Chapter 3
“Apa?” Pensil biru kabur dari genggaman Libby seakan ingin melarikan diri saat teriakan Seb meletus. Libby membasahi bibir, mengacuhkan dokumen yang tengah ia kerjakan dan mempertajam pedengarannya.
“Tapi ini keterlaluan, Jaimes!” Gertakan Seb bisa mengusir singa. Ternyata Jaimes Wright. Karena bapak tua ini, Libby ditarik menjadi kekasih palsu Seb. Sialan, demi Tuhan, Libby akan mengambil jarum dan menusuk perut gembul Wright sampai kempis kalau ia harus berperan lebih jauh daripada yang seharusnya.
“Jaimes...? Hey, Jaimes...? Jaimes!” Semoga Seb tidak membanting ponsel puluhan ribu dollar itu. Libby merapatkan sweater dan mengepalkan pergelangan tangannya yang basah saat derap sol sepatu Seb terasa semakin jelas. Sama sekali bukan waktu yang tepat untuk berhadapan dengan Seb, tetapi Libby tidak dapat mengusir atasannya jika lelaki tersebut sungguh datang.
“Miss Reyes.” Nah, untung raut wajah Seb tidak membuat seluruh benda dalam ruangan ini melompat ketakutan. Malah, mereka amat tenang dan gurat-gurat amarah yang begitu mengintimidasi itu hanya berpengaruh pada Libby. Sangat tidak adil.
Libby bangkit dan spontan sedikit membungkuk..., sampai ia menyadari kalau ini bukan Korea dan Seb mungkin menganggapnya menderita otak dungu tingkat ringan. “Mr. Marcus.”
“Jaimes meminta sesuatu dari kita. Maksudku, ia sudah tahu aku sedang 'berkencan'.” Tangan kiri Seb berkacak pinggang, tangan yang lainnya bertopang pada permukaan kaca, dan alisnya menyatu geram.
“La...lu?” Libby tergagap, tidak tahu harus berkata apa.
“Lalu, Jaimes membatalkan makan malam, tapi sebagai gantinya kita harus datang menginap di mansion pedesaannya selama 3 hari..., atau tidak ada perjanjian bisnis.” Pandangan Seb menggelap. Libby menggerakkan bola matanya, menatap apapun kecuali Seb yang tampak ingin menerkam seseorang. Beribu kata makian tumpah dalam otak Libby, Wright benar-benar tahu cara memancing murka Seb -- dan murkanya. Menginap di mansion? Yang benar saja.
“Pasti ada cara lain. Anda tidak keberatan kan menyewa kekasih lain.” Lengan Libby bertumpu lemas pada meja.
“Entah itu membatalkan kontrak bisnis, atau menuruti amanat terkutuk Jaimes,” Seb menyambar kursi plastik dan duduk, ia mulai memijat pelipisnya dengan kasar. “Tapi pintu bagi kekasih lain sudah ditutup. Jaimes tahu identitasmu, ia bertanya sebelum memberitahu tentang rencana menginap sialan itu.”
Kaki Libby berubah menjadi adonan pudding, ia terduduk lesu. Meninggalkan ayahnya selama 3 hari? Libby tidak pindah ke Australia untuk menghiraukan ayahnya. Seb harus mengerti. “Mr. Marcus..., saya...,”
“Miss Reyes!” Hardikan Seb membisukan Libby, Seb mungkin tahu ia hendak membantah.
“Perjanjian bisnis ini terlalu penting. Kalau begini kemauan Jaimes, maka aku bersumpah bapak tua itu akan mendapatkannya. Kau masih menjadi kekasihku, kita akan pergi bersama, akhir pembicaraan!” Seb meninggalkan mulut Libby yang terganga lebar. Kalimat penolakan Libby tersumbat ditengah leher dan mulai menimbulkan perasaan yang teramat buruk. Tetapi, kencan sandiwara semalam yang bertumbuh menjadi kencan 3 hari terasa jauh lebih mengerikan.
Dan ini baru permulaan.
*****
“Seb lembur..., lagi.” Jawaban praktis. Libby mengatakannya setiap hari.
“Tidak ada 'lagi', tapi 'selalu'. Bumi berbentuk kotak kalau Seb tidak lembur,” kelakar Barb. Ia mengambil tas jinjingnya, bersiap pulang. Lampu kantor dimatikan jam 9 dan sekarang mereka mengandalkan penerangan dari jalan yang terpantul melalui jendela.
“Awalnya aku tak percaya,” gumam Libby lembut. Sepanjang hidupnya, tak ada seorangpun yang pernah bertindak begitu menyedihkan. Seb mendedikasikan dirinya pada perusahaan dan Seb pulang ke rumah semata-mata karena ia cukup waras untuk tidak menaruh tempat tidur didalam kantor.
Berapa anggota keluarga Seb? Bagaimana kehidupannya diluar? Apa rahasia dari masa lalu Seb? Semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak pernah melewati garis terkaan. Tidak peduli, betapa masyarakat yang tertarik dengan Sebastian Marcus memaksa media untuk menguntit lelaki itu, Seb tak akan mengeluarkan pernyataan sampai langit terancam runtuh. Dan Libby tidak memerlukan kepastian langsung dari Seb untuk memutuskan bahwa kehidupan Seb mungkin tak lebih bermakna daripada sejumput bunga bakung. Libby yakin ada kala dimana uang hanya menjanjikan kekosongan hidup.
“Setahun kemudian, fakta ini akan menjadi makanan sehari-harimu, Lib.” Barb menepuk pundak Libby.
“Aku ragu.” Libby memencet tombol lift.
Rambut pirang Barb berguncang oleh tawanya. “Kalau begitu, selamat, kau adalah 1 diantara 100.”
“Uh. Mungkin hari bersejarah saat Seb memilih untuk tidak lembur akan datang sebentar lagi.” Libby mengangkat bahu.
Mereka melangkah masuk setelah bunyi 'ting' kecil. Barb menghela nafas, “Oh, well, tidak ada yang mustahil.”
Libby mengangguk penuh harap. Tidak ada yang mustahil, termasuk mencari cara agar Sebastian Marcus mengurungkan niatnya.
*****
Nyawa Rusakov bergantung pada selang-selang kecil pengangkut obat yang menginvasi tubuhnya. Pagi tadi ia sempat mengobrol singkat dengan Seb. Dan sekarang Rusakov koma, dengan mudah meninggalkan perusahaan-perusahaan raksasanya, seakan mereka merupakan balita ingusan yang dapat dititipkan pada Daycare Center.
Rusakov membutuhkan Seb.
Padahal perusahaan Seb sendiri sudah cukup mengisolirnya dari aktivitas diluar kantor. Perusahaan-perusahaan Rusakov adalah beban berat yang akan membabat sisa waktu luang Seb. Salah Rusakov, menunda keturunan sampai ia bahkan tidak mampu lagi membelai pipi istrinya.
Seb mengomel tidak jelas lalu menghabiskan latte dalam satu tegukan. Alam berlagak seperti wanita yang sedang dikunjungi tamu bulanan dan melemparkan serentet kejadian menjengkelkan pada Seb.
Rencana Wright, perusahaan Rusakov, dan wanita itu!
Elizabeth Sunshine Reyes.
Ini menggelikan. Bagaimana bisa Libby menyelinapi mimpinya semalam dalam keadaan telanjang?! Seb luar biasa jarang bermimpi, apalagi setelah bekerja seperti kerbau pembajak, rasa kantuknya menjadi terlalu egois untuk berbagi ruang dengan mimpi-mimpi sepele.
Dan kalau ia benar-benar bermimpi, mungkin masalah ini tidak dapat dikategorikan sebagai hal sepele.
Apalagi semalam ia terbangun dalam keadaan mendambakan asistennya sendiri.
Ibu jari dan telunjuk Seb memainkan cangkir plastik didepannya. Mungkin, Seb terlalu terbawa peran. Totalitas adalah karakter mutlak Seb, tidak heran sekarang ia berlagak seolah Libby memang kekasih sungguhannya. Dan itu mustahil terjadi..., disaat genting seperti ini hatinya menjelma sekeras tempurung kura-kura..., hanya tersisa pikiran yang setiap hari ia asah dengan dokumen-dokumen dan kontrak bisnis, ketajaman otaknya akan membuat pisau cincang tertunduk malu.
“Mr. Marcus?”
Kepala Seb menengok kearah sumber suara dan menemukan sosok mungil Elizabeth tengah memegang sandwich ham dan kopi hitam.
“Miss Reyes?” Seb tidak repot-repot menawarkan tempat duduk, karena Libby menghamburkan tas dan makanannya diatas meja.
“Lancang, maaf. Tapi kantin rumah sakit lebih penuh daripada Disneyland.” Bibir Libby mengerucut sebal – dan keindahan bibir Libby dalam mimpi Seb tidak ada apa-apanya dibanding dengan kenyataan yang sesungguhnya.
“Apa yang kau lakukan disini?” Pandangan Seb beralih pada anak perempuan montok yang menangis rewel disebelah pot Anthurium, dibujuk untuk meneguk sirup obat.
“Menemani Dad.” Libby menghela nafas, lalu menyesap kopi. Dan tanpa perintah benak Seb membayangkan ujung cangkir kopi itu digantikan oleh kulitnya.
Ini..., sungguh-sungguh sinting.
Gejolak hormon Seb mulai memasuki tahap berbahaya.
“Mr. Marcus..., hmm..., sebaiknya saya pindah.” Libby tak mengerti, keriyitan dahi Seb bukanlah indikasi dari rasa keberatan, melainkan gairah primitif yang dibangunkan oleh wanita itu.
“Tolong jangan, ini bukan..,”
“Mr. Marcus, anda sakit?” Sorot mata Libby tidak menyembunyikan apapun kecuali ketulusan.
“Sama sekali tidak,” tegas Seb mantap.
“Kalau begitu, saya pindah.” Libby akan berakhir duduk di lantai jika nekat meninggalkan meja ini.
“Kubilang..., jangan!” Perintah Seb diikuti cengkramannya pada lengan Libby. Seb baru menyadari Libby agak pucat, Seb menghibur diri dengan berpikir bahwa Libby mungkin terlambat makan alih-alih jeri karena ia bertingkah bak anjing polisi.
“Maaf..., Mr. Marcus.” Libby kembali duduk, kedua pundaknya mengencang tak nyaman. Libby membuka bungkusan sandwich dan rahangnya melahap seperti robot yang diprogram.
“Kalau kau sadar, Elizabe..., Libby..., mukamu pucat. Aku akan tinggal sampai sandwich itu lenyap . Omong-omong, panggil aku Seb, orang-orang akan berasumsi kau adalah klienku kalau kau terus menggunakan panggilan seperti itu.”
Libby mengangguk pelan dan berbisik, “Seb.”
Seb tersenyum kecut melihat perubahan dari eskpresi wajah Libby yang sekarang menjadi sedatar tripleks.“Nah, itu jauh lebih baik. Sekarang..., ayahmu kenapa?”