Author Topic: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″  (Read 38412 times)

Offline dalbyeol

  • Senior
  • ****
  • Posts: 803
    • View Profile
asyiiiiiiiiiiiiiiikkkkkkkkkkkkkk...sist.Cud Na update [clap] [clap] [clap]

gumawo [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

JP-JD dh gak bs dpisahin lg deh,together forever lah...JK awas klo kau brani2 mengganggu [head break] [fighting]

JD tekdungtralala [clap] [clap] [clap],JP pasti seneng klo tau...tp,apa JD bakal ngasih tau JP stelah kata2 JK yg bikin dia [AddEmoticons04274]??? JK emang hrs d [guns] deh [dry] [angry]

ok,deh sist.Cud Na yg baik hati...ane jd termotivasi dgn update-an ini [lovestruck]

lanjut ya,sist...HWAITING!!! [AddEmoticons04262]


And I'll never promise to
be true to anyone,unless it's you...The Day I Fall in Love

siti minsun

  • Guest
sist gomawo udah update..aku baru td abis baca ff ni dr pertama
ehh ternyata langsung diupdte,,senang bgt  [lovestruck] [lovestruck]
aduh jandy kaya lintah ya trus menempel ma junpyo..
paling lucu lagi saat junpyo jatuh dr t4 tidur..ga bisa ngebayanginnya  [rofl] [rofl] [rofl] [rofl]
skrang jandy udah cinmat bgt ma yg namanya junpyo,,kemanapun junpyo pigi jandy selalu ikutinnya.
tadi di bagian akhirnya bikin aku deg degan ma jaekyung..nti pasti dy mw bilang junpyo bahwa tu anak jihoo
plisss plisss plisss jgn bwt begitu ya,,aku ga sanggup liat jandy menderita lagi pa lagi sampe berceraii  [cry] [cry] [cry] [cry]
kan dy udah byk menderita,,,

ditunggu lanjutannya,,,,

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Gumawo eon dah update..
Wah jahe keong dah mulai melancarkan sranganx,,dgn mengancam jandi,,,apkh stlh ni jandi bkal meninggalkan jun pyo....apkh jahe keong bkl mnyerah stlh dia tau jan di hmil ank jun pyo,,,truz bgmana reaksi jun pyo stelah tau jandi hamil anaknx.....mian eon bnxk tnya...btw jnis klamin baby joondi pa nih klo bleh sran bgmna kl0 cwe' ja biar jun pyo slalu inget ma jandi dgn melihat wajah anknx coalnx klo anaknx cwe'kn bkal mirip eommanxa...truz biar jandi saingan ma anknx bwt dpt perhatian jun pyo...next jgn lma" updatenx ya eon...

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Makasih ya sist cud na udah meramikan CM .
Kayanya emang dari dulu perasaan JD ke JH hanya sayang sebagai oppa g lebih haynya JH aja yg punya perasaan lebih & JH sepertinya emang sudah tahu perasaan JD ke dia makanya JH ragu buat mengungkapkan perasaannya ke JD tapi.. Gara'' keraguannya akhirnya dia kehilangan JD .
Sedangkan JD yang sudah benar'' mencintai JP sampai'' tidak bisa jauh dari JP, apa lagi ada  pengaruh JP junior juga seh ! 
Lucu juga JP menahan hasratnya ke JD sampai harus jungkir balik tapi.. Tetap aja hasilnya nihil, JK sebaiknya kamu menyerah aja sudah tidak ada harapan lagi untuk mu .

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
makasi byk ya dh diupdate,aplaus n 1001jempol buat authorx.suka suka suka,palagi adegan dikamar hotel yg jp pushup,hahaha makax bung gengsi jgn dipelihara..jandi hamil nampak kyk org bodoh,ngidamx gw suka..ngejar2 bpk anakx.wkwkwk kejarlah daku kau kuembat,kata jp.si jk jahatnya keluar,mdh2n jd g terpengaruh malah makin mesra ma suami.skali lg thx y,Ganbatenee sistaaa
[/size][/color][/b]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
cud thanx say dah di up date [huglove]

yipieeee jan Di akhirnya hamidun anak junpyo  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

kira2 jae kyung bakalan berbuat apa ya setelah tahu Jan di mengandung bayi jun pyo [chin] berharap bukan suatu kejahatan yang mengancam kehidupan rumah tangga jundi [goodgrief]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline vhia_minsuners

  • Full
  • ***
  • Posts: 411
  • saranghae MinSun.... saranghae Joondi...
    • View Profile
sweeet..... teok tekdung teok tekdung... teok teok tekdung.... tekdung la la la....  [heh] [heh] [briggin] [briggin] [hmpfh] [hmpfh]


kissing you baby... muaaaccchhh ^^

iiuuu

  • Guest
hammer jahe..
gomawo cud sist uda update.

jandi ayo blg.. junpyo bw jandi ke newyork dong..

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
I CAN’T CALM MY HEART

Chapter 9

Independent Group


Jandi hanya terdiam menatap laptop di hadapannya dengan pandangan kosong, jari-jari lentik itu seolah tak bertenaga menekan satu tombol pun disana. Dia memang sedang berada di kantor dengan setumpuk pekerjaan yang tak wajib diselesaikan malam ini juga, tanpa tahu apa yang harus diperbuat ia terus saja berada disana saat suasana kantor itu sudah sangat sepi. Pikirannya melayang pada setiap patah kata yang baru saja didengarnya dari Han jaekyung. Malam sudah semakin larut sejak ia meninggalkan sungai Han dan jaekyung tadi, hanya saja jandi terlalu ragu untuk melangkah pulang ke rumah meskipun saat ini rasa rindunya pada junpyo nyaris tak terbendung.

Jaekyung :   “Junpyo.. dia tidur dengan gadis manapun yang ia mau, untuk sesaat. Hanya sesaat, lalu ia akan selalu kembali padaku.”

Kata-kata itu terus menghantuinya, jandi menghela nafas pendek seolah begitu sakit tercekik oleh tuduhan jaekyung pada junpyo. Kali ini ia bahkan sulit menggunakan akal sehat, mulai terpengaruh dengan kata-kata jaekyung meskipun dia tak ingin menerimanya. Apalagi awalnya jandi mengira junpyo mungkin memang tidak pernah melupakan jaekyung. Hanya saja, setelah menikah, jandi bahkan tidak bisa mencegah hatinya untuk mundur dari permainan atau apapun yang junpyo ciptakan. Ia percaya padanya, mencintainya tanpa menoleh ke belakang, ke sisi kanan maupun kiri junpyo.

Tangan jandi perlahan menyentuh perutnya dengan penuh kasih sayang, sinar matanya mulai redup terselimuti keraguan. Menyadari kehadiran seorang bayi di antara mereka, tiba-tiba ia merasa sangat kesepian, jandi benar-benar membutuhkan pelukan hangat junpyo saat ini.

Jandi :      “Sayang, Apa Appa-mu akan bahagia mendengar kehadiranmu?”

Suara lembut itu tidak memuai begitu saja, bagai sebuah ilham yang tiba-tiba memunculkan jawaban. Bisikan suara junpyo yang memintanya untuk percaya mengaung di telinganya. Memaksa bayangan malam itu muncul di pikirannya begitu saja, malam dimana ia menjadi milik Goo Jun Pyo seutuhnya, saat sinar mata junpyo yang begitu menusuk, memohon jandi untuk percaya padanya.

Junpyo :   ”Kau percaya padaku? Oh, tidak.. Aku mohon percayalah padaku kali ini.”

Tanpa sadar jandi langsung bangkit dari duduknya seolah memaksa keraguannya hilang. Ya, bukankah waktu itu dia benar-benar mempercayai junpyo, suaminya itu tanpa ragu menabur benih dalam cinta mereka, seakan keduanya adalah sepasang suami istri yang saling mencintai dan menghendaki seorang buah hati. Tak ada keraguan saat itu, junpyo benar-benar menginginkan dirinya menjadi ibu dari anak-anaknya.

Jandi juga teringat saat junpyo memeluknya dengan hangat di tepi sungai Han, lelaki itu juga bicara aneh dan meminta jandi untuk tidak melepas genggamannya apapun yang terjadi, semua itu muncul begitu saja dalam pikirannya.

Junpyo :   ”Percayalah padaku.” ucapnya pelan, mempertegas alasan jandi mencarinya. Kini gadis itu bersandar nyaman di dada hangat junpyo.

Junpyo :   ”Jangan lepaskan genggamanku, jandi-yaa... Apapun yang terjadi, meskipun kelak kau merasa sangat lelah.”


Semua kata-kata junpyo berulang-ulang meraung-raung di telinganya, ia terlihat kebingungan. Seakan sesuatu begitu memaksanya untuk datang pada junpyo saat ini juga. Bukankah itu sebuah penegasan? Lalu sekarang kenapa dia harus takut? Junpyo tidak lagi seperti yang jaekyung katakan, dia tidak pernah melihat junpyo bersama wanita lain, tidak pernah.

Jandi berniat meninggalkan tempat itu sekarang juga. Tanpa perduli apapun lagi, laptop yang masih menyala, berkas yang berserakan, ataupun beberapa barang yang  terjatuh dari mejanya akibat kepanikannya. Ia tidak perduli semua itu, yang ingin ia lakukan saat ini hanyalah bertemu dengan junpyo dan memberitahu pada suaminya itu bahwa ada seorang bayi di dalam perutnya, bayi mereka.

Tapi..... Telililit… tit tit tit.. tepat saat jandi merampas tas di mejanya sebelum beranjak, tiba-tiba dering ponsel meredam sejenak niatnya yang menggebu-gebu itu.

Jandi :   “Jihoo oppa?”  membaca nama seseorang di layar ponselnya.

Jandi berusaha tenang, kemudian buru-buru menjawab telponnya.

Jandi :   “Yeoboseyo? Oppa?”

Jihoo :   “Jandi-yaa… Bisa kita bertemu sekarang? Ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu.”

Jandi mulanya terdiam, berfikir kenapa hari ini begitu banyak orang yang ingin bertemu dengannya.

Karena tak mendapat jawaban, jihoo memastikan jandi masih mendengarkannya.

Jihoo :   “Jandi”

Jandi :   “Oh, Oppa.. itu... aku...” jawabnya ragu, mencari-cari alasan untuk mengelak.

Jihoo :   “Waeyo?”

Jandi :   “Aku.. harus bertemu dengan Goo Jun Pyo, aku harus menemuinya sekarang.”

Jihoo terdiam sesaat, sebetulnya dia heran, baru kali ini jandi menolak untuk bertemu dengannya. Jihoo khawatir terjadi sesuatu antara junpyo dan jandi.

Jihoo :   “Apa terjadi sesuatu padamu?”

Jandi :   “Anyio oppa, nanti aku telpon lagi ok? Annyeooong”

Tiiitttt…..

Sambungannya diputus begitu saja oleh jandi, tanpa perduli jihoo yang di seberang sana berkali-kali meneriakkan namanya. Jandi langsung berlari menuju parkir dan mengendarai sendiri mobilnya sampai ke rumah.



            =======================


Kediaman keluarga Goo

Jandi langsung menuju lantai atas dan masuk ke kamar mereka, berharap junpyo sudah menunggunya disana. Tapi senyap, tak ada siapapun. Ia mengitari setiap sisi kamar yang luas itu, tetap saja kosong. Rautnya mulai kecewa, ternyata junpyo tidak menunggunya, dan baru sadar bahkan junpyo juga tidak mencarinya meski sudah selarut ini.

Jandi :   ”Kau dimana?” Keluhnya.

Ya-mungkin saja junpyo sibuk dengan pekerjaannya. Mengingat itu, jandi kembali antusias berlari keluar kamar.
 
Pintu kokoh yang penuh ukiran itu pun terbuka perlahan seolah tak ingin menimbulkan keributan disana, jandi menjulurkan kepalanya ke dalam. Ia melirik ke segala arah, tetap saja tak ada siapapun di ruang kerja ini. Sosok yang sangat ia rindukan itu tidak tampak dimana pun. Rasanya keinginan bertemu junpyo sampai menyesakkan dada, semakin sedih saat tak menemukannya. Jandi turun menuju pintu utama dengan tampang putus asa, beberapa pelayan berbisik dengan raut khawatir.

Tak lama berselang, ada suara mobil yang sangat menarik perhatian jandi, ia langsung berlari tepat ke ambang pintu. Benar, itu mobil Junpyo. Wajahnya langsung sumeringah, senyumnya mengembang lebar bahkan memamerkan lesung pipinya yang menggoda dengan mata berbinar.

Pak Jung turun dari mobil, dan langsung membungkuk hormat pada jandi. Ia terlihat sangat antusias menanti seorang lagi yang turun dari sana, tapi senyum itu langsung sirna begitu mobil itu berlalu pergi tanpa meninggalkan junpyo disana. (?)

Jandi menghampiri pak jung dengan raut khawatir.

Jandi :   “Pak Jung, dimana Goo Jun Pyo? Ke.. kenapa kau hanya sendirian? Dimana Junpyo?”

Pak jung tersenyum tenang diserbu pertanyaan beruntun oleh jandi, semakin membuat jandi tak sabar.

Jandi :   “Pak jung.”

Pak Jung :   “Tuan Muda belum bisa pulang nona.” Jawabnya sopan.

Jandi :   “Apa terjadi sesuatu padanya?” menatap pria paruh baya itu dengan serius.

Pak Jung :   “Anyio nona, Tuan Muda masih meeting, dia menyuruh saya menyampaikan pada nona agar tidak khawatir.”

Jandi :   “Benarkah?” sahutnya pelan, agak kecewa.

Pak jung lagi-lagi membungkuk pertanda ‘ya’ lalu dia pun permisi kemudian berlalu dari sana, meninggalkan jandi yang masih gelisah. Ntah apa yang jandi pikirkan, ia hanya terdiam dengan tatapan kosong. Ntah itu hanya nalurinya yang berlebihan, tapi dia seolah tak percaya begitu saja. Mungkin karena kata-kata jaekyung tadi, jandi mendadak begitu takut.

Jaekyung :   “Dengar jandi, aku tak akan melepasnya.”

DEG... Jandi terperanjat mengingat kata-kata itu.

Jandi :   “Tunggu!” refleks saja ia menghentikan langkah pak Jung.

Jandi tampak tegang, pak jung menoleh dengan raut penuh tanya.

Jandi :   “Itu....” jandi tak fokus menatap pak jung, pandangannya kesegala arah seperti orang kebingungan dan panik.




         ==============================



Glory Hotel

Junpyo :   “Apa yang kau lakukan?” suara junpyo sedikit membentak.

Rautnya kesal, junpyo mondar mandir  gelisah sambil menatap tajam wanita di hadapannya yang sedang tertunduk sedih.

Jaekyung :   “Mianhe Junpyo” nadanya lirih, namun tak terdengar penyesalan sedikitpun.

Junpyo :   “Bagaimana kau bisa kemari?” Ia tak percaya jaekyung bisa melakukan ini.

Jaekyung :   “Itu karena aku sangat sulit menemuimu.” tukasnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Junpyo :   “HAN JAEKYUNG!!”



Flashback

Han Jaekyung muncul disaat junpyo sedang makan malam bersama beberapa pemegang saham untuk membicarakan kepergiannya ke New york. Pak Jung sudah menyuruhnya menunggu sampai meeting selesai, tapi jaekyung menerobos pertahanannya dan muncul di hadapan relasi bisnis tanpa tahu menempatkan diri. Junpyo terbelalak  shock dengan kemunculannya. Jaekyung sama sekali tak bergeming saat junpyo memelototinya, bermaksud menyuruhnya berhenti bertindak konyol. Tapi karena wanita ini benar-benar tidak tahu malu dan mengacaukan semuanya, akhirnya junpyo dengan menahan malu terpaksa menghentikan meeting secara mendadak yang disambut oleh gelengan kepala para relasi. Sudah bisa ditebak pasti mereka mengira junpyo bermain terlalu jauh dengan wanita lain.

End of flashback



            ========================



--Di sisi lain--


Jandi menginjak pedal gas dengan penuh emosi, terlihat butiran air di pelupuk mata yang segera dihapusnya karena sangat mengganggu penglihatan. Mobil itu benar-benar berkecapatan penuh, baru kali ini dia menjadi gila seperti ini.

FLASHBACK

Jandi :   “Tunggu!” refleks saja ia menghentikan langkah pak Jung.

Jandi tampak tegang, pak jung menoleh dengan raut penuh tanya.

Jandi :   “Itu... Dimana.. junpyo meeting?” Jandi tak fokus menatap pak jung, pandangannya kesegala arah seperti orang kebingungan dan panik.

Serkeratis jung memandang jandi ragu.

Serk.Jung :   “Tuan Muda  ada di Glory Hotel, di kamar 241.”

Tanpa basa-basi jandi langsung berlari menuju mobilnya dan pergi begitu saja. Pak jung menatapnya miris.

END OF FLASHBACK


Mobilnya masih dengan kcepatan penuh, tapi tiba-tiba ponsel jandi berdering, ia meliriknya sekilas. Lagi-lagi, jihoo menghubunginya. Tapi maaf saja, kali jandi tidak berniat menjawabnya. Tentu, jika tak ingin terjadi sesuatu yang buruk, sebaiknya memang didiamkan saja ponsel yang menjerit-jerit itu. Pikirannya sedang kacau, kalau ditambah dengan telepon lagi, sulit dipastikan ia bisa menyetir dengan selamat.

Setibanya di Hotel itu, jandi melangkah lebar dan cepat menyusuri lorong sambil mencari angka 241 yang tertempel di pintu-pintu kamar hotel mewah ini. Rautnya panik bercampur lelah, ia terus menoleh ke kiri dan ke kanan, kebingungan. Sesekali perutnya terasa sakit karena terlalu terguncang, tapi ia berusaha kuat melangkah sambil sesekali memegangi perutnya.

Saat hampir tiba di ujung lorong, akhirnya jandi menemukan angka 241. Jandi terhenyak, dia mendadak gugup dan lemah. Wajahnya pucat, hanya bisa terdiam sambil menatap sedih pintu itu seolah angka 241 adalah angka kramat yang menakutkan. Detak jantungnya menjadi tak beraturan, ia begitu ketakutan, berdo’a-berharap firasatnya salah.


-- Di dalam kamar 241 --

Tak disangka, dari luar begitu hening, tapi ternyata di dalamnya lumayan histeris.

Junpyo :   “Hentikan Han Jaekyung!” membentak keras dan dingin.

Jaekyung :   “Wae? Kenapa kau selalu menolak ku? Bukankah aku kekasih mu?”

Jaekyung menjatuhkan bajunya ke lantai, gadis ini benar-benar melepas pakaian luarnya satu per satu hingga hanya tersisa pakaian dalam yang tipis. Junpyo sama sekali tak sudi menatap tubuhnya sedikitpun, sorot matanya dingin dan tajam, menusuk kedua bola mata jaekyung hingga menggetarkan jiwa raga gadis itu. Jaekyung berusaha tenang dan tak perduli dengan penolakan junpyo, meski sebenarnya sorot mata itu sungguh mencabik-cabik hatinya.
Sejujurnya jaekyung sangat terguncang, untuk kesekian kalinya ia menyerahkan dirinya pada junpyo, tapi sebanyak itu pula junpyo menolaknya mentah-mentah. Bedanya, kali ini jaekyung tidak menyerah begitu saja, dia lebih agresif dan keras kepala dari biasanya. Bukan lagi jaekyung yang penurut dan hanya bisa menangis di pojokan, dia terus berusaha bertahan menghadapi kemarahan junpyo, walau sebenarnya lelaki itu hanya tak ingin menyakitinya lebih parah lagi.

Junpyo :   “Aku benci setiap kali kau melakukan ini. Bukankah sudah ku katakan kita tak akan pernah melakukannya. Jaekyung-yaa, aku sudah menikah. Cepatlah pakai baju mu.” Tandasnya acuh tak acuh.

Tapi Jaekyung malah semakin histeris.

Jaekyung :   “ANDWE! JANGAN KATAKAN ITU LAGI. JANGAN KATAKAN ITU DI HADAPANKU. SALAHKU MEMBIARKAN MU MENIKAH, AKU TAHU ITU SALAH KU. TAPI BUKAN KARENA ITU, KAU SUDAH MENOLAKKU SEJAK DULU. JANGAN KATAKAN KARENA KAU MENIKAH. AKU TIDAK MAU DENGAAAAAR!”

Jaekyung tetap bertahan, dia berusaha tegar hanya untuk menghalangi junpyo mengungkapkan perasaannya tentang jandi. Airmatanya mulai tumpah, jaekyung bahkan bersedia menyalahkan dirinya ataupun merendahkan dirinya sendiri hanya demi memungkiri perasaan junpyo yang sudah diketahuinya.

Junpyo semakin tak habis pikir, dia mulai kehabisan kesabaran meladeni hal bodoh ini.

Junpyo :   “Sudahlah, aku harus pulang. Aku lelah!”

Junpyo melangkah acuh dengan tangan terselip di saku celana, sikapnya semakin dingin dan muak. Tepat saat junpyo memutar gagang pintu dan membukanya, kreeeekkkk…. Saat itu juga jaekyung berhambur dan langsung melumat bibir lelaki itu. Junpyo terbelalak ngeri menatap sesuatu di hadapannya, tubuhnya mendadak kaku. Bukan karena ciuman itu nikmat, tidak sama sekali. Hanya saja, tahukah apa yang dilihat junpyo saat wajah jaekyung hampir menutupi sebagian wajahnya akibat ciuman bodoh itu?

Matanya menangkap sesosok gadis cantik, yang juga sedang berdiri kaku dengan mata indah terbuka lebar dan berair, juga bibir bergetar kelu. Ya, melalui pintu yang belum terbuka sempurna itu Jandi-istrinya dapat melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi. Bahkan mata mereka bertemu, saling menatap dalam diam. Sementara jaekyung dengan keadaan berantakan seperti itu terus melahap habis bibir Goo Jun Pyo tanpa tahu apapun.

Betapa sakitnya, ingin rasanya jandi lenyap saat itu juga. Dadanya luar biasa sesak. Rindunya sekejap musnah. Matanya merah-berair tanpa disadari. Mematung indah di hadapan mereka yang sedang berciuman. Tak ada satupun yang bergerak dari posisi itu selama beberapa menit. Bahkan junpyo seakan lupa posisinya, dia mendadak tak mampu berfikir.

Jandi melangkah mundur seperti tak bernyawa, selangkah, dua langkah, beberapa langkah sampai punggungnya menyentuh dinding kamar yang berada tepat di seberang kamar 241 itu-pertanda sudah buntu. Ia tidak tahu kenapa rasanya sulit sekali bergerak, tatapan pilunya tak lepas dari bola mata goo jun pyo yang juga seolah tak berdaya. Jandi ingin lari, tapi begitu lemah. Seperti orang bodoh, ia malah pergi begitu saja dengan kepala tertunduk ke lantai seakan dirinya yang bersalah, wajah pucat. Jalannya pelan seperti akan ambruk.

Junpyo tak berbuat apapun, dia tidak tahu harus berbuat apa setelah semuanya begitu jelas terjadi. Tidak tahu bagaimana caranya membela diri sementara kesalahannya dirasa tak terampuni. Dia bahkan lupa menghempas tubuh jaekyung, sama sekali tak tertarik dengan apapun setelah semuanya sangat terlambat. Hingga jaekyung sendiri yang melepaskan ciumannya dan menatap junpyo yang sekarang terlihat sangat bodoh, terdiam melongo putus asa. Jaekyung tetap tidak puas dengan reaksi junpyo ini, dia tak menyangka junpyo sama sekali tak memperdulikannya lagi. Bahkan junpyo tak menatapnya sedikitpun.

Junpyo berjalan oleng, kebingungan. Dia melewati jaekyung begitu saja seolah jaekyung itu benda transparan atau mungkin setan tembus dinding. Junpyo pergi dari sana tanpa menghukum perbuatan jaekyung sama sekali, dari awal keberadaanya disini ia tidak tertarik berurusan dengan gadis itu.




            ======================



Jandi terduduk lemas di tangga darurat hotel, dia bahkan tidak tahu kenapa kakinya melangkah kesini, ke tempat yang sangat sunyi. Mungkin karena tak ingin ditemukan oleh siapapun, apalagi junpyo. Tatapannya kosong, mengalir air yang cukup deras dari sana. Tapi tak ada suara sedikitpun yang keluar dari bibirnya yang terus bergetar, sesegukan menahan semuanya. Terus meremas-remas jarinya dengan maksud meringankan getarannya, tapi percuma karena yang terguncang adalah hatinya, tak dapat dikendalikan.

Di situasi seperti ini ponselnya terus saja bergetar. Karena panik, jandi langsung menekan tombol ’call’ tanpa sempat berfikir. Suara panik langsung terdengar dari seberang sana.

“Jandi-yaa… Kau baik-baik saja? Kau dimana? JANDI-YAA..”

Jandi :   “Oppa” panggilnya serak setelah mendengar suara jihoo, nadanya sangat putus asa.

Jihoo :   “Jandi-yaa.. kau dimana?” kali ini nada suara jihoo terdengar ragu, juga seperti merasakan sesuatu yang buruk. Berusaha tenang meskipun sangat khawatir.

Jandi :   “Hikz hikz…”

Jandi tak sanggup menjawab hingga tangisnya pecah juga.

Jihoo :   “Jandi?” panggilnya pelan.



            ========================

 
Kediaman Keluarga Yoon


Jihoo menyelimuti pungung jandi dengan jasnya. Jandi sendiri masih terlihat shock, terduduk di sofa dan hanya melamun. Tatapannya kosong, wajahnya sembab akibat tangis yang panjang. Dia terus terdiam sedih, tidak memperdulikan apapun di sekitarnya. Jihoo benar-benar sakit melihat gadis yang dicintainya begitu terluka, tak pernah sebelumnya melihat jandi dalam keadaan seperti ini. Mendapati gadis ini duduk sendirian seperti orang tersesat di tangga darurat hotel, jihoo tak habis pikir.

Jihoo menyodorkan segelas teh pada jandi yang lansung menyeruputnya tanpa menunjukkan ekspresi berbeda dari semula. Jihoo menatapnya prihatin. Apa yang sudah dilakukan Goo Jun Pyo? Kenapa jandi sampai seperti ini? Sungguh hati jihoo lebih sakit lagi.

Tapi mendadak jandi bangkit dari duduknya, jihoo yang terperanjat juga ikut berdiri dan menatap jandi penuh Tanya.

Jihoo :   “Waeyo?”

Jandi masih terlihat bingung.

Jandi :   “Aku.. aku harus bertemu dengannya.”

Jandi langsung pergi tapi tertahan oleh jihoo yang menarik tangannya.

Jihoo :   “Untuk apa? Apa semua belum jelas? Bukankah tadi kau sudah menemuinya?” nadanya tajam dan marah.

Pertanyaan bertubi jihoo ini semakin menyudutkan jandi, mulanya jandi berharap ini semua hanyalah mimpi, tapi jihoo menyadarkannya dengan begitu ketus. Semuanya memang nyata, seperti yang jaekyung katakan, junpyo akan selalu kembali padanya. Seharusnya jandi sadar sejak awal.

Perlahan sorot mata gadis ini meredup-menatap jihoo setelah dari tadi kehadiran lelaki itu dianggap angin lalu. Raut wajah jihoo kali ini sangat sulit dijelaskan, jihoo yang biasanya tanpa ekspresi kini tampak sangat ekspresif. Terlihat kekesalan disana, matanya pun berkaca-kaca.

Jihoo :   “Sudah cukup, jandi-yaa.” Katanya pelan.

Jandi mulai sadar dengan tatapan aneh itu, dahinya terhenyit berusaha mencari arti dari keseriusan wajah jihoo. Dia mulai ragu dengan apa yang akan jihoo katakan selanjutnya. Jandi terkelu, tak berkedip sedikitpun.

Jandi :   “Oppa..” panggilnya pelan, sementara lengannya masih tercengkram erat oleh tangan kokoh jihoo.

Tatapan itu, kenapa? Kenapa bukan junpyo yang menatapnya seperti ini, saat ini. Tatapan yang sangat dirindukannya, oleh sinar mata junpyo yang gelap, namun penuh cinta.

Jihoo :   “Saranghae Jandi-yaa..”

SIIIIIIIIIIIIIIIIING……

Jandi terhenyak, kali ini bukan goo jun pyo. Bukan junpyo yang ada di hadapannya, bukan junpyo yang mengatakan cinta padanya.

Kenapa harus jihoo? Seseorang yang sudah dianggapnya sebagai kakak, yang juga sangat berarti baginya, kenapa harus seperti ini? Suaminya mencium wanita lain di hotel, dan sekarang jihoo, berkata mencintainya?

Jandi jadi semakin bingung. Ia hanya ingin segera terbangun dari mimpi buruk   ini. Tanpa sadar, kakinya melangkah buru-buru untuk pergi dari sana, tapi lagi-lagi jihoo menarik lengannya. Cukup kuat hingga tubuhnya jatuh dalam pelukan hangat jihoo, dan kini wajah mereka begitu dekat.

Mata bulat jandi membesar, ia tak sempat mengelak saat bibir jihoo menempel begitu saja di bibirnya, lembut dan terasa dingin. DEG DEG DEG.... Hanya sekejap, sebelum akhirnya…..

BRUUUUUUKKKKKKK

Sebuah tinju yang cukup keras berhasil membuat jihoo tersungkur ke lantai, jandi yang masih shock dengan ciuman mendadak itu semakin panik ketika mendapati ternyata junpyo dengan membabi buta sedang memukuli jihoo.

Jandi :   “Hentikan… Goo Jun Pyo.. aku mohon hentikan! Oppaaa...”

Jandi berteriak ketakutan, ia berusaha melerai keduanya sambil menangis. Tapi junpyo terus mendaratkan bogemnya ke wajah jihoo yang sudah tak berdaya, tergeletak di lantai tanpa sempat melawan.

Jandi menarik-narik tangan dan tubuh junpyo, ia terus menangis sesegukan menyaksikan keganasan junpyo ini. Huhuhuhu.... Tak seberapa lama, mendadak ia melemah, gadis itu langsung terduduk di lantai memegangi perutnya.

Jandi :   “Oh... aku.. mohon... hentikan.” Katanya terbata sambil menahan sakit.

Jihoo :   “Jandi” jihoo masih sempat memanggil jandi meski suaranya sangat lemah hampir tak terdengar, wajahnya sudah berlumuran darah, namun sakit itu seolah tak ada artinya ketika mendengar jandi mendesah kesakitan.

Menyadari itu, junpyo langsung menghentikan pukulannya, ia panik mendapati jandi ikut tersungkur dengan wajah pucat. Tanpa sadar cengkramannya pada jihoo terlepas begitu saja untuk kemudian mendekap tubuh jandi. *Junpyo percis seperti antagonis yang memisahkan Romeo and Juliet  ;p *

Junpyo :   “Jandi-yaa.. gwenchanayo?” raut khawatir, sangat khawatir.

Tak disangka perlahan jandi malah menyingkirkan tangan junpyo dari tubuhnya seakan tak ingin disentuh, memaksa lelaki itu merasa begitu berdosa.

Junpyo :   “Jandi-yaa..” panggilnya lirih.

Dengan susah payah jandi berdiri, perutnya masih terasa sakit, ia juga membantu jihoo bangkit dan menghapus bercak darah di bibir lelaki itu. Sementara junpyo hanya bisa terdiam menyaksikan itu dengan hati terluka, karena jandi sama sekali acuh dengan keberadaannya.

Jandi :   ”Oppa, kau tidak apa-apa?”

Jihoo sedikit meringis sambil menatap tajam goo jun pyo, sahabatnya itu semakin  mendidih menahan perasaannya. Junpyo sama sekali tidak berbakat menahan amarahnya.

Junpyo :   ”Hentikan!” Junpyo langsung merampas tangan jandi dan menariknya.

Jandi :   ”Kau masih belum puas?” Ia berusaha lepas dari cengkraman junpyo.

Junpyo :   ” Kita harus bicara jandi-yaa” ucapnya serius.

Tentu saja jandi menolak, gadis itu terus memberontak tapi genggaman junpyo terlalu kuat.

Jihoo :   ”Lepaskan!”

Jihoo menatap tajam junpyo, dia sudah kehilangan kesabaran. Sikap keduanya begitu dingin saling menantang, sama-sama menarik tangan jandi.

Junpyo :   ”Brengsek!” lagi-lagi junpyo kembali menyerang jihoo, bogemnya nyaris menghantam wajah tampan sahabatnya itu, untunglah jandi mendorong tubuh junpyo sekuat tenaga.

Jandi :   ”Apa yang kau lakukan? Kau sudah gila?”

Junpyo :   ”Aku....” junpyo mulai kehilangan akal menjelaskan kecemburuannya ini.

Jandi : ”Sudah cukup Goo Jun Pyo... Aku sudah lelah. Baiklah, aku kalah..” jandi terlihat sangat putus asa, ia mengatakan itu tanpa berani menatap junpyo. Sedangkan jihoo terperanjat, langsung menoleh ke arahnya. Begitu juga dengan junpyo.

Junpyo :   ”Apa maksud mu? Karena lelaki ini menyatakan cintanya lalu kau seperti ini?” nadanya terdengar sinis, dengan tatapan tajam menyalahkan jandi.

Jandi :   ”Hoh, kau lucu sekali. Baiklah, lalu kenapa kalau memang begitu? Apa kau tahu, sekali saja, kau pernah bertanya apa aku mencintaimu? Apa kau tidak butuh cintaku? Apa artinya aku bagimu?” tangisnya kembali pecah.

Sorot mata junpyo melunak, ia tersadar akan kebodohannya. Dia memang sama sekali tidak pernah mengatakan kalau dirinya mencintai jandi, itu memang salahnya. Jihoo tertunduk diam mengartikan semua yang didengarnya, dia terkejut menyadari dengan jelas perasaan junpyo dan jandi sudah begitu dalam.

Junpyo :   ”Apa kau tidak merasakannya? Apa kau benar-benar tidak bisa melihat perasaanku?”

Tatapan yang kelam itu sungguh mengobrak-abrik perasaan jandi, semakin memilukan hatinya.  

Junpyo :   ”Sekuat apapun aku mencegahnya, aku tetap memikirkanmu.  Seinginnya aku tidak memikirkan mu, jihoo dan kita.. tapi dadaku terasa sesak. Apa ini bukan cinta?”

Kali ini jihoo terhenyak menatap junpyo. Junpyo pun menatap jihoo datar seolah berkata  :   ’Benar, selama ini aku juga sudah menahan beban ini sendirian.’

Tiba-tiba ’Persaingan’ mereka buyar.

Jandi :   ”Bukan. Setiap kali aku merasakannya, aku menjadi sangat lelah.. Cinta yang kau maksud itu, aku tidak mengenalnya.”

Hati junpyo terasa semakin tertusuk oleh sorot mata jandi yang begitu jernih. Sejak awal dia tahu mungkin akan seperti ini, ia tahu jandi akan merasa lelah berada di sisinya. Kali ini, apa yang bisa ia lakukan?

Sementara jandi pergi begitu saja dari sana meninggalkan kedua lelaki itu mematung-menyaksikannya menjauh. Junpyo yang ketakutan kehilangan jandi kemudian mengejarnya. Sedangkan Jihoo hanya menatap mereka tanpa ekspresi, begitu tenang.

Junpyo :   ”Jandi-yaa” buru-buru menangkap lengan jandi.

Jandi terlihat begitu dingin, datar seolah perasaannya telah sirna.

Junpyo :   ”Kau tahu kan? Kau tahu aku mencintaimu. Kau tahu itu.” ia berusaha meyakinkan jandi, disana juga penuh dengan pengharapan.

Jandi :   ”Apa kau lupa, aku baru saja melihatmu mencium gadis lain.”

Keduanya terlihat tegang menahan perasan mereka, sama-sama terluka. Saling menatap dengan mata berkaca-kaca tanpa berkedip sedikitpun. Dan pada akhirnya, jandi pergi tanpa menoleh lagi ke belakang, meninggalkan junpyo yang masih menatap punggungnya dengan perasaan sangat menyesal, perlahan air matanya tumpah membahasi pipi.


.
--------------------------------------------------


Malam itu, dalam gelapnya kamar yang indah, junpyo menyembunyikan dirinya disana. Masih tersisa penyesalan di hatinya yang tak mampu ia jelaskan lagi. Tapi meskipun begitu, ia masih menunggu, menunggu jandi melunak lalu kemudian pulang karena merindukannya. Walau kali ini junpyo tak yakin itu akan terjadi, tapi dia tak bisa berhenti menunggunya.

Ia terdiam memikirkan hubungan mereka selanjutmya, benarkah jandi tak akan memaafkannya? Benarkah akan berakhir seperti ini? Kemudian junpyo teringat saat jihoo mencium jandi dan menyatakan cintanya, ia bahkan tak sanggup bernafas membayangkan itu semua. Jantungnya seakan berhenti berdetak, junpyo hanya bisa menertawai dirinya sendiri yang begitu bodoh. Betapa jelas jandi mencintainya, gadis itu percaya padanya yang brengsek ini. Berkali-kali jandi mencoba mengerti dirinya, tapi apa yang ia lakukan selain hanya bisa membuatnya terluka. Junpyo menangis, ia menyesal terlambat sejauh ini sementara gadis itu tak pernah mengeluh, ia tetap mencintai junpyo dengan tenang. Junpyo terus mengingat keberasamaan mereka, tapi itu justru semakin menyakiti dirinya

Jupyo :   ”Mianhe... Jeongmal mianhe.....” suaranya serak, kemudian ia menangis-mengharu biru. Begitu menyesal, seolah akan kehilangan segalanya.

Malam ini terasa sangat panjang karena sampai dini hari pun jandi tidak juga muncul, hingga junpyo putus asa menunggunya.



         =============================



Keesokan harinya,


Sekitar pukul sepuluh pagi jandi kembali ke rumah setelah menginap di kantor semalaman, dia tidak menginap di rumah orang tuanya karena tak ingin mereka khawatir. Dia tahu mungkin junpyo sudah berangkat ke kantor, dengan tampang yang begitu lelah jandi langsung beristirahat di kamarnya. Benar, junpyo sudah tidak ada disana.

Sakin lelahnya, jandi tertidur di ranjang tanpa sempat mengganti pakaian, dunianya terasa kacau setelah kejadian kemarin. Sudah cukup ia memikirkannya, tapi tak menemukan solusi tentang perasaannya. Sekarang jandi terlelap...


------------------------------------------



New York, USA

Waktu berselang cukup lama hingga junpyo akhirnya tiba juga di New York. Dia disambut peluk hangat Omma dan Appanya di kediaman mereka, keduanya senang bisa makan malam bersama putra mereka satu-satunya itu walaupun sedikit kecewa karena junpyo tidak membawa istrinya.

Mr.Goo :   ”Kenapa datang lebih cepat kesini? Kau bilang akan membawa menantuku, kenapa jandi tidak jadi ikut?”

Junpyo :   ”Oh, itu... karena dia masih banyak urusan yang harus diselesaikan.” jawabnya datar, harus berbohong menutupi salahnya lagi.

Mrs. Goo :   ”Aigoo.. bukankah aku sudah bilang, jangan biarkan menantu ku berkerja terlalu keras. Kau juga sayang, malah menyuruh anak mu kemari. Bagaimana kita bisa cepat-cepat menimang cucu kalau mereka tinggal terpisah.” ibunya malah menyalahkan suaminya karena lebih mementingkan perusahaan.

Sementara junpyo sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan mereka, ia hanya diam. Andai saja mereka tahu kalau rumah tangga mereka sedang terjadi masalah, mungkin dia juga akan menyakiti hati orang tuanya.

Mr.goo :   ”Tenang sayang, kita bisa menyuruh jandi kesini nanti. Kau tenang saja ya.. Biarkan junpyo berkonsentrasi dengan proyeknya disini.” Appa junpyo merangkul istrinya, membawanya menuju meja makan. Meninggalkan junpyo yang terpaku, dengan sorot mata yang sedih.

Mrs.goo :   ”Ah, kau ini masih bicara soal proyek.. huuuuh..”



            ===========================



Seoul, Independent Group

Setelah mengetahui junpyo berada di New York dari serketaris Jung melalui sambungan telpon jandi merasa sedikit menyesal. Dia memang kesal karena junpyo selalu lari seperti ini, tapi juga sedih karena mungkin junpyo juga jauh lebih terluka karena perkataannya malam itu.

Jandi :   ”Dia bilang akan mengajak ku ke New york, sekarang malah meninggalkan ku sendirian. Kau tahu, anak mu ini sangat merindukan ayahnya.” bisiknya pada dirinya sendiri, lirih. Sambil menatap lurus ke luar jendela gedung pencakar langit itu.

Tidak lama kemudian serketarisnya muncul membawa beberapa berkas yang langsung disusun di meja kerja jandi. Sekilas dia melirik jandi yang begitu gelisah sambil meremas-remas ponsel di tangannya. Kemudian jandi terlihat menghubungi seseorang.

Jandi :   ”Benar, aku pesan satu tiket ke New york untuk penerbangan besok. Atas nama Geum Jandi. Baiklah, Ghamsahamnida.”

Jandi menutup telponnya, kemudian menuju meja kerja.

Serketaris :   ”Anda akan pergi ke New york presdir?”

Jandi :   ”Ah, iya.. tolong ya siapkan semua berkas penting seminggu ke depan, aku akan menyelesaikannya malam ini.”

Serketaris :   ”Tapi presdir, itu kan banyak sekali. Anda bisa kelelahan.”

Jandi :   ”Tidak apa-apa, sejak kuliah bukankah kita sudah terbiasa mengerjakan banyak tugas. Jadi sama saja.” ia tersenyum.

Serketarisnya ikut terkekeh.

Serketaris :   ”Bagaimana bisa disamakan, tugas ini memiliki resiko yang sangat besar. Salah sedikit bisa bangkrut.” candanya.

Jandi membenarkan sambil tersenyum lebar, tapi tiba-tiba sebuah telpon mengganggu candaan mereka.

Jandi :   ”Yeoboseyo? Omma? Ada apa? Tenanglah, katakan saja pelan-pelan. MWO?”

Jandi mendadak pucat pasi mendengar ommanya menangis histeris sambil mengoceh, dari nadanya dia juga sedikit menyalahkan jandi.

Jandi :   ”Appa...” katanya pelan menunjukkan raut ketakutan.

Serketaris itu juga ikut panik.

Serketaris :   ”Presdir, apa yang terjadi? Anda baik-baik saja?”

Belum sempat jandi menghiraukannya, dia langsung berlari meninggalkan kantornya dengan jantung berdebar-debar.




         ===========================



Seoul Hospital


Jandi menatap ommanya yang sedang menangis tersedu-sedu di sisi ranjang appanya yang  terlelap dengan banyak selang dan kabel meliliti tubuhnya. Dia melangkah pelan memasuki ruangan itu, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Jandi juga belum mengerti setelah tadi ommanya berteriak-teriak di telepon dan mengatakan soal perceraian. Dia ragu untuk bertanya, ia terlalu takut.

Ommanya menyadari kehadiran jandi, dia langsung memeluk anaknya itu sambil terus menangis, juga berbicara ’ngawur’ dan terus menyalahkan jandi.

Mrs.  Geum :   ”Apa yang kalian lakukan? Kenapa seperti ini? Kau lihat sekarang appa mu begitu menderita. Dokter bilang, dia terkena serangan jantung. Huhuhu..”

Mendengar ibunya begitu sedih, jandi pun ikut menangis. Dia bahkan tidak tahu harus berkata apa.

Mrs. Geum :   ”Kenapa kalian bercerai? Kenapa suami mu menceraikanmu huh? Ini salahku, ini salahku yang sudah memaksa kalian menikah.” kali ini dia berbalik menyalahkan dirinya sendiri.

Tangis jandi semakin dalam, dia belum juga bisa mencerna ini semua. Perceraian? Kenapa ommanya asal bicara? Jandi berusaha memungkiri, mana mungkin junpyo menceraikannya. Kenapa dia melakukan ini? Dia bahkan mengirim surat cerai itu pada appanya hingga mengakibatkan ayahnya ambruk. Mana mungkin junpyo setega itu. Jandi mulai terisak.

Ia tidak sanggup memikirkan itu semua, jandi tidak mau mendengar apapun lagi. Tanpa menjelaskan sesuatu, ia langsung berlari pergi sambil menangis. Ommanya terus memanggil, tapi jandi tetap meninggalkan tempat itu tanpa menghiraukannya.

Mrs. Geum :   ”Jandi... Geum Jandi.”

Sementara diluar rumah sakit, terlihat sudah banyak wartawan yang menunggu.




         =============================



New York,  USA

Junpyo masih terlihat santai mengerjakan berkas-berkas yang menumpuk, mengingat hari ini adalah hari pertamanya di kantor yang baru, ini memang sedikit keterlaluan. Tidak lama berselang, appanya masuk ke ruangan itu dengan wajah sangar. Dia tiba-tiba membanting beberapa koran dan majalah tepat di hadapan junpyo. Raut junpyo berubah bingung.

Mr .goo :   ”Aku sudah merasa aneh saat kau datang kesini lebih cepat dari jadwal seharusnya. Rupanya ini yang kau rencanakan? Kau pintar sekali bersembunyi disini sementara jandi menderita sendirian disana. ANAK KURANG AJAR!!!”

Kali ini appa junpyo benar-benar terlihat marah, wajahnya memerah, juga matanya sampai berkaca-kaca.

Junpyo terperanjat, ia belum mengerti apa yang appanya bicarakan sebelum meraih koran dan majalah yang appanya bawa. Sontak saja ia terbelalak, tulisan disana sungguh mengerikan baginya.

”PENGUSAHA MUDA GOO JUN PYO BERCERAI.”

”PEWARIS SHINWA GROUP MENCERAIKAN ISTRINYA.”

“MANTAN PERDANA MENTERI GEUM JATUH PINGSAN KARENA PERCERAIAN PUTRINYA, SAHAM INDEPENDENT GROUP BERGEJOLAK.”

Junpyo :   ”Apa-apaan ini?” bisiknya kaget, menatap ngeri koran-koran itu.

Mr. Goo :   ”Aku menikahkan mu dengan putri keluarga Geum bukan untuk kau sakiti. Dia bahkan terlalu baik untuk mu. Oh, kau ingin aku juga jatuh sakit karena perbuatan mu ini? Aku sudah membuat keluarga Geum menderita dengan meminta mereka memberikan putri kesayangannya pada putra ku yang brengsek ini.”

Mr. Goo terus mengoceh menyalahkan dirinya sendiri, sementara junpyo tidak bisa mencerna situasi yang sedang dihadapinya ini.

Mr. Goo :   ”Kau pikir bagaimana susahnya kami membujuk jandi sampai mau menikah dengan mu? Dia menyetujuinya bukan karena kau pewaris Shinwa Group, tapi karena dia merasa berhutang budi pada ku. Karena appamu ini yang sudah membantunya membangun sebuah yayasan di Boston. Sekarang bagaimana kau bisa membuatku begitu berdosa dihadapan gadis sebaik jandi.”

Kali ini junpyo terhenyak.

Junpyo :   ”Apa?” suaranya pelan.

Ia mulai teringat kata-kata pak jung tentang Yayasan Boston itu. Jadi karena itu jandi mau menikah dengannya.

Mr. Goo :   ”Aku tidak akan memaafkan mu!”

Junpyo :   ”Appa..”

Mr. Goo    :   ”Jangan panggil aku sepeti itu, kau sudah menyakiti begitu banyak orang. Aku tidak membesarkan mu untuk menjadi seorang pecundang. Kalau ibu mu sampai sakit karena hal ini, aku tidak akan memaafkan mu.”

Junpyo :   ”Tunggu dulu, ntah apa yang sudah terjadi, aku juga tidak mengerti. Tapi aku tidak melakukannya. Aku mohon percayalah padaku, aku mencintainya. Appa, aku mencintai jandi dengan seluruh hidupku.”

Menatap cinta di mata putranya, mr.goo jadi terkelu. Dia tidak ingin terperdaya oleh tatapan yang dianggapnya tipuan itu, tapi cinta putranya ini begitu nyata. Junpyo terlihat sangat terpukul dan kebingungan.

Mr.goo   :   ”Apa yang kau katakan? Kau pikir appa percaya?” katanya ragu.

Junpyo :   ”Aku harus kembali ke Seoul sekarang.” katanya yakin.

Mr.goo mulai mempercayainya, dia tidak tahu apa mau goo jun pyo sebenarnya, tapi dengan kembali ke Seoul tanpa takut serangan wartawan, itu artinya junpyo tidak datang ke New York dengan maksud lari setelah berbuat onar.




         =============================






Seoul,
Kediaman keluarga Geum


Hari sudah larut ketika junpyo tiba di Seoul dan langsung menuju kediaman keluarga Geum setelah menghubungi rumahnya, pelayan mengatakan istrinya sama sekali tidak pulang. Disana, junpyo melangkah pasti menerobos masuk untuk bertemu dengan jandi. Tapi sayang, tiba-tiba saja rumah itu dijaga dengan sangat ketat. Baik oleh utusan pemerintah maupun bodyguard pribadi yang berdiri di sekitar kediaman Geum untuk mencegah wartawan meliput. Junpyo pun kesulitan untuk masuk kediaman mertuanya ini, sebenarnya sang pemilik rumah memang tidak mengizinkan ’mantan suami’ jandi masuk.

Junpyo :   ”Minggir! Aku bilang minggir! Kau tidak tahu siapa aku? Aku hanya tidak ingin membuat keributan di rumah mertuaku.”

Junpyo menatap tajam kedua penjaga yang menghalangi langkahnya, sementara penjaga yang lain tetap sigap namun belum mendekat.

Penjaga :   ”Maaf tuan. Tapi anda tidak boleh masuk.”

Junpyo semakin bringas, ia mendorong salah satu penjaga dan memukul wajahnya. Kesabarannya habis juga, dari tadi hampir setengah jam dia menahan emosinya itu.

Junpyo :   ”Aku sudah bilang, aku harus menemui istriku.”


Perkelahian tak terelakkan, junpyo sama sekali tak mau mengalah. Dia seperti orang gila yang mengamuk untuk masuk ke rumah itu. Beberapa penjaga mulai mengeroyokinya-tidak memukul, hanya menahannya saja. Plak plak plak.... junpyo berusaha menghajar mereka semua, penjaga-penjaga itu menarik tubuh junpyo dari belakang, tapi dia terus memberontak. Menendang kesana-kemari, menyerang dengan membabi-buta apa saja yang di dapatnya. Meskipun akhirnya ia hanya tersungkur kelelahan. Dia bahkan tidak bisa mencapai pintu masuk.

Junpyo berteriak-teriak seperti orang gila disana, dia tidak perduli kalaupun ada wartawan yang meliputnya. Pintu itu tetap tidak terbuka, tak ada seorang pun yang keluar dari sana. Ntah karena teriakannya tak menembus rumah yang besar itu, ataupun memang jandi dan yang lainnya sama sekali tidak ingin bertemu dengannya lagi.

Junpyo :   ”JANDI-YAAA........ GEUM JANDI.... AKU MOHON, KITA HARUS BICARA! AKU MOHON JANDI-YAAA...”

Dia terus berteriak sepanjang malam, sampai ia kelelahan sendiri. Suaranya bahkan sudah serak, ditambah lagi tiba-tiba hujan deras mengguyur tubuhnya sampai basah kuyup. Junpyo terus berteriak melawan kencangnya angin dan kerasnya suara gemuruh hujan. Ia sampai menangis terisak, terjatuh ke lantai dengan bercucuran air mata.

Para penjaga mulai iba melihatnya, mereka kualahan menghadapi keras kepala junpyo, mereka bahkan tidak tega lagi mengusirnya pergi.

Junpyo :   ”Jandi-yaa.. aku mohon keluarlah..” katanya pelan sambil tertunduk, suaranya tak dapat terdengar lagi. Habis sudah, tenggorokannya terasa sakit. Namun sakit di hatinya lebih perih dan tak bisa dijelaskan. Ia benar-benar kalut dan merasa akan kehilangan segalanya.

Hari berganti, matahari mulai mengeluarkan sinarnya. Junpyo masih terduduk disana setelah semalaman terguyur hujan. Angin kencang bahkan mengeringakan bajunya, dia mulai pucat dan kesulitan membuka mata. Keadaannya sangat memprihatinkan.

Tidak lama berselang, sebuah mobil mendekat kearahnya. Dengan sisa-sisa tenaganya junpyo berusaha bangkit, matanya menyipit oleh silaunya mentari. Dilihatnya ada dua orang pria yang turun dari mobil itu dan langsung berlari ke arahnya.

Woo bin dan yijung langsung membopong tubuh junpyo yang lemah.

Yijung :   ”Sudah ku bilang, dia pasti disini.”

Woobin :   ”Junpyo-yaa apa mereka memukul mu?” menatap geram satu persatu penjaga disana yang juga sedang memperhatikan mereka.

Yijung :   ”Ayo kita pergi dari sini.” mendengar ini, junpyo menolak.

Junpyo :   ”Aku harus bertemu jandi.”

Woobin :   ”Lihat kondisi mu. Kalau jandi mau keluar, dia tidak akan membiarkan mu sampai seperti ini.”

Yijung :   ”Sudahlah, kita pikirkan lagi caranya nanti.”

Tapi junpyo yang keras kepala terus saja menolak, dia mendorong tubuh yijung dan kembali berlari ke pintu. Alhasil, lagi-lagi penjaga disana mendorongnya. Woo bin dan yijung mau tak mau jadi ikutan emosi.

”Hey....”

BRUUK, keributan kembali terjadi, kali ini benar-benar berkelahi. Yijung menghantam wajah salah satu dari mereka, yang lainnya jadi ikut menyerang. Woo bin menjatuhkan perorangnya hanya dengan sekali pukulan. Woo bin dan yijung dengan gampang membuat satu demi satu penjaga disana tersungkur, beberapa dari mereka sudah tergeletak di lantai sambil kesakitan. Tapi tiba-tiba sebuah teriakan menghentikan aksi heroik mereka.

”HENTIKAN!!!!”

Semua mata menoleh ke asal suara, di ambang pintu masuk, omma jandi terlihat sangat marah.

Mrs. Geum :   ”APA YANG KALIAN LAKUKAN? BERHENTI MEMBUAT KERIBUTAN.”

Junpyo langsung berlari ke arah mertuanya dengan berpongoh-pongoh.

Junpyo :   ”Jandi-yaa... Geum Jandi..”

Dia berusaha masuk, tapi mertuanya itu menghalangi.

Mrs.Geum :   ”Belum puas kau menyakitinya? Karena perbuatan mu, suami ku menderita strock. Aku tidak bisa memaafkanmu. Kalian sudah bercerai, jadi jangan ganggu putri ku lagi. Pergilah...”

Junpyo :   ”Apa maksdunya bercerai? Itu tidak benar...”

Belum sempat junpyo menyelesaikan kata-katanya, omma jandi kembali mengusirnya.

Mrs.Geum :   ”Dia sudah menandatangani surat itu, jadi kalian sudah resmi bercerai.”

Junpyo :   ”Tidak, aku harus bertemu jandi. Omma, aku harus bicara dengan nya.”

Omma jandi benar-benar marah, dia tidak perduli dan hanya meninggalkan junpyo tanpa kepastian. Junpyo terus mengejarnya meskipun dicegah beberapa penjaga lagi, tapi woo bin dan yijung membantunya.

Junpyo :   ”Aku mohon, biarkan aku bertemu jandi.”

Omma jandi semakin kesal, kali ini wanita paruh baya itu tidak berhasil mencegah air matanya tumpah. Ia menagis sambil terus menyalahkan junpyo.

Mrs.Geum :   ”Ini semua salah mu, putriku pergi karena dirimu. Dia sudah pergi, aku bahkan tidak tahu dia kemana. Kau belum puas menyakiti jandi kami huh? Keluargaku menjadi seperti ini akibat perbuatan mu.”

Junpyo terhenyak, apa maksudnya jandi sudah pergi?

Junpyo :   ”Apa? Omma, kau bohong kan? Jandi tidak pergi kan?” junpyo semakin panik.

Mrs.Geum :   ”Jandi benar-benar pergi. Ini semua salah mu. Huhuhu....”

Mrs.Geum menangis tersedu, kecantikannya hampir luntur karena masalah ini. Dia sangat terpukul, melihat suaminya sakit, jandinya pergi meninggalkannya dan perusahaan, bagaimana dia bisa memaafkan Goo jun pyo?

Sementara junpyo, dia sepeti orang bodoh, terdiam tidak percaya dengan pengakuan omma jandi. Apa benar jandi meninggalkannya? Junpyo merasa sangat terpojok dan terfitnah.

Woo bin dan yijung menatap menantu dan mertua itu dengan pandangan prihatin, mereka tidak habis pikir hal seperti ini bisa terjadi. Melihat sikap junpyo ini mereka merasa sangat aneh, bukankah junpyo sendiri yang mengirimkan surat cerai itu? bahkan kabarnya sudah ditandatangi olehnya, tapi kenapa junpyo seolah semenderita ini akibat perbuatannya sendiri???



               End Of Chapter
         =================================
« Last Edit: October 23, 2011, 07:47:22 am by Be my self »

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
ncud thanks da update...aduh ko kesalahpahamannya mkin melebar..itu yg ngasi srt cerai pasti si jahe keong ya bener2 hrs dicincang dia biar jd bhan jamu.trus si jandi pergi kmn? Jgn sampe jundi cerai ya cud n next chap hrs akurin mereka kngen liat kemesraan mrk,next chap jgn lama2 ya... [biggrin]

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Gumawo eon dah update...
Jun pyo keterlaluan bgt ma jandi masak ciumannxa keong racun gk d.tolak gk d'beri plajaran pula keong racunnx..jun pyo d.sini kyknx lbh menjaga dan mementingkan perasaan keong racun dari pd jandi,,masak jun pyo gk mau menyakiti perasaan keong racun,dan malah menyakiti perasaan jandi...eon yg buat surat cerai keong racun yah truz jgn2 jandi prgi ke boston ma jihoo...next bwt jun pyo ma keong racun menderita ya eon truz next updatenx jgn lma2 yah,,gumawo...

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
senang deh sama sist cud na yang rajin update ff nya apa lagi selalu looong  [lovestruck]
tapi... kalai ini chapnya penuh dengan  [angry] dan  [cry] aku jadi ennga bisa nogomong apa" lagi saking  shock sama hubungan JUNDI yang di kabarkan BRCERAI , sebenarnya yang mengirim surat cerai ke ayahnya JD siapa [what] apa jangan" ini perbuatan si muka tembok JK [head break] ini akibat JP juga yang tidak mau tegas dalam menghadapi JK makanya dia selalu berharap sama JP , akibatnya selalu aja kesalah pahaman terjadi apa lagi JD dia selalu mendapati JP sama JK disaat mereka  [kiss] bagaimana tidak sakit hati JD  [cry] kira" benar apa yang di bicarakan omma JD kalau JD pergi  [what] berharap JP bisa sadar kalau dia harus bersikap tegas jangan kalau ada masalah selalu menghindar akibatnya bukan selesai malah sebaliknya tambah PARAH , sist nextnya berharap kesalah pahaman ini cepat terungkap kasian JD yang sedang HAMIL dia pastibutuh perhatian JP  [hug], buat JK kalau sampai ada apa" sama JD & baby nya , entar bakalan  [head break] [hammer] [ranting] [fighting]

Offline dalbyeol

  • Senior
  • ****
  • Posts: 803
    • View Profile
sist.Cud Na...gumawo dh update ya [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

JP & JD jgn smpai bener2 cerai ya,sist [AddEmoticons04274]

lanjut,sist...HWAITING!!! [AddEmoticons04262]

And I'll never promise to
be true to anyone,unless it's you...The Day I Fall in Love

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
Playboy kena karma sekarang. Playboy kualat. Nah selamat mengemis cinta Jandi, Goo Jun Pyo mantan playboy [hmpfh]

Offline vhia_minsuners

  • Full
  • ***
  • Posts: 411
  • saranghae MinSun.... saranghae Joondi...
    • View Profile
huhuhuhu......
 [cry] [cry] [cry] [cry] [cry]
 [cry] [cry] [cry] [cry] [cry]
 [cry] [cry] [cry] [cry] [cry]
 [cry] [cry] [cry] [cry] [cry]
 [cry] [cry] [cry] [cry] [cry]

kenapa jadi nyesek gini..... junpyo..!! cepat cari jandi, tunjukan padanya klo dirimu itu mencintainya....
jadi kan lagi hamil, moga gk terjadi apa2 dengan jandi....

jaekyung pasti dibalik semua ini...


kissing you baby... muaaaccchhh ^^