***
"Kau yakin akan menetap disana, Hye sun?" Tanya Shi won. Pria yg sedari tadi membawakan koper dan tas besar Hye sun
"Ne.. Aku akan mentap disana" Angguk Hye sun mantap
"Apa kau yakin?" Tanya shi won lebih pasti lagi
"Apa maksud mu ?" Hye sun mendelik angkuh kearah pemuda itu
"Kau... Kau belum pernah mengutarakan perasaanmu padaku, Hye sun" Ucapnya pilu
"Aku tak berniat membahasnya sekarang. Bagiku.. Sekarang karirku yang aku utamakan.." Hye Sun berucap datar, sambil mengambil kopernya di tangan Shi Won
"Oh.. Pesawat ku sudah Take Off, Shi won. Bye.." Ucapnya sambil berlalu dari situ
"Aku Akan menunggumu, Hye sun"
***
"Minho dimana handphonemu!" Hyun joong tergesa-gesa memasuki ruangan minho, nafasnya begitu memburu
"Apa ?" Tanya Minho tak semangat
"Ponselmu Bodoh!" hardik pemuda itu
"Ini" ucap Minho sambil mengambil ponselnya di balik jas hitam yang ia kenakan
"Yoona-ssi menghubungiku, katanya ponselmu tidak aktif" Hyun joong mengambil tempat di sofa ruangan Minho
"Sudahlah... Jangan diladeni, Aku tak mau diganggu" Terangnya sambil memijat kepalanya yang terasa penat
"Heh, aku heran... Padahal kalian berpacaran sejak sekolah menengah pertama kan? Tapi kelihatannya tak begitu mesra" Ucap Hyun joong enteng
Minho mulai mengingat kembali, ketika hubungannya dengan Im Yoon Ah mulai renggang, ia semakin pusing memikirkannya lalu tiba-tiba Ia mengadahkan kepala kearah Hyun joong
"Kau ingat Hye Sun? Apa sudah Ada kabar darinya?" Minho kini memandang fokus Kearah pemuda yg mengenakan jas biru itu
"Mwo? Ingat Minho-ssi, kau ini sudah mempunyai kekasih" Hyun joong menatap Minho dengan tajam
"Aku Tahu... Tapi... Ah sudahlah! Cepat Katakan joongie!" Desak Minho
"Hmm-seminggu yang lalu.. Hye sun mengabariku.. Dia bilang dia akan kembali ke korea hari ini" ucap pemuda itu dengan hati-hati
"Joungmal?!" Tanya Minho tak percaya
"Kau jangan mengusikknya lagi Minho-ssi. Sadarlah... Kalian sekarang sudah mempunyai kehidupan masing-masing" Tukas Hyun joong. Minho mengepalkan tangan mendengarnya
"Jika dia bisa jujur tepat waktu.. Dan juga tak meninggalkanku.. Aku yakin, kau orang pertama yang akan menerima undangan pernikahan kami, Joongie" Minho berucap lantang
"Bb.. Bo? Kau gila! Jangan sakiti dia Minho-ssi!" Ancamnya
"Aku mencintainya.. Aku sangat mencintainya sejak kita sekelas dulu.. Walaupun aku lebih dulu memilih Yoon Ah.. Tapi aku tak bisa mendustai perasaanku.. Aku mencintainya" Aku Minho
"Dan sialnya, dia menceritakan semua perasaan cintanya padamu, kepadaku. dan saat kelulusan tiba datanglah surat cinta itu. Lupakanlah Minho-ssi.. Itu cuma cinta monyet, mungkin Hye Sun sudah melupakannya"
"Aku yakin... Itu hanyalah kebahagiaan kami yang tertunda.." desah Minho
***
"Anyong... Jung Na-imnida" ucap wanita tua sambil membungkukan badannya kearah Hye sun
"Ne anyong... Apakah anda yang diutus oleh pihak managent agency?" Tanyanya sambil tersenyum
"Ne Hye sun-ssi. Mulai saat ini aku adalah managermu, yang akan menghandle semua jadwal modelingmu selama di korea" Tukasnya Ramah
"Baiklah.. Senang bekerja sama denganmu Onnie Jung"
***
Joongie, aku kembali ke korea. Senangnya.. Kapan kita akan bertemu, aku sudah tak sabar
"Hye Sun telah kembali, Minho-ssi" Ucap Hyun joong, sambil menunjukkan layar ponselnya pada Minho
"Aku merindukanmu, Hye sun" batin Minho
"Atur pertemuanmu dengan Hye sun, dan pastikan ia tak akan menolak jika aku ikut" Tegas Minho
"Mwo?! Eh.. Tapi"
"Cepat!"
Lee Min Ho Membuka kaca jendela mobilnya lagi, untuk yang ke enam kalinya. Iris coklat itu tak henti menatap sebuah meja dari cafe di depan mobilnya berhenti.
"Jongie-aa.. Anyong" Sapa Hye Sun, yang baru mengahampiri sebuah meja tempat Hyun Joong menunggu
"Ahhh Hye Sun" Hyun Joong mengadahkan kepalanya
"Astaga Apa kau benar Hye sun? Ya ampun cantik sekali" Pujinya sambil melihat penampilan Hye sun dari atas sampai bawah
"Haha.. Ne ini aku" Hye Sun mengulum senyumnya
Minho POV
Itu dia...
Tunggu.. Dia benar-benar bersinar.. Ya tuhan, Goo hye sun Kau Lebih Indah dari Yang aku lihat di semua Majalah.. Cantik, Menawan.. Tak berbeda jauh seperti dulu.. Ketika kau menarik hatiku untuk melihat pesonamu..
***
"Ah ya ya.. Aku tahu sekali banyak resiko yang aku terima sebagai Model, itu bukan pekerjaan yang mudah" Hye Sun berbicara sedikt kikuk
"Yah saranku.. Pandai-pandai lah untuk memilih karirmu" Cetus Hyun Joong
"Sejak kapan kau jadi begini ?" Tanya Hye sun
"Mwo ?"
"Menjadi bawel sekali.. Hihihi" Balas Hye sun
***
"Ah sial! Mati kau Joongie jika terus tertawa bersamanya. Aku akan kesana!" Racau Minho
Seiring dengan langkahnya, Minho terus berjalan mengahampiri meja cafe yang di huni Hye Sun dan Hyun Joong. Ia menatap Hye sun dari belakang dan
"Hye Sun" Panggilnya lembut. Hye sun yang tengah asyik mengobrol dengan Hyun Joong, kini mengalihkan perhatiannya ke asal suara
"Kau !" Tekannya, menciptakan sorot mata Tajam. Lalu bergilir ke arah Hyun joong
"Apa-Apaan ini ?! Aku tak mengikut sertakan dia disini, Joongie" Balasnya Dingin
"Ah Hye Sun" Selak Hyun Joon
"Aku pamit !" Hye sun memandang dingin Ke arah Hyun joong kemudian menatap Minho sekilas dan langsung pergi
"Adakah Yang ingin Kau jelaskan padaku, Hye Sun" Sambar Minho
"Tidak Ada! Dan tidak pernah ada!" Ucapnya lantang
"Baiklah... Kalau aku ada" Minho langsung menarik tangan Hye sun, untuk mengikuti langkahnya
"Hei lepaskan! Brengsek!" Hardik Hye sun
"Kata kasar seperti itu tak pantas di ucapkan olehmu" Sahutnya datar, sambil terus menarik Hye Sun ke arah Mobilnya
***
"Apa yang kau mau ?" Tanya Hye sun yang tak bergeming dari pandangannya ke arah luar kaca jendela mobil
"Penjelasan, Surat cinta yang kau buat untuk ku" Ucap Minho lantang sambil terur menatap Hye Sun
"Heh lupakan! Anggap saja itu sebuah kekeliruan" Jawab Hye Sun sinis
"Kau tak mau jujur atas pengakuan yang kau buat ?" Balas Minho
"Lalu kau pikir aku harus jujur, jika hal itu dapat membuat kekasihmu terkena serangan jantung!" Pekik Hye sun
"Kau fikir aku bodoh! Mau berbahagia sebentar lalu mendapat tamparan keras di pipiku" Sambungnya lagi
"Buat apa kau melakukannya! Menyatakan cintamu kalau akhirnya akan seperti itu ?! Kau ingin menuntaskannya kan? Mengungkap kan segalanya! Perasaan yang kau pendam sejak dulu" Tutur Minho dengan emosinya. Sedangkan Hye Sun hanya mampu berdiam
Tiba-tiba Minho meraup dagu Hye sun, dan mendaratkan bibirnya ke bibir Hye sun. Melumatnya dengan buas, Hye sun segera meronta dari serangan Minho di bibirnya lagi, akan tetapi pemuda itu merengkuh tubuh Hye sun begitu erat dipelukannya, dan mengecup semua sisi dari bibir Hye sun.
"Ini gila! Oh tuhan jauhkan pria ini dariku" Batin Hye sun
Minho menghentikan ciuman panasnya, setelah puas memberi lumatan di bibir itu dan Plaaak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya
"Laki-laki brengsek! Pergilah selagi bisa aku menganggapmu teman! Asal kau tahu, ya ku akui memang dulu aku Mencintaimu! Tapi itu MASA LALU!" Hye sun segera pergi dari tempat itu
"Kau... Kau harus kumiliki Hye sun. Aku menanti kau begitu lama... Ketika kau meninggalkanku... Dan pengakuan cintamu itu .. Kau harus kumiliki"
***
"Onnie Jung, Apakah Jadwal ku hari ini sudah selesai ?" Tanya Hye Sun Sambil Membersih kan Make-up dari wajahnya
"Ehm belum, apakah onnie sudah bilang. Hari ini Kan ada pertemuan Dengan pemilik Seoul Magazine" Jawabnya Lembut
"Oh iya.. Aku melupakannya! Mianhe" Balas Sun
"Pertemuannya di Resto kecil dekat Apartement mu, Sun" Jung Na mengingatkan
"Oke... I'm understand" Sambung Hye sun di iringi senyum dari maneger-nya itu
***
"Masih memikirkan Hye Sun kah?" Tanya Hyun Joong, dengan meneguk segelas wine nya
"Apalagi yang aku pikirkan selain dia ?" Cetus Minho, menerawang kosong pemandangan di sekitar club
"Aigoo... Ingatlah Minho-ssi dia itu hanya masa lalu... Mending kau urus Yoona kekasihmu itu! Ia bawel sekali.." Gerutunya, sambil menggoyangkan badannya mengikuti irama musik
"Masa Bodo!" Balasnya enteng
"yya Kau ini. Yoona itu minta dibelai olehmu, haha.. Makanya dia bawel sekali" Goda hyun joong
"Jaga Mulutmu!" Sambar Minho Sambil mendelik Tajam
Tak lama berselang, Ponsel Minho pun berbunyi. Dengan cepat Ia mengangkatnya
"Ya, sudah Kau temukan dimana alamatnya" Ucapnya pada lawan bicaranya
"Oke segera. Kau kirimkan padaku" Sambungnya lagi dan Pembicaraan pun berakhir
"Kenapa ?"
"Aku harus pergi" Minho meninggalkan night club dan Hyun Joong
***
"Haaahhh lelah sekali" Desah Hye Sun sambil menarik selimut yang akan membalut tubuhnya di atas ranjang
Ting! Suara Bel berbunyi, Hye Sun Mengkerutka dahinya. Siapa yang akan bertamu? Tidak ada yang mengetahui alamatnya selain manager Jung
"Ya tunggu sebentar" Ucapnya sambil setengah berlari menuju pintu
Hye Sun membuka pintu Apartementnya. Pandangannya berubah ketika melihat siapa yang bertamu
"Kau !" Katanya Sedikit terpekik
Minho yang mendengar Suara Tinggi Hye sun, tak mengindahkannya. Ia memilih Melawati tubuh mungil itu, dan masuk kedalam apartement Hye Sun
"Kau Cantik.." Pujinya memandang foto-foto Hye Sun
"Bukankah aku sudah peringatkan untuk tidak mengusikku lagi" Cetus Hye Sun dingin
"Apakah kau pernah melihatnya.. Melihat aku membalas perasaanmu dengan segala perhatian yang aku berikan padamu" Minho kini memandang Hye Sun
"Jangan di bahas!" Tolaknya cepat
"Kau kira Aku tak merasakan hal yang sama denganmu saat itu! Aku juga mencintaimu!" Ucapnya lantang
"Apakah kau masih bersama Im Yoon Ah ?" Sun berbalik, membelakangi Minho, ia merasa canggung
"Untukmu... Aku bisa meninggalkannya" Bisik Minho tepat di samping telinga Hye sun, ya Minho memeluk tubuh Hye Sun dari belakang
Hye Sun kaget, melihat perbuatan Minho padanya. Pemuda itu mulai mengecup bahu Hye sun dengan mesra
"Apa kau gila! Pergi dari sini" Maki Hye sun, mencoba melepaskan tangan kekar Minho dari tubuhnya
Minho tak bergeming. Ia terus saja mencumbu Hye Sun dengan paksa. Diraihnya tubuh Sun keatas sofa di samping tempat mereka berdiri. Minho memulai ciuman panasnya lagi. Melucuti semua pakaian yang Hye sun kenakan. Lalu mencumbu tubuh itu dengan ganasnya, meski mendapat rontaan keras dari Hye Sun Air mata mulai menggenangi pipi mulus hye sun, mendengar isakan Sun, Minho mengangkat kepalanya dan mengecup pipi Hye sun
"Aku mencintaimu" ucapnya sambil merengkuh tubuh Hye sun
Hye sun tak menghentikannya, perasaanya benar-benar mati. Ia merasa seperti wanita murahan, kala Minho mencumbunya dengan penuh hasrat. Ia terpekik keras saat Minho memasuki tubuhnya, ia menangis dan menjerit keras ketika Mereka mengakhiri permainan.
"Aku benci kau Minho!" bisiknya, sambil mencengkram bahu Minho, dengan tangan yang mendekap leher pemuda itu
"Kita Menikah saja, Hye sun" balas Minho dengan nafas memburu dan masih berada dipelukan Hye sun
***
"Kau Menangis ?" Tanya Minho, Dengan tatapan penyesalan.
"Aku mohon... Pergilah Minho" Desah Hye Sun yang berbaring di ranjang. Posisinya kini, berbalik membelakangi Minho
"Aku tak bisa, Hye Sun" Balasnya cepat. Menatap tengkuk Hye Sun.
"Aku masih bersabar Lee Min Ho, Atas semua yang kau perbuat padaku" Redamnya, sambil Menghapus air mata yang mengalir dipipinya
"Maafkan aku... Aku Tak mau kau pergi lagi" Jawabnya, sambil Memeluk punggung Hye Sun, Mengeratkannya di pinggang ramping itu
"Kau Mau kita seperti apa ?" Tanya Hye Sun
"Aku ingin membalas... Semua cintamu yang pernah kau berikan untuk ku, seharusnya kita bahagia saat ini.. Maafkan aku, jika aku terlambat mengetahuinya" Ucap pemuda itu dengan lirih
"Kau tahu Resikonya? Kau yakin mau melangkah sejauh itu?" Hye Sun membalikan tubuhnya Menghadap Minho
"Kau mencintaiku?" Satu pertanyaan Minho, yang membuat Hye sun Bungkam setengah mati. Minho terus menanti sambil menatap wajah Indah itu.
"Sekarang atau Nanti.. Aku akan mendapatkan cintamu" Balas Minho, Diikuti tatapan Mata Hye Sun.
Hye Sun terus Menatapnya seolah mencari suatu jawaban Dimata itu. Minho merasakan sesuatu, jantungnya berdegup cepat. Ia mengarahkan pandangan kearah lain, tak sanggup melihat balasan mata Hye Sun
"Jangan Memandangiku seperti itu" Tukasnya cepat
"Kau kenapa Tak pernah berubah ya? Ambisimu terlalu tinggi Lee min ho" Celetuk Hye Sun sambil Menatap Minho lagi
"Biarkan... Itu semua karna mu! Apa maksudnya memberi surat cinta lalu pergi begitu saja, itu kejam sekali" Ucap Minho sewot
"Aku mau tidur" Balas Hye Sun, lalu menggerakkan badannya lagi untuk membelakangi Minho
"Kau.. Kenapa kau kembali.. Dengan keadaan seperti ini.. Kau hanya masa lalu Minho.. Aku.. Aku tak bisa mencintaimu lagi" Batin Hye sun
***
"Kenapa rasanya aneh begini?" Minho mengecapkan lidahnya, sambil melirik secangkir teh buatan Hye sun
"Kau berisik sekali! Cepat habiskan sarapanmu dan pergi dari sini" Teriak Sun dari dalam kamarnya
Minho segera melangkah ke arah kamar Hye sun. Dilihatnya wanita itu tengah sibuk memilah-milih dress, lalu memasukkannya ke koper besar
"Apa yang kau lakukan?" Minho duduk disisi ranjang Hye sun. Menatap isi koper yang berada disampingnya
"Aku ada pemotretan pagi ini" Ucapnya sambil memasukkan peralatan make-up ke tas kecil
"Kenapa harus jadi model sih? Apa tak ada pekerjaan lain. Aku bisa memberikanmu pekerjaan di perusahaanku" Ucap Minho enteng. Tak sadar, Hye sun tengah mengepalkan tangannya
"Apa urusannya denganmu? Mau pamer kekayaan, jangan denganku!. Jika kau banyak protes lagi, aku tak akan segan untuk mengusirmu dari sini!" Hye Sun meluapkan emosinya. Minho merasa bersalah, kemudian ia mendekat kearah Hye Sun dan memeluk tubuh wanita itu
"Kau Sensitif sekali. Sepertinya dulu tak seperti ini" Lanjutnya sambil tersenyum.
"Pakai Jas mu dan pergi dari sini! Aku tak mau managerku melihatmu disini" Hye sun melepaskan pelukan Minho, dan kembali memasukkan semua perlengkapannya ke dalam koper
"Kau cantik Hye sun" gumam Minho sambil menatap Hye sun
***
"Mwo?! Kau sakit Minho-ssi" Ucap Hyun Joong dengan suara tingginya
"Hei kau berisik sekali! Kecilkan suaramu itu" Minho membekap mulut Hyun Joong
"Dasar gila! Putuskan Yoona!" sambar Hyun Joong lantang
"Ya pasti akan aku lakukan. Tapi... Apa dia mau menerimanya?" Tanya Minho agak ragu
"Itu urusan mu! putuskan Yoona segera, jika kau tak mau melihat Hye sun menderita"
"Ya arraseo" jawabnya cepat. Minho membuka ponselnya cepat. Dan tersenyum melihat isi pesan Hye sun
"Joongie aku pergi dulu, Hye sun sudah selesai syuting. Aku akan menjemputnya" Pamitnya
***
Hye Sun merebahkan dirinya diatas sofa panjang. kepalanya terasa pening jika mengingat hari ini banyak sekali kegiatan yang ia lakukan.
"Yaa Apa-apaan ini Hye Sun! lihat dress mu terlalu terbuka! Aku tak suka!" Protes Minho sambil menyodorkan sebuah majalah yang berisikan gambar Hye sun.
"Ahh kenapa kau tersenyum dengan pria ini!" Lanjutnya lagi setelah membuka halaman berikutnya
"Karena memang disuruhnya begitu" Jawab Hye Sun singkat
"Ahh i... ini.. Hye Sun kenapa dia mencium pipimu!" Dengus Minho kesal, dia melempar majalah itu dengan kasar
"Pergi kau! Bising sekali mendengar suaramu!" Tukas Hye Sun dengan kasar, kini ia berjalan ke arah kamarnya
"Aku tak mau kau jadi model!" Serunya sambil menghampiri Hye sun
"Memangnya urusanku! Urus saja dirimu sendiri" Hye Sun merebehkan tubuhnya dan menjawab dengan kalimat sederhana
Mendengar itu Minho tak terima. Ia berjalan menghampri Hye Sun dan
"Kau Mau apa?" Tanya Hye Sun, melihat Minho kini menindih tubuhnya
"Kau tak lihat... Aku ini sedang cemburu" Katanya sedikit sewot. Menatap wanita itu dengan dingin
"Heh Kau Bodoh Lee Min Ho. itu hanya pekerjaan, Bahkan di Amerika pun aku bisa berpose liar atau Jadi bintang Icon dari sebuah iklan minuman beralkohol" Terangnya
"Kau Peminum ?" Tanya Minho getir
"Ya.. Kau Pikir Masih ada orang lugu disana? Semua terpengaruh oleh pergaulan" Jawabnya santai
"Aku tak suka Hye Sun, melihat cara hidupmu yang seperti itu" Ucap Minho
"Tinggalkan saja aku! Apa susahnya" Sahut Hye Sun dengan membuang muka
"Tidak! Mulai sekarang aku yang akan merubahnya untuk mu" Balas Minho, sambil menatap Hye sun yang berada dibawahnya
Minho mengarahkan wajahnya ke arah Hye sun. Di telusurinya semua inci dari wajah Hye Sun. Lalu mengunci bibir wanita itu, melumatnya dengan penuh hasrat. Hye Sun tak membalas lumatan Minho sedikitpun, ia hanya berdiam atau merangkul leher Minho dengan kedua tangannya ketika Minho menyalurkan hasratnya
***
Penampilan Hye Sun begitu sempurna dengan gaun pesta bewarna putih yang ia kenakan, sederhana namun terkesan elegan. Ditambah lagi dengan rambut panjangnya yang bergelombang, dia begitu cantik.
"Perfect! Oke ingat Hye Sun, ucapkan salam pada Mr.Kang dan bersikaplah yang ramah" Tukas Jung Na sambil sesekali membutulkan penampilan Hye Sun
"Ne, Jung Onnie" Jawabnya
Hye sun lalu berjalan dengan anggunnya ke arah sang pemilik pesta, mereka nampak berbincang dengan hangat, diselengi senyuman cantik dari wanita itu
***
"Minho-aa tunggu aku" Rengek Yoona manja
"Cepatlah sedikit" Sahut Minho tanpa memperdulikan wanita itu
"Yaa sayang, kau ini cepat sekali jalannya" Yoona kini berada disamping Minho, Mensejajarkan langkahnya
"Haha kalian repot sekali" cetus Hyun Joong dari belakang
Minho dan Yoona memsuki ruangan mewah itu, diikuti Hyun Joong yang berada disamping Minho.
Mata Minho langsung terbelak lebar ketika melihat sosok wanita yang ia kenal sedang terlibat obrolan dengan putra dari pengusaha kaya Mr.Kim
"Hyun Joong lihat itu! Itu Hye Sun" Bisiknya sambil menuntun arah pandang Hyun Joong
"Oh iya, sepertinya dia akrab ya dengan putra keluarga Kim" balasnya berbisik
Minho yang mendengar itu, merasa kesal. Ia terus memandang Hye Sun yang tengah tertawa riang dan diselingi senyuman oleh pemuda asing itu.
Ia sedikit tersentak ketika Hye Sun menjatuhkan pandangan dengannya, lama sekali wanita itu memandangnya lalu kembali berbincang lagi dengan lawan bicaranya
"Joongie, urus Yoona! Pastikan ia tak mencariku" bisiknya lagi. Kemudian ia memandang Hye Sun lagi
"Hye Sun, Kau menguji kesabaranku !" Batinnya. Ia menarik nafas panjang
***
"Yoona cantik ya? kenapa kau mengabaikannya" Hye Sun berucap dengan angkuhnya, sejak ditarik paksa secara sembunyi-sembunyi di keramaian pesta. Wajah angkuhnya tak pernah berubah
"Hye Sun!" Minho memasang tampang kerasnya
"Wae? Aku berbicara benar bukan, Yoona itu cantik" Balasnya lagi
"Kau! Buat apa berkenalan dengan putra tuan kim.. Mau beralih dariku? Apa yang kau lihat dari putra Kim itu! Aku lebih tampan.. Lebih kaya darinya!" Minho memasang tampang geramnya
"Tidak, Aku masih bebas menentukan pilihan bukan?" Kini Hye Sun menatap Minho
"Jangan main-main Hye sun! Aku tak akan melepasmu begitu saja" Minho mulai lemah, ia menatap Hye sun dengan begitu sendu
"Kau sadar tidak? Kau itu terlalu mementingkan perasaanmu! Siapa yang tersiksa? Siapa yang mau diambil kesuciannya? Siapa yang rela menjadi simpanan?" Hye Sun Berkata lantang, sambil terus menatap Minho dengan sorot mata tajam
"Apa kau tak bisa menunggu, Hye Sun? menunggu untuk kita bisa bersama selamanya" Tanya Minho dengan pilu
"Menunggu? Selamanya? Apakah itu bukan waktu yang panjang?" Cetusnya sambil menatap wajah lemah itu
"Kau mau aku putuskan Yoona sekarang, aku mau Hye Sun" Ucap Minho lagi
"Aku tak mau dituduh sebagai wanita Perebut Kekasih orang" Sanggahnya cepat
"Lebih baik kita akhiri saja Lee Min Ho. Buat apa seperti ini, hanya menyakiti perasaan... Masih banyak hal berguna yang bisa kita lakukan" Gumam Hye Sun
"Tidak! Dengarkan aku Goo Hye Sun! Kau yang memulai semuanya! Kau yang menyatakan perasaan mu padaku! Tak perduli itu dulu, aku tak mau kita berakhir" Lapisan Embun mulai menyanggahi kedua mata Minho, Tak lama air bening mulai mentesi pipinya
"Aku mencintaimu Hye Sun, Aku tak perduli kau tak mencintaiku. Aku... Aku mohon Jangan akhiri ini" Ucapnya tertatih tanpa memperdulikan air mata yang mengaliri pipinya
"Hey kau menangis?" Tanya Hye sun lebih pasti lagi, ia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Minho
"Kau keras kepala sekali" Rutuknya sambil menghapus air mata Minho
"Cepat kembali Ke pestanya, Pasti Joongie dan Yoona menunggumu" Tukas Hye sun bersiap mebuka pintu mobil
"Hye Sun" Desah Minho lagi, Ia tak sanggup untuk berpisah Dengan Hye Sun
"Ayolah Minho, Menegerku menunggu. Aku ingin mengantarnya pulang cepat, agar kau bisa tiba di apartementku lebih awal" Ucapnya sambil berjalan keluar dari mobil
"Ahh?" Minho mencerna perkataan Hye sun.
"Hye Sun" Teriaknya sambil keluar dari mobil, ia tersenyum senang dan mengahampiri Hye Sun. Memeluk tubuh wanita itu dari belakang
"Aku mencintaimu" Bisiknya ditelinga wanita itu, lalu melepaskan pelukannya berjalan dengan penuh senyuman meninggalkan Hye Sun yang terdiam sendiri
"Kau Bodoh, Goo hye sun" desisnya sendiri sambil menatap punggung Minho
***
"Minho, Kau menyembunyikan seseuatu dariku, sayang?" Tanya Yoona sambil menatap Minho yang sedang mengemudi
"Mwo? Kenapa bertanya begitu" Minho berubah menjadi gusar
"Anhiyo, habis belakangan ini kau susah sekali aku hubungi. Aku malah sering menghubungi dia" Tunjuk Yoona ke jok belakang mobil. Terlihat Hyun Joong yang sudah tertidur pulas
"Ehm Yoona-ssi... Kalau kita sampai disini saja, bagaimana" Tanya Minho agak ragu
"Mwoga?" Teriaknya keras dan saat itu pula Minho menghentikan laju mobilnya
"Ma.. Maksud mu?" Tanyanya penuh arti. Minho hanya diam
"Ingatlah Minho-a 9 tahun ini! Siapa yang selalu memberimu perhatian! Mencintaimu dengan sepenuh hati. Menemanimu setiap saat. Apakah itu semua masih kurang" Terang Yoona, wanita ini kini menangis tersedu
"Aku tak mau berakhir, Minho-aa" sambungnya lagi
***
Hye Sun mengerjapkan mata bulatnya. Samar-samar ia melihat seorang yang tengah memandangnya tanpa berkedip.
"Kau tak pulang?" Tanyanya yang masih berada di posisi semula.
"Nanti, ini masih terlalu pagi" Jawab Minho sambil terus menatap Hye Sun dengan senyumannya
"Oh.. Aku hari ini akan menghadiri acara launching cosmetic. Aku lupa" Hye Sun segera bangkit dari tidurnya, lalu menarik selimut putih.
Sampai akhrinya suara deringan Handphonenya berbunyi, dengan tergesa-gesa ia mengangkat handphone yg berada diatas meja.
"Hello, This is Hye Sun" Sapanya cepat. Minho yang sedari tadi Hanya diam, kini menghampiri punggung polos itu
"Oh benarkah? Tapi bagaimana bisa" Sambil terus berbicara, Hye Sun mengadahkan kepalanya cepat, saat di rasakan ada sesuatu yang hangat bersentuhan dengan telinganya
"Ya.. Ehm baik Jung Onnie.. Eh iya.." Jawabnya agak melenguh ketika dirasakannya lengan kekar itu mengunci pinggangnya. Hye Sun kembali menatap Minho yang tengah Mengecup Bahu polosnya.
"Oh Aku tak Apa Onnie.. Bye" Dengan muka memerah padam, Pamitnya sebelum sambungan pembicaraan terputus
Minho masih melakukan kegiatan yang sama. Mencumbu bahu, leher, telinga Hye Sun dengan mesranya. Ketika dilihatnya sang kekasih sedang memandangnya dengan wajah sebal
"Eh.." Kekehnya dengan wajah polos
"Mandi sana! Aku mau tidur lagi" Perintah Hye Sun sambil mengenakan kemeja longgarnya
"Bukannya?" Tanya Minho Bingung
"Tidak. Acaranya ditunda, dan hari ini aku libur seharian dari jadwal" Katanya, Bersiap akan merebahkan diri lagi
Minho mengulum senyumnya
"Hye Sun.. Temani Aku seharian Ini"
***
Minho mendengus kesal. Ia memandang Jam tangan Hitam dengan sebalnya
"Menyesal sekali punya bawahan seperti dia" Rutuknya sambil mengangkat kembali kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya
"Sabar itu perbuatan terpuji" Cetus Hye Sun yang kembali mengunyah permen karetnya.
"Aku datang" Ucap Hyun Joong dari Lobi apartement Hye Sun. Dengan penampilan kaos putih oblong dan juga celana jeans ketat serta sepatu kets hitam membuatnya terlihat casual
"Haha.. Kau? Lihat seperti anak ingusan saja penampilan mu" Ejek Minho sambil berdecak pinggang
"Hei, Aku kan buru-buru" Sanggahnya cepat
"Kau tampan, Aku suka kau berpenampilan sederhana" Puji Hye Sun sambil tersenyum
"Dari Pada dia!" Hye Sun kini mengarah Ke Minho
"Lihat.. Mau pergi santai saja penampilannya seperti resepsionis di manegement agency ku" Sambungnya ketus kemudian melangkah menuju mobil
"Apa?" Tanya Minho kewalahan, diselingi tawa Hyun Joong yang membahana
"Joongie! Ikut aku ke toilet. Aku pakai bajumu kau pakai bajuku, pali!" Ucapnya sambil melangkah
***
"Kau suka pantai?" Minho kini mengadahkan pemandangannya dari atas bukit sambil sesekali memperhatikan deburan ombak dari bawah sana
"Tidak juga" Jawab Hye Sun yang duduk diatas kap mobil
"Dulu orang tuaku sering mengajakku kesini" Minho duduk disamping Hye Sun, tanpa mematahkan senyumannya. "Bagaimana dengan orang tuamu?" Tanyanya lagi
"Aku Yatim-Piatu sejak kecil" Jawab Hye sun sambil tersenyum kaku
"Maaf, aku tak bermaksud" Kata Minho Menyesal
"Aku selalu mandiri sejak dulu. Semua kulakukan serba sendiri" Sambung Hye Sun lagi dengan pandangan kosong
"Tapi mulai sekarang ada aku yang akan terus menemanimu" Minho menggapai jemari tangan Hye Sun
"Aku tak bisa menjanjikan untuk selalu berada disisimu" Ucap Hye sun
"Jika Mencintaiku... Aku yakin kita akan bertahan Hye sun" Minho menatap Hye sun
"Ehm.. Ayo pulang, kasihan joongie tertidur di mobil" Elak Hye Sun
"Aku mencintaimu Hye Sun, tapi kau?" Gumam Minho dalam hati
***
Hye Sun mempercepat langkahnya untuk sampai di pintu Mansion Lee. Dengan agak sempoyongan dia melangkah kearah Sofa mewah yang diduduki Minho.
"Ada apa ?" Tanya Hye Sun yang kini berada disamping Minho yang sedari tadi hanya berdiam sambil menundukkan kepala.
"Hye Sun" Ucap Minho pilu, sambil menatap Hye Sun
"Ne" angguk Hye Sun agak kikuk. Tak lama Minho mulai merengkuh tubuh wanita itu ke pelukannya
"Perusahaanku di Jeju.. Terancam bangkrut" Katanya lunglai, sambil menumpu kan dagunya di bahu Hye Sun
"Lalu ?" Timpal Hye Sun, tangannya mulai bergerak mengelus punggung Minho
"Aku yang salah.. Harusnya itu jadi tanggung jawabku.. Tapi aku malah menyerahkannya ke orang lain" Minho melepaskan pelukannya
"Saham perusahaan ku dijual tinggi oleh orang kepercayaanku itu.. Appa pasti sangat kecewa.. Selain perusahaan disini, perusahaan disana juga jadi unggulan" Terangnya dengan wajah tertekan
"Kau punya cara untuk menanganinya?" Tanya Hye Sun
Minho yang akan menjawab pertanyaan Hye Sun, terpaksa mengulur. Hyun Joong datang dengan derap langkahnya
"Minho-ssi aku sudah menghubungi kantor cabang di Jeju, Karyawan disana berangsur-angsur mengundurkan diri" Hyun Joong mengambil posisi di depan pandangan Minho
"Jalan keluar satu-satunya, Tanamkan modal lagi disana.. Beli saham yang dijual oleh orang itu meski harganya bisa berubah dua kali lipat" Saran Hyun joong
"Apapun aku lakukan agar perusahaan itu kembali" Balas Minho
"Baik. Besok aku akan siapkan penerbangan paling pagi.. Aku akan mengutus pak Jang untuk membantumu disana" Sambung Hyun Joong
"Kau tak ikut ?" Tanya Hye Sun pada Hyun Joong
"Tidak, perusahaan disini melakukan tender dengan beberapa perusahaan lain.. Kalau tak ada Minho, Aku yang handle semua" Terangnya
***
Minho menerawang kosong ke arah langit-langit Kamar. Lalu tersadar kembali saat mendengar suara Lemari yang dibuka. Dilihatnya Hye Sun mengambil beberapa kemeja kerjanya dari sana, lalu melipatnya untuk dimasukkan kedalam koper
"Ingat, Jangan mudah lelah. Kondisimu kurang baik, biar nanti aku selipkan obat-obatan untukmu" Gumam Hye Sun sambil melipat lagi kemeja Minho
"Gomawo" Ucap Minho, sambil tersenyum tipis. Mendengar itu, perlahan Hye Sun mengahampiri Minho yang tengah duduk disisi ranjang
"Sabar, Manusia pasti mempunyai cobaan" Hye Sun menepuk bahu Minho pelan. Tapi Minho tak memunculkan reaksi apapun
"Kenapa jadi begini? Ini bukan seperti dirimu, Minho" gumam Hye Sun dalam hati
"Dengarkan aku.. Aku dulu lebih terpuruk darimu, Minho. Syukuri semua yang kau miliki dan ambil semua pelajaran yang menjadi ujianmu" Katanya sambil menatap pria itu
"Aku bahagia bisa mencintaimu, Hye Sun" Tukas Minho sambil menggenggam tangan Hye Sun
"Aku lebih berarti ketika bersamamu.." Ucapnya lirih
Hye Sun tertegun mendengar perkataan Minho, dengan perlahan ia mengantarkan tubuh jangkung itu kepelukannya
"Aku mencintaimu Minho" Batinnya
***
"Tadi Joogie bilang, pesawatnya sudah Take Off" Kata Minho, sambil memperhatikan Hye Sun yang sibuk memakaikan dasinya
"Ya, Ayo keluar" Ajak Hye Sun yang sudah selesai
Minho berjalan sambil merangkul bahu Hye Sun dengan eratnya. Entah karena apa secara mendadak Hye Sun menghentikan langkahnya
"Kenapa Sayang?" Tanya Minho. Hye Sun menatapnya begitu dalam
"Aku mau dengar kata cintamu!" Katanya lantang
"Mwo ?" Minho sedikit bingung. Tapi pada akhirnya ia pun tersenyum
"Aku mencintaimu dengan tulus... Dengan kesungguhan! Tak akan pernah aku menyesal mengenalmu. Hye sun" Ucap Minho sambil memboyong gadis itu kepelukannya
"Ini pasti mimpi.. Minho" Yoona yang sedari tadi berdiri kaku dari kejauhan melihat kejadian itu, berucap pilu
Seminggu berlalu setelah kepergian Minho ke Jeju. Hye Sun masih sama, menjalankan sederet pekerjaannya yang menumpuk di Seoul. Tapi kelangsungan komunikasi masih tetap dijaga pasangan ini
"Bagaimana? Semua sudah lancar?" Hye Sun Berucap sambil menatap dirinya di cermin
"Ne perusahaan bisa dikendalikan lagi" Jawab Minho Ditempat yang berbeda
"Syukurlah" Gumam Hye Sun pelan
"Tak Rindu kah?" Tanya Minho
"Kenapa bertanya begitu?" Balas Hye Sun
"Yasudah.. Aku pulang seminggu lagi ya?" Goda Minho
"Mwo? Eh.. Anhi Minho!" Celetuk Hye Sun secara mendadak
"Kalau Rindu ya bilang saja, Hye Sun" Sambar Minho dengan Tawanya
"Cepat pulang, Minho... Aku.. Aku" Hye Sun berubah kikuk
"Ne?" Tanyanya
"Aku.. Aku mencintaimu" Ucapnya Lantang dan langsung memutuskan sambungan telepon
"Hah.. Astaga" Nafas Hye Sun begitu memburu, jantungnya berdegup lebih cepat. Ia mulai menepuk dada yang terasa sesak itu. Tak lama berselang ponselnya kembali berbunyi.
Lee Min Ho
Tunggu Aku pulang nanti malam. Jangan lari! Haha Apa sebegitu susahnya mengatakan cinta padaku? Tunggu aku Hye Sun.
Hye Sun tersenyum membaca isi pesan Minho, Kini baru ia rasakan.. Ia benar-benar telah jatuh cinta pada Lee Min Ho
***
"Huekkk" Hye Sun menghantarkan dirinya menuju wastafel kamar mandi, seraut wajah pucatnya terpampang jelas di cermin
"Mual sekali" Tambahnya lagi, setelah membasuh bibirnya dengan air keran
Bel apartement Hye Sun berbunyi. Dengan muka yang masih terlihat kuyu dan lesuh itu, Hye Sun berjalan kearahnya.
"Anyong Hye Sun-ssi, Lama Tak berjumpa"
Hye Sun sedikit terpaku menatap tamunya. Paras pucat itu kini berganti mengeras
"Im Yoon Ah" Desisnya
***
Masih dengan suasana yang kaku, Hye Sun menatap Yoona yang duduk di sofanya. Pandangan Angkuh itu tak pernah hilang dari mimik muka Hye Sun
"Hye Sun-ssi" Yoona memanggil Hye Sun dengan lembutnya. Perlahan gadis itu berdiri mensejajarkan pandangan dengan Hye Sun
"Kau.. Begini.. Aku.. Aku" Ucap Yoona gugup, jujur saja gadis manis itu tak sanggup melihat tampang Hye Sun dengan wajah angkuhnya
"Bicaralah Yoona" Tukas Hye Sun dingin
"Hye Sun-sii aku.. Aku mohon jangan pisahkan aku dari Minho.. Aku mohon" Yoona menangis seketika, gadis itu memekik
"Kau mengetahui semuanya" Hye Sun kini menatap Yoona. Sedangkan Yoona hanya mengangguk lemah.
"Ne aku melihat kalian bersama.. Hye Sun. Aku mencintai Minho bukan hanya sekilas.. Aku jauh mencintainya sebelum kau mencintainya" Sambung Yoona dengan air matanya
Hye Sun mengepalkan kedua tangannya, dengan penuh kesakitan ia mencoba mencerna perkataan Yoona
"Aku mohon Hye sun, Lepaskan Minho" Desisnya dibalik isakan tangisnya
"Apakah Cinta itu bisa dipaksakan, Im Yoon Ah?" Tanya Hye Sun, yang membuat Yoona tertegun
"Kau mau memaksakan cintamu? Kau mau mencintai di satu pihak? Cinta bukan untuk mementingkan diri sendiri Yoona-ssi" Sambungnya lagi
"Aku.. Aku bisa berjanji untukmu Hye Sun. Aku tak akan memaksakan cintaku.. Aku akan menunggunnya untuk bisa mencintaiku" Ucap Yoona dengan kesungguhannya, dengan pandangan meyakinkan ia menatap Hye Sun. Tapi Hye Sun hanya berdiam
"Aku mohon Hye Sun, aku tak bisa hidup tanpanya. Aku bukan wanita kuat yang siap melepaskan kekasih yang aku cintai sejak 9 tahun" Yoona kini tersungkup di kaki Hye Sun. Wanita itu meronta-ronta dalam tangisannya
"Bangun Yoona" Hye Sun memapah tubuh wanita ringkih itu
"Maafkan semua ke khilafanku dan Minho" Air mata mulai berlinang dipipi mulus itu. Yoona segera membawa Hye Sun kepelukannya. Kedua wanita itu menangis sambil berpelukan erat.
"Aku yang akan mengakhirinya" desis Hye Sun
***
Hye Sun melepaskan pelukannya pada Yoona, keduanya saling menatap sambil tersenyum kaku. Yoona tersenyum lemah, Hye Sun kemudian mengelus Lengan mungil itu sambil tersenyum, senyuman ikhlas yang ia berikan untuk Yoona.
"Gomawo" gumam Yoona
"Ne" Balas Hye sun lembut
"Aku ingin bersahabat denganmu.. Mengenalmu lebih jauh, Hye Sun-ssi" Ucap Yoona Menggenggam pergelangan Tangan Hye sun
"Kau tertarik denganku ?" Hye Sun terkekeh. Keduanya saling menatap, dan tertawa bersama
"Huekkk" Seketika Hye Sun merasa mual lagi. Tepat saat itu, suara telepon Berbunyi
"Hye Sun, Kau tak Apa?" Tanya Yoona getir
"Ne, Aku angkat telpon dulu Yoona" Jawabnya pelan, sambil melangkah
Hye Sun menatap Layar Handphonenya tertera nama 'Joongie' di sana, Entah kenapa perasaanya menjadi gusar, perlahan ia pun mengangkatnya.
Hal yang pertama di dengarnya Adalah suara Tangisan dari pria itu, Hye Sun mencoba menenangkannya. Lalu kini, Ia yang terasa Lemah. Mati itulah kata yang ingin ia lakukan setelah ini. Air mata mulai berlinang, Handphone terjatuh kebawah. Hye sun merosot dari posisinya
"Lee Min Ho!" Jeritnyanya membahana sambil meraung-raung Di dalam tangisnya
***
Taman pemakan itu nampak Ramai. Sejumlah Kerabat, Keluarga, Dan kolega bisnis menyempatkan datang ke Pemakaman Lee Min Ho.
Setelah menabur Bunga dan Berdoa. Para Tamu mulai meninggalkan areal pemandangan satu persatu. Joongie dan Yoona masih saja menangis Pilu di depan Batu Nisan dengan nama Lee Min Ho yang tertera disana
"Harusnya Aku ikut denganmu Minho-ssi, Kalau begini kecelakaan itu pasti tak terjadi" Ucap Hyun Joong dengan Emosinya. Ia memluk batu nisan itu
"Minho.. Kenapa kau tinggalkan aku ?!" Jerit Yoona yang mengais-ngais tanah merah itu.
Mr.Lee memandang Lemah Semuanya. Lalu ia melihat Hye Sun, Ya dia sudah mengetahui semuanya. Hubungan Minho dan Hye Sun. Dilihatnya gadis berkerudung Hitam itu masih terdiam berdiri Kokoh. Kaca mata hitam menutupi mata merah sembabnya.
"Tabah Hye Sun" Mr.Lee kini berdiri disamping Gadis itu. Sambil menepuk pelan bahu Hye Sun
"Ne, Tuan Lee" Ucapnya pelan sambil memandang Batu Nisan itu
"Aboji akan pindah Ke New York. Sudah tak ada lagi keluarga Aboji yang menatap disini kecuali Kau dan Cucuku" Pria Itu Berucap lemah
"Jaga Cucuku Baik-baik, Hye Sun. Aboji sangat Bersyukur Kau tak menyia-nyiakan Hidupmu. Dan masih menganggap Anak Ini" Ya jika saja Hye Sun tak mengandung saat Ini. Mungkin ia akan menyusul Minho
"Dia adalah Setengah dari bagian Minho. Aku Tak akan Mau kehilangannya" Balas Hye Sun
***
4 Tahun Kemudian
Shi Won membuka pintu Mobilnya. Pandangannya menelusuri areal pemakaman. Masih Ia hapal letak Pemakaman Minho karena Hye Sun sering mengunjunginya
"Lee Jin Ho" Shi won Tersenyum lebar, dan merentangkan kedua tangannya
"Ajushi Shi Won" Seorang anak lelaki mungil berlari kearahnya
"Haha Anak Pintar" Balas Shi Won Ketika anak itu memeluknya
"Iya, Aku kan anakknya Appa Minho. Omma bilang Appa itu cerdik dan lugas. Aku kan mau seperti Appa" Jawab anak itu polos
***
"Kau yakin. Shi won kau angkat jadi wali Jin Ho" Tanya Joongie
"Ne. Lagi pula kalau kau yang aku jadikan wali. Aku yakin Yoona pasti cemburu" Goda Hye sun
"Kau sendiri, Tak mau menikah dengan Shi Won" Balasnya
Hye Sun terdiam sambil menatap Batu Nisan itu
"Cintaku Abadi untuk Minho" Jawab Hye Sun
Lee Min Ho;
Takdir Menundanya Lagi. Dengan mu Aku belajar apa itu arti kesetiaan. Tak perlu bersama, aku tahu kau mencintaiku. Dan saat itu tiba, Aku menunggumu.. Membukakan pintu Surga-Ku untuk Kau Huni, Goo Hye Sun.
***
THE END
[/color]