Ruangan itu sudah gelap, tepatnya remang-remang. Sebagian lampunya sudah padam, hanya tinggal lampu hias bercahaya pendar saja yang tersisa. Perlahan-lahan jandi menuruni anak tangga, dia agak bingung melirik ke sekeliling ruangan yang luas itu namun tak bisa menemukan junpyo, sampai sebuah suara yang sangat dikenalnya itu terdengar samar-samar, berbicara sangat pelan.
”Andweyo appa. Aku hanya membutuhkan sedikit waktu.”
Suaranya terkadang berhenti, jandi tentu tidak dapat mendengar apa yang sedang dikatakan appa junpyo. Agaknya terjadi perdebatan antara keduannya melalui sambungan telpon.
”Aku tidak bisa. Aku tidak bisa meninggalkan jandi sendirian disini. Bukankah appa sangat menyayanginya?”
Junpyo terlihat gusar, ia mondar-mandir menahan emosinya, karena bahkan ia tidak bisa mengeraskan suaranya.
”Aku mohon, beri aku sedikit waktu lagi, aku akan membawa jandi pulang bersamaku.”
Junpyo melempar pandangnnya ke sisi dimana ia sepertinya melihat bayangan, seketika junpyo terkesiap kaku, konsentrasinya buyar, menatap jandi dengan pandangan ngeri sepeti melihat hantu. Sementara gadis itu hanya terpaku disana tanpa ekspresi, menatapnya dalam-dalam.
”Arasso..” katanya pelan, hanya kata terakhir itu yang terucap sebelum ia memutus sambungan telpon karena konsentrasinya buyar, bahkan tidak dapat menangkap dengan jelas apa yang terakhir kali appanya ucapkan.
Junpyo : ”Jandi-yaa” panggilnya pelan, juga ragu. Melihat penampilan jandi dengan gaun tidur seksi itu membuat junpyo sesak nafas. Namun ia ragu harus berkata apa setelah begitu pasti jandi mendengar pembicaraannya.
Jandi membuang pandangannya dengan raut bingung dan sedih, dia tahu apa yang akan junpyo katakan, tapi sungguh ia tak ingin mendengarnya. Buru-buru gadis itu berbalik, bermaksud untuk pergi dari sana, tapi kata-kata junpyo menghentikan langkahnya.
Junpyo : ”Aku harus kembali ke Seoul.”
Senyap, tak ada reaksi dari jandi. Junpyo hanya menatap punggungnya dari belakang, menunggu, namun jandi tetap tak bereaksi.
Junpyo : ”Jandi-yaa, aku mohon..”
Jandi : ”Cukup! Jangan bicara lagi.” kali ini ia tiba-tiba menghela perkataan junpyo sebelum lelaki itu menyelesaikannya, seakan begitu yakin apa yang dikatakan junpyo tak akan membuatnya kembali ke Seoul.
Junpyo ragu-ragu mendekatinya, menggenggam tangan jandi lembut, memaksa gadis itu berbalik menatapnya. Ya, tatapan yang begitu memilukan, kenapa begitu cepat sorot kerinduan itu menyapa luka hatinya.
Junpyo : ”Saat aku meninggalkan New York begitu saja, terjadi sedikit masalah karena itu. Terlebih lagi saat ini kursi presdir di Seoul kosong, Shinwa sedang dalam pergunjingan.”
Jandi mulanya hanya diam, rautnya masih kaku seakan divonis hukuman yang tak seharusnya ia terima. Dia tahu hal ini pasti terjadi, tidak mungkin selamanya berada di sini bersama junpyo yang sudah seharusnya mengurus hal-hal besar di luar sana.
Jandi : ”Arasso, Junpyo-yaa.. pulanglah!” jawabnya pelan, menyembunyikan kegalauan hatinya.
Junpyo : ”Andweyo, bukan itu yang ku inginkan. Aku tidak akan pulang tanpamu.” menatap jandi dengan penuh pengharapan, serius.
Jandi : ”Tidak Goo Jun Pyo.” tetap menolak, juga menghindari tatapan junpyo.
Junpyo : ”Apa kau tahu, bagaimana hidupku tanpa kau di sisiku? Aku tidak sanggup jandi-yaa..” matanya tak berkedip sedikitpun meski butiran air mulai mengalir dari sana, wajahnya memerah. Raut ini lah yang jandi hindari, dia akan semakin sulit saat melihat junpyo yang hebat seakan begitu tak berdaya karena dirinya.
Jandi : ”Junpyo-yaa, Shinwa membutuhkanmu, saat ini pasti Independent Group sedang berada di ujuk tanduk, aku tidak ingin shinwa mengalami hal yang sama. Pulanglah!”
Junpyo : ”Aku pasti akan menyelamatkan Independent Group, kau jangan khawatir. Karena itu, kau ikutlah denganku.”
Keduanya seakan harus bertahan dengan luka hati mereka masing-masing.
Jandi : ”Tidak junpyo, aku tidak bisa melihat masa depan kita disana. Aku mohon kau mengerti, aku sudah megorbankan segalanya untuk ini. Juga kasih sayang pada orangtuaku.”
Deg, jantung junpyo mulai berdetak tak beraturan, kali ini ia begitu takut. Bahkan lebih takut dari jandi, ia takut akan kehilangan jandi lagi. Junpyo menunduk, pertahanannya runtuh melihat tatapan jandi yang begitu dalam memohon padanya, memaksanya mengalah. Tak ada pilihan lain untuknya kali ini.
Junpyo : ”Apa yang bisa ku lakukan? Semua ini salahku. Aku pasti akan membujuk appa dan omma.” Ucapnya bingung dengan nada yang sangat rendah, berat, walau sebenarnya tahu itu akan sia-sia.
Jandi langsung berhambur ke dalam pelukan junpyo, memeluknya erat.
Jandi : ”Mianhe Goo Jun Pyo.” Meski tak seikhlas itu melepasnya pulang.
Bukannya membalas pelukan jandi, air mata junpyo malah semakin deras mengalir di pipinya. Jakunnya naik turun di leher jenjang itu, terus tertunduk membenamkan wajahnya di pundak jandi.
Jandi melepas pelukannya, mendaratkan ciuman sayang di bibir penuh junpyo. Melumatnya lembut seakan memberikan ciuman yang tak akan terlupakan oleh junpyo seumur hidupnya, menggantikan kekosongan beberapa waktu ke depan yang ntah sampai kapan, tak ada dari mereka yang mengetahuinya.
Junpyo mulai membalas ciuman hangat itu lebih dalam lagi, tangan kanannya menyentuh punggung jandi, menekannya untuk lebih merapat. Sementara tangan kirinya mengusap pipi mulus gadis ini yang basah oleh hamburan air matanya. Sejujurnya, sangat menyayat, seakan keduanya ketakutan kalau ini akan menjadi yang terakhir.
Tubuh mungil yang rentan itu terdampar di sofa, terduduk-menengadah menyambut ciuman hangat junpyo yang tak memberinya kesempatan untuk bernafas lega sedikitpun. Lelaki itu berada di atasnya, kepalanya memutar ke kiri dan kanan, mencium jandi seperti orang kelaparann, mengiringi hasrat keduanya yang menggebu-gebu, bertekat menghabiskan malam ini dalam kekelahan yang nikmat, tak akan berhenti sampai esok datang dan membawa junpyo menghilang dari pandangan jandi.
Tubuh jandi tersudut di antara junpyo dan sandaran sofa, tapi ia tak akan protes, terserah, apapun yang junpyo inginkan darinya, biarlah waktu yang memisahkan mereka. Seakan keduanya tak berdaya, menyerahkan masa depan pada takdir, itu sudah cukup untuk saat ini. Yang jelas, seolah hanya memiliki waktu malam ini saja, tanpa sempat berfikir bagaimana caranya menentang takdir.
Tali gaun jandi terkulai menuruni bahu mulusnya, sungguh pakaiannya sudah berantakan. Tangan kekar itu menyelinap masuk dalam pakaian dalamnya, menarik apapun yang didapatnya untuk kemudian dibiarkan tergeletak di lantai. Suhu ruangan yang luas itu bahkan memanas, keringat keduanya menempel lekat satu sama lain. Polos, ya.. sekejap saja keduanya terengah-engah di sofa itu seakan tak berdaya menahan gairah yang tercipta oleh setiap sentuhan.
Desahan nikmat terdengar meraung-raung tanpa ada yang mendengar selain mereka berdua, saling bersahutan menerjemahkan rangsangan yang sedang mereka rasakan. Jilatan junpyo menjelajah kemanapun yang diinginkannya, dada jandi bahkan sedikit nyeri. Gundukan yang semakin hari semakin membengkak itu menjadi sarana foreplay yang seharusnya tidak sepenuhnya milik junpyo lagi, melainkan milik si bayi. Tapi jandi sama sekali tak keberatan, tidak sempat perotes karena kenikmatan yang sedang direnggutnya jauh lebih berarti.
Selama beberapa menit berlalu, erangan jandi semakin kencang seiring guncangan yang juga semakin cepat saat junpyo sudah memasuki tubuhnya. Yaa.. berkali-kali... Keduanya menghabiskan malam ini dalam romantisme yang akan menjadi kerinduan tersendiri esok harinya, tepatnya saat junpyo kembali ke Seoul.
End Of Chapter
================================