Author Topic: Strawberry, Lovers or Haters?--#CHP 15 PART II# 6 Nov' 11  (Read 27026 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
well, sop iler dulu, .. barusan dibikin [hmpfh] [hmpfh]


Spoiler ...


“Hn—saya mencium sesuatu yang aneh di sini—“

Tiba-tiba, wajah Pear sudah nonggol begitu saja di hadapanku. Begitu dekat, dan cuping hidungnya hampir menyentuh wajahku. Aku terlonjak, .. dengan segera menyusut selangkah.

“Mwo?!!!”

“Kau—terlihat sangat aneh!” kata Pear sambil mengarahkan telunjuknya ke hidungku.

Garis mataku jadi meredup sampai hampir terpejam. “Kau yang aneh—“ balasku datar.

“Enak aja!” Pear langsung terlihat tidak terima dengan perkataanku.

“Habis—?“ Aku mendengus.

“Kau emang aneh kok.” Pear berkeras. “Bukan hanya kau--, tapi, … dia juga—“ lanjutnya sambil melayangkan telunjuk ke depan.

Melihatnya, .. aku segera menoleh ke belakang. Bersamaan pada saat itu, .. Wine, yang berdiri di samping sebatang pohon anggur, menjatuhkan seuntai anggur dari tangannya. Perhatiannya yang terarah pada kami segera dialihkan. Dia memutar badan dan membelakangi kami, .. berlagak tidak terjadi apa-apa.

segini aja dulu [laughing] [laughing]
« Last Edit: May 30, 2011, 08:00:47 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
 [head break] [head break] [head break] [head break]

langsung update aja, lah....

 [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
well, sop iler dulu, .. barusan dibikin [hmpfh] [hmpfh]


Spoiler ...


“Hn—saya mencium sesuatu yang aneh di sini—“

Tiba-tiba, wajah Pear sudah nonggol begitu saja di hadapanku. Begitu dekat, dan cuping hidungnya hampir menyentuh wajahku. Aku terlonjak, .. dengan segera menyusut selangkah.

“Mwo?!!!”

“Kau—terlihat sangat aneh!” kata Pear sambil mengarahkan telunjuknya ke hidungku.

Garis mataku jadi meredup sampai hampir terpejam. “Kau yang aneh—“ balasku datar.

“Enak aja!” Pear langsung terlihat tidak terima dengan perkataanku.

“Habis—?“ Aku mendengus.

“Kau emang aneh kok.” Pear berkeras. “Bukan hanya kau--, tapi, … dia juga—“ lanjutnya sambil melayangkan telunjuk ke depan.

Melihatnya, .. aku segera menoleh ke belakang. Bersamaan pada saat itu, .. Wine, yang berdiri di samping sebatang pohon anggur, menjatuhkan seuntai anggur dari tangannya. Perhatiannya yang terarah pada kami segera dialihkan. Dia memutar badan dan membelakangi kami, .. berlagak tidak terjadi apa-apa.

segini aja dulu [laughing] [laughing]

Pear mulai curiga...apanya yang aneh pear [what] [what]
[/size][/color][/b]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
taelah mami [head break] [head break] [head break] Spoiler mulu [guns] [guns] LANGSUNG UP DATEEEEEEEEEE

noh si pear kenapa??? dah curiga ya ama tingkah Wine and Berry [chin] [chin] lagian si Wine pake jatuhin anggurnya segala jadikan ketahuan [hmpfh] [hmpfh]

MAMIiiiiiiiiiiiiii [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] up date ya [smiley-gen013] [smiley-gen013]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline dalbyeol

  • Senior
  • ****
  • Posts: 803
    • View Profile
ada spoiler...brarti bs mengarah ke update-an,nih (mudah2an [biggrin]) [clap] [clap] [clap]

gumawo,mami [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

Pear mulai curigation...para reader mulai kgk sabaran nunggu update-an [hmpfh]

mami...update segera yah,please [AddEmoticons04261]

HWAITING!!! [AddEmoticons04262]

And I'll never promise to
be true to anyone,unless it's you...The Day I Fall in Love

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
udah diblg part itu baru dibuat sebelum gw ngantor,, para reader nih gimana sih hammer2 hammer2 [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
udah diblg part itu baru dibuat sebelum gw ngantor,, para reader nih gimana sih hammer2 hammer2 [hmpfh]
naa,,skrg udin slese ngantor pan mam?? brati kudu di update [hmpfh] [hmpfh]

Love you more than I can say

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
udah diblg part itu baru dibuat sebelum gw ngantor,, para reader nih gimana sih hammer2 hammer2 [hmpfh]
naa,,skrg udin slese ngantor pan mam?? brati kudu di update [hmpfh] [hmpfh]
dah sesai ngantor tp lum sempat ngelanjutin bikinnye hammer2

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
udah diblg part itu baru dibuat sebelum gw ngantor,, para reader nih gimana sih hammer2 hammer2 [hmpfh]
[hmpfh] [hmpfh]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
wow dah ada sop iler aja ya...akhirnya lirik tanggal update-an trakhir sih seharusnya dah layang tuk di update-->aku gak demo minta di update ya [nono]
mam next chpnya ada sedikit moment berrywinenya dong, bikin mereka french kiss [on] [on]


[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline dafa yuvi

  • Junior
  • **
  • Posts: 202
  • love is trust
  • Location: surabaya
    • View Profile
gak kbyang kalo tmen2x pda tau mereka abs kissu2n.
pendk2 bgtz. spoileran dh nungguin. [on]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Chapter Twelve
Music kembali, ... dan, masalah dimulai ...




“Hn—saya mencium sesuatu yang aneh di sini—“

Tiba-tiba wajah Pear sudah nonggol begitu saja di hadapanku. Begitu dekat, dan cuping hidungnya hampir menyentuh wajahku. Aku terlonjak, .. dengan segera menyusut selangkah.

“Mwo?!!!”

“Kau—terlihat sangat aneh!” kata Pear sambil mengarahkan telunjuknya ke hidungku.

Garis mataku jadi meredup sampai hampir terpejam. “Kau yang aneh—“ balasku datar.

“Enak aja!” Pear langsung terlihat tidak terima dengan perkataanku.

“Habis—?“ Aku mendengus.

“Kau emang aneh kok.” Pear berkeras. “Bukan hanya kau--, tapi, … dia juga—“ lanjutnya sambil melayangkan telunjuk ke depan.

Aku melihatnya, .. dan segera menoleh ke belakang. Bersamaan pada saat itu, .. Wine, yang berdiri di samping sebatang pohon anggur, menjatuhkan seuntai anggur dari tangannya. Perhatiannya yang terarah pada kami segera dialihkan. Dia memutar badan dan membelakangi kami, .. berlagak tidak terjadi apa-apa.

“Apa kubilang?” Pear mendesis halus. “Dia juga terlihat sangat aneh kan?—“

“A .. aku tidak melihat .. keanehan yang kau maksud .. ,” tukasku kemudian. Namun, … walau aku berkata begitu, .. suaraku terdengar tersendat-sendat.

“Tidak lihat?!!” Pear melebarkan matanya. “Kalian tidak saling menyapa selama beberapa hari, ... itu—kau bilang tidak aneh?” Cewek itu berdecak sambil melempar anggur yang baru saja dipetiknya ke dalam keranjang. “Biasanya, .. kalian tanpa hari tanpa pertengkaran, .. kalau bukan dia yang mencari masalah denganmu, pasti kau yang gatal pingin digodain olehnya. Alhasil, kau akan melakukan segala sesuatu buat menarik perhatiannya .. “

“Mwo? Aku--?” Aku menunjuk diri, .. kemudian melanjutkan dengan agak gugup, “I .. itu—“ Aku dibuat mati kutu kembali.

Benar. Kalau dipikir-pikir, agak aneh juga. Wine kelihatan tidak berinisiatif mengomeli atau mengisengiku beberapa hari terakhir ini, .. setelah … ya, .. setelah ciuman pendek itu. Aku juga, .. sungguh, terasa kaku untuk memulai pembicaraan dengannya. Apalagi mengodanya dengan berbagai cara seperti yang biasa kulakukan terhadapnya.

“Apa kau … “ Pear menatapku curiga. “Jangan katakan kau .. “

“Mw .. wo .. o .. ?,” tanyaku dengan suara yang berubah kering.

“Kau, .. menaruh hati padanya?” tebak Pear seketika.

“MWO?!! AKU?!!!” Aku terlonjak kaget buat tebakannya. “Mana mungkin?!!!” tukasku keras, dan .. tegas? Eh-- “Bukannya kau yang menaruh hati padanya?” balasku tak mau kalah.

“Aku?” Pear berujar cuek. “Nggak lagi.”

“Hah?!”

“Nggak lagi!” ulang Pear.

“Segitu cepatnya kau melupakan perasaanmu?” tanyaku heran.

“Nggak juga sih—“ lanjut Pear kembali, .. yang membuatku makin bingung.

Apa sih maksud cewek yang satu ini?!!

“Aku memang belum bisa melupakan seluruhnya, perasaanku,” sambung Pear, menjawab pertanyaanku. “Namun, .. aku tidak berharap lagi, .. Kusadar, semuanya percuma saja. Lagipula, .. si Wine nggak perfect-perfect amat, .. aku tidak sebodoh itu untuk mencurahkan semua perhatiaanku hanya padanya .. “

“O—“ Aku membuka mulut dan menyahut datar.

Penjelasan itu sangat jelas buatku. Si Pear, sudah menyerah terhadap Wine. Dan si geblek itu, .. tidak akan disusahkan lagi oleh kenekatan-kenekatan cewek ini .. Mengingat kenyataan ini, .. entah mengapa, .. terbersit sedikit kelegaan dalam hatiku. Kejam? Ya, .. mungkin sedikit. Namun, aku benar-benar lega.

“Lalu bagaimana denganmu?” Suara Pear terdengar kembali. “Kau tidak benar-benar kan … “

Aku tidak menyahut. Bukan karena tidak ingin, .. tapi, .. karna aku benar-benar tidak mampu.

“Benar?—“ Selidik Pear.

Aku mengalihkan perhatian darinya. Kupalingkan wajah kearah lain, … dan melihat Apple dan Mango sedang sibuk dengan Double-C di kejauhan sana.

“Jangan katakan itu benar, Stro?!!” seru Pear kembali. Telapak tangannya tiba-tiba mendarat di pundak ku dengan keras. “Ingat!! Kau sedang berpacaran dengan Music!!!”

“Music?” desis ku pelan.

Benar. Music. Aku hampir melupakan cowok itu. .. Kenapa?

Perlahan, .. aku menoleh kembali ke Pear.

“Ne. Music!!" sahut Pear. "Dia yang harus kau perhatikan, dan bukan Wine!! Dia itu pacarmu, tahu?!!” tukas Pear, .. sangat keras ... dan menyadarkanku akan kenyataan.

“A .. aku tahu itu—“ Untuk menutupi kegelisahanku, .. aku berbalik membelakanginya. “Tentu saja Music yang terpenting bagiku—Aku sedang menunggu kepulangannya, .. dan, dia akan kembali besok siang .. “

Aku mulai melangkah menjauhi Pear.

“Bagus kalau kau masih menyadari kenyataan itu, Stro!!” Pear berteriak dari tempatnya.

Aku tidak mengubris Pear. Bahkan untuk berhenti sebentar saja, .. atau menoleh sedikit saja, .. tidak kulakukan. Aku takut dia akan bertanya lebih lanjut mengenai perasaanku yang sebenarnya. Kalau sudah begini, .. aku yakin, .. mulutku akan terkunci, .. dan kegelisahan yang tidak kumengerti ini akan ‘dipahami’ olehnya.


*******



Wine mengenggam selembar cek di tangannya. Sekilas, .. diremasnya cek tersebut, .. sampai sedikit lucek. Kepalanya yang agak tertunduk, akhirnya diangkat dan diarahkan ke setiap sisi ladang.

Teman-temannya,--si Coffee dan Chocolate, .. tampak bersenda-ria sambil menikmati makan siang, agak memojok di sebelah kanan ladang dekat kali bersama pacar-pacar mereka, Apple dan Mango. Sesekali .. bibir mereka saling menempel, .. melumat dalam hasrat yang bebas dan bergairah di udara yang terasa panas menyengat itu. Menjadikan pipi Wine langsung bersemu merah. Dengan cepat, .. pemuda yang termasuk masih 'sangat' polos dalam hal begituan itu memalingkan wajahnya.

Sisa-sisa pekerja lain yang jumlahnya sudah tidak begitu banyak, .. karna kebanyakan dari mereka sudah mengungsi ke kota, .. lebih memilih istirahat di bawah pohon besar dekat pagar yang agak terlindung dari sinar matahari. Sedangkan Pear, .. yang biasanya nempel kayak prangko bersama anggota F3 yang lain, ... tidak kelihatan batang hidungnya, .. karna memang dia sudah mengundurkan diri  ke rumah sejak satu jam yang lalu buat menjaga halmonienya, yang penyakit rematiknya kambuh lagi.

Dan, .. hal ini tidak diketahui Wine. Sehingga dia agak mengerutu ketika tidak melihat keberadaan Pear di situ. Dia menganggap cewek itu sudah keterlaluan karna asal main cabut aja, .. tanpa memberitahu, atau seijinnya.

Perhatian Wine kemudian diarahkan kembali ke sasaran semula. Strawberry Im, .. tampak memanjangkan bibir sekaligus menghembuskan nafas kuat-kuat dengan lirikan-lirikan yang sekali-sekali ditujukan ke kedua pasangan yang sedang bermesraan di dekat kali. Kedua tangannya menyangga dagu dan menempel di sepasang pipinya yang sudah sangat merah akibat sengatan mentari siang.

Wine kembali meremas jemarinya. Beberapa menit berlalu lagi .... dan ... lagi ... , Sampai dia mengambil keputusan dan tekad untuk yang .. entah keberapa-kalinya, ..

Genggaman di tangan Wine semakin erat. Cowok dengan kulit agak kecoklatan itu mengatupkan rahang rapat-rapat, kemudian mulai melangkahkan kakinya yang panjang dan langsing ke arah Strawberry Im.


*******



"Nih--"

Tiba-tiba selembar kertas segi panjang sudah menutupi pandanganku. Sosok Apple dan Mango yang bermesraan dengan Double-C di depan mata hilang begitu saja. Aku mendongak, .. dan melihat Wine sudah berdiri di hadapanku. Alisku berkenyit, .. lalu pandanganku perlahan menurun kembali ke kertas yang digenggamnya. Kerutan di wajahku semakin dalam, .. ternyata kertas yang disodorkannya adalah selembar cek.

"Buat apa ini?" tanyaku sambil menerima cek tersebut.

"Gaji buat kalian--" kata Wine datar.

Sesaat, pandangan kami bertemu kembali. Dan kurasakan benar ketika melihat ke-grogian mendadak terpancar dari mata dan sikapnya. Kelopak matanya berkejap, .. bersamaan dengan bola matanya yang berputar kesana kemari, .. kemudian dia agak memutar tubuh, .. menyamping dari posisinya semula. "Kau--bagikan buat yang lain .... "

Belum sempat aku bersuara, .. si geblek itu sudah berbalik dan menjauhiku.

"Yaa--" Aku memanggilnya, .. walau tidak tahu apa yang mungkin akan kukatakan padanya jika dia benar-benar berhenti dan berbalik kembali. Tapi untung, .. Wine tidak melakukannya ... Sosok itu semakin jauh dari daya tangkapku, .. yang akhirnya menghilang dari gerbang masuk ladang. Apa dia bermaksud membolos siang ini? gerutuku kesal.


*******



Keesokan harinya, .. pagi-pagi sekali aku mendapat kabar bahwa Music sudah kembali dari Seoul. Dia menghubungiku lewat ponsel yang kutaruh di atas meja dekat ranjang, .. dan memintaku agar segera menemuinya di gerbang desa. Katanya, mobil yang ditumpanginya sudah hampir memasuki perbatasan Dream High dan dia ingin segera bertemu denganku karenanya dia memutuskan menghubungiku sesegera mungkin sebelum sampai di desa.

Tergesa-gesa aku turun dari ranjang dan membersihkan diri sekedarnya. Setelah membereskan segalanya, .. termasuk mengoleskan cream tipis di wajah dan leher buat ngelindungi diri dari sinar matahari, .. aku segera berlari keluar rumah. Tidak kuhiraukan lagi teriakan omma dan appa yang memintaku buat sarapan.

“Yaa—mau kemana, Stro?!!!”

“Keluar!!” sahutku dengan suara melengking.

“Kau tidak sarapan?!!”

“Anhiiii!!!”

Bukk, .. dan pintu depan kuhempaskan.


*******



Seharian aku habiskan bersama Music. Kami sarapan bersama, .. bersenda gurau sambil membicarakan hal-hal menarik yang terjadi di antara kami selama seminggu terakhir. Perpisahan ternyata tidak menjadikan hubungan kami terasa jauh, bahkan sebaliknya .. aku merasa lebih akrab dan dekat dengannya.

Music menceritakan tentang hubungan dengan keluarganya yang semakin membaik. Appanya lebih mempercayainya sekarang. Beberapa masalah perusahaan juga sudah mulai dipercayakan ayahnya kepadanya. Mendengar itu, tentu saja aku merasa senang dan ikut bahagia. Ternyata usaha keras yang dilakukannya tidak sia-sia. Aku mengucapkan selamat buat keberhasilannya.

Seperti juga Music, aku menceritakan tentang apa yang terjadi denganku di Dream High. Tentang panen anggur yang berjalan dengan lancar, walau banyak pekerja yang sudah mengundurkan diri ke kota. Itu tidak jadi masalah kataku, karna teman-teman di Dream High School bersedia membantu. Diyakini, ... sebelum tahun ajaran baru dimulai, semua hasil panen akan dituntaskan.

Dari semua itu, .. cuma satu yang tidak kuceritakan pada Music … yaitu … ciuman pertama yang diberikan Wine padaku … Entah mengapa .. aku tidak merasa perlu untuk menceritakannya.  Itu hanya hal kecil, .. hanya sentuhan bibir dengan bibir, .. bukan sesuatu yang besar—jadi, .. buat apa mempermasalahkannya? Innerku berulangkali memperingatiku akan kebenaran itu. Namun, .. tidak tahu mengapa, .. aku tetap tidak yakin .. Ataukah … , aku merasa takut?

Setelah mengelilingi Dream High dan bermain-main bersama, .. kami melanjutkan makan siang di sebuah rumah makan sederhana di pinggir desa. Kemudian, kami berkeliling lagi sebentar, sampai hari beranjak sore. Music mengantarku pulang dengan mobilnya di kala waktu menunjukan pukul 6 lewat 20 menit. Mobil tersebut berhenti di halaman depan.

Seperti biasa, .. Music bermaksud memberikan goodbye kiss di bibirku, sebelum aku beranjak keluar dari mobilnya. Namun, .. lagi-lagi dia kurang cepat. Ataukah, reaksiku yang terlalu cepat?!!! Yang jelas, .. dia gagal lagi. Aku berkelit dengan cepat, dan menunjukan penyesalan dengan menundukan kepala dan memanyunkan bibirku.

Music tidak terlihat marah, .. ataupun kecewa. Dia sepertinya sudah paham dan menyadari reaksi ini yang akan diterimanya. Dielusnya kepalaku dengan lembut, kemudian memberikan kecupan kecil di pipi kananku.

“Istirahatlah. Anyong, Berry .. “

Aku mengangguk sambil tersenyum. “Ne. Anyong, Music-a .. “


******



Aku membuka pintu dengan kunci, dan pemandangan pertama yang berhasil kutangkap … omma dan appa sedang duduk di sofa ruang depan sambil meremas tangan.

Airmata berderai dari kelopak mata omma. Sesekali, .. beliau menghapus airmata tersebut dengan saputangan yang digenggamnya. Sedangkan appa, .. terlihat sangat gelisah. Berulangkali beliau meremas beberapa lembar kertas dalam genggamannya.

“Appa .. omma, .. wegude .. ?” Aku mendekati mereka.

Omma dan appa berpaling padaku. Dapat terlihat jelas kini, .. wajah omma benar-benar basah.

“Wegude?” tanyaku kembali. Kali ini lebih jelas dan tegas. Kutatap mereka lekat-lekat. “Appa .. ?”

“Stro-a … , habis sudah … hu .. hu .. tidak ada tempat lagi buat kita .. “ Omma menyahut tersedu-sedu.

“Mwo?” tanyaku semakin tidak mengerti. Lalu perhatianku kualihkan kembali pada appa yang terlihat lebih tenang. Tidak bisa dikatakan benar-benar tenang sih, karna dapat tersirat jelas kalau beliau sangat tertekan. Wajahnya sangat pucat. “Appa, wegude?”

“Stro .. ,” desis appa.

“Kenapa?!” desak ku tidak sabar. “Katakan padaku apa yang telah terjadi?”

“Strawberry’s Field .. “ Appa berhenti. Kemudian beliau menghela nafas dalam-dalam.

“Wee?” Aku menegakan badan dan menguncang lengannya. “Ada apa, appa?!! Berhubungan dengan Strawberry's Field ... ?”

Appa terdiam sambil menatapku.

“Telah terjadi sesuatu yang besar .. ?” tanyaku pelan-pelan.

Appa kembali menghela nafasnya. “Miane, Stro-a … “

“Appa!!” tukasku dengan nada melengking. “Ada apa sebenarnya?!!”

“Appa .. appa salah mempercayai orang, Stro-a .. “ Appa menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa sambil memejamkan matanya. “Appa salah .. “

“Mwo?” Mataku melebar. Sungguh, .. pembicaraan ini semakin tidak kumengerti. Apa sebenarnya maksud appa dengan salah mempercayai orang?

Kemudian pandanganku kualihkan pada omma. “Omma, .. apa maksud appa?”

“Surat kontrak kerjasama itu, .. surat itu .. ternyata palsu .. “ Omma menyahut pelan.

“Surat kontrak kerjasama? .. Maksud omma?” Aku memiringkan kepala menatap omma.

“Sebuah perusahaan besar di Seoul mengajukan kontrak kerjasama buat memajukan hasil panen Strawberry’s Field. Isinya sangat menguntungkan ladang kita .. “ Appa mendesah. “Tuan Moon bilang, .. “

“Tuan Moon?” Mataku memicing.

“Ya, Tuan Moon .. “ Appa mengangguk dengan raut lelah. “Dia merupakan pengacara yang mengurus rencana kerjasama dari perusahaan tersebut. Orangnya terlihat sangat ramah, .. dan apa yang dijelaskannya sesuai dengan yang tercantum dalam kontrak kerjasama tersebut, jadi appa tidak curiga .. Appa mengira .. “

“Appa … “ Aku memotong dengan nafas yang terhembus berat, .. Baru saja akan kulanjutkan perkataanku, appa segera menghentikan dengan mengangkat tangannya.

“Biar appa lanjutkan, .. jika tidak, .. appa tidak akan sanggup lagi .. “

“Appa .. “

“Appa mengira ini keberuntungan buat kita … Bayangkan, hasil panen Strawberry’s Field akan dikenal sampai di kota, .. bahkan ke luar negeri, .. bukan hanya di Dream High seperti selama ini .. “

“Appa …. “ Aku kembali mendesah. Hanya dalam semalam saja, .. entah mengapa, .. aku merasa .. appa jadi makin tua.

“Keserakahan yang menghancurkan segalanya .. “ Appa menghembuskan nafasnya ke udara. Dapat kulihat kini, .. dua tetes air bening menurun dari pelupuk matanya. “ .. ternyata, ... di sela-sela kontrak yang menguntungkan Strawberry’s Field itu, .. terdapat perjanjian yang menghancurkan … Di situ tertulis, .. appa bersedia menjual tanah di Dream High, beserta ladang dan rumah, .. jika … jika setelah rencana kerjasama tersebut terjalin .. “

“APPAAA?!!!” Aku menjerit seketika.

Mungkin dibandingkan dengan kehisterisanku ini, .. kesedihan omma dan appa bukan apa-apa. Aku benar-benar dibuat terkejut dan tidak mampu menerima akan kabar ini.

Strawberry’s Field akan 'terambil-alih', .. begitu juga tempat tinggal kami?! Ini berarti, .. selamanya, kami harus keluar dari Dream High? .. Desa kebanggaan yang sudah kutinggali sejak lahir?!! Ottoke?!!

Tubuhku terhempas lemas di atas sofa.

“Miane, Stro-a … “

Sangat samar perkataan itu memasuki telingaku. Aku seperti tidak mendengarnya.
 

*******



Langkahku terhenti saat sayup-sayup sebuah pembicaraan memasuki telingaku. Apple, Mango dan Pear terlihat sedang terlibat pembicaraan serius di tengah ladang.

“Apa?!!” seru Pear. “Kau tahu siapa dibalik pembelian tanah Dream High secara besar-besaran akhir-akhir ini?!!”

“Ne!!” sahutan Mango terdengar melengking tinggi.

“Dhugu-ya?!” Yang langsung disambut Apple dengan rasa ingin tahu tingkat akut.

Tanganku bergerak perlahan, .. menyibak ranting-ranting dan dedaunan yang menghalangi pandangan kearah mereka.

“Kau dapat dari mana berita itu?!” Sebelum Mango sempat menjawab, Pear sudah menyerangnya dengan pertanyaan lain. Dia terlihat sangat penasaran. Dicengkramnya lengan Mango, sampai cewek itu meringis kesakitan.

“Yaa-lepas!!” tegur Mango.

Pear melepaskan cengkramannya. “Eh—mian .. ,” balasnya sambil memasang senyum semanis-manisnya, .. seakan berharap, akan dimaafkan Mango. “Habis, . penasaran banget sih—“ Lalu dia terkekeh pelan, .. sebelum akhirnya melanjutkannya kembali. “Namun, .. berita tersebut apa bisa dipercaya?”

“Tentu saja!” Tukas Mango tidak senang. Merasa diremehkan dan tidak dipercayai, .. dia bermaksud meninggalkan Pear dan Apple.

“Yaa—chakaman!” seru Apple dan Pear.

Mango menoleh. “Dhe?”

“Ok—kami percaya—“ Apple dan Pear mengangkat tangan secara bersamaan.

Mango mencibir. “Begitu dong! Berita itu real, tahu?!”

“Cih—“ Gantian Apple dan Pear yang mencibir keras. “Apapun yang keluar dari mulutmu, .. selalu dibilang real .. ,” lanjut Pear dengan senyum mengejek. “Emang sejak kapan Mango tidak pernah bilang berita dari mulutnya UNREAL?!!”

Apple segera menyetujui perkataan Pear dengan menganggukan kepalanya. Sesaat kemudian, dia tertawa begitu melihat tampang cemberut Mango.

“Enak aja!” omel Mango. “Kalau cuma dari ku sih—mungkin, .. tapi ini, .. dari paman Bi, tahu?!”

“Bi sonsaengnim?!!” Pear dan Apple bereaksi dengan cepat. Mata mereka melebar tertuju pada Mango, .. dan mendengarkan dengan lebih seksama, .. berbeda dengan tadi yang hanya sambil lalu saja, .. antara percaya dan tidak.

Begitu juga denganku, .. yang segera memicingkan mata dan menegakan telinga buat mendengar lebih lanjut. Hasratku mulai mengebu kini. Jika benar kabar yang didapat Mango ini dari Bi sonsaengnim, .. berarti bisa dipastikan kabar tersebut hampir 100% benar! Siapa sebenarnya dibalik semua ini? .. Aku makin merapatkan tubuhku ke batang pohon, .. guna mendengar lebih jelas perbincangan mereka.

“Apa kata Bi sonsaengnim?!” desak Apple.

“Benar. Apa katanya?!” sambung Pear seraya menarik lengan baju Mango gemas.

Mango memasang gaya dengan mengerak-gerakan telunjuknya. “Kalian—kalau tidak dikeluarkan jurus pamungkas, tidak mau percaya .. “

“Jangan bertele-tele!” Pear mulai kehilangan kesabarannya. “Katakan sekarang juga!”

Mango berdecak. Setelah meluruskan punggung dengan cara menyandarkannya di batang pohon anggur, .. dia akhirnya bersuara. “Pernah dengar KCE?” mulainya dengan mata bersinar laksana kucing.

Sekujur tubuhku mendadak menegang begitu mendengar kata 'KCE'. Entah mengapa, .. nama itu seperti memiliki arti khusus. Aku terasa tidak asing dengannya. Pernah mendengarnya—mungkin? Tapi di mana? Untuk saat ini, .. aku sungguh-sungguh tidak mampu memikirkannya.

“KCE?” Pear dan Apple saling berpandangan. “Ne .. ,” jawab mereka kemudian.

“Apa hubungannya urusan ini dengan perusahaan elit Korea tersebut?” lanjut Apple.

Mango mengacungkan jempol pada Apple. “Pengetahuanmu lumayan juga—“ Dia memuji dengan sungguh-sungguh. “KCE bergerak di berbagai bidang .. ,” kata Mango, .. memulai penjelasannya. “ .. selain tekstil, bank, hotel, dan elektronik, … dengar-dengar, KCE juga mulai mengembangkan sayapnya di bidang industri makanan dan minuman. Menurut apa yang didengar paman Bi, .. kali ini, pihak KCE bermaksud membuka lahan baru bagi pabrik anggur mereka dan, .. Dream High merupakan pilihan utamanya—“

“Mwo?!!” Pear dan Apple kembali saling berpandangan. “Jeongmalyo?"

“Ne!” sahut Mango pasti. “Paman Bi sangat yakin, .. karna berita ini didapatnya dari seorang teman yang bekerja di KCE … “

“O—“ Pear dan Apple membuka mulut lebar-lebar.

“Dan .. apa kalian tahu KCE berhubungan dengan siapa di Dream High ini?” lanjut Mango ragu-ragu. Kelihatan benar dia enggan melanjutkan perkataannya.

Apple dan Pear kembali saling berpandangan. “Dhuga?” tanya mereka kemudian.

“Music Jung!” Mango menjawab setelah sempat terhenti beberapa detik.

Mataku terbelalak seketika itu juga. Jantungku seakan berhenti berdegup. Jadi ini penyebab nama KCE tidak asing bagiku?!! ..  Berhubungan dengan Music?!! .. Benar. Music pernah bercerita kalau ayahnya pemilik KCE. Kenapa aku bisa sampai melupakannya? Apakah .. apakah … OH—aku tidak mampu berpikir lagi!! Aku benar-benar tidak mampu melanjutkannya … kepalaku sudah hampir pecah ..

Beruntung Mango seperti menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiranku beberapa saat kemudian ..

“Saya dan paman Bi curiga—kedatangan Music ada kaitannya dengan rencana perusahaan elit tersebut. Tidak mengherankan kan, kalau mengingat Music Jung merupakan putra sulung dari pemilik KCE?”

“MWO?!!” teriakan Apple dan Pear terdengar memekakan telinga. Sampai-sampai para pekerja, dan teman-teman sekolah yang lain mulai memalingkan wajah tertarik.

“Ne. Hubungan mereka sekental itu.” Mango mengangguk. “Kalau dipikir-pikir, .. aneh juga tuan muda sekaya dia memindahkan sekolahnya di desa terpencil ini … Pasti ada apa-apanya .. “

Aku tidak sanggup mendengar lebih lanjut. Dengan agak sempoyongan, .. dan airmata yang berderai keluar, .. aku melarikan diri dari ladang anggur.


******



“Katakan padaku!!” kataku dingin pada Music yang kelihatan terheran-heran dengan kedatanganku pagi itu.

“Wee?” Dia berusaha tersenyum.

“Apa benar kau—yang berada dibalik semua ini?”

“Hah--?” Music melebarkan matanya. “Aku tidak mengerti maksudmu, Berry-a .. “

“Perampasan tanah Dream High!!!” teriak ku histeris.

Aku sungguh tidak mampu membendungnya lagi. Pertahanan yang dengan susah payah kubuat akhirnya jebol. Airmataku muncrat keluar, .. tumpah sederas air hujan yang biasanya dijatuhkan ke bumi.

“Berry-a .. “ Music terlihat sangat kaget. “Kau .. kau dapat dari mana berita ini .. ?”

“Jadi, ... benar ...?” Aku membilas wajah yang sudah basah dengan punggung tangan. Dengan sekuat tenaga aku berusaha meredam emosiku. Aku tidak ingin terlihat lemah dihadapannya. Walau, .. airmata ini tidak bisa diajak kompromi. Mereka tetap saja menetes dengan deras, … sampai membasahi rok pendek yang kukenakan.

“Miane .. “ Aku mendengar Music mendesah.

“Benar?” Aku mengangga. Semula aku mengira dia akan membantahnya, .. tapi, .. ternyata tidak.

Music menunduk dan tidak berani menatapku. “Aku sungguh, tidak bermaksud menyakitimu … Masalah ini, tidak seperti anggapanmu, Berry-a …“

“Kau .. memperalatku .. ?” Aku bertanya dengan nafas terputus-putus.

“Aniyo!” tukas Music cepat. Wajahnya langsung diangkat dan menatapku dalam-dalam. “Aku tidak pernah memperalatmu! Dari semula, tidak! Sekarang juga, Tidak!! .. Perasaanku padamu benar, Berry-a .. Real! Aku benar-benar mencintaimu .. “

Aku mengeleng lambat-lambat, .. berulangkali “Aku tidak tahu … A .. aku .. tidak tahu .. mana kau yang sebenarnya .. Mana yang benar, .. dan mana yang tidak … “

“Perasaanku benar, Berry-a . .” Music masih berusaha menyakinkanku.

Namun, .. aku tidak ingin percaya. Karena .. aku .. benar-benar tidak mampu mempercayainya. Apa yang dilakukannya sudah di luar batas yang mampu kuterima. Tangannya yang menyentuh lenganku, segera kukibaskan. “Kau .. pembohong … “

“Aku tidak!” bantah Music. “Coba dengarkan dulu penjelasanku!” Dia kembali bermaksud menyentuh lenganku, .. namun .. aku segera menyusut hingga tangannya menyentuh angin kosong.

“Kau tahu bagaimana kedudukan ku dalam keluarga, Berry-a .. Sudah kujelaskan dulu--“ Music mendesah lirih seraya menjatuhkan pandangannya ke lantai. “Sangat sulit bagiku untuk bertahan jika tidak berusaha keras. … Menurut apa yang kudengar, .. appa sudah memutuskan akan mewariskan KCE buat putra resminya beberapa bulan kemudian. Dan, … hanya ini kesempatanku satu-satunya buat menunjukan kemampuanku .. bahwa KCE lebih pantas di bawah kendaliku … “

Aku bergidik ngeri. Sepintas, .. kulihat kobaran api dalam matanya.

Lalu, .. kepala yang tertunduk itu diangkat, .. menatapku. “Aku tidak punya pilihan lain ... " Music kembali mendesah, .. kali ini terdengar sangat berat dan sengau. "Kau harus percaya, Berry-a .. Setelah semuanya selesai, .. ladang stroberi akan kukembalikan secara utuh padamu .. ,” katanya dengan penuh tekad.

“A ... pa itu berbeda .. ?” Tanpa sadar, .. aku bertanya dengan sangat pelan. “Sementara kau tahu, .. yang paling kubenci, sudah kau lakukan .. “

Perlahan aku undur ke belakang, ... pandanganku nanar, .. lalu aku memutar tubuh, .. mulai menjauhinya.

“Berry!!”

Panggilannya tidak menghentikan langkahku.

“Kau sudah melakukannya, Music-a .. ,” desisku halus. Yang kuyakini masih tertangkap samar-samar oleh Music. “Kau menyakitiku .. sangat dalam … Aku tidak punya kekuatan untuk memaafkanmu … Sekalipun cintamu itu—sungguh-sungguh . .”


*******



“Wegude?!”

Wine menatap orang-orang yang berdesak-desakan di depan gerbang ladang anggurnya, satu-persatu. Wajah Mango, Pear dan Apple terlihat pucat. Sedangkan Coffee dan Chocolate berulangkali meremas tangan, seakan tidak tahu harus berbuat apa. Teman-temannya yang lain juga ikut berbisik-bisik dan saling mendorong. Kelihatannya telah terjadi sesuatu yang cukup besar dan mengemparkan.

Wine datang agak terlambat hari itu, jadi tidak tahu apa yang terjadi. Dia sangat heran mendapatkan orang-orang tersebut bukannya bekerja malah berkumpul di situ.

“Apa kau melihat Stro?” Coffee langsung menanyakan pertanyaan tersebut begitu melihat kemunculan Wine. Ditepuknya lengan Wine dengan cukup keras. Bukannya menjawab pertanyaan Wine barusan, dia malah balas bertanya. Dia kelihatan cemas dan khawatir.

“Aniyo .. “ Wine mengeleng lambat-lambat sambil memperhatikan reaksi Coffee. “Memangnya ada apa? Dia tidak masuk hari ini?”

“Ne!” sahut Apple. "Dia belum kelihatan padahal hari sudah siang!!"

“Bukankah itu tidak mengherankan?” Wine mengangkat pundaknya. Dia berusaha berlagak cuek, .. namun, .. reaksi dan ekspresi dari orang-orang di depan membuatnya tidak bisa tenang. “Kemarin, dia juga tidak masuk .. ,” lanjut Wine, berusaha membela dari pandangan-pandangan menegur yang didapat dari teman-temannya.

“Itu lain!!” seru Pear tiba-tiba. Suaranya melengking dengan nyaring. “Telah terjadi sesuatu!”

“Strawberry’s field diborong perusahaan elit dari kota!!” Mango menimpali.

“Mwo?!!” Wine menegakan posisi berdirinya. “Maksud mu .. ?”

“Paman dan bibi Im sudah dikibuli. Sebuah perusahaan besar dari kota menjanjikan rencana kerjasama yang menguntungkan buat Strawberry’s Field, .. dan mereka menandatangani kontrak kerjasama yang ternyata bohong. Di dalamnya tertulis, .. Strawberry’s Field akan dijual kepada mereka .. “

“Kau tahu dari mana .. ?” Wine langsung memotong perkataan Mango.

“Paman Bi yang memberitahuku .. ,” sahut Mango. “Berita ini sudah tersebar pagi-pagi sekali. Paman dan bibi Im ke kota buat mencari pengacara untuk menangani kasus mereka. Tapi kelihatannya tidak berhasil. .. Dan kau tahu perusahaan apa yang membeli Strawberry’s field?”

“Apa?”

“KCE!”

“KCE?” Wine memicingkan matanya. “Apa itu?”

“Korean Contruction Engineering.” Mango membusungkan dada. "Kau tidak tahu?!" Dia terlihat sangat bangga, .. seakan kabar tersebut merupakan kabar terbesar yang pernah diberitakannya, .. padahal, .. kabar tersebut didapatkannya dari Paman Bi.

"Korean Contruction Engineering .. ?" Wine mengulangi kata itu.

"Ne .. ," Mango mengangguk. "Dan kau tahu siapa di Dream High yang berkaitan dengan KCE?" tanya cewek itu dengan mata berkilat-kilat.

"Siapa .. ?" Wine menelan ludahnya. Sepertinya, .. dia sudah hampir bisa menebak ...

"Music Jung!!" tukas Mango. Badannya yang tadi agak membungkuk, diundurkannya .. kembali ke posisi tegak. "Dia merupakan putra sulung dari pemilik KCE .. "

BUKK,,

"Brengsek!!"

Kepalan Wine mendarat di batang pohon yang tumbuh di belakang Coffee.

Coffee terbelalak, .. untung saja dia sempat berkelit sehingga kepalan kekar tersebut tidak sampai bersarang di wajah kerennya.

“Sudah kuperingatkan untuk tidak melakukan hal itu!!” Mata Wine mengobarkan api.

Teriakan protes dari Coffee akibat kepalan tangannya yang hampir mengenai wajah, .. tidak dihiraukannya lagi. Wine menegakan badan, dan berlari ke dalam ladang.

“Yaa!! Mau kemana?!!”

Wine menoleh. “Mencari Strawberry!!” sahutnya, tanpa menghentikan langkahnya. “Kalian juga—berpencarlah … Apple, Pear dan Cho--kalian cari di luar desa. Coff dan Mango—kalian datangi paman dan bibi Im. Siapa tahu Strawberry berada di rumahnya … “

Kelima sekawan itu mengangguk. “Lalu, .. kau sendiri?!!” teriak Coffee. “Mau ke mana?!!”

Wine mengarahkan telunjuknya ke depan. Saat itu sosoknya sudah hampir menghilang di kerimbunan pohon dan semak. “Saya akan mencarinya di sekolah!!!”


*****



Wine sudah mengelilingi ‘Dream High’ School sebanyak dua kali. Tenggorokannya juga sudah hampir kering meneriakan nama Strawberry. Namun, .. tidak didapatnya sahutan balasan dari cewek itu. Hanya gaungan suaranya yang menyapa, saling sahut-menyahut akibat sepinya gedung sekolah yang ditinggalkan penghuni-penghuninya yang sedang liburan panjang.

Dan, .. untuk kesekian kalinya jua, ponsel Wine berbunyi. Kabar yang didapat dari Apple, Pear dan Chocolate sama saja dengan yang sudah-sudah. Mereka tidak menemukan Strawberry. Setelah sambungan diputus, .. panggilan lain masuk kembali. Kali ini dari Coffee dan Mango. Mereka juga tidak berhasil menemukan Strawberry.

“Strawberry!!!!” teriak Wine sambil menutup ponselnya, .. yang untuk kemudian dimasukannya kembali ke dalam saku celana. “Kau dengar aku?!!! Ada di mana?!!!”

Tidak terdengar balasan sama sekali.

Wine menghembuskan nafas kuat-kuat. Diamatinya gerbang masuk dari kisi-kisi tajam dan tinggi yang agak berkarat di depannya. Dia mengeleng kemudian. Pintu gerbang itu lebih tinggi dan tajam untuk dipanjat daripada tembok semen yang memugar sekeliling sekolah.

Wine kemudian mengambil keputusan memutari gedung sampai ke bagian tembok yang dirasanya paling pendek, .. kemudian dia memanjat ke atas dan meloncat ke dalamnya.


******



“Strawberry … “

Panggilan halus dan sangat khas itu membuat tangisku yang mengebu-gebu terhenti sejenak. Aku menghapus air yang mengalir dengan deras dan mendongak kearah pemilik suara tersebut. Tangisku yang sempat terhenti langsung terdengar kembali begitu mengetahui siapa yang sudah berdiri di hadapanku.

“Wine .. ?”

“Gwencana?” tanya Wine dengan raut yang terlihat ‘amat sangat khawatir .. ‘

“A .. aku .. hu .. hu .. “ Aku tidak mampu membendungnya lagi. Tangisku kembali pecah. Kututupi sekujur wajahku dengan tangan, dan mengeleng-gelengkan kepala dengan sekeras-kerasnya. Pundak ku sampai naik-turun dengan tak beraturan. “Pabo … Aku sangat bodoh .. hu .. hu ..,” rutuk ku berulangkali. “Dimanfaatin orang untuk menghancurkan Dream High .. masih saja tidak tahu .. hu .. hu .. Dasar bodoh … “ Kutampar wajahku dengan kekuatan yang tidak bisa dibilang enteng, .. pipiku jadi makin memerah. “Pabo!! .. Mati saja, huh tidak berguna .. hu .. hu .. “

“Strawberry!!!”

Tiba-tiba kurasakan sepasang lengan kekar menarik dan menguncang pundak ku. Mataku terbuka, .. dan melihat Wine sudah berdiri begitu dekat dariku. Dia menatapku dengan pandangan lebar yang menempel lekat.

"Jangan bodoh!!" Dia memperingati.

Lalu, secara perlahan-lahan .. Wine menjatuhkan diri, .. duduk di sebelahku. Sementara tangannya masih menempel ketat di pundak ku yang terguncang halus.

Aku dan Wine saling menatap untuk beberapa lama. Wine terlihat sangat serius kini, …. Dan entah kenapa, … aku tidak mampu melepaskan diri dari tatapannya. Sampai tangisku yang mulai terhembus dari hidung, … perlahan-lahan seperti menyadarkannya dari posisi yang sedikit tidak wajar.

Wine berdeham pelan, .. lalu mengalihkan pandangannya kearah lain. Tangisku terdengar kembali. Kali ini tidak kalah kencangnya dari tadi. “Hu .. hu .. hu .. jika saja, … saya .. saya tidak memberi kesempatan Music untuk .. untuk …”

“Omong kosong!” Wine tiba-tiba memutus perkataanku. “Ada atau tanpa kau—Orang itu, akan tetap melakukannya!! Jangan salahkan dirimu. Araso?!!”

Aku menatap Wine tidak mengerti. “Mwo.. ?” Secara perlahan kuhapus airmata dari sepasang pipiku yang sudah sangat basah. “Maksudmu—kau .. kau mengetahui sesuatu … ?” Kutatap Wine lekat-lekat. Sementara isakan halus masih terdengar dari bibirku. "Berhubungan dengan Music? .. Kau .. kau sudah mengetahuinya sejak awal .. ?"

Wine tidak menjawab. Dia segera mengalihkan perhatian ke arah lain. Sepertinya dia mulai enggan membalas tatapanku. Kemudian dia mendesah halus, .. dan menepuk pundaknya ...

"Jika kau memerlukan ini ... ," katanya sembari menepuk pundaknya kembali, .. berkali-kali. "Aku bersedia meminjamkannya ... "

Aku mengigit bibir. Perkataan Wine .. membuatku tertegun. Pertanyaan-pertanyaan yang kulontarkan tadi, .. terlupakan sudah. Isak tangis yang sebenarnya sudah mulai reda, .. perlahan-lahan terdengar kembali. Aku menangis tersedu-sedu. Rasa sakit dan penyesalan yang mendalam membuatku merentangkan tangan dan memeluk Wine erat-erat. Aku meraung di pundaknya. Membasahi kaos yang dikenakannya dengan airmata. Juga mengigit pundaknya dengan emosi meluap.

Kudengar Wine mengerang pendek. Namun aku tidak menghiraukannya. Aku tidak menyadari kalau cowok itu sedang mengigit bibir bawah keras-keras buat menahan rasa sakit akibat perbuatanku. Lima menit berlalu, .. dan aku masih menangis di pundaknya. Jidatku berulangkali kubenturkan di lengannya yang kekar dan berotot.

Sampai ... Wine tiba-tiba berseru keras, dan melonjak dari posisinya. "Akhhh--aku sudah tidak tahan lagi!!!"

Aku tersentak. Segera saja aku mengangkat wajah dan menatapnya. Dan .. alangkah terkejutnya aku, .. mendapatkan wajah Wine sudah layaknya binatang melata yang ditumbuhi bintik-bintik merah darah. Sekujur wajah, .. begitu juga leher dan lengannya bengkak-bengkak.

"Mwo ..wo .. o .. ?" tanyaku dengan gugup dan mata terbelalak lebar.

Wine tidak mengindahkan. Tangannya terlihat sibuk mengaruk bentol-bentol yang semakin banyak bermunculan di sekujur tubuh dan wajahnya.

"A .. aku harus pergi .. ," ujar Wine dengan nafas tersengal. Dia kelihatan menarik nafas dalam-dalam, .. berusaha memenuhi paru-parunya dengan udara. Tapi kelihatannya percuma, ..  karna usahanya tersebut tidak banyak menolong. Dia terlihat sulit bernafas. "A .. aku harus pergi sekarang .. " Dia mengulangi perkataannya tadi.

Wine memutar tubuh dan beranjak menjauhi ku. Langkahnya semakin cepat begitu hampir mencapai tikungan di taman tersebut. "Ingat!!" teriaknya sambil menoleh padaku. "Jangan berpikir yang tidak-tidak!!! Kau tidak bersalah, araso?!!!"

Aku mengangguk lambat-lambat, .. walau sebenarnya tidak begitu menangkap kata-katanya yang meluncur dengan cepat dan campur-aduk akibat pipinya yang kelihatan sedikit lepuh dan mengelembung.

"Wegude? ... Ada apa dengannya ... ?" tanyaku sambil beranjak bangun dari bangku, .. dan menatap punggung Wine yang sudah menghilang dari pandanganku, .. kebingungan dan tidak mengerti.


******
« Last Edit: June 04, 2011, 05:59:58 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
Yeeeahhh...Trims Luoh buat updetnya...

Kasian Stro, ternyata kena kibul mentah2 ama musik. Terus gmana dunk nasib keluarganya???? Hiksss...  [bored]...jadi ikutan sedih...

Wine belagak pahlawan amat tuh, ngasih shouldert to cry on...Hasilnya malah mukanya bentol  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh].... KAsiannn...tapi dia punya obat ant alergikan??? Cocok buat dikonsumsi kalo ntar pacaran ama Stro... [laughing] [laughing].

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
Nyahahaha kasian mam wine.
Sembuhin wine dunk klo gini gimana mau mesra2an bareng berry..ckckckck
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile


"Jika kau memerlukan ini ... ," katanya sembari menepuk pundaknya kembali, .. berkali-kali. "Aku bersedia meminjamkannya ... "

Aku mengigit bibir. Perkataan Wine .. membuatku tertegun. Pertanyaan-pertanyaan yang kulontarkan tadi, .. terlupakan sudah. Isak tangis yang sebenarnya sudah mulai reda, .. perlahan-lahan terdengar kembali. Aku menangis tersedu-sedu. Rasa sakit dan penyesalan yang mendalam membuatku merentangkan tangan dan memeluk Wine erat-erat. Aku meraung di pundaknya. Membasahi kaos yang dikenakannya dengan airmata. Juga mengigit pundaknya dengan emosi meluap.

Kudengar Wine mengerang pendek. Namun aku tidak menghiraukannya. Aku tidak menyadari kalau cowok itu sedang mengigit bibir bawah keras-keras buat menahan rasa sakit akibat perbuatanku. Lima menit berlalu, .. dan aku masih menangis di pundaknya. Jidatku berulangkali kubenturkan di lengannya yang kekar dan berotot.

Sampai ... Wine tiba-tiba berseru keras, dan melonjak dari posisinya. "Akhhh--aku sudah tidak tahan lagi!!!"


 [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [rofl] [rofl] [rofl] asli gokil neh part  [rofl] [rofl] [rofl] [rofl]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^