A 2011 MinSun Fanfiction
The Henna © Voldi
Basic Idea © Ayu Rupiee
Starring
Lee Min Ho as Lee Ryuu
Pemuda tampan yang bercita-cita menjadi koki tapi alergi terhadap udang. Seluruh wanita di desa tergila-gila kepadanya. Ia tampan, cool, baik hati. Tapi ada yang tidak diketahui oleh masyarakat desa, yaitu kebiasaannya yang suka ngigo kalau tidur. Tampan-tampan cacat. Tambahan; pecinta anjing.
Ku Hye Sun as Ku Aira
Reinkarnasi putri Ku Hye Sun, putri dari kerajaan Barat. Sangat takut terhadap anjing. Putri tunggal keluarga Ku yang sangat ketat menjalani tradisi, termasuk tradisi perjodohan.
.
.
.
MAPLE ONE
Aira merangkak pelan dibawah meja-meja berdebu diperpustakaan milik kakeknya. Sesekali ia bersin karena tebalnya debu di ruangan sempit itu. Sebenarnya ia sedang bersembunyi dari ibunya—yang memaksakan dirinya untuk fitting baju pengantin. Big no untuk usul ibunya itu. Jadi, daripada buang-buang waktu bersama perancang busana ibunya yang hobi mencolek kulit putihnya, lebih baik ia duduk manis didalam perpustakaan ini.
“HATCHI.” Aira menyeka hidungnya yang berair dengan lengan gaunnya. Matanya memandang sekitar. Seperti perpustakaan pada umumnya, tempat ini juga penuh dengan buku-buku tebal, berdebu, dan jam dinding yang detakannya sangat terdengar. Tak tahan meringkuk di bawah meja, Aira akhirnya keluar.
KREEK
Baru selangkah ia merangkak, suara pintu yang dibuka membuatnya terhenti. Ia menahan napasnya agar tidak ketahuan.
TAP TAP TAP
BRUK
TAP TAP TAP
CEKLEK
Hening.
Aira masih terdiam dengan posisi seperti tadi. Ia menajamkan telinganya untuk jaga-jaga. Yakin bahwa orang tadi sudah tidak berada di ruangan ini lagi, Aira perlahan menjulurkan kepalanya, mengamati keadaan sekitar. Ia kemudian beranjak bangun, gaun panjang yang dikenakannya sedikit tersangkut di kaki meja.
Ia memandang pintu masuk dengan pandangan tanya, “Dhuga?” matanya kemudian beralih ke atas meja yang lebih lenggang dari meja yang lain. Sebuah buku tebal dan berdebu tergeletak di atasnya. Penasaran, Aira mengambil buku itu.
Buku itu berwarna kuning kusam, seperti buku tua. Covernya hanya sebuah gambar pohon maple tua yang besar. The Henna. Tertulis dengan tinta emas dan berukir sangat indah. Aira mengernyit melihatnya. Setelah meniup covernya yang tertutupi debu, secara hati-hati Aira membukanya.FIRE AND ICE
Some say the world will end in fire,
some say in ice.
From what I’ve tasted of desire
I hold with those who favor fire.
But if it had to perish twice,
I think I know enough of hate
To say that for destruction ice
Is also great
And would suffice
Robert Frost
Kerutan Aira didahinya semakin dalam. Lembaran berikutnya pun dibukanya.Dahulu kala, empat kerajaan hidup saling berdampingan. Masing-masing mempunyai daerah kekuasaan mereka. Empat kerajaan itu adalah kerajaan Utara, kerajaan Timur, kerajaan Selatan, dan kerajaan Barat. Didalam gambar terdapat sebuah peta. Masing-masing di ujung atas bawah, kiri dan kanan, digambari dengan tanda silang berwarna merah. Aira kembali membuka lembaran berikutnya dengan hati-hati.Setiap kerajaan mempercayai bahwa Dewa yang mereka sembah bersemayam di sebuah pohon maple, tepat ditengah-tengah semua kerajaan.
Para Tetua kerajaan percaya, jika suatu hari pohon ini akan membawa keberuntungan bagi kerajaan mereka. SREK
Suara kertas tua yang dibalik lagi.Suatu ketika, putri kerajaan Barat secara diam-diam mendatangi pohon itu. Aira memperhatikan gambar seorang wanita yang menghadap ke sebuah pohon besar. Tubuh mungilnya terbalut gaun panjang, rambut panjangnya berkibar di tiup angin.Diwaktu yang sama, pangeran dari kerajaan Selatan juga mendatangi tempat itu.
Pangeran Selatan akhirnya jatuh cinta pada putri Barat. Keduanya lalu mengikat janji di bawah pohon maple itu. Aira tersenyum sinis. So fairy tale. Paling-paling juga ending dari cerita ini ditutup dengan kata; hidup bahagia selamanya. Picisan sekali.
BRAK
“KU AIRA!”
Dengan gerakan slow-motion Hye Sun menoleh ke arah pintu. Dan disanalah ia. Nenek sihir yang selalu memakan daging anak-anak, menjadikan bola mata dan otak anak-anak asuhnya sebagai mainan dan pajangan didalam kamar. Yang Mulia Ratu.
“Jadi disini kau bersembunyi? Omma mencarimu kemana-mana, dasar anak nakal.”
Khayalan Aira mengenai sang Ratu yang jahat buyar seketika. Ia nyengir ke wanita setengah baya itu tanpa perasaan berdosa. “Omma, sejak kecil aku selalu bersembunyi di tempat ini, omma belum mengerti juga ya?” ujarnya, ia kemudian melirik jam dinding dengan pandangan tertarik, “Hmm...lebih lambat 5 menit dari minggu lalu.”
Ia lalu cekikan ketika melihat mata bundar ibunya melotot. “Araseo araseo.” Setelah mengibaskan bagian bawah gaunnya yang sedikit berdebu ia lalu melangkah menuju ibunya. Tak lupa buku tua itupun dibawanya serta.
“Nah sekarang apa maumu, Yang Mulia Ratu?”
Jari telunjuk mrs. Ku menunjuk ke belakangnya, “Temui tunanganmu dibawah, SEKARANG!”
Bibir Aira dower seketika. Dengan merengut ia melewati ibunya, melangkah ke arah tangga dan turun. Tentu saja bukan untuk menemui SANG TUNANGAN TERCINTA, tapi...
“DAA YANG MULIA RATUUU...” ia lalu langsung ngacir ke bawah sebelum ibunya menyeretnya menemui pemuda gila itu.
“Awas kau, anak nakal.”.
.
.
.
“Sudah berapa kali ayah katakan, pekerjaan itu tidak ada gunanya! Kau itu seorang laki-laki. Tidak pantas untuk seorang laki-laki bekerja di dapur. Apa kau tidak malu!”
Suara menggelegar terdengar dari sebuah rumah mewah. Pria setengah abad tengah menatap geram seorang pemuda yang duduk sambil menundukkan kepalanya. Sedangkan seorang wanita setengah baya hanya duduk disamping pemuda itu sambil mengelus pelan punggungnya.
“Kau adalah anggota klan Lee. Kau pewaris utama klan ini. Apa kau ingin mencoreng nama baik keluarga kita dengan profesimu yang memalukan itu, HAH!”
Sang wanita akhirnya angkat suara setelah kebungkamannya yang cukup lama, “Sudahlah sayang. Biarkan Ryuu istirahat dulu.” Ia lalu membelai lembut rambut lebat putra semata wayangnya itu. “Ryuu, istirahatlah dulu. Makan malam nanti barulah turun.”
Pemuda yang dipanggil Ryuu itu hanya mengangguk kaku. Setelah mencium pipi sang bunda, ia beranjak dari duduknya. Matanya menatap sang ayah yang memandang halaman rumah mereka dengan pandangan tajam. Ia menghela napas panjang. Lengan kekarnya kemudian mengambil piala dan penghargaan yang tadinya ia perlihatkan kepada orang tuanya di atas meja. “Aku tetap akan menyimpan piala ini,” ujarnya sebelum menghilang dibalik pintu.
Sepeninggalan Ryuu, sang kepala keluarga menatap ibu Ryuu, “Lihat? Itulah hasil didikanmu selama ini. Mau jadi apa jika seorang pria bekerja di dapur?”
Ibu Ryuu hanya menghela napas menghadapi kemarahan suaminya itu. Bukan salahnya jika impian Ryuu adalah menjadi seorang koki, pekerjaan yang sebagian orang menganggapnya hanyalah pekerjaan yang pantas di lakoni oleh wanita.
(o,o)
Ryuu membanting tubuh jangkungnya di atas tempat tidurnya dengan keras—membuat ranjangnya berdecit pelan. Kedua tangannya diangkat, memperlihatkan dua benda paling berharga dihidupnya mulai saat ini. Piala penghargaan dan piagam. Suatu keberhasilan terbesar dalam hidupnya, tapi tak dianggap oleh orang tuanya—ayahnya. Impiannya selama ini adalah menjadi seorang master chef. Sifat konservatif yang dianut ayahnya membuatnya harus menelan pahit kenyataan.
Laki-laki tidak bisa jadi koki? Cih. Akan aku buktikan kemampuanku kepada kalian lebih daripada ini.
.
.
.
Dengan cepat Aira mengemasi pakaian-pakaiannya kedalam koper besar. Tak dihiraukannya jika nanti pakaian itu kusut, yang penting ia bawa cukup banyak pakaian. Dan kabur dari sini. Perjodohan ini benar-benar membuatnya gila. Di jaman modern seperti ini masih adakah orang tua konservatif? Oh, please.
Setelah sepasang kaus kaki berwarna kuning cerah mendarat di atas tumpukan baju lainnya, Aira berusaha mengunci koper itu. Setelahnya, dengan susah payah ia menyeretnya ke arah jendela. Disibakannya tirai jendela dan dibukanya bingkai jendela.
BRUK
Koper besar itu jatuh dengan naas ke atas tanah.
BRUK
BRUK
Disusul buku the Henna dan tubuh mungil Aira. Jangan salah, kamarnya di lantai satu kok. Gak ngenes-ngenes amat jatuhnya. Sebelum penjaga mendapati bahwa ia berusaha kabur, Aira secepat kilat menyeret kopernya ke arah belakang rumah. Bagian belakang rumahnya terdapat pintu keluar yang tidak di ketahui oleh penjaga. Setelah susah payah—dan merutuki dirinya sendiri kenapa harus membawa barang sebanyak itu—Aira akhirnya bisa keluar dari rumah mewahnya. Meninggalkan kamarnya yang hangat, para pelayan yang melayaninya 24 jam, dan meninggalkan sepucuk surat untuk Yang Mulia Ratu..
.
.
.
Just because everything's changing
Doesn't mean it's never
Been this way before
All you can do is try to know
Who your friends are
As you head off to the war
Pick a star on the dark horizon
And follow the light
You'll come back
When it's over
No need to say good bye
Suara khas Regina Spektor mengalun lembut dari headphone Aira. Gadis mungil itu melangkah dengan riang gembira menuju halte. Tangannya menari-menari mengikuti alunan musik. Kopernya? Tergeletak dengan tak elit di didalam pembuangan air di belakang rumahnya. Baru beberapa langkah ia keluar dari rumahnya, ia baru berpikir, untuk apa membawa barang banyak-banyak jika kau punya uang? Huahaha.
Tak banyak orang yang berada di halte. Hanya seorang nenek tua dan sepasang kekasih. Aira mengambil tempat di samping nenek tua itu—daripada dekat-dekat dua orang yang sedang bermesraan, ntar disangka obat nyamuk.
Tak berapa lama sebuah bis pun singgah. Aira dan semua orang yang berada di halte itu naik kedalamnya. Jika ditanya kemana tujuannya sekarang, jawabannya; ia sama sekali tak tahu. Ia hanya menuruti kata hati, kemana kaki ingin melangkah disitulah tempat tujuannya, dimana hati terpaut disitulah takdirnya..
.
.
.
Dear, the high queen
Bukannya aku tidak ingin berbakti, tapi aku lebih memilih keluar daripada ditunangkan dengan pemuda gila itu. Mungkin kau tidak tahu jika Yung Soo yang kau bangga-banggakan itu pernah menendang pot bunga kesayanganmu, dan kau malah menuduh pelayan. 
Aku hanya akan menikah dengan orang yang ku cintai. Dan aku berjanji, suatu saat nanti aku pasti akan kembali bersama pangeranku. Jangan cari aku dan jangan merindukanku.
Aira
Ps : aku mengambil dompetmu ya. jangan marah. aku kan anakmu, memangnya kau mau membiarkan anak kesayanganmu mati kelaparan?..........
Spoiler MAPLE TWO :
Aira terkikik. “Sakit?”
Si pemuda hanya mendengus. Dikibaskannya debu-debu yang menempel di celananya. Kemudian diliriknya gaun Aira yang sudah compang-camping. “Kau habis diperkosa?”
GEDEBUK
Buku tua milik Aira mendarat dengan manisnya di kepala si pemuda. “Tidak sopan.”
“Lalu kenapa pakaianmu robek-robek begitu?”
“Aku habis dikejar anjing,” jawab Aira dengan enggan.
Gantian si pemuda yang terkikik. “Anjing?”
“Hm. Kenapa?”
Tawa si pemuda semakin menderai, “Kau takut anjing, nona? Berapa umurmu? Dasar anak kecil.”
Tuing
Satu silangan urat tergambar di jidat Aira.
Dan suara buku mendarat dijidatpun menyusul setelahnya.