Chapter 5 part 2:
“honey, kenapa tidak dimakan? Apa perlu aku memesan makanan yang lain untukmu?” tanya mino membujuk.
“sudah, cepat katakan apa yang mau kamu katakan?” tanya hye sun acuh.
“begitu?” jawab mino acuh juga sambil memakan steak daging yang dia potong.
“aku ke toilet.” Hye sun bangkit dari kursi tempat dia duduk.
“ehem.. tinggalkan tas, hand phone, dompet, uang, semua . jangan coba-coba meninggalkanku.” Mino bersandar, melipat tangannya santai.
“cih.. buat apa!!” jawab hye sun sengit.
“siapa tau saja kamu mengambil sesuatu milikku, mengambil no. Hand phone-ku diam-diam misalnya.” Jawab mino enteng.
“wah..” hye sun membuang muka, seakan jengkel dengan tuduhan mino.
Mino menadahkan sebelah tangannya, seperti meminta.
“ck.. cepat.” Kata mino sedikit menekan.
“cepat apaan sih.” Hye sun cemberut.
“atau kamu mau ku temani ke toilet?” mino berdiri dari tempat duduknya.
“tidak perlu. Nih semuanya.” Hye sun menyerahkan semua barang bawaannya ke mino.
Mino tersenyum tanda dia menang.
Hye sun berjalan menjauh. Mino membuka isi tas hye sun. Tidak ada yang spesial,hanya ada beberapa baju dan celana.
Passport. Dan sebuah “buku catatan”. 1 barang yang perlu di periksa.
Mino membongkar isi handphone hye sun, tidak ada no- mino yang manapun, maupun foto. Semua bersih. =_=”
dia melepas bagian belakang handphone. Ada 1 buah “memori” di dalamnya. 1 barang lagi yang perlu di periksa. Mino
segera merapikan barang-barang hye sun, kecuali 2 barang jarahannya.
mino menyimpan memori di balik jasnya, sedangkan buku catatannya, dia membuka di tempat. Mino melupakan
makanannya, catatan yang dia baca, begitu sangat menarik dibandingkan makanan mewah dihadapannya.
Lembaran pertama:
sekolah yang membosankan. Aku ingin segera lulus.
Lembaran kedua:
Hati bergetar.
Lembarketiga:
Kesal
Lembar ke empat:
Hampa
Lembar kelima:
Aku bukan manusia yang pandai merangkai kata. Jantungku tak menentu saat menatapnya. Saat dia membantuku membawa buku yang berat.
(mino melihat tanggalnya, seingatnya, ini juga tanggal yang selalu akan dia ingat juga. Awal musim panas)
Lembar ke enam:
Huh.. 1 bulan tak menulis.bosan. aku tak tau perasaanku. Aku sibuk dengan semua pelajaran.
(mino tersenyum membayangkan tingkah hye sun)
Lembar ke tujuh:
yeah.. detik-detik berita kelulusan. Berharap lulus, menjadi mahasiswa, dan berharap dia tahu perasaanku.
Lembar ke delapan:
Aku tidakmau menulis lagi. Rahasiaku terbongkar.
Lembar kesembilan:
- Kosong-
Mino terus membalik lembaran selanjutnya. Hye sun mulai mendekat. Tapi nihil. Tak ada satu katapun lagi yang dia
temukan.
Mino menutup buku dengan cepat memasukkan kedalam tas hye sun sembarangan.
“aku tak menyembunyikan apapunkan.” Hye sun tersenyum mengejek.
Mino melihat hye sun menyelidik.
“kamu masih menyukaiku?”tanya mino ragu.
Hye sun memutar bola matanya seraya berfikir. “ emmmm... gimana ya??” hye sun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“katakanlah, aku akan menerima apapun jawabanmu.” Mino berbicara pelan
“Heem,,,”hye sun menganggukkan kepalanya.(mino tersenyum) “He...em” hye sun menggelengkan kepalanya.(mino agak
kesal)
“jadi, yang benar yang mana?” tanya mino yangsudah tidak sabar dengan emosinya.
“anggap saja kita sudah selesai.” Hye sun membawa semua barang bawaannya, merjalan memunggungi mino.
“kau benar-benar...”kata-kata mino berhenti.Mino melihat sebuah gambar jari telunjuk dan ibu jari membentuk huruf V.
Mino mengingat sesuatu, lambang yang berarti “foreVer”.itu seperti..
“ya!!.. hye sun!.” Mino berlari. Dan memeluk hye sun. Namun tangan mino mengambil sebuah gambar atau juga foto di
kantong belakang hye sun.
Karna hye sun merasakan sesuatu yang tidak senonoh. Dia langsung saja mendorong mino dan menamparnya.
PLAKKKK**
Tangan kanan mino memegang pipinya, dan tangan kirinya memegang sebuah foto, dia melihat dirinya sendiri di dalam
foto itu.
“ini namanya selesai?” mino tersenyum menang sambil menunjukkan fotonya.
Hye sun menggigit bibir bawahnya. Menutupi perasaannya.
“kalau begitu, aku yang akan menyatakan cintaku.” Mino menepuk tangan, membuat para pengunjung beralih kearahnya.
“para pengunjung, saya harapkan,kalian menjadi saksi pernyataan cinta saya..” mino baru bicara separuh.
“gila.” Jawab hye sun acuh, dan meninggalkan tempatnya berdiri sambil berlari.
“Ya! Aku belum selesai.” Mino mengejar hye sun.
##
“Kamu yang membawa dia kesini?” tanya hyun seung tak senang.
“miane oppa. Tapi dia, temanku dari jepang.”hye mi berkelit.
“ya.. nuna.. kita pulang saja, dari pada harus bicara dengan orang keras kepala dan super ganas kayak dia. Mending nuna
sama aku. Kita kembali pulang ke jepang bersama.”bujuk min wo.
(“gila... kalo saya tidak ingat sama onnie juga, udah kabur dari dulu-dulu”.dlm hati hye mi)
“ya!! Saya tidak begitu!” bentak hyun seung.
“ya.. min wo.. oppa ini baik kepadaku.” Hye mi memeluk lengan hyun seung guna meredakan kemarahannya.
“min wo.. lebih baik kau pulang ya. Emm..” hye mi membujuk min wo.
“shiro!! Aku mau disini saja menjaga nuna.” Jawab min wo tak mau kalah.
“oppa... tolong biarkan dia tinggal di sini ya.. tolongjuga bilang sama appa.” Hye mi meminta dengan nada manja.
“hah.. ya baiklah.demi kamu, aku akan melakukan apa yang bisa kulakukan.” Jawab hyun seung agak kesal.
“oppa.. gomawo..” hye mi memeluk hyun seung.
Hyun seung membelalakkan matanya, seakan tak percaya dengan reaksi hye mi.
(“tuhan...jantungku berdear-debar, aku lebih suka sikap dia yang terkadang manja dan marah tiba-tiba. Seperti akhir-akhir
ini. Lebih menantang dan mengejutkan.” Dalam hati hyun seung)
“sudah...sudah..” min wo memisahkan mereka berdua. Hyun seung agak sedikit salah tingkah.
“ayo kita temui appa.” Hye mi mengajak min wo dan menggandeng tangannya.