajahnya, tidak berani menatap Jung min.
“mianhe…”sambung Hye na kemudian, tanpa menatap Jung min.
“….ausshhhh…”
Keduanya terdiam, tidak saling menatap. Jung min diam di tempatnya, memalingkan wajahnya, masih merasa kesal dengan sikap Hye na. Keterdiaman itu segera terpecah dengan tangis keras dari Ha na. Ha na menatap appa dan ommanya bingung, sebelum akhirnya menangis semakin keras di tempatnya.
Jung min dan Hye na terkejut dengan tangis Ha na dan segera beranjak mendekat kearahnya, berbaring di kedua sisinya, memberikan perhatian keduanya pada malaikat kecilnya itu.
“sayang…. Jangan menangis…”hibur Jung min, memberikan telunjuknya lagi untuk di genggam lagi oleh Ha na. Hye na tersenyum menatap Jung min yang mulai menghibur Ha na dengan menunjukkan wajah lucunya.
“…yya… sayang… jangan diam saja… apa yang harus aku lakukan… Ha na masih menangis…”
Hye na tersenyum semakin lebar, menatap Jung min yang mulai kewalahan menghadapi tangis Ha na.
“…sayang…”panggil Jung min lagi.
Hye na diam, menatap Ha na sesaat. “…coba gendong dia…”kata Hye na, menatap Ha na yang sekarang terlihat mulai mengangkat kedua tangannya, mencoba meraih Jung min. Jung min diam ditempatnya, menatap Hye na sesaat, ragu.
“ayo gendong dia… dia ingin kau gendong…”
“tapi…aku…”
Hye na tersenyum, menyelubungi Ha na dengan selimut hangat kecil milik Ha na dan memberikan Ha na pada Jung min. “…ayo gendong…’kata Hye na, menatap Jung min yang terdiam bingung di tempatnya, menerima Ha na yang kemudian ia gendong di pelukannya.
Tangis Ha na terhenti, dan digantikan oleh tawa darinya. Jung min menatap Ha na di pelukannya. Senyum terlihat menyusul di wajahnya. Senyum bahagia dan penuh kebanggaan.
********
Pagi… akhirnya menjelma… Hye na terdiam ditempatnya sesaat, menatap ayah dan anak perempuannya yang tertidur lelap saling berdekapan. Perlahan, tidak ingin membangunkan keduanya Hye na bangkit. Ia tahu, sudah banyak hal yang terjadi semalam, dan ia yakin Jung min sangat lelah sekarang. Hye na bangkit dan keluar dari kamar Ha na, menatap keduanya sesaat sebelum akhirnya menutup pintu dibelakangnya, pelan.
Senyum terkembang di wajahnya, tepat saat jam berdentang menunjukkan pukul 6 pagi. Hye na menatapnya, ia harus bergegas. Banyak hal yang harus ia lakukan pagi ini. Hye na melangkah pelan masuk kedalam dapur, dimana sudah ada beberapa pelayan yang mulai menyipakan apa yang Hye na perintahkan sebelumnya. Hye na memang selalu menyiapkan segala sesuatunya sehari sebelumnya. Seperti semua bahan-bahan yang akan ia masak keesokan harinya, atau apapun yang ia butuhkan untuk hari berikutnya.
“…pagi agashi…”
“…pagi… apa kalian sudah menyiapkan apa yang aku minta sebelumnya…?”
“…ne…”
“gomawo… sekarang bantu aku menyiapkan segalanya…”
Tepat pukul 7 pagi segalanya sudah siap. Hye na membawa semuanya ke meja makan, dan siap untuk di santap. Tepat pukul 7 pagi, semua penghuni rumah itu mulai terbangun, terkecuali Ha na, yang masih terlelap tidur di kamarnya.
Jung min keluar dan turun ke ruang makan, bersamaan dengan kedatangan seseorang.
“….kau sudah bangun…”sapa orang itu, begitu menatap Jung min yang turun.
“ahhh… Seung gi… pagi sekali kau datang… ada apa…?”
“…tak ada… aku hanya rindu dengan Ha na… dimana ia…?”
“ia masih terlelap…”
“dan kau… tidak seperti biasanya bangun sepagi ini… dimana Hye na…?”
“dia…” belum sempat Jung min melanjutkan kalimatnya, Hye na masuk ke ruang makan dengan membawa masakannya. “pagi Seung gi-ssi…. Pagi sekali kau datang…ada apa…?”
“…ck ck ck… kalian benar-benar cocok…”ujar Seung gi yang kemudian beranjak duduk di salah satu kursi.
“…tentu saja…”jawab Jung min yang segera kemudian memeluk pinggang Hye na yang berdiri di sampingnya dan menatapnya lembut.
“…auuusshhh… hentikan tingkah kalian… Jae min dan Min jae datang…”cegah Seung gi, menatap keduanya tersenyum, menyapa kedatangan Jae min dan Min jae.
Hye na tersenyum, membalikkan tubuhnya dan mendorong Jung min menjauh “… pagi sayang… ayo sarapan dulu…”ajak Hye na, mengacuhkan Jung min yang mulai mengerucutkan bibirnya, menatap Hye na dan kedua anak laki-lakinya itu yang mulai mengecup kedua pipi Hye na sayang. Jae min dan Min jae duduk di kursi keduanya, terdiam, menatap sang ayah yang masih mengerucutkan bibirnya yang kemudian terlihat menarik pinggang Hye na mendekat “…beri aku juga…”kata Jung min kemudian, menunjuk pipinya.
“ausshhh… ada anak-anak…”
“ayolah…” bujuk Jung min memohon
“ahni… ada anak-anak disini…”
“…. Mereka sudah… terbiasa… ayo… beri aku ciuman selamat pagi… disini saja…”kata Jung min, menunjuk pipi kanannya.
“ahni…”tolak Hye na
“…tak apa omma… lakukan saja…”kata Jae min, tersenyum menatap sang omma dan appanya. Jung min diam, menatap Jae min tersenyum. “…terima kasih sayang…”kata Jung min kemudian, mengacak lembut rambut Jae min, yang segera mendapat protes darinya “…appa… Jae sudah merapikannya…” protes Jae min, yang berusaha merapikan kembali rambutnya.
Min jae diam di tempatnya, mengambil makanan yang sudah Hye na hidangkan diatas meja, tidak memperdulikan apa yang ada dihadapannya.
“…Min jae-aa… bagaimana sekolahmu…”tanya Seung gi tiba-tiba, menatap Min jae yang diam dan hanya menikmati makanan di hadapannya.
“baik”jawab Min jae singkat.
“auuusshhh… bahkan dengan ahjussi dia juga seperti itu…”sambung Jae min, menatap sinis Min jae yang duduk disebelahnya. Hye na tersenyum mendengar itu dan melangkah cepat duduk di sisi Seung gi, tepat di hadapan Jae min.
“…ayo makan Jae min… jangan sampai terlambat… mau omma ambilkan…”
“ahniya omma… tidak usah… terima kasih…”
“…ayo makan Seung gi-ssi…”
Jung min masih diam ditempatnya, menatap Hye na tajam, mngerucutkan bibirnya. “…ini…makanlah sayang…’kata Hye na kemudian, tersenyum, memberikan piring yang sudah berisi makanan pada Jung min.
Jung min tersenyum tipis menatap Hye na.
********
“aku pergi sekarang Jung min-ssi… ada yang harus aku lakukan sebelum aku menghabiskan waktuku seharian dengan mu…”kata Seung gi tiba-tiba beberpa menit setelah ketiganya mengantarkan kepergian Jae min dan Min jae.
“…memang apa yang harus kau lakukan…?”
“…kau tidak perlu tahu… jangan banyak tanya lagi… aku pergi sekarang…”jawab Seung gi, menghabiskan teh hangat yang Hye na buatkan untuk keduanya. “…ah ya… terima kasih untuk sarapannya Hye na-ssi…”tambah Seung gi “…enak sekali…”tambahnya lagi
Hye na tersenyum menatap kepergian Seung gi. Jung min terdiam menatap Seung gi, hingga kahirnya tersadar dengan kepergian Hye na yang tiba-tiba. “…Hye na-ssi…”panggil seorang pelayan tiba-tiba, menghentikan langkah Jung min yang bangkit dari tempatnya untuk mengejar langkah Hye na.
“…ne… ada apa…”
“… maaf agashi… nona kecil sudah bangun sekarang… dan…”
“aku mengerti…aku akan kesana sekarang… dan tolong bereskan semua ini…”
“ada apa sayang..”tanya Jung min tiba-tiba, menatap Hye na khawatir “…apa terjadi sesuatu dengan Hana…? Apa ada masalah…? Semuanya baik bukan…? Aku harus kesana sekarang…”kata Jung min tanpa memberikan Hye na waktu untuk menjawab pertanyaan Jung min.
“Jung min-aa…”panggil Hye na, berusaha menghentikan langkah Jung min, tapi, percuma Jung min berlari lebih cepat dari perkiraannya. Hye na tersenyum menatap itu.
“…tolong bereskan meja makan ini…”ujar Hye na pada beberapa pelayan, yang kemudian ia mengalihkan pandangannya pada pelayan yang lain, menatap mereka tersenyum “…dan siapkan air hangat… ingat…seperti biasa… jangan terlalu panas atau jangan terlalu dingin…”
“ne agashi…”jawab mereka bersamaan
“terima kasih banyak…”
Hye na melangkah pergi menyusul Jung min yang sudah berlari terlebih dahulu masuk ke kamar Hana. Langkah Hye na terhenti sesaat ketika ia menatap Jung min yang berusaha menghibur Hana yang menangis dalam pelukannya.
“..cup cup sayang… jangan nangis ya…. Omma akan segera ke mari… jangan nangis ya… sayang…”hibur Jung min, menggendong Hana dan menimangnya dalam pelukannya.
Hye na tersenyum menatap itu, dan melangkah masuk perlahan. “semuanya baik sayang…”tanya Hye na, melangkah mendekat, kemudian mengambil Hana dari pelukan Jung min, kemudian meletakkannya di ranjang. Hye na menatap Hana sesaat. “kau lapar atau ingin mandi dulu sayang…?”tanya Hye na, menatap Hana yang perlahan mulai terdiam dalam dekapan tangan Hye na.
“mandi…?!?”
“ne… memang kenapa…”
“tapi…”
“tenang saja… aku tahu apa yang harus aku lakukan…” Hye na tersenyum menatap Jung min
“agashi…”panggil seorang pelayan tiba-tiba. “semua sudah siap agashi…”
“…ne… terima kasih banyak…”kata Hye na tersenyum, menatap pelayan itu, kemudian mengalihkan wajahnya pada Hana yang menatap Hye na senang “…kita mandi dulu sayang… bagaimana…?”kata Hye na kemudian, menatap Hana lembut sambil mulai melepaskan pakaian Hana dan menggendongnya, masuk ke dalam kamar mandi. Jung min mengikuti langkah Hye na masuk ke kamar mandi, menatap Hye na yang mulai memandikan Hana, lembut penuh kasih, menyabuninya pelan, kemudian membasuh tubuhnya. Hana terlihat terdiam ditempatnya dengan sesekali melemparkan tatapan jenaka pada Hye na.
“kau menyukainya sayang… anak omma…”kata Hye na, mengusap hidung Hana dengan hidungnya.
Jung min tersenyum menatap interaksi itu dan perlahan masuk kedalam kamar mandi, ikut memandikan Hana.
“…hai anak appa…”kata Jung min kemudian, mengusap lembut pipi tembem Hana. Jung min tersenyum semakin senang ketika menyadari jemari Hana menggenggam jari Jung min.
“dia senang sekali…”kata Jung min, menatap anak perempuannya itu. Hana tersenyum lebar, menatap Jung min “…dan aku baru tahu…senyumnya mengingatkan aku pada senyum seseorang…”kata Jung min, menerawang, memikirkan sesuatu.
Hye na terlihat menghentikan gerakan tangannya yang membasuh tubuh Hana, “…benarkah…”ujar Hye na, tanpa menatap Jung min dan kembali melanjutkan membasuh tubuh Hana.
“…ne… seorang wanita yang sangat aku cintai…”
“…benarkah… sangat kau cintai…”kata Hye na masih terus membasuh tubuh Hana, namun Jung min menyadari nada bicara Hye na yang berubah. Ia tahu, istri tersayangnya itu cemburu pada wanita yang tengah ia bicarakan.
“ne…dan wanita itu ada…”
“nah… sudah selesai sayang… sekaranag omma keringkan ya…”kata Hye na menghentikan perkataan Jung min dan kemudian bangkit dari tempatnya ke sebuah handuk yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Hye na meletakkan Hana disana, dan tidak memperdulikan Jung min yang tersenyum menatapnya.
Hye na tersenyum menatap Hana dan mulai mengeringkan sambil sesekali menggelitik Hana “…kau senang sayang…”kata Hye na, menatap Hana senang.
“sayang…”panggil Jung min kemudian.
“bantu aku memegang Hana… aku harus mengambil pakaian Hana…”kata Hye na ketus, tanpa menatap Jung min. Senyum Jung min semakin melebar kini, dan melakukan apa yang Hye na minta.
“…omma cemburu sayang…”bisik Jung min lirih, yang ternyata masih mampu Hye na dengar. “siapa bilang…”sambung Hye na kemudian, melangkah mendekat dengan membawa pakaian Hana dengan wajah yang mulai berubah karena rasa kesalnya.
Jung min tersenyum, “omma mu benar-benar cemburu sayang…”bisik Jung min lagi, menggoda Hye na, dengan mengerlingkan matanya pada Hye na. Hye na menatap Jung min semakin kesal, dan memicingkan matanya, menatap Jung min.
“kau tidak kekantor hari ini…”kata Hye na kemudian, melangkah mendekat menggeser Jung min untuk memakaikan Hana pakaiannya.
“…ahni…aku tidak kekantor hari ini… tapi ada makan siang dengan klien… jadi…”
“…sekarang kita makan sayang… kau lapar bukan…”kata Hye na, membuat Jung min menghentikan perkataannya. Hye na melangkah pelan keluar dari kamar Hana dan berjalan keruang tengah untuk menyusui Hana. Jung min semakin tersenyum lebar, menatap kepergian Hye na bersama dengan Hana.
“kau benar-benar cemburu sayang…”kata Jung min kemudian lirih.
**********
Matahari mulai menampakkan wajahnya. Sinarnya yang menyilaukan mulai memancar dan kehangatannya mulai menyebar. Seung gi menghela napas pelan di balik kemudianya, menatap sesuatu di kejauhan. Sesuatu yang menimbulkan pertanyaan besar di kepalanya dan sesuatu yang membutuhkan jawaban. Awalnya ia merasa benar-benar tidak mengerti dengan hatinya, namun ia mulai memahami saat ia mengingat kenangannya yang lalu. Seseorang membangkitkan kenangannya. Seseorang mengingatkan akan sesatu yang kini sedang bergolak di hatinya. Sesuatu yang sebelumnya pernah ia alami. Sesuatu yang sempat ia tolak dan ia coba untuk menghapus. Sesuatu yang ia berjanji tidak akan membangkitkannya lagi, namun… segalanya berubah setelah ia menatap orang itu. orang yang kini membuatnya sangat penasaran. Seseorang yang kini… lewat dihadapannya.
Dengan cepat Seung gi segera membuka pintu di sampingnya dan melangkah cepat mengikuti langkah cepat orang dihadapannya. Seung gi tiba-tiba menghentikan langkahnya, menatap orang itu yang terlihat berjongkok di depan seorang anak kecil dengan kursi rodanya.
“…dokter Min…”sapa anak itu, tersenyum menatap dokter yang ia panggil. Senyum lebar yang sangat manis terlihat diwajahnya, membalas senyum anak di hadapannya.
“halo sayang… bagaimana keadaaanmu hari ini…”
“lebih baik setelah melihat dokter pagi ini…”
“bagus… itu yang ingin dokter dengar…lalu…”
“dokter terlihat cantik sekali hari ini…”tambah anak itu lagi.
Dokter itu tersenyum menatap anak di hadapannya dan mengacak rambutnya lembut “…terima kasih sayang…dan…”
“maaf dokter…”putus seorang suster tiba-tiba.
“ah ya… ada apa…”tanya dokter itu, yang kemudian bangkit dan menghadap suster yang kini sudah berdiri bersisian dengannya. Suster itu terlihat menunjukkan sebuah berkas di tangannya, menatap tajam dokter itu, serius.
“….baiklah… kita lakukan sekarang…siapka semuanya…”
“…apa kita perlu menunggu dokter Han… dia…”
“tidak akan sempat suster…tapi kau hubungi dia… jika ia ingin menyusul… bagaimanapun…anak ini dibawah penangannnya… jadi…hubungi dia saja… tapi aku akan segera melakukan apa yang seharusnya dilakukan…”
“…ne…”
“bagus…”kata dokter itu yang kemudian bergegas pergi meninggalkan suster itu yang berbalik ke tempat dimana ia bekerja sebelumnya.
Seung gi diam ditempatnya, menatap kepergian dokter itu. Sesuatu membuatnya terdiam ditempatnya menatap kepergian dokter itu dalam diam, tidak mampu melakukan apapun.
“apa kau harus ke rumah sakit sekarang…”tanya Jung min tiba-tiba menatap kesibukan Hye na yang tengah mengganti pakaiannya. Hye na diam, masih berkutat dengan kesibukannya tidak menjawab pertanyaan Jung min. “…sayang…”panggil Jung min lagi. Hye na masih diam ditempatnya, tidak menghiraukan Jung min, namun hanya beberapa saat, setelahnya Hye na melangkah perlahan kea rah Jung min, mengambil Ha na dari pelukan Jung min dan menggendongnya sesaat sebelum akhirnya meletakkan Ha na yang terlihat mulai mengantuk ke ranjangnya.
“…Hye na-aa…”panggil Jung min, menatap Hye na dalam.
“sssttt…”desis Hye na kemudian, tanpa mengalihkan pandangannya dari Ha na “kau bisa membangunkan Hana…”tambah Hye na, masih tanpa memperhatikan Jung min yang kini duduk di dekat Ha na, menatap Hye na.
“…kau masih marah…”ujar Jung min, lirih. Hye na diam ditempatnya kemudian mendesah pelan, menghembuskan napas. “kau marah sayang… karena ucapanku…?”tanya Jung min. Hye na diam ditempatnya sesaat dan beranjak pergi kemudian setelah ia menyelimuti tubuh Hana. “tidak… aku tidak marah…”kata Hye na yang kemudian bangkit dari tempatnya.
“…dan aku tidak pernah marah…”tambah Hye na lagi, membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi, keluar dari ruangan Ha na, namun hanya beberapa detik sebelum itu terjadi, tiba-tiba Jung min menarik tangan Hye na kuat, dan memeluknya dari belakang.
“…aku tahu kau marah karena aku mengatakan itu…”kata Jung min, mengecup pelan bahu Hye na yang terbuka. Hye na menarik napas panjang sesaat, sebelum ia melepaskan dekapan lengan Jung min di perutnya. “…aku tidak marah… dan aku harus pergi… pasienku menunggu…”kata Hye na yang melanjutkan langkahnya kembali, namun lagi-lagi, langkah itu terhenti, Jung min kembali menarik tangannya dan memeluknya, kini ia memeluknya kuat dalam dekapannya, menekan Hye na ke dadanya.
“…mianhe… aku tidak bermaksud untuk membuatmu marah…”kata Jung min kemudian,tersenyum, mendekap Hye na. “…bagiku… tidak ada senyum seindah senyum mu… dan… senyum Hana… itu senyum mu sayang… tidak ada yang lain bagiku…”kata Jung min, menjelaskan. Hye na diam ditempatnya, merasakan pelukan hangat Jung min, tersenyum. Jung min membalas senyuman Hye na dan membawa Hye na semakin dalam ke dalam pelukannya, menekannya kuat.
“..akhhhh… Jung…Jung min… kau…”Hye na mulai merasakan sesak di dadanya. “…kau menyakitiku…”tambah Hye na, berusaha melepaskan dekapan Jung min, dan berhasil, akhirnya Jung min melepaskan pelukannya cepat, menatap Hye na yang menatap Jung min kesal.
“aku harus pergi… jika kau akan pergi nanti… hubungi aku… aku tidak ingin Hana berada di tangan pelayan-pelayan itu…”kata Hye na yang kemudian beranjak pergi meninggalkan Jung min, terdiam ditempatnya.
Jung min diam, mengerucutkan mulutnya, menundukkan wajahnya, menyerah. Ia sudah mengatakan semuanya, tapi Hye na…sepertinya masih marah dengannya, namun ternyata…
Jung min dapat merasakan hangatnya bibir Hye na yang menyentuh pipinya lembut.
“…aku harus pergi… jaga Hana untukku…”kata Hye na lagi, menatap Jung min lembut, tersenyum.
*******
Terik mentari menusuk kulit. Panasnya mulai terasa membakar. Detik demi detik berlalu. Waktu bergerak cepat, namun bagi seseorang, waktu berjalan sangat lambat tanpa kehadiran seseorang disisinya. Tidak seperti biasanya, kini ia melewati waku itu sendirian, dan hanya menyibukkan diri dengan membaca berkas-berkas dihadapannya, namun hanya sesaat, tiba-tiba ia dikejutkan oleh kedatangan seseorang.
Seung gi membuka pintu dihadapannya pelan, ia melangkah perlahan sambil menundukkan kepalanya. Jung min terdiam menatapnya sesaat, kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali, membaca berkas-berkas yang ada dimejanya.
Seung gi duduk di hadapannya pelan. Jung min menatapnya sesaat “...ada apa…”tanya Jung min, yang kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
“…tak ada… apa Hye na pergi…?”
“…ya…dia pergi…kenapa… kenapa kau mencarinya..?”
“…”Seung gi diam ditempatnya, tidak menjawab. Jung min mengalihkan pandangannya, menatap Seung gi tajam.
“…yya!! Kenapa kau mencari istriku…”tanya Jung min penasaran sekaligus marah, menatap Seung gi
“…tak apa… apa Hana…”Seung gi menghentikan perkataannya, karena terdengar olehnya suara tangis keras yang kemudian membuatnya bangkit dari tempatnya, dan melangkah cepat kearah suara itu, namun langkah cepatnya tidak mampu menandingi langkah cepat Jung min.
Dengan cepat Jung min segera mengambil Hana dan membawanya kepelukannya, menimangnya, menenangkannya, namun Hana masih menangis dalam pelukan Jung min.
“…kenapa…?”tanya Seung gi, menatap Hana yang masih menangis dalam pelukan Jung min.
“entahlah…”jawab Jung min, mulai merasa kewalahan
“apa perlu aku menghubungi Hye na….”
“ahni… aku bisa menanganinya…”jawab Jung min, sambil menatap Hana, mencari sesuatu yang membuat putri kecilnya itu menangis. Jung min membuka popoknya, melihatnya, namun ternyata bersih. Jung min terdiam sesaat, tak lama ia beralih ke wajah Hana. Jung min menatapnya lalu meletakkan jarinya di sekitar mulut Hana, namun ternyata, Hana tidak merasa haus. Jung min terdiam, menatap Hana semakin bingung. Entah apa yang harus ia lakukan lagi. dan diakhir waktu, akhirnya ia memutuskan.
“tapi….” Seung gi menatap Jung min sesaat, “…kau yakin…”tanya Seung gi lagi, tidak yakin dengan ucapan Jung min.
“…ne… aku akan membawanya jalan-jalan…”kata Jung min kemudian, menggendong Hana dalam pelukannya, membawanya keluar dari kamarnya, meninggalkan Seung gi.
Seung gi diam ditempatnya, menatap Jung min yang keluar dari kamar. Ia menarik napas panjang sesaat sebelum akhirnya ia bangkit dan beranjak keluar dari kamar Hana, mengikuti langkah Jung min.
“…Jung..min…”panggil Seung gi, yang menghentikan ucapannya, sesaat setelah keterkejutannya. Tatapannya membuat dirinya dan hatinya takjub atas apa yang ia lihat. Ia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang.
Jung min, seorang laki-laki yang semula dingin, agois, pemarah, kini berubah hanya di hadapan seorang anak kecil… bahkan bayi. Ia sama sekali tidak menyangka apa yang dihadapannya benar-benar terjadi.
Tatapannya bahkan berbeda. Jung min benar-benar berubah… dan Hye na berhasil melakukannya. Hye na benar-benar berhasil membuat Jung min banyak berubah. Jung min yang ia lihat sekarang berbeda dengan Jung min beberapa tahun yang lalu.
“…cup cup sayang… appa disini… tenang ya… jangan nangis lagi… ada appa disini…”ujar Jung min, berusaha menghibur Hana yang ada dipelukannya. Jung min juga melakukan banyak hal lucu dan aneh untuk mengibur Hana, menunjukkan sesuatu yang lucu.
“…cup cup.. lihat appa…”kata Jung min, yang mulai menunjukkan wajahnya yang lucu pada Hana. Seung gi terdiam ditempatnya, masih menatap Jung min takjub, benar-benar tidak menyangka.
“hai Seung gi-ssi…”sapa seseorang tiba-tiba, berdiri di sisi Seung gi.
“uwwwaaaa!! Kau mengejutkanku Hye na-ssi…dari mana kau…? Kenapa kau bisa didalam…”tanya Seung gi, menatap Hye na bingung.
“…magic…”jawab Hye na, tersenyum lebar, dan melangkah mendekati Jung min. Seung gi terdiam ditempatnya, menatap Hye na.
“…semuanya baik sayang…?”tanya Hye na tiba-tiba, menatap Jung min, yang membelakanginya. Segera, Jung min membalikkan tubuhnya dan mendekap Hye na erat, mengampit Hana diantara keduanya.
“…sayang… kau menyakiti Hana…”ujar Hye na
“owwhhh… maafkan appa Hana… dan kau…!!! kapan kau pulang…?”tanya Jung min, yang kemudian memberikan Hana pada Hye na, melemparkan tatapan kesal pada Hye na.
Hye na tertawa pelan, “…sejak kau berlari kekamar Hana… “jawab Hye na tersenyum, menatap Jung min kemudian mengusap Hana lembut “apa semuanya baik…?”tanya Hye na lagi, menatap Jung min yang mengerucutkan bibirnya.
“tidak… tidak ada yang baik… kenapa kau tidak segera ke kamar Hana…”
“…kan ada kamu sayang… aku juga…”
“tapi tetap bukan… bagaimana kalau Hana membutuhkan susu dari ibunya…”
“…kau bisa mencariku…”
“tapi…”
“aku harus menyiapkan makan siang… dan bukankah kau harus menghadiri meeting dengan klien makan siang ini…”
“tidak…!! Aku membatalkannya…”
“…mwo…?”
“iya… aku membatalkannya…aku takut…” ucapan Jung min terhenti, tiba-tiba Hye na membekap bibir Jung min dengan bibirnya.
“terima kasih sayang…”kata Hye na, menatap Jung min lembut. Jung min terdiam ditempatnya, terkejut dengan apa yang telah dilakukan Hye na padanya.
“ooohhh… tidak…”seru Seung gi tiba-tiba, menepuk pelan dahinya, kemudian dialihkan pandangannya menatap Hye na, dan tersenyum padanya “.. Hye na sayang… apa kita sudah bisa makan siang…”kata Seung gi tiba-tiba, mengambil Hana dari pelukan Jung min dan membawanya kearah ruang makan
“ausshhh…!! Jangan panggil istriku seperti itu…!!”seru Jung min kesal, menatap marah Seung gi
Seung gi terlihat diam, ditempatnya, mengusap dagunya cepat, berpiki, memikirkan sesuatu “yang mana maksudmu…?”tanya Seung gi, membalikkan tubuhnya, menatap Jung min, menggoda “…ahhhhh!! apa yang ini… ayo Hye na sayang… kita makan siang…”kata Seung gi lagi, yang kemudian segera berlalu pergi meninggalkan Jung min yang kesal di tempatnya.
“auusshh!! Seung gi!!” seru Jung min yang kemudian segera pergi menyusul Seung gi. Hye na tersenyum ditempatnya, menatap kelakuan suami tercintanya itu.
********
Matahari semakin meninggi. Sinar dan rasa hangatnya sirna. Awan mendung menutupi semua bagian langit, dan air langit mu;ai jatuh membasahi bumi. Membuat suasana makan siang di siang itu semakin dingin. Hye na menatap sedih langit, sesaat sebelum ia tersenyum menatap kedatangan kedua anak laki-lakinya, namun salah satu diantaranya membuatnya sangat terkejut. Tidak menyangka.
“…ah sayang… ada apa dengan mu… kenapa…” Hye na menatap terkejut anak laki-lakinya, rasa khawatir, sekaligus bingung menyerangnya, menatap anak laki-lakinya “ada apa sebenarnya… kenapa wajahmu…” Hye na menyentuh wajah anak laki-lakinya yang berdiri dihadapannya khawatir. “…Min jae ada apa dengan wajahmu… kenapa banyak… ahhh… apa yang terjadi…?”tanya Hye na lagi, masih menatap khawatir Min jae. Min jae diam ditempatnya tidak menjawab semua pertanyaan Hye na. “Min jae…”panggil Hye na kemudian
“…ahhh… bukan urusanmu…!! Jangan pikirkan aku…dan BERHENTILAH BERTANYA, BERSIKAP KHAWATIR, MENGASIHANIKU!!!!”jawab Min jae tegas, keras, menatap Hye na marah yang terdiam ditempatnya bingung dengan tingkah anak laki-lakinya itu. Hye na menurunkan tangannya yang semula menyentuh luka di wajah Min jae, menatap Min jae tidak percaya.
Mendengar jawaban Min jae pada Hye na, Jung min yang semula hanya diam ditempatnya bersiap untuk memakan makan siang yang sudah Hye na ambilkan untuknya, menatap Min jae tajam dan berdiri dari tempatnya. Melangkah mendekati keduanya, dan tiba-tiba hanya sepersekian detik kemudian, sebuah tamparan keras mendarat diwajah Min jae yang sudah penuh dengan luka.
“JANGAN PERNAH BERKATA SEPERTI ITU PADA OMMAMU!! ”seru Jung min, menatap tajam Min jae yang membalas tatapan Jung min tidak kalah tajam, terperanjat, tidak percaya dengan apa yang didapatnya. Keduanya terdiam saling menatap. Semua orang ditempat itu terdiam, menatap Hye na, Jung min dna Min jae bergantian. Hye na menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Anak laki-lakinya… anak laki-laki yang sangat ia sayangi.
Min jae diam ditempatnya selama beberapa detik sebelum akhirnya melangkah pergi, keluar dari ruangan itu. Hye na diam ditempatnya, terduduk di tempatnya, masih terperanjat, tidak percaya. Jung min menatapnya “..gwenchana…?”tanya Jung min kemudian, menatap Hye na, berjongkok di hadapannya, menyentuh tangannya lembut.
“kenapa kau menamparnya…”tanya Hye na lemah, menundukkan kepalanya, menutupi air mata yang perlahan mulai terjatuh.
“…aku hanya…”
“…kenapa kau menamparnya…”tanya Hye na lagi, masih tidak mengangkat wajahnya menatap Jung min.
“…aku…”
“tolong… jangan pernah melakukan itu lagi pada anak kita…”kata Hye na, akhirnya mengangkat wajahnya menatap Jung min sedih.
“..sebaiknya aku membawa Ha na jalan-jalan…”kata Seung gi kemudian, tiba-tiba, dan beranjak keluar dari ruangan itu.
“…aku mohon… jangan lakukan itu lagi… aku…” dan tangis Hye na tidak dapat terbendung lagi. Air mata mulai jatuh membasahi pipinya.
“mianhe…jeongmal mianhe… aku hanya…” Jung min menatap Hye na bingung, melangkah mendekat dan duduk disisi Hye na sebelum akhirnya ia membawa Hye na kepelukannya, memeluknya erat, dan mengecup kepalanya sayang.
“mianhe…”tambah Jung min lagi
“…jangan pernah…hikss… aku mohon…”kata Hye na pelan.
“…ne… mianhe… jeongmal mianhe…”kata Jung min lagi. Jung min mengecup lembut kepala Hye na, menenangkannya, mencoba untuk menghapus dan menghilangkan air mata di wajah Hye na.
“…omma… appa…”sambung seseorang tiba-tiba, menatap Hye na dan Jung min, dan menundukkan kepalanya setelah Jung min mengalihkan pandangannya menatapnya. “…ada apa nak…”tanya Jung min, menatap Jae min.
“…mianhe… ini semua karenaku… Min jae… semuanya karena ku… jika saja…”
“kemari sayang…”potong Hye na, menepuk tenpat duduk di sisinya “…kemarilah…”panggil Hye na lagi, membawa Jae min duduk dan memeluknya erat, mengecup kepalanya lembut. “…Jae min yang membuat Min jae seperti itu omma… Jae min yang terlalu lemah hingga Min jae harus terus berusaha melindungi Jae min… maafkan Jae min omma… Min jae… dia benar-benar tidak bersalah…”kata Jae min lagi, dalam pelukan Hye na.
“…ne…omma mengerti… omma tidak marah… omma hanya merasa khawatir… omma sangat menyayangi kalian sayang… omma tidak ingin sesuatu terjadi pada kalian…”
“….” Jae min terdiam, membawa dirinya semakin dalam ke dekapan hangat Hye na “…maafkan Min jae appa… Min jae tidak bermaksud seperti itu… Min jae hanya kesal padaku…”tambah Jae min, menatap Jung min yang duduk di sisi lain Hye na.
“…ne…maafkan appa sayang…”jawab Jung min mengusap lembut kepala Jae min.
“…baiklah… kalian belum makan bukan… makanlah dulu… omma sudah menyiapkan semuanya…”kata Hye na kemudian “…Seung gi-ssi… ayo kita makan…”ajak Hye na, beranjak mendekati Seung gi yang terlihat ayik menggendong Hana dan mengajaknya bermain.
“ahhh… semuanya baik bukan…”tanya Seung gi menatap Hye na khawatir
“…ne… gwenchana…berikan Hana padaku… aku akan menyusuinya… terima kasih banyak Seung gi-ssi…”jawab Hye na, yang kemdian mengambil Hana dari pelukan Seung gi.
“baiklah… lalu Min jae…?”
“…aku akan bicara dengannya…”
“..baiklah… dia ada dilantai teratas Mansion…”
“terima kasih banyak Seung gi-ssi…”jawab Hye na, tersenyum menatap Seung gi yang membalas senyumnya, dan beranjak pergi masuk kedalam ruangan.
Hye na diam, menatap tangga samping yang mengarah pada ruangan teratas Mansion, dan tersenyum.
***********
Malam menjelma. Rasa dingin yang membekukan karena hujan yang turun semakin menusuk tulang. Hye na diam ditempatnya, menatap lantai 2 Lee mansion. Ia sangat khawatir pada anak laki-lakinya. “…ada apa sayang…”sapa Jung min kemudian, melingkarkan lengannya pada pinggang Hye na, menariknya mendekat padanya.
“…Min jae… dia belum makan siang… dan kini dia tidak makan malam… aku khawatir…”jawab Hye na, masih menatap ke lantai 2 Mansion.
“…” Jung min diam, ikut menatap kemana Hye na menatap “…apa perlu aku panggil dia sayang…”
“ahni… tidak usah… biar aku saja sayang…”
“…errmmm… baiklah…”
“…aku akan kekamarnya…setelahnya kekamar Hana…”jawab Hye na, tersenyum menatap Jung min. Jung min membalas senyumnya lembut “pelayan… tolong bereskan meja makan… ahhh… dan juga siapkan makan malam untuk tuan muda… aku akan membawanya…”kata Hye na kemudian, emnatap beberapa pelayan yang terlihat sudah membereskan beberapa bagian dari meja makan.
“…ne agashi…”
Hye na tersenyum menatap semua pelayan dihadapannya, kemudian beralih ke Jung min yang maish berdiri di sisinya “…aku akan melihatnya sayang…”kata Hye na kemudian, menatap Jung min, meletakkan kedua tangannya di wajah Jung min, mengusap kedua bagian pipinya lembut.
“apa kau yakin sayang…”
“…ne…”jawab Hye na tersenyum, menatap Jung min. “baiklah… terserah kau saja…”jawab Jung min yang kemudian beranjak pergi. Hye na tersenyum dan beranjak dari tempatnya, mengambil kotak p3K dan membawanya bersama nampan berisi makanan.
“…sayang…”panggil Hye na, menatap pintu dihadapannya, mengetuknya. Namun tidak ada jawaban dari dalam. Hye na terdiam sesaat ditempatnya, menatap pintu di hadapannya. Beberapa detik kemudian, akhirnya Hye na memutuskan untuk masuk ke dalam saat ia tahu bahwa pintu dihadapannya tidak terkunci.
“…omma masuk Min jae-aa…”kata Hye na, menatap sekelilingnya yang sangat gelap, tanpa pencahayaan, hanya sinar rembulan yang mengintip masuk melalui celah jendela yang tertutup tirai, yang menerangi beberapa bagian ruangan. Hye na melangkah medekat, dan terdiam menatap Min jae yang tengah terlelap tidur di ranjangnya. Hye na tersenyum dan duduk disisinya, mengusap wajahnya lembut.
Hye na mengalihkan jemarinya ke beberapa bagian wajah Min jae yang biru lebam. Disentuhnya pelan sebelum akhirnya ia mengambil beberapa obat yang ia bawa dari kantong p3k nya. Hye na menyentuh beberapa bagian wajah Min jae yang terluka dengan obat salep yang ia ambil dari kotak p3knya.
“…sebenarnya ada apa sayang…kenapa bisa begini”tanya Hye na lagi, menatap sedih Min jae, sambil mulai memberikan obat pada anak laki-lakinya itu.
Perlahan Min jae membuka matanya, menatap lurus pada Hye na “omma…”panggil Min jae lirih. Hye na tersenyum menatap Min jae “… baikan sayang…”tanya Hye na, mengusap lembut dahi Min jae, menyibakkan beberapa rambut yang jatuh disana.
“mianhe…”kata Min jae, menjawab pertanyaan Hye na. Menundukkan kepalanya, menyesal.
Hye na tersenyum menatap Min jae “…tidak ada yang salah… dan tidak ada yang perlu untuk dimaafkan…”jawab Hye na, mengecup lembut dahi Min jae kemudian membawanya dalam pelukannya.
“maafkan omma dan appa juga… bukan maksud appa untuk memukulmu tadi…”tambah Hye na
“mianhe omma…”kata Min jae lagi
“tak apa sayang… sekarang lebih baik kau makan makan malammu… dari tadi siang kau belum makan apapun…”
“…ne…”jawab Min jae, yang kemudian mengambil nampan yang diberikan Hye na padanya dan mulai melahap rakus makanan yang Hye na bawakan untuknya.
***********
Seung gi menatap rembulan malam yang bersinar malam itu. Tak lama senyum terlihat diwajahnya. Sesuatu atau banyak hal membuat senyum itu tercipta di wajah Seung gi. Dialihkannya pandangannya, menatap bangunan megah di hadapannya. Sudah terlalu lama ia menunggu. Dan orang yang ditunggunya tidak juga muncul dihadapannya. Tadinya ia ingin bertanya beberapa hal pada Hye na, namun pertanyaan-pertanyaan itu ia urungkan. Ia harus membuktikannya sendiri. Dia harus menanyakannya secara langsung. Dan akhirnya, disitulah ia malam itu. menatap bulan dan bintang, menatap bangunan megah di hadapannya, menunggu…
“kenapa dia tidak keluar…”gumam Seung gi dalam hati. “kapan ia akan pulang… ini sudah hampir tengah malam…dan ia belum menunjukkan wajahnya…”kata Seung gi lagi, mulai resah menatap bangunan dihadapannya. Akhirnya sebuah keputusan diambilnya. Seung gi membuka pintu mobil disisinya, menguncinya dan melangkah cepat masuk kedalam bangunan megah dihadapannya bertuliskan Han’s Hospital. Seung gi mulai masuk, dan seorang suster menyambutnya. “…maaf…saya mencari dokter Min… apa dia dokter jaga malam ini…”kata Seung gi kemudian, menatap suster dihadapannya.
“…ah ne… dokter Min jaga malam hari ini…”jawab suster itu, menatap Seung gi
“ne… bisakah aku menemuinya…?”
“…ne… dia berada di bangsal anak… anda tunggu saja di sana… sebentar lagi dia akan keluar…”kata suster itu sambil menunjukkan deretan kursi kosong, di ruang tunggu rumah sakit tersebut. Seung gi duduk disalah satu kursi, dan mulai menunggu. Seung gi menunggu dalam diam. Pertanyaan-pertanyaan di hatinya harus segera dijawab, atau mala mini ia tidak akan bisa tidru tenang.
1 jam berlalu, dan orang yang dia tunggu tidak juga hadir. 2 jam berlalu, Seung gi semakin bosan menunggu. Dia harus segera bertemu dengan orang itu. Seung gi bangkit dari tempatnya, menatap suster yang tengah disbukkan dengan banyak kertas di hadapannya. Ia harus mengambil langkah. Ia harus segera bertemu dengan orang yang membuatnya sangat penasaran atas apa yang terjadi padanya. Seung gi menatap suster itu sesaat sebelum akhirnya ia beranjak pergi, berjalan cepat ke arah bangsal anak dimana suster itu mengatakan bahwa orang yang dicarinya ada disana.
Seung gi mulai melangkah dan mencari, dan akhirnya ia menemukan sebuah pintu yang terbuka sedikit, dengan sedikit penerangan yang keluar melalui celah pintu. Seung gi mendorong pintu itu sedikit dan ditatapnya seseorang yang terlihat tengah menyelimuti beberapa orang anak yang bersiap untuk masuk ke alam mimpi mereka.
Seung gi menatapnya lama, hingga tiba-tiba, Seung gi memalingkan tubuhnya, bersembunyi di balik pintu, namun hanya beberapa saat karena tak lama kemudian tiba-tiba langkah orang itu terhenti. Seorang anak menghentikannya, menatap orang itu tersenyum. “…dokter… tanganku sangat sakit… apa kau akan memotongnya…?”tanya anak itu, menatap dokter itu dan menunjukkan tangannya yang diperban.
Dokter itu tersenyum menatap anak itu, “ahni… dokter tidak akan memotongnya… tenang saja sayang… setelah malam ini semuanya akan membaik…”kata dokter itu, yang kemudian meraih tangan anak itu dan mengecup tangannya yang terluka lembut “…nah… bagaimana… lebih baik sekarang…?”
“ne… khamsamnida dokter…”
“…nah… sekarang tidurlah… udah malam…”kata dokter itu, menatap anak dihadapannya dan menyelimuti tubuhnya sesaat sebelum akhirnya ia bangkit dan berjalan keluar dari ruangan setelah ia mematikan lampu ruangan itu.
Seung gi memalingkan wajahnya, bersembunyi dibalik pintu, di sudut yang gelap jauh dari jangkauan penglihatan. Seung gi menatap dokter itu yang melangkah menjauh meninggalkannya sendiri. Di tekannya dadanya, rasa sakit yang semuala ia rasakan kembali lagi, membuatnya semakin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
Seung gi mengikuti langkah dokter itu, yang berbelok dan masuk ke dalam ruangan. Seung gi menatapnya sesaat sebelum akhirnya, mencari banyak alasan di pikirannya, mencoba untuk mendapatkan jawaban, namun alasan itu tidak ia dapatkan. Hanya banyak pertanyaan di pikiran dan hatinya yang membuatnya semakin merasa bingung. Namun dengan tekad kuat Seung gi masuk kedalam ruangan itu dan segera duduk di hadapan Dokter itu, smabil memegang dan menekan dadanya yang terasa semakin sakit.
“…ada masalah tuan…”tanya dokter itu, sedikit terkejut, menatap Seung gi. Keterkejutan itu segera sirna dan tergantikan sebuah senyum.
“…ne… masalah yang besar…”jawab Seung gi, menatap dokter itu tajam. Keduanya terdiam. Seung gi terdiam, berusaha mencari kalimat untuk mengutarakan segalanya, dan dokter itu hanya diam, menatap Seung gi tersenyum, menunggu.
“…apa yang membuat anda kemari selarut ini tuan…”tanya dokter itu, tidak sabar.
Seung gi masih diam ditempatnya, masih berusaha untuk menyusun kalimat untuk mengungkapkan segalanya. Menyusun kalimat atas semua pertanyaannya.
***************
End of Chapter
«
Last Edit: April 23, 2011, 02:48:21 am by ai_yuki
»
Logged
sisicia
Hero
Posts: 1974
My Lovely Sunny
Re: Full Of Love (Song of Life 2) Chapter 2, just update April 23
«
Reply #43
on:
April 22, 2011, 09:30:05 pm »
jungmin emosian lo ngadepin anak, hye na nya lembut...
pasangan aneh...
Logged
Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya
el_minoz
Full
Posts: 397
upssss.....
Re: Full Of Love (Song of Life 2) Chapter 2, just update April 23
«
Reply #44
on:
April 22, 2011, 10:45:20 pm »
wah long chap.....
min jae kok bisa kasar kayak gt y?
si jung min jg g bz kontrol emosi he9
tp mreka b2 ortu y TOP banget dah!
pengen punya ortu kayak gt hahahahaha
kira2 p masalah y sampe min jae berantem buat ngelindungin jae min!
si seunggi dah nemuin someone special kayak y he9
d tunggu next chapt gumawoooo
Logged
Print
Pages:
1
2
[
3
]
4
5
...
27
Go Up
« previous
next »
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Full Of Love (Song of Life 2) Chapter 17, update