Author Topic: *When a Gay met a Young Mom (in love again)* ~chp 22 (ending), 22 Jan'2011  (Read 98832 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
gw mau pakai nama yg rada cute tp ga tahu nama apa [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
cewek dong [hmpfh] pakai nama akhir Rim, ketuaan ga ya [sweat]

Kea'nya gtu deh mam.... [heh]
gae-in gimana [on] [laughing],, becanda bo [hmpfh] [hmpfh]
habis namanya apa dong,, masih bingung nentuinnya,, udah bosen nih dgn nama2 yg berkaitan dgn hyesun,, moso nama minhye lg [sweat] ~pdhl rencana semula emang pakai nama itu [hmff]

Gae in?? Okeh deh mam  punk kLo Lee Hye Rim  [chin]

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
gw mau pakai nama yg rada cute tp ga tahu nama apa [sweat]

mam usul pake nama daze aja lol  [hmpfh] [laughing] tapi jangan gae in mam, brasa ada unsur jin tomang  hammer2

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Yu-Ri,, gw memutuskan pakai nama Yuri,, gimana [hmpfh]
gw jg ogah ama gae-in hammer2 hammer2 ..
setengah jam lagi gw update,, tunggu ya [hmpfh] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Yu-Ri,, gw memutuskan pakai nama Yuri,, gimana [hmpfh]
gw jg ogah ama gae-in hammer2 hammer2 ..
setengah jam lagi gw update,, tunggu ya [hmpfh] [laughing]

Lee Yu Ri...  [chin] punk punk punk punk punk

Ayo buruan nih mata hampir segaris nih... ==

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile


Ruang makan yang luas itu membisu setelah ucapan selamat pagi dari Minho pada Mr. Lee—yang dibalas dengan nada cerah oleh pria itu. Hanya peralatan makan yang saling beradu yang terdengar. Berdentang-denting mengalaukan hati Minho. Dia memasukkan potongan-potongan kecil ham ke dalam mulutnya dengan kaku. Tidak ada suara diucapkannya. Bahkan melirik pria di hadapannya-pun—dia tidak. Sedangkan Mr. Lee mengamati putranya dengan senyum tersungging di bibir. Sepertinya kekakuan yang tercipta dari wajah Minho tidak tertangkap olehnya.

“Bagaimana acara makan malam kemarin, Minho-a?” tanyanya—memulai percakapan antara mereka.

Akhirnya pertanyaan itu terlontar juga … Tinggg …. Minho melepaskan garpu dan pisau di tangannya begitu saja di atas piring. Matanya terpejam. Kursinya didorong ke belakang. Kemudian dia berdiri dan berjalan kearah pintu. Tampangnya yang sudah kaku berubah dingin.



“Minho-a!!” Mr. Lee tersentak dengan reaksi yang mendadak ini. Alisnya berkerut perlahan, “Wegude?”

Langkah Minho terhenti di tengah ruangan. “Jeobal … ,” katanya dengan suara bergetar akibat menahan perasaannya. “Jangan lakukan lagi .. “

“Mwo?”

“Saya .. saya tidak akan tertarik pada wanita lain—tidak siapapun .. ,” jawab Minho tanpa berbalik, “Jadi .. tolong hentikan semua usaha-usaha ini .. “

“Weo?” Mr. Lee berdiri dari kursi dan menatap punggung Minho. “Berikan alasannya pada appa! Apakah nona Katada tidak cocok dengan tipe wanita idamanmu?”

“Bukan itu!! .. Hanya saja .. cuma Hyesun dalam hatiku .. ,” kata Minho lemah. “Kamu tidak akan mengerti … Kamu tidak tahu apa-apa .. “

“Karena itu beritahu appa .. ,” Mr. Lee mendekati Minho. “Jika kamu tahu appa tidak memahamimu, maka .. jelaskan semuanya sekarang .. “

Minho berbalik perlahan. Dihadapinya Mr. Lee dengan sinar mata yang meredup. “Saya .. saya bukan putra yang pantas dibanggakan .. ,” dia mengeleng dengan perasaan menyesal. “Tidak dulu,, tidak juga sekarang .. ,” lanjutnya dengan nada memelan. “Karena itu dia meninggalkanku, .. dia tidak mempercayaiku .. aku tidak bisa menemaninya di saat-saat tersulit .. Aku … “ Minho menunduk dengan mata terpejam.

“Minho-a .. “ Mr. Lee memegang tangan Minho. Kemudian dia mendesah halus. “Semua kesalahan appa .. miane .. “

Minho menundukkan kepalanya secara perlahan-lahan. “Saya sudah mencobanya—sekuat tenaga .. ,” katanya dengan nada pelan. “Sungguh—sekuat tenaga .. Saya mencoba memberikan semuanya. Semua yang dia inginkan. Dari .. ,” Minho mengangkat wajah dan menatap Mr. Lee dengan sungguh-sungguh. “Miane appa .. “

“Kenapa?” tanya Mr. Lee agak khawatir begitu melihat ekspresi wajah Minho.

“Saya menyembunyikan kenyataan ini darimu .. ,” sahut Minho halus.

“Apa itu?”

“Bahwa .. selama ini … setelah pergi dari rumah .. sebelum .. sebelum bertemu Hyesun, .. saya .. “

“Kenapa Minho-a?” sela Mr. Lee, “Kamu kelihatan sulit mengatakannya .. “

Minho mengelengkan kepalanya. “Tidak. Bukan sulit mengatakannya.” Suaranya menjadi tegas. “Sesungguhnya saya tidak perduli. Saya tidak perduli dengan masa lalu itu karena yang terpenting bagiku adalah masa depan. Saya sudah normal dan bisa menjalani hidup ini di jalan yang benar. Saya hanya .. hanya takut appa tidak bisa menerimanya .. “

“Memangnya apa itu?” selidik Mr. Lee. “Apa sesuatu yang buruk?”

“Apa ada yang lebih buruk daripada mengetahui bahwa putramu sebenarnya seorang gay?”

“MWO?!!” mata Mr. Lee terbelalak lebar. “GAY?!”

“Ne.” Minho mengangguk. “Saya tahu ini mengejutkanmu.” Dia terdiam beberapa saat. “Saya bisa memahami jika appa tidak bisa menerima kenyataan ini.” Sesalnya. “Oleh sebab itu saya bilang tidak ada wanita lain. Karena cuma Hyesun seorang yang mampu mengubahku. Terhadap wanita lain, saya tidak tertarik dan saya juga tidak bernafsu. Tidak bisa! Tidak ada perasaan itu.”

“Ohh … .” Tubuh Mr. Lee oleng ke samping, yang segera disangga oleh Minho.

“Appa … , miane .. “

“Apa karena appa? Karena appa?” tanya Mr. Lee lemah.

“Sudahlah appa .. Lupakan semuanya .. “

“Tapi benar karena appa, kan?” Mr. Lee menekan lengan Minho.

“Semua sudah berlalu .. ,” Minho mendesah. “Yang penting bagiku sekarang adalah menemukan Hyesun. Bagaimanapun caranya saya akan menemukannya .. “


“Sebegitu berartinya dia bagimu?”

“Ne.” Minho mengangguk yakin. “Demi dia, saya sudah melakukan semua yang tak pernah terbayangkan seumur hidup .. ,” senyum halus perlahan tersungging di bibirnya. Bayangan-bayangan masa lalu dengan Hyesun mulai bermain-main dalam pikirannya. “Menjadi normal kembali. Bisa mencintai seorang wanita dengan tulus .. “ Minho menatap appanya. “Appa tahu bagaimana perasaan itu? Seperti berhasil memindahkan sebongkah batu besar yang selama ini menghimpit hatiku.” Dia menghela nafas perlahan. “Kembali kepada appa juga karena dia .. ,” lanjutnya pelan. Seketika suaranya menjadi lembut. “Dia memimpikan keluarga yang utuh—keluarga yang sempurna. Yang tidak kekurangan seorang anggota keluargapun. Dia berharap bisa hidup dan tingggal bersama orang-orang yang dicintainya di dunia ini.” Minho berhenti untuk mengambil nafas, kemudian melanjutkannya lagi, “Karena dia sadar hubunganku dengan appa tidak baik—dan itu membuatku tidak bahagia—dia mengutarakan maksudnya supaya aku menjalin kembali hubungan ini. Tapi sayang aku tidak mengetahui caranya. Banyak kesalahan yang kulakukan selama setahun terakhir. Aku ingin memberi peluang pada kita untuk berdiskusi lebih banyak. Tapi aku tidak sanggup .. Aku terlalu keras kepala .. “

“Tidak!,” Mr. Lee menyela. “Bukan hanya kamu yang salah, Minho-a .. Appa juga bersalah. Appa tidak tahu apa yang kau pikirkan. Selama ini, sangat sulit. Iya, kan?”

Minho tersenyum. “Mungkin ke depannya akan lebih baik .. “

“Ne.” Mr. Lee mengangguk. “Semoga saja. Dan semoga Hyesun segera ditemukan .. “

Tiba-tiba Minho memeluk appanya—hal yang pertamakali dilakukannya seumur hidup. Membuat Mr. Lee termangu di posisinya.

“Gumawo .. ,” kata Minho. “Mewakili Hyesun, saya ucapkan terimakasih. Dan juga .. atas pengertianmu .. “

“Kamu tahu sesuatu, Minho-a?!”

“Mwo?” Minho melepaskan pelukannya.

“Baru appa sadari kalau kamu sudah setinggi ini .. ,” Mr. Lee tertawa. “Rasanya dulu—ketika kamu melarikan diri dari rumah—kamu tidak setinggi ini. Jika kamu tidak memeluk appa seperti ini, mungkin appa tidak akan menyadarinya … berapa tinggimu?”

Minho tersenyum. “188 cm .. “

“Setinggi itu?!” mulut Mr. Lee mengangga. “Tidak kusangka .. sungguh luar biasa .. “

Kemudian mereka tertawa bersamaan.


*************

        
Kim Hyun Joong keluar dari gedung Paradise siang itu. Ponselnya berdering ketika dia sampai di tempat parkir. Hyunjoong melihat ponselnya—tidak dikenal. Dengan asal-asalan direjectnya nomor itu. Tak sampai semenit ponsel tersebut berteriak lagi. Huhhh!!, dengus Hyunjoong.

“Yeobo … “

“KIM HYUN JOONG!!!” teriakan memekakkan telinga langsung terdengar dari ujung telepon.

“Oh!!” Hyunjoong kaget. Ponsel tersebut segera dijauhkan dari telinganya. “YAA—MAI,, APA-APAAN INI?” tebaknya keras. Tidak ada orang lain yang berteriak padanya seperti ini selain Maiko. Lagipula cuma dia satu-satunya yang memanggilnya dengan nama panjang. Jadi orang gila di seberang itu pasti DIA.

“HELP ME!” suara itu terdengar lagi.

“MWO?!” balas Hyunjoong kesal.

“Tolong saya!” suara yang mengemparkan itu perlahan memelan. “Saya sedang kerepotan.”

“TIDAK BISA!” tolak Hyunjoong. “Saya tidak punya waktu.”

“Apa yang kau lakukan sekarang?”

“Makan siang dengan appa.” Jawab Hyunjoong kaku.


“Cihh—itu bisa ditunda. Saya akan menelepon paman dan mengatakan kamu sedang menolongku. JADI DATANG SEKARANG JUGA!”

“MWO?!” tanya Hyunjoong tak percaya. “Mengapa saya harus mengikuti perintahmu?!”

“Mobilku mogok!” sahut Maiko. “Sedangkan belanjaanku sangat banyak. Aku tidak bisa membawanya sendiri.”

“Masa bodoh!” Hyunjoong berkeras. “Itu bukan urusanku.” Dia mulai meneruskan langkahnya ke mercy hitam yang terparkir paling ujung. “Cari saja bantuan yang lain!” Dibukanya pintu itu, kemudian masuk ke dalam.

“Tidak bisa!” terdengar balasan dari seberang. “Selain beberapa kantung belanjaan, masih ada lukisan-lukisan yang tidak bisa kupercayakan pada orang lain—para pembantu ataupun kuli pindah barang yang kasar itu. Jadi kamu harus menolongku. Di Lotte Word—datanglah segera!!”

Tutttt …. Tanpa memberikan tanggapannya, Hyunjoong memutuskan hubungan dengan Maiko. Dilemparnya ponsel tersebut ke bangku sebelah. Tampangnya terlihat kusut. Setelah memakai sabuk pengaman, dihidupkannya mesin mobil. Perlahan mobil tersebut meninggalkan tempat parkir memasuki jalan raya yang cukup ramai siang itu.

Mercy hitamnya bergerak berlawanan arah dengan Lotte World. Memang acara makan siang yang sudah dijanjikan dengan appanya akan dilaksanakan di restoran Causette yang berjarak sekitar lima ratus meter dari pusat kota Seoul.

Sampai setengah perjalanan mercy hitam itu mendadak menikung dengan tajam—menghasilkan suara yang memekakkan telinga. Dia membelok dan berbalik arah. Memutar dari jalan kiri ke jalan kanan—kembali ke jurusan dari mana dia datang tadi.

“Maiko berengsek!! Menyusahkan orang saja!!” Hyungjoong mencaci-maki sendiri dalam mobilnya. “Awas kalau aku sampai di sana!! Akan kugilas kamu habis-habisan,, huhhh!!”


*************

        

Mobil Hyunjoong berhenti dengan suara mendecit di depan Lotte World. Langsung dilihatnya Maiko berdiri dengan sepasang tangan terlipat di depan dada dekat sebuah Cadillac berkapasitas 4 orang. Hyunjoong keluar dari mobil dan membanting pintu mobil tersebut. Didekatinya gadis itu dengan langkah lebar. Mulutnya terbuka—siap untuk bersuara tapi langsung disambar Maiko yang melirik kehadirannya di situ.


“KIM HYUN JOONG,, KENAPA LAMA SEKALI?!” Tangan Maiko terangkat dan dia menunjuk jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

“MWO?!” Mata Hyunjoong hampir meloncat keluar.

“Kenapa lama sekali?!” ulang Maiko dengan nada kesal. “Saya sedang diburu waktu nih!!”

Hyunjoong sampai di sebelah Maiko. “Heyy nona!” teriak pemuda itu kesal. “Tahu sopan santun tidak? Begini caranya minta bantuan orang lain?”

Maiko mengangkat bahunya. “Kamu bukan orang lain.” Jawabnya cuek. Dia berputar ke Cadillac yang ada di belakang, membuka bagasinya kemudian menunjuk barang-barang yang ada di dalam. “Pindahkan barang-barang ini ke bagasi mobilmu!” katanya dengan nada memerintah. “Sedangkan lukisan-lukisan ini .. ,” tangannya menunjuk ke bangku di jok belakang, “Hmm—taruh di jok belakang saja .. “

“Kamu memerintahku?!” tanya Hyunjoong sambil berkacak pinggang.


Maiko berpaling padanya. “Tidak! Ini atas anjuran paman. Jika kamu keberatan, sampaikan sendiri padanya!”

Hyunjoong mengesek-gesekkan gerahamnya. “Kamu mengancamku dengan nama appa?!”


“NO!” sahut Maiko tegas. “Saya tidak akan melakukan itu. Orang yang paling kuhormati selain appa dan omma adalah paman. Jadi kamu tidak boleh berpikiran begitu!”

“Jadi?!” Hyunjoong menuntut penjelasan lebih lanjut.

“Karena saya benar-benar memerlukan bantuanmu!” Maiko membalas pandangan Hyunjoong.


“Sebagai tukang pindah barang?” Hyunjoong menyindir.

“Heyy come-on, man! Jangan terlalu dibesar-besarkan!”

“Weo?!” kesal Hyunjoong. Dia melirik kantong-kantong besar yang tergeletak dalam bagasi. “Aku tidak mengerti mengapa kamu secinta ini pada shopping?!”

“You’re wrong, man!” Maiko tertawa. “Saya paling benci shopping. It’s not my style.”

“O ya?!” Hyunjoong menyeringai. “Lalu apa ini?” tangannya menunjuk belanjaan yang menyesakkan bagasi.

“Ini?!” Maiko menunduk. “Hanya penambahan dari kekurangan kemarin .. “

“Maksudmu?” dahi Hyunjoong berkenyit. “Persiapan buat ulangtahun Miko?”

“Ne.” Maiko mengangguk.

“Lalu … bagaimana dengan lukisan-lukisan itu?” Hyunjoong menunjuk ke dalam mobil.

Maiko mengikuti telunjuknya. “Itu buat melengkapi koleksi-koleksi di galeriku .. Mereka kupesan beberapa bulan yang lalu dan hari ini baru sampai.”

“Galeri?”

“Ne.”

Hyunjoong mengelus-ngelus dagunya. “Jadi benar apa yang dikatakan appa?”

“Mwo?”

“Kalian akan pindah dan menetap di sini— di SEOUL. Bukan hanya perpindahan bisnis sementara dari paman Kohei?!”

Maiko mengangguk. “Minggu depan akan diadakan pesta kecil di Katada’s Palace. Selain acara perpindahan kami ke rumah baru, juga sekaligus perayaan ulangtahun si Miko. Sahabatku di sini tidak banyak jadi saya berharap kamu bisa hadir dalam acara itu, Kim Hyun Joong. Paman dan onnie juga sudah berjanji akan menghadirinya. Ya, selain beberapa rekan kerja appa, tidak ada lagi tamu kami.” Dia berpikir sebentar sebelum menepuk lengan Hyunjoong. “Kalau bisa ajak Minho sekalian. Pesta itu makin ramai makin baik. Miko pasti menyukainya. Anak itu suka keramaian ..”

Hyunjoong terdiam beberapa saat. “Aku tidak menjanjikan apa-apa .. ,” dia berpaling ke arah lain.

Maiko tertawa. “Ha .. ha .. okay, .. “

“Apa perlu dipindahkan sekarang?” Hyunjoong beralih ke barang-barang dalam cadillac di hadapannya.

“Ne.”

“Kamu selalu menyusahkan saja!” gerutu Hyunjoong.

“Mwo?!” Maiko berpaling dengan pandangan bertanya.

“Tidak apa-apa.” Sahut Hyunjoong cepat. “Kita bekerja sekarang .. “

Maiko mengangkat bahu—cuek. Beberapa saat kemudian mereka bahu-membahu memindahkan lima kantong besar dari mobil Maiko ke mobil Hyunjoong. Begitu juga lukisan-lukisan di jok belakang. Bukan pekerjaan yang mudah karena kantong-kantong itu sangat berat dan juga lukisan-lukisan tersebut mesti dipindahkan dengan hati-hati jika tidak ingin cacat. Nafas mereka terengah-engah setelah semua bawaan berpindah tempat.

Hyunjoong masuk ke dalam mobil. Diikuti Maiko. Mercy hitam itu bergerak pelan meninggalkan Lotte World.


*************

        

Pintu depan rumah sederhana yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya itu terbuka. Seorang pria jangkung berdiri di ambang pintu dengan dua kantong besar terjinjing di tangan. Udara pengap yang berbau debu langsung memasuki hidungnya.

“Huatchiiii!!” dia bersin.

Sesaat pria tersebut tidak bergerak dari ambang pintu. Setelah matanya terbiasa dengan kesuraman di lingkungan sekitar, baru dia melangkahkan kakinya. Diletakkannya bawaannya ke atas meja yang lumayan bersih karena sudah dilapnya dua hari yang lalu.

Lee Min Ho—pemuda itu—menekan tombol kecil di dinding. Seketika itu juga ruangan tersebut menjadi terang-benderang. Minho mengambil salah satu kantong dari atas meja dan membawanya ke dapur. Ditaruhnya kantong tersebut dalam wastafel yang kering dan berdebu akibat sudah lama tidak dipakai.

Minho menghembuskan nafasnya. “Pekerjaan yang menyita waktu … “ Kemudian dia mengeledah dalam kantong dan mengeluarkan sepasang sarung tangan yang masih baru berikut celemek warna merah bermotif kotak-kotak kecil.

Setelah memakai celemek dan sarung tangan tersebut, dia mulai bekerja. Pertama dia membersihkan wastafel yang berdebu, juga piring-piring dan semua peralatan memasak. Kantong besar di dalam wastafel sudah diangkatnya lebih dulu dan ditaruh di atas meja marmer kecil dekat situ. Setelah itu dituangkannya sayuran-sayuran dan daging ke dalam wastafel yang sudah dibersihkan. Minho mengailirinya dengan air. Membersihkan semuanya. Dia juga menyiapkan semua perlengkapan masak dan merebus air untuk membuat sup. Pikirannya mulai melayang ketika menunggu air mendidih.

Kening Minho agak berkerut ketika meraih kotak kecil dari gabus berisi nenas yang sudah dikupas dan diiris kecil-kecil.
"Untuk apa ini?"

Hyesun tertegun sebentar, setelah sadar, dia langsung merebut kotak berisi nenas dari tangan Minho.
"Ini .. apa .. apa urusannya denganmu?"

Minho semakin mengerutkan alisnya. Diperhatikannya wajah gadis itu dengan seksama. Hyesun sangat gugup. Matanya melirik kesana kemari. Beberapa saat mereka tidak bersuara. Minho memandangi kotak di tangan Hyesun lagi. Berpikir sebentar, kemudian suara ketawanya pecah, mengetarkan seisi ruangan.

Orang-orang yang berada di ruang depan saling melempar pandangan. Suara ketawa itu membuat mereka iri. Kecuali Kangsan, tidak terpengaruh sama sekali. Dia masih meneruskan kesibukannya mengambar. Ketawa keras dari Minho dan teriakan keras dari ommanya sudah terbiasa bermain di telinganya. Jadi dia sudah tidak terkejut lagi.

"Hentikan ketawa jelek itu!!", teriak Hyesun.

"Ha .. ha .. ha .. kamu ini lucu sekali ... jika saya .. tidak pulang .. saat yang tepat .. saya .. ha .. ha .. saya ragu Kimjoon-ssi .. akan .. ha .. ha .. akan baik-baik saja .. setelah memakan masakanmu .. ha .. ha .. "

"Yaaa .... !!!". Hyesun segera membuka keran air. Menampung air yang mengalir deras dari keran yang terbuka itu dengan tangan dan mengarahkannya ke Minho.

"Yaaaaaaaaaaa ...!!!!!". Minho berusaha menghindar. Dia mengelak ke samping. Tapi percuma, air yang dipercikan Hyesun  tepat mengenainya. Kemeja yang dipakainya basah di bagian dada.

"Ha .. ha .. ha ..". Hyesun tertawa keras.

"YAAAAAA!!!"

Minho mengibas-ngibaskan kemeja bagian dada, berusaha mengeringkan bagian yang basah itu. Dia membuka kancing paling atas dengan kesal, mengibas-ngibaskannya lagi.
"Kamu ini .. selalu emosian .. ", katanya dengan nada pendek. Dipandanginya Hyesun, yang saat itu mulai gugup.

Pandangan Hyesun jatuh ke gerakan tangan Minho. Dada padat berisi, ditambah bulir-bulir air di bagian dada, mengintip keluar dari kancing kemeja yang sedikit terbuka bagian atasnya. Wajah Hyesun mulai memerah. Bagian dada yang sempurna itu membuatnya pusing.

"Heiii .. ada apa denganmu?". Minho mengibaskan tangannya di depan wajah Hyesun.

Gadis itu langsung tersentak. "Ohh .. saya .. saya .. baik-baik saja .. ", berhenti sejenak, karena belum hilang dari keterkejutannya. Setelah itu melanjutkan perkataannya lagi, "Sudahlah! .. jangan berbicara terus! ayo mulai bekerja! .. Apa yang harus kulakukan sekarang?"

Minho mengangkat bahu, kembali ke sifatnya semula, dingin dan cuek.
"Kamu mencuci sayur dan memasak air saja ... itu paling gampang dilakukan .. Ingat! jangan menyentuh peralatan dan bahan-bahan lainnya!! .. Saya tidak mau memperbaiki hasil pekerjaanmu yang berantakan!"

Hyesun meruncingkan bibirnya, cemberut. Kesal dengan perkataan Minho, dia segera mengambil seikat sayuran, melemparkannya ke wastafel dan mulai mengalirinya dengan air. Kemudian dia mengambil cerek dari rak bawah dan mengisinya dengan air di wastafel sebelahnya.

Minho juga mulai pekerjaannya dengan mengiris salmon segar menjadi potongan kecil-kecil. Dia tidak memberi perhatian ke Hyesun. Tidak memperdulikan kekesalan gadis itu. Setelah cerek terisi penuh, Hyesun meletakkannya ke kompor gas dan menekan tombol 'ON'. Api mulai menyala dan suara 'shsssss' terdengar dari kepala kompor.

Hyesun melangkah ke kursi yang terletak di sudut sebelah kanan, kemudian duduk di sana. Dia memperhatikan kesibukan Minho. Punggung kokoh itu bergerak seiring dengan kesibukannya. Mata Hyesun mendelik dan bibirnya cemberut. Selama berpuluh-puluh menit mereka tidak bersuara. Minho sibuk memasak dan Hyesun sibuk dengan pikirannya.


Ngunggggg ...   Ngunggggg .. Ngungggggggggg ....

Teriakan dari cerek pertanda air sudah mendidih mengejutkan Hyesun dari lamunannya. Bergegas dia berlari ke kompor gas itu dan mematikan apinya. Hyesun menghembuskan nafas keras. Dia mengangkat tangan dan mengarahkannya ke pegangan cerek, bermaksud menuangkan air panas itu ke panci. Tapi ....

"Akhhhhhhhhhh!!!!!!!!!!"

Teriakan keras dari mulut Hyesun membuat Minho langsung membalikan badannya.
"Ada apa?", tanyanya gugup.

Hyesun sedang memegangi tangan kanannya yang memerah akibat terbakar cerek panas tadi. Minho meletakkan pisau dalam genggamannya dan segera berlari kearah Hyesun. Dia menarik tangan Hyesun dan memperhatikannya dengan tampang khawatir.
"Yaaaaaa .. pabo-ya!!! .. Kamu selalu ceroboh!! .. Pasti sangat sakit kan?"

Minho meniup tangan Hyesun yang berada dalam genggamannya. Hyesun memperhatikan tindakan pemuda itu. Hatinya bergetar keras. Rasa sakit itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan perasaannya sekarang.
"Saya .. gwencana ... "

Minho menghentikan tiupannya pada tangan Hyesun. Wajahnya terangkat perlahan dan padangan mereka bertemu. Wajah merona Hyesun dan sinar mata gugup itu membuat hatinya berdesir. Tanpa sadar, dia menarik tangan Hyesun yang memerah dan menempelkannya ke telinganya. Sepasang mata mereka masih saling menatap dan wajah mereka mendekat perlahan. Minho tidak mengerti apa yang akan dilakukannya. Gerakan itu tidak bisa dikendalikan otaknya. Semua terjadi begitu saja.


Tanpa sadar Minho tersenyum sendiri. Dia masih melamun ketika bunyi kelepap-kelepup pertanda air mendidih mengagetkannya. Segera dia berpaling dan membuka tutup panci. Kemudian dia mengambil pisau dari tempatnya dan mulai mengiris sayur-sayuran dan daging yang telah dicuci menjadi bagian kecil-kecil. Kemudian memasukkannya ke dalam panci. Lalu dia melanjutkan membuat masakan lainnya. Minho berada di dapur selama 45 menit.

Masakan-masakan yang sudah jadi dibawa ke ruang depan yang merangkap ruang makan pada pukul tujuh malam. Minho mengamati hidangan yang tersaji di atas meja dengan sendu. Disentuhnya piring-piring tersebut satu-persatu. Semuanya merupakan makanan kegemaran Hyesun dan Kangsan. Bayangan-bayangan dari kecerobohan Hyesun ketika memasak di dapur kembali bermain dalam pikirannya.

“Baby .. apa-apaan ini?”. Minho masuk ke dapur dengan sepasang mata terbelalak lebar. Langkahnya tersaruk-saruk akibat lantai dapur yang sesak oleh belanjaan sedangkan pandangannya berputar-putar ke sekeliling dapur yang tidak begitu besar itu, keadaannya sangat berantakan!

“O Minho-a .. apakah .. apakah saya membangunkan kamu? Akhhh … “, sebelum berhasil menyelesaikan perkataannya, Hyesun sudah berteriak keras ketika ikan segar dalam genggamannya tiba-tiba memberontak keras.  “Akhhhh …. “, Hyesun segera membuang ikan tersebut ke wastafel.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Fuhhh …. “, Hyesun menghembuskan nafas lega. Dia membuka keran, lalu mencuci tangannya. Setelah itu dia membilas tangannya di celemek warna pink yang dipakainya. “Saya berniat membuat makan malam buatmu tapi … “, Hyesun mengedarkan pandangan ke sekeliling, “ …. Kelihatannya tidak berhasil … “, sambungnya lemas.

“Tentu saja tidak berhasil .. “. Minho mengetok kepala Hyesun dengan tangannya, tidak keras tapi hanya menyentuh halus. “Pabo-a … apa yang kamu bisa dalam hal masak-memasak .. “, kemudian dia memutar tubuh Hyesun kearah pintu, “Sekarang keluar dari sini, biar saya yang memasak untukmu .. “


Minho kembali tersenyum. Tapi kali ini terlihat menyesakkan. Perlahan dia mengambil sendok dari atas meja dan bermaksud memulai makan malamnya. Tepat saat itu ponselnya berbunyi dengan nyaring. Sejenak dia tersentak linglung. Setelah agak tenang, baru disadarinya kalau ponselnya masih berada dalam tas yang waktu masuk dilemparkannya begitu saja ke lantai dekat pintu. Minho bergegas ke sana dan mengeluarkan ponsel tersebut. “Appa .. ,” desisnya halus.

“Ya, appa?”

“Minho-a, makan malam sudah siap. Kamu sampai di mana?” suara Mr. Lee terdengar dari ujung telepon.

“Miane appa .. ,” jawab Minho dengan nada menyesal semenit kemudian. “Saya lupa mengabari appa kalau saya tidak bisa menemani appa makan malam ini. Dan … mungkin saya juga tidak akan pulang hari ini. Jadi tidak perlu menungguku ..”

“Kamu ada di mana?” tanya Mr. Lee khawatir.

Minho menghela nafasnya. “Menenangkan diri .. ,” jawabnya pendek.

“MWO?!” seru Mr. Lee. “Mengapa?”

“Miane. Kita bicarakan besok saja .. “

Sebelum kata-kata protes Mr. Lee terdengar, Minho sudah memutuskan hubungan tersebut. “Miane appa … Saya masih perlu waktu .. Sedikit saja, beri saya waktu .. Sebentar lagi semuanya akan beres. Pasti!”

Minho menghempaskan tubuh ke kursi dan kembali memandangi hidangan-hidangan di atas meja.

“Andai kamu ada di sini, baby. Saya yakin semuanya sudah terselesaikan. Tidak perlu menunggu sampai setahun .. Ajari aku, baby .. ajari aku … “ bisiknya lemah.

Dia mulai mencicipi makanan-makanan tersebut. Terasa hambar. Semuanya hanya disentuhnya sedikit. Sepuluh menit kemudian ditaruhnya sendok tersebut. Dia berusaha makan lebih banyak. Tapi tak bisa. Dia tak berselera.

Minho berdiri dari kursi dan mulai membereskan makanan-makanan di atas meja. Semua dibuangnya dalam kantong plastik. Dipandanginya makanan-makanan tersebut dengan perasaan menyesal. Begitu banyak anak-anak dan orang-orang miskin di dunia ini yang bersusah-payah hanya buat sesuap nasi sedangkan dia … dia membuang begitu saja makanan-makanan ini. Minho tersenyum hambar. Apa dia punya pilihan lain? Tidak! Tanpa Hyesun, hidupnya tidak berarti. Jangankan untuk makan, bahkan melakukan kegiatan sehari-sehari saja, dia merasa terombang-ambing.

Minho membawa kantong di tangannya keluar dan membuangnya ke tong sampah besar yang ada di belakang rumah. Setelah itu dia balik lagi ke dalam. Diamatinya lagi sekelilingnya. Masih sama dengan kedatangannya dua hari yang lalu. Sarang laba-laba masih tergantung di langit-langit ruangan. Begitu juga debu-debu tebal yang mengalasi semua peralatan rumah. Minho menghembuskan nafasnya.

Dia berjalan ke dapur dan memakai kembali celemek dan sarung tangannya.

“Hmm—saatnya bersih-bersih .. “ wajahnya ditekuk—membentuk lesung pipi tajam di wajahnya.


Minho mulai bergerak. Dia memanjat ke atas kursi dan menyapu sarang laba-laba dengan alat dari bulu-bulu di tangannya. Dia terbatuk-batuk keras ketika debu-debu berjatuhan ke wajahnya. Setelah bersih, dia mengambil vacuum cleaner dari gudang belakang dan mulai menyedot debu-debu dari lantai dan lemari-lemari. Begitu juga sela-sela yang tertutup alat-alat rumah tangga.

“Semuanya harus bersih!!” katanya dalam hati.

Ruang depan selesai setengah jam kemudian. Dia beralih ke kamar Hyesun. Dibukanya pintu yang engselnya agak ngadat itu. Udara pengap kembali memasuki hidungnya—seperti mula-mula memasuki rumah ini. Sesaat tubuhnya membeku. Bayangan-bayangan Hyesun yang sedang sibuk dalam kamar ini kembali memasuki pikirannya. Dia menghela nafas perlahan. Hatinya terasa sesak.  

Song : My all by Mariah Carey



Lyrics : I am thinking of you
In my sleepless solitude tonigh
If it's wrong to love you
Then my heart just won't let me be right
'Cause I've drowned in you
And I won't pull through
Without you by my side

Minho mengeleng perlahan. Dengan lambat-lambat dia memasuki kamar. Alat penyedot di tangannya mulai bekerja. Menghisap debu dari lantai dan juga peralatan-peralatan lainnya. Pekerjaan ini tidak menyita banyak waktu karena peralatan dalam kamar ini memang sedikit. Hanya sebuah ranjang, meja rias kecil dan lemari pakaian yang sudah tua. Minho meletakkan vacuum cleaner di tangannya dan mengeser meja rias kecil tersebut agak ke pojok.

“Tidak boleh ada debu yang tertinggal .. ,” gumamnya pelan.

Pakkk … suara halus itu menarik perhatiannya. Minho melongok ke celah antara meja rias dan dinding. Sebuah buku yang terselimut debu tergeletak dalam keadaan menyedihkan di lantai. Kening Minho berkerut. Diraihnya buku kecil itu. Setelah membersihkan debunya, dia membuka lembarannya dengan hati-hati.

Tulisan-tulisan tangan Hyesun dan coretan-coretan kecil memenuhi halaman depan. Minho tersenyum samar-samar.

“Katanya sudah melepas impian itu … tapi ternyata masih mencoret-coret secara diam-diam .. ,” katanya pelan. “… mungkin aku belum mengenalmu begitu dalam, baby .. “

Minho membawa buku itu ke tempat tidur. Dia bersandar ke kepala ranjang dan membuka lembaran-lembaran berikutnya. Semua hanya berisi goresan-goresan tangan Hyesun. Sketsa kasar yang mungkin dilakukan Hyesun pada waktu senggang. Berbagai gaun malam dan baju fashion yang terlihat berstyle.

“Kamu sangat berbakat dalam bidang ini, baby .. “

Sampai lembaran ke 20, Minho tertegun. Halaman ini lain dengan halaman-halaman sebelumnya. Selembar penuh dipenuhi tulisan Hyesun. Perlahan Minho membaca tulisan-tulisan tangan tersebut.

Sehari setelah ulangtahunku …

Aku tidak berbakat menulis diari. Tapi aku mencobanya. Mungkin semua perlu permulaan. Hari yang menyesakkan kemarin—seperti juga hari yang sudah kujalani tahun-tahun sebelumnya. Setiap datangnya hari itu, hatiku sangat sakit. Aku teringat pada onnie dan oppa, begitu juga Kangsan. Andai saja bukan karena aku, Kangsan tidak akan kehilangan orangtuanya.

Apa itu takdir yang biasa dikatakan orang-orang? Aku tidak ingin percaya. Bagaimanapun kematian onnie dan oppa berkaitan denganku. Jika bukan memburu waktu dengan kado yang ingin diberikannya padaku, mereka tidak akan mengalami kecelakaan itu? Tapi .. hmmm—mungkin juga! Tapi aku lebih yakin, TIDAK.      

Minho melakukan sesuatu yang mengejutkanku kemarin malam. Aku sangat membencinya saat itu. Mengapa dia ikut campur dalam masalahku? Apa haknya? Apa yang diketahuinya tentang perasaanku saat itu—hari itu? Dia menyayat hatiku dengan kue ulangtahun yang selama beberapa tahun tidak kusentuh.

Tapi … setelah malam itu pula, aku sadar. Selama ini aku salah. Aku terlalu mengurung diri. Terlalu menyalahkan takdir yang sudah ditentukan Tuhan. Minho menyinggung satu hal yang membuatku terpana saat itu. Seharusnya aku bersyukur buat keselamatan Kangsan. Aku tidak boleh menyalahkan-NYA. Dibalik hasil karya-NYA, pasti ada sesuatu yang indah. Minho menyadarkanku … (gambar smile)

Aku jadi berpikir, apakah hadiah yang indah itu MINHO? (tertawa)


Minho tersenyum. “Paboya .. ,” tak terasa airmatanya mengalir turun, jatuh membasahi buku dalam tangannya. Dia menengadah ke atas. “Andai saja kamu ada di sini … Menemaniku malam ini .. Akan kudekap dan tidak akan kulepas lagi .. “

 
I'd give my all to have
Just one more night with you
I'd risk my life to feel
Your body next to mine
'Cause I can't go on
Living in the memory of our song
I'd give my all for your love tonight

Minho membuka halaman berikutnya—kosong. Mungkin Hyesun tidak menulis atau mengambar lagi setelah hari itu. Apakah karna dia sudah mendapatkan apa yang dicarinya? Dia-kah? Minho menghela nafas berat. Dia tidak tahu.

Buku itu diletakkan di atas meja, kemudian dia membaringkan diri di atas kasur. Terlalu banyak pikiran memenuhi otaknya. Dia memikirkan Hyesun—selalu. Kekonyolan-kekonyolannya. Wajahnya yang memerah ketika marah atau malu. Teriakan-teriakannya. Minho mengeluarkan ponsel dan menekan beberapa tombol. Seketika teriakan keras terdengar. LEE MIN HOOOO!!!! Tak sadar ketawanya meledak. Teriakan ini direkamnya setahun yang lalu. Dan pernah dijadikan ringtone ponselnya. Tapi setelah bekerja di Lee’s corporation, dia mengantinya dengan bunyi yang wajar. Dia tidak ingin orang-orang sekantor dan para klien pingsan mendengar teriakan sumbang tersebut.

Minho menaruh ponselnya kembali ke dalam saku celana, kemudian mengeluarkan sesuatu yang lain. Kotak dari kayu yang terpelihara baik. Minho membuka penutupnya. Sepasang cincin yang terpahat halus dengan bintang-bintang yang menaungi sebuah bulan. Jarinya menyapu sepasang cincin itu. Cincin yang tidak berhasil dipakaikan di jari manis Hyesun.

“Setega ini dirimu … “


Airmatanya jatuh membasahi sepasang cincin dalam kotak di tangannya.

Baby can you feel me ?
Imagining I'm looking in your eyes
I can see you clearly
Vividly emblazoned in my mind
And yet you're so far
Like a distant star
I'm wishing on tonight

Kepala Minho menelungkup di atas kasur. Pundaknya bergerak-gerak perlahan. Seirama dengan isak halus yang keluar dari mulutnya.

I'd give my all to have
Just one more night with you
I'd risk my life to feel
Your body next to mine
'Cause I can't go on
Living in the memory of our song
I'd give my all for your love tonight

Minho berbalik. Pandangannya menghadap ke langit-langit kamar yang suram. Matanya yang merah meredup perlahan-lahan. Dan akhirnya terpejam.

Give my all for your love
Tonight


*************

        

Seminggu kemudian …
Minho memasuki café’ Mars yang terletak beberapa blok dari kantor Lee’s Corporation. Dia sengaja mengambil tempat ini karena dia ingin menghindari pertemuan yang tidak berarti dengan siapapun yang dikenalnya saat ini. Tapi kelihatannya keputusannya salah ketika teriakan dan sosok seseorang yang sangat dikenal tertangkap oleh pandangannya.

“MINHO-a .. ,” orang itu melambai padanya.

Minho mendesah. “Kim Hyun Joong .. “ Langkahnya terhenti selama beberapa detik.


Kemudian dia mendekati Hyunjoong dengan malas. “Hi … ,” sapanya. Ok, seharusnya aku sadar tempat ini berdekatan dengan gedung Paradise, keluhnya dalam hati.

“Mengapa kamu sampai ke sini?” tanya Hyunjoong dengan mata berbinar.


“Cuma ingin mencoba sesuatu yang baru .. “ Minho menjatuhkan diri di depan Hyunjoong.

“O begitu .. ,” Hyunjoong mengangguk. Dia tidak heran lagi dengan sikap Minho akhir-akhir ini. “Heyy .. ,” mendadak dia menepuk jidatnya.

Minho meliriknya. “Wee?!”

“Besok kamu ada acara?”

Kening Minho berkerut. “Tidak. Memangnya kenapa?” tanyanya curiga.

“Bantu aku.” Pinta Hyunjoong.

Minho menatapnya tak berkedip. “Mwo? Tampangmu kelihatan kusut .. “


“Bagaimana tidak kusut?!” Hyunjoong cemberut. “Hampir tiap hari aku kerja rodi .. “

“Mwo?!”

“Si Maiko .. ,” teriak Hyunjoong kesal. “Dia menyeretku ke rumahnya setiap hari .. “

“Mwo?! Hubungan kalian sudah sejauh itu?” tanya Minho keheranan.

“Bukan seperti yang kamu pikirkan!” sela Hyunjoong cepat. “Saya hanya membantunya menata rumah dan juga persiapan-persiapan buat pesta besok .. “

“Pesta?”

“Ne.” Hyunjoong mengangguk. “Pesta perpindahan mereka, juga perayaan ulangtahun Miko, adik kecil Maiko .. “

“O .. “

“Besok kamu ikut saya ke sana .. Maiko mengundangmu ke acara itu .. “

“Mwo?! Antwe!!” tolak Minho seketika. “Untuk apa saya ke sana? Saya tidak kenal dengan sepupumu. Lagipula hubungan kita juga tidak seperti dulu lagi .. “

Minho berdiri dari kursinya.

“Minho-a .. ,” panggilan Hyunjoong tidak menghentikan langkahnya. “Bisakah kamu memberi kesempatan dirimu sendiri?!”

Minho berhenti tapi tidak berbalik.

“Bukan dengan menerima wanita lain .. ,” Hyunjoong melanjutkan perkataannya. “Tapi kesempatan beradaptasi kembali dengan lingkungan di sekitarmu .. “

Minho memutar badannya menghadapi Hyunjoong. Mulutnya masih terkunci.

“Aku tahu bagaimana rasa sakit itu karena aku pernah mengalaminya. Mungkin bagimu perasaan itu sangat lain karena dia—Hyesun, terlalu istimewa bagimu .. “ Hyunjoong mendekati Minho, kemudian menaruh tangannya di pundak pemuda itu. “Tapi kamu tidak bisa hidup terus-terusan dalam bayangan, Minho-a. Selain cinta, masih banyak yang harus diperhatikan. Perasaan appamu dan juga orang-orang di sekelilingmu. Mereka juga sangat mencintai dan berharap yang terbaik bagimu. Boleh saja kamu memikirkan Hyesun. Boleh tidak ingin melepaskan dirinya. Dan juga boleh mempertahankan cintamu. Tidak ada yang melarangnya. Tapi kamu juga harus meneruskan kehidupanmu. Buang semua perasaan itu untuk sesaat. Hanya sesaat. Beri dirimu kesempatan! Saya belajar banyak dari appa. Karena itu saya bisa menasehatimu seperti ini.” Hyunjoong berusaha tersenyum.

Minho membalas pandangannya selama beberapa menit. Dia bergerak perlahan—menuju pintu keluar. “Jam berapa acaranya dimulai?”

Pertanyaan itu membuat Hyunjoong yang tertunduk di posisinya tersentak. “MWO?! Maksudmu .. kamu akan hadir?”

“Seperti yang kukatakan .. “

“Yehhh!!!” Hyunjoong bersorak di tempatnya. Beberapa pasang mata segera menatapnya dengan perasaan sebal. Hyunjoong menutup mulutnya cepat-cepat. Setelah melempar beberapa lembar uang ke atas meja, dia bergegas mengejar Minho yang sudah menghilang dari café’s tersebut.

Dia berhasil menyejajarkan langkah Minho. “Benar kamu akan hadir?”

“Jam berapa?” tanya Minho tanpa berpaling.

“Saya akan berada di sana sekitar jam delapan pagi. Ya, untuk membantu dekorasi-dekorasi dan persiapan-persiapan yang belum selesai. Kemarin malam kami bekerja sampai pukul sepuluh malam. Tapi belum beres-beres juga. Sedangkan acaranya sendiri akan dimulai pukul sebelas .. ,” jelas Hyunjoong panjang lebar.

Minho mengangguk. “Saya akan sampai di sana jam sepuluh .. ,” mendadak dia menghentikan langkahnya. “Dan kamu,,” telunjuknya hampir menyentuh hidung Hyunjoong. “Apa hakmu menasehatiku sedangkan masalahmu sendiri belum beres?”

“Mwo?!” tanya Hyunjoong tak mengerti.

“Kapan kamu akan memulai hubungan dengan seorang wanita?” kepala Minho agak dimiringkan.

“Mwo?! Yaa--,” Hyunjoong mendorong Minho dengan kikuk. “Apa maksudmu?”

“Aku yakin kamu mengerti maksudku?”

“U .. urusan ini .. lain dengan urusanmu .. ,” Hyunjoong membuang muka ke arah lain. “Jadi jangan dicampuradukkan .. Sa .. saya tidak mungkin berubah. Kamu tahu itu .. “

“Saya tidak tahu .. “ Minho mengeleng. “Seperti juga saya tidak bisa meramalkan sampai mencintai Hyesun begitu dalamnya .. “

“Minho-a .. ,” perhatian Hyunjoong kembali pada Minho.

“Karena itu saya tidak ingin memastikan sesuatu.” Minho tersenyum. “Kamu, yang lemah lembut saja bisa menasehatiku .. Apa lagi yang bisa diramalkan di dunia ini?” ketawanya meledak saat itu juga.

“Yaa—apanya yang lemah lembut?!” ketus Hyunjoong.

“Bukannya begitu?!” Minho melingkarkan tangannya ke leher Hyunjoong dan menarik ke arahnya.

“Yaa—mau apa?!”

“Hyunjoong-a?” Minho tersenyum simpul.

“Mwo?!”

“Si Maiko .. ,” Minho berusaha menahan ketawanya. “Kelihatannya lumayan juga .. “

“Yaishh!!”

“Ha .. ha .. ha .. “

  
*************

        

Minho memasuki Katada’s Palace dengan diantar seorang pelayan. Saat itu sekitar pukul sepuluh kurang lima menit. Minho sampai di ruang tamu—tempat diadakannya pesta perpindahan dan ulangtahun itu—dan pelayan yang mengantarnya segera mengundurkan diri setelah membungkukkan badannya dalam-dalam.

Minho melangkah ke dalam ruangan. Orang-orang terlihat sibuk berseliweran dengan pekerjaan-pekerjaan yang harus mereka tangani. Tidak ada seorangpun yang memperhatikan kehadirannya di situ. Minho melihat Hyunjoong sedang berjinjit memasang balon-balon ke langit-langit di tengah ruangan. Sedangkan Maiko bertugas menyerahkan balon-balon yang telah ditiup dari dalam beberapa kardus besar di lantai.

Ketika menunduk buat meraih balon yang diserahkan Maiko, Hyunjoong melihatnya. “Hy Minho-a .. “

Minho mengangkat tangannya. “Ada yang bisa saya bantu?” kemudian dia beralih pada Maiko. “Hy Maiko-ssi … anyongheseyo ..”


Maiko menundukkan kepala perlahan. “Anyong Minho-ssi. Pagi sekali kamu kemari .. “

“Saya diancam Kim Hyun Joong .. ,” katanya—memasang tampang serius.

“Jeomal?” Maiko tertawa. Dia melirik Hyunjoong.

“Anhi!” protes Hyunjoong dari atas meja. “Yaa—Lee Min Ho, apa-apaan ini?”

Minho mengangkat bahunya. “Hanya lelucon .. ,” sekali lompat, dia mencapai tempat Hyunjoong. “Berikan balon-balon itu!” katanya pada Maiko.

“Lelucon murahan .. ,” desis Hyunjoong.

Maiko terbahak-bahak melihat tampang Hyunjoong yang berubah laksana tersengat lebah. Wajahnya memerah dan cuping hidungnya terlihat agak bengkak. Perhatiannya teralih ketika Minho mengerakkan tangannya meminta balon-balon lagi. Hyunjoong juga melupakan lelucon hambar tadi. Dia mengambil balon-balon dari tangan Maiko dan mengantungnya. Mereka bekerja selama sepuluh menit. Balon-balon terpasang semua.

Minho dan Hyunjoong melompat ke lantai. Beberapa pelayan segera menyingkirkan kardus-kardus besar yang memenuhi ruangan. Bunga-bunga dan semua perlengkapan—mulai dari meja, kursi-kursi, piring-piring dan peralatan lainnya—juga sudah ditata dengan rapi oleh para pelayan.

Seorang pria berpakaian rapi—yang dandanannya agak lain dengan pelayan lainnya—diperkirakan adalah kepala pelayan, memasuki ruangan. Sikap dan cara berjalannya sangat sempurna. Waktu berkata, suaranya juga terdengar sempurna. Sangat lembut tapi tidak menghilangkan wibawanya. Dia membungkuk dengan hormat pada Maiko. Kemudian berpaling pada Hyunjoong dan terakhir pada Minho. Lalu berbalik lagi pada Maiko.

“Agashi .. “

“Ne?” tanya Maiko.

“Semua persiapan di luar ruangan sudah selesai. Hidangan-hidangan juga siap disajikan. Tinggal menunggu perintah dari agashi .. “

Maiko mengangguk. “Lakukan saja, tuan Son.”

“Agashimida, agashi .. “ Kepala pelayan Son bermaksud memutar badannya tapi segera terhenti oleh perkataan Maiko selanjutnya.

“O ya, tuan Son …. “

“Ne, agashi?!”

“Kemana appa dan omma?”

“Tuan dan nyonya besar belum turun dari kamarnya, agashi. Kemarin mereka pulang larut malam …”

Maiko mengangguk. “Lalu bagaimana dengan Miko?”

“Nona kecil berada di taman. Mungkin sebentar lagi akan masuk.”

“Apa dia sudah makan?”

“Ne. Nanny sudah menyuapinya .. “

“Bagus.” Maiko tersenyum puas. “Pekerjaannya memang memuaskan. Anda boleh keluar sekarang, tuan Son .. “

“Saya permisi, agashi .. ,” tuan Son membungkuk dengan hormat. Kemudian dia keluar dari ruangan itu.

Maiko berpaling pada Minho dan Hyunjoong. “Kita istirahat saja dulu.” Tiba-tiba dia tertawa geli begitu mengingat sesuatu. “Sebentar lagi Yuri pasti berteriak-teriak histeris.” Dia melirik jam tangannya. “Waktunya menyusui .. “    

“Yu-Ri?” dahi Hyunjoong berkerut. “Memangnya Miko punya nama Korea?”

Maiko tidak menjawab. Dia hanya tersenyum mengoda. Membuat Hyunjoong semakin penasaran. Sedangkan Minho terlihat tak peduli di tempatnya.

“Maiko!!” Hyunjoong mendorong lengan Maiko tapi cewek itu hanya mengangkat alisnya. “Yaishh—kamu … “

Krekkkk …. Teriakan Hyunjoong terputus oleh suara pintu yang dibuka diikuti tanggisan bayi yang memekakkan telinga. Mereka berpaling secara bersamaan ke arah pintu. Suasana langsung kaku. Minho dan Hyunjoong saling menatap dengan orang yang baru memasuki ruangan. Hanya Maiko yang terlihat tidak terpengaruh. Dia tersenyum cerah dan melambaikan tangan kepada wanita yang sedang mengendong seorang bayi mungil di tangan kanannya. Bayi itu berteriak-teriak menyayat hati. Si wanita tidak berusaha menghentikan tanggisnya karena dia kelihatan terguncang hebat. Tangan kirinya yang mendorong kereta bayi meremas-remas. Seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahunan berdiri di sampingnya.

“Goo Hye Sun .. ,” desah Hyunjoong pelan, hampir tak terdengar—antara percaya dan tidak dengan pemandangan di hadapannya. Dia berpaling pada Minho.



Tampang sahabatnya terlihat lebih tegang lagi. Urat-urat lehernya Nampak semua. Mulutnya terbuka. Tubuhnya tegak dan matanya tak berkedip tertuju ke depan. Kepada siapa lagi, kalau bukan wanita di hadapannya.


“Hyesun-a!” panggil Maiko.

Tidak salah lagi,, wanita ini benar-benar Hyesun adanya ..

“Yuri sudah lapar-kan? Sudah kukira. Baru saja saya memikirkan bagaimana berisiknya dia kalau sudah kelaparan .. “

Maiko berjalan ke arah Hyesun dan menyentuh tangannya.

“OHH!!” Hyesun tersentak.

Tampang Maiko berubah—khawatir. “Wegude? Gwencana, Hyesun-a?”

Hyesun tidak menjawab. Wajahnya pucat pasi.



  
*************
« Last Edit: September 18, 2010, 02:22:18 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
 [clap] [clap] [smiley-gen013] [clap] [clap] [smiley-gen013] [clap] [clap]

Kentaaaaaang Maaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaammm  [cry] [cry] [cry]
« Last Edit: September 18, 2010, 01:14:16 pm by Vay_za »

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
 [smiley-gen013] asik long chap

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
Oke, SAYA MATI PENASARAN. Lanjooot...

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
semua kok komennya hemat banget [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
semua kok komennya hemat banget [sweat]
mi komentnya besok ya mii...gak enak baca pagi buta gni...okokok

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
semua kok komennya hemat banget [sweat]
mi komentnya besok ya mii...gak enak baca pagi buta gni...okokok
yeee kirain udah dibaca [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun