Author Topic: Full Of Love (Song of Life 2) Chapter 17, update  (Read 22352 times)

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Ditunggu eon,,,

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Ditunggu eon,,,

ok... siiiiaaappp... bocoran nih sist... Hyun woo cowok yang berhasil buat Jung min panas dingin... walaupun Hye na biasa aja, tapi enggak untuk Jung min  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

Offline anggi pratama putri

  • Newbie
  • *
  • Posts: 29
  • NewCouple
  • Location: PALEMBANG
    • View Profile
sis , kalo boleh jujur ni ff adlah salah satu ff yg paling aku suka. Walaupn jarang komen aku sll update bwt baca ni ff. Suer paling demen kalo liat perhatian sm kepanikan JM saat HN pingsan , rasany gmn gitu . Lol . . . .  Sis update ny jgn lama2 yaa . Udah penasaran akutni. Dan doa ku jgn smpe mimpi HN jd kenyataan . Smoga JM akan sll cinta sm HN ! Fighting . Saya tgg updatenya

JiSun Coupe

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
sis , kalo boleh jujur ni ff adlah salah satu ff yg paling aku suka. Walaupn jarang komen aku sll update bwt baca ni ff. Suer paling demen kalo liat perhatian sm kepanikan JM saat HN pingsan , rasany gmn gitu . Lol . . . .  Sis update ny jgn lama2 yaa . Udah penasaran akutni. Dan doa ku jgn smpe mimpi HN jd kenyataan . Smoga JM akan sll cinta sm HN ! Fighting . Saya tgg updatenya

 [cry] [cry] [cry] terima kasih banyak sudah baca plus suka ma ff ini *terharu*  [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss] konsep awal ai bikin memang banyak kasih sayang sist, jadi gitu, tapi kayaknya Jung min kadang emang terlalu berlebihan  [rofl] [rofl] [rofl] yup... diusahakan gak lama-lama sist... ini ai lagi semangat2nya bikin FOL sama YMMF, jadi mungkin yang diupdet FOL atau YMMF nya... My job nya belum dapet ide... berhenti ditengah jalan... pingin cepet nyelesaiin FOL ma YMMF juga  [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

terima kasih banyak untuk dukungannya ya... ai juga selalu tunggu koment-koment dari kamu ma semuanya... biar tambah semangat...  [jumpy] [jumpy] [jumpy]

 [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss]
 [bye] [bye] [bye]

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Update...

Offline gantang ricky prabowo

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • i know you so well
  • Location: JAKARTA
    • View Profile
ah... saya gak setuju tuh sama orang baru di cerita ini. cepet" di gepak ya.. XD
SWEET MIN SUN YANG BANYAK KAK!!!! XD
Hidup sukses, bahagia dunia khirat, membahagiakan orang banyak, bermanfaat untuk agamaku amin ya allah..

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Update,,,

Offline Namutz

  • Junior
  • **
  • Posts: 197
  • nona goo is inspiring women
    • View Profile
heeeeeeeheee kakak updeteeeeeeeeeee dong [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

iiuuu

  • Guest
AI... MIAN BRU COMMENT, SMGA INI EPEP PAPORIT GAK SAD YE, MASALAHNYA JGN COMPLEKS BGD.. KASIAN HYENA DAN ANAK2NYA..

ITU ARTIS BRU MO SAINGAN AMA JUNGMIN??? UDE JUNGMIN-SSI HAMMER AJE BIAR JAUH DR HYENA.. SEKALI2 MASALAHNYA JGN AMA JUNGMIN DONG AI, AMA TMNNYA ATO SAPA GTU.. NTR OUR FAMILY HAPPY YG BNTUIN^^

KSIAN ATUH JUNGMIN HYENA..~~!*APADAHSAYA..

MIAN CAPSLOCKNYA EMANG ERROR JD HURUFNYA GEDE SMUA~~!

Offline anggi pratama putri

  • Newbie
  • *
  • Posts: 29
  • NewCouple
  • Location: PALEMBANG
    • View Profile
UPDATE !!! [smiley-gen013] [smiley-gen013] Katanya udah dalam masa penulisan . ayo update dong  [hug] [hug] [clap] [clap]

JiSun Coupe

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
mianhe...  [heh] [heh] [heh] [heh] [heh] baru bisa update...

semoga tidak mengecewakan... mianhe... mianhe... jeongmal mianhe  [sweat] [sweat]  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]




Chapter 11

Additional Cast



Choi Si won as Kim Hyun woo

Hye na menatap Seung gi yang terdiam, tersenyum memeluk berkas ditangannya, tak lama senyum terlkembang diwajah Hye na, sambil kemudian mulai merapikan meja kerjanya sesaat dan menatap Seung gi, hingga ia teringat sesuatu “ahh… chakaman…apa kau mau makan siang bersama…?”tanya Hye na, tersenyum sesaat yang kemudian kembali melanjutkan merapikan meja kerjanya yang seharusnya tidak perlu dibersihkan atau dirapikan lagi, namun memang ada beberapa berkas yang berserak karena baru saja Hye na membacanya. Hye na tidak ingin berkas-berkas itu tidak dapat ia temukan saat ia membutuhkannya nanti, karena Hye na tahu ada beberapa orang yang membersihkan setiap ruangan di rumah sakit ini, dan jika orang-orang itu yang membersihkan dan merapikannya, Hye na takut dia tidak dapat segera menemukan apa yang dicarinya. Hye na ingin ia meletakkannya sendiri, merapikannya sendiri dan dapat segera menemukannya saat ia membutuhkannya

“ahh… tak perlu…”tolak Seung gi senang sambil menatap berkas ditangannya, bagaikan barang berharga dan ia tidak ingin kehilangan.

“di Han’s Mansion… aku meninggalkan Ha na disana…”ujar Hye na lagi

“Han’s Mansion…”

“ne… aku sudah sangat lelah… aku tidak membawa kendaraan… bisakah aku menumpang mobilmu…?”ujar Hye na lagi. Seung gi diam, belum menyadari ucapan Hye na. “Seung gi-ssi…”

“ahhh… ne tentu saja… ayo aku antar… aku tidak mungkin juga membiarkanmu jalan kaki… Jung min akan memecatku jika ia tahu…”ujar Seung gi. Hye na tersenyum menatap senyum Seung gi. Hari itu mungkin menjadi hari yang paling membahagiakan untuk seorang Lee Seung gi, hingga tidak menyadari apapun disekelilingnya.

Hye na dan Seung gi mulai melangkah keluar dari ruangan Hye na, melewati lorong putih rumah sakit yang terkadang suram, namun hari ini sepertinya oenuh dengan bunga dimata seorang Lee Seung gi. Hye na terkekeh pelan dan Seung gi masih tidak menyadari Hye na yang berjalan disisinya. Hye na diam, tersenyum, mengharapkan akan sesuatu.

Keduanya melangkah pelan melewati lorong putih rumah sakit yang hari itu berbeda, tanpa menyadari tatapan seseorang yang diam, menatap Hye na dan Seung gi. Orang itu terlihat melangkahkan kakinya perlahan, menatap punggung Hye na di hadapannya, mengikuti langkah keduanya. Tatapannya diam, penuh tanda tanya sekaligus kesal, tetapi hanya sesaat, kemudian tatapan itu berubah seiring dengan langkahnya yang terhenti. Orang itu menundukkan kepalanya sedih dan kecewa.



“…jadi… sudah ada seseorang…”gumam orang itu, menundukkan kepalanya sedih.

“auuusshhh!!! Kim Hyun woo!!! Apa yang kau lakukan…!!! Ayo kita harus kembali!!”ujar seseorang yang kemudian menarik lengan Hyun woo yang mengikuti langkah orang itu lemas, masuk kedalam sebuah mobil. Hyun woo mengistirahatkan tubuhnya, menyandarkan punggungnya di punggung kursi mobilnya “aahhh…” ia merasa benar-benar lelah sekarang. Hyun woo memejamkan matanya dan gambaran itu hadir kembali, membuatnya semakin kalut. Hyun woo mendesah pelan.

“ada apa denganmu…?”tanya seorang laki-laki menyadari desahan pelan Hyun woo sambil kemudian membersihkan keringat yang mengucur di dahi hingga membasahi tubuh dan pakaian Hyun woo. “ganti dengan ini…”ujar orang itu lagi, sambil menyerahkan sebuah pakaian ganti untuk Hyun woo yang menerima lemas pakaian yang diberikan padanya.

“manajer Kim…”ujar Hyun woo kemudian, tanpa mengalihkan wajahnya dari baju basah ditangannya.

“ada apa…?”tanya manajer Kim, menatap Hyun woo bingung sekaligus prihatin. Hyun woo menghela napas pelan dan kemudian kembali merebahkan tubuhnya di punggung kursinya. “…tak ada… aku lelah… apa anak itu sudah menelepon…?”

“ahni… tidak ada telepon dari sahabatmu itu… sepertinya dia belum datang…”

“auuuhhh… aku bosan tinggal di hotel… apa kau tidak punya kenalan disini manajer Kim…?”ujar Hyun woo, mendesah pelan “…aku ingin tinggal di kasur rumah, makan makanan rumahan dan ngobrol dengan orang rumahan…”ujar Hyun woo, sedih.

“YYA!!! Lalu kau anggap aku apa… ngobrol dengan orang rumahan…?!?! Apa maksudmu..?” menatap Hyun woo kesal, walaupun hanya kepura-puraan

Hyun woo mendesah lagi, tak memperdulikan manajer Kim yang menatapnya marah disisinya. Kini ia terlihat memalingkan wajahnya menatap pemandangan kota Seoul dari jendela mobilnya yang berjalan cepat, menembus angin. Manajer Kim diam menatap Hyun woo, ia mengerti kebutuhan artisnya itu, lalu Manajer Kim terlihat tersenyum menatap Hyun woo penuh dengan kemenangan. Hyun woo menyadari senyum manajernya itu, dan ia ikut tersenyum menatap senyum sang manajer.

*********

Matahari mulai tersenyum kembali. Memancarkan sinarnya, memberikan kehangatan di bumi. Hye na tersenyum menatap anak laki-lakinya yang masih terlelap dalam mimpi. Hye na tersenyum dan melangkah mendekat. Hari ini hari yang istimewa untuk dirinya. Hari yang hanya datang satu tahun sekali. Hari yang sangat diingat oleh seorang Han Hye na. Hari yang selalu ia syukuri.

“anak omma… bangunnn…”ujar Hye na, membangunkan keduanya, namun tidak ada jawab dari keduanya. Hye na diam, menatap sesaat, kemudian senyum kembali terlihat diwajahnya.

“Jae min-aa…”panggil Hye na yang kemudian melangkah mendekat dan duduk disisi ranjang Jae min.

“ahhh… omma… ada apa…”

“ayo kita sarapan…dan bukankah kita punya rencana…? Omma sudah menyiapkan semuanya”

“ahhhh omma… Jae min masih mengantuk… apa tidak bisa 10 menit lagi…”

“ayolah sayang…”ujar Hye na, yang kemudian menarik selimut Jae min dan kemudian menarik tangan Jae min pelan, membuatnya duduk di ranjangnya dengan masih memejamkan kedua matanya, malas. Hye na menahan tangan Jae min, agar ia tidak jatuh dan tertidur kembali ke bantal hangatnya. “bangun.. dan jangan tidur lagi… omma akan membangun Min jae… bangun…”ujar Hye na

“ne…”jawab Jae min lemah sambil menggaruk kepalanya, malas. Hye na tersenyum dan melangkah keluar dari kamar Jae min, namun… “…aigooo… omma bilang bangun… ayolah sayang…”ujar Hye na tepat saat Jae min akan merebahkan tubuhnya kembali. Hye na tersenyum dan keluar dari kamar Jae min kemudian melangkah kekamar Min jae. Ia tersenyum menatap pintu dihadapannya dan membuka pintu dihadapannya pelan.

“Min jae… sayang…”panggil Hye na, menatap Min jae dengan senyum lebarnya. Sama dengan saudara kembarnya, Min jae terlihat masih memejamkan kedua matanya dan tidak mendengar panggilan Hye na



“sayang…”panggil Hye na lagi, duduk disisi ranjang Min jae. Min jae terdengar mulai menggumam.
“bangun sayang… kau masih ingat bukan… kita punya sesuatu yang harus dilakukan… ayo bangun…”ujar Hye na, mengusap lembut kepala Min jae.

“omma…”panggil Min jae tersenyum namun masih memejamkan kedua matanya. Hye na tersenyum
“bangun…”ujar Hye na. Kali ini cara Hye na membangunkan anaknya memang berbeda. Berbeda dengan Min jae, Jae min sangat tidak menyukai jika Hye na membangunkannya dengan mengusap kepalanya, atau apapun namun Min jae tidak seperti Jae min, Min jae hanya diam dan menikmati apapun cara Hye na kecuali satu hal, mengacak rambut. Untuk urusan mengacak rambut, keduanya memiliki kesamaan. Jae min dan Min jae sama-sama tidak menyukai jika seseorang mengajak rambut keduanya.

“kau sudah bangun…”tanya Hye na, menatap Min jae yang mulai membuka matanya. Hye na tersenyum, namun Min jae hanya diam dan beranjak bangkit dari ranjangnya, melangkah masuk ke dalam kamar mandi “segera turun ya sayang…”ujar Hye na yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Min jae. Hye na tersenyum sesaat sebelum menutup pintu di belakangnya.

Hye na melangkah pelan ke sebuah ruangan dengan pintu besar. Hye na diam kemudian menatap tersenyum pintu itu sesaat sebelum akhirnya membukanya dan tepat ia menatap suaminya yang masih berbaring nyenyak di ranjangnya.

Hye na melangkah tersenyum melewati Jung min dan berdiri menghadap jendela besar di ruangan itu. Hye na mengalihkan pandangannya, tersenyum dan dengan cepat Hye na membuka tirai jendela diruangan itu.

“uuuhhh…” terdengar gumaman seseorang yang membuat Hye na tersenyum. “ bangun sayang…”ujar Hye na, berdiri membelakangi sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar keduanya. Hye na terlihat hanya sebuah siluet saat itu, hitam tidak terkenali namun perlahan saat Hye na mulai melangkah mendekat pada Jung min, ia dapat melihat sinar mentari yang menyiram tubuhnya, membuatnya semakin cerah pagi itu.

Jung min diam, mengusap matanya sesaat, kemudian senyum terlihat diwajahnya. Hye na melangkah pelan mendekati suaminya itu dan tersenyum



Hye na tersenyum dan tiba-tiba mendekatkan wajahnya, menatap Jung min lembut “selamat ulang tahun pernikahan sayang…”ujar Hye na yang kemudian dengan singkat mulai menghujaninya dengan ciuman. Jung min hanya tersenyum ketika Hye na mulai mengecup pipi, mata, hidung, rahang, kepala, dahi dan bibir Jung min. “…maafkan aku untuk yang semalam sayang… aku sama sekali tidak marah, hanya sedikit sedih karena kau tidak percaya padaku…”

“mianhe…”ujar Jung min yang kemudian membawa Hye na kedalam pelukannya erat. Hye na terlihat tersenyum tidur dalam dekapan Jung min, beralaskan dada bidang Jung min. Hye na menejamkan matanya, merasakan kehangatan dekapan suaminnya itu.

“ahni…tidak ada yang perlu dimaafkan lagi…” ujar Hye na yang kemudian bangkit dari pelukan Jung min “sekarang ayo kita sarapan… anak-anak sudah menunggu…” tambah Hye na lagi, tersenyum, namun, tiba-tiba…

“ahni… aku ingin seperti ini terus…” Jung min tiba-tiba kembali membawanya jatuh kedalam pelukannya, tersenyum. Hye na tersenyum lembut dan membalas pelukan Jung min dengan melingkarkan lengannya erat di tubuh Jung min. “kau puas sekarang…”ujar Hye na, menengadahkan wajahnya, menatap Jung min. senyum masih terlihat diwajahnya kemudian perlahan, Hye na mengecup dagu Jung min dan rahangnya lagi.

“… anak-anak akan kemari…”ujar Hye na, yang tepat, tak lama kemudian pintu kamarnya terbuka dan beberapa orang melangkah masuk.

“appa… omma… auuusshhh…. Sudah kami duga…”ujar Jae min kesal, menatap Hye na dan Jung min yang masih saling memeluk.

“yahh… aku sudah bilang untuk datang nanti… tapi kau nekat…”ujar Min jae samar pada Jae min, memalingkan wajahnya sambil menutupi pandangan Ha na dari apa yang ada dihadapannya. Ha na diam kemudian terdengar tawa jenaka darinya menatap tingkah orang tuanya itu.

“mianhe….”ujar Hye na yang kemudian melepaskan pelukannya serta pelukan Jung min dan bangkit dari tempatnya, melangkah mendekati Min jae dan mengambil Ha na dari gendongannya.

“kemari sayang…”ujar Hye na yang kemudian berdiri di sisi Min jae. Kini keempatnya berdiri menghadapi Jung min dengan Ha na yang berada dalam gendongan Hye na. “appa omma… selamat ulang tahun…”ujar Min jae dan Jae min bersamaan.

 Jung min diam, tersenyum menatap keluarga kecilnya itu. Ia benar-benar sangat bahagia dan bersyukur dengan apa yang sudah didapatnya. Lagu indah terdengar di telinganya. Syair yang terdengar penuh dengan kebahagiaan dan… seseorang masuk, melangkah cepat, sembari berteriak “LEE JUNG MIN!!!! kau ter…” keempatnya terdiam, menatap orang itu tidak menyangka dan terkejut dan berhasil membuat syair lagu di kepala dan hati Jung min rusak, membuat keluarga kecilnya memalingkan wajahnya menatap orang itu

 “Seung gi ahjussi…”seru Jae min, menatap terkejut Seung gi yang menerobos masuk kedalam kamar Jung min yang terbuka saat itu, dan…  “ahhh…. Sepertinya aku hadir disaat yang tidak tepat…”terkekeh pelan segera menyadari sesuatu “yya!! Apa yang kau lakukan… keluar!!!”ujar Jung min, menatap kesal Seung gi dihadapannya, namun tanpa memperdulikan kemarahan Jung min, Seung gi terlihat masih diam ditempatnya, tersenyum malu.

“auuushhhhh!!! Aku sudah bilang… keluar sekarang…”

“mianhe…”

“KELUAR!!! Kau ini benar-benar…”ujar Jung min yang kemudian bangkit dari tempatnya dan menerjang Seung gi yang masih berdiri di ambang pintu. Seung gi berlari keluar dan menutup pintu tepat saat Jung min akan mendekatinya.

Hye na tersenyum, Jae min, dan Min jae terlihat menggelengkan kepalanya benar-benar takjub dengan tingkah orang tuanya. Ha na tertawa jenaka melihat tingkah ayahnya itu.

“ok… kita sarapan sekarang…”ujar Hye na yang kemudian melangkah keluar dengan Ha na yang masih dalam pelukannya, meninggalkan Jung min dengan nafas yang tersengal menandakan ia benar-benar marah.
************

“auuuushhhh… benar-benar tidak enak…” ujar orang itu yang kemudian melempar pelan sendok makannya, hingga membuat sendok itu berdenting pelan, ditatapnya makanan dihadapannya malas, sebelum kemudian memalingkan wajahnya.

“YYA!!! Sudah untung aku memasakkanmu sesuatu yang bisa dimakan…”

“aiiishhh… ini bahkan tidak bisa dimakan…”

“kau ini…”

“lebih enak masakan anak itu… auusshhh…”ujar laki-laki itu lagi yang kemudian bangkit dari tempatnya.

“auuushhh!!! Kalau begitu pergi saja pada anak itu… dasar!!!”seru orang itu lagi, frustasi, menatap kesal laki-laki dihadapannya yang melangkah pergi

Keduanya terdiam sesaat, berusaha menenangkan diri masing-masing. Tak lama, salah satu dari mereka terlihat mencari sesuatu disaku baju hingga celananya “…manajer Kim… berikan ponselku…”ujar laki-laki itu kemudian

“yya!!! Bukankah kau sudah memintanya tadi, Kim Hyun woo…”jawab manajer Kim, mengingatkan. “ahhh… benar…”jawab Hyun woo menyadarinya. Hyun woo bangkit dari kursinya dan melangkah mencari ponselnya. Hyun woo terlihat melangkah cepat masuk kedalam kamarnya kemudian keluar karena tidak menemukan si ponsel disana. Melangkah kembali kearah ruang tengah, dan ia juga tidak menemukannya disana. Hyun woo mulai frustasi dan mengacak rambutnya cepat.

“…kau membawanya masuk kedalam kamar mandi saat kau bangun tadi…”ujar manajer Kim mengingatkan, enteng. Hyun woo diam, menatap manajer Kim sesaat kemudian mulai melangkah masuk kedalam kamar mandi dan…

“…aku melupakannya…” Hyun woo terlihat melangkah keluar dari kamar mandi dengan membawa ponselnya dan mulai menekan nomer disana.

“siapa…”tanya manajer Kim

“apa…”

“yang akan kau telepon…”

“siapa lagi…”

“apa maksudmu…”

“errrmmm… rumah ini menyenangkan… bagus dan nyaman… tapi aku kecewa dengan makanannya… apa tidak ada makanan yang lebih baik…?”

“auuuusshhh… kau benar-benar… baiklah.. aku memang tidak bisa memasak, tapi hentikan itu...auuusshhh…kau benar-benar menyebalkan…”ujar manajer Kim, kesal, dan mulai membereskan semua piring dimeja makannya kasar, karena terlalu kesal pada laki-laki dihadapannya yang tampaknya, tidak memperdulikan apapun selain ponselnya.


Tak lama…

“YYA!!! Kau dimana…?!?!”

########

Bersamaan dengan itu, dering ponsel Jung min terdengar. Jung min tersenyumm sesaat menatap nama yang tertulis dilayarnya.

“Lee En kyu… kau dimana…? Kau jadi pulang…?”

“sebentar lagi appa… setelah sampai En kyu akan ke perusahaan…”

“ne.. bagus… appa menunggumu…dan appa sudah menyuruh sekretaris Song untuk menjemputmu… katakan padanya jam berapa kau sampai…”

“ne…”

Dan hubungan terputus, tepat saat Hye na masuk membawa jas dan dasi Jung min serta sepatunya. “seperti yang aku pikirkan… kau berada di ruang kerjamu… ada apa…? Siapa yang kau hubungi…?”tanya Hye na saat ia menatap ponsel ditangan Jung min.

“…ahhh… Seung gi… seperti biasa… apa kau sudah membawanya…”

“ne… ini..”ujar Hye na yang kemudian memberikan dasi Jung min untuk dipakai. Jung min menatap Hye na sesaat yang tengah membereskan meja kerjanya sambil tersenyum penuh maksud. Terpikir kembali rencananya yang ia harapkan akan berakhir membahagiakan tapi mungkin akan membuat Hye na sedikit kesal padanya, namun ia percaya, semuanya akan membaik dan berakhir bahagia. Ia tahu itu.

Jung min tersenyum, menatap Hye na, yang tepatnya melamun, memikirkan apa yang ada dipikirannya, hingga tidak menyadari tatapan seseorang yang diam, tidak mengerti dengan suaminya.

“auuushhh… ini memang hari ulang tahun pernikahan kita sayang… tapi juga tidak begini… kenapa kau banyak tersenyum juga melamun sekarang ini…”ujar Hye na yang kemudian menarik dasi yang sudah melingkar di leher Jung min beserta Jung min untuk lebih mendekat padanya “sini aku pakaikan…”ujar Hye na, menatap Jung min sesaat kemudian mengalihkan pandangannya menatap dasi yang sudah melingkar di lehernya.

Hye na butuh kerja keras saat itu. Tinggi Hye na hanya sampai di pundak Jung min, dan Hye na benar-benar harus mengangkat kepalanya agar pandangannya dapat mencapai lehernya. Hye na melangkahkan kakinya lebih mendekat pada suaminya itu. Kini tubuh keduanya terlihat sangat dekat dan hampir menempel, ditambah Hye na berjinjit untuk menalikan dasi Jung min di lehernya, membuat Hye na tampak berdiri lebih dekat pada suaminya itu, hingga… “aku yang bertambah tinggi atau kau yang menjadi lebih pendek sekarang sayang…”ujar Jung min, menatap Hye na yang masih berusaha berjinjit untuk menalikan dasi Jung min.

“auuushhh… diamlah… angkat kepalamu…”ujar Hye na, yang lebih mengkonsentrasikan tatapannya pada dasi Jung min.

“aku lupa…”keluh Hye na kemudian, yang kembali mendekatkan dirinya pada Jung min. Jung min tersenyum dan membuatnya memikirkan sesuatu yang nakal. Tiba-tiba Jung min melingkarkan lengannya di pinggang Hye na dan mengangkat tubuh Hye na, menggendongnya. Hye na terkejut menatap Jung min “…auuushhh… apa yang kau lakukan… turunkan aku…”ujar Hye na.

“ahni… bukankah ini lebih mudah untukmu…”dalih Jung min sambil tersenyum menatap Hye na.

“auushhh…”

“ahhh…”sebuah ide nakal kembali muncul di pikiran Jung min yang memang sedang senang saat itu, membuatnya memiliki banyak ide nakal untuk istrinya itu. Jung min yang masih memeluk Hye na dan mengangkatnya dalam lingkaran lengannya, membawa Hye na ke sofa ruang kerja Jung min.

Jung min duduk disana yang tentu saja membuat Hye na duduk dipangkuan Jung min dengan posisi tubuh saling berhadapan. “auuushhh… apa yang kau lakukan sekarang…”ujar Hye na kesal dan akan bangkit dari tempatnya, namun segera dihentikan oleh Jung min dengan melingkarkan lengannya ke sekeliling pinggang Hye na lebih erat lagi, mengunci dirinya.

“hentikan… bagaimana…”

“Jae min dan Min jae sudah berangkat bukan…”

“ne… tapi…”

“kau belum menyelesaikannya sayang…”ujar Jung min sambil kemudian mengangkat kepalanya, menengadah, membuat Hye na lebih mudah untuk memakaikan dasi di leher Jung min. Hye na tersenyum sesaat dan mulai memakaikan dasi dileher Jung min pelan. Sementara itu Jung min hanya diam, tetapi tidak dengan jantungnya. Jantungnya berdegup cepat saat itu, nafasnya terdengar mulai memburu.
Memang aneh, dipernikahannya yang sudah lebih dari 10 tahun dengan wanita yang berhasil membawa hati, jiwa dan seluruh tubuhnya pergi, bertransplantasi dan menyatu dengan wanita dihadapannya, Jung min masih dapat merasakan getaran aneh dihatinya,Jung min masih dapat merasakan hasrat dan gairah yang sama seperti saat ia pertama kali sedang dimabuk cinta. Jung min pikir semua wanita sama, dan semua hubungan rumah tangga sama, tapi ia sama sekali tidak pernah bosan pada bidadarinya itu. Selalu saja ada sesuatu yang membuat debar dan gairahnya naik.

 Nafas Hye na yang hangat dan perlahan, lembut dan menggelitik leher Jung min, berhasil membuat zat kimia perangsang dalam tubuhnya meninngkat tajam dan cepat. Otak Jung min mulai menghasilkan zat norepinephrine yang membuat adrenalinnya melaju cepat menghasilkan debaran jantung yang meningkat tajam.

Perasaan bahagia dan melayang dalam hatinya karena rasa cinta pada wanita dihadapannya pun bertambah seiring meningkatnya zat dopamine dan Phenylethylamine yang bersamaan membanjiri pikiran dan hatinya bagaikan air yang mengalir tiada henti. Semua itu muncul hanya dengan menatap bidadarinya yang cantik duduk di pangkuannya, menatapnya, memusatkan dirinya pada Jung min dan tengah serius melakukan sesuatu untuknya serta desah napas hangat yang meluncur lembut dari hidung dan mulut Hye na yang langsung menerpa leher Jung min.

“gwenchana… wajahmu memerah… apa kau tak apa sayang…?” tanya Hye na menatap Jung min khawatir, menempelkan kedua telapak tangannya di kedua pipi Jung min, membuat keduanya kini saling menatap, namun dengan rasa yang berbeda, dan debaran yang berbeda.

Tiba-tiba Jung min terlonjak pelan, terkejut menatap Hye na yang masih duduk di pangkuannya, tengah menatapnya bingung. Nampaknya zat- zat kimia perangsang dalam otak Jung min mulai surut dan perlahan menghilang, meninggalkan bekas-bekas basah yang tidak berarti di pikiran dan hatinya.  Hye na masih menatapnya bingung, sekaligus khawatir. “gwenhana…?”tanya Hye na lagi.

“ahh…de… gwenchana…”

“sudah selesai… kau bisa melepaskan pelukanmu… sepertinya rusuk ku sakit…”ujar Hye na, menahan sakit di sekitar lingkaran lengan Jung min

“ooohh… mianhe sayang…”ujar Jung min gugup sambil kemudian mengendurkan lingkaran lengannya dan membantu Hye na bangkit dari pangkuannya, menatap Hye na khawatir dengan sakit di rusuknya. “gwenchana…?”tanya Jung min, menatap Hye na

“de…”jawab Hye na yang kembali menatap Jung min “gwenchana sayang… wajahmu masih memerah… apa kau sakit…”tanya Hye na sambil kemudian meletakkan tangannya di kening Jung min, mengukur suhu tubuhnya, namun hasil yang didapat Hye na segalanya normal.

“tak apa sayang… aku harus segera ke kantor…”ujar Jung min yang kemudian bangkit dari tempatnya, menutupi semua rasa gugupnya, kemudian melangkah pergi meninggalkan Hye na, tapi…

“sayang… kau belum memakai sepatumu…”ujar Hye na sambil menunjukkan sepatu Jung min. Jung min menghentikan langkahnya dan menatap kakinya yang memang masih polos tanpa sepatu di sana. “aku pakaikan sayang…”tawar Hye na yang kemudian melangkah mendekat dan berjongkok di hadapan Jung min, memakaikan sepatu untuk suaminya itu. Jung min hanya diam, menatap Hye na tersenyum, mengusap kepalanya lembut sebelum akhirnya Hye na bangkit dan berdiri dihadapannya. Jung min menatap Hye na lembut dan mengecup keningnya pelan.

“aku berangkat…”ujar Jung min lembut, tersenyum.

*******

“selamat ulang tahun pernikahan appa….”ujar En kyu tiba-tiba, menghambur masuk kedalam ruangan Jung min, membuatnya terkejut hingga menjatuhkan berkas yang terbuka ditangannya.
Hari sudah beranjak siang saat itu, matahari bersinar terik, dan memancarkan panas yang tidak seperti biasanya di penghujung akhir musim semi saat itu.

“ahhh… kau sudah datang…”ujar Jung min, tersenyum menatap kedatangan orang itu.

“bagaimana kabar omma dan semuanya… aaahhh… Kyu benar-benar rindu…”ujar En kyu, menatap ayahnya tersenyum.

“semuanya baik…”jawab Jung min singkat yang terlihat tengah membaca sesuatu ditangannya, disibukkan dengan sesuatu itu. En kyu diam duduk di sofa ruangan Jung min, selama beberapa saat keduanya terdiam melakukan kesibukannya masing-masing, walaupun En kyu hanya diam, menatap beberapa majalah yang tertutup di meja dihadapannya, namun dia memikirkan sesuatu yang tercetak jelas di wajahnya, ia mengkhawatirkan sesuatu.

“appa…”panggil En kyu, akhirnya membuat Jung min mengalihkan sesaat pandangannya menatap En kyu yang duduk tak jauh dari tempatnya. En kyu diam, ragu dengan apa yang akan dikatakannya. Jung min diam, kini En kyu berhasil membuat Jung min mengalihkan perhatiannya dari berkas ditangannya pada En kyu. Sambil membawa berkas, Jung min melangkah dan duduk dihadapan En kyu. “apa sesuatu terjadi…?”tanya Jung min, meletakkan berkas di hadapannya dan menyandarkan tubuhnya menatap En kyu. Jung min mengerti apa yang dipikirkan anak pertamanya itu “tidak usah khawatir…”ujar Jung min, membuat En kyu menatap ayahnya itu. “tapi appa…”

“gwenchana…”potong Jung min. En kyu mendesah pelan kemudian menundukkan kepalanya. Jung min tersenyum menatap En kyu “…lalu…dimana dia…? Appa juga merindukannya…”tanya Jung min menatap En kyu. En kyu diam, menatap Jung min “…appa…”

“weee.?!?”

“jangan…” ucapan En kyu terputus, tiba-tiba ponselnya berdering keras. En kyu menatap ayahnya sesaat sebelum akhirnya menerima telepon yang masuk “…ne…”

“ahhh… mianhe… aku kesana… ne… mianhe…” En kyu memutus hubungannya. Menatap ayahnya sesaat

“siapa…”

“seorang teman… dan aku harus pergi… dia menungguku…”

“ok… jangan lupa dengan semuanya…”

“ne…”jawab En kyu sebelum akhirnya ia bangkit dari tempatnya, tersenyum menatap sang ayah dan melangkah keluar dari ruangan Jung min, dan tepat saat En kyu memuka pintu dihadapannya, seseorang menerobos masuk, dan ganggang pintunya hampir menabrak En kyu yang berdiri dibelakangnya.

“ahh… Seung gi ahjussi…” ujar En kyu terkejut. Seung gi mengalihkan pandangannya, menatap En kyu yang berdiri di sisi pintu menghindari ganggang pintu yang terbuka.

“ahhh… ternyata benar… kau datang…”ujar Seung gi yang kemudian secara tiba-tiba membawa En kyu ke dalam pelukannya “…kau benar-benar datang…”ujar Seung gi lagi, memeluk En kyu semakin erat yang terlihat sangat senang menatap kedatangannya.

“ah…ahhjusi…kau membuatku… tidak bisa bernapas…”ujar En kyu terbata.

“ahhh… mianhe… kau mau pergi…”ujar Seung gi, yang kemudian melepaskan pelukannya dan menatap En kyu.

“ne… ada seseorang yang menungguku…”ujar En kyu sambil merapikan pakaiannya kembali “…kalau begitu aku pergi ahjussi…”pamit En kyu

“ahhh… tunggu…”ujar Seung gi tiba-tiba, menarik tangan En kyu dan membawanya kembali, menghadap Jung min yang duduk di sofa ruang kerjanya, disibukkan dengan berkas-berkas dan laporan di hadapannya. Seung gi membawa En kyu duduk dihadapan Jung min. Seung gi diam, senyum bahagia masih terlukis diwajahnya, seakan ia telah menemukan harta karun yang telah hilang, sedangkan En kyu terdiam, menatap bingung Seung gi, ia menunggu.

Merasa diperhatikan, Jung min mengalihkan pandangannya dari berkas ditangannya, menatap Seung gi dan En kyu bergantian, “ada apa…?”tanya Jung min, menatap Seung gi dan En kyu bergantian “bukankah kau ada janji Kyu-aa…”ujar Jung min, memusatkan perhatiannya pada Lee En kyu yang duduk dihadapannya. En kyu terlihat diam dan mengedikkan bahunya sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya menatap Seung gi. Seung gi diam, namun senyum masih terlihat diwajahnya.

“ada apa Lee Seung gi…”ujar Jung min kemudian, mengerti pandangan En kyu yang juga bingung, menatap Seung gi yang masih mengenggam tangannya. Senyum Seung gi semakin melebar, ia menatap Jung min penuh harap dan mencondongkan wajahnya kearah Jung min. “…aku punya permintaan Jung min-aa…”ujar Seung gi kemudian, membuat Jung min menatap En kyu dan kini keduanya saling melempar pandangan tak mengerti.



**********
Matahari semakin terik, namun tidak menganggu Hye na yang tengah disibukkan dengan buku ditangannya. Hye na terlihat tersenyum sambil sesekali mengalihkan perhatian dari buku ditangannya pada Ha na yang tidur di ranjang bayinya. Hye na tersenyum ketika menyadari sesuatu dan segera bangkit mengahampirinya.

“ahhh… sayang… kau sudah bangun…”ujar Hye na tersenyum menatap Ha na yang tengah menatapnya tertawa “auuuhh… kau tertawa sayang…”ujar Hye na lagi yang kemudian mengambil Ha na dalam pelukannya dan membawanya kedalam pangkuannya, tersenyum senang, hingga…

“agashi… agashi…”panggil seorang pelayan tiba-tiba, membuat Hye na dan juga Ha na mengalihkan pandangannya menatap pelayan itu bingung.

“de?!?”

“mianhe… tuan… beliau…” pelayan itu terlihat terdiam ditempatnya sesaat,  menundukkan kepalanya, memikirkan sesuatu sekaligus bingung dan takut untuk mengatakannya.

“… ada apa… katakan pelan-pelan…” Hye na menatap pelayan itu menunggu, cemas.

“doronim… sesuatu terjadi…”ujar pelayan itu. Hye na terlihat diam ditempatnya, menatap pelayan itu sesaat kemudian ia bangkit dan berjalan menuju ruang depan Lee mansion seperti yang dikatakan oleh pelayan itu, perasaannya sudah tidak menentu saat itu, ia merasakan ketakutan dihatinya, dan yang ditakutkannya benar. Hye na diam, menatap Jung min yang dipapah oleh Seung gi dan En kyu masuk kedalam Lee mansion

“ada apa…?!?!”tanya Hye na gusar, menatap Jung min yang dipapah lunglai dalam dekapan Seung gi dan En kyu

“entahlah… sesuatu terjadi saat kami akan mengadakan rapat…”

“ada apa…”

“appa tiba-tiba pingsan omma…”ujar En kyu yang kemudian melangkah bersama Seung gi masuk kedalam kamar Hye na dan Jung min dan merebahkan tubuh Jung min di ranjangnya.

“apa yang terjadi sebenarnya…”tanya Hye na lagi, ketakutan

“mianhe Hye na-ssi… kami tidak tahu.. tapi aku sudah mengubungi dokter Kim…dan sebentar lagi, dia akan segera tiba…”ujar Seung gi

“tapi tidak ada yang berbahaya bukan…?”tanya Hye na, bingung sekaligus takut, menatap suaminya yang tengah memejamkan matanya, berbaring dengan nafas yang tidak teratur. Hye na diam, menatap suaminya, entah kenapa saat itu dia benar-benar tidak dapat melakukan apapun. Bayangan ketakutan menghantuinya, bayangan akan kehilangan menghampiri dirinya. Hye na jatuh terduduk, menatap suaminya kosong. “omma!!!”

“Hye na-ssi!!” Seru Seung gi dan en kyu bersamaan. Hye na diam, perlahan air mata mulai jatuh membasahi pipinya. Tubuhnya gemetar. Teringat kembali hal yang menyakitkan untuknya. Ditatapnya Jung min yang terlelap di ranjangnya alih-alih sang ayah. “aboji…” bisik Hye na, lirih.

“omma…!!!”panggil En kyu lagi, yang melangkah cepat, menghampiri Hye na. “ gwenchana…?” tanya En kyu, menatap Hye na khawatir. “aboji… “ujar Hye na lagi, lirih yang kini pandangannnya berubah, Hye na terlihat sangat shock dan bingung. En kyu menatap diam Hye na dan perlahan membantu Hye na untuk bangkit dari tempatnya

“gwenchana…?”tanya En kyu lagi menatap ibunya khawatir. “tenang saja omma… semuanya akan baik… appa tidak selemah itu…”hibur En kyu, membantu Hye na melangkah ke sofa dikamar itu. Hye na diam, menatap En kyu sesaat “..ahhh… benar… “ujar Hye na, menyadarinya, dan tersenyum tipis menatap En kyu.

“ne… jadi tenang saja omma…”tambah En kyu lagi, En kyu diam, menatap ibunya. Kesedihan dan ketidak mampuan terlihat di kedua matanya, menatap ibunya yang cemas. Lama, keheningan tercipta diantara ketiganya, Seung gi, En kyu dan Hye na yang masing-masing berkuta dengan pikirannya “ kenapa dokter Kim lama sekali…”ujar Hye na tiba-tiba dan benagkit dari tempatnya, melangkah kearah pintu kamarnya, cemas “omma… tenang saja sebentar lagi…”

“selamat siang…”sapa seseorang tiba-tiba, membuat Hye na membalikkan tubuhnya cepat, menatap orang itu.

“ahhh… dokter Kim…”

“apa yang terjadi…”

“entahlah… tolong bantu Jung min dokter…aku…”

“ne… tentu saja… En kyu… tolong bawa omma mu keluar dulu… beri dia sesuatu… wajahnya pucat sekali…”ujar dokter Kim, menatap Hye na

“ahni… aku akan disini…”

“dokter Kim benar omma… omma harus menenangkan diri omma…”bujuk En kyu

“ne… sebaiknya kau keluar dulu… dan biarkan dokter Kim memeriksa Jung min… dokter Kim sudah lama bekerja dengan keluarga Lee… jadi percayalah…”ujar Seung gi lagi, membantu En kyu, membujuk Hye na.

Hye na diam, menatap En kyu, dokter Kim dan Seung gi bergantian. “ayo omma…”ajak En kyu yang kemudian menggandeng tangan Hye na, memapah Hye na pelan, keluar dari kamarnya.

Tak lama ketiganya kini sudah duduk didapur. En kyu mengambilkan Hye na air mineral untuk menenangkan dirinya dan duduk dihadapannya.

“gwenchana omma…”ujar En kyu, tersenyum, menenangkan ibunya. Hye na terlihat diam menatap kosong hadapannya dengan mengenggam kuat gelas di tangannya. Hye na diam hingga perlahan air matanya terlihat mengalir dalam diam. En kyu diam, rasa bersalah dan menyesal menyerang hatinya ditambah saat ia melihat Hye na mulai meracau “…ahni… Jung min… tadi pagi tidak terjadi sesuatu… tapi kenapa… apa yang terjadi…? Pekerjaannya… dia bahkan pernah mendapatkan tekanan yang lebih tapi semuanya baik… lalu kenapa… ahhh… Jung min….”racau Hye na tanpa menyadari Seung gi yang terdiam menatapnya dan En kyu yang semakin khawatir menatap ibunya itu “gwenchana omma…”ujar En kyu kemudian, berusaha menenangkan ommanya. Dia mulai menyadari sesuatu yang salah. En kyu diam, menghela napas pelan.

“ahni En kyu-aa… ahh… antwe… semuanya baik… semuanya baik… tidak ada yang terjadi…”ujar Hye na, yang kemudian mengalihkan pandangannya menatap anak laki-laki itu. “ne… gwenchana En kyu-aa.. semuanya baik… tidak ada yang terjadi pada appa… semuanya baik…”ujar Hye na pada Ha na, dan mendekapnya semakin erat.

********

“Kim Hyun woo!!”panggil seseorang yang berhasil menghentikan langkah Hyun woo tanpa membalikkan tubuhnya. “ada apa lagi manajer Kim.. aku harus pergi… aku harus bertemu dengan seseorang dan meyakinkan semuanya…”

“seseorang?!?! Siapa maksudmu… dan mau kemana…?”

Hyun woo melangkah tanpa memperdulikan manajer Kim yang mengejar langkahnya “…YYA!! Kim Hyun woo!!”seru manajer Kim yang berhasil menghentikan langkah Hyun woo dan berhasil membuat Hyun woo melangkah cepat ke manajer Kim kemudian membungkam mulutnya rapat “…apa kau ingin membahayakan artismu!!”ujar Hyun woo kesal, menatap manajer Kim taja

“arasseo… kalau begitu katakan… siapa dan mau kemana…”

“Hans hospital…”

“lalu…?”

“aku harus menemui seseorang…”

“siapa…”

“entahlah… aku tidak tahu namanya… yang aku tahu dia seorang dokter disana…”

“YYA!! Disetiap rumah sakit tidak hanya memiliki 1 dokter… bisa saja ratusan… apa kau ingin mencarinya dan menanyakannya satu persatu…”

“jika hal itu dibutuhkan…” Hyun woo terdiam sesaat, kemudian senyum lebar terlihat, ditatapnya manajaer Kim penuh keyakinan “… maka… akan kulakukan…”ujar Hyun woo yakin yang kemudian kembali melangkahkan kakinya cepat.
“yya tunggu… paling tidak gunakan ini…”ujar manajer Kim sambil menyerahkan sebuah kacamata dengan kaca bening berframe hitam, syal serta sebuah topi pada Hyun woo “gomawo… kau memang manajer terbaikku…”ujar Hyun woo, tersenyum menatap manajer Kim senang.



“pakai… dan ceritakan semuanya setelah kau menemukan siapa doker itu…”ujar manajer Kim, menatap Hyun woo. Senyum Hyun woo terlihat semakin melebar mendengar semua ucapan manajernya itu.
Hyun woo kini terlihat melangkah ringan masuk kedalam pelataran rumah sakit Han. Dengan senyum yang merekah Hyun woo melangkah. Ia yakin akan menemukan orang itu. Manajer Kim menyadari senyuman artisnya itu, tak lama terdengar helaan napas manajer Kim yang menatap dan mengikuti kepergian Hyun woo. Ia sangat mengenal artisnya itu. Dengan sifatnya yang betekad kuat dan memiliki ambisi, dia sama sekali tidak akan melepaskan apapun yang sudah dia niatkan untuk menjadi miliknya, dan untuk itu, dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Apapun itu, dan untuk hal apapun, ambisinya sangat besar dan itulah yang membuat Hyun woo menjadi seorang artis yang berhasil. Dia memliki tekad dan ambisi yang kuat.
Manajaer Kim tersenyum, menatap Hyun woo sesaat, sebelum kemudian, mengejar kembali langkah Hyun woo “YYA!! Tunggu..”ujar manajer Kim

**********

“sayang…”panggil Hye na, menatap Jung min, mengenggam tangan suaminya yang kini tersambung dengan selang infuse “apa yang terjadi…”ujar Hye na lagi, menatap Jung min khawatir “…bangunlah…”pinta Hye na, namun ternyata semua kalimatnya sama sekali tidak berpengaruh pada laki-laki yang terlelap dihadapannya. Hye na diam, menundukkan kepalanya kemudian merebahkan kepalanya di sisi tangan Jung min. Hye na diam, terisak.

Beberapa jam yang lalu, dokter Kim pergi meninggalkan Hye na, En kyu dan Jung min hanya dengan ucapan… “Jung min kelelahan, dan untuk berjaga-jaga aku ingin pemeriksaan secara menyeluruh di rumah sakit… aku takut ada sesuatu yang diderita tubuhnya…”

Bagai petir yang menyambar di hujan yang deras, Hye na sangat terkejut dengan ucapan dokter Kim. Hye na benar-benar tidak mampu melakukan apapun, teringat kembali pengalaman buruk yang baru saja dialaminya.

Dengan segera dan cepat, Hye na membawa Jung min ke Hans hospital, dimana Hye na sapat mengontrol semuanya, walaupun disini Hye na lebih banyak diam dan tidak melakukan apapun. Hye na hanya menyerahkan segalanya pada dokter Choi yang bertanggung jawab pada Jung min atas saran dokter Kim. “sayang…”panggil Hye na, masih menggenggam tangan Jung min kuat.

“omma…”panggil seseorang tiba-tiba, membuat Hye na mengalihkan pandangannya, menatap orang itu. Hye na tersenyum tipis menatap orang itu “…ahhh… En kyu-aa…”ujar Hye na lirih

“omma…”panggil En kyu tiba-tiba, menatap Hye na prihatin, menyentuh pelan bahu Hye na, berusaha menyalurkan sebuah ketenangan pada ibunya itu “omma… gwenchana…?”tanya En kyu lagi.

Hye na bangkit menatap En kyu yang berdiri di sisinya dan perlahan menyentuh tangan En kyu yang berada di bahunya, membalas sentuhannya. Hye na tersenyum lebih panjang dari sebelumnya, berusaha meyakinkan anak laki-lakinya itu. “gwenchana…”jawab Hye na

En kyu diam, menatap Hye na, kemudian perlahan ia terlihat mulai menundukkan kepalanya, tidak berani menatap sang ibu. Hye na menyadarinya, dipandanginya En kyu lama, mencari jawaban atas pertanyaan yang belum ia sampaikan.

“sayang…”panggil Hye na menatap En kyu selidik “…gwenchana…?”tanya Hye na

EN kyu mengangkat wajahnya pelan “mianhe omma…”ujar En kyu lirih, tanpa berani menatap sang ibu.

Hye na diam, menatap En kyu, kini senyumnya terlihat berbeda dari sebelumnya “kenapa…? Kenapa kau minta maaf…”tanya Hye na, menatap En kyu, dan kemudian mengangkat wajahnya, hingga Hye na dapat menatap wajahnya. “ada apa…?”tannya Hye na lagi.

“aku… appa…”

"Maaf…”potong seseorang tiba-tiba, membuka pintu ruangan Jung min dan masuk menatap Hye na dan En kyu bergantian “…maaf dokter Han… dokter Choi ingin menemui anda…”ujar perawat itu, tersenyum

“ahhh… ne… terima kasih banyak suster…”ujar Hye na, menatap En kyu kembali, tersenyum,
mengenggam tangannya kuat “…nanti kita lanjutkan lagi… omma harus menemui dokter Choi… tolong jaga appa untuk omma…”ujar Hye na, mengusap lembut pipi En kyu sebelum akhirnya ia beranjak pergi, meninggalkan En kyu yang masih diam ditempatnya.

*********

“YYA!!! Hari sudah mulai siang Hyun woo… dan kita sudah hampir 3 jam mengelilingi rumah sakit ini… tidak bisakah kita berhenti sebentar untuk makan siang… aku sangat lapar…”ujar manajer Kim, menatap punggung Hyun woo yang berdiri dihadapannya dan tengah menatap berkeliling mencari seseorang yang sangat dicarinya.

“yya… aku tidak melarangmu untuk makan… kau bisa makan… tapi aku harus terus mencari… siapa tahu orang itu datang… aku harus menemuinya dan menanyakan apa yang harus aku tanyakan…”

“tapi…”

“pergilah jika kau sudah lapar…”ujar Hyun woo, masih mengedarkan pandangannya mencari.

Manajer Kim terdiam ditempatnya, menatap Hyun woo sesaat, sebelum akhirnya ia mengambil keputusannya “… baiklah… aku pergi… jika kau membutuhkan ku… telepon aku…”ujar manajer Kim.

“ne… arasso… pergilah…”ujar Hyun woo masih tetap tidak memalingkan wajahnya dari sekelilingnya. Berusaha dengan pandangan tajam, mencari orang yang benar-benar membuatnya merasa aneh.
Manajer Kim, menatap Hyun woo sesaat, sebelum akhirnya melangkah pergi perlahan, ya, perlahan, berharap artisnya itu memanggilnya dan mengikuti langkahnya pergi untuk mengisi perutnya, tapi, tidak mungkin. Setelah manajer Kim berbelok di tikungan lorong, Hyun wo terlihat masih mencari sosok yang sangat ingin ditemuinya itu. Membuat manajer Kim hanya dapat menghela napas panjang dan melanjutkan langkahnya

Hyun woo diam, masih menatap sekelilingnya, mencari, mencari dan mencari, sudah hampir selama 4 jam ia mencari, namun tetap saja, ia belum melihat sosok yang dicarinya, hingga…

“ahhh… itu dia…”ujar Hyun woo menatap sosok yang dicarinya, melangkah cepat. Secepat langkah orang yang dicarinya, Hyun woo berusaha mengejar orang itu, namun tampaknya tidak terkejar. Orang itu terlihat berbelok. Hyun woo diam, ia mendapat sebuah ide, memotong jalannya… batin Hyun woo tersenyum penuh keyakinan dan mulai melangkah pergi. Dan saaat ia tengah berdiri menunggu orang yang ditunggunya sampai di tikungan lorong dimana tempat Hyun woo berdiri untuk menjalankan rencana liciknya, tiba-tiba orang itu berbelok dan masuk kesebuah pintu “AUUUSHHH…”ujar Hyun woo kesal.

**********

Hye na diam, menundukkan kepalanya dan melangkah gontai.  Kakinya membawanya terus melangkah, berbelok dan menaiki tangga terus, terus dan terus. Hye na sama sekali tidak memperdulikan kemana ia pergi, hingga akhirnya ia menghentikan langkahnya sesaat, menatap pintu dihadapannya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk membuka pintu dihadapannya. Ketika Hye na membuka pintu dihadapannya, angin berhembus kencang kewajahnya dan bagai diterpa berliter liter air kewajahnya. Kesegaran sama sekali tidak didapatnya, yang ia rasakan hanya rasa sakit yang sangat yang menerpa wajah dan tubuhnya. Semuanya sempurna, kini seluruh bagian tubuh dan hatinya sakit.

Hye na melangkah pelan, menahan sakit dihatinya pelan hingga akhirnya ia jatuh terduduk di sisi pembatas atap. “ahhh… apa yang terjadi…? Sakit sekali…”ujar Hye na lirih, menekan dadanya keras kemudian menundukkan kepalanya. Tidak tahu harus melakukan apa lagi. Hye na menelungkupkan wajahnya di kedua tangannya, menyembunyikan tangisnya yang mulai pecah. Belum selesai rasa sakit kehilangan seseorang yang dicintainya, bahkan sangat hilang, kini ia harus mengalami hal itu lagi. Ia benar-benar takut dengan hasil yang akan dikatakan oleh dokter Choi. Ia benar-benar tidak sanggup. Ia seorang dokter, tapi bahkan ia tidak dapat membantu orang yang dicintainya. Ia benar-benar ketakutan.

“gwechana….?”tanya seseorang tiba-tiba, sambil mnyerahkan saputangannya dan duduk disisi Hye na. Hye na mengangkat wajahnya sesaat sebelum tiba-tiba ia terlonjak terkejut duduk menjauh dari orang itu dan menatapnya terkejut dan bingung. “ap..apa yang kau lakukan disini…?”tanya Hye na terkejut. Orang itu hanya tersenyum menatap Hye na sambil menyodorkan sapu tangannya. Hye na menatapnya sesaat “ambilah…”ujar orang itu, kembali menyodorkan sapu tangannya pada Hye na. Hye na mengambil sapu tangan itu dan mulai menghapus air matanya.

“gwenchana…?”tanya orang itu.

Hye na hanya diam tidak menjawab dan kembali menundukkan kepalanya, menyembunyikan air matanya. “…sudahlah… apa yang terjadi…kau ini benar-benar cengeng…”ujar orang itu, yang berhasil membuat Hye na mengangkat wajahnya menatap kesal orang itu. Hye na bangkit berdiri dan mengambalikan sapu tangan milik orang itu “ini!!”ujar Hye na, kesal, sambil kemudian menyerahkan sapu tangan ditangannya kasar pada orang dihadapannya.

“yya!! Kenapa…?”

“jangan ikuti aku…”ujar Hye na yang kemudian bangkit dari tempatnya melangkah pergi meninggalkan orang itu ditempatnya,  orang itu diam “…sepertinya aku salah bicara….”gumam orang itu yang kemudian menghela napasnya panjang.

“…aku Kim Hyun woo…”ujar orang itu kemudian, mengikuti langkah Hye na, membuka pintu dihadapannya dan mencoba mengejar langkah Hye na, mendekatinya. Tiba-tiba Hye na menghentikan langkahnya, menatap orang itu dengan pandangan mengancam “…yya… jangan ikuti aku…”ujar Hye na kesal dan kemudian kembali melangkahkan kakinya yang kini lebih cepat dari sebelumnya. Orang itu diam menatap Hye na “yya… tunggu… aku belum selesai bicara…”ujar orang itu lagi, yang kini berlari mengejar Hye na, menuruni anak tangga demi anak tangga. “tung…”langkah orang itu tiba-tiba terhenti, Hye na menghentikan langkahnya begitu tiba-tiba, membuat orang itu terkejut ditempatnya, menatap Hye na menunggu, namun Hye na masih diam ditempatnya, menatap Hyun woo tidak mengerti “aku KIM-HYUN-WOO”ujar Hyun, menatap Hye na, mencari tahu jawaban yang terlihat diwajahnya, namun, Hye na terlihat masih diam ditenmpatnya, menatap orang itu bingung.

“…kau tidak ingat…”tanya Hyun woo menatap Hye na. Hye na menggelengkan wajahnya kemudian beranjak akan pergi, namun tertahan, Hyun woo menarik lengan Hye na dan menghentikan langkahnya. Hye na diam menatap Hyun woo, kesal “apa yang kau lakukan… lepaskan…”ujar Hye na, kesal. Hyun woo terlihat memejamkan matanya, tidak mempedulikan ucapan Hye na dan tak lama kemudian ia menghela napas panjang, bersabar “…kau memang tidak ingat…”ujar Hyun woo, lirih, menatap Hye na yang masih diam, menatapnya, kemudian dengan cepat Hyun woo menjulurkan tangannya, untuk menjabat tangan Hye na “…perkenalkan Kim Hyun woo…”ujar Hyun woo, menjulurkan tangannya. Hye na diam, Perasaannya yang sudah kesal, semakin kesal karena orang dihadapannya itu dan hanya menatap uluran tangan Hyun woo dengan pandangan yang aneh.

“yya… bukankah etika perkenalan kau harus membalas jika ada orang yang menjulurkan tangannya untuk menjabatmu… jika seperti ini… kau benar-benar tidak sopan…”ujar Hyun woo.
Hye na diam, kini ia benar-benar dibuat sangat kesal. Hye na diam, ia bangkit dari tempatnya, menatap laki-laki dihadapannya, menahan amarahnya, tapi jika dapat mengusir laki-laki menyebalkan yang ada dihadapannya itu, maka… “Han Hye na…”ujar Hye na, membalas uluran tangan Hyun woo dan menjabatnya. Hyun woo tersenyum menatap itu.

“ini lebih baik…”ujar Hyun woo

“sekarang pergi… tinggalkan aku sendiri…”ujar Hye na.

Hyun woo tersenyum mendengar ucapan Hye na, Hyun woo terlihat duduk disisi Hye na dan tidak memperdulikan ucapan Hye na kemudian mulai bicara “… sepertinya Tuhan sudah menakdirkan kita… sepertinya, Tuhan memerintahkanku untuk menolongmu saat kau sedih…”

“apa maksudmu…?”

“ingat di lorong kemarin…”
Hye na diam ditempatnya, mencoba mengingat “…aku juga menemukanmu menangis disana… dan sekarang aku melihatmu menangis lagi… apalagi kalau memang aku ditakdirkan untuk membantumu…”ujar Hyun woo yakin. Hye na diam, menatap Hyun woo dan tidak menyangka dengan ucapannya. Hye na tersenyum “…kau benar-benar orang yang sangat percaya diri…”ujar Hye na.

Hyun woo tersenyum menatap senyum Hye na “harus… kepercayaan diri adalah modal awal dipekerjaanku…”jawab Hyun woo, tersenyum semakin lebar menatap Hye na. Hye na tersenyum, benar-benar tidak menyangka “…ternyata benar-benar aku… lihat… kau sudah tersenyum sekarang…”ujar Hyun woo, menatap Hye na. Hye na terseyum kembali dan mulai menghapus air mata diwajahnya “kau lebih cantik jika kau tersenyum seperti itu… dan aku sangat merindukan senyum itu 2 hari ini…”ujar Hyun woo, menatap Hye na semakin lekat. Hye na terkejut, ia tidak menyangka akan seperti ini, dengan kesadaran penuh, Hye na segera bangkit dari tempatnya “…aku harus pergi…”ujar Hye na, yang kemudian melangkahkan kakinya kembali pergi meninggalkan Hyun woo yang menatap kepergian Hye na, tersenyum.

“Han Hye na…”gumam Hyun woo senang, karena akhirnya ia tahu siapa pemilik air mata dan senyum itu
********

Hye na diam, melangkah pelan keluar dari lantai teratas dari Han hospital dengan tidak menyadari seseorang yang juga berjalan mengikutinya. Pikirannya melayang. Keterkejutan yang diterimanya itu, begitu bertubi dan membuatnya sama sekali tidak mampu memikirkan apapun. Hingga tidak menyadari bahwa ia sudah berada tepat di depan ruangan Jung min. Hye na menghela napas pelan, mencoba menenangkan dirinya, dan perlahan Hye na mengangkat tangannya, mencoba untuk mengetuk, tapi belum sempat tangannya beradu dengan pintu dihadapannya, Hye na menghentikan tangannya, sesuatu membuatnya lebih tertarik. Sebuah percakapan yang terjadi didalam ruang rawat Jung min. Hye na diam, mencoba mencuri dengar. Sepertinya ada 3 orang yang saling beradu pendapat. 2 orang diantaranya memiliki pendapat yang berbeda dengan 1 orang.

Hye na mencoba mengangkat wajahnya pelan, dan mengintip dari celah jendela kaca dipintu, dan betapa terkejutnya ia ketika menatap seseorang. Hye na menyadari sesuatu yang salah, dan saat itu, Hye na dapat merasakan rasa senang dan rasa kesal, sekaligus marah, bercampur jadi satu dihatinya. Ia benar-benar marah.

“Lee Jung min-ssi”ujar Hye na lirih, kesal. Lama Hye na terdiam didepan pintu mencoba mencari tahu semuanya, hingga akhirnya Hye na mengetuk pintu dihadapannya dan melangkah masuk. “bagaimana keadaannya…?”tanya Hye na, menatap En kyu dan dokter Choi yang terlihat terkejut menatap kedatangan Hye na

En kyu dan dokter Choi terlihat diam ditempatnya, menatap Hye na terkejut hingga tidak mampu mengatakan apapun “…bagaimana keadaannya dokter Choi…”ujar Hye na lagi, menatap Jung min yang saat itu masih memejamkan matanya, tertidur di ranjang perawatannya.

“ahhh… menurut hasil pemeriksaannya, semua baik…hanya kelelahan… dan tidak ada sesuatu yang membahayakan… ia… hanya butuh istirahat…”ujar dokter Choi “…dan juga…”

“apa…”

“errrmmm… sedikit perhatian…”ujar dokter Choi, tanpa menatap Hye na. Hye na diam ditempatnya, menatap Jung min kemudian menatap dokter Choi dan En kyu bergantian, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Hye na terlihat masih diam ditempatnya, kini perhatiannya tertuju pada Jung min yang masih memejamkan matanya tertidur, dengan selang infus yang disuntikkan dipergelangan tangannya dan juga selang pernapasan yang menutupi hidung dan mulutnya. Hye na diam, perlahan ia melangkah mendekati ranjang Jung min dan tanpa berpaling dari suaminya itu

“omma…”panggil En kyu tiba-tiba, namun masih tidak membuat Hye na menghentikan langkahnya mendekati Jung min. Hye na masih terus melangkahb mendekati Jung min, mencoba mencari tahu kebenarannya.

Hye na melangkah mendekat, dan dengan tiba-tiba dan cepat Hye na menyibakkan selimut yang menutupi separuh tubuh Jung min.

“bangun…”ujar Hye na, masih menatap Jung min yang memejamkan matanya, namun sepertinya drama itu masih berlangsung, tapi Hye na tidak ingin melanjutkannya lagi, rasa sakitnya tidak sebanding dengan apa yang dilakukan suaminya itu padanya. Bresenang-senang di atas luka yang masih menganga merah, memar.

Hye na menarik napas panjang, mencoba menahan air matanya yang akan jatuh. Hye na  menatap Jung min yang masih diam, memejamkan matanya. Hye na benar-benar marah dan kesal sekarang, walaupun rasa senang telah menghampirinya menggantikan kecemasan dihatinya, namun masih belum dapat mengusir rasa kesal dan marah dihatinya. Perlahan Hye na melangkah mendekat. Ia berjalan memeriksa selang oksigen yang terpasang dihidung Jung min yang terhubung ke tabungnya. Hye na menatap tabung oksigen tersebut yang ternyata sama sekali tidak menyala.

Secara paksa Hye na menarik selang oksigen yang menutupi hidung dan mulut Jung min. Terkejut, Jung min membuka matanya, menatap Hye na “sayang…”panggil Jung min

Hye na diam, tidak memperdulikan panggilan suaminya dan kemudian ia mengalihkan pandangannya menatap infus yang berada di pergelangan tangan Jung min “dan ini…”ujar Hye na, menatap infus di pergelangan tangan Jung min yang ternyata sama sekali tidak mengalir dan jarum yang sama sekali tidak masuk ke saluran pembuluh dan hanya menempel dikulitnya saja. Hye na menarik lepas infus tersebut dan membuangnya keras “…apa kau senang Lee Jung min-ssi…?”tanya Hye na, menatap Jung min dengan pandangan berbinar, menahan air mata sekaligus juga menyimpan sesuatu yang lain, yang Jung min tidak memahami apa itu.

Jung min masih diam, keduanya saling menatap kini. Mencoba saling memasuki lorong bagian terdalam dari hati masing-masing. Hye na diam, kini air mata kembali jatuh, membasahi pipinya membuat rasa sakit dan berhasil menambah rasa sakit yang berkali lipat di hati Jung min. Hye na menghela napas pelan, mencoba menenagkan dirinya.  Dipejamkannya matanya pelan.

“sayang…”panggil Jung min lirih, seketika itu Hye na membuka matanya. Tatapan Hye na kini berubah. Hye na menatap Jung min penuh kebencian, sangat marah padanya.

“sudah cukup semuanya…” Hye na menghentikan ucapanya sesaat, memejamkan matanya kembali, mencoba menenangkan dirinya, kemudian… “aku benar-benar benci padamu Lee Jung min-ssi…”ujar Hye na masih dengan pandangan penuh kebencian. “dokter Han…”

“tidak dokter Choi… sebaiknya kau tidak ikut campur lagi…” potong Hye na

“mianhe omma…”tambah En kyu

“…sudahlah… omma…” kalimat Hye na terputus, tiba-tiba seseorang membuka pintu di hadapan Hye na hingga menjeblak terbuka

“disini kau rupanya…”ujar orang itu, menatap Hye na tersenyum dan memeluknya erat, tepat dihadapan Jung min, En kyu dan dokter Choi yang menatap adegan itu sama terkejutnya dan sama tidak menyangkannya dengan Hye na.

“aku sudah mencarimu dan ternyata…” orang itu melepaskan pelukannya dan menatap sekelilingnya, pandangannya kini terpusat pada laki-laki yang berdiri tak jauh di belakang Hye na

“Lee En kyu…”panggil orang itu, menatap En kyu terkejut, dna kini berhasil membuat Hye na, Jung min dan dokter Choi mengalihkan pandangannya.

“Kim Hyun woo…!!!”

*********

End Of Chapter
« Last Edit: June 21, 2012, 07:01:45 pm by ai_yuki »

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Jung Min kenapa juga pake pura-pura sakit sih ???? marah lagi kan Hye na. dan apa tujuan Jung Min, Eun Hyuk yang dibantu dengan dr.choi untuk membohongi Hye na???

Hyun Woo kenapa juga maen peluk sembarangan istri orang [head break] [head break] [head break] ga tau ya itu lakinya ada di depan mata [head break] [head break] [head break]

berharap yang terbaik buat pasangan Jung Min dan Hye na.

Yuki, komawo dear udah di up date [lovestruck]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
.gumawo udah update eonni..
.saengil chukkae buat pernikahannya hye na dan jung min,semoga langgeng sampai maut memisahkan dan semakin mesra..
.aduh jung min dan kawan kawan tega banget ngerjain hye na..kasian hyena dia khawatir banget terjadi apa apa terhadap jung min.
.hyun woo ! Siapakah dirimu sebenernya ? Maen peluk peluk istri orang.
.gimana ya reaksi jung min stlah ini.
.eonni brapa sih usianya hye na,jung min,enkyu,minjae,jaemin,seunggi,dan hyun woo.
.lh0h kok bisa en kyu dan hyun woo saling kenal.
.apakah hyun woo memiliki ambisi untuk mrebut hye na dari jungmin.
.next chap jangan lama" lagi ya eon..

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Yang di short ff jgn lupa di update juga ya eon..

Offline anggi pratama putri

  • Newbie
  • *
  • Posts: 29
  • NewCouple
  • Location: PALEMBANG
    • View Profile
aku kecewa ! kecewa banget sama cerita ini . kenapa harus kepotong ! Lagi seru tuh !! . ternyata hyun woo adalah temennya en kyu ?! waduhh gawat .. ga mungkinkan en kyu bilang teman ku adalah calon ayah tiri ku #gubrak

Tuh juga si Jung Min ! kenapa pura-pura sakit segala ?  [collapse] [collapse] ga lucu banget  [bored] kasihan Hye na nya !  hammer2 hammer2 hammer2 biarin tuh hye na marah .. semoga aja HYUN WO  bakal tinggal di rumah mereka .. biar tambah lengket tuh ! hahahha si hye na lamain aja marahnya biar Jung min kapok  [goodgrief] [goodgrief] . Oh ya thanks daa upload   [bye] [bye]

JiSun Coupe