Author Topic: *When a Gay met a Young Mom (in love again)* ~chp 22 (ending), 22 Jan'2011  (Read 98832 times)

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
Yg ini kpn d update [what] udh s'minggu kan [what] Mana tambah penasaran lg sm jalan ceritanya [dies] Hye Sun mau kagak sih m'fin Mino?

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Yg ini kpn d update [what] udh s'minggu kan [what] Mana tambah penasaran lg sm jalan ceritanya [dies] Hye Sun mau kagak sih m'fin Mino?
kan baru seminggu ~digetok [hmpfh] [hmpfh]
sabar say,, lagi melanjutkan yg lain,, ff ini plg cepat dua minggu lagi [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
echyn, kan udah diblg gw suka kentang [hmpfh]

shanty, si yuri tuh bukan miko. miko adiknya maiko sedangkan yuri tuh babynya minsun [biggrin]

om, kasian ga bisa tidur tenang. minta dikerokin ama duo cumcum ngih [laughing]

mak yem, [hmpfh] [hmpfh]
ups sa;ah ya mam, hehehehmiane.. kannamanya juga tebak tebak buah manggis mam [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
mam, kapan dunks si bengkok di up date, eh bukan bengkok lagi dunks namanya kan si minong dah sembuh gara2 hye sun, nah bentar lagi joongie juga bakal sembuh ma si maiko, jadi judulnya duo bengkok insyaf dunks mam,  [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]

mam, ayo up date yg UL, BOYFRIEND ama duo kembar yaks,  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]



    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
yg ini kapan update ya [what] kok nanya [hmff] [hmff] [hammer3]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
Sekarang aja, ya ya ya iya dong kan kan kan *mempengaruhi*

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Sekarang aja, ya ya ya iya dong kan kan kan *mempengaruhi*
mian,, lagi berkutat ama ff si duo kembar [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
Wokeh... Apapun yg nona lee update aku selalu dukung. Hidup Nona Lee, keep spirit.  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
Sekarang aja, ya ya ya iya dong kan kan kan *mempengaruhi*
mian,, lagi berkutat ama ff si duo kembar [sweat]
hah ? duo kembar mi ? beneran kan ? aseeeeeeeeek [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline maya0501

  • Police
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 81
    • View Profile
Anneyonggg semuaaa..........

wah udah lumayan lama gk main ke sini..............kangennn...

Mamiiii......TWO THUMBS UP buat ff bengkoknya......... Emoticons0425 Emoticons0425

mami makin lama makin mantapsss nich.................

ditunggu update-nya ya mi............. [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline love_miinsun

  • Newbie
  • *
  • Posts: 77
  • ;)
  • Location: palembang
    • View Profile
Mii , upload dongk

pnasaran bngt ma criita ny
ayo lh mii !!
 
smngt ya  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]


                sexyyyyyyyyyyyyyy..... :D

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Mamiiiii.... dimana kau?? Kok beberapa hari gak liat penampakanmu??  [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234]

Offline gantang ricky prabowo

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • i know you so well
  • Location: JAKARTA
    • View Profile
mami....mami...mami...
update donk...
 [sweat] [sweat] [sweat]
Hidup sukses, bahagia dunia khirat, membahagiakan orang banyak, bermanfaat untuk agamaku amin ya allah..

Offline huey

  • Newbie
  • *
  • Posts: 73
  • bogosipta....saranghae...
  • Location: Semarang
    • View Profile
    • Huey is Coming
Yg ini kpn d update [what] udh s'minggu kan [what] Mana tambah penasaran lg sm jalan ceritanya [dies] Hye Sun mau kagak sih m'fin Mino?
kan baru seminggu ~digetok [hmpfh] [hmpfh]
sabar say,, lagi melanjutkan yg lain,, ff ini plg cepat dua minggu lagi [hmff]

mamiiiiii......... [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
2 minggu kelamaaan.... [laughing]

penasaran.....
hye sun bklkbur lgi g?
ato dia mau dgr pnjlsan minho?
trus ankny gmn???

huffff,,,, penassaran bgt ni..... banghead banghead

update [AddEmoticons04234] update [AddEmoticons04234] update  [AddEmoticons04234]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
CHAPTER EIGHTEEN

Song of The Day :


Lyrics : When you have no light to guide you
And no one to walk beside you
I will come to you
Oh I will come to you
When the night is dark and stormy
You won't have to reach out for me
I will come to you
Oh I will come to you

Sometimes when all your dreams may have seen better days
And you don't know how or why, but you've lost your way
Have no fear when your tears are fallin'
I will hear your spirit callin'
And I swear I'll be there come what may

When you have no light to guide you
And no one to walk beside you
I will come to you
Oh I will come to you
When the night is dark and stormy
You won't have to reach out for me
I will come to you
Oh I will come to you

I will come to you

'Cause even if we can't be together
We'll be friends now and forever
And I swear that I'll be there come what may
When the night is dark and stormy
You won't have to reach out for me
I will come to you
Oh I will come to you

We all need somebody we can turn to
Someone who'll always understand
So if you feel that your soul is dyin'
And you need the strength to keep tryin'
I'll reach out and take your hand

I'll reach out and take your hand

Oh I will come to you
When you have no light to guide you
And no one to walk to walk beside you
I will come to you
Oh I will come to you
When the night is dark and stormy
You won't have to reach out for me
I will come to you
Oh I will come to you

Oh I will come to you
Oh I will come to you

I will come to you,
Oh I will come to you


        
“Goo Hye Sun!” Maiko kembali menyentuh lengan Hyesun. Kali ini agak menguncangnya. “Gwencana?” tanyanya lagi.

Hyesun berpaling, lalu mengangguk dengan linglung. “Ne .. “ sahutnya. Sementara bayi mungil yang berusia sekitar tiga atau empat bulan menanggis semakin keras dalam pelukannya.

“Kalau begitu kau menyusui Yuri dulu. Si Miko serahkan padaku .. ,” kata Maiko sambil mengambil-alih kereta bayi dalam pegangan Hyesun.

“Ne ..” Hyesun melepas pegangan tangan kirinya, tergesa-gesa dia berlalu meninggalkan mereka sambil menarik tangan anak kecil di sebelahnya.

“Omma, bukankah itu appa?” tanya anak kecil tersebut.  Hyesun tidak mempedulikannya. Mereka Melewati Minho yang menatapnya tak berkedip, dan Hyunjoong yang mengangga di posisinya.



Bukkk .. terdengar bunyi pintu dihempaskan di belakang mereka. Seketika itu juga Minho tersentak dari ketermenungannya yang berkepanjangan. “Baby .. ,”desahnya halus. Dia memutar tubuh dan berlari ke arah kamar itu. Digedornya pintu kamar tersebut keras-keras. Bumm .. bum ..“BABY, BUKA PINTUNYA!!”

“Heyy!!” Maiko berusaha mencegah kelakuan Minho tapi segera ditahan oleh Hyunjoong. “Ada apa?”tanya Maiko bingung.

“Ikut denganku!” Hyunjoong menarik kerah baju Maiko.

“Apa-apaan ini?” Maiko mengibaskan tangan Hyunjoong, kemudian menghadapinya dengan marah. “Apa yang terjadi? Jelaskan padaku sekarang juga!”

“Sudah kubilang ikut denganku!” sembur Hyunjoong. “Gadis keras kepala!” kembali tangannya menarik kerah baju Maiko.

“HEYY KIM HYUN JOONG!!” teriak Maiko. Dia memberontak keras, tapi tenaga Hyunjoong tidak mampu dilawannya. Perlahan tapi pasti tubuhnya tertarik kearah pintu keluar. “LEPASKAN DULU! SAYA HARUS MEMBAWA SERTA SI MIKO!”

Hyunjoong melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Maiko—membuat gadis yang sedang melawan tenaganya itu hampir terpelanting ke depan.

“Kim Hyun Joong keparat!” caci Maiko. Tampangnya berubah sangar dan kedua tangannya terkembang seperti bersiap menerkam Hyunjoong.


Pemuda itu mengangkat kedua tangannya dengan ekspresi bersalah. “Miane .. ,”ujarnya sambil berusaha menahan senyumannya. Digigitnya bibir bawahnya keras-keras supaya Maiko tidak melihat perubahan wajahnya. Dia tidak ingin didamprat lagi.

Maiko mendengus kesal, lalu berlari ke arah kereta bayi di tengah ruangan. Sekilas Hyunjoong melirik Minho yang masih mengedor-ngedor pintu di mana Hyesun berada. Dia menghela nafas perlahan. Dapat dirasakannya bagaimana berat perjuangan Minho buat mendapatkan Hyesun. Apakah cinta sejati memang memerlukan pengorbanan sebesar itu? Terus terang dia merasa salut buat Minho. Dia mengenalnya selama beberapa tahun tapi baru kali ini dia melihat sahabatnya jatuh bangun demi seseorang. Apalagi orang itu seorang wanita.

“Heyy!! Bisa pergi sekarang?!”Tepukkan keras mendarat di lengan Hyunjoong.

Dia meringgis kesakitan. “Yaa—Maiko Katada!”

Gadis itu mengangkat bahu cuek, sambil berlalu dengan kereta bayi di tangannya.

“YAA--,” teriak Hyunjoong. Tapi tetap saja Maiko tidak berbalik. “Gadis sial!” rutuknya. Dengan putus asa dia berlari-lari kecil mengejar Maiko yang sudah menghilang dari ruangan tersebut.


*************



BUMMM .. BUMMM … BUMMM ..

“BUKA PINTUNYA, BABY!!” Berulangkali Minho berteriak-teriak seperti itu. Tapi tidak mendapat sahutan dari Hyesun.

“SAYA MOHON! BERIKAN KESEMPATAN PADAKU MENJELASKAN SEMUANYA!” masih tidak terdengar jawaban.

Pukulan-pukulan di pintu yang terbuat dari kayu tebal itu mulai memelan beberapa saat kemudian. Minho menyandar ke pintu, kemudian .. perlahan-lahan merosot dari posisinya.

“Baby .. ,”panggilnya dengan suara mengiris kalbu. Pelan tapi sangat menyayat. “Mengapa kau tidak memberikan kesempatan itu? Mengapa?” kepalanya tertunduk ke lantai.

Samar-samar dia mendengar tanggisan halus dari balik pintu. Kepala Minho terangkat seketika. Benar! Mengapa dia sampai melupakan bayi mungil dalam gendongan Hyesun. Mungkinkah itu? Berarti ..

Minho berdiri dari lantai dan kembali menghempaskan kepalan tangannya ke pintu. “BABY!!” teriaknya kembali. “Kamu dengar saya? Buka pintunya!”

Bukkk .. bukkk .. bukkk …

“HENTIKAN KEGILAANMU!!” terdengar sahutan tajam dari dalam. “BERISIK SEKALI! KAU MENAKUTI YURI, TAHU?!”

“Miane .. ,” kata Minho menyesal. “Saya akan berhenti jika kau membuka pintu ini, baby .. ,” sambungnya bersikeras. “Jika tidak, saya akan berteriak lagi .. “

Hening sejenak. Minho mendengarkan sebentar dan kembali mengangkat tangannya. Tapi terhenti begitu mendengar deritan halus dari pintu di depannya. Pintu tersebut terbuka perlahan. Bersamaan dengan itu ponselnya berbunyi. Minho mendengus sambil mengeluarkan ponseldengan tergesa-gesa. Dia mendesah begitu melihat nomor yang terpampang di layar ponsel.

“Tuan Kang … ,” sapanya pada orang di seberang.


“Tuan Lee, kami sudah mendapatkan kabarnya. Agashi sekarang berada di Seoul. Dia pulang seminggu yang lalu, bersama keluarga Katada. Alamatnya … “

“Ne,saya tahu .. ,”potong Minho.

“Tahu?” tanya tuan Kang heran.

“Ne. Dia berada di hadapanku sekarang.” Jawab Minho.

“MWO?” tuan Kang sangat terkejut. Sebelum dia berkata-kata lagi, Minho mengambil inisiatif memutuskan hubungan tersebut. Karena Hyesun sekarang sudah berdiri tegak di hadapannya.

“Sekian saja, tuan Kang. Pembayarannya akan saya lakukan besok.”

Tutttt …. Pembicaraan di telepon diputuskan oleh Minho.


*************



Sementara itu di taman belakang Katada’s Palace ..

“Sekarang ceritakan padaku bagaimana kau bertemu Hyesun?” perintah Hyunjoong pada Maiko.

“Mwo?!” mata gadis itu terbelalak lebar.

“Aku menyuruhmu menceritakan semuanya, apa kau tuli?!” dengus Hyunjoong kesal.


“Yaa—Kim Hyun Joong!!” Maiko mendorong Hyunjoong ke belakang. “Begini caramu bertanya pada seorang gadis?!”

“Cihh--,” pemuda itu mencibir. “Apa kau menganggap dirimu seorang wanita? Kau lebih mirip seorang pria daripada pria yang sesungguhnya!”

“Maksudmu .. ,” tangan Maiko menunjuk ke depan. “kamu?” tanyanya ceplas-ceplos.

“Mwo, kamu ini .. ,” tampang Hyunjoong berubah merah padam.

“Weo?” tubuh Maiko condong ke depan. “Mengena di sasaran?” dia langsung tertawa lepas.

Hyunjoong mendeliknya tanpa mampu menjawab.

“Kamu tidak perlu malu .. ,” lanjut Maiko sambil mengulum senyum. “Paman Kim sudah menceritakan semuanya jadi saya tahu kalau kamu .. ,” telunjuknya digoyang-goyangkan di depan Hyunjoong. Kemudian dengan kerlingan nakal dia menunjuk daerah sensitive pria itu.

“Yaa—kamu, .. kamu tahu malu nggak sih?!” gerutu Hyunjoong dengan pipi bersemu merah.

“Memangnya kenapa?” ejek Maiko. Tiba-tiba tubuhnya dicondongkan semakin ke depan dan dia berjinjit ke arah Hyunjoong. “Apa kau punya keinginan berubah normal? Saya bisa membantumu loh!”

“YAA--,” Hyunjoong mendorong Maiko ke belakang. Wajahnya yang bersemu merah menjadi pucat.

Gadis itu terbahak-bahak melihat reaksinya. “Kamu lucu sekali .. ha .. ha .. “

Hyunjoong melotot. “Saya akan membunuhmu jika kau tertawa lebih keras lagi .. “

“Ok, ok .. ,” Maiko menekan perutnya. “Saya .. saya serius sekarang .. ,” dengan susah payah dia memendam gelak tawanya. “Apa yang ingin kau ketahui?”

“Mengenai Hyesun … segalanya.” Kata Hyunjoong. “Dari pertemuan pertama sampai sekarang .. “

“Wah—kalau diceritakan semua, habisnya bisa sampai tahun depan nih .. ,” cerobos Maiko.

“MAI—“ tekan Hyunjoong dengan mata dipejamkan perlahan-lahan. Rasanya sudah habis kesabarannya buat gadis ini.

“Heyy—jangan marah dulu .. ,” cegah Maiko. “Saya kan tidak bilang menolak untuk menceritakannya .. ,” bibir mungil itu mengerucut ke depan.

“Cepatlah!” desak Hyunjoong sambil menjatuhkan diri duduk di bangku dalam taman itu.

“Ne, araso .. ,” jawab Maiko. Dia ikut duduk di sebelah Hyunjoong.

Lalu dimulailah kisahnya—sekitar setahun yang lalu ….  


*************



Flashback …

Maiko keluar dari pub Paddy Foley’s—tempat penyelenggaraan pesta ulang tahun salah seorang mantan teman kuliahnya—dengan agak sempoyongan. Dia mengeleng perlahan. Kepalanya pusing dan matanya agak berkunang-kunang. Maiko tersenyum sambil menyentuh kepalanya. Dia sudah terlalu banyak minum.

“Bye Maiko .. “

Maiko menoleh ke belakang. Beberapa temannya melambaikan tangan kearahnya. Dia mengangguk. “Bye .. ,” balasnya sambil mengangkat tangan.

Kemudian dia berjalan ke arah tempat parkir dengan terhuyung-huyung. Berkali-kali dia mengeleng-gelengkan kepalanya guna menjernihkan pandangannya yang rada kabur. Tapi tidak begitu membuahkan hasil. Maiko sampai di mobilnya. Dia membuka pintu, lalu masuk ke dalam. Sebentar saja terdengar bunyi mobil distarter dan perlahan-lahan mobil tersebut meninggalkan tempat parkir dengan suara meraung-raung.

Jalanan yang dilalui tidak begitu ramai malam itu. Maiko mengejap-ngejapkan matanya berulangkali. Sebuah tikungan membuatnya berbelok. Pada saat bersamaan dua sosok tubuh yang sedang menyeberangi jalan--beberapa meter di depan, mengejutkannya. Maiko segera menekan klakson--berulangkali, tapi dua orang itu seperti tidak mendengarnya. Dan dengan refleks dia menginjak rem menimbulkan suara mendecit keras. Mobilnya benar-benar berhenti setelah luncuran menghentak yang cukup panjang ke depan.

Bukk .. kepala Maiko membentur stir kemudi. Dia menjerit. Jidatnya terasa sakit dan basah. Dia menyandar ke jok belakang secara perlahan-lahan. Kepalanya terasa mau pecah saat itu. Dia mengeleng dan berusaha menajamkan pandangan ke depan. Tidak terlihat apapun jua. Alisnya berkerut perlahan. Sesuatu yang lengket dan kental mulai menetes dari jidatnya. Tapi dia tidak peduli. Yang menghantui pikirannya sekarang, apa yang ditabraknya tadi?

Maiko keluar dari mobil dengan sempoyongan. Dan … apa yang dilihatnya di depan langsung membuatnya menutup mulut erat-erat dengan kedua tangan. Matanya terbelalak lebar.

“Oh .. tuhan .. “

Dua sosok terbujur kaku di dekat mobilnya. Seorang wanita muda dengan seorang anak laki-laki berumur sekitar empat tahun.

******


Pintu UGD tersebut terbuka. Dokter beserta beberapa suster keluar ruangan. Maiko langsung mendekati mereka dengan mimik gelisah.

“Bagaimana keadaan mereka, dok?” tanyanya harap-harap cemas.

Dokter itu melepaskan maskernya dan menghadapi Maiko. “Hanya luka ringan—lecet-lecet akibat goresan-goresan dari jalan beraspal. Tidak berbahaya jadi tidak usah khawatir .. ,” dia tersenyum.

“Hanya lecet-lecet?” tanya Maiko tak percaya. “Bagaimana mungkin? Saya melihat mereka terkapar di jalan.”

“O itu .. ,” dokter berusia tigapuluhan itu membuka mulutnya. “Mungkin karena terlalu shock dengan kejadian mendadak itu .. “ dia berhenti sebentar dan mengamati Maiko. “Kelihatannya keadaan nona lebih parah .. Apa tidak sebaiknya memeriksakan diri juga?“

Maiko mengeleng dengan cepat. “Tidak. Saya baik-baik saja.”Dia mengigit bibir. Bisa berabe kalau sampai ketahuan dia mengemudi dalam keadaan mabuk. Yang harus dilakukannya sekarang adalah memastikan kedua korbannya tidak menuntutnya. Dia merasa lega mendengar penjelasan dokter bahwa mereka hanya terluka ringan.

“Jadi .. mereka benar-benar tidak apa-apa, dok?” lanjut Maiko untuk memastikan.

“Iya.” Jawab dokter. “Hanya saja .. “

Maiko mengangkat alis begitu mendengar perkataan dokter yang terputus di tengah jalan. “Hanya.. ?”

“Nona muda itu dalam keadaan hamil muda .. ,” jawab dokter  sambil menatap Maiko dengan sikap menyelidik. “Apa nona mengetahuinya?”

“Tidak .. ,” Maiko mengeleng pelan.

“Keadaannya sangat lemah .. ,” lanjut dokter. “Agak membahayakan buat kandungannya. Dan dia bersikeras keluar dari rumah sakit sekarang .. “

“Apa? Mengapa bisa begitu?”

Dokter itu mengangkat bahunya. “Sebaiknya nona temui dia. Emosinya sedang tidak stabil. Saya rasa dia baru saja mendapat tekanan batin yang sangat berat.”

“Baik.” Maiko membungkukkan badannya. “Thanks, dok .. “

*****  


Begitu memasuki ruang UGD di sebelahnya, suara-suara berisik langsung memasuki telinga Maiko.

“Omma, San mau ketemu appa! .. Ketemu appa .. ,” rengek si anak kecil kepada wanita yang sudah turun dari ranjang.

”Hmm—orang Korea .. ,” gumam Maiko begitu menangkap bahasa yang digunakan dalam percakapan mereka.

“Tidak, San. Dengar, kita tidak akan kembali!” jerit ibu dari anak laki-laki itu.

“Anyongheseyo .. ,” sapa Maiko—membuyarkan ketegangan di antara ibu dan anak itu.

Si wanita berpaling. Begitu juga anak laki-laki itu.

“Maaf saya menganggu .. ,” lanjut Maiko sambil tersenyum. “Dan juga maaf karena saya hampir mencelakakan kalian berdua .. “

Ibu muda itu menghempaskan tubuhnya kembali ke ranjang. “Anda pengemudi mobil itu?”

“Ne. Sekali lagi maafkan saya .. Kala itu saya tidak melihat kemunculan kalian .. “

Wanita itu mengerakkan tangannya. “Sudahlah. Kami yang salah karena  menyeberangi jalan secara sembarangan. Pikiran saya sedang menerawang saat itu .. “

“Apa yang bisa saya bantu?” tanya Maiko.

“Tidak ada.” Jawab wanita itu. “Hanya saja kami ingin keluar sekarang juga. Anda bisa mengurus administrasi keluar kami dari rumah sakit ini?”

“Ya, tentu saja.”Maiko melirik anak kecil yang menanggis di sisi ranjang. “Apa .. dia tidak apa-apa?”

“Tidak.” Jawab wanita itu tegas.

“O .. ,” Maiko mengangguk sambil berusaha tersenyum. “Saya Maiko Katada .. ,” dia memperkenalkan diri, “Kalau saya boleh tahu siapa nama kalian?”

“Goo Hye Sun .. ,” kata wanita itu. “Dan dia putraku, Kang San .. “

“Senang bertemu denganmu Goo Hye Sun-ssi .. ,” Maiko mengulurkan tangannya yang disambut oleh Hyesun. Kemudian dia berpaling pada Kangsan. “Kamu juga, Kangsan .. “

Kangsan menghapus airmata dengan punggung tangannya. Dia mendekati Hyesun dan merajuk lagi. “Omma, San mau pulang .. “

Hyesun mendesah. Dielusnya rambut Kang San. “Miane, San-a .. Omma .. omma tidak bisa mengabulkannya .. Tidak ada kekuatan untuk itu .. “

Maiko memperhatikan adegan antara Hyesun dan Kangsan selama beberapa saat, kemudian dia memberanikan diri menanyakan pertanyaan yang menganggu pikirannya. “Tentang .. maaf jika pertanyaan ini tidak pada tempatnya .. tapi, kandungan anda .. hmm—anda tahu, kan?”

Hyesun mengangguk perlahan. “Dokter sudah memberitahukannya padaku .. “

“Apa ada yang bisa saya bantu berkaitan dengan ini?”

“Saya ingin pergi dari sini. Sekarang juga.” Hyesun mengulangi permintaannya tadi.

Maiko menghela nafas. “Baiklah kalau begitu. Saya akan mengurusnya sekarang .. “ Dia bergerak ke pintu. Sebelum keluar, dia menoleh kembali pada Hyesun. “Tapi ijinkan saya mengantar kalian pulang .. “

Pandangan mereka beradu selama beberapa menit, akhirnya Hyesun mengangguk. Maiko tersenyum puas lalu dia berlalu dari ruangan itu.

****    


“Di sini?”

Maiko terpaku dengan motel yang ditempati Hyesun dan Kangsan. Keadaannya sangat kotor dan bobrok. Mereka melalui beberapa lorong gelap baru sampai di situ. Terus, beberapa penghuninya yang saat itu sedang duduk di bangku tua di serambi depan tampak sangar. Orang-orang itu mengamati mereka dari ujung rambut sampai ujung kaki. Seperti sedang menebak-nebak atau mengira-ngira sesuatu. Pandangan-pandangan tersebut membuat mereka agak ngeri.
 
“Kami harus berhemat .. ,” jawab Hyesun pelan-pelan terhadap pertanyaan yang dilontarkan Maiko.

“Tapi tempat ini .. ,” Maiko mengelengkan kepalanya. “Terlalu terpencil .. dan kelihatannya berbahaya .. ,” bisiknya halus.

Hyesun kembali melemparkan pandangan ke dalam motel. “Kami .. kami tidak punya pilihan lain .. “

Tiba-tiba dia merasa tangannya ditarik seseorang. Dia berpaling. Wajah Maiko terlihat berseri saat itu. Alisnya terangkat dan dia tersenyum. Seperti mendapatkan ide mendadak yang sebelumnya tidak terpikirkan olehnya.

“Gimana kalau kalian ikut ke rumahku?”

“Mwo?"Hyesun sangat terkejut. “Anda .. tidak perlu melakukan itu. Kami tidak kekurangan sesuatu apapun jadi anda tidak perlu merasa bertanggungjawab terhadap kecelakaan kecil yang terjadi pada kami.”

Maiko mengerakkan tangannya dengan cepat. “Bukan begitu maksudku.” Dia menggeleng sambil tersenyum. “Saya baru ingat bahwa keluarga kami memerlukan seorang pengasuh bayi. Saya lihat kamu cocok buat pekerjaan ini, Hyesun-a. Maaf, jika anda tak keberatan saya memanggilmu begitu?”

Hyesun tersenyum dan mengeleng halus.

“Bagus.” Kata Maiko riang. “Saya merasa akrab denganmu. Juga dengan Kangsan.” Dia menyentuh wajah Kangsan yang tertunduk selama perjalanan ke motel itu.

Kangsan mendongak. “Apa kita akan pulang ke appa?” tanyanya polos.

“Appa?” alis Maiko berkerut. “Memangnya di mana rumah appamu?”

Hyesun menyentuh kepala Kangsan. Dia mendesah. “Bisa kita tidak membicarakan masalah ini?”

Maiko beralih pada Hyesun. Diamatinya ibu muda itu dengan seksama. Kemudian dia mengangguk halus. “Saya tidak akan mencampuri urusan pribadimu selama kau tidak berniat menceritakannya.”

“Gumawo .. “

“Lalu bagaimana dengan tawaranku tadi?”

Hyesun melirik Kangsan kemudian kembali lagi pada Maiko. “Apa saya bisa? Maksudku, saya tidak bisa meninggalkan Kangsan seorang diri.”

“Ah tentu saja itu tidak masalah!” Maiko mengibaskan tangannya. “Selama mengasuh Miko, kalian akan tinggal di rumah kami. Rumah kami punya kamar yang cukup dan kamu tidak perlu mengkhawatirkan semuanya.” Kemudian dia memperlebar langkahnya menuju ke dalam motel. Sekarang mereka sudah sampai di depan kamar yang disewa Hyesun. “Sekarang ambil barang-barang kalian dan keluar dari sini .. “

“Tapi .. ,” Hyesun masih terlihat ragu-ragu ketika membuka pintu kamar itu.

“Tidak ada tapi-tapian!” sela Maiko sambil melangkah masuk. Dia berjalan ke lemari dan memasukkan semua pakaian Hyesun dan Kangsan ke dalam koper. “Tempat ini bukan tempat yang cocok buatmu dan Kangsan.”

“Agashi .. “

Maiko berbalik. “Jangan memanggilku agashi. Panggil saja saya Maiko atau Mai.” Dia menutup koper yang telah terisi penuh. Kemudian menyambar ransel yang tergeletak di lantai dan mengerakkan tangan pada Hyesun. “Kacha!”

“Nona Katada .. “

Panggilan Hyesun menghentikan langkah Maiko. Dia berpaling. “Dhe? Ada apa lagi?”

“Mengenai kehamilanku .. “

“Itu tidak masalah.” Jawab Maiko sambil meraih tangan Hyesun dan menariknya keluar dari kamar itu. “Orangtuaku bukan orang kolot. Mereka tidak akan menanyakan apa-apa mengenai soal itu. Percayalah padaku! Selama pekerjaanmu becus, mereka tidak akan peduli.”

“Jeongmal?” tanya Hyesun tek percaya. Tiba-tiba beban berat di belakang menghentikan langkahnya. Hyesun berpaling—ternyata Kangsan sedang berusaha menarik dirinya kembali dengan bertahan di ambang pintu. “San, ada apa?”

“San tidak mau kemana-mana. San mau menunggu appa menjemput San di sini.”

“San-a .. ,” suara Hyesun jadi lemah. Dia berjongkok dan menghadapi Kangsan. Sikapnya melunak sekarang. Setelah beberapa hari terakhir bersikap kasar pada Kangsan, dia menyesal. Kangsan tidak tahu masalah yang terjadi padanya dan Minho. Dia tidak tahu apa-apa.

Kangsan terisak-isak di tempatnya. “Mengapa appa tidak datang? Mengapa? Apa appa sudah tidak mencintai kita lagi?”

“San-a .. ,” Hyesun langsung merangkul Kangsan. Airmatanya tumpah seketika itu juga. Setelah menahan diri untuk tidak menanggis. Dan bersumpah bahwa keputusan yang diambilnya ini benar. Dia kalah juga.

Kekukuhan Kangsan membuatnya berpikir ulang. Apakah dia salah? Tanpa memberi kesempatan pada Minho menjelaskan semuanya, pergi begitu saja. Apa ini adil? Tapi waktu juga tidak bisa dibalik, bukan? Dia sudah melakukannya. Ini jalan yang sudah diambilnya. Dia tidak bisa berpaling. Tidak! Ini tidak adil buat Minho. Dia tidak pantas buat Minho. Kekasihnya itu .., ya, kekasih yang sangat dicintainya itu, pantas mendapatkan yang terbaik. Bukan dia—gadis emosian yang selalu menyusahkannya.

“Appa tetap mencintai kita, sayang.” Jawab Hyesun lembut. Dia melepaskan rangkulannya kemudian menghapus airmata Kangsan. “Tapi sekarang bukan saatnya appa bersama kita.” Dia berpikir, lalu melanjutkan, “Appa akan sibuk dengan pekerjaan barunya. Mungkin .. ,” gumamnya halus. Dia tidak tahu apa rencana Minho setelah keluar dari ‘2X’, tapi .. Minho pasti sudah punya rencana yang telah disusunnya. “Suatu saat appa akan kembali pada kita, percayalah.” Hyesun tersenyum pada Kangsan. “Bukankah San ingin punya dongseng?” dengan lembut dia membawa tangan Kangsan ke perutnya. “Dongseng Kangsan ada di sini. Kita akan berbahagia, sayang.”

Mata bening Kangsan melebar. “Jeongmal? San bakal punya dongseng?”

“Ne.” jawab Hyesun.

“Hore!!” anak itu melompat-lompat kegirangan.

Hyesun tertawa melihatnya. Begitu juga Maiko yang tadi sempat terharu dengan pembicaraan antara ibu dan anak ini. Tapi tiba-tiba Kangsan berhenti. Kepala mungilnya dimiringkan dan dia mendekati Hyesun.

“Tapi San ingin adik perempuan .. “

Tawa Hyesun meledak lagi. “Ne, adik perempuan.” Janjinya.

“HORE!!” Kangsan yang percaya begitu saja janji itu, kembali bersorak-sorak gembira. Kesedihannya tadi terlupakan begitu saja mengingat dia akan memiliki adik perempuan yang selama ini diimpikannya.

Hyesun mengelus-ngelus rambut Kangsan. Dia bahagia, ya—sangat bahagia. Pemikiran mengerikan yang sempat melintas dalam otaknya ketika dokter pertama kali mengabari tentang kehamilannya—yaitu mengugurkan kandungannya dengan tekad menghapuskan orang yang bernama Minho selamanya dalam hidupnya—dibuangnya jauh-jauh. Bayi ini tidak bersalah., gumam Hyesun. Aku mencintainya. Walaupun dia baru hadir dalam hidupku, tapi aku tahu bahwa aku mencintainya. Dia akan menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Selain Kangsan, hanya dia yang kumiliki di dunia ini. Aku harus menjaganya baik-baik.

“Bisa pergi sekarang?”

Pertanyaan tersebut membuyarkan lamunan Hyesun. Dia tersenyum pada Maiko.

“Ne. Terimakasih buat segalanya nona Katada … “

“Maiko .. ,” kata Maiko membenarkan.

“Ne, Maiko .. ,” sahut Hyesun sambil tertawa, diiringi Maiko. Sedangkan Kangsan masih meloncat-loncat di tempatnya sambil sesekali meraba perut Hyesun.

End of flashback …      

  
*************



Adegan berbalik ke dalam ruangan …

“Tutup pintunya dan berhenti di situ!” seru Hyesun sambil mundur dari tempatnya berdiri. “Jangan sekali-kali mendekatiku!” ancamnya keras.

“Ok, ok .. ,” sahut Minho. “Saya akan berdiri di sini, sampai ada perintah darimu, baby .. “

Kaki Hyesun menabrak pinggir sofa. Dia menoleh kemudian menjatuhkan dirinya di situ. Diamatinya Minho dengan pandangan menyelidik. Sedangkan Yuri mengapai-gapai wajahnya dengan jemari mungilnya. Bayi kecil itu sudah tidak menanggis lagi setelah perutnya terisi. Ekspresi Hyesun berubah. Dia tersenyum lembut sambil mencium lengan kecil berkulit putih mulus yang terjulur kepadanya itu.

“Appa!!”

Teriakan nyaring dan jernih mengejutkan Minho. Dia mengalihkan perhatian ke sudut lain ruangan itu. Baru disadarinya kehadiran Kangsan di situ.

“SAN-A ..”

Minho mengembangkan kedua tangannya dan tanpa diminta Kangsan langsung menghambur ke pelukkannya.

“San rindu appa .. “

Minho mempererat pelukannya. “Bogoshipoyo, San-a .. “


“Ne. Ne. “ Kangsan berseru riang. Dia melepaskan pelukan Minho kemudian menekan kedua tangannya di pipi Minho. “San punya adik. Punya adik.” Teriaknya sambil mengacungkan tangan tinggi-tinggi—seakan-akan dia telah memenangkan taruhan besar. “Adik perempuan yang sangat manis, appa. Yuri lucu sekali. Selalu mengingatkan San pada appa.”

“O ya?” Minho tertawa, kemudian dia berpaling pada Hyesun. “Yuri,  .. dia anakku?” tanyanya dengan nada pelan.


Hyesun tidak menjawab. Dia menatap Minho dengan pandangan nanar.

“Benar, baby?” tanya Minho lagi.

Tiba-tiba dirasanya tekanan telapak tangan Kangsan  semakin keras di wajahnya. “Tentu saja dia anak appa. Memangnya anak siapa lagi?” kata anak itu dengan raut muka polos.

Minho tertawa. “Ne. Tentu saja anak appa.” Dikuceknya rambut Kangsan. “San bahagia?”

“NE!!”teriak Kangsan.

“Bagus!” kembali dikuceknya rambut Kangsan. Kemudian dia berpaling lagi pada Hyesun. “Boleh saya melihatnya?” pintanya dengan nada berharap.

Hyesun masih membisu. Pandangannya bertemu dengan tatapan Minho. Ruangan itu menjadi sunyi. Sedikit tegang ketika mereka berperang dengan perasaan masing-masing. Akhirnya Hyesun mengangguk lima menit kemudian.

“Kamu boleh melihatnya—mengendongnya tapi … ,” suaranya menjadi pelan, “Jangan rebut dia dari sisiku .. “

“Baby!,” seru Minho. “Kau pikir saya ini apa? Manusia tak berperasaan? Kau mengandung selama Sembilan bulan dan melahirkannya dengan mempertaruhkan nyawa. Apa kau kira saya tidak tahu?” ditatapnya Hyesun lekat-lekat. “Saya tidak seegois itu!”

“Miane .. ,” ujar Hyesun dengan perasaan bersalah. “Saya hanya … takut kehilangan dia .. ,” tangannya mengelus lengan Yuri, kemudian menciumnya dengan lembut.

Minho menghela nafas berat. Dia menurunkan Kangsan ke lantai, lalu berjalan kearah sofa yang diduduki Hyesun. “Bisa saya lihat dia sekarang?”

Hyesun mengangkat wajahnya, kemudian mengangguk. Minho sampai di dekat Hyesun. Selama beberapa detik ditatapnya Yuri. Bayi mungil yang sangat cantik. Kulitnya sama persis dengan Hyesun. Begitu putih dan mulus—bak susu segar yang tak ada cacatnya. Jidatnya agak tinggi sedangkan hidungnya mancung dan bangir. Perpaduan jidat dan hidung milik Hyesun dan Minho. Bibirnya begitu mungil dan kemerahan. Sesekali digerak-gerakkan seperti sedang mengunyah sesuatu. Minho tertawa perlahan. Tanpa disadarinya, air bening menitik keluar dari sudut matanya.

Tangannya menyentuh pipi montok Yuri. Dielusnya pelan seakan takut menyakiti permata hatinya itu. “Miane sayang. Appa tidak berada di sisimu ketika kau lahir .. ,” dia terisak halus. “Begitu juga ommamu .. ,” dia berpaling pada Hyesun dan menatapnya sendu.

Hyesun mengigit bibirnya dan segera membuang muka kearah lain. Tak kuasa dia menahan airmata yang sejak tadi bermain-main di pelupuk matanya. Akhirnya air bening tersebut tumpah membasahi selimut yang membalut tubuh Yuri.

Minho mencondongkan wajah ke depan sehingga dia bisa melihat Yuri dengan lebih jelas. Rambut putrinya sangat lebat dan indah. Berwarna hitam legam dan agak berombak. Seperti rambutku!, batin Minho puas. Dia tersenyum-senyum sendiri. Disingkapnya sedikit selimut yang membalut tubuh Yuri.

Tubuh mungil itu mengeliat malas. Matanya berkejap-kejap, lalu terbuka. Menatap Minho dengan ekspresi polos. Mata yang sangat bundar dan besar. Lingkaran hitamnya melebihi bagian luarnya yang berwarna putih. Mata yang bening dan cerdas. Tangan mungil itu terangkat dan menyapu wajah Minho. Mendadak wajah mengemaskan itu tertawa. Tawa bebas yang teramat damai—begitu alami, tawa yang belum mengenal kebiadaban dan kekejaman dunia ini. Sepasang lesung pipi yang sangat dalam menghiasi sepasang pipinya yang putih mulus.

“Boleh saya mengendongnya?” tanya Minho.

Hyesun mengulurkan beban di tangannya pada Minho. Pria itu menerimanya. Untuk sesaat ditatapnya Yuri dengan pandangan tak percaya. Dia memiliki anak? Benarkah? Ini impian terindah yang pernah terjadi dalam hidupnya. Sungguh, dia tidak pernah memikirkan ini—dalam mimpi sekalipun. Memiliki anak dari seorang wanita tidak pernah terpikirkan olehnya seumur hidup.

Yuri tersenyum. Tangannya mengais-ngais wajah Minho, membuatnya terasa geli. Minho tertawa kecil sambil menghindari kejahilan tangan putrinya. Dia menunduk kemudian mencium jidat Yuri.

“Namanya Yuri?”

“Ne.” jawab Hyesun pelan.

“Lee Yu Ri?”

“Ne.” jawab Hyesun lagi. Matanya terpejam perlahan. Pikirannya langsung melayang ke akte kelahiran Yuri yang tercetak nama‘Goo Yu Ri’.

Minho tersenyum dan kembali mengamati Yuri.“Appa akan membawamu menemui haraboji.” Katanya mendadak.

Hyesun langsung tersentak. “Mwo?”

Minho berpaling pada Hyesun. “Baby, kau melarangnya?”

Hyesun mengeleng dengan risih. “Tidak, hanya saja .. Kau sudah baikkan dengan tuan Lee?“ sambungnya tak percaya.

“Tidak bisa dibilang begitu.” Jawab Minho kecut. “Saya tidak tahu caranya. Walaupun sudah setahun tapi .. yah, .. ,” perkataannya mengantung sampai di situ.

Hyesun memperhatikannya secara seksama. Wajah Minho terlihat sedih. Terus terang hati Hyesun nyeri melihatnya. Masih adakah cinta buat Minho dalam hatinya? Pasti. Hyesun tidak bisa memungkiri kenyataan ini. Dia melirik Yuri. Jika tidak ada perasaan cinta itu, tidak akan ada Yuri. Karena cintanya pada Minho maka dia mempertahankan Yuri. Jika tidak, dia sudah mengambil jalan tertega. Memangkas habis semua kenangan yang berhubungan dengan Minho—termasuk benih cinta mereka. YURI.

“Kalau memang Yuri bisa membantu, bawalah dia ke sana .. “

Minho mengangga. “Jeongmal? Kau mengijinkannya?”

Hyesun mengangguk.

“Gumawo, baby .. ,” saking bahagianya, Minho mendaratkan ciuman ke pipi Hyesun. Dan ini dilakukannya tanpa sadar.

Hyesun sangat terkejut. Matanya terbelalak lebar. Begitu juga Minho. Dia terpaku setelah ciuman tadi. Keduanya terdiam dengan gejolak perasaannya masing-masing.


“Jangan salah paham .. ,” Hyesun mengeluarkan suaranya setelah berdeham pendek. “Saya .. saya mengijinkanmu membawa Yuri kepada harabojinya karena .. ini .. ini haknya. Miliknya. Saya tidak punya hak untuk mencegahnya.” Dia menatap Minho. “Saya harap kau mengerti. Hubungan kita tidak berubah .. maksudku, tidak akan berubah .. “

“Kau masih membenciku?” tanya Minho menyayat. “Saya bisa menjelaskan semuanya .. saya .. “

Hyesun mengangkat tangannya. “Tidak perlu .. “

“Baby .. “

“Saya tidak perlu penjelasan itu.” Sela Hyesun. “Karena .. memang sudah tidak diperlukan lagi.”

“Tapi saya tetap ingin menjelaskannya .. ,” Minho berkeras.

“Sudahlah Minho-a .. ,” kata Hyesun. “Saya tidak menyalahkanmu, jadi lupakanlah .. “

“Chinja, kau tidak menyalahkanku?” mata Minho melebar. “Lalu mengapa tidak mau mendengar penjelasanku?”

“Sudah kubilang itu tidak diperlukan lagi.” Jawab Hyesun. “Saya sadar waktu itu saya terlalu emosi. Tanpa mendengar penjelasanmu, saya pergi begitu saja.” Lalu dia mengibaskan tangannya. “Ah sudahlah! Lupakan saja. Kita tidak bisa terus menyesali apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Waktu tidak bisa dibalik. Kita tidak mungkin berpaling ke belakang terus. Biarlah semua berjalan seperti sekarang ini .. “

“Kau mau menerimaku kembali, baby?” tanya Minho penuh harap.

Pandangannya bertemu dengan tatapan Hyesun. Wanita itu mengeleng perlahan. “Tidak.” Sesalnya. “Seperti yang sudah kukatakan. Waktu tidak bisa dibalik. Yang berlalu sudah berlalu. Aku memberi kesempatan itu pada Yuri, tapi tidak pada kita.”

“Mengapa?” tanya Minho tak mengerti. Dia mendekati Hyesun dan mengenggam tangannya dengan tangan kirinya karena tangan kanannya dipergunakan untuk mengendong Yuri. “Kau masih tidak mempercayaiku? Aku bersungguh-sungguh dengan hubungan ini, baby. Tidak akan berubah sampai akhir hayat. Kau bisa melihatnya, kan? Setahun sudah dan saya tidak berubah.”

Hyesun menarik tangannya kembali. “Miane. Anggap saja saya yang keras kepala dan tidak bisa diatur. Kepercayaan itu .. sampai saat ini, belum kuperoleh. Saya .. saya takut. Entah perasaan apa itu, tapi .. yang jelas, … ,” Hyesun berhenti dan menundukkan kepala perlahan. “Miane .. ,” lanjutnya tak jelas.

“Mengapa?” Minho memandanginya, sedih.

“Sekali lagi, jeongmal miane.” Hyesun mengangkat wajahnya. “Kau boleh membawa Yuri setelah dari pesta di rumah ini.”

Minho menatap Hyesun lekat. “Kau ikut denganku!”

“Mwo?” Hyesun mengeleng. “Tidak. Saya tidak ikut denganmu. Kau pergi sendiri.”

“Tidak bisa!” jawab Minho tegas. “Saya tidak bisa menangani Yuri tanpa ommanya. Gimana jika dia menanggis dan mencarimu? Bagaimana juga jika dia lapar? Saya tidak bisa menyusuinya?” Minho mengemukakan alasan-alasannya.

Hyesun mendesah. Apa yang dikatakan Minho benar adanya. Dia tidak bisa menolak lagi sekarang. Akhirnya Hyesun mengangguk—menyerah. “Baiklah, saya ikut denganmu. San juga akan pergi bersama kita.”

Minho mengangguk puas. “Tentu saja. Pertemuan keluarga mana mungkin boleh kekurangan Kangsanku.” Dia tersenyum lebar.

Sebagaimanapun keras kepalanya dirimu, baby—aku akan mendapatkanmu kembali! Mau satu tahun, dua tahun, sepuluh tahun, ataupun seumur hidup, aku tidak akan menyerah!, tekad Minho.

Hyesun meliriknya dengan kening berkerut. Tampang Minho terlihat tidak wajar. Seperti sedang menyusun suatu rencana licik di otaknya.

Hyesun menghela nafas. Semoga kau tidak mencobanya lagi, Minho-a .. karena semua itu tidak akan berhasil. Aku tidak akan menghukum diriku dengan menerimamu kembali. Maaf buat keegoisanku. Perasaan bersalah itu sangat kuat. Lagipula jika aku kembali padamu, … rasanya akan sangat tidak adil buatmu .. Sekali lagi miane .. jeongmal miane, kekasihku ..


*************



”Jadi begitu ceritanya?” Hyunjoong menghempaskan punggungnya ke sandaran bangku di belakang.

“Ya .. ,” jawab Maiko setelah bercerita panjang lebar.



Hyunjoong menoleh padanya.  Sikapnya berubah dingin.“Dan kau hampir membunuh tiga manusia dalam semalam? Hanya karena mabuk?” tanyanya tajam.

“Ne!” teriak Maiko. “Apa yang bisa kulakukan? Aku juga sangat menyesal, tahu?”

Hyunjoong mencibirkan bibirnya. “Kau bisa menyesal?”

“Ne! Ne!” sahut Maiko dongkol. “Anggap saja saya manusia tak berperasaan.”

Hyunjoong menyunggingkan senyuman mengejek.

Pada saat bersamaan Miko menanggis keras akibat terganggu teriakan-teriakan mereka. Maiko tersentak. Dibukanya kerudung yang menutupi kereta bayi di depannya.

“Oh sayang, kau sudah bangun .. ,” katanya dengan suara berubah lembut.

Dia mengangkat Miko dari dalam kereta dan menepuk-nepuk punggungnya. “Miane, onnie mengagetkanmu .. ,” dia tersenyum menenangkan. “Tapi sekarang juga sudah saatnya berdandan .. ,” ditekannya dengan pelan cuping hidung Miko. “Acara ulangtahunmu sebentar lagi dimulai .. “

Tanpa disadari oleh Maiko, Hyunjoong meliriknya lewat sudut matanya. Pemuda itu menunduk dan tersenyum perlahan.

”Cewek ini kalau tidak marah-marah dan berteriak-teriak tak karuan, lumayan juga,” pikirnya. Tidak sebengal dan seberengsek yang dia bayangkan.


*************
« Last Edit: October 03, 2010, 04:44:43 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] thanks mami udah diupdate [hug] [hug] [cheekkiss] [cheekkiss]

wkwkwk jihoo blon normal2 jg mo dibantuin nglurusin kah aku mau kok *getok lion* [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing]

horeeeee [clap] mino udah tau yuri anaknya [lovestruck] [lovestruck] smoga hyesun cpt brubah pikiran de eh tp appanya mino tu mau trima hyesun kan mam langsung disuruh kawin aja ntar [smiley-dance013]


ADAM COUPLE SELCA