Spoiler ...
“Lihat!!”
Sheldon menunjuk ke depan setelah menghentikan langkahnya. Elsie yang berjalan dengan kepala tertunduk mengangkat malas kepalanya yang terasa berat. Namun, …. Matanya terbelalak seketika.
“I .. ni …. “ Mulut Elsie tergangga tak percaya. “Ba .. bagaimana … mungkin … ?”
“Indah ya?” tanya Sheldon dengan nada yang sangat halus.
Tanpa terasa, … Elsie mengangguk. Dia tidak mampu menjawab. Dia seakan dibuat membisu oleh keindahan yang terhampar di depan matanya sekarang.
Sepasang mata Elsie terbelalak lebar. “Apa?!!” Elsie berbalik dengan cepat, menatap penuh kebencian pada postur yang semakin menjauhinya itu.
“APA YANG KAU TAHU?!!!” teriak Elsie sekeras-kerasnya. “APA YANG KAU KETAHUI TENTANGKU? APA???!!! JIKA TIDAK TAHU APA-APA, SEBAIKNYA KAU TUTUP MULUT—PRIA TIDAK TAHU DIRI!! KAU—HANYA SEORANG BAWAHAN!! TIDAK BERHAK MENASEHATIKU!!!”
Elsie melempar ranting kering yang disambarnya dari pinggir kolam ke bayangan Alden yang sudah menghilang di balik bayang-bayang pohon dan pintu taman. Pelan tapi pasti, bulir-bulir air menuruni sepasang matanya.
“Kau tidak tahu apa-apa tentangku .. “ Elsie terisak halus. “ … apa hakmu berkata seperti itu …. Kau bahkan … bukan apa-apaku, lalu mengapa …. Apa hakmu …. “
Elsie menutup wajah dengan sepasang tangannya dan menangis tersedu-sedu.
“Tidak ada yang akan mengerti … tidak akan … “