Author Topic: The Henna . . . Maple II update, 15 June 2011  (Read 1845 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Henna
« Reply #15 on: June 07, 2011, 11:10:50 pm »
Mana updatean second chp-nya? Katanya update hari ini [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: The Henna
« Reply #16 on: June 08, 2011, 05:26:31 am »
Gue gak bilang update hari ini kok
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Henna
« Reply #17 on: June 09, 2011, 12:32:02 am »
Gue gak bilang update hari ini kok
Jadi kapan updatenya [what] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Henna
« Reply #18 on: June 15, 2011, 06:51:01 am »
A 2011 MinSun Fanfiction

 
The Henna © Voldi

 
Basic Ide © Ayu Rupiee


 

.

 

.


MAPLE TWO

 

Hari masih sore. Awan senja masih menggantung dilangit, suara burung gagak samar terdengar. Aira memandang sekelilingnya dengan panik. Sudah mulai sepi, dan sialnya ia tak tahu dimana ia sekarang. Entah sudah berapa lama Aira tertidur didalam bus. Angin semilir yang membelai wajahnya begitu memabukkan, belum lagi lagu-lagu dangdut yang didendangkan oleh kenek bus (?). Tau-tau sang kenek membangunkannya, mengatakan bahwa mereka sudah sampai di halte terakhir, mengusirnya keluar dari bus dengan sedikit gerutuan. Dan disinilah ia, dihadapan papan penunjuk jalan.

 

JALAN KWETIAU 500 M ↑

 

Alisnya mengkerut, ada ya nama jalan yang mirip makanan? Karena satu-satunya penunjuk jalan hanyalah JALAN KWETIAU 500 METER JALAN LURUS itu, dengan terpaksa ia menyeret kakinya.


 

Lima ratus meter jalan lurus.

Sekeliling masih pepohonan.

 

Lima ratus meter jalan lurus.

Masih pepohonan.

 

Lima ratus meter jalan lurus.

Oke, Aira merasa ada yang mengikutinya.

 

Lima ratus meter jalan lurus.

 

.

 

.

 


GUK GUK

 

Tanpa melihat kebelakang lagi—karena dia sudah sangat hapal jenis suara itu—Aira secepat kilat berlari. Tak dipedulikannya bajunya yang sobek terkena ranting pepohonan. Yang tercatat di otaknya hanya melarikan diri. Secepat mungkin.

 

Ia tak tahu sudah seberapa jauh kakinya berlari menjauh dari spesies berbulu itu. Tau-tau pepohonan yang tadinya melingkupinya sudah mulai berkurang, tergantikan dengan rumah-rumah kecil—yang keliatannya hangat.

 

Dalam hati ia bersyukur, setidaknya ia tidak tersesat dan menemukan desa kecil ini. Eh? Desa? DESAAAA? Satu hal yang pasti terpikirkan oleh setiap orang, dimana ada desa, disitulah tempat terjauh dari kota.

 

Aira terus berjalan, nafasnya mulai memburu, wajahnya memerah. Hormon adrenalin yang diciptakan oleh makhluk yang mengejanya tadi benar-benar membuatnya apes tingkat dewa. Gaunnya sobek disana sini, kotor, kusam, berdebu. Eww.

 

Setelah sekian lama berjalan, Aira merasa engsel dikakinya sebentar lagi akan putus. Ia memutuskan untuk duduk dibawah sebuah pohon yang akarnya menyembul keluar. Berulang kali hatinya membisikkan kata-kata penghiburan; “Jangan tidur disini, jangan tidur disini, jangan tidur disini.” Bukannya gimana-gimana, tapi gak elit banget kalo besok di halaman depan koran terpampang besar-besar; SEORANG GADIS DITEMUKAN TEWAS DIBAWAH POHON MAPLE.

 

Mengusir kebosanan Aira melihat ke sekeliling. Samping kanan hanya jalanan yang lenggang, samping kiri hanya jalanan lenggang juga, atas hanya ada seorang pemuda yang tertidur dengan pulas, bawah hanya ada ka, eh?

 

Mata Aira dipicingkan untuk melihat lebih jelas lagi. Ih beneran manusia, cowok lagi. Aira berdiri, bermaksud membangunkan orang itu. Kan gak lucu kalo tiba-tiba ia jatuh dari atas, Aira bisa dituduh jadi pembunuh dong.

 

“Hei.”

 

Tidak ada tanggapan. Yeah, satu hal yang Aira tahu, pemuda itu sangat lelap.

 

“Hei, bocah. Bangun. Kau bisa jatuh dari atas sana.” Sambil menendang-nendang batang pohon, Aira berteriak-teriak.

 

Si pemuda hanya menggeliat kecil, tapi tendangan-tendangan Aira—Aira sudah mencapai sabuk hitam—membuat geliatan kecil itu menjadi sebuag gedebuk yang membahana.

 

Sang pemuda, jatuh. Dengan posisi kepala dibawah, kaki diatas, dan ekspresi wajah yang menggelikan. Kasian.

 

Aira terkikik. “Sakit?”

 

Si pemuda hanya mendengus. Dikibaskannya debu-debu yang menempel di celananya. Kemudian diliriknya gaun Aira yang sudah compang-camping. “Kau habis diperkosa?”

 

GEDEBUK

 

Buku tua milik Aira mendarat dengan manisnya di kepala si pemuda. “Tidak sopan.”

 

“Lalu kenapa pakaianmu robek-robek begitu?”

 

“Aku habis dikejar anjing,” jawab Aira dengan enggan.

 

Gantian si pemuda yang terkikik. “Anjing?”

 

“Hm. Kenapa?”

 

Tawa si pemuda semakin menderai, “Kau takut anjing, nona? Berapa umurmu? Dasar anak kecil.”

 

Tuing

 

Satu silangan urat tergambar di jidat Aira.

 

Dan suara buku mendarat dijidatpun menyusul setelahnya. “Aduh. Kau hobi sekali memukul orang sih.”

 

Aira tak menghiraukannya. Matanya sibuk mengamati pemuda dihadapannya ini. Tampan, wajahnya mirip dewa—err, wajah dewa itu kayak gimana yak?

 

Si pemuda yang merasa diamati balik menatap Aira dengan intens, “Kenapa memandangku? Tertarik padaku? Maaf, aku tidak berminat pada anak SMP.”

 

Tuing

 

Oke, tubuh Aira memang mungil, di kampusnya ia masuk dalam jajaran cewek unyu, tapi bukan berarti pemuda SOK tampan dihadapannya ini bisa menghinanya sesuka hidung mancungnya itu. Aira bersiap melayangkan bukunya kembali ke kepala pemuda itu, tapi si pemuda lebih cepat. Dengan sigap diambilnya buku Aira dan disembunyikannya dibelakang tubuhnya. “A a a,” jari telunjuknya terayun didepan wajah Aira yang dongkol setengah mati, “Tidak akan kubiarkan kau memukulku lagi, nona.”

 

Aira tak kehilangan akal. Dengan cepat kakinya terayun ke depan dan...

 

BUKK

 

“AAAAKHH.” Si pemuda, dengan wajah memerah menahan sakit, membungkukkan badannya, memegang pergelangan kakinya dengan pasrah. “Gadis sialan,” makinya.

 

Selepas melancarkan tendangan mautnya, Aira langsung mengambil langkah seribu. Tergopoh-gopoh ia mengangkat gaunnya dan terus berlari, meninggalkan kepulan asap putih dibelakangnya yang membuat si pemuda terbatuk-batuk.

 

Well, darimana Aira dapat asap itu?

 

Masih dengan merutuki kepergian mendadak Aira yang sensasional, si pemuda baru menyadari satu hal; buku cewek mungil itu masih ada padanya. Diamatinya cover buku tua itu.” The Henna?” Wajahnya mengernyit, tapi sedetik kemudian Ia terkekeh, “Hihihi. Waktunya pembalasan.”

 

.

 

(O_o)

 

.

 

Dengan langkah agak tertatih-tatih Ryuu menyeret kakinya menuju tempat yang sudah dijanjikan salah seorang warga yang ditemuinya tadi pagi. Betisnya serasa mau pecah, pergelangan kakinya serasa dililit besi tajam—yah, terima kasih kepada gadis sialan tadi.

 

“Hai, tampan.”

 

Sesosok han—maaf, gadis berambut merah tiba-tiba menghalangi jalannya. Wajahnya cantik sih, tapi rambut merah menyalanya itu loh, mungkin kalo mati lampu rambutnya bisa dijadikan pengganti lampu minyak.

 

Sebagai pemuda yang sopan santun, baik hati, dan rajin menabung, tentu saja Ryuu harus menyapanya balik—setidak suka apapun ia pada makhluk dihadapannya ini. “Err—ya?”

 

Si setan merah—panggil namanya Karin—perlahan mendekati Ryuu. Matanya mengedip-ngedip persis kemasukan debu, langkahnya dibuat semenggoda mungkin—yang lebih mirip kena bisul dipantat. “Sepertinya kau orang baru. Benar?”

 

Ryuu tidak tahu harus menjawab apa, yang pada akhirnya hanya sebuah anggukan kecil nan kaku plus wajah menahan muntah yang ditampilkannya. Karin semakin menempel ditubuhnya, bau parfum yang menyengat hidung menguar dari tubuhnya yang hanya terbalutkan baju minim. Gak dingin, neng?

 

“Kalau begitu lebih baik kerumahku saja. Ayo!” dengan tenaga nuklir Karin berusaha menyeret tubuh jangkung Ryuu. Tapi Ryuu tetap bertahan ditempatnya.

 

“Ehm, maaf nona.” Dengan keras ditampiknya tangan Karin yang melingkar di lengannya, “aku sudah ada janji dengan kepala desa.”

 

Karin mendesah kecewa. Tapi sedetik kemudian ia kembali tersenyum lebar. “Kalau begitu ku antar. Ayo.”

 

Sekali lagi Ryuu mengelak. Sebelum Karin melancarkan serangannya lagi secepat kilat Ryuu berlari, meninggalkan asap putih dibelakangnya. Kenapa didesa ini setiap orang mau lari harus ada asap putih dibelakang?

 

Ryuu sampai lebih cepat di kediaman pak Kepala Desa, tuan Sin Dong Hae. Pria setengah baya yang mau berbaik hati meminjamkan rumah kontrakannya untuk Ryuu secara gratis. Garis bawahi kata gratis. Wajahnya berseri-seri ketika Dong Hae menyambutnya didepan rumah sederhanya. “Aaah...Ryuu, selamat datang selamat datang.”

 

Keduanya saling berjabat tangan dengan eratnya, dan untungnya mata keduanya tidak berkaca-kaca saking terharunya. Tapi sedetik kemudian, ketika mata elang itu menangkap sebuah bayangan didepan pintu rumah pak kades, senyum diwajahnya luntur, tergantikan raut wajah dongkol setengah mati.

 

Mau apa gadis sialan itu disini?

 

Ryuu Ryuu, namanya juga jodoh. Kemanapun larinya juga pasti ketemu. Apalagi authornya labil kayak gue

 

Disana, disudut pintu rumah mungil itu, diantara remang kegelapan malam, Aira juga berdiri dengan raut wajahnya yang dongkol. Mulutnya monyong kedepan sambil memandang Ryuu. Sesaat keduanya saling melemparkan deathglare andalan masing-masing. Disamping Aira ada wanita separuh baya yang, ng...dadanya berukuran XXL. Entahlah, itu hasil operasi plastik atau bukan. Yang jelas, ia cantik.

 

“Ayo masuk, nak Ryuu,” suara pak kades menghentikan adu deathglare Ryuu dan Aira. Ryuu berusaha tersenyum, tapi malah mirip kambing sakit gigi.

 

.

 

(O_o)

 

.

 

Satu hal yang bisa ditangkap oleh Ryuu, istri pak Kades—nyonya Sin Hyun Yoo—adalah ia sangat menyayangi Aira. Sangat terlihat dari bagaimana Hyun Yoo memperlakukan Aira. Dan perlakuan istimewa itu membuat alarm dikepala Ryuu berbunyi nyaring. Akan ada sesuatu yang buruk, akan ada sesuatu yang buruk, akan ada se—

 

“Kalian berdua akan tinggal bersama di rumah kami yang lama.”

 

Tuh kan?

 

“Dan kami sudah memutuskan akan membuat pesta penyambutan untuk kalian,” lanjut Hyun Yoo dengan menggebu-gebu. Satu poin lagi; wanita ini maniak pesta.

 

Ryuu tak tahu harus berkata apa. Satu sisi ia sangat membenci wanita ini, tapi satu sisi lagi ia sangat membutuhkan rumah itu. Bukankah sudah kuperingatkan untuk menggaris bawahi kata gratis? Diliriknya Aira, wanita itu terlihat tenang walaupun sesekali melayangkan pandangan membunuh pada Ryuu. Sepertinya ia sudah tahu lebih dulu mengenai ‘tinggal bersama’ ini.

 

Tak ada pilihan lain.

 

“Ngomong-ngomong, pesta penyambutan kalian akan diadakan lusa malam.”

 

.

 

(O_o)

 

.

 

Hujan.

 

Padahal tadi langit bersih dengan awan-awan yang bertaburan sembarangan, tanpa awan. Khas langit musim panas. Tapi beberapa saat setelah para tamu undangan merangsek masuk ke aula desa, mendadak hujan turun dengan deras tanpa gerimis. Langit malam yang sudah gelap bertambah gelap akibat hujan. Awan-awan nimbus yang basah dan gelap menambah skala gelapnya langit malam itu.

 

Tapi bukan Hyun Yoo namanya jika menghentikan acara hanya karena petir yang menyambar-nyambar. Sekali tekad sudah dibulatkan, maka tidak ada yang bisa mengganggu gugat. Dong Hae sudah menyerah membujuk istrinya itu menghentikan pesta penyambutan sejenak dan dilanjutkan ketika hujan mereda, namun wanita berdada raksasa itu malah menyemprotnya dengan 1001 omelan.

 

"Tidak ada diundur!" ketus Hyun Yoo sambil berkacak pinggang. "Kubilang hari ini, ya, hari ini! Keputusanku bulat! Jangankan hujan sebesar ini, petir pun aku tidak akan menghentikan pesta besar ini!"

 

Saat itu Dong Hae segera tahu, Hyun Yoo pasti tidak akan berhenti di situ saja. Ia segera menyesali perbuatannya. Seharusnya ia sudah tahu Hyun Yoo tak suka diganggu. Terutama oleh dia. Padahal Dong Hae itu suaminya; kadang Dong Hae merasa butuh Surat Penegasan Perasaan Cinta dari Hyun Yoo.

 

...Ngomong-ngomong, itu apa?

 

Hyun Yoo melanjutkan lagi, "Kecuali jika bangunan ini roboh, hancur, luluh lantak, rata dengan tanah seperti tsunami. Baru aku menghentikan acara ini!"

 

Sekonyong-konyong guntur bergemuruh, diikuti petir yang menyambar dan kilat yang menerangi langit untuk sekejap mata. Jeritan kaget terdengar dari bangku audiens, yang sudah mulai grasa-grusu sejak Choi Gun Woo berpidato selaku Ketua Panitia Pesta di podium. Ng, tepatnya sejak hujan turun dengan galaunya.

 

Oh ya. Sampai lupa. Pesta penyambutan ini dimulai dengan pidato panjang (yang disamarkan dengan "sepatah-dua patah kata"—padahal lebih dari dua belas paragraf) dari Ketua Panitia, saudara Hyun Yoo yang juga maniak pesta.

 

Jeritan pelan terdengar lagi. Petir menyambar lagi. Hyun Yoo menatap ke jendela di luar aula. Hujan mengguyur dengan ganasnya. Sekali lagi guntur terdengar, ketika itu juga Hyun Yoo melihat beberapa tamu undangan menutup telinganya. Setelahnya petir yang lebih besar menyambar dengan bunyinya yang memekakkan telinga. Sekali lagi terdengar jeritan dari para audiens, dan keadaan mendadak jadi tidak terkendali.

 

Terutama setelah Aira menunjuk atap-atap berwana putih di atasnya sambil berkata, "Pak, bocor." Dan menghentikan pidato Gun Woo saat itu juga yang merasakan tetesan air jatuh di atas kepala duriannya. Ada. Air. Bocor.

 

"Dong Hae," ujar Hyun Yoo. Menatap sang suami tepat di mata, lurus. "Sampai Laos memiliki batas laut pun aku tidak akan menghentikan pesta besar penyambutan reinkarnasi putri Kerajaan ini!"

 

DUAAAR.

 

Itu petir, LAGI.

 

Tes. Tes. Tes. Tes. Tis—ehem.

 

Itu bunyi air yang merembes dari 15 titik yang berbeda di atap-atap aula yang mulai bocor. Gun Woo segera menggeser posisi berdirinya. Ia tidak mau rambut durennya yang sudah ditata sedemikian rupa itu hancur karena ditetesi air—DEMI PRUSIA YANG SUDAH MENGHILANG, AIR MAKIN BANYAK DAN MENGGENANG!

 

Sekali lagi jeritan terdengar dari para audiens. Kebanyakan anak perempuan dan para ibu (yang berusaha melindungi tatanan rambut spektakuler mereka, seperti Kazusa, ibu Karin yang bersasak satu meter) yang langsung menjerit-jerit histeris. Para ayah mencoba menenangkan, namun sepatu kulit mereka yang mahal terlanjur basah dan kaus kaki mereka lembap dirembesi air.

 

"KYAAA! BOCOR!" Jeritan sebangsa terdengar dari tiap sudut, seiring dengan kaki-kaki yang naik ke atas bangku berwarna putih. Tidak peduli bahwa warnanya telah berubah menjadi coklat kehitam-hitaman akibat lumpur yang ada di sepatu mereka. Ewww. Hyun Yoo sudah bersiap dengan suara TOA dan TOA tambahannya untuk mengendalikan keadaan (setelah melempar pandangan kematian pada Gun Woo yang menanggap keadaan ini sebagai tontonan sambil tertawa), ketika terdengar jeritan lagi. Entah dari siapa.

 

"Lebih baik ke kembali ke rumah! Kita bisa mati kelelep di sini!"

 

...Entah dari siapa. Mungkin dari orangtua tamu undangan yang sangat paranoid dan takut dandanannya yang luar biasa rusak. Ungkapan "mati kelelep" itu terlalu lebay untuk keadaan macam ini. Lagipula, air baru menggenang sekitar lima sentimeter, kok. Bocornya pun baru bertambah satu.

 

Apa? Kenapa tatapan kalian sinis begitu?

 

Lebih baik, kan, daripada lima bocoran baru? Lima sentimeter itu jauh lebih baik daripada satu meter, benar begitu, kan?

 

...Sepertinya aku lupa peribahasa "sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit".

 

Sebelum Hyun Yoo balas berteriak dengan TOA-nya, berbondong-bondong para orangtua beserta anak-anak mereka berlari keluar. Menembus hujan berpayungkan jaket atau apapun yang bisa dipakai untuk menutupi kepala berambut spektakuler ini. Bahkan memakai daun pisang; dapat dari mana?

 

Sekejap aula kosong melompong. Hanya angin yang berembus, menusuk tulang belulang. Menerbangkan daun-daun gugur yang menyelinap masuk lewat ventilasi tanpa kawat di dinding-dinding. Suara air yang menetes dari atas ke bawah sesuai sifatnya, menggenangi aula dengan ketinggian yang terus bertambah. Peribahasa klasik itu ada benarnya juga.

 

Meninggalkan Hyun Yoo dan Dong Hae yang berdiri menatap kekacauan dengan pilu dan keki yang luar biasa. TOA yang digenggam Hyun Yoo jatuh saat itu juga, membuat bunyi kelontang yang bergema di aula superbesar ini.

 

"... Hyun Yoo?"

 

Tepukan Dong Hae mampir ke pundak Hyun Yoo. Wanita berdada raksasa itu (ng, entah kenapa hanya ini yang khas dari Hyun Yoo) tidak merespon. Hanya menatap aula yang kosong dengan bola mata coklat madunya dengan pandangan yang sulit diartikan.

 

SYUUU~

 

"Ayo, pergi," kata Dong Hae. "Bahkan Gun Woo sudah tidak ada, lho." Menunjuk podium kecil di pojokan. "Pestanya ketika hujan sudah reda saja, sekarang biarkan mereka tidur barang sejenak. Hampir tengah malam."

 


Hyun Yoo berjalan gontai meninggalkan aula, mengekor Dong Hae yang sudah berjalan duluan di di depannya. Meninggalkan TOA itu sendiri... dalam sepi... terendam air yang sudah mulai mencapai betis jenjangnya.

.

 

(O_o)


EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
Re: The Henna . . . Maple II update, 15 June 2011
« Reply #19 on: June 15, 2011, 07:50:59 am »
Makasi ya, updetannya...

Loh, pesta tapi kok bintang pestanya ke mana yak? Terus si Ryu kok juga menghadap pak Kades? ini emang pertemuan yang kebetulan, atau emang mereka emang sengaja ke tempat pak Kades? bingung nee... [hmpfh] [hmpfh]...

Lanjut yaaa...

iiuuu

  • Guest
Re: The Henna . . . Maple II update, 15 June 2011
« Reply #20 on: June 15, 2011, 07:54:19 am »
gomawo mam uda dipindahin...

voldii lanjut chapt 3... wkwkwkwk..

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Henna . . . Maple II update, 15 June 2011
« Reply #21 on: June 15, 2011, 08:14:48 am »
tugas gw cuma mindahin, soal pertanyaannya gw ga bisa jawab [hmpfh] [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: The Henna . . . Maple II update, 15 June 2011
« Reply #22 on: June 15, 2011, 09:49:20 am »
Hahahaha.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline minhye

  • Newbie
  • *
  • Posts: 89
    • View Profile
Re: The Henna . . . Maple II update, 15 June 2011
« Reply #23 on: June 16, 2011, 02:26:04 am »
ko ryuu sma aira jadi tinggal serumah sich ....???trus nyonya shin itu kenal sma aira yach...?

gimana kehidupan mereka tuch klo dah serumah..?? [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

next chap ...

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Henna . . . Maple II update, 15 June 2011
« Reply #24 on: June 16, 2011, 04:43:32 am »
ko ryuu sma aira jadi tinggal serumah sich ....???trus nyonya shin itu kenal sma aira yach...?

gimana kehidupan mereka tuch klo dah serumah..?? [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

next chap ...
Nahhh bingung kan??!!! Gw jg ga ngeh nih,, authornya labil [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun