Poll

okay, gw buat polling lagi yg berhubungan dgn karakter mh. kesempatan terakhir, siapa yg anda inginkan tuk jd mh??? perlu diingat, jumlah vote tdk mempengaruhi keputusan terhdp penentuan karakter mh, gw cuman ingin liat suara hati para pembaca sekalian, t

Sheldon
6 (40%)
alden
9 (60%)

Total Members Voted: 13

Author Topic: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 9#  (Read 13070 times)

younee

  • Guest
Re: I See The Light, .. Maybe?? #SPOILER#
« Reply #345 on: April 01, 2012, 08:45:44 am »
Minho itu Alden..
Jangan tanya kenapa ya mami,, karena dari awal aku udah jatuh cinta ama sosok Alden disini.. [hmpfh]
maksa [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] awas salah loh [laughing] [laughing]
Ga mungkin salah mami. aku yakin MINHO = ALDEN
ALDEN = MINHO
[hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #SPOILER#
« Reply #346 on: April 01, 2012, 08:49:08 am »
Minho itu Alden..
Jangan tanya kenapa ya mami,, karena dari awal aku udah jatuh cinta ama sosok Alden disini.. [hmpfh]
maksa [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] awas salah loh [laughing] [laughing]
Ga mungkin salah mami. aku yakin MINHO = ALDEN
ALDEN = MINHO
[hmpfh]
[chin] [chin] [goodgrief] [hmff] [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #SPOILER#
« Reply #347 on: April 02, 2012, 07:41:48 pm »
CHAPTER 9



Characters :

Elsie Han—25 tahun, tidak begitu mengerti akan 'Dirinya sendiri’. Hidup terlalu berpengangan pada ‘Apa yang dipercayainya’, yang sebenarnya—belum tentu benar.

Sheldon Han—24 tahun, dia mudah ceria ataupun akrab dengan orang-orang di sekelilingnya. Namun demikian, terkadang emosinya gampang tersulut. Tidak banyak yang mampu menebak perasaan hatinya. Namun satu yang pasti, cintanya tidak bercela.

Alden Song—24 tahun, pendiam tapi mampu menerka pikiran orang dengan sangat baik. Dia seorang pengamat jitu. Calon pemimpin yang bisa diandalkan. Namun, .. siapa yang mampu menebak perasaannya.




”Temui aku 'SEGERA', di tempat biasa!! Ada yang ingin kubicarakan! Penting!!”

Sheldon memutus hubungan dan melempar ponselnya ke kursi belakang. Stir dibanting, .. mobil membelok tajam dan berputar haluan ke arah yang berlawanan dengan arah kedatangannya.

G E N G GGGGGG ….

Bunyi melengking tinggi dari mesin mobil yang dilajukan kencang-kencang memekakan telinga. Beberapa pejalan kaki yang berada begitu dekat dengan batas jalan berseru kaget dan memekik keras-keras. Mereka meloncat terburu-buru menghindari kebrutalan Sheldon.

“Berengsek!!” Seorang pria botak berkemeja hitam melempar kantong plastik di tangannya. “Pengendara tidak tahu untung!! Kau kira ini jalan milik nenek moyang mu, hah--??!!”


*****



BUMMM!!

Pintu kayu coklat gelap itu terhempas menghantam dinding. Sheldon menerjang masuk ke ruang VIP cafe kecil di tengah kota dekat kantor Alden dengan kecepatan luar biasa. Alden yang melirik lewat buku yang dipegangnya, begitu menyadari kehadiran Sheldon di ruangan tersebut, sampai-sampai mengenyitkan alisnya melihat keadaan temannya itu.

“Kudapatkan sudah!!” teriak Sheldon tersenggal-senggal. “Benar katamu, memang ada penyebab dibalik sikap Elsie!” Sheldon menjatuhkan diri di bangku di depan Alden, kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Alden takjub.

Alden menurunkan buku di tangannya dan menatap heran. “Apa?”

"Kenapa Elsie sampai bersikeras untuk mendapatkan Han's Group kembali!" Sheldon merebut buku dari tangan Alden dan melemparnya sembarangan ke sudut ruangan. Dia menatap Alden agak kesal. "Alasan dibalik itu!"

"Maksudmu ... " Alden meraba-raba. Dia mendapatkan sudah jawaban atas pertanyaan Sheldon begitu melihat sinar berapi-api dari sepasang mata tersebut, ... tapi yang dia tidak mengerti, .. ternyata Sheldon benar melakukan sarannya. Sheldon mencari tahu alasan dibalik kekerasan sikap Elsie?

"Kau tahu kenapa dia begitu keras kepala?" Sheldon mencengkram lengan Alden keras-keras, .. membuat Alden meringgis kecil dan melirik tangan Sheldon yang menempel erat di tangannya. "Ternyata semua bukan kesalahannya, bukan seperti perkiraannya ... " Sinar mata Sheldon menjadi redup begitu punggungnya mundur perlahan-lahan dan akhirnya mengenai punggung kursi dan disandarkannya di sana. "Dia salah tanggap, .. anggapannya salah semua ... "

"Maksudmu ... ," Alden menatap Sheldon lekat-lekat, seperti membaca pikiran sahabatnya itu, yang saat ini sedang menatap nanar celana jeans ketat yang dipakainya. " ... selama ini Els ... melakukan hal yang sia-sia ... ?"

"Benar ... " Sheldon menghela nafas. "Dia terjebak dalam kenaifannya sendiri. Dia terlalu percaya terhadap apa yang dipercayainya, padahal .. semua itu tidak benar … “

“Maksudmu … “

“Jangan menerka-nerka lagi!!” tukas Sheldon tiba-tiba. “Aku akan menceritakannya padamu!”

Alden sedikit melebarkan matanya. Dia membalas pandangan Sheldon yang jatuh tepat ke bola matanya. Beberapa detik berlalu, .. Alden mengangkat pundak untuk kemudian menganggukan kepalanya. “Okay, ceritakanlah!”

“Elsie diadopsi oleh paman dan bibi dari Panti Asuhan Joys Family ketika usia lima tahun .. “

“Lima tahun?” potong Alden tanpa menutupi keheranannya. “Tapi bukankah katamu, dia diadopsi sejak bayi?”

“Itulah letak kesalahannya!” desis Sheldon penuh sesal. “Selama ini aku mengira Els diadopsi dari bayi, kejadian tersebut sangat samar. Aku mengira waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengingatnya, .. oleh karna itu aku menganggap wajar jika tidak mengingat kejadian tersebut, karna waktu itu aku juga masih bayi, jadi tidak mungkin bagiku untuk mengingat kejadian tersebut, bukan? Tapi ternyata, aku salah …”

“So .. “ Alden mengenyitkan alisnya.

“Kau mengerti sekarang?” Sheldon mencondongkan badannya ke depan, suaranya terdengar parau ketika melanjutkan dengan pelan. “Aku juga dibodohi oleh anggapan yang ternyata salah .. “

“Apa ayah dan ibumu tidak pernah menceritakan hal yang sebenarnya padamu?” tanya Alden kemudian.

Sheldon mengeleng, .. menghembuskan nafasnya dengan sangat berat. “Kurasa mereka tidak merasa perlu untuk memperbaiki anggapanku yang salah terhadap seseorang yang menurut mereka rendah. Toh Els bukan apa-apa di mata mereka. Mau dia diadopsi sejak bayi atau setelah dewasa, tidak ada pengaruhnya bagi mereka selama Els tidak memiliki dampak negative yang akan menghambat rencana mereka .. “ Sheldon mengatupkan gerahamnya. Sepasang matanya yang tajam dan beku, mengarah lurus ke mata Alden. Dia melanjutkan dengan nada pelan setelah itu, “Kau tahu sendiri bagaimana orangtuaku, Ald .. “

Alden mendengarkan penjelasan Sheldon di posisinya yang tidak berubah. Raut yang sudah terlatih tenang dan tidak memperlihatkan perasaannya itu menatap datar ke wajah Sheldon yang terlihat mulai kebingungan dan gelisah.

“Mereka tidak menceritakan apa-apa, aku dapat mengerti .. ,” Sheldon menghela nafasnya. “… Els merupakan penghalang bagi mereka. Yang tidak kupahami adalah ternyata … ternyata bibi Han pernah hamil … “

“Hamil?” Alden memicingkan matanya.

“Yah—“ Sheldon mengangguk lemah. “Dan hal itu terjadi ketika Bibi dan Paman Han memutuskan mengadopsi Els .. “ Sheldon menghentikan ceritanya dan menatap Alden seolah ingin menekankan kalau perkataan selanjutnya sangat penting. “Jadi Bibi dan paman bukannya tidak bisa mempunyai anak maka mengadopsi Els tapi sebaliknya karna mereka memang tertarik dan menyukai Els pada pandangan pertama. Mereka mencintainya begitu bertemu dengannya pertama kali … “

Alden membetulkan posisi duduknya. Buku yang tadi dilempar secara sembarangan oleh Sheldon dipungutnya dari lantai sudut ruangan dekat kursi yang didudukinya kemudian ditaruh di atas meja. Alden menyilangkan sebelah kaki ke depan, lalu menghadap ke Sheldon kembali. Dia kemudian berkata lambat-lambat. “Tapi menurut apa yang kau ceritakan dulu, paman dan bibimu tidak mampu punya anak sendiri .. ?”

Sheldon mengangguk dengan berat hati. “Benar. Dan itu juga perkiraan yang salah. Salah besar! Paman dan bibi bukannya tidak mampu punya anak. Tapi kejadian setelah pengadopsian Els, yang menyebabkan bibi keguguran dan harus kehilangan anak mereka, membuatnya tidak mampu mengandung lagi … “

“Apa .. ayah dan ibumu mengetahui kejadian ini?” tanya Alden hati-hati, seolah takut menyinggung perasaan Sheldon.

“Aku juga tidak tahu .. ,” jawab Sheldon jujur. Tubuhnya jadi lemah ketika disandarkan secara perlahan-lahan pada punggung kursi. “Aku tidak tahu apa saja yang mereka sembunyikan dariku selama ini. Semuanya seolah sandiwara, .. kau tahu, Ald? Kebohongan-kebohongan ini membuatku muak! Aku benci, benci sekali! Aku paling benci dibohongi! Kenapa mereka harus berlaku seolah Els berhutang pada mereka? Kenapa mereka harus menghadapkanku pada pilihan antara keluarga dan perasaanku? Kenapa?”

Alden menghela nafasnya. Dengan gerakan yang sangat pelan dia meletakan telapak tangannya ke pundak Sheldon, lalu menepuknya pelan. “Aku tahu apa yang kau pikirkan dan rasakan. Dari dulu, kau paling pantang dibohongi, dan kau akan murka jika mengetahui ada orang yang melakukannya. Kau .. tipe orang yang berani mempertaruhkan apapun demi kejujuran perasaanmu. Sheld, … “ Alden menatap Sheldon lekat-lekat, langsung menghujam ke bola matanya yang saat ini terarah lurus ke Alden. “ .. kalau mau jujur sebenarnya … aku sedikit iri denganmu akan hal ini … “

“Kau?” Sheldon melebarkan matanya. “ … iri padaku?” Sheldon menunjuk dirinya tak percaya.

Alden mengangguk. “Ya—“

“Mana mungkin?!” tukas Sheldon sengit. “Kau iri padaku? Jangan bercanda, Alden Song!” gelak kecil terpatri di wajah Sheldon. “Seorang Alden Song iri terhadap orang sepertiku? Kau akan ditertawai jika kedengaran orang. Apa yang patut dibanggakan dariku, sedangkan kau lebih berhasil dariku, di atas segalanya … “

“Aku tidak main-main!” Alden berkata dengan nada tajam. “Aku serius dengan perkataanku, .. terkadang .. aku sangat ingin memiliki keberanian itu .. “ Alden menerawangkan pandangannya ke dinding di belakang Sheldon. “Seandainya aku … memilikinya …,” desisan halusnya hampir tak terdengar Sheldon.

Sheldon masih menyengirkan senyum tipis buat ‘kejutan’ kecil dari Alden ketika mengerak-gerakan tangannya menahan geli. “Sudahlah, jangan membuatku bingung dan malu lagi—“

Alden mengembalikan perhatiannya ke Sheldon, … sedikit mengangkat alisnya lalu memundurkan punggungnya ke sandaran kursi.

“Yang jelas, itu yang kuketahui dari penyelidikanku terhadap Els—“ Sheldon melanjutkan ceritanya yang tadi tertunda. “Bukan untuk memperoleh harta kekayaan haraboji maka Els dibawa kemari. Lebih dari itu, karna paman dan bibi memang mencintainya. Tapi menurut pemahamanku terhadap seorang Els, dia tidak akan paham sebelum diyakini. Dia akan menyalahkan diri dan menganggap itu merupakan tugas dan pembalasan terhadap kebaikan orangtua angkatnya, yang harus dijalankannya. Kepekaan perasaanku tidak bagus tapi Els lebih buruk dariku …”

Sheldon melayangkan pandangannya ke belakang Alden. Sekilas, Alden seperti dapat melihat bayang-bayang masa lalu berpendar dari bola mata Sheldon yang perlahan-lahan berubah redup. “Aku ingat bagaimana waktu kecil, ketika sedang sedih, Els sering mengadu padaku, .. dia anak terbuang, dibutuhkan pegangan yang kuat untuk bertahan hidup, … tapi untunglah, pada saat yang dirasanya sangat sulit tersebut, ada paman dan bibi yang senantiasa membantu dan menghiburnya … “ Sheldon menjatuhkan pandangannya kemudian memusatkan perhatiannya ke ujung converse putih yang dipakainya. “ … dia selalu mengingatkan diri, setelah besar kelak, dia harus membalas budi paman dan bibi sesuai dengan keinginan mereka … “ Sheldon mengangkat kepala dan menghela nafasnya. “ .. setelah dipikir-pikir, kurasa, .. membalas kebaikan yang dimaksudnya waktu itu adalah .. melakukan tugasnya sebagai anak satu-satunya dari paman dan bibi. Els merasa merupakan tanggungjawabnya untuk memperoleh apa yang seharusnya menjadi milik kedua orangtuanya, dan itu pula yang mereka inginkan dan tuntut darinya begitu membawanya pulang dari Joy’s Family … “

Sheldon mengeluarkan nafas dengan berat melalui hidungnya, .. uap mengepul tipis berupa garis-garis kecil mengapai udara, tidak sekental hari-hari sebelumnya yang membuat tubuh membeku. Hari menandakan suhu sudah tidak begitu dingin. Musim dingin akan segera berakhir tergantikan dengan berseminya kelopak-kelopak di taman-taman bunga.

Sheldon mengembalikan pandangannya kepada Alden yang masih setia menemaninya dalam diam.

“Aku ingin sekali segera memberitahukan kenyataan ini pada Els. Aku ingin menyadarkannya, bahwa anggapannya selama ini salah. Bukan tanggungjawab ataupun kesalahannya bila harta kakek tidak mampu dipertahankannya. Aku ingin dia mengerti dan  tidak memaksakan diri terus, … aku tidak ingin melihat dia menderita … ,” suara Sheldon perlahan-lahan menjadi pelan dan menyayat, “ …. Aku ingin melihatnya .. bahagia … “

Alden menyilangkan tangannya di depan dada, mengamati Sheldon tanpa berkedip. Pernyataan-pernyataan Sheldon tidak dipungkiri mengugah hatinya, menghantamnya seolah sebuah palu berat yang diarahkan ke dadanya. Tapi bukan itu yang merisaukan Alden saat ini. Di dalam otaknya, berputar-putar bayangan Elsie. Alden sedang mempertimbangkan, tindakan apa yang harus dikatakannya terhadap ketahuannya tentang keberadaan Elsie kepada Sheldon.

“Sebenarnya … “ Alden mengubah posisi duduknya dengan menjatuhkan kaki kirinya yang terlipat di atas kaki kanannya ke lantai. “ …. pernahkah kau membayangkan .. tempat yang mungkin didatangi Els .. ?”

Sheldon mengedipkan matanya, .. sinar redup tadi berubah jadi bingung. “Maksudmu … ?” tanya Sheldon tidak mengerti.

“Hm—“ Alden berdeham membersihkan tenggorokannya yang terasa kaku. “ .. maksudku, … dapatkah kau mengira-ngira … seandainya kau Elsie … tempat mana yang mungkin dijadikannya tempat berteduh selain tempat-tempat yang pernah kau datangi .. ?”

Sheldon terlihat berpikir keras. Alisnya berkenyit sangat dalam ketika otaknya dipaksa memikirkan kata-kata Alden. Sheldon meraba-raba, membayangkan tempat-tempat yang mungkin terlepas dari pengeledahannya. Sepuluh menit berlalu namun akhirnya Sheldon mengangkat pundak dan menghembuskan nafasnya menyerah. Dia tidak dapat membayangkan tempat seperti yang dimaksud Alden.

“Tidak ada … ,” sahut Sheldon putus asa. “Dia tidak mungkin kemana-mana di Korea ini .. “ Lalu Sheldon mengangkat sepasang kakinya ke atas kursi dan menjatuhkan wajahnya, menyelunsupkannya dalam-dalam di antara lututnya. “ .. aku sudah mendatangi orang-orang yang dikenalnya dan tempat-tempat yang mungkin didatanginya tapi tetap tidak kutemukan … Aku tidak tahu lagi harus kemana … tidak tahu … “ Sheldon mengeleng-gelengkan kepalanya. Suaranya yang keluar kemudian terdengar sengau. Mungkin Sheldon sedang menangis dalam pilu. “ … kenapa harus memperlakukanku begini … ? Kenapa .. ? Kenapa tidak memberiku kesempatan .. ? Setelah bertahun-tahun … aku … “ Sheldon menghentikan rintihan-rintihannya, .. hanya semu yang terdengar kemudian.

Alden mengamati keadaan Sheldon dalam bisu. Dia ingin menghibur tapi tidak tahu harus bagaimana dan melakukan apa. Terus terang saja, dia bukan orang yang pandai dalam berkata-kata, apalagi memberi hiburan di saat orang yang disayanginya bersedih dan menderita. Seperti sekarang ini, kepedihan Sheldon mungkin merobek hatinya, dan membuatnya lebih merana dari Sheldon. Alden mampu merasakannya dengan baik, namun untuk menunjukan semua itu, dia tidak bisa. Sejak dulu, Alden tidak pandai menunjukan perasaannya terhadap orang lain.

“Mungkin … masih ada tempat yang terlepas dari pengamatanmu .. ,” ujar Alden pelan. Dia takut perkataannya akan membangkitkan kemarahan Sheldon setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya, dan lebih dari itu, dia juga tidak ingin memungkiri perjanjiannya dengan Elsie, karna itu dia mengungkapkannya secara gamblang.

Sheldon mengangkat wajah perlahan-lahan dan menatap Alden dengan matanya yang sedikit berkaca-kaca?

“ .. Teman-temannya, rekan-rekan kerjanya, dan orang-orang yang dikenalnya, mungkin sudah kau temui semua tapi … mungkinkah dari semua itu, masih ada yang terlepas dari bayanganmu … ? Seseorang .. atau .. tempat … yang mungkin dikenalnya baru-baru ini … ?” Alden meluruskan badan sebelum melanjutkan kata-katanya. Dapat dilihat, dia sedikit tegang menghadapi situasi ini.“ … mungkin, … seseorang yang dikenal .. olehmu .. ?”

Sheldon mengenyitkan alisnya. “Maksudmu … ,” pandangannya lambat-lambat dijatuhkan pada meja kaca yang terpoles bening di hadapannya. “ … ada yang terlupakan olehku … “

“Kau pikirkanlah baik-baik .. “

Sheldon mengangkat kepala dan melihat Alden berdiri dari duduknya.

“Aku masih ada urusan .. ,” kata Alden sambil meraih jasnya yang tersampir pada sandaran kursi dan menjinjingnya di tangan kanan. “ .. jika kau sudah mendapatkan jawaban tersebut, beritahu aku .. “

“Hey—“ Sheldon mengangkat tangan, namun Alden tidak menghentikan langkahnya yang mengarah ke pintu.

“Hubungi aku nanti!” Alden mengangkat tangan dengan posisi memunggungi Sheldon. Dia meraih gerendel pintu dan melangkah keluar.

“ALDDDD!! APA MAKSUDMU?!!” Sheldon meloncat bangun dari kursi dan mempelototi pintu yang perlahan-lahan menutup di hadapannya.

Tidak terdengar jawaban dari Alden Song. Dia sudah berada di luar, dan bukannya segera meninggalkan ruangan tempat Sheldon berada yang dilakukannya. Lambat-lambat, Alden menempelkan punggungnya di dinding café yang terasa dingin. Kepalanya menoleh dan menatap daun pintu yang sudah tertutup rapat di sebelah kirinya.

Kenapa aku merasakan sesak yang mendalam? Aku tahu, yang kulakukan benar, … Sheldon harus mengetahuinya, dan Els … tidak boleh dibiarkan menghindar dari kenyataan. Dia harus dipaksa sebelum mampu menentukan pilihan. Semua kulakukan untuk kebaikan mereka berdua.  Yang kulakukan sudah benar, tapi kenapa … kenapa ada sesuatu yang menganjal di sini .. ?

Alden menyentuh dadanya.

Perasaan ini, benarkah karna seorang sahabat atau ….. ?

Alden mengeleng dan segera memutar tubuh dan berjalan ke pintu, keluar di café kecil tersebut.



*****




Alden berpapasan dengan Elsie di lorong tengah sore itu, sekitar pukul 6. Saat itu Alden baru kembali dari kantor dan meletakkan peralatan kerjanya di ruang kerja. Dia berjalan keluar dari ruang kerja di lantai bawah menuju lorong tengah yang mengarah ke dapur. Langkahnya terhenti begitu melihat Elsie yang berjalan dengan kepala tertunduk, datang dari ruang belakang.

“Els … “

Elsie tersentak. Buru-buru dia mengangkat kepala dan melebarkan matanya. Seolah melihat hantu, dia segera berbalik dan bermaksud berlari meninggalkan Alden.

“Els!!” panggil Alden dengan nada diperkeras.

Langkah Elsie terhenti. Matanya dipejamkan rapat-rapat. Ingin mati rasanya dia jika harus berhadapan dengan Alden saat ini. Kejadian yang terjadi di ruang duduk kemarin, yang dirasanya begitu memalukan, kembali berputar-putar dalam kepala Elsie.

“Kau ada waktu?” tanya Alden sambil menatap punggung Elsie yang membujur kaku. “Ada yang ingin kubicarakan denganmu … “

“A .. aku … “ Elsie membuka mulut gugup. “A .. aku ada urusan!!” sahut Elsie cepat, sembari mengatupkan matanya kembali, rapat-rapat. Dia meringgis, ingin sekali melarikan diri secepat mungkin dari hadapan Alden tapi entah kenapa kakinya tiba-tiba terasa terkunci, tidak mampu untuk digerakkan.

Elsie mendengar langkah kaki Alden mendekatinya. Sepasang mata Elsie terpejam semakin rapat ketika dirasa sehembus aura dingin menerpa lengannya. Alden sudah berada di dekatnya?

“Kau ada urusan?” Alden memperhatikan penampilan Elsie dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mengelikan jika membandingkan perkataannya dengan penampilannya saat ini, Elsie masih mengenakan kaos rumahnya yang kedodoran dengan celana pendek di atas lutut.

Elsie membuka mata dan menatap Alden memelas, seolah memohon padanya untuk tidak bertanya lebih lanjut buat pertanyaan yang toh Alden sudah bisa menebak jawabannya dengan benar.

“Tidak akan lama .. ,” sahut Alden begitu mendapat sorot mengiba dari Elsie.

“A .. apa tidak bisa .. lain kali saja .. ?” tanya Elsie sangat lirih.

“Tidak,” jawab Alden tegas. “Masalah ini sangat penting dan sudah tidak dapat ditunda lagi .. “ Alden memutar tubuh dan berjalan kembali ke ruang kerjanya. Dia meraih gerendel dan membuka pintu yang terbuat dari kayu kokoh warna merah tua di depannya, “ .. kita bicarakan di dalam saja .. “

Elsie mengamati gerak-gerik Alden lewat ekor matanya. Dia menghela nafas panjang-panjang dan akhirnya mengerakkan kakinya jua, menuju ke arah Alden.

“Aku tidak akan membahas masalah kemarin jika itu yang kau khawatirkan … ,” lanjut Alden sambil melangkah memasuki ruang kerjanya.

“A ..pa?!!” Elsie terhenyak. Mati sudah! Ternyata dia tahu, .. mau dikemanakan mukaku?!! Memalukan sekali!! Elsie menutup wajahnya dengan sepasang tangan dan mengeleng keras-keras. Ingin rasanya dia menjatuhkan diri ke kolam bunga di hutan belakang Han’s Palace sekarang juga kalau bisa.

“Masih berdiri di situ?”

“Eh!” Teguran Alden menyadarkan Elsie. Lambat-lambat Elsie menurunkan tangannya, mengepal dan merapatkannya di kedua sisi tubuhnya. Matanya berputar ke segala arah, tanpa berani membalas tatapan Alden yang lekat tertuju padanya.

“Masuklah, dan tutup pintunya .. ,” kata Alden sambil meneruskan langkahnya menuju ke meja kerjanya yang terletak di ujung ruang kerja yang luas dan tertata rapi dan berkesan antik.

Elsie melangkah dengan ragu-ragu. Matanya jelalatan, bukan untuk meneliti ruang kerja Alden yang baru pertama kali ini dimasukinya, namun untuk menghindari bersitatap langsung dengan Alden. Namun Elsie terperangah, langkahnya terhenti begitu saja di dekat pintu. Ruang kerja Alden membuatnya melebarkan matanya, kaget dan terpana.

Elsie melangkah lambat-lambat memasuki ruang kerja Alden. Ruang kerja itu bukan menarik karna keluasannya, bukan juga karna kemegahannya dengan lukisan-lukisan mahal yang tergantung di dinding tembok bata yang terlapis pualam gelap ataupun beberapa barang antik yang terpajang di sudut-sudut ruangan. Tapi lebih dari semua itu, Elsie merasakan aura yang lain. Ruangan tersebut sama saja dengan ruang kerja lain dengan rak-rak raksasanya yang dipenuhi dengan buku-buku, ataupun meja kerja besar panjang dan didominasi peralatan-peralatan kerja yang membuatnya terlihat membosankan, dan juga dilengkapi sofa warna kuning kelam yang disediakan buat peristirahatan di kala lelah. Tidak ada yang lebih dan kurang dari ruangan tersebut yang mampu membuatnya terlihat menarik dan patut untuk dipuji selain kerapian dan keapikan penataannya.

Namun sekali lagi, … Elsie merasakan aura yang lain.

Hembusan halus dari ventilasi angin yang terbuka di atas ruangan membuat bulu kuduk Elsie mengembang. Elsie mengigil dan sedikit menajamkan pandangannya ke depan, .. ke tempat Alden yang sedang duduk dengan tenang sambil menatapnya. Elsie melebarkan matanya, .. dia melihat lukisan yang lain dalam ruangan itu, .. sebuah lukisan yang cukup besar, bergantung tepat di belakang Alden, sedikit di atas kepalanya.

Aku tahu dari mana perasaan itu berasal sekarang … Mulut Elsie terbuka perlahan-lahan, dengan tatapan tak berkedip tertuju pada lukisan yang membuatnya terbujur kaku.

“Ada apa?” Alden mengenyitkan alisnya dan menoleh ke balik sandaran kursi di belakangnya. Dia mengangkat kepala sedikit dan melihat ‘benda’ yang membuat Elsie terbujur kaku seolah-olah kehilangan raganya. Alden mengangkat alis, .. meraba-raba apa yang salah dari lukisan yang tergantung di atas dinding. “Ada masalah?” Alden mengembalikan perhatian pada Elsie.

“Eh?” Elsie sontak tersentak dari posisinya. Dia menatap Alden, tidak mengerti, seakan baru disadarkan dari mimpi yang sangat panjang dan tidak dipahaminya.

“Ada yang salah dengan lukisan itu?” tanya Alden sambil mengenyitkan alis kembali.

“Ehm—“ Elsie melirik lukisan di belakang Alden. Bukan kesalahan seperti yang dimaksud Alden karna lukisan tersebut hanya lukisan  Alden yang duduk dengan anggun dan penuh charisma terbalut tuxedo putih sempurna di kursi yang laksana singgasana baginya. Bukan! Bukan kesalahan seperti itu! Tapi ada, .. sesuatu yang membuat Elsie gentar dari lukisan tersebut. Sebuah kesan yang membuatnya mengigil, … Alden terlihat begitu tinggi, bahkan terlalu tinggi baginya yang merasa rendah dan lemah.

“Els!” teguran Alden kembali mengema di telinga Elsie.

“Eh?!” Lagi-lagi Elsie memandang Alden bingung.

Alden mengenyitkan alis lebih dalam lagi. Dia tidak mengeluarkan suara dan teguran kembali, seolah memberi kesempatan Elsie untuk menjawab pertanyaannya tanpa mendesaknya.

“Ti .. tidak apa.apa … “ Elsie mengeleng gugup.

“Tidak ada?” Alden melirik lukisan dirinya lewat sudut matanya. Jidatnya mengerut, dia tidak melihat sesuatu yang aneh dari lukisan tersebut. Alden lalu mengembalikan pandangannya pada Elsie. “Lukisan itu … “

“Tidak ada!” tukas Elsie cepat. “Sungguh!” yakinnya memelas. “Jangan tanyakan lagi, aku mohon!”

“Hn—“ Alden menghujam lurus ke mata Elsie, seakan ingin menarik dan mengapai tirai yang menutupi mata hati gadis itu hingga terbuka, agar dia bisa lebih jujur akan perasaannya. Alden menghela nafas pelan lalu mengerakkan tangan ke salah satu kursi yang tersedia di depan meja kerjanya, mempersilahkan Elsie untuk duduk.

“Aku akan segera memulainya … “

Ragu-ragu Elsie menarik kursi yang dimaksud Alden, dengan sangat enggan dia menjatuhkan tubuhnya di situ.



****




“Tuan muda sudah pulang?” sapa Bibi Oh, pelayan tua yang sudah lama bekerja pada keluarga Han, kepada Sheldon yang mendaratkan kakinya di ambang gerbang depan tanpa menyapanya seperti biasa. “Tidak makan?” Bibi Oh mengikuti gerakan Sheldon yang memasuki rumah dengan sudut matanya.

Sheldon berhenti sejenak, .. kelihatan berpikir, sebelum akhirnya mengangkat pundaknya sebagai jawaban terhadap pertanyaan Bibi Oh. Masih dengan sikapnya yang seolah-olah dipenuhi bermacam-macam pikiran, Sheldon melangkahkan kaki ke ruang dalam. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, seakan mencari keberadaan seseorang.

“Papa dan mama mana, Bi?” tanya Sheldon kemudian.

Bibi Oh yang sudah melanjutkan pekerjaannya mengelap peralatan rumah tangga, begitu merasa tidak diperdulikan Sheldon tadi, menghentikan kesibukannya. Kepala tua itu mendongak, menatap Sheldon yang sudah mengedarkan pandangannya kembali ke sudut-sudut ruangan.

“Tuan dan Nyonya ada dinas di luar kota .. ,” jawab Bibi Oh sambil meluruskan punggungnya yang terasa pegal. “Mungkin, .. baru akan kembali hari sabtu nanti .. “

“Ke luar kota?” Sheldon menghentikan kegiatannya melepas kemeja putih yang dipakainya. Dia menoleh pada Bibi Oh dan berkenyit dalam-dalam. Parasnya mengeras, .. kemeja yang masih bergantung di tubuhnya dicampakkannya begitu saja di badan sofa, .. lalu dengan sepasang tangan mengepal erat, Sheldon mulai mengerakan kakinya ke anak tangga yang melintang ke lantai atas. “Selalu begitu!” umpat Sheldon. “Selalu pergi tanpa bilang-bilang!!”

“Tuan muda!”

Panggilan Bibi Oh kembali menghentikan langkah Sheldon di bibir tangga.

“Ada lagi,” lanjut Bibi Oh. “Tuan dan Nyonya berpesan agar tuan muda tidak melakukan hal yang tidak-tidak … “

“Hal yang tidak-tidak?” Sheldon menoleh dari posisinya. “Maksud bibi?”

Bibi Oh mengangkat pundak pelan-pelan. “Tidak tahu. Tuan dan Nyonya hanya berpesan begitu … Mungkin, .. tuan muda agak bandel akhir-akhir ini?” tebak Bibi Oh sambil mengelus-ngelus dagunya yang sudah berkeriput.

“Huh!!” Sheldon membuang muka dan meneruskan langkahnya kembali. Satu persatu anak tangga dinaikinya, ditapaki dengan langkahnya yang berat dan agak menghentak.


*****    



“Apa sebenarnya yang dimaksud Ald?”

Sheldon menghempaskan tubuhnya di atas ranjang di dalam kamarnya. Ransel dan sepatu conversenya yang tadi dibuka, dilempar secara asal di atas lantai. Pandangan Sheldon mengapai langit-langit kamarnya yang bercat biru cerah.

“Orang yang dikenal Els baru-baru ini … “ Sheldon mengatupkan matanya perlahan-lahan, “ … siapa … ?”

Sheldon membuka matanya kembali, lalu memutar tubuh, menyamping ke pinggir ranjang dan menatap semu meja kecil yang menyandar di dekat pintu.

“Selain aku dan mama papa … ,” desis Sheldon halus. Kakinya yang panjang dibiarkan menjuntai dan terayun-ayun lemah mengetuk-ngetuk lantai. Sinar matanya meredup seiring pikirannya yang semakin kusut.

“Mungkinkah .. “ Tiba-tiba bola mata Sheldon melebar, dia tersentak bangun dari ranjang dan mempelototi lantai yang tidak bersalah. “DIA?!!”


****



“Mungkin Sheld akan segera mengetahui keberadaanmu .. ,” mulai Alden setelah keterdiam beberapa menit di antaranya dan Elsie di ruang kerjanya.

“APAAA?!!” Elsie terlonjak bangun dari tempat duduknya. Matanya terbelalak lebar dan tangannya segera menunjuk Alden, “Kau membongkar rahasia di antara kita?!!” serunya menuduh.

“Aku tidak!” sahut Alden cepat, dan tidak kalah sengitnya. Reaksi ini sudah diperkirakannya dari Elsie, jadi Alden sudah memperhitungkan segalanya. “Aku tidak melakukannya!”

“Tapi tadi kau bilang Sheld akan segera menemukanku!” jerit Elsie.

“Iya .. “

“JADI?!!” Elsie mengacak-ngacak rambutnya frustasi. “Apa maksud perkataanmu, Tuan Alden Song?! Jangan membuatku mati kebingungan! Kau sangat sulit untuk dimengerti!”

“Aku benar tidak mengatakan apa-apa terhadap keberadaanmu di rumah ini kepada Sheld .. ,” sahut Alden yang sudah berubah tenang. “Namun maaf jika aku memberi gambaran itu, … “ Alden merendahkan suaranya. “ … aku memberi sedikit petunjuk pada Sheld .. “

“Nah—kau melakukannya!!” Elsie menunjuk Alden garang. “Kau sudah berjanji!! Kau sudah berjanji padaku, Alden Song!!”

“Aku tidak melanggar janjiku!” tukas Alden tegas. “Aku hanya melakukan sesuatu yang kurasa patut untuk dilakukan. Sheld mendapatkan berita yang sangat penting mengenai masa lalumu dan kurasa, kau harus mengetahuinya … “

“Apa itu?!!! Kau bisa memberitahuku tanpa perlu melalui Sheld!! Kau mengetahuinya bukan? Dia pasti sudah menceritakannya padamu!” tukas Elsie tetap tidak terima.

“Aku tidak berhak!” Alden berucap tajam. Irisnya yang runcing laksana pisau mengikis sampai ke kalbu Elsie.

Elsie terbungkam seketika. Mulutnya yang sudah dimaksud dibuka, terkatup kembali. Kaki Elsie bergeser mundur, menyentuh kaki kursi bagian belakang. Dia tidak berani membalas pandangan menegur dari Alden.

“Sheld yang sudah bersusah payah melakukan semuanya demi kau, dia pontang-panting mencari info yang berhubungan dengan kekerasan sikapmu. Dia percaya ada sesuatu dibalik semua itu dan sekarang, dia menemukannya, alasan dibalik keegoisanmu dengan memanfaatkannya. Aku tidak boleh merebut hasil perjuangannya. Dia yang berhak menjelaskan segala-galanya padamu! Terserah kau akan menemuinya atau tidak setelah dia berhasil menangkap arah petunjuk dariku, .. yang jelas, itu urusan di antara kalian. Aku akan melepas tangan setelah ini … “

Alden berdiri dari kursinya dan memunggungi Elsie. “Sebenarnya, .. aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Sheld begitu mengetahui .. ‘kebohongan’ kecil ini … ,” suaranya memelan, dengan sangat lamban Alden mengambil gerakan akan meninggalkan ruangan tersebut.

Elsie melirik Alden lewat ekor mata tanpa berani mengucap sepatah katapun. Matanya perlahan-lahan memerah, Elsie merasakan bola matanya memedas dan dua butir airmata menitik turun membasahi pipinya. Elsie segera menghapus dengan punggung tangannya. Dia mengigit bibir, berusaha menguatkan diri dengan cara itu.

Elsie mengangkat kepala dan memutar posisi kursinya, menoleh pada Alden begitu bunyi kring kring pelan terdengar dari saku jas Alden.

Alden menghentikan langkah dan mengeluarkan ponselnya. Dia melihat sejenak ke nama yang terpatri di layar monitor dan berputar menatap Elsie.

“Sheld … ,” kata Alden pelan.

Elsie menahan nafasnya.

Alden mempertimbangkan sebentar sebelum memencet tombol terima yang ada di ponsel.

“Hi, Sheld .. ,” sapa Alden dengan nada dibuat setenang mungkin. Dia mendengarkan dengan seksama. Sesaat ekspresinya berubah, dari tenang menjadi keruh. “Dengarkan dulu aku, Sheld!” Alden berusaha menyela, tapi kelihatannya Sheldon di seberang lebih ngotot. Alden hanya mampu mengangguk-anggukan kepalanya begitu Sheldon menyelesaikan serangan-serangannya.

“Ya, baik.” Alden menatap Elsie dalam-dalam. “Aku tidak akan membiarkannya pergi sebelum kau datang. Okay, aku tunggu .. “ Alden memutuskan hubungan dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya kembali.

“Sheld akan kemari .. ,” kata Alden yang ditujukan pada Elsie. “Katanya segera. Dia akan tiba sepuluh menit kemudian, dan memintaku untuk mengawasimu, agar tidak kemana-mana … “

BUKKK!! Tubuh Elsie terhempas ke sandaran kursi. Dia kalah. Dia tidak mungkin memungkiri perasaannya lagi sekarang, dia harus berhadapan dengan Sheldon dan menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di antara mereka. Dia tidak mungkin menghindar lagi.

“Kuharap, kau mengerti maksud kami … “ Alden menekan kata-katanya. “Sheld benar-benar memiliki sesuatu yang harus dijelaskannya padamu, … jadi, jangan melakukan tindakan bodoh … “

Elsie menenggelamkan pandangannya pada sepasang kakinya yang hanya terbalut sandal rumah. Seperti juga Ald, dia tidak tahu …. bagaimana menghadapi Sheldon apabila bertemu nanti.



******



Ketiga orang itu duduk di sofa ruang tengah dalam diam, saling bertatap dengan otak yang dipenuhi pertanyaan-pertanyaan dan perasaan yang berbeda-beda.

Pandangan Sheldon menjurus tajam pada Alden, mencakar lekat dan bersinar-sinar mengancam. Matanya yang laksana elang jika marah itu berkobar-kobar seakan ingin membakar apapun yang tergapai oleh bola matanya. Alden menghela nafas, membiarkan terpaan iris gelap Sheldon mencapai wajahnya, .. tanpa berusaha melindungi atau membela diri terhadap pandangan-pandangan menuduh Sheldon.

Elsie menahan nafas, .. menekan aura ngeri yang dirasanya pertama kali berpencar dari diri Sheldon. Dia melihat sepasang tangan kekar pria itu terkepal erat, menahan luapan emosinya yang seolah-olah siap meledak setiap saat. Sheldon mengatupkan gerahamnya, menatap Alden tak berkedip.

"Apa penjelasanmu?" tanya Sheldon dingin.

"Tidak ada ... ," Alden menghela nafas berat.

"Kau tahu, aku paling benci dibohongi .. ?" Sheldon menatap tajam Alden. Kelihatan benar, Sheldon benar-benar murka.

"Aku tidak pernah membohongimu ... ," jawab Alden tanpa maksud membela diri. Dia menghela nafas, untuk kemudian menanamkan tatapannya pada ujung sepatu kulitnya yang tersemir mengkilap.

"Kau menyembunyikan keberadaan Els dariku, dan itu yang kau maksud tidak pernah membohongiku?!!" geram Sheldon. Sepasang tangannya bergerak cepat, hampir mencekal kerah baju Alden jika saja Elsie tidak menjerit seketika.

"HENTIKAN!!!"

Gerak Sheldon terhenti, ... dia menoleh pada Elsie dengan kening berkenyit. "Apa?" tanyanya dingin dan tajam.

"Hentikan kegilaanmu, Sheld!!" teriak Elsie sambil menarik tangan Sheldon dan menghempaskannya. Dia melindungi Alden dengan tubuh mungilnya yang gemetar. "Apa-apaan ini?!!"

Alden yang dibela menatap lelah lewat kelopak matanya yang hampir terpejam. Perlahan, dia menyentuh dan menyingkirkan lengan Elsie dari tubuhnya yang terhalangi pandangan ke arah Sheldon.

"Aku tidak pernah membohongimu ... ," Alden mengulangi pernyataannya. "Dari awal hingga sekarang, aku tidak pernah membohongimu ... "

"O ya?" Sheldon tersenyum sinis. Gerahamnya mengetap keras, bermaksud menghajar Alden saat itu juga. "Lalu arti dari perbuatanmu?!!"

"Kukira kau mampu merabanya--" jawab Alden penuh sesal. "Kukira kau akan mengerti ... "

"Mengerti?" Sheldon menyengir. "Mengerti seperti apa yang kau maksud? Mengerti bahwa kau menyembunyikan Els hanya untuk membantuku? Mengerti bahwa kau melakukan semua itu karna demi kebaikan kami?! Kau ingin aku percaya?!!"

Alden tidak menjawab. Diserang bertubi-tubi oleh Sheldon tidak membuatnya mengeluarkan pembelaannya. Alden memang tidak biasa menjelaskan alasan-alasan dibalik perbuatan-perbuatannya.

"Sudah, cukup!!" Keheningan yang sempat terjadi sesaat itu terpecahkan oleh teriakan histeris Elsie.

Elsie mencengkram pergelangan tangan Sheldon dan menatapnya lekat. Dengan paksa ditariknya Sheldon sampai berdiri dari sofa.

"Kau bisa tidak, tidak memburu orang seperti ini?!!" Elsie mendorong Sheldon hingga mundur selangkah. Dia sangat marah sekarang, .. sungguh, melihat Alden didesak sampai tidak mampu mengeluarkan suara, entah mengapa membuatnya marah besar. "Dengarkan dulu! Kau tidak tahu apa-apa, hanya bisa menuduh?!!"

"Aku?!" Sheldon menjadi berang. Matanya terbelalak menatap Elsie, dengan geram dia menunjuk Alden. "Kau membelanya?!"

"Tidak! Tapi kau sudah keterlaluan!!" tukas Elsie menantang.

"Kau--!!!" Sheldon membelalakan matanya menahan amarah. Giginya bergemelatuk dan tangannya terkepal erat ketika mempelototi Elsie. Ingin sekali rasanya dia meluapkan emosinya saat itu juga, tapi menghadapi Elsie, dia jadi tidak berkutik.

"Apa?!!" Elsie membusungkan dada dengan nada mengancam. Sheldon mengenyitkan alisnya tidak senang.

Elsie dan Sheldon, ... kedua orang dengan bentuk badan dan tinggi yang sangat berbeda itu saling bertatap dengan emosi tinggi yang menguasai diri masing-masing. Elsie mengepalkan tangan dan bersiap mengacungkan tinjunya jika Sheldon memulai gerakan. Sheldon mengambil nafas, mengesek-gesekan giginya menahan amarah.

"Sudah ... " Leraian Alden membuyarkan perang dingin yang terjadi di antara Sheldon dan Elsie. “Jangan bertengkar lagi .. “

Sheldon dan Elsie menoleh serempak kearah Alden.

“Bukan seperti perkiraanmu, Sheld .. ,” kata Alden pada Sheldon. “Kau tahu, ini bukan kebiasaanku … “

Sheldon menahan diri untuk tidak membantah Alden. Dia menunggu, meski sulit, sampai Alden melanjutkan perkataannya yang seperti sulit untuk dikeluarkan.

“Aku tidak mau melakukan pembelaan, .. bagaimanapun, ini kesalahanku .. ,” desis Alden lemah. “Membiarkan Els tinggal di sini, tanpa memberitahumu, … ini kesalahanku … “

“Bukan begitu!!” tukas Elsie cepat, namun Alden segera mengangkat tangannya,

“Biarkan kami menyelesaikannya dulu!”

Elsie terbungkam. Dia memandang Alden tak percaya, .. pria yang biasanya tidak begitu mengeluarkan kata-kata ini, mendadak menjadi banyak bersuara. Biarkan kami menyelesaikannya dulu! Apakah ini urusan di antara para lelaki?

Elsie berpaling pada Sheldon, pria yang satunya itu memicingkan matanya, membalas tatapan Alden tanpa berkedip.

“Baik. Jelaskanlah!” ucap Sheldon dingin. “Ingin kulihat, apa penjelasanmu!”

Alden menghela nafas dan memundurkan punggungnya secara perlahan-lahan ke sandaran sofa. Pandangannya meredup, … mencapai alas lantai yang terbuat dari karpet berbulu halus.

“Kurasa .. kau tahu akibatnya apabila aku tidak mengeluarkan uluran tangan membantunya .. ,” Alden mengangkat kepala dan menatap Elsie.

Sheldon terhenyak, pernyataan Alden yang bukan ditujukan untuk membela diri itu tiba-tiba menyadarkannya akan sebuah kenyataan. Sheldon berpaling cepat pada Elsie yang kebetulan menoleh padanya. Kedua insan itu saling berpandangan, sampai tatapan sinis Elsie terbuang kearah lain. Elsie mencibir dan mengeluarkan decakan dari mulutnya. Saat ini, dia benar-benar kesal setengah mati terhadap Sheldon yang dirasanya sungguh-sungguh menyebalkan.

“Jadi .. maksudmu … ,” Sheldon menatap Alden kembali.

“Masalah kita selesai … “ Alden tersenyum samar. Dia berdiri dari sofa dengan gerak lamban dan melanjutkan dengan tenang, “ .. kau sudah mengerti bukan?”

Sheldon mengangguk perlahan-lahan. “Ya—“ desahnya pelan. Dia mengerti! Dia mengerti jika Alden membiarkan Elsie pergi saat itu, mungkin selamanya dia tidak akan pernah bertemu kembali dengan Elsie. Apakah dia harus bersyukur untuk itu?

“Jadi, kita tidak ada masalah lagi?” tuntut Alden lewat pandangannya.

Sheldon membalas untuk beberapa menit. Keadaan jadi hening. Elsie bergerak-gerak gelisah di tempatnya, .. dia merasa gerah, .. pembicaraan kedua pria ini, tidak dimengertinya.

Senyum lebar akhirnya terkembang dari bibir Sheldon setelah keheningan yang tercipta di antara mereka. Sheldon berjalan mendekati Alden dan menepuk pundaknya.

“Thanks, bro!!”

Alden mengangkat pundak, … sangat pelan dia memundurkan kakinya ke belakang. Tangannya diangkat dan digerak-gerakan di depan Sheldon.

“Jangan ulangi lagi!”

“No!” Sheldon mengangkat tangan, memperlihatkan cengiran lebar yang ceria. “Never!”

“Bagus!!” Alden mengangguk-angguk sambil memutar haluan menuju pintu. Dia berjalan dengan tegap dan mantap, seolah tidak ada masalah yang membebani pikirannya selama ini. “Aku tunggu di luar. Jika ada perlu, panggil aku!” seru Alden dari balik pintu.

“Sip!” Sheldon mengangkat jemponya yang teracung ke atas.

Alden menarik daun pintu yang perlahan-lahan menutup di depan Sheldon dan Elsie.

Tidak ada yang tahu, … seraut wajah tampan yang tadi terlihat tenang dan datar, … tiba-tiba berubah sendu …



******




“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Elsie dingin. Kejadian tadi, yang terjadi antara Sheldon dan Alden, masih membuatnya kesal. Bagaimanapun akhirnya mereka berbaikan kembali, namun tingkah-laku Sheldon yang terlalu memaksa Alden sungguh-sungguh membuatnya tidak senang.

“Kau tinggal di sini dan tidak bilang-bilang?!” Bukannya menjawab pertanyaan Elsie, Sheldon malah mengeluarkan tuduhannya.

Mata Elsie terbelalak. Dengan kedongkolan yang sudah sampai ke ubun-ubun, dia beranjak lebar-lebar dari posisinya. “Kalau begitu aku akan keluar dari sini!”

“ELS!!” Tiba-tiba sebuah tangan kokoh mencengkram lengan Elsie. Belum sempat sadar dari keterkejutannya, tubuh Elsie sudah tertarik ke dalam pelukan Sheldon. “Aku sangat merindukanmu … “ Sheldon menyandarkan dagunya di pundak Elsie dan berbisik lirih. “Sungguh, aku sangat merindukanmu … “

Elsie memejamkan mata mendengarnya. Bukan tidak tersentuh oleh pengakuan Sheldon ketika dia mendorong tubuh jangkung tersebut lepas dari tubuhnya. “Katakan!” tuntut Elsie tajam.

Sheldon menatap Elsie dalam-dalam. Terlihat aneh ketika seulas senyum tiba-tiba tersungging di bibirnya. Bukannya marah oleh sikap Elsie, Sheldon malah memperlihatkan kegemarannya terhadap sesuatu yang dirasanya sangat menarik. Elsie selalu mampu membuatnya tersenyum, apapun kejadian tidak mengenakkan yang terjadi di antara mereka. Sheldon jadi mengingat kejadian sekitar tujuh belas tahun yang lalu, .. di mana Elsie dengan tidak sengaja menjatuhkan es krim caramel ke cardigan baru yang amat dicintainya.

“HOY—“

Lamunan Sheldon buyar oleh teguran Elsie. Sheldon tersentak, tangan Elsie bergerak-gerak cepat di dekat matanya.

“Cerita tidak?!!” dengus Elsie kesal.

Sheldon manggut-manggut, sambil mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Ald bilang ada yang ingin kau bicarakan denganku—“ sambung Elsie dongkol. “Apa?”

Sheldon mengangguk-anggukan kepalanya kembali. “Memang ada … ,” ujarnya pelan.

“So?” Alis Elsie berkenyit. Dia sudah tidak tahan dengan sikap Sheldon yang dirasanya berbelit-belit.

Sheldon menatap Elsie lekat-lekat. “Cerita ini agak panjang … ,” mulainya perlahan-lahan, “ … dan mungkin … agak mengejutkan … “

“Apa .. ?” tanya Elsie yang berubah tegang. “Ceritakanlah, .. jangan membuatku penasaran … “

Sheldon menjatuhkan tubuhnya di sofa. Dia sedang mencari cara, bagaimana sebaiknya menjelaskan kejadian, yang mungkin akan membuat Elsie terguncang dan tidak mampu terima.

“Sheldon Han!” tegur Elsie. “Jika begini terus, aku akan pergi dari sini!”

“Jangan!” cegah Sheldon cepat begitu melihat Elsie sudah mengerakkan kakinya. “Duduklah dulu!” kata Sheldon akhirnya, sambil menepuk-nepuk tempat duduk di sebelahnya.

Elsie mendengus kesal. Dengan keras, dia menjatuhkan tubuh di sofa di sebelah Sheldon dan melipat tangan di depan dada.

“Kejadian itu .. terjadi dua puluh tahun yang lalu … “ Sheldon memulai ceritanya.

“Tunggu dulu!” potong Elsie cepat. “Apa hubungannya dengan masa lalu?”

Sheldon membalas tatapan Elsie lekat-lekat. “ … hari di mana … kau dibawa pulang oleh paman dan bibi … ,” lanjut Sheldon pelan. “Dari rumah Panti Asuhan Joy’s Family … “

“Pulang?” Bibir Elsie bergerak lambat. “Maksudmu … “

“Waktu di mana kau .. diadopsi oleh keluarga kami … “ Sheldon mengangguk. “Iya, dua puluh tahun yang lalu … “

“Dua puluh tahun .. “ Elsie mengulangi kalimat itu dengan mulut komat-kamit. “Maksudmu, … berarti … “

Sheldon menganggukan kepala kembali. “Ya, benar—“

“Bukan dari bayi?” Elsie bertanya parau.

Sheldon mengeleng. “Bukan … “

“Oh—“ Tubuh Elsie terkulai lemas di sandaran sofa. Nafasnya memburu ketika memejamkan matanya. “Tapi … “

“Orangtua kita tidak pernah mengatakan apa-apa .. “ Sheldon membenarkan. “Aku tahu. Karna aku juga beranggapan begitu—“

Elsie membuka mata dan memutar kepala kearah Sheldon.

“Aku mengira kita sudah mengenal sejak bayi … ,” lanjut Sheldon tanpa melepaskan pandangannya dari Elsie.

Elsie tersenyum samar. “Kau juga mengira begitu?”

Sheldon balas tersenyum. Dia mengangguk. “Kau ingat pernah menjatuhkanku ke tanah dan mengancam dengan angkuh bahwa aku adik yang ditakdirkan untuk patuh padamu sejak bayi?”

Elsie mengenyitkan alis, berusaha mengingat-ingat, tapi akhirnya dia mengeleng. Sudut bibirnya terangkat ketika berkata. “Tidak. Aku tidak mengingatnya … “ Elsie tersenyum. “ .. kelihatannya, kau punya ingatan yang kuat terhadap masa lalu kita .. “

“Aku mengingat semuanya yang berhubungan denganmu!” aku Sheldon sungguh-sungguh.

Elsie terpekur kaku. Perkataan Sheldon membuatnya terbungkam seketika. Elsie membuang muka kearah lain, dan kemudian menjatuhkan pandangannya ke dinding.

“Tapi itu bukan point paling utama!” tukas Sheldon yang membuat Elsie mengangkat wajahnya kembali.

Elsie menatap Sheldon bingung. “Maksudmu?”

“Paman dan bibi mengadopsimu, bukan dengan tujuan mendapatkan harta kekayaan haraboji!”

“What?!!” teriak Elsie. “Apa katamu?!”

Sheldon mengangguk. “Ini benar. Aku mendapatkan kepastiannya dari Suster Theresa. Suster yang bertugas di Joy’s Family, panti asuhan di mana paman dan bibi mengadopsimu. Beliau bilang, dia tidak tahu apa-apa mengenai tujuan dan maksud pengadopsianmu seperti yang kutanyakan, yang jelas … paman dan bibi jatuh cinta dan memutuskan mengadopsimu sejak pertemuan pertama. Lagipula, bibi sedang mengandung saat itu, jadi tidak mungkin ada tujuan dibalik pengadopsianmu … Mereka tidak membutuhkan penerus buat memperoleh harta kakek karena pada saat itu, mereka sudah mempunyainya … “

“Hamil?” Mata Elsie melebar. “Omma hamil katamu?”

Sheldon menghela nafas dan menganggukan kepalanya.

“Tidak ada tujuan dibalik pengadopsianku?”

Sheldon mengeleng. “Tidak ada!” sahutnya memastikan.

“Mereka tidak memerlukanku untuk mempertahankan harta kakek … ?”

“Tidak!” sahut Sheldon tegas. “Sudah kubilang, tidak!”

“Karna itu .. aku salah … ,” Elsie bergumam sendiri.

“Sadarlah, Els!” Sheldon menguncang pundak Elsie. “Els!”

“Tapi kenapa baru sekarang aku mengetahuinya?!!!!” teriak Elsie histeris. Dia menghempaskan tangan Sheldon dan menangis keras-keras. “KENAPA?!!!! Semua menderita karna kebodohanku! Josh, seharusnya dia tidak terkena imbasnya!! Lalu kau—APA SALAHMU?!!”

Elsie menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan menangis meraung-raung. Sepasang tangannya menutupi wajah dan lututnya bertekuk rapat di dadanya. Nafas Elsie naik turun, menahan gejolak perasaannya yang hancur saat ini. Dia teringat pada Josh, .. bagaimana dia mengucapkan kata putus dengan tanpa perasaan, … ekspresi Josh saat itu, matanya yang basah oleh airmata dan teriakannya yang menyayat, .. semua berputar-putar dalam benak Elsie.

Sebuah telapak hangat mendarat di tenguk Elsie. Elsie tersengal-sengal, .. perlahan menurunkan sepasang tangannya ke lantai dan mengangkat kepala, .. dia melihat Sheldon tersenyum padanya.

“Aku tidak apa-apa … ,” kata Sheldon lembut. “Jangan dimasukan dalam hati. Aku sudah tahu sejak semula, jadi, jangan dipikirkan .. “

“Bodoh … ,” desis Elsie, sambil menghapus airmata dengan punggung tangannya.

“Ya—ya—“ Sheldon mengakui. “Aku bodoh setiap berhadapan denganmu … “

“Tidak layak—“ Elsie mengigit bibirnya, dan kembali membiarkan airmata menuruni pipinya. “Aku tidak layak diperlakukan sebaik ini olehmu … “

Sheldon menjatuhkan dirinya, duduk di sebelah Elsie. Dia mengangkat tangan kemudian melingkarkannya di belakang pundak Elsie.

“Kau ingat ketika aku mengatakan itu .. ?” tanya Sheldon dengan pandangan menerawang jauh.

“A .. apa .. ?” Elsie menoleh pada Sheldon dan bertanya sengau.

“Aku, akan melindungimu .. selamanya … “ Sheldon memutar wajah hingga bertatapan lekat dengan Elsie. “Apapun yang kau lakukan, sekalipun itu .. tindakan yang menyakitkan .. ,” pandangan Sheldon perlahan-lahan jatuh pada bibir Elsie yang sedikit terbuka. “ … aku akan memaafkanmu, … dan melupakannya .. “

Kepala Sheldon perlahan-lahan bergeser mendekati bibir Elsie. Hanya sejangkau saja bibirnya hampir mengapai bibir mungil gadis itu ketika Elsie tiba-tiba mendorongnya gugup.

“A .. apa … “ Elsie tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Dia menatap Sheldon bingung, … wajah yang begitu dekat darinya tadi membuat jantungnya hampir berhenti berdetak.

Sheldon tersenyum. Dia menarik diri menjauh dari Elsie. Sheldon membersihkan tenggorokan, lalu berkata dengan nada yang dibuat lantang dan bertenaga.

“Kau pulang denganku ya?”

“Hah?!” Elsie membulatkan matanya. “Pu .. pulang? Ke .. kemana?”

“Tentu saja ke Han’s Palace!” sahut Sheldon.

“Han’s Palace?” tanya Elsie tak percaya. “Tapi, orangtuamu … “

“Sudah kubilang aku tak perduli!” tukas Sheldon cepat. “Aku tidak perduli dengan keinginan mereka!” lanjut Sheldon tegas. “Lagipula, .. aku sudah berjanji padamu … “

Pandangan Elsie meredup. “Sheld … ,” desis Elsie hampir tak terdengar. “ .. Kenapa mesti begitu … “

Sheldon meraih tangan Elsie dan membantunya berdiri. “Pulang denganku. Apapun yang terjadi kemudian, serahkan padaku, … biar aku yang menanganinya … “ Sheldon tersenyum pada Elsie dan mengenggam erat-erat tangannya. “Jangan perdulikan kata mereka, Els-a … Sekalipun mereka memaksa, aku tidak akan meninggalkanmu. Kau mau percaya bukan?”

Elsie membalas tatapan Sheldon tak berkedip. Sinar hangat dari mata Sheldon merasuki jiwanya. Ada sebuah perasaan merayap masuk ke dalam hati Elsie, rasa yang tidak dimengertinya. Elsie merasa nyaman dan terlindungi. Perasaan apa ini? Suka, atau cintakah? Ataukah hanya sebatas persaudaraan yang sudah saling kenal sejak lama? Elsie sudah tidak ingin memikirkannya lagi. Dia membalas genggaman Sheldon dan meremasnya pelan. Elsie mengangguk.

“Aku akan pulang denganmu, hari ini juga … “

“Yeah!!” Sheldon mencolek dagu Elsie, membuat Elsie terlonjak kaget dan mengejapkan matanya. “Begitu dong—“ Sheldon menyenggol pundak Elsie dan memberi senyum nakal padanya.

Elsie yang berniat marah mengurungkan niat begitu melihat keceriaan Sheldon, tanpa sadar, … senyum cerah juga terkembang di bibir Elsie.



******



Sheldon mengandeng tangan Elsie menuju pintu depan dimana Alden sudah berdiri menunggu mereka sejak sepuluh menit yang lalu. Sheldon menyeret koper yang sudah dikemas Elsie di tangan kanannya, .. sedangkan agak di belakang, Elsie mengikuti dengan kepala tertunduk. Sheldon menghentikan langkah tepat di depan Alden, .. begitu juga Elsie yang terlihat enggan.

“Terimakasih atas bantuannya terhadap Elsie selama ini, Ald!” Sheldon meninju pelan dada Alden, seloroh mengembangkan cengiran khasnya. “Elsie akan pulang bersamaku ke Han’s Palace sekarang .. ,” Sheldon agak menoleh ke belakang. “ .. kuharap tidak ada yang tertinggal .. ,” lanjutnya, yang ditujukan pada Elsie.

Yang diajak bicara, mengangkat kepalanya dan menatap bingung. “Ya?”

“Apa sudah terkemas semua?” Sheldon tersenyum. “Jujur saja, aku tidak ingin melihatmu kembali lagi .. ,” lanjutnya dengan maksud bercanda.

“APA?!” Mata Elsie terbelalak. “Apa maksudmu?!!” teriak Elsie.

Sheldon menyusut selangkah begitu tinju Elsie hampir mendarat di dadanya. “Well, aku hanya bercanda kok .. ,” seru Sheldon seraya menghindari terjangan Elsie berikutnya. “Hoy, jaga temperamenmu .. ,” Sheldon tertawa lepas.

“Aku tidak suka cara bercandamu!” Elsie menghentikan gerakannya secara mendadak. “Kau—sangat kekanak-kanakan .. “ Elsie berdiri kaku, rautnya berubah dingin. Lambat laun, pandangannya berpindah pada Alden. “Terimakasih atas segalanya … ,” kata Elsie pelan, seperti desisan yang mungkin hanya bisa didengarnya sendiri. Kau tidak berkata apa-apa? .. Kenapa? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang terpancar dari mata Elsie ketika menatap Alden lekat-lekat.

Sheldon menghentikan gerak kakinya di dekat pintu, .. dia berbalik dan menoleh kearah Alden dan Elsie. Pada saat itu, dari posisinya, dia melihat langsung ekspresi Elsie yang seperti itu. Tawa Sheldon yang masih mengema, terhenti seketika. Perlahan-lahan, sangat lambat, … alis Sheldon berkenyit tanpa disadari. Dia seolah melihat sesuatu yang janggal, .. sesuatu yang sulit untuk dijabarkan dengan kata-kata, … perasaan yang … mungkin sesungguhnya dirasakan Elsie saat ini.

“Aku pulang .. “ Elsie memindahkan pandangan ke lengan Alden, seolah enggan bertatapan terlalu lama dengannya. Elsie menarik tali ransel yang agak melorot dari pundaknya, kemudian melanjutkan dengan pelan, “ .. sampaikan salamku pada bibi, .. maaf, aku tidak bisa berpamitan langsung padanya … “

Elsie melangkahkan kakinya, .. melewati Sheldon yang terpekur kaku di tempatnya.

“Berangkat, Sheld!” seru Elsie tanpa menoleh pada Sheldon.

Sheldon tersentak, .. membelalakan matanya. Dia berpikir sebentar, .. memandang Alden yang berdiri kaku melepas kepergian Elsie dengan pandangannya. Sheldon seperti melihat sesuatu kembali, .. di mata Alden. Namun secepat kilat perasaan itu datang, secepat itu pula Sheldon mengingkarinya. Sheldon mengeleng keras-keras. Matanya berkejap sekali, lalu terarah kembali pada Alden.

Alden sudah memindahkan perhatiannya pada Sheldon. Dia tersenyum.

“Hati-hati di jalan .. ,” kata Alden pada Sheldon.

Sheldon menahan nafasnya, … gambaran tadi pasti salah!, Sheldon menguatkan hatinya, … Tidak mungkin! Ald tidak mungkin menaruh perasaan ke Els! Itu tidak mungkin!!

Sheldon tersenyum pada Alden dan mengangkat jempolnya agak terpaksa. “Thanks … “



*****
« Last Edit: April 02, 2012, 07:58:46 pm by Be my self »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 9#
« Reply #348 on: April 02, 2012, 09:56:51 pm »
sorry mam gw baru baca sekilas n itu yg kebayang cuma jeje semua lol jadi bingung but i love  bannernya ... ya lu tau lah ... [hmff]

younee

  • Guest
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 9#
« Reply #349 on: April 02, 2012, 10:53:25 pm »
Thanks updateannya mom..
Els akhirnya pulang stlah 3x puasa 3x lebaran (?) ngumpet dirumah Ald [hmpfh]
Alden pasti berat kan nglepas Els pulang,, Aku yakin Els & Ald saling suka, Sheldon aja udah mulai ngrasain ada yg tdk beres dr ke 2 orang itu.

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 9#
« Reply #350 on: April 02, 2012, 11:23:52 pm »
sorry mam gw baru baca sekilas n itu yg kebayang cuma jeje semua lol jadi bingung but i love  bannernya ... ya lu tau lah ... [hmff]
yeee bannernya dah lamaaaaa [head break] nih org, tulalit [whip] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 9#
« Reply #351 on: April 03, 2012, 02:18:17 am »
akhirnya di up date juga ye mam [lovestruck] [lovestruck]

hadeuh mami  [head break] [head break] [head break] knapa gagal tuh Sheld ama Els kissuannya??,lol tapi gw suka tuch coz dengan begitu Sheld kan ga semudah itu mendapatkan Els (maksudnya cinta Els ) coz akhirnya dia pun menyadari jika Ald menyukai Els. saat Sheld melihat tatapan sayu Ald atas kepergian Els kembali ke Han palace.

gw udah baca dari awal sampe chapt 9 dan entah kenapa setiap gw melihat nama Sheldon , wjah Min Ho lah yang terbayang di benak gw mam [hmpfh]. tapi apapun keputusan mami sebagai authornya mau Sheldon atau Alden yang diperankan untuk MH gw tetap mencintai kedua karakter tsb baik Sheldon maupun Alden , karakternya sangat menarik. Sheld yang ceria dan terkesan ceplas ceplos tpi terkadang sikapnya seenak jidatnya tapi yang gw suka dari Sheld cara dia mencintai Els sangat tulus sampai Sheld menyadari untuk mendapatkan Els sangat tidak mudah dan melakukan semua yang menurutnya terbaik buat els dia lakukan sampai akhirnya dia menemukan masa lalu Els yang tidak disangkanya termasuk Els. begitupun Alden , cowo yang terkesan dingin dan jarang atau tidak pernah mengungkapkan isi hatinya saat bertemu bahkan tinggal bersama Els bisa berubah. Alden pernah menangis dihadapan els dan mengatakan jika dirinya juga hanya manusia biasa.

dan buat karakter Els, yang gw bisa bilang " U ARE SO LUCKY" having a two HOT man for loving you,lol



    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline vhia_minsuners

  • Full
  • ***
  • Posts: 411
  • saranghae MinSun.... saranghae Joondi...
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 9#
« Reply #352 on: April 03, 2012, 03:33:01 am »
Moooommmy............!!!  [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234]  kenapa kiss antara sheldon dan els kagak jadi,  [AddEmoticons04241] [AddEmoticons04241] padahal ngarepp.......  Hface Hface Hface  [AddEmoticons04231]

ane sependapat  [AddEmoticons04246] [AddEmoticons04246] ama eon santy, bagaimanapun kerasnya buat milih ald jadi minho tetep kagak bisa,,,, yg terpatri tetep aja sheldon is minho.....  [AddEmoticons04254]  [AddEmoticons04254]

itu scene kiss  [kiss] yg gak jadi sepertinya suasananya mirip scene Jundi pas di gubuk... saat jandi kedinginan n junpyo duduk di sampingnya,,,  ngomong2 lalu matanya ngarah ke bibir jandi,, begitupun sheldon dan els,,,  [hmpfh] [hmpfh]

lalu Ald ane tahu dia juga pasti akan merasakan sesuatu yg hilang setelah kepulangan els ke kediaman han, tapi mau gimana ya....  [AddEmoticons04279] [AddEmoticons04279] author sendiri ampe sekarang masih ngegantungin  hang  hang siapa jadi minho jadi tak mampu berharap lebih untuk Ald,,, karna tetap sheldon aja yg kebayang,,, kebersamaan sheldon dan els aja yg kebayang....  [lovestruck]

thanks buat updatenya tidak lupa......  [briggin] [briggin]


kissing you baby... muaaaccchhh ^^

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #SPOILER#
« Reply #353 on: April 03, 2012, 04:49:15 am »
me first voter for SHELDON  [smiley-gen013]
gue tau kalo mommy udah nentuin SHELDON = MINHO  whistling

kalo ga  [guns] [guns] [guns]  [hmff]

hammer2 hammer2 hammer2 ga janji yeeee whistling whistling
tp karna lu anak gw, akan gw pertimbangkan dulu deh [hmpfh] [hmpfh]

ehmm... ada udang di balik tempura ya [chin] [chin]
anak gak boleh mempengaruhi mommynya ya [wacko]
vie dirimu hanya boleh suka sama wine geblek aja... jgan yg ini ok [angry]

mumpung yang punya ff ini lagi sibuk di ws [hmpfh]
thanks dah update sesuai jadwal mom, but sorry ane blm baca ya.... office hour [on]
komen nyusul seperti biasaaaaa [sweat]

[huglove] ALD my everything.... love for u [lovestruck]
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline lovekey

  • Newbie
  • *
  • Posts: 1
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 9#
« Reply #354 on: April 03, 2012, 08:42:18 am »
hi mami aku Newbie disini.. bisa ikutan panggil mami ga [heh] engkau adalah Author favoritku.. aku sangat cinta dengan kedewasaan dan ketenangannya Ald.. dia membuatku nyaman  [hmpfh] dari awal baca aku sudah  jatuh cinta dengannya.. i love you Ald.

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 9#
« Reply #355 on: April 03, 2012, 10:12:56 am »
hi mami aku Newbie disini.. bisa ikutan panggil mami ga [heh] engkau adalah Author favoritku.. aku sangat cinta dengan kedewasaan dan ketenangannya Ald.. dia membuatku nyaman  [hmpfh] dari awal baca aku sudah  jatuh cinta dengannya.. i love you Ald.
author favorit [what] moso [hmpfh] [hmpfh] btw, mat gabung di sini ya [hug] [hug] thanks juga dah dibaca [kiss] [kiss]
elu menjatuhkan pilihan pd alden [chin] terus terang, ald emang bikin kesemsem Hface Hface

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #SPOILER#
« Reply #356 on: April 03, 2012, 10:16:29 am »
me first voter for SHELDON  [smiley-gen013]
gue tau kalo mommy udah nentuin SHELDON = MINHO  whistling

kalo ga  [guns] [guns] [guns]  [hmff]

hammer2 hammer2 hammer2 ga janji yeeee whistling whistling
tp karna lu anak gw, akan gw pertimbangkan dulu deh [hmpfh] [hmpfh]

ehmm... ada udang di balik tempura ya [chin] [chin]
anak gak boleh mempengaruhi mommynya ya [wacko]
vie dirimu hanya boleh suka sama wine geblek aja... jgan yg ini ok [angry]

mumpung yang punya ff ini lagi sibuk di ws [hmpfh]
thanks dah update sesuai jadwal mom, but sorry ane blm baca ya.... office hour [on]
komen nyusul seperti biasaaaaa [sweat]

[huglove] ALD my everything.... love for u [lovestruck]
bukannnn, makkkkk,, yg bnr, ada udang dibalik uang [hmpfh] [hmpfh] jgn salah mak, anak tuh punya pengaruh besar ke emaknya loh [smiley-dance013] [smiley-dance013] selain wine geblek, si vhia juga suka ama sheld gadung [laughing] [laughing]
gw tunggu komennya, makkkkkkk!! ga pake lama yaaaaaa Hface Hface

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 9#
« Reply #357 on: April 03, 2012, 10:22:41 am »
Moooommmy............!!!  [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234]  kenapa kiss antara sheldon dan els kagak jadi,  [AddEmoticons04241] [AddEmoticons04241] padahal ngarepp.......  Hface Hface Hface  [AddEmoticons04231]

ane sependapat  [AddEmoticons04246] [AddEmoticons04246] ama eon santy, bagaimanapun kerasnya buat milih ald jadi minho tetep kagak bisa,,,, yg terpatri tetep aja sheldon is minho.....  [AddEmoticons04254]  [AddEmoticons04254]

itu scene kiss  [kiss] yg gak jadi sepertinya suasananya mirip scene Jundi pas di gubuk... saat jandi kedinginan n junpyo duduk di sampingnya,,,  ngomong2 lalu matanya ngarah ke bibir jandi,, begitupun sheldon dan els,,,  [hmpfh] [hmpfh]

lalu Ald ane tahu dia juga pasti akan merasakan sesuatu yg hilang setelah kepulangan els ke kediaman han, tapi mau gimana ya....  [AddEmoticons04279] [AddEmoticons04279] author sendiri ampe sekarang masih ngegantungin  hang  hang siapa jadi minho jadi tak mampu berharap lebih untuk Ald,,, karna tetap sheldon aja yg kebayang,,, kebersamaan sheldon dan els aja yg kebayang....  [lovestruck]

thanks buat updatenya tidak lupa......  [briggin] [briggin]

kiss ga jadi karna belum waktunya. perasaan belum tentu, tempat salah, org yg dituju belum tentu bener, bla bla bla and bla [hmff] [hmff]
klu dah netapin pilihan emang sulit dirubah,, gw ngerti [hmpfh] [hmpfh] so, sheldon forever ya (meski si sheldon ternyata jeje Hface Hface )
benerkah adegan kiss yg ga jadi antar els n sheld mirip kiss jundi pas di gubuk [chin] [chin] beda ah, di sini si elsnya ogah sedg si jandi pasrah [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 9#
« Reply #358 on: April 03, 2012, 10:27:38 am »
akhirnya di up date juga ye mam [lovestruck] [lovestruck]

hadeuh mami  [head break] [head break] [head break] knapa gagal tuh Sheld ama Els kissuannya??,lol tapi gw suka tuch coz dengan begitu Sheld kan ga semudah itu mendapatkan Els (maksudnya cinta Els ) coz akhirnya dia pun menyadari jika Ald menyukai Els. saat Sheld melihat tatapan sayu Ald atas kepergian Els kembali ke Han palace.

gw udah baca dari awal sampe chapt 9 dan entah kenapa setiap gw melihat nama Sheldon , wjah Min Ho lah yang terbayang di benak gw mam [hmpfh]. tapi apapun keputusan mami sebagai authornya mau Sheldon atau Alden yang diperankan untuk MH gw tetap mencintai kedua karakter tsb baik Sheldon maupun Alden , karakternya sangat menarik. Sheld yang ceria dan terkesan ceplas ceplos tpi terkadang sikapnya seenak jidatnya tapi yang gw suka dari Sheld cara dia mencintai Els sangat tulus sampai Sheld menyadari untuk mendapatkan Els sangat tidak mudah dan melakukan semua yang menurutnya terbaik buat els dia lakukan sampai akhirnya dia menemukan masa lalu Els yang tidak disangkanya termasuk Els. begitupun Alden , cowo yang terkesan dingin dan jarang atau tidak pernah mengungkapkan isi hatinya saat bertemu bahkan tinggal bersama Els bisa berubah. Alden pernah menangis dihadapan els dan mengatakan jika dirinya juga hanya manusia biasa.

dan buat karakter Els, yang gw bisa bilang " U ARE SO LUCKY" having a two HOT man for loving you,lol


udah dijelasin di atas, sansan,, kiss ga jadi karna ga pada tempatnya, waktu yg salah, org yg blum tentu bener, and lain2 [laughing] [laughing]
karrna kesan pertama sudah terpatri di hatimu, jd sulit ngebayangin yg lain sebagai minho selain sheldon. gw ngerti perasaan ini, karna gw sekali baca ff jg begitu jika castnya blum ditentuin [biggrin]
yup, setuju,,, els emang so luckyyyyyyyy [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 9#
« Reply #359 on: April 03, 2012, 10:31:13 am »
Thanks updateannya mom..
Els akhirnya pulang stlah 3x puasa 3x lebaran (?) ngumpet dirumah Ald [hmpfh]
Alden pasti berat kan nglepas Els pulang,, Aku yakin Els & Ald saling suka, Sheldon aja udah mulai ngrasain ada yg tdk beres dr ke 2 orang itu.
[chin] [chin] yakin bener els and ald dah saling suka whistling whistling sheldon klu liat pandangan mereka, emang rada2 curiga sih tp dia segera memungkirinya. bagaimanapun dia percaya pada els, mksdnya dia berusaha percaya wlp sedikit ragu [sweat] [sweat] [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun