Author Topic: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″  (Read 37729 times)

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
Setuju ncuuuud pliiiis bgt update dooooongggggggggggggggggggggg! :D

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
15 menit lagi buka puasa,waktunya berbuka ditemani jundi,Hot couple yg aneh.yuhu!!!..menggila dulu.
[/size][/color][/b]

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
Ncuuuuuuuuuuud harus berapa kali nagih ni biar di updateeeee.. Huhuhuhuhuhuhuhuhu T_T ayolaaaaahhh

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
aku bantu sistaaa @nengok ke atas.....Author UPDATEEE DONGGG,KANGEN JUNDI..sudah lama nih ditunggunya dr jaman pak tarno TK sampe sekarang jd pesulap gak update2 juga.
[/size][/color][/b]

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
Hwaaaaaaaaa... Rame amitt.. Mianh saudara-saudari yg lg demo, baru mampir kesini nih..
Sabaaaaaaar yeee semuaaaa..  punk  punk [briggin] [briggin] [briggin] [briggin] [hug]

siti minsun

  • Guest
kalo kelamaan sabar nti pantatnya lebar sist... [hmpfh] [hmpfh]
update dong [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
kalo kelamaan sabar nti pantatnya lebar sist... [hmpfh] [hmpfh]
update dong [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Gak apa2 dunk sist lebar pantat'a biar lapang duduknya lol  [laughing] [laughing]
Oke, ICCMH will update in few hours  [flowers]

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Sekarang update sekarang update sekarang update sekarang update sekarang update

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
Sekarang update sekarang update sekarang update sekarang update sekarang update

Iyeee bantaaaaar... Ane ke warnet dulu ngepost'a [nono]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Sekarang update sekarang update sekarang update sekarang update sekarang update

Iyeee bantaaaaar... Ane ke warnet dulu ngepost'a [nono]

 [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Horee.gumawo eon....

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
Ke warnetnya di amerika ya kak cud,lama benerrrr hmpfh
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
Sekarang update sekarang update sekarang update sekarang update sekarang update

Iyeee bantaaaaar... Ane ke warnet dulu ngepost'a [nono]

 [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

Koq cengengesan nih sisi   [wacko] [wacko]

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
Ke warnetnya di amerika ya kak cud,lama benerrrr hmpfh

 [rofl] [rofl] [rofl] gw maunya sih gitu, tapi pesawatnya delay.. Gak jadi deh.. Iyeeee ini mau ane post  [goodgrief]

Horee.gumawo eon....

welcome say  [hug]

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile



Mata jandi terbuka mendadak, berkedip berkali-kali seperti baru menyadari sesuatu dan langsung menoleh ragu ke sisi kiri dimana junpyo tidur semalam. Huuuft… ia menghela nafas lega saat tak mendapati sosok junpyo disana. Dengan sisa-sisa kekuatan setelah ‘olahraga’ sepanjang malam, jandi berusaha duduk, tubuhnya masih terasa ngilu dimana-mana. Tapi hari berganti begitu cepat, seperti mimpi saja, sudah ’melakukannya’ dengan Goo Jun Pyo. Lambat-lambat wajahnya tersipu merah, bahkan pagi yang hangat ini tidak cukup menjadi alasan memanasnya pipi mulus itu. Tak juga dapat melambangkan perasaannya yang campur aduk sejak ini, tak bisa melupakan kejadian semalam dimana untuk pertama kalinya ia berkali-kali meneriakkan nama suaminya itu, seolah memohon untuk menyentuhnya lagi dan lagi. Aiiisssh... -menyadari perasaannya sudah terbongkar, jandi jadi gelisah tak menentu.

Jandi :   ”Apa yang harus ku lakukan? Setelah ini bagaimana bisa berhadapan dengan Goo Jun Pyo? Aku malu sekali.” gumamnya dalam hati sambil menyentuh kedua pipinya yang panas-sudah seperti tomat matang- Menggosok-gosokknya kuat. Kemudian menggeliat mengacak-acak rambutnya sakin malunya. Tiba-tiba...
 
“Kau sudah bangun?”

Omo, suara siapa itu? Jandi nyaris loncat dari posisinya sakin kagetnya. Ia mendadak kaku saat mendapati sosok tinggi jangkung yang sangat dikenalnya itu sedang bersandar santai di dinding dekat pintu. Wajahnya bertambah merah menyadari sepertinya junpyo sudah dari tadi berdiri di situ, sambil menatap jandi dengan senyum terbaik di wajah tampannya. Lelaki itu sudah berpakaian rapi, senyumnya itu, yang paling sulit diartikan dari yang pernah dilihatnya. Aigoo, ingin rasanya menciut, menyelinap masuk ke dalam selimut putih yang masih membaluti tubuh polosnya. Jandi jadi salah tingkah, meremas-remas selimut itu tanpa alasan yang jelas.

Junpyo :   “Cepatlah bersiap-siap, semua orang sedang menunggu kita untuk sarapan.” Masih mengulum senyum yang semakin memojokkan jandi.

Jandi :   “Ah, ne” manggut-manggut cepat. Sialnya, ntah kenapa jandi mendadak jadi begitu penurut.

Jandi yang agak gugup-sibuk krasak-krusuk kebingungan sendiri saat hendak berdiri. Haruskah membawa seluruh selimut tebal ini ke bathroom? Sementara tubuhnya sama sekali polos. Ia bahkan tak berani menatap mata junpyo yang dari tadi tersenyum heran menyaksikan tingkah anehnya, selama mengenalnya, baru kali ini gadis itu terlihat bodoh. Junpyo bermaksud  mendekat menawarkan bantuan, tapi jandi malah memelototinya, membuatnya berhenti melangkah.

Jandi :   “Mwo? Jangan mendekat.” Tangan yang satunya menyanggah selimut didadanya, yang satunya lagi menghalangi junpyo.

Junpyo:   “Aku hanya ingin membantu.” dia keheranan melihat reaksi jandi.

Jandi :   “Andwe! Tidak usah.”

Kali ini senyum nakal tersungging di pipinya, junpyo tanpa basa-basi langsung meraih tangan jandi sampai gadis ini teriak ‘aw’. Ia mendekati wajah jandi yang langsung tertegun-semakin merona merah dan tak pudar-pudar, matanya tak berani berkejap. Wajah junpyo semakin mendekat, sampai kedua bola mata coklat itu hampir menyatu dengan batang hidung, menatap junpyo yang terus memojokkannya. Damn, apa yang ada dalam pikiran junpyo?

Junpyo :   “Waeyo? Kita kan sudah melakukan…”

Kali ini kata-kata junpyo terpotong oleh tangan jandi yang langsung membekap mulutnya, menarik lehernya sampai ia tersungkur ke tempat tidur.

Junpyo :   ”Yaaaah...”

Junpyo sudah payah menyingkirkan selimut yang bergumal menutupi wajahnya. Kemeja hitam yang tadinya rapi jadi kusut, juga rambutnya yang jadi acak-acakan. Ia jadi kesal, sementara jandi terkekeh mengejeknya.

Junpyo :   ”Apa yang kau lakukan?” memonyongkan bibirnya.

Jandi :      “Jangan bicara lagi, cepat sana! Aku mau mandi dulu. Sana! Sana!”
Lagi-lagi jandi sengaja merusak penampilan junpyo, membaluti tubuh junpyo asal-asalan dengan selimut, sementara suaminya itu repot mengelak, menghalangi jandi mengecak-acak rambutnya, jandi buru-buru berlari ke bathroom.

Junpyo :   ”Aiiisssh....”



            =========================



Jandi dan junpyo menghampiri yijung, woobin, jaekyung dan bibi so yang sedang menikmati sarapan mereka. Tapi jihoo tak terlihat diantara mereka. Ntah hanya perasaan jandi saja, tapi pandangan mereka terasa aneh. Menatap jandi dan junpyo dengan tatapan penuh kecurigaan, disertai senyum yang juga aneh. Kecuali jaekyung.

Bibi so:   “Kalian sudah bangun? Jandi-yaa, bagaimana kaki mu? sudah baikan?” bibi so menyambut keduanya dengan ramah setelah beberapa detik tadi terasa hening.

Jandi :   “Sudah bi…” jawabnya ragu, masih agak risih dengan pandangan mencurigakan yang lainnya.

Junpyo sendiri acuh, tidak memperdulikan tatapan nakal teman-temannya itu. Dia langsung duduk tepat di samping jaekyung-tanpa memilih antara tiga bangku kosong tentunya.

Bibi so :   “Nah, ayo minum sup ini. Kau juga junpyo-yaa.. ayo cepat habiskan.”

Bibi so buru-buru menyodorkan -lebih terlihat memaksa- sup gingseng yang baru saja ia ambil dari dapur kepada jandi dan junpyo. Senyum penuh musihat menyungging di bibirnya ketika kedua mangkuk sup itu telah kosong dilahap habis oleh keduanya. Yijung dan woobin saling melirik heran melihat tingkah ommanya ini, kenapa ada sup yang ‘disembunyikan’? Yijung langsung menuang semangkuk kecil sup gingseng itu, tapi bibi so buru-buru memukul tangannya.

Yijung :   “Aaagghh...”

Bibi so :   “Yah, apa yang kau lakukan? Kau tidak boleh meminumnya.”

Yijung :   “Waeyo?” tampangnya seperti anak TK yang tidak kebagian permen.

Bibi so :   “Tentu saja tidak boleh, kau tak akan sanggup menahan reaksinya. Sup ini hanya diminum oleh orang yg sudah menikah, untuk memudahkan suami istri memiliki keturunan.” o:) tersenyum puas.

Huk huk huk..... spontan jandi dan junpyo tersedak bersamaan, seperti nyaris muntah. Wajah jandi memerah, sedang yang lainnya melotot-menganga tak menyangka dengan tingkah bibi so.

Yijung :   “Omma...” protesnya kesal, merasa sangat tidak enak.

Woobin :   ”Aku sudah duga ada yang tidak beres dengan sup yang ’disembunyikan’.” woobin seakan bicara dengan dirinya sendiri sambil menatap reaksi yang lainnya.

Bibi so : “Wae? Kau masih mau? Gingseng ini berkhasiat meningkatkan hormon reproduksi, reaksinya sangat cepat, kau akan berkeringat, merasa gelisah, dan... Ah, seharusnya bibi memberikannya di malam hari, mianhe jandi-yaa.. bibi lupa ini terlalu pagi.” mengedipkan matanya, disertai senyum nakal penuh kemenangan.

Spontan saja semua mata mengarah pada jandi dan junpyo dengan tatapan menyidik. Keduanya benar-benar merasa risih, benar saja, keringat mulai menitik di dahi, mendadak pipi terasa panas. Seperti maling yang tertangkap basah.

Yijung :   “Mana ada sup seperti itu.” nadanya sungguh tak yakin degan apa yang ia katakan barusan, melihat reaksi yang benar seperti ommanya katakan.

Woo bin yang menganga heran sontak saja ingin tertawa, tapi masih tak percaya reaksi sup itu benar-benar secepat ini. Setengah mati menahan geli hatinya.

Bibi so :   “Benarkan? sup ini biasa digunakan di zaman kerajaan dulu, keluarga kerajaan ingin segera memiliki keturunan oleh proses perjodohan, nah sup ini benar-benar mujarab. Hiihi” terkekeh cuek.

Jaekyung yang sejak awal mati-matian menahan kesal tiba-tiba beranjak pergi  meninggalkan mereka semua, dengan begitu barulah yang lainnya sadar dengan kehadirannya. Suasana di ruang makan mendadak kaku. Dia benar-benar tak pernah setegang ini, kesal dengan semua kekonyolan ini. Junpyo yang serba salah pun ikut beranjak mengikuti jaekyung dengan maksud untuk menghindar dari situasi yang memalukan ini. Sementara jandi menatapnya ragu, ragu dengan apa yang akan terjadi. Baru ia sadar, masih ada jaekyung antara mereka.

Jandi :   “Ohya, Dimana jihoo oppa?”

Woobin :   “Sepertinya dia sudah kembali ke Seoul semalam.”

Jandi :   “Waeyo?”

Yijung :   “Ntahlah, mungkin ada situasi mendadak.” Melototi ommanya dengan senyum gigi rapat.



            ======================




Junpyo :   “Gwenchanayo?”

Junpyo berusaha mendekati jaekyung sementara gadis itu bahkan tak ingin menatapnya, pandanggannya lurus ke depan menatap hamparan kebun bunga di hadapannya.

Jaekyung   :   “Kau sendiri bagaimana? Merasa sangat baik hari ini?” nadanya sinis.

Junpyo :   “Berhentilah bertingkah konyol, ayo kita pulang, kita harus segera kembali ke Seoul.”

Jaekyung :   “Bertingkah konyol? Junpyo-ya, aku tidak baik-baik saja.” Suaranya mulai menekan, pelan. “Kenapa kau tidak pernah bisa melihatku... yang selalu ada di hadapan mu.” Nadanya terdengar begitu berat mengucapkan kata demi kata, mulai bergetar.

Tapi sama sekali tak ada tanggapan dari junpyo, ia mulai curiga ketika bahkan suara nafasnya pun tak terdengar. Jaekyung berbalik menghadap junpyo, benar saja. Lelaki itu seharusnya tadi ada disitu, tapi….. Mana junpyo nya ??? Ntah sejak kapan jaekyung mulai bicara sendiri.



            =========================




Jandi :   “Oppa…. Waeyo?”

Suara cemas jandi terdengar jelas oleh jihoo melalui saluran telepon.

“Kau pulang tanpa memberi tahuku, oppa seperti apa itu. Meninggalkan ku begitu saja. Nanti aku pulang bersama siapa?” Memonyongkan bibirnya.

Jihoo :   “Mianhe... jaga diri mu disana. Aku….”

Bip bip bip….. sambungannya mendadak putus.  Jandi langsung menoleh marah pada junpyo yang merampas ponselnya begitu saja.

Jandi :   “Apa yang kau lakukan?”

Junpyo :   “Kenapa kau harus mencemaskan pria lain sementara kau sedang bersama suami mu?” menatapnya tajam.

Jandi :   “Kau selalu bertindak sesuka mu, setahuku tadi kau juga bersama wanita lain.” Membalas tatapan possesif junpyo dengan pandangan yang sama.

Junpyo :   “Kau sedang cemburu?” tanyanya pelan, menyipitkan matanya.

Jandi :   “Mana mungkin.” Wajahnya memerah lagi, kali ini menghindar dari pandangan yang semakin menyidik dari suaminya itu.

Tapi junpyo selalu mengintimidasinya, justru semakin mendekati wajah jandi, sampai hidungnya menempel di hidung jandi. Bukannya menunduk, jandi justru menengadah menikmati belaian jari-jari junpyo yang mulai mengusap kedua pipi yang merona itu. Sekejap saja jandi meluluh, ia bernar-benar tak berdaya setiap kali pesona junpyo menguasai dirinya.

Junpyo :   “Meskipun sedang cemburu, datanglah padaku, bukan pada pria manapun di dunia ini selain aku.” bisiknya lembut.

Jandi mengangguk pelan, matanya terpejam perlahan saat bibir penuh junpyo mulai menyentuh bibirnya, melumatnya dalam. Setelah lumatan yang lumayan panjang, junpyo kembali berkata.

Junpyo :   “Berjanjilah…”

Jandi :   “I promise you…” :’)

Ciuman panjang itu kembali menggelayuti keduanya………………..   


--Di dapur --

Yijung :   “Omma, apa sup gingseng ini benar-benar semanjur itu?” Menyipitkan matanya, memandang curiga pada ommanya.

Woo bin :   “Ne, bibi.. ku rasa junpyo tak memerlukan benda semacam ini.”  Memandang sinis pada sup malang itu.

Bibi so :   “Tentu saja tidak! Mana mungkin ada sup seperti itu. Sup adalah makanan yang sangat baik bagi kesehatan, mana boleh kalian menggunakannya untuk muslihat semacam itu. Kau mau? Cobalah… tidak apa-apa… hohoho….”

Si bibi tertawa puas sekali, ia bahkan meminum habis satu mangkuk sup gingseng ‘boongan’ itu sekali teguk. Woo bin dan yijung terbelalak, menganga tak percaya. Bagaimana bisa mereka dibohongi mentah-mentah oleh sup konyol itu.

Yijung :   “Oh, aku tak percaya ini.” O_o



            ======================


Shinwa Group

Dua minggu telah berlalu, sementara pagi ini suasana hiruk pikuk kegiatan pegawai Shinwa selalu melengkapi hari yang hangat, kantor yang luar biasa luas ini memiliki kesibukan sendiri di setiap sudutnya. Junpyo selaku Presdir Shinwa yang menduduki kantor pusat di Korea akhir-akhir ini terlihat sangat berbeda, tidak biasanya ia tersenyum sepanjang jalan. Bahkan terkadang manyapa beberapa karyawan yang membungkuk padanya, mereka sampai takjub melihatnya. Ia tersenyum pada siapa saja yang menganggukan kepala mereka untuk memberi hormat padanya. Semua orang merasa aneh dengan sikap junpyo, karena biasanya lelaki ini akan selalu berjalan dengan pandangan lurus ke depan tanpa perduli dengan orang yang menyapanya. Bahkan dia akan menatap tajam pada siapapun yang tidak sengaja menghalangi langkahnya. Para karyawan itu tersenyum ragu karena tak yakin dengan sikap presdir mereka ini, tapi serketaris jung -yang terus berada di sisi junpyo- memberi isyarat pada mereka kalau suasana hati si Boss akhir-akhir ini memang sedang baik.

Junpyo :   “Pak Jung, bagaimana jadwal hari ini?” keduanya memasuki elevator pribadi.

Mr. Jung :      “Tuan muda, pagi ini ada janji bertemu dengan Perdana Menteri di gedung kenegaraan, sore hari seorang klien dari Australia datang, dan malamnya tuan muda diundang menghadiri pesta pernikahan puteri ORI Company.”

Junpyo :   “Jadi, siang ini aku memiliki sedikit waktu free?”

Mr. Jung menatap tuan mudanya dengan pandangan bertanya.

Mr. Jung :      “Dhe tuan muda?” Jawabnya ragu.

Junpyo :   “Apa kau bisa menjemput istriku untuk makan siang nanti.”

Serketaris jung semakin takjub dengan perubahan tuan mudanya ini, biasanya dia akan memerintah ini dan itu seenaknya, tapi lagi-lagi akhir-akhir ini dia begitu tenang dan lumayan santun.

Mr. Jung :      “Tuan muda, jadwal nona pagi ini seharusnya mendampingi tuan muda untuk bertemu Perdana Menteri.”

Junpyo :   “ Benarkah? Dia tidak mengatakanya padaku.”

Mr. Jung :      “Tuan muda, Perdana Menteri Park memiliki hubungan yang sangat baik dengan mantan Perdana Menteri Geum, beliau kenal dekat dengan nona. Saya rasa akan sangat baik jika nona ikut bersama kita.”

Setiba di ruangannya, junpyo langsung menghubungi jandi.

Junpyo :   “Yeoboseyo… Jandi-yaa, apa pagi ini kau ikut dengan ku untuk bertemu Perdana Menteri?”

Jandi :   “Ne. Tapi aku...” Belum selesai jandi bicara, sakin semangatnya junpyo langsung mau menjemput jandi, tidak ingat kalau dia baru saja tiba.

Junpyo :   “Kalau begitu aku akan menjemputmu di kantor.”

Jandi :   “Andwe!”

Junpyo :   “Mwo? Waeyo?”

Jandi :   “Aku tidak berada di  kantor sekarang, aku bisa kesana sendiri junpyo-yaa.”

Junpyo :   “Kau dimana?” nadanya terdengar possesif.

Jandi :   “Aku.... sudah mau kesana… anyeong…”

Tanpa babibu jandi langsung memutus sambungan teleponnya. Teriakan kesal junpyo tidak sempat terdengar olehnya.

Junpyo :   “Yaaah....”

Dia menatap ponselnya heran, baru kali ini ada seseorang yang bisa begitu acuh padanya. Bahkan sekarang bisa tak sempat mendengarkannya bicara, hal apa yang begitu penting selain dirinya? Bukannya marah, ntah kenapa junpyo jadi senyum-senyum sendiri. Ya, akhir-akhir ini juga dia selalu merindukannya. Belum pernah dirinya merasakan ini sebelumnya, apapun yang jandi lakukan selalu menarik baginya. Tiba-tiba bisa begitu merasa senang tanpa alasan yang jelas, merindukannya sampai hampir gila, memikirkannya tak habis-habis. Tidak bisa tidur kalau jandi belum pulang dari kantor, belakangan lebih memilih membawa pekerjaannya ke rumah dari pada harus lembur di kantor, hanya untuk lebih cepat bertemu jandi. Beberapa kali mengambil waktu istirahatnya untuk sekedar menjemput jandi dan mengajaknya berkencan. Pikirannya selalu tertuju pada jandi, merasa gila mendapati dirinya sering tersenyum sendiri.

Seperti saat ini, lagi-lagi tersenyum, menertawai dirinya sendriri. Merasa konyol, sejak kapan perilakunya jelas-jelas seperti remaja yang sedang jatuh cinta? Mereka memang jadi lebih dekat sejak malam itu, bahkan jandi lebih sering mengalah. Dia tidak pernah membentak lagi ketika junpyo bertindak bodoh, jandi bersikap manis padanya, seperti sikapnya pada jihoo. Oh, kenapa harus jihoo lagi yang terlintas dipikirannya, membuat senyum manis itu mendadak luntur.

Tiba-tiba pintunya terbuka,

Junpyo :   ”Cepat sekali sampai” menyambut orang tersebut dengan senyumnya yang kembali bersemangat.

Tapi langsung luntur lagi begitu pandanganya mendapati seseorang yang datang ternyata bukanlah jandi, junpyo langsung berdiri panik dari kursi kerjanya.

Junpyo :   “Jaekyung-yaa, eottokhe? Bagaimana kau bisa ada disini?” tanyanya gugup.

Jaekung :      “Sepertinya kau tidak suka dengan kunjunganku.” Tanpa menghiraukan pertanyaan junpyo, jaekyung mendekat padanya tanpa ragu.

Junpyo :   “Anyio, bukan itu maksudku, tapi ke.. kenapa kau kemari? Kau tidak biasanya menemui ku di kantor.”

Yang sebenarnya adalah junpyo juga merasa aneh bagaimana bisa jaekyung menembus pertahanan serketaris-serketarisnya yang cerewet itu, dan bisa masuk begitu saja keruangannya tanpa ada janji dan konfirmasi. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

Jaekyung :   “Karena aku juga sudah tidak terbiasa dengan sikapmu.”

Junpyo terdiam mengartikan ekspresi aneh di wajah jaekyung, tidak biasanya gadis ini begitu percaya diri bicara tajam padanya.

Junpyo :   “Kau bicara apa? Sejak kapan menjadi rewel seperti ini?”

Jaekyung   :   “Sejak kau menghindar dari ku.”

Lagi-lagi junpyo terkelu dengan kata-kata tajam jaekyung, sementara gadis itu terus menatapnya dalam-dalam tanpa berkedip sedikitpun. Seolah terpojok, tak ada lagi yang bisa junpyo lakukan, jaekyung memaksanya luluh dan menerima kehadirannya.

Junpyo :   “Anyio jaekyung-yaa, aku sangat sibuk akhir-akhir ini.” Jaekyung masih menatapnya dalam diam, membuat junpyo serba salah, ia tau gadis ini terlalu mengenalnya. “A..a… apa yang membuat mu datang kemari? Apa ada hal yang begitu penting?” sebenarnya ia berusaha menghindar.

Jaekyung   :   “Junpyo-yaa, kau memuat ku khawatir.”

Junpyo :   “Mwo? Aku baik-baik saja….”

Jaekyung :   “Kau sudah banyak berubah.”

Jaekyung seolah menyerang junpyo dengan tatapan tajam dan pernyataannya yang beruntun. Junpyo tak dapat berkata, karena jaekyung lebih dulu memotong kata-katanya dengan kalimat telak, ia terhenyak oleh tatapan menusuk gadis ini, dan hanya bisa mengalihkan wajahnya untuk menghindar.

Junpyo :   “Mianhe jaekyung-yaa, sudah ku bilang aku sibuk.” Lagi-lagi ia menghindar, tapi hanya membuat gadis ini semakin tidak puas.

Jaekyung :    “Aku menunggu mu junpyo-yaaa…” matanya mulai merah.

Sementara di luar sana, ada seseorang yang sedang melangkah pasti menuju ruangan itu. Jandi yang sudah tiba mendapati pintu ruangan junpyo terbuka, tanpa mengerti situasi yang sedang terjadi di dalam, ia terus melangkah hampir masuk begitu saja sebelum langkahnya terhenti seketika begitu mendengar suara wanita dari dalam sana, bicaranya terdengar cukup jelas.

“… Malam itu aku menunggumu. Apa kau tahu, aku menatap pintu sepanjang malam, aku mencemaskan mu. Sejak malam itu, kau tidak pernah datang padaku. AKU TIDAK TERBIASA MENUNGGU MU!!”

Gadis ini mulai histeris, kini suara bergetar itu mulai terisak mengharu biru.

Jandi langsung bisa menebak siapa pemilik suara itu. Ia tersandar di dinding sebelah pintu, jantungnya mulai berdebar tak karuan, kepalanya tertunduk-mendengar pembicaraan mereka dari balik sebuah tembok. Rasa bersalah mulai menggelayuti pikirannya, baginya ini memang salahnya. Dia yang menghalangi junpyo bertemu jaekyung malam itu. Dirinya lah yang sebenarnya telah menyakiti jaekyung.

Junpyo :   “Jaekyung-yaa, mianhe… Aku…” kata-kata junpyo terhenti, ia tidak tau harus bilang apa, tidak mungkin mengatakan pada jaekyung bahwa malam itu ia sedang menghabiskan malam pertama bersama jandi.

Tapi tiba-tiba saja jaekyung berhambur ke dalam pelukan junpyo, ia tak ingin mendengar alasan apapun, alasan yang sesungguhnya telah ia ketahui. Ia tak ingin junpyo mengatakannya. Sementara junpyo mulai panik, jaekyung memeluknya semakin erat, seakan tidak ingin melepasnya meski junpyo tidak membalas pelukan itu sedikitpun. Ia hanya diam terpaku.

Jandi -yang masih berdiri di luar- merasa heran, kenapa ruangan itu tiba-tiba saja senyap, tak terdengar satu katapun dari dalam sana. Ragu-ragu ia menoleh ke dalam, melalui celah pintu yang terbuka itu –bisa di bilang ia mengintip-.

Betapa terkejutnya, ketika jandi mendapati suaminya sedang berciuman dengan wanita lain. Sungguh, jantungnya seakan berhenti berdetak, tiba-tiba seluruh tubuh seakan mati rasa, sulit untuk bergerak. Kakinya yang goyah tak berhasil berlari dari posisi sialan ini, tangannya berpegangan pada dinding mencari keseimbangan. Kreeek kreek.. Sial, gerakan kakunya menimbulkan suara berisik akibat hak sepatu yang menyenggol daun pintu. Dia pun berhasil mengundang perhatian junpyo dan jaekyung, mereka menoleh ke arah suara berasal.

Junpyo shock mendapati jandi tertunduk gugup dengan tatapan kosong ke lantai, ia segera menghempas tangan jaekyung yang masih melilit di lehernya.

Junpyo :   “Jandi-yaa…” panggilnya pelan melambangkan kengerian, membayangkan apa yang akan terjadi pada hubungan mereka setelah ini.

Jandi-dengan wajah yang masih shock-menatap junpyo sesaat sebelum bahkan keberaniannya hilang, ia memalingkan wajahnya. Masih dengan tatapan kosong, terlihat jelas ia sedang bingung. Pikirannya masih melayang pada bayangan scene tadi. Sementara jaekyung juga seperti itu, memperhatikan mereka berdua.

Jandi :   “ ah, mianhe.. a… akuuu… tadi… akuuu…”

Jandi tidak tau harus berbuat apa, ia masih terlalu sakit menerima kenyataan atas apa yang baru saja dilihatnya. Tidak memiliki kekuatan untuk marah, bahkan tak merasa berhak untuk itu. Matanya mulai berkaca-kaca meski sekuat tenaga berusaha menyembunyikannya.

Melihat jaekyung, keraguan mulai menghantui jandi. Memang dia, dialah orang yang hadir di antara mereka. Di satu sisi jandi tak bisa memungkiri dirinya terluka, tapi ada rasa yang begitu memojokkannya, memaksa mengakui ia bersalah pada jaekyung. Tak ada yang bisa ia lakukan selain pergi setelah mengacaukan suasana romantis sepasang kekasih yang sedang berciuman mesra, ia pergi begitu saja. Junpyo buru-buru mengejarnya, tapi jaekyung menghalangi. Menggenggam tangannya erat, junpyo menoleh padanya. Tatapan gadis ini penuh harap, tapi maaf saja-mana sempat junpyo mengartikannya lagi sementara jiwanya melayang menuju pada jandi. Ia tak bisa berfikir lagi-yang tak bisa ia lakukan, melindungi dua hati disaat bersamaan.

Jaekyung   :   “Junpyo-yaa….” panggilnya lirih, seakan memohon.

Junpyo :   “Mianhe jaekyung-yaa, ada meeting yang harus ku hadiri bersama jandi.” Dengan rasa serba salah.

Tanpa menatap mata jaekyung, junpyo berlari mengejar jandi yang sudah memasuki elevator. Untunglah, ia berhasil menggagalkan pintunya yang nyaris menutup. Jandi terperanjat menatap junpyo dengan matanya yang sudah berkaca-kaca, dengan tenang junpyo langsung masuk.

Junpyo :   “Kau mau kemana?”

Jandi :   “Dhe?” jandi terlihat kaku, tidak seperti dia yang biasanya. Dia juga heran kenapa junpyo bertanya seolah tak terjadi apapun barusan.

Junpyo :   “Kenapa pergi begitu saja? Bukankah kita harus pergi bersama?”

Jandi   “Ah, ne.” jawabnya agak kecewa, lelaki ini benar-benar tak merasa bersalah sedikitpun, pikirnya.

Ada apa dengan dirinya? Kenapa jandi tidak mendaratkan tinju di wajah junpyo setelah apa yang telah diperbuatnya, dan malah kemudian menanyakan hal konyol. Lelaki ini bahkan belum minta maaf, tapi kenapa dirinya begitu tak berdaya, ia bahkan masih belum berani menatap mata junpyo. Mengertikah lelaki ini kalau dia telah menyakitinya? Tidak bisakah ia hanya minta maaf? Ingin rasanya jandi berteriak di telinganya “BRENGSEK”. Tapi bahkan ia tak punya keberanian, meski merasa begitu bodoh belakangan ini, ia selalu mengharapkan junpyo. Tapi tak pernah sekalipun ia menyingkirkan perasaan cinta itu lagi, jandi membiarkannya tumbuh begitu saja.
Tapi apa yg didapatnya? Apa yang harus ia lakukan setelah mendapatkan jawabannya?

Junpyo :   “Gwenchanayo?” tanyanya sok polos.

‘Bodoh, pertanyaan apa itu? Jika saja bukan karena aku mencintaimu, sudah ku patahkan tulang rusuk mu. Kau membuat ku tak berkutik. Demi tuhan aku bukan orang seperti ini sebelumnya.” Gumam jandi dalam hati. Seharusnya itu yang ia katakan, tapi lagi-lagi memuai begitu saja dalam tenggorokannya. Untunglah pintu elevator segera terbuka. Jandi buru-buru melangkah keluar tanpa mau membicarakan apapun dengan junpyo, tapi….....



Junpyo lansung menarik tangan jandi sampai tubuh gadis itu merapat ke dadanya, kemudian junpyo menyerangnya dengan melumat bibirnya dalam-dalam, menerobos masuk rongga mulutnya sampai jandi sulit bernafas. Jandi terbelalak kaget, ingin meronta tapi justru diam saja. Bagaimana tidak, semua mata yang ada disana mungkin saja akan keluar dari tengkoraknya, bahkan langkah beberapa orang terhenti seketika hanya untuk menyaksikan ciuman panas yang cukup panjang di dalam elevator yang masih terbuka itu.

Junpyo melepas ciumannya sebelum pintu liftnya tertutup, kemudiaan menatap jandi lembut.

Junpyo :   “Aku tak melakukan seperti ini sebelumnya.” bisiknya pelan.

Lalu ia keluar dengan langkah pasti, penuh percaya diri, meninggalkan jandi yang terbengong menganga tak percaya dengan semua kejadian bodoh pagi-pagi buta begini. Bahkan ia belum sadar dari lamunannya saat pintu elevator itu tertutup lagi, dan membawanya kembali ke lantai atas.

Jandi :   ‘Kau memang kurang ajar, beraninya bibirmu menyentuhku setelah mencium wanita lain’ Jandi seharusnya berkata seperti ini. Tapi ini gila, ia malah tersenyum haru, jantungnya berdetak cepat tak beraturan. Justru membiarkan junpyo berbuat seenaknya.

Dari atas sana, jaekyung memandang mereka dengan tangan terkepal geram. Elevator yang terbuat dari kristal membiarkannya melihat dengan jelas apa yang terjadi.



            ========================



Kediaman Keluarga Goo


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam, tapi sampai selarut ini junpyo belum juga pulang. Tak tik tuk….

Jandi termangu mendengar irama detak jam meja di samping tempat tidurnya. Meski begitu melow, tapi terdengar seperti meraung-raung mengingat sampai detik ini junpyo belum juga pulang sementara jam yang –dari tadi- menemaninya menunggu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Tidak biasanya junpyo belum pulang selarut ini tanpa menghubunginya.

Jandi :   “Geum Jandi, lagi-lagi kau menunggunya? Pabo-yaa!”

Bisiknya lirih, mengumpati dirinya sendiri. Seperti orang bodoh, dari tadi terduduk di tempat tidur, menopang dagunya pada kedua lutut. Tubuh mulusnya terlihat bersinar meski lampu-lampu di kamar ini telah padam. Ia bersembunyi dalam gelap, putus asa menunggu junpyo.

Ia benar-benar tak mengerti, terkadang junpyo bersikap begitu manis, seolah menginginkannya setengah mati. Tapi bisa-bisanya ia bahkan hari ini mencium jaekyung, bersikap seolah tak memiliki jandi dalam hidupnya. Kemudian junpyo datang padanya dan mencium bibirnya lembut, seolah tak mengizinkannya menyerah.

Jandi :   “Apa yang harus ku lakukan? Aiish.. si bodoh itu, kau berhutang penjelasan padaku.”

Dan sampai sekarang, masa sih dia masih di kantor?

Begitulah yang dari tadi ada di kepala jandi, ia mondar-mandir dari kamar tidur ke ruang kerja kembali ke kamar, naik turun tangga, menanti suaminya itu yang tidak muncul-muncul.

Memang entah reaksi kimia apa yang terjadi di dalam dirinya, sejak belakangan ini dia begitu terus terang, tak bisa menyembunyikan hatinya. Ntah itu cinta, rindu, cemas, cemburu. Dari semua itu, tak satupun alasan mampu dicerna logika yang biasanya luar biasa sehat.

Masih dalam langkah galaunya yang disitu-situ saja, tiba-tiba pak Jung datang. Dipikirnya tentu saja junpyo juga sudah tiba, tapi ketika raut lelaki paruh baya itu terlihat segan karena sepertinya menyadari jandi mengharapkan kehadiran seseorang setelahnya ia membungkuk-terlihat ingin melaporkan sesuatu, jandi memandangnya dengan raut bertanya.

Pak jung :   ”Nona, Anda belum tidur? Tuan muda belum pulang..” katanya ragu.

Jandi :      ”Junpyo.. kemana dia, pak jung?” tanyanya yang juga agak ragu.

Pak Jung :   ”Tadi tuan muda bersama teman-temannya.”

Jandi :      ”Temannya? Kemana?” Dengan raut agak kecewa bercampur penasaran.

Pak jung :   ”Saya tidak begitu yakin, tapi kalau selarut ini seharusnya sedang di....”



--Sebuah Club malam--


Junpyo :   ”Apa kau sudah gila? Aku tidak mau!”

Junpyo memalingkan wajahnya sambil meneguk segelas minuman yang seharusnya memabukkan itu, tapi ia masih sepenuhnya sadar. Tampak agak tak tertarik dengan keadaan sekitarnya-Misalnya, woobin yang sedang mencium mesra seorang gadis super sexy di pojokan sana. Sementara yijung masih duduk bersama junpyo sambil memamerkan senyum penuh pesonanya yang kali ini diartikan sebagai ejekan oleh junpyo. Dia terus saja mendesak sesuatu pada junpyo.

Yijung :   ”Ayolah, Sepupunya itu wow.. aku sudah lama ingin mendekatinya.”

Junpyo :   ”Apa urusannya denganku?”

Yijung :   ”Lihat, dia terus melihat mu. Gadis itu sangat menyukaimu. Ayolah, kenalkan aku dengan sepupunya. Bagaimana? Dia lumayankan?” kali ini kepalanya mengangguk pelan pada seorang gadis yang dari tadi terus menatap mereka dengan tatapan yang dipikirnya sexy. Junpyo hanya meliriknya sekilas, tiba-tiba merasa mual.

Junpyo :   ”Yang benar saja, gadis seperti itu bukan tipeku.”

Sejujurnya, mana mungkin yijung berani ’menawarkan’ kalau benar gadis itu bukan tipe junpyo. Yang benar, dia sudah mati rasa. Ya, ini semua gara-gara pesona istrinya yang kini sudah cukup baginya jandi seorang. Mana yijung tahu kalau temannya ini sedang dimabuk cinta pada seorang wanita sampai kehilangan selera dengan jajanan luar. Tapi gengsi junpyo yang selangit tak mengizinkan dirinya untuk jujur di hadapan temannya itu.

Yijung :   ”Kau bercanda? Gadis yang bergaun kuning itu. Kau tidak salah lihat kan? Gadis itu puteri pengacara Jeong.” Ya, pengacara nomor satu di Korea.

Junpyo :   ”Aku malas berurusan dengan hukum.” Sungguh bukan alasan yang masuk akal, isyarat menolak mentah-mentah. Junpyo tak ingin membahasnya lagi, pikirannya agak kacau hari ini, yijung agaknya mengerti apa yang sedang dipikirkan junpyo. Sejak mereka keluar dari rumah jihoo beberapa saat lalu, temannya ini mendadak jadi murung. Junpyo tak pernah ’semembosankan’ ini sebelumnya, sementara jihoo tak bisa diajak bicara. Dia hampir gila, mabuk-mabukan dan mengakibatkan kecelakaan. Mereka baru saja menjenguk jihoo di rumahnya, malah mendapatinya dalam keadaan dramatis.  Yijung hanya bermaksud menghibur junpyo, seperti apa yang biasa mereka lakukan, dipikirnya ini bisa sedikit mengurangi rasa bersalah yang sedang menggelayuti diri junpyo saat ini.

Yijung :   ”Jihoo, dia hanya sedang mabuk. Kau tahu kan, kalau kau mabuk jauh lebih mengerikan dari itu. Jadi lupakanlah.”

Junpyo masih terdiam, mengingat kata-kata jihoo tadi....

FLASHBACK

Jihoo :   “Untuk apa kau kesini?” matanya sayu.

Jihoo terlihat kacau, bukan karena luka di dahinya yang terbalut perban, lukanya memang tak seberapa. Tapi karena botol-botol minuman yang berserakan di hadapannya. Dia mabuk berat.

Junpyo :   “Kenapa bisa sampai kecelakaan? Gwenchanayo?”

Jihoo :   “Ahaaha... Gwenchana.. huk huk.. gwenchana” tersenyum sinis.

Junpyo menatapnya miris, jihoo bilang ia baik-baik saja, tapi terlihat jelas kalau kondisinya menjelaskan sebaliknya. Keadaannya sangat kacau.

Junpyo :   “Jihoo-yaa…hentikan, seharusnya kau minum obat, bukan menghabiskan semua ini ” memandang risih pada tumpukan gelas dan boto-botol kosong itu.

Jihoo :   “Pergilah, kau lihat, aku baik-baik saja.”

Yijung :   ”Jihoo-yaa...”

Jihoo :   ”Sudah ku bilang aku baik-baik saja. Pergilah..”

Woobin :   ”Baiklah, aku anggap kau tidak apa-apa. Tapi aku tak akan menemuimu lagi kalau sampai terjadi sesuatu yang bodoh seperti ini lagi.”

Junpyo masih terdiam, sementara yijung dan woobin sudah lebih dulu keluar dari kamar jihoo. Ia ragu melangkah pergi, seakan bertanya-tanya penyebab dari semua ini. Junpyo menatap miris keadaan sahabatnya ini. Sungguh lebih baik jihoo memukulnya sampai babak belur dari pada harus melihatnya begini dan berkata ia baik-baik saja. Tepat saat ia beranjak, kata-kata jihoo menghentikan langkahnya.

Jihoo :   “Jandi”

Junpyo terhenyak, jihoo benar-benar menyebut nama istrinya itu. Alasan yang sudah ditebaknya dari tadi, dan merasa seperti pengecut ketika akan meninggalkan jihoo seperti ini dengan maksud menghindar. Junpyo terus terdiam perlahan kembali menatap serius pada jihoo, mendengarkannya mengoceh sampai puas.

“Gadis itu, pertama kali aku mengenalnya, ia seperti matahari yang memberikan kehidupan. Kau tak akan pernah bisa bermimpi seindah itu sebelum mengenalnya, meskipun kau memiliki segalanya. Huk huk....” airmatanya menetes satu demi satu, membasahi pipinya sampai ia tersedu-sedu.


END OF FLASHBACK



Kembali dari lamunannya, junpyo masih terdiam dengan tatapan kosong. Rasa bersalah terus menggelayuti pikirannya. Ia menghela nafas pendek, seakan benar-benar terbebani. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan, sampai merasa segan untuk pulang dan menemui jandi. Ia belum tau harus bersikap seperti apa dengan ’kekasih jihoo’ itu yang adalah istrinya.

Junpyo :   “Apa yang telah ku lakukan? Jadi aku telah membangunkanmu dari mimpi mu?” bisiknya berat, sungguh berat kata-kata itu keluar dari tenggorokannya.


Setengah jam kemudian, seorang gadis berpakaian lumayan miny berjalan ragu menyusuri keramaian orang-orang di dalam club itu, celingak celinguk ragu seperti sedang mencari sesuatu. Gaun yang dipakainya memamerkan paha mulus bening yang membuat mata lelaki terus menoleh mengikuti arah ia berjalan. Belum lagi bagian punggung yang hampir seluruhnya terbuka, jujur saja dia sendiri juga risih dengan gaun serba hitamnya itu. Makanya kacamata hitam aneh yang dipakainya lumayan membantu menyembuyikan jati dirinya.

Ia menoleh ke kiri dan kanan mencari sosok yang dikenalnya, dentuman musik yang memekakkan telinga benar-benar membuatnya hampir menyerah. Tapi sudah terlanjur berada disini, rasanya bodoh kalau harus mundur sebelum mendapatkan ’sesuatu’. Semakin jauh ia masuk ke dalam tempat yang sangat asing baginya ini, ia semakin merasa bodoh, bertanya pada dirinya sendiri apa harus melakukan ini? Juga semakin risih melihat pemandangan sekelilingnya. Tanpa sengaja akhirnya gadis itu menangkap sosok yang dikenalnya, matanya yang tersembunyi di dalam kacamata hitam langsung terbelalak saat melihat lelaki itu sedang mencium ganas seorang wanita di tempat umum begini. Sebentar saja ia langsung mendengus kesal, merasa jijik dengan kelakuan woobin dengan ’pacar sekejap’nya itu, buru-buru ia menoleh ke sekeliling woobin, tentu saja ia masih belum lupa dengan tujuannya kemari. Apalagi setelah melihat keadaan woobin, ia jadi semakin penasaran dengan ’target’ yang sebenarnya.

Sungguh kacamata hitam ini benar-benar mengganggu pandangan, ia tak dapat melihat dengan jelas meski sudah memasang mata lebar-lebar, masih terlihat gelap dimana-mana-tentu saja. Gaya ala detektifnya sangat mencolok, justru semakin mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya. Gadis itu perlahan menyelipkan tubuh mungilnya di balik sebuah meja yang lumayan tinggi, agak memojok. Berharap dapat menghindar dari perhatian orang, merasa agak aman-barulah ia berani membuka kacamatanya. Matanya menyipit, mempertajam pandangannya, terus mengelilingi sekitaran woobin yang berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri. Memandangi orang-orang yang lumayan rame disana satu per satu.

Seketika matanya menangkap pria yang dari tadi dicarinya, ia terhenyak. Pria itu tampak santai sendirian sambil serius menatap ponselnya.

”Pasti sibuk dengan gamenya.” gumamnya dalam hati sambil tersenyum meremehkan-juga agak girang. Tersungging senyum lega di bibirnya, mendapati Goo Jun Pyo tidak dengan siapapun dalam kapasitas yang tak pantas. Lelaki itu bahkan tak perduli dengan kedua temannya yang sedang asik dengan ’wanita baru’ mereka masing-masing.

Mata indah itu masih berbinar-binar senang tanpa berhenti menatap junpyo yang tampak acuh dengan apapun, termasuk wanita-wanita cantik di sekitarnya yang terus memandanginya. Tapi tiba-tiba lelaki yang dari tadi tertunduk gara-gara ponselnya itu mengangkat kepalanya. Haaap...... sekitar sepersekian detik-mata mereka sempat bertemu. Meski jaraknya lumayan jauh, ditambah lagi orang-orang yang lalu lalang menghalangi pandangannya, tapi sekilas junpyo benar-benar menangkap sosok jandi. Junpyo kembali menoleh, tapi tak ada sedikitpun ciri-ciri yang tadi dilihatnya.

Junpyo :   ”Ah, aku pasti sudah gila. Dimana-mana terbayang wajahnya.” gumamnya pelan, sambil menertawai dirinya sendiri.

Sementara jandi sudah bersembunyi diantara kumpulan gadis-gadis yang sekarang sedang memandangnya heran. Tak satupun dari mereka ada yang merasa mengenalnya, ia berdiri seolah akrab diantara gadis-gadis itu, sambil melirik was-was ke arah junpyo.

”Huuft..” ia menghela nafas lega karena berhasil mengecoh pandangan junpyo. Sementara gadis-gadis di sisi kiri dan kanan terus memandang sinis padanya. Jandi langsung menegakkan tubuhnya, berusaha kembali anggun. Tapi mereka bersikap acuh, menganggapnya seperti benda aneh. Tanpa memperdulikan kehadiran jandi, mereka lanjut mengoceh tentang junpyo.

Gadis 1 :   ”Sudah lama kan dia tidak kesini?”

Gadis 2 :   ”Aku dengar dia sudah menikah.”

Gadis 3 :   ”Yang benar saja, gadis seperti apa yag menikah dengan tuan muda sepertinya. Aku sungguh iri.”

Jandi memandang aneh pada gadis-gadis itu, ia hampir saja tertawa mendengar mereka sedang membicarakan dirinya. Dia benar-benar puas menguping pembicaraan mereka dengan santai.

Gadis 1 :   ”Aku akan mendekatinya.”

Gadis 2 :   ”Kau mau mati? Kalau dia datang untuk berkencan, tak selama itu dia duduk sendirian dari tadi.” memonyongkan mulutnya, buru-buru mencegah tingkah nekat temannya.

Kali ini jandi tak dapat menahan geli di hatinya yang dari tadi hampir meledak. Ia tekekeh puas menyadari kalau junpyonya kali ini sungguh setia.

Tapi tawanya itu mengundang kemarahan dari gadis-gadis itu, mereka merasa diejek oleh jandi. Mereka memelototi jandi, mendekatinya dengan membusungkan dada mereka yang ’wah’ seolah memojokkannya. Jandi baru sadar dengan tindakannya, ia langsung terdiam. Menatap ragu pada mereka.

Gadis 1 :   ”Hey, kau ini siapa huh?”

Gadis 2 :   ”Kau menertawai kami?”

Gadis 3 :   ”Mau mati ya?”

Merasa terpojok, jandi hanya bisa tersenyum ragu, belum sempat ia mencari alasan tiba-tiba saja ia melihat junpyo beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arahnya. Jandi langsung kabur dari sana, tapi ia justru tanpa sengaja malah menyenggol seorang pria bule dan menumpahkan minuman yang dipegang pria itu sampai bajunya basah. Gadis-gadis tadi memelototinya tak percaya, mereka merasa diacuhkan, dan sekarang gadis aneh ini malah membuat suasana kacau.

Bule :   ”Hey, what the…”

Bule itu tidak jadi memarahi jandi, rautnya yang lumayan sangar tiba-tiba berubah, tertegun melihat gadis yang menabraknya begitu cantik. Ia pun mulai kurang ajar, matanya mulai keleyapan di tubuh jandi yang hanya terbalut gaun super sexy. Jandi terkejut, juga sedikit meringis meremas lengannya yang sakit setelah menubruk keras tubuh kekar si bule.

Jandi :      “Oh, I’m very sorry!” sedikit membungkuk, meminta maaf.

Gadis 1 :   “Hey, lihat apa yang lakukan? Oh, are u oke nick?” wanita ini sok perhatian dengan si bule, sebenarnya dia hanya ingin memperkeruh suasana.

Bule :   “It look sore, I’m sorry.”

Tepat saat tangan si bule ini nyaris menyentuh jandi, tiba-tiba seseorang menghempas tangannya dengan keras.

”Don’t touch her with your fuckin’ hands!” Sambil menggenggam kuat tangan pria itu.

Mendengar suara yang tidak asing itu jandi langsung menoleh, kepalanya menengadah-menatap pria tinggi yang kini tepat berada di sampingnya itu. Ia sempat terbelalak sebelum akhirnya langsung tertunduk, sumpah ingin menyembunyikan wajahnya entah dimana agar tak dikenali. Tapi sudah terlambat, mata elang junpyo menancap lurus di retinanya saat jandi ragu-ragu kembali meliriknya.

Junpyo :   ”Apa yang kau lakukan disini?” menatap heran pada penampilan jandi yang membuatnya risih. Ia bahkan menghela nafas sakin kesalnya melihat istrinya ini memamerkan paha mulusnya kemana-mana.

Bule :   ”Hey, who the hell are u?”

Gadis-gadis di sekitar mereka tadi terlihat ketakutan, mereka nyengir tak karuan berusaha meredakan si bule.

Gadis 1 : ”Don’t say that. U have to go now. Mianhe Goo Jun pyo.. dia tidak sengaja…” Gadis itu melirik si bule, memberi kode padanya untuk tenang, setidaknya kali ini saja jika tak ingin berada dalam masalah. Si bule mulai ragu dengan sikapnya.

Junpyo kembali menatap marah pria bule itu, tapi dari jarak beberapa meter ia melihat yijung mencarinya. Junpyo langsung melepas tangan bule itu begitu saja untuk kemudian menarik tangan jandi dan lari dari sana sebelum yijung berhasil menemukannya. Mereka  semua melongo melihat reaksi aneh junpyo, walau merasa agak lega karena sebelumnya sangat ketakutan. Gadis-gadis itu saling berbisik satu sama lain,

”Siapa gadis itu? Kenapa Goo Jun Pyo membelanya?”



            =======================



Mobil junpyo berhenti mendadak di tepi sungai Han, sepanjang tepi sungai ini lumayan sepi saat dini hari begini. Junpyo turun dari mobilnya, membanting pintu dengan marah kemudian bersandar disana. Tidak lama kemudian jandi juga agak ragu mendekatinya, berdiri kaku di sisi junpyo sebelum lelaki ini meledak.

Junpyo :   ”Apa yang lakukan? Kau pikir ini lucu?” ia melirik tubuh jandi dari atas ke bawah, kemudian menghela nafas kesal, membuang pandangannya.

Jandi hanya terdiam, agak merinding dingin karena angin malam yang berhembus kencang.

Junpyo :   ”Untuk apa kesana? Itu bukan tempat mu bermain.”

Jandi :      ”Lalu, apa itu tempat kau bermain? Kenapa aku tidak boleh mencari suamiku?”

Junpyo :   ”Geum Jandi. Apa yang kau bicarakan? Kau datang hanya untuk mencariku?” memandang jandi penuh tanya dengan pandangan tak percaya.

Jandi :      ”Benar, aku menunggumu sampai larut, tapi kau bahkan tak menelponku. Aku...” sungguh ia tak tau harus berkata apa lagi, ini memang memalukan. Jandi tau tindakannya ini sungguh lucu, bahkan sangat memuakkan baginya. Tapi lebih lelah baginya menunggu saat itu. Ia terlalu penasaran, apa yang junpyo lakukan? Apa perasaannya masih begitu hambar padanya? Dia hanya ingin memastikan.

Junpyo :   ”Jandi-yaa...” panggilnya tiba-tiba, melihat jandi masih diam tak bisa menyebutkan alasannya.

Jandi :      ”Mianhe...” jandi buru-buru menghela, ia mengaku salah.

Melihat jandi begitu merasa tidak enak, junpyo sama sekali tak berdaya, ia membuka jasnya untuk kemudian membaluti tubuh mungil jandi yang kedinginan.

Junpyo :   ”Jangan berpakaian seperti ini lagi, aku tidak ingin seorangpun menatap tubuh istriku.”

Kemudian ia langsung memeluk tubuh jandi, mendekapnya dalam dada yang hangat itu, sangat erat.

Junpyo :   ”Percayalah padaku.” ucapnya pelan, mempertegas alasan jandi mencarinya. Kini gadis itu bersandar nyaman di dada hangat junpyo.

Junpyo :   ”Kau ingin jalan-jalan?”

Masih dalam pelukan junpyo, jandi menengadah hingga mata mereka bertemu.

Jandi :      ”Dini hari begini?” kemudian ia memandang sekitarnya.

Sungai han terlihat sangat indah, memantulkan cahaya lampu berwarna-warni. Junpyo melepas pelukannya, kemudian berjalan pelan sambil menggenggam tangan jandi. Mereka berjalan menyusuri tepi sungai yang remang, ditemani angin dingin yang semakin merapatkan tubuh keduanya. Sesekali tangan junpyo mendekap bahu jandi, menyandarkan gadis itu di sisinya. Terus berjalan menikmati malam yang indah.

Junpyo :   ”Jalan ini sangat panjang.” katanya pelan sambil terus berjalan menggenggam tangan jandi, ia menoleh penuh tanya.

Jandi :      ”Mwo?” jandi tidak mengerti apa yang junpyo katakan.

Junpyo :   ”Kau membiarkanku menggenggam tanganmu, membawa mu berjalan bahkan tanpa tahu dimana ujungnya, apa kau tidak lelah?” junpyo terus memandang ke depan dengan tatapan kosong.

Jandi :      ”Apa yang kau bicarakan?” tanyanya lembut sambil tersenyum ragu, menatap teduh junpyo yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.

Junpyo :   ”Jangan lepaskan genggamanku, jandi-yaa... Apapun yang terjadi, meskipun kelak kau merasa sangat lelah.” Sejujurnya ia ragu untuk mengabarkan pada jandi kondisi jihoo saat ini, ia takut. Di satu sisi merasa begitu bersalah pada jihoo, tapi di sisi lain dia begitu takut dengan reaksi jandi nanti. Ia takut jandi melepasnya dan pergi meninggalkannya.

Jandi :      ”Mana mungkin aku kelelahan, kita kan baru saja berjalan.” Jandi sejujurnya tak mengerti maksud junpyo, tapi dia benar, mereka baru saja memulainya perjalanan ini.

Junpyo :   ”Kalau kau lelah, aku akan menggendongmu.”

Jandi :      ”Kau aneh sekali.” Jandi terkekeh sambil menatap junpyo yang semakin mengencangkan genggaman tangannya sebelum tiba-tiba langkah junpyo berhenti.

Ia menghadap jandi dan menatapnya lekat, sangat serius. Begitu berat, seakan sangat terbebani.

Junpyo :   ”Kau benar-benar tidak tahu?”

Bibir jandi terbuka, ia terkelu-sedikit ngeri dengan tatapan serius junpyo itu.

Jandi :      ”Mwo? Ada apa?” tanyanya ragu, bersiap-siap mendengar penjelasan junpyo. Jandi jadi serba salah, kenapa tiba-tiba sikap junpyo berubah jadi begitu serius.

Junpyo :   “Jihoo mengalami kecelakaan.”

Jandi :   “MWO?” bagai tersambar petir, ia langsung melepas tangan junpyo, terbelalak kaku. Tergambar kepanikan di wajahnya seolah memohon penjelasan lebih dari junpyo. Melihat reaksi jandi seperti ini, junpyo semakin terdiam, ia melirik tangannya-memastikan kali ini jandi benar-benar melepasnya.

Jandi :   “Yah,  katakan apa yang terjadi pada jihoo oppa?” sedikit membentak.

Junpyo tetap terdiam, mata gelapnya terus menatap jandi yang mulai pucat.

Junpyo :   “Aku.. aku baru dari sana. Dia.. lukanya tidak parah, hanya saja….” Belum selesai junpyo bicara, gadis ini bahkan tak sabar mendengar penjelasan junpyo yang terbata-bata. Jandi langsung berlari meninggalkan junpyo,.

Dalam senyap, junpyo terlihat sangat tertekan, putus asa mendapati jawaban dari keraguannya. Ia kembali menatap telapak tangannya yang baru saja menggenggam tangan jandi, dan melanjutkan kata-katanya pelan tanpa ada yang mendengar.

Junpyo :   “Aku sudah bilang jangan lepaskan genggamanku” sorot mata yang penuh kekecewaan itu begitu kelam, membiarkan jandi pergi meninggalkannya dan hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Gadis itu sudah masuk ke dalam sebuah taksi.

Dia sudah mengatakannya, tapi jandi memilih melepas genggamannya. Junpyo hanya percaya, sakit ini adalah pilihan terbaik saat ini. Tepat saat jandi melepasnya, gadis itu seperti membawa pergi sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya. Sesuatu yang harus junpyo ambil kembali suatu saat, atau dia tak akan bisa hidup.


Kediaman Keluarga Yoon


Jandi bergegas menuju kamar jihoo, lelaki itu sedang tergeletak lemah di tempat tidurnya. Perlahan ia mendekat.

Jandi :   “Oppa…”



               End Of Chapter
            =======================



« Last Edit: August 14, 2011, 03:08:04 am by Cud na »