Author Topic: Strawberry, Lovers or Haters?--#CHP 15 PART II# 6 Nov' 11  (Read 26748 times)

Offline el_minoz

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • upssss.....
    • View Profile
aw..aw..aw sop iler y mami bener2 bikin ngiler n g kuat imron!
beneran tuh mi si berry ngomong kayak gt  wkwkwkwkw g d sangka si wine jg nepsong banget!apa saran dokter y buat ngilangin alergi y hahahahahaha enak d wine donk!

ceepeetaan update mi..dah mupeng hahahahaha

Offline Bunga_MinSun

  • Newbie
  • *
  • Posts: 12
  • How beautiful she is
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Wine + Strawberry = bentol bentol

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
chap g sepanjang iler,gmn ceritanya?? banghead
wine emang pintar,cepat blajarnya..double c kalo ngeliat pst membusungkan dada nih..dr.kwon ramuanx yg mujarab ya,kl perlu sm dgn yg diks ke mami..terbukti ampuh nyembuhn alerg rathny malah ketagihan [lovestruck] ,tgl 22 ya
[/size][/color][/b]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
chap g sepanjang iler,gmn ceritanya?? banghead
wine emang pintar,cepat blajarnya..double c kalo ngeliat pst membusungkan dada nih..dr.kwon ramuanx yg mujarab ya,kl perlu sm dgn yg diks ke mami..terbukti ampuh nyembuhn alerg rathny malah ketagihan [lovestruck] ,tgl 22 ya
Berarti updateannya dipotong dr sop ilerr yg dah ada [laughing]
Namanya jg anak muda jd belajarnya hrs cpt, apalagi hal enak begituan wkkk tentu aja wine ga mau kalah, pasangannya si berry lagi, bawaannya pasti lgs [on] [hmpfh]
Sapa blg alergi gw terhdp rath dah ilang? Habis updatean next chp, gw bakal bertapa lagi (buat ilangin alergi. Ga kuat beroabat ke dr. Kwon, terlalu mahal sih [laughing] )

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Wine wine dulu bilangnya ciuman bibir itu menjijikan eh giliran Bery minta cium lgsg maen hantem aja tuh bibir mungil mana ampe dilumat,hmf. Wine kalo jealous lucu juga ya,heheheh.


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Wine wine dulu bilangnya ciuman bibir itu menjijikan eh giliran Bery minta cium lgsg maen hantem aja tuh bibir mungil mana ampe dilumat,hmf. Wine kalo jealous lucu juga ya,heheheh.
Hmfph iya. Pan wine cemburunya gaya anak muda, jadi terasa lucu and cute deh #kyk gw wkkkk

Sebnrnya chp ini pingin gw update barengan rath, tp apa daya, beneran ga sempat,,, mian [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
BerryWine mana?? [what] [what] belon ya mam [hmpfh] [hmpfh] gw tunggu.. [lovestruck]

Love you more than I can say

Offline minhye

  • Newbie
  • *
  • Posts: 89
    • View Profile
udah baca sop ilernya...udah ada yg ga tahan tuch ama bibir berry... [bav] [bav] [bav]

next chap lebih panjang kan dari sop ilernya...... [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Chapter Thirteen
Alasan dibalik penderitaan.



”DOKTER KWONNNN!!!”

BRAK!!

PRANG!!

Untuk kesekian kali reaksi menghebohkan yang dialami dokter Kwon setiap Wine muncul mendadak di kliniknya, terjadi. Nampan yang dipegang dokter tua tersebut melayang ke lantai dan tubuhnya yang tirus dan memprihatinkan itu bungkuk ke depan sambil tangannya menekan-nekan  dan mengelus-ngelus dadanya yang berdegup kencang.

“Wine!!” tegur sang dokter teramat kesal. “Sudah berapa ratus kali kuperingatkan, jangan .. “

Namun perkataannya belum selesai ketika Wine menukas begitu saja. “Saya ingin sembuh!!” cowok yang sudah berdiri di dekatnya itu berseru dengan nafas tersengal-sengal.

Tubuh jangkung Wine bergetar akibat menahan rasa gatal dan perih yang menjalar di sekujur tubuhnya. Kulit kecoklatan yang biasanya sehat alami itu terlihat sangat pucat, .. sangat kontras dengan warna merah dari bentol-bentol yang masih giat bermunculan di sekitar wajah dan lehernya. Nafas Wine terdengar berat. Mulut penuhnya terbuka dan megap-megap ketika berusaha mengapai udara yang sudah teramat tipis dalam paru-parunya.

“Mworagu?” Dokter Kwon yang semula kesal menjadi keheranan. Dia mengira telah salah dengar, “Kau bilang—ingin sembuh?” ulang dokter keluarga So itu memastikan.

Wine mengangguk dengan sangat keras. Sampai-sampai dagu lancipnya menghantam bagian dadanya yang paling atas, dekat leher sehingga meninggalkan bercak yang tidak kalah merahnya dengan bentol-bentol di sekujur tubuhnya.

“Ta .. tapi, kenapa .. ?” tanya dokter Kwon pelan. Dia masih tidak mampu percaya dengan pendengarannya sendiri. Wine minta disembuhkan? Setelah bertahun-tahun? .. Ini tidak salah kan? .. Atau mungkin, .. alat pendengar tuanya yang telah salah tanggap? .. Sungguh sangat aneh ..

“Ne! Pokoknya saya ingin sembuh!” Tanpa sadar, Wine mencengkram pundak dokter Kwon dan menarik tubuh kurus itu kearah dirinya. Nafasnya yang masih memburu kala itu, .. udara yang terhembus dari bibirnya, .. menerpa-nerpa rambut beruban dokter Kwon.

“Iya, tapi kenapa?” Dokter Kwon menepis tangan Wine sambil meringis kecil. Cengkraman yang dibuat cowok itu meninggalkan sedikit perih pada pundaknya. “Kau tidak pernah memintanya selama ini. Bahkan ketika kami, .. aku dan orangtuamu, .. membujuk dan memaksamu untuk melakukan terapi buat pertama kalinya sejak permulaan gejala penyakit anehmu itu, kau menolaknya mati-matian. Kau malah membentak dengan mengatakan—alergi terhadap stroberi tidak akan berdampak apa-apa padamu. Selama kau tidak menyentuh buah tersebut, hidupmu akan tentram sentosa, .. Itu yang kau katakana pada kami, Wine. Menurutmu, .. dunia tidak akan runtuh tanpa stroberi, .. iya kan? Dan mulai saat itu pula, .. kau berubah dari seorang pengemar stroberi menjadi seorang anti stroberi .. ,” komentar dokter Kwon panjang lebar.

Wine yang tidak menyangka dokter yang biasanya tenang seperti dokter Kwon akan menjadi secerewet ini, segera mendengus. Dia benci diingatkan akan kata-katanya sendiri bertahun-tahun yang lalu, .. semenjak dia sadar, telah berubah dari seorang pengemar stroberi menjadi pembenci stroberi..

Masih segar dalam ingatannya, bagaimana dia begitu mengemari segala sesuatu yang terbuat dari stroberi waktu itu. Baik itu juice stroberi, maupun yougurt dan kue stroberi, .. apalagi stroberi segar yang dipetik langsung dari ladang, selalu membuat anak lidahnya bergerak-gerak penuh gairah. Namun, ..  itu sudah lama sekali berlalu. Alasan yang dijadikannya tameng untuk menghindari terapi terhadap alergi stroberi yang dideritanya selama ini, walau benar adanya bahwa hidupnya akan aman selama tidak menyentuh buah yang namanya stroberi, .. sepertinya mesti dibuang jauh-jauh. Keyakinan tersebut diragukannya sekarang. Anhi! Sepertinya, .. keyakinan tersebut tidak berlaku lagi.

Bagaimana jika stroberi yang dimaksud ‘HIDUP’--layaknya Strawberry? Apa dia dapat menghindarinya? Wine tahu kini, .. itu tidak mungkin!

Tidak mungkin, karma dia sudah perduli pada Strawberry!
Tidak mungkin, .. karma dia sudah .. mulai menyukai gadis itu!
Tidak mungkin, … karena dia sudah terlanjur .. jatuh cinta tanpa dapat dihindarinya ..


Dia berbalik dari seorang Strawberry Hater menjadi Strawberry Lovers!

“Kau benar-benar yakin?”

Pertanyaan dokter Kwon menyentak Wine dari lamunan-lamunannya. Wajahnya yang agak menunduk ke lantai diangkatnya. “Dhe?”

“Apa kau yakin untuk berobat?” ulang dokter Kwon.

Wine mengangguk pasti. “Ne. Saya yakin seyakin yakinnya. Saya ingin sembuh! Saya tidak ingin begini terus setiap bertemu Strawberry .. ,” katanya sambil menunjuk wajah dan sekujur tubuhnya yang terhias bintik-bintik dan bentol-bentol fantastic.

Dokter Kwon yang tidak menyadari arti sebenarnya dari ‘Strawberry’ yang dimaksud Wine, mengangguk.

“Baik. Saya akan berusaha menyembuhkanmu. Tapi ingat, wine-a, .. pengobatan ini perlu waktu dan tingkat kesabaran yang tinggi. Penyakitmu sudah hampir mendarah daging karna terlalu lama, .. dan mungkin akan banyak efek tolak belakang yang tidak diinginkan. Kau harus siap lahir batin. Saya perlu melakukan penelitian yang seksama terhadap tanaman-tanaman herbal yang cocok dikonsumsi tubuhmu. Saya tidak ingin masalah yang sama terulang lagi. Waktu itu—kalau bukan kecerobohanku dengan mencampurkan daun yang ternyata berdampak negative terhadap jaringan tubuhmu dengan daun-daun stroberi yang berwujud serupa, .. kau tidak akan alergi terhadap stroberi. Dan juga, .. jika saja waktu itu kau bersedia berobat, mungkin tidak ada dampak mengkhawatirkan seperti sekarang ini .. “

Wine menghela nafas dalam-dalam. Semua yang terjadi, tidak mungkin disesalinya, bukan?

“Gumawo, dokter Kwon .. ,” kata Wine lirih. “Apapun konsekuensinya, akan saya terima dengan lapang dada .. “ Lalu, .. cowok jangkung tersebut menepuk lengan dokter Kwon pelan. “Dan .. miane buat semuanya. Saya selalu menyusahkan anda .. “

“Bagus kalau kau tahu .. “ Dokter Kwon tersenyum mengoda.

Wine tertawa. “Ya saya tahu .. “ Kemudian dia melipat sepasang tangan di depan dada. Tubuhnya agak dicondongkan ketika melanjutkan kata-katanya, “ .. kurasa, .. mulai sekarang, saya harus mulai memikirkan kesehatan jantungmu, dokter Kw—AWW!!”

Wine berteriak keras ketika kepalanya mendapat ketukan ‘sayang’ yang teramat keras dari dokter Kwon.

“Anak kurang ajar!!” umpat dokter desa itu. Agak memaksa, ditariknya kerah baju Wine dan diseretnya tubuh jangkung tersebut sampai di depan sebuah bangku. Kemudian, ditekannya dengan keras pundak cowok itu sampai postur panjangnya terhempas keras di atas bangku. “Sekarang, saatnya mengobatimu!” bentak dokter Kwon. “Melihat tampangmu saja, aku sudah mules .. ,” ejek sang dokter.

Wine mencibir. Dia diam saja ketika dokter Kwon mulai sibuk mengobati kulitnya. Berhubung pada saat itu tidak ada pasien lain yang mesti ditangani dokter Kwon maka Wine bisa mendapat pengobatan pertama.

Dokter Kwon mengambil bermacam peralatan dari sudut ruangan selama beberapa menit, dan kembali lagi ke hadapan Wine. Dia membuka kemeja Wine, kemudian membersihkan kulitnya yang berbentol-bentol dengan air dalam rendaman beberapa jenis daun.

“Ini untuk mencegah infeksi dan membunuh kuman .. ,” dokter Kwon menjelaskan.

Wine hanya bisa manggut-manggut sambil memperhatikan kesibukan dokter Kwon. Setelah membilas tubuh, leher dan wajah Wine, .. begitu juga sepasang tangan dan kakinya, .. dokter Kwon mengeringkan tubuh jangkung Wine dengan handuk besar.

“Sekarang akan kuoles balsam ke kulitmu yang berbentol-bentol ini .. Tenang saja, tidak perih kok—“

“Ne .. “ Wine menahan nafasnya.

Dia tidak tahu kira-kira kapan penderitaan ini akan berakhir. Kapan dia tidak alergi lagi terhadap Strawberry? Mengingat kemungkinan yang sangat samar ini—Wine mengigit bibirnya.

Untuk tidak menyentuh atau memakan stroberi, dia tidak masalah. Sungguh, tidak masalah! Tapi jika, .. untuk tidak .. bertemu Strawberry, atau bersamanya, .. dia tahu—rasanya ingin mati saja. Penderitaan tersebut mungkin akan lebih menyiksa dari penyakit yang menganggunya selama ini ..

“Jujur saja Wine, .. apa yang menyebabkanmu ingin sembuh?” tanya dokter Kwon tiba-tiba. Tangan renta itu sudah selesai mengolesi tubuh Wine dengan balsam, dan sekarang dia sedang mencuci tangannya di dalam baskom yang dibawanya tadi.

“HEKK!!” Wine tersedak. Liur yang bermaksud ditelannya tertahan di tenggorokan. Susah payah Wine terbatuk-batuk membersihkan tenggorokannya.

“Weeyo?” Dokter Kwon menatap Wine terheran-heran. “Ada rahasia dibalik semua ini?”

“Yaishh—“ seru Wine. “Dokter Kwon sewot banget!!”

“Berhubungan dengan stroberi?” tebak dokter Kwon lebih lanjut dan asal-asalan. Tentu saja stroberi yang dimaksudnya bukan ‘Strawberry’ seperti yang dibayangkan Wine. Namun cowok geblek itu sama sekali tidak tahu.

“Dokter terlalu cerewet!” dengus Wine sambil membuang muka. “Saya tidak akan jawab!”

“Apa .. kau sekarang menyukai stroberi?” Dokter Kwon tetap terlihat tidak perduli terhadap kerisihan Wine, .. dia terus saja melancarkan kepenasaran-kepenasarannya. “Kau ingin memakannya, .. tapi karna tidak bisa, maka kau minta disembuhkan?”

Wine terbatuk-batuk keras. “YAAAA—dokter Kwon jorok! Hentikan omongan itu!”

“Jorok?!” Dokter Kwon mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Jorok bagaimana? “ tanyanya tidak mengerti. “Bagian mananya yang jorok? Rasanya, pertanyaanku biasa-biasa saja .. ”

Wine mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia tidak ingin mengubris dokter Kwon lagi. Wajahnya sudah memerah akibat perasaan malu yang melandanya sekarang.


********



Aku menyepak-nyepak rumput pendek di halaman depan rumah. Untuk kesekian kalinya ku menguatkan diri, .. bagaimana caranya untuk terlihat tegar di hadapan kedua orangtua ku. Namun aku tidak berhasil. Setelah lima belas menit berlalu, .. barulah kuputuskan masuk ke dalam rumah.

Tidak kudapati keberadaan omma dan appa di ruang depan, .. begitu juga ruang tamu yang terlihat lenggang, .. dan dapur. Kemana mereka? Aku mempererat genggaman pada tali ransel yang kusandang, dan bergegas-gegas menaiki tangga menuju lantai atas. Aku mendorong pintu kamar omma dan appa tanpa mengetuk lagi.

Di dalam, .. kulihat kedua orangtua ku sedang mengepak barang-barang mereka ke dalam koper. Aku terperanjat seketika. Tidak pernah kukira, .. apa yang kubayangkan dan kutakutkan, akan menjadi kenyataan jua. Kami harus keluar dari Strawberry field, … atau tepatnya, ‘pergi; meninggalkan Dream High, tempat yang telah membesarkan dan yang kutinggali sejak lahir’.

Walau dulu, .. dulu sekali, .. aku mempunyai keinginan ‘seandainya bersekolah di kota besar, .. Seoul misalnya? .. Alangkah berbahagianya’.

Namun sekarang, … keinginan tersebut sudah terbuang jauh-jauh. Aku tidak menginginkannya lagi. Sejak kapan? Mungkin sejak, .. aku menyadari, betapa berartinya Dream High, terutama Strawberry field bagiku. Untuk menginjakan kaki di tanah asing, .. serasa menakutkan bagiku.

“A .. ada apa ini …?” tanyaku berusaha mendapatkan jawaban yang sebenarnya ingin kuhindari faktanya.

Omma dan appa mendongak dari kesibukan mereka. Dapat terlihat jelas, .. sepasang mata merah yang menghiasi wajah mereka.

“Appa … omma .. ,” desisku lirih.

“Stro-a .. “ Omma mengembangkan sepasang tangan dan menghambur kearahku. Beliau memeluk ku erat-erat. Pundaknya naik turun seiring isak tangisnya yang mulai terdengar.

Aku mengalihkan perhatian pada appa yang kelihatan lebih tenang, begitu sadar percuma saja menanyakan pertanyaan tadi pada omma. Emosi beliau lebih tidak terkendali dariku.

“Kita harus pergi, Stro-a .. “ Jawaban ini yang paling tidak ingin kudengar.

“Ta .. tapi, .. haruskah .. ?” tanyaku tersendat-sendat. Aku tahu ini harus, .. namun aku masih ingin menghindar, tidak mau percaya.

Appa mengangguk. “Ya. Tidak ada lagi tempat di sini buat kita. Lagipula, appa tidak ingin terlihat mengemis-ngemis di depan orang-orang munafik itu!”

Aku terdiam. Samar-samar terbayang kembali ekspresi Music ketika berusaha memberi penjelasan pada ku tadi pagi. Apakah dia ingin melanggar janji setelah penolakan dan pemutusan sepihak yang kulakukan padanya? Secepat ini dia bertindak? Aku segera mengeleng pelan. Tidak mungkin! Music kelihatan bukan orang seperti itu. Dia tidak mungkin melanggar janji hanya karna dikhianati. Sampai di sini aku tersenyum kecut.

Khianat? Sebenarnya siapa yang mengkhianati siapa? Selama beberapa bulan kebersamaan kami, .. dia yang membohongiku! Dengan menyembunyikan fakta maksud kedatangannya di Dream High, Music telah mengkhianati kepercayaanku padanya. Jadi, .. untuk apa aku masih membelanya? Dia benar orang seperti itu!!! Seseorang yang hanya mementingkan kepentingan dan keuntungannya sendiri tanpa memikirkan orang lain, .. orang yang dicintainya sekalipun!

“Harus, Stro-a!” Jawaban tegas appa menghentak ku tersadar dari lamunan. “Kita harus meninggalkan Dream High sebelum diusir bagai barang tak berharga .. “

“A .. pa .. mereka yang memintanya .. ?” tanyaku perlahan, .. tentu saja ‘mereka’ yang kumaksud adalah ‘Music Jung’!

“Tidak! Belum .. ,” sahut appa sambil meneruskan kesibukannya berkemas. Omma melepaskan pelukan dari tubuhku dan segera membantunya. “Dan itu tidak akan terjadi karna kita akan pergi terlebih dahulu .. “

“Appa ..  “ Aku mendesah. Perlahan tapi pasti tubuhku merosot hingga terduduk di atas lantai. Aku merasa capek, .. teramat lelah untuk kejadian yang terjadi dua hari terakhir ini. “Maukah appa dan omma mendengarku .. untuk sebentar saja .. “

Appa dan omma menghentikan kesibukannya dan menoleh padaku.

“Beri saya waktu untuk meluruskan sesuatu .. ,” pintaku lebih lanjut. “Hanya satu hari saja, .. jeobal .. “

Omma dan appa saling berpandangan.

“Apa yang akan kau lakukan, sayang?” tanya appa menyelidik. “Ingat, kita tidak punya waktu lagi. Kita harus pergi dari sini sebelum orang-orang berengsek itu kemari .. “

“Ku rasa .. ,” aku berkata lambat-lambat. “ .. mereka .. tidak akan kemari .. “

“Kau bermaksud menjelaskan masalah ini pada Wine?” tebak omma tiba-tiba. “Itu tidak perlu, sayang .. ,” lanjut omma sambil mengelengkan kepalanya. Beliau tersenyum pahit. “Omma sudah menceritakannya pada keluarga So dan mereka tidak keberatan kalau perjodohan kalian diundur sebentar—“

“Eh?!” Aku tersentak kaget. “Yaa—bukan itu—“ sahutku cepat. Dengan agak risih aku berusaha menghindari tatapan omma. Tergesa-gesa aku bangun dari lantai dan memutar tubuh menghadap ke pintu.

Kata ‘WINE’, ternyata memiliki dampak tak terduga padaku.

Aku teringat kembali; masih sangat segar dalam ingatanku, .. bagaimana cowok yang selama ini kuanggap geblek dan berengsek itu, rela membiarkan pundaknya dijadikan wadah penghibur lara bagiku. Dia bersedia meminjamkannya … tanpa syarat. Wajah yang bersemu bintik-bintik dan bentol-bentol darah tersebut silih berganti berputar dalam pikiranku.

Alisku berkenyit perlahan. Sampai saat ini, … aku tidak tahu dan tidak mengerti penyebab dari munculnya bintik-bintik dan bentol-bentol darah dari tubuhnya. Kenapa setiap kali berdekatan denganku, .. akan terlihat reaksi yang mengerikan itu?

“A .. aku .. masuk kamar dulu, omma .. appa .. “ Elak ku terhadap pandangan-pandangan bertanya dari omma dan appa. Mereka masih saja menatapku dengan tatapan yang menusuk sampai ke kalbu, .. seakan bermaksud mengorek isi hatiku.

Tergesa-gesa aku keluar dari kamar appa dan omma, dan kembali ke kamarku.

“KAU TIDAK BERBERES, STRO-A?!!”

Masih sempat kudengar teriakan appa dari kamarnya.

“ANHHI!! BERI SAYA WAKTU SATU HARI. JIKA BENAR TIDAK TERSELESAIKAN, .. LUSA KITA BERANGKAT PAGI-PAGI SEKALI!!” balasku keras-keras dari dalam kamar.


*******



Keesokan harinya, sekitar pukul sepuluh pagi, .. aku tiba di rumah Music dengan hanya berbalutkan sepotong kaos tanpa lengan dan celana pendek. Aku menghentikan langkah di teras depan. Sesaat kuamati keadaan sekitar teras depan yang tertata rapi. Keadaan masih sangat sepi. Beruntung Music berada di rumahnya. Seorang pelayan paruh baya yang membukakan pintu mengatakan itu padaku.

Pelayan tersebut mempersilahkan aku masuk ke dalam kemudian membawa ku ke sebuah ruangan yang cukup besar, yang kuperkirakan merupakan ruang tamu dari rumah besar tersebut.

“Agashi mau minum apa?” tanya si pelayan dengan hormat.

Aku tersenyum dan mengeleng pelan. “Tidak perlu, ahjuma . .”

“O—tidak .. ,” pelayan itu ikut mengeleng. “Saya bisa dimarahi tuan muda jika tidak menyambut kedatangan tamu dengan baik. Agashi mau minum apa?” ulang si pelayan keras kepala.

“Baiklah . .” Aku menyerah. “Cukup teh saja, ahjuma. Gumapta .. “

Pelayan ramah tersebut mengangguk. “Ne. Agashi tunggu sebentar. Saya akan mengabari doronim .. “

“Ne .. “

Pelayan tersebut keluar ruangan,  .. sekarang tinggal lah aku seorang diri. Aku menghembuskan nafas, .. lalu mulai menjelajahi ruangan ini dengan seksama. Selama kami pacaran, .. baru ini yang pertama kalinya aku mampir ke rumah Music. Dan tidak disangka, .. kedatanganku untuk memohon sesuatu padanya. Ya, aku ingin memohon dia agar tetap memegang janji yang telah diutarakannya dua hari yang lalu. Tetap membiarkan kami tinggal di villa stroberi, .. walau ladang strawberry beserta seluruh isinya telah dibeli mereka.

“Berry .. ?” Music menghentikan langkahnya di ambang pintu begitu melihatku. “Ternyata kau . .?” tanyanya dengan ekspresi tak percaya. Sesaat kemudian kulihat dia tersenyum. Dia masuk ke dalam dan menghampiriku. “Kenapa bisa kemari?”

Aku segera berdiri dari sofa dan menghadap ke arahnya. “Ada .. sesuatu. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan .. ,” kataku tersendat-sendat.

Music kembali memperlihatkan senyumnya yang menenangkan. Namun sayang, .. apa yang dilakukannya sudah tidak berpengaruh lagi padaku. Aku sudah terlanjur membencinya.

“Ada apa?” tanya Music yang berubah kaku begitu melihat reaksiku.

Saat itu, si pelayan tadi masuk kembali ke ruangan dengan baki berisi sepoci teh dan dua cangkir kecil. Setelah menyeduh teh tersebut ke dalam cangkir, dia pamit mohon diri.

Aku agak meluruskan badan ketika mengambil keputusan untuk menjawab pertanyaan Music, .. namun segera didahuluinya.

“Duduklah dulu, .. dan minum tehnya .. ,” tawar Music.

Aku mengangguk dan menjatuhkan diri kembali ke pinggir sofa. Music ikut duduk di sebelah ku. Sejenak tercipta kekakuan antara kami. Aku mengambil cangkir teh dan meneguk isinya sampai habis. Setelah itu kuletakan kembali di atas meja.

“Nambah?” tanya Music sambil menatapku.

Aku mengeleng. “Tidak. Sudah cukup, .. gumawo … ,” tolak ku cepat.

“Ok .. “ Music mengangkat tangannya. “Sekarang, apa masalahmu?”

“Apa kau tipe pemegang janji?” tanyaku tanpa basa-basi lagi.

Music terlihat agak terkejut. “Tentu saja .. ,” jawabnya dengan alis berkerut. “Memangnya kenapa kau menanyakannya?”

“Karena itu, apa yang sudah kau katakan, akan kau lakukan?” selidik ku lebih dalam.

Alis Music berkerut lebih dalam. “Ne ...”

“Kau tidak akan ingkar janji?” Aku menatapnya tajam-tajam.

“Aush—Berry .. “ Music terlihat makin bingung. “Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?”

“Jangan ambil villa stroberi!” tukasku cepat. “Apapun syaratmu agar kami tetap tinggal, .. akan kulakukan . . Asal, jangan usir kami dari sini … “

Music tertegun. “Hanya itu yang ingin kau bicarakan?” tanyanya lambat-lambat.

Aku mengangguk. “Ne .. “

Music terdiam beberapa saat. Tujuh menit berlalu ketika dia mengangguk. “Baik. Kuusahakan ayahku tidak akan mengambil villa stroberi. Ini janjiku padamu … “

Aku mengangguk sambil mengigit bibir. Jika saja aku tidak terlanjur membencinya, .. mungkin saat ini aku sudah terharu dengan apa yang dilakukannya. Untuk menentang perintah ayahnya, .. itu bukan hal mudah. “Gumawo … “

“Ada lagi yang kau inginkan?”

Aku mengeleng keras-keras. “Tidak. Sekarang katakan padaku, .. apa yang harus kubayar buat permintaan tadi .. “

“Tidak ada!!” tukas Music keras. “Aku yang sudah menjanjikannya terlebih dahulu, .. jadi tidak ada yang perlu kau bayar .. “ Music menatapku lekat-lekat. “Apa cuma ada tawar-menawar dalam hubungan kita, Berry-a .. ?” Dia mendesah lirih.

“Kau yang memulainya .. “ Aku membalas tatapannya tanpa berkedip. “Mulai saat ini, .. aku tidak ingin berurusan lagi denganmu .. “

“Berry!!” seru Music begitu aku sudah berjalan ke pintu. “Tidak adakah kesempatan untuk kita? Kau tahu aku melakukannya hanya untuk mempertahankan diri … ”

“Bukan semuanya dapat dinilai dengan harta dan kedudukan, Music-a . .,” desisku halus dengan posisi memunggunginya. “Ada kalanya harta dan kedudukan itu akan menghancurkanmu. Kau mengambil jalan itu karna kau munafik. Dan aku tidak bisa bertoleransi terhadap orang seperti itu .. “

“Bagaimana jika aku membatalkannya?!” teriak Music tiba-tiba. “Membatalkan perjanjianku dengan ayah. Apa kau akan kembali padaku?!!”

Aku tercekat. Perlahan aku menarik nafas buat memenuhi paru-paruku. “Yang lalu sudah berlalu .. ,” aku menoleh padanya. “Sebagaimanapun kerasnya usahamu untuk mengembalikan semua itu, percuma .. Luka yang tergores sudah tertanam begitu dalam. Lagipula, .. apa kau kira ayahmu akan begitu mudahnya melepaskan Dream High yang menjadi sasaran pelebaran bisnisnya begitu saja? .. “

Aku mengepalkan tangan, .. perlahan-lahan memutar tubuh dan kembali melangkah meninggalkannya.


*******



Dua hari berlalu sejak pertemuan terakhirku dengan Wine di taman belakang sekolah waktu itu. Aku berjalan dengan kepala tertunduk sore harinya, .. tanpa menyadari si pemilik tubuh jangkung di depan, yang muncul dari arah berlawanan, juga berjalan dengan posisi yang hampir sama. Wine melangkah dengan pikiran melayang, hingga tak melihat kehadiranku. Tak pelak, .. tubuh kami saling bertabrakan satu sama lain.

Aku mengibaskan rok bagian belakangku yang kotor oleh rumput-rumput dan daun-daun kering akibat terhempas di semak-semak. "Huh--" Aku mempelototi si penabrak tak tahu diri itu.

Sosok jangkung yang kutabrak tadi tampak tidak bergeming, masih berdiri kokoh di posisinya. Tak ada reaksi berarti darinya, .. hanya terdorong sedikit. Berlainan denganku, yang sampai pusing karna terantuk dadanya yang bidang, untuk kemudian mendarat di semak-semak berduri.

Aku mengepalkan tangan dan bersiap mendamprat orang itu. Mungkin kepalaku masih pening oleh benturan tadi sehingga pandanganku mulai ngawur dan tidak benar, .. kenapa yang kulihat, mirip Wine?

"Hmm--" Wine berdeham dengan kikuk.

Mataku terbelalak. Jadi benar, .. dia Wine?!!! OH--emakkk!!!

"Yaa--gwencana?" tegur Wine begitu melihatku hanya bisa bengong di tempat terhadap sapaannya yang tidak bisa dibilang bersahabat tadi.

"Eh--" Aku tersentak. Teramat gugup, aku berusaha menghindari tatapannya. Sebenarnya tindakan ini tidak perlu karna Wine kelihatan tidak kalah gugupnya dariku.

"Gwen .. gwencanayo .. ," sahutku tanpa berani memandangnya.

Bohong besar!! Aku tidak baik-baik saja. Aku sangat gugup, .. teramat gugup untuk dilukiskan dengan kata-kata. Ciuman yang terjadi antara kami, .. begitu juga pundak yang dipinjamkannya buat menghiburku dua hari yang lalu, .. kembali bermain-main dalam pikiranku. Aku mendesah. Apa yang harus kulakukan buat mengusir kecanggungan ini? Padahal, .. selama pergaulanku dengan Wine selama ini, .. tidak bisa dibilang baik sih karna kami lebih sering bertengkar daripada berbicara baik-baik, .. tapi cukup bebas dan tidak serba salah seperti ini ..

Bola mataku sesekali melirik Wine, ... dan tentu saja ini tanpa disadarinya,  .. jika tidak, bisa mampus aku saking malunya.

Kami terdiam untuk waktu yang cukup lama. Kuamati dia, .. tentu saja masih secara sembunyi-sembunyi. Kulit wajah dan leher itu belum benar-benar sembuh dari bentol-bentol merah yang mengerogotinya. Jidatku berkerut.

Kemudian pandanganku menurun pada sepasang lengannya yang tidak terbungkus kain (mengingat Wine mengenakan kaos lengan pendek yang ujungnya tergulung sampai ke pundak, ..  otot-ototnya yang sudah terbentuk sempurna sampai menyembul dari bagian yang terbuka tersebut begitu sepasang lengan itu digerak-gerakan, yummy he.. he ..)--sama saja! Sepasang lengan tersebut juga dipenuhi bintik-bintik darah yang sudah mulai memudar. Pandanganku perlahan naik kembali, .. sampai bertemu iris gelap Wine.

Apa cuma perasaanku atau bukan, .. kenapa dia kelihatan jauh lebih menarik dari Wine yang kukenal selama ini?

"Kau .. mau kemana?" tanyaku lambat-lambat. Bibirku kugigit sekeras-kerasnya setelah menanyakan ini, .. takut kalau kegelisahan, dan suaraku yang bergetar ketahuan Wine.

"Hn--" Wine berujar dengan kaku. "Ke ladang. Ada yang harus kubereskan di sana .. "

"O--" Aku mengangguk.

Terus terang saja, .. kekakuan ini sudah hampir mencekik leherku. Aku meluruskan badan dan bertekad meninggalkannya. "Bye--" ujarku sambil melambaikan tangan padanya. Aku melakukannya dengan serba salah, .. dan melewatinya tanpa berani berpaling lagi.

"Strawberry!!"

Panggilan yang mampu menghentikan langkahku dalam sekejap. Aneh.

Aku memutar badan menghadapinya. "Ya?"

"Ba .. gaimana keadaanmu .. ?" tanya Wine dengan nafas tertahan. "Keluargamu? Baik kah? .. Kudengar, .. perusahaan ayah Music mengambil-alih semuanya .. "

Aku tersenyum kecut. "Ya memang," kemudian kepalaku menengadah ke langit. Menatap gumpalan-gumpalan awan yang mulai kelam. "Aku salah ketika mengenalnya. Ternyata dia musuh dalam selimut ... "

"Gwencana?" Wine menatapku tak berkedip.

Aku menoleh padanya. "Ne, gwencana. Dia masih berperasaan dengan menyisakan villa strawberry pada kami, .. walau orangtuaku tidak menyukainya .. " Aku tertawa getir. "Omma dan appa sudah memaksa untuk meninggalkan Dream High jika saja aku tidak berhasil membujuk mereka ... "

Tiba-tiba aku mendapatkan respon tidak wajar dari Wine. Dia tertawa dengan suaranya yang parau dan dingin. "Tentu saja! Karna dia masih mencintai dan mengharapkanmu!"

"Mwo?" Aku terperanjat. Mataku terpicing ketika menatapnya. "Maksudmu?"

"Benar begitu kan?" Wine mengangkat pundaknya. Kali ini dia yang berinisiatif meninggalkanku. "Sangat mengelikan kalau berpikir dia akan melepaskanmu begitu saja .. "

"Hah?!"

Wine lewat begitu dekat di sampingku,  .. sampai lengan kanannya yang kekar menyerempet pundak ku dengan keras. Aku hilang keseimbangan. Terhuyung-huyung aku berusaha mengatur posisi berdiriku. Berhasil! Namun kertas-kertas lukis yang kugenggam tidak tertolong, ... berhamburan ke mana-mana.

"Akhh--"

Wine menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan melihatku membungkuk dan memungguti kertas-kertas hasil ulahnya.

"Kau ini kenapa sih?" Aku mengerutu kesal.

Wine masih terpaku sesaat, ... kemudian dia berjalan ke arah semak-semak dan memunggut selembar kertas yang tersangkut di sana, .. lalu kembali kepadaku, .. berjongkok dan membantuku memungguti kertas-kertas yang bertebaran di jalan tanah. Pada lembaran terakhir, tangan kami saling bersentuhan. Rupanya, .. ketika kami memunggut kertas tersebut, .. pada waktu dan posisi yang hampir bersamaan.

Aku mendongak dan mendapatinya sedang mengamatiku. Jarak di antara kami sangat dekat, sehingga desah nafasnya yang beraroma .. hmm--wine? yang begitu memabukan terasa menerpa kulit wajahku. Kami saling menatap untuk waktu yang cukup lama, .. dengan tidak seorangpun dari kami yang ingin membuyarkan keadaan ini.

Tangan Wine terangkat pelan-pelan dan menyentuh wajahku dengan sangat halus. Aku tidak dapat bergerak. Aku 'sungguh-sungguh' terhipnotis oleh daya tarik magnetnya.

"Wine--kenapa .. kau .. seganteng ini .. sih?" Aku tidak dalam keadaan sadar ketika menuturkan pertanyaan ini.

Kulihat Wine tersenyum samar. Dia terlihat makin menawan saja, .. sepasang mata yang seakan bersinar itu menurun ke bibirku. Daya tarik ini yang membuatku mengutarakan permintaan lebih lanjut, .. dengan linglung.

"Cium saya dong, Wine .. "

Tanpa diminta untuk kedua kali, Wine sudah melumat bibirku dengan sangat ganas dan bernafsu. Lidahnya terasa mengorek-ngorek dinding-dinding mulutku. Aku mendesah. Tanganku bergayut di lehernya.

Bibir Wine terasa sedap dan memabukan. Aroma wine yang sangat kental terhembus, membuat perasaanku melayang. Aku seperti habis meneguk segelas wine, kemudian mabuk. Namun, .. kenikmatan ini melebihi segelas anggur. Aku yakin aroma bibir Wine lebih nikmat seratus bahkan seribu kali lipat dari minuman beralkohol yang namanya 'wine'.

Mendadak aku mendengar Wine meringis. Aku melepaskan rangkulan dari leher dan menatapnya dengan pikiran yang masih menerawang jauh. Ya, Tuhan! Apa yang kulihat hampir membuatku terpekik. Bintik-bintik laknat itu kembali bermunculan di sekujur wajah dan badannya. "A .. apa .. ini .. ?" tanyaku gugup.

Wine mengeleng sambil menyandarkan punggungnya di batang sebuah pohon yang tumbuh di belakangnya. Nafasnya tersengal-sengal dan tangannya berulangkali mengelus-ngelus dadanya.

"Wi .. ne .. " Aku menjadi pucat. Segera kutekan wajahnya dengan sepasang tangan. "Jangan begini! .. Saya mohon jangan begini ... " Dan aku PUN mulai menangis tersedu-sedu. "Jangan perlakukan aku seperti ini, Wine-a .. Aku tidak tahan .. Lebih baik kau mengejek dan memarahiku seperti dulu, tidak apa-apa .. daripada begini .. "

Wine menarik nafas dalam-dalam. Dengan susah payah dia mengeleng, lalu meraih tubuhku dan membenamkan kepalaku di dadanya. "Bukan .. itu--" Dia menjawab dengan sangat pelan. Nafasnya semakin tidak teratur.

"Jangan menghindariku .. ," Aku memohon dengan tampang memelas.

Wine mendesah. "Tidak akan .. "

"Lalu .. kenapa? .. Wajahmu ... ?"

"Ini--" Wine mengigit bibirnya. Dia terlihat enggan untuk menjawab. Kemudian sepasang matanya terpejam. "Ini .. bukan penyebab dari ..  sikap ku padamu ... Dulu mungkin iya, tapi ... tidak sekarang ... "

"Maksudmu?!!"


********
« Last Edit: June 24, 2011, 12:40:21 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] ya... dah update... ciumannya kurang hot, tuh! hehehehe


mam, music ntar diem aja, gak liat bery-wine jadian?  [hmpfh]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
[smiley-gen013] [smiley-gen013] ya... dah update... ciumannya kurang hot, tuh! hehehehe


mam, music ntar diem aja, gak liat bery-wine jadian?  [hmpfh]
Gw ga mau mikirin music dulu, mau fokus ke wine n berry hehe

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline huey

  • Newbie
  • *
  • Posts: 73
  • bogosipta....saranghae...
  • Location: Semarang
    • View Profile
    • Huey is Coming
Quote
"Wine--kenapa .. kau .. seganteng ini .. sih?" Aku tidak dalam keadaan sadar ketika menuturkan pertanyaan ini.

Kulihat Wine tersenyum samar. Dia terlihat makin menawan saja, .. sepasang mata yang seakan bersinar itu menurun ke bibirku. Daya tarik ini yang membuatku mengutarakan permintaan lebih lanjut, .. dengan linglung.

"Cium saya dong, Wine .. "
gubrak mi......
beri kok cengo kaya gitu yaa..
puolooossss buanget.....

Quote
Tanpa diminta untuk kedua kali, Wine sudah melumat bibirku dengan sangat ganas dan bernafsu. Lidahnya terasa mengorek-ngorek dinding-dinding mulutku. Aku mendesah. Tanganku bergayut di lehernya.

Bibir Wine terasa sedap dan memabukan. Aroma wine yang sangat kental terhembus, membuat perasaanku melayang. Aku seperti habis meneguk segelas wine, kemudian mabuk. Namun, .. kenikmatan ini melebihi segelas anggur. Aku yakin aroma bibir Wine lebih nikmat seratus bahkan seribu kali lipat dari minuman beralkohol yang namanya 'wine'.
hmmm wine juga lansung tancep gas yaaa....

karena masih kecil jadi ni blom hot ya ciumannya??
hehehhehe

kira² music bakal tau ga hubungan wine-berry?
trus music bakal macem² ga setelah tau?

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
[smiley-gen013] [smiley-gen013] ya... dah update... ciumannya kurang hot, tuh! hehehehe


mam, music ntar diem aja, gak liat bery-wine jadian?  [hmpfh]
Gw ga mau mikirin music dulu, mau fokus ke wine n berry hehe

 [cry] [cry] kasian lu music... dicuekin author  [goodgrief]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
[smiley-gen013] [smiley-gen013] ya... dah update... ciumannya kurang hot, tuh! hehehehe


mam, music ntar diem aja, gak liat bery-wine jadian?  [hmpfh]
Gw ga mau mikirin music dulu, mau fokus ke wine n berry hehe

 [cry] [cry] kasian lu music... dicuekin author  [goodgrief]
Biarin [hmpfh] pan enak dicuekin [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline dalbyeol

  • Senior
  • ****
  • Posts: 803
    • View Profile
gumawo mami dh d update [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

Wine...seneng banget akhirnya kau brubah dr Strawberry hater menjd Strawberry lovers [clap] [clap] [clap]

i like this chap soooo much...coz Wine pengen sembuh [clap] [lovestruck]

dr.Kwon aja bingung apa alasannya,saking Wine memaksa pengen sembuh [hmpfh]..Wine bayangin apa sih waktu dr.Kwon blng 'makan stroberi'??? [hmff] (dr.Kwon lngsung bertanya2...dmana letak kejorokannya??? [laughing])

Music dputus Stro ya,mam??? klo begitu...gw lega [clap] [clap] [clap]

Music-Stro...ending [clap] [clap] [clap], Wine-Stro...beginning [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

nunggu next chap nih...nunggu sweet momentnya Wine-Stro [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

gumawo skali lg ya,mam...HWAITING!!! [AddEmoticons04262]

ps : Rath-Daze...udah, Wine-Stro...jg udah, tinggal nunggu Sonsaengnim & his Little Coward nih [AddEmoticons04258] [hmpfh]

And I'll never promise to
be true to anyone,unless it's you...The Day I Fall in Love