Author Topic: Full Of Love (Song of Life 2) Chapter 17, update  (Read 23079 times)

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: Full Of Love (Song of Life 2) Chapter 17, update
« Reply #390 on: August 28, 2013, 08:20:51 am »
Chapter 17

 
Hye na bangkit dengan cepat dari tempatnya. Sambil menahan mual yang bergejolak dari perutnya, ia berlari kekamar mandi, untuk mengeluarkan semua yang harus dimuntahkannya, namun tidak ada, hanya cairan dan ia baru teringat, ia belum makan apapun malam itu. Hanya segelas air untuk memulihkan perasaannya, itu saja hanya dapat mengalir turun dan jatuh ke ginjalnya tanpa meninggalkan efek apapun. Rasa hausnya pun masih merasuk saat itu. berapapun gelas air mineral yang diminumnya seakan tidak meninggalkan efek apapun.

Hye na memutar keran, menatap aliran air yang mengalir. Berputar, membulat kemudian menghilang. Andai rasa sakit dihatinya dapat seperti air yang ditatapnya, yang segera menghilang larut dan pergi. Hye na mendesah, dan terdiam. Keterdiamannya membawanya kembali ke hal yang membuatnya seperti itu. Ingatannya membawanya kembali ke kejadian semalam yang menyakitinya dan menyesakkan hatinya.

Flashback

Hye na baru saja memasukkan beberapa bumbu yang ia butuhkan ketika pandangannya teralih pada seseorang yang sangat ia nantikan kehadirannya, yang baru saja melangkah masuk bersama seorang.... wanita yang tampak menopang tubuhnya. Hye na diam, terkejut kaku menatap itu. Dia tidak sendiri. Jung moon dan En kyu masih bersama dirinya, keduanya pun tampak menatap diam keduanya. “appa...”panggil En kyu masih dengan tatapan terkejut. Hye na tahu dan sangat mengerti keterkejutan anak laki-lakinya itu. selama hidupnya, En kyu tidak pernah melihat sang ayah dalam keadaan yang buruk seperti yang dilihatnya saat itu.

Itu adalah hal pertama dan baru bagi seorang En kyu dan anaknya yang lain. Ayahnya tidak pernah mabuk dan datang bersama seorang wanita lain selain ibu mereka, dan sekarang ini hal itu telah terjadi.

Hye na menghela napas panjang, dan melangkah kearah keduanya yang terhenti ketika menyadari tatapan beberapa orang. Tentu saja bukan Jung min yang menyadarinya, tetapi wanita itu. Jung min tampak mabuk dan setengah sadar, hingga tidak menyadari ia telah berada di rumahnya.

Hye na menatap wanita itu tersenyum “...bisakah saya membantu...?”tanya Hye na menatap wanita itu, setelah melingkarkan lengannya di lengan Jung min berusaha menopangnya menggantikan wanita itu, namun sesuatu mengejutkannya. Sesuatu yang tidak pernah terjadi padanya.

Hye na merasakan Jung min mengibaskan lengannya kuat, membuat Hye na melepaskan dekapan lengannya dan menatap Hye na tajam “...JANGAN SENTUH AKU DENGAN TANGAN KOTORMU!!!”seru Jung min keras, menyadari keberadaan Hye na seakan semua minuman yang diminumnya tidak mempengaruhinya. Jung min tampak mengangkat wajahnya, pandangannya yang lelah dengan mata yang tampak mengantuk, menatap Hye na. dan sebuah kalimat yang menyakitkan kembali keluar dari mulut mabuknya yang terbata-bata “...aku...tidak...membutuhkanmu...hikk... per...pergi!! pergi dari sini!! Menjauh dari pandanganku...!!” Jung min menekan perutnya, menahan mualnya “...hikkk... pergi!!! mu..ak.... ak...aku hikk... aku sudah muak denganmu...!!aku benar-benar benci padamu!!”ujarnya lagi.

Hye na diam, wanita itu diam, mengalihkan pandangannya menatap Jung min, menyadari teriakan Jung min pada Hye na kemudian menatap Hye na dari ujung kaki ke kepalanya, seakan menilai, dan tanpa mengacuhkan Hye na ia mengalihkan pandangannya menatap Jung moon dan En kyu yang masih menatap wanita tersebut dan Jung min. “...apa kau anaknya...?”tanya wanita itu, menatap En kyu.

En kyu diam, namun langkahnya mendekat, dan berdiri disisi Hye na, menatap wanita itu tajam. “bantu ayahmu... tidak ada pelayan yang dapat menyentuh tuannya bukan...?”ujar wanita itu, menatap Hye na sinis, menganggap Hye na sebagai pelayan disitu.

En kyu menatap tajam wanita itu, ingin membantah, namun Hye na mencengkeram keras lengan En kyu dan tersenyum menatapnya “...bantu ayahmu...”ujar Hye na lirih, kemudian membalikkan tubuhnya. Hatinya sakit dan teriris. Bukan karena anggapan wanita itu padanya. Ia sakit dengan apa yang dikatakan Jung min padanya dan atas tindakannya. Jung min benar-benar marah padanya. Tangis Hye na tertahan. Senyum lebar masih tampak diwajahnnya. Hye na menahan air matanya agar tidak jatuh, namun hatinya menangis darah saat itu, dan rasanya sangat sakit. Jung min sudah menorehkan luka cukup dalam dihatinya.

En kyu menatap Hye na sesaat kemudian segera mengambil alih sang ayah dan membawanya pergi, menyusul Hye na yang sudah meninggalkan mereka. Jung moon menatap kepergian Hye na. Ia menyadari air mata yang jatuh, membasahi pipi Hye na, dan ia merasa sakit dihatinya. Jung moon bangkit mengejar langkah Hye na cepat, sebelum ia berbelok di ujung lorong. Jung moon menatap Hye na iba dan Hye na hanya membalasnya dengan sebuah senyuman “...gwenchana...?”tanya Jung moon. Hye na diam, kemudian senyum tampak melebar diwajahnya,”gwenchana...”jawab Hye na, berusaha seperti biasanya. Jung moon diam, ia mengerti, walaupun senyum tampak merekah diwajahnya. Jung moon menyadari rasa sakit di hati Hye na.

Jung moon menatap Hye na diam “...gwenchana oppa...”ujar Hye na lagi sambil melepaskan cengkraman tangan Jung moon di pergelangan tangannya. Jung moon masih menatapnya diam.

Hye na menatap Jung moon sesaat, senyum masih terlihat diwajahnya “...aku lelah oppa...”ujar Hye na.

Jung moon diam, menyadari jika ia tidak boleh menanyakan apapun lagi, karena akan semakin menyakiti hati wanita dihadapannya “...baiklah... aku akan mengurus suamimu... kau istirahatlah...”ujar Jung moon.

Hye na tersenyum, menganggukkan kepalanya kemudian mulai melangkah kearah kamar Ha na. Langkahnya tampak biasa namun tak berapa lama, langkah itu tampak lebih cepat dari sebelumnya, seakan seseorang tengah mengejarnya. Jung moon tahu, Hye na ingin menutupi kesedihannya. Dan saat itu ia benar-benar tidak dapat menahannya lagi. Hye na menangis, terisak tertahan, takut membangunkan putri kecilnya yang sudah terlelap. Dan karenanya, hatinya terasa lebih sakit dan terasa sangat sakit.

End Of Flashback


Air mata Hye na perlahan jatuh. Air mata yang mengalir deras semalam kini mulai membuncah kembali dari sepasang mata indahnya. Hye na menarik napas panjang sebelum kemudian ia membasuh wajah dan mulutnya singkat dan melongokkan kepalanya dari kamar mandi ketika mendengar tangis Ha na yang membahana. Sepertinya anak perempuannya terbangun oleh gerak cepatnya beberapa saat yang lalu dan membuatnya terkejut.

“ahhh...sayang mianhe... kau jadi terbangun...”ujar Hye na sambil kemudian mengangkat Ha na kedalam pelukannya, dan menepuk punggungnya lembut. “...kau ingin makan sesuatu sayang...?”tanya Hye na, menatap wajah Ha na dengan kedua matanya yang bulat besar, membuatnya semakin gemas pada anak perempuannya itu. Ha na tersenyum menatap Hye na, seakan memberikan jawabannya. Hye na membalas senyum itu “...kalau begitu kau bantu omma memasak untuk sarapan pagi ini...? bagaimana sayang...?”tanya Hye na, menatap Ha na yang kini tersenyum semakin lebar, mengerti perkataan Hye na. Hye na tersenyum lebar menatap itu, dan kesedihannya untuk sementara menghilang. Seperti air yang beberapa saat yang lalu ditatapnya.

***********

Pagi mulai menjelma. Sinar matahari mulai hadir perlahan, dan segera menerangi permukaan bumi. Jung min memejamkan kedua matanya lebih rapat, silau dengan sinar mentari yang masuk melalui jendela kamarnya, namun dengan perlahan ia membuka matanya dan menatap sekelilngnya. Saat itulah ia merasakan rasa sakit dikepalanya. Jung min bangkit, dengan menekan dahinya kuat. Ia mendesah sakit “akkhh...”keluhnya sambil kemudian mengalihkan pandangannya menatap sisi ranjangnya. Tidak ada siapapun disana. Ranjang disisinya kosong dan terlihat tidak ada tanda-tanda seseorang berada disana sebelumnya. Jung min diam, ditepuknya kepalanya pelan. Kesadarannya belum pulih seluruhnya, namun rasa sakit dihatinya, membuatnya merasakan apa yang dirasakannya sebelumnya.

“kau sudah bangun...”ujar seseorang tiba-tiba, menatap Jung min yang tengah menepuk kepalanya pelan, terlihat bersedih dengan apa yang sudah dialaminya. Orang itu berdiri membelakangi sang mentari, membuat wajahnya tidak terlihat dan hanya sebuah siluet yang dapat dikenali Jung min. Jung min mengalihkan pandangannya cepat, menatap orang itu, namun secepat sebelumnya, ia kembali memalingkan wajahnya kembali, menghindari sinar mentari yang menusuk sepasang penglihatannya. “kau sudah pulang...”ujar Jung min lemah, dan perlahan bangkit dari ranjangnya, melangkah melewati orang itu.

“YYA!!!”panggil Seung gi yang sama sekali tidak digubris oleh Jung min yang terus melangkah kearah kamar mandi. Jung min diam dan mulai membasuh wajahnya dengan air dingin, berharap rasa sakit dikepalanya dan segala yang sudah terjadi sebelumnya hilang terbawa aliran air, tetapi itu semua... tidak mungkin.

Seung gi menatap diam Jung min dihadapannya, khawatir, iba sekaligus kesal. “...apa yang sudah kau pikirkan... kenapa kau kembali seperti ini lagi... apa kau tidak ingat dengan operasi ginjalmu...”

Jung min diam, menatap Seung gi tanpa ekspresi dan melangkah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pundaknya. “yya...”panggil Seung gi. “apa yang terjadi...?”

Jung min masih diam. Tidak memperdulikan Seung gi “YYA!!! aku sedang bertanya padamu LEE JUNG MIN!!!”seru Seung gi tidak sabar lagi dengan sikap Jung min.

Dengan tatapan marah, Jung min melangkah mendekati Seung gi, menatapnya tajam, tanpa ampun. “...aku sedang tidak ingin membicarakannya!!”ujarnya tegas “...Dan aku tidak peduli lagi... aku tidak peduli lagi dengan ginjal atau dengan apapun!! AKU TIDAK PEDULI!!!”seru Jung min kesal, melangkah pergi meninggalkan Seung gi setelah melempar kasar handuk yang sebelumnya masih melingkar di lehernya.

Seung gi diam, terkejut dengan sikap Jung min padanya. Teringat kembali kenangan yang menyakitkan, sama sekali tidak menyangka, setelah beberapa tahun, kenangan itu kembali lagi, dan kembali menyakiti hati Lee Jung min, bahkan ia dapat mengetahui jika yang satu ini lebih dalam dari sebelumnya. Seung gi menarik napas panjang. Semua karena foto itu. foto yang membuka luka lama seorang Lee Jung min.

Foto yang memperlihatkan hal yang mirip dengan kejadian lama itu. Foto yang memperlihatkan sesuatu. Foto yang akan dianggap seorang Lee Jung min sebagai bukti yang tidak terbantahkan. Dan hal itulah yang ia sesalkan dari seorang Jung min, percaya begitu saja apa yang dilihatnya, tanpa ingin mendengarkan sebuah penjelasan terlebih dahulu.

Seung gi melangkah perlahan, menundukkan kepalanya, memikirkan sesuatu hingga tiba-tiba seseorang menepuk punggungnya pelan, menyadarkannya dari keterdiamannya.

“ahh... Seung gi-ssi...”panggil orang itu. Seung gi memalingkan wajahnya, menatap sosok wanita dihadapannya. senyum manisnya masih terlukis indah diwajahnya, walaupun banyak tekanan yang Seung gi yakini sudah diterimanya hingga kini “...Hye na-ssi...”jawab Seung gi, membalas senyumnya, lemah.

“ya... kapan kau pulang... bukankah kau cuti cukup lama... apa kau kembali bersama dokter Min...?”tanya Hye na, menatap Seung gi, masih dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya. Tidak terlihat kesedihan disana. Seung gi tersenyum, tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Hye na menatap Seung gi sesaat, senyumnya hilang.

“apa segalanya baik disana...?”tanya Hye na terlihat khawatir “...apa dokter Min baik...?”tanyanya lagi.

Seung gi mengalihkan pandangannya, menatap Hye na semakin tidak mengerti “...gwenchana...?” tanya Seung gi, tiba-tiba, mengacuhkan pertanyaan Hye na sebelumnya, menatap Hye na tajam, penuh rasa khawatir.

Hye na terkejut sesaat, bingung dengan sikap Seung gi. “yya... aku baik-baik saja... memang ada apa...?”tanya Hye na.

Seung gi menatap Hye na semakin lekat. Dan Hye na mulai mengerti arah pembicaraan Seung gi. Hye na sedang tidak ingin membahasnya. Hye na memang tidak mungkin melupakannya, tapi ia ingin beberapa saat melupakan masalah itu.  “kau sudah sarapan...?”tanya Hye na tersenyum.

Seung gi masih diam, menatap Hye na “...ayo kita sarapan bersama... oppa dan anak-anak pasti sudah menunggu...”ajak Hye na yang segera melangkah pergi, kemudian disusul Seung gi yang mengikuti langkahnya, menatap sosok Hye na lekat, dan ia yakin hatinya menangis, dibalik sosoknya yang tegar.

********

Pak Yang mengetuk pintu dihadapannya perlahan. Banyak berkas ditangannya membutuhkan bubuhan tanda tangan seseorang yang berada dibalik pintu itu. Pak Yang menatap pintu dihadapannya, lama tidak terdengar jawaban. Tidak seperti biasanya. Pak Yang mengetuk pintu itu lagi, dan lagi-lagi tidak terdengar jawaban dari dalam. Pak Yang  diam, dan kemudian perlahan ia membuka pintu dihadapannya. menatap sesaat kearah kursi besar dibalik sebuah meja, namun yang dicarinya tidak terlihat disana. Pak Yang masuk, melangkah kearah meja dan perlahan meletakkan semua berkas ditangannya sebelum kemudian mengedarkan pandangannya dan terkejut dengan sesuatu.

Pak Yang melangkah mendekat ke sesosok laki-laki dibalik sofa panjang diruangan itu. Pak Yang menatapnya sesaat. Wajah yang berbeda dari yang terlihat saat wajah itu membuka sepasang matanya dan mengerutkan alisnya, berpikir. Wajah itu tampak tenang dan damai. Pak Yang tersenyum menatap itu.

Pak Yang tampak membungkuk, menatap lebih dekat wajah itu. wajah yang sama yang terlihat beberapa tahun yang lalu, sebelum segalanya dimulai. Sebelum hal itu merubah segalanya. Merubah kebahagiaan, kedamaian dan ketenangan laki-laki dihadapannya itu dan tiba-tiba sesuatu membuatnya terkejut. Nama seseorang terdengar dari bibir yang tersenyum itu, dalam bentuk gumaman lirih “...Hye na...”



Flashback

Pak Yang menatap laki-laki muda yang tengah tersenyum lebar, berdiri disisi sang kakek yang tengah meletakkan lengannya di bahunya, berusaha mendekatkan keduanya sekaligus menginginkan bantuan untuk menopang tubuhnya yang mulai lemah. Pak Yang dapat melihat tatapan penuh cinta milik seorang Cha In soo yang semakin hari semakin bertambah saat menatap gadis yang kini terlihat bersama sang ayah. Gadis cantik itu tampak senang sekaligus bosan menatap 3 laki-laki yang tengah disibukkan dengan stick golf dan padang rumput yang panas. Han Hye na, menatap ketiganya dibalik topinya. Dan senyum terkembang lebar saat pandangannya beradu dengan Cha In soo. Dengan cepat Hye na menutup bukunya ketika menyadari langkah In soo yang berjalan mendekatinya.

“kau tidak ingin main...”tanya In soo, duduk disisi Hye na dan mengamati sang kakek yang tengah mengayunkan stick golfnya. Hye na tersenyum, kemudian perlahan wajahnya mendekati In soo, menatapnya lekat “...aku tidak bisa...”ujarnya lirih, malu-malu, namun yang tampak memerah diwajahnya adalah Cha In soo ketika menyadari begitu dekatnya wajah Hye na di kedua matanya. Hye na menyadari itu “wae... ada apa...? kau sakit...?”tanya Hye na sembari bangkit dari tempatnya menatap In soo lekat, khawatir. Cha In soo tampak semakin memerah, dengan tiba-tiba ia bangkit dari tempatnya, menatap Hye na gugup dan melangkah pergi dari tempatnya dengan langkah yang cepat.

Pak Yang tersenyum menatap itu, menatap kebingungan di wajah Hye na dan menatap rasa malu yang sangat dari wajah tuan mudanya itu. Perlahan Pak Yang melangkah mendekati Hye na dan berdiri disisinya yang masih menatap In soo diam “...Pak Yang... apa oppa tidak apa-apa... wajahnya sangat merah...”

“gwenchana agashi... tidak apa... hanya beri dia waktu untuk sendiri... sebentar lagi ia akan kembali dan segalanya akan terlihat baik...”ujar Pak Yang sambil terus berusaha menahan senyumnya.

Dan kemudian lokasi berpindah. Pak Yang menatap 3 orang laki-laki yang tengah disibukkan dengan makan siang mereka, namun seseorang diantaranya tiba-tiba menghentikan tangannya yang tengah menyendok makanannya, seakan teringat sesuatu yang sangat penting. Ia tampak mengedarkan pandangannya, membuat Pak Yang ikut mengedarkan pandangannya, mencari tahu apa yang berusaha dicarinya “...ada yang bisa saya bantu tuan muda...?”tanya Pak Yang, menatap Cha In soo bingung.

In soo diam, tidak mempedulikan Pak Yang sesaat, hingga, tatapannya tertumpu pada seseorang. Cha In soo tampak tersenyum kemudian bangkit dari tempatnya setelah berpamitan dengan sang kakek dan tuan Han. Pak Yang diam, dan tatapannya pun jatuh pada seseorang yang tengah ditatap dengan lembut oleh tuan mudanya. Pak Yang tersenyum, menyadarinya. Langkahnya yang tengah mengikuti Cha In soo terhenti, memberikan waktu dan kesempatan pada tuan mudanya.

Cha In soo melangkah mendekati seseorang yang tengah duduk miring, bersandar di salah satu sofa panjang di ruangan itu. Dengan posisi kaki ditekuk di dadanya, meringkuk bagaikan janin dalam rahim ibunya. Tubuhnya membelakanginya, hingga tidak menyadari kedatangannya, atau karena... Senyum In soo melebar ketika menyadari gadis dihadapannya tampak terlelap. In soo melangkah perlahan mendekatinya kemudian duduk dengan posisi yang sama, berhadapan dengannya “...Hye na...”gumamnya lembut yang kemudian mulai menutup kedua matanya, tertidur.

Pak Yang menatap itu, tersenyum dan melangkah mendekat, mencoba menangkap dan menyimpan moment itu. Senyum yang indah terlukis diwajah tuan mudanya itu. Kedamaian yang telah hilang kini tampak kembali. Setelah sekian lama...

End Of Flashback


Pak Yang terdiam, memikirkan segalanya kembali, gumaman rendah kembali terdengar dan membuatnya kembali kedunia nyata. Pak Yang tersenyum, menggelengkan kepalanya, berusaha menghapus angannya.

Ditatapnya kembali sang tuan muda. Senyum kembali terkembang diwajahnya. Seandainya segalanya berjalan dengan baik. Seandainya tidak ada pengambil alihan dari mereka. Seandainya segalanya senormal sebelumnya. Seandainya keluarga itu tidak menghancurkan keluarga tuan mudanya. Dan seandainya perjanjian itu tidak ada... Seandainya... Pak Yang mendesah pelan. Pandangannya kembali pada tuan mudanya yang tampak lelap di tidurnya, tidak tega membangunkannya, Pak Yang meninggalkan sesuatu di meja di hadapan laki-laki itu. Sesuatu yang akan membuat tuan mudanya itu tersenyum lebar karena senang.

***********

"ah... sudah cukup hentikan... kalian ini... Benar-benar pintar menggoda eomma.."ujar Hye na yang kemudian di susul tawa lebar darinya, membuat 5 laki-laki dihadapannya terdiam, terpana dengan apa yang dilihatnya. Tawa yang secerah dan sehangat matahari pagi itu. Tawa yang menyiratkan bahwa segalanya baik-baik saja. Tawa yang tampak tulus.

Jae min tertawa," tapi memang seperti itu eomma.. Bahkan Min jae mengakuinya.." tambah Jae min. Min jae yang sebelumnya sudah merasa malu dengan candaan saudara kembarnya semakin memerah dan semakin menatap kesal saudara kembarnya. Jae min tersenyum senang, kali ini ia berhasil. Teringat sesuatu, Jae min mendekatkan tubuhnya ke arah sang ibu, "dia... Mirip sekali dengan eomma..."ungkap Jae min, yang kini berhasil membuat sang eomma tertawa semakin keras dan semakin membuat Min jae kesal pada saudara kembarnya itu.

Dengan cepat dan tiba-tiba ia bangkit, tepat ketika terdengar tepuk tangan seseorang tak jauh dari tempat mereka, membuat seluruhnya mengalihkan wajahnya menatap keasal suara itu "bagus sekali.. Segalanya memang biasa saja.. Tidak ada masalah atau..."laki-laki itu menghentikan ucapannya, mengalihkan pandangannya pada Hye na dan menatapnya tajam, menyalahkan "...pengkhianatan"tambahnya lagi, membuat senyum di wajah Hye na menghilang. Bola mata Hye na melebar ketika mendengar kata terakhir yang terlontar dari mulut Jung min. Hye na menatap terkejut suaminya itu. Suami yang sudah hidup dengannya selama 14 tahun ini, suami yang selalu mengucapkan kalimat yang manis padanya, kini... Berbeda. Sebuah kata tajam kini semakin memperparah robekan dihatinya, mencingcang hatinya dengan tajam dan bertubi.

Jantung Hye na berdebar kencang ketika memikirkan anak-anaknya tengah bersamanya saat itu. memikirkan anak-anaknya mdnengar dan menatap semua hal itu. Hye na mendesah menatap semua orang dihadapannya. "kalian akan terlambat nak.."ujar Hye na, dengan senyum lembutnya, menatap anak kembarnya. Jae min dan Min jae mengerti. Keduanya tersenyum menatap sang ibu "ne omma kami berangkat.."ujar Min jae

Jung min masih diam menatap Hye na yang tampak tersenyum walaupun sudah terbentuk luka yang menganga dan mulai mengeluarkan darah di hatinya "aku akan mengantar mereka.."ujar Jung moon, ketika menyadari tatapan -berikan aku waktu untuk bicara dengannya- dari Hye na, begitu pula dengan Lee Seung gi dan En kyu "aku akan membawa Ha na jalan-jalan" ujarnya. Hye na tersenyum menatap mereka, dan senyum itu berubah kesedihan ketika En kyu mengambil Ha na yang diam menatap bingung pada ibu, ayah dan kakak laki-lakinya itu "ayo ikut oppa sayang.. kita jalan-jalan" ujar En kyu, tersenyum dan mengambil Ha na, menggendongnya, menatap prihatin pada sang omma sesaat kemudian beranjak pergi.

Hye na diam, menatap Jung min yang masih menatapnya tajam. Tatapan yang berbeda dari biasanya. Tatapan tajam yang penuh kemarahan, bukan lagi tatapan tajam yang intens dan penuh kasih. Hye na menatap wajahnya, cukup dekat dan ia mencari sesuatu. Sesuatu itu hilang. Hye na tidak melihat lagi diwajah tampan suaminya itu. Senyum itu juga hilang dari wajahnya. Hye na diam, hatinya semakin sakit. Kebersamaan keduanya yang sudah 14 tahun seakan hancur begitu saja dan tidak membekaskan apapun selain tatapan tajam penuh kemarahan, dingin dan banyak menyimpan kebencian.

“kau ingin sarapan dengan apa...?”ujar Hye na, mencoba membuka percakapan, dengan menaikkan keberaniannya, namun tidak ada jawaban, bahkan kini Hye na dapat menatap picingan tajam tatapan suaminya itu. Jantung Hye na berdegup kencang, ia mencoba melanjutkan “aku masak semua makanan kesukaanmu...”tanya Hye na tersenyum, berusaha memecah keheningan antar keduanya. Jung min diam, menatap Hye na semakin dingin. ‘oh tatapan itu...’ batin Hye na. Hatinya semakin sakit mengetahui tatapan dingin dari suami tercintanya itu. Jung min melangkah mendekat kearahnya. Kebencian semakin bertambah di hatinya. Hye na menatapnya, melangkah mundur, dan kini Jung min berhasil memojokkannya. Menekan tubuh Hye na pada ujung meja makan, membuatnya meringis, menahan rasa sakit di sekitar punggung bawahnya.



“JANGAN-PERNAH-BICARA –PADAKU-SEOLAH TIDAK TERJADI APAPUN!”ujarnya tersengal karena kemarahanya dan menekan setiap kata dikalimatnya. “... itu membuatku semakin muak padamu!!”seru Jung min lagi, masih menatap marah pada Hye na kemudian dengan cepat ia membalikkan tubuhnya, pergi dari hadapannya. Hye na diam. Matanya terasa panas. Air mata sudah mulai tampak dipelupuknya, namun rasa sakit dihatinya belum mampu membuat air mata itu jatuh. Luka dihatinya semakin tergores besar dan semakin mengeluarkan banyak darah, meskipun demikian air matanya masih tetap bertahan ditempatnya. Hye na merasa tubuhnya gemetar, rasa dingin mulai merasukinya, ia tidak sanggup lagi, hingga kemudian ia merosot jatuh, terduduk, menatap nanar lantai putih ruangan itu.

Jung min melangkah pergi meninggalkan Hye na dengan wajah penuh kemarahan. Hye na menyadari itu dan sesaat kemudian secara tiba-tiba ia merasakan sebuah desakan diperutnya. Bukan sekedar desakan yang biasa, seakan ada seseorang yang telah menendang perutnya cukup keras, dan Hye na mulai menyadari. Anaknya, batinnya, membuatnya memiliki kekuatan. Hye na bangkit dengan cepat, dengan menahan rasa sakitnya, ia menatap kepergian Jung min yang tampak melangkah cepat menaiki tangga. Hye na mengejarnya, mencoba melangkah secepat langkah suaminya itu hingga akhirnya ia dapat meraih lengannya sebelum ia mencapai anak tangga teratas.

“dengarkan aku...”ujar Hye na, membalikkan tubuh Jung min hingga keduanya saling menatap tajam. Keterkejutan tampak di wajah Jung min, namun hanya tampak sesaat, kemudian keterkejutan itu tergantikan oleh kemarahan yang menjadi. “LEPASKAN!! JANGAN PERNAH MENYENTUHKU!!”seru Jung min, mengibaskan tangan Hye na cukup keras.

Hye na terkejut, menyadari kebencian suaminya itu. Hye na diam, menundukkan kepalanya, menatap perutnya yang masih belum tampak membuncit, namun ia dapat merasakan anaknya disana. Dan lagi-lagi itu memberikannya kekuatan. Hye na mengangkat wajahnya cepat, menatap Jung min tidak kalah tajam dan berani “dengarkan aku... setelahnya terserah padamu...”ujar Hye na.

Jung min diam, menatap Hye na, menunggu. “...aku tidak mengenal laki-laki itu... bahkan aku tidak pernah kesana... aku berada di rumah sakit malam itu.... aku tidak pernah pergi bersamanya... aku tidak pernah...”

“TUTUP MULUTMU!!”seru Jung min keras, cukup membuat Hye na diam, membekap mulutnya terkejut. Air mata mulai tampak di pelupuk matanya, menunggu saatnya untuk jatuh. Jung min menarik napas panjang menatap air mata itu. Ia tidak tahan menatap air mata kekasih hatinya itu, tapi hatinya sudah dipenuhi oleh kebencian pada wanita dihadapannya itu, hingga tidak lagi tersisa rasa yang sebelumnya ada.
Hye na menatap terkejut pada Jung min “...aku tidak berbohong...”ujar Hye na yang kini terdengar berbisik. Jung min tertawa tidak percaya, “apa yang dapat kau berikan untuk membuktikannya”tantang Jung min, menatap Hye na, menunggu.

Hye na diam, ia tidak memiliki apapun untuk membuktikannya, tapi bukankah penjelasan seharusnya sudah cukup, kenapa... Hye na tidak tahu, Hye na tidak mampu membuktikannya, ia...

Jung min menatap Hye na sinis, dan kemudian melangkahkan kakinya kembali, namun lagi-lagi, Hye na menghentikannya, ia tidak mau menyerah begitu saja, ia harus bisa meyakinkan suaminya itu. Hye na menghentikan langkah suaminya, membuatnya membalikkan tubuhnya dan keduanya saling menatap. Tatapan yang kini tampak berbeda, hingga kemudian ia kembali merasakan sakit dihatinya saat Jung min mengibaskan tangannya kuat, dan saat itulah segalanya terjadi dan tidak dapat kembali di putar ulang kembali. Penyesalan selalu hadir diakhir...

***********

Hye na menghentikan langkah suaminya, membuatnya membalikkan tubuhnya dan kini keduanya saling menatap. Tatapan yang kini tampak berbeda, hingga kemudian ia kembali merasakan sakit dihatinya saat Jung min mengibaskan tangannya kuat, sangat kuat, hingga mampu membuat tubuhnya oleng, Hye na kehilangan keseimbangannya, dan ketika itu Hye na tidak menyadari posisi tubuhnya. Hingga kemudian, ia merasakan tubuhnya seakan melayang, terbang, ia merasa tubuhnya terasa sangat ringan. Sesaat, ketika itu, ia menyadari perubahan dari tatapan Jung min. Tatapan terkejut yang sangat. Matanya terbelalak dan mulutnya terbuka lebar.



Sebelum kemudian ia merasakan tubuhnya saat ia berguling, dan kemudian jatuh berdebum cukup keras, menyentuh lantai yang dingin.

Dan sepersekian detik kemudian ia merasakan rasa sakit yang sangat, meledak di kepalanya, dan diseluruh tubuhnya, matanya terasa panas dan penuh dengan air mata. Hye na dapat merasakan penglihatannya mulai mengabur saat dampak dari rasa sakit itu menggaung di kepalanya, dan diseluruh tubuhnya, kemudian rasa sakit di tengkoraknya mulai terlepas, berdenyut keras dan ... mengalir keseluruh tubuhnya. Seluruh tulangnya terasa remuk, hingga ia tidak dapat menggerakkannya lagi. Hye na bertanya dalam tangis diamnya, ia tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Ia tidak dapat menebak, tidak dapat merasakan apapun.

Napasnya terasa mulai menyakiti dadanya dan kemudian rasa sakit itu mulai menjalar di perutnya. Rasa sakit yang sangat, membuat air matanya jatuh. Hye na mencoba menggerakkan tangan dan kakinya. Menarik kakinya keatas, meringkuk menjadi bola mencoba mendekap dan menahan rasa sakit di perutnya, namun terasa berat dan sulit. Ada apa...? rasanya sakit sekali... ada apa...? namun suara itu tidak keluar, dan hanya bergaung di kepalanya, bergaung tanpa ada jawaban. Hye na diam, pandangannya mulai mengabur kembali, hingga kemudian ia memutuskan untuk menutup matanya. Kegelapan, keheningan dan rasa sakit merajanya. Kemudian terdengar langkah cepat di sisi tubuhnya, dan akhirnya sebuah suara... Hye na dapat mendengar sebuah suara yang sangat ia rindukan. Perlahan Hye na membuka matanya. Dan air mata semakin berjatuhan ketika ia mendengar namanya dipanggil dengan lirih namun menyimpan banyak keterkejutan dan ketakutan “..Hye na...”panggilnya, lirih, lembut.



Hye na menatapnya, mencoba tersenyum, tapi ia tidak tahu. Ia tidak dapat merasakan apapun, bahkan senyum yang ia coba tunjukkan. Hye na mencoba mengangkat tangannya untuk menyentuh wajahnya, mencoba menghilangkan keterkejutannya, namun ia tidak dapat melakukan apapun, seakan ada beban berat yang menahan tangannya untuk bergerak. Bibirnya terbuka, menganga menatap padanya. Tatapan ngeri terpancar dari matanya, kemudian ia tampak mengabur, kegelapan datang mendekat... sesaat kemudian Hye na dapat menatapnya kembali... tak lama kegelapan hadir lagi, menelannya. Dan kemudian dari kejauhan, ia dapat mendengar keributan. Keadaan yang sebelumnya hening, mendadak menjadi berisik dan kacau.

Hye na membuka matanya, kegelapan menghilang, kini ia dapat menatap laki-laki dihadapannya cukup jelas, namun ia tidak mampu mendengar apapun, segalanya diam, hening, terlalu hening, walaupun Hye na dapat merasakan kedatangan beberapa orang kearahnya, sekaligus merasakan keterkejutan yang sama seperti yang terpancar dari laki-laki dihadapannya yang masih diam terkejut menatapnya. Hye na diam, ia merasa lelah. Lagi-lagi rasa sakit menyerang dadanya ketika ia mencoba menarik napas panjang. Oh.. apa yang terjadi... jangan menatapku seperti itu, apa yang terjadi...? ucap Hye na dalam diam.

Jung min menatapnya, masih dengan keterkejutan yang sama. “OMMA!!”seru seseorang, sesaat membuatnya terkejut. Pendengarannya kembali. Hye na mencoba menggerakkan tubuhnya kembali, menatap orang itu, namun tidak mampu. Segalanya terasa sulit. “appa!!! Apa yang terjadi... kenapa omma... OMMA!! Appa... kita harus membawa omma ke rumah sakit... banyak darah... banyak darah...
OMMA!!!”serunya. Hye na dapat mengenali suaranya “...En kyu-aa...”panggil Hye na dalam diam. Suaranya hilang, namun mendengar ucapan En kyu ia menyadari sesuatu... darah...? oh tidak...? darah...?!? apa yang terjadi...? apa yang terjadi...? jangan... ada darah... bagaimana dengan anakku... anakku... anakku... rasa panik menderanya, hingga kemudian segalanya menghilang. Segalanya menghilang ditelan oleh kegelapan, bahkan Hye na tidak lagi merasakan sakit ditubuhnya, segalanya hilang, hilang. Hye na tersesat dalam kegelapan sekaligus... kedamaian.

*************

Jung min membalikkan tubuhnya cepat, menatap wanita itu ketika menyadari ia tengah menggenggam lengannya kembali, menghentikan langkahnya. Ditatapnya tajam wanita itu, dan kemudian rasa marah kembali meledak semakin kuat dan keras di hatinya, cukup kuat membuat ia mengibaskan tangan itu dari lengannya, tidak kalah kuat dengan kemarahannya, bahkan lebih kuat.

Dengan cepat, Jung min membalikkan tubuhnya, sebelum menyadari sesuatu yang salah. Secepat sebelumnya, Jung min membalikkan tubuhnya kembali menatap pada Hye na dan keterkejutan menerpanya, menggantikan rasa marahnya. Jung min menatap istrinya itu jatuh, dan bergulingan dan debuman yang cukup keras, menandakan sebuah tubuh jatuh mulai terdengar. Jung min diam, tidak menyangka dan tidak ingin percaya dengan penglihatannya. Tubuh istrinya tampak aneh di matanya. Jatuh, berbaring dengan posisi yang tidak mungkin jika itu adalah sebuah buatan. Berbaring dilantai putih dengan kedua kaki menelungkup, saling menindih satu sama lain. Tetapi yang semakin membuatnya terasa aneh adalah posisi kepala Hye na. Jung min masih diam, hingga ia menatapnya sendiri, warna merah darah mulai merembes keluar dari tubuh istrinya itu, yang semakin lama semakin bertambah kemudian dari celah kedua kakinya, menambah genangan warna merahnya.

Kesadaran Jung min kembali, dengan cepat ia melangkah menuruni anak tangga, dan bersimpuh di sisi Hye na. Menatapnya nanar. “..Hye na...”panggilnya, lirih dalam bisikan. Saat itu ia dapat melihat senyum janggal di wajahnya. Senyum yang dipaksakan. Senyum dari rasa sakit yang ditahan. Oh tidak... batin Jung min apa yang sudah ia lakukan. Jung min mentap terkejut Hye na kemudian darah yang menggenang semakin banyak mengelilingi tubuh Hye na. Jung min diam, ia kehilangan kata-kata dan tenaganya seakan menguap ketika menatap pemandangan dihadapannya. Apa yang terjadi...? apa yang sudah ia lakukan... apa yang...?, kalimat dalam diam Jung min terhenti ketika ia menyadari suara keterkejutan kemudian disusul langkah cepat kearahnya.

Jung min menatapnya, masih dengan keterkejutan yang sama, dan kemudian ia merasakan tubuhnya terdorong, hingga jatuh terduduk, menjauh dari tubuh istrinya, dan teriakan terdengar, merasuk ke pendengaran hingga jiwanya. Jiwa seorang Lee Jung min, suami yang sangat mencintai istri yang kini berbaring tidak wajar dengan darah yang menggenang disekelilingnya. Jiwa Lee Jung min yang sebelumnya terperangkap dalam penjara penuh kemarahan dan kebencian.  Jung min masih diam, hingga ia menatap tubuh istrinya itu mulai melayang dan berjalan menjauh meninggalkannya dengan kedua tangan dan kepala yang terkulai lemah, namun ia tidak mampu melakukan apapun. Ia tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Oh tidak... tidak... tidak... apa yang sudah aku lakukan... jangan... jangan pergi...serunya dalam keterdiaman.

Jung min masih diam, dan masih menatap nanar tempat dimana Hye na berada dengan genangan darah yang sama, namun sekarang tubuh itu tidak lagi disana, hanya tersisa genangan darah yang semakin membuat hatinya sakit. Ya, hatinya terasa sakit, terasa teriris, terasa hancur berkeping. Tubuhnya melemah, hingga tidak dapat melakukan apapun. Hingga kemudian, ia merasa tubuhnya terangkat. Seseorang mencengkeram kerah kemejanya, mengangkat tubuhnya yang lemah, tinggi, dan kemudian rasa sakit menyerang wajahnya, hingga mampu membawa kesadarannya kembali dan air mata mulai jatuh di pipinya.

“ APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADA HYE NA!!?!? APA YANG SUDAH KAULAKUKAN PADA ISTRIMU!!! KAU SUAMI YANG TIDAK BERGUNA!!!” Jung min dapat mendengar teriakan itu, sebelum kemudian rasa sakit menyerang perutnya dan ia terjatuh, terduduk. Dicengkeramnya perutnya yang terasa sakit, dan ditatapnya terkejut seseorang yang berdiri menatapnya tajam, penuh kemarahan sekaligus kesedihan, hingga kemudian ia dapat mendengar desahanan pelannya “...aku sangat menyesal... aku menyesal... sangat menyesal...”ujarnya lirih, rasa sakit dan kesedihan terdengar disuaranya itu. Jung min menatapnya. Ia menatap sang kakak yang menundukkan kepalanya berkubang dalam kesakitannya. Jung min diam, kemudian tatapan kemarahan kembali terlihat di wajah Jung moon yang menatapnya tajam.

“JIKA TERJADI SESUATU PADA HYE NA... AKU AKAN MEMBAWANYA PERGI DARIMU... JANGAN HARAP KAU AKAN MELIHATNYA LAGI!!! ITU JANJIKU PADAMU LEE JUNG MIN!!”ujarnya, sebelum kemudian melangkah pergi meninggalkannya sendiri dalam keterdiaman.

***********

1 jam... 2 jam berlalu, beberapa orang tampak gelisah menunggu. Lampu operasi masih nampak menyala merah, menandakan operasi masih berlangsung didalamnya. En kyu duduk diam, menunggu dengan Jung moon yang tampak mondar mandir dihadapannya. Rasa khawatir berkecamuk di hati mereka, tidak terkecuali seseorang yang tampak diam, menatap kosong lantai dibawahnya dengan kedua tangannya yang ia letakkan menutupi wajahnya, menyangga wajahnya. Memikirkan segalanya. Banyak hal berkecamuk di hatinya. Sudah 2 jam, dan tidak ada kabar apapun atau tidak ada seseorang yang keluar dari ruang operasi untuk memberikan sebuah kabar. Kekhawatiran semakin menjadi. Dan tepat ketika Seung gi datang menghampiri ketiganya, pintu ruang operasi terbuka. Dokter Choi melangkah keluar, menghampiri ketiganya yang tampak segera bangkit dan melangkah mendekatinya “bagaimana keadaan omma dokter...”tanya En kyu, menatap dokter Choi gelisah.

Dokter Choi diam, menundukkan kepalanya “...Hye na dalam keadaan kritis... ia kehilangan banyak darahnya... dan...” dokter Choi terdiam sesaat menghentikan kalimatnya, menggantung, membuat ke empat pria dewasa dihadapannya menatapnya tidak sabar. Dokter Choi diam, menghela napas panjang dan mengalihkan pandangannya menatap pada Jung min “...maafkan aku Lee Jung min... aku harus melakukan operasi pengangkatan janinnya... calon anak kalian meninggal karena benturan keras pada perut dan pinggul Hye na saat ia terjatuh... maafkan aku...”ujar dokter Choi, menatap ke empat laki-laki dihadapannya nanar.

Jung min diam, ia tidak mengerti “...apa maksudmu...?”tanya Jung min

“Hye na hamil...?!?!?”sambung Jung moon.

“omma... mengandung dokter...”tanya En kyu, menambahi.

Dokter Choi menatap ketiganya bingung, “...kalian tidak tahu tentang ini... usianya kandungan Hye na baru memasuki trimester pertama... usia kandungannya baru 10 minggu, dan masih sangat rentan...”

Jung min diam, menatap dokter Choi lemah, “10 minggu...”ujar Jung min lirih, terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang baru saja didengarnya, mengingat kembali apa yang sudah dilakukannya pada Hye na selama ini, dan akhirnya, puncak dari segalanya, ia kehilangan anak itu... anaknya, darah dagingnya, anak Hye na dengannya, anak keduanya... “salah ku...”ujar Jung min lirih. Kakinya terasa sangat lemah, ia tidak dapat menopang tubuhnya lagi hingga akhirnya ia ambruk, jatuh terduduk lemah. Penyesalan akhirnya mulai merasuk hadir dalam relung hatinya ‘ohh... tidak... ini semua karenanya, jika saja... jika saja... jika saja...’ dan akhirnya air mata yang menghapus segala keangkuhan dan kemarahannya pun jatuh, membasahi wajahnya sekaligus hatinya, memberi penerangan sekaligus penyesalan terdalam dihatinya.

Jung min merasakan tubuhnya terbang, terangkat keatas, dan kemudian sesuatu memukulnya keras, tepat di rahangnya, sebuah pukulan keras yang semakin menyadarkan dirinya apa yang sudah dilakukannya ‘ ya, aku sangat pantas mendapatkannya...’pikirnya

“pergi dari sini...”ujar seseorang sambil menyeret tubuh Jung min dengan mencengkeream kerah kemejanya kuat, membawanya berjalan menjauh dari ruang tunggu operasi Hye na bersama dengan tatapan terkejut dokter Choi, En kyu, dan Seung gi. Ya, Jung moon sudah tidak dapat bersabar lagi, dan kini segalanya sudah terjadi. Keadaan Hye na kritis, ditambah ia kehilangan keponakannya, anak dari wanita yang sangat disayanginya, anak dari laki-laki yang telah membuatnya merasa muak dan akhirnya menyeretnya keluar dari jangkauan Hye na. “pergi dari sini... dan jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi disini ataupun dihadapan Hye na... sudah cukup kau menyakitinya Lee Jung min...!! kau benar-benar suami yang tidak berguna...!”

Jung min diam, duduk bersimpuh dihadapan kakak laki-lakinya itu “mianhe...”ujar Jung min lirih. Jung moon diam, menatap adiknya itu. “pergi... kau sudah tidak pantas lagi mendapatkan maaf...”ujar Jung moon, yang kemudian pergi meninggalkan Jung min sendiri, masih duduk diam, menundukkan kepalanya, menyesali segalanya.

*******

Seung gi menatap diam sahabatnya yang tampak terpuruk dalam keterdiamannya. Ia menghela napas panjang menatap laki-laki disisinya itu “...ini...”ujar Seung gi sambil memberikan segelas kopi hangat padanya, tapi Jung min masih bergeming ditempatnya, tidak menanggapi apapun dari Seung gi.

Lagi-lagi Seung gi menghela napas panjang. Diletakkannya pelan gelas kopi disalah satu tangannya di kursi tunggu diantara tempatnya dan Jung min sebelum kemudian kembali menatap kasihan pada sahabatnya itu. keduanya terdiam, suasana hening rumah sakit semakin membuat keduanya tidak tertarik untuk saling mengungkapkan apa yang ada dipikiran masing-masing, hingga...

“ahjussi...”panggil seseorang, menatap kedua laki-laki dihadapannya sedih. Seung gi menatapnya tersenyum, yang segera dibalas senyum manis darinya, tetapi tidak dengan Jung min yang kembali berkutat dengan penyesalan dan kesedihannya. “Yoo rae...”panggil Seung gi, menepuk salah satu kursi di sisinya. Seung gi diam, menatap Yoo rae yang melangkah perlahan dan duduk di salah satu sisi kursi Seung gi, dan segera kemudian pandangannya teralih pada Jung min yang masih menundukkan kepalanya diam “...gwenchana...?”tanya Yoo rae, menatap Jung min, mengharapkan sebuah jawaban darinya. Jung min masih diam, tidak menjawab pertanyaan Yoo rae, namun ia memahami pamannya itu. Yoo rae menghela napas panjang, dan kembali menatap Lee Seung gi. “...ahjussi... Yoo rae ingin mengatakan sesuatu...”
Seung gi diam ditempatnya, menatap Yoo rae “apa... ada apa...?”

Yoo rae diam, ragu, ia menundukkan kepalanya sesaat sebelum akhirnya ia mengambil keputusan itu “...Yoo rae sudah mengetahui semuanya dari En kyu tentang semuanya... semua... sekaligus foto yang penuh dengan kebohongan itu...” Yoo rae menghentikan kalimatnya sesaat, menatap Seung gi dan Jung min yang kini menatap kearahnya terkejut. Yoo rae mendesah lemah, “... Yoo rae yang mengetahui Hye na ommanim ke rumah sakit malam itu... ommanim memang pulang pagi, tapi tidak dari hotel... dia pulang dari rumah sakit... bahkan aboji dan dokter Choi dapat membuktikannya...”

“aboji...?”tanya Seung gi yang ternyata lebih tertarik pada kata itu daripada kata-kata yang lain yang menyusun kalimat Yoo rae “....ne aboji...” Yoo rae memalingkan wajahnya menatap Seung gi, meyakinkan “....Shin aboji... ayah Yoo rae...”

“MWO?!?!? Ayahmu dokter Shin Hyun bin...?”

Yoo rae tersenyum kecut menatap reaksi Seung gi atas kalimatnya “...jadi kau anak Yoo na...?”

Yoo rae tersenyum, kecut “...sayangnya iya ahjussi...”jawab Yoo rae

“tunggu dulu... apa yang kau katakan Yoo rae...?!? apa maksudmu...?”tanya Jung min, yang kini bangkit dari tempatnya dan menatap Yoo rae dihadapannya. Yoo rae tersenyum menatap Jung min “...mianhe ahjussi... maafkan Yoo rae tidak memberitahukan dari awal... ommanim yang meminta Yoo rae untuk jangan pernah mengatakan pada siapapun termasuk pada ahjussi... ommanim percaya jika ahjussi akan mempercayainya... ommanim yakin ahjussi tidak akan pernah meragukannya...”jawab Yoo rae yang ternyata membuat hati Jung min semakin terasa sakit.

“ohhh... tidak....”ujar Jung min lirih, menutup wajahnya dengan kedua tangannya, bersandar lemah pada dinding putih dibelakangnya. Lee Seung gi menatap Jung min khawatir ketika Jung min mulai menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit dan tangis yang akan pecah. “yya hentikan itu...”ujar Seung gi, bangkit dan mendekati Jung min. Jung min tidak mempedulikannya dan masih tetap melakukan apa yang ia inginkan, menghukum dirinya, menggigit bibirnya kuat, sangat kuat hingga warna merah darah itu mengalir turun dari sela giginya, membasahi bibirnya dan dagunya, terus mengalir turun, membuat Seung gi dan Yoo rae semakin khawatir. “hentikan menyiksa dirimu sendiri seperti itu...”ujar Seung gi yang mengarahkan tangannya ke wajah Jung min, menampar Jung min cukup keras, berusaha menyadarkannya.

Jung min diam, mengusap pelan pipinya dan menatap Seung gi nanar “...pukul lagi... pukul aku lagi...”ujar Jung min menatap Seung gi tajam, penuh kemarahan. Bukan pada Seung gi namun pada dirinya sendiri. Ya, dia merasa pantas mendapat apapun, dia pantas mendapatkan pukulan apapun, dia sangat pantas, bahkan sangat pantas untuk ditinggalkan Hye na, bidadarinya, bidadarinya yang tidak bersalah apapun pada dirinya, namun ia sudah menyakitinya dengan begitu kejam. Tidak mempercayainya, menuduhnya dan mengatakan sesuatu yang sangat buruk padanya. Dia sangat pantas, mendapatkannya.

Lee Seung gi mencengkeram kerah kemeja Jung min kuat, hingga mengangkat tubuhnya yang jangkung dari tanah, dan Jung min hanya dapat diam, tidak peduli apa lagi yang akan diterimanya. Seung gi menatap Jung min nanar, kemudian memalingkan wajahnya sedikit, menatap Yoo rae yang masih berdiri ditempatnya, menatap terkejut kedua pamannya itu “...mianhe Yoo rae... bisakah kau tinggalkan kami...?”

Yoo rae tersadar dari keterkejutannya “ahh... ne ahjussi.... mianhe...”

“gwenchana... titip salamku untuk ayah dan ibumu....”ujar Seung gi. Yoo rae menjawabnya dengan anggukan kepala cepat dan segera beranjak dari tempatnya, meninggalkan keduanya dengan urusan mereka.

Seung gi menghela napas panjang, melepaskan cengkramannya di kerah kemeja Jung min kemudian menatapnya kasihan “...berhentilah melakukan apapun untuk menyiksa dirimu sendiri... berhentilah menyalahkan dirimu sendiri...”ujar Seung gi

“TAPI AKU MEMANG BERSALAH LEE SEUNG GI!!”seru Jung min, frustasi
Seung gi menatap Jung min tidak kalah marahnya “...setelah itu?!? setelah kau menyalahkan dirimu sendiri... setelah kau menyiksa dirimu, menghukum dirimu, bahkan membunuh dirimu sendiri... apa yang akan kau lakukan untuk Hye na...? APA YANG AKAN KAU LAKUKAN LEE JUNG MIN-SSI!!”seru Seung gi tidak kalah kerasnya.

Jung min diam, menyadari ucapan Seung gi. Kini keduanya terdiam, hanya suara detak jam yang bergema dan beberapa percakapan di ujung lorong yang memantul di kedua sisi dinding putih. Seung gi diam, menyadari kekalahan laki-laki dihadapannya, kemudian ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya “...ini... baca dengan baik, kemudian pikirkan semuanya dengan baik... ambil keputusan... sebuah keputusan yang bijak Jung min-ssi  kemudian beri perintah... beri aku perintah apa yang harus aku lakukan... aku, En kyu dan Park Joon... yah walaupun aku harus memaksanya dna memintanya dengan sangat untuk membantu... dia akhirnya mau membantumu mencari dalang semua ini... dan setelah membacanya jangan pernah berpikir untuk menyerah Lee Jung min-ssi... walaupun penyesalan memang selalu ada... dan hanya hadir di akhir...”ujar Seung gi tersenyum menatap Jung min dengan penuh dukungan, kemudian melangkah pergi meninggalkan Jung min yang menatap bingung sesuatu ditangannya.

***********

Apa yang baru saja didengarnya, membuatnya secara tiba-tiba bangkit dari kursi besarnya dan menatap laki-laki paruh baya dihadapannya tajam “MWO?!?!?”

“ne tuan... Hye na agashi mengalami kecelakaan dan sekarang dia berada di Han hospital... keadaannya sangat kritis...”

“bagaimana...” In soo terdiam, tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia memejamkan matanya, menghela napas panjang “...bagaimana bisa... bagaimana bisa ia mengalami seperti ini Pak Yang...?”

Pak Yang mendesah pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri juga atas apa yang baru saja didengarnya. Sama seperti laki-laki dihadapannya, ia juga terkejut dengan apa yang didengarnya dan kini ia harus mengulang kembali kalimat yang mengejutkan itu untuk tuan mudanya.

“... suaminya... suaminya mendorongnya jatuh tuan...”

“MWO?!?!? Tap... bagaimana... tidak mungkin...”

“ne tuan... bahkan kakak Lee Jung min sangat marah padanya...”

“tapi Jung min tidak mungkin...”

Pak Yang menganggukan kepalanya, mengerti arah kalimat tuan mudanya itu, namun begitulah yang ia dengar dan sepertinya begitulah kenyataannya jika segalanya dipikirkan dengan baik “lalu bagaimana dengan diagnosis dokter... apa kata dokter yang menanganinya...?”tanya Cha In soo sedikit khawatir dengan keadaan Hye na

Pak Yang diam, ia tidak mampu mengatakannya, karena itu cukup menyedihkan untuknya dan ia dapat menduga tuan mudanya juga akan merasakan hal yang sama, tapi... “...Hye na agashi mengalami gegar otak ringan juga pendarahan yang cukup parah di kepalanya dan...”Pak Yang terhenti “...apa pak Yang...?”tanya Cha In soo, tidak sabar “...Hye na agashi mengalami keguguran...”jawab Pak Yang lemah

“MWO?!?!?”

“ne... dia kehilangan bayinya...”ujar pak Yang, menundukkan kepalanya, menyembunyikan kesedihannya.

Cha In soo mendesah kuat dan menjatuhkan dirinya dikursinya, membenamkan wajahnya dengan kedua tangannya. Ia merasakan jantungnya berpacu begitu cepat. Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Kehilangan bayinya...? bagaimana bisa..? Bagaimana bisa seorang Lee Jung min bahkan membahayakan anaknya sendiri, darah dagingnya...? apa yang terjadi sebenarnya...? Semua berita itu menyatakan jika Lee Jung min sangat menyayangi istri dan keluarganya. Ia sangat menjunjung tinggi istri dan anak-anaknya dibanding apapun, tapi, sekarang... tidak mungkin... tidak mungkin seorang Lee Jung min tega mencelakai istrinya... tidak mungkin...

“tuan...”panggil pak Yang, yang tampak menatap Cha In soo gelisah.

Cha In so mengalihkan pandangannya menatap pak Yang lemah, membuat pak Yang sedikit terkejut dengan apa yang dilihatnya. Tatapan itu sama seperti ketika kabar kematian sang kakek berhembus ke telinganya. Tatapan yang sama. Tatapan tanpa gairah, lesu dan tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Pak Yang sangat mengenal tatapan itu.

“tuan... bukankah ini akan lebih mempermudah usaha anda untuk mendapatkan nona Han... ditambah lagi Lee Jung min-ssi belum mengetahui tentang anda... tentang semuanya...?”ujar Pak Yang, menatap In soo mencari sebuah petunjuk akan jawaban yang dinantinya.

“benarkah...?”tanya Cha In soo

“ne... mereka belum mengetahui apapun...”

“bagus...”ujar In soo yang kemudian terdiam ditempatnya, memikirkan sebuah rencana, dan... “tolong hubungi Park Joon...”ujar Cha In soo, sambil menatap pak Yang penuh keyakinan. Ya, dia memiliki sebuah rencana, dan kali ini Jung min sendiri yang memuluskannya. Lee Jung min sendiri yang membuka jalan itu, begitu lebar untuknya. Dan karena itu, ia harus berhasil, harus... Senyum lebar tampak merekah diwajahnya. Ia memiliki sebuah rencana.

*********

Jung min menatap nanar wanita yang masih berbaring, lemah, dan tampak sangat pucat dihadapannya. Wajah itu tampak pucat bahkan hampir menyerupai mayat jika tidak ada alat deteksi detak jantung yang memberitahukan bahwa jantung wanita dihadapannya masih melakukan tugasnya memompa darah keseluruh tubuhnya. Jung min juga masih merasakan napas yang perlahan dari wanita itu, yang semakin meyakinkannya bahwa wanita terkasihnya itu masih hidup dan masih bersamanya.

“bangunlah sayang...”ujar Jung min lirih, menatap Hye na penuh rasa menyesal dan penuh kesedihan. Jung min diam, mengusap lembut wajah Hye na, menyibakkan rambut halus yang jatuh kewajahnya, merasakan kulitnya yang dingin. Saat itu ia dapat menatap kantung darah yang ditransfusikan melalui tangannya dan hal itu semakin membuatnya bersedih. “ohhh... mianhe sayang... mianhe... bahkan untuk menebus segalanya tidak cukup dengan 100 kantung darah sekalipun... ohhh... sayang...”ujar Jung min lirih, duduk disamping ranjang Hye na, bersandar di ranjangnya dan membenamkan wajahnya diantara kedua tanganya.

Flashback

Jung min sedang menatap nanar dan duduk menjauh diantara beberapa orang yang tengah menunggu operasi Hye na. Beberapa saat yang lalu keadaan Hye na tiba-tiba menurun, ia kehilangan banyak darah dan sangat membahayakan dirinya jika harus melakukan operasi pengangkatan janin dengan keadaan pendarahan yang cukup parah tersebut. Hye na membutuhkan transfuse darah. Dokter Choi menyatakan hal itu, kemudian menatap beberapa orang dihadapannya, menunggu reaksi, namun hal itu sepertinya sangat mengejutkan semua orang itu. Dokter Choi diam, “aku membutuhkan darah untuk Hye na... adakah diantara kalian yang memiliki golongan darah yang sama dengannya. Jung min diam, menatap semua orang menunggu. Ia memiliki golongan darah yang sama dengan istrinya itu, begitu pula dengan Min jae dan Jae min, namun ia merasa kedua anak kembarnya itu belum cukup untuk memberikan darahnya pada Hye na. sedangkan dirinya, ia merasa ia tidak pantas lagi berada didekat Hye na bahkan ia merasa tidak pantas, mengalirkan darah yang penuh dosanya pada Hye na, tapi...

“aku dokter... ambil darahku...”ujar Jung min, melangkah maju, dan menatap dokter Choi yang tampak menganggukkan kepalanya dan memanggil seorang perawat yang kemudian segera membawa dirinya ke sebuah ruangan.

Jung min diam, menatap semua selang yang kemudian di suntikkan ke tangannya, untuk mengalirkan darahnya keluar. Perawat itu tampak tersenyum menatap Jung min “... Dokter Han adalah dokter yang baik tuan... Tuhan pasti akan menyelamatkannya...”ujar perawat itu, berusaha menghibur Jung min

Jung min mencoba tersenyum menjawabnya “...ne... dan suster tolong ambil berapapun darah yang dibutuhkan istriku... ambil sebanyak apapun... jangan sampai Hye na kekurangan... saya mohon, ambil sebanyak yang dibutuhkan, bahkan lebihpun akan lebih baik...”ujar Jung min, menatap suster itu penuh keyakinan.

Suster itu tersenyum “ne tuan... saya akan mengambil sebanyak yang dibutuhkan dokter Han...”ujar suster itu

End Of Flashback

Dan kini keadaan Hye na lebih membaik walaupun ia sama sekali belum melewati masa kritis. Segalanya masih harus dipantau. Kerja otaknya pun belum normal seluruhnya walaupun tidak ada pembengkakan, namun pendarahan luar yang cukup parah sebelumnya, cukup mempengaruhi kerja otaknya, ditambah gegar otak ringan yang didapat Hye na.

Jung min diam, menyadari segalanya. Ia sudah membaca seluruh laporan itu, dan kini ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia hanya memikirkan wanita terkasihnya yang kini masih berbaring lemas dihadapannya, pucat, tak berdaya. Ia hanya memikirkan bagaimana untuk mendapatkan maaf dari wanita dihadapannya itu. Ia bahkan tidak sanggup memikirkan, jika Hye na tidak memaafkan dirinya dan pergi darinya. Bagaimana hidupnya akan berlangsung jika tanpa Hye na disisinya.

Jung min menghela napas panjang diantara isakan tertahannya. Air mata sudah mulai membanjir di wajahnya. Dalam keheningan malam, Jung min mulai menyesali segalanya.

“kau masih disini?!?!?”seru seseorang tiba-tiba, membuat Jung min memalingkan wajahnya terkejut. Jung min dengan cepat bangkit dari tempatnya. “bukankah aku sudah menyuruhmu pergi...”ujarnya lagi

“hyung...”ujar Jung min lirih, menatap Jung moon sedih.

“Pergi!!”ujar Jung moon

Jung min bergeming, tidak bergerak, bahkan ia menahan napasnya ketika mendengar seruan kakaknya itu. “PERGI!!”seru Jung moon lagi, dan masih seperti sebelumnya, Jung min tampak diam, tidak bergerak, namun keterkejutan yang sangat terpancar diwajahnya.

“AKU BILANG PERGI!!”seru Jung moon, melangkah mendekati Jung min, menarik kerah kemejanya dan mengambil jasnya kemudian menyeret Jung min keluar dari ruang perawatan Hye na. “tapi hyung... aku mohon...”

“segalanya sudah jelas Lee Jung min... kau sudah mencelakai Hye na... sekarang kau harus pergi... lagipula bukankah ini kemauanmu...”ujar Jung moon yang ternyata mampu mengingatkan Jung min akan perkataannya beberapa hari yang lalu, yang kini semakin membuatnya menyesal.

“mianhe hyung... saat itu...”

“sudah terlambat Lee Jung min.. kau sudah membuangnya! Kau sudah mengusir Hye na tanpa mendengar penjelasannya sedikitpun. Dan sekarang kau bahkan mencelakainya... kau bahkan membunuh anakmu sendiri!” Jung moon diam, menatap keterkejutan diwajah sang adik, yang terpancar jelas. Wajahnya memucat, tatapannya tampak keras, kedua matanya melebar. “...Sekarang apa lagi.. apa lagi yang kau inginkan... segalanya sudah selesai... dan ini semua adalah penyesalanku... sekarang aku ingin segalanya kembali... aku ingin kau keluar dari hidup Hye na... aku ingin kau pergi... PERGI!!!” ujar Jung moon yang kemudian menutup pintu dihadapan Jung min cukup keras, menghalangi pandangan Jung min pada bidadarinya. Jung min jatuh terduduk. Mengingat segalanya, mengingat pagi itu, ketika semua kalimat bodoh keluar dari mulutnya. Ya, ia mengusir Hye na, menyuruhnya untuk pergi, dan bahkan ia mengatakan jika dirinya benar-benar sudah muak menatap wajah bidadarinya itu. Oh, ia memang mengusirnya.

Flashback

Jung min menatap Hye na dalam diam dan penuh kekesalan ketika ia mendapati Hye na tengah duduk diranjang keduanya, yang merupakan saksi bisu kemesraan dirinya dan wanita yang kini duduk disana dengan wajah penuh kesedihan.

“ada apa?”tanya Jung min ketus, menatap tajam Hye na sesaat sebelum kemudian melangkah pergi

“aku ingin bicara...”

“hah! Apa lagi?!? Aku harap bukan sebuah pengakuan?”

Hye na memejamkan matanya, menahan dirinya. Ia sudah merasakan panas di pelupuk matanya. “...aku mengerti rasa sakitmu… aku mengerti rasa percayamu sudah menghilang dan kau sangat marah padaku… dan aku terima itu…tapi satu hal Lee Jung min-ssi… aku mohon sekali padamu, jangan pernah sekali-sekali membawa seorang wanita kerumah ini, dan menunjukkannya di hadapan anak-anak…”

“mwo..?!?!?! hah!! Kau yang bersalah, tapi…”

“DIAM!!!” seu Hye na, menatap Jung min enuh keyakinan “...aku mohon.. Hanya beberapa menit, aku mohon diam, setelah itu terserah padamu jika kau ingin berteriak atau melakukan apapun…”Hye na menatap Jung min dalam, mencoba bersabar sekaligus mencoba menahan air mata yang sudah  mencapai pelupuk matanya  “…aku mohon… mohon sekali jangan pernah membawa seorang wanitapun kerumah ini… aku tahu dan aku yakin kau tidak akan memikirkan untuk kebaikanku, tapi pikirkan demi kebaikan anak-anak… aku tidak ingin mereka melakukan hal yang tidak semestinya…”

 Jung min menatap Hye na tidak menyangka, kemudian tawa keras itu terdengar. Tawa keras yang mengejek dan sangat menyakiti Hye na “YYA!!! kau benar-benar… kau yang berkhianat disini bukan aku, dan kenapa dengan aku yang harus memperhatikan anak-anak untuk…”

Hye na diam, dia harus segera pergi,karena ia sudah tidak dapat menahan air matanya lagi, ia harus segera pergi, dna akhirnya air mata itu pun jatuh, air mata penuh kepedihan “…aku mohon… dan ini…” ujar Hye na sambil memberikan beberapa majalah dan koran yang memberitakan tentang skandal yang dilakukan oleh Jung min. “…terima kasih untuk segalanya…”ujar Hye na yang kemudian pergi mneninggalkan Jung min yang diam menatap nanar dan bingung majalah dan koran yang diberikan Hye na padanya.

Jung min menatap majalah itu dan ia benar-benar terkejut ketika dirinya menjadi head line di beberapa majalah dan Koran itu. Dan semuanya menunjukkan dirinya tengah bersama dengan seorang wanita yang berbeda. Ia bahkan tampak mencium beberapa wanita diantaranya, merangkul mesra juga menatap wania-wanita itu dengan penuh gairah. Ohh... apa yang sudah aku lakukan... kemudian pembenaran itu muncul. Jung min merasa bukan hanya dirinya yang bersalah. Dan Hye na yang memulai segalanya. “sekarang kita impas Han Hye na!”seru Jung min, menyadari keberadaan Hye na yang masih berada dibalik pintu yang tertutup dihadapannya.

Jung min menyadari isakan keras Hye na dan kemudian langkah cepatnya yang pergi meninggalkan pintu itu.

Tak lama, Jung min melangkah keluar dari kamarnya untuk kemudian mendapati Jung moon yang tengah duduk, menatap tangga, seakan menunggu dirinya “…Jung min aku perlu bicara...”ujar Jung moon yang berhasil menghentikan langkah Jung min untuk keluar dari mansion…”

Jung min tersenyum sinis “...apa lagi hyung... jangn bilang kau ingin membela perempuan itu...”

Mendengar kalimat adiknya itu, kemarahan Jung moon melonjak “...dia istrimu Lee Jung min-ssi... dia juga ibu dari anak-anakmu... jadi perlakukan dia dengan baik... tidak seperti wanita murahan yang selalu kau rangkul dan kau cium tanpa rasa bersalah...”
Jung min tertawa keras, “jadi benar... kau ingin membela wanita itu...”

“DIA ISTRIMU LEE JUNG MIN!!”seru Jung moon yang kemudian mendarat sebuah pukulan diwajah Jung min. Jung min tersenyum sinis “...benar-benar wanita yang hebat...”ujar Jung min yang semakin membuat Jung moon kesal, hingga tiba-tiba ia mencengkeram kerah kemeja Jung min “… jika terjadi sesuatu pada Hye na… aku akan mengambilnya darimu…”ancam Jung moon, yang kemudian menghadiahkan Jung min sebuah pukulan keras lagi diwajahnya. Jung min merasakan darah dimulutnya, namun tidak menghentikannya untuk mengucapkan kalimat yang lebih menyakitkan lagi “ambil saja… dia sudah tidak berarti lagi untukku…”jawab Jung min. Jung moon semakin kesal, ia menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya cepat, menatap Jung min tajam

“baik… kita lihat siapa yang akan menyesal… kau harus pegang omonganmu… terjadi sesuatu pada Hye na, aku akan membawanya pergi…”ancam Jung moon. “aku akan membawanya pergi hingga kau tidak mampu mencarinya atau menemuinya lagi... ingat itu Lee Jung min... kau benar-benar akan menyesal karena ucapanmu sendiri...”

End Of Flashback


Kini air mata penyesalan itupun tumpah kembali. Ia benar-benar sudah sangat menyakiti bidadarinya itu. menyakiti kekasih hatinya. Menyakiti ibu dari anak-anaknya. Penyesalan memang selalu datang diakhir, dan banyak hal yang tidak dapat dikembalikan, andai saja ia dapat memutarnya kembali. Andai saja ia dapat membcarakan lebih baik dan secara baik-baik dengan bidadarinya itu, andai saja... ohh... segalanya hanya andai sekarang. Karena itu ia tidak boleh menyerah, ia harus memperjuangkan cintanya pada Hye na. Ia juga harus menyampaikan penyesalan terdalamnya pada Hye na. Ia harus mengatakannya pada Hye na. Ia harus berusaha mendapatkan Hye na kembali, mendapatkan kekasih hatinya itu.

Jung moon diam, menatap Hye na dengan kesedihan dan penyesalan yang dalam. Kini hatinya terasa sangat sakit. Keputusannya. Keputusan akhir yang beberapa tahun yang lalu diambilnya demi kebahagiaan adik laki-lakinya, kini membawa penyesalan yang mendalam. Seandainya...

Jung moon membenamkan wajahnya diantara kedua tangannya. Ia tampak duduk diam, menatap Hye na yang tampak pucat dan menyedihkan dihadapannya. “mianhe Hye na... mianhe... seharusnya kau bahagia, tapi karena aku... kau mengalami hal seperti ini... mianhe...”

Jung moon menghela napas panjang, kemudian menggenggam tangan Hye na yang tersambung dengan selang infus “14 tahun... seakan angka itu tidak lagi berharga untuk Jung min... dia sudah hidup bersamamu selama 14 tahun, tapi dia masih meragukanmu... bagaimana...” Jung moon menghentikan kalimatnya, kembali membenamkan kepalanya di kedua tangannya yang ditekuk, bersandar di ranjang Hye na “....mianhe...aku berjanji... setelah ini tidak akan lagi kesedihan Hye na... dan tidak ada lagi Jung min yang akan mencelakakanmu... aku berjanji...”ujar Jung moon, menggenggam tangan Hye na erat, seakan mengukuhkan janjinya melalui genggamannya.

*********

End Of Chapter
« Last Edit: August 28, 2013, 08:30:28 am by ai_yuki »

Offline Rya

  • Newbie
  • *
  • Posts: 47
    • View Profile
Re: Full Of Love (Song of Life 2) Chapter 17, update
« Reply #391 on: August 28, 2013, 02:42:41 pm »
jgn bilang si jung moon itu suka ya sama hyena hammer2, hadehh gk nyangka jungmin bkl bunuh anakx sndri, hyena bkl mau maafin jungmin gk ya, ank"x psti akn membantu kan? Mrk g akn mungkin membiarkan ortux berpisah

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: Full Of Love (Song of Life 2) Chapter 17, update
« Reply #392 on: August 28, 2013, 03:31:16 pm »
jgn bilang si jung moon itu suka ya sama hyena hammer2, hadehh gk nyangka jungmin bkl bunuh anakx sndri, hyena bkl mau maafin jungmin gk ya, ank"x psti akn membantu kan? Mrk g akn mungkin membiarkan ortux berpisah

He he he.. jung moon mang suka ma hye na..  bahkan yg kenal hye na dlu ya jung moon (sol 1) tapi jung moon sayang ma jung min, jadi demi  lht adiknya bhagia dan gak trpuruk lg dlm ksdihan,  jung moon ngenalin hye na ke kehidupannya jung min,  soalnya percaya jung min ma hye na bisa sling melengkapi juga bsa saling membahagiakan  [lovestruck]

En kyu mungkin yg lbh bnyak bantu.. klo jae min ma min jae lbh banyak bntu ngrus hye na ma ha na   [heh]

Offline Namutz

  • Junior
  • **
  • Posts: 197
  • nona goo is inspiring women
    • View Profile
Re: Full Of Love (Song of Life 2) Chapter 17, update
« Reply #393 on: August 29, 2013, 01:54:18 am »
tingggkyuuuuu updetanyaaaaaaa aiii 
chappppp ini menyedihkannnnn
jung min  ihhhhh semoga belajar dari kejadian ini  hammer2 hammer2 hammer2 hammer2

Offline Roxanne

  • Full
  • ***
  • Posts: 259
    • View Profile
Re: Full Of Love (Song of Life 2) Chapter 17, update
« Reply #394 on: August 29, 2013, 01:15:50 pm »
kenapa setelah membaca ini saya jadi benci dengan jung min ya?? [hmpfh] [hmpfh]

apa Hye na akan memaafkan suaminya yang bodoh itu??
in soo itu..emm..sebenarnya suka dengan hye na atau hanya bermaksud untuk menghancurkan jung min saja sih??
terus reaksi en kyu,jae min dan min jae melihat eommanya yang kritis karena perbuatan appanya,gimana ya?? belum lagi mereka harus kehilangan calon adik mereka.. [goodgrief] [goodgrief] [goodgrief]

thank you sudah diupdate sis Ai..sangat ditunggu loh kelanjutannya.  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Re: Full Of Love (Song of Life 2) Chapter 17, update
« Reply #395 on: August 29, 2013, 03:30:36 pm »
Oh tuhan saat CN bangun dri komanya aku sangat bersyukur karna bisa kembali menikmati ff dsni, dan langsung berharap ada updtan dri sini dan ternyata harapan terkabul makasih banyak Ia yuki yg masih setia mau lanjutin ff kesayangku ini, kasian hye na kehilangan janinnya yg belm sempat di kasih taunya ke keluarganya :( gimna reaksi dia nanti saat sadar ?? dan apa yg akan di lakukan hye na ke jung min???  moga dia G ninggalin jung min, kalau pun hye na engga ninggalin jung min tapi... kata " hyung nya ckup berbahaya jg buat jung min, gimna jg perasaan anak " jung min apakah mreka jg akan membenci appanya? secra jung min membuat ibu dan calon adek mreka mati !!!! adakah pendukung mu jung min??  tenang aku aku masih pendukung mu jung min, berusahalah jung min rebut istri mu ^_^ di tunggu ya ia yuki nextnya jangan lama " soalnya udh lma bnget kangen sma ff mu ini, pengagum setia keluaraga besar Lee JungMin dan Lee HyeNa

Offline Rya

  • Newbie
  • *
  • Posts: 47
    • View Profile
Re: Full Of Love (Song of Life 2) Chapter 17, update
« Reply #396 on: August 31, 2013, 10:02:36 pm »
nanti pas hyena sadar dy pasti sdh bgt kehilangan anak yg kesekian kalix  [what] jungmin hrs berusaha keras merebut bidadarix, updatex jgn lama" yaa??  [biggrin] [smiley-gen013] [lovestruck] [on]

Offline Rya

  • Newbie
  • *
  • Posts: 47
    • View Profile
Re: Full Of Love (Song of Life 2) Chapter 17, update
« Reply #397 on: October 01, 2013, 08:29:40 pm »
update lagi donkkkk  [love eyes] [smiley-dance013]

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Sist yuki ayooo lanjut nehh ff mu CN telah kembali demi apa pun aku selalu ingat ff ini setiap ingat CM dan ngarep CM kembali, mash kebayang" certanya yg mash menggantung setelah kecelakaan hyena pleaseee banget lanjut ya kmu author yg palng rajin updte