Chapter 5[/b]
Cast
Goo Hye sun aka Goo Min Hye
Lee Min Ho aka Lee Sun Ho
Park Min Young aka Miny
[/b]
“cukup malam ini sampai disini sunho-a” ucapku sambil mengecup lembut bibir itu sekilas dan tersenyum...
Mata sunho hanya bisa melotot tak percaya...
“arrrggg..... chakaman”
“mwo?”
Keadaan sunyi kembali, dan aku tak mampu membaca pikiran sunho saat ini..... siapa yang memulai semua ini dan siapa yang patut disalahkan???
----------------
“Balik badan”
“untuk apa?”
“aku mau ganti baju...”
“tidak mau...”
“kau ini.... benar-benar gila ya...”
“toh juga aku sudah melihat hampir seluruh dari tubuhmu itu”
“yaa... lee sunho” agak ku tekan nada bicaraku namun hampir terdengar seperti bisikan
“baiklah...”
Saat melihat sunho membalikan badannya, segera ku berjalan menuju lemari baju dan melepaskan handuk yang tadi sempat melilit tubuhku dan segera memakai underware warna pink dan selanjutnya memilih bra dan mengkaitkainnya segera setelah itu memakain gaun malam, namun karena terburu-buru dengan maksud agar sunho tak melirikku dengan mengenakan bra dan CD saja, tapi malah yang ada kini rambut panjangku tersangkut oleh resleting gaunku, dan sialnya lagi aku tak bisa menaikan resleting itu susah payah, hingga sebuah tangan kekar itu menyentuh punggungku halus
“aku bantu menaikan resletingnya ya?” pinta sunho saat kusadari ia tepat berada di belakangku sambil megusap lembut punggungku dan memisahkan rambut panjangku yang tadi sempat tersangkut di resleting gaunku itu
“ya... apa-apaan kau ini?” aku pura-pura menolak tawarannya
“liat... rambut halusmu hampir saja rusak gara-gara resleting gaunmu”
“aku...” aku berusaha menyangkal itu, namun suara sunho mengalahkanku
“ kenapa kau pura-pura tak menyukai ini minhye?” bisiknya tepat ditelingaku dengan tangan yang masih setia mengelus punggungku dan hendak menyusupkan tangannya di balik bra pinkku
“jangan sekarang sunho-a... paman jung akan bingung saat aku tak kunjung turun sekarang juga... makan malam sudah menunggu, arasseo...”
“ara...” jawabnya enteng dan segera melepaskan usapannya di punggungku dan segera memasang resleting itu
“gumawo” tuturku pada saat gaun itu sudah terpasang rapi
“sepertinya aku sangat berusaha keras untuk menahan nafsuku, sedangkan kau malah biasa-biasanya saja..”
“yaaaa......!”
“eh... kenapa kau nampak rapi dengan gaun seperti itu, apa kau hendak keluar malam ini?”
“oh... aku hampir lupa, bahwa aku berniat keluar malam ini”
“dengan siapa?”
“jika kau mau menemaniku, aku tak keberatan”
Sunho hanya tersenyum mendengar kalimatku
“aku akan makan malam, sebaiknya kau turun dari lantai kamarku dan ikutlah bergabung bersamaku di ruang makan, dan datang sebagai tamu.. bukan sebagai pencuri seperti sekarang ini”
“baiklah...”
--------------------
Setelah sunho keluar melalui balkon , saat ku duduk dengan santapan malam,, seperti yang ku suruh.. tiba2 paman jung datang ke tempatku duduk
“agashi... ada seseorag yang mencari agashi, namun jika agashi menolak, saya bisa menyuruhnya untuk bertamu lain kali”
“andwe... aku sengaja paman jung, ia adalah tamuku... jadi persilahkan ia masuk”
“dhe agashi”
Sunho tersenyum saat memasuki ruang makan
“duduklah...” perintahku
Malam itu aku dan sunho pertama kalinya makan bersama seperti acara makan malam romantis, sengaja ku suruh paman jung memakai lilin kecil di tengah meja besar itu, di balik cahaya lilin-lilin itu wajah sempurna milik sunho benar-benar terlihat nyata, aku rasanya tak menyangka ia tengah duduk berhadapan denganku.. dan siapa yang menyangka bahwa kami beberapa menit yang lalu telah bercumbu
--------------
“paman tak usah khawatir, saya akanmengunjungi suatu acara teman, jadi mungkin akan pulang larut atau mungkin saja pulang pagi,..” tuturku pada paman jung saat hendak meninggalkan Goo mansion
“tapi agashi... tidak takut pergi sendiri?”
“saya pergi dengan teman paman”
“maksud saya.. apakah agashi tidak diantar oleh supir pribadi”
“tidak usah... saya akan naik sepeda motor”
“saya khawatir agashi akan kedinginan”
“anyi.. sudahlah paman, paman percaya pada saya... saya ini wanita dewasa paman”
“chusuhamnida..”
Dan saat mendapat persetujuan paman jung aku dan sunho pergi meninggalkan goo mansion dengan alasan menghadiri acara teman, nyataya aku ingin mengujungi tempat lain bersama sunho... meskipun hari ini begitu letih, namun terbayar dengar rasa bahagia saat menatap wajah tampan sunho
Malam ternyata begitu dingin, aku meringkuk dan menggigil saat motor sunho melaju dengan kencangnya, sedangkan gaun yang ku pakai membuatku susah untuk memeluk tubuh sunho, mengingat gaya dudukku menyamping.... makin ku pererat pelukan pada tubuh kekar sunho, namun hasilnya nihil... aku tetap kedinginan,,, aku yang tak biasa merasakan langsung diterpa angin malam,,sungguh membuat dingin tubuh ini, untungnya sunho segera memberiku mantelnya walau sempatku menolak, karena kasihan dia... ia juga Cuma mengenakan kemeja tipis... namun itu tak berlangsung lama, saat ku pinta sunho untuk berhenti di sebuah bar, dimana perjumpaan pertamaku dengan sunho
“mwo? Mau berhenti disini?”
“dhe.. kenapa? Keberatan?”
“aku rasa wanita seperti dirimu tak pantas berada dalam bar itu”
“kau tega sekali melarangku, aku sudah sangat kedinginan begini. Setidaknya kau beri satu gelas wine padaku”
“malam ini aku sedang cuti, jadi tak ada waktu menyuguhkanmu wine”
“kau datang bersamaku... bukan sebagai seorang bartender seperti kita pertama berjumpa” tegasku
“tetap tidak.... di dalam bahaya”
“kan ada kamu” aku mencoba merayunya
“tapi sebentar saja ya..”
“Ok”
Dan kami pun segera memasuk bar 2xx itu, waw... rame juga.. tak seperti pertama kali aku datang kemari, memang saat itu bar ini sudah tutup, namun sekarang begitu rame.... aku dan sunho segera mengambil tempat duduk
“hey bro... aku minta segelas wine” pinta sunho pada bartender di sana
“silahkan... eh... kau?, kau sunho kan?” tanya bartender tersebut
“ne.. ini aku, ada yang berbeda?” tanya sunho pada laki-laki yang bertubuh agak gemuk itu
“kau datang dengan siapa?” tanya laki-laki itu, namun sunho hanya terdiam... mungkin karena penampilanku tak biasanya sehingga mereka tak mengenali aku yang seorang ahli waris goo’s group. Sunho terdiam saat pertanyaan itu terlontar dari bibir laki-laki gemuk itu, apa yang ia pikirkan, apa yang akan dijawabnya, Kekasih? Apa sunho akan mengakuiku sebagai kekasihnya di depan teman-temannya
“teman...” jawabab itu sontak membuatku kaget
Apa? Sunho bilang kalau aku ini hanya teman? Kenapa? Tak mau mengakuiku sebagai kekasihnya? aku sudah tak kuat saat menyadari akan hal itu, segera ku sambar gelas berisi wine itu, tanpa menoleh lagi ke arah sunho... meneguknya dengan kasar dan saat habis, aku meminta lagi
“satu gelas lagi...!!” pintaku
“andwe... jangan berikan lagi...” larang sunho
“aku bilang satu gelas lagi, kau tuli ya? Aku akan memabayar... yaa tentu saja aku akan membayar, aku bukan wanita miskin,...”
“ya... kau tadi sudah janji akan minum Cuma satu gelas kan?”
“itu kan tadi... aku belum hangat, tubuhku masih kedinginan, lagian ini belum apa-apa” tolakku
Segera aku sambar botol yang hendak dituangkan oleh laki-laki gemuk itu, ku tuang kembali, jujur aku benar-benar belum mabuk, tapi karena luapan emosi pada sunho yang membuatku semarah ini... apalagi saat terdengar suara centil dari belakang
“oppa...! yaa... kau sunho oppa kan?” ku lirik gadis itu, owh... benarkah dia seorang gadis atau yang bertugas melayani laki-laki yang datang ke bar ini.. liat saja dandanannya, ya ampun aku kalah seksi... buah dadanya menyembul keluar dan menempel di lengan sunho... aku semakin memanas, ku tatap sunho namun ia tak bereaksi.. jelas saja... paling dia malu ketahuan belangnya..
“yaa... miny... sudahlah... kau masih banyak pelanggan, pergi sana”
“oppa kau kenapa? Apa karena ada eonnie ini?”
Cih... aku dipanggil eonnie... berarti penampilanku kaya wanita dewasa banget ya?, tapi tidak seperti pelacur kan...? andweeee....... >,<
Aku membuang muka, aku menyesal masuk ke bar ini... aku bangkit dari dudukku, karena bingung melihat sunho yang sibuk megurusi gadis centil itu, hingga tak sengaja tubuhku menyenggol lengan seseorang
“hei... anak baru ya?”
“mwo? Maksudnya?” tanyaku tak mengerti
“berapa hargamu?” jadi dia menganngapku seperti wanita di dalam bar ini?, ia aku salah... aku memang tengah berada dalam bar pula, namun aku tak terima saat laki-laki itu hendak menawarkan harga tubuhku, sial.... ku tampar pipi yang berlemak itu dengan keras hingga menimbulkan suara yang agak keras
“yaa.... perempuan sialan.... kau ini berani-beraninya menamparku?” laki-laki itu tak terima hingga tangannya terkepal hendak menampar balik padaku, namun saat itu pula sunho datang dan mencegahnya
“sedikit saja kau sentuh dia... aku akan patahkan tulang sendimu, ARA?”
Wajah sunho mengeras dan tangannya terkepal kuat,,, segera sunho menggambit tanganku keluar tempat itu,,,,
Aku menangis sepanjang penjalanan, tapi tak dihiraukan sunho... bagaimana caraku menyikapi prilaku sunho? Apakah ini sunho yang ku kenal lembut itu? Ato ini memang kesalahanku? Seandainya aku tak memaksa untuk masuk ke tempat itu, mungkin tak akan terjadi kejadian seperti itu
Sampai tiba di rumah yang tak asing buatku, sunho tetap menggambit tanganku masuk... tanpa harus menoleh padaku
“eommaku, sedang tidak ada d rumah malam ini, kau bisa tidur di kamar eomma... aku akan persiapkan selimut dan baju ganti...” ya... sekarang aku tengah berada di rumah sunho
“kau marah padaku?” tanyaku pada sunho, namun ia tetap melangkah masuk...
“seharusnya aku yang marah padamu LEE SUN HO.....!!, hiks hiks “ aku tak mampu membendung perasaan kacauku
“aku rasa kau mulai mabuk” tuturnya tenang namun terdengar seperti desahan berat
“aku hanya minum 2 gelas, kau bilang mabuk?, kau yang mabuk...”
Sunho terdiam saat ku lontarkan kata-lata itu, dan berbalik menghadapku
“kenapa kau jadi seperti ini? Ini bukan minhye yang ku kenal”
“apa yang kau tahu dariku?, kau bahkan baru beberapa hari mengenalku, dan aku juga tak tahu tentangmu... aku seharusnya sadar.... kehidupanmu penuh dengan perempuan-perempuan semacam itu”
“jangan lanjutkan kata-katamu minhye”
“kenapa? Kau malu aku mengetahui belangmu?, kau... memanfaatkan keluguanku”
“siapa? Aku tak pernah berniat seperti itu?”
“kau seolah tak peduli padaku....kau berubah saat kau memasuki duniamu... kau hanya
mempermainkanku... hiikss..kau bahkan hanya mengatakan pada mereka bahwa aku hanya seorang teman bagimu, padahal aku yang berusaha ingin memasuki duniamu, aku yang ingin.........” kata-kataku terhenti saat tiba-tiba mulutku tersumpal oleh bibir padat itu, aku berontak dengan ciuman itu, apalah arti ciuman dan cumbuanmu ketika aku harus menyadari aku hanya seorang teman bagimu
“lepas... lepaskan aku pria berengsek” jeritku
Namun seolah itu hanya sia-sia... dia seolah-olah menghujamkan jarum pada bibirku, hingga aku meringis kesakitan...
“bisakah kau lepaskan bibirku dari bibirmu? Kau mem....hhff” aku tak mampu melanjutkan kata-kataku lagi namun kai ini lebih lembut dan dalam sejenak pagutan bibir itu terlepas
“aku tak ingin seseorang menyentuhmu, aku tak mau seinci tubuhmu disentuh pria lain, aku cemburu saat laki-laki itu hendak menyentuhmu, aku marah saat ia menyamakanmu dengan wanita disana”
“lalu apa kau boleh disentuh wanita lain, kenapa hanya kau yang boleh.. apakah aku hanya seorang teman jika kau sendiri merasa menguasaiku?”
Tiba-tiba sunho menarikku dan menjerat tubuhku dalam pelukannya
“aku tak ingin reputasimu sebagai penerus goo’s group hancur, aku tak mau mengakuimu sebagai kekasih karena aku takut menghancurkanmu, percayalah padaku..
“jadi itu alasanya? Tapi kenapa Saat wanita itu menyentuhmu, kau diam saja..?”
“ya... aku tahu itu salahku membiarkannya bergelayut manja di lenganku, karena aku sama sekali tak ingin ia mencari ribut”
“aku ingin mereka tahu bahwa aku adalah kekasihmu, sehingga tak ada lagi yang berani menempelkan dadanya dilenganmu”
“kau melihat itu?”
“tentu saja.. dan kau tak menghindar sedikitpun, kau........”
Belum habis kata-kataku, bibir lembab itu telah menempel di bibirku, hingga akhirnya ku sadari aku terlalu naif menolak cumbuannya... aku sangat menyukai semua ini, aku... aku tak mampu mengatur nafas saat bibirnya mengusai setiap jengkal tubuhku.
Bibir itu merayap di pundakku dan saat itu pula ku rasakan tangan kekar sunho menyibak rambutku dan terasa bibir itu mengecup lembut leher bagian belakangku, seiring dengan terlepasnya resleting gaunku, hingga kini yang nampak hanya bra dan CD,,,, mataku sudah tak mampu menahan birahi... aku menginginkan ini... ciuman semakin memanas ditambah dalam jarak sedekat ini, dadaku dan dadanya menempel ketat, tubuh ini telah diraupnya, hingga yang ada kini tubuhku tertindih oleh tubuh jakung itu...
Saat itu pula sunho melepaskan semua pakain yang melekat di tubuhnya, kecuali underwarenya, aku melihat betapa besarnya sesuatu dibalik underware hitam itu, nafasku tersendat saat itu pula, namun tak berlangsung lama ketika bibir itu kembali mengecup bibirku dan turun ke leher hingga tangan itu menyusup di balik braku dan meremas dadaku
“lepas.... aku minta lepaskan pengait braku” pintaku karena sudah tak tahan lagi, dan saat itu pula sunho melepaskannya dengan mudah.. hingga sekarang kami sama2 telanjang bagian atas, posisi semakin initim, aku merasa sesuatu menggesek gesek di antara pangkal pahaku... suatu yang besar dan menggetarkan, sementara mulutnya telah terbenam pada ke dua buah dadaku yang diemutnya bergantian... sontak membuatku mengerang kuat... seprai sudah sangat kusut karena ku remas.., ia bermain terlalu lama di kedua buah dadaku, sementara sesuatu yang keras itu terus bergesek di antara pangkal pahaku..., hingga akhirnya aku rasa CD basah karena menahan sesuatu itu..
“sun...sunho-a... jangan menyiksaku seperti ini”
“aku ingin membuatmu terangsang dulu minhye-a”
Sungguh aku tak mampu mengendalikan diri... bibirku ku gigit keras,, tubuhku terangkat ke atas... agar mampu menyeimbangi permainan sunho, bibir sunho kini tak lagi di dadaku, ia mulai bergerak turun, ke pusar... menciumnya kemudian turun ke paha, ke lutut dan ke mata kaki lalu naik lagi di antara pahaku, sensasi luar biasa seperti menyetrum tubuhku, aku menegang saat bibir lembut sunho terasa di bagian vitalku, tubuhku melengkung, ku pastikan sekarang CD telah benar-benar basah,
“hentikan sunho... itu menjijikan” tolakku namun dengan nafas yang tak beraturan, sunho tak mengubris kata-kataku ia terus saja menciumminya sampai terlepas sudah CD itu ia masih tetap berada di sana, lidah kasar, bibir lembut terasa mengoyak isi tubuhku... demi apapun aku sepertinya sudah sangat terangsang... ini gila aku mencapai kenikmatan itu lagi, lebih dulu dari sunho... aku mengerang dan tubuhku langsung lemas, ku tatap wajah sunho yang kini tepat berada di depanku, mengecup mesra bibirku
“minhye-a.... kali ini kau mengijinkan aku tuk melanjutkannya kan?”
“dhe... kau curang, kau belum telanjang sunho...”
Dikecup kembali bibirku, begitu lama hingga membuatku bergairah kembali, dan ku balas ciuman itu lagi, sunho mendekap tubuhku kuat, dan memutar seketika... hingga kini aku yang berada diatas... ku kecup dada sixpact itu ia mendesah... lalu turun ke perut, dan mataku tertuju pada sesuatu yang agak menonjol itu, ku pegang... aku merasa bergetar... baru kali ini aku menyentuh sesuatu yang sangat keras, ku tatap wajah sunho dan ia sangat menikmati saat tanganku mencoba merayu kejantannanya.. ku elus dan sedikit ku tekan
“min... hyee....... aku tak kuat...”
Mwo... baru disentuh seperti itu saja ia sudah menggigil, aku tak mau sampai disitu, hingga ku beranikan diri melorotkan underwarenya,, alhasil membuatku sempat tercengang dengan ukuran yang super itu.. tegak berdiri menantangku,
“sentuh min.. hye... kau harus merasakannya” perintah sunho padaku
Ku dekatkan wajahku pada kejantanannya, kumainkan bagian itu dengan mulutku, sedikit jijik, namun tergantikan dengan getaran tubuh sunho yang meembuat diriku berani lebih jauh..
Cukup lama bermain disitu hingga sunho tak tahan lagi, membalikan posisi seperi semula, aku dan dia sudah diubun2... dan ku rasa malam ini saatnya, aku mencintainya.. jika aku ini wanita bodoh, anggap saja itu benar...
Kejantanan itu mencoba memasuki tubuhku,
“sempit sekali minhye” keluh sunho padaku hingga membuatku terkekeh
“siapa suruh kau terlalu besar”
“tapi ini tak akan sulit saat sebelumnya kau sudah menduluiku merasakan puncak kenikmatan itu’
“aww...” aku meringis kecil saat kejantanan itu mendesak masuk, dan ku rasa ngilu saat sesuatu yang ada dalam tubuhku robek.. owh.. apakah itu serabut keperawananku?, sunho.. sunho kau berhasil
Dan saat hampir semuanya berada dalam tubuhku,, sunho tersenyum da mengecup keningku,
“kita mulai sekarang... permainan yang sesungguhnya”
Ku jambak rambut tebal itu saat tubuhnya turun naik di atas tubuhku, dan ku rasakan bagian vitalku mulai licin, terdengar decitan kejantanan sunho keluar masuk tubuhku....
Peluh sunho menetes membasahi dadaku... begitun rambutnya yang lebat.. aku bagai terkoyak habis oleh tubuh kekar itu... dan saat itu pula ku rasakan sesuatu mendesak keluar
“sunho... aku,,, aku hampir mencapainya...” ucapku seperti terdengar seperti bisikan, namun sunho terus saja memompa tubuhku semakin keras...
“sedikit lagi minhye... tunggu aku..”
Dan selang beberapa detik,,,, sunho telah mengeluarkan kejantanannya dari tubuhku...
“aku akan mengeluarkannya di luar mihye”
sumpah demi apapun, aku tak mampun bergerak,,, hanya mampu mengerang saat .... sunho mengeluarkan cairan kental itu diatas perutku dan sedikit membasahi daerah vital bagian luar tubuhku, sunho tergolek lemas di sampingku, kepuasan telah kami capai, ia menatapku yang masih lemas
saat rasa tubuh ini mulai kembali, tubuhku menghadap sunho, ku elus wajah tampan itu,,,
“sunho” panggilku, sunho tersenyum dan mencium tanganku
“sarangahe minhye, cheongmal saranghae”
Ku peluk akhirnya tubuh itu
“gumawo sunho...”
Kami tersenyum menatap satu sama lain
----------------
Aku cukup kelelahan hanya dengan bermain satu kali saja, karena dalam sekali permainan aku dua kali mencapai kenikmatan, tepat pukul 2 dini hari, mataku menatap wajah sunho yang masih belum terpejam juga
“lagi memikirkan apa?” tanyaku
“aku tak mengira kau akan menyerah malam ini”
“kau menyesal?” tanyaku agak takut, ia sontak melirikku
“pertanyaan bodoh, seharusnya itu pertanyaanku untukmu, apa kau menyesal telah menyerahkan keperawananmu padaku?”
“sama sekali tidak, karena aku yakin kau akan selalu di sampingku, aku meyakini itu”
“gumawo buat kepercayaan itu, kau adalah wanita satu-satu yang mampu membuatku seperti ini, ini kai pertamanya aku bisa bertindak seberani ini pada wanita”
“benarkah?, aku pikir kau sudah berpengalaman dengan teman2 barmu itu” candaku
“anyi” wajah sunho nampak serius
“aku selalu menolak ajakan mereka, terutama miny, aku tahu dia sangat seksi, namun aku tidak pernah terpikir akan menerima ajakannya itu, 10 kali ia tawarkan, 10 pula aku menolak... karena ku tahu aku tak seperti laki-laki yang pernah ia ajak tidur, aku mungkin tak sebanding dengan laki-laki dewsa itu”
“tapi bagiku kau sangat hebat sunho-a”
“benarkah? Kau juga nampak hebat minhye”
“ohya... berapa umurnya gadis yang bernama miny itu hingga ia memanggilku eonnie, apa karena penampilanku yang tadi norak ya, apa terlihat seperti perempuan2 itu..?”
Telunjuk sunho menempel di bibirku saat ku akan mengatakan kalimat yang agak tak pantas disebutkan oleh wanita karir sepertiku
“kau tak akan sama seperti mereka, aku mohon jangan katakan kata itu lagi,,, miny usianya sama seperti aku”
“lalu kenapa ia berani memanggilku eonnie,,, sebenarnya berapa usia kalian?”
“kenapa tiba-tiba menanyakan usia? Apa saat kau tahu usiaku kau akan menyesal telah dicumbu oleh anak ingusan seperti aku ini?”
“aku tak bisa menebak usiamu, karena ku rasakan kau begitu hebat saat di atas ranjang, bahkan untuk wanita dewasa sepertiku”
“aku baru 22 tahun”
“cheongmal?, kau 2 tahun lebih muda dariku?”
“dhe... aku tahu kau lebih tua dariku, tapi apa salahnya?”
“anyi... kau tahu.... aku malah sempat menolak seseorang yang satu tahun elbih muda dariku, aku bukan tipe wanita yang suka berondong... aku menginginkan laki-laki dewasa”
“mwo? Jadi...?”
“tapi bagiku kau lebih dari lak-laki dewasa sunho.....”
“minhye...”
‘hm?”
“jinja jinja saranghae...”
“hahaha... peluk aku sunho”
---------------
Mentari telah menerobos dari celah celah kamar itu, ku masih enggan membuka mata tubuh sunho masih memeluk erat tubuhku.. namun tiba-tiba terdengar suara memanggil nama sunho dari luar kamar
“sunho... apa kau masih tidur, eomma pulang sayang...” mwo? Eomma sunho sudah balik dan sontak membuat sunho terbangun... aku tak sempat mengelak, saat wanita paruh baya itu nyelonong masuk ke dalam kamar sunho dimana akupun masih berselimut dengan ketelanjangan kami berdua, sial.... telat sudah
“kalian? Apa yang kalian lakukan?” mata itu hampir tak percaya...aku sangat bingung harus berbuat apa, karena tubuhku masih polos, dan saat sunho terbangun, ia juga masih polos, kulihat bercak-bercak darah pada seprai itu, aku malu....
“sunho-a... cepat pakai pakaianmu, temui eomma di ruang tengah” nada itu terdengar marah. Dan aku merasa seperti maling yang tertangkap basah..
Haruskah aku menyusul sunho dan mengatakan kalau aku yang menggoda sunho agar sunho terbebas dari amukan sang eomma? Tapi tak mungkin karena ku rasakan disekitar pangkal pahaku terasa ngilu begitupun pada perutku, masih sakit...
Ku mohon eomma.. ini tidak sepenuhnya kesalah sunho
Tebece ^’^
[/color][/size][/b][/b][/b]