Author Topic: Strawberry, Lovers or Haters?--#CHP 15 PART II# 6 Nov' 11  (Read 26815 times)

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
kira apa toh yang mau di bicarakan music sama berry  [what] apa music sudah mau berubah pikiran  [chin] sampai mau menceritakan segala yang di inginkan KCE , mudah"an dia engga punya rencana lain di balik semua itu apa lagi melakukan penawaran sama berry  [bored]

Offline windayesg

  • Newbie
  • *
  • Posts: 42
  • cutie~
    • View Profile
akhirnya id baru selesai...
Tu ramuan ajaib yee...
Next berarti songsaengnim..   [devil2]
#didendengmami

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
akhirnya id baru selesai...
Tu ramuan ajaib yee...
Next berarti songsaengnim..   [devil2]
#didendengmami
BELUMMMM ADA ID BUAT SONSAENGNIMMMMMMMMMM!!!!!! lol
sekian n terimakasih [goodgrief]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline windayesg

  • Newbie
  • *
  • Posts: 42
  • cutie~
    • View Profile
akhirnya id baru selesai...
Tu ramuan ajaib yee...
Next berarti songsaengnim..   [devil2]
#didendengmami
BELUMMMM ADA ID BUAT SONSAENGNIMMMMMMMMMM!!!!!! lol
sekian n terimakasih [goodgrief]
jiahahhahah... But ane ttp menunggu...  Lalalalalalala.... detective detective

Offline vhia_minsuners

  • Full
  • ***
  • Posts: 411
  • saranghae MinSun.... saranghae Joondi...
    • View Profile
WINE WINE WINE WINE AKU PADAMUUUUUUUUUU................

  [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc]


kissing you baby... muaaaccchhh ^^

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
Kapan neh luph updetannya. Spoilernya dah bikin panas dingin neh. Abisan kebahagiaan Wine-Stro terusik ama si Music.....Ngapain tuh si Music dateng...Gangguin orang seneng aje.

Ditunggu yah updetannya...

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Berry : "bentol-bentolmu tak mengurangi cintaku padamu,Wine !!!" [love eyes] [love eyes] [love eyes]

Wine : "Asal aku berada di sisimu,memegang tanganmu,bentol-bentol ini tak ada artinya sayang" [lovestruck] [hug]


suka amet mam ngasi spoiler tapi thanks ya [biggrin]
Music awas aja kalo memfitnah Wine [angry] [angry] [angry] [angry] [angry] [angry]
[/size][/color][/b]

Offline anggi pratama putri

  • Newbie
  • *
  • Posts: 29
  • NewCouple
  • Location: PALEMBANG
    • View Profile
mam si wine udah sembuh yak ?? [what]

kan sewaktu music dtg si berry nya lagi mau mukul wine ??
jadi apakah itu tanda dia udah sembuh dan bisa berubungan baik dengan berry ?

JiSun Coupe

iiuuu

  • Guest
update mam... penasaran...update update update

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
ga sia2 demo dimana2 buat up datean WINE BERRY rupanya ada hasilnya [hmpfh] komawo mami sayang [huglove]

satu kata UP DATE and GPL ye aka GA PAKE LAMA [hmpfh]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
CHAPTER 15

Part II : Terbongkarnya rahasia Wine!





"A ... apa itu ... ... ?"
 
Wine menatap ngeri segelas minuman berwarna hijau pekat yang berada di tangan dokter Kwon.

Aku yang berdiri agak jauh dari Wine ikut menatap minuman tersebut. Dahiku berkenyit—sangat dalam. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya tidak bisa menyalahkan Wine sih jika dia menunjukan reaksi sebesar itu. Minuman yang disodorkan dokter Kwon  tersebut--terlihat—BENAR-BENAR mengerikan.

"Ini percobaan pertama yang harus kita lakukan ... " Dokter Kwon mengoyang-goyangkan gelas di tangannya. "Minumlah!"

Wine melirik ku, alisnya berkerut sangat dalam seperti ku. Terlihat jelas dia enggan menerima minuman yang disodorkan dokter Kwon padanya. Aku melihat jari-jemarinya berulangkali meremas-remas dan mengaruk-garuk punggung tangannya yang memerah dan berbentol-bentol. Aku menghela nafas, sadar bahwa percobaan ini harus dilakukan olehnya.

Pagi ini Wine tidak sengaja menyentuh tanganku, dan akibatnya--tangannya menjadi bentol-bentol dan merah-merah. Membuatku tidak berani lagi berada di dekat-dekat dengannya. Sedapat mungkin_aku menjaga jarak dari Wine.

"A .. apa itu ... tidak berbahaya ... ?" Wine kembali mempelototi minuman yang belum jua diterimanya dari tangan dokter Kwon.

"Ini?" Dokter Kwon mengangkat minuman di tangannya. Bibir yang sudah berkeriput itu menyengir lebar. "Tentu saja tidak! Ini hanya obat yang biasa kau minum kok ... "

"Dokter bohong!" tukas Wine cepat. Bola matanya sudah hampir meloncat keluar dari rongganya saking lamanya mempelototi minuman mengerikan tersebut. "Obat yang biasa saya minum bukan berwarna seperti itu!" bantah Wine sambil mengeleng-gelengkan kepalanya keras-keras.

"Memang bukan .. " Dokter Kwon meletakan minuman di tangannya ke bangku di sebelah Wine setelah Wine berkeras tidak mau mengambil minuman tersebut. "Tapi rasa dan kandungan obatnya tidak berbeda jauh. Saya hanya menambahkan sedikit dedaunan yang berfungsi menghilangkan alergimu. Tidak berbahaya kok, cobalah dulu ... "

Wine masih menatap ngeri minuman di bangku sebelahnya. Seakan minuman tersebut merupakan racun paling berbahaya dan mematikan di dunia ini. Dengan keraguan yang sangat tinggi, dan tangan gemetar, dia meraih dan mengangkat gelas tersebut.

"Harus diminum ... ?"

Aku tahu, Wine berharap kata 'TIDAK' terlontar dari mulut dokter Kwon. Namun tentu saja, dokter Kwon tidak mengucapkannya. Dokter tersebut malah tersenyum dan mengangguk dengan keyakinan penuh.

“Jika kau ingin sembuh, maka kau harus meminumnya .. “

Wine menelan ludah dengan susah payah. Sedikit demi sedikit, minuman di tangannya makin mendekati mulutnya yang bergetar dan pucat. Hingga sampai di ujung bibir, tangan Wine berhenti.

“Apa … tidak ada jalan lain, dok .. ? Saya sungguh .. tidak ingin meminumnya .. Lagipula, bau obat ini … sepertinya—agak aneh .. “

“Aneh bagaimana?!” Dokter Kwon yang semula membujuk Wine dengan penuh kesabaran, tiba-tiba menjadi galak. Tangannya menekan_hingga bibir gelas memasuki belahan bibir Wine. “Minumlah! Kau ini—katanya mau sembuh, tapi disuruh minum obat—bawelnya setengah mati!!”

Wine membuka mulut dengan gelabakan. Lalu menelan dengan susah payah ketika satu tegukan memasuki kerongkongannya. Kemudian tegukan kedua. Begitu seterusnya. Wine memejamkan matanya rapat-rapat, … menahan nafas agar aroma tidak sedap itu tidak tercium oleh hidungnya. Hampir saja dia muntah. Hingga sampai tegukan terakhir, Wine membelalakan matanya dan menarik nafas panjang-panjang.

“Bagaimana?” Aku mendekati Wine dengan cemas. Tanpa berani menyentuhnya, karna takut penyakit alerginya akan semakin parah, aku bertanya pelan, “Gwencana?”

Dokter Kwon yang berdiri di depan Wine, juga mengamatinya dengan seksama.

“Bagaimana?” Dokter Kwon melontarkan pertanyaan yang sama.

Wine mengambil nafas dalam-dalam_untuk kesekian kalinya, … sebelum mengelengkan kepalanya.

“Kau .. tidak merasakan sesuatu yang aneh?” tanya dokter Kwon kembali_dengan nada menyelidik.

“Ti .. tidak .. ,” jawab Wine dengan nafas yang masih tersengal.

“Sesuatu yang lain—loh? Yang mungkin_terasa ganjil ..?” Dokter Kwon menekankan pertanyaannya—seakan tidak yakin terhadap jawaban Wine.

“Tidak .. “ Wine mengulangi jawabannya. “Memangnya apa yang harus saya rasakan?” Pertanyaan yang terlontar begitu saja ini—membuat Wine termangu_seolah menyadarkannya akan sesuatu. Dia seperti dapat menebak arah mana pertanyaan dokter Kwon ketika dia menunjuk ke arah dokter tersebut dengan sepasang mata terbelalak lebar. “Apa yang dokter masukan ke dalam minuman tadi?!!”

Dokter Kwon mengangkat pundaknya. Sebelum menyengir kecil—mengisyaratkan ketidakbersalahannya. “Saya hanya menambahkan selembar daun stroberi … “

“MWOOOO?!!!”

Teriakan yang sama terlontar berbarengan dari mulutku dan Wine. Kami saling berpandangan kemudian mempelototi dokter Kwon secara bersamaan.

“Dokter ingin membunuhnya ya?!!!” Aku memekik_menyalahkan dokter Kwon.

“Stro … beri .. “ Wine mendesis tak percaya. Tidak sadar ketika kakinya mundur selangkah, .. bola matanya melirik ke atas—nanar. Suaranya bergetar, .. tenggorokannya terasa kering ketika bernafas.

Wine membuka mulut, .. memasukan telunjuknya dan mulai mengorek-ngorek ke dalam mulutnya. Terdengar suara HUEKK—ketika Wine berusaha memuntahkan isi perutnya.

Pada saat itu—aku melihat bintik-bintik darah itu mulai bermunculan dari sekujur tubuh Wine. Mula-mula di sekitar wajahnya, .. kemudian leher_menjalar ke lengan yang tidak tertutupi oleh kaos yang dikenakannya.

“Dokter Kwon!!!” Aku menutup mulut histeris. “I .. itu .. “ Tangan kananku menunjuk ke arah Wine.

“Kau ini!!” Terburu-buru dokter Kwon berlari ke deretan rak yang berada di seberang ruang prakteknya. Dia membuka salah satu rak kecil_mengeluarkan beberapa butir pil lalu kembali lagi kepada Wine.

“Ambil ini, dan minumlah!”

Dokter Kwon menolong Wine memasukan pil-pil tersebut ke dalam mulut, kemudian Wine menelan dengan nafas tersengal-sengal. Setelah itu dokter Kwon menyodorkan segelas air yang tersedia dalam nampan kecil di atas meja_yang berdekatan dengan bangku. Wine menerima dan meminumnya sampai ludes.

Sementara aku—memperhatikan adegan tersebut dengan hati semrawut. Di satu sisi—aku ingin sekali menolong Wine. Tapi di sisi lain—aku sadar, tidak boleh mendekati, apalagi menyentuhnya, jika tidak ingin hal yang terburuk terjadi padanya.

“Dokter .. “ Wine terbatuk-batuk ketika berbicara. “ …. Dokter ingin mencelakakanku ya? .. Sudah tahu saya alergi stroberi .. “

“Alah—“ Dokter Kwon mengibaskan tangan tak sabar. “Omong kosong! Kau tidak apa-apa sebelum aku mengutarakan hal yang sebenarnya,” lanjut dokter Kwon ngotot.

Wine mengusap mulutnya dengan punggung tangan, sambil menatap dokter Kwon tidak mengerti. “Maksud dokter?”

“Alergimu mulai kumat ketika mengetahui tambahan daun stroberi dalam minuman tersebut. Jika saya tidak memberitahumu, kau tidak akan merasakan apa-apa. Itu terbukti, bukan? .. Lagipula, saya hanya menambahkan selembar, .. itu tidak akan cukup untuk membunuhmu .. “ Dokter Kwon berkeras dengan teorinya.

“Apanya yang tidak apa-apa?!” Aku angkat bicara dengan perasaan dongkol. “Lihat sekujur badannya! Dokter membuatnya sangat menderita.”

Dokter Kwon mengalihkan perhatiannya padaku. “Aku harus mengetahui bagaimana reaksi tubuhnya terhadap stroberi, sebelum mengambil keputusan jalan apa yang harus kita tempuh. Sekarang, terbukti sudah .. “

“Maksud dokter?”

“Tubuh Wine tidak bereaksi terhadap stroberi. Penyebab utama alerginya pasti bukan terletak pada stroberi seperti yang kita kira semula. Dia tidak merasakan apa-apa sebelum saya mengatakan adanya penambahan daun stroberi dalam minuman tersebut. Saya merasa—dan ini merupakan asumsi matang dari saya sebagai seorang dokter,—penyakit Wine bukan semata-mata karna stroberi, tapi yang terutama—berasal dari hatinya.”

“Hati?”

“Ya—Keyakinan dan keteguhannya bahwa stroberi akan membahayakan dirinya. Karna itu, setiap mencium aroma stroberi, apalagi memakannya, tercipta kepekaan dalam tubuhnya untuk menolak buah yang satu ini.  Yang sesungguhnya, ternyata letak permasalahannya berasal dari daun pereda demam yang kuberikan waktu itu. Karna daun stroberi pernah tercampur dalam daun obat tersebut maka Wine akan merasakan gatal-gatal (alergi) setiap dia mencium aroma stroberi.”

“Jika seperti kata dokter …. “ Aku berucap sangat pelan, “ .. berarti, penyakit Wine .. bisa disembuhkan .. ?”

“Tentu saja!!” Dokter Kwon menjawab dengan keyakinan penuh. “Kita akan menambahkan sedikit demi sedikit resep daun stroberi dalam obat Wine, sampai dia terbiasa, .. dan sampai dia tidak merasakan gatal-gatal itu kembali—sampai dia sembuh .. “

“Benarkah?!!”

Aku memutar kepala ke arah Wine dengan mata beriak-riak bahagia.

“Kau dengar itu, Wine?”

Wine membalas dengan anggukan kepala.

“Bagaimana, kau bersedia menerima tantangan selanjutnya, Wine?” tanya dokter Kwon dengan senyum lembut tersungging di bibirnya. “Tapi ingat ya—ini sangat berat .. “

“Apapun itu, dokter!” tukas Wine tegas.

Aku tersenyum. Menganggukan kepala penuh haru begitu membalas tatapan Wine dan dokter Kwon. Semua pasti berjalan baik. ITU PASTI!


*******



“Bagaimana?” Mataku tak berkedip menatap Wine. Menunggu jawaban yang akan dikeluarkannya.

Aku mengikuti gerak tangannya yang meletakan gelas sisa minuman hijau lumut yang diberikan dokter Kwon di atas meja, lalu kembali menatapnya.

“Bagaimana?” tanyaku tak sabar.

Wine menjilat bibirnya—membersihkan sisa busa yang menempel di situ. Kemudian bola matanya berputar ke atas_seakan sedang menunggu reaksi yang akan dirasakan selanjutnya.

“Wine!!!”

Wine mengangkat tangan dan memejamkan matanya.

“Bagaimana sekarang?” Dokter Kwon yang baru kembali dari ruang praktek luar meletakan sebuah nampan berisi sebuah kotak kecil dengan pil-pil coklat di dalamnya. “Kau masih merasakan reaksi itu?”

Wine membuka mata perlahan, .. sementara tangan kanannya menekan bagian dadanya.

“Masih, dok .. “ Wine menarik nafas kemudian menutup matanya kembali. “Malah, .. kali ini lebih terasa. Padahal percobaan yang terakhir sudah agak lumayan .. “

Dokter Kwon tersenyum menenangkan. “Itu wajar. Jangan lupa;ada penambahan beberapa lembar daun stroberi lagi dalam minuman yang kau minum tadi … “

“Lalu bagaimana ini, dokter?” Aku menyelutuk khawatir. “Sampai kapan dia bisa bertahan .. ?”

Dokter Kwon terlihat berpikir sebentar sebelum menjawab, .. “Saya rasa, sudah saatnya dia istirahat sebentar .. “ Dokter Kwon beralih pada Wine. “Kita akan melanjutkannya setelah pertahanan tubuhmu cukup baik, Wine … “

“Tapi saya tidak apa-apa!” tolak Wine yang segera menegakan badannya.

“Tidak!!” Dokter Kwon melirik lengan Wine yang mulai dipenuhi bintik-bintik merah. “Saya tidak akan menggunakan tubuhmu sebagai kelinci percobaan.” Ditepuknya pundak Wine. “Masih banyak waktu. Ini baru percobaan keenam kali, dan kita sudah cukup berhasil selama sepuluh hari ini. Bersabarlah .. “

Dokter Kwon tersenyum guna menenangkan Wine. “Jangan lupa kita masih harus melakukan percobaan yang lebih berani dari ini. Dan itu, mungkin sangat berbahaya. Percobaan terhadap buah stroberi dalam obat_mesti dilakukan … “

Wine menatap semu gelas kosong di sampingnya. Dia masih harus menunggu. Tapi, .. sampai kapan?


******    
  


Kehadiran seseorang yang sudah hampir dua minggu menghilang dari Dream High di depan pintu ruang kelas_menghentikan gurauanku dengan Wine. Tanganku yang sudah bergerak untuk memukul Wine, karna sudah menjahiliku, terhenti begitu saja.

“Mu … sic … ?”

Wine mendengar desisanku. Suara tawanya yang mengema dari tadi berhenti dan rautnya berubah kaku. Dia menoleh mengikuti arah pandangku. Aku mengalihkan pandangan dari Music ke Wine. Kulihat kulit wajahnya yang kecoklatan berubah merah. Coffee dan Chocalate yang sedang mencatat sesuatu pada buku pelajaran mereka ikut menghentikan kegiatannya. Begitu juga F3 yang pada saat itu saling bergurau satu sama lain. Tiba-tiba saja suasana menjadi tegang.

Music membersihkan tenggorokannya, .. sebelum memutuskan untuk masuk ke ruang kelas. Dia mendekati kami, .. atau tepatnya—aku dan Wine. Namun perhatiannya tidak ditujukan padaku. Selama berjalan, tatapannya tidak lepas dari kedua mata Wine.

Music menghentikan langkahnya tepat di hadapan Wine.

“Bisa kita bicara sebentar?”

Wine terlihat mengatupkan gerahamnya.

“Hanya sepuluh menit, .. tidak lama .. ,” lanjut Music dengan nada rendah. “ .. ada yang harus kubicarakan denganmu … “

Wine mengarahkan pandangan ke sekelilingnya, kemudian … berbalik kembali pada Music.

“Tidak bisa di sini saja?”

Music mengeleng pelan.

“Tapi, tentu saja .. jika kau tak berkeberatan … “

Atmosfir menjadi berat. Kutatap Wine dan Music_silih berganti. Wine kelihatan enggan mengikuti permintaan Music. Dengan agak ragu-ragu—seolah takut_dengan begitu akan menyakiti Wine—kusentuh lengannya dengan ujung telunjuk.

“Wine … “ Aku mengeleng gelisah.

“Aku tidak akan mencelakainya, Berry … “

Aku dibuat tersentak oleh perkataan Music. Dengan cepat aku memutar badan dan menatapnya tajam.

“Segitu tidak percayanya-kah kau padaku .. ?” sesal Music.

Aku tidak menjawab. Hanya membungkam, menatapnya kaku dan melihat kepedihan yang mendalam di balik matanya.

“Aku ikut dengannya … “

Tepukan pelan mendarat di lenganku. Aku menoleh dengan cepat, .. ternyata Wine yang melakukannya.

“Wine … “

Wine tersenyum. “Aku akan segera kembali. Percayalah padaku … “ Dia seolah meminta persetujuanku.

Aku mendesah, … setelah berpikir sejenak, akhirnya aku mengangguk dan merelakannya pergi dengan Music.


*****



“Apa mau mu?” tanya Wine tanpa basa-basi lagi, begitu dia dan Music sudah berada di taman belakang sekolah yang sepi.

Music tidak segera mengeluarkan suaranya. Dia malah mendongak dan melayangkan pandangan ke langit biru yang mulai mendung.

“Ternyata langit yang dilihat dari sini tidak berbeda jauh dengan langit di kota ya … ?” Music berkata dengan desahan pelan.

Wine mengerutkan wajahnya. Tingkah Music yang bertele-tele menurutnya sangat tidak perlu.

“Jangan membuang-buang waktu. Saya berada di sini denganmu bukan untuk mendengar omong kosong. Sekarang, katakan apa mau mu?”

Music tersenyum kecut.

“Kau orangnya tidak sabaran?”

“Apa mau mu?!!” Sekali lagi, Wine menekankan pertanyaan yang sudah dikeluarkannya.

“Saya sudah mendengar tentang kalian!”

Jawaban kilat dari Music menyentak Wine. Matanya melebar. Dia sama sekali tidak mengira Music akan menjadi seterus-terang ini. Sedangkan Music sendiri, memutar badan dengan kemantapan hati—bertatap muka dengan Wine.

“Tentang kau dan Berry!!”

Sepasang tangan Wine mengepal perlahan. “Lalu?”

“Ingin tahu mengapa saya menghilang secara mendadak selama dua minggu ini?” Music balas bertanya.

“Itu bukan urusanku!” ujar Wine dingin, sambil menatap Music dengan pandangan menusuk.

Music mengangguk sambil tersenyum sendu. “Mungkin. Tapi untuk kau ketahui, semua itu berhubungan dengan Dream High .. “

“Mwo?” Mata Wine membelalak lebar. “Apa maksudmu?!!”

Music menghela nafas, .. kakinya menyepak sejumput rumput yang tumbuh di dekat kakinya, lalu menjatuhkan diri di kursi taman.

Wine memperhatikan semua itu dengan emosi yang meluap-luap.

“Abojiku sudah mengetahui segalanya, makanya aku disuruh pulang .. “

Wine makin melebarkan matanya—tidak mengerti arah pembicaraan Music.

“Aku dikuliahi habis-habisan oleh beliau karna .. sudah mengambil keputusan sendiri .. “ Music melanjutkan sambil menatap lekat Wine—seolah memberi kesempatan baginya untuk mencerna setiap perkataannya yang telah ditekankan satu persatu.

Namun karna Wine tidak merespon, Music melanjutkannya kembali. “Yang diinginkan KCE adalah ‘SELURUH’ tanah Dream High, dan bukannya menyisihkan sebagian … “ Sorot mata Music menajam. “KAU MENGERTI MAKSUDKU?!”

Wine membalas tatapan Music dalam diam. Dia mengerti! Yah—dia mengerti ke arah mana pembicaraan ini. Namun yang dia tidak mengerti, mengapa Music menceritakan semua ini padanya? Bukankah akan lebih gampang baginya untuk mendapatkan Dream High dengan mengikuti cara abojinya?

“Aku sudah berkorban sangat banyak!” Music mengalihkan pandangannya ke perbukitan yang menjulang di ujung desa. “Aku melepas proyek dan kesempatan emas itu dan lebih memilih Berry .. “

Wine mengenyitkan alisnya. “Aku tidak mengerti maksudmu … “

“Memang tidak!!” Music berdiri dari bangku_tersenyum tipis. “ .. tapi, .. Berry mengerti .. “

Music sudah mengayunkan kakinya ketika Wine bertanya dengan lantang.

“Apa hubungannya dengan Strawberry?!! Apa yang kau lakukan?!!”

“Tidak ada!” Music mengangkat pundak dari posisinya yang memunggungi Wine. “Saya hanya mempertahankan ‘APA’ yang seharusnya ‘milik’ saya .. “

“MUSIC JUNG!!”

Langkah Music terhenti kembali.

“Saya ingin mempertahankannya sampai titik darah penghabisan .. ,” ujar Music halus. Sampai-sampai, hampir tidak terdengar oleh Wine. “ … saya ingin dia kembali padaku. Tahukah kau, Wine? Saya sangat menyesal telah menyakitinya. Benar katamu—Berry bukan barang yang bisa dipertaruhkan hanya buat sebuah ‘kesempatan dan kedudukan’. Karna itu saya sudah mengambil keputusan, SAYA AKAN MENGEJARNYA KEMBALI … “

Wine membungkam. Ekor matanya mengikuti sosok Music yang berjalan semakin jauh.

Music mendesah, “ … walau, .. entah mengapa saya tidak yakin kini … ,” lanjutnya pelan. Yang kali ini tidak terdengar oleh Wine.


*******



Wine menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi taman yang terbuat dari kayu. Pandangannya menerawang ke langit yang sudah berubah kelam. Awan biru yang mengantung sudah berlalu. Tergantikan oleh gumpalan-gumpalan awan gelap yang mulai datang, tertiup pelan oleh angin sore yang terasa pengap dan susah untuk bernafas.


*********



Dengan sangat ragu, Music kembali menghentikan langkahnya di depan ruang kelas 3A. Masih terdengar tawa riuh dan senda gurau dari dalam ruang kelas tersebut. Beberapa murid, Double-C dan F3, yang rupanya sedang menanti kembalinya Wine, belum meninggalkan ruang kelas.



********



“Music … “

Gurauan ku dan Apple terhenti begitu melihat kehadiran Music di depan pintu. Kulirik ke belakangnya, lalu kanan dan kiri, tapi tidak kulihat keberadaan Wine bersamanya.

“Mana Wine?” tanyaku agak keras dan resah. “Kemana dia?”

“Bisa kita bicara sebentar, Berry?”

“Apa yang sudah kau katakan padanya hingga belum kembali jua?” Tidak memperdulikan Music, aku berlari ke arahnya. Mendorongnya ke samping, dan melongok ke luar koridor yang sudah sepi. Tapi tidak kudapatkan sosok Wine. “Kemana Wine?” Aku bertanya agak histeris.

“Dia ada di taman belakang .. ,” jawab Music yang terperangah dengan reaksiku.

“Apa yang sudah kau katakan padanya?” tanyaku dengan sepasang mata yang sudah memerah. Sumpah, aku sangat takut saat ini. Ketakutan yang—entah kenapa seakan mencekik leher ku. Membuatku susah bernafas. Aku takut karna perkataan Music, Wine akan meninggalkanku …

Percobaan selama dua minggu ini sudah terlalu berat buat Wine, dan aku takut dia akan menyerah. Walau sering bilang tidak apa-apa tapi, Pertahanan manusia—ada batasnya, kan?

“Tidak ada, Berry!!”

Tiba-tiba Music mencengkram erat sepasang lenganku.

“Dengarkan aku!! Tidak terjadi apa-apa padanya. Aku tidak mengatakan atau meminta apapun!” Music menghembuskan nafasnya yang memburu. “Kita bicara sebentar. Ok?”

Aku mengeleng keras-keras. “TIDAK MAU!! AKU TIDAK MAU BICARA DENGANMU!!”

“Masalah ini ada hubungannya dengan wine!!” Music sedikit menguncang badanku.

Nama Wine sukses membuatku, yang semula histeris, membujur kaku. “Wine .. ?”

“Yah—WINE!!” Music menekankan pada kata ‘Wine’. “Ada yang ingin kubicarakan, berkaitan dengan Wine .. “ Music menatapku tanpa berkedip. “Kau mau ikut denganku, kan? Hanya sebentar, .. setelah itu, aku akan mengantarmu pulang .. “

Tanpa mengetahui apa yang terjadi padaku, .. aku melangkahkan kaki ini, … mengikuti gerak langkah Music yang mengandeng tanganku, perlahan tapi pasti—keluar dari ruang kelas dengan dihantar pandangan keheranan dan tidak mengerti dari Double-C dan sisa member F3 lainnya.


*******



“Apa yang terjadi dengan Stro?” Chocolate menatap Coffee dan F3 bergantian. “Kenapa ikut dengan Music? Kemana Wine?”

F3 mengangkat pundak mereka. Begitu juga Coffee. Sepuluh menit berlalu dalam keheningan.

PAKKKK!! Chocolate menampar daun meja di hadapannya.

“Tidak boleh menunggu lebih lama lagi di sini!” Chocolate bangkit dari duduknya. “Saya akan mencari Wine!”

Coffee ikut berdiri dari kursinya. “Saya ikut denganmu.”

“Kami juga!” teriak Apple, Mango dan Pear bersamaan.

Terburu-buru, mereka berlomba keluar dari ruang kelas dan berlari menyusuri koridor sekolah. Begitu sampai di tikungan koridor yang membelok ke taman, langkah mereka terhenti. Mereka melihat seseorang keluar dari taman dan berjalan ke arah mereka.

Orang itu berjalan sambil menundukan kepala dengan sepasang tangan tertancap di saku celana—sama sekali tidak menyadari kehadiran orang-orang di depannya. Orang itu adalah_Wine.

“Wine!”

Wine mengangkat kepalanya. Sesaat, pandangan muda-mudi tersebut bertemu. Lalu alis Wine berkenyit perlahan.

“Ada apa?”

“Kau kemana saja?” Apple mengeluarkan suaranya dengan agak kesal.

“Memangnya ada apa?” Wine balas bertanya. “Kalian mencariku?”

“Apa kau tidak tahu Stro pergi dengan Music?!” Pear menyeletuk tajam.

Kata-kata Pear tepat sasaran. Tubuh Wine membujur kaku begitu mendengar kabar itu.

“Mwo?”

“Kau ini belum tuli, kan?” omel Mango.

“Are you okay, Wine?” Coffee berjalan ke depan dan menepuk lengan Wine. “Kurasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan .. ,” namun suaranya tidak menyakinkan.

Wine memutar tubuh dan berlari cepat menuju pintu gerbang depan.

“WINEEEE!!!” Panggil orang-orang di belakangnya.

Namun Wine tidak berhenti. Dia sudah sampai di gerbang depan sekarang, dan bayangannya perlahan-lahan menghilang dari pandangan Coffee dan kawan-kawan.


*******



Mataku sudah pedas_menatap cakrawala senja yang hampir tenggelam di balik perbukitan ketika Music belum jua mengeluarkan suaranya. Waktu itu, setengah jam berlalu—sejak kami menginjakan kaki di lereng bukit ini.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” Akhirnya, aku yang mengeluarkan suara terlebih dahulu.

Terdengar Music menghela nafas. “Kau ingat .. kita pernah berada di sini_pada saat waktu yang hampir sama? Berdiri menatap mentari yang kembali ke peraduannya. Aku pernah menanyakan padamu tentang masa depan, mencoba berharap bahwa pada akhirnya waktu akan memihak padaku … “

“Sebenarnya, apa mau mu?” tukas ku cepat_tanpa tertarik sedikitpun pada ceritanya. “Katakan sekarang juga. Jika tidak, saya akan pergi sekarang juga!”

Aku sudah memutar badan, bermaksud mengayunkan kaki_pergi dari hadapannya begitu Music berujar dengan cepat.

“Aku sudah angkat tangan dari proyek ini!!”

Langkahku terhenti. Kepalaku berputar dengan posisi masih membelakanginya. Namun, aku tidak mengucapkan apa-apa.

“Aboji mengambil-alih semuanya … “

Aku menyeringai malas. “Bagus kalau begitu .. “ Lalu kuteruskan langkah kembali.

“Tapi janjiku masih berlaku, Berry-a!!”

Lagi-lagi teriakan tersebut menghentikan langkahku. Kali ini aku berbalik, menatapnya dengan kesal.

“Berhentilah mengatakan sesuatu yang mustahil! Jika abojimu sudah mengambil-alih semua, maka segalanya bukan di bawah kendalimu lagi. Jadi, jangan menjanjikan sesuatu yang tidak mungkin dapat kau penuhi!”

Aku beranjak dari tempatku dengan sepasang tangan terkepal erat. Sesekali kukibas semak-semak lebat dan tinggi yang tumbuh di sisi kanan dan kiri ku.

“Kenapa kau tidak mempercayaiku?!”

LAGI??? Aku memejamkan mata rapat-rapat.

“Jadi benar—hubunganmu dan Wine?”

Kelopak mataku terbuka perlahan-lahan.

“Begitu tiba di sini, aku segera mendengar desas-desus itu .. “ Music mendesis halus. “Benar kau jadian dengannya .. ?”

Aku bergerak dengan lambat.

“Berry?!!”

“Itu bukan urusanmu … ,” kataku dengan suara yang berubah pelan. “Satu hal lagi—kau tidak perlu mengantarku!” lanjutku cepat ketika melihat bayangannya mendekatiku. “Aku bisa pulang sendiri .. “

“Saya dengar dia alergi karena kau?”

“Jangan ungkit masalah itu lagi!!!” Aku menjerit sambil menutup telinga dengan sepasang tangan erat-erat. “Aku tidak mau dengar!!”

“Jika dia tidak tahan, dia akan meninggalkanmu, Berry-a! Sadarlah!!”

Aku berlari meninggalkan Music sendirian di belakang. Tidak sedikitpun perkataannya yang ingin kumasukan ke dalam otak.


**********




maaf jika part kali ini agak mengecewakan (soalnye ga mood bikinnya [sweat] [sweat] ),  gw tunggu komen and kritiknya seperti biasa [hmpfh] [hmpfh]
« Last Edit: November 05, 2011, 12:52:01 pm by Be my self »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Kurang panjaaaaaang!!! [head break] [head break] [head break]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Kurang panjaaaaaang!!! [head break] [head break] [head break]
JANGAN BACAAAA!!! [head break] [head break] [head break] [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline My My

  • Junior
  • **
  • Posts: 165
    • View Profile
Kirain Wine dah sembuh
Kasian gw ma Music,kehilangan Berry juga kepercayaan bokapnya (turut berduka untukmu Music)

Wine penyakitnya aneh2 ajah,intinya alerginya itu karena keyakinannya sendiri ckckck

9 Nov ada updatean apa mam#teteupngarep
[hmpfh]

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile