Author Topic: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″  (Read 38435 times)

iiuuu

  • Guest
wooaaaaa mewek ane bacanya..

smga ada jalan buat mreka dan baby nya...
smga yg salah n jahara dpt blsannya...@lirik2 jahekeong..

update lg dong sist...@ditabokcudnasista

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
NCUUUUDDDDDD.......

ga bales saranghe sih tapi waktu JUNPYO bilang "AKU CEMBURU"!! (langsung kejang2 [collapse] ) [laughing] [laughing]

NCUUUDD....ape tuh blakang pake misah lagi?? [head break] [head break]  [guns] [guns]
bumil ga bole ditinggalin sendiri tanpa suaminya, bahaya [nono] [nono]
ncuud siap2 dapet serangan PING!!! kalo bgini critanya [dry] [dry]

Love you more than I can say

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
thank you dh update,walau bacanya telat jg..seperti biasa puasss slalu longgg n alur critax slalu sesuai yg kuinginkan.jp nangis krn mo kembali ke seoul cocwit!!ntar balik ke bouston g bkal ktemu jd lg..ngemis2 lg dah jp nya.Akv pdamu jp.suka suka keren keren bagus bagus @manggut2,nepuk2bahucudna
[/size][/color][/b]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Cud na miane baru komennnn padahal bacanya udah dari kemaren2 [heh]

JUNdi Couple emang paling bisa maenin emosi readers, kadang sweet kadang mulai aksi berantem2 yg emang Joondi banget tp ane emang paling suka scene romantis Joondi tp seringnya banyak gangguan contohnya Tina yg tiba2 pengen dikelonin ama JD padahl si JP lagi nanggung tuch [on] [on] tp gw suka cara JP memperlakukan Tina udah kyk bapak yg baik mungkin karena faktor calon ayah dari calon bayi yg dikandung JD makanya JP melarang JD buat gendong Tina alhasil JP juga yg gendong dan bercanda ama Tina dan akhirnya mereka tertidur layaknya ayah dan anak [lovestruck]

buat MARK [head break] [head break] [hammer] dasar cowo bule semprulll [guns] [guns] buat JP gw ga menyalahkan kok sikap JP menghajar Mark yg emang bikin naik pitam padahal JP udah nyoba sabar sesabarnya ngadepin si bule gila tp setidaknya Mark tahu juga kalo JD memang sangat mencintai JP


udah sweet2nya Joondi menghabiskan waktu berdua eh JP kudu balik ke korea karena SHINWA dalam masalah tp berharap pulangnya JP ke Korea bisa membawa hasil yg baik buat pernikahannya bersama JD dan pada akhirnya JD mau untuk pulang ke KOREA mempertahankan pernikahannya bersama JP dan membesarkan anak mereka nantinya.


untuk urusan JAEKYUNG udah jgn kuatir ane siap kok jadi pagar betis JOONDI supaya JK kgk berani2 ganggu keharmonisan pernikahan JOONDI couple lagi [hmpfh]


CUD NA komawo [smiley-gen013]




    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
setelah perpisahan ini, berarti di chp depan tdk ada moment jundinya dong [what] [what] kan mesti jelasin dulu gimana caranya junpyo menyelesaikan masalah di shinhwa and dgn orangtuanya [smiley-dance013] [smiley-dance013] yah kecuali jandi ga tahan (ga mengherankan. bawaan bayi pingin disentuh bapaknya [hmpfh] [hmpfh] [on] [on] ) and nekat nyusul junpyo ke seoul whistling whistling

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline huey

  • Newbie
  • *
  • Posts: 73
  • bogosipta....saranghae...
  • Location: Semarang
    • View Profile
    • Huey is Coming
ncudddddddddddddddddddddddddd  Emoticons0427 Emoticons0427
akirnya diriku menongolkan diri di ep epmu lagi.... [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


update dunkkkkkkkkkkkkkkkkkkk........ [nicethread] [nicethread]
kapan jandi balik ke seoul????? [AddEmoticons04262]
eh balik ma junpyo maksudnya.............. [AddEmoticons04261]

kok rada2 galau nih kayanya... [AddEmoticons04268]
kan mreka blom cerai kan?? [AddEmoticons04269]

surat cerainya juga blom di tanda tangani kan??? [AddEmoticons04282]

ncuddddddddddddddddddddddddddddddddddddddddd [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]


 [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc]

Offline mbah dukun

  • Junior
  • **
  • Posts: 142
  • My Name Is JangKelin
    • View Profile
Authornya ke menong [what] [what] [what]


kangen sama pasangan di sindong [cry] [cry] [cry]


kabar Joondi nya bagaimanong [chin] [chin] [chin]


Update dong  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]


Di   hammer2 hammer2 hammer2  ma author karena asal ngomong [goodgrief] [goodgrief] [goodgrief]


Offline vhia_minsuners

  • Full
  • ***
  • Posts: 411
  • saranghae MinSun.... saranghae Joondi...
    • View Profile
NCUUUUUUDDDDDD........................ Update dongggggggggggggg................


kissing you baby... muaaaccchhh ^^

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
besok udah 1 bulan ayo updateeeeee  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
I CAN’T CALM MY HEART

Chapter 13

Incheon International Airport



Lelaki berpostur sempurna itu melangkah penuh percaya diri diantara keramaian dan hiruk pikuk aktivitas Bandara, tangannya tidak menjinjing apapun selain hanya menggenggam paspor dan handphone. Kaki panjang sempurna itu mendadak terhenti, menyadari ia telah menginjakkan kaki di Seoul membuat seluruh jiwanya sepi. Dengan kacamata hitam dan stilan jacket kulit juga jeans, dia sebenarnya tidak sepasti itu, hatinya gontai. Keraguan menghantui langkahnya, tidakkah seharusnya ia berada di tempat itu?

Goo Jun Pyo termangu dalam diam, di balik kacamata hitam itu tatapan sendunya menggambarkan kekosongan mendalam. Ia terhanyut kesepian di dalam keramaian, raganya mungkin memang disini, tapi hatinya tertinggal di tempat itu, di Boston. Kerinduan sudah menggelayuti dirinya sejak menyadari ia sendirian tanpa belahan jiwa disini, tenggelam dalam ketidak-tertarikan pada apapun. Lagi-lagi... memaksanya untuk melewati hari-hari suram.

Tiba-tiba saja suara seseorang membuyarkan lamunannya.

”Selamat datang tuan muda.”

Junpyo menoleh saat seorang lelaki yang ternyata adalah supirnya sedang  membungkuk padanya –mempersilahkan- junpyo untuk mengikutinya menuju mobil. Tanpa berkata apapun, junpyo ’seperti’ menurut saja.
 
Tapi setelah berjalan nyaris menuju pintu keluar, lagi-lagi langkahnya terhenti. Terjadi sesuatu yang menarik perhatian junpyo. Banyak orang berkerumun menyaksikan keributan itu, sementara junpyo memperhatikannya dari jarak beberapa meter.



*Seorang wanita membentak kuat

”Kurang ajar, kau tidak pernah menyentuh dada istrimu hah? Ini pelecehan!.”

Seorang pria dengan tampang pucat ketakutan dengan gugup membela diri......
”Aku mana mungkin sengaja menyentuhnya, aku kan tidak sengaja menumpahkan kopi di bajumu dan hanya ingin membersihkannya. Kau tidak tahu sopan santun ya?”

Wanita itu kembali berteriak..... ”Apa? Dasar brengsek.” PLAK!

Sebuah tinju mendarat di wajah lelaki itu hingga hidungnya berdarah, sontak saja ia menjerit kesakitan. Sementara wanita itu hanya mendengus kesal. Sedangkan petugas keamanan yang menengahi mereka justru kebingungan meredam emosi wanita itu.

Security :   ”Oh nona, Apa yang kau lakukan? Kau sudah melakukan kekerasan? Oh, cepat minta maaf.” Tukasnya dengan sikap serba salah.

Wanita itu semakin kesal... ”Apa? Jadi karena dia ini orang kaya lalu kau membelanya? Kenapa aku yang harus minta maaf? Justru kau harus menangkapnya atas tuduhan pelecehan.” bla bla bla~~~



Disisi lain, Junpyo masih menatap mereka dengan pandangan kosong. Ternyata, yang terbayang olehnya justru peristiwa yang mirip seperti ini. Peristiwa beberapa waktu lalu yang terjadi padanya saat pertama kali ia bertemu jandi. Ya, di Bandara ini juga, tepatnya di Toilet!

Nasib apa yang membawanya begitu kebetulan, bahkan ketika tiba di Seoul pun seakan semua berencana mengobrak-abrik hatinya, mengingatkannya pada jandi yang tak bisa berada di sisinya. Bahkan Tuhan seakan menegaskan betapa ia begitu berjodoh dengan semua ini, memberinya kesempatan melihat kembali semua kejadian itu. Junpyo tertunduk bingung, jakunnya naik turun menahan gejolak emosi dalam dirinya, menahan air mata agar tak tumpah. Seakan dipaksa untuk menyadari kalau sekarang dirinya benar-benar sendirian, tanpa jandi. Sebuah senyum getir tersungging di bibirnya, menertawai dirinya sendiri yang sekarang begitu menyedihkan.

Supir yang dari tadi menunggu junpyo merasa bingung.

Supir  :   ”Tuan muda, apa anda baik-baik saja? Mari tuan muda, lewat sini.” kembali mempersilahkan junpyo.

Junpyo masih dalam kebingungan saat kembali melangkah, mengikuti si supir dengan perasaan tak karuan, semua ini hanya membuatnya semakin merindukan jandi.

Sementara petugas yang sedang sibuk menengahi pertengkaran itu tanpa sengaja melihat junpyo yang sedang lewat di sisinya (ternyata dia petugas yang sama saat melerai junpyo dan jandi waktu itu), matanya berkedip berkali-kali, memastikan pandangannya sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, semakin kebingungan. Tapi kemudian dengan pendirian teguh -seakan baru mendapat ilham- petugas itu menyuruh lelaki yang hidungnya berdarah itu meminta maaf  pada si wanita tadi.

Petugas :   ”Sudah-sudah, kau sebagai laki-laki cepat minta maaf. Aku sudah berkali-kali mendapati lelaki seperti mu!” O.o



---------------------------------------------------------



Dalam perjalanan, junpyo memandang keluar jendela kaca mobil, masih dengan tatapan kosong. Seakan dunia ini sedang sibuk berputar, sedangkan dunianya nahkan tak bergerak. Ya.. ia tak merasakan waktu berdetak selama ia belum bisa memastikan sampai kapan akan seperti ini. Tidak tahu harus bagaimana, memulai dari mana, bahkan menuju kemana. Tatapan yang biasanya begitu tajam, kini telah sendu, gelap. Bibir yang biasanya bicara dengan cepat dan lancar mempertahankan gengsinya kini bahkan malas berucap. Jangankan tersenyum, berdiam pun terasa begitu lelah. Langkah yang biasanya begitu pasti, kini bergerak lambat tanpa tujuan. Apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan cintanya kembali? Apa yang bisa ia lakukan untuk megembalikan jandi ke sisinya?

Sepanjang perjalanan junpyo hanya melamun, supir yang dari tadi meliriknya melalui kaca depan merasa prihatin. Dia bahkan tidak berani membuka mulut, mengingat sifat tempramen junpyo selama ini. Kelihatannya tuan mudanya ini sedang tidak dalam keadaan yang baik.

Sampai akhirnya mobil mereka hampir tiba di kediaman Goo, junpyo baru menyadarinya.

Junpyo :   ”Pak Kang, Kenapa kita kesini?” memperhatikan sekitarnya seperti orang bingung.

Supir :      ”Apa?” jelas pak kang lebih bingung lagi, dia mulai bertanya-tanya apa junpyo bahkan sudah lupa dengan rumahnya. ”Maaf tuan muda, tapi bukannya tuan muda harus pulang?” sambil melirik junpyo.

Junpyo :   ”Ne, maksudku, kita putar balik saja.”

Supir :      ”Apa?” lagi-lagi ia semakin bingung. ”Maaf tuan muda, tapi apa tuan muda tidak ingin istirahat dulu?”

Junpyo :   ”Kita ke kantor saja.” jawabnya acuh.

Mau bagaimana lagi? Meski dari tadi sangat aneh, tapi supirnya ini tidak berani bertanya, apalagi membantah. Akhirnya mereka berputar balik menuju Shinwa.



---------------------------------------------------



Shinwa Group


Sesampainya di kantor junpyo langsung mengadakan meeting mendadak dengan jajaran Direksi. Meskipun para karyawan sudah siap dengan kedatangan presdir mereka, tapi tetap saja semuanya terlihat kerepotan dibandingkan hari-hari kerja tanpa Junpyo.

Seorang serketaris masuk ke ruangan junpyo dengan membawa beberapa berkas yang sudah menumpuk untuk persiapan rapat, ia membantu junpyo menyiapkan keperluan meeting.

Junpyo :   ”Panggilkan serketaris Jung.” katanya acuh, sambil memilih-milih file yang berserakan di meja.

Serketaris :   ”Maaf?” tanyanya ragu.

Serketaris itu tidak mengerti apa maksud junpyo, dia mengira mungkin saja pendengarannya salah. Ia langsung tertunduk gugup saat junpyo menatapnya heran. Baru kali ini serketarisnya terlihat tidak konsentrasi, padahal junpyo yakin dia pasti mendengarnya.

Junpyo :   ”Dimana serketaris Jung? Sejak tadi aku tidak melihatnya.” sorot matanya tajam, kali ini menatap serketaris itu dengan penuh kecurigaan. Terbesit sesuatu yang tidak beres telah terjadi.

Serketaris :   ”Tapi presdir...” jawabnya ragu, juga bingung.

Junpyo :   ”Wae? Apa yang terjadi? Cepat katakan!”

Serketaris :   ”Bukankah serketaris Jung sudah dipecat? Sejak anda pergi, dia tidak pernah masuk lagi. Maaf presdir jika saya salah.”

Serketaris itu semakin membungkuk ketakutan, dia tidak mengerti bagaimana mungkin presdirnya tidak tahu kalau dia telah memecat karyawan. Sementara junpyo hanya termangu bingung.

Junpyo :   ”Kau pergi lah duluan ke ruang meeting, nanti aku menyusul.”

Serketaris :   ”Baik Presdir.”



--------------------------------------------------------




Junpyo :   ”Appa, biar aku yang menyelesaikannya.”

Mr. Goo :   ”Apa kau sudah gila? Memelihara ular yang sudah mematukmu. Kau tidak tahu apa lagi yang akan ia lakukan, mungkin dia akan berkhianat lebih dari ini.” nadanya mulai tinggi.

Junpyo :   ”Tapi aku membutuhkannya” Kali ini junpyo terlihat cemas, dia kesulitan membujuk appanya yang jauh lebih keras kepala darinya.

Mr. Goo :   “Aku tidak menginzinkannya, setelah apa yang telah ia lakukan pada menantuku, bahkan aku memastikan dia tidak akan bisa bekerja dimanapun lagi. Junpyo-yaa, appa akan mengirim pak Lee (serketaris appa junpyo) untuk membantu mu.”

Junpyo :   “Appa…” bantahnya halus.

Mr. goo :   “Tidak bisa!”

Bruk, tit tit tit……… junpyo terdiam begitu menyadari appanya sudah memutus sambungan telponnya begitu saja. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menggelayuti perasaannya saat ini. Teringat olehnya kata-kata serketaris Jung saat terakhir kali mereka bertemu.

Serketaris Jung :   ”Karena sejak ayahnya meninggal dunia, tak ada yang bisa membuatnya tersenyum selain tuan muda sendiri. Karena anak itu, begitu mencintai anda, tak ada yang bisa kulakukan agar sahabatku itu tenang, selain menjaga puterinya.”


Junpyo mendadak goyah, lututnya terasa lemas. Tubuhnya kaku, wajahnya pucat, detak jantungnya jadi tak beraturan. Sekarang ia benar-benar dalam keadaan bersalah, perasaan itu muncul lagi.

’Bukan salah sereketaris Jung, ia tidak bersalah karena apa yang dilakukannya itu memang sudah seharusnya.’ Kata-kata itu berputar terus dihatinya, junpyo tampak linglung. Semakin lama, ia seperti mendengar suara isak tangis seorang gadis kecil. Semakin lama semakin kencang, mengaung di telinganya. Junpyo menutup rapat telinganya dengan kedua tangan, sementara tubuhnya oleng, tersandar keras ke dinding.

Junpyo yang kokoh kini meringkuk dalam-dalam, berjongkok tak berdaya disana. Bayangan itu muncul dalam benaknya, merajai pikirannya. Saat dimana Han Jaekyung yang berusia 8 tahun menangis di sisi gundukan tanah, saat pemakaman ayahnya.



FLASHBACK



Jaekyung :   ”APPAAAAAAA........ Tidaaaakkkk.... Jangan pergiiiiiiii........... Appa... jangan tinggalkan akuuu... huhuhuhuhuhuhu........ hwaaaaaaaa...... Omma... panggil appa, cepat panggil appa kembali.” sambil mengais-ngais gundukan tanah itu dengan tangan mungilnya.

Omma jaekyung saat itu bahkan tak sanggup berdiri, ia menangis tersedu-sedu sementara tubuhnya juga ditopang oleh orang lain. Disana, junpyo terdiam menyaksikan semua orang menangis. Dia seperti berada dalam mimpi buruk, mendengar suara bising tangisan yang memenuhi telingannya. Tak pernah terbayang olehnya ada dunia yang begitu rapuh dan menyedihkan seperti ini, karena dia tidak pernah kehilangan apapun selain perhatian orang tuanya. Bahkan jika ia tak melihat kehangatan keluarga Han, mungkin ia tidak kan pernah tahu ternyata ada kasih sayang yang seperti itu. Dia memiliki segalanya, tak pernah merasakan kehilangan seperti saat hari pemakaman itu.

Tiba-tiba serketaris Jung yang dari tadi menemani di sisi junpyo tiba-tiba mendekati Han Jaekyung, ia menggendong gadis kecil itu agar tidak lagi mengais-ngais tanah kuburan ayahnya. Tapi gadis itu tetap meronta, ia tidak mau beranjak sedikitpun dari sana. Serketaris Jung ikut menangis, sambil menahan pukulan tangan mungil jaekyung di dadanya.



END OF FLASHBACK



Junpyo terdiam dalam hening, dia benar-benar merasa dalam dunia yang kelam saat ini. Tidak seharusnya ini terjadi, tapi apa yang bisa ia lakukan selama ini hanyalah menyayangi jaekyung seperti apa yang serketaris Jung lakukan, lalu kenapa sekarang ia menyalahkan serketaris Jung? Junpyo jadi bingung, semua ini adalah salahnya, ia berusaha melupakan kejadian itu, tapi sekarang dia tak punya pilihan setiap kali mengingat apa yang telah terjadi antara dirinya, jandi, dan jaekyung. Apa yang bisa ia lakukan? Dia bahkan tidak ingin mengingat kesedihan itu lagi.  Tapi apa yang didapatnya sekarang? Ia sendirian, tanpa orang-orang yang disayanginya.



--------------------------------------------------



Hari-hari berlalu.....


Junpyo menghabiskan waktunya dengan bekerja keras, menyelesaikan semua masalah perusahaan, juga menyelamatkan Independent group yang sekarang kursi presdirnya sedang kosong. Ia tetap mengikutsertakan Independent group dalam setiap pertemuan penting dalam beberapa proyek besar meski hanya seorang manager yang mewakilnya, tentu semuanya atas perintah junpyo. Memang beberapa client terkadang komplain dan juga tidak senang, tapi mereka membutuhkan Shinwa, dan Junpyo yang mendalangi keterlibatan Independent pun memastikan dirinya yang akan bertanggung jawab atas kinerja Independent Group sekarang ini. Setidaknya ia telah sudah menepati janjinya pada jandi dalam hal ini.

Selama itu pula, dia sama sekali tidak pulang ke rumah. Dia menginap di kantor dalam beberapa hari terakhir ini meskipun tak ada seorangpun yang memperhatikannya untuk sekedar mengatur keperluan pribadinya seperti yang biasa serketaris Jung lakukan.

Ruang kerjanya jadi berantakan, disana ia tidur, makan, mandi, dan melakukan kegiatan sehari-hari. Serketarisnya yang lain sudah beberapa kali menasehatinya meski ragu-ragu, tapi tetap tidak membuat junpyo bergeming. Mereka membersihkan ruangan junpyo setiap kali Bossnya itu keluar untuk meeting.



Malam semakin larut, junpyo tengah tertidur. Kepalanya terkulai di meja kerja, sedangkan masih terdapat berkas-berkas yang berserakan disana. Laptopnya bahkan masih menyala, kelihatan junpyo sangat kelelahan. Suasana di gedung Shinwa malam ini sudah sangat sepi, hanya tinggal security dan beberapa pekerja yang bertugas bersih-bersih.

Tak seberapa lama berselang, suara berisik beberapa orang berhasil membangunkan junpyo dari tidurnya. Matanya masih sulit terbuka, samar-samar ia melihat ketiga temannya yang tampan sedang berjalan menuju padanya sambil tertawa, ya menertawakannya, siapa lagi? Junpyo yang masih ingin berada di alam mimpi, dipaksa kembali ke dunia nyata padahal tubunya terasa lelah, kepalanya juga berat. Dengan malas kini tubuhnya tersandar di sandaran kursi kerjanya.

Woobin :   ”Ternyata benar, kau tinggal disini? Hohhh...” sambil melirik ruangan yang berantakan itu dengan tatapan tak percaya.

Yijung :   ”Kau ini benar-benar! Apa aku harus menyewakan kamar untuk mu huh?” Semakin mengejek junpyo yang bahkan malas menatap mereka.

Junpyo :   ”Kalau kalian mengganggu tidurku hanya untuk mengejekku, sebaiknya pergi saja sana!” jawabnya acuh.

Yijung :   ”Wah lihat, orang ini tidak mau diajak kemanapun, sekarang kau mengusir kami? Jihoo-yaa... serahkan padanya lalu kita pergi.” pura-pura tersinggung.

Junpyo :   ”YAH”

Awalnya junpyo ingin prtotes, tapi mengurungkan niatnya saat jihoo menyerahkan selembar surat undangan padanya. Junpyo membukanya perlahan sambil memandang wajah tanpa ekspresi sahabatnya itu, sementara woobin dan yijung hanya tersenyum nakal.

Junpyo :   ”Ini?”

Yijung :   ”Yah, dia tidak perlu investasi mu. Itu bukan proposal.” sindirnya lagi.

Junpyo :   ”Chukae jihoo-yaa..” akhirnya junpyo bangkit dari tempat duduknya dan langsung memeluk jihoo dengan hangat. Jihoo hanya tersenyum.

Woobin :   ”Dokter kita ini akhirnya berhasil membuka Rumah Sakit impiannya.” tersenyum bangga sambil menepuk pundak jihoo pelan.

Jihoo :      ”Aku tidak yakin kau akan datang, makanya harus aku sendiri membawa undangan ini padamu.” sindir jihoo sambil terkekeh.

Yijung :   ”Dasar gila, awas kalau minggu depan kau tidak ikut dengan kami.” semakin memojokkan junpyo, yang sebenarnya mereka tidak ingin junpyo terus terlarut dalam kesepiannya.

Baru saja yijung akan meninju dada junpyo pelan, tiba-tiba canda tawa mereka terhenti oleh suara gaduh di luar sana. Keempatnya menoleh, tepat saat itu juga muncul seorang gadis yang ’seperti’ mendobrak pintu ruangan junpyo sambil ngos-ngosan. Mereka semua terbelalak, begitu juga gadis itu, dia masih terlihat bingung saat dua orang security yang mengejarnya akhirnya tiba dan langsung menarik tangannya kuat.

Security :   ”Maafkan kami presdir! Tapi gadis ini langsung menerobos masuk. Kami akan segera membawanya keluar.”

Kedua security itu kembali menarik gadis yang semakin memberontak itu, sementara tatap matanya sama sekali tidak lepas dari junpyo yang masih terdiam kaku.

Han Jaekyung :   ”Andwe.. Junpyo-yaa.. Aku mohon... lepaskan aku.”

Security :   ”Ayo... Dasar gadis gila!”

Ketiga temannya menoleh pada junpyo, bertanya-tanya apa yang akan junpyo lakukan. Tapi lelaki ini masih tetap tak bergeming. Tatapannya semakin dingin, menusuk bola mata jaekyung dengan penuh emosi. Sementara gadis itu terus meronta-ronta, sekuat tenaga hingga tangannya terlepas dari cengkraman kedua security itu dan ia pun tersungkur ke lantai.

Woobin, jihoo dan yijung terhenyak, menatap jaekyung dengan tatapan serba salah. Woobin yang tidak tahan melihatnya, langsung menghentikan security yang nyaris kembali mencengkram tangan jaekyung. Woobin memberi isyarat pada mereka untuk berhenti, ia mendekati jaekyung dan membantunya berdiri.

Woobin :   ”Serahkan padaku, kalian pergilah!” katanya pelan pada kedua security ini. ia hanya berniat untuk menghindari keributan yang lebih tak terkendali.

Jaekyung tetap menatap junpyo dengan bening-bening air di pelupuk matanya, demikian juga junpyo sebenarnya, bedanya lelaki itu bersikap dingin. Kedua security itu membungkuk untuk kemudian pergi meski dalam keraguan, karena junpyo tetap tidak bereaksi.

Woobin :   ”Apa yang kau lakukan disini? Ayo kita pergi!”

Gantian, kali ini woobin yang menarik tangan jaekyung. Tapi gadis itu tetap berkeras tidak mau pergi.

Jaekyung :   ”Junpyo-yaa....”

Junpyo tak berkedip sedikitpun, dia malah mendekati jaekyung tanpa melepas tatapan geramnya. Ketiga temannya disana terkesiap dengan apa yang akan junpyo lakukan, sekarang mereka merasa khawatir dengan nasib gadis keras kepala itu. Kini junpyo tepat berada di hadapan jaekyung, cukup dekat untuk mencengkram leher gadis itu dengan satu tangan saja, membuat jaekyung meringis, juga ngeri.

Woobin :   ”Junpyo-yaaa, sudahlah...” berusaha menenangkan junpyo, mengantisipasi apa yang akan dilakukan pria berdarah panas ini.

Junpyo :   ”Aku tidak ingin melihatmu lagi!” ucapnya dingin, cukup menusuk dan mengobrak-abrik hati jaekyung. Kemudian menghempas wajah gadis itu dengan kasar.

Junpyo sepertinya benar-benar muak, dia berusaha menahan emosinya tapi sepertinya sulit. Karenanya ia langsung pergi, meninggalkan mereka semua disana sebelum terjadi hal yang akan membuatnya menyesal kelak.

Tapi jaekyung benar-benar keras kepala, bukannya takut, dia malah ingin mengejar junpyo. Woobin dan yijung terpaksa menahannya.

Jaekyung :   ”Aku mohon... semua memang salahku! Aku tahu... tapi pak jung tidak bersalah” Gadis ini mulai histeris dan berlinang air mata, ia berteriak berharap junpyo mendengarnya. Tapi junpyo sama sekali tidak bergeming, berlalu dari sana tanpa menoleh sedikitpun lagi.

Yijung :   ”Yah, tenanglah!”

Jaekyung :   ”Andwe.. JUNPYO-YAAA” semakin terisak.

Jihoo sendiri merasa gerah dengan kondisi ini. Dengan kedua tangan terselip di saku celana, ia pun langsung pergi dari sana tanpa menoleh pada jaekyung yang masih ditahan kedua temannya itu.

Yijung :   ”Hentikan jaekyung-yaa.”

Jaekyung :   ”ANDWE!!”

Woobin :   ”Apa kau tidak lihat kondisi junpyo sekarang? Kalau kau terus seperti ini, bukan hanya kau, tapi junpyo juga akan semakin terluka. Setelah ditinggal jandi, dia sudah seperti mayat hidup. Jadi berhentilah....”

Mendengar kenyataan itu, jaekyung yang terisak kini menjadi terdiam bisu. Tenaganya yang digunakan untuk meronta, tiba-tiba saja melemah. Membuat woobin dan yijung merenggangkan cengkraman mereka di tangan jaekyung.

Jaekyung :   ”Aku memang bersalah.” ia tertunduk lemah, air matanya justru mengalir lebih deras lagi. Lututnya yang sejak tadi goyah tak mampu ditahannya lagi, ia terkulai jatuh ke lantai. Sementara yijung dan woobin hanya menatapnya iba.

Yijung :   ”Aku akan mengantarmu pulang. Ayolah, kita pergi dari sini.” berusaha menenangkan jaekyung.

Woobin membantu gadis itu berdiri dan mengajaknya meninggalkan kantor junpyo. Ketika sampai di luar gedung, jaekyung justru melepas tangan mereka di pundaknya perlahan.

Jaekyung :   ”Aku bisa pulang sendiri. Gomawoeyo.” tampaknya ia sudah lebih tenang, meskipun terlihat bingung. Dia sama sekali tidak menatap yijung maupun woobin, pergi sendirian begitu saja.

Woobin :   ”Tapi.....”

Belum sempat woobin melanjutkan kata-katanya, yijung menahannya. Ia membiarkan jaekyung pergi meskipun sedikit khawatir.

Yijung :   ”Biarkan. Dia butuh sendiri. Aku yakin dia harus belajar tegar tanpa junpyo.” ucapnya pada woobin sambil menatap punggung jaekyung yang menjauh.

Keduanya tampak gundah, tidak pernah mereka membayangkan akan terjadi hal yang merepotkan seperti ini. Mungkin saja kehadiran jandi mengobrak-abrik persahabatan mereka sebelumnya, atau juga mereka berfikir ini tidak harus terjadi jika jandi sejak awal berjodoh dengan jihoo. Menyadari kalau ini semua adalah takdir, keduanya hanya bisa menghela nafas. Untung saja masalah cinta seperti ini tidak pernah mereka alami, tapi juga terkadang merasa iri saat melihat junpyo berbunga-bunga karena cinta.



------------------------------------------------



Di sisi lain............


Malam itu junpyo kembali ke kediamannya, tentu saja setelah merasa kantornya sudah tidak aman karena kejadian tadi. Ia pulang untuk mencari ketenangan. Benar, disana memang sangat tenang, bahkan sangat sunyi. Para pelayan yang tidak tahu dengan kehadiran mendadak tuan mudanya ini langsung terkesiap meninggalkan aktivitas mereka yang hanya berleha-leha sebelumnya. Mereka membungkuk-memberi hormat pada junpyo, saling berbisik satu sama lain karena heran sejak masuk tadi junpyo hanya diam. Mereka saling memberi kode untuk memanggil kepala pelayan yang sedang asik pacaran ntah dimana. Dan tidak lama kemudian kepala pelayan itu muncul dengan perpongoh-pongoh menyambut tuan mudanya.

Kepala pelayan :   ”Tuan Muda, selamat datang! Anda akhirnya pulang.” pelayan ini jadi salah tingkah.

Junpyo hanya menoleh ke arahnya, membuat ia ketakutan –langsung menunduk -mengira telah salah bicara.

Kepala pelayan :   ”Maaf tuan muda. Apa anda sudah makan? Aku akan menyuruh pelayan menyiapkannya.”

Junpyo :   ”Tidak perlu, aku mau istirahat. Kalian pergilah.” jawabnya datar.

Para pelayan semakin merasa tidak enak, mereka merasa bersalah mengira tidak menyambut tuan mudanya dengan baik. Sementara junpyo hanya meninggalkan mereka yang bingung menatapnya, ia menaiki tangga menuju kamar. Semua pelayan disana mulai berbisik lagi, mulai agak ribut sebelum kepala pelayan memelototi mereka agar menutup mulut mereka. Tapi terlambat, tiba-tiba saja junpyo menghentikan langkahnya. Membuat semua pelayan itu ketakutan dan kembali menunduk saat junpyo menoleh.

Junpyo :   ”Pak Kim....”

Pria paruh baya itu terkejut mendengar junpyo memanggil namanya.

Kepala Pelayan :   ”Ya tuan muda?” membungkuk.

Junpyo :   ”Apa.. kau tahu... Dimana.. Serketaris Jung sekarang?” tanyanya ragu.

Kepala pelayan yang tadinya tertunduk kini langsung menatap junpyo heran.



-----------------------------------------------------



Junpyo menyusuri kamarnya yang gelap, ia langsung menuju closet dan melepas pakaiannya hingga hanya melilit handuk putih di pinggang.

Kini shower dingin mengguyur tubuh junpyo, otot-otot di lengan maupun dadanya terpantul jelas di cermin di hadapannya. Kulitnya yang coklat menggiurkan sudah basah kuyup, ia menatap cermin itu dengan tatapan kosong. Pikirannya mengambang, terlihat sangat lelah.

Setelah menyelesaikan mandinya yang tidak terlalu lama, junpyo terduduk di sisi ranjang, dengan kedua tangan menopang di lutut. Sesekali menutupi wajahnya yang terkadang tertunduk, terkadang menengadah, juga bolak-balik menghela nafas berat. Ia merindukan jandi. Tanpa sadar tangannya begitu saja mengusap ranjang yang hangat itu perlahan, sisi dimana biasanya jandi tidur. Tapi hanya kesepian yang dirasanya saat ini.

Ragu-ragu junpyo meraih ponselnya yang tergeletak di rak, beberapa saat hanya menatap layarnya, juga terkadang meremas-remas ponsel itu seakan tidak tahu bagaimana cara menggunakan benda itu. Tapi sebenarnya ia sedang berfikir, mengurungkan niatnya menekan tombol 1, atau memberanikan diri menghubungi gadis yang sangat dicintainya itu.  Mengingat sudah beberapa kali jandi menolak telponnya setelah kepulangan junpyo ke Seoul, junpyo agaknya mengerti ini akan semakin menyulitkan jandi, sementara dirinya belum menemukan solusi bagi hubungan mereka. Junpyo jadi serba salah, saat rindunya tidak dapat dibendung, dia akan merasa menjadi manusia paling egois.

Seperti kali ini, tanpa mau berfikir lagi, jarinya langsung menekan tombol call. Sama seperti sebelum-sebelumnya, yang terdengar hanyalah nada sambung yang mengaung cukup lama. Tak ada jawaban, sampai panggilan itu putus dengan sendirinya. Tangan junpyo yang memegang ponsel di telinga perlahan terkulai lemah, ia merasa takut setiap kali hal ini terjadi. Apa yang harus ia lakukan? Apa jandi sudah melepasnya? Apa ia menyerah dan melupakan janjinya? Junpyo bahkan tak ingin memikirkan hal terburuk itu.

Ia menjatuhkan dirinya di ranjang, memandang langit-langit sambil berkali-kali menghela nafas, berusaha untuk tenang. Tangannya meraih bantal disisinya (bantal jandi) untuk kemudian dipeluk erat, matanya terpejam seiring dengan rasa lelah yang sudah sejak kapan memaksanya tidak tidur nyenyak. Terlelap dalam kesunyian.



----------------------------------------------



Keesokan harinya,


Junpyo melangkah lebar setelah keluar dari elevator pribadinya, ia terlihat buru-buru berjalan di lobi yang luar biasa luas itu, menuju pintu keluar. Seorang serketaris kelimpungan mengejarnya, gadis itu berlari sampai akhirnya benar-benar berada tepat di hadapan junpyo dan menahan langkah lelaki itu. Serketaris itu agak takut karena perbuatannya mungkin kurang sopan, ia langsung menunduk.

Serketaris :   ”Maaf Presdir, se..sebentar lagi akan ada rapat penting.” melirik junpyo sesekali.

Junpyo :   ”Tunda saja. Atau batalkan! Aku ada urusan yang lebih penting.” katanya datar.

Serketaris :   ”Apa?” ia terlihat bingung, tapi karena sadar pertanyaan itu tidak pantas diucapkan pada presdirnya lagi-lagi ia tertunduk takut.

Junpyo :   ”Ini tidak akan lama, kau atur saja agar mereka menunggu. Bukankah itu tugasmu?”

Kali ini junpyo kembali melangkah, meninggalkan serketarisnya yang kebingungan.

Serketaris :   ”Tapi... tapi presdir...” rautnya kalut, ucapannya sama sekali tak digubris junpyo. Ia hanya bisa menghela nafas kesal sambil meremas-remas kepalan tangannya.

Seorang security mendekati serketaris itu, memperhatikannya mengomel tak jelas. Si security tersenyum mengejek padanya.

Security :   ”Apa yang kau lakukan?” memandangnya heran.

Serketaris :   “Aiih aku kesal sekali, kau lihat kan tadi? Dia sama sekali tidak perduli, memangnya ini perusahaan siapa.” masih mengomel kesal.

Security :   ”Namanya juga Presdir, kecuali kau adalah nona Geum, maka presdir akan tunduk padamu.” nadanya mendayuh-dayuh dan menyentuh dadanya saat menyebut nama jandi.

Serketaris :   ”Yah, kau mengejek ku? kalau saja masih ada pak Jung, aku tidak perlu melakukan ini.” memelototi security itu.

Security :   ”Tapi sepertinya Presdir tidak bawa mobil, lihat… dia berjalan kaki menuju restoran sebelah gedung ini.”

Keduanya memperhatikan ke sisi jalan di sebelah kiri gedung Shinwa berdinding kaca, memang benar... Meski tidak terlalu jelas karena lumayan jauh, tapi sepertinya seseorang berjas rapi yang berdiri di depan restoran sebelah gedung Shinwa itu memanglah Goo Jun Pyo.


 
------------------------------------------------



Sejenak ia termangu tepat di depan pintu restoran itu, langkahnya yang tadi begitu pasti kini berganti keraguan saat akan memasuki restoran. Junpyo mengingat pesan singkat yang baru saja masuk ke ponselnya yang membuatnya mengurungkan niat saat akan masuk ke ruang meeting.

’Aku menunggumu di Restoran sebelah gedung Shinwa. Datanglah!’

Pesan yang berasal dari nomer ponsel Mrs.Geum itu sekarang membuat junpyo gugup. Ragu-ragu ia melangkah memasuki pintu kaca elektrik yg terbuka dengan sendirinya.

Di dalamnya terlihat cukup ramai, bahkan diantaranya ada beberapa karyawan shinwa yang langsung menutupi wajah mereka dengan majalah (mereka berfikir presdir sedang melakukan sidak =.=a) Pandangan junpyo mengelilingi sudut restoran, mencari keberadaan seseorang. Ternyata benar, disana ada omma jandi yang terlihat sedang menikmati coffee. Junpyo mendekatinya, hingga tepat berada di hadapan omma jandi. Menyadari kehadiran orang yang sedang ditunggunya, Mrs.Geum langsung mempersilahkan junpyo duduk meski terlihat jelas ia bahkan tidak sudi menatap junpyo.

Mrs.Geum :   ”Duduklah!”

Junpyo duduk tepat di hadapan omma jandi. Wanita paruh baya yang cantik ini terlihat lebih kurus, junpyo jadi merasa bersalah saat menyadarinya.

Mrs.geum :   ”Aku dengar kau menemui jandi. Benarkah?” tanyanya dingin, wajah tampan junpyo tidak mampu meredam amarahnya, dia menatap junpyo dengan tajam.

Junpyo :   ”Omma....”

Omma jandi langsung menghela sebelum junpyo menyelesaikan kata-katanya.

Mrs.Geum :   ”Hentikan! Jangan memanggilku seperti itu lagi. Apa kau lupa, kau bukan menantuku lagi.” ucapnya tajam dan cepat.

Junpyo yang harga dirinya setinggi langit, kita bahkan tak sanggup membalas tatapan omma jandi. Dia tetap menghormatinya sebagai ibu, Ibu dari wanita yang sangat ia cintai.

Mrs. Geum :   ”Cepat katakan, dimana jandi?”

Keduanya saling bertatapan, junpyo tidak bisa begitu saja menjawabnya. Dia sangat berharap omma jandi terlebih dahulu memaafkannya. Hingga tiba-tiba junpyo bangkit dari duduknya, membuat Mrs.Geum terperanjat. Ia menatap junpyo heran, matanya melebar saat lelaki itu perlahan berlutut di hadapannya.

Orang-orang di sekeliling mereka saling berbisik-bisik, bahkan beberapa karyawan Shinwa yang ada disana terbelalak dengan mulut terbuka, tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Mereka bertanya-tanya siapa wanita itu, mampu membuat presdir mereka yang dingin dan kokoh berlutut di hadapannya.

Mrs.Geum :   ”Apa yang kau lakukan? Cepat berdiri!” mulai panik.

Junpyo :   ”Saya mohon omma.... Beri saya kesempatan sekali lagi. Karena jandi... kami saling mencintai.” suaranya menekan, terasa berat.

Banyak sekali yang ingin diucapkan demi mendapat maaf dari omma jandi, tapi memuai begitu saja di tenggorokan sakin sakitnya menahan air mata agar tidak tumpah.

Mrs.Geum :   ”Bagaimana kau bisa berkata seperti itu, bahkan kau tidak bisa melindungi istrimu dari wanita itu. Lupakan!”

SiNGGG....

Sementara junpyo masih terdiam, ia bingung mencerna kata-kata omma jandi, bagaimana ia tahu kalau..... Tapi sebelum junpyo mengerti, Mrs.geum berniat beranjak pergi dari sana. Junpyo jadi panik, mulanya ia berharap pertemuan ini akan menjadi titik terang tentang hubungannya dengan jandi, tapi sepertinya nihil.

Junpyo :   ”Tunggu!”

Langkah Mrs.geum terhenti, ia kembali menoleh pada junpyo yang masih saja berlutut disana.

Junpyo :   ”Boston. Jandi ada di boston.” ucapnya pelan, masih tertunduk tanpa menatap omma jandi. Wanita itu kembali melanjutkan langkahnya dengan percaya diri sambil menjinjing tas tangan, tanpa menghiraukan pandangan orang-orang padanya.



---------------------------------------------



Kediaman Keluarga Geum


Hari sudah gelap, kediaman mewah keluarga Geum terlihat sepi. Cahaya terang dari lampu hias dimana-mana meninggalkan kesan yang semakin senyap. Tak ada yang lalu lalang, hanya beberapa pelayan yang mengobrol di dapur, juga penjaga yang mengawasi keamanan rumah. Mrs. Geum sendiri sedang berada di kamar, mengobrol dengan suaminya yang hanya bisa diam.

Mrs.Geum :   ”Sayang, apa yang harus aku lakukan? Dia berlutut di hadapanku dan mengatakan kalau mereka saling mencintai.”

Sambil menggenggam tangan suaminya yang sekarang sama sekali tidak bisa bicara bahkan bergerak, Mrs.Geum tetap bicara tanpa mendapat reaksi dari lawan bicaranya. Meskipun appa jandi telah sadar dari komannya, tapi sepertinya ia mengalami kelumpuhan. Dia hanya bisa diam mendengarkan istrinya bicara padanya, tatapan teduhnya memandang penuh kasih pada istrinya ini. Ia tahu, omma jandi tidak pernah semenderita ini, melihat istri yang biasanya selalu tersenyum padanya kini ia hampir tidak pernah melihat senyum itu lagi. Bahkan istrinya ini sering sekali menangis di dadanya, dan mengatakan kalau ia merindukan puteri mereka dan ingin suaminya segera sembuh.

Mrs. Geum :   ”Tentu saja aku tahu, puteri kita sangat mencintai pria bodoh itu. Dia bahkan lari ke Boston untuk menghindari perceraian. Gadis bodoh!” melirik suaminya yang matanya berkaca-kaca.

Mrs. Geum :   ”Aku akan membawanya pulang sayang, kau jangan khawatir. Kau sangat merindukannya kan?” semakin mempererat genggaman tangannya, tersenyum pada suaminya yang masih menatapnya teduh.

Mrs. Geum :   ”Meskipun aku tahu kalau dia tidak menceraikan jandi, tapi aku tidak akan membiarkan putri kita berada dalam situasi yang berbahaya lagi. Karena di sisinya ada seorang gadis yang sangat jahat.”

Ternyata omma jandi memang sudah tahu kalau bukan junpyo yang mengirim surat cerai itu. Tapi dia terlanjur marah, dia marah karena mengetahui junpyo memiliki wanita lain dan menyakiti jandi. Ditambah lagi kejadian itu menyebabkan suaminya jatuh sakit seperti sekarang ini, ia tidak bisa memaafkan junpyo.

Sesaat kemudian omma jandi membenarkan selimut di tubuh suaminya, kemudian ia mengecup keningnya mesra sebelum kemudian keluar dari kamar itu. Sayangnya, ia tidak sempat melihat jari tangan appa jandi yang bergerak-gerak lambat.



--------------------------------------------------------


MALAM ITU JUGA,



Mobil mewah itu berhenti di sebuah kawasan pertokoan di pusat kota, junpyo memperhatikan sekitarnya sebelum supirnya membukakan pintu dan mempersilahkan ia turun. Lampu kelap-kelip dari toko-toko dan jalan semakin meramaikan suasana di kawasan itu. Disana banyak terdapat restoran, karaoke, minimarket, dan bermaca-macam tempat nongkrong lainnya.

Junpyo :   ”Apa ini tempatnya?” tanyanya pada supirnya, sambil menoleh kesana-kemari seperti mencari sesuatu.

Supir :      ”Benar tuan muda. Silahkan lewat sini.” membungkuk dan mempersilahkan junpyo jalan.

Supir itu membawanya pada salah satu minimarket di tempat itu, ia membuka pintu kaca itu untuk junpyo masuk. Tepat saat tiba disana, pemilik minimarket itu memberi salam pada mereka.

”Selamat datang!” mulanya ia membungkuk, sebelum akhirnya terperanjat saat ia mengangkat kepalanya dan menemukan seorang pria tampan sedang menatapnya bingung.

”Tuan muda?”

Ya, lelaki itu tenyata adalah serketaris jung dengan penampilannya yang kini sangat berbeda dari biasanya. Junpyo hanya terkelu menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, lelaki ini biasanya terlihat gagah dengan stilan jas rapi yang selalu dikenakannya, tapi sekarang ia terlihat seperti orang asing bagi junpyo.

Junpyo :   ”A..apa yang kau lakukan disini?” tanyannya bingung, sementara serketaris jung sendiri pun tak bisa menjawab, ia hanya terdiam kaku.

Berbeda dengan sikapnya saat menyambut pelanggan-pelanggannya tadi, ia tahu junpyo pasti heran melihatnya sekarang ini, tapi sebagai seorang yang sangat terlatih dan terampil tentu ia tahu bagaimana bersikap pada junpyo. Meski dengan seragam minimarket, ia langsung bersikap seperti asisten junpyo yang selama ini menjadi pekerjaannya.



Pembicaraan berpindah ke jalan setapak yang terdapat di depan minimarket itu, banyak orang yang lalu lalang disana. Serketaris jung dan junpyo duduk di sebuah tempat duduk panjang yang terbuat dari beton, lelaki paruh baya itu menyodorkan secangkir kopi pada junpyo, sementara supirnya berdiri agak jauh dari mereka yang juga sedang meneguk kopi.

Pak jung :   ”Apa yang membawa tuan muda kemari?” tanyanya sopan, seperti biasanya.

Junpyo :   ”Aku datang bukan sebagai tuan muda. Apa kau baik-baik saja?”

Pak Jung :   ”Ne, Tuan Muda. Aku tidak tahu kalau tuan muda pulang secepat ini dari Boston.”

Junpyo :   ”Kembalilah!” katanya tegas, tanpa basa-basi.

Pak Jung sebenarnya tidak tahu untuk apa junpyo datang mencarinya, tapi hal seperti ini sempat terlintas di pikirannya sekilas tadi.

Pak Jung :   ”Maaf Tuan muda. Tapi...”

Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, junpyo langsung menghela tajam.

Junpyo :   ”Apa kau pikir bisa pergi begitu saja setelah apa yang terjadi? Aku tidak akan membiarkannya. Kau tahu jelas seperti apa diriku, pak Jung.” tukasnya.

Pak Jung :   ”Maafkan saya, ini adalah jalan satu-satunya untuk menebus kesalahan saya pada nona Jandi.” kali ini tertunduk, tekatnya sangat bulat, mengingat rasa bersalah yang tidak bisa membuatnya tenang.

Junpyo :   ”Apa kau pikir kau akan tenang setelah ini?”

Tepat, memang dia tidak bisa menghindari perasaan bersalahnya pada jandi. Pak Jung menatap junpyo penuh tanya, terpancar penyesalan dari sorot matanya. Seakan bertanya bagaimana junpyo bisa menebak isi hatinya?

Junpyo :   ”Karena aku juga merasakan hal yang sama. Karena itu, kau tidak boleh  menyuruhku menanggung semua ini sendirian.”

Sorot mata junpyo yang mampu menghanyutkan siapa saja kini terlihat penuh beban, ia seperti seorang anak kecil yang kebingungan, memohon pada Pak Jung untuk tidak meninggalkannya sendirian. Bukan hanya karena telah menghancurkan keluarga jandi maupun pernikahannya, tapi yang tak pak jung ketahui, ia juga merasa bersalah untuk jaekyung dalam hal ini. Bukan hanya Pak Jung.

Pak Jung :   ”Tuan muda....” Ia semakin tertunduk, berusaha menghindar agar air di pelupuk matanya tak ketahuan oleh junpyo.

Junpyo :   ”Bukankah sudah ku katakan, aku datang kesini bukan sebagai tuan muda. Tapi karena aku membutuhkanmu, bagaimana kau bisa meninggalkan anakmu ini begitu saja?”

Keduanya saling bertatapan penuh arti yang memang menjelaskan kalau hubungan mereka selama ini tidak bisa hanya diartikan sebagai pelayan dan majikan saja, tapi ada ikatan emosional yang dalam di hati mereka mengingat dari lahir junpyo sudah mengenal lelaki paruh baya ini.



---------------------------------------------------



IT’S SHOW TIMEEEEEEE


Seminggu sudah berlalu, tepatnya sekarang adalah hari peresmian Rumah Sakit Jihoo yang berlangsung di taman Rumah Sakit itu sendiri, yang kini menjadi yang termegah di Seoul.

Goo Jun Pyo, Yoon Jihoo, Song Woobin, So yijung, keempatnya terlihat tertawa terbahak-bahak karena sebenarnya mereka sedang saling mengejek setelah menceritakan hal memalukan temannya satu sama lain. Mereka asik sendiri, sementara para tamu undangan yang terdiri dari seluruh dokter maupun perawat yang bekerja disini, juga tamu dari luar terlihat sangat menikmati pesta yang berlangsung meriah ini. Beberapa pasangan berdansa di pinggir kolam yang terletak di sisi taman.

Banyak gadis-gadis yang datang dan menargetkan untuk menggait salah satu dari keempat pria tampan itu. Mereka saling berbisik membicarakan para pria idaman mereka, sementara tak seorangpun dari keempatnya yang memperdulikan gadis-gadis itu.

”Aku bisa gila, mataku tidak bisa berhenti menatap keempat pria tampan itu.”

”Aku dengar Goo Jun Pyo sudah bercerai.”

”Meskipun ia sepuluh kali menjadi duda, aku bersedia menjadi istri kesebelasnya.”

”Kau gila, dia bahkan tak mau melirikmu.”

”Prince Yoon Jihoo, dia pria idamanku. Andai aku bisa menjadi nyonya pemilik tempat ini.. ohhh...”

”Lihat, Prince Song menatap ku. Oh, benarkan?” tersipu malu.

”Mana mungkin. Kau gila.”

Bla~bla~bla~


Di  tengah alunan musik yang indah, orang-orang berdansa mesra. Junpyo tanpa sengaja menangkap sesosok wanita tercantik yang sangat dikenalnya diantara kerumunan orang-orang. Gadis itu tadi juga menatapnya, tapi saat junpyo mempertajam pandangannya, bayangan yang berjarak beberapa meter darinya itu menghilang.

Sejenak ia terdiam, seakan berfikir keras kalau yang baru saja dilihatnya sangat nyata. Meskipun hal ini sangat sering terjadi, tapi ia tak mengerti kenapa kali ini jantungnya berdetak tak karuan. Seperti melihat hantu, junpyo mendadak pucat. Ia terlihat bingung, memandang di sekitar bayangan itu lagi, tapi tak menemukan pemandangan indah yang menggetarkan hatinya tadi.

Beberapa waktu berselang, malam semakin larut. Jihoo berdiri di depan semua orang dan mengucapkan terimakasih atas kehadiran mereka.

Jihoo :      ”Terimakasih karena kalian sudah meluangkan waktu untuk ikut meresmikan Rumah Sakit ini. Sebenarnya rumah sakit ini adalah milik semua pasien disini, kami juga memberikan akses tanpa batas untuk pasien yang berada dalam kesulitan ekonomi. Jadi aku sangat berharap kita mampu bekerja dan memberi pelayanan dengan sebaik-baiknya. Terimakasih.”


Semua orang memberikan tepuk tangannya untuk memberi dukungan pada satu-satunya orang yang mendirikan rumah sakit ini tanpa investor maupun pemegang saham, Yoon Jihoo. Disela-sela itu, junpyo kembali dikejutkan dengan sosok gadis cantik yang tadi dilihatnya, gadis itu mengenakan gaun yang sama, ia bahkan memberi tepuk tangan pada jihoo sambil tersenyum manis.

Junpyo panik, ia buru-buru berjalan menuju tempat itu, dimana banyak sekali orang sedang berdiri memberi selamat pada jihoo. Langkah dan pandangannya terhalang oleh kerumunan orang, dia berusaha terus menangkap sosok gadis itu agar tidak luput lagi dari pandangannya. Jihoo yang tengah menyambut jabat tangan para tamu undangan jadi tidak berkonsentrasi karena memperhatikan junpyo yang menabrak setiap orang yang dilewatinya.

Sampai akhirnya junpyo menoleh lagi ke tempat itu, dan sosok gadis itu sudah tidak ada disana. Junpyo terpaku, ia bingung. Apa yang dilihatnya benar-benar nyata? Junpyo melirik kesana-kemari tapi tak menemukan gadis bergaun pink tadi.

Dengan tampang bingung akhirnya ia kembali ke tampat teman-temannya, woo bin memandangnya heran.

Woo bin :   ”Waeyo? Apa yang kau cari?”

Yijung :   ”Kau melihat hantu huh?” terkekeh, menertawai tingkah aneh junpyo yang masih berfikir keras.

Woo bin :   ”Junpyo-yaa..” panggilnya pelan, karena junpyo sepertinya tidak mendengar pertanyaannya.

Saat itu juga jihoo muncul, yijung sibuk mengejeknya.

Yijung :   ”Jihoo-yaa, tak ku sangka kau pandai bicara.” memberinya tepuk tangan secara khusus. ”Chukae brother.” ia memeluk jihoo, begitu juga dengan woobin. Tapi tidak dengan junpyo, dia masih sibuk dengan pikirannya. Ketiga temannya menatapnya heran.

Jihoo :      ”Kau baik-baik saja?” menepuk pundak junpyo.

Kali ini ia merespon, malah diluar dugaan, junpyo menatap jihoo serius. Membuat yang lainnya semakin bingung.

Junpyo :   ”Dia... ada disini kan?” menatap jihoo penuh harap, tak berkedip sedikitpun.

Woobin dan yijung saling memandang, sementara jihoo tetap diam.

Yijung :   ”Apa yang kau bicarakan?”

Junpyo :   ”Jandi... Jandi ada disini.” katanya penuh praduga, kali ini tatapannya tajam pada jihoo. Menuduh, juga ragu.

Woobin :   ”Yah....” menepuk pundak junpyo untuk menenangkan junpyo.

Yijung :   ”Aku rasa dia harus menjadi pasien pertama disini. Aku bisa ikut gila.” mengomel sambil memalingkan wajahnya.

Tapi kenapa jihoo tetap diam? Sedangkan tatapan junpyo semakin memojokkannya seolah menuduhnya menyembunyikan sesuatu. Menyadari hal itu, woobin dan yijung mendadak ragu, mungkin yang dikatakan junpyo memang benar.

Junpyo :   ”Yoon Jihoo?”

Junpyo menatap jihoo penuh harap, sahabatnya itu bahkan tidak berani membalas tatapannya, ia malah tertunduk. Dan itu berarti, apa yang dilihat junpyo bukanlah halusinasinya belaka, jandi memang benar ada disini. Junpyo terkelu, tubuhnya goyah, nafasnya tersengal sambil menatap jihoo dengan tatapan bingung dan tidak percaya. Kakinya tanpa sadar melangkah mundur, menjauh dari sahabatnya itu, memandangi ke sekelilingnya yang begitu banyak orang. Ia mencari sosok jandi di antara orang-orang itu, berjalan cepat kesana-kemari.

Sementara yijung dan woobin manatap jihoo seolah menginginkan penjelasan, bahkan yijung mendengus kesal dan menuduh jihoo sembarangan.

Yijung :   ”Aku tidak mengerti kenapa cinta bisa menjadi begitu menyedihkan. Dan kau semakin membuatnya rumit.” mendengus kesal, menuduh dan memojokkan jihoo bahwa ia belum bisa melepaskan jandi.

Woobin :   ”Sudahlah!” tukasnya sambil menepuk pundak jihoo pelan.

Jihoo yang dari tadi hanya diam akhirnya membuka mulutnya.

Jihoo :      ”Anyio... ada sesuatu hal, yang terkadang lebih baik jika kita tidak mengatakannya. Biarkan dia sendiri yang menemukan jawabannya.” jawabnya tenang, acuh.

Yijung :   ”Apa maksudmu?”

Jihoo hanya menghela nafas, seakan sangat lelah. Yijung dan woobin mungkin memang akan menuduhnya dengan tatapan seperti itu, tapi mereka tidak mengetahui kalau semua yang jihoo sembunyikan adalah demi melindungi hati junpyo. Karena dalam hal ini, ia tidak bisa memihak pada siapapun selain membiarkan kedua sejoli itu menyelesaikan masalah mereka sendiri.


Di sisi lain, seorang pria yang lumayan tampan mendekati jandi yang sedang berjalan buru-buru menuju mobil yang sudah menunggunya di depan. Tempat itu memang sangat sepi, bisa dibilang tidak ada orang. Pria itu menyapa jandi yang terlihat kaget karena tiba-tiba langkahnya terhalang.

”Anyeonghaseo.... nona Geum?” ia membungkuk, kemudian meyodorkan tangan untuk berjabat. ”Saya Jang So won.” sambil memamerkan senyum terbaiknya.

Jandi terlihat ragu, tapi perlahan menyambut tangan pria itu sambil membungkuk.

Jandi :      ”Ne? Anda mengenal saya?”

Tuan Jang :   ”Tentu saja, saya melihat wanita tercantik malam ini. Maaf kalau itu membuat saya mengganggu anda nona.” ucapnya sopan, tapi terdengar menggelikan.

Mengetahui lelaki ini membicarakan hal yang tidak penting, jandi buru-buru menghindar. Ditambah lagi di memang harus segera pergi dari sini sebelum seseorang menemukannya.

Jandi :      ”Maaf Tuan Jang, tapi saya harus segera pergi. Permisi!” lagi-lagi ia membungkuk pertanda hormat, kemudian langsung beranjak dari sana.

Tapi tuan Jang tidak mungkin menyerah begitu saja, ia juga buru-buru mengejar jandi yang berjalan cepat.

Tuan Jang :   ”Nona... maaf nona... tunggu sebentar!”

Lagi-lagi ia menghadang langkah jandi, kali ini jandi memelototinya kesal. Apalagi saat lelaki itu (ntah karena panik takut jandi pergi lagi atau memang dia tidak tahu malu) langsung memegang tangan jandi dan membuat jandi terkesiap menarik kembali tangannya. Lelaki itu jadi sadar atas sikap tidak sopannya.

Yuang Jang :      ”Oh, maafkan saya.. sayaa....”

PLAK!!!!!

Tak disangka sebuah tinju mendarat di wajah lelaki itu, jandi terperanjat ngeri manyaksikan seorang pria memukul dan menarik tubuh tuan Jang sampai ia tersudut di sebuah tembok.

”Berani kau menyentuh istriku? Kau mau mati huh?!” bentaknya geram, sambil mencengkram jas Tuan Jang yang langsung ketakutan, matanya terbelalak lebar sambil meringis kesakitan.

Tuan Jang :   ”GOO JUN PYO???”

Junpyo :   ”Brengsek!”

Sekali lagi junpyo nyaris mendaratkan tinju ke wajah lelaki itu, tapi tuan Jang langsung merengek ketakutan.

Tuan Jang :   ”Maaf... Maafkan saya... Saya tidak tahu... SA.. saya mengira kalian sudah bercerai.. maaf... Goo Jun Pyo.” ia merengek sambil memohon.

Kata-kata itu seolah menyadarkan junpyo akan posisinya, bukannya mereda, ia malah tersingung dan marah karena tidak bisa menerima kenyataan kalau orang-orang memang menganggap mereka sudah bercerai.

Jandi :      ”Hentikan!” tukasnya pela, tidak ingin menimbulkan keributan.

Mendengar suara jandi, seakan bagai sabda bagi junpyo, tanpa sadar cengkramannya terlepas begitu saja, kesempatan bagi tuan Jang lari ketakutan dari sana.

Junpyo :   ”Jandi-yaa...”

Mata mereka bertemu, junpyo tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya sekarang. Seseorang yang sangat dirindukannya saat ini ada di hadapannya. Begitu banyak yang ingin ia katakan, tapi dia hanya bisa terkelu. Menatap jandi penuh takjub, dan langsung berhambur memeluk gadis itu erat-erat. Tak ada yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini, dia memang belum bisa mengerti mengapa jandi ada disini tanpa pemberitahuan padanya, semua itu tak mampu terungkap selain pelukan yang menjelaskan rasa rindunya saat ini.

Tapi ada yang aneh sejak tadi, jandi buru-buru merenggangkan tubuhnya, hingga terlepas dari pelukan junpyo. Lelaki itu menatapnya penuh tanya, jandi terlihat dingin, sikapnya terlihat begitu asing.

Junpyo :   ”Jandi-yaa.. kenapa kau...”

Belum selesai junpyo bertanya, jandi menghelanya.

Jandi :      ”Mianhe junpyo-yaa.. Apa yang dikatakan lelaki itu memang benar. Ada banyak orang juga wartawan disini, dan kau tahu seperti apa hubungan kita sekarang. Jadi tolong jaga sikapmu.”

Junpyo terperanjat mendengar kata-kata jandi yang begitu tenang dan dingin, ia mulai ragu dengan sikap jandi.

Junpyo :   ”Jandi-yaa...” masih berusaha meyakinkan dirinya kalau sikap jandi ini bukanlah perasaannya yang sebenarnya.

Jandi :      ”Aku harus pulang sekarang, permisi.” ia membungkuk, seperti orang asing.

Junpyo tidak bisa menerima semua ini tanpa penjelasan, bagaimana mungkin ia hanya mendapatkan sikap seperti ini setelah sekian lama memikirkan jandi. Junpyo langsung menarik tangan jandi hingga tubuh gadis itu berbalik dan jatuh dalam pelukannya.

Junpyo :   ”Andwe... katakan ini bohong kan? Kau hanya pura-pura bersikap seperti ini padaku? Benarkan?”

Jandi :      ”Lepaskan! Apa yang kau lakukan?”

Jandi mendorong tubuh junpyo kuat, lagi-lagi pelukannya terlepas.

Jandi :      ”Kau lihat, orang-orang disana akan melihat kita.”

Junpyo :   ”PERSETAN DENGAN SEMUA ITU.” membentak keras, ia mulai brutal, seperti junpyo yang sebenarnya.

Benar saja, suara junpyo berhasil memancing beberapa pasang mata mengarah pada mereka, sebagian mulai berbisik-bisik. Membuat jandi semakin kesal, tanpa perduli dengan kemarahan junpyo, ia langsung pergi dari sana. Tapi lagi-lagi junpyo mengejarnya, dan saat itu juga beberapa orang berjas hitam mulai mendekati mereka. Junpyo terlihat bingung dengan orang-orang ini, bukannya dia takut, tapi dia tidak mengerti kenapa mereka membungkuk pada jandi. Ia hanya bingung sejak kapan istrinya itu didampingi bodyguard? Untuk apa?

Salah satu bodyguard mendekati jandi :   ”Nona, silahkan lewat sini...” ia mempersilahkan jandi.

Jandi tak melepas pandangannya pada junpyo saat orang-orang itu membawanya pergi dari sana. Tatapan yang penuh dengan penyesalan, seakan berkata ’seperti inilah keadaannya’. Tatapan yang seolah memohon pada junpyo untuk mengerti.

Sementara junpyo hanya terdiam bingung dengan kondisi ini, ia tidak mengerti. Sungguh ia ingin sekali menghajar semua bodyguard itu, tapi mendadak ragu saat mendapati jandi pergi sambil terus menatapnya. Tatapan yang memohon agar junpyo meredam emosinya, mencegah lelaki itu untuk tidak maju dan menyelamatkannya dari kekangan ini.



               End Of Chapter
            ===========================
« Last Edit: February 08, 2012, 05:48:45 am by Be my self »

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
kok nyedihin sihhhh [cry] [cry] [cry] [cry] [cry]
sumpret nyesek banged bacanya kakakkkkkkk
kenapa jandi sedingin itu ama junpyo ya tuhannnn lagi kakak lagiiiii  [ranting] [ranting]
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
makasih Cud na update nya  [flowers]
di chap kali ini aku engga bisa komen banya seperti biasanya  [bored] soalnya dari awal baca sampai end chap sangat mnyedihkan  [cry] [cry] hanya kepiluan yang di rasakan saat membacanya  [bored] kenapa jadi hubungannya mereka sepertinya sangat sulit mencari jalan keluarnya   [what] yang paling parah omanya JD sudah sangat membenci JP walau pun dia tahu  akar permasalahnnya bukan sepenuhnya dari JP , kira  reaksi appnya jadi itu mungkinkah membuat hati ommanya JD luluh  [chin] , kembalikan kemesraan JUNDI  [kiss] [kiss] lagi seperti dulu  [hug]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
thank u dh update..tumben g spnjang biasax,tumben jg jandi g ngejar2 jp..dpt ancaman apa dr ommax kok akhrx mau kmbali n dikawal BG..kasian jp sih tp lbh kasian jandix korbn org2 yg dicintaix,apalg sdg hamil..jp kalo elu mav dimaafin crita semuax dong,jgn cm dismpan ditggorokan.kan jandi sekeluarga g tau isi tggorokanmu..eh jgn jodohn jk ma jh y,kasian jh nya.hehf
[/size][/color][/b]

Offline Nanad_rath02

  • Newbie
  • *
  • Posts: 55
  • Omo !!! My Mom
    • View Profile
 [cry]  [cry]  [cry]..nyesek bnget bcanya

kpn mrka bkln nyatu lgi,, [cry]  [cry]  [cry]

smga d next chap bsa ada secercah chya buat hbungan mrka  [lovestruck]  [lovestruck]  [lovestruck]

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
NCUUUD.... mau update lagi minggu ini ntar sabtu malem inget pada nagih yaa ceman ceman.. [lovestruck] [laughing] [laughing]

Love you more than I can say