Author Topic: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″  (Read 37835 times)

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
Chapter Ending
PART 2



Sebulan telah berlalu sejak kejadian malam itu, junpyo dan jandi sudah berjalan dalam kehidupan mereka masing-masing. Tapi bagi jiwa yang kehilangan sebagian lainnya, membuatnya bagai bergerak tapi tak berjalan. Membuatnya berjalan tapi tak bergerak. Meski pagi yang secerah ini, disambut paduan suara burung yang saling menyahut dari segala penjuru. Musim panas belum juga berlalu, hawa hangatnya menyelimuti setiap jiwa dalam naungan teriknya matahari. Wewangian bunga yang bermekaran mewakili hari penuh semangat di antara bisingnya setiap pergerakan manusia dalam kesibukan masing-masing.


Kediaman Keluarga Geum


”Jandi?? Jandi? Dimana anak itu?” Suara Mrs.Geum memenuhi seisi ruang makan bahkan sampai ke ruang lainnya, memanggil-manggil anak semata-wayangnya yang masih belum juga turun untuk menyantap sarapannya.

Mrs.Geum :   ”Cepat panggilkan jandi. Nanti dia kabur lagi tanpa sempat sarapan.” pintanya pada saah satu pelayan yang sedang menyajikan makanan di meja.

Pelayan :   ”Baik nyonya.”

Pelayan itu membungkuk untuk kemudian pergi melihat jandi.

Mr.Geum :   ”Istriku, jandi bukan anak kecil lagi. Kau jangan mengaturnya terus.” ucapnya penuh wibawa sambil menyeruput segelas susu di depannya.

Mrs.Geum :   ”Kau kan tahu akhir-akhir ini makannya semakin tidak teratur. Orang hamil itu tubuhnya semakin besar, tapi lihat jandi... orang akan berfikir aku tidak mengurusnya dengan baik, tubuhnya masih kurus begitu.”

Setidaknya, sejak Mrs.geum bagun tidur.. rumah itu dipenuhi oleh omelan-omelannya. Suaminya yang duduk di kursi roda itu tidak terlalu memperdulikannya, bahkan sesekali hanya menertawai.

Suara langkah jandi terdengar buru-buru, mendekati ruang makan. Ya, dia benar-benar memakai high heels. Diikuti seorang pelayan, jandi menyapa omma dan appanya dengan senyum ceria seperti biasanya.

Jandi :      ”Omma, appa, selamat pagi!” langsung meneguk segelas susu di meja.

Mrs.Geum :   ”Yah, pelan-pelan... Habiskan sarapanmu dulu baru pergi.”

Jandi :      ”Anyio, aku buru-buru...”

Mrs.Geum :   ”YAH... Jandi-yaaa... pikirkan anakmu di perut. Kau tidak boleh pergi sebelum sarapan.” langsung memotong roti di piring jandi untuk menyuapinya.

Jandi :      ”Ne, aku akan memakannya di mobil.” jawabnya acuh.

Mr.Geum :   ”Jandi-yaa, jaga kesehatan mu. Pekerjaan tidak terlalu penting.”

Bukannya mengiyakan nasehat appanya, jandi malah mengalihkan pembicaraan.

Jandi :      ”Appa tahu kan proyek resort di Busan sudah selesai? Sabtu ini peresmiannya.”

Mr.Geum :   ”Tentu saja. Nanti kita pergi bersama..”

jandi :      ”Siapa bilang aku akan datang?” jawabnya acuh tak acuh sambil meletakkan gelas susunya yang sudah kosong.

Bukan Mr.Geum yang bereaksi, tapi justru istrinya yang langsung memelototi jandi.

Mrs.Geum :   ”Apa maksudmu? Kau tidak mau datang?” tukasnya cepat.

Jandi :      ”Aku sudah pesan tiket ke Boston. Ada acara kelulusan, aku sudah berjanji akan datang.”

Belum lagi istrinya mengeluarkan omelan-omelannya Mr.Geum mengisyaratkan omma jandi untuk menutup mulutnya. Jandi yang melihatnya pura-pura tidak tahu, ia malah langsung menyambar makanan di meja dan langsung kabur.

Jandi :      ”Aku pergi dulu omma, appa...”

Dia buru-buru kabur sebelum dipaksa melakukan sesuatu lagi. Tapi teriakan ommanya menghentikannya.

Mrs.Geum :   ”Jandi-yaa... ini tas mu kenapa ditinggal?”

Dengan wajah merah merona jandi berbalik kembali mengambil tasnya, omma dan appanya hanya terperangah oleh sikap konyol jandi yang semakin hari semakin parah.

Mrs.Geum :   ”Ada apa dengannya? Anak kita yang pintar sekarang jadi ceroboh begitu.”

Mr.Geum :   ”Sudah. Mungkin dia sedang banyak pikiran.”

Mrs.Geum :   ”Memikirkan apa? Goo Jun Pyo?”

Mr.Geum :   ”Huuss... Kau ini.”

Mrs.Geum terus saja mengoceh.

Mrs. Geum :   ”Tapi tetap saja tidak mengaku.”

Mr.Geum :   ”Bagaimana kalau dia memang memikirkan junpyo? Apa yang bisa kita lakukan?” tukasnya cepat, untuk menghentikan ocehan istrinya.

Mrs.Geum mendadak murung, membuat suaminya jadi serba salah.

Mr.Geum :   ”Yah, sudahlah... Tadi itu dia hanya sedang gugup, setauku pagi ini akan ada meeting di Shinwa.”

Ucapan itu tidak membuat istrinya lega, seolah tak tergoda oleh hiburan palsunya.

Mrs.Geum :   ”Semakin lama dia semakin tertutup, kau pikir aku tidak merasakannya? Mungkin saja jandi menyimpan dendam padaku.”

Mr.Geum :   ”YAH... Bagaimana kau bisa berkata seperti itu tentang putriku yang hatinya begitu tulus. Kau tidak tahu, mungkin karena aku makanya dia selalu menghindar.” kalimat terakhirnya terdengar pelan, penuh penyesalan.

Memang selama ini jandi selalu menghindar setiap kali ommanya berusaha memancingnya, bertanya tentang perasaannya sekarang.


Pembicaraan suami–istri ini berpindah ke kebun di belakang rumah, saat Mrs.Geum membawa suaminya berjalan-jalan untuk menghirup udara segar setelah menyantap sarapan mereka.


Mrs.Geum :   ”Semua ini salah ku.” ucapnya pelan.


Flashback



Malam dimana hujan turun begitu lebat, mengobarak-abrik hati dengan penuh kegelisahan. Saat itu, Mrs.Geum sedang mondar-mandir gelisah sambil meremas-remas tangannya yang terlihat kaku -terkepal tak mau lepas. Hujan yang dingin tak mampu menghapus titik-titik keringat yang bertengger di dahinya. Hampir selama setengah jam dia dalam posisi seperti seterika, matanya memandang jauh ke gerbang, namun yang ditunggu-tunggu belum muncul.

Mrs.Geum :   ”Kepala pelayan Joo, kemana dokternya? Kenapa sudah selama ini tapi belum juga datang.” berteriak melawan berisiknya hujan, ia tak mampu lagi menahan kepanikan.

KP.Joo :   ”Sebentar lagi sampai nyonya, saya sudah menghubunginya barusan, katanya sudah dekat. Mungkin karena hujan sangat deras, sabar sebentar nyonya.”

Mrs.Geum :   ”Bagaimana aku bisa sabar, suami ku masih belum sadarkan diri.” rautnya panik, bahkan hampir menangis. Namun dagunya yang bergetar mengguratkan ketegaran seorang wanita. ”Dimana jandi? Kau sudah mencarinya?”

Kp.Joo :   ”Ponselnya tidak aktif, saya akan menyuruh seseorang mencarinya ke kediaman Goo.”

Mrs.Geum :   ”Tidak perlu. Biarkan saja.”

Setelah beberpa menit berlalu, akhirnya seorang dokter tiba. Tanpa basa-basi mereka langsung menuju ke kamar Mr.Geum. Istrinya berharap-harap cemas saat dokter memeriksa suaminya yang jatuh pingsan tadi, kali ini ketakutan merajai dirinya. Ia teringat, kata-kata yang diucapkan suaminya dengan terbata-bata... ”K..kau... ke...ter..la..luan.....”
Apa maksudnya? Sampai sekarang ia belum mengerti, tapi pada saat itu ia dapat merasakan kemarahan melalui sorot mata suaminya.

Dokter :   ”Nyonya Geum.”

Panggilan dokter membuyarkan lamunannya.

Mrs.Geum :   ”Dokter, bagaimana suami saya?”

Dokter :   ”Tekanan darah dan detak jantungnya normal. Beliau sedang tertidur, mungkin kelelahan. Kelihatannya semua baik-baik saja.”

Mrs.geum :   ”Benarkah? Tapi... tadi dia bicara dok.”

Dokter :   ”Bagus sekali, itu perkembangan yang sangat cepat. Tunggu sampai beliau terbangun, kita lihat perkembangannya. Besok bawa Mr.Geum ke rumah sakit untuk pemariksaan lebih lanjut.”

Mrs.Geum :   ”Ne dokter. Ghamshamnida.” membungkuk, akhirnya terlihat lega.

Dokter :   ”Lebih bagus jika terbangun nanti beliau bisa kembali berbicara. Anda tidak perlu khawatir.”

Mrs.Geum :   ”Ne. Dokter.”

Mrs.Geum mengantar dokter sampai ke depan, ia membungkuk untuk berterimakasih. Tidak lama berselang, bahkan sebelum ia kembali masuk ke kamar, Mrs.Geum melihat sosok jandi yang sedang berjalan cepat sambil menutup mulutnya dengan tangan melewatinya begitu saja.

Mulanya ingin mengabarkan tentang kondisi appanya pada jandi, tapi mrs.Geum justru menatapnya heran. Keadaannya saat itu sangat dramatis, basah kuyup. Bukan hanya ujung-ujung rambut indahnya yang masih masih meneteskan air, saat itu Mrs.Geum juga sempat melihat butiran airmata membasahi wajah puterinya yang cantik. Dia hanya bisa terkelu, menebak-nebak sesuatu yang buruk pasti telah terjadi.

Ia teringat dengan kata-kata jandi sebelum ia pergi bersama Goo jun Pyo, mungkin tangisnya kali ini berkaitan dengan itu.


Keesokan harinya...


Pagi-pagi sekali saat suasana masih sepi, Mr.Geum terbangun dari tidurnya. Perlahan tangan kakunya menyentuh tangan istrinya yang sedang tidur di sisinya. Merasa samar-samar ada yang menyentuhnya, Mrs.geum pun terbangun. Matanya yang tadi sulit terbuka sakin kantuknya, kini melebar dengan bibir sedikit terbuka.

”Suamiku?” Ucapnya pelan, tak percaya.

Sungguh keajaiban saat mendapati tangan suaminya sudah bisa bergerak menyentuhnya, padahal sebelumnya ia tak pernah melihat satu jaripun bergerak.

Mr.Geum :   ”Jan..di...” ucapnya kaku, terbata-bata.

Mrs.geum semakin kaget, bukan namanya yang pertama kali dipanggil.. ada apa dengan jandi?

Mrs. Geum :   ”Apa ada apa? Kau ingin aku memanggil jandi? Sayang, kau baik-baik saja kan?” Airmatanya sudah tumpah, mungkin dipikirnya suaminya ini ingin mengucapkan kata-kata terakhir sebelum kematian (?)

Mrs.Geum buru-buru turun dari tempat tidur untuk memanggil jandi, tapi justru suaminya menghentikan. Lelaki itu tidak mau melepas tangan istrinya seakan ia hanya ingin istrinya mendengar saja.

Mrs.Geum :   ”Waeyo?” menatapnya penuh tanya.

Mr.Geum :   ”Jan..di.. Ha..mil...”

Mrs.geum terdiam, menatap suaminya tanpa berkedip sedikitpun. Apalagi suaminya itu justru tersenyum, membuatnya semakin yakin telinganya tidak salah dengar. Atau mungkin ada yang salah dengan suaminya setelah bisa berkomunikasi kembali?

Mrs. Geum : ”Apa? A..apa itu benar? Sayang?”

Mrs.Geum kaget bercampur antusias, matanya melebar berkaca-kaca. Dikejutkan oleh suaminya yang mendadak bisa bicara, juga mendapat kabar gembira tentang kehamilan jandi. Sejenak ia melupakan semua kesulitan selama ini, ia lupa dengan apa yang sudah terjadi pada jandi semalam. Lupa dengan apa yang telah ia lakukan untuk memisahkan jandi dari Goo Jun Pyo, ayah dari cucunya. Sementara suaminya hanya menatapnya penuh haru.


End Of Flashback



Mrs. Geum :   ”Sejak malam itu, jandi berubah menjadi sangat tertutup. Dia selalu menghindar setiap kali aku menanyakan Goo Jun Pyo. Dia bahkan tak mengatakan padaku tentang kehamilannya, aku terlalu memaksanya. Dia mungkin membenciku.” ucapnya pelan dengan pandangan menerawang ke depan, penuh penyesalan.

Suaminya yang duduk di kursi roda hanya menghela nafas, sudah tak terhitung berapa kali istrinya ini mengeluhkan hal yang sama selama sebulan terakhir.

Mr.Geum : ”   Bagaimana dia bisa mengatakan padamu kalau dia sedang mengandung anak Goo Jun Pyo. Sayang, jandi hanya takut menyakitimu, karena dia sangat menyayangi kita.”

Itulah juga mengapa malam itu Mr.geum sangat emosional, saat terjadi keributan di rumahnya... ia ingin sekali menghentikan istrinya karena tahu istrinya pasti akan menyesal. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah keributan itu, tapi secara ajaib Tuhan menganugrahkannya kesembuhan saat dia memaksakan diri untuk bicara.

Pada awalnya Mr.Geum marah atas apa yang telah lakukannya istrinya, tapi lambat laun tanpa disalahkan pun Mrs.Geum tidak pernah berhenti merasa bersalah. Kata-kata ’menyesal’ selalu terucap dari mulutnya sejak tahu jandi sedang mengandung anak junpyo.

Pikiran Mr.Geum melayang pada saat jandi menceritakan tentang kehamilannya, ia bahkan masih dapat merasakan perasaan haru saat itu. Juga betapa tertekannya jandi saat dalam kebingungan -memohon padanya untuk segera sembuh. Di balkon waktu itu... saat pertama kali Mr.Geum menangis.....



FLASHBACK


Jandi :      ”Appa, apa yang bisa ku lakukan hanyalah memohon padamu untuk segera sembuh. Maafkan aku appa....” kali ini setitik air matanya menetes, jandi langsung tertunduk.

Saat itu, hati mana yang tak akan mendung menyaksikan puterinya bersimpuh-berlutut- di hadapannya dengan membenamkan wajahnya untuk menyembunyikan airmata. Sementara dirinya bahkan tak mampu membelainya. Hanya terisi sesak di dada, Mr.Geum mengamati jandi yang mulai terisak. Ia melanjutkan kata-katanya dengan suara serak parau, airmata Mr.Geum tak tertahankan- mulai berkaca-kaca.

Jandi :      ”Appa harus segera sembuh, karena... karena appa.. akan segera memiliki cucu.”

Jandi semakin terisak, sementara appanya sontak diliputi perasaan berbunga-bunga. Kebahagian yang mendadak itu mengalahkan kekakuan saraf-sarafnya, hingga tanpa sadar ia pun ikut menangis, sementara kepala jandi masih terbenam di pangkuannya.

Sebenarnya, Mr.geum tahu apa yang ingin disampaikan oleh jandi. Dia pasti merasa sangat bersalah, merasa menjadi sangat egois dan tidak mampu mengendalikannya. Menginginkan appanya sembuh, sebagai jalan untuk bisa memaafkan dirinya dan juga junpyo? Tapi saat itu, justru Mrs.Geum bertindak terlalu keras, hingaa jandi tak berani memutuskan apapun. Dan tak ada yang bisa ia lakukan Mr. Geum meski tahu semua itu, karena itu ia sangat marah. Tapi dia juga merasa bersalah karena semua ini terjadi akibat dirinya yang terlalu lemah, pikirnya.

Setelah beberapa lama dalam posisi seperti itu, barulah lambat-lambat jandi mengangkat kepalanya, matanya membulat besar saat menatap wajah appanya. Buru-buru ia menghapus air matanya agar pandangannya jelas. Ia berteriak melihat appanya menangis. Kemudian ommanya datang......


END OF FLASHBACK



Mrs. Geum :   ”Ini salah ku. Seandainya aku tahu, bagaimana bisa aku memisahkan mereka.” tak berhenti menyalahkan dirinya.

Tapi semua penyesalan seakan percuma, ia baru menyadari semuanya sudah terlambat. Sejak jandi pulang ke rumah dalam keadaan berantakan dan basah kuyup malam itu, hatinya sudah tertutup. Meski tidak tahu percis apa yang sudah terjadi malam itu, mulai dari sana jandi selalu menghindar setiap kali ommanya menanyakan tentang junpyo. Terlambat, walau sudah berusaha memperbaiki kesalahannya.

Mr.Geum :   ”Jangan menyalahkan dirimu lagi, kau juga menderita karena aku, sayang. Bukankah kau sudah berusaha keras menyatukan mereka lagi, sekarang biarkan mereka sendiri yang menyelesaikan perasaan mereka.”

Mrs.Geum :   ”Tapi, kenapa lama sekali? Beberapa bulan lagi akan menjadi seorang ayah, apa saja yang dilakukan anak itu?”

Keduanya hanya menghela nafas.



SHINWA GROUP



 
Pria tampan berpostur menjulang itu dengan penuh percaya diri berbicara di depan sejumlah relasi bisnis maupun pejabat pemerintahan, orang-orang disana memperhatikannya dengan pandangan berbinar. Beberapa asik mengangguk dan tersenyum puas, terkadang mereka juga bertepuk-tangan menyambut kalimat-kalimat keberhasilan yang terlontar dari mulut Goo Jun Pyo.

Junpyo :   ”Saya sebagai Presdir Shinwa Group merasa sangat bangga dan berterimakasih atas kerja keras anda selama ini, saya berharap dapat bekerjasama lagi untuk menyelesaikan proyek-proyek selanjutnya.”

Kalimat tadi disambut tepuk tangan meriah oleh seluruh peserta rapat, junpyo membungkuk pertanda berterimakasih. Semua orang berdiri dan mulai saling bersalaman pertanda sebuah proyek telah selesai dan berhasil diluncurkan. Satu per satu dari mereka mengucapkan selamat dan meninggalkan ruang meeting dengan tampang puas. Tak lama ruang meeting yang luas dan mewah itu hanya bersisa beberapa orang, junpyo yang masih menyambut jabat tangan rekan bisnisnya sekilas melirik seseorang yang dari tadi sibuk membereskan berkas di mejanya.

”Ghamshamnida.. Ghamshamnida...”

Kali ini jabat tangannya terhenti -sebelum menoleh pada pemilik tangan yang sangat dikenalnya itu, hatinya bergetar. Tangan yang biasa disentuhnya, kini menjadi sangat asing. Ia mengangkat kepalanya, dan gadis yang tadi diliriknya kini telah berada di hadapannya. Sementara suasana semakin sepi karena orang-orang tadi sudah meninggalkan ruangan itu.

Jandi :      ”Selamat Presdir Goo.” Sambil menatap junpyo dengan sorot mata seperti biasanya, kaku.

Junpyo :   ”Kau juga sudah bekerja keras. Selamat juga untukmu.” tidak kalah dinginnya.

Ntah sudah berapa lama situasi antara mereka menjadi seperti ini, keduanya menggunakan bahasa formal seperti orang yang tak pernah saling mencintai -sementara benihnya sekarang hidup dalam kandungan jandi yang semakin membesar. Sikap keduanya alot setiap kali mereka bertemu, satu sama lain tak ada yang mau mengalah.

Jandi membungkuk untuk kemudian meninggalkan tempat itu, tapi junpyo sempat melirik highheels yang dipakainya. Sontak ia mendengus ketika menyadari jandi selalu berusaha menyakitinya.

Junpyo :   ”Aku harus memastikan kau datang ke Busan sabtu ini.” ucapnya ketus, berhasil menghentikan langkah jandi sebelum ia keluar dari ruangan itu. Jandi menoleh, tatapan junpyo semakin dingin tanpa ia ketahui bahwa sebenarnya itu hanya karena highheelsnya.

Jandi :      ”Aku tidak akan datang. Dan kau tidak perlu menghiraukan hal itu.”

Junpyo :   ”Kau pasti datang!”

Kali ini ia tersenyum sinis, meninggalkan jandi yang kebingungan.

Jandi  :   ”Kenapa aku harus datang huh?” ucapnya kesal setelah menyadari di ruangan itu hanya tinggal dirinya sendiri.

Jandi pun mendengus karena junpyo meninggalkannya begitu saja, semakin hari lelaki itu semakin tidak perduli padanya. Begitu sering bertemu di kantor, seminggu terakhir junpyo bahkan tidak lagi menanyakan kabarnya.

Anehnya, jandi justru melakukan hal yang selalu membuat junpyo marah. Seperti menggunakan highheels ini, dia tahu junpyo tidak suka, tapi malah berharap junpyo tidak bersikap seacuh ini. Akhir-akhir ini jandi sangat kesepian, mengira mungkin junpyo benar-benar sudah tidak menginginkannya lagi. Tapi bukankah itu juga keinginannya? Sulit sekali menahan perasaan cinta, sulit!

Dengan wajah murung jandi pergi dari tempat itu, tapi baru selangkah ia berjalan tubuhnya nyaris bertubrukan dengan seseorang yang juga terlihat kaget. Orang tersebut langsung membungkuk pertanda hormat.

Serketaris Jung :   ”Nona....”

Jandi juga membungkuk, meski mulanya terasa kaku, tapi berusaha mencairkan suasana antara mereka.

Jandi :      ”Pak Jung, kenapa buru-buru?”

Serketaris Jung :   ”Maaf nona, saya baru saja akan menjemput Presdir di Bandara. Ternyata lebih cepat dari jadwalnya.”

Jandi :      ”APA? Presdir? Appa?”

Sereketaris Jung :   ”Ne, nona.”

Serketaris jung menatap jandi dengan tatapan penuh tanya, gadis itu seperti memikirkan sesuatu. Ya, dia baru mengerti maksud dari kata-kata junpyo barusan. Lelaki itu sudah tahu kalau orangtuanya akan pulang ke Korea, makanya dengan percaya diri mengatakan jandi pasti akan datang ke pesta di Busan.

Jandi    :   ”Pak Jung, dimana Goo Jun pyo?” tanyanya cepat.

Serketaris Jung yang semakin heran hanya menjawab seadanya : ”Tuan muda di ruangannya.”

Tanpa basa-basi jandi langsung berbalik arah menuju ruangan junpyo, sementara serketaris Jung tersenyum senang. Kemudian ia melanjutkan langkahnya untuk ke bandara.




--------------------------------------------




Pintu ruangan junpyo terbuka cepat, mengagetkan lelaki itu yang sedang berbicara dengan seseorang melalui telpon. Dahinya terhenyit menangkap sosok jandi yang masuk tanpa permisi dan kini berdiri di hadapannya dengan tampang kesal.

Junpyo :   ”Baiklah, nanti aku hubungi lagi.” ucapnya pada lawan bicara di telpon.

Tepat saat telpon itu diletakkan di tempatnya, jandi langsung memburu junpyo dengan kata-kata tajam, tanpa sempat lelaki itu menanyakan keperluannya.

Jandi :      ”Kau sengaja meminta appa datang ke acara itu?”

Junpyo :   ”Apa yang kau bicarakan?” jawabnya acuh.

Jandi :      ”Kau tahu apa yang aku bicarakan.”

Junpyo :   ”Oh, maksudmu acara di Busan? Atau tentang kesepakatan itu?” kali ini junpyo tersenyum sinis, dengan sengaja menertawai jandi. Sorot matanya yang teduh kini berisi isyarat kemenangan, yang membuat jandi semakin kesal.

Jandi :      ”Jadi benar kau sengaja?” memicingkan matanya, seolah menuduh junpyo berbuat curang padanya.

Junpyo :   ”Kau tidak membicarakan kesepakatan itu dengan ku, jadi aku....”

Belum lagi junpyo menyelesaikan kata-katanya, jandi buru-buru menghela.

Jandi :      ”Kesepakatan apa? Aku tidak bermaksud membuat kesepakatan apapun.” mulai merasa semua orang telah salah paham terlalu jauh tentang hal ini.

Sebenarnya kesepakatan seperti apa? Mengapa seolah junpyo begitu memanfaatkan situasi yang salah ini? Apa dia kembali berfikir bahwa pernikahan adalah sebuah kesepakatan? Jandi mulai memikirkan kata-katanya Mr.Goo waktu itu, seingatnya ia hanya bermaksud mengembalikan segala sesuatunya pada posisi semula. Tapi kesalahpahaman Mr.Goo semakin berlarut-larut, mengira pernikahan junpyo dan jandi baik-baik saja. Karena setelah jandi mengetahui kalau bukan junpyo yang ingin menceraikannya, ia menghubungi Mr.Goo untuk membicarakan hal ini.



FLASHBACK



Jandi :      ”Appa, aku sudah memaafkan Pak Jung, appa juga harus memberinya kesempatan.”

Jandi berkali-kali meyakinkan Mr.Goo kalau dia sudah memaafkan serketaris Jung. Bukan hanya karena dia ingin melupakan segalanya, tapi juga karena junpyo membutuhkan serketaris Jung. Dan juga demi permohonan jaekyung waktu itu. Jandi hanya ingin mengembalikan mereka semua pada posisi dimana ia tidak pernah hadir dalam kehidupan junpyo, maka setelah semuanya selesai, dia bisa melepasnya dengan tenang.

Mr. Goo :   ”Tidak, sudah appa katakan, appa tidak bisa mengabulkan permintaanmu ini.”

Jandi :      ”Tapi, junpyo membutuhkan serketaris Jung di sisinya.” di luar dugaan, appa junpyo ini memang jauh lebih keras kepala dari junpyo. Membuat jandi putus asa, sudah berapa lama mereka membicarakan hal ini, tapi appa junpyo masih belum luluh.

Mr.Goo :   ”Apa junpyo yang menyuruhmu untuk membujukku?”

Jandi :      ”Anyio, tidak seperti itu. Aku hanya..”

Mr.Goo langsung menghela kata-kata jandi.

Mr.Goo :   ”Tapi appa senang kalian sudah berbaikan.”

Jandi :      ”A..Apa?” mulai panik.

Terdengar tawa bahagia dari seberang sana yang membuat jandi bingung. Dengan memaafkan serketaris jung, apa itu berarti jandi sukses membuat Mr.Goo salah paham? Bagaimana caranya menjelaskan kalau keadaan mereka tidak sebaik itu. Jandi jadi terbata-bata, sulit baginya untuk mematahkan gelak tawa Mr.Goo saat itu juga.

Mr.Goo :   ”Jandi-yaa... Appa titip junpyo padamu... Karena mu, dia menjadi seorang yang sangat aku andalkan. Jaga juga cucu appa baik-baik...”

Tit......... telpon itu langsung putus begitu saja, membuat jandi semakin bingung. Karena apa yang dimaksudnya sama sekali bukan seperti itu......

Tapi setelah pembicaraan itu, beberapa hari kemudian serketaris Jung justru sudah kembali bekerja. Junpyo yang tak tahu apa-apa juga tidak mengerti, seingatnya berkali-kali ia menghubungi serketaris Jung untuk memintanya kembali, tapi lelaki paruh baya itu berdalih dirinya tidak pantas. Disaat junpyo mulai menyerah, kenapa tiba-tiba Pak Jung muncul?

Tanpa berlama-lama dalam kebingungan, kehadiran pak Jung langsung disusul dengan bunyi dering ponsel junpyo, telpon dari appanya. Ternyata Mr.Goo telah memerintahkan serketaris jung untuk kembali bekerja, mulanya junpyo tidak tahu kenapa appanya tiba-tiba berubah pikiran. Sebelum akhirnya Mr.Goo menjelaskan kalau jandi tempo hari menghubunginya, dan ia tak bisa melakukan apapun untuk menolak menantu kesayangannya itu.

Junpyo menghela nafas tak percaya, bahkan suara appanya tampak sangat bahagia di tengah suasana hatinya yang sedang kelam. Dari pembicaraan Mr.Goo, junpyo menuduh jandi telah membuat kesepakatan dengan appanya tanpa sepengetahuannya. Ia mengira jandi berkata pada appanya kalau hubungan mereka baik-baik saja, demi mengembalikan serketaris Jung ke posisi semula.


END OF FLASHBACK





Junpyo :   ”Ntah apa yang kau katakan pada appa, kau pasti tahu apa yang harus dilakukan.”

Kata-kata junpyo tadi semakin memojokkan jandi, ia menuduh junpyo telah memanfaatkan kesalahpahaman Mr.Goo untuk mempermainkan status pernikahan mereka.

Jandi :      ”Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjelaskan semuanya pada appa.”

Junpyo :   ”Terserah, kau memang bukan tipe orang yang akan menepati janji.” ucapnya dingin. Mendadak jandi terkelu, dia tahu junpyo jelas-jelas sedang menyindirnya.  Sorot mata lelaki itu tajam, penuh dengan kekecewaan juga marah.

Jandi seolah dihujam oleh rasa bersalah yang tak bertepi, divonis oleh junpyo sebagai yang paling bersalah. Ia segera memalingkan wajahnya, menghindari sorot mata kelam yang mengarah pada sudut hatinya yang terdalam, mengobrak-abrik perasaannya.

Lagi-lagi dia menghindar sebelum junpyo membahas lebih jauh tentang hubungan mereka, tak berani menatap junpyo. Tapi pandangannya justru berubah heran saat menyadari seisi ruangan junpyo yang berantakan, ruangan itu lebih mirip kapal pecah, tidak seperti kantor. Pakaian berserakan, terdapat bantal juga selimut di sofanya, juga perlengkapan lainnya. Menyadari itu, wajah junpyo mendadak memanas, Sial... dia akan segera malu.

Jandi :      ”Kau... tinggal disini?” tanyanya ragu.

Junpyo semakin risih dengan pertanyaan itu, bisa-bisa sikap ’dingin’ nya selama ini memudar oleh asumsi jandi. Oh tidak, harga dirinya tak akan membiarkan itu terjadi.

Junpyo :   ”Kau bisa keluar sekarang, tidak ada yang memintamu kesini.” ucapnya pelan tanpa mau menatap jandi lagi.

Benar saja, jandi jadi gugup –dia tidak percaya kalau junpyo masih belum mau pulang ke rumah karena dirinya. Sebelum suasana menjadi semakin kaku, gadis itu buru-buru pergi dari sana. Junpyo hanya diam saja menatap punggung jandi.
   



         ===========================




Cuitt citt citt cittt...... suara kicau burung di senja yang hangat ini menemani sesosok pria tampan yang sedang duduk santai dengan kaki terlipat -di sebuah taman bermain. Sesekali bibir tipisnya menampilkan senyum menawan, juga sorot mata itu... bisa menjatuhkan hati wanita. Pria itu sedang asik memperhatikan beberapa anak kecil yang sedang bermain di salah satu wahana taman itu. Satu tangannya memegang cup ice cream yang sudah habis setengahnya, tampaknya dia sudah agak lama menunggu seseorang disana, berkali-kali melirik jam di pergelangan tangannya.

Selama beberapa lama, akhirnya sepasang kaki indah yang memakai sepatu berwarna hijau lumut muncul di hadapannya. Orang itu menengadahnya, hatinya tetap saja bergetar setiap kali sosok cantik itu menerpa pupilnya, ditambah dengan senyuman bagai dewi.

Jandi :      ”Oppa? Aku terlambat!” memerkan lesung yang dalam di pipinya.

Jihoo :      ”Kau sudah datang, duduklah...”

Jandi :      ”Ada apa? Sepertinya sangat serius? Tidak biasanya ke tempat seperti ini.”

Jandi duduk di sisi jihoo sambil melirik satu cup ice cream yang sedang dilahap lekaki itu, refleks ia terkekeh. Membuat jihoo memandangnya penuh tanya.

Jihoo :      ”Waeyo?”

Jandi :      ”Anyio, aku hanya tidak pernah melihatmu seperti ini. Kau mengajak ku kesini untuk makan ice cream?” Tidak bisa menahan tawanya, baginya jihoo tidak cocok dengan ice cream itu.

Jihoo :      ”Ayo kita jalan-jalan.”

Jihoo langsung bangkit dari duduknya untuk kemudian menarik tangan jandi, gadis itu hanya mengikutinya saja. Tak tahu apa maksud jihoo sebenarnya, tapi jandi sangat menikmati suasana ceria di taman bermain ini walapun sedikit lelah karena perutnya sekarang sudah agak berat. Keduanya berjalan mengitari taman bermain itu, sesekali berhenti melihat orang-orang yang bermain di wahana menantang, keduanya juga berteriak mengikuti sorak sorai orang-orang itu. Jihoo juga membelikan ice cream untuk jandi, berfoto bersama badut, duduk di bawah pohon rindang sambil bercanda. Percis seperti sedang berkencan.

Selama beberapa jam disana, keduanya tampak kelelahan. Jandi berjalan pelan menyusuri jalan setapak menuju pintu keluar, diikuti oleh jihoo yang terus memperhatikannya. Mereka melewati banyak pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya ke dekat pintu taman bermain itu. Di tengah-tengah jalan -saat mereka terlihat sedang santai berjalan, ada seorang anak kecil yang sedang asik berlarian. Anak itu berlari cepat dari belakang jandi dan tanpa sengaja malah menumbruk jandi dari sisi kiri, jihoo yang terkejut melihat tubuh jandi nyaris tersungkur langsung menangkap gadis itu hingga jatuh dalam pelukannya. Sementara bocah kecil tadi tampaknya baru sadar kalau dia hampir saja membuat orang lain celaka. Dia segera membungkuk dan minta maaf pada jandi.

”Maaf.. maafkan saya...” wajah polosnya kelihatan ketakutan dan merasa bersalah.

Jandi yang masih dalam pelukan jihoo langsung menjauh begitu menyadari posisinya, begitupun dengan jihoo, lagi-lagi jantungnya berdegup kencang tak beraturan, gugup.

Belum lagi jandi mengomentari soal anak itu, seorang wanita tua tiba-tiba datang dan memarahi bocah itu. Tangannya langsung mendarat di kepala bocah itu.

”Kau ini, apa yang kau lakukan? Nona ini sedang hamil, bagaimana kalau dia terluka? Haduuuuhhh kau nakal sekali..”

Wanita itu membungkuk dan minta maaf pada jandi yang hanya terperangah menatap mereka.

”Maafkan cucu saya nona... anda baik-baik saja? Maafkan dia...”

Jandi :      ”Tidak apa-apa bibi, aku baik-baik saja...” tersenyum pada bibi itu dan juga cucunya yang langsung tertunduk. Sementara jihoo hanya memperhatikan saja.

Nenek :   ”Cepat minta maaf lagi.” perintahnya pada cucunya itu.

”Noona, saya minta maaf.” menundukkan kelapanya dalam-dalam.

Jandi :      ”Adik kecil, kau tidak apa-apa kan? Apa kau terluka?”

Bibi itu justru menatap jandi penuh tanya, gadis cantik ini malah begitu perhatian pada cucunya yang nakal. Jandi mengusap kepala bocah yang sedang menatanpnya heran. Anak itu lantas menoleh pada sebuah mainan yang kini sudah menjadi rongsokan karena hancur berantakan di lantai, ia menatap mainan malang itu dengan pandangan prihatin. Sorot mata polos itu membuat jandi iba, dia pun memungut mainan yang sudah hancur itu.

Jandi :      ”Mainan mu jadi rusak, maafkan aku...”

Anak itu hanya terdiam, melihat jandi begitu baik -ia justru semakin merasa bersalah. Baginya mainan itu bukan apa-apa dibanding noona yang begitu menghargai mainannya.

Jihoo yang dari tadi memperhatikan mereka kini seakan menjadi pria paling sial sedunia, bagaimana dia bisa dihadapkan pada wanita yang begitu sempurna... tapi tak pernah mampu dimiliki. Jandi, gadis itu... bagai malaikat yang terpantul di bola matanya, tanpa mampu diraih. Semakin sering bersamanya, jujur hatinya semakin terluka, cintanya terpaksa dikubur mati sebelum sempat bernafas. Tak bisa dipungkiri, sorot mata jihoo melambangkan cinta setiap kali berpatih pada sosok jandi. Maaf, dia tak mampu mengendalikannya.

Buru-buru lelaki itu memalingkan wajahnya, menghindari ratapan malang pada dirinya sendiri. Menghela nafas berat, seakan terbebani oleh pikiran bodoh yang terus menempel di jidadnya.

Dilihatnya jandi masih berbicara dengan anak itu dan neneknya, diam-diam jihoo pergi meninggalkan mereka. Tapi hanya sebentar, tidak sampai beberapa menit. Lelaki itu kembali sambil berlari mendekati jandi dan yang lainnya, mereka langsung menoleh -memandang heran pada sebuah benda yang dipegang jihoo. Ternyata sebuah mainan yang sama percis dengan mainan yang saat ini dipegang oleh anak itu. Jihoo menyodorkan mainan itu pada bocah tadi –yang langsung berbina-binar.

Jihoo :      ”Ini untuk mu.”

Tanpa pikir panjang, anak itu langsung menyambar mainan itu sambil tersenyum senang. Jandi terpukau menatap jihoo yang tersenyum dan mengusap kepala anak itu.

Jihoo :      ”Kau membelinya disana kan?” sambil menunjuk ke arah sekumpulan pedagang mainan. Senyum jandi semakin lebar, bangga pada kebaikan hati oppanya ini.

Nenek anak itu yang dari tadi diam pun ikut mengomentari cucunya.

Nenek :   ”Kau sangat beruntung, lain kali tidak boleh kemana-kemana kalau aku sedang berjualan. Arasso?”

Cucunya itu mengangguk patuh, kemudian membungkuk pada jihoo dan jandi.

”Ghamshamnida...”

Tingkah menggemaskan anak ini membuat jandi tertawa.

Jandi :      ”Bibi, kau juga berjualan disini?”

Nenek :   ”Ne, oh.. ikut dengan ku sebentar nona.”

Jihoo dan jandi saling berpandangan bingung saat nenek itu terpongoh-pongoh menarik tangan jandi untuk mengikutinya. Tidak jauh, hanya beberapa meter dari tempat mereka berdiri. Ada sebuah meja yang penuh dengan barang dagangan, ntah apa itu, seperti macam-macam pernak-pernik. Bibi itu mengeluarkan dua buah benda -yang serupa tapi tak sama- dari salah satu kota kaca, ia meletakkan benda itu di tangan jihoo dan juga jandi. Keduanya menatap benda itu bergantian.

Jandi :      ”Apa ini bi?”

Nenek :   ”Itu Jimat, kalian simpanlah! Semoga bayi kalian diberkati.”

Sontak jandi dan jihoo sungkan untuk tersenyum, keduanya berkedip berkali-kali. Bukannya tak percaya pada jimat, tapi mereka hanya tak mengerti dengan hal-hal seperti itu. Lagi pula... Bayi siapa? Hey, hati-hati kalau sampai junpyo mendengarnya! Yang pasti, keadaan semakin kaku saja antara jandi dan jihoo.

Si bibi yang merasa senang diperlakukan baik oleh kedua orang ini, terus saja mengoceh.

Nenek :   ”Kalian pasangan yang serasi.”

Jihoo berdehem sakin gugupnya, ntah karena tenggorokannya mendadak haus atau mungkin karena malu -keinginannya terbongkar. Tapi jandi malah jadi tidak enak, mengingat pengakuan cinta jihoo padanya waktu itu.

Jihoo :      ”Ghamshamnida....”

Jihoo membungkuk, diikuti jandi yang wajahnya sudah merona. Gadis itu langsung pergi, diikuti oleh jihoo. Meninggalkan nenek dan cucunya yang sudah jatuh hati pada pada mereka.

Jihoo :      ”Jandi-yaa...” berusaha mengimbangi langkah cepat jandi.

Lelaki ini menahan lengan jandi, bola mata cokelat itu berhadapan langsung menusuk hingga relung hati jihoo, tegang. Konyol memang, tapi jandi tidak bermaksud mengacuhkan jihoo. Sejurus kemudian gadis itu terperangah saat jihoo meletakkan sesuatu di tangannya. Jimat itu, jandi menatapnya bingung.

Jihoo :      ”Berikan ini pada junpyo.” ucapnya pelan.

Dia semakin bingung, jelas-jelas jihoo tahu seperti apa hubungannya dengan junpyo. Tapi kenapa.....?

Jihoo :      ”Berikan kesempatan padanya.” jawab jihoo atas tatapan penuh tanya gadis itu.

Jandi :      ”Oppa, kau memintaku kesini untuk membicarakan hal ini lagi kan?”

Jihoo  :   ”Lalu apa yang kau inginkan? Kau ingin junpyo kembali pada jaekyung sementara kau terus seperti ini?”

Mengingat sudah berkali-kali jihoo menghantuinya mengenai statusnya dengan junpyo –meskipun hanya secara tersirat.

Jandi :      ”Oppa?” sanggahnya tajam, tak ingin jihoo melanjutkan kata-katanya, tetapi lelaki itu tidak berhenti.

Jihoo :      ”Kau melepasnya, tapi kau tidak bisa melupakannya. Begitu juga Goo Jun Pyo!”
 
Lelaki ini sebenarnya tidak berbicara selancar itu, sesekali ia seakan menahan nafas untuk sekeras ini pada jandi. Mungkin kata-katanya akan melukai jandi, tapi ia tidak tahan lagi melihatnya seperti ini terus.

”Kau tahu, junpyo menayakan padaku tentang kehamilanmu.... karena kau tidak mengizinkannya ikut saat pemeriksaan. Kau tidak tahu betapa antusiasnya dia, saat mengetahui kalian akan memiliki seorang putri. Kenapa harus aku yang mengatakan padanya? Apa yang kau inginkan jandi-ya?”

Jandi terkelu, ia terhenyak dengan butir air di pelupuk mata, menyaksikan jihoo yang dengan lantang memojokkannya. Lelaki ini tak pernah seperti ini sebelumnya, ntah karena lampias keputus-asaannya pada cinta jandi, atau mungkin dia memang begitu perduli pada sahabatnya itu. Jandi mendadak gentar, ia terguncang oleh desakan jihoo, wajahnya mendadak pucat, membuat lelaki itu jadi serba salah.

Jihoo :      ”Percuma jandi-yaa... meskipun kau melepasnya, junpyo bahkan tak mau menemui jaekyung.” kali ini dengan nada rendah. ”Gadis itu, jaekyung... dia menemuiku sebelum meninggalkan Seoul.”

Ucapan jihoo barusan memang menarik perhatian jandi yang dari tadi hanya terkelu.

Jandi :      ”Oppa? Apa maksudmu?”

Jihoo :      ”Tadi pagi dia datang untuk memintaku mengatakan ini padamu.”

Jandi masih menatap jihoo penuh tanya......

”Sebenarnya aku tak mengizinkannya pergi sebelum menyelesaikan kekacauan ini. Tapi kau pasti tahu... tak ada yang bisa ia lakukan, karena junpyo bahkan tidak ingin melihatnya lagi.”

Jandi :      ”Mwo?”

J ihoo melanjutkan....

”Dia memintaku menyampaikan maafnya padamu.”

Kali ini jihoo menatap jandi dengan raut serius....

”Karena itu jandi-yaa, berikan junpyo kesempatan. Karena tak ada yang menginginkan perpisahan kalian, tidak juga junpyo ataupun kau sendiri.”

Belum selesai jandi mencerna kata-kata jihoo, tiba-tiba dering ponselnya membuyarkan apa yang sedang ia pikirkan.

Tit.. titt.. tittttt....... Jandi terlihat ragu menjawab ponselnya ketika ia melihat di layar ponsel itu tertera nama Goo jun pyo, ia menoleh pada jihoo yang menatapnya hingga dia terpojok.

Jihoo :      ”Jawablah...”

Untungnya ponsel itu tak putus-asa berdering, sampai akhirnya jandi menekan tombol call.

Jandi :      ”Yeoboseyo?” nadanya terdengar pelan, tak bersemangat. Tapi suara antusias dari seberang sana memprovokasi jandi yang langsung kesal oleh sahutan lelaki itu.

”YAH, KENAPA LAMA SEKALI? KAU MAU MEMBUATKU MATI CEMAS HAH?”

Aiiisshhh... suara teriakan itu mungkin juga sampai di telinga jihoo, lelaki itu sampai menghela nafas -meratapi sikap junpyo.

Jandi :      ”Ada apa huh?” tampaknya jandi sedikit melunak.

Junpyo :   ”Kau dimana? Aku akan menjemput mu.”

Jandi semakin kesal, junpyo tetap saja bertindak sesuka hatinya.

Jandi :      ”YAH....”

Teriakan jandi barusan seolah ingin menyadarkan junpyo akan sikapnya.

Junpyo :   ”Sekarang orangtua ku sedang menuju ke rumahmu, dan malam ini mereka menunggu kita untuk makan malam.”

Jandi :      ”Mwo?” rautnya panik.

Jandi melirik jihoo yang juga sedang memandangnya bingung, seakan gadis itu bertanya ’Eotthoke?’



---------------------------------------------------


Nyambuuuuuunngggg ke bawah   punk punk  [smiley-dance013] [smiley-dance013]
« Last Edit: February 08, 2012, 07:02:12 pm by Be my self »

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
Re: I CAN’T CALM MY HEART ″Ending Part 1″
« Reply #376 on: February 06, 2012, 10:35:30 am »
Lelaki berpostur tinggi sempurna itu sekarang bersandar di mobil mewahnya yang terparkir di depan gedung Independent Group, berkali-kali ia melirik jam di pergelangan, serta sesekali menghela nafas pertanda sebenarnya dia bukan tipe orang yang bisa sesabar ini. Sudah hampir dua puluh menit dia terkukung dalam kebosanan menunggu jandi yang belum juga tiba, bersumpah dia tak akan melakukan ini jika saja bukan karena gadis yang sangat mencintainya itu.

Tak seberapa lama, sebuah mobil berwarna putih yang amat dikenalnya melaju -mendekatinya, junpyo memicingkan matanya -berusaha mempertajam penglihatannya. Ternyata firasatnya benar, saat mobil itu berhenti di dekatnya barulah jelas kalau yang keluar dari dalam sana memang jihoo, diikuti oleh jandi. Junpyo menatap keduanya bergantian dengan sorot mata yang sinis, bersikap seolah ia tak perduli apapun kepentingan mereka hingga harus berduaan. Padahal cemburunya sudah sampai ke ubun-ubun. Hal seperti ini sudah sering terjadi selama sebulan terakhir, junpyo berpura-pura acuh meskipun ia tahu mereka sering berduaan. Bahkan terkadang dia tanpa sungkan bertanya pada jihoo tentang keadaan jandi, membuat jihoo juga heran kenapa junpyo tidak menunjukkan sikap cemburunya sampai selama ini. Dia hanya menunjukkan sikap dingin, hingga jandi meyakini perasaan junpyo mungkin perlahan telah memudar.

Jandi :      ”Ottokhe junpyo-yaa?” tanyanya panik.

Pertanyaan jandi tadi hanya ditanggapi dingin oleh junpyo yang terlihat acuh.

Junpyo :   ”Semua ini karena idemu. Merepotkan sekali.”

Tsaaahh... tingkah konyol junpyo itu membuat jihoo menghela nafas. Jelas-jelas ia tahu bagaimana perasaan lelaki itu, tidak heran kalau jandi tak berniat maju selangkah pun.

Jihoo :      ”Jandi-yaa, aku pergi...”

Kini jihoo pergi meninggalkan mereka berdua, sebelumnya dia sempat menepuk pundak junpyo. Junpyo hanya tersenyum kecut.

Tanpa basa-basi junpyo langsung masuk ke mobilnya, dipikirnya jandi akan mengikuti. Tapi gadis itu justru masih diam di tempatnya.

Junpyo :   ”Yah, mau ikut tidak?” teriaknya ketus.

Jandi tidak mengerti apa yang junpyo rencanakan, gadis itu mendengus kesal.

Jandi :      ”Kenapa aku harus mengikutimu?” memonyongkan bibirnya, tidak kalah keras kepala.

Junpyo :   ”Terserah kau kalau ingin melupakan kesepakatan itu... ” jawabnya acuh.

Jandi :      ”Sudah ku bilang itu bukan kesepakatan!”

Junpyo :   ”Apapun itu, sekarang mereka sedang menunggu kita disana. Juga orangtua-mu”

Jandi memelas serba salah, apa yang harus ia lakukan? Dia tidak bermaksud berbohong pada orangtua junpyo yang mengira mereka baik-baik saja. Bagaimana dia bisa menghancurkan hati mereka yang sangat menyayanginya? Bahkan orangtua jandi juga ikut menutupi yang sebenarnya terjadi, menyembunyikan kenyataan dan berharap agar mereka bisa kembali bersama. Mereka hanya tidak tahu kalau jandi dan junpyo sudah sepakat mengakhiri hubungan mereka meskipun Mrs.Geum sudah melunak sejak tahu kalau putrinya sedang mengandung anak jun pyo.




---------------------------------------------------------




Kediaman Keluarga Goo


Jandi :      ”Tunggu dulu!”

Jandi buru-buru menarik tangan junpyo ketika lelaki itu akan turun dari mobil, dari sana terlihat beberapa mobil sudah berjejer –terparkir. Pasti mereka sudah berkumpul. Junpyo melihat gadis itu sangat gugup, membuatnya jadi tidak tega mempermainkannya.

Junpyo :   ”Waeyo?”

Jandi :      ”A..aku.. tidak bisa berbohong.” katanya pelan.

Sorot mata junpyo yang kelam semakin terselimuti kekecewaan, kenapa jandi tidak mengerti, haruskah ia melakukan ini semua? Dia tidak tahu betapa junpyo lelah mengejarnya, bahkan disaat paling tersakiti sekalipun, junpyo tak tega melihat jandi kebingungan.

Tak tahukah dia betapa junpyo terluka karena hal ini... berpura-pura memiliki atas apa yang memang miliknya. Sekuat hati mengikuti permainan ini, meskipun ia sangat lelah.. hanya karena dirinya tak mampu menyerah.

Jandi terperanjat ketika secara mendadak tangan yang hangat itu menggenggam tangannya, ia menatap junpyo yang tidak bergeming. Gadis itu berusaha menarik tangannya, tapi junpyo menggenggamnya kuat. Mata indah itu melebar, menatap junpyo penuh tanya.

Junpyo :   ”Ikuti saja seperti kataku. Kita tidak akan ketahuan.” ucapnya datar tanpa menoleh pada lawan bicaranya.

Bibir jandi sudah terbuka untuk melancarkan protes, tapi tidak jadi... karena junpyo keburu keluar dari mobil. Jandi yang masih bingung hanya menuruti saja, melihat lelaki ini begitu percaya diri berjalan sambil  menggenggam tangannya, membuat jandi lupa akan rasa gugupnya.

Baru saja keduanya memasuki kediaman Goo, suara gelak tawa sudah menyambut mereka. Jandi semakin gentar, langkahnya terhenti. Junpyo yang menggenggam tangannya juga ikut terhenti, menatap jandi penuh tanya. Melihat jandi begitu ketakutan, secara refleks junpyo semakin mengencangkan genggamannya, tak ada keraguan di sorot mata lelaki itu. Tidak sulit baginya untuk berpura-pura, karena memang ini adalah ketulusan hatinya.

Mr. Goo langsung bangkit dari duduknya ketika melihat junpyo dan jandi datang, ia tertawa bahagia dan langsung memeluk jandi.

Mr.Goo :   ”Oh lihat mereka sudah datang! Bagaimana kabarmu sayang? Kau pasti menjaga cucuku dengan baik.” memegang perut jandi yang sudah membesar.

Junpyo hanya tersenyum kecut menyaksikan keduanya, sementara Mrs.Goo juga menyambut mereka berdua dengan pelukan.

Jandi :      ”Aku baik-baik saja, aku sangat merindukan kalian.”

Mrs.Geum :   ”Aku tidak sabar menunggu kelahiran cucu pertama ku. Sayang, terimakasih.”

Dia berterimakasih pada junpyo, karena telah memberikannya seorang cucu. Jandi hanya tersenyum miris menyaksikan betapa bahagianya mereka.

Junpyo :   ”Ne, aku akan memiliki seorang puteri secantik ibunya.” menoleh pada jandi yang matanya membulat lebar. Sementara tatapan penuh cinta itu tak bisa junpyo sembunyikan, karena hatinya selalu bergetar oleh raut jernih jandi.

Orangtua junpyo memandangi mereka bergantian, sepertinya mereka dapat merasakan sesuatu yang janggal disini. Tapi Mrs.Geum justru tersenyum senang, ia tertunduk menyembunyikan perasaan harunya, begitu juga appa jandi.

Saat makan malam, jandi yang duduk di sebelah junpyo diperlakukan bak seorang ratu oleh seluruh anggota keluarga. Seluruh perhatian tertuju padanya, maklum saja... jandi sedang mengandung cucu pertama keluarga Goo juga keluarga Geum. Jandi sendiri agak risih diperlakukan seistimewa itu, karena pada dasarnya dia bukan seorang yang manja. Ditambah lagi, kelakuan junpyo yang menjadi-jadi, membuat jandi hanya bisa menggigit bibir, sakin kesalnya. Lelaki ini berlagak seperti tak terjadi apapun pada hubungan mereka, jandi bahkan tidak bisa membedakan ini ketulusan atau hanya pura-pura. Bukankah selama ini dia bersikap dingin? Kenapa tiba-tiba berubah semanis ini?

Junpyo :   ”Makan yang banyak..”

Lagi-lagi ia menyendokkan sesuatu ke piring jandi, lelaki itu dari tadi terus saja senyam-senyum sendiri. Kedua orangtua mereka pun tersenyum malu-malu melihat kemesraan keduanya.

Jandi :      ”Sudah cukup.” jawabnya datar.

Mrs.Goo :   ”Junpyo-yaa, terkadang wanita hamil juga tidak berselera. Kau harus menjaga istrimu dengan baik.”

Junpyo :   ”Ne. Omma..” jawabnya pasti, dengan senyum tertahan.


Selesai makan malam seluruh keluarga berkumpul dan bersenda gurau, kali ini suasana terasa hangat. Mereka duduk di sofa sambiil mengobrol, Mrs.Goo sibuk menasehati jandi soal kandungannya. Sementara Junpyo bicara dengan appanya dan Mr.Geum.

Mr.Geum :   ”Aku dengar Shinwa mulai mengerjakan sebuah mega proyek di Inggris? Aku ucapkan selamat padamu.” memuji sahabatnya.

Mr.Goo :   ”Ini karena Junpyo, dia sudah bekerja keras selama ini.”

Junpyo :   ”Appa, untuk proyek ini. Aku sudah lama ingin membicarakannya, aku berencana menyatukan Shinwa dan Independent jika appa tidak keberatan.”

Semua orang yang ada disana terhenyak, ucapan junpyo tadi tidak terlihat main-main, ia sangat serius. Bahkan Mr.Goo sendiri belum tahu tentang ini, jandi pun menatapnya penuh tanya. Apa mau lelaki ini? Ini justru semakin memperkuat hubungan keluarga mereka.

Mr.Geum :   ”Kita bisa bicarakan ini nanti.”

Mr.Goo :   ”Baiklah, nanti kita bicarakan lagi. Hahaha”

Mr.Goo berusaha mencairkan suasana yang hampir beku. Malam semakin larut, orangotua jandi berpamitan pulang, barulah jandi mulai menyadari posisinya sekarang ini.

Mr.Geum :   ”Kami permisi dulu, kalian istrirahatlah, pasti lelah setelah perjalanan jauh.” ucapnya pada Mr.Goo.

Mr.Goo :   ”Baiklah, kau juga jaga kesehatan mu.”

Mrs.Geum :   ”Jandi, omma pulang dulu ya.. Junpyo, aku titip jandi padamu.” Tersenyum puas sambil mengedipkan matanya pada jandi.

Jandi :      ”Apa?” ucapnya gugup, berkejap berkali-kali. Ia bingung bagaimana caranya agar tidak tertinggal disini, sayangnya sekarang ini otaknya sedang buntu. Secara mendadak tidak bisa berfikir bagaimana untuk pulang bersama orangtuanya. Sementara junpyo hanya menahan senyum memperhatikan wajah pucat jandi.

Mrs. Goo :   ”Biar aku antar ke depan. Junpyo-yaa, bawa istrimu istirahat.” perintahnya pada junpyo tanpa tahu sekarang jandi ingin sekali kabur.

Mr.Goo mendorong kursi roda appa jandi, sementara Mrs.Geum dan Mrs.Goo mengikuti mereka. Tapi sebelumnya Mr.Goo dapat mendengar jandi dan junpyo saling berbisik.

Jandi :      ”Otthoke?” bisiknya pelan, menatap junpyo seakan sangat terdesak. Malangnya, junpyo justru terlihat acuh. Bagaimana tidak, keadaan seperti ini terus terang sudah lama dinantinya.

Junpyo :   ”Mana aku tahu.” jawabnya acuh.

Mrs. Goo menoleh pada keduanya, jandi langsung terdiam.

Mrs. Goo :   ”Ayo bawa istrimu istirahat. Dia pasti lelah!”

Mengambil kesempatan ini, junpyo dengan enteng langsung merangkul pundak jandi yang seketika memelototinya.

Junpyo :   ”Ayo... kita ke kamar.”

Jandi semakin geram melihat senyum nakal junpyo padanya.



---------------------------------------------




Krrrrrrttttttt.... kamar ini gelap. Saat pintunya terbuka hanya nuansa senyap yang menyambut jandi dan junpyo, bahkan terasa asing bagi pemiliknya karena mungkin sudah terlalu lama tak berpenghuni. Dua pasang kaki itu seakan betah berdiri di ambangnya, meresapi sisa-sisa kehangatan yang pernah tercipta disana. hingga keduanya enggan melangkah. Kamar ini, memasukinya seakan sengaja menenggelamkan diri ke dalam tumpukan memory yang belum usang. Ia menerjemahkan bahasa cinta dari sebuah kisah yang siap menjadi masa lalu.

Jandi :      ”Andwe...” ucapnya pelan, seolah lidahnya berucap tanpa disadari.

Junpyo menoleh padanya, menyadari kalau jandi bersikukuh tak ingin membuka celah masa lalu mereka, junpyo hanya bisa menatapnya dengan perasaan terluka. Tergurat jelas raut kebimbangan di wajah gadis itu. Tidak, ia bahkan tak pernah berniat untuk mencoba.

Junpyo hanya berdiam diri saat jandi buru-buru pergi tanpa menghiraukannya. Tak mencegahnya, junpyo bahkan tak menoleh, hanya menikmati sesak yang terasa amat menyakitkan karena sikap keras kepala jandi.

Tapi sejurus kemudian junpyo dikejutkan oleh suara berisik langkah kaki seseorang yang buru-buru, semakin mendekatinya. Junpyo menoleh, saat itu juga ia dibuat kaget oleh jandi yang langsung mendorong tubuhnya masuk ke dalam kamar dan buru-buru menutup pintunya. Junpyo terperangah, memandanginya bingung. Sebelumnya junpyo memang sempat melihat ommanya sedang berjala menuju kamar mereka.

Junpyo :   ”Apa yang terjadi?” menatap jandi penuh tanya.

Tok tok tok......

Ya, pertanyaan junpyo dijawab oleh ketukan pintu ommanya yang sontak membuat jandi gugup. Lelaki itu masih bingung saat ia membuka pintunya, jandi menyambut mertuanya itu dengan sebuah senyum kecut yang menggambarkan ketegangan.

Mrs. Goo :   ”Kepana lampunya tidak dinyalakan?”

Keduanya saling melirik satu sama lain, konyol... mereka lupa. Semakin putus asa saat Mr.Goo  justru tersenyum malu-malu.

 Mrs.Goo :   ”Ah, arasso... Omma hanya ingin mengucapkan selamat malam.”

Mrs.Goo menutup pintunya kembali, sempat-sempatnya ia mengedipkan mata pada jandi dan junpyo. Sementara jandi tertunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya, junpyo justru tersenyum saat meliriknya.

Suasana semakin kaku ketika mereka hanya tinggal berduaan, suhu yang hangat mendadak meningkat, menggerahkan. Jandi sampai gugup ketika lampu kamarnya tiba-tiba menyala, junpyo menahan senyumnya.

Junpyo :   ”Ehem... Aku mau mandi, duduklah....”

Jandi :      ”Mwo?”

Jandi terbelalak saat junpyo tanpa segan langsung membuka kemejanya, memamerkan dada juga perut ’kotak-kotak’ yang menggiurkan itu. Bahkan sulit menelan ludah saat sesekali meliriknya, berpura-pura tak tertarik, padahal jantungnya yang berdegup kencang menjelaskan betapa rindunya berada dalam dekapan tubuh junpyo.

Jandi menghela nafas kuat setelah memastikan junpyo sudah berada di bathroom, tubuhnya semakin terasa gerah. Jandi mengipas-ngipas wajahnya dengan kedua tangan, terlihat titik-titik keringat di dahinya. Tak sengaja ia menoleh pada deretan closet pakaian junpyo, ragu-ragu jandi mendekati salah satu lemari disana. Sejenak ia termangu di hadapan lemari itu, seingatnya tak ada lagi yang tersisa. Semua pakaiannya disini sudah dibawa semua olehnya saat ia akan pergi ke Boston, saat itu junpyo berada di New York. Ragu-ragu ia membuka lemarinya, benar, kosong. Hoooohh... jandi menghela nafas, tapi tiba-tiba suara junpyo mengagetkannya.

”Apa kau lupa, kau sudah mengosongkannya... ”

Sontak jandi berbalik sakin kagetnya, semakin bingung saat disambut oleh sebuah kemeja putih yang disodorkan junpyo.

Junpyo :   ”Pakai ini.”

Jandi :      ”Mwo?”

Jandi menghela nafas kesal. Pertama, karena junpyo tak mengeluarkan suara sedikitpun dan hampir membuat jantungnya copot. Kedua, apa itu? Hanya sebuah kemeja? Jandi memicingkan matanya -memandang sinis pada kemeja itu, juga pada junpyo.

Junpyo :   ”Waeyo?”

Jandi :      ”Tidak perlu, sebentar lagi omma dan appa pasti sudah tidur, aku akan pulang. Besok, katakan saja aku buru-buru ke kantor.”

Jandi dengan acuh melewati junpyo begitu saja, mulanya junpyo masih diam. Tapi seolah ia tak dapat menahan perasaannya lagi, tiba-tiba junpyo menangkap lengan jandi untuk menghentikan gadis itu.

Junpyo :   ”Kenapa kau begitu dingin? Haruskah kau bersikap seperti ini terus?” dengan nada putus asa. ”Sampai kapan Geum jandi? Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini pada ku?” kali ini junpyo berusaha menekan suaranya untuk tidak berteriak.

Jandi :      ”Hentikan... Orangtuamu akan mengira kita bertengkar?” justru mengalihkan pembicaraan.

Junpyo :   ”Apa kau benar-benar tidak tahu? Kau tidak tahu kenapa aku mau berpura-pura seperti ini? Apa kau benar-benar tidak tahu siapa yang paling terluka dengan kebohongan ini?”

Jandi :      ”Aku tidak ingin membicarakannya...” tukasnya cepat.

Junpyo :   ”KAU TAHU SEPERTI APA PERASAANKU..... TAPI KAU SENGAJA MENYAKITIKU? SEJAK KAPAN KAU MENJADI BEGITU EGOIS?”

Kali ini junpyo tak mampu menahan gejolak emosinya lagi, tanpa sadar bahkan tubuh jandi terguncang oleh hentakan junpyo. Disaat yang sangat tak tepat, tiba-tiba perut jandi mengalami kontraksi, sontak ia memekik menahan sakit.

”Aahhhkk....”

Amarah junpyo langsung berubah menjadi ketakutan saat melihat jandi tersungkur ke lantai sambil memegangi perutnya.

Junpyo :   ”Jandi—yaa...  Apa yang terjadi? Kau sakit? Ada apa?”

Lelaki itu mendadak pucat, panik. Ia ketakutan, pikirannya blank. Detik itu juga junpyo menyesal telah berteriak pada jandi, apa bayinya marah karena ia telah berteriak pada ibunya? pikirannya kacau.

Junpyo :   ”Bagaimana? Kita ke Dokter?”

Perlahan rasa sakitnya mulai hilang, jandi mulai tenang. Junpyo mengusap keringat yang mengucur di dahi jandi dengan penuh perhatian, tannpa sadar juga memegangi perut jandi yang membuat gadis itu terkelu menatapnya. Raut wajah junpyo yang penuh kecemasan membuat jandi luluh, mengurungkan niatnya untuk menyingkirkan tangan junpyo. Menatap wajah junpyo yang teramat dekat di hadapannya, hatinya berdesir, terlihat jelas ketulusan dari sorot mata lelaki itu.

Seketika jandi memikirkan kata-kata Mr.Geum yang meminta jandi untuk kembali pada junpyo. Saat itu appanya bertanya, apakah jandi masih mencintai junpyo atau telah melupakannya... Mr.geum bilang... demi menghapus rasa bersalah ommanya, ia meminta jandi untuk kembali pada junpyo.

Hingga saat jihoo memintanya untuk memberikan junpyo kesempatan, juga karena junpyo dan jaekyung ta bisa disatukan lagi...

Junpyo :   ”Gwenchanayo?”
 
Kata-kata junpyo membuyarkan lamunan jandi, kedua pasang bola mata mereka bertemu. Jandi seolah mencari jawaban keraguannya disana.

Jandi :      ”Gwenchana.” ucapnya pelan tanpa melepas pandangannya dari junpyo.

Junpyo :   ”Kalau kau mau pulang, aku akan mengantar mu.”

Terlihat kekecewaan dari sorot mata junpyo tanpa tahu jandi yang bahkan sudah melupakan keinginannya untuk pulang. Jandi juga terharu, apa sekarang junpyo sedang mengalah?

’Bodoh... kau mengorbankan hatimu demi aku yang selalu menyakitimu...’ gumam jandi dalam hati.

Jandi hanya terdiam, ia tertunduk setelah menyadari matanya kini berkaca-kaca. Junpyo perlahan membantunya berdiri. Saat lelaki itu akan pergi untuk memakai pakaiannya, tiba-tiba jandi memanggilnya.

Jandi :      ”Junpyo-yaa...”

Junpyo kembali menoleh dengan raut putus asa, jandi mendekatinya dan meletakkan sesuatu di tangan junpyo.

Junpyo :   ”Apa ini?” menatap benda aneh di tangannya.

Jandi :      ”Itu jimat. Mungkin demi bayi kita.” ucapnya sambil tersenyum.

Junpyo masih memandang benda itu, tapi sejurus kemudian ia mmembalas senyum jandi. Malam itu, junpyo benar-benar mengantar jandi kembali ke rumah orang tuanya.


   To be continued.................
==============================
« Last Edit: February 13, 2012, 07:16:00 pm by Be my self »

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
Re: I CAN’T CALM MY HEART ″Ending Part 1″
« Reply #377 on: February 06, 2012, 10:39:28 am »
All.... Gomawoooo udah baca..... and komennya ntar pasti aku reply...... Tunggu Part 3 nya yaaaaaaaaaa - FINISH [arms] [arms] [arms]

Offline windayesg

  • Newbie
  • *
  • Posts: 42
  • cutie~
    • View Profile
Re: I CAN’T CALM MY HEART ″Ending Part 1″
« Reply #378 on: February 06, 2012, 11:29:43 am »
wih panjang manteeppp [clap] [clap]

feel nya dapet bgt kak,
aku mewek ampe meler dah.. lol [cry] ngebayangin jadi hyesun ceritany [hmpfh]
 
eh,, gumawo kak ncudd
ane puasss [lovestruck] [hmff]

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Re: I CAN’T CALM MY HEART ″Ending Part 1″
« Reply #379 on: February 06, 2012, 06:17:43 pm »
orang tua Jandi sudah tidak mempermasalahkan persoalan surat perceraian dulu terutama ibunya  [goodgrief] tapi.. jandi sudah terlanjur memutuskan untuk berpisah dengan Junpyo dan dia tidak bisa mencabut kata" padahal jauh di lubuk hatinya dia sangat ingin kebersamaan seperti dulu lagi  [hug] [kiss] , jandi mencari simpati junpyo dengan berbagai hal  [hmpfh] .

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Re: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″
« Reply #380 on: February 06, 2012, 08:27:23 pm »
ncuddddddd ngebut banget dikau lol but i like it..... hiksssss cedih ff ini udah end ya,, bikin lagi naaaaaaaaaaaaaaaa

younee

  • Guest
Re: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″
« Reply #381 on: February 06, 2012, 11:29:38 pm »
Yeeeeyy salah satu ff favoritku diupdate juga akhirnya. gomawo kak..
Aku kira Jandi ga akan pulang. mudah2an mereka cepet akur yah..

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″
« Reply #382 on: February 06, 2012, 11:54:59 pm »
Cud naaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa thanx lagi udah langsung up date dan wew ampe ni mata sepet abis kehalang air mata #lebay# kenapa makin sedih [head break] [head break] [hammer] [hammer] [guns] Jan di juga keras kepala bangetttttt , kasian juga ama Jun pyo nich [cry] kirain bakalan terjadi sesuatu di kamar [hmpfh] kagak taunya malah nganterin jandi pulang ke rumah orang tuanya [hmpfh]

ayo lanjut lagi [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [hmpfh]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline chizumi

  • Junior
  • **
  • Posts: 132
    • View Profile
Re: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″
« Reply #383 on: February 07, 2012, 02:00:50 am »
just one word >> AWESOME  Emoticons0423 [AddEmoticons04225]

keren banget cud na... thanx banget udah di update dgn long... long... long chap...
memuaskannnn...  [clap]  [clap]  [clap]
kirain sampe part 2 udah tamat, ternyata masih ada part 3-nya ya... asekkk...  [wave] [AddEmoticons04262]

chapter ini bikin gregetan sama jandi tapi tetep suka... karna pada dasarnya jandi begitu, sebenernya nyari perhatian jun pyo juga ya
jandi tuh bener2 keras kepala juga...

setuju sama shanty, kirain bakal terjadi sesuatu yg diinginkan dikamar..
ternyata malah dianter pulang juga to...

teruss... terusss... kapan part 3-nya ya...
malam ini kah??  [AddEmoticons04258]

« Last Edit: February 07, 2012, 02:06:56 am by chizumi »

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
Re: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″
« Reply #384 on: February 07, 2012, 03:55:38 am »
gumawo onn. part 3nya kpn nih? ntr malem kaaaaan ;;) [hmpfh]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
Re: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″
« Reply #385 on: February 07, 2012, 06:43:02 am »
Chapter Ending
PART 3



Malam dimana pesta peresmian proyek Resort Busan diselenggarakan, pesta mewah ini dihadiri oleh tamu-tamu kelas atas, pejabat, pengusaha, juga banyak wartawan. Di salah satu sudut ruang jamuan itu terlihat Mr.Geum yang duduk di kursi roda didampingi istrinya -sedang dikrumuni beberapa teman juga kerabatnya, mereka sedang asik mengobrol yang mungkin menanyakan kondisi kesehatan Mr.Geum karena baru kali ini pengusaha besar itu kembali menunjukkan dirinya ke publik setelah sekian lama jatuh sakit. Suasana menjadi terasa hangat oleh kehadirannya, rekan-rekan bisnisnya penuh semangat memberikan dukungan agar lelaki paruh baya ini segera pulih kembali.

Di sisi sudut yang lain, terlihat banyak sekali wartawan berkumpul. Beberapa di antaranya sedang mewawancarai pengusaha-pengusaha terkenal yang berperan penting dalam kemajuan perekonomian Korea. Tapi ada seorang yang hilang disini, pengusaha muda berbakat Goo Jun Pyo –belum juga tampak di antara para tamu yang hadir. Sebagai pengusaha yang sangat populer, tentu saja junpyo menjadi target para pemmburu berita di tempat ini. Mengingat Shinwa juga satu-satunya pemilik saham dari proyek ini, ditambah lagi banyak sekali teka-teki yang menyangkut kehidupan pribadinya -menimbulkan rasa penasaran publik.

Ruang jamuan yang di kelilingi dinding kaca itu terlihat super mewah, orang-orang di dalamnya saling berjabat, berbisik, juga tertawa. Ntah apa yang mereka bicarakan, satu sama lain terlihat akrab. Di sisi lain, terdapat dua orang reporter yang sibuk membidik kamera mereka dari luar ruang jamuan itu, namun tak sekalipun terdengar suara jepretan. Keduanya berusaha keras mencapai posisi terbaik untuk mendapatkan view sempurna, tapi sebenarnya apa yang mereka cari?  Keduanya terlihat frustasi karena mereka tidak melihat sasaran mereka dari tadi.

Reporter 1 : ”Kenapa tidak ada? Apa dia tidak datang? Mana mungkin...”

Grasak-grusuk putus asa, sampai terduduk di lantai.

Reporter 2 :   ”Sebentar lagi acara dimulai, aku rasa sebentar lagi dia datang.”

Sekian lama berkeluh kesah, sepertinya Tuhan mendengar keputus-asaan mereka. Keduanya langsung bangkit dengan tampang antusias, membuka mata lebar-lebar saat rombongan keluarga Goo memasuki ruangan dengan kerumunan para reporter. Kedua reporter itu sendiri tidak tertarik ikut bergabung dengan rekan-rekannya, mereka justru membidik sasaran dari tempat yang jauh. Tapi..... tunggu dulu, keduanya saling berpandangan bingung..... ’Dimana Goo Jun Pyo?’

Reporter 1 :   ”Sudah ku bilang dia tidak datang!” katanya sok tau, tanpa melepas pandangannya dari kerumunan orang disana, semakin frustasi. Bahkan Mr.Goo beserta isrtrinya sudah melewati kerumunan wartawan -yang dilarang masuk ke ruang jamuan, jelas-jelas hanya terlihat berduaan. Tak ada junpyo.

Reporter 2 :   ”Mereka menyapa Tuan Geum... Lihat itu...” jarinya menunjuk ke arah Mr.Geum yang sedang mengobrol dengan Mr.Goo.

Reporter 1 :   ”Sepertinya hubungan mereka baik-baik saja.. Tapi kenapa putri Geum juga tidak datang?”

Reporter 2 :   ”Haah.... Sia-sia aku berada di sini.”

Tepat saat salah satu dari mereka nyaris menyerah, sakin putus asanya. Tiba-tiba yang lainnya justru membuka mata lebar-lebar, rautnya kembali antusias saat ia mendapati sosok pria tampan berpostur tinggi -yang sangat mudah dikenali berjalan dari arah yang berlawanan dengan krumunan wartawan. Dia mendekati Mr.Goo juga Mr.Geum.

Reporter 1 :   ”Oh?? Itu.... itu.... Goo Jun Pyo!” ucapnya terbata-bata sambil menarik-narik rambut temannya yang juga langsung memelototi pria itu.

Reporter 2 :   ”Oh?? Benar! Dia... datang sendirian???”

Benar, Goo Jun pyo dengan penampilan terbaiknya terlihat sedang menyapa orang tua juga mertuanya.

Junpyo :   ”Maaf, aku terlambat...” membungkuk.

Banyak pasang mata tertuju padanya, Mrs.Goo mendekati junpyo sambil berbisik padanya.

Mrs.Goo :   ”Dimana istrimu?”

Kali ini junpyo tak bisa menjawab, tapi untunglah saat itu juga ada salah satu rekan bisnis mereka yang menyapa kedua orangtuanya –hingga perhatian Mrs.Geum teralihkan. Junpyo juga terlihat mencari seseorang, kemudian ia mendekati Mrs,Geum untuk menanyakan keberadaan jandi.

Junpyo :   ”Omma, dimana jandi?” bisiknya pelan.

Melihat ekspresi putus asa Mrs.Geum saja sudah bisa ditebak kalau gadis itu benar-benar tidak datang.

Mrs. Geum :   ”Ntahlah, dia bilang akan ke Boston. Tak disangka dia benar-benar keras kepala.”

Junpyo :   ”Mwo? Boston?”

Raut wajah junpyo berubah penuh kekecewaan, hanya bisa menghela nafas dengan gurat-gurat putus asa di dahinya. Mrs.Geum juga merasa tidak enak melihat junpyo begitu kecewa, lelaki itu membungkuk padanya untuk kemudian pergi dari sana.

Dengan raut kesal ia berjalan menahan sesak di dada, melangkah lebar juga cepat -menyusuri sudut demi sudut resort mewah itu, ntah kemana. Bkepalanya tak berhenti bertanya kenapa gadis itu begitu keras kepala? Tidak kah dia merindukannya? Sementara dirinya begitu berharap melihatnya saat ini.

Saat itu junpyo tidak menyadari kalau ada dua orang wartawan yang dari tadi mengikutinya, keduanya terpongoh-pongoh mengikuti jejak langkah junpyo yang sangat cepat. Sampai mereka kehilangan jejak lelaki itu saat di hadapkan pada banyak ruangan, selama beberapa menit mereka mengitari di sekitar tempat itu, tapi tetap tidak ketemu.

Sementara itu, ternyata junpyo baru saja keluar dari toilet. Tepat saat itu juga, junpyo melihat sesosok gadis cantik yang juga sedang keluar dari toilet wanita di hadapannya –dengan mengendap-endap. Junpyo seketika terperangah, matanya berkejab berkali-kali. Begitu juga dengan gadis itu tak kala mata bertemu. Jandi dengan gaun merahnya masih terlihat paling cantik dan penuh pesona meski perutnya terlihat membesar, tak tahukah dia betapa saat ini hati junpyo bagai meletup-letup. Kekecewaannya barusan itu sirna begitu saja. Tanpa sadar senyum lelaki itu menyapa jandi dengan mata berkaca-kaca sakin senangnya –membuat jandi heran.

Jandi :      ”Waeyo?” tanyanya bingung.

Tiba-tiba keduanya mendengar suara berisik yang semakin mendekat ke arah mereka.

”Tadi aku melihatnya ke arah sini..”

”Kau yakin?”

”Iya, dia tadi ke arah sini...”

Junpyo dan jandi saling perpandangan penuh tanya, mulai merasa kalau mereka lah yang dicari pemilik suara itu. Junpyo menoleh ke arah suara berasal, matanya membulat lebar ketika menyadari ada reporter yang mengikutinya. Tanpa aba-aba junpyo langsung menarik tubuh jandi masuk kembali ke dalam toilet wanita, gadis itu menatapnya bingung saat junpyo buru-buru menutup pintunya.

Jandi :      ”Apa yang kau lakukan? Ini toilet wanita.. kau...”

Belum selesai jandi mengomel, junpyo buru-buru membungkam mulutnya, semakin membuat gadis itu terbelalak.

Junpyo :   ”Sssttt.... Jangan berisik.”

Jandi semakin kesal, tapi ia juga tak melawan. Hanya memelototi junpyo pertanda meminta lelaki itu untuk menyingkirkan tangan yang membungkam mulutnya.

Jandi :      ”Cepat keluar!” dengan gigi rapat, menekan suaranya.

Junpyo :   ”Kau lupa, aku pernah melakukan ini.” menahan senyumnya, mengingat saat pertama kali mereka bertemu. Di toilet juga X_x

Jandi hanya menghela nafas tak percaya, bisa-bsanya dia tersenyum disaat seperti ini.

Jandi :      ”Kau senang sekali ya masuk ke toilet wanita?” sindirnya kesal, tapi junpyo justru semakin memamerkan lesung pipinya.

Junpyo :   ”Aku pikir kau tidak datang.” tak mampu menyembunyika rasa senang melihat jandi ada di hadapannya.

Melihat junpyo begitu senang akan kehadirannya, jandi pun jadi gugup.

Jandi :      ”Aku juga akan pergi...” ucapnya pelan, bukan hanya takut terdengar keluar, tapi juga mendadak merasa ragu mematahkan senyum junpyo.

Junpyo :   ” Mwo? Lalu kenapa kau disini?” tanyanya dengan pandangan menyidik..

Jandi :      ”Itu karena.....”

Melihat jandi tak bisa menjawabnya, mungkin saja dugaan junpyo benar.

Junpyo :   ”Kau menghindari wartawan?” tanyannya dengan pandangan tak percaya.

Jandi tak menjawab mengisyaratkan dugaan junpyo benar, ternyata dari tadi ia tidak masuk ke ruang jamuan hanya karena ingin menghindari wartawan? Kali ini junpyo agaknya merasa serba salah, ia tahu mungkin jandi tidak tahu harus berkata apa jika dicecar pertanyaan seputar hubungan mereka. Tapi di sisi lain, kenapa gadis ini begitu keras kepala? Menanggung semuanya sendirian, hingga serumit ini.

Junpyo :   ”Kenapa tidak keluar saja dan mengatakan kita baik-baik saja?” Nadanya terdengar sinis, seolah meneror jandi untuk menyerah. Dari awal jandi ragu untuk mengatakannya karena junpyo pasti akan bereaksi seperti ini.

Dahi junpyo terhenyit melambangkan kekecewaan yang tak terungkap, tak juga melepas tatapannya dari jandi, menandakan ia menunggu jawaban yang justru tak ingin dijawab oleh gadis itu. Sementara jandi menjadi pendosa yang ketakutan melirik sorot mata yang menusuk hingga kerelung hatinya itu.

Junpyo :   ”Sudah cukup jandi-yaa.. Kenapa kau begitu keras kepala? Aku sudah tahu semuanya…”

Kata-kata junpyo tadi membuat jandi bingung, menatapnya penuh tanya. Dia tidak mengerti kenapa junpyo begitu yakin dan terus memojokkannya. Alih-alih menghiraukan perkataan junpyo, jandi justru mengalihkan perhatian.

Jandi :      ”OH? Kelihatannya mereka sudah pergi... Ayo keluar!” Ucapnya antusias, buru-buru akan kabur. Lagi-lagi ia mencoba menghindar tanpa tahu apa yang akan junpyo lakukan selanjutnya.

Tepat saat jandi akan membuka pintu itu, junpyo dengan cepat menarik tangannya -mengejutkan jandi dengan sebuah melumatan di bibirnya. Sontak gadis itu terbelalak dan memberontak -mendorong-dorong tubuh junpyo. Alih-alih terlepas dari sergapan junpyo, jandi bahkan tak bisa bergerak karena junpyo dengan kuat mengunci wajahnya. Ia semakin agresif melancarkan lumatan-lumatan yang ditolak mentah-mentah oleh jandi, lidahnya terus mendorong masuk rongga mulut jandi yang berusaha ditutup rapat. Bukannya berhenti, kali ini junpyo justru menyudutkan tubuh jandi, hingga tersandar ke dinding.

Seketika energi gadis itu seakan habis, kelelahan mendorong tubuh junpyo. Mendadak tak bertenaga melawan hingga ia tersengal, ciuman itupun terlepas. Junpyo masih dalam emosinya saat melihat mata jandi berurai titik-titik air, gadis itu ketakutan oleh sikap kasar junpyo.

Junpyo :   ”Apa aku tidak boleh menyentuh istriku?” ucapnya serak, menatap tajam pada jandi, penuh kekecewaan.

Jandi  :   ”Kau sudah gila...” pandangannya kabur oleh derai airmata.

Junpyo :   ”Benar, berhentilah membuatku gila.”

Jandi :      ”Goo Jun Pyo!” ucapnya putus asa, lelah.

Tapi junpyo tak bisa lagi menahan hatinya, ia juga sudah lelah menunggu.

Junpyo :   ”Kau bilang akan segera melupakanku? Aku sudah memberimu waktu jandi-yaa.. Tapi sampai saat ini, kau masih mencintaiku! Setiap hari aku menunggumu untuk menyerah!”

Junpyo menuduh jandi dengan penuh keyakinan, gadis semakin terkelu. Bagaimana jandi bisa menghindar lagi, sorot matanya sudah menjelaskan semuanya. Benar, itu cinta.

Jandi :      ”Minggirlah...” pintanya dengan raut memohon, mulai putus asa.

Junpyo :   ”Surat cerai itu... Kau tidak pernah menandatanganinya? Kau tidak ingin berpisah denganku?” sindirnya dengan sikap penuh percaya diri, sambil tersenyum, memojokkan jandi.

Kali ini jandi terperanjat kelu, sikap kerasnya seakan luluh lantah. Bagai melihat seorang munafik sedang bercermin di bola mata yang kelam itu, sambil bertanya-tanya bagaimana junpyo bisa tahu? Tatapan yang memaksanya untuk menyerah itu semakin menyudutkan. Bibirnya yang sudah terbuka bahkan tak bisa menyanggah apapun.

Junpyo :   ”Jangan memungkiri lagi jandi-yaa... Karena aku, tidak akan melepasmu meski sampai di kehidupan berikutnya.”

Bukan karena junpyo mengancamnya dengan sesuatu yang begitu indah, bukan juga karena haru yang tiba-tiba membaluti hatinya, hanya saja bulir airmata itu tak tertahankan lagi, mengalir seiring kebekuan hati yang mencair. Lelaki ini tahu betul perasaan jandi saat ini, seakan menjawab gumaman takdir yang meminta mereka untuk bersatu kembali.... Ia pun merangkul jandi, memeluk erat tubuh mungil yang bergetar itu, membanamkan wajah cantiknya dalam dada hangat junpyo.

Junpyo :   ”Aku merindukanmu, sangat merindukanmu....” bisiknya lembut di telinga jandi.

Jandi semakin terisak, masih belum bisa berkata-kata, karena tak pernah terbayang olehnya untuk menyerah. Tak mengira ia bisa merasakan lagi detak jantung junpyo yang berdegup di telinganya, hingga merasakan hela nafas yang mendera penuh gelora, membuatnya merinding.
 
Jandi merasakan junpyo merenggangakan tubuh mereka, kedua pasang bola mata mereka bertaut. Wajah tampan itu sudah berada di hadapannya, menyapa untuk kemudian semakin mendekatinya. Jandi bahkan tak sempat berkedip saat bibir penuh itu kembali menyerangnya dengan sebuah lumatan yang dalam, sampai wajahnya terdorong... disadari tangan junpyo sudah berada di tekuknya, meminta jandi membalas permainan bibirnya.


FLASHBACK



Hari itu, di tengah hari yang terik, seorang wanita paruh baya datang menemui junpyo di kantornya. Junpyo agaknya terkejut dengan kehadiran Mrs.Geum yang tidak biasanya. Ia tak dapat menebak apa yang menjadi tujuan omma jandi ini, seingatnya tak ada lagi yang tersisa antara dirinya dan jandi setelah perpisahan di tengah hujan lebat malam itu, hanya beberapa hari berselang sejak kejadian itu.

Yang sebenarnya adalah.... saat  ini junpyo dalam keadaan sangat kacau. Dia yang yakin mampu merelakan jandi yang sudah mengingkari janjinya, tapi justru keadaannya semakin kacau. Di hadapan orang lain ia seolah baik-baik saja, tapi saat ia berada dalam kesendirian, junpyo kembali minum-minum untuk menghilangkan jandi dari pikirannya. Tapi kedatangan Mrs.Geum hari ini kembali menyadarkannya bahwa ia tak bisa lari dari rasa cintanya pada jandi. Seacuh apapun ia bersikap di hadapan gadis itu, segala sesuatu yang berhubungan dengannya selalu menghampiri tanpa diminta, tak pernah luput dari ketertarikan junpyo.

Junpyo menatap heran pada Mrs.Geum yang benar-benar berdiri di hadapannya. Meski begitu, ia langsung menyambut ’mantan’ mertuanya ini. Setelah membungkuk memberi salam- junpyo mempersilahkan Mrs.Geum duduk. Bukan karena enggan duduk di sofa yang berantakan, tapi Mrs.Geum justru memilih berdiri berhadapan dengan dinding kaca gedung pencakar langit ini, menatap ke depan pada bangunan-bangunan yang terlihat kecil dari sana. Masih dalam diam, terlihat serius. Junpyo pun mendekatinya, berdiri di sisi Mrs.geum.

Junpyo :   ”Apa yang membawa omma datang kesini?” Tanyanya ragu.

Mrs.Geum :   ”Karena akhir-akhir ini jandi sangat sulit untuk diajak bicara, terpaksa aku mencarimu...” Jawabnya santai, seolah tak pernah terjadi perselisihan antara mereka.

Junpyo :   ”Apa jandi baik-baik saja?” rautnya berubah khawatir.

Mrs. Geum justru tersenyum, tanpa menoleh pada junpyo yang menatapnya penuh tanya dengan alis terhenyit

Mrs. Geum :   ”Jadi benar, hanya aku yang tidak tahu kalau putriku sedang mengandung.”

Junpyo mulai ragu, mengira Mrs.Geum datang untuk membahas rasa kecewanya tentang hal ini.

Junpyo :   ”Aku tidak berfikir untuk menyembunyikannya...”

Mrs. Geum :   ”Sejak pulang ke Korea, aku yang melarangnya bertemu denganmu. Kau mungkin membenciku.”

Junpyo semakin bingung, tak mengerti arah pembicaraan Mrs.Geum.

Junpyo :   ”Anyio omma...”

Belum sempat junpyo menyelesaikan kata-katanya, Mrs.Geum langsung menghela.

Mrs.Geum :   ”Karena aku tahu, akan terjadi hal seperti ini.”

Junpyo :   ”Jika karena hal itu, Omma tidak perlu mencemaskannya, karena jandi akan segera melupakanku.” ucapnya dengan nada yang menekan, sulit. Seolah ia memastikan akan menghadapi kenyataan itu.

Mrs.Geum :   ”Kau percaya? Jadi karena itu kau tidak bersikeras menemuinya lagi?”

Di luar dugaan junpyo, ia mengira mungkin Mrs.Geum akan berterimakasih atau merasa lega, tapi wanita paruh baya itu justru terlihat kecewa. Apa dia salah bicara?

Junpyo :   ”Mwo?”

Mrs.Geum menghela nafas berat sebelum ia melanjutkan kata-katanya...

Mrs. Geum :   ”Dalam hal ini, jandi bukanlah si penurut seperti yang kau bayangkan. Jika saja dia menuruti kata-kataku, mungkin kaliian benar-benar sudah bercerai.”

Junpyo sontak menoleh padanya, tepat saat kalimat terakhir itu diucapkan. Ia terperanjat, matanya tak berkedip sedikitpun. Mendadak teramat gugup, menuntut penjelasan.

Mrs. Geum melanjutkan.... ”Demi menghindari perceraian... dia pergi ke Boston karena aku memaksanya untuk menandatangani surat itu. Jadi, apa sekarang kau masih berfikir dia akan menuruti kata-kata ku?”

Junpyo terperangah, ia tak percaya dengan apa yang baru saja ditangkap oleh telinganya... Mata tajam itu menatap Mrs.Geum dengan raut bingung, tidak fokus. Pikirannya melayang, jantungnya berdegup kencang. Apa ini berarti, Mereka tak pernah benar-benar bercerai? Lalu malam itu, bukan perasaan jandi yang sesungguhnya? Jika bukan karena orantuanya, lalu demi apa? Untuk apa jandi bersikeras menyakitinya?

Pikiran junpyo langsung tertuju pada jaekyung saat itu.. ketika mendapatinya bersama jandi di pantai. Hohhh.... junpyo menghela nafas berat, matanya terkejap berkali-kali. Apa jandi benar-benar berfikir untuk melepasnya hanya demi Han Jaekyung?

’Tega sekali kau...’ pikirnya.

Tapi suara Mrs.Geum membuyarkan lamunan junpyo.

Mrs. Geum :   ”Aku sduah mengatakan apa yang seharusnya aku katakan sejak awal. Demi menghindari penyesalan pada cucu ku kelak... aku tidak akan menyakiti orangtuannya. Sekarang sisanya ku serahkan pada kalian.”

Sejak saat itu junpyo tak pernah lagi memaksa jandi, membiarkan gadis itu lelah hingga ia menyerah dengan perasaannya. Tapi dasar keras kepala, tak disangka sampai sebulan pun jandi tetap tidak menyerah. Menunggu selama ini justru membuatnya gila, setengah mati menahan rindu.


End Of Flashback




Kembali pada suasana yang semakin panas di toilet.......

Kedua sejoli ini masih berkutat dengan ciuman mereka yang semakin memanas, seakan semua itu adalah candu yang membuat mereka lupa diri. Saling melumat, kepala memutar ke kanan dan kiri. Mengimbangi gairah yang tak berhenti sekejappun, seluruh tubuh berdesir nikmat menyatukan hasrat. Tak ada tenaga lain lagi untuk bertahan, tak ada yang tersisa selain kerinduan yang menggebu-gebu. Tangan junpyo masih mengunci wajah jandi seiring lidahnya yang semakin dalam bertaut, mengeluarkan desahan nikmat yang membuat tubuh merinding. Sampai jandi dengan berat hati melepaskan ciumannya, junpyo menatap wajah bening itu -seolah masih menuntut lebih. Keduanya masih mengatur nafas bersamaan dengan kembang kempisnya dada.

Jandi :      ”Junpyo-yaa...”

Sorot mata lelaki itu seakan ingin menelan jandi hidup-hidup, begitu bernafsu merangkul gadis ini dalam cintanya lagi. Tapi jandi menghentikannya saat junpyo mulai menciumanya lagi. Meletakkan tangannya di dada junpyo menatapnya penuh tanya, jandi terlihat risih –memandangi sekeliling mereka. Benar, ini toilet. Seakan berkata ’tolong hentikan sekarang juga, sebelum seseorang masuk dan mendapati kita dalam keadaan seperti ini.’ Ya, pakaian yang tadinya rapi kini berantakan, begitu juga rambut mereka yang lumayan acak-acakan.

Tak perlu berlama-lama, belum sempat jandi menjelaskannya, mereka lebih dulu mendengar suara berisik dari luar. Jandi terbelalak saat mendengar suara tawa wanita yang semakin mendekat ke arah mereka, keduanya mendadak panik.

Kreeekkk... Pintu toilet itu terbuka, dua orang wanita masuk ke dalamnya sambil mengoceh, menandakan kalau mereka tak melihat siapapun disana. Lalu dimana junpyo dan jandi?

Kedua wanita itu terus saja mengoceh sambil mencuci tangan dan membenarkan gaun sexynya...

”Benar, aku tadi melihatnya.... hanya sebentar..”

Dan ternyata..... junpyo dan jandi sedang berada di salah satu kamar toilet, jandi membekap mulut junpyo sekuat tenaga. Nyali lelaki itu langsung menciut saat jandi memelototinya ketika ia berusaha ’mengintip’ kedua wanita itu. Tanpa sengaja mereka mendengar percakapan kedua orang itu.

”Dia datang sendirian....”

”Jadi benar, presdir Goo sudah bercerai?”

Mendengar namanya disebut, junpyo pun terhenyit. Begitu juga dengan jandi yang langsung memasang ’kuping’ baik-baik. Keduanay saling berpandangan, bertanya-tanya apa yang orang bicarakan tentang mereka. Apalagi jandi, mendadak wajahnya memerah menahan cemburu. Jelas-jelas dari nadanya..... gadis-gadis itu senang kalau mereka bercerai, ia kesal sekali.

”Yang ku dengar juga begitu... Pria itu berkencan dengan banyak gadis, mana mungkin bertahan dalam pernikahan.”

Hey, jangan asal bicara. Seperti itulah kira-kira ekspresi junpyo saat matanya membulat lebar, apalagi mendapati jandi menatapnya semakin kesal. Junpyo komat-kamit kesal, kata-kata yang tak bertanggung jawab itu seolah taruhan hidup matinya pernikahan mereka saat ini.

”Benar...”

”Tapi, dia sangat sempurna... Kau lihat tadi, dia tampan sekali.”

Kali ini junpyo bersikap tenang pertanda ia setuju, tersungging senyum nakal di bibirnya seakan memaksa jandi untuk mengakui kalau dia adalah gadis paling beruntung karena memiliki hati seorang Goo Jun Pyo yang dipuja banyak wanita.
Sayangnya tak sesuai harapan, jandi malah semakin kesal, gerakannya yang tiba-tiba akan mendorong junpyo justru malah menimbulkan keributan.

Brakk......

Suara benturan benda di tembok membuat kedua wanita tadi terperanjat, mereka menoleh pada kamar dimana jandi dan junpyo berada. Keduanya mendekati, dengan wajah bingung. Mereka baru menyadari ada orang lain di tempat itu.

”Nona... Apa kau baik-baik saja?” memastikan suara tadi bukan sesuatu yang berbahaya.

Jandi yang panik buru-buru menyahut... ”Ne... Tidak apa-apa..”

”Baiklah...”

”Ayo kita pergi...” ajak salah seorangnya.

Selama beberapa lama jandi memastikan kalau tak ada suara lagi, perlahan ia keluar dari tempat itu, diikuti junpyo yang terlihat acuh. Tampangnya berubah sok polos saat jandi menunjukkan ekspresi marah padanya, seolah ia juga tidak mengerti apa yang gadis-gadis itu bicarakan. Dengan kesal jandi meninggalkannya, segera keluar dari sana. Diikuti junpyo yang dari tadi hanya senyam-senyum -mengingat jandi mendadak semanis ini.

Junpyo mempercepat langkahnya, tanpa aba-aba ia langsung menyambar tangan jandi dan menggenggamnya. Jandi menengadah -menoleh pada junpyo disisinya, lelaki itu semakin menggenggam erat tangannya, berjalan pasti, dengan senyum terbaiknya. Membuat jandi terkelu dan hanya mengikuti langkahnya.

Ia tak perduli saat mereka berjalan menuju keluar hotel dimana ada banyak kerumunan wartawan disana. Di sekitar lobi, terdapat dua orang reporter yang tadi mengikuti junpyo. Keduanya berusaha mempertajam penglihatan mereka, berkedip berkali-kali. Mereka saling berpandangan satu sama lain, memastikan kalau yang mereka lihat itu benar.

Reporter 1 : ”I...itu... itu.. Goo Jun Pyo?” Katanya terbata-bata pada temannya yang menjawab dengan anggukan cepat.

Serentak keduanya histeris ”HAMILLLL???”

Sementara langkah junpyo dan jandi terhenti oleh reporter yang menghadang mereka, security disana berusaha memberi mereka jalan. Semua mata tertuju pada keributan disana, sedangkan junpyo dengan tenang tetap menggenggam erat tangan jandi meski mereka diserbu dengan berbagai pertanyaan. Diluar dugaan jandi, ternyata junpyo memang sengaja meladeni reporter-reporter itu, ia menatap heran pada junpyo yang dengan tersenyum pasti sambil menjawab beberapa pertanyaan.

Junpyo :   ”Terimakasih atas perhatian kalian pada proyek ini..”

Salah satu reporter :   ”Presdir Goo, bagaimana pendapat anda tentang rumor  yang berkembang sekarang ini tentang perceraian itu?” langsung saja.

Jandi juga terlihat menunggu jawaban junpyo untuk hal ini, tapi junpyo tiba-tiba merangkulnya, membuatnya gugup.

Junpyo :   ”Semuanya baik-baik saja, kami sedang menanti kelahiran anak pertama kami.”

Jandi terpukau melihat  junpyo begitu penuh percaya diri dengan jawabannya, tanpa tahu kalau dia memang bermaksud meluruskan apa yang selama ini dipergunjingkan orang-orang, termaksuk gadis-gadis di toilet tadi -tentang hubungan mereka.

Sementara itu, kedua reporter tadi yang tidak ikut mengerumuni junpyo dan jandi, tampak kecewa. Seketika semangat mereka hilang mengingat apa yang selama ini sudah mereka kumpulkan tentang scandal perceraian Goo Jun Pyo ternyata sia-sia. Tidak perlu mengintai, jika saja tahu ternyata junpyo datang sendiri mematahkan rumor yang terkesan disembunnyikan selama ini. Karena sejak kabar perceraian itu muncul, tak ada yang bersedia menjelaskannya. Sampai berita simpang siur kemana-mana, publik menduga kalau Mr.Geum jatuh koma karena hal ini.

Akhirnya junpyo membawa jandi keluar dari kerumunan wartawan, kemudian mereka memasuki mobil yang sudah siap disana. Junpyo sendiri yang menyetir.

Jandi :      ”Kita mau kemana?”

Junpyo :   ”Mencari udara segar.” jawabnya sambil tersenyum, tanpa meminta persetujuan.




--------------------------------------------------




Stelah perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mobil junpyo berhenti di sebuah pantai yang bahkan tak terlihat indah karena terselubung gelap malam. Begitu turun dari mobil, jandi dan junpyo disambut oleh berisiknya debur ombak yang mendayu-dayu. Keduanya langsung diterpa angin pantai yang menggigilkan tubuh, mengayun-ayunkan rambut juga gaun hingga mata pun merah –berair.

Junpyo :   ”Kau kedinginan?”

Keduanya berdiri menghadap laut yang luar biasa kelam penuh misteri.

Jandi :      ”Ne, tapi udaranya sangat segar.” tersenyum sungkan.

Junpyo duduk di depan mobilnya dengan tangan terlipat di dada, awalnya lumayan sunyi, keduanya berdiam diri sebelum junpyo memecahkan kekakuan.

Junpyo :   ”Jandi-yaa.. ada yang ingin kau katakan?”

Jandi menatap junpyo lama sekali, bagaimana ia tahu... Ada banyak sekali yang ingin ia tanyakan, tapi begitu sulit mengungkapkannya. Apalagi jandi semakin ragu saat mendapati junpyo sepertinya sudah tahu apa yang mau ia tanyakan, tapi lelaki itu terlihat keberatan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.

Jandi :      ”Kenapa kau melindunginya? Itu saja, aku butuh alasanmu..” ucapnya pasrah.

Benar, junpyo tak terlihat gugup, ia sudah tahu jandi akan menanyakan hal ini.

Junpyo :   ”Jadi benar, kau sudah tahu... Jaekyung yang mengatakannya padamu? Karena itu, kau ingin kita berpisah meskipun kau tahu aku tidak ingin kita bercerai?”

Jandi mengerti kalau junpyo kecewa, tapi dalam hal ini seharusnya bukan dirinya  yang terpojok.

Jandi :      ”Kau tahu pasti..... berapa lama aku bisa menerima kenyataan saat aku jatuh cinta padamu...”

Junpyo :   ”Jadi kau menyesal?”

Jandi :      ”Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau melindunginya? Setelahnya akan ku putuskan aku menyesal atau tidak..”

Junpyo :   ”Jandi-yaa...”

Jandi :      ”Aku harus tahu, demi apa? Kau membiarkan pernikahan kita berada di ujung jurang, menjebakku dalam kesalahpahaman... Jika bukan karena kau masih menyimpan Han jaekyung dalam hatimu, aku tak bisa menemukan alasan lain.”

Junpyo terdiam sesaat, wajahnya mendadak pucat. Ia tertunduk dalam-dalam, seakan begitu sulit baginya mengatakan alasan itu pada jandi. Kedua tangan yang terselip disaku celananya terlihat gemetaran, jandi menatapnya heran, kenapa tiba-tiba junpyo jadi begitu gugup.

Jandi :      ”Junpyo-yaa? Kau baik-baik saja?” tanyanya ragu, ingin menyentuhnya. Nyaris jandi mengurungkan niatnya untuk memaksa junpyo bicara, melihat lelaki itu begitu terguncang.

Junpyo :   ”Belasan tahun yang lalu.....”

Jandi :      ”Mwo?”

Suara serak junpyo yang bergetar membuat jandi terhenyak, sepatah kata itu seakan tak pernah ingin diucapkan oleh lelaki itu, tapi kali ini ia memaksakan diri untuk bicara.

Junpyo :   ”Orangtua-ku memaksa ku untuk ikut dengan mereka tinggal di New York. Seorang bocah delapan tahun yang tidak tahu apa artinya keluarga bersikeras untuk tidak pergi, karena aku mengira sudah pasti aku akan hidup sendirian disana. Karena orangtua-ku akan meninggalkanku setiap hari. Apalagi saat itu.....”

Kali ini junpyo terlihat ragu untuk meneruskan kata-katanya, sementara jandi terus menatap junpyo penuh tanya. Lelaki itu melanjutkan ceritanya....

”Saat itu.. aku juga tidak ingin meninggalkan Jaekyung.”

Serrrr.... jandi mulai merasa perih di dadanya, apa mungkin memang benar jaekyung adalah cinta pertama junpyo? Dan ia memisahkan mereka? Tunggu dulu, junpyo buru-buru melanjutkannya sebelum jandi berfikir terlalu jauh...

”Karena sejak berteman dengannya, aku baru tahu seperti apa yang namanya keluarga. Paman Han –supirnya saat itu- selalu mengajakku bermain bersama putri yang sangat dicintainya. Aku sampai kecanduan berada di antara kehangatan keluarga mereka.... Dan jika aku pergi, aku berfikir tidak akan merasakan perasaan ini lagi.”



FLASHBACK



Saat itu Incheon Airport dipenuhi orang-orang, ditambah suara berisik pesawat yang lalu lalang antara langit dan bumi. Seorang bocah kecil dengan wajah kesal hanya terdiam duduk di ruang tunggu bersama orangtuanya, mereka bersiap akan berangkat dengan jet pribadi. Bocah lelaki itu adalah Goo Jun Pyo kecil yang terlihat sangat murung, menoleh ke kanan dan kiri memperhatikan sekelilingnya. Hanya ada seorang supir ketika itu -yang menunggui mereka. Sementara serketaris Jung sedang menyiapkan segala sesuatunya. Orangtua junpyo juga masing-masing sibuk dengan ponsel mereka, berbicara ntah dengan siapa di telepon.

Mrs.Goo :   ”Pak Han, kau pulanglah... sebentar lagi kami akan berangkat.”

Pak Han yang adalah supir pribadi keluarga Goo membungkuk –mengiyakan perintah majikannya.

Supir Han :   ”Baik Nyonya... Saya permisi.”

Supir Han pun berlalu dari sana, sementara Mr.Goo juga istrinya masih sibuk berbicara serius di telpon. Mereka tidak menyadari keberadaan putera mereka yang sudah tak ada lagi di tempat duduknya.

---------------

Sementara itu, supir Han sedang dalam perjalanan kembali ke kediaman keluarga Goo. Selama perjalanan tak ada yang aneh yang ia rasakan. Sampai sekitar lima belas menit berjalan, ponselnya berdering. Ternyata dari Mr.Goo.

Supir Han :   ”Presdir? APA?? Tuan Muda hilang???”

Sontak mobilnya berhenti, tanpa ba bi bu ia langsung menoleh ke belakang. Ternyata benar, Goo Jun Pyo dengan santai duduk disana tanpa diketahuinya.

Supir Han :   ”Ne presdir, tuan muda sedang bersama saya.” jawabnya panik.

Junpyo :   ”AKU TIDAK MAU KE AMERIKA!!!!” teriaknya kuat agar appanya mendengar.

Supir Han :   ”Jadi, presdir sudah mau berangkat? Baiklah Presdir. Aku mengerti.”

Supir Han memandang pasrah pada bocah kecil itu, junpyo kecil bahkan terlihat acuh.

Junpyo :   ”Jadi Appa sudah pergi? Bagus sekali!” tertawa senang.

Supir Han :   ”Benar, presdir sudah berangkat. Tapi serketaris Jung tidak jadi pergi, dia akan menyusul ke Amerika bersama tuan muda.”

Junpyo :   ”APA? AKU TIDAK MAU!!!”

Ntah apa yang dipikirkan anak ini, sontak ia turun dari mobil dan berlari sekencang-kencangnya tanpa mendengar lagi supir Han histeris memanggilnya.

CIIIIIIIIIIIIITTT...... BRAAAKKKKK..............

Suara benturan keras mengagetkan siapa saja yang berada disana. Langkah junpyo terhenti seketika, ragu-ragu ia menoleh ke belakang. Matanya terbelalak ngeri saat melihat mobil mewah miliknya sudah hancur tak berbentuk, saat itu juga degup jantungnya seakan berhenti. Ia terpaku disana, sekitar jarak empat meter dari mobil yang bahkan sudah terseret jauh dari tempatnya semula. Saat itu dunia seakan tak bersuara, semua orang yang ada disana berlarian mendekati tempat kejadian. Semuanya seperti berteriak, berusaha mengeluarkan seseorang dari rongsokan mobil itu, bahkan tak ada yang menoleh padanya. Dengan matanya sendiri, junpyo kecil melihat darah berceceran dimana-mana, juga beberapa mobil polisi yang datang menghampiri. Selama beberapa menit, akhirnya mereka berhasil mengeluarkan tubuh seseorang yang penuh dengan darah, membuat lutut junpyo lemas. Dia adalah supir Han, nyawanya tak tertolong setelah sebuah mobil box lumayan besar tiba-tiba menghantam mobil mewah keluarga Goo yang terparkir di pinggir jalan.

Saat itu, junpyo juga melihat serketaris Jung yang baru tiba di TKP, seperti orang gila menoleh kesana kemari mencari seseorang. Meski samar-samar terdengar Serektaris Jung meneriakkan namanya, junpyo tetap terdiam tanpa mampu menyahut. Sampai lelaki paruh baya itu menemukan dirinya dalam keadaan ketakutan, kaki kecilnya gemetaran. Ia tak menangis, tapi juga hanya diam membisu. Serketaris Jung berlari ke arahnya, ia langsung memeluk junpyo sambil menangis.

Sereketaris Jung :   ”Tuan Muda... Kau baik-baik saja?”

Pak Jung juga gemetaran saat memastikan tubuh junpyo tak tergores sedikitpun. Ia mendapati junpyo terlihat sangat shock, tangannya sampai dingin.

Junpyo :   ”Serketaris Jung.... Paman Han terluka.” ucapnya polos.

Serketaris Jung kembali memeluknya, sambil menangis.


End of Flashback





Junpyo :   ”Saat itulah serketaris Jung kehilangan sahabatnya... tapi dia masih bersyukur karena aku selamat.”

Pipi junpyo sudah berurai airmata, ia tertunduk dengan tangan gemetar menopang pada mobil yang di dudukinya. Jandi sendiri pun terlihat shock, ia terkejut sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan.

”Mianhe jandi-yaa... dari awal, semuanya adalah kesalahanku.” ucapnya putus asa.

Jandi :      ”Jangan bicara lagi....”

Jandi mengerti betapa ia telah mengobark-abrik luka lama junpyo, lelaki ini berusaha mengubur semuanya dalam-dalam, tapi ia justru memaksanya menggali kembali cerita yang bahkan tak bisa dilupakan. Perlahan jandi mendekati junpyo, meraih tangan lelaki itu yang sampai berkeringat padahal udara di pantai sangat dingin. Jandi dapat merasakan luka saat menatap mata junpyo yang merah berair, airmata jandi pun tumpah.

Junpyo :   ”Mianhe....Aku tidak bisa menyalahkan jaekyung. Ini salahku.” ucapnya ketir. Setitik demi setitik air matanya jatuh.

Jandi :      ”Junpyo-yaa... bagaimana kau bisa menyalahkan dirimu atas apa yang sudah menjadi takdir hidup seseorang. Kematian bukanlah sesuatu yang bisa disalahkan. Aku mohon behentilah memikirkannya.” menggenggam erat tangan junpyo, memberinya kekuatan karena saat ini di hadapannya bukanlah junpyo yang biasanya, Goo Jun Pyo yang penuh percaya diri, kini terlihat sangat rapuh.

Junpyo :   ”Selama ini, aku tidak berani mengatakan pada siapapun. Tidak juga pada jaekyung.. Aku berusaha menutupi kehilangnnya, tapi pada akhirnya... aku menyakitimu jandi.”

Lelaki ini tertunduk semakin dalam, mengisyaratkan penyesalan yang tak mampu ia perbaiki lagi.

Jandi :      ”Anyio junpyo-yaa...”

Tanpa ragu jandi berdiri di hadapan lelaki itu -yang masih terduduk- mendekapnya dalam pelukan, membenamkan wajah lelaki itu di dadanya, hingga terasa tubuh junpyo bergetar menahan tangis.

Junpyo :   ”Mianhe...” lagi-lagi.... suaranya masih serak.

Jandi merenggangkan pelukannya, sepasang mata mereka bertemu. Sementara tatapan kelam junpyo seakan menghanyutkannya dalam cinta yang semakin dalam, jandi tak tahan melihat lelaki yang sangat dicintainya itu sekarang begitu tak berdaya. Perlahan wajahnya menunduk -mendekati wajah junpyo yang sudah siap sedia menyambut bibir jandi, terasa dingin saat bibir kenyal itu  melekat di bibirnya. Menekan semakin dalam hingga pipi mulus gadis itu ikut basah oleh sisa-sisa airmata di pipi junpyo.

Semilir angin pantai menyapu seluruh tubuh keduanya sejoli yang sedang bergelut dalam kerinduan mereka, dinginnya malam itu seakan bukan apa-apa meski kulit pun dibuat merinding. Pelan-pelan lidah mereka bertaut, menerobos masuk rongga mulut satu sama lain, tak ada yang mengalah. Sunyinya malam seakan memperjelas ketegangan antara keduanya, tak sabar merenggut kembali manisnya cinta yang sudah lama tak dikecap. Memusnahkan hari-hari sunyi yang dibaluti rindu yang menggebu. Junpyo tak berhenti, begitupun jandi.




------------------------------------------------------




Apa ini mimpi? Rasanya ia masih terpejam, tapi sinar merah itu menusuk tajam setelah menerpa wajahnya. Bola mata jandi yang masih tertutup kelopaknya pun bergerak-gerak seakan mimpinya begitu terusik. Tak seberapa lama, mendadak teduh. Tak ada lagi bayangan terang yang menganggu tidurnya, sebelum suara seseorang benar-benar mengembalikannya dari alam mimpi.

”Jandi-yaa... jandi?”

Perlahan kelopak mata jandi terbuka, ia belum sadar sepenuhnya karena memang pupilnya tak disambut oleh cahaya menyilaukan melainkan sebuah telapak tangan lebar yang berjarak sangat dekat –tepat di depan matanya. Ia langsung menoleh ke arah pemilik tangan itu, pandangannya disambut oleh wajah tampan yang sedang memerkan lesung pipinya.

Jandi :      ”Goo Jun Pyo?”

Junpyo :   ”Kau terkejut karena sudah lama tak melihat wajah ku saat pertama kali matamu terbuka?”

Jandi hanya tersenyum, ia baru menyadari keberadaannya -semalaman tertidur di dalam mobil.

Junpyo :   ”Lihatlah....”

Gadis itu mengikuti arah jari telunjuk junpyo, seketika bola mata cokelatnya berubah warna kemerahan. Jandi memicingkan matanya saat sinar matahari yang sedang merangkak terbit langsung menusuk pupilnya, tapi berubah takjub menyaksikan keindahannya. Tanpa ia sadari junpyo sudah berada di luar, membukakan pintu untuknya.

Junpyo :   ”Ayo....”

Menyodorkan tangannya untuk kemudian digenggam jandi, membawa gadis itu tepat ke mulut pantai. Jandi terpukau menyaksikan matahari menyingsing dari ufuk timur, ditambah deburan ombak yang berlarian menuju pada mereka.

Jandi :      ”Indah sekali...” ucapnya pelan.

Junpyo :   ”Ne...”

Junpyo merubah posisinya dan berdiri di hadapan jandi, menggenggam kedua tangannya sambil menatap sepasang mata yang jernih itu.

Junpyo :   ”Jandi-yaa.. sejak kau hadir, aku seakan menemukan segala yang tidak pernah ku miliki... Bukan orang lain, hanya ada kau... Aku mohon, biarkan kita memulainya lagi... Bersama putri kita yang akan segera lahir, dan anak-anak kita nanti...”

Jandi masih terdiam dengan mata berkaca-kaca, sebelum kemudian ia mengangguk pelan yang disambut oleh senyuman lega junpyo. Ditengah warna merah matahari terbit, perlahan junpyo mendekatkan wajahnya pada jandi untuk mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening gadis itu.




--------------------------------------------------





Hari sudah menjelang siang saat mobil junpyo sampai di kediamannya. Disana Mr.Goo sudah menunggu saat keduanya berjalan masuk, appa junpyo itu terperangah saat memperhatikan penampilan mereka yang lumayan berantakan. Junpyo masih mengenakan jas semalam, sementara jandi juga masih dengan gaun merahnya.

Mr.Goo :   ”Kalian sudah pulang..” heran, memperhatikan mereka.

Junpyo :   ”Ne.. Appa sedang menunggu kami?” ia juga heran melihat Mr.Goo sudah di depan pintu dari tadi.

Mr. Goo :   ”Ne, appa dan omma akan kembali ke New York sebentar lagi.”

Jandi :      “Secepat itu appa?”

Mr.Goo :   “Karena appa masih banyak pekerjaan, Halmoni juga membutuhkan omma..”

Jandi:      ”Kalau begitu, biar aku antar ke Bandara.” pintanya antusias.

Mr.Goo :   ”Andwe jandi-yaa.. Kalian kan baru pulang, istirahatlah… Kau tidak boleh kelelahan, arasso?”

Ancaman manis itu membuat jandi tak bisa mengelak, hanya tersenyum mengiyakan.

Jandi :      ”Tapi.. dimana Omma?”

Mr. Goo :   ”Ah, dia....”

Belum selesai Mr.goo mengeluh karena bosan menunggu istrinya yang hampir sejam berdandan, akhirnya Mrs.Goo muncul.

Mrs. Goo :   ”Aku sudah selesai. Kalian ini, kenapa tadi malam meninggalkan pesta begitu saja?”

Datang-datang sudah mengomel, suaminya justru membela jandi dan junpyo.

Mr.Goo :   ”Biarkan saja, semua kan sudah beres. Tidak apa-apa...”

Junpyo dan jandi hanya tersenyum.

Mrs.Goo :   ”Jandi-yaa.. istirahatlah.. kau pasti lelah..”

Jandi :      “Ne, omma… Appa, aku ke kamar dulu.”

Jandi membungkuk untuk kemudian berlalu dari sana. Baru saja junpyo akan mengekorinya, tapi Mr.Goo menghentikannya.

Mr.Goo :   ”Junpyo-yaa... kita bicara sebentar” bisiknya pelan.

Junpyo hanya mengikuti appanya ke ruang kerja, tanpa banyak bertanya karena sepertinya sangat serius.

Mr.Goo menyodorkan sejumlah surat kabar juga majalah ke tangan junpyo yang menatap bingung benda-benda itu, barulah ia mengerti setelah membaca salah satu judul yang paling besar.

’Menanti kelahiran pewaris Shinwa Group’

Di bawahnya terpampang jelas fotonya bersama jandi saat menemui wartawan tadi malam. Kemudian ia menoleh pada appanya, menatapnya penuh tanya. Namun Mr. Goo justru tersenyum, semakin bingung ketika appanya menepuk-nepuk pundaknya pelan.

 Mr.Goo :   ”Kau melakukannya dengan baik. Appa bangga padamu! Sekarang appa bisa tenang melihat mu menyelesaikan segalanya.”

Senyum keduanya mengembang, sudah lama mereka tidak sedekat ini.

Junpyo :   ”Gomawo.. Appa....”




=========================================




Jandi menoleh saat pintu kamarnya terbuka, tenyata junpyo masuk sambil terus tersenyum, bahkan sebelum melihat jandi. Dengan enteng ia melangkah masuk, tapi mendadak ia terpaku saat mendapati jandi sedang berdiri kaku dengan hanya terbalut kemeja putih miliknya. Baju yang terlihat kebesaran di tubuh mungil itu hanya menutupi sampai bagian paha, selebihnya... jandi juga merasa risih saat mata junpyo tak berhenti memelototi kaki indahnya, pipinya merona merah.

Jandi :      ”Aku... mengambilnya di lemarimu.. Tidak ada yang bisa ku pakai selain ini.” ucapnya gugup, karena baru beberapa hari lalu ia menolak memakainya saat junpyo memberinya kemeja ini.

Junpyo hanya menahan senyumnya, berlagak acuh dengan sikap konyol jandi.

Junpyo :   ”Aku mandi dulu.”

Jandi mendadak murung karena junpyo mengacuhkannya, mengira junpyo tidak tertarik lagi padanya karena sekarang perutnya semakin membesar. Dengan wajah murung sesekali ia melairik junpyo yang sedang membuka pakaiannya. Karena junpyo tidak juga menoleh padanya, jandi jadi putus asa, jandi pun langsung menuju tempat tidur. Tapi seketika seseorang menyambar tubuhnya dari belakang, memeluknya erat. Jandi diam tak bergerak seolah memastikan kalau sesuatu yang menekan-nekan pundak hingga lehernya adalah hidung mandung junpyo, sontak ia menggeliat saat lidah yang kasar itu mulai bermain menjalari bagian itu. Sementara dekapan tangan junpyo semakin erat, mengunci tubuhnya dari belakang, menghirup aroma tubuh yang lama tak menyapa hidungnya. Lelaki itu membalikkan tubuh jandi, mata keduanya bertaut, saling menatap lekat nyaris tak berjarak. Degup jantung seakan terdengar keluar, semakin kencang saling menyahut. Hela nafas junpyo yang memburu menerpa wajah jandi, matanya terpejam -tak mengendalikan hasrat yang menggebu.

Tak perlu aba-aba bagi junpyo untuk melumat mesra bibir penuh yang dari tadi menggoda, jandi mendesah nikmat -menyambut lumatan junpyo yang semakin dalam. Merasakan setiap sentuhan lelaki itu di setiap jengkal tubuhnya, sementara tangannya yang terlilit di leher junpyo semakin mengencang. Lumatan junpyo lebih dalam lagi, mendorong kuat. Jari-jari jandi sesekali meremas geram rambut lebat junpyo, begitu juga sebaliknya, tangan junpyo semakin liar berkeliaran di punggungnya.

Sekejap saja kamar itu sudah berserakan oleh pakaian yang tergeletak di lantai, di penuhi suara desahan-desahan nikmat yang saling bersahutan setelah junpyo membawa jandi ke atas ranjang. Tubuh keduanya kini polos tanpa sehelai benang pun, junpyo melumat setiap bagian tubuh gadis itu meski tak berani terlalu menindih tubuh istrinya. Tapi justru jandi tetap menempel lekat pada dada bidang lelaki berkulit cokelat ini, bergelut dalam dekapannya. Keduanya bertatapan penuh harap sambil mengatur nafas yang memburu, berada dalam gairah yang menyesakkan, rindu yang tak terbendung.

Tak seberapa lama, terdengar suara jandi memekik tertahan, saat junpyo sudah memasuki tubuhnya, mendorong juga mengguncangnya. Berkali-kali... hingga keduanya seolah kecanduan. Tak henti-hentinya menyelesaikan rindu yang selama ini tertahan.




         =================================




Hanya ada hari-hari indah penuh cinta.... setelah semuanya terjawab seperti air yang mengalir. Dari cerita hidup junpyo dan jandi, tercipta sebuah keluarga seperti yang selalu junpyo impikan sejak kecil…



Jandi POV


Aku tidak pernah membayangkan bagaimana suamiku itu bisa memperlakukan ku seperti seorang ratu setiap harinya. Hari yang kami lalui… tak pernah sedikitpun ia memalingkan wajahnya dariku. Setiap aku terbangun, dia selalu disini.. di sisiku. Pertama kali ia membuka mata, senyum yang selalu menghiasi bola mataku itu memberi semangat ketika aku memulai hari. Dia adalah pria tertampan yang ku kenal, dia juga yang terbaik. Aku tahu kalau dia benar-benar tak ingin kehilangan lagi, tenang saja.. aku juga tak bisa hidup tanpa mu sayang...

Di saat perut ini semakin lama semakin membesar, aku mulai tidak percaya diri dengan bentuk tubuhku. Tapi junpyo justru memberikan perhatian yang lebih setiap harinya, membuatku merasa menjadi wanita tersexy di dunia, dia tak akan puas sebelum pipi ku ini merona merah oleh kasih sayangnya. Ya, Goo Jun Pyo memang penakhluk wanita, aku yang mandiri kini bahkan sangat bergantung padanya. Meskipun tidak terlalu manja, tapi junpyo itu selalu mengejutkanku dengan hal-hal romantis yang membuatku kecanduan dengan sendirinya.

Misalnya saja, di suatu siang musim gugur kala itu. Tiba-tiba saja ia muncul di kantor, aku pikir biasa saja -karena junpyo selalu menyempatkan makan siang bersama ku. Tapi, setelah masuk ke dalam mobil. tepat ketika aku duduk di sebelahnya, ia mengeluarkan selembar kain hitam dan memintaku memejamkan mata. Tentu saja aku tidak mau, konyol. Tapi dia bersikeras memaksa, untuk yang sati itu dia tak berubah. Dan akhirnya aku mengalah.

Jandi :      ”Kita mau kemana?” dengan mata tertutup kain hitam.

Junpyo :   ”Kau akan segera tahu.” ucapnya enteng.

Menurutku, dia terlalu lama menutup mata ini. Aku merasa risih, menunggu sampai mobilnya berhenti. Kemudian junpyo memapahku berjalan pelan dengan mata tertutup, ntah kenapa saat itu tidak menabak-nebak kemana ia akan membawaku. Seakan rela menyerahkan diriku kemanapun ia membawaku, aku bersedia ikut dengannya kemanapun.

Saat junpyo membuka kain hitam yang membalut mataku, samar-samar pupil ini menangkap sesuatu yang sangat menarik perhatian. Ya, jelas-jelas tempat ini adalah taman super luas di kediaman kami sendiri. Tapi.... siapa yang menyulapnya? Aku menoleh pada junpyo yang sedang tersenyum puas, karena berhasil membuatku terpukau.

Jandi :      ”Bukankah ini musim gugur? Bagaimana ini?”

Aku masih terkelu menagkap keindahan di depan mata, sepanjang taman yang dipenuhi bunga warna-warni yang sangat lebat. Di salah satu sisinya juga terdapat taman bermain yang super mewah, tempat ini awalnya tak seindah ini. Kini serasa berada di pulau Jeju.

Junpyo :   ”Bunga-bunga ini akan menyambut kelahiran puteri kita.” memandang bangga karyanya itu.

Jandi :      ”Kau ini... aku bisa tersesat, tidak mengenali rumahku lagi.”

Junpyo terkekeh, kemudian ia memelukku dari belakang.

Junpyo :   ”Aku yang akan selalu menjemputmu pulang, kau menyukainya?”

Jandi :      ”Ne. Indah sekali.”



End of POV



         ===============================





Moment kelahiran anak pertama


TAP TAP TAP......

Beberapa pegawai berlarian panik, menuju ruangan presdir Independent Group. Disana jandi terkulai lemah dengan kepala tergeletak di atas meja, samar-samar ia mendengar mereka bicara cukup kencang.

”Disini, cepat bawa...”

”Hati-hati...”

”Ayo cepat...”

”Kau sudah menghubungi presdir Goo?”

”Aku baru saja mau menghubunginya..”

”Ah, cepat!”

Setelahnya jandi tidak ingat apapun lagi, ia pingsan.

Sampai gadis itu kembali membuka mata, disana ada junpyo yang sedang berbicara dengan dokter. Melihat sekelilingnya, sepertinya ini rumah sakit. Jandi mengingat-ingat apa yang terjadi, seingatnya.. ia sedang asik menyelesaikan pekerjaan di kantor. Tapi kenapa tiba-tiba.....

”APA YANG TERJADI?”

Jandi menoleh pada suara berisik itu, suara yang  dikenalnya. Benar, disana jihoo sedang menatapnya dengan raut cemas. Barulah junpyo menyadari jandi sudah sadar, buru-buru ia menggenggam tangan gadis itu.

Junpyo :   ”Jandi-yaa? Kau sudah sadar? Kau baik-baik saja? mana yang sakit?” tampangnya panik.

Jandi sendiri masih bingung. Dokter yang tadi berbicara dengan junpyo buru-buru akan memeriksanya, tapi jihoo menghentikannya.

Jihoo :      ”Biar aku saja.”

Yahhh, cari perkara. Saat itu juga wajah pucat junpyo mendadak berubah merah, melihat tangan jihoo oppa bergerak di sekitar dada jandi dengan stetoskopnya. Dia masih pencemburu nomor satu -meskipun di dalam keadaan terdesak sekalipun.

Jihoo :      ”Sebaiknya dirawat disini, kita tinggal menunggu, karena sudah waktunya persalinan.”

Junpyo :   ”APA?”

Junpyo semakin panik, belum apa-apa wajahnya sudah pucat pasi sakin gugupnya.

Jihoo :      ”Jandi-yaa.. istirahatlah...”

Jandi :      ”Ne oppa..”

Jihoo berjalan keluar bersama junpyo, membiarkan jandi istirahat. Tapi rupanya masih ada yang sangat dikhawatirkan junpyo, jandi sempat mendengar junpyo mengoceh pada jihoo.

Junpyo :   ”Kau tidak boleh kemana-mana, tunggu bersamaku disini.” ucapnya gugup.

Jihoo :      ”Aku akan meminta temanku yang merawat jandi, kau jangan khawatir.” meskipun ia sudah beberapa kali menghadapi proses persalinan tapi tidak untuk kali ini. Dia langsung mengibarkan bendera putih, mungkin karena pasiennya adalah jandi.




= Setelah satu hari jandi berada di Rumah Sakit =



”Aaaaakkkkkhhhhh.......”

Itu adalah teriakan terakhir jandi setelah berteriak sekuat-kuatnya tanpa henti, sampai seorang bayi mungil terlahir di dunia. Airmatanya tumpah, begitupun junpyo saat putri pertama mereka menangis meraung-raung hingga suara nyaringnya memenuhi ruangan itu sampai keluar.  Junpyo yang biasanya begitu kokoh, kini bergetar dengan wajah pucat. Sepanjang proses persalinan, ia menggenggam tangan jandi. Meskipun seakan mati rasa, tapi dinginnya tangan junpyo masih bisa dirasakan jandi. Junpyo jauh lebih takut dari istrinya itu. Dari tadi mulutnya yang biasa penuh ocehan justru hanya terdiam, bibirnya terbuka tapi tak mampu berkata-kata.

Seorang suster memberikan bayi mereka pada junpyo, airmata lelaki itu tak berhenti berlinang, manatap bayinya dengan pandangan takjub. Sumpah, dia terlihat cengeng saat itu.

Junpyo :   ”Dia... sangat mirip denganmu!” katanya terbata-bata, itu ucapan pertamanya sejak tadi hanya diam.

Benar, bayi mereka yang masih merah itu memang sangat mitip dengan jandi. Bibir mungilnya, juga hidungnya yang sama sekali tidak semancung ayahnya, tentu serupa dengan jandi. Dokter menyuruh perawat membawa bayinya ke ruang bayi, tapi junpyo menolak untuk melepaskan gendongannya.

Junpyo :   ”Biar aku yang menggendongnya.”

Begitu keluar dari ruanga itu, disana sudah ada orangtua mereka, juga teman-teman junpyo yang langsung berhambur –berebut untuk melihat bayinya.

Mrs. Goo :   ”Oh, cucuku...” ucapnya dengan mata berkaca-kaca, begitu juga yang lainnya.

Mrs.Geum :   ”Lihat, dia mirip sekali dengan jandi.”

Junpyo sedikit menunduk untuk memamerkan bayinya pada appa jandi yang masih duduk di kursi roda.

Mr.Geum :   ”Benar, ketika baru lahir jandi juga seperti ini.”

Semuanya terkekeh. Kemudian ternyata jihoo langsung mendekati jandi yang masih di dalam ruang bersalin, memastikan jandi baik-baik saja.




         ============================




Nyambuuuuuuuuuuuuuuuung ke bawah..................  [smiley-dance013] [smiley-dance013]
« Last Edit: February 13, 2012, 07:29:45 pm by Be my self »

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
Re: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″
« Reply #386 on: February 07, 2012, 06:59:19 am »
Lima tahun kemudian



Jandi :      ”Sayang, katakan pada serketaris Jung, hari ini biar aku yang menjemput  yang menjemput Hyemi.”

Jandi terlihat sedang buru-buru saat memasuki mobilnya di halaman Independent Group, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan junpyo melalui sambungan telepon.

”Mwo? Jihoo oppa sudah menjemputnya? Ooh, baiklah... Ne, aku langsung pulang.”

Sore itu, jandi berkesempatan untuk pulang cepat dari kantor. Memang sejak Shinwa dan Independent bersatu, jandi tidak perlu terlalu bekerja keras demi perusahaan. Karena ada junpyo yang mengurus semuanya.

Saat itu jandi buru-buru pulang ke rumah untuk putrinya. Setibanya disana, ternyata benar terlihat jihoo sedang bermain dengan anaknya di taman bermain yang junpyo siapkan lima tahun yang lalu untuknya. Jandi mendekati jihoo yang sedang duduk di salah satu bangku taman itu, sementara putrinya masih asik bermain.

 Jandi :   ”Oppa?”

Jihoo :      ”Oh... kau sudah pulang?”

Jandi :      ”Maaf merepotkanmu. Pasti hyemi yang memintamu menjemputnya...”

Jihoo  hanya tersenyum melihat jandi bersikap sungkan seperti itu.

Jihoo :      ”Kebetulan aku ke rumah sakit nanti malam, jadi aku menjemput hyemi dulu...”

Jandi hanya tersenyum, tapi suara teriakan puterinya mengagetkannya.

Hyemi :   ”Ommaaaaaaa...... kau sudah pulang?”

Suara memekakkan telinga itu memang imut, tapi gaya bicaranya itu selalu seperti itu. Berlagak seperti orang dewasa. Setelah bermain beberapa lama sampai langit sudah hampir gelap, jihoo berpamitan untuk segera ke rumah sakit. Sementara hyemi terus ribut ingin ikut dengan pamannya itu, tapi jandi melarangnya.

Saat makan malam, dia terus mengoceh sepanjang malam tanpa henti, membuat jandi pusing tujuh keliling.

Hyemi :   ”Kapan omma liburan lag bersama appa? Aku bisa dititipkan pada ahjusshi...” tawaran yang bagus, tapi bagi junpyo. Jandi justru kesal.

Jandi :      ”Jangan tanyakan itu lagi...”

Hyemi :   ”Baiklah, biar aku tanyakan pada appa saja.” ucapnya acuh.

Jandi terperangah tak percaya, anak ini baru berusia lima tahun tapi bicaranya lancar sekali. Mengoceh terus seperti tawar-menawar pada ommanya, jandi memelototinya, tetap dia tidak juga diam bahkan saat ia bertingkah anggun sambil melahap makan malamnya, meskipun makanannya lengket di pipinya, tapi dia tetap merasa anggun. Jandi sampai geleng-geleng kepala.

Hyemi :   ”Kenapa omma tidak makan?”

Jandi :      ”Kau makanlah duluan.. Habiskan ya...” mengacak-acak rambut halusnya, tapi bocah itu memonyongkan mulutnya pada jandi pertanda ia risih.

Hyemi :   ”Omma menunggu appa?”

Jandi :      ”Ne. Kau makanlah yang banyak...”

Bocah itu hanya mengangguk.

Jandi :      ”Sayang, omma dengar kau berkelahi di sekolah ballet. Benar begitu?” memicingkan matanya, menatap penuh curiga.

Hyemi :   ”Tidak. Aku tidak sampai memukulnya.” jawabnya enteng, sontak membuat jandi kaget.

Jandi :      ”MWO?”

Hyemi :   ”Omma, si sujin itu menggoda jihoo ahjussi, aku hanya bilang kalau aku lebih cantik darinya, aku lebih mempesona.”

Jandi :      ”APA? Oh, dari mana kau belajar kata-kata itu??” tanyanya tak percaya.

Hyemi :   ”Appa selalu bilang begitu padaku. Katanya aku paling cantik:” Ucapnya penuh percaya diri.

Jandi :      ”OH, AKU BISA GILA!!!”

Bocah ini, meawarisi 95 persen wajah jandi, dan 100 persen sifat junpyo. Tidak heran kalau jandi selama beberapa tahun terakhir ini dibuat kerepotan oleh dua orang anak dan ayah ini. Goo hyemi selalu mengikuti tingkah appanya, sikapnya semakin hari semakin penuh percaya diri. Hingga jandi selalu tepojok, tapi junpyo selalu membelanya.

Jandi :      ”Sayang, mana boleh kau bocara seperti itu. Itu akan melukai hati temanmu.”

Hyemi :   ”Ne omma. Arasso...”

Jandi :      ”Lalu, benar kau tidak memukulnya kan?

Hyemi :   ”Anyio.. Aku hanya menjambak rambutnya sedikit.” nyengir..

Jandi :      ”Oh God, GOO HYEMI !!!!”    >.<




-----------------------------------------------------




Malam semakin larut, junpyo kembali ke kamarnya setelah memastikan puteri kesayangannya sudah tidur pulas. Ia mendekati jandi yang sedang duduk si sofa sambil membaca beberapa majalah bisnis. Junpyo duduk di sebelahnya, perlahan mulai mengganggu konsentrasi jandi. Ia melingkarkan tanganya di pinggang ramping jandi, membuat istrinya itu mengeliat geli.

Junpyo :   ”Sayang, aku merindukanmu!”

Bukannya membalas pelukan junpyo, jandi justru terlihat kesal.

Jandi :      ”Junpyo-yaa.. tadi hyemi berkelahi lagi di sekolah balet.”

Junpyo :   ”Aku tahu, dia hanya cemburu pada temannya yang meminta jihoo membelikan ice cream. Kau jangan terlalu memikirkannya.” ucapnya enteng, masih terus menghujani jandi dengan kecupan-kecupannya.

Jandi :      ”Kau selalu memanjakannya, mengajarkannya kata-kata yang aneh.”

Junpyo :   ”Aku bilang dia cantik, karena puteri kita itu sangat mirip dengamu. Dia selalu membuatku merindukanmu sayang.”

Jandi :      ”Tapi dia menjambak rambut temannya. Hoh, aku kesal sekali.”

Junpyo :   ”Benarkah? Ah, puteriku memang jagoan.”

Jandi :      ”YAH.. ” berteriak kesal.

Junpyo :   ”Ohya, besok kau juga tidak usah menjemputnya, dia minta menginap di rumah jihoo.”

Jandi :      ”LAGI??? Tapi sayang, itu akan merepotkan jihoo oppa..”

Junpyo :   ”Kau kan tahu, hyemi sangat penurut pada jihoo. Dia pasti tidak akan rewel dikelilingi paman-pamannya yang tampan itu.”

Memang benar, tidak ada yang bisa menjaganya sebaik jihoo. Kecil-kecil seleranya sudah kelihatan bagus. Dia sangat menyukai jihoo.. ya ampunnn...

Jandi :      ”Tapi....”

Junpyo :   ”Bukankah itu bagus, kita bisa pergi bulan madu.” tersenyum nakal, menggoda jandi.

Jandi :      ”Aiisshh... Minggu lalu juga baru pulang! Jadi hyemi benar-benar mengatakan ini padamu.. Kalian ini, apa saja yang kalian bicarakan..” ucapnya kesal.

Bukannya mengindahkan kata-kata jandi, lelaki itu justru mengejutkannya dengan langsung menggendong tubuh istrinya itu.

Junpyo :   ”Dia akan baik-baik saja, kau jangan khawatir. Puteri kita itu sangat pintar, dia hanya menginginkan seorang adik.”

Jandi :      ”YAHHHHHH”


Jandi tidak sungguh-sungguh menolak saat junpyo mengriringnya ke tempat tidur, karena hal seperti ini sudah rutin dilakukan setiap malam. Saat lampu kamar mereka berubah remang-remang, cantiknya wajah jandi yang putih itu tidak pernah luntur meski setiap saat junpyo menatapnya lekat. Mengagumi setiap lekuk pahatan Tuhan yang terpantul di pupilnya, seakan ia adalah pria paling beruntung di dunia.

 Dengan lembut junpyo memulainya dengan sebuah lumatan yang semakin lama semakin dalam, sementara jandi membalasnya tak kalah bernafsu, melumat habis bibir penuh itu sampai keduanya kesulitan bernafas. Junpyo menindih gadis itu dalam dekap tubuhnya yang kokoh. Membuat jandi menggeliat ketika lidah kasarnya bermain liar di lehernya, sementara tangannya dengan cepat menyingkap gaun tidur jandi. Jari-jari jandi pun tak sabar melicuti piyama junpyo seakan ingin sekali menyentuh otot-otot di  tubuhnya.

”Ahhh...”

Desahan jandi memenuhi kamar yang tengah membara itu, tubuh keduanya berkeringat, wangi parfum bercampur jadi satu seiring permainan yang semakin memanas. Rajang itu sudah berserakan akibat gerakan mereka yang tak berhenti sekejap pun, junpyo melumat bagian-bagian tubuh jandi dengan brutal. Sungguh gadis itu berkali-kali mengerang nikmat setelah junpyo memasuki tubuhnya, mengguncangnya tanpa henti. Terkadang jandi yang terlalu agresif berada di atas tubuh junpyo. Sampai keduanya mencapai puncak dan terkapar disana, seakan energinya habis terkuras hingga jandi tertidur dalam pelukan junpyo.

Seperti itu selanjutnya, rutinitas yang biasa mereka lakukan setiap malam, sebelum tidur, juga terkadang setelah terlelap. Ketika fajar menyingsing, sebelum hyemi lebih dulu bangun dan meneriaki kamar mereka.





         ================================


Kehadiran anak kedua



Junpyo POV




Di tahun kelima musim dingin setelah hyemi lahir, istriku tercinta mengandung anak kedua kami. Saat pertama kali mengetahui jandi hamil lagi, aku mungkin terlihat putus asa ketika setiap pagi jandi muntah-muntah. Ingin rasanya menggantikan posisinya itu, aku tidak tega melihatnya. Dia bahkan sempat dilarikan ke rumah sakit sakin lemahnya, dia selalu memuntahkan hampir semua makanan yang dimakannya, aku merasa sangat berdosa. Tapi disisi lain, aku juga bahagia dengan kehadiran bayi kedua kami. Hyemi juga semakin rewel, akhir-akhir ini dia selalu cemburu dengan adik yang masih di kandungan ommanya. Dia merengek meminta jandi menggendongnya, menidurkannya, padahal sebelumnya dia selalu datang padaku untuk hal ini.

Aku terpaksa membawa hyemi ke rumah halmoninya, mereka senang dia menginap disana. Terkadang juga bergantian jihoo yang menjaganya, mengingat kondisi jandi yang lemah di kehamilan keduanya. Aku tidak ingin hyemi semakin membuatnya tertekan. Sebenarnya karena aku juga ingin memiliki waktu berkualitas bersama jandi, karena semakin hari kami semakin disibukkan dengan urusan kantor dan juga hyemi.

Mungkin benar, wanita hamil akan terlihat semakin mempesona, itulah yang kurasakan pada pada jandi. Setiap saat, tak pernah sekalipun jandi pergi dari pikiranku. Aku selalu merindukannya, dimanapun. Bahkan saat perjalanan bisnis ke luar negeri, aku tak berniat meninggalkannya seharipun. Tapi aku bersyukur, jandi mengaku sangat bahagia. Kami memiliki keluarga yang hangat, yang tak pernah ku dapatkan saat aku kecil, aku tak akan membiarkan itu terulang pada keluargaku.

Jandi juga  selalu memberikan apapun yang ku inginkan, dia istri terbaik di dunia, juga ibu terbaik bagi hyemi. Kami sering berlibur, sesuai janjiku padanya, membawanya menyaksikan keindahan negeri Korea ini. Sementara hyemi sangat pengertian, dia tidak pernah ingin pergi bersama kami, asalkan meninggalkannya di rumah jihoo, dan memberinya adik perempuan, dia tak akan rewel. Gadis pintar!

Puteriku itu sangat diberkati, keinginannya terkabul saat jandi melahirkan puteri kedua kami yang ku beri mana Goo Eun Sun. Aku terpukau saat melihat bayi mungil kami itu sangat menyerupai wajahku.

Seiring berjalannya waktu, sikap keras kepala hyemi semakin menjadi-jadi setiap kali dia cemburu pada adik perempuannya Eun sun. Dari mulai adiknya belum bisa bicara, sampai eun sun berusia satu tahun. Hyemi selalu bertengkar dengannya. Kediaman keluarga goo kini menjadi sangat ramai, oleh teriakan Goo Hyemi juga Goo eun sun. Syukurnya puteri bungsu ku itu mewarisi sifat ibunya, dia lebih banyak mengalah pada hyemi yang usianya jauh lebih tua.


End Of  Junpyo Pov



         
            ========================





Kelahiran anak ke tiga,



Cukup lama beberapa orang itu mondar-mandir di depan kamar bersalin. Rautnya terlihat cemas, padahal ini sudah yang ketiga kalinya bagi mereka. Seorang gadis kecil di antara mereka terus menempel pada jihoo, dia bahkan tak mengerti apa yang membuat wajah paman tersayangnya itu terlihat sangat tegang. Sementara satu gadis kecil lainnya terlihat lebih kalem dalam gendongan Mrs.Goo.

Hyemi :   ”Ahjusshi... apa omma masih lama di dalam sana?”

Jihoo tersenyum padanya.

Jihoo :      ”Kita berdo’a saja ok?”

Hyemi justru memonyongkan bibirnya, percis jandi.

Hyemi :   ”Aku tidak mau adik perempuan lagi... Eun sun selalu nakal padaku.” ocehnya dari tadi, lumayan mencairkan suasana tegang orang-orang disana.

Woobin :   ”Hyemi-yaa... Dulu kau sendiri yang ingin adik perempuan.”

Hyemi:   ”Tapi yang penurut, eun sun sama sekali tidak menuruti ku.”

Yijung :   ”Wah, anak ini bukan main miripnya dengan junpyo.”

Hyemi :   ”Omma juga selalu bilang begitu.” ucapnya bangga. Membuat semua orang disana terkekeh.

Tapi seketika tawa mereka terhenti, ketika mendengar suara tangis bayi dari dalam ruang bersalin. Semuanya kembali tegang, sampai beberapa saat kemudian junpyo keluar, dan menggendong seorang bayi dengan wajah berseri-seri.

Junpyo :   ”Bayi laki-laki...” ucapnya pelan, sepertinya junpyo sudah tidak terlalu tegang lagi menghadapi persalinan, tidak seperti saat pertama dan kedua. Apalagi jarak antara Eun sun dan putera ketiga mereka hanya dua tahun.

Semuanya tersenyum bahagia...

Mr.Goo :   ”Ah, jagoanku!!” mencium cucu laki-lakinya.




------------------------------------------------------------




Setelah beberapa saat dibawa ke ruang perawatan, kamar jandi dipenuhi gelak tawa kebahagiaan keluarga besarnya.

Junpyo :   ”Goo Hyun Joon... Kau akan bersaing dengan appa huh?” mencium bibir putera kebanggaannya.

Jandi :      ”Akhirnya bertambah lagi satu lelaki dalam hidupku.” masih terbaring lemah, sementara junpyo menggendong putranya di sisi ranjang jandi.

Junpyo :   ”Sayang, dia tidak mirip denganmu.”

Jandi :      ”Juga tidak mirip denganmu.”

Mr. Geum :   ”Tapi dia mirip kalian berdua..”

Junpyo :   “Ne, hidungnya semancung aku…”

Jihoo :      “Matanya mirip jandi.. Seperti hyemi..”

Ehem… tampaknya teman yang satu ini tidak berhenti mengagumi jandi, cinta pertamanya. Meski raut junpyo berubah cemburu saat pandangannya bertaut pada sinar mata jihoo yang penuh cinta, tapi tak lama kemudian ia tersenyum saat jihoo juga tersenyum padanya. Ikut bahagia untuknya.

Hyemi :   ”Mana? Mana? Aku mau lihat...” gadis kecil ini selalu ikut campur obrolan orang dewasa, dia bersikeras untuk melihat wajah adik laki-lakinya.

Eun Sun :   ”Aku juga mau lihat.. Appaa....” minta digendong oleh junpyo yang sedang menggendong adiknya.

Mrs.Geum :   ”Hati-hati eun sun-ah...”

Jandi :      ”Nanti kau jatuh..”

Kedua gadis kecil itu berebut meraih adiknya, bergantungan di kaki jenjang appanya, sementara junpyo tidak bisa menggendong mereka. Mrs.Geum buru-buru menggendong eun sun, tapi jihoo segera mengambil alih mengingat tubuh eun sun yang lumayan berisi. Sontak saja hyemi protes.

Hyemi :   ”YAHHHH.....” teriaknya histeris.

Semua mata tertuju padanya, memandangnya heran, bocah itu bahkan menangis.

Jandi :      ”Waeyo?” memandang heran pada hyemi.

Hyemi :   ”LEPASKANNNN!!”

Dia meronta-ronta menarik jihoo yang tinggi menjulang agar lelaki itu tidak menggendong eun sun, wah gawat!

Yijung :   ”Sini biar aku menggendongmu.”

Tawaran yijung itu sama sekali tak menarik baginya.

Hyemi :   ”ANDWEEE!!”

Langsung menepis tangan yijung, membuat semua yang ada disana melongo menatapnya heran. Begitu juga eun sun yang tidak mengerti kenapa unnienya menangis histeris seperti itu. Akhirnya jihoo menyerahkan eun sun pada yijung untuk kemudian menggendong hyemi. Gadis kecil berusia delapan tahun itu langsung tenang dalam gendongan jihoo, akibatnya semua orang mengejeknya.

Junpyo :   ”Yah, Goo hyemi... bagaimana pamanmu ini akan mendapat pacar kalau kau terus menempel padanya.”

Jihoo hanya tersenyum manis padanya, memang sangat memanjakan anak itu.

Jandi :      ”Ah, anak ini... oppa, jangan terlalu memanjakannya.”

Lucunya, tangan mungil hyemi justru menutupi sepasang telinga jihoo rapat-rapat, agar tak terpengaruh dengan apapun yang orang katakan. Sontak saja semua orang disana tertawa. Ah, dia memang pintar.






               End Of Chapter

         =================================




Thank you for all readers ^^
« Last Edit: February 15, 2012, 06:59:17 pm by Be my self »

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
Re: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″
« Reply #387 on: February 07, 2012, 08:15:12 am »
gumawo onn. super duper looooong punk punk
ini udh tamat? [what] jgn dooong, ga rela [goodgrief]  [hmpfh]
si jun pyo klo ngajarin anak emg ga bener ckck [dry] moso diajarin narsis begono ya ampun [hmff]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Re: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″
« Reply #388 on: February 07, 2012, 08:53:57 am »
TERIMA KASIH sist cud na updatenya yang suoer double loooong  [arms] [arms] [flowers]
akhirnya perjuangan cinta junpyo dan jandi berakhir bahagia  [hug]  [lovestruck] semua kesalah pahaman dari berbagai pihak sudah jelas dan kekerasan hati jandi meluluh  [huglove], keluarga yang sangaat bahagia memiliki 2 putri canti dan satu putra mahkota  [clap] tap.. sepertinya jun pyo belum puas memliki 3 anak apakah ini akan berlanjut  whistling secara akhirnya buakn THE END tapi.. END CHAP  [hmpfh] , Hyemi.. kecil" sudah bisa cemburu  [hmpfh] ,sangaat mewarisi sipat jun pyo yang pecemburu , sama adeknya aja di cemburuin  [hmff] Hyemi jelmaan Jun pyo bangeeet semua kemauannya harus di turuti tapi... dia sendiri jarang mau menuruti kemaunan orang lain  [hmff] , meski sudah sudah mempunyai anak 2  gairah keduannya tetap masih sama  [kiss] [hmff] , sist cud na ff mu The best  Emoticons0423 Emoticons0423 di tunggu karya selanjutnya ya , atau mau melanjutkan yg ini jug boleh  [lovestruck] Se U again  [lovestruck]

Offline vhia_minsuners

  • Full
  • ***
  • Posts: 411
  • saranghae MinSun.... saranghae Joondi...
    • View Profile
Re: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″
« Reply #389 on: February 07, 2012, 09:12:46 am »
gumawo  [AddEmoticons04228] buat chapternya yang loooooooooooooooooong  Emoticons0424 [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234]

suka banget liat Joondi bahagia,,,, [AddEmoticons04225] terharuuu,,,,,,,,,,,  Emoticons0429 pas di toilet bikin sesek nafas,,,, asoooy,,,

paling suka ama hyemi,,, sifat PDnya 100% appanya,,,  [hmpfh] [lovestruck] [laughing] muka kalem kaya' eommanya,,,,  [lovestruck]

kasihan juga eun sun harus ngalah ama eonnienya yang keras kepala,,, eh itu jihoo hati2 loh,,, ntar hyemi naksir beneran ama jihoo,,,,, tapi hyemi emang pengertian ye, saat appanya pengen ngerasaiin bulan madu setiap saat,  [AddEmoticons04235] [2vil3jc] malah lebih memilih ngusi di rumah jihoo  [cats]

wah joondi punya 3 anak, ini udah klar alis end atau masih ada sambungan part 4??  [AddEmoticons04254] [AddEmoticons04228]
sambung lagi dong,,,,,,,,,,,,
« Last Edit: February 07, 2012, 09:17:37 am by vhia_minsuners »


kissing you baby... muaaaccchhh ^^