Poll

okay, gw buat polling lagi yg berhubungan dgn karakter mh. kesempatan terakhir, siapa yg anda inginkan tuk jd mh??? perlu diingat, jumlah vote tdk mempengaruhi keputusan terhdp penentuan karakter mh, gw cuman ingin liat suara hati para pembaca sekalian, t

Sheldon
6 (40%)
alden
9 (60%)

Total Members Voted: 13

Author Topic: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 9#  (Read 13346 times)

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #ILER DOANGGGG#
« Reply #255 on: January 13, 2012, 05:02:03 am »
Emoticons0427 Emoticons0427 Emoticons0427 Emoticons0427 Emoticons0427 [AddEmoticons04254] [AddEmoticons04254] [AddEmoticons04254] [AddEmoticons04254] [AddEmoticons04254] [AddEmoticons04254] Emoticons0423 Emoticons0423 Emoticons0423 Emoticons0423 Emoticons0423 Emoticons0423 Emoticons0423 Emoticons0425 Emoticons0425 Emoticons0425 Emoticons0425 Emoticons0425 Emoticons0425 Emoticons0425 Emoticons0425 [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04233] [AddEmoticons04233] [AddEmoticons04233] [AddEmoticons04233] [AddEmoticons04233] [AddEmoticons04233] [AddEmoticons04233] [AddEmoticons04233] [AddEmoticons04246] [AddEmoticons04246] [AddEmoticons04246] [AddEmoticons04246] [AddEmoticons04246] [AddEmoticons04246] [AddEmoticons04246] [AddEmoticons04246] [AddEmoticons04246] [upin01] [upin01] [upin01] [upin01] [upin02] [upin02] [upin02] [upin02] [upin02] [SHINCHAN] [SHINCHAN] [SHINCHAN] [SHINCHAN] [SHINCHAN] [SHINCHAN] [SHINCHAN] [SHINCHAN] [SHINCHAN] [SHINCHAN] [SHINCHAN] [SHINCHAN] [SHINCHAN] [ehsan01] [ehsan01] [ehsan01] [ehsan01] [ehsan01] [ehsan01] [ehsan01] [ehsan01] [shock] [shock] [shock] [shock] [shock] [shock] [shock] [shock] [shock] [shock] [shock] [shock] [shock] [shock] [shock] [yoyopulizietk2] [yoyopulizietk2] [yoyopulizietk2] [yoyopulizietk2] [yoyopulizietk2] [yoyopulizietk2] [yoyopulizietk2] [th_029_]

engga di FB engga disini Tya paling ahli menteror orang  whistling [drool]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #ILER DOANGGGG#
« Reply #256 on: January 13, 2012, 10:56:13 pm »
CHAPTER 7




Characters :

Elsie Han—25 tahun, tidak begitu mengerti akan 'Dirinya sendiri’. Hidup terlalu berpengangan pada ‘Apa yang dipercayainya’, yang sebenarnya—belum tentu benar.

Sheldon Han—24 tahun, dia mudah ceria ataupun akrab dengan orang-orang di sekelilingnya. Namun demikian, terkadang emosinya gampang tersulut. Tidak banyak yang mampu menebak perasaan hatinya. Namun satu yang pasti, cintanya tidak bercela.

Alden Song—24 tahun, pendiam tapi mampu menerka pikiran orang dengan sangat baik. Dia seorang pengamat jitu. Calon pemimpin yang bisa diandalkan. Namun, .. siapa yang mampu menebak perasaannya.



Bukan rasa heran yang membuat Elsie berdiri termangu di belakang Alden saat ini, .. tapi yang terutama—rasa ingin tahu yang besar. Apa yang akan dilakukan Alden terhadap keadaan yang sedang dihadapinya sekarang?.

Sepasang mata bulat besar milik Elsie berpindah dari wanita umur limapuluhan di depan pintu dan Alden silih berganti.

"Ald ... anak ku .... " Mulut wanita tengah baya yang masih terlihat cantik itu berujar pelan dan bergetar.

Alden tidak bergerak di posisinya.

"Kau ... pasti sudah melupakan mama, ya? .... kau ... pasti sudah tidak ingat lagi ... bagaimana rupa mama ... " Wanita itu menghapus airmatanya, yang tumpah laksana air bah. Dia terlihat sangat sedih, .. sangat menderita. Sama sekali tidak terlihat, dia sedang berpura-pura ataupun bersandiwara saat itu.

Tapi benarkah? Elsie mengedikan bahunya. Tidak begitu yakin dengan kesan yang ditangkapnya.

Enam belas tahun lamanya dia meninggalkan Alden, .. meninggalkan putra semata wayangnya ini begitu saja, tanpa kabar berita. Dan sekarang, dia datang kembali, .. menangis meraung-raung, mengatakan bagaimana sedihnya dia_bagaimana menderitanya, dan memperlihatkan bagaimana menyesalnya karna sudah berpisah dengan putra tunggalnya ini.

Pantaskah dia dipercaya?
Elsie mengeleng. Dia tidak percaya! Dan dia yakin, Alden juga tidak dapat menerima kelakuan mamanya ini begitu saja.

Elsie menatap Alden. Pria muda itu masih betah di tempatnya, tidak bergerak atau bergeming, sedikitpun. Pandangannya yang redup dan tak berkedip_tertuju pada mamanya. Entah apa yang sedang dipikirkan dan dirasakannya saat ini, ... Elsie menghela nafasnya berat. Entah mengapa, dia merasa, ... ikut menanggung beban berat, dan perasaan sakit di hati Alden.

"Maafkan mama ... ," Nyonya Song terisak, "Mama tidak bermaksud meninggalkanmu waktu itu .... Mama ingin sekali kau mengerti, Ada sesuatu--sesuatu yang membuat mama harus pergi, tidak boleh tidak ... Mama .... "

"Kami sedang sarapan!"

Elsie mengangga. Dia berpaling cepat kearah Alden. Untuk pertama kalinya_dia mendengar Alden mengeluarkan suara begitu menginjakkan kakinya di ruang depan ini. Suara Alden terdengar serak dan berat, ... sedikit bergetar dan memberi kesan tertekan. Mungkin kelamaan membungkam penyebabnya. Tapi bagi Elsie, .. dia tidak begitu yakin. Ditatapnya Alden dengan sorot mata sendu.

"Jika kau ... tidak merasa keberatan dan .. belum juga sarapan, .. kau boleh sarapan bersama kami ... ," lanjut Alden pelan, yang disertai helaan berat, yang hanya tertangkap oleh pendengaran Elsie.

Iris Elsie semakin mengecil dan meredup. Hatinya terasa sakit mendengar cara bicara Alden. Dan untuk kesekian kalinya dia tidak mengerti mengapa bisa begitu.

Alden bergerak dari posisinya. Memutar tubuh dan menghadap ke ruang dalam.

"Ald!!"

Teriakan tersebut menghentikan langkah Alden. Pria muda itu tidak berbalik, .. malah mengangkat kepala dan menyapu langit-langit ruangan dengan bola matanya yang terselimut kabut. Alden memejamkan matanya rapat-rapat.

"Dengar dulu penjelasan mama!"

Alden merasakan sentuhan di pundaknya.

"Saya sangat lapar .. " Alden mengedikan pundaknya dengan sangat pelan, sehingga sentuhan Nyonya Song terlepas dari pundaknya. Kaki panjangnya digerakkan dengan cepat, .. seolah ingin melarikan diri dari ruangan tersebut.

Elsie berpaling pada Nyonya Song, menatap wanita itu dengan sorot matanya. Nyonya Song terlihat menghela nafas, menatap telapak tangannya yang tadi menyentuh pundak Alden, sedih. Wanita itu mulai terisak kembali. Elsie bergerak pelan mendekatinya, .. berkata dengan suara yang sangat pelan.

"Nyonya Song, .. saya rasa--Ald tidak bermaksud begitu ... "

Nyonya Song mengangkat kepala dan menatap Elsie.

Elsie tersenyum. "Saya yakin, dia tidak bermaksud berlaku tidak sopan kepada Nyonya. Mungkin, .. dia sungguh-sungguh lapar .. " Elsie tidak mengerti, .. mengapa dia mewakili Alden menghibur ibunya? Elsie mengeleng pelan.

"Kau ... siapa?" tanya Nyonya Song sambil menyipitkan matanya. Tatapannya bertemu dengan mata Elsie, bergerak pelan dari  atas ke bawah, lalu berhenti kembali--tepat di wajah Elsie. "Kenapa bisa berada di sini, sepagi ini?"

Elsie berubah gugup. Diperhatikan sedemikian rupa oleh Nyonya Song, membuatnya tidak nyaman. Tubuhnya bergerak kesana kemari, ... dia mencoba tersenyum, .. namun senyumnya terlihat terpaksa dan sangat tidak wajar.

"Aku ... saya sahabat Ald .. Oh--tidak! Bukan!!" Elsie mengeleng cepat_memperbaiki jawabannya yang dirasa kurang tepat. "Lebih tepatnya, aku .. sahabat Sheld, teman dekatnya Ald .. " Elsie menghela nafas, melanjutkan dengan nada pelan. "Yang sebenarnya, ... aku saudara angkatnya Sheld. Aku berada di sini karna ... dibantu Ald. Aku sedang menghadapi masalah dengan keluargaku ... " Elsie menghentikan perkataannya, .. kembali menghela nafas dan menunduk sambil berharap Nyonya Song tidak bertanya lebih lanjut.

Nyonya Song mengangguk kemudian berjalan ke dalam rumah, menyeret kopernya melewati Elsie. Dia tidak bertanya apa-apa lagi dan sepertinya, dia juga tidak tertarik untuk mengetahui masalah yang dihadapi Elsie sehingga mengharuskannya tinggal di rumah putra tunggalnya ini.

"Oh--Sheldon Han .. ," ujar Nyonya Song ketika melewati Elsie. "Saya tahu anak itu. Entah bagaimana pertumbuhannya sekarang, .. apa masih bengal dan tidak mau mendengar nasehat orang tua seperti dulu .. ?"

Elsie membuka mulut, tapi mengatupkannya kembali ketika Nyonya Song sudah jauh meninggalkannya. Sepertinya, .. pertanyaan Nyonya Song tadi tidak dimaksudkan untuk dijawab olehnya sehingga wanita itu sama sekali tidak berhenti hanya untuk mendengar sedikit penjelasan darinya.

Elsie memajukan bibirnya, .. mengangkat pundak, .. setelah menghela nafas, dia melangkah lambat-lambat—mengikuti Nyonya Song masuk ke ruang makan.


******




Tidak ada yang mengeluarkan suara dalam ruang makan tersebut. Orang-orang yang mengelilingi meja  disibukkan dengan pikiran mereka masing-masing.

Elsie melirik Alden yang menyantap sarapannya dalam diam, .. lalu berpindah kepada Nyonya Song yang saat ini sedang memperhatikan putranya. Elsie menghela nafas lambat-lambat, ... udara dalam ruang makan tersebut semakin berat baginya.

Sebagai orang asing, .. Elsie merasa tidak pantas duduk bersama Alden dan ibu yang baru ditemuinya hari ini di ruang makan dan ikut serta dalam acara sarapan mereka yang pertama kali setelah tujuhbelas tahun. Elsie bergeser sedikit di kursinya, .. duduk dengan gelisah.

"Ald .... "

"Saya sudah kenyang .... " Alden berkata cepat. Tangannya mengeser piring kosong di depannya ke tengah meja dan berdiri dari kursi

"Ald!!" ulang Nyonya Song cepat begitu melihat Alden sudah mendorong kursinya ke belakang, .. bermaksud meninggalkan ruang makan.

Alden berdiri kaku membelakangi Nyonya Song dan Elsie. "Masih ada pekerjaan yang harus saya lakukan ... ," katanya, sambil mengerakkan kaki ke depan.

"Ald .. ," desah Nyonya Song. "Maafkan mama ... "

Alden menatap langit-langit ruang makan. "Saya tidak pernah berpikir untuk menyalahkanmu. Ataupun .. meminta pertanggungjawaban darimu, .. Jadi--lupakanlah semuanya ... " Alden melangkah ke pintu dan berjalan keluar.

"ALD!!" Nyonya Song berdiri dari kursinya, tapi Alden sudah menghilang dari pandangannya.

Elsie ikut menoleh kearah pintu, menyipitkan matanya.

"Tuan muda sudah terbiasa begitu, nyonya ... " Bibi So menjelaskan, sambil meletakkan mangkuk kecil berisi sup yang baru diambilnya dari dapur di depan Nyonya Song. "Jika tuan muda sudah berkata tidak apa-apa, maka .. segalanya beres. Dia sungguh tidak menyalahkan nyonya ... " Bibi So tersenyum.

"Tapi, ... ," Nyonya Song berkata ragu-ragu. "Dia tidak mau memaafkanku ... "

"Saya rasa ... " Bibi So menoleh kearah pintu, .. di mana, menghilangnya Alden tadi. " ... karna tuan muda tidak ingin mendengar, ataupun membayangkan .. alasan yang akan didengarnya dari nyonya ... "

"Kenapa?" Nyonya Song menatap Bibi So heran. "Kenapa dia tidak mau mendengar penjelasanku?"

"Mungkin ... ," Bibi So berkata pelan, ... perkataan selanjutnya hanya tebakan, tapi entah kenapa ... dia merasa yakin, karna ... mungkin karna dia sudah hampir seumur hidupnya mengasuh Alden. ".. mungkin karna tuan muda takut ... "

"Takut?" Nyonya Song menaikkan alisnya.

"Ya, takut .. " Bibi So mengangguk.

"Takut apa?" tanya Nyonya Song tidak mengerti.

"Takut alasan yang sebenarnya dari nyonya, sampai meninggalkannya ... " Sepasang mata tua Bibi So meredup.

"Apa?!!"

"Kurasa itu yang dirasakan tuan muda sekarang ini ... " Bibi So kembali tersenyum. Wanita tua itu menghapus dua bulir air yang sempat menitik dari pelupuk matanya dengan punggung tangan lalu bergerak membereskan peralatan makan yang berserakan di atas meja.

Nyonya So menghempaskan punggung ke sandaran kursi. Dia menghela nafas, .. membiarkan airmata menuruni sepasang pipinya. "Kenapa ... ?" Dia mendesis halus. "Kenapa jadi begini ... ? Maafkan mama, Ald. Sungguh_mama tidak bermaksud begitu ... Semua bukan keinginan mama. Maafkan mama ... "

Elsie menurunkan pandangan ke lantai. Isak tangis wanita di sebelahnya ini mengiris kalbunya. Sekalipun dia masih tidak mampu mempercayai ketulusan hati Nyonya Song tapi, ... melihat kesedihannya_sedikit-sedikit mulai mengoyak keraguannya.

******



"Nyonya mencariku?" tanya Bibi So sore itu, begitu membuka pintu kamar yang ditempati Nyonya Song.

"Iya .. " Nyonya Song mengangguk dari posisinya yang membelakangi Bibi So. Saat itu, dia sedang duduk di atas ranjang menghadap ke jendela.

"Ada yang nyonya perlukan?" Bibi So berjalan masuk ke kamar Nyonya Song dengan sikap hormat layaknya pelayan terlatih.

Terdengar Nyonya Song menghela nafas dan bergerak dari posisinya. Gesekan pelan terjadi pada seprai di atas ranjang. Dia menatap Bibi So sekarang, seolah sedang mempertimbangkan perkataan yang akan dikatakannya kemudian. Namun, Nyonya Song belum jua menjawab pertanyaan Bibi So.

"Nyonya ... ?"

"Ceritakan tentang Ald, bi ... " Akhirnya, Nyonya Song membuka suaranya. "Aku ingin tahu segalanya tentang dia. Sejak kepergianku tujuh belas tahun lalu .. "

"Maksud nyonya ... ?" tanya Bibi So lambat-lambat.

Nyonya Song mengerakkan pundaknya lambat-lambat. "Apa yang telah terjadi padanya ... ?"

Bola mata Bibi So berputar ke atas, mengapai langit-langit kamar yang berwarna putih. Pikirannya kembali ke masa lalu, .. masa di mana Alden masih kecil. Bagaimana keadaan anak itu sewaktu ditinggal pergi ibunya, yang tidak sampai sepuluh tahun kemudian menyusul ayahnya ikut meninggalkannya. Meninggal karna penyakit kanker ganas yang dideritanya.

"Bi .. ," terdengar suara Nyonya Song bergetar. "Kehidupan yang bagaimana yang dijalani Ald. Ceritakan padaku, bi ... aku ingin tahu .. "

Bibi So menghela nafas dan membuka suara perlahan. Nadanya mengambang, .. seolah dia sedang bercerita pada diri sendiri. "Kepergian nyonya seakan tidak berpengaruh apa-apa terhadap tuan muda. Dia ... makan, tidur, belajar--seperti biasanya. Dia tidak pernah menanyakan apa-apa tentang nyonya pada tuan. Tuan muda seolah ... hidup dalam dunianya yang wajar, tanpa nyonya. Seolah-olah nyonya memang tidak pernah ada dalam kehidupannya .. “

Nyonya Song mendesah pendek, .. sepasang matanya terpejam ketika butiran-butiran airmata meramaikan pipinya.

Bibi So meneruskan cerita tanpa terganggu oleh keadaan ‘Nyonya Song. “Lalu sekitar sepuluh tahun kemudian, .. tuan meninggal. Tuan muda juga tidak berhenti. Dia masih sama seperti itu, .. makan, tidur dan sekolah. Namun kali ini, ditambah mengurus Tax-Jack. Semula orang-orang dalam perusahaan tidak begitu ‘memandang’nya, tapi begitu prestasi-prestasi dicapainya dalam sekejap, orang-orang mulai gentar dan mengakuinya. Perjuangan tuan muda tidak bisa dibilang gampang, namun dia tidak mau menyerah. Walau dia tidak pernah mengadu pada saya, saya mengetahuinya dari penuturan Tuan Song … “

“Ald … “ Nyonya Song membuka mata dan menatap nanar lantai di bawah kakinya.

“Jadi nyonya, .. jika tuan muda sudah berkata tidak apa-apa, mungkin dia benar-benar tidak menganggap semua itu. Dia menerima kembali nyonya apa adanya. Sekiranya dia tidak puas, dia pasti akan menanyakannya pada nyonya, bukan? .. “ Bibi so berusaha menghibur dengan suara khasnya yang menenangkan.

“Kau berpikir begitu, bi?” tanya Nyonya Song datar. Irisnya mengelabu.

“Em—“ Bibi So terdiam. Benarkah begitu? Jujur saja—dia tidak tahu. Semua hanya tebakannya saja. Untuk memahami seorang Alden, terlalu berat buatnya. Alden merupakan sebuah topeng yang sulit untuk dilacak sesuatu yang tersembunyi dibaliknya.

“Kau juga tidak yakin kan?” tanya Nyonya Song kecut. “Dia bisa berlaku begitu karna hatinya tersiksa. Seandainya saja dia dapat mengeluarkan tuntutan-tuntutannya. Mengatakan apa yang sebenarnya diinginkannya, atau paling tidak, berhenti sebentar untuk mendengarkan penjelasan orang .. “

“Mungkin … ,” kata-kata Bibi So selanjutnya terdengar mengambang. “ .. tuan muda merasa—ini yang terbaik. Dia tidak ingin menyakiti siapapun .. “

“Lalu dengan begitu, memilih menyakiti diri sendiri?!!” Suara Nyonya Song mengeras. “Ini yang dipelajarinya sepeninggalku?!”

Bibi So menghela nafas dan membungkukkan badan dalam-dalam. “Maafkan saya, nyonya .. “

Nyonya Song memejamkan mata dan mengangkat dagunya. Dia menyesali apa yang terjadi. Menyesal karna sudah meninggalkan Alden. Jika saja—dia tidak memutuskan keputusan itu dan tetap tinggal di sisi Alden—mungkin semua tidak akan terjadi. Alden tidak akan menjadi sosok yang sulit dimengerti, .. yang hanya bisa menyembunyikan perasaannya lewat wajah topengnya.

“Apa yang bisa saya lakukan sekarang, bi .. ,” desis Nyonya Song lirih. “Apa yang bisa saya lakukan untuk membantunya .. ?”

Bibi So terlihat berpikir. Sampai satu menit kemudian dia berkata, “Nyonya bisa memberi perhatian lebih padanya. Berlaku bahwa nyonya .. mengerti perasaannya. Lupakan apa yang telah terjadi dan mulailah hidup baru bersama tuan muda. Jangan mengungkit-ungkit masa lalu jika tuan muda memang tidak mau mendengarnya .. “ Bibi So membungkuk setelah menyelesaikan kata-katanya. “Maafkan jika saya terlalu mengurui nyonya .. “

Nyonya Song mengerakkan tangannya dengan pelan. “Kau yakin ini akan berhasil .. ?”

Bibi So mengangkat pundak perlahan. “Tidak tahu. Tapi saya rasa, kita dapat mencobanya, nyonya .. “

Nyonya Song mengangguk-anggukkan kepalanya, .. entah karna menyetujui pendapat Bibi So atau dia sudah menemukan jalan lain.


*******



"Els belum menghubungiku!!"

Sheldon menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa di café Gloria yang kadang-kadang didatanginya bersama Alden siang itu. Dia terlihat sangat jengkel. Buku yang dipegangnya, diremas dan dilemparnya begitu saja ke atas meja di depan Alden.

Alden melirik sepintas buku yang mendarat di depan matanya, .. mengenyitkan alis, sebelum memindahkan perhatian pada Sheldon yang sekarang sudah duduk sambil menghentak-hentakkan kaki di sebelahnya.

“Coba kau pikir_” kata Sheldon dengan emosi meluap-luap. “_berapa lama lagi waktu yang diperlukannya? Apa dia tidak tahu kalau saya sangat mengkhawatirkannya? Ada di mana dia?!!”

Alden memundurkan badan hingga menyandar di punggung sofa. Dia menatap tangan Sheldon yang bergerak silih berganti, tidak menentu di depan mukanya, namun …. Alden tidak mengeluarkan suara.

“Kau tahu—saya … sangat merindukannya .. ?” Sampai di sini, keluhan-keluhan yang dilancarkan Sheldon melunak. Kelopak matanya mengatup, .. sepasang iris yang semula bergerak liar menjadi redup dan suram, tidak bercahaya. “Saya takut sesuatu terjadi padanya, Ald … ini … sudah minggu kedua, dan .. tidak ada kabar berita darinya … “

“Saya yakin dia baik-baik saja … “ Alden mengeluarkan suaranya untuk pertama kali sejak Sheldon menginjakkan kaki dalam café itu.

Sheldon mengangkat alisnya. “Bagaimana kau bisa yakin?” Perlahan-lahan_sepasang alis tebal itu bertaut jadi satu, berkenyit sangat dalam ketika hatinya mulai dililit kecurigaan. “Jadi .. benar kan, .. kau tahu Els ada di mana?”

Alden mengambil nafas dengan tenang. Dia tidak terpengaruh tatapan menyelidik dari Sheldon. “Yang bisa saya katakan hanya itu. Terserah kau mau pikir apa … “

Alden berdiri dari duduknya. Mengambil mantel dari lengan sofa dan berjalan mundur. Sambil mengenakan mantelnya yang berwarna abu-abu, dia melanjutkan dengan pelan, “Selain hanya bisa marah-marah tak membantu, ataupun mempertanyakan kenapa dia terus-menerus menghindarimu, .. kenapa kau tidak mencari tahu—alasan dan penyebab dibalik keengganannya itu?”

“Apa?!!” Sheldon membulatkan matanya.

Alden tersenyum. “Saya tahu, kau pasti mengerti .. “

“Maksudmu?”

Alden mengangkat bahunya. “Berpikirlah kembali. Saya rasa, … Els bukan orang yang gila harta. Jika saja dia bersikukuh seperti itu, .. pasti ada alasannya … “

“Alasan?” Sheldon menjatuhkan pandangannya ke atas meja—berpikir.

Alden menjinjing tas kulitnya di tangan kanan. “Dapatkan alasan itu jika kau ingin masalah di antara kalian cepat selesai .. “ Setelah mengancing mantelnya, Alden berjalan kearah pintu.

“ALD?!!” Teriak Sheldon begitu menyadari kepergian sahabatnya.

Alden mengangkat tangan kanannya tanpa menoleh. “Saya masih ada pekerjaan di kantor. Pikirkan apa yang saya katakan padamu!!”


****



Sheldon duduk sambil mengetuk-ngetukkan pen yang dipegangnya pada sehelai kertas di ruang kerjanya. Pikirannya bermain-main dengan kata-kata Alden padanya tadi siang.

“Apa yang menyebabkan Els menghindariku?” desisnya pelan. “Bukankah aku sudah memberikan pengertian padanya—walau apa yang terjadi, aku tidak akan meninggalkannya? Janjiku—apa masih kurang kuat?”

Sheldon memundurkan kepalanya pada sandaran kursi. Menerawangkan pandangannya ke langit-langit ruangan yang berwarna krem lembut. “Jika bukan warisan haraboji, apa lagi masalahnya?” Irisnya menyipit, tidak mengerti.

Lima belas menit lamanya Sheldon berada dalam posisi seperti itu. Sampai rasa kantuk mulai mengelitik matanya. Sepasang mata itu sudah setengah terpejam ketika sebuah bayangan yang berkelebat dalam otak membuatnya terbelalak kembali.

Sheldon mengulurkan tangan dan menekan beberapa tuts angka pada telepon di atas meja.

“Hallo, badan detektif Square?” tanya Sheldon tanpa tedeng aling-aling. “Saya ingin kalian menyelidiki sesuatu .. “


******



Elsie menjatuhkan tubuh mungilnya di atas sofa ruang tengah sore itu. Dua hari berlalu sejak kedatangan Nyonya Song, dan terus-terang saja—dia makin merasa tidak betah tinggal di ‘istana’ megah Alden.

Elsie tidak tahan dengan tatapan-tatapan mencemooh dari Nyonya Song. Meski mulut ibu Alden itu tidak mengatakan apa-apa, tapi Elsie tahu_wanita tua tersebut ‘tidak suka’ akan keberadaannya di rumah itu bersama putranya, tinggal berduaan saja. Laksana muda-mudi yang melakukan ‘kumpul kebo’, .. Elsie tahu_itu yang dipikirkan Nyonya Song.

Meski dia dapat memastikan, Nyonya Song tahu kalau hubungan mereka bukan seperti itu. Mereka juga tidak tinggal sekamar jika memang itu yang dicurigai Nyonya Song. Tapi apa semua menjadikannya bersikap lunak terhadap Elsie? Tidak!

Wajah Elsie mengerut ketika memeluk bantal  erat-erat. Kuku-kuku jarinya yang terpangkas rapi mencakar dalam-dalam sarung bantal dari kain sutra bercorak bunga-bunga kecil di tangannya.

Alden yang sejak setengah jam lalu sudah berada dalam ruang tengah tersebut dan berkutat dengan koran bisnis di tangannya melirik Elsie. Koran diturunkan dan ditaruh di pangkuannya ketika memutar tubuh menghadapi gadis yang sedang cemberut itu.

“Sheld ingin sekali bertemu denganmu .. “

Elsie mengangkat kelopak matanya. Menatap Alden samar, .. seolah tidak menangkap perkataannya barusan.

“Ya?”

Alden mencondongkan badan, menaruh koran ke atas meja di depan mereka sebelum mengulangi perkataannya kembali.

“Aku bertemu dengannya kemarin, dan dia mengeluh tidak berhasil menemukanmu. Dia mengira, sesuatu telah terjadi padamu sehingga tidak mencarinya. Dia sangat khawatir .. “ Alden menghela nafas, terdiam sejenak sebelum menoleh menatap Elsie, yang saat ini sedang menautkan alisnya jadi satu. “Saya rasa, .. sudah saatnya kau mencarinya dan menjelaskan bagaimana keputusanmu ..”

“Tunggu dulu!” Elsie menahan Alden yang sudah bermaksud bangkit dari duduknya. “Siapa yang kau maksudkan dengan ‘Dia’?”

Alden terdiam. Bukannya karna pertanyaan Elsie itu yang membuatnya berhenti termangu di tempat saat ini. Ataupun karna pertanyaan tersebut susah untuk dijawab. Tapi terlebih karna dia sedang berpikir, ’kenapa masalah orang-orang ini harus menjadi hal yang dipusingkannya?

Alden mengurungkan niatnya keluar dari ruang tengah. Tubuhnya dijatuhkan kembali ke sofa. Punggungnya dimundurkan hingga menyentuh badan sofa sementara pandangannya menerawang—mengapai dinding berkertas unggu.

“Sheld!” jawab Alden pendek, namun berkesan tegas dan ingin dimengerti. Mungkin dia sudah capek sehingga tidak ingin ditanya lagi.

“Sheld?” Elsie mengumamkan nama itu sambil menghela nafas. Masalah yang menyangkut diri Alden akhir-akhir ini membuatnya hampir melupakan orang yang bernama Sheldon Han.

“Sampai kapan kau menghindarinya? Masih betah bersembunyi kah?” Alden menatap Elsie lekat-lekat. “Dia sudah menunggumu cukup lama. Bukan hanya beberapa minggu ini, saya yakin kau tahu, .. dia menunggumu_sudah bertahun-tahun … “

Elsie membungkam. Dia tidak tahu harus berkata apa terhadap pertanyaan-pertanyaan Alden.

“Apa jawabanmu?”

Pertanyaan yang sangat mengena!

Elsie membulatkan matanya. Jujur saja, ‘ini’ yang paling ditakuti Elsie. Apa jawabannya?—Apa jawabannya terhadap perasaan Sheldon? Dia tidak tahu! Apa dia mencintai Sheldon? Tidak tahu! Bagaimana dengan perasaannya sendiri? Yang ini, dia lebih tidak mengerti lagi.

Benarkah selama beberapa bulan kebersamaan mereka hanya sandiwara—hanya untuk memperalat Sheldon untuk mendapatkan harta warisan orangtuanya kembali? Ataukah … sudah terbersit rasa suka walau belum bisa dibilang cinta? Elsie mengeleng. Dia sungguh-sungguh tidak tahu.

Jadi sebenarnya, apa yang menjadi keraguannya?

Elsie menundukkan kepalanya dalam-dalam. Menatap sepasang sepatu kulitnya yang berkilap-kilap buram tertimpa lampu dinding kecil. Jemari kakinya bergerak-gerak tak beraturan dalam balutan sepatunya—mengambarkan, bagaimana galaunya perasaannya saat ini.

“Kau masih belum memutuskan jalan keluar yang mesti diambil?”

Elsie mengeleng pelan-pelan. “Maafkan saya .. “

“Kenapa selalu begitu?!!”

Elsie mendengar sesuatu menghantam sofa kulit yang didudukinya. Suara BUK yang cukup keras membuatnya mengangkat kepala dan melihat kearah Alden. Buku-buku tangan Alden memerah. Wajah yang biasanya terkesan tenang dan menghanyutkan itu mengeras.

Alden mengepal sepasang tangannya dan berdiri dari sofa.

Elsie terperangah. “A .. ada apa denganmu .. ?”

Alden tidak menjawab, .. hanya menaikkan dagu dan menoleh kearah pintu. Hingga memberi kesan, dia tidak ingin tinggal lebih lama lagi di situ, bersama Elsie.

“Saya masih ada urusan … “ Alden berjalan dengan langkah panjang-panjang ke pintu.

“Ald?!” Elsie mengenyitkan alisnya. Dia tidak mengerti, .. apa yang membuat Alden sampai semurka itu.

“Ajari aku … bagaimana harus bersikap .. ,” desis Elsie pelan dan putus asa. “Sungguh, aku tidak tahu … “


*******



“Ald, kemarilah!” Nyonya Song melambaikan tangannya kepada Alden dari tempat duduknya. “Ada yang ingin mama tunjukkan padamu .. “ Kala itu sudah sore, dan Alden baru saja kembali dari acara minum tehnya di café kecil dekat rumah.

Agak ragu-ragu ketika Alden memutar tubuh dan mendekati ibunya. “Hn—ada masalah .. ?” tanya Alden sungkan dan berkesan kaku.

“Mama sedang menyiapkan sesuatu untukmu .. ,” jawab Nyonya Song dengan suara riang, .. sepasang matanya berbinar-binar.

“Ya?” Alden memicingkan matanya dan menyapu tangan Nyonya Song yang mengenggam beberapa lembar foto.

“Kau lihat ini .. ,” kata Nyonya Song sambil menyibak-nyibakkan foto-foto di tangannya. “Bagaimana menurutmu?”

Alden menyipitkan matanya. “Apa itu?”

“Foto—tentu saja!” jawab Nyonya Song.

Alden menghela nafas. “Saya tahu. Tapi untuk apa?”

“Hoh—kau tidak bisa menebaknya?” Nyonya Song melebarkan mata tak percaya. “Putraku yang senantiasa dipuji sebagai pengusaha tercerdas tidak bisa menebak keinginan mamanya?”

Alden menatap ibunya untuk sejenak, lalu memindahkan perhatian pada lembaran foto yang disorongkan Nyonya Song kearahnya. Ada sekitar sepuluh lembar foto. Semuanya foto perempuan. Masih muda—mungkin seumuran dengannya—dan kebanyakan dari mereka cantik-cantik dan kelihatan terpelajar dan terdidik baik.

“Kau bukannya .. “ Alden memanjangkan kata-katanya, … seolah tidak ingin melanjutkan tebakannya yang dirasanya pasti benar.

“Ya! Benar! Mama ingin menjodohkan kau dengan salah satu di antara mereka. Kau sudah mapan, Ald,--dan umurmu juga tidak kecil lagi, sudah saatnya berkeluarga. Bagaimana pendapatmu?”

Mulut Alden terbuka perlahan-lahan. Bukan untuk mengeluarkan suara atau bantahan, tapi terlebih karna dia sangat terkejut. Untuk kesekian detik tubuhnya membujur kaku.

“Ald!” panggil Nyonya Song heran. “Kau kenapa?”

Alden tersentak, .. ditatapnya ibunya dengan linglung. Alam sadar membawanya kembali pada pilihan ketika Nyonya Song menatapnya penuh tanya. Alden memundurkan kaki sampai menyentuh kaki sofa. Parasnya yang sudah kaku berubah laksana es saking bekunya. Tubuh jangkungnya membungkuk pelan kearah Nyonya Song, dia tidak mengucapkan apa-apa ketika berputar dan berjalan ke pintu. Alden melangkah keluar dari ruang tengah.

“Ald!!”

Panggilan Nyonya Song sudah tidak berguna. Alden bergerak tegak dan kaku menyusuri lorong tengah. Tatapannya yang dingin menyapu tak berkedip dinding-dinding suram yang dilaluinya.


********



“Kau ini_pacaran nggak bilang-bilang ….”

“Iya. Kalau bukan pria itu yang mendatangi kami dan menanyakan keberadaanmu—mungkin sampai sekarang kau akan merahasiakan ini pada kami. Benarkah, Els?”

“Kau sudah tidak menganggap kami sebagai sahabat ya?”

Suara-suara tersebut saling sahut-menyahut memasuki bar terkenal di pusat kota London. Elsie hanya bisa tersenyum pasrah mendengar omelan-omelan kedua sahabatnya, yang bisa dibilang cukup akrab dengannya waktu kuliah dulu, Lucia Kim dan Brenda Lee.

“Saya heran_angin apa yang membawamu kemari hari ini?Jika saja tidak kau lakukan, mungkin selamanya kita tidak akan bertemu lagi,-” dengus Brenda.

“Iya, kau menghilang seperti ditelan bumi--,” Lucia menimpali. “Kau bermaksud menghindari kami, Els? Sejak kecelakaan yang terjadi pada keluargamu, kau berubah. Seperti orang asing yang tidak kami kenal .. “

“Saya tidak bermaksud begitu. Sorry .. ,” sesal Elsie. Memutus ‘serangan’ bertubi-tubi dari kedua sahabatnya untuk sementara.

“Kalau begitu, kau mesti sering-sering mengajak kami keluar .. “ Brenda menjatuhkan lengan kanannya di pundak Elsie. Meremasnya pelan. “Sampai kapanpun, kami merupakan sahabat baikmu, understand?”

Elsie tersenyum. “Ya—tentu saja saya mengerti .. “

Lalu, ketiga cewek yang sudah lama tidak bertemu itu melakukan tos secara serempak. Dapat dilihat, bagaimana akrabnya mereka dulu.

“Eh_ngomong-ngomong .. “ Lucia memelankan suaranya, .. senyum penuh arti terkembang di bibirnya yang terpoles lipstick warna merah muda ketika menatap Elsie. “.. darimana kau dapatkan cowok seperti dia .. ?,” kata Lucia, sambil menaikkan alisnya sampai menyentuh poninya yang terpotong pendek dan dicat keemasan.

“Eh?” Elsie terpekur bingung. Dia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Lucia.

“Cowok itu! Pacarmu!” sambung Lucia sambil menarik pergelangan tangan Elsie. “Selain keren, dia juga sangat baik dan ramah. Darimana kau dapatkan cowok seperti itu? .. Hm—kelihatannya dia datang dari keluarga terhormat ya? Semua terlihat dari gerak-gerik dan cara berpakaiannya—“

Elsie menyengirkan senyum malas. Sepertinya, dia sudah salah melangkah. Untuk saat ini, dia tidak ingin membahas tentang Sheldon, .. dan dia sengaja menghubungi kedua sahabatnya ini dan mengajak mereka keluar hanya karena dia tahu Lucia dan Brenda tidak tahu-menahu mengenai keadaannya. Hal-hal yang telah terjadi padanya. Baik itu masalah yang menyangkut keluarga maupun yang berhubungan dengan hubungan pribadinya dengan Sheldon, ..

Itu membuat Elsie berpikir—akan sangat menyenangkan kalau dia dapat mengajak kedua sahabatnya keluar dan bernostalgia kembali dengan masa-masa sekolah ataupun ketika mereka mulai bekerja dulu dan melupakan sebentar masalah berat yang dihadapinya. Tapi ternyata_dia salah. Elsie menghembuskan nafas menyesali tindakan yang telah diambilnya.

“Pertanyaan kami menyulitkanmu .. ?” timpal Brenda tiba-tiba begitu menangkap reaksi tidak wajar dari Elsie.

“Benarkah?” Lucia menambahkan dengan heran. “Tapi, kenapa bisa begitu?” lanjutnya sambil melirik Brenda. “Atau .. ,” mata yang terpoles mascara tebal itu membesar. “ … kau tidak bersungguh-sungguh dengannya?!”

“Eh?!” Elsie tersentak begitu telapak tangan Lucia mendarat di pundaknya.

“Tidak bersungguh-sungguh?” Brenda memicingkan mata pada Elsie. “Tapi kenapa? Saya lihat—dia bersungguh-sungguh padamu, Els. Dia sangat khawatir ketika menanyakan keberadaanmu, dan bagaimana sedih dan kecewanya dia ketika kami bilang kami tidak tahu .. “

“Iya, sampai-sampai aku berkata pada Bren, ’dia pasti akan bunuh diri kalau sampai kehilangan Els.’ “ Lucia mengangguk-anggukan kepalanya.

“Hn—“ Elsie menunduk dan meremas jemari tangannya. Kata-kata Brenda dan Lucia membuatnya semakin tersudut, .. bingung dan tidak tahu harus menyahut apa.

“Jangan katakan padaku, kau tidak merasakan dan melihat kesungguhan itu, Els?” Brenda tiba-tiba mencondongkan badan dan mengamati Elsie dengan seksama. Tatapannya menyelidik, seakan tidak memberi kesempatan Elsie untuk membantah.

“Sa .. saya .. tidak tahu … ,” sahut Elsie pelan dan serak.

“Tidak tahu?!” Brenda dan Lucia saling berpandangan.

“Come on, Els!” Brenda menghela nafas putus asa. Sedangkan Lucia mengangkat pundaknya tanda menyerah. “Ada apa denganmu?”

Elsie mengeleng. “Tidak tahu .. “

Brenda dan Lucia saling berpandangan. Mereka mengeleng-gelengkan kepala ketika menatap Elsie kembali. Tepukan pelan mendarat di punggung Elsie dan membuatnya menengadah melihat kearah kedua sahabatnya.

Brenda tersenyum. “Kurasa kau butuh waktu … “

Lucia ikut memberi semangat pada Elsie. “Tidak ada orang yang bisa memutuskan sesuatu dalam sekejap. Bersabarlah. Waktu akan menjawab segalanya .. “

Elsie mengangguk, .. mengigit bibirnya, tersenyum haru. “Trims .. “

“Kita cari tempat duduk .. ,” ujar Brenda. Suaranya berubah keras dan ceria. Pandangannya menyusuri sekeliling bar. “Di situ saja—“ tunjuknya kearah meja bartender yang masih tersisa tiga kursi kosong.

Lucia menyetujui dengan melingkarkan lengannya ke lengan Elsie, yang saat ini masih terlihat sedih, dan menariknya kearah yang dimaksud.

Tapi, ketika Elsie mengangkat kepalanya, perhatiannya bukan tertuju ke situ. Dia yang kebetulan melihat kearah lain, terpekur seketika. Di antara keremangan kerlap-kerlip lampu di bar itu, dia serasa mengenali seseorang yang duduk di pojok dekat pintu.

“Tung—tunggu sebentar,-“ Elsie menepuk lengan Lucia dan menghentikan langkahnya.

“Apa?” Lucia berpaling.

“Saya—sepertinya, saya mengenal orang yang duduk di pojok itu—“

Lucia melirik sepintas arah yang ditunjuk Elsie. “Jadi?” tanyanya sambil mengembalikan pandangan kepada sahabatnya.

“Kalian ke sana lah dulu,” Elsie mengerakkan tangan, memberi tanda bagi Lucia dan Brenda untuk meninggalkannya. “Nanti saya menyusul,--“

Tanpa memberi kesempatan pada Brenda dan Lucia untuk protes, Elsie terburu-buru berjalan kearah meja di pojok belakang dekat pintu.


*****



“Saya tidak tahu kalau kau punya kebiasaan ke tempat seperti ini—“

Gelas yang diangkat Alden hanya sampai setengahnya ketika sindiran itu terdengar di dekat telinga, seolah berlomba untuk menyaingi kebisingan-kebisingan dari musik keras yang sedang diputar di bar itu.

Alden mengangkat wajah dari minuman beralkohol di tangannya. Kelopak matanya yang sudah hampir mengatup dipaksa untuk dibuka pelan dan berhasil menangkap bayangan Elsie, yang saat ini sudah berdiri di hadapannya.

Alden menghembuskan nafas lewat hidungnya kemudian meneguk habis minuman yang dipegangnya.

“Saya juga tidak tahu kalau kau seorang peminum?” Elsie melirik gelas di tangan Alden. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Elsie sambil menatap Alden lekat-lekat. “ … dengan minuman sebanyak ini?” Perlahan-lahan pandangan Elsie menurun ke atas meja. Gelas-gelas minuman berserakan di mana-mana.

Elsie mengambil nafas dalam-dalam dan menjatuhkan tubuhnya duduk di sebelah Alden. “Saya tahu ini bukan tempat yang cocok buatmu. Ada masalah?”

Alden kembali mengangkat wajah dan menatap Elsie. Namun, dia masih tidak mengeluarkan suara. Jemari-jemari tangannya yang panjang dan kurus memutar-mutar gelas kosong di tangannya. Dengan tubuh sedikit condong ke depan dan siku bertumpu pada paha, Alden menatap semu gelas-gelas berisi berbagai jenis minuman beralkohol yang memenuhi meja.

Elsie menyapu meja dengan matanya. Hampir setengah dari gelas-gelas tersebut sudah kosong. Sisanya, seakan menunggu dan menuntut untuk dihabiskan. Alden meraih satu gelas lagi—gelas kecil berisi cairan biru laut—mengangkat dan meneguknya sampai habis hanya dalam satu tegukan.

“Kau .. minum sebanyak ini … ?” Elsie terperangah.

Alden menghentak gelas kosong ke atas meja. Agak limbung ketika punggungnya dimundurkan ke sandaran kursi, .. tatapannya berpusat pada celana jeans yang membalut ketat sepasang kakinya.

“Ald .. “ Ragu-ragu Elsie menyentuh pundak Alden dan mengoyangnya pelan. “Are .. are you okay .. ?”

“Selalu begitu .. “ Alden mengumam serak.

“Apa?” Elsie agak menundukkan kepalanya dan menatap Alden.

“Dari dulu, .. selalu begitu .. ,” lanjut Alden pelan, seolah berbicara pada diri sendiri.

“Hah?” Elsie mengejapkan mata tidak mengerti. “Maksudmu?”

“Aku yang diharuskan mengerti .. “ Alden mengatup mata perlahan. “ .. semuanya!! Semua menganggap aku mengerti. Seharusnya_beginilah aku! Kenapa mereka tidak berpikir, aku juga manusia seperti mereka. Aku punya perasaan ..”

“Ald … “ Elsie bergumam lirih. Keadaan Alden saat ini membuat hatinya terasa perih. Dia ingin sekali mengulurkan tangannya, sedapat mungkin—menolong pria yang biasanya terkesan tegar namun sekarang seolah terkapar tak berdaya ini. Namun, Elsie hanya bisa terpekur kaku di posisinya, .. tidak tahu mesti melakukan apa.

Lima menit berlalu ketika Alden membuka matanya. Sorot sendunya mengarah ke depan, .. memandang pasangan muda-mudi yang sedang berdansa gila-gilaan di bawah alunan musik yang berbunyi keras. Alden tersenyum hambar. Tangannya bergerak menepuk-nepuk celana jeans yang dipakainya, .. seolah ingin membersihkan aroma alkohol, ataupun kotoran yang dirasa seumur hidup menghinggapi sekujur badannya. Alden berdiri dari sofa lengan dan sedikit sempoyongan ketika kakinya bergerak selangkah.

“Eh_mau kemana?” tanya Elsie cepat. Tangannya segera menarik lengan Alden.

“Saya tidak apa-apa .. ,” ujar Alden parau, seraya menekan lepas tangan Elsie dari lengannya. Kakinya dilangkahkan kembali.

“Ald!!” panggil Elsie.

“Saya masih sadar jika itu yang ingin kau katakan, Nona Han!” sahut Alden keras dan berkesan agak ketus.

“Ta .. tapi, … “ Elsie melanjutkan dengan ragu-ragu.

“Saya juga tidak akan mengemudi dalam keadaan begini,--“ potong Alden cepat, sebelum Elsie berhasil mengeluarkan suara kembali. “Saya tidak apa-apa … ,” gumam Alden. Dia berjalan dengan agak limbung menuju pintu bar yang gelap karna tidak tergapai sinar lampu.

“Jika kau merasa menderita, kenapa tidak keluarkan saja?!! Jangan dipendam terus!!” teriak Elsie sekeras-kerasnya—mengalahkan dentuman musik alternative yang sedang diputar kala itu, … menyebabkan orang-orang yang sedang asyik dansa ataupun yang hanya sekedar menghabiskan waktu berbincang-bincang berpaling padanya.

“Kau berhak marah .. “ Elsie mengusap matanya yang tiba-tiba menjadi perih. “Kau berhak! .. Karna kau—orang yang disakiti … “ Suara Elsie bergetar saat mengucapkan kata-kata ini. Kepalanya tertunduk, .. meneteskan dua butir airmata ke lantai.


***** TBC*****
« Last Edit: January 13, 2012, 10:58:53 pm by Be my self »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline My My

  • Junior
  • **
  • Posts: 165
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 7 UPDATED#
« Reply #257 on: January 13, 2012, 11:58:17 pm »
wah trims udah update ya mami sista [AddEmoticons04246] [AddEmoticons04246] [AddEmoticons04246]
Alden selalu bersembunyi di balik topeng wajah tenangnya [chin] [chin] [chin]
Elsie selalu bingung  [AddEmoticons04259] [AddEmoticons04259] [AddEmoticons04259]
Sheldon selalu transparan [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234]
wkwkwkkwkw cinta segi 3 yg rumit (Josh gak masuk hitungan,,dia sudah terdiskualifikasi) [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 7 UPDATED#
« Reply #258 on: January 14, 2012, 01:05:52 am »
wah trims udah update ya mami sista [AddEmoticons04246] [AddEmoticons04246] [AddEmoticons04246]
Alden selalu bersembunyi di balik topeng wajah tenangnya [chin] [chin] [chin]
Elsie selalu bingung  [AddEmoticons04259] [AddEmoticons04259] [AddEmoticons04259]
Sheldon selalu transparan [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234]
wkwkwkkwkw cinta segi 3 yg rumit (Josh gak masuk hitungan,,dia sudah terdiskualifikasi) [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]

kok gambaran elu jd mirip banget ama banner di atas [laughing] [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 7 UPDATED#
« Reply #259 on: January 14, 2012, 03:18:58 am »
yee...blom baca [clap] [clap] [hmff]

Love you more than I can say

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline My My

  • Junior
  • **
  • Posts: 165
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 7 UPDATED#
« Reply #261 on: January 14, 2012, 05:38:28 am »
wah trims udah update ya mami sista [AddEmoticons04246] [AddEmoticons04246] [AddEmoticons04246]
Alden selalu bersembunyi di balik topeng wajah tenangnya [chin] [chin] [chin]
Elsie selalu bingung  [AddEmoticons04259] [AddEmoticons04259] [AddEmoticons04259]
Sheldon selalu transparan [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234]
wkwkwkkwkw cinta segi 3 yg rumit (Josh gak masuk hitungan,,dia sudah terdiskualifikasi) [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]

kok gambaran elu jd mirip banget ama banner di atas [laughing] [laughing] [laughing]
benarkah [what] [what] [what] [what]  [clap] [clap] [clap] [clap] [clap]

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 7 UPDATED#
« Reply #262 on: January 14, 2012, 06:20:06 am »
ah mommy gini mulu, boring ah  [goodgrief] kan ga bisa bayangin mana minho mana yang jeje  [dry]
ayo cepet kasih tau !  [ranting] reader tuh jadi ga bisa berfantasi dengan minho & hyesun tahu    [head break] itu voting nya menang si SHELDON !!! gerakan dukung SHELDON sebagai MINHO !!!  [clap] [clap] [clap]   [hmff]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 7 UPDATED#
« Reply #263 on: January 14, 2012, 07:06:35 am »
ah mommy gini mulu, boring ah  [goodgrief] kan ga bisa bayangin mana minho mana yang jeje  [dry]
ayo cepet kasih tau !  [ranting] reader tuh jadi ga bisa berfantasi dengan minho & hyesun tahu    [head break] itu voting nya menang si SHELDON !!! gerakan dukung SHELDON sebagai MINHO !!!  [clap] [clap] [clap]   [hmff]

PRETTTTTTTTTT [hmff] [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline vhia_minsuners

  • Full
  • ***
  • Posts: 411
  • saranghae MinSun.... saranghae Joondi...
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 7 UPDATED#
« Reply #264 on: January 14, 2012, 09:09:31 am »
MAMIIIIIIIIIIIIIIII..................   [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] jahat banget deh, sheldonnya kok gak teralu dapat scene...  [AddEmoticons04256]
aaah..... katanya chap 7 bakal nentuin siapa yg jadi minho,,, lah kok ini blum juga sih, tapi ngebaca komentar temen2 els, jadi nambah keyakinan klo sheldon emang minho,,,  [AddEmoticons04254] [AddEmoticons04254]

tapi masalahnya ini sweet moment antara els and sheldon kapan???  [AddEmoticons04275] kalau mami sendiri blu nentuin,,,
ane kesel nih sama els,,, secara sheldon udah sampai segitunya...




kissing you baby... muaaaccchhh ^^

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 7 UPDATED#
« Reply #265 on: January 14, 2012, 09:18:24 am »
MAMIIIIIIIIIIIIIIII..................   [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] jahat banget deh, sheldonnya kok gak teralu dapat scene...  [AddEmoticons04256]
aaah..... katanya chap 7 bakal nentuin siapa yg jadi minho,,, lah kok ini blum juga sih, tapi ngebaca komentar temen2 els, jadi nambah keyakinan klo sheldon emang minho,,,  [AddEmoticons04254] [AddEmoticons04254]

tapi masalahnya ini sweet moment antara els and sheldon kapan???  [AddEmoticons04275] kalau mami sendiri blu nentuin,,,
ane kesel nih sama els,,, secara sheldon udah sampai segitunya...



sama ama elu, gw jg rada2 kesel ama els hammer2 hammer2 dia plin plan mulu,, tapi ... sptnya dia mulai ada rasa ke ald tuh [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 7 UPDATED#
« Reply #266 on: January 14, 2012, 09:19:05 am »
makasih mami updatenya  [flowers] [flowers]

nyonya Song mau mencoba mengerti perasaan Alden tapi.. kenapa dengan cara menjodohkannya  [what] itu sudah pasti membuat Alden marah  [dry] sudah kemunculannya sangaaat tiba'' yang sudah pasti banyak pertanyaan di benak Alden walau pun dia diam bukan berarti tidak ingin tahu  [AddEmoticons04232]  semakin kesemsam aja aku sama Alden Song  [AddEmoticons04244] [AddEmoticons04235]  si Elsi sebenarnya mau berapa lama menginapa di rumah Alden  [what] mau sampai kapan menghindari Sheldon  [AddEmoticons04259] kalau sampai Sheldon tahu selama ini Elsi berada di rumah Alden permasalahan akan semakin runyem  [collapse] apa lagi  nanti terjadi perdepatan /perasangka apa lah Sheldon sama Alden permasalahn Alden sudah cukup rumet  [wacko] Alden juga manusia yang perlu di mengerti jangan hanya dia aja yang mengerti'i perasaan orang lain  [AddEmoticons04269] * next kira' bakal ada keputusan mutlak engga neh dari mami  [AddEmoticons04269] [AddEmoticons04268] I* sudah engga sabar nunggu si Alden jadi Minho  [AddEmoticons04235] [AddEmoticons04235]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 7 UPDATED#
« Reply #267 on: January 14, 2012, 09:29:55 am »
makasih mami updatenya  [flowers] [flowers]

nyonya Song mau mencoba mengerti perasaan Alden tapi.. kenapa dengan cara menjodohkannya  [what] itu sudah pasti membuat Alden marah  [dry] sudah kemunculannya sangaaat tiba'' yang sudah pasti banyak pertanyaan di benak Alden walau pun dia diam bukan berarti tidak ingin tahu  [AddEmoticons04232]  semakin kesemsam aja aku sama Alden Song  [AddEmoticons04244] [AddEmoticons04235]  si Elsi sebenarnya mau berapa lama menginapa di rumah Alden  [what] mau sampai kapan menghindari Sheldon  [AddEmoticons04259] kalau sampai Sheldon tahu selama ini Elsi berada di rumah Alden permasalahan akan semakin runyem  [collapse] apa lagi  nanti terjadi perdepatan /perasangka apa lah Sheldon sama Alden permasalahn Alden sudah cukup rumet  [wacko] Alden juga manusia yang perlu di mengerti jangan hanya dia aja yang mengerti'i perasaan orang lain  [AddEmoticons04269] * next kira' bakal ada keputusan mutlak engga neh dari mami  [AddEmoticons04269] [AddEmoticons04268] I* sudah engga sabar nunggu si Alden jadi Minho  [AddEmoticons04235] [AddEmoticons04235]
thanks buat komen panjangnya, imah [weird] [weird]
iya cara nyonya song tuk mengerti alden tuh salah [sweat] [sweat] dia berbuat seakan dia memperhatikan segala kebutuhan alden, terutama jalan hidupnya. dia mengira dengan menjodohkan alden dgn wanita yg baik, itu akan membantu alden dan dapat menebus kesalahannya. dia tidak tahu kalau alden tuh paling anti diatur. alden tidak mengatakannya karna dia tidak mau menyakiti hati ibunya. mungkin pd akhirnya, dia akan menerima rencana ibunya jg (menurut pengetahuan gw ttg alden sih [hmff] )
gw ga bisa membayangkan bagaimana jadinya jika keberadaan els ketahuan ama sheldon,, mungkin dia bakal marah besar dan merasa kecewa karna telah dibohongi alden sahabatnya [heh] [heh]
yah kita liat aja deh sapa yg jadi minho. gw suka alden, tp kadang2 gw ga boleh tdk memikirkan sheldon. dia terlalu manis buat diabaikan [hmpfh] [hmpfh] (author aja plin plan, bgmn elsienya [laughing] [laughing] )

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline vhia_minsuners

  • Full
  • ***
  • Posts: 411
  • saranghae MinSun.... saranghae Joondi...
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 7 UPDATED#
« Reply #268 on: January 14, 2012, 09:36:30 am »
MAMIIIIIIIIIIIIIIII..................   [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] jahat banget deh, sheldonnya kok gak teralu dapat scene...  [AddEmoticons04256]
aaah..... katanya chap 7 bakal nentuin siapa yg jadi minho,,, lah kok ini blum juga sih, tapi ngebaca komentar temen2 els, jadi nambah keyakinan klo sheldon emang minho,,,  [AddEmoticons04254] [AddEmoticons04254]

tapi masalahnya ini sweet moment antara els and sheldon kapan???  [AddEmoticons04275] kalau mami sendiri blu nentuin,,,
ane kesel nih sama els,,, secara sheldon udah sampai segitunya...



sama ama elu, gw jg rada2 kesel ama els hammer2 hammer2 dia plin plan mulu,, tapi ... sptnya dia mulai ada rasa ke ald tuh [hmpfh] [hmpfh]

aisssh...... ald...  [AddEmoticons04240] [AddEmoticons04247] Emoticons0433  SHELDOOOOONNN!!!  [AddEmoticons04228] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225]


kissing you baby... muaaaccchhh ^^

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 7 UPDATED#
« Reply #269 on: January 14, 2012, 08:01:12 pm »
makasih mami updatenya  [flowers] [flowers]

nyonya Song mau mencoba mengerti perasaan Alden tapi.. kenapa dengan cara menjodohkannya  [what] itu sudah pasti membuat Alden marah  [dry] sudah kemunculannya sangaaat tiba'' yang sudah pasti banyak pertanyaan di benak Alden walau pun dia diam bukan berarti tidak ingin tahu  [AddEmoticons04232]  semakin kesemsam aja aku sama Alden Song  [AddEmoticons04244] [AddEmoticons04235]  si Elsi sebenarnya mau berapa lama menginapa di rumah Alden  [what] mau sampai kapan menghindari Sheldon  [AddEmoticons04259] kalau sampai Sheldon tahu selama ini Elsi berada di rumah Alden permasalahan akan semakin runyem  [collapse] apa lagi  nanti terjadi perdepatan /perasangka apa lah Sheldon sama Alden permasalahn Alden sudah cukup rumet  [wacko] Alden juga manusia yang perlu di mengerti jangan hanya dia aja yang mengerti'i perasaan orang lain  [AddEmoticons04269] * next kira' bakal ada keputusan mutlak engga neh dari mami  [AddEmoticons04269] [AddEmoticons04268] I* sudah engga sabar nunggu si Alden jadi Minho  [AddEmoticons04235] [AddEmoticons04235]
thanks buat komen panjangnya, imah [weird] [weird]
iya cara nyonya song tuk mengerti alden tuh salah [sweat] [sweat] dia berbuat seakan dia memperhatikan segala kebutuhan alden, terutama jalan hidupnya. dia mengira dengan menjodohkan alden dgn wanita yg baik, itu akan membantu alden dan dapat menebus kesalahannya. dia tidak tahu kalau alden tuh paling anti diatur. alden tidak mengatakannya karna dia tidak mau menyakiti hati ibunya. mungkin pd akhirnya, dia akan menerima rencana ibunya jg (menurut pengetahuan gw ttg alden sih [hmff] )
gw ga bisa membayangkan bagaimana jadinya jika keberadaan els ketahuan ama sheldon,, mungkin dia bakal marah besar dan merasa kecewa karna telah dibohongi alden sahabatnya [heh] [heh]
yah kita liat aja deh sapa yg jadi minho. gw suka alden, tp kadang2 gw ga boleh tdk memikirkan sheldon. dia terlalu manis buat diabaikan [hmpfh] [hmpfh] (author aja plin plan, bgmn elsienya [laughing] [laughing] )

alden selalu berusaha mengerti'i perasaan orang" terdekatnya tapi... orang" terdekatnya tidak memperhatikan perasaannya  [AddEmoticons04268] makanya Alden sangat sedih  [cry] sebenarnya suka juga seh sama sheldon  [love eyes] tapi... tidak terlalu bangeeet  [hmpfh] apa lagi cintanya Sheldon Ke elsi sangaaat besar  [AddEmoticons04235]  WHAT.... alden mau meu mempertimbangkan usulan mamanya  [AddEmoticons04232]