Author Topic: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″  (Read 37752 times)

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
ya ampun komenya pejuang alin dimana2 tujuannya sama JEBOL.hahaha.UPDATE yg ini sista
TAPI LU JUGA SUKA KAN NINIQ...CUMA MASI MALU2 KUDA.. [hmff]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
bukan malu malu kuda,melainkan malu malu tp mau.
[/size][/color][/b]

angelevillicia

  • Guest
kalo baca ff ini lega trs soalnya long..    [biggrin]
Jandiiiii Junpyooo uda mulai sama2 terpesona.
sist Cud Na, aku penggemar ffmu iniii.... kapan update next chapter??

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
ya ampun komenya pejuang alin dimana2 tujuannya sama JEBOL.hahaha.UPDATE yg ini sista
TAPI LU JUGA SUKA KAN NINIQ...CUMA MASI MALU2 KUDA.. [hmff]

Aww.. Aaw.. Ada arisan jebol menjebol  [hmff]
Sabaaar menanti yaaaw semuaaaa...  punk

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
kalo baca ff ini lega trs soalnya long..    [biggrin]
Jandiiiii Junpyooo uda mulai sama2 terpesona.
sist Cud Na, aku penggemar ffmu iniii.... kapan update next chapter??
Yeeeaaaayyy  [clap] gomawoooooo sist [flowers]
Ho'oh jandi sm jnpyo uudah nyetrum mulu klw deket, tp blm ada yg mau jujur [heh]
Next chap blm tau kapan niiih.. Tungguin yaaa  [bye]

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
NCUUDD kapan ini?? [what] udin dimintain tuh sama uniQ plus Alin [laughing] [laughing] UPDATE.. [smiley-gen013]

Love you more than I can say

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
arisan?jebol menjebol?kapan mulai mainx sist?udh g sabaran nih..oya nextchap bsokkan?kutunggu
[/size][/color][/b]

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
NCUUDD kapan ini?? [what] udin dimintain tuh sama uniQ plus Alin [laughing] [laughing] UPDATE.. [smiley-gen013]

Moooow.. Ane ikuut ngepoom poom girl ae  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [rofl]

arisan?jebol menjebol?kapan mulai mainx sist?udh g sabaran nih..oya nextchap bsokkan?kutunggu

Laaah ntu td pada arisan [hmpfh] huwaaaaa... Belom besok say.. Segeraaaa deeeh  [arms]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
update dong sudah 8bulan dianggurin,sebulan lagi lahiran
[/size][/color][/b]

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
I CAN’T CALM MY HEART

Chapter 5




GOMAWOOOOO MAAAAAAK EN_DREE NOONA YANG UDAH BIKININ BANNER INIIIIIIII  [cheekkiss] [flowers] [clap] [clap] [clap]

Jandi :   “Gyaaaaaaaaaaaaaaaa…… APA YANG KAU LAKUKAN?”

Ternyata junpyo, yang langsung menutup telinganya rapat-rapat mendengar teriakan jandi yang juga langsung menutupi bagian dadanya dengan kedua tangan. Ia menyudut di bathtub mengantisipasi setiap gerakan junpyo-tidak bisa berdiri karena tubuhnya polos. Junpyo sendiri serba salah harus bagaimana, kecuali terdiam terpaku.

Junpyo :   “Yah, kau bisa memecahkan telinga ku.” Protesnya :O

Jandi menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, tanpa sadar dia bahkan sulit menelan ludah karena sebenarnya tubuh junpyo juga polos, hanya mengenakan handuk yang dilingkarkan di pinggang. Wajah junpyo merona merah saat mata jandi tiba-tiba membulat besar menatap daerah sekitar sensitifitasnya yang tidak dapat dikendalikan.

Jandi :   “Ce.. ce..cepat Keluar, KELUAAAR…” teriaknya lagi, sambil menyiram junpyo dengan air di bathtub.

Junpyo :   “Yah, hentikan! Siapa suruh kau tidak mengunci pintu?” gelayatan menghindari percikan air.

Jandi :   “Goo Jun Pyo, kenapa kau suka sekali mengintip huh?” memonyongkan mulutnya kesal.

Junpyo :   “Mwo?” Ohya, junpyo baru ingat saat pertama kali mereka bertemu juga lebih kurang mirip dengan kejadian hari ini. “Dasar gadis toilet, sudah ku bilang aku tidak mengintip mu! Waktu itu maupun sekarang.” Tukasnya kesal dengan gigi rapat.

Jandi :   “CEPAT KELUAR!!!” >.<

Kali ini lebih keras lagi, tiba-tiba… tok tok tok….

“nonaaa…. Kau tidak apa-apa? Nona... ada apa?? nonaa...”

Ternyata teriakan jandi mengundang keributan, para pelayan menjadi khawatir dan mereka berbondong-bondong datang ke kamar untuk memastikan keadaan majikannya baik-baik saja. Jandi malu setengah mati, begitu juga dengan junpyo.

Junpyo :   “Lihat! Teriakan mu sangat memalukan!”

Jandi terdiam, melongo sambil berkedip berkali-kali. Itu memang benar, sudah bisa ditebak apa yang akan dipikirkan pelayan-pelayan itu.

Jandi :   “Aiissh Cepat berbalik. Goo jun pyo, cepat berbalik.” Kali ini berbisik, tangannya yang satu masih di dada, yang satu lagi mengisyaratkan junpyo memutar tubuhnya untuk membelakanginya. Junpyo menurut saja, jandi dengan cepat meraih kimono handuk di atas rak kemudian membalut tubuhnya ala kadarnya. Ia buru-buru keluar dari bathtub sementara pelayan lainya berteriak lagi.

Pelayan :   “nonaaa... gwenchanayo?”

Jandi :   “gwenchana...” agak keras.

Ah, terserah apa yang akan mereka pikirkan, yang penting dia bisa segera keluar dari sini. Para pelayan di luar berbisik-bisik sambil terkekeh.

Pelayan :   “Arasso nona... kami permisi” Suaranya terdengar begitu senang, jandi jadi sangat malu.

Keadaan mulai tenang, dapat dipastikan mereka sudah keluar dari kamarnya. Junpyo ragu-ragu kembali menoleh ke belakang melirik jandi yang lagi-lagi langsung menutup bagian dadanya dengan kedua tangan. Mata junpyo terkejab berkali-kali, gugup. Agak melirik tubuh polos jandi yang hanya terbalut kimono handuk. Keduanya jadi salah tingkah, menggaruk rambut yang sama sekali tidak gatal. Jandi ragu-ragu menatap tubuh junpyo yang membuatnya sesak nafas, dada bidang junpyo berotot kotak-kotak sampai ke perut, lengannya juga kokoh berisi. O.O

Jandi berniat lari dari sana, tapi namanya juga jodoh, saat melewati junpyo untuk kesekian kalinya dia malah nyaris terpeleset. Junpyo menangkapnya cepat, sontak jandi memeluk tubuh junpyo erat-erat. Terkejut bukan main.

Junpyo :   “Yah, hati-hati. Kau selalu ceroboh. Itu sangat berbahaya. Bagaimana kalau kau jatuh…”

Wajah jandi merona merah. Tangannya masih melingkar kuat di leher junpyo, sedangkan tangan junpyo melingkar ketat di pinggang jandi. Tanpa disadari, mereka masih saling berpelukan-enggan melepaskan diri. Jandi malu-malu mengangkat kepalanya, ragu-ragu membalas tatapan junpyo yang begitu menghanyutkan. Sumpah-tak seorang wanitapun dapat menghindar darinya –tidak juga jandi. Keduanya menikmati keindahan paras di hadapan masing-masing yang hanya berjarak beberapa inchi, merasakan hembusan nafas satu sama lain.
 
Perlahan pandangan junpyo menurun pada bibir merah yang sedikit terbuka itu, nalurinya sebagai seorang lelaki tidak mengizinkannya untuk diam saja. Junpyo semakin mendekati wajah jandi, sementara jandi semakin gugup. Meski dia tau apa yang akan junpyo lakukan, tapi sesuatu dalam dirinya menyuruh untuk tetap diam-seolah menginginkanya.

Tangan junpyo perlahan menyentuh wajahnya lembut, jandi menggeliyat semakin sulit menahan hasrat. Ingin membenamkan wajahnya dalam-dalam untuk menghindar, tapi matanya malah terpejam menikmati sentuhan lembut junpyo penuh gairah. Dahi mereka bahkan sudah saling menempel, hidung mancung junpyo menekan hidung jandi hingga wajahnya tersapu oleh hela nafas lelaki ini.

Junpyo memiringkan kepalanya untuk kemudian melumat bibir jandi lembut, perlahan dan semakin dalam. Hidung mancung junpyo menekan-nekan pipi jandi, bibirnya tanpa ampun melumat bibir jandi meski nafas sedikit tersengal. Jandi pun memberi akses pada lidah junpyo untuk menerobos rongga mulutnya, ciuman itu semakin memanas. Jandi semakin mengencangkan lingkar tangannya dileher junpyo, kepalanya memutar ke kiri dan kanan mengimbangi lumatan-lumatan junpyo. Tubuhnya tertarik semakin rapat oleh tangan junpyo yang menekan pingangnya, kemudian lambat-lambat jari-jari itu menyusuri lekuk-lekuk punggung mulus jandi. Junpyo dapat merasakan dada jandi menekan-nekan di tubuhnya yang juga ikut basah oleh sisa-sisa air di tubuh jandi.
 
“Mmmm…..”

Jandi tak dapat menahan desahan yang berkali-kali keluar dari mulutnya, sementara lumatan junpyo terus menyerang sampai jandi menggeliat geli saat bibir junpyo mulai berkeliaran di lehernya. Menjalari bahunya yang naik turun mengimbangi dadanya yang kembang kempis dipenuhi gairah. Tangan junpyo terselip ke dalam kimono handuk jandi, meraba-raba punggungnya, semakin lama semakin bergrilliya. Hingga… Jandi terhenyak saat tangan itu semakin liar menuju ke bagian dada, sontak matanya terbuka. Tiba-tiba jandi mendorong tubuh junpyo hingga ciuman itu terlepas, seolah tindakan junpyo begitu lancang.

Junpyo terperanjat, setelah melayang ke bulan tapi tiba-tiba saja harus terbanting ke bumi. Junpyo menatapnya penuh tanya, sebaliknya-jandi bahkan tak berani menegakkan kepalanya.
 
Junpyo :   “Waeyo?” suaranya serak.

Jandi buru-buru membenarkan posisi bajunya yang berantakan, gugup. Junpyo hanya memperhatikannya menunggu jawaban, tak habis pikir bagaimana jandi bisa menolaknya setelah sejauh ini. Sementara gadis ini terus menghindari tatapan junpyo, takut ketahuan kalau dia juga sangat berusaha melarikan diri dari kenikmatan yang baru kali ini dirasanya.
Awalnya junpyo mengira jandi sudah hanyut dalam dekapanya, bahasa tubuhnya mengatakan dia juga menginginkanya.Tapi...

Jandi :   “Mianhe Goo Jun Pyo...”

Mampukah kata maaf ini menjelaskan apa yang dirasanya saat ini? Junpyo tak mengerti, tak akan. Maaf untuk apa? Tanggung jawab karena telah membangkitkan gairahnya? Atau maaf seorang istri yang telah menolak suaminya? Jandi tak berani menjelaskannya, dia malah berjalan ke arah pintu meninggalkan junpyo yang melongo tak percaya.

Jandi :   “Aku harus mandi… keluarlah…” Memalingkan wajahnya menghindari pandangan junpyo.

Junpyo yang merasa terusir berlalu dari situ tanpa menoleh ke arah jandi sedikitpun, merasa putus asa saat jandi tidak juga merasa bersalah.

Junpyo masih melongo tak percaya menatap pintu yang sudah ditutup itu, sedangkan jandi tersandar lemas dibaliknya. Jandi sendiri merasa shock mendapati dirinya sangat menginginkan junpyo, ia benar-benar menginginkanya. Tapi untunglah pikirannya sekuat tenaga melarang, atau ia akan menjadi salah satu gadis bodoh yang menyerahkan diri mereka begitu saja pada junpyo. Jandi tidak bisa percaya pada junpyo, jelas-jelas ada jaekyung di hatinya.

Meski sama-sama tidak menyangka hal seperti ini bisa terjadi, bagaimanapun jandi adalah satu-satunya wanita yang menolak seorang junpyo. Bahkan jaekyung, yang berkali-kali menyerahkan dirinya, junpyo malah menolaknya. Tapi jandi? Dia tak habis pikir bagaimana jandi bisa berhenti di tahap ketika semua gadis akan memohon padanya.

Jihoo??? apa karena jihoo? raut wajah junpyo berubah marah mengingat kemesraan mereka. Ya, menyangka jihoo adalah satu-satunya alasan jandi menolaknya. Gadis itu bahkan tinggal bersama jihoo selama dua tahun di Boston, tidak mungkin tidak terjadi apa-apa antara mereka.

“Apa dia hanya menginginkan jihoo meskipun sekarang dia adalah istriku?” Pikirnya.

             =====================




Kediaman Keluaga Goo

Junpyo sudah dua malam tidak pulang, dia hanya kembali ke rumah di pagi hari dan kemudian berberes, lalu pergi lagi ke kantor. Terkadang jandi seharian tidak melihatnya, perlahan tingkahnya ini membuat jandi merasa kehilangan. Jandi tahu, junpyo berusaha menghindar darinya setelah kejadian di bathroom tempo hari. Terkadang rasa bersalah dan menyesal menggelayuti hatinya.

Seperti pagi ini, saat jandi masih berbaring di ranjang –sudah beberapa hari dia tidak tidur nyenyak-, junpyo masuk tanpa bersuara. Ia bergerak pelan agar jandi tidak terbangun, padahal jandi sama sekali tidak tidur. Junpyo langsung menuju bathroom, mandi dengan cepat kemudian memilih pakaian di closet. Jandi mendekati junpyo yang sedang konsentrasi dengan kancing-kancing kemejanya. Junpyo bersikap acuh saat menyadari keberadaan jandi di sisinya, ia terus melanjutkan kesibukanya. Andai junpyo tahu, betapa ketidakhadirannya telah membuat jandi gelisah akhir-akhir ini.

Jandi :    “Junpyo-yaa, apa kau pulang malam ini?”

Junpyo :   “Anyi.” tidak memperdulikan keberadaan jandi.

Jandi :   “Apa begitu sibuk?”

Junpyo :  “Anyi.” Lagi-lagi.

Jandi mulai tertekan.

Jandi:   “Kau kemana saja, apa kau baik-baik saja?”

Junpyo menghentikan aktivitasnya, dia tampak tidak senang dengan sikap jandi.

Junpyo :   “Ada apa denganmu Geum Jandi? Kenapa kau sekarang menanyakan tentang semua hal?” jawabnya ketus.

Jandi :   “Junpyo-yaa...” panggilnya pelan.

Junpyo :  “Sudahlah.”

Tanpa menoleh sedikitpun, junpyo pergi begitu saja. Jandi kesal, merasa tidak seharusnya merindukan suami seperti ini. Tapi… sebuah ponsel berdering, nadanya terdengar asing. Benar, bukan miliknya. Di layar ponsel junpyo itu tertera nama Jaekyung yang memanggil. Jandi sama sekali tak berniat menjawabnya, hanya tatapan jengkel jandi yang didapat oleh ponsel yang terus meraung-raung itu.

Dasar bandel, ponsel itu malah meninggalkan pesan yang membuat jandi tidak bisa menahan diri untuk tidak melihatnya.

“Junpyo-yaa, aku membuatkan sarapan untuk mu, mampirlah kesini..^^ Jaekyung ”

Darah jandi seakan berdesir dari ujung rambut sampai ujung kaki, ia terluka. Mungkin saja junpyo memang menghabiskan malamnya bersama wanita lain, tapi dihadapkan dengan kenyataan di depan mata seperti ini ntah kenapa jandi merasa tidak siap. Apalagi gadis itu adalah jaekyung. Wanita yang junpyo cintai.

Jandi berlari keluar-mengejar junpyo yang sudah hampir masuk mobil.

Jandi :   “Goo Jun Pyo”

Teriakannya berhasil menghentikan junpyo yang langsung menoleh meski terlihat acuh saat jandi berlari mendekatinya. Jandi menatapnya kesal.

Jandi :   “Ponsel mu tertinggal. Cepat pergi sana, jangan membuatnya lama menunggu.” Sambil menyodorkan ponsel pada junpyo.

Sikapnya itu, sungguh sulit di tebak. Baru kali ini terlihat kekanakan. Bahkan mata indahnya mulai merah dan berair, kenapa dia? Junpyo terheran-heran.

Junpyo :   “Mwo? Menunggu siapa?”

Jandi hanya menatapnya penuh arti, memojokkan junpyo hingga terkelu. Tatapannya sungguh penuh emosi yang tak bisa diartikan, marah? Cemburu? Atau benci? Sikap dingin junpyo mendadak ragu karenanya.

Jandi berlalu begitu saja dari hadapan junpyo-atau air di pelupuk matanya akan segera tumpah, meninggalkan junpyo yang kebingungan sambil menatap heran pada ponselnya. Setelah melihat pesan jaekyung, barulah dia mengerti ucapan possesif jandi tadi.

Junpyo :   “Kau marah karena ini? heh...” gumamnya pelan, terkekeh halus sambil menatap punggung jandi yang sedang berlari masuk ke rumah.



            ======================


Jandi bekerja lembur hingga larut malam. Tampaknya dia tidak mau perduli lagi dengan apa yang dilakukan junpyo, meskipun saat ini junpyo sedang bersama jaekyung atau wanita manapun di seluruh dunia, dia tidak akan perduli. Lama kelamaan jandi merasa pikirannya sudah tidak normal, bahkan dirinya sendiri tidak tahu apa maunya sebenarnya. Ini gila, ini bukanlah dirinya. Itulah sebabnya jandi terus menyibukkan dirinya dengan perkerjaan, sekuat mungkin menepis perasaan anehnya pada junpyo.

 “Perasaa apa ini? apa mungkin aku….. andwe… tidak mungkin… Mana mungkin Goo Jun Pyo?” Sejujurnya jandi tidak terima mengetahui dirinya telah jatuh, dalam cinta untuk seorang Goo Jun Pyo.

Beberapa hari berlalu, tidak jarang jandi tertidur di kantor. Kediaman Goo seperti rumah tak bertuan. Terkadang serketaris Jung mencari jandi di siang hari namun dia ntah kemana, tidak berada di rumah ataupun di kantor. Junpyo sama sekali tidak tahu aktivitas padat istrinya ini, mereka bahkan tidak bertemu beberapa hari terakhir.

Tapi hari ini, jandi harus menghadiri sebuah rapat di Shinwa, mungkin hanya ini alasan mereka bisa bertemu lagi setelah sekian lama. Masih mengenai proyek di Jepang, Jandi datang tanpa membawa asisten ataupun supir. Seluruh karyawan Shinwa menaruh hormat padanya meski jandi bersikap sangat sederhana dan rendah hati, terlihat akrab dengan siapa saja. Sangat berbeda dengan junpyo.

Serketaris Jung langsung membawa jandi menuju ruang meeting, rapat pun dimulai. Semuanya terlihat berkonsentrasi dengan pekerjaan mereka, sangat serius. Sesekali mata jandi dan junpyo bertemu, mereka beberapa kali saling melirik. Seluruh orang di ruangan itu pasti mengacungkan jempol untuk sikap professional keduanya. Ya, bagai api dalam sekam, siapa yang menyangka kalau mereka memang sudah lama tidak bicara.

Wajah jandi terlihat pucat, ia merasa berat membuka mata. Sesekali memegangi keningnya, junpyo hanya memperhatikanya saja.

Sek.Jung :   “Agashi, gwenchanayo?”

Jandi :    “Ne, gwenchana.” Suaranya lemah, tidak seperti biasanya.

Sek. Jung :   “Anda terlihat pucat nona.”

Jandi :    “Umm benarkah?” Katanya ragu.

Sek. Jung :   “Ne, agashi.”

Jandi masih berusaha konsentrasi menatap dokumen-dokumen di depannya meski perlahan-lahan pandangannya mulai kabur. Kepalanya pusing, tubuhnya terasa menggigil, tapi mencoba menahanya. Tapi tak seberapa lama, pandangan jandi mulai tidak focus, ia bahkan sudah tak kuat lagi menahan tubuhnya hingga langsung terhempas ke sandaran kursi. Tubuh mungil itupun tiba-tiba oleng. Bruuuukkk… jandi ambruk, pingsan.

Semua orang menoleh kearahnya, suara ambruknya cukup mengagetkan seisi ruangan yang senyap itu. Junpyo sontak berlari ke arah jandi yang sudah terkulai lemas di lantai.

Junpyo :   “Jandi-yaa.. Geum jandi…” menepuk pelan pipinya.

Tak ada reaksi, junpyo frustasi melihat wajah jandi pucat pasi dan tak sadarkan diri. Para relasi melirik satu sama lain, ruangan itu menjadi agak berisik karena orang-orang di dalamnya saling bertanya satu sama lain tentang kondisi jandi. Mereka jadi terpaku melihat junpyo begitu panik menggoncang-goncang tubuh istrinya, seperti tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Tampang dinginnya luntur begitu saja, para karyawan pun seolah takjub melihat sikap yang luar biasa asing bagi junpyo ini.

 “Omo… Cepat bawa dia ke rumah sakit.” Saran seorang relasi yang mungkin gregetan karena tak ada perkembangan berarti dengan kondisi jandi.

Junpyo :   “Apa yang kalian lihat, cepat siapkan mobil !!” bentaknya ntah pada siapa.

Serk. Jung :   “Sudah tuan muda, mobil nona sudah di depan”

Tanpa berlama-lama lagi, junpyo buru-buru menggendong jandi.

Junpyo :   “Pak Jung, cepat panggil dokter ke rumah.” Perintahnya sambil berjalan cepat sementara tubuh jandi berada dalam gendongannya.

Junpyo :   “Jandi-yaa… jangan menakutiku. Bangunlah…” gumamnya pelan, melirik jandi yang matanya masih terpejam. Tak ada jawaban…..



            ======================



Junpyo :   “Eotthoke dokter? Gwenchanayo?”

Junpyo memperhatikan lekat setiap pergerakan tangan dokter itu, egonya sedikit tidak terima saat si dokter meletakkan stetoskop di dada jandi, melepaskan satu buah kancing kemejanya. Junpyo jadi gelisah tak menentu. Konyol memang, ingin sekali rasanya dia menyingkirkan tangan dokter itu.

Dokter :   “Gwenchana, istri anda hanya kelelahan. Sepertinya dia belum makan apapun sejak kemarin, perutnya kosong. Mungkin juga sedikit stress, jadi harus banyak istirahat dan minum air putih.”

Junpyo :   “Benarkah?” menatap jandi dengan raut cemas.

Dokter :   “Ne, saya akan memberi vitamin dan beberapa obat demam. Yang penting istri anda harus banyak istirahat.”

Junpyo :   “Baiklah, berikan obat yang terbaik.”

Dokter :   “Arasso Tuan Muda, Kalau begitu saya permisi.”

Junpyo :   “Pak Jung, antarkan dokter keluar.”

Mr. Jung :      “Ne tuan muda.”

Junpyo duduk di sisi jandi yang sedang terbaring lemah. Mata indah itu belum juga terbuka, wajah cantik masih pucat. Junpyo ingin menyentuhnya, namun ragu.

Serketaris jung kembali dengan membawa dua buah map.

Serk. Jung :   “Tuan muda, ini dokumen yang harus anda tanda tangani. Mengenai rapat hari ini, para relasi bersedia menundanya.”

Junpyo mengambil dokumen-dokumen itu, menandatanganinya satu persatu dengan tatapanya kosong. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu, tidak berkonsentrasi dengan berkas-berkas itu.

Junpyo :   “Pak Jung, apa Independent sedang dalam kesulitan? Apa istriku bekerja terlalu keras akhir-akhir ini?”

Junpyo tidak tau dari mana kata-kata itu berasal, semuanya keluar begitu saja dari mulutnya. Kali ini benar-benar seperti seorang suami sungguhan.

Serk. Jung : “Anyi tuan muda, Independent Group baik-baik saja. Justru sangat baik. Nona geum bekerja sangat keras dan hasilnya sangat memuaskan. Hanya saja, beberapa hari ini nona tidak pulang dari kantor.”

Junpyo :   “Jincaa?”

Belum sempat Serkeraris jung menjawab, desahan halus jandi sudah mengalihkan seluruh perhatian junpyo.

Jandi :   “Emm…. Junpyooo”

Junpyo panik, terlukis kekhawatiran di wajahnya. Suara jandi lebih terdengar seperti rintihan, sebenarnya ia belum sadar penuh, matanya sulit terbuka. Seperti orang mengigau, tidak terlalu sadar dengan ucapanya.

Junpyo :   “Ne, jandi… Geum Jandi… Kau sudah sadar?”

Jandi :   “Junpyo….” Panggilnya lagi, begitu lirih. Junpyo menggenggam erat tangan jandi.

Setelah mengambil kembali map di pangkuan junpyo, serketaris jung keluar dari kamar mereka sambil tersenyum. Sementara seluruh perhatian junpyo tertuju pada jandi.

Junpyo :   “Ne. Aku disini. Dimana yang sakit?”

Perlahan kelopak mata jandi terbuka, sinarnya redup, tak seperti biasanya. Mata mereka bertemu, jandi mendapati junpyo sedang duduk di sampingnya dengan menggenggam tangannya, kesadaranya pun mulai kembali.

Junpyo :   “Gwenchana jandi-yaa?”

Jandi :   “Hem…”

Junpyo menyeka keringat di dahi jandi dengan handuk kecil berisi es yang tersedia di meja.

Jandi :   “Aku tidak apa-apa.” Jandi merasa segan dengan perhatian junpyo yang begitu hangat.

Junpyo :   “Diamlah, kompres ini bisa menurunkan panas.”

Junpyo dengan teliti merawat jandi penuh perhatian. Sentuhanya, selalu membuat jandi tergetar. Sentuhan hangat itu, yang mau tidak mau selalu jandi rindukan. Membuatnya berdebar, tidak meyangka ternyata junpyo memiliki sisi selembut ini. Jantungnya berdegup cepat, akan memeleh oleh sinar mata lelaki ini yang begitu gelap dan tenang, jandi benar-benar jatuh cinta. Tidak perduli seberapa hebat memungkirinya, dia telah jatuh. Jatuh hati pada seorang Goo Jun Pyo.

Dua orang pelayan yang datang membawakan bubur saling melirik satu sama lain saat mendapati majikannya bisa seakrab ini, baru kali ini melihat keduanya begitu mesra hingga tak menggubris kehadiran mereka sama sekali. Ada sesuatu yang berbeda dalam diri tuan mudanya hari demi hari, tak pernah sebelumnya melihat junpyo bersikap semanis ini pada siapapun.

Jandi :   “Aku tidak apa-apa, aku bisa makan sendiri.” Protes jandi saat sesendok bubur di tangan junpyo kini tepat berada di depan bibirnya yang agak kering. Junpyo tak mengubris penolakan jandi, dengan lembut ia menggeser tangan jandi yang sedang menutup rapat mulutnya.

Junpyo :   “Andwe, kau harus makan sekarang. Setelah ini minum obat.”

Jandi :   “Junpyo-yaaa....” memandang junypo dengan penuh Tanya, kembali ragu dengan perhatian yang didapatnya saat ini.

Hatinya bertanya-tanya, ada apa dengan junpyo? kenapa tiba-tiba sikapnya begitu manis? Melihat tatapan heran jandi padanya, junpyo jadi sadar dengan perhatianya, dia jadi salah tingkah.

Junpyo :   “Ehem… ayolaaah… cepat makan ini.”

Kali ini jandi menerima suapan pertama dengan pasrah. Lidahnya kelu, tak mampu membantah seolah ini adalah kesempatan yang langka.

Junpyo :   “Apa ada masalah?” sambil menyupi jandi.

Jandi :   “Mwo?” alisnya terangkat, tak mengerti dengan pertanyaan junpyo.

Junpyo :   “Kenapa bekerja sampai jatuh sakit? Aku dengar kau tidak pulang.”

Benar, lelaki ini sama sekali tidak menyadari penyebab semua ini adalah dirinya. Karena ingin menghindar darinya, karena tidak mau memikirkannya, karena itulah jadi begini.

Jandi :   “Aniyo.. semua baik-baik saja.”

Junpyo :   “Benarkah? Lalu kenapa tidak pulang?”

Jandi tidak tau harus menjawab apa, mana mungkin jujur secepat ini sementara ia juga baru menyadari perasaannya yang kali ini tak mampu ia hindari lagi. Sikap manis junpyo sudah meluluhkan semua pertahanan dirinya, ia benar-benar menginginkanya.

Jandi :   “Apa aku harus makan obat sebanyak ini?”

Jandi buru-buru mengalihkan perhatian junpyo, mengotak-atik obat-obat yang dokter berikan untuknya.

Junpyo :   “Ne. Cepat habiskan bubur ini.” jawabnya pasti tanpa tawar-menawar.

Tapi lagi-lagi jandi menolak, tidak biasanya dia bersikap manja seperti ini.

Jandi :   “emmm.....” menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Junpyo :   “Ayo, cepat buka mulut mu!”

Jandi menggelengkan kepalanya keras, membuat junpyo jadi serba salah.

“Aiissh.....” Lagi-lagi dengan sabar junpyo menyekap tangan jandi agar dia tidak bisa digunakan untuk menutup mulutnya.

Junpyo :   “aaa....” menyuruh jandi mangap, berhasil menyuapkan sesendok bubur lagi.

Melihat perhatian junpyo padanya, jandi jadi terharu

Jandi :   “Mianhe junpyo-yaa, aku sudah merepotkanmu.”

Junpyo :    “Apa lagi yang bisa ku lakukan melihat istriku sakit.”

Blap !!!! keduanya terdiam. Kata-kata itu keluar begitu saja, junpyo langsung sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Dia sendiri tidak percaya, apalagi jandi. Berkali-kali matanya berkedip bingung, gugup, tidak berani menghadap pada jandi. Sebaliknya, jandi menatap junpyo tanpa berkedip sedikit pun, mungkin berharap penegasan. Merasa salah dengar, bahkan mungkin ada yang tidak beres dengan pendengaranya.

Junpyo :   “ehem… am…am…. Maksud ku…. jika kau sakit, apa yang harus aku katakan pada omma dan appa mu. Nanti mereka malah berfikir aku menyiksamu!”

Jandi cuma melongo kaku, pipinya memerah, junpyo masih salah tingkah. Dia terlalu gengsi dengan perasaanya saat ini, -yakinlah- ia tidak akan mengatakan bahwa ia mencemaskan jandi. Tidak akan!

Junpyo :   “Yah, maka nya kau harus minum obat!” tiba-tiba jadi galak lagi -_-“

Jandi :   “Gomawo Goo jun pyo!” Kali ini matanya berbinar, terkesima sambil menyembunyikan senyum simpul yang membentuk lesung manis di pipinya.

Junpyo jadi kaku melihat sinar mata jandi yang begitu takjub menatapnya, ragu-ragu ia membalas tatapan itu. Deg deg deg, keduanya mulai berdebar, ada perasaan yang begitu rumit yang membuat mereka tak mampu menahan diri. Wajah junpyo begitu saja mendekati jandi yang seakan memang menunggu, memejamkan matanya perlahan, bibirnya terbuka menanti sesuatu yang kenyal melumatnya. Hembusan nafas junpyo menyapu wajahnya yang hanya berjarak beberapa inchi. Dari sisa-sisa jarak antara keduanya, diam-diam junpyo menatap seluruh lekuk wajah sempurna jandi, mengagumi kecantikan gadis ini, pipinya yang putih mulus, kini merona. Tapi tiba-tiba…..

Tok tok...

“Tuan muda, teman-teman anda ingin bertemu.”

Yaaaaahhh... suara si pelayan membuyarkan niat keduanya. Junpyo langsung bangkit –panik- Jandi pun langsung membuka matanya gugup.

Rela tak rela junpyo menuju pintu, dengan malas membukanya. Mereka semua sudah ada di sana, jihoo, yijung, woo bin dan jaekyung. Wajah panik junpyo dapat ditanggap oleh mereka, bahkan mungkin masih terlihat mupeng.

Woo bin :    “Yo... apa yang kalian lakukan, berduaan di kamar siang bolong begini. Huh?”

Wajah junpyo memerah seakan tertangkap basah, menatap mereka satu per satu, bingung.

Yijung :   “Kami dengar jandi sakit. Bagaimana? Kami boleh melihatnya?”

Yijung tersenyum nakal, berusaha menyadarkan junpyo yang belum juga mempersilahkan mereka masuk. Kecuali jaekyung, sepertinya yang lain benar-benar ngotot untuk bertemu jandi. Junpyo tidak punya pilihan lain, dia hanya diam membiarkan mereka masuk ke kamar mereka. Saat jihoo melewati junpyo, mereka sempat saling bertatapan aneh, jaekyung menyadari hal itu.

Jihoo, woobin, dan yijung dulunya sudah terbiasa masuk ke kamar junpyo, tapi sejak junpyo menikah, baru kali ini mereka menginjakan kaki di kamar ini lagi. Mereka melirik ke seisi kamar, melihat kamar ini sudah banyak berubah, sangat nyaman untuk sepasang pengantin baru. Ranjang yang besar, design romantis, banyak pernak-pernik wanita, foto pernikahan. Jaekyung miris, dalam hatinya sungguh iri pada jandi, karena mungkin seharusnya dialah yang berada di sini.

Woo bin :   “Yah, Junpyo-yaa kamar mu sejak kapan jadi romantis begini..” sambil nyengir memandang setiap sudut kamar lalu tanpa basa-basi mengedipkan matanya pada junpyo, membuat junpyo gugup. Semua orang juga bisa menangkap apa yang ada dalam pikiran woo bin. Apa dia selalu bicara apa adanya? Tidak tahukah efek dari ucapanya? Malangnya, setajam belati yang mampu merobek-robek hati jihoo dan jaekyung.

Jihoo langsung menghampiri jandi yang terbaring lemah di tempat tidur.

Jihoo :   “Jandi-yaa, apa yang terjadi?”

Dengan cepat telapak tangannya mendarat di kening jandi bak thermometer, terlihat sangat khawatir. Junpyo memandangnya dengan tatapan risih, tiba-tiba saja hatinya jadi panas.

Yijung :   “Gwencanayo jandi-yaa?”

Jandi :   “Gwenchana oppa, gomawo kalian datang menjenguk ku. Aku sudah agak baikan, junpyo merawatku dengan baik.”

Jandi melirik junpyo, tersungging senyum manis di bibirnya. Tapi ‘si Goo Jun Pyo yang hebat’ tetap tidak mau kalah dengan gengsinya, apalagi di depan teman-temannya. Ia malah memalingkan wajah, menghindari prasangka mereka. Lain halnya dengan jihoo yang sedari tadi terdiam menatap jandi, menyadari sesuatu melalui tatapan gadis ini. Jihoo terlalu mengenalnya, dia tau percis arti sinar mata yang selalu diharapkannya itu. Pancaran cinta yang tak pernah sekalipun dilihatnya kecuali saat ini, saat menatap Goo Jun Pyo.

Jaekyung:   “Jandi-yaa, aku bawakan bubur ginseng untuk mu. Ini baik untuk memulihkan kesehatan mu. Makanlah!” 

Jandi :   “Gomawo onnie. Tapi aku baru saja selesai makan, nanti aku pasti akan memakannya.”

Junpyo :   “Yah, kau memang harus banyak makan. Dokter bilang perut mu kosong.” Celetuknya.

Jaekyung :   “Kau sendiri junpyo? Kau juga sangat sibuk, jangan sampai jatuh sakit. Aku bawakan makanan kesukaan mu!”

Junpyo :   “Aku baik-baik saja.”

Memperhatikan sikap jaekyung pada junpyo, terbesit kesadaran dalam diri jandi. Mungkinkah cintanya hanya akan menyulitkan? Huufhh…

Junpyo, yijung, woo bin dan jaekyung bergurau di balkon sambil menikmati teh jepang yang baru saja pelayan siapkan, sedangkan jihoo menemani jandi di dalam.

Jihoo :   “Gwenchana jandi-yaa?”

Jandi :   “ Gwenchanayo oppa.. Aku hanya kelelahan, jangan khawatir!”

Jihoo :   “Benarkah? Saat di Boston kau sering mimisan, kau juga bilang tidak apa-apa, tapi lihat saat kau harus di rawat di rumah sakit. Jandi-yaa, jangan terlalu memaksakan diri mu.”

Jandi :   “Emm.. saat itu kau merawat ku sampai sembuh dan merahasiakanya dari appa dan omma, gomawo...” Jandi malah mengalihkan pembicaraan di saat jihoo serius mencemaskannya.

Jihoo :   “Jadi sekarang aku bahkan tak boleh mencemaskan mu?” katanya tanpa menatap jandi, jandi tidak tau ada apa dengan jihoo. Tidak biasanya dia bersikap sensitif seperti ini.

Jandi :   “Yah, oppaaa.. aku hanya tidak ingin kau cemas. Kau kan seorang dokter, bagaimana bisa bicara seperti itu pada pasien?” jandi memonyongkan mulutnya manja.

Jihoo :   “Kalau begitu tetaplah seperti itu. Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja.” Kali ini menatapnya serius-tetap tanpa ekspresi.

Jandi :   “Mwo?” Jandi jadi ragu dia sedang serius atau bercanda.

Jihoo   “Aku akan menjemputmu, memastikan kau makan, dan mengantar mu pulang. Aku akan mengawasi mu!” ancaman yang manis ;)

Jandi   “Oppaa... Apa kau akan selalu begini pada semua pasien mu?“ keduanya terkekeh.

Dan ternyata junpyo mendengar semua pembicaraan mereka. Tanpa sadar, tangannya terkepal pertanda cemburu sedang memuncak sampai ke ubun-ubun. Kenapa harus jihoo yang terlebih dulu di sisi jandi? Sekarang lelaki ini bersikap seolah jandi adalah miliknya, sementara gadis itu adalah istri goo jun pyo. Junpyo benar-benar gerah.



            ====================


Jandi masih terbaring lemah, ia lebih banyak tidur karena pengaruh obat yang diberikan dokter. Saat terbangun, jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Kepalanya terasa pusing, perutnya mual. Dia menoleh ke setiap sudut kamar, tapi tak menemukan keberadaan junpyo. Perlahan jandi bangun meski kepalanya semakin pusing, kakinya menatapaki lantai yang terasa dingin baginya, ia tak bisa berbuat banyak -memakai sandal atau apapun itu- sudah tak sanggup. Dengan sempoyongan jandi berjalan perlahan menuju bathroom, memegangi apapun yang bisa diraihnya untuk menopang tubuh, wajahnya semakin pucat, keringat dingin menitik di dahi.

Sampai di bathroom, jandi ingin muntah, tapi dia bahkan sudah tidak sanggup berdiri. Lututnya terasa lemas, pandangannya kabur, seisi bathroom serasa berputar. Tangannya meraih apapun untuk menahan tubuhnya yang segera ambruk. Sialnya, jandi tidak sengaja malah menarik kran shower, dan bruuukkk.... Ia jatuh pingsan di lantai, diguyur air yang lumayan dingin.

-Selang beberapa menit-
Junpyo kembali ke kamar setelah dari ruang kerjanya, ia mendapati tempat tidurnya kosong, yang kemudian mendengar suara guyuran deras air dari dalam bathroom. Tanpa berfikir lagi secepatnya junpyo berlari ke sana. Benar saja, ia langsung panik mendapati jandi dalam keadaan basah kuyup tergeletak di lantai.

Junpyo :   “Oh God, JANDI...” terbelalak ngeri.

Junpyo membanting shower malang itu semarah mungkin dan langsung memeluk jandi erat, menopang tubuh mungil jandi di dadanya seolah ingin menyalurkan seluruh kehangatan yang dimilikinya.

Junpyo :   “Jandi-yaa…” panggilnya panik tapi jandi tak juga bereaksi, tanpa disadari ada setitik butiran air di ujung mata junpyo sakin paniknya.

Ia buru-buru menggendong jandi ke tempat tidur, semakin bingung saat melihat wajah jandi pucat pasi.

Junpyo :   “Jandi-yaa…” menepuk-nepuk pipi yang putih dan dingin itu. “Jandi… aku mohon.…” panggilnya lirih. Untunglah kali ini jandi merespon, setidaknya junpyo sedikit lega.

Jandi :   “hhh.. junpyoooo” suaranya sangat lemah, seperti ingin menangis.

Junpyo :   “Waeyo? Apa yang terjadi? Tenanglah, kau kedinginan? Aku akan menghangatkan mu.”

Sebenarnya dialah yang harus tenang, junpyo tanpa sadar -meski ragu- langsung melepaskan pakaian jandi yang basah kuyup.

Jandi :   “Apa... yang kau lakukan” desahnya lemah, antara sadar dan tidak. Susah payah tangannya menutupi dadanya.

Junpyo :   “Tubuh mu basah kuyup. Lihat, bahkan ranjang kita juga akan basah. Ganti pakaian dulu, lalu aku akan memanggil dokter.” Ranjang kita ??? hmpfh

Jandi belum mau menyingkirkan tangan di dadanya.

Junpyo :   “Yah... Bagaimanapun kau istriku, biarkan aku melepas pakaianmu, atau kau terus menggigil seperti ini.” O.O Kali ini, Istri ku ???

Kata-kata junpyo tak dapat dicerna lagi oleh jandi, dia benar-benar tak berdaya. Perlahan junpyo melepas satu per satu pakaian jandi dengan penuh konsentrasi. Bagaimana tidak, melihat tubuh indah itu bisa-bisa junpyo malah melenceng dari niat awalnya.

Junpyo :    “Kita ke rumah sakit saja?”

Jandi :   “Andwee… aku tidak mau!” terdengar seperti desahan, tubuhnya yang kini terbungkus selimut didekap oleh junpyo erat-erat.

Junpyo :   “Kalau begitu aku akan memanggil dokter.” Tepat ketika pelukan junpyo terasa mengendur, jandi semakin merapatkan tubuhnya di dada junpyo.

Jandi   “Junpyo-yaa jangan pergi, aku kedinginan...”

Junpyo :   “Masih dingin? Eotthoke..”

Junpyo jadi semakin kebingungan, ia tidak tau apa lagi yang bisa dilakukan, pelukan eratnya tak mampu menghangatkan tubuh jandi. Dengan terburu junpyo menuju closet dan mengacak-ngacak isinya mencari selimut, dia bahkan tak tau dimana pelayan-pelayan itu menyimpan selimut. Yang didapatnya malah beberapa kimono yang tergantung berjejer, tanpa berlama-lama junpyo merampas kimono tebalnya dan buru-buru memakaikannya pada jandi.

Junpyo :   “ Bagaimana? Sudah lebih hangat”

Jandi :   “emmm....”

Junpyo kembali memeluk tubuhnya erat, menyandarkan kepala jandi di dadanya, membelai lembut rambutnya yang terasa wangi di penciuman junpyo. Betapa nyamannya rangkulan junpyo hingga jandi sebentar saja terlelap nyaman. Tersungging senyum tipis di bibir junpyo saat menatap jandi yang begitu pulas, seolah tak terusik oleh debaran jantung junpyo yang tak menentu. Seperti menemukan belahan jiwanya, tak pernah senyaman ini sebelumnya. Ia bahkan tak berani bergerak karena takut jandi terbangun, perlahan-lahan junpyo berbaring sambil tetap menjaga jandi dalam pelukannya. Tak pernah terbayangkan olehnya, menidurkan seorang gadis yang seolah sama sekali tak sadar bahwa dia adalah seorang lelaki dewasa.



            ======================



Pagi ini terlihat sangat cerah, matahari bersinar terik dengan suhu udara yang hangat, junpyo dan jandi menikmati sarapan mereka berdua. Selama dua hari junpyo merawat istrinya dengan penuh perhatian, ia bersikap seperti seorang suami yang sempurna. Membuat Jandi semakin terjebak dalam cintanya.

Jandi :   “Junpyo-yaa, ayooo lah…. Appa sedang di Ausie, Independent membutuhkanku.”

Jandi berusaha membujuk junpyo untuk mengizinkanya kembali bekerja. Tapi junpyo terus melarangnya.

Junpyo :   “Kau kan belum pulih, bagaimana kalau pingsan lagi?”

Jandi :   “Junpyo-yaa, aku akan makan teratur dan pulang tepat waktu. Jangan khawatir, jihoo oppa akan menjemput dan mengantar ku. Dia itu tidak akan melepaskanku begitu saja.” Maksudnya, jihoo sudah berjanji akan mengawasinya. Bukanya lega, junpyo justru semakin marah. Mendengar itu, dia kesal dan langsung mengiyakan kemauan jandi.

Junpyo :   “Ne, dia memang tidak akan melepaskan mu! Terserah kau saja!”

Junpyo berlalu tanpa menyelesaikan makannya, meninggalkan jandi yang kebingungan.

Jandi :   “kenapa dia tiba-tiba marah begitu?” gumamnya heran O.o”

Setiap hari jihoo menjemput dan mengantar jandi, dia juga selalu datang ke kantor tepat pada jam makan siang. Junpyo sendiri bahkan tidak mempunyai kesempatan untuk memberikan perhatian pada istrinya, dia selalu kalah start dari jihoo. Terkadang junpyo pura-pura pulang cepat meski kerjaanya masih menumpuk, tapi jandi justru belum pulang dan lagi-lagi harus melihat jihoo mengantarnya. Setiap kali junpyo menghubungi jandi, saat itu pula ada jihoo di sisinya. Junpyo kesal bukan main, dia benar-benar marah pada jihoo. Ujung-ujungnya dia malah datang pada jaekyung, mabuk, dan melampiaskan keluh kesahnya. Jaekyung tidak sanggup menghadapinya, junpyo selalu bicara soal jandi. Dalam ngigaunya pun terus memanggil nama jandi, jaekyung mulai merasa posisinya di hati junpyo terancam dengan kehadiran jandi. Dia tidak bisa menerima ini semua, tidak bisa membiarkannya. Tapi bagaimanapun sampai detik ini junpyo tetap datang padanya, tetap menjadi tempat junpyo bersandar.

 
            =======================


Shinwa Group

Junpyo dan beberapa staff keuangan berjam-jam berada di ruang meeting. Dari pagi sampai sore, semua staff dibuat kelimpungan, junpyo marah-marah mendapati pengeluaran besar yang tidak terdeteksi. Staff keuangan tidak bisa menemukan pengucuran dana tersebut.

Junpyo :   “Bagaimana bisa pengeluaran sebesar ini tidak terdeteksi? Apa saja kerja kalian?”

Salah satu staff : “Maaf presdir, kami akan segera menemukannya.”

Junpyo :   “Tidak perlu, aku tidak punya waktu menunggu pekerjaan karyawan yang tidak beres. Pak Jung, cepat cari tau! Dan kalian, siap-siap menerima surat mutasi besok.” Jari telunjuknya terarah ke para staff yang dari tadi terus menunduk ketakutan, wajah mereka langsung berkerut saat junpyo pergi meninggalkan ruangan, diikuti serketaris jung.



            ======================



Kediaman keluarga Goo
Pukul 9 PM

Junpyo :   “Apa istriku sudah pulang?” tanyanya pada seorang pelayan yang mengikutinya ke ruang kerja.

Pelayan :   “Belum tuan muda.”

Tiba-tiba..

“Kau mencariku?”
Junpyo dan si pelayan langsung menoleh ke belakang tempat suara berasal, jandi tersenyum memamerkan lesung pipi yang manis itu. Si Pelayan langsung membungkuk untuk kemudian pergi meninggalkan mereka berdua di ruang kerja junpyo.

Junpyo :   “Kau sudah pulang?” Karena ketahuan mencari jandi, dengan gengsinya junpyo berusaha mengalihkan perhatian.

Jandi :   “Aku juga baru sampai. Waeyo? Kau ingin mengatakan sesuatu padaku?”

Seeerrr... pipi junpyo langsung terasa panas, seperti orang yang tertangkap basah, junpyo langsung memalingkan wajahnya untuk menghindar dari tatapan jandi. Seolah takut jandi berhasil membaca perasaannya saat ini, bagaimana kalau sampai ketahuan kalau dia sedang merindukannya? Junpyo jadi gugup.

Junpyo :   “Anyio, kenapa setiap hari kau pulang larut malam huh?” Selalu menyembunyikan perasaannya lewat raut kesal yang tak beralasan.

Jandi :   “Aku harus mampir ke suatu tempat dulu.”

Jandi berjalan menuju sofa sementara junpyo duduk di meja kerjanya. Jandi menjatuhkan diri disana, bersandar pada bantalan sofa yang empuk. Ia menghela nafas panjang seakan sangat kelelahan. Junpyo hanya memperhatikannya sambil mengulum senyum. Sepenat apapun pekerjaanya di kantor, junpyo selalu bisa tersenyum ketika tiba di rumah. Tidak seperti dia yang sebelumnya, sejak ada jandi, sejak itulah dia mulai sering tersenyum sendiri.

Junpyo :   “Kau bersama jihoo?” nadanya terdengar possesif.

Jandi :   “Ne. oohh.. aku lelah sekali.” Lagi-lagi menghela nafas sambil mengetuk-ngetuk pelan pundaknya sendiri.

Junpyo :   “Tidurlah, untuk apa disini? Tidak perlu menungguku. Aku masih harus menyelesaikan audit keuangan malam ini juga.”

Junpyo terus mengoceh sementara pandangannya terfokus pada layar laptop di depannya, jarinya dengan cepat menekan keybord tanpa henti. Tapi ocehannya sama sekali tak mendapat respon dari jandi, sejenak ia menghentikan pekerjaannya. Melirik ke arah sofa yang ternyata…. Gadis itu sudah tertidur pulas disana. Oh, benar-benar, siapa yang menunggu siapa? Junpyo menghela nafas tak percaya, merasa benar-benar bodoh.

Tak bisakah dia mengerti perasaan junpyo? Betapa saat ini sangat merindukannya, tapi jandi malah tidur di ruang kerjanya. Bagaimana dia bisa konsentrasi, persetan dengan audit, atau dengan uang yang hilang. Pemandangan di depannya lebih menarik perhatian junpyo.

Perlahan junpyo bangkit dari tempat duduknya, berjalan ke arah jandi tanpa melepaskan pandangannya dari gadis itu. Ia berjongkok tepat di hadapan jandi yang duduk –sambil tertidur-. Ditatapnya wajah lelah gadis ini, kepalanya terkulai –tersandar- pada bantalan besar di sisinya. Bulu matanya lentik, bibirnya merah muda sedikit terbuka, pipinya mulus tanpa cacat secuilpun.

Junpyo tak sanggup lagi membendung perasaannya, ingin sekali menyentuhnya, membawa gadis ini dalam pelukannya. Ragu-ragu tangan junpyo meraih pipi jandi yang dingin, mengusapnya perlahan karena takut membangunkannya. Lambat-lambat sentuhannya turun ke bibir yang sangat ingin dilumatnya itu, kali ini mata jandi mulai bergerak, junpyo buru-buru menarik tangannya. Jandi menggeliat, kepalanya jatuh ke sisi yang lain sementara matanya tak juga terbuka. Terlihat dua buah gundukan di dadanya yang seolah ingin keluar dari jas dan kemeja kerjanya. Junpyo kesulitan menelan ludah melihat paha mulus yang hanya terbalut short skirt, pandangannya menurun menyusuri kaki indah yang jenjang itu.

“Huuuuffhhh...” junpyo mengehela nafas panjang, memalingkan wajahnya dari tubuh jandi, menahan hasrat untuk menyentuhnya.

Junpyo :   “Aissh.. gadis ini.. benar-benar membuatku gila.” Gumamnya dalam hati.

Tanpa berlama-lama lagi, junpyo menyelipkan lengannya di belakang lutut jandi, yang satunya lagi memegangi pundaknya untuk kemudian menggendong jandi ke kamar.

------------------------------

Junpyo perlahan meletakkan jandi di tempat tidur, dilihatnya jas ketat yang membalut tubuh gadis ini. Ragu-ragu junpyo melepaskan kancingnya satu persatu, kemudian berusaha menanggalkannya. Tapi mendadak jandi malah terbangun, matanya merah-ngantuk, terbuka perlahan dan langsung bertemu dengan mata junpyo. Keduanya terdiam kaku, jandi mengejap-ngejapkan matanya berkali-kali, memastikan dia tidak sedang bermimpi.

Jandi :   “Kau?” tanyanya ragu sambil melirik tangan junpyo yang terhenti saat sedang melepas jasnya.

Junpyo :   “Aku... aku...” dia tidak tau harus bilang apa, ntah jandi percaya kalau ia hanya ingin jandi tidur dengan nyaman. Tapi untuk apa membuatnya nyaman? Apa perdulinya? Gensinya tak membiarkan dirinya berkata jujur.

Junpyo langsung menyingkirkan tangannya dari tubuh jandi. Perlahan jandi bangkit, menatapnya heran.

Junpyo :   “Jangan tidur di ruang kerja ku. Cepat ganti baju dan tidur.” perintahnya terdengar galak. Jandi meruncingkan bibirnya.

Junpyo buru-buru keluar dari kamar, merasa kesal. Percuma saja, tak ada gunanya begitu menginginkan jandi, dia pasti ditolak mentah-mentah lagi. Dahinya terhenyit kesal, melangkah lebar-lebar menuju ruang kerja.



            =========================



Keesokan harinya,
Shinwa Group


Junpyo :   “Pak Jung, bagaimana? Kau sudah menemukannya?”

Serketaris Jung :   “Tuan muda, maaf… kami belum tau kemana dana sebesar itu digunakan, mungkin masih membutuhkan sedikit waktu. Hanya saja...”

Junpyo berpaling dari pekerjaanya, menoleh ke arah pak jung yang terlihat ragu.

Junpyo :   “Katakan, siapa yang menggunakan uang itu?”

Serketaris Jung masih ragu mengatakannya, tapi junpyo terus menatapnya dengan tampang yang sejak awal sudah kesal.

Junpyo :   “Pak Jung?” sedikit keras.

Serketaris Jung :   “Rekening itu mengindikasikan dana terjun ke pemasukan Independent Group namun kami belum mengkonfirmasi. Apa aku harus membicarakanya dengan nona, tuan muda?”

Bibir junpyo langsung terbuka, tapi tak bisa berkata. Ia terhenyak, tak menyangka sama sekali akan mendengar penjelasan seperti ini dari serketaris jung. Seketika konsentrasinya blank. Ingin sekali berfikir positif, namun berbagai perasaan muncul tak terkendali.

Jandi? Kenapa bisa jandi? Ntah kenapa junpyo tiba-tiba merasa takut. Bukan uang, bukan dana, bukan pula perusahaan. Tapi yang ditakuti adalah hatinya.

Junpyo :   “Biar.. aku.. saja… yang membicarakanya dengan jandi. Kau boleh pergi.”  Terbata, tatapannya kosong.

Serketaris Jung membukuk dan berlalu dari situ, dia tahu tuan mudanya pasti sedang bergelut dengan perasaanya yang tak menentu.

“apa yang terjadi?” gumamnya dalam hati.

Berbagai spekulasi muncul di pikiran junpyo, dia takut, tak ingin menerima kenyataan di luar apa yang telah ia rasakan pada jandi selama ini. Junpyo tidak siap mendapati kenyataan bahwa jandi sama saja seperti gadis lain yang mengejarnya demi Shinwa. Apa benar jandi gadis seperti itu? Apa benar jandi melihat dirinya hanya sebagai presdir Shinwa? Apa benar selama ini sudah salah mengenalnya? Junpyo frustasi, memang benar mungkin dia belum terlalu mengenal jandi, tapi kenapa hatinya terlalu sakit dan takut?



            -----------------------------------------



Kediaman keluarga Goo


Malam itu, junpyo tidak sabar menunggu jandi pulang. Jam di pergelangan junpyo sudah menunjukan pukul 10 malam tapi jandi belum juga tiba di rumah, semakin hari pulang semaki larut, ntah kemana perginya dia. Junpyo terus berfikir tentang jandi, dia tampak bingung.

-Tidak lama berselang-
Junpyo langsung menyingkirkan gorden yang menghalangi pandangannya saat melihat mobil jihoo tiba di halaman. Sungguh ini bukan waktu yang tepat bagi jihoo menunjukkan batang hidungnya disini. Junpyo semakin mendidih, tanganya terkepal tanpa sadar. Sinar matanya nanar, gelap. Wajahnya merah saat melihat jihoo membukakan pintu mobil untuk jandi. Baginya, mereka tersenyum mesra-padahal biasa saja. Hanya saja, ntah setan apa yang sudah merasuki dirinya sampai merasa geram tak terkendali. Jihoo sesekali menyentuh jandi, sekedar merapikan rambutnya atau membenarkan sweater jandi. Perhatianya memang sangat berlebihan, tetap seperti sepasang kekasih. Junpyo semakin kalut dan gelap mata, dia segera menyambut keduanya tepat di depan pintu dengan sikap yang sama sekali tak diharapkan. Jandi tersenyum padanya, mengira kalau junpyo menunggunya, tapi semua itu luntur saat mendapati lagi-lagi lelaki ini bersikap dingin.

Jandi :   “Goo Jun Pyo, kau sudah makan? Mianhe, aku lupa memberitahu kalau malam ini...”
Belum selesai jandi bicara, junpyo langsung menghela.

Junpyo :   “Tidak ada alasan ku menunggu mu! Masuklah..” tukasnya dingin.

Jandi heran dengan sikap junpyo, kenapa dia tiba-tiba bersikap seperti ini lagi. Sudah beberapa lama jandi tidak begitu sering melihat sorot mata tajam seperti ini. Tapi jihoo sepertinya tau apa yang ada di pikiran junpyo, terlihat jelas kalau anak ini pasti sedang cemburu. Junpyo menatap jihoo tajam, tapi jihoo tidak bergeming sedikitpun.

Jandi :   “Oppa, gomawo.. aku masuk dulu..” Jandi ragu-ragu meninggalkan mereka.

Jihoo :   “Ne, istirahatlah!”

Setelah jandi beranjak dari situ, junpyo langsung cari gara-gara.

Junpyo :   “Kau tidak harus bersikap seperti ini pada jandi.” Terdengar dingin dan sinis, tatapannya menusuk lurus bola mata jihoo.

Jihoo :   “Wae? Kelihatanya kau tidak senang…” Sepertinya jihoo sengaja memancing junpyo membeberkan perasaannya.

Junpyo :   “Sekarang dia istri ku.” Junpyo menclaim untuk kesekian kalinya.

Jihoo :   “Bukankah kau sendiri yang menyuruhku untuk ikut dalam permainan mu? Sampai sekarang, tidak ada yang berubah Goo Jun Pyo. Itu kan yang kau inginkan sejak awal?” tukasnya tenang.

Junpyo :   “YOON JIHOO!!” membentak keras.

Jihoo :   “Aku sudah memberimu kesempatan, tapi lihat apa yang kau lakukan. Jadi, sekarang kau mau bilang kalau kau sudah jatuh cinta padanya?” tersenyum sinis.

Junpyo terdiam, lidahnya tiba-tiba kelu, dia tidak sanggup menghela. Itu memang benar, sialnya-semua yang dikatakan jihoo memang benar. Sejak awal dia yang ingin semuanya tidak ada yang berubah. Tapi sekarang dia pula yang harus bertanya pada hatinya sendiri, benarkah semua tidak berubah? Itu salah! Hatinya sudah berbeda, perasaanya pada jandi berubah semakin dalam, itulah yang sesungguhnya.

Melihat jihoo menatapnya tanpa ekspresi, junpyo benar-benar sadar akan segera hancur dengan permainannya sendiri. Tidak, dia tidak harus mengakuinya, dia tidak harus mengatakan apapun pada jihoo. Kalau jihoo berharap junpyo memohon padanya untuk menjauhi jandi, lupakan saja! Harga dirinya tidak membiarkan itu terjadi.

Junpyo :   “Itu bukan urusan mu.”

Jihoo :   “Bagaimana dengan jaekyung? Semua tidak akan kembali ke awal. Kau sudah melewatkanya Goo jun pyo.”

Junpyo mengepalkan tanganya, rasanya ingin memukul wajah jihoo dengan keras karena sudah berhasil mengobrak-abrik isi hatinya. Yang dikatakannya tak satupun meleset, apa yang bisa junpyo perbuat? Seluruh tubuhnya kaku karena emosi sedang menguasai dirinya, rahangnya bahkan bergerak-gerak pertanda kemarahanya memuncak. Jihoo berlalu dari situ, meninggalkan junpyo dengan segala kekesalanya yang sedari tadi menatapnya dengan pandangan membunuh.

Bahaya, jandi yang tak tahu apa-apa seharusnya bersiap menerima dampak dari semua kemarahan junpyo. Masalah perusahaan, ditambah dengan kemarahanya pada jihoo, kali ini junpyo terlihat mengerikan. Tapi malangnya, jandi sama sekali tak menyadari kemurkaan junpyo.

Jandi baru saja keluar dari bathroom saat junpyo masuk ke kamar tanpa mengeluarkan suara, jandi yang hanya mengenakan gaun tidur tipis tanpa luaran samar-samar menangkap sesosok pria berpostur tinggi sedang menatapnya tajam. Jandi terkejut apalagi melihat raut wajah junpyo yang terlihat murka, ia tak dapat mengartikan tatapan mengerikan itu. Matanya gelap, nafasnya memburu.

Jandi :   “Goo Jun Pyo, ada apa?”

Tatapan junpyo malah semakin ganas, menggerayangi seluruh tubuh jandi dari atas sampai bawah. Jandi yang ketakutan langsung meraih gaun luarnya, tapi junpyo dengan cepat merampas gaun itu.

Junpyo :   “Waeyo? Kau tidak suka suami mu menatap tubuh mu?”

Jandi :   “Junpyo-yaa...” jandi semakin terpojok dengan sikap junpyo.

Junpyo menghempaskan kasar pakaianya ke lantai dan mendorong tubuh jandi hingga punggungnya terhempas ke dinding. Jandi terkejut ketakutan, ia tak mampu melepaskan genggaman tangan junpyo yang mengunci tangannya ke dinding.

Jandi :   “Aw.. Goo Jun Pyo” tersentak.

Junpyo :   “Dengar Geum jandi, jangan mempermainkan ku!” pandangannya begitu menusuk ke bola mata jandi, sampai tanpa sadar melelehkan air mata gadis ini.

Jandi :   “A..pa maksud mu?” tanyanya ragu, kemudian menghindar dari tatapan yang begitu menusuk ke hati itu.

Junpyo semakin berang, tanpa menjawab-ia malah langsung melumat bibir jandi dengan brutal, melahap habis mulutnya, kasar dan memaksa. Jandi mendorong-dorong tubuhnya keras namun percuma, junpyo menindih tubuhnya dengan paksa. Berkali-kali punggung jandi menghantam tembok, ia meringis, bahkan kesulitan bernafas karena junpyo tak memberinya kesempatan. Junpyo tak perduli meski jandi menggeliat, berusaha melepaskan bibirnya sampai berkali-kali tergigit. Dengan susah payah jandi berteriak histeris.

Jandi   “Gooo jun pyoooo.... Hentikaaaaaan...... huhuhu....”

Air matanya mengalir deras, jandi benar-benar ketakutan. Junpyo semakin menjadi–jadi, meremas kasar tangan jandi, menekan tubuhnya, terus melumat paksa bibir jandi hingga gadis itu tersengal. Jandi meronta-ronta tapi usahanya itu hanya membuat junpyo semakin ganas, tangan junpyo tanpa sadar menghentak gaun jandi hingga terkoyak di bagian dada. Seketika junpyo terhenyak melihat dada mulus jandi yang memerah-tergores cakarannya. Junpyo perlahan sadar dengan apa yang dia lakukan, ia menatap jandi yang kini menangis sesegukan, terlihat kesedihan yang mendalam dari mata indahnya yang basah.

“huhuhuhu.......”

Perlahan cengkraman junpyo mengendur hingga terlepas, terlihat bingung dengan keadaan yang diciptakannya sendiri. Jandi terkulai lemas –terduduk- ke lantai sambil menangis tersedu-sedu. Junpyo menatapnya penuh kekecewaan, terlihat butiran air di ujung-ujung matanya.

Junpyo :   “Jadi kau benar-benar tidak mau? Kau lebih memilih melakukanya dengan jihoo dari pada suami mu sendiri? Kauuuu... sama saja dengan gadis-gadis yang ku tiduri itu....!!” tukasnya dingin tanpa perduli perasaan jandi.

Bicaranya tidak terkontrol, kata-katanya sangat kasar dan menyakitkan. Air mata jandi semakin deras bercucuran meski sekuat tenaga menahan isakan yang terdengar pilu. Hatinya sakit tak karuan mendengar junpyo menyamakan dirinya dengan wanita murahan yang dia tiduri.

Jandi :   “Benar! Hikz hikz….. itulah sebabnya…. Itulah mengapa aku tidak ingin kau menyentuhku. Karena… huhu... karena di mata mu, aku sama saja seperti yang lainnya. Kau memang benar goo jun pyo, KAU BENAR! Aku istri mu, tapi kau tidur dan mengencani gadis lain. Kau.... KAU TIDAK AKAN PERNAH BISA MELIHAT PERASAANKU!!! Huhuhu....” Jandi histeris.

Junpyo :   “Apa yang kau bicarakan? Lihat dirimu! Kau datang dan pergi bersama temanku. Ingat Geum Jandi, Jika kau begitu ingin bersamanya, bercerai dengan ku lalu pergi bersamanya!”

Jandi shock mendengar kata ‘cerai’ yang keluar dari mulut junpyo, dia tidak menyangka secepat ini junpyo ingin bercerai darinya. Akhirnya, cepat atau lambat, ternyata junpyo juga memikirkan hal ini, jandi mendadak merasa begitu putus asa. Matanya basah terkurai air mata, wajah putihnya menjadi merah. Dari awal pernikahan, jandi memang menganggap suatu saat semua ini akan berakhir. Meskipun begitu, setelah sekian lama bersama junpyo, menemukan sisi lain dari dirinya, jandi sungguh tidak menginginkan adanya perceraian.

Dia menangis sejadi-jadinya, memegangi dadanya yang terluka oleh goresan tangan junpyo. Tidak, itu tak seberapa dibanding sakit di dalamnya.

Sementara junpyo berlalu dari sana tanpa rasa bersalah sedikitpun, dingin!

“Kenapa kau selalu mengingatkan posisi kita sementara kau memandangku begitu rendah? Kenapa aku menjadi sesalah ini karena selalu menolak mu?” batin jandi sambil menatap pintu malang yang baru saja dibanting junpyo.

Jandi :   “Mianhe Goo Jun Pyo…..” ucapnya lirih dan serak ditengah tangisnya yang semakin terdengar pilu.




                    End Of Chapter
            ========================
« Last Edit: July 16, 2011, 06:03:05 am by Cud na »

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
oke saya nyerah..sdh 3x gw ngulang komen yg svper panjang tp disuruh ngulang terus.bentar ya sist mau lap keringat dulu,capek.haha
[/size][/color][/b]

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
Ncuuuuuud!! Cepeltinya ini comen aku yg pertama yah :) hihhi maaf keasyikan jd SR tp pas baca chapt ini jari jari aku kegatelan pengen comen.. :p

Suka bgt sm ff iniiiiiiii...selalu nungguin bolak balik CM :* udh gtu update-annya ga lama *ga kyk gue* #ngelusdada :p hihhi


Pokonya lanjuuuuutt..! Suka sm karakter junpyo disini.. Seperti biasa cool, arogan, angkuh, tp tetep ga bs ga tahan kalo liat ciptaan buat dia siapa lagi kalo bukan jandi :*

Penasaran niii uangnya dipake buat proyek apaa..hihhi jangan lama"ya say :*



Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
bismillah.thank u sist dah update,walau awalnya sweet akhirnya pahit..like this chap.gw suka liat junpyo panik keceplosan terus,uneg2nya keluar semua kalo kayak gini mendingan jandi sakit aj terus.lagi dan lagi jiho ft. jaekyung jd duri dlm rmhtangga jundi.hammerhammer.apakah jiho sngaja biar junpyo ju2r akn rasanya?kalo jaekyung dh mulai ngeluarin tanduknya ya..eh,emang independent ngeruk keuntungan ilegl dr shinwa or ada yg sengaja ngadu domba?gw suka jg tuh pas meeting jundi seneng aj ngeliat pasangan suami istri dlm situasi kyk gtu,sering2 aj y sist..gw jg skt hati  junpyo blg kata2 kasar ke jandi tp jandinya jg sih jd pemicu walau sbnarx g sadar sih.btw komunikasi emang sgt penting dlm suatu hub.kalo enggak jadinya gini nih salah paham mulu.ngadu domba?gw suka jg tuh pas meeting jundi seneng aj ngeliat pasangan suami istri dlm situasi kyk gtu,sering2 aj y sist..gw jg skt hati  junpyo blg kata2 kasar ke jandi tp jandinya jg sih jd pemicu walau sbnarx g sadar sih.btw komunikasi emang sgt penting dlm suatu hub.kalo enggak jadinya gini nih salah paham mulu.
[/size][/color][/b]

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
Sampai kapan Jandi dan Junpyo mengingkari perasaan mereka masing2. kok masing2 gak mau kalah, tetap gengsian. Terutama Junpyo... banghead.

Itu Jihoo ama Jaekyung juga agak2 ga tau malu gitu sih. Dah tau Jandi dan Junpyo udah merit, masih aja kaya kuman, nyangkut melulu... [hmpfh] [hmpfh]...

YAng ngambil duitnya Junpyo dari perusahaannya emang Jandi ya? Kok bisa??? Wah, mudah2an bukan Jandi deh...Kalaupun JAndi, mestinya dia kan minta ijin dulu dari sang bos... ya ngga??

Thanks ya atas apdetannya...ditunggu neh, updet lanjutannya... [arms] [arms]

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
Astajim astajim astajim
Oh my gosh oh my gosh
Awalnya ga nahan
Endingnya nyesek..
Jangan ampek cerai dunk kak cud..

Gomawo ya udah update.ni ff mengingatkan q pada WF tarik ulur melulu hmpfh
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN