AKU BERTAHAN
BY : RIO FEBRIAN
SEDIH…KU TAHU KINI PERASAANMU KEPADAKU
SEDIH…SAAT KAU TAK YAKIN KEPADAKU, AKAN CINTAKU
JALAN BERLIKU TAKKAN MEMBUATKU MENYERAH AKAN CINTA KITA
TATAP MATAKU DAN KAU AKAN TAHU SEMUANYA YANG KURASAKAN
AKU BERTAHAN KARENA KUYAKIN CINTAKU KEPADAMU
SESERING KAU COBA TUK MEMATIKAN HATIKU
TAKKAN TERJADI YANG AKU TAHU KAU HANYA UNTUKKU
AKU BERTAHAN KARENA KUAKAN TETAP PADA PENDIRIANKU
SEKERAS KAU COBA TUK MEMBUNUH CINTAKU
YANG AKU TAHU KAU HANYA UNTUKKU
***
Aku (laki-laki) as goo jun pyo
Kamu (wanita) as geum jandi
• SEDIH…KU TAHU KINI PERASAANMU KEPADAKU
Lima minggu lalu, kita masih saling melengkapi, mengingatkan untuk istirahat diantara pekerjaan dan tak lupa mengingatkan untuk makan.
Kini semuanya telah berbeda, kau mungkin sedang meratapi kesendirianmu karena pada malam minggu kelabu itu aku memutuskan untuk istirahat, istirahat dari hubungan yang melelahkan, istirahat dari sindiran orang yang pedas.
Dulu sekali, aku akan maju terdepan menghadapi orang yang memandang sinis pada hubungan kita, aku tak pernah mau kamu, merasa sendiri karena hubungan ini.
Tapi persetan dengan itu semua, karena itu hanya masa lalu, masa dulu dalam hubungan kita. Sekarang hanya ada aku yang pura-pura berusaha melindungi bidadariku padahal dalam hati kadang merasa menyesal memiliki hubungan ini, bukankah ini berarti aku munafik? Masabodoh…
Lima minggu setelah itu, aku memutuskan untuk menyerah, ya setelah beristirahat panjang akhirnya aku menyerah…bukankah setiap hubungan yang diselingi jeda pada akhirnya akan habis. Tapi ku tahu pasti berakhirnya ini bukan karena mantra si CUPID sudah tak ampuh lagi, bukan sama sekali bukan karena itu, tapi karena aku si pengecut tak berperasaan, menyerah pada saat kau membutuhkan penguat.
• SEDIH…SAAT KAU TAK YAKIN KEPADAKU, AKAN CINTAKU
1 tahun berlalu setelah itu, aku beberapa kali merasakan kisah cinta dengan yang lain, orang lain. Semua kisahku tanpa hadangan yang melelahkan, bahkan aku dapat dengan bebas membawa yang lain keluar masuk pintu rumah keluargaku, dan semua menatap senyum pada yang lain itu, berbeda sekali bukan dengan yang mereka lakukan padamu?.
Aku melihatmu, kemarin. Dirumah sakit
ah jangan berfikir bahwa kau sakit,maka jika itu benar kisah ini akan sama murahannya dengan opera sabun yang sering di putar teve-teve.
Kau memakai seragam perawat, itu lebih dari cukup untuk menjelaskan kepentinganmu di rumah sakit ini. Beberapa kali aku melihatmu melewati ruanganku, dengan sedikit tersenyum jika tak sengaja kita berpapasan. Kau seperti orang lain sekarang, bahkan kepindahanku pada rumah sakit ini, seperti tak berarti sama sekali untukmu, benarkah?
Kita satu tim dalam satu operasi besar itu, operasi pertama yang ku pimpin, ya tentu saja bukan hanya ada aku dan kau dalam operasi itu, ada 2 dokter lain dan ada 3 perawat lain.
Kau sama sekali tak canggung pada waktu itu, tapi aku tahu kau kurang suka disitu, kenapa?
Kau terlihat dekat dengan dokter lain pada saat itu, aku tahu karena dia begitu sering menguatkanmu saat kau bingung, lalu siapa dia? Apa hubungannya dia denganmu?
Picik
Munafik
Pengecut
Pencemburu
Rasa tak suka membuatku mengambil tindakan kejam, dengan memecat dia, yang dekat denganmu sekarang.
Aku tahu kau marah, tapi kenapa kau tak menegurku, atau setidaknya menyindirku sebagai pemimpin idiot yang melepaskan dokter yang begitu cemerlang dalam setiap tindakannya. Biarkan, toh aku pemilik rumah sakit ini.
Kau begitu mengacuhkanku, pada saat yang lain sibuk menjilatku agar mendapat jabatan lebih di rumah sakit ini, malahan kau terkesan ingin cepat di singkirkan dari rumah sakit ini. Tapi itu tak akan pernah terjadi, tapi kenapa aku melakukan ini? Apa karena si CUPID mulai memantra-mantrai aku lagi? Tapi bukankah dari dulu mantra si CUPID tak pernah lepas dariku, jadi kenapa?
“kita coba lagi”
Aku menodongmu dengan satu kalimat permintaan yang bahkan terkesan seperti perintah.
Kau memandang bingung akan ucapanku, entahlah kau benar-benar tak tahu arah maksudku atau kau hanya pura-pura bodoh sehingga dapat melarikan diri dariku secepatnya.
“hubungan kita”
Mau tak mau kau harus mengerti arah pembicaraanku, aku melihat ada genangan air mata di matamu, dapat aku pastikan bahwa air mata itu bukan air mata kebahagiaan. Lalu air mata apa itu? Entahlah
“aku tak bisa”
Lirih kau ucapkan itu, kau seperti menahan sesuatu di hatimu, menahan lukamu yang ku koyak lagi.
Aku menarik nafas dalam, mencoba menahan amarah yang meletup-letup
“kenapa? Oh aku tahu karena laki-laki itu kan?”
Aku tak mampu merangkai kata-kata lagi, sehingga yang keluar adalah kalimat sinis yang menghakimi
Kau terkejut karena lontaran kalimat itu, mungkin kau tak habis pikir dengan sikapku ini, sangat munafik bukan? Ya memang inilah aku.
“bukan, aku sudah lelah dan mengalah pada yang lain, aku sudah cukup bosan dengan sindiran-sindiran orang”
Kenapa kau bisa setenang itu, kenapa kau tak menunjukan apapun padaku tentang perasaanmu, kenapa?
• JALAN BERLIKU TAKKAN MEMBUATKU MENYERAH AKAN CINTA KITA
Hari itu kau shif pagi, sama denganku, ya itu karena aku mengubah jadwalku agar sama denganmu.
Aku seperti anjing pengemis yang meminta cintamu, padahal dulu aku membuangnya.
Kau hanya tersenyum saat kita bertemu di pintu masuk, kau menghindariku, kau lebih memilih menyendiri dariku.
Dengan agak menyeret, aku memboyongmu ke rumah keluargaku, tanpa persetujuanmu aku melakukan itu, bahkan aku menolak mendengarkan penjelasanmu tentang hubunganmu dengan laki-laki lain, bukankah itu egois, memangnya kenapa? Toh aku rasa kau juga masih sangat mencintaiku, beberapa kali ku pergoki kau menatapku dengan paandangan sendu, itu artinya kau masih mencintaiku, bahkan mungkin sangat mencintaiku, aku adalah si pengecut gila yang selalu tak mau melepaskanmu.
Kau juga munafik…
Mengatakan tidak dimulut
Tapi ya di hati
Tatapan itu, sama sekali tak berubah, pandangan merendahkan dari keluargaku sama sekali tak lekang di telan waktu, kau tetap di anggap orang hina.
Betapa picik mereka, menganggapmu hina hanya karena kau yatim piyatu, di besarkan oleh tantemu yang penyanyi pub, memang apa salahnya, toh kau tak pernah menjajakkan tubuhmu, bahkan kau terlalu cerdas untuk melakukan itu. Kau memilih menjadi buruh cuci pakaian untuk menyambung hidupmu, lalu apa salahnya?
• TATAP MATAKU DAN KAU AKAN TAHU SEMUANYA YANG KURASAKAN
Kali ini aku menarikmu pergi dari mereka, aku tak mau kau kembali terluka.
Kau melepaskan peganganku begitu saja
“cukup, aku tak mau lagi”
Dasar munafik
Pembohong
Kau ucapkan itu tapi kau menangis, dan aku memelukmupun kau tak menolak
Kau sangat tak pintar bersandiwara, pantas saja tak pernah ada produser-produser yang menjadikanmu bintang film. Padahal kau cantik, kulitmu putih seperti bunga lili.
Aku merenggangkan pelukanku,
Kau menatapku pilu, pundakmu masih naik turun karena tangisaanmu
Bisakah kau merasakan, hatiku tak ingin lepas lagi darimu, tak mengijinkanmu dengan yang lain. Kali ini aku akan memberimu kepastian, aku tak mau kau terluka lagi, sungguh, percayalah
• AKU BERTAHAN KARENA KUYAKIN CINTAKU KEPADAMU
Sesuai perkiraanku, mereka tak akan membiarkan kita,
Terus menerus mereka mengusikmu, mencoba mengalihkanku pada wanita lain, yang aku sadar lebih darimu,tapi sungguh hatiku sekarang sudah tak bisa merasakan yang lain selain merasakan kau,,,
“menangislah disini”
Aku menyodorkan dadaku saat ku dapati kau termenung di ruang perawat, yang ku tahu baru saja kau mendapat telefon dari ibuku hingga membuatmu seperti ini, berjanjilah jangan pernah goyah manisku.
Karena aku akan mengenggam tanganmu, disetiap langkahku
Aku bahkan berani bersumpah untuk itu.
• SESERING KAU COBA TUK MEMATIKAN HATIKU
Kemarin sore, saat senja melingkupi bumi, ku lihat kau bersama yang lain,laki-laki sama yang ku pecat dulu.
Benarkah kau berpaling?
Aku hamper membunuh dia yang mengusik manisku
Jika saja kau tak memelukku dan meredakan semua kemarahanku
“kau tahu, aku sudah bersamanya”
Kau meninggalkanku, kau berpaling padanya
Lalu apa gunanya, aku menahanmu selama ini?
Marah
Benci
Dihianati
Ditipu
• TAKKAN TERJADI YANG AKU TAHU KAU HANYA UNTUKKU
Kau kira aku sebodoh itu hah? kau terlalu polos manisku.
Ku keluarkan beribu-ribu won untuk menguntitmu, aku sangat posesif bukan? Itu karena kau. Kau yang membuatku tak percaya pada penglihatan dan pendengaranku sendiri.
Kau meminta dia, menjadi tamengmu menghindariku, kenapa kau seperti itu?
Ibuku mengancammu lagikan, mengatakan akan menolakku jika kembali, mengucilkanku dari keluarga. Apa kau tak tahu itu lebih baik dari pada melepaskanmu lagi, kau adalah nafas dalam hidupku, kau adalah denyut dalam nadiku dan kau adalah debaran dalam jantungku, jadi bisakah aku hidup tanpamu?
Ku seret kau keruanganku, kuciumi kau membabi buta, entah yang menguasaiku sekarang nafsu atau kekesalan atau bahkan dua-duanya.
Tak pernah ku perlakukan kau seperti ini, tapi kali ini kau keterlaluan, berani sekali melepaskan genggamanku padamu, padahal aku tak bisa hidup tanpamu.
Tanda merah tergambar jelas dilehermu, bukti aku telah melakukan kekejian padamu, tapi aku tak puas dengan itu, aku tak mempedulikan jeritanmu, jari-jariku berkuasa menarik paksa kemeja yang kau pakai, lalu memaksa celana jens mu untuk enyah dari tubuhmu, kau adalah milikku, kau hanya milikku.
Kau terkesiap saat aku mendorong tubuhmu, menjatuhkanmu di kursi kerjaku yang akan menjadi saksi dosa kita.
Kau memukul-mukul dadaku dengan keras, kau benci padaku? Ah bukan kurasa, kau hanya bingung bukan
Aku menikmati mahkota dadamu dengan perkasa seolah ini adalah sudah kewajiban kita
Aku menyatukan diri kita, walau tak membuka pakaianku, hanya membuka resleting itu saja sudah cukup
Kau merintih kesakitan, mencoba menahanku, dasar munafik padahal kau juga menikmatinya juga bukan? Buktinya kau mengeluarkan desahan-desahan yang indah
Aku menekan sangat keras saat aku merasa ada dinding yang menghalangiku
“AKHHH”
Kau menjerit, sebagai tenaga medis juga aku tahu dengan jelas apa itu ‘himen (selaput dara)’
Aku orang pertama dan terakhir yang bisa memilikimu, aku pastikan itu.
Kau menangis saat semuanya berakhir, dadaku hamper lebam karenanya, tapi kau tak berkata apapun, aku tahu kaupun suka, kita sudah lelah dengan semuanya bukan
Mungkin hanya ini, yang dapat mengalihkan mereka, agar merestui kita.
“kau hanya milikku, dan inilah jalan untuk kita”
THE END
GAK JELAS
JELEK
LEWATIN AJA
TAPI KALAU BISA COMENT YA...