Author Topic: Strawberry, Lovers or Haters?--#CHP 15 PART II# 6 Nov' 11  (Read 26571 times)

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
 [AddEmoticons04217] lom up date toch my berywine [hmpfh]

mami mami mami, ayo mami berywine berywine berywine  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline flower

  • Newbie
  • *
  • Posts: 12
    • View Profile
halo mrs Lee min ho aka mami, boleh ikutan panggil mami juga kan, suka banget ama ff yang satu ini bener2 fresh
sista di tunggu ya chp selanjutnya [arms]

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
MOM !!!

berry-wine Part 2 donk !!!
[smiley-gen013] [smiley-gen013] [hmpfh]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
CHAPTER FIVE
Pertemuan Keluarga



"Huh--!!!" Pear menghempaskan buku tebal di tangannya ke atas meja di depan kami, aku dan Apple,  lalu tubuh kurus mungilnya  meluncur di bangku yang terpisah oleh meja. "Menyebalkan!!" gerutunya sambil melipat tangan  di depan dada.

Aku dan Apple meliriknya,  lalu saling berpandangan sejenak, sebelum akhirnya beralih kembali padanya.

 "Weeyo?" tanya kami berbarengan.

 "Huh--!!" Pear mendengus kembali, .. kali ini lewat hidungnya, sehingga terdengar berat. "Lama-kelamaan aku merasa dia punya kelainan!" Dia masih mengerutu terus sambil melebarkan mata sipitnya.

 "Dhuga?" Kami bertanya serempak.

 Pear mengerutkan alisnya, lalu gadis bertubuh paling mungil di antara kami itu tiba-tiba mengebrak meja dengan kedua tangannya. "SIAPA LAGI KALAU BUKAN WINE?!!! ... Sudah kukejar berulang kali tapi dianya menghindar terus .. , bahkan kali ini lebih parah lagi, waktu melihatku dari ujung lorong, dia sudah lari terbirit-birit. Bayangkan! Memangnya aku ini apa? Hantu?!!"

 "Eh--" Aku membuka mulut perlahan-lahan. "Kelainan yang kau maksud itu ..,  Hey--mwo?!" Aku segera berpaling. Sebuah tangan menyenggol lenganku, dan Apple sedang melirik-lirik kearah-ku sambil mengulum senyumnya.

 "Masa gitu aja nggak tahu .. ," katanya dengan nada mengoda.

 "Mwo?" tanyaku polos.

 "Gay, GAy!!" teriak Pear tiba-tiba. Sangat keras sehingga beberapa murid langsung berpaling pada kami.

 "MWO?!!!" Aku tersentak bangun, mataku terbelalak lebar. Jawaban yang diberikan Pear sungguh mengejutkan. Wine gay? Mana mungkin?!! Aku mengenalnya hampir seumur hidup, dan prasangka ini tidak pernah terpikirkan olehku. Dalam mimpi sekalipun. "Antwee!!!" seruku yang lebih mirip jeritan.

 "Kau yakin?" Apple tiba-tiba menyerobot jawaban Pear. Tubuhnya dicondongkan dengan raut tertarik. Namun sahabat kami yang satu itu, Pear, tidak menghiraukannya.

 Pear malah bertanya balik padaku. "Kau yakin?"

 "Dhe?" Aku membuka mulut lebar-lebar. "Maksudmu?"

 "Wine!!" dengus Pear tidak sabar. "Apa benar dia bukan gay? Kau yang paling mengenalnya. .. Bagaimana? Kau yakin dia bukan gay?"

 "Tentu saja!" tandasku segera. "Dia mungkin saja geblek, aneh, sableng dan sok cold. Yang pasti, dia bukan gay! Saya yakin itu!" Aku berhenti sejenak, berpikir, .. mataku berputar ke atas, lalu menjawab lambat-lambat. "Dia hanya ... hanya alergi ama cewek agresif .. " Lalu,  aku mengarahkan telunjuk ke depan, .. merasa bangga dengan tebakan yang terdengar sangat masuk akal ini. "Biasanya, kalau saya terlalu agresif, dia juga langsung melarikan diri .. ," lanjutku asal ceplos.

 "Kau agresif?" Pear segera mengerutkan alisnya. "Pada Wine?!"

 "Eh--ehh" Gawat! Aku salah ucap. "Bu .. bukan .. ," ralatku gugup. "Maksudku .. kalau aku mendekat .. bi .. biasanya .. dia langsung kabur .. ," ucapku terbatah-batah. "Itu karena dia tidak suka padaku!" tandasku kemudian.

 Beruntung Pear tidak melanjutkan serangannya. Dia mengangguk kemudian beranjak bangun dari kursinya Dikibaskannya rok seragamnya yang sudah agak kusut, lalu menyambar tas sekolahnya yang tersandar di kursi sebelah. "Aku tidak akan menyerah .. ," ujarnya penuh tekad.

 "Kau akan berusaha mendapatkan Wine?" tanya Apple.

 "Tentu saja!" Pear menyunggingkan senyumnya. "Selama dia bukan gay, maka .. tidak ada alasan bagiku untuk menyerah .. ," ujarnya sambil mengepalkan tangan membuat gerakan Yes!!!

 
*****

 

"Liburan panjang nanti kau kemana?" tanya Music ketika mengantarku pulang dengan mobilnya sore itu.

 Mesin mendesah pelan lalu berhenti di jalan masuk ladang strawberry milik keluargaku. Aku membuka sabuk pengaman dan menoleh padanya. "Seperti biasa, .. panen .. ," jawabku sambil tersenyum padanya.

 "Panen?" Music tampak mengenyitkan alisnya lalu bertanya heran. "Tapi kulihat, .. ladang strawberrymu sudah kering .. "

Aku tertawa sambil mengibaskan tangan di depan matanya. "Bukan panen ladangku!" sahutku cepat. "Musim panen strawberry memang sudah lewat. Sekarang yang tertinggal hanya tunas-tunas muda di rumah kaca .. "

 "Jadi?" tanya Music ingin tahu.

 "Panen anggur!"

 "Anggur?" Music mengulang kata itu. "Ladang milik keluarga Wine, maksudmu?"

 "Ne .. "

 Dari rautnya terlihat tidak senang. "Kau akrab dengannya?"

 "Dhuga?" Aku balas bertanya.

 "Wine!" sahut Music sambil menatapku lekat-lekat.

 Segera saja aku mengeleng keras-keras. "Anhi!! Aku dan Wine tidak pernah akrab. Dia tidak suka padaku!"

 "Lalu bagaimana denganmu? Apa kau suka padanya?"

 Aku terbelalak. Kaget mendengar pertanyaannya. "Tentu saja tidak!" jeritku histeris.

 "Jinja?" selidik Music.

 "Ne!" Aku mengangguk yakin. Lalu kuamati dia heran. "Weeyo?" tanyaku kemudian. "Kau terlihat mengisyaratkan sesuatu dibalik pertanyaan ini?"

 Music menatapku, sesaat kemudian dia tersenyum. Digelengkannya kepalanya seraya memegang tanganku. "Bagaimana kalau kau ikut denganku ke kota?"

 "Kota?" Aku tersentak kaget.

 "Ne. Seoul. Apa kau pernah ke sana?"

 Aku mengeleng perlahan-lahan. "A .. apa kau bermaksud pulang ke Seoul?" tanyaku kemudian, .. sangat pelan.

"Ne .. ," jawab Music. "Mungkin beberapa hari. Karena itu kau ikut denganku ya? Akan kutunjukan tempat-tempat wisata menarik di sana .. "

 Sesaat keadaan jadi sunyi. Music menunggu jawaban dariku dalam diam, .. sementara aku mengigit bibir, tidak tahu apa yang mesti dikatakan. Lima menit berlalu. Akhirnya aku membuka mulut lambat-lambat.

"Tapi .. a .. aku .. tidak bisa ... ," ujarku sambil menunduk perlahan. "Orangtuaku tidak akan mengijinkannya. Mereka .. mereka .. tidak pernah melepasku, keluar sendirian .. "

 "Kan ada aku, Berry-a .. ," desah Music.

 "Miane .. " Aku mengangkat kepala dan menatapnya penuh penyesalan. "Sungguh aku tidak bisa. Acara panen tahunan di sini sangat penting ..."

 "Bagimu .. ," ujar Music kemudian. " .. apakah .. Dream High sangat berarti? Segalanya?"

 Aku mengatupkan bibir kemudian mengangguk dengan pasti. "NE! Dream High tempat lahirku. Dan aku sangat mencintai desa ini .. "

 "Dan jika .. jika suatu hari kau menemukan ada yang akan merombak tempat ini, .. apa yang akan kau lakukan?"

 Aku menegakan badan dan memasang tampang serius. "Aku akan membenci orang itu seumur hidup!"

 "Begitu .. ?" Music membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering kemudian mengarahkan pandangan ke depan.

 Aku menatapnya heran. "Weeyo? Kenapa bertanya begitu?"

 Music berpaling perlahan. Dia tersenyum lalu mengelengkan kepalanya. "Aniyo. Hanya ingin tahu saja apa arti desa ini bagimu .. "

 "O--" Aku membalasnya dengan senyuman. "Sekarang kau tahu kalau Dream High sangat berarti bagiku .. "

 Music memperdengarkan suara tawanya yang terdengar parau. "Ne ... "

 Lalu keadaan menjadi sunyi kembali. Kami disibukan oleh pikiran masing-masing. Aku lagi memikirkan panen tahunan yang akan dilakukan minggu depan.  .. sedangkan Music, entah apa yang dipikirkannya. Seluruh perhatiannya tertuju ke depan. Kami terdiam selalu beberapa menit.

Lalu tiba-tiba dia memanggilku. "Berry ... "

 "Dhe?" Aku menoleh dan deg .. , mataku langsung terpatok pada bibirnya ... Bagaimana tidak? Bibir itu hampir seinci lagi mengenai bibirku. Reflek, aku segera menarik diri ke belakang dan .. --bukk, kepalaku terantuk kaca jendela. "Akh!!" seruku tertahan.

 "Oh--gwencana?" Music terlihat khawatir. Tangannya segera bergerak kearahku.

 "Eh--ne .. ," sahutku gugup. Tangannya yang sudah berada di belakang kepalaku segera kukibaskan. Aku sungguh-sungguh gugup, .. dan juga merasa bersalah. Bagaimana tidak jika sudah berulangkali aku berkelit dari ciumannya. Aku juga tidak mengerti mengapa begitu, ... hanya terjadi begitu saja. Seakan ada kekuatan yang memaksaku menghindarinya.

 "Kau tak menyukainya?" ujar Music kemudian, kecut.

 "Dhe?" tanyaku sambil melebarkan mata bulat-bulat.

 "Kau tak suka kucium? Sudah beberapa kali aku mencobanya tapi kau .. "

 "Bu .. bukan begitu .. ," ujarku segera. Dengan perasaan bersalah yang sangat dalam. "Aku hanya .. belum siap .. mianeyo .. "

 "Kapan kau akan siap?" tanya Music.

 Aku menghela nafas, lalu mengeleng pelan. "Aku tidak tahu. .. Mian .. "

 "Ehmm--" Music mengangguk-anggukan kepalanya. Sesaat kemudian dia menegakan badan dan membukakan pintu buatku. "Baiklah. Aku akan menunggu sampai saat itu .. ," katanya sambil tersenyum. Lalu dia mempersilahkanku keluar dari mobil. "Hari sudah sore, kau pulanglah .. Ingat, jangan tidur terlalu malam .. "

 "Emm--Gumawo .. ," ucapku pelan. "Sekali lagi, mianeyo ... Aku berjanji akan 'berusaha' berubah ... "

 "Ne .. "

 Aku melempar senyuman padanya. Setelah mengangguk halus, aku melangkahkan kaki keluar. "Anyong, Music .. "

 Music mengangkat tangan dan melambai padaku. "Anyong .. "

 

******

 

 
"Saya pulang!!!"

 Teriakan yang menjadi kebiasaanku begitu memasuki rumah terdengar. Terburu-buru aku melepas sepatu di depan pintu dan bergegas berlari ke ruang dalam. Langkahku tercekat. Kedua orangtuaku sudah menungguku di sana dengan dandanan 'yang sangat' rapi.

 "Sudah pulang, sayang?" Omma tersenyum.

 Perlahan-lahan aku mengangguk. "Ne .. Omma dan appa ... ," aku menunjuk dandanan mereka. " .. mau keluar?"

 Omma mengenakan gaun malam warna hitam yang membuatnya terlihat anggun, sedangkan appa memakai kemeja putih garis-garis abu-abu yang terbuat dari sutra.

"KITA yang keluar, sayang ... ," sahut omma. "Bukan hanya omma dan appa .. "

 "Emangnya kemana?" tanyaku seraya meletakan tas ke atas sofa.

 "Makan malam di Wine's field!"

"Mwo?!" Aku segera berpaling. "Maksud omma, rumah Wine?"

 "Ne ... ," omma mengangguk. "Tadi siang tante dan paman So mu menelepon,.. katanya mereka pulang dari Jeju kemarin dan malam ini berniat mengundang kita makan malam di rumahnya. Sekalian peringatan panen anggur tahunan .. "

 "O--"

 "Karena itu bergegaslah. Omma dan appa menunggumu di luar ... "

 Kembali aku mengangguk. "Ne. Segera omma!!"

 Aku berlari ke kamar buat ganti baju. Sepuluh menit kemudian aku keluar lalu bergabung kembali dengan omma dan appa.

 

******

 

Empat pasang mata mengamatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu berbalik kembali, .. begitu seterusnya. Aku sedikit bergerak dari duduk ku. Pandangan mereka membuatku risih.

 "Gimana?" Omma melirik Nyonya So sambil tersenyum penuh arti.

 "Stro makin lama makin cantik ... ," puji Nyonya So. Dia mengacungkan jempol ke atas. Aku hanya bisa tersenyum malu-malu mendengarnya.

 "Kami rasa Wine .... ," lalu perkataannya memelan .. sampai berupa bisikan.

" ....... "

" ....... "

 Aku menatap mereka. Mulut-mulut itu bergerak-gerak tanpa suara, cepat dan sangat cepat, serupa bebek-bebek kali yang senantiasa mencuap-cuap sambil berenang kesana kemari. Aku memejamkan mata perlahan, sangat lambat sampai pandanganku mulai mengabur ... dan akhirnya brukk kepalaku mendarat di meja, tertidur.

 

******

 

"Bangun, sayang ... "

 Aku membuka mata perlahan-lahan. Dan pandanganku menangkap paras omma yang berjarak begitu dekat dari ku.

"Omma ... ," kepalaku miring ke samping. "Wee?"

"Sudah saatnya makan malam .. ," ujar omma. Lalu dia menepuk pundak ku. "Ayo bangun ... "

 "Tolong tante bawa makanan-makanan ini keluar, Stro!" terdengar Nyonya So berseru dari tengah ruangan.

 Aku bergerak bangun dan berjalan kearahnya. "Apa dipindahkan ke taman?" tanyaku padanya.

 Nyonya So mengangguk. "Ini tinggal setengahnya. Kau bawa minuman-minuman dalam nampan itu aja ... "

 "Ne!"

 Kuambil nampan dari atas meja, kemudian mengikuti kedua pembantu yang terlihat sibuk membawa makanan-makanan yang tersisa ke taman belakang. Kebiasaan kami dalam menyambut panen tahunan ini memang dengan menghabiskan waktu semalaman dalam taman yang sudah dihias dengan sempurna di belakang rumah.

 

******

 

"Ada apa ini?"

 Langkah Wine tercekat begitu berpapasan dengan kami di lorong tengah.

 Nyonya So mendongak dari bawaannya kemudian menunjuk ke taman belakang dengan bibirnya. "Perayaan panen tahunan ... "

 "Panen tahunan?" Wine melirik piring-piring yang kami bawa.

 "Iya ... "

 "Bukannya masih seminggu lagi?" tanya cowok itu lebih lanjut.

 Nyonya So mengangguk. "Memang. Tapi omma dan appa memutuskan dipercepat, mengingat .. ada beberapa hal yang menghambat, .. berkaitan dengan para pekerja .. " Nyonya So berhenti, lalu mengibaskan tangannya, "Sudah, kau ganti bajulah dulu. Dan ingat segera bergabung dengan kami di taman belakang .. " Wanita itu mulai bergerak, namun baru selangkah dia menoleh kembali. "O ya, dari mana saja kau? Sudah jam berapa ini?"

 Wine yang sudah bergerak dari posisinya berbalik ke Nyonya So. "Habis latihan basket bareng Chocolate dan Coffee. Lagipula salah omma sendiri tidak memberitahukan perubahan jadwal ini .. "

 Nyonya So manggut-manggut sambil meruncingkan bibirnya. "Ya sudah, bergegaslah .. "

 "Ne!"

 Sekilas aku melihat Wine melirik ku, .. menyengir tipis, lalu ... menjulurkan lidahnya?

 "Yaa--" Aku membuka mulut, namun si geblek itu sudah ngeloyor pergi dari tempatnya. Bibirku terkatup kembali, menatap daun pintu yang bergoyang-goyang akibat hempasannya dengan mata segaris, redup.

 

********

 

Aku menaruh sumpit ke mulut lalu mengigitnya gemas. Makanan-makanan yang terhidang di atas meja membuatku geregetan. Semuanya terlihat enak dan lezat. Aku ingin mencicipi seluruhnya tapi sungguh kayaknya perutku tidak mampu buat menampung terlalu banyak.

 Tanganku terulur lalu mulai menyumpit daging sapi panggang yang diiris kecil-kecil. Kumasukan ke dalam mulut, hmm--terasa sangat lezat ... Lalu perhatianku beralih ke salad sayuran. Kucoba menyumpit sedikit kemudian memakannya. Yang ini juga tidak buruk.

 Seterusnya seluruh makanan tidak luput dari incaranku. Kumasukan satu-persatu ke dalam mulut dan mengunyahnya dengan semangat. Sampai sepasang sumpit tiba-tiba menyambar sumpitku, membuatku mendongak keheranan.

 "Yaa--hentikan ulahmu!!" Wine melotot, sampai-sampai sepasang bola matanya seakan sudah bersiap meloncat keluar dari rongganya. "Jangan mengorek dan mengotori makanan-makanan ini dengan sumpitmu!!" bentaknya keras dan panas.

 Perlahan-lahan aku menurunkan sumpit ke atas meja dan menatapnya. "Weeyo?" tanyaku dengan mata berkejap-kejap.

 "Jangan memandangiku seperti itu!" larang Wine seraya menodongkan sumpit di tangannya hingga hampir mengenai mataku. "Kelakuanmu tadi jorok, tahu?!!" umpatnya sambil mendelik tajam.

 "Yaa--jorok apanya?!" Aku membalas si geblek ini dengan memanyunkan bibir seinci. Sungguh mengesalkan melihat tampang murkanya. Emang punya alasan apa dia marah begini padaku. Brakk!! Kuhentakan sumpit ke atas meja, "Semua juga mengambil makanan dengan sumpit, .. kenapa cuma saya yang kau salahkan?"

 "Karna .. " Kulihat dia memutar bola mata ke atas, seperti berpikir ... lalu perhatiannya dialihkan kembali padaku. Sembari mendelik pedas, rautnya mengerut tidak senang. "Karna cuma kau yang jorok (Gubrakk! ngejawab sama aja dengan ga ngejawab lol)!!" sahut Wine keras kepala.

 "Yee--" Aku segera mengibaskan sumpitnya ke samping, hingga mendarat keras di atas meja. "Kalau jawabannya yang itu itu doang, tidak usah diulang lagi!!" Aku mengangkat sumpitku kembali, kemudian menjepit sepotong chicken wing dan kusorongkan ke dalam mangkuknya. "Hadiah buatmu karna terlalu ... "

 "STRAWBERRY IMMMMMMMMMM!!!!" Wine membelalak histeris.

 Aku mendongak. "Mwo?" tanyaku polos.

 Wine mengerak-gerakan sumpit di tangannya tanpa mampu mengeluarkan suara. Bibirnya bergetar hebat. Teriakan-teriakan selanjutnya yang ingin dilancarkan tidak mampu dikeluarkannya. Aku memiringkan kepala perlahan dan mengamatinya sambil mengenyitkan alis. Mendadak nafas Wine jadi memburu dan agak tersendat-sendat. Dia kembali mengarahkan sumpitnya, kali ini menunjuk mangkuknya sendiri. Aku melihat mangkuk itu, lalu menoleh kembali padanya.

 "Mwo?" tanyaku kembali, tidak mengerti.

 "Kau .. kau .. ," ucap Wine tersengal-sengal.

 Aku kembali melirik mangkuk di depannya. "Mwo? Ada yang salah?"

 "Su .. sudah kubilang i .. itu jorok .. , kau .. kau masih melakukannya ... "

 "O--" Akhirnya aku manggut-manggut sendiri. Rupanya perbuatanku menaruh chicken wing di mangkuknya yang membuatnya sehisteris itu. "Tapi ..., saya tidak berpenyakitan ... ," sahutku kemudian. Dengan tampang tak bersalah.

 "Kau ... "

 "Sudah ... " Nyonya So yang sedari tadi menyaksikan pertengkaran kami segera melerai. "Kau tidak boleh menyalahkan Stro buat penya .... "

 "Omma!!" Tak disangka Wine segera mendelik ommanya.

 Nyonya So tersenyum hambar seraya mengangkat tangannya. Dia mengangguk beberapa kali. "Ne, ne .. araso-yo ... " Diamatinya Wine sejenak lalu diangkatnya mangkuk di hadapan cowok itu, untuk kemudian diganti dengan mangkuknya sendiri. "Makan punya omma .. "

 Wine mengamati sebentar mangkuk berisi nasi pemberian ommanya. Lalu perlahan-lahan dia menarik mangkuk tersebut kearah dirinya, menatapnya dalam diam. Lambat-lambat dia mengangkat kepala dan memandangku tajam-tajam. "Awas kalau kau lakukan lagi!!" tandasnya dengan nada mengancam.

 Bibirku mengerucut. "Segitu aja ... " ckckck, dasar anak omma!!!

 
*******



"Saya kenyang!!"

 Aku meletakan mangkuk beserta sumpit di atas meja sambil mengelus-ngelus perutku. Wajahku berseri-seri, sangat kenyang dan puas rasanya menikmati makanan-makanan selezat ini. Apalagi menikmatinya di bawah siraman sinar rembulan dan bintang yang hangat dalam taman kecil yang sangat indah.

Saat ini perhatianku kebetulan sedang tertuju ke depan. Kulihat Wine sedang terpaku kearahku. Mulutnya sedikit terbuka dengan tangan memegang sumpit yang tergantung lemah di atas mangkuknya yang masih terisi setengahnya. Di dalam mangkuk tersebut tidak terdapat apa-apa, hanya nasi putih tanpa lauk.

Alisku berkerut perlahan. "Kenapa kau makan tanpa lauk?" tanyaku sambil menunjuk mangkuknya. "Lauk pauk ini sangat lezat loh .. ," lanjutku sambil menunjuk makanan-makanan yang tersaji di atas piring dengan bibir.

Paras Wine berubah dingin. Dengan cepat dia mengais seluruh nasi dalam mangkuknya ke dalam mulut dan menelannya seketika dengan hanya sedikit mengunyahya. Lalu dia menyambar gelas berisi air putih di samping mangkuk dan menandaskannya sampai habis. Setelah itu dihentakannya di atas meja.

"Saya selesai!!" tandas Wine sambil berdiri dari bangku.

"Selesai?" Aku melirik makanan-makanan yang masih tersisa di atas meja. "Kenapa tidak dicicipi makanan-makanan ini? Sungguh enak loh!!

"Kau reseh banget!!" bentak Wine. Matanya bersinar tajam sehingga membuatku membungkam seketika. "Sudah kubilang kau jorok! Dan kejorokanmu membuatku muak! Makanan-makanan ini sudah tercemari oleh .. "

"Wine!" Teguran Nyonya So menghentikan perkataan Wine.

Aku melirik wanita itu dengan tampang kuyu. "Miane tante ... "

"Ah--kau tidak salah!" Nyonya So tersenyum padaku, lalu dia berbalik pada putranya yang masih terlihat dongkol tingkat berat. "Kau juga, kenapa menyalahkan Stro? ... Sudah omma bilang tadi, Stro tidak tahu apa-apa tentang .. "

"Omma!" potong Wine cepat. Aku menangkap kekhawatiran dari sorot matanya. "Jangan dibahas di sini!"

"Okay--" Nyonya So mengangkat tangannya. "Kalau kau merasa risih, sayangku .. " Wanita paruh baya itu lalu tersenyum nakal memandangi putranya. Hal yang membuatku semakin mengaruk-garuk kepala keheranan. Apa sebenarnya rahasia dibalik semua yang tidak kuketahui ini? "O ya, Stro ... " Nyonya So berpaling kembali padaku. "Bagaimana hidangan kali ini?"

Aku tersenyum dan segera mengangkat jempol ke atas. "Perfect!"

Nyonya So tertawa. "Bagus kalau kau menikmatinya. Tante sudah takut ada beberapa hidangan yang tidak kau sukai .. "

"Tentu saja tidak .. ," jawabku merendah.

"Ehmm--" Deheman Wine menghentikan obrolan kami. Kami segera berpaling padanya. Wine terlihat mendorong kursinya ke belakang dan menyusut keluar dari posisinya. "Saya masuk duluan .. "

"Wine!" Panggilan Tuan So menghentikan langkah Wine.

Cowok jangkung itu menoleh. "Dhe?"

"Duduk dulu. Ada yang ingin appa bicarakan sehubungan dengan panen minggu depan ... "

Wine mengenyitkan alisnya begitu menangkap garis-garis mendalam tersirat dari wajah pria itu. "Weeyo?"

"Duduklah dulu ... ," pinta Tuan So lebih lanjut.

Wine menatap ayahnya sejenak. Setelah mengangguk pendek akhirnya dia duduk kembali di bangkunya.

"Ahjuma, berkas-berkas dinner ini boleh dibereskan sekarang!" perintah Nyonya So pada pembantu-pembantunya.

Kedua ahjuma yang sedari tadi sibuk merapikan rumput-rumput taman dan menambahkan minuman-minuman buat majikan-majikannya segera membungkukan badan. "Ne, nyonya ... " Lalu mereka mulai melakukan perintah Nyonya So.

Piring-piring kotor beserta peralatan-peralatan makan lainnya dibawa masuk oleh mereka. Setelah taplak diganti dengan yang baru, tuan rumah ditinggal sendiri dengan kami--aku, omma dan appa di taman kecil itu.


*****

 

"Bagaimana? Ada apa sebenarnya?" tanya Wine sambil memundurkan punggungnya ke sandaran kursi. Sepasang tangannya terlipat di depan dada sambil menghadapi Tuan So.

"Ada beberapa masalah .. ," ujar Tuan So.

"Agak mendesak?"

"Ne .. " Tuan So mengangguk.

Aku mengamati Tuan So, lalu berbalik pada Wine. Perlahan-lahan mataku dipicingkan. Entah mengapa agak aneh rasanya melihat Wine seserius ini. Wajah yang biasanya menurutku bego menatap ayahnya tanpa berkedip. Bukan hanya heran dan bingung yang aku rasakan sekarang, namun sesuatu yang tersirat dari tampang yang terlihat tenang dan begitu memperhatikan perkataan Tuan So itu menimbulkan perasaan yang sangat aneh. Aku merasakan sesuatu yang lain. Desiran yang membuatku segera menekan dada. Ada apa ini?

Wine terlihat membenarkan posisi duduknya lalu bertanya dengan tenang, "Apa itu?"

"Hyun dan Joon ajushi memutuskan pergi dari Dream High besok pagi ..

"Mwo?!" Wine tersentak dari sandaran kursinya. Matanya terbelalak dan diperhatikannya Tuan So dengan pandangan tidak percaya. "Appa serius?"

"Ne .. ," jawab Tuan So lirih.

"Mereka pindah dari sini? Tidak akan kembali?" Wine menekankan pertanyaannya.

Tuan So mengangguk sambil memejamkan matanya.

"Shittt!!" Wine menghentak daun meja di depannya, brakk!! Bunyinya sangat keras sampai-sampai kami yang duduk mengelilingi meja terperanjat kaget dibuatnya. "Kita sangat membutuhkan tenaga mereka dan mereka pergi begitu saja .. ," seru cowok itu dengan sepasang mata berkilat-kilat.

"Kita tidak bisa menyalahkan mereka .. ," ujar Tuan So sembari menepuk pundak Wine buat menenangkannya. "Mereka punya hak untuk itu .."

"Hak apa?!" tukas Wine ketus. "Yang mereka mau-i hanya UANG UANG dan UANG!!"

"Sebuah penawaran menarik terlalu mengiurkan buat ditolak, Wine .. ," nasehat Tuan So bijak.

Tapi kelihatannya usahanya bakal sia-sia saja. Cowok di depanku ini sudah sangat emosi.

"Apa uang segalanya?" dengus Wine. "Sebegitu pentingnya sehingga harus menjual Dream High?!!!"

"Kita tidak bisa memaksa seseorang buat setia terhadap desa ini, Wine .. Bagaimanapun, Dream High sudah sangat ketinggalan perkembangannya jika dibandingkan desa-desa lain yang sudah dalam tahap perombakan .. "

"Tu .. tunggu sebentar .. ," tiba-tiba aku menyela pembicaraan antara ayah anak ini.

"Mwo?!!" Wine segera mendelik tajam.

Aku menatapnya lalu menelan ludah. Tampang si geblek ini terlihat menyeramkan saat ini. "Si .. siapa yang menjual Dream High?"  tanyaku terbatah-batah.

"Apa kau tidak dengar?" bentak Wine. "Tadi sudah kami bilang kan?"

"I .. iya .. tapi ... kenapa mereka melakukan itu?"

"UANG, Strawberry!!! Apa kau tuli?!" Wine terlihat sudah kehilangan kesabarannya. Segera saja dia menghempaskan kepalan tangannya ke atas meja.

"Kau emosian sekali!" omelku kemudian.

Wine mendengus, .. dan membuang muka kearah lain. "Berhentilah berbicara! Saya lagi pusing .. " Kemudian dia beralih kembali pada Tuan So. "Lalu apa yang bisa kita lakukan? Panen sebentar lagi dimulai, dan .. tahun ini agak lain--hasil anggur kita melimpah jadi tenaga kerja yang dibutuhkan juga lebih banyak dari tahun lalu. Beberapa hari yang lalu saja sudah ada beberapa pekerja yang minta berhenti dan sekarang ditambah Hyun dan Joon ajushi .. ? Hhh--Entah mengapa aku merasa kejadian-kejadian tersebut tidak segampang ini .." Wine mengelus-ngelus dagunya. "Pasti ada sesuatu yang lebih buruk  dibalik semua ini .. Huh--seharusnya mereka tahu ini akan menghambat panen anggur kita!!" Wine kembali mengebrak meja. "Kenapa banyak kejadian kayak gini akhir-akhir ini--huhh!!"

"Maksudmu ... banyak pekerja yang berhenti dari  ..  Wine's field .. dan memutuskan pindah dari Dream High?" Ini aku, yang bertanya dengan takut-takut.

Wine melirik ku sekilas, tapi dia tidak mengeluarkan suara. Hanya se-persekian detik kemudian, dengan gaya malas, dia sudah mengalihkan perhatian ke arah lain. Sepasang tangannya terlipat di depan dada dengan kepala menghadap ke samping, hampir 90 derajat dari posisiku sehingga ekspresi wajahnya tidak terlihat olehku. Diperlakukan begini, aku hanya bisa manyun-manyun dongkol sembari ikut memalingkan pandangan ke arah lain. "Ditanya baik-baik malah dicuekin huhh!" Aku mengerutu sendiri.

"Sudah, sudah--jangan dibicarakan lagi!" seloroh Nyonya So--memutus omelanku. Dia menyentuh lengan suaminya lalu menoleh pada Wine. "Ajak Cho dan Cof panen bareng minggu depan, nak .. " katanya pada cowok itu. Perlahan-lahan Wine mengalihkan perhatiannya, berbalik dari ladang gelap yang sedang dihadapinya kepada ommanya yang sekarang sedang tersenyum lembut. "Omma yakin appa setuju memberikan upah yang sesuai buat mereka .. " Lalu wanita itu menoleh pada Tuan So. "Benar kan, chagiya?"

"Ne .. "

"Nah apa omma bilang?" Nyonya So mengedipkan sebelah matanya pada Wine.

"Jinja?!" Aku melihat mata Wine melebar.

"Tentu saja!" sahut Tuan dan Nyonya So berbarengan.

"Gumawo .. " Wine tersenyum lebar.

Anak ini kalau tersenyum ternyata manis juga. Ups--!!! Spontan, aku menutup mulut dengan sepasang tangan. Aku barusan bilang dia manis? Benarkah?

"Wee?" Wine tiba-tiba beralih padaku. Si geblek ini seperti punya telepati saja! "Kenapa denganmu?" tanyanya dingin sambil menatap sepasang tanganku yang masih membekap bibir.

"A .. anhi!!" Aku mengeleng keras-keras. Setelah berkata begitu, aku kembali membekap mulut sendiri.

"Jika tidak ada, kenapa nutup mulut kayak gitu?!" sindir Wine.

Aku melepaskan tangan dari mulut dan berseru. "Bukan urusanmu!!"

"Saya tahu .. ," ujar Wine cuek.

"Mwo?!"

"Karna kau jelek!" Dia menyengir.

"YAA--" Tanganku sudah bersiap memukulnya namun dia berkelit dengan gesit.

"Jangan sekali-kali menyentuhku!!" teriaknya.

"Ini bukan menyentuh, tapi memukul!!" bentak ku tak mau kalah.

"Kau ini susah diatur!" omel Wine dari posisinya yang sekarang hampir dua meter terpisah dari tempatku berdiri.

"Daripada kau yang .. "

"Nak Wine .. " Panggilan lembut dari omma menghentikan perselisihan kami.

Wine menjulurkan lidah padaku lalu beralih pada omma. "Ne, tante?"

"Boleh tante minta tolong?" tanya omma sambil tersenyum padanya.

"Eh--ne .. ," jawab Wine gugup. "Tentu saja ... "

"Tidak masalah?" tanya omma memastikan.

"Ne, tentu tidak masalah .. " Cowok geblek itu mengangguk yakin. "Tante boleh minta tolong apa saja asal tidak di luar batas kemampuanku ... "

"Ah--tidak .. " Omma mengibaskan tangannya. "Tante tentu tidak akan meminta bantuan yang terlalu berat. .. Tolong antar Stro pulang, ya?" Gubrakkk--permintaan ini mah lebih berat dari permintaan manapun hmpfh

"MWO?!!" Kami menjerit bersamaan. Wine membulatkan matanya, begitu juga denganku. "ANTWEE!!!" seru kami bareng.

"Mwo?" Omma terlihat kaget. "Wee antwee?"

Aku dan Wine saling berpandangan. Sesaat kami tidak bersuara.

"Iya, Wee antwee?" tanyaku penasaran.

Wine terdiam dan mengatupkan mulutnya perlahan. Sebentar kemudian kulihat tubuhnya menjadi kaku. Dia menatap ku lekat-lekat sebelum akhirnya membusungkan dadanya dengan sikap menantang. "Lalu kau sendiri gimana, kenapa antwee juga?!!"

"I ... itu karena sa .. saya ... " Aku mengigit bibir kebingungan sendiri. Ya, kenapa antwee?

"Sudah anak-anak ... ," lerai omma. "Jangan bertengkar lagi .. " Omma kemudian melihat jam tangannya. "Ini sudah sangat larut malam ... ," gumamnya pelan sembari beralih padaku. "Omma khawatir jika membiarkanmu pulang sendirian. Kau tahu sendiri kan jalan ke rumah sangat sepi dan buram di jam segini? .. Kami ingin menemanimu, sayang .. tapi .. masih ada yang harus omma dan appa bicarakan dengan tante dan paman So jadi .. ," lanjutnya gelisah.

"Ah--omma .. " Aku berdecak. "Saya kan dilahirkan di desa ini. Segala pelosok desa ini sudah kukenal baik, lagipula tidak ada orang jahat yang berkeliaran di sini, jadi omma tidak usah khawatir .. Saya bisa pulang sendiri .. "

Lalu aku beranjak bangun dari kursi dan membungkuk pada Tuan dan Nyonya So. "Saya pulang dulu, tante dan paman. Terimakasih buat semuanya .. "

"Wine!" Panggil Nyonya So. Wine yang berdiri agak menyamping menoleh padanya. "Antar Stro!" tandas Nyonya So tegas.

"Ti .. tidak usah, tante!" tolak ku cepat.

"Omma dengar sendiri!" cibir Wine.

"Omma bilang--antar Stro pulang!" tekan Nyonya So sekali lagi.

"Omma ... "

"Atau kau ingin omma yang mengantarnya sendiri?!"

"Mwo? Yaaa--omma!!" protes Wine memelas.

"Omma serius!" Nyonya So mendelik.

"Tante .. tidak perlu .. ," serobotku gugup. Gawat jika harus pulang berduaan diantar cowok geblek ini. Bisa-bisa langit di atas kepalaku runtuh. Siapa bisa membayangkan apa yang akan dilakukannya padaku?

"Wine!!" kali ini panggilan Nyonya So terdengar berwibawa. "Omma tidak akan mengulanginya lagi!"

"Tante .. "

"Masih berdiri di situ!!" bentak Wine.

Aku berpaling. "Mwo?" tanyaku heran.

"Jalan, pabo!!" teriak Wine. Tanpa menungguku, dia bergerak cepat ke jalan keluar belakang yang dibatasi ladang anggur.

"YAA!!" Aku melambai padanya, namun sosok jangkung yang satu itu sudah hampir menghilang tertelan dewi malam. "TUNGGU!!" Sambil membungkuk pada para orangtua, aku mengejarnya.

 
******

 

Nyonya So tersenyum pada omma dan appa, lalu melirik suaminya. "You see?" Tangannya direntangkan dan dia membungkuk dalam-dalam.

"Kau sangat hebat!" puji omma sembari merangkulnya. "Tadi kukira rencana kita tidak berhasil. Anak-anak itu kelihatannya sangat keras kepala .. "

"Aku tahu kelemahan Wine!" ucap Nyonya So bangga. "Sekeras apapun dia--tidak akan mengecewakanku .. "

"Wine memang anak baik!" kata omma.

"Memang!" Nyonya So mengiyakan. "Tapi, Stro juga tidak buruk .. ," lanjutnya berseri-seri.

"Itu sih tidak perlu diragukan lagi .. " Appa angkat berbicara. "Bukannya memuji, namun putri kami memang tiada duanya ... "

Sebentar saja keadaan taman itu menjadi ribut oleh suara ketawa para orangtua yang sedang memuji-muji anak-anaknya yang ternyata sedang berselisih sengit di tengah kebun anggur.

 
******

 

"Siapa suruh kau main kabur aja?" teriak ku keras-keras.

"Yaa--kau menyalahkanku?" balas Wine tidak mau kalah. Dia berdiri hampir dua meter dariku. Bisa bayangkan--kami bertengkar dalam jarak sejauh itu?--huhh--

"Bukan salahmu, emangnya salahku?!!!"

"Kau kan kebiasaan meloncat dari pagar pembatas!!" teriak Wine sambil mengesek-gesek gerahamnya.

"Pagar pembatas palamu!!" Yee--kenapa pula aku memakai istilah kegemarannya?! #garuk-garuk kepala sendiri. "Siapa yang memanjat pagar semalam ini?!!"

"Siapa tahu .. ," ledek Wine.

"Kau sungguh-sungguh menyebalkan!" omelku. "Jika tidak ingin mengantar, bilang aja. Jangan sok gentleman begitu! Gara-gara diminta omma-mu huhh ... "

"Siapa yang sok gentleman?!" seru Wine tak terima.

"Tentu saja kau! Emang masih ada yang lain?!" celetuk ku sembarangan. Sambil berdecak kesal aku berbalik ke belakang. "Jadi gimana nih?" tanyaku sambil menatap capek pagar pembatas yang terlihat kelam di depanku. "Apa mesti masuk lewat situ?"

"Terserah kau!" ujar Wine.

"Mwo?" Aku berpaling cepat. "Kau tidak berperasaan banget!" pelototku sengit. "Gimana mungkin kau membiarkan seorang cewek memanjat pagar semalam ini? Tolongin kek--?"

"Mwo?" Wine melebarkan matanya. "Tologin gimana?" tanyanya agak ngeri. Tanpa sadar dia menyusut selangkah.

"Dorong aku ke atas!" pintaku sambil melangkah ke pagar pembatas. Aku mengikat ujung gaun ke pinggang--karna memakai celana pendek dibalik gaun maka aku dapat melakukan ini buat mempermudah gerakanku nanti. Aku mulai menyelipkan kaki ke celah-celah yang terdapat di antara pagar dari kayu ini dan mengangkat tubuh ke atas. Namun, gerakanku tertunda begitu tidak merasakan bantuan yang kuperlukan. Aku menoleh dengan posisi mengantung di tengah pagar pembatas. "Wey--ngapain masih bengong di situ?!!"

Wine jadi gagap. "A .. apa tidak sebaiknya ... ber ... balik arah saja? Le .. wat jalan utama ... ?"

"Kenapa? Sudah tanggung nih--!" seruku jengkel. "Cepatlah kemari!"

"An .. antwee!!" tolak Wine.

"WEE?!!" jeritku. "Ayolah--Capek nih--!!"

"Kau .. kau lakukanlah sendiri .. " Wine berkeras di tempatnya. Dia tidak bergerak sama sekali, terlihat ngeri.

"WINE SO!!!!"

"Tidak mau!!"

"WEE?!!"

"A .. aku .. pokoknya .. tidak bisa!!"

"WINE!!"

"Kau .. lakukanlah sendiri!! Kau kan sudah .. biasa .... "

"Tidak bisa!! Gaunku tersangkut!!" teriak ku begitu kakiku tidak mampu digerakan gara-gara beberapa ranting liar menembus gaun tipis yang kukenakan. "Wine .. ," desahku memelas. "Hampir jatuh nih--"

"A .. aku ... " Wine jadi kebingungan di tempatnya. Dia bergerak kesana kemari namun tidak kearahku.

"Wineeeeee!!! AKH--!!!"

Posisiku goyah. Pagar dari kayu yang mungkin sudah rapuh ini patah dan tubuhku terpental jatuh. Sebelum mendarat di tanah, aku memejamkan mata rapat-rapat.

"AKH!!"

Aku mendengar teriakan lain. Dan anehnya, tempatku mendarat tidak terasa keras, dan aku juga tidak merasa sakit. Sesuatu yang sangat empuk seperti mengalasi tubuhku, melindunginya dari kecelakaan yang mungkin berakibat fatal. Aku membuka mata perlahan.

"Wi .. wine ... ," ujarku tak percaya. Bagaimana mungkin?

"Bangun!!" bentak Wine.

Yang segera menyadarkanku dari posisi mengangga yang tidak elit. Segera saja kututup mulut rapat-rapat. Kulihat dia mendelik tajam sehingga sebelum mendapat bentakan yang kedua kali aku segera meloncat bangun "Mi .. miane ... "

Wine meringgis. Sambil menekan lengannya yang terluka akibat irisan rumput-rumput kering dan ranting-ranting liar, dia mengerutu. "Kau berat sekali!!"

"Mwo? Aku .. "

"Kenapa? Tidak terima?" bentaknya ketus. "Selalu sial berdekatan denganmu!!"

Aku membuka mulut bersiap protes namun segera terbungkam oleh sesuatu yang menarik perhatianku. Bintik-bintik merah darah yang pernah kulihat beberapa waktu lalu kembali bermunculan dari sepasang lengan, wajah dan lehernya.

"Aish!!" Wine mendengus. Tangannya bergerak dan mulai mengaruk-garuk bintik-bintik tersebut.

"Apa itu?" tanyaku heran.

Wine menepis tanganku begitu hampir mencapai lengannya yang sudah sangat merah. "Bukan urusanmu!!" Dia beranjak bangun dan segera memutar tubuh ke arah jalan utama yang berseberangan dengan pagar pembatas di belakang kami. "Lewat jalan besar!!" lanjutnya tanpa berpaling padaku.

"Yaa--kau tidak apa-apa?" tanyaku sambil mengejarnya.

"Tidak!!"

"Tapi .. bintik-bintik itu ... ," tunjuk ku dengan nafas tersengal-sengal. " .. kayaknya kau alergi ama daun-daun kering yang tadi banyak berserakan di tanah .. mungkin .. virus .. "

Gubrakk--

 

*****
« Last Edit: March 23, 2011, 07:49:27 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
udah bisa buka nih sekarang ?  [goodgrief]

btw berry wine next chapter donk ! 
[hmpfh] [laughing] [laughing]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
chap ni lucu mam [laughing] [laughing] seger bener! mengaga ga elit tu kaya opo si? [rofl] <--abaikan
LANJUT... [hmpfh]

Love you more than I can say

Offline el_minoz

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • upssss.....
    • View Profile
akhirnya ada juga  FF yg d update wkwkwkwk

wah ternyata ortu y mreka mang punya rencana buat jodohin kayaknya he9

krisis d desa dream high jangan2 kerjaan y music y mi????

ksian amat si wine menderita dah d suruh nganter stro eh ketiban lagi n langsung deh bintik2 merah bermunculan he9 gpp kan biar belajar sapa tau bis gini g alergi lg hoaha9

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Horeee,mami akhrnya bs tembus CM. Mam, updatean yg dimari dipanjangn ya mam,coz bc yg di FB gak pjg kyk gn and kgk ada scene bery manjat2 pake gaun. GUBRAKKK bery polos amir pan si Wine tmbh bercak2 merah gara2 nlgn bery yg mo jatuh,hmpf. Bery bery ,kasian noh si wine.


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
Makasi ya luph udah ngapdet yang ini. Dr kemaren CM ga bisa diakses mulu. Emang ada FF d FB juga ya luph? Mau dunk (kayanya gw hrs bikin akun FB neh...he4)....

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
horeeeeeeeeeeeeeeeee bs dibuka lg [clap] [clap] [clap] [clap] mommy ini ditambahin ya chapnya lebih panjangan asik2 [jumpy] [jumpy] [jumpy] ekekekek gara2 nolongin mo jatoh si wine jd kumat bintik2nya [hmpfh] si berry  yg ga tau apa2 polos amir bilang alergi daun2 kering gedubraakkkkkkkkkkkkkkkkk [hmpfh] [laughing]


ADAM COUPLE SELCA

Offline Diamond of Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 714
  • Your smile make me cool..Your love around me,,
    • View Profile
Dari kemaren gw mo komen kagak bisa...+bisa jebol cm cuma ga bisa komen..error mulu [hmpfh] [hmpfh]+


mamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii......love it..love it... [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]gw kesemsem sendiri ngebayangin si wine ngegendong si berry waktu mo jatuh itu..walau dengan terpaksa tapi gw udah bisa senyum senyum sendiri...apalagi waktu bintik mereah nungul di skin wine//. [on] [on] [on]gw salut ama dia wlpun mendengus kessal...


masalahnya si music kenapa sih??beda amat waktu ngomongin ttg  dream high..apa alih desa itu sepenuhnya berasal dari kuasa si music??atau keluarga besarnya.. [what] [what]

Lha si wine marah amat sama orang yang mo ngapa_ngapain dream high...kok sebegitunya ya???jadi curiga nih... [chin] [chin]


mamiiiiiiiiiiii......lagiiiiiii [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

gumawo ya mi..... [cheekkiss] [cheekkiss]
From the bottom of my heart,,
i wish you here with me ever and forever..
Become a real couple..

Aza aza hwaiting!!!

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
waduh, sebenernya si Wine menderita alergi jenis apa sih? Kok kayanya parah buanget. TErus itu yang mulai pergi dari dream high pasti bagian dari rencananya Music? Sebenernya apa maunya Music? Sukur deh, Stro gak terlalu kemakan rayuan Music... [heh]mumgkin dalam hatinya dia mulai suka ama Wine... [lovestruck]...Sayangnya, Wine masih alergi ama cewe2 manis... [hmpfh]

Ditunggu lagi update-annya ya...Si CM ini napa sih akhir2 ini kumat... [what]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
diamond, teka2i dibalik music elu tungguin aja, pasti terbongkar kemudian [hmpfh] lagian si wine iseng banget, ngenganterin berry pulang kok lewat pager [laughing] [laughing] rasain deh tuh alerginya kumat [hmff]

mak yem, si berry kan ga tahu apa2 ttg alerginya wine, jdnya begitu deh--asal nebak [hmpfh]

mawar, kemarin2 gw post chp ini via fb,, maklum krn CM ga bisa dibuka [sweat]

shanty, bagian berry manjat2 pagar ada kok di fb, kan gw bagi 2 part, nah part kedua mungkin lu blm baca aja [hmpfh] [hmpfh]

el, krisis di dream high masih ada hubungannya dgn music [heh]

moow, mengangga elit sama aja dengan mengangga  berkualitas---gubrakk [hmpfh] [hmpfh]

vio, [guns] [guns] [head break] [hammer] [fighting] [goodgrief]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
mungkin virus, gubrak !!! tapi benar juga kan bukan salah strawbery lo wine punya penyakit aneh  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
udah bisa buka nih sekarang ?  [goodgrief]

btw berry wine next chapter donk ! 
[hmpfh] [laughing] [laughing]