Author Topic: ..Standing at Valentine’s Day.. 14 Februari 2013  (Read 873 times)

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
..Standing at Valentine’s Day.. 14 Februari 2013
« on: February 13, 2013, 08:50:18 pm »
Standing at Valentine’s Day

one short fanfiction special Valentine's Day

Created by Aii D.Luffi



“lihatlah,dia indah”
“dia begitu tampan,mirip dirimu”
“ya..nama apa yang akan kau berikan padanya?”
“hmm..ini hari bahagia. Tinus”
“Tinus?”
“yap,Valentinus”

**o0o**


14 Februari 2013


Nyanyian selamat ulang tahun terdengar riuh ditelingaku. Aku tertawa berterima kasih. Mama datang dengan membawa kue coklat sukaanku bertuliskan Happy Sweet Seventen for Valentinus. Aku seperti anak gadis saja,membuatku malu dihadapan teman-teman.

Valentinus Lovat,baru saja menjadi tua berumur 17 tahun—itulah aku. Disini,berdiri ditengah kerumunan mama,papa,nenek,Angel,Gavin,Momo,Lucas, dan Bethoven—anjing pudel putih peliharaan mama. Angel baru sebulan menjadi pacarku,dia cantik,tinggi,putih,berambut panjang menggelombang,mengenakan gaun putih perak dan sepatu tingginya. Dia tersenyum bersinar menungguiku meniup lilin ulang tahun.
“make a wish,my boy. lalu tiup lilinnya” ujar mama lembut.

aku menutup mataku,berdoa. Bahagia bersama keluarga,juara olimpiade fisika bulan depan akan jatuh kembali ditanganku,dan terakhir hubunganku dengannya akan...

“selamat ulang tahun pernikahan,sayang. aku mencintaimu” wanita cantik itu tersenyum lebar dan mengecup pipi kanan sang pria dan dia membalasnya tersenyum penuh haru.
“terima kasih,selamat ulang tahun pernikahan juga,untukmu,istriku”

“TINUS!!”
Bagai adegan difilm,pandanganku berubah melamban saat tubuh tinggiku jatuh ke lantai berkarpet hampir menindih Beth. Semuanya menjerit,kepalaku pusing bukan main dan rasanya lemah tak bertenaga. Papa datang pertama disusul Angel yang menampakkan raut sangat sangat khawatir.

“ya ampun,tekanan darahmu sepertinya turun lagi” lihat,kejagoan Papa dibidang medis mulai muncul. Mister Lovat,aku berterima kasih padamu.
“sayang,kau baik-baik saja?” tanya Angel. Aku menggeleng,tak kuasa menahan rasa pening dikepala dan sekujur tubuh.
“bawa Tinus istirahat.pesta akan kita lanjutkan setelah dia pulih”

Papa,Gavin,Momo dan Lucas menggotong tubuh beratku merebah disofa dekat perapian yang menyala. Angel berdiri disamping mereka dan segera menyambar tanganku berusaha menguatkan.
“darah rendahmu kambuh lagi. Ada apa denganmu,nak?” tanya Papa memeriksa angka ditensi darah yang terpasang dilenganku. Mataku terpejam,pusingnya masih bisa dirasakan walau tidak sekuat tadi.
“entahlah,tiba-tiba saja..”

Kejadian ini terulang kembali. Setiap aku hendak menceritakan dimana sebuah bayangan tempat yang aneh,bersama wanita..emm cantik—yang aneh,yang tak pernah aku kenal,muncul disaat-saat tertentu—tak bisa kuceritakan pada semuanya. Seketika itulah tubuhku meluncur lemas ke tanah dan penyakitku yang kian meradang kambuh. Kata Papa yang notabene adalah dokter pribadiku,aku terlahir dengan darah rendah. Membuat kondisi fisikku muda termakan virus penyakit,sampai kerjaanku hanyalah menghitung fisika,kalkulus,maupun molekul atom.

Mama membantuku meminum secangkir teh herbal sedikit cemas melihatku.
“aku sudah baik-baik saja,sungguh” paparku lirih.
“jangan memaksakan diri,bro. Kau tampak pucat” sahut Lucas.

Selanjutnya pesta kejutan garapan mama untukku buyar digantikan pesta minum teh dengan hati cemas karena diriku yang tertidur disofa,mengacuhkan segalanya.

**o0o**


Angel menautkan lengannya dilengan kanan milikku begitu erat dan manja. Aku tersenyum,kami berjalan melewati segerumbul orang yang berniat sama seperti kami. Merayakan hari kasih sayang pada sebuah karnival ditengah kota. Setelah dua jam tidur,badanku kembali bangkit dan bugar. Papa dan mama masih sangat takut tapi aku meyakinkan aku butuh udara segar dan Angel bersedia mendampingi—sekalian pergi berkencan.

Toko-toko berpakaian valentine semua. Ada balon berbentuk hati,mawar merah dijual disepanjang jalan, coklat, kue, teddy bear,semuanya ada. Jalanan yang biasanya lenggang kini berjibun manusia padat yang sedang menikmati bulan penuh cinta.

“kau yakin sudah tidak apa-apa? kalau kau masih belum sehat,kita bisa kembali pulang, Tinus” kata Angel seraya memandangku dengan lembut dan gelisah. Aku tersenyum lebar meyakinkan kekasihku agar tidak usah cemas.
“aku seribu persen jauh lebih baik dari sebelumnya,apalagi bersamamu. Jangan khawatir,sayang” mata Angel bersinar. Ia mengangkat dagunya ke arahku lalu memejamkan mata,menunggu. Aku terdiam beberapa saat,sebuah dorongan kuat hinggap pada tulang rusukku untuk mencium kening Angel. Dia membuka mata,menatapku tersenyum sedikit kecewa.

“aku mencintaimu,Tinus” ucapnya parau termakan suara ramai disekitar. Aku mengangguk pelan,aku mengerti. Aku tahu dia ingin dicium dibibir. Tapi aku tak punya kuasa. Selalu seperti ini,ada perasaan dan jiwa asing yang mengendalikan tubuhku untuk tidak melakukannya. Semoga Angel mengerti.

Kami berdua melanjutkan perjalanan,dimana tubuh kami mulai berdesakan dengan orang lain.
“Lihat itu!” Angel memekik gembira melihat entah apa dan ia segera berlari walaupun terlihat susah. Aku mengejarnya takut kalau Angel pergi terlalu jauh. Dan disaat itulah ketika pandanganku tidak fokus,seseorang—menabrak salah satu bahuku cukup keras dan aku menoleh kaget.

When I meet you again,at the first time..after long long journey..

Hanya seorang gadis,berambut pendek kecoklatan,wajahnya manis tanpa ada senyum,pipi putih yang merona,memakai setelan biasa,dan bola mata indahnya yang terpancar emas juga memandangiku. Sebuah desiran hebat menggetarkan titik denyut nadi ini dan ada sebuah bisikan aneh didalam diriku mengatakan jika aku melepas koneksi matanya,aku bisa hancur. Apa ini?
Dan baru kurasakan jiwaku tenang,melayang ke langit ke tujuh.

its a different time,but you still beautiful at my eyes..

“apa..kita saling..mengenal?” suatu lontaran yang tak bisa kukendalikan keluar begitu saja dari bibirku. Gadis itu sama-sama heran,ia menyipitkan mata tanda bingung.

“tidak..tidak sama sekali..” suaranya kecil dan lembut,ia menggeleng pelan.

Nah,tidak kan? harusnya aku pergi,dan dia pergi. Tapi mengapa kami membisu,membeku di tempat bak patung dewa matahari yang tak bisa dipindahkan? Masih saling memandang penuh, dan aku bisa merasakan..aku benar-benar mengenali wanita ini. Tapi siapa?dimana? apa hubungannya denganku? Rasanya aku ingin menguak lebih jauh tentang rasa penasaran yang muncul tanpa diperingatkan. Astaga...siapa dia?

“aku harus pergi” katanya lagi,bibirnya mengulum tanpa senyum dan berbalik. Aku terkesiap,melebarkan mata sayu hendak menahannya. Benar,aku tak ingin membiarkannya pergi karena aku akan merasakan kehampaan yang sangat luar biasa.

Please,dont leave me again..or I will be death..

“tungg..” tunggu! Tapi aku tak bisa mengutarakannya lebih jauh saat dimana gadis asing namun terasa dekat dengan jiwaku yang menghilang tersebut jatuh ke tanah—tak sadarkan diri. Semua orang menjerit,dan mulai mendekati dia yang pingsan. Wajahnya pucat. Aku tak bisa lebih lama untuk mencermati setiap kejadian didepanku,karena berikutnya aku pun ikut terjatuh tak sadarkan diri karena darah rendah—biasa.

**o0o**


Kelopakku membuka—mengerjap perlahan—membiasakan diri dengan sinar matahari. Tapi ruangan ini redup. Tak banyak sinar masuk karena jendela-jendela besar tertutup sebuah gorden putih bersih dan tempat ini sejuk. aku mencoba bangkit,tapi urung karena rasa sakit yang menyerang bertubi-tubi. Aku meringis perih.

“jangan,kau harus lebih banyak berbaring” suara seorang wanita yang sepertinya sudah tua terdengar memasuki gendang telingaku. Aku berpaling.
“ahh maaf”
“tak apa,kau dirumahku sekarang. Kalian jatuh pingsan dalam waktu bersamaan dan aku berada didekat kalian,untung saja” wanita cukup tua—berkisar 50 sampai 60 tahun? memakai gaun usang yang ketinggalan jaman,rambut pendeknya memutih dan ia tersenyum padaku,dan kesamping sebelah kanan.

Astaga,ternyata aku berbaring diranjangnya..dan bersama..wanita..tidak,itu dia. Gadis tadi,yang sempat memberiku sebuah perasaan aneh.
“kau?” tanyaku getir,mengernyitkan alis. Dia menoleh dan memasang tampang tak berdaya. Ia sakit,aku juga sakit.

wanita tua tersenyum,”sebelumnya aku meminta maaf sudah lancang menidurkan kalian dalam satu ranjang. Ini ranjangku,tapi tak apa. Kalian butuh istirahat. Sebentar lagi makan siang akan siap. Dan aku Rossi. Rossi Japkins” katanya tersenyum lebar menatap kami.
Dia—gadis itu—terduduk,memegang kepalanya.

“aku harus pulang” ohh tidak,jangan!

Rossi memasang wajah horor. “tidak,tolong jangan dulu!” sambutnya sedih. Dia menatap Rossi heran.
“ayahku akan memarahi aku jika aku pulang terlambat”

Terdengar petasan disiang hari. Aneh memang,mengapa petasan dinyalakan pada siang hari. Itu mengagetkanku hingga aku juga terduduk. Tapi ini kan hari Valentine,biarlah para penduduk melakukan sesuatu yang mereka suka.

“hanya sebentar,sebelum aku menjelaskan sesuatu pada kalian. Baru kalian boleh..pergi” jawab Rossi menunduk kecewa. Kenapa? Aku juga tidak mengerti.
“menjelaskan tentang apa? aku tidak butuh penjelasan apapun,nyonya. Aku ingin pulang!” bentak Dia pada Rossi yang terlonjak dikursinya. Dia berdiri bangkit.tapi dua langkah berikutnya gadis itu terjatuh—mengerang kesakitan.

Rossi dan aku segera menghampirinya. Menolong gadis itu untuk berbaring lagi,walau aku belum berkenalan dengannya,sebuah sengatan ketika kulit kami bersentuhan cukup membuatku hampir melayang.
“kau juga,Tinus. Kau juga harus berbaring. Darah rendah kalian sangat parah”

“apa?” tanyaku tiba-tiba. Darimana dia tahu namaku? dan penyakitku?

“kau juga..darah rendah?” tanya gadis manis ini datar,rautnya masih terlihat sakit. Aku mengangguk.
Rossi datang membawa dua cangkir teh dan meletakannya disamping meja sebelah Dia. Lalu tersenyum hangat namun perih.

“aku tidak tahu..harus mulai darimana. Tapi aku katakan,aku senang sekali kalian dipertemukan. Kalian kembali..” dan aku hanya bisa melongo. Terlintas padaku akan Angel. Astaga.Angel
“permisi,tapi aku harus pergi. Kekasihku akan ketakutan kehilanganku” kataku dan mulai bangkit. Tapi Rossi menahannya,mencengkram lenganku.

“jangan pedulikan dia!! dia bukan apa-apa!” bentak Rossi tak tahan. Aku tercengang,apa maksudnya bukan apa? Dalam keadaan linglung,aku dipaksa kembali terbaring diranjang—disamping Dia.
Rossi duduk gelisah.

“sekarang,aku akan menanyakan sesuatu. Kau Valentinus,benar?” tunjuknya padaku.
“ya..bagaimana..”
“dan kau..Valentina?” Rossi bertanya pada Dia. Dan dia mengangguk ragu. Apa ini..nama kita hampir sama?
“kalian merasa aneh,benar begitu?”
Aku tak bisa berkata-kata,Dia—Valentina—bangun,menatapku sejenak lalu beralih pada Rossi.

“kalian bisa menganggapku..peramal..atau apapun..yang penting aku sudah disini. Aku menemukan kalian berdua. Terima kasih,Tuhan”ucap syukur Rossi.
“maafkan aku,nyonya,aku tak mengenal anda. Dan aku tidak tertarik mendengar ramalan anda padaku” hardik Valentina pada Rossi tajam.
“aku tidak meramalmu,Tina. aku disini datang menyelamatkan kalian berdua, tapi aku tak percaya. Kalian sudah bertemu satu sama lain sebelum aku menyelamatkan salah satu dari kalian”
“apa sih maksudmu? bisakah kau tidak usah berbasa-basi?” tanyaku sopan tapi merasa kesal.

Rossi menghembuskan nafas.
“kalian bertemu tadi,pukul 11.05,apa merasakan sesuatu yang asing dan tidak kalian mengerti?”
Kami berdua terdiam,membisu. Aku tak tahu apa yang Valentina punya—gadis cantik—yang terlihat biasa itu ternyata memikatku. Ada sebuah getaran lucu,kurealisasikan sebagai sengatan yang sejuk,hangat,atau apapun itu. Ini mendambakan diriku untuk tidak bisa berpaling jauh dari dirinya. Sesuatu..yang tak ku ketahui..membuatku merasa nyaman bersamanya,kita memiliki suatu koneksi.

“kau benar,Tinus. Kalian memiliki suatu ikatan. Ikatan kuat. Aku bahkan bisa melihat benang merah kalian terhubung satu sama lain” Rossi dapat membaca apa yang kupikirkan,menjelaskan begitu lembut. Senyumnya semakin lebar dan pujian pada Tuhan tak hilang.
“aku..tidak mengerti..”
“jika aku bercerita kalian janji tidak akan syok?” Aku mengangguk bosan lelah menanti tebak-tebakannya. Sementara Valentina tetap diam,ia menunduk.

Rossi menghela nafas pelan,”kalian akhirnya dipertemukan. Kau tahu Tinus? kau adalah reinkarnasi dari seorang bangsawan negara kita yang paling berpengaruh. Dan Tina..” Aku terlonjak menggeser sedikit dudukku tanda bingung.
“kau adalah reinkarnasi dari istri Tinus jaman dulu. Kalian suami istri. Kalian ditakdirkan untuk bersama,Pangeran Valentinus dan belahan jiwanya..Putri Valentina..” lanjut Rossi antusias. Apa reaksi kami? Aku membelalak konyol,dan Valentina mengernyitkan dahi,merasa geli.

Aku terkekeh seperti orang gila. Aku yang lemah ini adalah bangsawan? Cerita sakhibul hikayat macam apa yang orang aneh ini katakan padaku? Sungguh aku tak tertarik sama sekali dengan kuliah sastranya. Aku tak peduli ia lulus sebagai sarjana terbaik,aku tak suka dongeng anak-anak.
“maafkan aku..tapi aku tidak percaya dongeng..” Aku menoleh pada Valentina. Pikirannya sama persisi denganku. Ia memandang Rossi seperti Rossi adalah sepotong roti basi yang sudah mengundang lalat. Rossi menggeleng.

“ini bukan dongeng. aku tahu,kalian tak akan pernah percaya padaku. Tapi ini nyata,jiwa kalian yang harusnya menyatu,berpisah beratus-ratus abad dan disinilah kalian. Februari 2013,kalian dipertemukan kembali. Aku datang untuk mencari kau dan Valentinus satu persatu. Tapi tidak kusangka kalian lebih dulu dipertemukan takdir..”
“cukup omong kosongmu,nyonya!! aku ingin pulang. banyak pekerjaan yang harus kukerjakan sore ini atau aku akan mati ditangan ayahku!!!” sentak Valentina marah. Ohh lututku seperti jeli,aku ingin juga pergi,tapi tak bisa. Aku rela mendengarkan lelucon tidak lucu Rossi hanya untuk bersama gadis ini.

Rossi melotot tajam pada Valentina,lalu beralih pada meja panjang didekat jendela. Ada sebuah buku tebal,berwarna perak yang terlihat dimakan tahun,berdebu dan kertasnya menguning. Rossi membukanya tidak sabar dan berdeham tidak enak seperti tenggorokannya tersangkut sesuatu.

“Valentinus Mikhail Robbinsen,Bangsawan besar yang sangat diperhitungkan dinegara ini. Seorang yang bijak,rendah hati,dermawan,dan sangat pekerja keras. Lahir tanggal 14 Februari 1125,dan itu..kau..” tunjuk Rossi menggunakan mata tajamnya seperti sebelah pisau. Aku? Ohh ayolah..jangan bodoh.

“Valentina Bilqish Robbinsen,istri dari tuan Valentinus. sabar,penyayang,wanita tegar,dan sangat amat mencintai suaminya. Lahir pada tanggal dan bulan yang sama dengan sang suami,berasal dari keluarga miskin didesa. Ayahnya hanya seorang tukang kayu,dan ibu bekerja mengelola kebun gandum yang hampir musnah,sementara Valentinus menemukan belahan jiwanya ketika ia bertemu dengan nona Valentina dikediamannya yang kecil. Ayahmu yang sekarang tukang kayu,benar begitu Tina?” tanya Rossi misterius.

Tampak Valentina terkejut sekali,ia menahan nafas,tubuhnya yang berdiri oleng dan sedetik saja aku menangkapnya dengan lenganku yang kokoh tapi tidak sekokoh yang diharapkan. Kami berpandangan penuh takjub. Aku dan..dia..suami istri? belahan jiwa? apa aku sudah gila?
Ketenangan yang dingin mulai merajuk diseluruh tubuhku ketika kulit kami bersentuhan. Ada sebuah magis yang aneh antara koneksi kami. Mata Valentina berkaca-kaca,lalu ia menghempaskan peganganku.

“bagaimana kau..”
“Pangeran Valentinus menikahi putri Valentina pada tanggal 14 Februari 1152 dan memboyongnya ke istana kediaman pangeran.Penduduk yang bersuka cita akan pesta pernikahan tersebut menanggalkan tanggal 14 Februari sebagai hari kasih sayang. Dimana sang pujangga terbesar menikahi putrinya,sebuah cerita romantis. Karena pujangga emas itu memilih seorang cinderella dari kaum terpencil. Mencintainya sepenuh hati,dan memimpin negara dengan baik” Sambungan cerita Rossi yang membuatku kehilangan akal. Apakah dia pikir aku langsung percaya? aku tidak sebodoh kambing congek.

“kau gila,nyonya! aku memang hanya seorang anak tukang kayu. kau cermati lagi,aku bukan istri bangsawan. aku gadis berumur 16 tahun yang miskin,yang kebetulan mirip sekali dengan dongeng yang kau buat. Entah suatu kebetulan atau bagaimana tapi aku bukan bangsawan!! aku hanya seorang anak angkat dan jika aku tidak bekerja membantu ayah tiriku,aku bisa DICAMBUK!!” kata Valentina menjerit.

Rossi yang melompat kaget,berlari tertatih menuju Valentina,memegang bahunya.
“karena itu kau harus tetap disini,putri. Lihat! dia ini suamimu”
APA?AKU?
“tunggu,aku tidak mengerti kau ini waras atau tidak. Tapi aku setuju dengan..ehmm..Valentina..” kataku gugup menyebutkan nama cantik itu.
“aku hanya pria rumahan yang penyendiri,lemah karena darah rendah yang kuderita sejak kecil,dan kau baru saja mengacaukan ulang tahunku dengan ha-hal absurd yang bahkan tidak bisa diterima oleh otak cerdasku” ceracauku angkuh tak karuan. Melihat tampang Rossi si peramal ini—akunya—membuatku jengah. Mengapa ada manusia yang suka berkhayal terlalu tinggi macam dia. Apa tadi yang dikatakannya? aku lahir tahun 1125? Lalu aku ini umur berapa?

“biar ku nalar menggunakan otak konyolku,kau Valentinus..berulang tahun hari ini?” tanyanya lagi membuatku jijik. Aku melengos,memutar mata sebal.
“kalau iya,masalah buatmu?”
“nah,kau Valentina,juga berulang tahun hari ini kan?” sontak saja pertanyaan itu menembus tulang belakangku. Iyakah? Valentina? Sungguh aku tidak percaya dengan cerita bangsawannya Rossi,dan tak mau percaya. Hanya saja,ulang tahunku dengan gadis ini bersamaan? Ya ampun,aku baru ingat. Nama kami pun hampir sama. Valen..Tinus..dan Tina.. Ajaib.

Valentina kecut ditempat. Rossi kembali membaca bukunya.
“biar aku lanjutkan sebelum kalian yang keras kepala ini menyela. 2 tahun setelah pernikahan yang membahagiakan semua penduduk,kau hamil..Tina..”
“APA? TIDAK MUNGKIN..” cicit Valentina horor. Ia melirikku,dan kami saling memandang heran,geli,merasa lucu,tapi aku menatap bola matanya begitu dalam. Entah mengapa,hatiku seolah membuncah hanya melihatnya saja. Bahkan aku tidak pernah begini pada Angel. Dan sekarang wanita itu pergi,hilang kemanapun,aku sudah tak peduli. Aku lebih suka menatap Valentina yang asing.

“dengarkan aku baik-baik.Valentinus! aku tak peduli kau akan percaya atau tidak..tapi mau tidak mau kau harus mendengarkan semua kisahmu,dan juga Valentina. Bagaimana kalian bisa dipertemukan,dipisahkan selama beratus-ratus tahun,dan dikejutkan oleh pertemuan singkat yang menggetarkan jiwa kalian kembali” tegas Rossi yang sudah lelah harus menjelaskan itu pada kami. Aku bergeming,mengiyakan saja agar nyonya aneh itu segera berhenti bercerita dan aku bisa berduaan dengan Valentina. ehh..

Valentina duduk disebuah sofa panjang tak jauh dariku. Ia begitu mengawasi Rossi karena merasa bagai ikan air tawar yang dibiarkan berenang dilaut. Bertemu piranha dan itu Rossi. Wanita tua tersebut membalikkan buku kehalaman selanjutnya dan membacanya sedikit parau.

“mengetahui putri Valentina mengandung,dihari pernikahan mereka,pangeran Tinus membawa istrinya untuk memeriksakan kandungan yang berjalan sudah dua bulan. Tapi..itulah awal perpisahan kalian..” suara Rossi semakin mengecil.
“apa?” tanyaku tidak sabar.
“sopir mobil mengantuk,terjadi kecelakaan hebat yang sangat mengerikan. Dihari kasih sayang itu,ulang tahun mereka dan pernikahan keduanya,adalah hari dimana..” Rossi berhenti,ia sesak nafas. Matanya berkaca-kaca.
Sejenak aku dan Valentina menatap serius pada Rossi. Tiba-tiba ada perasaan ngeri dan gelisah menggerogoti igaku.
“dimana bertepatan dengan kematian pangeran Valentinus dan putri Valentina. tubuh putri ikut meledak bersama mobil,sementara pangeran..dia terlempar jauh ke dasar laut hingga mayatnya bisa ditemukan beberapa minggu kemudian...”

Aku bukan orang melankolis,tapi benar adanya bahwa aku melihat sebuah kilatan petir pada bola mata dan pikiranku. Isakan Rossi yang lirih membuatku tersadar. Jadi..kami ini..reinkarnasi? Dari sepasang suami istri bangsawan hebat yang meninggal karena kecelakaan tragis..lalu jiwa pangeran dan putri itu melayang-layang tak tentu arah saling mencari satu sama lain,seketika itulah jiwa pangeran Valentinus masuk kedalam ragaku? ya ampun,rasanya seperti memakan sayur tumbuk yang lembek. Kenyataan pahit dan teramat konyol tuk diterima.

“kau benar,Tinus. Semua yang kau pikirkan benar. Kalian adalah reinkarnasi dari mereka. Mereka ditakdirkan sebagai satu tulang rusuk yang utuh. Dan ketika mereka dipisahkan oleh kematian yang bukan miliknya,jiwa mereka masih berhubungan. Aku masih dapat melihat benang merah pangeran dan putri. Sejauh apapun,dan sebeda apapun dunia yang pangeran dan putri hidupi,Valentinus hanya ditakdirkan bersama Valentina. Dan sekarang intinya..”

“Valentinus dan Valentina sudah hidup didunia berikutnya tetapi masih terikat satu sama lain. Begitu?” sahut Valentina dingin. Rossi mengangguk berurai air mata,bahagia bisa menjelaskan ini pada kami. Aku hanya diam. Tak mampu berucap apapun.
“ini gila..” Valentina menggeleng marah,bangkit dari sofa lalu berlari menuju pintu keluar. Aku dan Rossi terkejut.
“jangan,Tina!”

“aakhh”belum sempat mencapai gerendel pintu,tubuh mungil Valentina ambruk seketika. Dan didetik itulah aku merasakan pusing dan lemah yang hebat pada sekujur tubuhku. Aku pun ikut terjatuh kelantai. Apa ini? Bahkan aku dan dia sama-sama jatuh didetik yang sama.
Rossi memekik melihat kami berdua terkulai tak berdaya dilantai.

Dengan bantuan pelayan berseragam, aku terbaring pucat disamping Valentina—lagi—yang mengerang kesakitan—diranjang yang sama,dan terkena darah rendah yang sama. Rossi duduk dikursi putih kecilnya.
“lihatlah dan amati. Kau sudah berpisah sangat lama dengan suamimu,Valentina. Satu tulang rusuk yang terbelah tidak akan bisa bertahan lama jika mereka tidak bisa bersatu. Keduanya akan hancur. Mungkin jika aku belum segera menemukan dan menyatukan kalian berdua,aku tak tahu..besar kemungkinan kalian akan..hancur juga. Darah rendah kalian berdua sudah cukup parah. Kalian harus tetap bersama,bergandengan tangan..hanya itu yang membuat kalian hidup. Hidup kembali dan normal” papar Rossi hangat.

Aku menggeleng dengan sakit kepala yang mulai mereda.
“aku hanya tujuh belas,Rossi..”kataku serak.
“ragamu memang tujuh belas,tapi jiwamu..ingat,seorang pangeran bangsawan pemimpin kami..Darah rendah yang kau punya karena kau berjauhan dengan belahan jiwamu..Tinus..aku tahu ini tidak bisa diterima dengan akal sehat. Tapi ingat bagaimana kalian bisa saling berbagi koneksi”
Rossi berdiri,mengambil telapak tangan Valentina dan meletakkannya diatas telapak tanganku.

Tiba-tiba..semua gelap..

“aku disini..ingin meminangmu menjadi istriku..Valentina..maukah kau menikah denganku? seorang pangeran yang kesepian dan membutuhkan cinta yang teramat besar..dan itu hanya kudapat dari dirimu..maukah kau bersamaku..sampai ajal menjemput kita? ahh tidak maaf..maksudku..sampai dunia kedua,dunia berbeda jauh dari yang kita bayangkan..bersamaku selalu?”
Pria berbalut pakaian mewah yang terasa angkuh dimata gadis itu—Valentina—tengah berlutut dihadapan Valentina. Memegang cincin putih platina berliontin berlian mungil yang indah. Yang bisa Valentina lakukan ialah..menangis haru..

“terima kasih..Tinus..ya..aku mau..menikah denganmu..menemanimu..bahkan sampai..dunia kedua..”
jawab Valentina menangis bahagia yang disambut senyum tulus pangeran,menyematkan cincin ke jari-jari putihnya,lalu mengecup jemarinya penuh kelembutan.

Do you remember with our wonderful memories?

“apa yang membuat istriku begitu bahagia?” Valeninus menatap istrinya dengan gelenyar geli dalam pelukannya yang begitu erat. Sedangkan sang istri mengulum senyum riang,tak bisa menutupi rasa gembiranya yang membuncah.
“sebentar lagi..kau akan menjadi ayah..dan aku..akan jadi ibu..”

it's not just memories

“selamat ulang tahun pernikahan,sayang. aku mencintaimu” wanita cantik itu tersenyum lebar dan mengecup pipi kanan sang pria dan dia membalasnya tersenyum penuh haru.
“terima kasih,selamat ulang tahun pernikahan juga,untukmu,istriku”

it has become blood can awaken all our passionate love
and only with you

Aku seperti terbangun dari mimpi panjang. Mimpi yang indah dan menyedihkan. Aku bisa merasakannya. Setiap momen itu. Aku dan dia..Valentina. dalam balutan pakaian istana,kami memeluk satu sama lain,dan itu semua yang selalu muncul dalam bunga tidur dimalam-malam ku sebelumnya. Yang selalu menghantuiku,dan yang tak bisa kukatakan pada kedua orang tuaku ketika bayangan asing yang berkelebat dan merobohkan setiap denyut nadiku menjadi lemah.

Valentina menangis,nafasku tersengal. Ini bukan sekedar dongeng konyol. Peramal tua ini benar,dia tidak mengibul. Aku dan Valentina dapat merasakan satu koneksi hebat yang pernah terjadi diantara kami. Aku mengingat dimana aku meminang putriku diperkebunan yang sudah kering kerontang,berlutut,memintanya untuk menjadi permaisuriku.

Aku ingat ketika aku terkejut tapi bahagia karena wanita yang kucintai mengatakan bahwa ia mengandung benihku. Dan kejadian terakhir sebelum kami berpisah..Hari dimana ulang tahun kami,dan ulang tahun pernikahan kami. Saling mengucapkan selamat ulang tahun,mencium,dan berpelukan begitu erat. Hari terakhir dimana kami harus menunggu selama beratus-ratus tahun untuk mencari belahan jiwa kami yang hilang. Dan kini..kita bertemu..akhirnya kita bisa saling memandang kembali satu sama lain..

Valentina-ku. Permaisuriku yang sangat kucintai,akhirnya..aku bisa bertemu dengannya lagi..sesuai janji..bahkan dikehidupan kedua..kami..akan selalu bersama.
“kau..Tinus..” bisik Valentina tepat disampingku berbaring. Aku menatapnya sayu.
“Valentina..istriku..”

Dan kami berpelukan. Walaupun agak canggung,tapi kami tak bisa mengalihkan setiap sel kerinduan yang membengkak setelah berpisah berjuta-juta waktu. Valentina disini,dipelukanku,rasanya seperti mimpi.Oh tuhan,direinkarnasi ku ini,kita pun bersatu. Terima kasih,aku tidak bisa berkata-kata lagi karena hanya dialah yang kucintai.
“hei..mengapa menangis?” kataku lembut mengusap air matanya yang terus jatuh. Valentina terisak.
“aku..belum bisa menyangka..saat kita bertabrakan siang ini,aku..tahu..kalau aku sangat sangat mengenalmu..dan..” Valentina tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena nafasnya mulai naik turun kuat.
“kenapa,Tina?”
“aku membuang perasaan itu..jauh-jauh..berpikir itu adalah hal yang sangat mustahil..tapi disini,ketika kita saling berbagi koneksi dimasa dimana kita menjadi suami istri dulu..aku percaya,aku adalah Valentina..Valentinamu..Tinus..”

Kata-katanya mencairkan setiap relung hati yang kupunya. Aku tersentuh,bahkan hampir menangis. Dia benar. Diwaktu kita bertemu tapi merasa mengenal satu sama lain,kita mengacaukannya kasar. Ambang kehancuran kami sudah dekat,kalau aku tidak bisa bersatu dengan Valentina segera,mungkin kami sudah benar-benar waktunya untuk berpisah selamanya. Tuhan hanya memberikan satu kesempatan,karena kita belum ditakdirkan untuk mati. Kita masih hidup. Kita berdua dihidupkan kembali pada dunia yang jauh berbeda sebelumnya.

“apa kau benar..Valentinus..suamiku..dulu?” tanya Valentina lirih. Aku terdiam sejenak,lalu senyumku mengembang.
“ya,suami yang pernah meminta janji untuk selalu hidup bersama walau didunia kedua. Dan inilah dunia itu. Valentinus yang 17 tahun dan..Valentina yang..”
“enam belas..” Kami berdua tertawa bahagia lalu kembali berpelukan erat. Tidak menyadari bahwa Rossi telah pergi entah kemana. kami tak peduli,tugas mulianya sudah terlaksana. Aku merasa bersalah karena sempat mengumpatnya wanita tua yang aneh dan tidak waras. Padahal kisah kamilah yang tidak waras.

Dan inilah ceritaku..dan istriku.. Kami pernah hidup sebagai suami istri terindah sepanjang sejarah. Tapi harus berpisah oleh maut untuk sejenak yang sebetulnya bukan ditakdirkan untuk kita. Jiwa kami terpaut jauh oleh zaman dan waktu. Terbang kesana kemari bagai hantu,mencari satu sama lain. Dan kenyataannya,kami bangkit kembali.
Sebagai seorang pria yang baru menginjak dewasa,dan seorang gadis tiri yang mengemban pekerjaan berat. Tuhan menggiring kami,bertemu ditanggal bersejarah kami,dan bersatu pula dihari kasih sayang yang kita miliki.

“Tinus..”

“ya?”

“aku..mencintaimu..pangeran”

aku tersenyum penuh arti.

“ya,aku juga..mencintaimu..putriku”

**o0o**


“dan kita..bertemu lagi..”

Aku menyeret lengan Valentina merasa bosan karena mendengar ocehannya tentang itu. Saat ini kami sudah turun dari rumah tua Rossi. Wanita itu menghilang,membuat kami pergi tanpa pamit. Berjalan bergandengan mesra seperti pasangan modern lainnya. Menikmati karnaval dihari valentine. Hari berjalan seperti biasa. Aku merasa geli sendiri,karena kehidupanku yang lawas berbeda 360 derajat dengan keadaan canggih di 2013. Tentu saja setelah disadarkan oleh kenangan masa lalu.

Tak teringat lagi akan Angel,keluargaku. Hanya dia..Valentina. istriku terdahulu,dan sekarang..pacar? ahh aku lebih suka istri. Aku tertawa dalam hati.
“kenapa tersenyum sendiri?” Valentina bertanya dengan muka geli. Sikapnya yang dingin dan agak pemarah pun sudah tak terlihat. Dia menjadi periang,banyak tersenyum,karena aku. Dan aku..karena dia.
“tidak apa-apa. Aku beruntung bisa memilikimu,Tina” aku meraup tubuh kecil tersebut,mengubur hidung dirambut harumnya,menenangkan jiwaku yang selama ini hampa.
Dia membalas pelukanku begitu erat.

Banyak orang melihat kita,tapi kami mengacuhkan mereka. Ini hari spesial,yang pernah didedikasikan pada kami. Beberapa ingatan kecil nan romantis ketika kami masih menjadi sepasang bangsawan hebat,melompat-lopat dipikiranku. Tidak apa-apa,aku senang.
“kita menghubungkan koneksi kita lagi,Tinus” kata Valentina terkekeh didalam pelukanku. Aku menggoyangkan badan Valentina kekanan dan kiri,sangat menikmatinya.
“ya,aku merasa senang. Semua kenangan itu mengingatkanku bahwa aku pernah begitu mencintaimu dan memujamu. Dan akan selamanya..sampai sekarang..”

Pelukan kami lepas,tapi lingkaran lenganku dipinggangnya tidak. Aku menembus bola mata wanita yang kucintai begitu dalam hingga sampai pada dasarnya. Valentina tersenyum penuh haru. Tak lama kemudian kami bersatu kembali dalam jalinan kasih yang besar dan memabukkan.

“KEBAKARAN!!”
“ADA YANG MELEDAK..LARIII”
DUARRR... DUAARR

Suara goncangan bak bom nuklir terdengar beruntun dan sangat mengerikan. Kami melepaskan pelukan dan menatap dimana muntahan api panas menjalar pada sisi gedung tidak jauh dari kami. Kabel lampu mulai roboh dan mengenai kepala seseorang hingga pria itu tewas ditempat bersimbah darah. Karnaval kasih sayang digantikan oleh karnaval mengerikan yang disambut kematian beberapa manusia dengan tragis.

Aku merasa sangat takut. Takut akan kehilangan Valentina lagi. Kurasakan tubuhnya bergetar menyaksikan lautan darah disana,dan orang-orang mulai lari bergerombol untuk menyelamatkan diri.

DUAARRR..
“Tina,ayo kita pergi!!” teriakku dimakan jeritan manusia. Aku hendak menyeret lengan Valentina tapi terlambat,tangannya tertangkis tubuh beberapa orang yang berlari panik hingga badannya tenggelam ke belakang.
“TINAAAA” aku menjerit lantang.Suaraku teredam ledakan yang lebih besar dari arah gedung dan jeritan yang lain. Hatiku terbelah,amat takut. Tidak,aku baru saja bersatu dengannya. Tolong jangan pisahkan kami lagi.

Valentina menghilang,tubuhnya yang mungil membuatku sulit untuk menemukannya—walaupun tinggiku menjulang tapi tetap saja nihil. Sekelompok manusia ketakutan dengan sebercak darah menutupi jalan,menyelamatkan diri. Kobaran api merah terlihat membesar dan membakar hampir semuanya. Asap hitam mengepul menggelapi langit yang cerah menjadi hari gelap dan menakutkan.

Aku berlari,berputar mencari Valentina dan memanggil namanya. Aku bingung,lelah,dan mulai terasa sesak karena karbon dari asap hitam yang mulai tersebar dipernafasan. Aku terbatuk,mukaku sudah sedikit menghitam—kurasa. Lolongan sirine pemadam kebakaran meraung memekikkan telinga,tapi hanya satu yang aku fokuskan. Dimana Valentina? Kumohon,jangan biarkan dia mati.
Melihat mayat-mayat tragis itu tergeletak dijalan entah karena terkena ledakan,disulut api,atau injakan beribu manusia,membuatku hampir menangis sakit.

“VALENTINAAA” aku berlari mendekat pada gedung yang sudah hancur tersebut agak ngeri. Melompati tubuh kaku manusia dan tetap mencari Valentina yang kucintai.
“TINUSS..”

ohh tuhan,suara merdu itu akhirnya dapat kutangkap. Ia disana,berdiri dengan pakaian compang-camping dan ada noda hitam dipipi meronanya. Ia tampak pucat dan tersenyum lega. Begitu juga denganku
“TINA,CEPAT KEMARI!” perintahku segera,mengulurkan tangan,dan Valentina berlari ketakutan..

Hanya beberapa langkah,ia akan kembali bersamaku. Kekosongan yang selama ini mengisi seluruh perasaanku akan hilang. Karena ia disini,ia kembali,bersatu selamanya denganku. Aku tersenyum lebar menitikkan air mata disudut mataku dan hal yang tidak kuinginkan,terjadi. Aku menyaksikan adegan paling menakutkan yang belum pernah lihat sebelumnya.

Tubuh rentan yang kucintai itu lebih dulu teraup jilatan api sebelum aku meraupnya. Dan dimana ledakan yang kesekian kalinya terdengar. Pandanganku menghitam cepat. Kabur,yang ada hanya asap mengepul dan kehampaan yang kujanjikan menghilang,kini malah muncul seribu kali lipat terasa.

“TINAAAA” Dia mati. Sama seperti kejadian sebelumnya. Dia meledak bersama api. Aku menjerit keras-keras yang tidak bisa didengar siapapun saat ini. Hantaman keras mendarat dikepalaku dan aku terjatuh ke tanah. Itu baru saja terjadi,Valentina mati. Dan kami akan benar-benar berpisah.
Aku menangis histeris dan sangat pilu. Merasakan sakit yang tiada tara karena sekali lagi,aku kehilangan sang belahan jiwa..yang kutunggu dan kucari..selama beratus-ratus tahun.

EPILOG


14 Februari 1154


Kepalaku langsung sakit. Aku memicingkan mata,membiasakan dengan cahaya yang masuk pada pupil dan menatap sekitar. Aku tertidur menelungkup,diranjang kuning kelabu mewah dan besar. Kemejaku penuh keringat dan nafasku tersengal. Ohh aku bermimpi? syukurlah. Kuusap mukaku lelah dan seperti disengat listrik bermuatan tinggi. Aku teringat akan sesuatu. Mimpi tadi..kejadian tadi..

Aku melompat bangun dan memutari ranjang,berlari menuju satu pintu pada kamar yang tidak kusadari sangat luas ini. Tapi belum mencapainya,aku terhenti. Pintunya menjeblak terbuka dan masuklah seorang..malaikatku..dia..Valentina.

“tinus..” katanya getir,menatapku dalam seolah tak percaya. Aku pun memandangnya bingung,ia memakai gaun tidur jingga panjang hampir semata kami. Rambut cantiknya berantakan seperti bangun tidur. Aku membeku ditempat.
“Tina..kaukah..”

Tak ada jeda panjang membiarkan kami,Valentina berlari dan memelukku sangat erat hingga tubuhku terjengkang kebelakang dan mengangkat tubuhnya dari lantai. Isakannya terdengar parau dan kencang. Aku mencoba mencermati setiap kondisi disini. Setelah ledakan itu..ohh ya,Valentina mati. Lalu,dimana kami?

“Tinus..aku bermimpi..mati dalam sebuah kecelakaan mobil” aku menjauh dan menatap Valentina tercengang.
“lalu..kita hidup kembali..didunia yang berbeda..bersatu setelah sekian lama..”aku menyerocos tanpa sadar. Valentina pun terkesiap.
“dan ada..sebuah kebakaran..dan aku..aku mati meledak..itu terasa nyata. Sangat nyata”

Aku menatap sekitar dengan tak percaya.
“ya tuhan,Tina. kita kembali..kita akhirnya kembali,sayang. kau..putriku..istriku..ohh terima kasih tuhan..” aku memeluk sangat erat tubuh istriku yang paling kucintai. Valentina masih terasa syok.
“benarkah?” Aku meyakinkannya tersenyum tidak menyangka.
“ya..lihat,ini kamar kita. istana kita. Setelah perjalan panjang yang tak tentu arah,kita dikembalikan lagi,disini..”

Valentina menangis,akupun juga. Semua mimpi buruk itu terlihat nyata,yang menjadi sebuah kisah lain dari seorang Valentinus dan Valentina.
“mengapa aku begitu merasa lelah menantimu walau hanya dalam mimpi..” isak Valentina didadaku.
“aku juga,sayang. aku tahu. itu bukan sekedar mimpi. tapi kita sudah pernah melihat,suatu haripun,jika kita terpisah dalam suatu tidur yang panjang,kita akan terbangun sebagai satu tulang rusuk yang sama. Karena kau adalah belahan jiwaku. Tuhanpun tahu,kita ditakdirkan bersama. Aku mencintaimu,Tina..”

Ya,kita ditakdirkan untuk bersama. Entah itu sekarang,masa depan,dunia kedua,maupun dunia pararel sekalipun,tulang rusuk Valentinus yang terbelah adalah Valentina,istrinya. Aku selalu akan mengingatnya.
Kukecup dalam kening istriku,dan dia menangis haru. Aku tersenyum bahagia kemudian mengecup hidungnya,belah pipinya dan yang terakhirnya bibirnya tuk menenangkan jiwa Valentina-ku. Ohh tuhan,dia benar. Mimpi kami berpisah selama beratus tahun membuat kami lelah dan tak berdaya.Betapa aku merindukan permaisuriku.Betapa lamanya perjalanan ke dunia kedua kami hingga bisa dipertemukan.

“Tuan Valen..ohh maaf..” seorang pelayan berambut putih yang muncul tiba-tiba, langsung menunduk ketika menyaksikan adegan ciumanku dengan istriku tercinta. Aku tertawa.
“ya?” tanyaku lembut dan mengulum senyum sembari meraih pinggang Valentina erat.

“maafkan atas kelancangan saya,Tuan. Saya hanya menyampaikan bahwa,sebentar lagi waktu bagi nyonya Valentina untuk memeriksakan kandungan” terang pelayan itu tersipu. Aku dan Valentina terperangah. Hampir lupa,dan ya..Valentina bukankah memang hamil.

“ohh anakku..” celetuk Valentina polos,memandang kebawah ke arah perutnya yang memang sedikit buncit. Aku ikut melihat kearahnya dan kami tersenyum lembut.
“Tuhan..Tinus aku lupa. Memang benar aku hamil” kikik Valentina lucu. Aku tertawa penuh suka cita.
“aku juga,bagaimana keadaanmu?”
“baik. Aku dapat merasakannya. Tinus?”
“hmm?”
“ini..sudah berakhir kan?”

Aku menatap keraguan dimata istriku. Tidak sayang. Jangan ragukan ini. Bukankah kita sudah menjelajahi dunia kedua kita dan kita tetap bersatu?
“ya..sudah berakhir..” jawabku mencium bibirnya yang hangat.

Selanjutnya,kami tertawa bahagia mengelus anak pertama kami yang berusia dua bulan,dan dia menendang tanda gembira.



Berkali-kali aku tak merasa bosan harus mengusap perut Valentina yang membulat bak pembawa tambur. Secara posesif,aku melindunginya. Aku teramat menyayangi dan mencintai anakku. Buah cinta Valentinus dan Valentina. Didalam mobil,Valentina memeluk lengan kiriku manja dan menyandarkan kepalanya pada bahuku yang kokoh. Sementara aku yang merasa diacuhkan oleh anakku,berpaling pada jendela mobil diluar sana.

Saat sesosok yang tak asing untukku..terlintas..Oh tidak..jangan lagi.
Mobil melewatinya dengan kecepatan stabil. Aku langsung menoleh kebelakang dengan buru-buru. Syok.

“ada apa,sayang?” tanya Valentina merasa terganggu. Aku menatapnya linglung. Menggeleng tidak percaya,mengerutkan kening.
“kau ingat..Rossi?”
Mendengar pertanyaanku itu,Valentina membulatkan mata dari balik tudung laba-labanya yang terpasang pada topi bangsawan yang ia pakai. Kami terdiam beberapa menit sebelum tawa keras kami pecah. Ya,Rossi. Aku yakin itu dia. Tersenyum diujung jalan,seolah mengatakan sesuatu dan menatapku penuh bahagia.

“Selamat hari Valentine”


TAMAT


Valentinus Mikhail Robbinsen or Valentius Lovat---Lee Minho

Valentina Bilqish Robbinsen---Goo Hye sun



maaf yaaa kalo ceritanya jelek,membosankan dan berat  [sweat] [sweat] [sweat] [sweat]
« Last Edit: February 13, 2013, 08:52:16 pm by aii.d luffy »
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Share on Bluesky Share on Facebook


Offline dafa yuvi

  • Junior
  • **
  • Posts: 202
  • love is trust
  • Location: surabaya
    • View Profile
Re: ..Standing at Valentine’s Day.. 14 Februari 2013
« Reply #1 on: February 14, 2013, 11:58:09 pm »
 punk punk punk  [on] Gila lu Aii, jangan salahkan gue ketika elu bikin gue jatuh cinta sama tulisan elu! Thanks ya one short ya! Damn Good. . . Charmant.  [cheekkiss]
Ditunggu next Story nya. Selamat untuk Valentinus dan Valentina. Penggambaran cerita yang Njiiir banget lah buat lu. Jempol pokoknya. [hmff] [hmff]