Author Topic: *When a Gay met a Young Mom (in love again)* ~chp 22 (ending), 22 Jan'2011  (Read 97654 times)

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
kok aku jd deg2an buat chap selanjutnya ya ? [ohmy] [ohmy] [ohmy]
 [hmpfh]
next chap jgn lama2 ya mi [lovestruck] [lovestruck]
 [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
jadi ikutan khawatir nih mi...  [AddEmoticons04238] [AddEmoticons04282]  [AddEmoticons04219]

tapi kecemasannya cuman di 1 chap aja kan mi... chap berikutya bakal sweet kan mi  [AddEmoticons04261]

updet dunk mi  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
seblm ff ini memasuki tahap2 kecemasan, gw mau menjelaskan dulu karakter hyesun. mungkin kalian akan menganggap masalah yg menyebabkan hyesun meninggalkan minho tuh sepele. tp gw mau menegaskan klu masalah itu sama sekali ga sepele buat hyesun. harap para pembaca semuanya mengerti.

karakter hyesun di ff bengkok2 ini sbnrnya karakter plg lemah dr semua ff gw. mungkin tdk terlihat karena hyesun kelihatan tegar stlh ditinggalkan onnie dan kakak iparnya. mau gw tegaskan, hyesun tegar bkn karena dirinya tp karena kangsan. klu setelah meninggalnya keluarganya, tinggal dia sendiri di dunia ini,dia tentu tdk dpt bertahan.

karena itu jika masalahnya berhubungan dgn dirinya sendiri--misalnya hubungan cintanya, otomatis dia membangun sebuah tembok utk melindungi dirinya sendiri supaya tdk terluka lg. masalah sepele apapun klu berhubungan dgn kemungkinan minho mungkin melukai hati dan perasaannya, dia akan segera menutup diri rapat2. caranya? mungkin pergi selamanya dari kehidupan minho. 

Bisa dikatakan hyesun di tdc yg kelihatan lemah sebnrnya lebih kuat dari hyesun di bengkok2 ini. bahkan jie-ah yg penyakitan jg. hyesun tdc lemah karena dia tdk bisa menolak permintaan2 org lain. Hanya itu. berlainan dgn hyesun bengkok yg selalu menutup dirinya dari semua masalah. klau bukan kegigihan minho, masalah2 atau peristiwa2 yg pernah terjadi pdnya tidak akan terungkap.

karakter hyesun tdc berubah sesuai perkembangan wkt. dari hari ke hari. mungkin saja dia kelihatan lemah. tp sebnrnya dia kuat. dia bahkan berani menerima kenyataan klu minho tdk bisa bersamanya karena angel. dia mengerti dan menyadari kedudukannya. tp dia tdk menyesal mengambil keputusan ini. tdk semua wanita bisa menerima pria yg dicintainya bersama wanita lain. benar kan?

ah teori  [dry]

langsung update aja mam  [clap]

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
mamiii [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234]
katanya mau update yg bengok2 [whip]
gimana tooh ? [what] [what] [what]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
yee gw ga janji update cepat hammer2 baru selesai 3 part doang [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
yee gw ga janji update cepat hammer2 baru selesai 3 part doang [laughing]
[hmpfh] ya elah, gitu kemaren nawarin bengkok2 diupdate [laughing] [laughing]
ternyata masih 3 part [hmff]
ya udah deh, tak tunggu lho mam [smiley-gen013] [smiley-gen013]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] waktunya UPDATE bengkok niy mi  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
seblm ff ini memasuki tahap2 kecemasan, gw mau menjelaskan dulu karakter hyesun. mungkin kalian akan menganggap masalah yg menyebabkan hyesun meninggalkan minho tuh sepele. tp gw mau menegaskan klu masalah itu sama sekali ga sepele buat hyesun. harap para pembaca semuanya mengerti.

karakter hyesun di ff bengkok2 ini sbnrnya karakter plg lemah dr semua ff gw. mungkin tdk terlihat karena hyesun kelihatan tegar stlh ditinggalkan onnie dan kakak iparnya. mau gw tegaskan, hyesun tegar bkn karena dirinya tp karena kangsan. klu setelah meninggalnya keluarganya, tinggal dia sendiri di dunia ini,dia tentu tdk dpt bertahan.

karena itu jika masalahnya berhubungan dgn dirinya sendiri--misalnya hubungan cintanya, otomatis dia membangun sebuah tembok utk melindungi dirinya sendiri supaya tdk terluka lg. masalah sepele apapun klu berhubungan dgn kemungkinan minho mungkin melukai hati dan perasaannya, dia akan segera menutup diri rapat2. caranya? mungkin pergi selamanya dari kehidupan minho. 

Bisa dikatakan hyesun di tdc yg kelihatan lemah sebnrnya lebih kuat dari hyesun di bengkok2 ini. bahkan jie-ah yg penyakitan jg. hyesun tdc lemah karena dia tdk bisa menolak permintaan2 org lain. Hanya itu. berlainan dgn hyesun bengkok yg selalu menutup dirinya dari semua masalah. klau bukan kegigihan minho, masalah2 atau peristiwa2 yg pernah terjadi pdnya tidak akan terungkap.

karakter hyesun tdc berubah sesuai perkembangan wkt. dari hari ke hari. mungkin saja dia kelihatan lemah. tp sebnrnya dia kuat. dia bahkan berani menerima kenyataan klu minho tdk bisa bersamanya karena angel. dia mengerti dan menyadari kedudukannya. tp dia tdk menyesal mengambil keputusan ini. tdk semua wanita bisa menerima pria yg dicintainya bersama wanita lain. benar kan?

Yep yep gw ngerasa kok mam perbedaaan karakter hye sun di tiap2 ff lu

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
yg ini updatenya hari rabu ya [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Chainezz_Vian

  • Guest
Bnr ya mam. . .   
Tunggu kedatangan ku 2hr lg. Hoho>.< 

semangat mii. . . [smiley-gen013] [smiley-gen013]
[smiley-gen013]

Offline love_miinsun

  • Newbie
  • *
  • Posts: 77
  • ;)
  • Location: palembang
    • View Profile
d tngg yac chapter selanjutt ny !!
moga aj criita ny mkiin seru abiis

update   [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]




yg seru yac  [wacko] [wacko] [wacko] 
jng lma''  [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono]


hehehehe


                sexyyyyyyyyyyyyyy..... :D

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile

CHAPTER FIFTEEN


Song of The Day :



Memasuki ‘Kim’s Health’, raut gelisah di wajah Eunhye langsung tertangkap oleh Hyesun. Rekan kerjanya itu melirik ke kamar praktek Kimjoon berulangkali. Dahinya berkerut—amat dalam, sedangkan bibirnya sedikit mengangga.


Hyesun mendekatinya dengan langkah lebar. Setelah sampai, ditepuknya lengan Eunhye. Agak keras untuk menyentaknya dari kerisauan.

“Akhh!!” teriak Eunhye. “Kamu mengejutkan aku saja!” protesnya keras.

Hyesun tertawa. Tampang Eunhye saat ini benar-benar mengelikan. Dia seperti tertangkap basah buat sesuatu yang telah dilakukannya secara diam-diam. Dalam arti perbuatan buruk yang tidak ingin diketahui orang lain—tentu saja.

“Wegude? Ada yang aneh dengan kamar oppa? Atau .. kamu telah … ,” Hyesun sengaja mengulur perkataannya. Telunjuknya digoyang-goyangkan di depan Eunhye dengan senyuman mengoda yang teramat nakal.

“Hussshh,” Eunhye menekan lengan Hyesun ke bawah. “Apa maksudmu?” katanya kesal.

“Tidak ada ha .. ha .. ,” tawa Hyesun meledak lagi.

Eunhye segera memelototinya. “Jangan mengodaku terus!” ketusnya. “Diurus tuh oppamu!” telunjuknya menunjuk ke kamar praktek Kimjoon.

“Memangnya ada apa dengan oppa?” tanya Hyesun setelah menghentikan ketawanya. Dahinya berkerut sekarang. Pertanyaan Eunhye membuatnya penasaran.

“Kamu tidak tahu?” selidik Eunhye heran. Tidak biasanya Hyesun tidak mengetahui jadwal dokter Kim, pikir Eunhye. Apa ada yang disembunyikan dokter Kim? Lanjutnya dalam hati.

Hyesun mengeleng perlahan. “Tidak.” Katanya. “Ada yang serius?”

Eunhye tidak menjawab. Dia membalas pandangan bertanya Hyesun dengan sikap serius. kemudian dia menunjuk kamar kerja Kimjoon lagi—kali ini dengan wajahnya.

“Mwo?” tanya Hyesun.

“Tanyakan sendiri padanya.” Sahut Eunhye bijak. “Dia lebih tahu apa yang pantas dikatakan dan apa yang tidak.”

Hyesun terdiam di tempatnya. Tubuhnya jadi kaku. Mendadak perasaannya tidak enak. Tidak biasanya Eunhye serius ini. Apa telah terjadi sesuatu dengan Kimjoon? Dia ingin bertanya lebih lanjut, tapi Eunhye sudah berkutat dengan pekerjaannya.

Hyesun menghela nafas berat. Dengan lambat-lambat, dia mengayunkan kakinya ke pintu praktek Kimjoon.


*************



”Masuk!”

Hyesun berhembus lega setelah suara keras Kimjoon menyahut ketukannya dari balik pintu. Paling tidak bukan berkaitan dengan kesehatannya—desah Hyesun dalam hati.

Hyesun membuka pintu dan masuk ke dalam kamar praktek Kimjoon yang lumayan besar. Sosok dokter muda itu tidak kelihatan ketika dia sudah berada di dalam.

“Oppa … ,” panggilnya khawatir.

“Ne .. “ Kepala Kimjoon nongol dari bawah kolong meja.

Mata Hyesun terbelalak lebar. “A .. apa .. yang oppa lakukan di situ?” Tergesa dia mendekati Kimjoon. “Gwencana?”

Pria muda itu berdiri dari lantai sambil mengibas-ngibaskan debu tipis yang menempel di rambut dan celananya.

“Ne .. ,” dia melakukan gerakan yang sama pada jas yang dikenakannya. Kemudian dia berjongkok lagi, “Hanya mengubek file-file lama. Kalau tidak salah saya taruh di dua kardus di bawah kolong meja ini .. “ kata Kimjoon. “Dapat!!” teriaknya.

Bukkk … dua map file yang sudah agak menguning dan cukup tebal terhempas ke atas meja.

“File-file lama? Untuk apa itu?” tanya Hyesun. Wajahnya sedikit berkerut.

“O hanya memeriksa kembali kasus-kasus dari pasien-pasien lama yang kutangani.” Jawab Kimjoon sambil menjatuhkan diri di kursi. Dia menarik kursi tersebut mendekat ke meja, kemudian mulai membuka file-file lama  yang sedikit berdebu itu.

“Beberapa di antaranya masih harus check-up rutin beberapa bulan, bahkan beberapa tahun sekali.” Katanya. “Sebenarnya data-datanya sudah dimasukkan ke komputer. Tapi untuk berjaga-jaga—siapa tahu semua file dalam computer hilang gara-gara virus atau sesuatu yang tidak diinginkan—saya akan menjelaskannya kembali padamu dan Eunhye. Penyakit-penyakit para pasien ini ada yang cukup parah dan mesti diperhatikan lebih serius. Tidak boleh ada kekeliruan sedikitpun dalam menanganinya. Apa kamu punya waktu mendengarkannya sekarang?”

Hyesun berjalan membeloki sudut meja kerja Kimjoon hingga sampai di sebelahnya. “Mengapa menyerahkannya pada kami?” tanyanya tidak mengerti. Perkataan-perkataan Kimjoon justru membuatnya semakin bingung. “Bukankah oppa yang selama ini menangani langsung kasus-kasus ini?”

“Benar.” jawab Kimjoon. “Tapi untuk setengah tahun mendatang, saya tidak bisa melakukannya .. ,” sesalnya.

“Mwo?!” Hyesun sangat terkejut. “Mengapa?” tanyanya—menuntut penjelasan.


Kimjoon mendorong map file di hadapannya ke tengah meja, lalu menghadapi Hyesun. “Karena oppa sudah diterima sebagai bagian dari World Red Cross … “

“Mwo??!!” teriak Hyesun. “Pa .. palang .. Me .. rah se .. Dunia?” sepasang matanya terbelalak lebar. “Ka .. kapan .. oppa .. oppa mendaftarkan diri .. ke .. World Cross? Dan .. mengapa?”

Pandangan Kimjoon beralih ke meja. Dia diam selama beberapa detik. Setelah berpikir, dia berdiri dari kursi dan mendorongnya ke belakang. Dia menyandar ke pinggir meja dan menekan halus pundak Hyesun dengan tangannya.

“Dengarkan oppa!” katanya tenang. “Semuanya sudah terlaksana. Impian-impian oppa sebelum bertemu denganmu, sekarang sudah terlaksana.”

“Ini impian oppa?” tanya Hyesun tak percaya. Suaranya sangat pelan. “Tidak mungkin.” Dia mengeleng, “Oppa tidak pernah memperlihatkan maksud itu!”

“Karena waktu itu ada kamu.” Kata Kimjoon sambil menjatuhkan diri kembali ke kursi yang agak jauh dari meja kerjanya. “Waktu itu ada kamu yang mesti kujaga.” Dia menatap Hyesun lekat-lekat. “Tapi sekarang, oppa sudah bisa melepas tanggung jawab itu. Bukankah begitu? Sudah ada Minho-ssi yang bersedia menjaga dan melindungimu?”

“Oppa .. “

Kimjoon mengangkat tangannya—menghentikan perkataan Hyesun lebih lanjut. “Kamu tidak perlu mengkhawatirkan oppa.”katanya. “Oppa bisa menjaga diri. Perjalanan ini sangat aman kok. Banyak sukarelawan dan dokter-dokter lain yang akan bahu-membahu dalam kegiatan sosial ini.”

Hyesun menghela nafas. Tekad Kimjoon kelihatan sudah bulat dan tidak bisa diganggu-gugat. Mencegahnya, sama saja dengan menunjukkan padanya betapa egoisnya dia. Dia tidak berhak melarang niat dokter muda ini. Tidak berhak! Bukankah demi dia, oppanya ini sudah melepas cita-cita mulia tersebut—tiga tahun yang lalu? Karena keadaannya yang mengharukan ketika perjumpaan mereka pertama kali, pemuda ini rela melepas cita-cita itu. Jadi, mana tega dia melarangnya setelah mengetahui semua kenyataan ini?

“Kapan oppa berangkat?” tanya Hyesun perlahan. “Melihat .. melihat ketergesaan persiapan oppa, .. tidak lama lagi kan?”

“Dua hari lagi … ,“ jawab Kimjoon cepat.

“Dua hari?” Hyesun tersentak. “Me .. mengapa secepat itu?”

Kimjoon menarik map file tadi. “Memang agak tergesa.” Katanya. “Tapi sudah tidak dapat ditunda lagi karena bencana badai yang melanda Kamboja beberapa hari yang lalu. Sangat dibutuhkan bantuan medis di sana, jadi harus berangkat secepat mungkin.”

“O … ,” tubuh Hyesun jadi lemas.

Kimjoon mengangkat wajahnya. “Jika tidak ada masalah lain, bisa kita mulai sekarang?”. Dia menunjuk kertas file di tangannya.

Hyesun mengangguk pelan. Dia menarik kursi di hadapan Kimjoon, kemudian duduk di sana. “Oppa … ,” panggilnya lemah.

“Ya?” Kimjoon menatapnya.

Hyesun diam selama beberapa detik sebelum berkata, “Apa oppa bahagia? .. Dengan kegiatan itu?”

Mereka tenggelam dalam kebisuan, sampai Kimjoon tersenyum perlahan. “Ne. Tentu saja. Tugas ini sudah akan kulakukan beberapa tahun yang lalu.” Jawabnya. “Dengan atau tanpa kamu, tetap akan berjalan. Jadi kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, Hyesun-a .. ,” lanjut Kimjoon. Tangannya menepuk lengan Hyesun. “Yang ingin oppa lihat hanya senyumanmu. Selama kamu bahagia, oppa juga bahagia. Oppa akan selalu mendoakan kebahagiaanmu bersama Minho-ssi .. “

Hyesun mengusap dua butir airmata yang mulai mengalir keluar dari pelupuk matanya. “Gumawo .. ,” katanya di sela-sela isak tanggis halus yang keluar dari bibir mungilnya.

Kimjoon melebarkan senyumnya. “Kalau begitu bagaimana?” tanyanya sambil mengedipkan sebelah matanya. “Sudah siap mendengarkan penjelasan-penjelasan oppa?”

Hyesun tertawa sumbang. “Oppa … “

Kimjoon ikut tertawa. “Sudah baikan kan?” godanya.

“Ne .. “

Kimjoon mengangguk. Lalu tangannya menunjuk ke pintu, “Coba kamu lihat Eunhye sudah beres dengan pekerjaannya apa belum!” perintahnya sambil melanjutkan lagi. “Jadwal-jadwal untuk hari ini sudah diundur agak ke siangan sehingga saya punya cukup waktu menyerahkan segala sesuatunya pada kalian. Dokter Song dan dokter Jung akan mengantikan tugasku di sini selama aku tidak ada. Ada juga seorang dokter baru yang akan datang seminggu kemudian.”

“Ne …,” Hyesun kemudian keluar dari ruangan itu.         

 
*************



”Sebotol bir, please!” kata seorang cewek berpenampilan seronok—memakai gaun pendek yang sangat ketat. Bagian dada yang sangat rendah hingga memperlihatkan belahan buah dadanya—pada Minho. Dia menjatuhkan diri tepat di hadapan pemuda itu.

“Ne.” Minho tersenyum. Diambilnya sebotol bir dari rak belakang dan meletakkannya di hadapan cewek itu. “Your beer .. “


Cewek itu mengambil bir tersebut dan mengoyangkannya di depan Minho. “Thanks .. “ Dia tersenyum nakal. Kemudian tubuhnya condong ke depan—mendekat ke Minho, hingga hampir memperlihat setengah dari buah dadanya yang montok. “Kau ada waktu?”

Minho tertawa. “No .. “. Setelah itu dia berbalik lagi pada pekerjaannya. Tangannya bergerak lincah menata gelas-gelas yang telah dicuci Seunggi.

“Why?” tanya cewek yang masih belum menyerah itu. Tubuhnya semakin condong ke depan.

Minho berpaling padanya. Pemandangan indah yang terhampar di depan mata itu sama sekali tidak menganggu ketenangannya. “Anggap saja saya tidak tertarik pada wanita.” Katanya sambil tersenyum tipis. “That’s why … “ Minho mengangkat tangan ke atas.

“Mwo?” teriak cewek itu. “Bukan cowok normal? Oh my god!!” dia menepuk jidat keras-keras. Sambil mengenggam erat-erat bir di tangannya, dia mengerutu, “Membuang waktuku saja!” Dia ngeloyor pergi dengan kaki dihentak-hentakan sekuat-kuatnya ke lantai.

Tawa Minho meledak saat itu juga. Mengema keras dan tidak berhenti sampai Seunggi harus menyengolnya keras-keras untuk menyadarkannya.

“Otakmu sudah tidak beres ya?” tanya Seunggi sengit. Dia berusaha menyentuh jidat Minho yang menghindar seketika itu juga. “Mengapa kau menguber-nguber keanehanmu itu?”

Minho mengangkat bahu cuek. Tawanya yang masih tersisa membuat Seunggi mengomel-ngomel. “Kamu dari hari ke hari makin aneh saja. Mungkin perlu diperiksakan ke psikiater …”

“Ha .. ha .. aku tidak separah itu .. “

Seunggi mendelik. “Tidak parah bagaimana?” gerutunya. “Lihat tuh penampilanmu, sudah seperti pegawai kantor saja. Terus sikapmu juga aneh .. sepertinya tidak ada yang menarik perhatianmu sekarang … “ Seunggi melihat ke cewek tadi, “Kalau dia, saya ngerti … ,” katanya sambil mengelus-ngelus dagu. “Cowok-cowok kece dan kaya yang ingin mengencanimu, itu yang tidak saya mengerti … “

Minho tertawa lagi.


Ekspresi bingung Seunggi sungguh mengelikan. Rekannya sesama bartender itu mengerutkan alisnya. Terlihat jelas dia tidak senang ditertawakan Minho. Tapi Minho tidak peduli. Perhatiannya teralih ketika Jess melintas di depan mereka.

“Jess noona … ,” Minho melambai kearah wanita berbodi yahud itu.

Jess menghentikan langkahnya. Dia mendekati meja kerja Minho dan Seunggi.

“Ya, ada apa?”

“Bisa bicara sebentar?” tanya Minho.

“Penting?” balas Jess sambil melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. “Apa bisa ditunda? Saya ada pertemuan dengan agen Cold buat pendiskusian pemasukan whisky dan anggur merah yang baru …. “

“Sebentar saja, please.” Minho mengangkat tangannya. “Lima menit .. ,” telapak tangannya dikembangkan di depan Jess. “Hanya lima menit .. “

Cewek berperawakan asing itu melirik jam tangannya lagi. Kemudian dia menghela nafas dan mengangguk perlahan. “Baiklah. Tapi janji hanya lima menit. Saya sudah sangat terlambat .. “

“Ne.” jawab Minho yakin.

“Bicaranya di sini atau … “, Jess mengantung pertanyaannya guna mendapat respon dari Minho.

“Di dalam saja .. ,” Minho menunjuk ruang kerja Jess dengan bibirnya.

Jess mengangguk. “Okay, kalau begitu segeralah!”

Dia mendahului Minho masuk ke salah satu ruangan yang berada di belakang bar 2X. Bersebelahan dengan ruangan itu, terdapat ruangan lain yang lebih besar. Ruangan tersebut merupakan gudang penyimpanan minuman-minuman alkohol yang bersuhu rendah.

Minho menutup pintu setelah berada dalam ruang kerja Jess. Dia dan Jess duduk berhadap-hadapan di kursi kayu yang terpisah sebuah meja yang sudah agak tua.

“Sekarang katakan padaku ada masalah apa?” tanya Jess serius.

Minho melipat kedua tangan di depan dada. “Seperti yang pernah saya katakan pada noona … ,” Minho memulai. “Saya akan meninggalkan 2X sebentar lagi. …. ,” suara Minho terdengar lebih tajam. “ .. sudah saya putuskan, malam ini—setelah malam ini, saya berhenti … Ini malam terakhirku di sini … “

“Lee Min Ho!!,” Jess terlonjak dari kursinya. “Apa-apaan ini?!” bentaknya. “Kamu bercanda, kan? Katakan padaku kamu tidak serius!”

Tidak! Jess tahu Minho tidak bercanda. Wajah di hadapannya sangat tenang ketika mengutarakan keputusannya ini.

“Saya serius Jess noona. Sorry jika mengecewakanmu.”

“Kamu tidak bisa begini!” Jess mengeleng keras. “Saya belum mendapatkan pengantimu jadi kamu tidak boleh pergi!”

Minho menghembuskan nafas berat. “Miane … ,” sesalnya. “Saya sudah mengambil keputusan. Apapun tidak bisa merubahnya lagi.”

“Mengapa begini?” Tubuh Jess terhempas kembali ke kursi di belakangnya.

“Sekali lagi, maaf.” Minho menepuk lengan Jess guna menenangkannya. “Masih ada Seunggi kan? Dia pekerja yang baik. Jess noona juga pengolah alkohol yang handal .. ,” dia tersenyum kecil. “Kepergianku tidak berarti jika noona mau turun tangan sendiri. Saya tahu Jess noona bartender terbaik di Seoul ini .. “

“Sudah saya bilang noona tidak ada apa-apanya tanpa kamu … ,” gumam Jess pelan—sangat pelan sehingga tidak tertangkap pendengaran Minho.

“Mwo?” tanya pemuda itu.

“Oh .. ,” Jess tersentak. Dia segera mengelengkan kepalanya. “Ahniyo .. Lupakan saja .. ,” jawabnya putus asa. “Rencanamu sudah bulat kan? Tidak berguna noona memohon-mohon lagi, iya kan?”

“Miane … ,” kata Minho dengan nada menyesal.

Jess mengangguk. Agak limbung dia berdiri dari kursinya. “Saya harus bertemu agen Cold sekarang. Masalah itu … ,” dia menatap Minho ,” .. terserah kamu saja … Tidak ada lagi yang bisa saya katakan.”     

   
*************



Minho memasukkan anak kunci ke lubang kunci pintu rumah dan memutar gagangnya. Pintu itu terbuka dengan suara halus. Dia melangkah ke dalam. Hyesun dan Kangsan tampak sedang sarapan di meja makan ruang depan. Ibu dan anak itu menengadah dari piring di hadapan mereka dan menoleh padanya.

“Appaaaa!!” teriak Kangsan.

Anak kecil tersebut melorot turun dari kursi yang didudukinya dan menghambur ke pelukan Minho.

“Ha .. ha .. selamat pagi San-a … ,” dikuceknya rambut Kangsan. “Bagaimana tidurnya? Nyenyak? Memimpikan appa nggak?”

Kangsan mengangguk keras. “Ne. San bermimpi main di kebun binatang dengan appa.” Dia menoleh ke Hyesun. “Dan omma juga.”

Hyesun tertawa. “Omma juga dapat bagian?”

“Ne.” Kangsan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Yang paling San cintai kan omma dan appa.”

“Bagus kalau begitu.”

Minho berjalan ke meja makan dan mendudukkan Kangsan kembali di kursinya. “Sekarang San duduk baik-baik. Lanjutkan sarapannya!”

“Apa kamu sarapan juga?” tanya Hyesun. “Porsimu sudah saya buat.” Dia menunjuk piring di sisi sebelah kiri. “Di piring itu.”

Minho mengangkat wajah. “Ne.” Dia menarik kursi di depan Hyesun dan duduk di situ. “Apa yang kita punya pagi ini?” tanyanya sambil mengamati piring-piring mereka, kemudian ke piringnya. “Sandwich tuna?”

“Ne.” kata Hyesun. “Kamu suka?” tanyanya agak ragu. “Atau .. mungkin kamu ingin yang lain? Saya bisa membuatkan oatmeal.”

“Tidak.” Minho tersenyum. “Ini sudah cukup.”

Dia mengambil piring berisi sandwich tuna dan salad buah-buahan yang disediakan Hyesun. Diraihnya sepotong sandwich dari empat potong, dan digigitnya.

"Setelah ini saya akan mengantar kalian ke sekolah dan kerja .. ," katanya dengan pipi mengelembung.


"Tidak usah." kata Hyesun sambil mulai membereskan piringnya yang sudah kosong. "Kamu beristirahatlah. Saya bisa berangkat sendiri dengan Kangsan."

Minho mengeleng. Dia mengambil segelas air yang tersedia di atas meja dan meneguknya--menelan dengan susah payah makanan dalam mulutnya. "Saya harus ke supermarket." katanya dengan nada sumbang. "Persediaan kebutuhan-kebutuhan rumah tangga sudah menipis jadi setelah mengantar kalian, sekalian saya akan belanja di sana."

"O .. ," Hyesun mengangguk. "Gumawo .. ," katanya. "Maaf merepotkanmu. Saya akan melakukannya jika saya ada waktu .. "

"Mengapa kaku begini?" Minho menyentuh kepala Hyesun. "Kamu baik-baik saja kan, baby?"

"Ne, tentu saja."

Hyesun membawa piringnya ke dapur. Membuka keran air dan merendam piring-piring yang belum di cuci itu dalam wastafel. Setelah itu dia berjalan keluar. Minho dan Kangsan terlihat masih asyik dengan makanan-makanan dalam piringnya. Hyesun tersenyum, kemudian bergabung kembali dengan mereka.

 
*************



Minho keluar dari supermarket yang terletak di pusat kota Seoul. Dia berjalan dengan langkah lebar--menghindari sinar terik matahari yang membakar kulitnya--ke Mercy merahnya yang terparkir di lapangan depan gedung supermarket tersebut. Dia membuka pintu mobil dan menjatuhkan diri di bangku kemudi. Dua kantong besar di tangannya ditaruh di jok belakang. Setelah menghidupkan mesin mobil, dia melajukan kendaraan tersebut ke toko persiapan yang didatanginya beberapa hari lalu.

"Anyongheseyo .. ," terdengar sapaan hangat dari para sales dari toko yang sekarang dimasukinya.

"Selamat pagi .. ," balas Minho sambil mengangguk pelan.

Dia berjalan ke seorang sales wanita berusia sekitar empatpuluhan yang diingat telah melayaninya beberapa waktu lalu. "Bagaimana?" tanyanya tanpa basa-basi.

Sejenak wanita itu terpaku. Perlahan-lahan dahinya berkenyit--berusaha mengingat dan menangkap arti pertanyaan pemuda di hadapannya.

"Lupa?" tanya Minho. Dia menarik sebuah kursi empuk di depan wanita yang masih kebingungan itu, kemudian menjatuhkan diri di sana. "Cincin. Lebih tepatnya sepasang cincin." kata Minho. "Sepasang cincin antik yang anda janjikan. Sepasang cincin satu-satunya di dunia ini. Dengan ukiran-ukiran halus berbentuk bulan dan bintang dari tangan-tangan ahli jaman dulu."

"Oh ... ," sales itu menepuk jidatnya. "Benar!!" serunya keras. "Sosoengheyo tuan. Saya lupa." dia membungkukkan badan berkali-kali dengan perasaan bersalah.

"Apa belum sampai?"

Wanita itu tersenyum. "Tidak. Sudah sampai kok. Kami menerimanya kemarin sore. Tunggu sebentar, saya akan mengambilkannya buat tuan."

Wanita kurus kering itu menghilang di sebuah kamar kecil di belakang meja. Lima menit kemudian dia muncul lagi dengan sebuah kotak kecil dari kayu warna merah mengkilap di tangannya. Kotak itu terlihat tua, tapi tidak cacat sedikitpun. Warna dan keawetannya masih terpelihara dengan baik. Pelipurnya atau mungkin bukan--mengingat waktu pembuatannya yang sudah lama--tidak tergores. Warnanya sangat menyala dan licin--tertimpa cahaya lampu buram dalam ruangan itu.

Wanita itu menyodorkan kotak tersebut di hadapan Minho. Perlahan-lahan dia membuka kotak kayu itu baginya. Mata Minho melebar. Dia meraih salah satu cincin itu. Mengamatinya dan tersenyum puas.

"Indah sekali ... ," bisiknya. "Hyesun pasti menyukainya ... " Dielusnya cincin yang terpahat halus itu. Beberapa bintang sedang menaungi sebuah bulan sabit yang kelihatan menunduk malu-malu.

"Ini Hyesun .. ," desis Minho. "Hyesunku yang lemah dan pemalu ... "

"Calon istri tuan pasti mencintainya. Sudah banyak pasangan yang mengukir cinta abadi dengan sepasang cincin ini." sales bersuara lembut itu tersenyum. "Semoga cinta tuan dan dia juga seabadi sepasang cincin ini--tidak tergoyahkan oleh waktu. Selamat buat tuan ... " wanita itu menyalami Minho.

"Thanks .. "

"Semoga tuan berbahagia selalu. Saya dapat melihat ketulusan cinta tuan. Berjuanglah, suatu saat dia akan merasakannya."

Minho mengucapkan terimakasih sekali lagi. Setelah membayar buat sepasang cincin itu, dia keluar dari toko tersebut dengan perasaan berbunga-bunga.


*************



Jess berada di kamarnya. Untuk kesekiankalinya hari itu dia memikirkan kata-kata Minho kemarin. Pikiran-pikirannya berusaha mencerna alasan-alasan di balik semua keputusan pemuda itu. Mengapa Minho meninggalkan pekerjaan yang begitu dinikmatinya? Apa yang mampu membuatnya berubah? Dan apa benar keputusannya itu tidak bisa dirubah lagi?

Jess menghela nafas. Dia bergeser dari kepala ranjang dan menurunkan kakinya ke lantai. Dengan tergesa dia berjalan ke meja riasnya dan menyambar jaket kulit yang tersampir di kursi yang menempel di meja.

Tidak! Saya tidak boleh berdiam diri! Saya harus mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Saya tidak boleh membiarkannya menyesal di kemudian hari dengan keputusannya ini. Seru Jess dalam hati.

Dia berlari dari kamarnya. Melintasi ruang depan dan keluar dari apartemen itu dengan pintu tertutup keras.


*************



Minho bersandar di sebatang pohon sakura yang berdiri kokoh di pinggir jalan kecil dekat sekolah Kangsan. Pandangannya melayang ke depan. Sinar matahari sore--bulat, kuning kemerah-merahan perlahan menurun di penghujung bumi. Pohon-pohon sakura yang tumbuh di sekitar situ daun-daunnya mulai menguning. Serpihan-serpihan dari helai-helai bunganya melayang-layang di udara. Tertiup ke segala arah. Minho menghapus keringat dari keningnya. Bayang-bayang musim panas sudah sangat terasa.


Minho bergerak sedikit dari posisinya. Badannya yang kaku direnggangkannya dengan cara memiringkannya ke kanan dan kiri. Kemudian dia membuka cardigan yang membungkus badan jangkungnya dan menyampirkannya di pundak--di luar kaos pendek yang dipakainya. Setelah itu dia bersandar kembali ke batang pohon sakura tadi.

Lima menit kemudian dia melihat Hyesun dan Kangsan keluar dari gerbang sekolah. Minho menegakkan badannya. Dia tersenyum dan melambai pada mereka.

"Appaaa ... ," Kangsan mengibaskan tangan Hyesun dan menghambur kearah Minho.

"Ha .. ha .. San-a .. "

Minho menangkap badan mungil Kangsan dan mengangkatnya ke atas.

"Akhhh ... San takut .... ," protes Kangsan. Dia berpegangan erat pada lengan Minho.

"Hati-hati Minho-a. Nanti kamu menjatuhkannya ... ," teriak Hyesun sambil mendekati mereka. Senyum cerah terkembang di bibirnya.

"Jangan takut baby. Saya cukup kuat kok ... "

Minho mendudukkan Kangsan di pundaknya. "Kacha, kita pulang sekarang. Makan malam sudah kusiapkan." Dia mulai melangkahkan kakinya.

"Secepat ini?" tanya Hyesun sambil mengiringi langkah Minho.

"Ne. Setelah makan malam, kita jalan-jalan di luar." Minho mengoyang lengan Kangsan. "Kamu senang San-a?"

Anak itu langsung bergerak-gerak di pundak Minho, "Horee .... ," teriaknya. "San suka jalan-jalan .. "

"Apa kamu punya waktu?" wajah Hyesun berkerut. "Kamu tidak perlu kerja?"

"Tidak." jawab Minho. "Saya sudah berhenti dari bar 2X .. "

"Mwo?" teriak Hyesun. Langkahnya langsung terhenti. "Weo?"

Minho ikut menghentikan langkahnya. Dia memutar tubuh kearah Hyesun. Menatapnya dengan lembut. "Tidak kenapa-kenapa. Saya hanya ingin menikmati hidup normal bersamamu. Demi kamu dan demi Kangsan."

Hyesun tertegun--tidak tahu harus bereaksi apa. Dia tidak mampu berkata-kata. Penjelasan Minho yang sangat sederhana menyentuh hatinya. Kepalanya tertunduk perlahan. "Pantaskah?" desisnya pelan.

"Mwo?"

Hyesun mengangkat wajahnya. "Tidak apa-apa." katanya cepat. Dia berusaha tersenyum dan bersikap wajar. "Ayo kita pulang sekarang. Saya sudah sangat lapar nih .. "

Dia berjalan mendahului Minho dengan langkah lebar.

"Appa ayo pulang!" teriak Kangsan.

Minho menengadah. "Ne. Pegangan yang erat San-a. Appa akan bergerak secepat pesawat grrrrrrrr .... "

Minho melesat ke depan, melewati Hyesun. Dia berputar-putar di sepanjang jalan setapak berkerikil dengan Kangsan yang berteriak-teriak histeris di atas pundaknya--antara kesenangan dan ketakutan.

"Akhhhh ....... appa ............ "


*************



"Jess noona?!"

Langkah Minho terhenti. Seorang wanita yang sangat dikenalnya terlihat mondar mandir di serambi depan rumah. Hyesun ikut berhenti, dan mengikuti arah pandang pemuda itu. Keningnya berkenyit ketika menangkap sosok asing tengah berdiri di sana.

"Dhuga?"

Minho bermaksud menjawab, tapi terputus oleh teriakan Jess.

"Minho-a!!"

Wanita berkaos ketat dengan luaran jaket kulit dan rok mini yang sangat pendek berlari kearah mereka. Minho menurunkan Kangsan ke lantai. "Noona .. ", sahutnya pelan.

"Ternyata benar kamu tinggal di sini ... ," Jess tersenyum cerah dan menepuk lengan Minho.

Kemudian perhatiannya teralih oleh suara bening Kangsan. "Appa, siapa ahjumma ini?"

"Appa?" Jess sangat terkejut. "Dia memanggilmu appa?"

Minho tertawa kikuk. "Ne .. ha .. ha .. "

"Mengapa bisa begitu?" Jess memandang Kangsan dengan alis berkerut. "Dia bukan putra kandungmu kan? Tidak mungkin!" dia mengeleng, kemudian perlahan-lahan pandangannya beralih ke Hyesun. "Lalu dia, .. siapa dia? Jangan katakan dia istrimu!"

Minhon berdeham untuk membersihkan tenggorokannya. "Ini Goo Hye Sun ... ," Minho memperkenalkan Hyesun pada Jess. "Dan .. anak ini putranya, Kangsan .. ". Minho menarik Kangsan ke depan dan menepuk-nepuk pundaknya.

"Tunggu sebentar!" teriak Jess. Telapak tangannya terkembang di depan Minho--menghentikan perkataannya. "Kamu membuatku bingung." Kemudian tangannya menekan dua sisi kepalanya yang terasa pening. Dia berhenti sebentar sambil memandangi Hyesun dan Kangsan silih berganti. "Dia putra Goo Hye Sun-ssi ... ," tangan Jess bergerak dari Kangsan ke Hyesun. "Terus dia memanggilmu appa .. " katanya pelan. "Berarti ... hubunganmu dengan dia ... ," dia menoleh ke Hyesun. "Apa kalian juga tinggal bersama?"

Minho mengangguk.

Segera Jess mengeleng keras-keras. "Tidak mungkin! Itu lebih tidak mungkin lagi! Kamu tidak mungkin suka padanya. Tidak mungkin!"

"Mengapa tidak mungkin?"

Jess tidak mampu menjawab. Kepalanya terasa pusing. Agak oleng, dia segera bersandar ke daun pintu.

"Ada apa sebenarnya?" Hyesun melangkah ke depan. "Minho-a, siapa onnie ini?" tanyanya dengan pandangan menyelidik.

Minho menoleh padanya. "Dia ... Jess noona. Majikanku di 2X ... "

"O ... ," Hyesun mengangguk dan tidak bertanya lebih lanjut.

"Tidak mungkin!" Jess masih bergumam sendiri. Dia mengeleng keras-keras. "Tidak mungkin! Kamu tidak boleh melakukannya Minho-a." Tiba-tiba dia mengangkat wajah, menatap Minho lekat-lekat. "Kamu akan menyesal."

Dahi Minho berkenyit. "Apa maksud noona?"

"Noona tahu kamu melakukan ini karna taruhan itu, benar kan?"

Wajah Minho berkerut lebih dalam lagi. "Taruhan?" ulangnya tak mengerti. "Taruhan apa?"

"Jangan berpura-pura di hadapan noona, Minho-a." kata Jess dengan nada kesal. "Tentu saja taruhanmu dengan Siwon." dia melirik Hyesun. "Saya rasa sudah tidak berpengaruh lagi noona mengatakannya atau tidak. Kelihatannya dia sudah tergila-gila padamu." Jess tersenyum sinis. "Usahamu sudah berhasil kan? Dengan mengetahui taruhan tersebut, saya rasa dia akan menyerahkan rumah ini padamu. Dia sudah kalah dalam permainan ini."
 
"Noona!" pekik Minho keras. Dia berjalan lebar ke arah Jess dan menarik tangannya, "Hentikan kegilaan ini! Saya mohon." dia menekan perkataannya sedalam mungkin. "Ini sudah tidak lucu lagi."

Mata Jess terbelalak lebar. Begitu terkejutnya dia melihat ekspresi wajah Minho. Pemuda yang dikiranya tidak takut pada siapapun atau apapun ini, terlihat bergetar hebat. Sinar matanya meredup. Jakunnya naik turun menahan perasaannya. Bukan marah, tapi ketakutan yang mengerikan.

"Saya mohon ... ", desah Minho.

"Minho-a ... ". Jess menatap Minho dalam kebisuan. Perkataan 'saya mohon .. ' dengan nada gemetar membuat lututnya lemah. Saat ini dia jadi berpikir apakah tindakannya salah?

Kekakuan Minho dan Jess tiba-tiba terbuyarkan oleh kehadiran Hyesun di antara mereka. "Taruhan apa itu?" tanyanya tajam.

Minho langsung berpaling padanya. "Tidak ada." sahutnya cepat.

Hyesun menatapnya dengan sinar mata dingin--sangat dingin. "Kamu berjanji padaku tidak ada kebohongan di antara kita." katanya kaku. Perlahan dia beralih pada Jess. "Taruhan apa itu? Katakan padaku!"

"Hmmm .. ," kata Jess ragu-ragu. Dia melirik Minho--putus asa. Dia sangat menyesal sekarang. Mengapa dia begitu emosi hingga menyebabkan kesalahan brutal ini?

"KATAKAN PADAKU!!" tiba-tiba Hyesun berteriak histeris. Ketenangan yang berusaha dijaganya musnah saat itu juga. Minho dan Jess tersentak. Begitu juga Kangsan. Anak itu segera berlari ke ommanya dan memeluk kakinya erat-erat. Hyesun mulai terisak-isak di tempatnya. "Taruhan apa itu? .. katakan padaku ... "

"Baby .... ," Minho mendesah. Habis sudah. Dia sadar benar-benar habis sudah hubungan ini--tamat sampai di sini.

"Omma ... ." Kangsan membenamkan wajahnya dalam dekapan Hyesun. Dia tidak mengerti mengapa ommanya menanggis. Tapi dia sadar ommanya tidak bahagia. Usia belia tidak menjadikannya tidak mengerti apa-apa.

"Katakan padaku!" Hyesun menghadapi Jess dengan sepasang mata merah.

Jess menghela nafas. Dia tidak mampu menghindari tatapan Hyesun. Hatinya ikut terluka. Berulangkali dia mengutuk diri sendiri mengapa melakukan perbuatan ini. Bukankah yang diinginkannya hanya kebahagiaan Minho? Tapi mengapa malah melakukan kesalahan ini?

Setelah menghembuskan nafas, Jess berkata. "Seperti yang terdengar olehmu tadi agashi. Saya rasa sudah jelas. Tidak perlu saya menjelaskannya lagi."

"Jadi .. ada usaha menyingkirkanku--dari rumah ini? Begitu?"

"Miane ... ," Jess menunduk kepalanya perlahan.

"Baby .. bukan begitu, saya ... "

Sebelum Minho melanjutkan perkataannya, Hyesun berpaling dengan lambat kearahnya. "Tapi ada taruhan itu?"


"Baby ... "

"Benar ada taruhan itu? Iya kan?" Nada yang sangat dalam. Suara yang serak akibat terlalu banyak menanggis. Sepasang mata yang merah dan bengkak serta bibir yang gemetar--membuat Minho tidak mampu berkata apa-apa. Tidak mampu beraksi apa-apa, bahkan tidak mampu bergerak sedikitpun dari posisinya.

Hyesun mengigit bibirnya kuat-kuat. Tampangnya berubah keras. Tak terduga oleh orang-orang sekitarnya, tiba-tiba dia memutar tubuh dan berlari ke pintu--Kangsan bersamanya. Dia membuka pintu itu dan menghambur ke dalam.

Minho tersentak. Dia segera mengejar Hyesun. Tapi terlambat. Pintu itu sudah ditutup dengan keras oleh gadis itu.

bukkk ... bukkk .. bukkk ... , Minho mengedor pintu tersebut berulangkali.

"BABY, BUKA PINTUNYA!! DENGARKAN PENJELASANKU. BABYYYY!!!"

bukkk .....  bukkkk ... bukkkkk ....

"BABY!!"

"Minho-a ... "

Minho menoleh. Jess berdiri di belakangnya dengan tampang sendu. "Miane ... Maafkan noona ... Noona tidak menyangka akibatnya akan seperti ini .. ," katanya dengan nada menyesal.

"Tinggalkan saya noona." desah Minho.

Kemudian dia mengedor pintu lagi.

"Minho-a ... "

"Saya mohon noona." katanya pelan. "Kita bicarakan ini lain kali ... "

"Kamu membenci noona karena perbuatan ini?" tanya Jess sedih.

Minho mendesah. "Saya tidak tahu." dia menengadah, dan menghembuskan nafas panjang. "Saya tidak ingin memikirkan apa-apa selain perasaan Hyesun. Jadi saya mohon, ... tinggalkan saya sendiri ... "

Jess terpaku. Dia menatap Minho selama beberapa menit. Pemuda itu kembali mengetuk-ngetuk pintu di hadapannya dengan membabi-buta.

bukkk .. bukkkk ... bukkkk .......

Jess menghela nafas. "Sekali lagi miane, Minho-a ... " Dengan langkah berat Jess meninggalkan serambi depan menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan kecil berkerikil itu.

"BABY!!!"

bukkk ... bukkkkk ... bukkkk ....

"BUKA PINTUNYA!! BABY!!"

Teriakan-teriakan bersahut-sahutan dari mulut Minho. Terdengar sangat keras dan menyayat hati.

"SAYA MOHON BUKA, BABY!! BUKA!!"

"Hentikan kegilaanmu!" tiba-tiba terdengar sahutan dari dalam rumah.

"Baby ... "

"Beri saya waktu menenangkan diri." sambung Hyesun.

"Baik. Baik. Tapi kamu buka pintu dulu. Biarkan saya masuk ke dalam." Minho memohon.

"Tidak!!" teriak Hyesun dengan nada serak. "Untuk saat ini saya tidak ingin bertemu denganmu ... "

"Baby .. "

"Saya tidak ingin bertemu denganmu ... ," Hyesun mengulang perkataannya. Isakan halus mulai terdengar lewat celah-celah pintu. ".. karena itu ... tinggalkan saya sendiri ... hiksss .... "

"Baby ... ." Minho membalikkan badan perlahan. Punggungnya menyandar di daun pintu. Lambat-lambat tubuhnya merosot tak berdaya ke lantai--lemas dan tak bertenaga.


 
*************



Hyesun melihat Minho jatuh terduduk di lantai serambi depan lewat gorden jendela yang dibukanya sedikit.


Saat itu Kangsan sudah kembali ke kamarnya. Hyesun terus memandangi Minho. Airmata masih terus mengalir dari pelupuk matanya. Suaranya serak dan tenggorokannya terasa sakit. Habis semua tenaganya buat teriak-teriak menyahut Minho tadi.

Selama setengah jam ke depan dia tidak bergerak. Pandangannya tidak beralih dari Minho yang masih menyandar di daun pintu depan dengan posisi tertunduk. Dia ingin memanggil pemuda itu tapi suaranya tidak keluar. Dia ingin berjalan kearahnya tapi kakinya tidak mampu digerakkan.

Dewi malam perlahan menurun dan menyelimuti cakrawala. Kemuraman sinarnya membawa remang-remang bayangan dari benda-benda hidup dan mati di sekitarnya.

Tubuh Minho bergerak perlahan. Dia berdiri dan menoleh ke jendela di mana Hyesun berada. Terkejut, Hyesun melepaskan pegangannya dari gorden jendela. Dia menunggu sekitar lima menit kemudian menyibak tirai itu lagi.


Dia melihat Minho membelakanginya dan mulai melangkah menjauhi tempatnya berdiri. Hyesun menatap nanar kepergian Minho. Airmata yang tadi sempat berhenti, mengalir lagi.

Goo Hye Sun ....

Memandangi bayangan punggungmu, sedih dan menyesakkan pandanganku.
Suasana malam yang sebagaimanapun sunyinya, sayang hati dan pikiranku lebih jernih.
Janji-janjimu yang sebagaimanapun berwarna dan menariknya telah membohongi dan menodai cinta kita.
Uluran tanganmu sudah menyesakkan senda gurau yang pernah ada.

Yang mengoda mungkin pemandangan indah di luar sana, tapi sekarang hanya menjadi bayangan saja.
Di belakang hanya latarnya yang mempesona--tapi ternyata begitu mudah mencari bagian akhir dari kebersamaan kita.
Membuatku melayang, ingin melayang ke kebahagiaan yang pernah kau janjikan.
Jangankan aku, bintang-bintang yang mengantung tinggi di langit saja tidak bertenaga untuk bertahan lebih lama.

Sepasang kekasih ada, tapi maksud hati tidak pernah ada.
Setelah berlalunya musim semi ini, haruskah aku menunggu?
Perasaan tersentuh dan kasihan itu, apakah hanya ketidaksengajaan? --kecelakaankah?
Rasa mencintai itu apa akhirnya akan menjadi satu penyesalan dalam hatimu?

Mengapa jika ... jika memang saling mencintai, harus saling menghindari?
Yang kurasakan ini benarkah perasaan cinta?
Dalam ruang takdir, akankah terdapat cinta sejati?
Sebenarnya, di dunia ini berapa pasangan yang saling mencintai--yang benar-benar saling mencintai--dapat hidup bersama?
Hhhh----terlalu banyak pertanyaan, Minho-a ...
Jawaban dari semua itu hanya sedikit, ... hanya sedikit ... dan saya yakin di dalamnya tidak termasuk kita.


Hyesun berbalik perlahan. Punggungnya bersandar ke dinding di belakangnya--dekat daun jendela, dan jatuh ke lantai dalam kepedihan yang memilukan.


*************



Hyesun menyeret sebuah koper besar turun dari bis. Tangannya yang lain mengandeng erat tangan Kangsan, sedangkan sebuah ransel besar yang mengelembung tersampir di punggungnya.

Wajah Hyesun sangat kusut dan lusuh. Juga sangat pucat. Sepasang matanya bengkak dan merah akibat terlalu banyak menanggis. Sekujur tubuhnya bergetar. Dia berjalan dengan agak oleng.

"Omma, kita mau kemana?" tanya Kangsan dengan nada bingung. "Apa kita tidak sarapan dengan appa? Appa pasti sudah menunggu kita." lanjutnya sedikit merengek.

"Tidak. Appa tidak menunggu kita." Hyesun menghapus airmatanya. Langkahnya diperlebar sehingga Kangsan terseret-seret di belakangnya.

"San mau pulang!" teriak Kangsan. Dia berusaha melepaskan diri dari genggaman Hyesun.

"Tidak bisa!!" balas Hyesun dengan suara serak. Tak tertahankan, air bening kembali mengalir keluar dari sudut matanya. Dia mengigit bibir. "Kita tidak akan kembali! Tidak akan kembali, San-a .. "

"Tidak mau!" suara nyaring Kangsan membelah suasana tenang di pagi buta sudut utara kota Seoul. "San mau appa ... ," anak itu mulai menanggis--semula terisak-isak halus dan makin lama makin keras. "San hanya mau appa ... huuhh .. huhhh ... "

"Kangsan!"

Tubuh Hyesun terhuyung-huyung ke belakang. Kepalanya terasa sakit dan berkunang-kunang. Dia merasa hampir pingsan. Dengan sekuat tenaga Hyesun bertahan. Maksudnya untuk berteriak tadi terdengar sangat lemah. Kangsan tidak takut malah membantah lebih keras lagi.

"San mau appa! Mau appa!"

Hyesun jadi murka. Dia mengibaskan tangan Kangsan dan mendorongnya ke belakang sehingga anak itu jatuh ke jalan beraspal.

"BAIK!!" teriaknya berang. "PULANG SANA!! PULANG SENDIRI! OMMA SUDAH TIDAK PEDULI LAGI PADAMU!"

Kangsan tersentak dan sangat terkejut. Dia tidak mengira ommanya akan semurka ini. Anak kecil yang tidak tahu apa-apa itu langsung menanggis ketakutan.

Hyesun berteriak histeris. "Kamu suka padanya?!!" tangannya menunjuk ke jalan raya. Entah apa yang ada dipikirannya, dia tidak tahu. Sudah kehilangan akal sehat--itu perkataan yang tepat buat sikapnya pada Kangsan saat itu. "SEKARANG ENYAH DARI HADAPAN OMMA!!"

"OMMA!!" teriakan Kangsan mendirikan bulu roma. Dia merangkak bangun dan menghambur kearah Hyesun. Kakinya yang tergores jalanan beraspal berdarah-darah. "Omma ... omma jangan tidak mau San!" anak itu menanggis memilukan. "San tidak berani .. hu .. huuu .. San mau omma ... hanya omma .. huuu ... "

Lutut Hyesun jadi lemah. Dia tersungkur di depan Kangsan--menanggis tersedu-sedu. Dipeluknya Kangsan erat-erat.

"Miane ... miane .. San-a .. huuu ... "

Ibu dan anak saling berpelukan melepas semua perasaan yang ada dalam hatinya masing-masing. Hyesun--perasaan sakit, perih, hancur dan semua penderitaan yang belum pernah dirasakannya selama ini. Bahkan melebihi perasaan kehilangan orang-orang yang paling dekat dengannya beberapa tahun yang lalu, onnie dan kakak iparnya. Sedangkan Kangsan--perasaan sedih dan tidak mengerti, juga takut dengan perubahan sikap ommanya yang mendadak.

"Miane ... miane .. omma menyakitimu .. miane .. huuu .. hu ... San-a ... "   


*************



"Hyesun ... dan ... San-a ...?" Kimjoon mengangga begitu pintu depan rumahnya dibuka.

Hyesun berdiri di hadapannya dengan mata bengkak dan tampang lusuh.


Tangannya mengenggam erat-erat tangan mungil Kangsan yang juga kelihatan menyedihkan. Lutut anak itu terluka dan terdapat beberapa goresan panjang yang masih mengeluarkan darah.

"Wegude?"

"Oppa .. ," desah Hyesun lemah.

"Kenapa? Oh tuhan, apa yang terjadi?"

Kimjoon segera menyangga tubuh Hyesun yang hampir ambruk. "Gwencana Hyesun-a?" tanyanya khawatir. "Ma .. masuklah dulu. Kamu juga San-a .. Luka di lututmu perlu dirawat ... "


*************



Kimjoon membantu Hyesun duduk di sofa. Kangsan mengikuti mereka, kemudian menjatuhkan diri di sebelah Hyesun. Selama beberapa saat Kimjoon mengamati mereka--silih berganti. Dia menghela nafas kemudian keluar dari ruangan itu. Setelah meletakkan koper dan ransel yang dibawa Hyesun ke lantai di ruang tengah, dia kembali lagi ke tempat Hyesun dan Kangsan berada dengan peralatan-peralatan pengobatan.

Kimjoon membersihkan luka Kangsan dengan seksama agar tidak terinfeksi. Setelah mengoleskan obat dan membalutnya dengan perban tipis, dia memasukkan semua peralatan pengobatan tersebut ke dalam kotak dan meletakkannya ke atas meja.

Setelah itu dia menatap Hyesun. "Bisa ceritakan pada oppa apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Kimjoon lembut.

Tanpa disangka Hyesun mengenggam erat tangannya. "Bawa saya pergi oppa--saya dan Kangsan, ikut oppa .... ," katanya dengan nada memohon.

"Maksudmu ... ," alis Kimjoon berkenyit, " ... ikut dengan oppa dalam kegiatan sosial Palang Merah se-Dunia?"

Hyesun mengangguk.

"Jika oppa boleh tahu apa yang terjadi?" selidik Kimjoon.

Hyesun mengigit bibir bawahnya dan mengeleng keras-keras. "Saya hanya ingin pergi. Bawa saya pergi .. "

Kimjoon menghembuskan nafasnya. "Kamu sadar apa yang kamu katakan, Hyesun-a?" tanyanya. "Apa kamu sudah memikirkan keadaan Kangsan? Jika kamu pergi sendiri, itu tidak jadi masalah. Tapi dengan San ... ," Kimjoon mengeleng, " .. negara-negara yang akan didatangi taraf kesehatannya sangat rendah. Akan membahayakan pertumbuhan anak-anak seperti Kangsan."

Kimjoon menatap Hyesun tajam-tajam--berusaha mendapatkan tanggapannya. Tapi gadis itu tidak menyahut dan kepalanya menunduk perlahan.

"Apa yang terjadi?" untuk ketiga kalinya dia mengulangi pertanyaan itu. Gadis itu tetap membisu.

Kimjoon menghela nafas. Pandangannya beralih ke Kangsan. Anak itu terlihat terkantuk-kantuk di tempatnya. Kimjoon tersenyum perlahan. Hari yang terlalu pagi untuk bangun buat seorang anak sekecil Kangsan. Kemudian dia menoleh pada Hyesun lagi. Gadis itu masih tidak bergerak dari tempatnya. Kimjoon memperhatikannya untuk beberapa saat sambil melirik jam tangannya.


"Hyesun-a ... "

Hyesun tidak bereaksi. Kimjoon melirik jam tangannya lagi.

"Oppa harus pergi sekarang, Hyesun-a. Ada yang harus oppa urus berkaitan dengan keberangkatan besok." katanya. "Apa kamu menunggu oppa di sini atau ... ?"

Hyesun mengangkat wajahnya--memandangi Kimjoon.

"Sebaiknya kamu di sini saja." Kimjoon segera mengambil keputusan untuknya. "Jangan berpikir yang tidak-tidak, araso?" sambung Kimjoon. "Oppa akan segera kembali."

Hyesun mengeleng. "Tidak. Saya pulang saja. Terimakasih atas perhatian oppa .. "

"Kamu yakin?"

"Ne .. ," jawab Hyesun, kemudian dia berdiri dari sofa. "Ayo bangun San-a! Kita pulang sekarang .. "

Dengan malas Kangsan berdiri dari tempatnya dan mengikuti Hyesun berjalan ke ruang depan. Kimjoon berada di belakang mereka. Setelah mengambil ransel dan koper yang tadi diletakkan di lantai, mereka berjalan ke pintu. Kimjoon membuka pintu itu buat Hyesun dan Kangsan.

"Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Kimjoon.

Hyesun tersenyum walaupun sangat terpaksa. "Ne. Saya sudah baikan."

"A .. apa ini berhubungan dengan Lee Min Ho-ssi .. ?" selidik Kimjoon.

Hyesun tidak menjawab. Dia kembali tersenyum kecut. "Tidak juga. Aku hanya teringat masa lalu yang pahit. Hanya itu .. "

"Begitu ... "

Saat itu ponsel Kimjoon berbunyi. kring .. kring ...

Kimjoon mengeluarkan ponselnya dan memandang ragu-ragu.

"Oppa angkat telepon sana." kata Hyesun, membuyarkan keragu-raguan dokter muda itu. "Saya dan Kangsan pergi sekarang. Sampai ketemu lagi oppa .. Sekali lagi terimakasih buat semuanya ... "

Kimjoon berniat mengatakan sesuatu tapi Hyesun yang mengandeng Kangsan dan menyeret koper lambat-lambat sudah berlalu dari hadapannya. Kimjoon menghembuskan nafas panjang-panjang kemudian menekan tombol terima di ponselnya.

"Ya, dokter Yeon. Saya akan tiba sepuluh menit lagi .... "   


*************



Minho membuka pintu depan dengan kunci di tangannya sekitar pukul setengah delapan. Dia menjinjing dua kotak ukuran sedang yang berisi makanan-makanan kesukaan Hyesun dan Kangsan--yang dibuatnya pagi-pagi sekali di rumah Kim Bum. Ya--tadi malam, ketika dia tidak diijinkan masuk ke rumah oleh Hyesun, dia menginap di rumah Kim Bum--guru masaknya.

"Baby ... ," panggil Minho. "San-a, appa pulang nih .. "

Tak terdengar jawaban. Minho meletakkan dua kotak di tangannya di atas meja makan, kemudian berjalan ke lorong dalam.

"Baby ... San-a, ... baby ... "

Masih tak ada reaksi sedikitpun. Keadaan dalam rumah sangat sepi. Bahkan dasar sepatunya yang menyentuh lantai terdengar sangat nyaring--berdetap-detup mengalaukan hati. Nafas Minho menjadi berat. Kekhawatiran yang dirasakannya tadi malam kembali menghantui perasaannya.

"Tidak. Tidak mungkin!" Minho mengeleng keras-keras. "Hyesun tidak mungkin melakukan ini! Dia sudah menenangkan diri. Yang diperlukannya hanya waktu menenangkan diri! Itu yang dikatakannya kemarin."

Minho melangkah dengan lambat-lambat menuju pintu kamar Hyesun. Sekuat tenaga dia menenangkan dirinya. "Saya hanya perlu membuka pintu kamarnya. Dan saya akan melihatnya tersenyum manis dalam tidurnya. Dengan Kangsan dalam pelukannya. Ya--benar, hanya itu yang perlu kulakukan!" Minho berusaha tersenyum, "Ancamannya dulu itu--tidak mungkin benar. Itu hanya omongan belaka. Dia tidak mungkin meninggalkanku. Tidak mungkin!"

Minho sampai di depan pintu kamar Hyesun. Digenggamnya gagang pintu erat-erat.

"Ya." dia mengangguk mantap--berusaha menyakinkan diri sendiri. "Dia sudah menungguku. Pasti!!"

Minho memutar gagang pintu itu dan mendorongnya keras-keras. KOSONG--itu yang pertama tertangkap oleh penglihatannya. Tak terlihat Hyesun dan Kangsan di atas ranjang. Seprai yang membalut ranjang masih rapi--seperti habis disetrika--menandakan kalau seprai tersebut tidak disentuh pemiliknya. Lemari baju dekat jendela terbuka. Bagian dalamnya kosong melompong. Semua pakaiannya sudah dikeluarkan. Begitu juga laci-laci di lemari rias--terbuka dalam keadaan menyedihkan.

Minho merosot dari posisi berdirinya. Tak terasa dia menanggis. Tubuhnya menyandar di daun pintu. Perlahan dia menarik sepasang kakinya ke bagian dada--memeluk lututnya erat-erat dan membenamkan wajahnya dalam-dalam.

"Mengapa jadi begini?" tanya Minho di sela-sela suaranya yang terdengar bergetar. "Apa yang kulakukan belum kau lihat--keluarga utuh yang kamu impikan." Kepalanya terangkat dan menengadah ke langit-langit kamar.



"Aku sudah mendatangi appa seperti permintaanmu--seperti keinginanmu. Aku berusaha! Aku sudah berusaha keras, Hyesun-a. Tapi, kamu belum mengetahuinya. Mengapa tidak memberiku waktu? Memberiku waktu untuk menjelaskannya--Untuk membantahnya, .. bahwa semua itu tidak benar. Taruhan itu tidak pernah ada dalam hidupku .. Baby, kamu tahu aku sangat mencintaimu. Bahkan ... ," perlahan dia membuka kotak dari kayu yang dari kemarin tersimpan di kantong jasnya.

"Bahkan cincin ini ... Cincin ini belum kupakaikan di jari manismu ... "

Minho kembali membenamkan wajahnya di sela-sela lutut. Dia menanggis lagi. Tubuhnya bergoyang-goyang seirama isak tanggisnya yang perlahan mengeras. Dia merasa lemah--tak bertenaga. Kekuatan untuk bangkit, dia tidak punya.

"Cari dia, Minho-a!!"

Suara yang entah datangnya dari mana membuatnya tersentak. Kepala Minho terangkat seketika itu juga.


"Benar! Cari Hyesun. Saya harus mencari Hyesun!"

Seperti mendapat tenaga baru, Minho bangkit dari tempatnya. Dia berlari keluar seperti orang kesetanan--menerjang apa saja yang menghalanginya. Bahkan pintu depan sukses ditabraknya. Agak limbung, Minho membuka pintu itu dan menghambur keluar.

Dia tidak tahu harus mencari Hyesun kemana. Untuk saat ini dia tidak punya gambaran tempat apa yang akan didatangi Hyesun. Yang dipikirkannya hanya .. dia harus mendapatkan Hyesun. Kemanapun perginya dia, ke ujung dunia sekalipun--dia tidak akan menyerah.


*************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Echyn MinHo LeeSun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 635
  • gaya ala RATHOT + CASSAMINONG.. haha
  • Location: manado
    • View Profile
Jiaakh
mami...
Benar2 mengharu birukan ..
Huhu T__T
dari pertengahan mpe akhr, nangis mulu gw Mi....
Aplg pas hye sun marah2 k kang san i2, huakz makin mewek driku mam.. :( :(
i2 knpa hye sun pke kabur segala sih mam, pdhal taruhan i2 gk benar kan mam? Trus hyesun gk bkalan ikud ma kim joon kan mam? I2 si ne2k sihir jess' ngapain coba.. Pengen gw mutilasi tu org.. Main nyerobos aj... 'darah tinggi'
LanjUtanx scepatx yah Mam...
Please...
http://i54.tinypic.com/2w30vac.jpg[/img]

favorite couple
MinSun
KhunToria :D [/center]