GOOD BYE, BRAD PITT !
(Cerita ini hanya fiksi belaka. Jika ada kesamaan di kejadian nyata, sekali lagi bukan factor kesengajaan)
Siapa yang tidak mengenal Brad Pitt? Pria tampan bermata biru, berambut pirang dengan tubuh atletis itu. Aktor tersebut memang selalu digilai wanita walau umurnya tak muda dan sudah beristri. Tak terkecuali bagi Hye Sun. Mahasiswi asal Korea yang sedang menempuh pendidikan master-nya di Harvard University. Alhasil, pacar-pacar Hye Sun pun tipenya tak jauh-jauh amat dari Brad Pitt. Tengok saja si James dengan matanya yang biru. Atau Luke dengan rambut pirangnya. Belum lagi Howard yang atletis dan tinggi itu. Kok bule semua, sih? memang! Apa tidak ada cowok Korea yang naksir dia? Ada, sih… tapi selalu ditolaknya mentah-mentah. Selalu bikin ilfill, katanya….
Sebenarnya kuliah Hye Sun tinggal menyusun tesis saja tapi karena kesibukkannya sebagai model, membuat tesis agak terbengkalai.
Hye Sun : What? Apa kau bilang? Ho ho ho, jangan salah, author… tesisku satu bulan lagi kelar…..
Author : Hush! Aktris dilarang ikut ngomong!
Sekali lagi… tesisnya agak terbengkalai.
Kalian pasti heran kenapa dia bisa jadi model kalau dilihat dari badannya yang pendek itu. Jangan salah, dia memang bukan model yang berjalan di atas catwalk, tapi fotomodel. Agencynya selalu memakainya karena wajahnya yang oriental selalu menarik para pembuat iklan. Hal itu pula yang memudahkan Hye Sun menggaet cowok-cowok bule itu. Ho ho ho….
Hye Sun : Terus… terus… jelekkin aja aku terus…
Author : Apa Hye Sun tidak ngeri? Kita tahu kan kalau cowok bule itu suka main… main… apa, ya? Pokoknya kalau sudah suka ma suka langsung tubruk aja,lah….
Hye SUN : Ho ho ho,jangan salah, author. Aku punya jurus andalan. Kalau cowok-cowok bule itu sudah mulai menunjukkan gelagat intim, langsung saja aku putusin. Bikin aja alasan yang dia mau gak mau melepaskan hubungan. Seperti… aku sudah dijodohkan dan di Korea sana sudah ada cowok yang menungguku… hahahaha…
Author : Tunggu! Ni yang buat ff aku atau kamu, sih…. (Ngambek made on)
Hye Sun : Ye….
Author : MAkanya jangan ikut ngomong!
Sekali lagi. Hye Sun punya jurus andalan yaitu… yah…. Males aku ngulang lagi. Baca ja coment dia tadi.
Hingga suatu hari….
“We are break now!” teriak Hye Sun di suatu malam. Suara bantingan pintu terdengar kemudian, diikuti suara pria yang mengumpat dalam bahasa inggris. Teman sekamarnya, Kim Soe Eun yang sebenarnya sudah tidur sejak sore jadi terbangun. Dengan malas membuka mata untuk mengamati sobatnya yang kini mencopot sepatu asal sambil bersungut-sungut.
“Ada apa lagi, Goo Agashi?” tanya Soe Eun jengkel.
“Brian ngajak aku begituan,” ceplos Hye Sun. Soe Eun jadi menghela nafas, resiko pacaran sama bule memang seperti itu, batinnya.
“Jadi kau putus lagi untuk kesekian kalinya?” pasti Soe Eun.
“Ne,” angguk Hye Sun.
“Kali ini apalagi alasanmu?” tanya Soe Eun menginterogasi.
“No reasonable!”
GUBRAK ! Cowok diputus gitu saja tanpa alasan? Ckckckckckck…..
“YA… ngapain geleng-geleng kepala begitu? Pokoknya virginitas adalah hal yang ku junjung tinggi! Tak ada begituan sebelum menikah!”
SOe Eun jadi mencibir.”Mana bisa kau menikah kalau cowok yang kau incar selalu bule. Setahuku tuh… bule paling alergi ma yang namanya pernikahan. Maunya hubungan tanpa komitmen.”
“Pasti ada!” elak Hye Sun.
“Ah!!! Terserah kaulah. Aku ngantuk, mau tidur lagi!”
Kali ini giliran bibir Hye Sun yang meruncing. Huh, dasar sok suci…awas besok Jum’at kalau memohon-mohon padaku supaya pergi agar bisa menguasai kamar karena pengen begituan sama Kim Bum. Antwe! Tidak ada begituan buat Bum So besok Jum’at malam. Hahahaha….
Begitulah mereka berdua. Yang satu setia ma pacar dan ehm.. ehm… sudah tidak perawan… yang satu gonta-ganti pacar tapi masih kinclong, Hohoho….
Reputasi buruk Hye Sun terdengar juga oleh Appanya di Korea. Semua itu bikin Appanya berang. Bagaimana tidak? Appanya adalah Diplomat kenamaan Korea. Karir politiknya terkenal bersih sejak dulu. Tentu tidak terima jika putri satu-satunya itu bikin skandal. Sudah banyak ancaman yang dilontarkan beliau buat Hye Sun agar mau pulang ke Korea. Mulai dari pemblokliran kartu kredit, sampai pura-pura sakit jantung. Tapi percuma juga. Kartu kredit diblokir, Hye Sun sudah bisa cari uang sendiri. Pura-pura sakit jantung? Hye Sun sudah tahu kalau jantung Appanya itu seratus persen sehat karena Ommanya yang dokter spesialis penyakit dalam itu selalu memprotek kesehatan Sang Appa. Hohoho….
Hye Sun benar-benar tidak tahu apa yang direncanakan Appanya, saat sang Omma tiba-tiba menelpon sambil menangis,”Huhuhuhu, Sun-a, Omma dan Appa akan bercerai…”
“Mwo?” Hye Sun kaget setengah mati mendengar kabar itu. “O… o..otoke? Bagaimana bisa? Emang apa yang terjadi, Omma? Apa Appa berselingkuh?”
Ommanya tidak menjawab. Malah semakin memperdengarkan tangisan pilu di telephon.
“Oke! Oke! Hye Sun pulang sekarang!” kata Hye Sun geram. Sambungan terputus kemudian. “Huuuhhh! Awas kau, Appa! Tidak akan ada maaf bagimu kalau kau menghianati Omma!”
Akhirnya, pulang juga playgirl ini ke Korea. Kepalanya celingak-celinguk saat sampai di bandara Incheon. Menunggu sopir yang tak datang-datang. “Huh… supir Song kemana, sih?”
Saat kaki mulai capek. Hye Sun duduk lagi di kursi ruang tunggu. Iseng-iseng menoleh ke arah bapak-bapak di samping kirinya yang sedang membaca Koran. Yap, bisa dibayangkan apa yang terjadi. Matanya akhirnya menelusuri tulisan demi tulisan di Koran itu. Numpang mbaca ceritanya. “Mwo!” matanya mendelik saat membaca salah satu artikel di Koran itu lalu merebutnya begitu saja dari sang empunya Koran,
“DIPLOMAT GOO AKAN SEGERA BERBESANAN DENGAN DIPLOMAT LEE. KOALISI POLITIK DI BALIK CINTA”
GUBRAk!
“Apa-apaan ini ?” wajah Hye Sun sudah merah padam gak karuan. “Siapa juga yang mau menikah?”
“Hei, Agashi…. Itu Koran saya!” kata yang punya Koran sambil merebut kembali korannya yang sudah kucel karena di remas-remas Hye Sun.
“Goo Agashi?” panggil dua orang pemuda tegap berjas hitam. Ya… ya… ya… siapa lagi kalau bukan pengawal keluarga Goo. Hye Sun memainkan mata jengkelnya sambil mendengus. Dia selalu risih jika diperlakukan seperti tamu kehormatan seperti itu. Kaya pejabat elit saja, dia jadi ngedumel dalam hati.
Di Goo Manshion….
“Antwe!” teriak Hye Sun. Dia menolak rencana keluarganya mentah-mentah. Sang ayah terlihat kesal.”KAu tidak bisa menolak lagi, Sun-a… keluarga Lee sudah mengajukan lamaran dan kami menyetujuinya.”
“Bo? Salah sendiri! Siapa juga yang suruh terima lamaran tanpa minta pendapatku. Lagian aku juga tidak kenal sama… siapa tadi namanya? Lee Min Ho? Cih… pasaran banget namanya… sok artis…,” cerca Hye Sun tanpa ujung pangkal.
“Jangan ngomong gitu, Sayang,” kali ini Mrs. Goo yang bicara. “Min Ho anak baik. Dia pasti bisa jadi suami yang baik untukmu.”
“Omma… kemarin Omma bilang di telepon kalau kalian akan bercerai, rupanya itu akal-akalan kalian saja biar aku pulang… Aduhhh…. Sebel! Coba Omma pikir, cowok macam apa yang mau saja dijodohkan seperti itu, tidak punya pendirian sendiri,” cibir Hye Sun.
“Cukup olok-olokmu, Sun-a. Min Ho anak patuh dan berbakti. Dia juga sudah lama menyukaimu,” bentak Mr. Goo.
“B…b…bo?” Hye Sun jadi gelagapan mendengar fakta itu. Anak itu… kapan juga kami ketemu? Huh… dasar Namja aneh…
“Jika kau menolak! Appa akan mencabut paspormu supaya kau tidak bisa kembali ke Amerika!” ancam Sang Appa.
“Mwo? Antwe!” tolak Hye Sun mentah-mentah.
“Makanya… pasrah sajalah… nanti malam dua keluarga bertemu. Appa harap kau menjaga sikap di depan calon mertua dan calon suamimu.”
GUBRAK!!!
Huhhhh, sebel, sebel, sebel. Batin Hye Sun tersiksa di ruang makan yang megah itu. Senyum manis yang selalu tersungging di depan kamera lenyap malam ini. Dalam hati menggerutu. Keempat orang paruh baya di sekelilingnya nyerocos saja tanpa ujung pangkal, membicarakan rencana pernikahan. Sedangkan pria jangkung di depannya memperhatikan sambil senyum-senyum sendiri. Kadang Hye Sun mencibir ke arah pria itu. Senyum-senyum sendiri kaya orang gila, cih…
Kalau dilihat-lihat, pria itu tampan. Apalagi untuk ukuran bangsa Korea. Sangat tampan malah. Tapi tidak bagi Hye Sun yang di otaknya selalu menganggap Brad Pitt-lah yang tertampan. He… he… he…
“Mau tambah steaknya?” tanya pria itu basa-basi. Hye Sun menjawab dengan hembusan nafas dan membuang muka. “Kau sedang diet, ya?” sambung pria itu lagi.
Hye Sun masih saja membuang muka. Orang tua mereka masih terlibat obrolan seru hingga tak memperhatikan dua anak muda ini.
“Aku suka berat badanmu sekarang. Tidak perlulah berdiet untuk pernikahan kita,” Kata-kata pria itu membuat Hye Sun mendelik. Anehnya pria itu masih saja tersenyum.
Hye Sun berdiri dan memohon diri,”Miane, saya undur diri dulu.”
Keempat orang tua itu jadi kaget. Hye Sun bahkan belum menyentuh makanan sedikit pun.
“Kau belum makan, Sun-a,” tanya Mr. Goo.
“Miane, Appa. Hye Sun capek. Ingin tidur.” Lalu ngeloyor pergi ke kamar sebelum Appanya bersuara lagi.
Hoahmmm…. Kenyataan itu sungguh membuat Hye Sun lemas. Bawaannya ngantuk saja. Tak disangka alasan yang selalu dia lontarkan untuk putus hubungan dari cowok-cowok bule itu kejadian juga. Dan kini mulailah dia menapaki alam mimpi. Tunggu… mimpi apa ini? Pernikahan? Pria itu? Lee Min Ho? Anak kembar?
Huwaaaaa!!! Antwe… antwe… antwe…
Hye Sun terbangun dan berteriak-teriak. “Huhuhuhu, kenapa tidak Brad Pitt yang menikah denganku. Anyi! Aku harus kabur dari sini.”
Hye Sun benar-benar melakukan niatannya. Mengendap-endap seperti maling di rumahnya sendiri. Busyet! Penjagaannya ketat banget. Hye Sun sama sekali tidak menyangka karier Ayahnya semelesat itu sehingga ruang gerak Hye Sun jadi terbatas. Berkali-kali dia harus menghindari kamera CCTV, dan…
Hup! Tangan kekar menarik tubuh mungilnya hingga agak oleng. Pria itu merapatkan tubuh Hye Sun ke dinding dan mengunci dengan kedua lengannya. Hye Sun agak memundurkan kepala, saat pria itu mendekatkan wajah ke wajahnya. Pria itu… Lee Min Ho.
“Mau kabur?” tanya Min Ho.
Huft, Hye Sun menahan nafas. Udara yang keluar dari hidung mancung Min Ho berhembus di wajahnya. Aroma mint tertangkap di indera penciuman Hye Sun.
“Kau memang benar-benar nakal,” kata Min Ho.”Tak akan kubiarkan calon istri yang kucintai kabur.”
“Mwo!” mata Hye Sun mendelik. Belum sempat membela diri, Min Ho sudah mengunci bibir yang agak terbuka itu dengan ciuman. Semula Hye Sun terkejut, tapi sepertinya dia memutuskan untuk mengikuti permainan Min Ho. Membalas lumatan demi lumatan bibir padat itu, hingga nafas keduanya tersenggal-senggal.
“Saranghe, Hye Sun-a,” aku Min Ho seketika. Hye Sun jadi memicingkan mata tak habis pikir. “Kau wanita yang membuatku gila selama ini dan akan kulakukan apa saja untuk memilikimu. Termasuk memaksa Appa segera melamarmu untukku.”
Hye Sun semakin tak habis pikir. Bagaimana mungkin? Padahal bertemu saja baru malam ini.
“Menurutmu ini bodoh, bukan?” tebak Min Ho. “Aku adik kelasmu waktu di senior high school, kau ingat?”
“Mwo? Ya… jadi kau lebih…
“Lebih muda darimu? Ne… dua tahun selisih usia kita. Tapi itu tidak masalah buatku. Mau, ya.. jadi istriku?”
GUBRAK!
Para pengawal yang mencari Hye Sun hadir di antara mereka. Min Ho terpaksa melepas kungkungannya atas gadis itu. Membiarkan para pengawal membawa Hye Sun ke kamarnya setelah membungkuk hormat di depannya. Pria itu tersenyum melihat Hye Sun yang masih saja menoleh ke arahnya walau pun sudah mulai berjalan menjauhinya.
Sesampai di kamar, Hye Sun jadi tidak bisa tidur. Bukan karena kepikiran pengen kabur lagi tapi lebih tertuju pada kejadian yang dialaminya bersama Min Ho barusan. Ciuman panas itu, aroma mint nafas Min Ho. Semuanya tentang Min Ho merajai otaknya. Belum lagi usia Min Ho yang lebih muda dan pengakuan pria itu tentang cintanya yang terpendam sejak SMA.
Pernikahan pun terlaksana. Bagaimana lagi? Hye Sun tak bisa mengelak. Sementara Min Ho selalu menyunggingkan senyum bahagia di pesta, Hye Sun selalu menampakkan ekspresi datar. Di otaknya masih memikirkan lakon hidupnya yang dia sendiri tidak mempercayainya.
Kim Soe Eun yang jauh-jauh pulang ke Korea untuk menghadiri pernikahannya Cuma cengar-cengir. Sambil bersalaman dengan Hye Sun, dia berbisik,”Sudah ganti selera, rupanya?”
Cleguk! Hye Sun jadi menelan ludah sendiri.
Dua minggu sesudah pernikahan, Hye Sun kembali ke Amerika. Kali ini tidak sendiri. Min Ho yang berencana meneruskan studinya di Harvard juga ikut. Hye Sun harus rela berpisah dengan Soe Eun karena Min Ho memboyongnya ke apartemen yang dipersiapkan keluarga Lee untuk mereka.
“Ini rumah kita untuk dua tahun mendatang,” kata Min Ho saat pertama kali mereka menginjakkan kaki di rumah itu. Min Ho memeluk punggung istrinya lalu mencium tengkuk wanita itu.
Kalian pasti bertanya-tanya bagaimana bisa Hye Sun pasrah saja diperlakukan seperti itu. Well, sepertinya benih-benih cinta mulai merajai benak Hye Sun. Selama dua minggu kebersamaan mereka di Korea, Hye Sun mampu melihat kebaikan dan besarnya cinta Min Ho padanya serta memutuskan untuk belajar mencintai pria itu.
“Kaulah yang berhak mengatur apartemen ini, Yeobo… jika tak suka dengan desain interiornya, kau bisa menggantinya,” terang Min Ho.
Hye Sun menggeleng lemah. “Anyi, Min Ho-a. Aku suka kok.”
“Kita lihat ruangan lain?” tawar Min Ho yang diiyakan oleh istrinya. Satu persatu ruangan di apartemen itu pun segera mereka sambangi dan ruangan yang terakhir yang kini mereka masuki adalah kamar tidur utama.
Ada kegugupan kecil di benak mereka saat melihat tatanan ranjang di ruangan itu. Dua minggu di Korea mereka belum melakukan ‘itu’ karena pesta demi pesta yang diselenggarakan orangtua mereka. Dan kini ranjang di depan mereka itu tertata begitu romantis.
Untuk menghilangkan kegugupan, Hye Sun membuka pintu menuju lobi, lalu menikmati malam kota itu melalui lobi. Wanita itu memejamkan mata saat angin bertiup ke wajahnya. Aroma wine menyeruak di hidungnya yang membuat matanya terbuka. Segelas wine ternyata di sodorkan Min Ho tepat di hidung mungilnya. “Acara selamatan rumah baru?” ujar Min Ho.
Hye Sun menerima gelas piala itu. Sesaat mereka melakukan tos dan menegak minuman itu. Tampak setetes wine belepotan di bibir Hye Sun dan Min Ho segera menyekanya dengan telunjuk kanannya.
Waktu seakan berjalan lambat. Hye Sun begitu menikmati usapan tangan Min Ho di bibirnya, sedangkan Min Ho tak lepas memandang bibir yang ranum itu. Seakan terbawa suasana, mata Hye Sun memejam saat kepala Min Ho semakin mendekat. Akhinya kedua bibir itu bertemu saling menuntut hasrat masing-masing agar semakin dalam. Min Ho meletakkan gelas wine yang dipegangnya di dinding balkon agar kedua tangan itu lebih leluasa menarik Hye Sun lebih dekat ke tubuhnya. Sedangkan gelas yang dipegang Hye Sun sudah jatuh pecah dari tadi. Tangan wanita itu bergelayut di leher suaminya, meremas-remas rambut lebat Min Ho hingga membuat keduanya semakin tak kuasa menahan diri.
Hye Sun sama sekali tidak protes saat Min Ho menggendongnya ke ranjang. Semuanya sudah diserahkannya pada sang suami. Hatinya bahkan kini keperawanan yang selama bertahun-tahun dia pertahankan.
Dengan lembut, Min Ho melepaskan satu per satu pakaian Hye Sun lalu menutupi ketelanjangan istrinya itu dengan kecupan dan belaian yang semakin lama semakin membuai. Saat kedua tubuh polos itu bersentuhan bebas, tanpa sehelai benang yang menghalangi. Angin sorga seakan bertiup, memberi berkah bagi hubungan yang terikat pernikahan yang syah ini. Keintiman semakin merajai keduanya.
“Aku mohon sekarang, Sayang… sekarang…,” Min Ho tersenyum mendengar permohonan Hye Sun. Wanita itu memekik, menahan sakit saat Min Ho mengabulkan permintaannya. Min Ho pun mendesah, merasakan sensasi yang belum pernah dirasakan sebelumnya itu, saat otot kewanitaan Hye Sun mencengkeram, menolak di awal namun pasrah di akhir.
Diamatinya wajah sang istri yang memandang lurus ke arahnya, berbinar bagai telah berhasil memenangkan sesuatu, lalu memberi ciuman panas lagi sebelum akhirnya melakukan gerakan instens, yang membuat keduanya benar-benar dimabuk cinta.
Keduanya sama-sama mendesah saat berada di puncak lalu berpelukan setelah Min Ho memberikan ciuman di kening istrinya, mengucapkan terima kasih akan kisah yang indah di peraduan cinta pertama mereka.
“Apakah aku bisa cepat hamil, Min Ho-a?” tanya Hye Sun di dada suaminya. Min Ho menatap bola mata yang berbinar itu.”Kau tidak ingin menundanya?”
“Anyi, Min Ho-a. Aku ingin cepat hamil saja.”
Min Ho tersenyum saat mempererat pelukan.”Berdoalah, Yeobo. Kita hanya bisa berusaha dan tuhan yang menentukan.” Dan Hye Sun mengecup dada bidang itu. Agak memberikan sensasi menyakitkan yang membuat Min Ho memekik hingga hasrat lelaki itu kembali. Sekali lagi mereka melakukan hal itu lagi. Kali ini dengan harapan kemunculan anak-anak mereka.
DUA TAHUN KEMUDIAN…
Acara wisuda. Min HO menerima ijazahnya di acara itu dengan raut wajah cemas. Hye Sun merasa mulas-mulas tadi pagi. Alhasil wisuda ini dia lakukan tanpa Hye Sun yang sudah diangkut ke rumah sakit. Di kehamilan yang kedua ini, Min Ho selalu memprotek istrinya habis-habisan, takut kalau istrinya mengalami keguguran lagi seperti setahun yang lalu.
Min Ho segera melajukan mobilnya ke rumah sakit tempat Hye Sun berada, Toga wisuda masih menjadi kostumnya saat memasuki ruang perawatan Hye Sun. Orang tua dan mertuanya mondar-mandir cemas di depan kamar, membiarkan Min Ho untuk memasuki kamar istrinya begitu saja.
“Sayang…,” panggil Hye Sun lemah sambil menahan sakit di perutnya. Min Ho segera menghampiri dan mengecup kening istrinya. “Masih lama,kah, suster?” tanya Min Ho dalam bahasa Inggris pada perawat yang ada di situ.
“Tinggal dua centi lagi, Tuan,” jawab perawat itu. Min Ho menggenggam tangan Hye Sun, sesekali terasa Hye Sun meremas kuat, melawan rasa sakit.
“Operasi Caesar saja, Yeobo.. aku tidak tega melihatmu,” Hye Sun menggeleng lemah, menolak permintaan suaminya. “Aku kuat, Min Ho-a, percayalah… Akh!...
Min Ho jadi panic melihat Hye Sun berteriak. Suster segera melihat bagian bawah tubuh Hye Sun lalu menelpon dokter. Saat dokter tiba, akhirnya Min Ho harus keluar kamar itu karena proses persalinan segera dimulai.
Doa syukur mereka panjatkan saat tangisan bayi terdengar. Bukan hanya seorang, tapi dua orang bayi… laki dan perempuan yang menambah kegembiraan pasangan itu.
Kini mereka dikelilingi keluarga tercinta, memamerkan bayi-bayi mungil mereka di depan para tamu yang menghadiri pesta syukuran kecil-kecilan yang mereka adakan. Lagi-lagi Kim Soe eun ada di pesta itu, menyalami Hye Sun yang sedang menggendong salah satu si kembar sambil berbisik,”Otoke? Bagaimana kabar Brad Pitt?”
Hye Sun tertawa seketika lalu menjawab mantap,”Good Bye, Brad Pitt!”
Author : Hehehehe, ternyata produk dalam negeri juga tak kalah tampan dan hot dari luar negeri. Iya kan, Hye Sun?
Hye Sun : Ne…. (muka merah, menahan malu - made on)
THE END
(FF teraneh yang pernah kubuat)