Author Topic: Strawberry, Lovers or Haters?--#CHP 15 PART II# 6 Nov' 11  (Read 27107 times)

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
ada yg mau berry-wine [what] [what] jika mau, tungguin beberapa jam lagi ya [hmpfh] [hmpfh] [laughing]

yesss ! I am ! your cutie sweety berry berry's daughter, mom !  [hmpfh]

waiting impatiently  [goodgrief]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
CHAPTER NINE
-Pucuk dicinta UlamPUN tiba-




"Kalian nakal!!"

Teriakan lanjutan dari empat cecunguk di depan menghentak ku dan Wine.

Aku terperanjat kaget, .. begitu juga Wine. Mataku terbelalak, .. dengan segera kuturunkan tanganku yang menekan dadanya. Tapi ternyata gerakan itu tidak secepat reaksi Wine. Pemuda geblek bin sableng itu tiba-tiba mendorongku hingga hampir terjengkang.

Aku sangat terkejut. Dengan susah payah kujaga keseimbangan agar tidak sampai jatuh. Untung saja Apple yang sudah berada tepat di depanku segera menarik tubuhku sampai tegak berdiri kembali.

"Yaishh--Wine!!" Aku mendelik sengit.

Namun Wine terlihat cuek, .. atau lebih tepatnya risih? Risih?!! Kenapa harus risih? Pipinya memerah jambu, entah itu karena sengatan matahari yang mulai meninggi di atas langit, ataukah malu. Aku melihat dia menekan, lalu mengelus-ngelus dadanya, .. dan dari sepasang tangannya mulai tumbuh bintik-bintik merah yang sangat samar.

"Tadi kesempatan yang bagus, kenapa tidak dimanfaatkan?" Coffee mendorong Wine dengan pundaknya, .. sambil tersenyum mengoda.

"Kukira kalian sudah akan berciuman saja!" sambut si Chocolate sambil nyengir lebar.

Wine mendorong mereka dengan kesal. Tangannya terus mengaruk-garuk telapak tangannya yang sudah semakin merah, ... kemudian berpindah ke dadanya  yang terbalut kaos ketat abu-abu. Aku tidak mengerti mengapa dia melakukan itu, sehingga bola mataku terus saja mengikuti gerak tangannya tersebut.

Wine menghentak tanah. Disepak-sepaknya rumput hijau pendek yang tumbuh di sepanjang ladang itu dengan tampang dongkol, setengah mati. Dia berbalik, kemudian dengan langkah lebar-lebar meninggalkan kami.

Aku memperhatikan kepergiannya dengan mulut mengangga. Bahkan untuk minta maaf buat perbuatannya yang hampir mencelakakanku itu saja, dia tidak?

"Gwencana?" Apple menepuk lenganku.

Aku menole, dan tersenyum kecut. "Ne .. " Paling tidak si apel ini masih berperasaan, .. tidak seperti Wine yang gebleknya selangittttttttttt!!!!


oooOOOooo



"Hoy--kenapa nggak dilanjutin tadi?" tanya Coffee sambil menyeimbangi langkah Wine.

"Mwo?!" Tatap Wine tajam.

"Kesempatan tadi--" ulang Coffee. "Seharusnya kau manfaatin! Seharusnya kau cium dia!"

"Apa kau sudah gila?!!"

Wine berputar dengan cepat sehingga Coffee dan Chocolate tidak sempat menahan langkahnya. Alhasil, ketiga cowok itu bertabrakan dengan posisi sebaris.

"Yaish!! Berbalik nggak bilang-bilang!!" umpat Coffee seraya mengelus-ngelus jidatnya yang memerah.

"Huh--" Chocolate ikut mengerutu akibat benturan tadi. Dadanya sukses bertabrakan dengan punggung Coffee. "Kau sama aja!!"

"Woi--itu bukan salahku!!" bela Coffee tak terima. "Kalau bukan si Wine yang berbalik tiba-tiba, aku tidak akan berhenti mendadak. Aku juga korban, tahu? Lihat--jidatku  benjol-benjol begini!"

"Okay, okay!!" tukas Chocolate cepat. "Sekarang bukan saatnya berdebat. Masalah Wine lebih penting dari semua ini .. "

"Masalahku?" Alis Wine berkerut begitu namanya disebut.

Dia menatap Chocolate dan Coffee dengan heran, .. dan pandangannya itu--seperti menuntut jawaban, tajam dan tegas. Dia terlihat sangat tenang. Tabrakan tadi memang tidak membawa dampak yang berarti baginya, sehingga dia tidak seemosi Coffee dan Chocolate, yang hampir bertengkar karenanya.

Wine makin menajamkan pandangannya terhadap Chocolate dan Coffee, .. begitu belum jua didapatkan jawaban dari keduanya, sembari--tanpa sadar, jemarinya terus saja mengaruk-garuk tangannya yang sudah dipenuhi bintik-bintik merah darah. Dan, .. Chocolate dan Coffee berhasil menangkap gerakan-gerakan tersebut.

"Ada apa dengan tanganmu?"

Bukannya memberikan jawaban yang diinginkan Wine, Coffee malah mengajukan pertanyaannya.

"Bukan ... ," Chocolate menghentikan perkataannya, lalu menatap Coffee. Beberapa saat mereka tidak bersuara, sampai …

"STRO?!! Tebak dua cowok itu berbarengan.

Serentak, Chocolate dan Coffee berpaling pada Wine, .. seolah meminta jawaban yang terasa 'sangat tidak masuk akal' itu.

"Ne!!" sahut Wine jengkel. "Semua karna Strawberry!! Ada masalah?!!"

"Ya--ampun!!" teriak Chocolate dan Coffee sambil membelalakan mata. Dalam sekejap, tawa mereka pecah dengan riuhnya.

"Sampai segitunya--ha .. ha .. ha .." Chocolate tertawa sambil memegangi perutnya.

"Kau .. kau .. benar-benar .. " Coffee menampar-nampar pohon anggur yang tumbuh di sampingnya saking gelinya.

"Memangnya kenapa?!!" Wine berteriak garang. "Apa kemauanku--hah?!!"

"Ku .. kukira ... ," Chocolate menekan perutnya. "Kukira kau hanya bergurau, tapi ternyata ... ternyata kau alergi beneran ama Stro .. ha .. ha .. "

"Ini lebih gawat dari yang kami kira ... " Coffee terlihat berusaha menahan dirinya.

"Gawat?" tanya Wine. Ekspresinya berubah bingung. "Gawat apanya?"

"Orangtuamu meminta kami menyatukan kalian. Tapi rasanya .. rasanya mustahil ... mengingat penyakit anehmu itu .. "

"Sialan!" Wine mengumpat. "Kenapa para orangtua itu selalu cerewet terhadap hubungan anak-anak mereka?!!"

Sehabis mengatakan itu, Wine melangkahkan kakinya meninggalkan Chocolate dan Coffee yang masih terpingkal-pingkal di tempatnya.

"Hoy--Wine!!! Mau dengar rencana kami, tidak?!!" seru Chocolate.

"Tidak!!!" balas Wine tanpa berpaling.

Chocolate dan Coffee saling melirik, .. kemudian tawa mereka pecah kembali.


oooOOOooo



"Apa yang akan kau lakukan sehabis dari ladang?" tanya Mango sewaktu kami membereskan peralatan-peralatan yang digunakan buat panen anggur.

Hari sudah beranjak sore kala itu, ... dan tiga cowok di depan, juga terlihat sedang merapikan barang-barang di sekitar mereka.

"Langsung pulang ke rumah!" jawabku sekedarnya, .. sambil meluruskan badan dan menuang sisa-sisa anggur di keranjang ke karung besar yang tersandar di sebatang pohon.

"Yaa--jangan!" larang Apple dari samping.

Aku berpaling padanya. "Weeyo?"

"Lebih baik kita dinner bersama para cowok itu .. ," saran Apple sambil menunjuk Wine, Chocolate dan Coffee. "Bagaimana?" tanyanya sambil mengedipkan mata.

"Setuju!!" sambut Mango cepat. "Saya setuju sekali. Pasti sangat menyenangkan dan seru makan malam bersama mereka .. ," sambungnya dengan raut berseri-seri.

Tapi, aku punya pendapat lain. "Antwee!!" tolak ku mentah-mentah. "Enak di kalian, nggak enak di saya!! Kalian bisa dinner bareng pacar kalian, lalu saya ... ? Kenapa kalian tak memikirkan saya? Saya mau dikemanakan?! Memangnya mau dijadikan bohlam buat penerangan asmara kalian?!!--huhh-- Pokoknya, antwee!!!"

"Kau kan ada Wine!!" sergah Mango tiba-tiba. "Dia akan menemanimu sebagai bohlam penerang bagi kencan kami .. " Mango terbahak-bahak mendengar leluconnya sendiri.

Aku memajukan bibir beberapa senti (kalau bisa sepanjang itu sih wkk). "Tidak lucu!!" seruku bersungut-sungut. "Kalian kenapa sih?! Kayaknya niat banget menyatukan aku dan Wine ... " Aku yang selama ini cuek dan tidak mau tahu, tiba-tiba menyadari sesuatu. Begitu pertanyaan tadi diluncurkan, kemungkinan ini langsung bermain-main dalam pikiranku. "Kalian ... , apa kalian benar-benar mempunyai niat itu ... ?" selidik ku lebih jauh.

Mango dan Apple saling berpandangan, .. lalu mereka menyahut hampir berbarengan. Suara mereka terdengar sangat keras. "Tentu saja tidakkk!!!"

"Kami hanya merasa ... , seharusnya kau memberi kesempatan dirimu untuk mengenal Wine lebih jauh ... ," kata Mango.

"Benar. Dia tidak seburuk dugaanmu .. ," sambung Apple.

"Chocolate dan Coffee sudah menceritakan segalanya tentang dia pada kami, .. dan kami rasa tidak ada salahnya kau mencobanya .. " Mango menambahkan secara bertubi-tubi.

Aku mengangga. "Kalian bicara tentang Wine?" tanyaku tidak percaya. Sungguh aneh rasanya mendengar pembelaan keduanya terhadap Wine. "Jangan lupa, nona-nona--aku sedang berpacaran dengan Music!!" tukasku mengingatkan.

"Hey--apa masalahnya?" Apple mengangkat kedua tangannya.

"Kita-kita masih muda, nona .. ," sambung Mango. "Kita masih diberi banyak kesempatan untuk memilih .. "

"Lagipula, .. aku tidak percaya kau mencintai Music!" timpal Apple.

"Maksudmu?" tanyaku padanya dengan segera. Alisku berkenyit sangat dalam.

"Kalian belum pernah ciuman kan?" tukas Mango tiba-tiba.

"Mwo?!!" Aku tahu pipiku sudah memerah. Itu terlihat dari reaksi Mango dan Apple yang tertawa geli.

"Apa kataku!!" Mango menyenggol Apple.

Sedangkan yang disenggol, mengangguk-anggukan kepala sambil menutup mulut dengan tangan.

"Itu membuktikan kalau kau tidak mencintainya!" cerocos Mango lebih lanjut. "Mungkin saja kau tertarik padanya, .. tapi itu bukan cinta, sayang!" sambung sahabatku itu dengan gaya mengodanya.

"Siapa bilang?" Aku berkeras. "Aku mencintainya!!"

"No, no, sayang .. ," ujar Mango sembari mengerak-gerakan telunjuknya. "Itu bukan cinta namanya!"

"Benar!" Apple mengamini. "Kalau benar kau mencintainya, kenapa kau tidak mau dicium olehnya?" lanjut sahabatku itu, sambil mengulum senyumnya.

"Mwo?" Mataku melebar. Bagaimana mungkin dua cewek centil ini .. mengetahuinya? "I .. itu .. karena .. " Aku menjadi gugup dan salah tingkah, .. jawaban apa yang harus kuberikan pada mereka? "Bagaimana kalian tahu kalau aku .. aku yang tidak mau dicium olehnya, dan bukan dia yang tidak mau menciumku ... ?" dan akhirnya, karena kehilangan akal, kulancarkan serangan bertubi-tubi pada Mango dan Apple.

"Yang buta aja bisa melihatnya!" sahut Mango seenaknya.

"Maksudmu?" tanyaku tidak mengerti.

"Maksud Mango," timpal Apple. "Music lebih agresif darimu, jadi--walaupun orang buta sekalipun, dapat menebaknya, .. kalau kau yang tidak mau dicium olehnya, dan bukan sebaliknya .. "

"O--" Aku membuka mulut lebar-lebar. Tanpa sadar, aku mengangguk, .. seakan mengiyakan perkataan-perkataan mereka. Ternyata tebakan-tebakan dua cewek centil ini boleh juga, pujiku dalam hati. Tapi--tunggu dulu!!! Ini bukan poin!!

"Tapi, itu juga tidak membuktikan kalau aku tidak mencintainya!" seruku bersikeras.

"Ya--kalau itu, tanyakan aja pada dirimu sendiri .. ," sahut Mango akhirnya, terlihat capek, .. mungkin akibat terlalu lama berdebat denganku mengenai masalah ini.

"Cih--" Aku mencibir. "Kalian bisanya cuma mengatai ku, lalu .. bagaimana dengan kalian sendiri? Sejauh mana hubungan kalian dengan Double C?"

"Double C?" Untuk kedua kalinya setelah mendengar nama itu dari ku, Mango dan Apple saling berpandangan. "O--Chocolate and Coffee!!!" seru mereka setelah mengingat siapa yang dimaksud.

"Ne--Chocolate and Coffee!" sahutku mengiyakan.

"Kami tidak bilang hubungan ini serius .. ," ujar Mango datar.

"Ne. Kami juga masih punya kesempatan untuk memilih kan?" sambung Apple asal-asalan.

"MWO?!!" Mataku terbelalak. Beginikah seharusnya hubungan antara pria dan wanita? Datang dan pergi begitu saja, .. tanpa kepastian yang jelas? Pikirku tidak mengerti.

"Kami menikmati masa remaja sesuai arus ..," kata Mango sambil menyengir lebar. "Tanpa janji, ataupun peraturan yang mengikat .. "

"Namun, walaupun begitu, ... " Apple menatapku dengan lirikan mengoda. "Hubungan kami lebih jauh dari hubungan kalian. Kami sudah sering .. " Tiba-tiba cewek itu memanjangkan bibirnya, membentuk ciuman, kemudian .. muah, suara mendecak keluar dari mulutnya.

"Ih--" Aku segera meloncat ke belakang. Kutatap dia dengan ekspresi jijik bercampur shock berat. "Kau--" Kemudian aku mengeleng keras-keras. "Tidak!! Maksudku--kalian, .. sungguh-sungguh menjijikan!!"

Kuputar tubuh, dan berlalu dengan langkah panjang-panjang sambil diiringi cekikikan dari dua kuntilanak di belakang.


oooOOOooo



Sementara itu, .. pada waktu yang hampir bersamaan di tempat yang berseberangan dengan kejadian di atas ..

""Ciuman itu enak loh--," ucap Chocolate seraya ngelirik Wine.

"Enak palamu!" bentak wine. "Liur saling memberi, memuakan!" sambungnya sambil membuang muka.

"Hah--nggak percaya dia!" sergah chocolate seraya menyengol lengan coffee sambil menyunggingkan senyum mengoda.

"Jika kalian masih mengejek ku, akan ku usir kalian dari ladangku!" tukas Wine kemudian dengan tatapan mengancam.

"Yee--keluar ancamannya .. ," seloroh Chocolate sambil tertawa geli.

"Cukup!!!" teriak Wine. "Aku sudah tidak ingin mendengarnya lagi!!"

"Okay, okay--" Akhirnya Chocolate dan Coffee menyerah.

"Kami tidak akan mengejekmu lagi--" ujar Chocolate.

"Tapi, sungguh nih--tidak ingin dicoba?" tanya Coffee sambil memasang tampang serius.

"Mwo?" tanya Wine melongo.

"Maksudku--" Coffee mengigit bibirnya guna menahan tawa. "Tidak ingin mencoba bibir Stro? Ha ... ha .. "

Cowok itu segera meloncat ke belakang begitu Wine tiba-tiba melayangkan kepalan tangannya.

"Sialan kau!!" dengus Wine.

"Sebenarnya ide Coff tidak buruk--" Chocolate menimpal tiba-tiba. "Bibir Stro terlihat sangat merona--pasti asyik tuh buat disosor .... "

Bukk, gerakan menghindar dari Chocolate kalah cepat dari serangan Wine. Dorongan keras di dadanya membuat Chocolate terpental dan jatuh terduduk di atas tanah berumput.

"Awas kalau kau masih berani mengucapkan kata-kata seperti itu!!" berang Wine. "Sekali saja kau punya pikiran begitu--akan kupelintir lehermu!!" Mata Wine berkilat-kilat, kepalan tangannya tergenggam erat. Seluruh tubuhnya terlihat bergetar ketika meninggalkan Chocolate yang masih terduduk di tanah dan Coffee yang terpaku di tempatnya.

"Ada apa dengannya?" tanya Coffee seraya berpaling pada Chocolate. "Perkataan kita tidak keterlaluan kan?"

"Huh--" Chocolate mendengus sambil berusaha bangun dari posisinya dengan dibantu oleh Coffee. "Mana tahu! Salah minum obat kali!"

"Tapi saya tidak pernah melihatnya seberang itu!" tukas Coffee.

Chocolate mengangkat bahunya, "Mungkin Stro sudah membuatnya gila!"

Coffee mengiyakan dengan menganggukan kepalanya.


oooOOOooo



"Wine, ... bagaimana?" Desahan yang sangat halus membelai pendengaran Wine dalam jarak yang sangat dekat.

Mata Wine terbelalak. Dia mendongak dari posisi rebahan di atas kasur, dan .. , "WAHH--" Postur jangkung itu tersentak kaget, .. langsung beranjak bangun dan ngundur sampai menabrak dinding. "O .. omma .. ?" katanya tergagap-gagap. Matanya berkejap begitu menyadari siapa yang menyapanya barusan. Dengan nafas tersengal-sengal dihapusnya keringat dingin yang mengucur deras dari jidatnya dengan punggung tangan. "Wee .. weeyo?" tanyanya kemudian. Setelah agak tenang, dia pun berseru dengan jengkel. "Mengagetkan saja!!"

"Memangnya kenapa?" Nyonya So memasang tampang tak bersalah sembari menjatuhkan tubuhnya di pinggir ranjang.

"Omma masuk tidak bilang-bilang," ujar Wine sengit. "Terus, .. melangkah juga tidak bersuara. Habis itu, pakai manggil-manggil dengan suara yang dimirip-miripin dengan suara hantu,.. apa itu masih tidak masalah? … "

"Hey--Hey--!!!" Perkataan Wine belum mencapai akhir ketika jeweran mendarat di telinganya. Nyonya So menarik daun telinganya dengan cukup keras. "Siapa yang mirip hantu?" tanya wanita itu dengan mata mendelik. "Anak kurang ajar!!"

"Yaaa--Itu kan hanya perumpamaan!!" jerit Wine membela diri, .. seraya menepis tangan ommanya.

"Omma tidak mau dengar perumpamaan seperti itu!!" Nyonya So melarang sambil mengeraskan rahangnya. "Araso?"

"Ya, ne .. ," sahut Wine walaupun tidak begitu rela. "Lalu, .. apa maksud omma nyamperin aku?" tanyanya sambil mengelus-ngelus telinganya yang terasa ngilu. "Bukan sekedar menanyakan panen hari ini kan?" lanjutnya menyelidik.

"Anak pintar ... " Tiba-tiba tampang Nyonya So menjadi manis. Tangannya menyentuh batok kepala Wine, kemudian mengelusnya dengan sangat lembut. "Kau memang paling tahu perasaan omma, Wine sayang .. "

"A .. ada apa?" Wine segera memasang tampang ngeri. Tidak biasanya ommanya bersikap seperti ini.

"He--" Nyonya So nyenggir lebar. "Kau pasti sudah bisa menebaknya--" ujar wanita itu seraya mengangkat alisnya sebelah. "Stro .. "

"Yaa--" Wine segera memutus perkataan Nyonya So. "Tidak ada yang terjadi pada kami--jika itu yang ingin omma ketahui!!" tukasnya ketus.

"Weeyo?" Nyonya So memiringkan kepalanya. "Kenapa tidak terjadi apa-apa? Padahal omma sudah merencanakan segalanya .. "

"Karena hal itu tidak mungkin!!" Wine turun dari ranjang dan berjalan ke pintu yang sejak tadi dibiarkan terbuka. "Sekarang,--bisa omma meninggalkanku sendiri?" usirnya halus.

"Kenapa tidak mungkin?!" tanya ommanya bersikeras. Dia tetap duduk di posisinya, tanpa terlihat niat beranjak dari situ.

"Omma tahu sendiri alasannya .. ," balas Wine hambar.

"Bukan karna kau tidak tertarik padanya kan?" tanya Nyonya So lebih lanjut. Pandangannya menyusuri setiap sendi pori-pori wajah Wine, seakan meminta sebuah kepastian.

"Pokoknya--aku dan Strawberry tidak mungkin!" sahut Wine tegas, ... dan tidak seperti jawaban buat pertanyaan wanita itu.

"Berarti ada kesempatan?" Nyonya So mengelus-ngelus dagunya puas.

"Omma!" tukas Wine. "Please, .. aku ingin istirahat .. "

"Fine .. " Nyonya So beranjak dari ranjang, dan berjalan ke arah Wine. "Mimpi yang indah, anak ku .. " dicoleknya pipi Wine sambil lalu, untuk kemudian keluar dari kamar itu.

Wine memperhatikan kepergian ommanya dengan bibir diteguk. Kemudian, dihempaskannya pintu yang masih dipegangnya sampai menimbulkan suara berdebam keras.


oooOOOooo



“Stro .. “ Omma menonggolkan kepalanya ke dalam kamar begitu ada perintah dariku.

“Ya?” Aku memutar kursi dan menghadapinya. Kututup buku yang sedari tadi kutekuni dan mengesernya ke sudut meja. “Ada apa, omma?” Sebenarnya saat itu sudah sangat larut malam dan aku sudah mengantuk, tapi berhubung tidak biasanya omma menyambangi kamarku di malam selarut begini, maka .. aku membiarkannya saja.

“Omma tidak menganggu kan?” tanya omma sekedar basa-basi. Diliriknya sekilas buku yang tadi kuhadapi, untuk kemudian beralih kembali padaku. “Kau sedang sibuk?”

“Anhi!” Aku mengeleng. Kuluruskan sepasang kakiku kemudian beranjak bangun dari kursi. “Aku sudah bermaksud menyelesaikan kegiatan membaca ini, .. dan--AHHH—“ Aku menguap lebar. Dengan gontai, aku berjalan ke ranjang dan menghempaskan tubuhku di situ. “Aku ngantuk .. “

“Hmm—tunggu sebentar!” cegah omma begitu melihat sepasang mataku mulai meredup dan siap untuk dipejamkan. “Omma ingin bicara sebentar . .”

Aku memicingkan mata dengan susah payah. “Ne .. ?”

“Bagaimana acara panennya hari ini?” tanya omma, langsung ke pokok masalah.

Aku menghela nafas lalu menjawab pelan. “Baik .. “ Mataku terpejam perlahan-lahan.

“Hey—jangan tidur dulu!!”

Omma tiba-tiba menepuk pundak ku.

“Ehh—“ Aku tersentak. “Ya … ?”

“Bagaimana dengan Wine? Apa dia menjagamu dengan baik?”

Apa omma barusan bertanya tentang Wine? Pikiranku mulai menerawang. Aku merasa tidak yakin.

“Ya .. ,” Akhirnya aku menjawab, .. secara asal-asalan dan tidak tahu apa yang kulakukan.

“Bagus!”

Aku mendengar suara orang bertepuk tangan.

“Berarti—hubungan kalian sudah ada kemajuan?”

Hening.

“Stro!”

Tiba-tiba kurasakan guncangan di tubuhku.

“Ne .. ?” tanyaku lemah.

“Hubungan kalian ada kemajuan? Benar kan?”

Aku mengejapkan mata hampa, .. sungguh, tubuh dan pikiranku sudah di awang-awang.

“Ne … “ Aku menjawab lirih.

#gubrakkk


oooOOOooo  



Aku berdecak-decak sambil menghembus-hembuskan nafas siang itu. Matahari sedang bersinar terik, sengatannya terasa membakar dan panas, .. tergantung tinggi di atas awan-awan biru. Aku mendongak kemudian meniup-niup berulangkali. Wajahku memerah dan terasa panas, apalagi bibirku--sudah mencapai tahap 'hampir membengkak'.

Semua karna kesalahan si Apple yang bertugas menyediakan makan siang bagi kami hari ini. Entah akibat keteledorannya atau kesengajaan, dia menambahkan terlalu banyak cabe dalam kimchie yang menjadi porsi makan siangku.

"A .. apple sialan, .. su .. sudah tahu aku tidak tahan pedas .. fuhh .. fuhh .. "

Aku meniup-niup kembali dan menghempaskan badan di atas tanah berumput.

Yang lebih tidak bisa dipercaya dari kecelakaan kecil ini, dia--si Apple berengsek, lupa menyediakan minuman bagiku. Sedangkan minuman-minuman mereka yang lunch bersama ku, termasuk si Apel sendiri, sudah dihabiskan begitu makanan-makanan mereka tandas.

"Si .. sial ... " Aku mengumpat dengan nafas tersengal-sengal. Bagaimana tidak? Rasa pedas ini sudah naik sampai ke kepala, .. membuat kepalaku terasa berat dan menekan-nekan hingga berdenyut-denyut, pandanganku berkunang-kunang dan, nafasku terasa sesak.

"Weeyo?"

Pertanyaan itu membuatku mendongak. Wine berdiri di situ, .. mengamatiku dengan pandangan tak berkedip.

"Apa yang terjadi padamu?" tanyanya lebih lanjut.

"A .. aku .. ," dengan susah payah aku berusaha menjawab, tapi suaraku tersangkut di tenggorokan. Setelah melakukannya berulangkali dan tidak berhasil, terpaksa aku membuka mulut dan menunjuk-nunjuk ke dalam rongga mulutku.

"Mwo?" tanya Wine bingung.

"Pe .. pedas ... ," akhirnya aku menjawab dengan suara yang sangat parau.

"Pedas?" Alis Wine berkeryit. Diamatinya sejenak rongga mulutku dalam jarak yang cukup jauh. Setelah menyadari apa yang kumaksud, dia berujar, "Kenapa tidak minum air?"

Aku mengeleng keras-keras, lalu memberi isyarat dengan tangan bahwa aku tidak punya minuman.

Dua menit berselang, si geblek ini baru menangkap maksudku. Dengan agak kaku, dia menyodorkan botol air mineral yang sedari tadi dipegangnya. Botol tersebut masih terisi setengahnya.

"Dhe?" Aku bertanya dengan suara yang sangat kering.

"Kau boleh minum minumanku ... ," jawab Wine kaku.

"Eh--?!!" Mataku melebar, .. dan segera bermaksud menolaknya, namun si geblek itu memaksa dengan menyorongkannya lebih maju kearah ku.

"Aku tidak berpenyakitan kok!" tukas Wine ketus.

"Eh--" Aku mengangga melihat Wine yang terlihat kesal. Padahal aku tidak bermaksud begitu, sungut ku dalam hati.

Dengan setengah hati kuterima botol yang disodorkan Wine, .. memutar penutupnya, lalu meneguk air dari dalam melalui bibir botol. Wine memperhatikanku selama sesaat, lalu berjalan mendekat dan menjatuhkan diri di sebelah ku.

Aku menghabiskan air dalam botol hanya dalam beberapa tegukan, setelah itu mengembalikan botol yang sudah kosong itu pada Wine. Wine menerimanya, untuk kemudian meletakannya di atas rumput. Sesaat pandangan kami bertemu. Aku membuka mulut dan menghembus-hembuskan nafas yang masih terasa panas dan pedas, .. sambil mengangkat tangan dan mengibas-ngibaskannya ke wajahku. Wine mengamatiku. Sebentar saja kebisuan meliputi kami.

Bibirku masih terbuka, dan gerakan tanganku masih berlanjut, namun perlahan tapi pasti, berubah jadi pelan dan lebih pelan.

"Wee .. ?" tanyaku tercekat. Selanjutnya, tidak ada lagi yang mampu kukatakan.

Wine terus menatapku lekat. Perlahan, pandangannya menurun ke bibirku. Sungguh, saat ini hatiku mulai berdegup kencang. Aku tidak mengerti perasaan apa yang mengayuti hatiku sekarang, namun .. aku berdebar-debar. Seperti mengharapkan sesuatu yang belum pernah kurasakan seumur hidup.

Tubuh Wine terlihat mengeser semakin dekat. Reaksinya sangat wajar, dan tatapannya masih melekat di bibirku, .. sehingga membuatku menutup mata perlahan-lahan. Mengapa? Sekali lagi, aku tidak tahu. Apa yang sebenarnya kuharapkan dari tindakan ini? Apa yang kutunggu?

Sampai kurasakan, sesuatu yang kenyal dan lembut menyentuh bibirku. Aku membuka mata dan, .. melihat wajah Wine menempel begitu dekat di wajahku. Bibirnya sedang mengapai bibirku saat ini, sedangkan sepasang matanya tertutup rapat. Badanku jadi kaku. Perlahan tapi pasti, aku melihat Wine membuka matanya. Dan .. mata kami saling menatap dalam jarak yang sangat dekat, ... pandangan yang redup itu--kenapa terlihat begitu menarik?

Aku membuka mulut bermaksud berkata-kata, tapi bintik-bintik merah yang mulai bermunculan dari wajah Wine membuatku membatalkannya. Aku menunjuk wajahnya, dan berkata gagap. "A .. ada apa? Wa .. wajahmu .. ?"

"Akh!!" Seperti disadarkan akan kenyataan ini, Wine tiba-tiba berteriak. Dia segera beranjak bangun dengan setengah merangkak, kemudian berlari dengan agak sempoyongan menuju gerbang keluar ladang anggur ini.

"DOKTER KWON!!!" Samar-samar masih kutangkap teriakannya yang membahana.

"Dokter Kwon?" Aku berdiri dari tanah berumput dan menatap arah menghilangnya Wine. "Ada apa dengan dokter Kwon?" ujarku seraya mengaruk-garuk kepala.

Aku masih kebigungan ketika tiba-tiba disadarkan oleh peristiwa barusan. Wine menciumku? Dan .. aku membiarkannya begitu saja? Mataku terbelalak. Mengapaaaaa?!!! Mengapaaaaa?!!!

“WEEYOOO?!!!” Teriak ku sambil menarik-narik rambut dan meloncat-loncat di tempat.

Beberapa saat kemudian, aku menyentuh bibir dengan linglung, … entah mengapa, masih sangat terasa sentuhan yang begitu lengket itu di bibirku … Hanya bibir yang saling menempel dalam waktu yang sangat singkat, .. tapi mengapa? Tanpa sadar, aku tersenyum samar.

Sampai ekspresi Wine begitu mengakhiri ciuman itu, terbayang kembali dalam pikiranku. Mataku membelalak. Aku menjadi marah. Tanganku terkepal secara perlahan-lahan, untuk kemudian kulayangkan ke udara kuat-kuat.

“Wine geblekkk!!! Siapa yang memintamu berlaku demikian?!!!! Apa maksud dari ekspresimu--Emangnya aku virus mematikan—hahh!!!!” teriak ku keras-keras, .. sampai beberapa pasang mata langsung melirik ku heran.

“Weeyo?!!!” Mango dan Apple saling berpandangan sambil memiringkan kepalanya. Mata mereka berkejap-kejap, tidak mengerti … Mungkin mereka menganggapku sudah gila ><


oooOOOooo


bagaimana kelanjutan kisah mereka setelah ciuman itu [what] [what] Nantikan saja 2 bulan mendatang ya[laughing] [laughing] [laughing]
« Last Edit: April 21, 2011, 11:09:07 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
mami kok belum di update clingak-clinguk cari mami...mami where are you [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234]

aku dah nunggu dari tadi di ladang anggurnya wine, mo bantuin panen anggur tahun ini [hmpfh]
aku mo jadi saksi mata first kiss berrywine [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04231]
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mami kok belum di update clingak-clinguk cari mami...mami where are you [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234]

aku dah nunggu dari tadi di ladang anggurnya wine, mo bantuin panen anggur tahun ini [hmpfh]
aku mo jadi saksi mata first kiss berrywine [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04231]
weii, nengok ke atas [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
haha KISS !!!!!!!!!!!  [hmpfh] [lovestruck] [cheekkiss]

thank's mom ! read first comment 2 months later haha  [laughing] [laughing]

ita eon, disuruh negok ke atas tuh sama mommy  [laughing] [laughing] [laughing]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
haha KISS !!!!!!!!!!!  [hmpfh] [lovestruck] [cheekkiss]

thank's mom ! read first comment 2 months later haha  [laughing] [laughing]

ita eon, disuruh negok ke atas tuh sama mommy  [laughing] [laughing] [laughing]

[guns] [guns] [guns] komentnya segera, klu ga updatenya setengah tahun kemudian whistling [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
[guns] [guns] [guns] komentnya segera, klu ga updatenya setengah tahun kemudian whistling [hmpfh]

tsk tsk tsk blackmailer ! tapi oke deh comment menyusul segera abis baca  [hmpfh]

mommy  [cheekkiss]  [hug] thank's a lot !!! a lotta lotta lot my cutie sweety berry berry  [hmff]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
hehehe, kok tiba-tiba ngekiss? ada angin apa si wine? cuma mau merasakan ciuman saja?


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
hehehe, kok tiba-tiba ngekiss? ada angin apa si wine? cuma mau merasakan ciuman saja?

terpesona ama bibir merah membengkak and terbukanya berry [laughing] [laughing] [laughing] nggak gw ceritain secara terinci karna bagian itu ditilik dr sudut pandang berry n bukan wine [hmff] [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
mami mian postan aku kena traffic kali ya makanya telat dari updatean mami [hmpfh]

gumawo dah di upate, tapi mo protes  [dry]
Code: [Select]
ampai kurasakan, sesuatu yang kenyal dan lembut menyentuh bibirku-->kenapa hanya nemempel, oh tidak
aku mengharapkan lebih [cry] [hmff]

walaupun hanya menempel setidaknya first kiss si berrywine akhirnya terjadi juga [on] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

Quote
Nantikan saja 2 bulan mendatang ya
-->mami salah nulis maksudnya nantikan sabtu minggu depan ya
[hmpfh] [hmpfh]
next chp harus ada kiss lagi ya mam [hmpfh] [huglove]
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mami mian postan aku kena traffic kali ya makanya telat dari updatean mami [hmpfh]

gumawo dah di upate, tapi mo protes  [dry]
Code: [Select]
ampai kurasakan, sesuatu yang kenyal dan lembut menyentuh bibirku-->kenapa hanya nemempel, oh tidak
aku mengharapkan lebih [cry] [hmff]

walaupun hanya menempel setidaknya first kiss si berrywine akhirnya terjadi juga [on] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

Quote
Nantikan saja 2 bulan mendatang ya
-->mami salah nulis maksudnya nantikan sabtu minggu depan ya
[hmpfh] [hmpfh]
next chp harus ada kiss lagi ya mam [hmpfh] [huglove]

yee emangnya ff rath hammer2 hammer2 [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
hehehe, kok tiba-tiba ngekiss? ada angin apa si wine? cuma mau merasakan ciuman saja?

terpesona ama bibir merah membengkak and terbukanya berry [laughing] [laughing] [laughing] nggak gw ceritain secara terinci karna bagian itu ditilik dr sudut pandang berry n bukan wine [hmff] [hmff]

oh... kalau gitu tiap hari bikin bery kepedesan aja, mam  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
hehehe, kok tiba-tiba ngekiss? ada angin apa si wine? cuma mau merasakan ciuman saja?

terpesona ama bibir merah membengkak and terbukanya berry [laughing] [laughing] [laughing] nggak gw ceritain secara terinci karna bagian itu ditilik dr sudut pandang berry n bukan wine [hmff] [hmff]

oh... kalau gitu tiap hari bikin bery kepedesan aja, mam  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
idenya boleh juga. biar langsung dilahap bibirnya si berry [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
Bener2 POLOS,,kesurupan setan apa Si Wine?? [what] trus aja bikin si geblek kesurupan mam biar afdol [laughing] [laughing]
jia,,gw yakin skrang wktnya Wine buat terapi dari alerginya [hmpfh]

Love you more than I can say

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Bener2 POLOS,,kesurupan setan apa Si Wine?? [what] trus aja bikin si geblek kesurupan mam biar afdol [laughing] [laughing]
jia,,gw yakin skrang wktnya Wine buat terapi dari alerginya [hmpfh]
belum belum, wine nyamperin dr kwon cuma buat dptin obat penawar alerginya yg udah abis [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun