Author Topic: *When a Gay met a Young Mom (in love again)* ~chp 22 (ending), 22 Jan'2011  (Read 98767 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Anyong,.
Mamii,update ff ini dong [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] . .
Mi mau nanya. .
Ff mami yg mofs it yang mana ya??  [smiley-whacky103] . .
mian ga lht reply lu [sweat] [sweat] mofs tuh miracle of falling down star,, udah hiatus [hmpfh]

minsunlover, pemaksaannya ga mempan di gw hammer2 [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

gwendolyn

  • Guest
mami . . Update dunk mam. .
Yayaya, please mam . .
Gumawo. . . [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [laughing]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mami . . Update dunk mam. .
Yayaya, please mam . .
Gumawo. . . [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [laughing]
sorry say,, lum dibuat, gw usahakan mulai malam ini [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
mami . . Update dunk mam. .
Yayaya, please mam . .
Gumawo. . . [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [laughing]
sorry say,, lum dibuat, gw usahakan mulai malam ini [sweat]

Klo mlm ini buat berarti besok pagi udh diupload kan  [chin] [hmpfh] [hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mami . . Update dunk mam. .
Yayaya, please mam . .
Gumawo. . . [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [laughing]
sorry say,, lum dibuat, gw usahakan mulai malam ini [sweat]

Klo mlm ini buat berarti besok pagi udh diupload kan  [chin] [hmpfh] [hmpfh]
enak aja hammer2 hammer2 pingin gw mampus gara2 kebanyakan ngalong ya [dry]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
enak aja hammer2 hammer2 pingin gw mampus gara2 kebanyakan ngalong ya [dry]

[hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
Eh itu si ABK kemana  [what] Dulu kan bilang klo mami update bengkok dia juga bakal update ABMS...  [chin] [chin]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
enak aja hammer2 hammer2 pingin gw mampus gara2 kebanyakan ngalong ya [dry]

[hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
Eh itu si ABK kemana  [what] Dulu kan bilang klo mami update bengkok dia juga bakal update ABMS...  [chin] [chin]

abk lenyap ditelan inet [hmpfh]
ga kok, gw lht dia di tweeter [heh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline gantang ricky prabowo

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • i know you so well
  • Location: JAKARTA
    • View Profile
mami, mau update kapan nih yg ini? kalo sebentar saya tunggu.  [biggrin]
wkwkwkwk
Hidup sukses, bahagia dunia khirat, membahagiakan orang banyak, bermanfaat untuk agamaku amin ya allah..

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mami, mau update kapan nih yg ini? kalo sebentar saya tunggu.  [biggrin]
wkwkwkwk
bulan, bulan and bulan depan, om [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
[goodgrief] [goodgrief] [goodgrief] Uapdateeeeeeeeeeeeeeeeeee....... [goodgrief]

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
iya tuh ABK lg ribet skul ktnya mah ujian trus bilangnya.. huaaaa hiatusnyaa kga nahan dah tuh yakkk [angry] [angry] [angry]
mamiiiiiiiiii,, minggu dpn harus update ini  bengkok dong,, kangen bgt niy mi.. pnsaran nasib minsun gmn, moga cpet balikan dah  [love eyes] [love eyes] [love eyes] [love eyes]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
mami mana update-an bengkok  [dry] katanya weekend  hammer2  [hmpfh]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
CHAPTER NINETEEN

Song of The Day :


Lyrics : K.Will ft. MC Mong - Love 119

(even though my heart, my love seems like it's going to stop)

i'm sick now. i have a fever. i cant even breathe.
my bruised heart is calling only your name
i can't believe that it's over
i cant give a girl like you to someone else
my love can't rest a day,
my heart can't beat without you
what could i do without you?
i can't believe that it's over
i can never let you go,
that's why you go to know:
i want love until i collapse from exhaustion
please, just love me now
my only girlfriend, let's begin
let's start again, 'till the end

* i love you, even as time goes by
i love you, even if the world changes
no one can replace you, even you know that
my love can't rest a day
i can't live a moment without you
i can breathe only if you're with me
i love you forever and ever

P-L-E-A-S-E
my love is an emergency
come back to me, give me one more chance to me
we're inseparable, man to be
(x2)

please just choose me, make it hot
so that our love can burn
it's better for me to stop smoking than to not see you
please, just love me now
my only girlfriend, let's begin
let's start again, 'till the end

* i love you, even as time goes by
i love you, even if the world changes
no one can replace you, even you know that
my love can't rest a day
i can't live a moment without you
i can breathe only if you're with me
i love you forever and ever

even though my heart feels like it's going to stop (x2)
my love for you is still the same (x2)

thank you, for loving me
thank you, for making me laugh

the words i say not with my eyes, but with my heart
i'll love you forever, even if ten years pass by
like a star that lights up your night
even if i were to be born again
i'll only love you, like this ~

back back, i want it back
protect this love that'll become my strength
you you you got to know
i only want you, i need your love


        
Mr. Lee mengangkat Yuri dan mengamatinya dengan takjub. Terlihat jelas dia masih tidak mampu mempercayai apa yang dilihat dan didengarnya barusan. Minho mengatakan kalau dia mempunyai cucu? Dan cucunya itu adalah bayi mungil dalam tangannya? Bagaimana mungkin?

Mata Mr. Lee tak berkedip menghadapi makhluk mungil di hadapannya. Sedangkan jari-jari jahil Yuri mencakar-cakar berusaha meraih kacamatanya. Bayi montok tersebut terlihat tertarik pada kacamatanya. Dengan sepasang pipi tembem yang kemerah-merahan dan bibir mungil yang senantiasa bergerak-gerak—sesekali lidah kecilnya yang panjang dan berujung lancip dijulurkan-julurkan—Eskpresi Yuri sungguh sangat mengemaskan Mr. Lee.

“Dia .. cucuku?”

“Ne .. ,” jawab Minho bersemangat. “Namanya Yuri—Lee Yu Ri. Dia akan menjadi bagian dari keluarga kita .. “

“Lee Yu Ri .. “

Mr. Lee mengangkat Yuri lebih tinggi ke atas dan memperhatikannya dengan seksama. Bayi kecil itu langsung cekikikan. Suaranya sangat bening sampai Mr. Lee tidak kuasa menahan tawanya.

“Dia lucu sekali .. “

Minho tersenyum. “Ne, dia sangat lucu .. ,” suaranya menjadi pelan dan wajahnya berubah sendu. “Tapi sayang .. saya tidak berada di sisinya ketika dia lahir di dunia ini. Seharusnya tugas seorang ayah, tapi .. saya tidak melakukannya .. “

Hyesun yang berdiri di samping Minho menundukkan kepala perlahan. Tangannya bergerak—menghapus airmatanya yang mulai mengalir turun.

“Minho-a .. “ Mr. Lee mendekatkan Yuri ke dadanya—merangkulnya erat-erat. Kemudian dia berdiri dari kursi, mendekati Minho lalu menyentuh pundaknya. “Jangan menyalahkan dirimu, anakku. Kau sudah melakukan apa yang mampu kau lakukan. Kau sudah mencari mereka ke mana-mana, .. dan saya yakin .. Hyesun-ssi juga menyadarinya ... ,” pria itu melirik Hyesun, yang menundukkan kepalanya semakin dalam—tidak berani membalas pandangannya. “Hanya Tuhan yang mengetahui apa yang terbaik buat kalian.” Lanjut Mr. Lee. “Mungkin saja Dia merasa belum saatnya kalian dipertemukan waktu itu. Seperti juga ketika appa kehilanganmu. Tujuh tahun … genap tujuh tahun appa mencarimu … ,” dia menjadi sedih. Dua menit berlalu dalam kebisuan sebelum dia melanjutkan perkataannya. Suaranya berubah riang. “Tapi sekarang semua sudah berlalu, Minho-a .. Mereka sudah berada di sini,, keluargamu … keluarga kita ..”

Minho mengangguk. Dihapusnya air bening yang mengalir dari pelupuk matanya. “Gumawo appa … dan .. ,” dia memeluk Mr. Lee. “Miane .. ,” katanya dengan suara bergetar. “Saya berjanji mulai saat ini .. hubungan kita akan berubah .. Sekali lagi miane, appa .. “

“Anak bodoh .. “ Mr. Lee menjitak pelan kepala Minho. Dia terharu—sungguh-sungguh terharu. Hari ini merupakan hari bersejarah, paling membahagiakan dalam hidupnya. Bukan saja karna anaknya sudah benar-benar kembali, tapi juga cucunya. Cucu yang tidak pernah diharapkannya ada—dalam mimpi sekalipun. Dia mengangkat wajah dan melihat Yuri tersenyum padanya. Bayi lucu itu seakan ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan appa dan harabojinya.

Sedangkan Hyesun .. hanya bisa memperhatikan mereka dari tempatnya. Kembali, dia menghapus airmatanya. Dia merasa bahagia. Ya, karna Minho dia bisa berbahagia lagi. Beban yang menghantuinya selama ini, berkaitan dengan hubungan Minho dan abojinya, akhirnya terangkat juga. Benang kusut itu terluruskan sudah. Oh—terimakasih Tuhan .. ,” Hyesun terisak perlahan.

“Appa!!”

Teriakan nyaring dari Kangsan mengejutkan orang-orang dalam ruang keluarga tersebut. Anak itu mengibaskan tangan Hyesun yang dari tadi mengandengnya, kemudian menghambur kearah Minho.

“Appa, appa .. San lapar!” rengek Kangsan.

“O .. “

Minho melepaskan pelukannya dari Mr. Lee dan meraih tubuh Kangsan. “Miane sayang .. appa melupakanmu .. ,” dia tertawa sambil memencet hidung Kangsan. “Appa akan segera menyiapkan makan malam buatmu .. “

“Sosoengheyo .. tapi kami harus segera kembali ke Katada’s Palace ..,” sela Hyesun tiba-tiba.

“Baby .. ,” rangkulan Minho di tubuh Kangsan mengendor. Dia langsung putus asa mendengar perkataan Hyesun. “Tidak bisakah kalian makan malam di sini hari ini?”

“San mau makan malam di sini .. bersama appa .. ,” rengek Kangsan.

“Tidak bisa .. ,” ujar Hyesun tegas. “Kita harus pulang, San-a! Miko membutuhkan omma .. “

Dia berjalan kearah Minho lalu memintanya menurunkan Kangsan. “Kami harus pergi. Sekali lagi miane .. ,” katanya tanpa memandang pemuda itu.

“Apa dia putramu?”

Pertanyaan itu membuat mereka berpaling. Mr. Lee menunjuk Kangsan dengan ekspresi bertanya.

“Dia putramu, yang dulu diceritakan Minho dan Sung padaku--bukan?”

“Ne .. ,” jawab Hyesun pelan.

Mr. Lee mengangguk sambil tersenyum lembut. Perlahan dia mengalihkan perhatian pada Kangsan.

“Hey—bocah pintar, panggil haraboji!”

Hyesun tersentak. “Haraboji?”

Kangsan berlari kearah Mr. Lee dan mengandeng tangannya. “Haraboji .. ,” panggilnya dengan semangat.

Mr. Lee tertawa keras. “Bagus. Bagus.” Tangannya menyentuh kepala Kangsan. “Mulai hari ini saya harabojimu dan kau cucuku … ha …. Ha .. hari ini sungguh membahagiakan .. ,” diamatinya Kangsan dengan seksama. “Bagaimana jika margamu ikut marga haraboji? Marga Lee?”

Mata Hyesun terbelalak lebar. “TIDAK BISA!!”

Mr. Lee mengangkat wajahnya. “Mengapa?” alisnya berkerut perlahan.

Minho berpaling pada Hyesun, kemudian beralih pada ayahnya. “Hyesun punya alasan sendiri, appa .. “

“Apa itu?” tanya Mr. Lee.

Hyesun melangkah lebar kearah Mr. Lee, kemudian diraihnya tangan Kangsan dengan agak kasar.

“Sosoengheyo, tapi kami harus pergi sekarang .. ,” dia menarik tangan Kangsan, namun anak itu memberontak keras.

“Omma, San mau makan malam sama appa .. sama appa .. “

“Tidak bisa! Kita pulang sekarang juga!” bentak Hyesun.

“Baby .. ,” panggil Minho—menghentikan tindakan Hyesun. “Beri saya waktu menjelaskannya pada appa .. ,” katanya penuh harap.

Pada saat bersamaan, ponsel Hyesun berbunyi. Agak terburu dia mengeluarkan ponsel dari tas selempangnya.

“Yeoboseyo .. “

“Hyesun-a .. ,” terdengar suara Maiko dari seberang.

“O ne, Mai. Saya akan pulang sekarang juga .. ,” sela Hyesun.

“Bukan begitu .. ,” potong Maiko. “Saya ingin memberitahu bahwa saya memberimu liburan dua hari. Kau boleh melakukan apa saja, Hyesun-a. Tidak pulang juga tidak apa-apa. Selesaikan dulu masalahmu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan Miko. Untuk sementara biar saya yang mengurusnya .. ,” lanjutnya bertubi-tubi.

“Tapi .. “

Hyesun ingin membantah, namun Maiko melanjutkannya lagi.

“Saya sudah mendengar cerita tentang masa lalumu dengan Minho dari Kim Hyun Joong .. ,” suaranya memelan. “Saya ikut bersedih, Hyesun-a .. ,” lalu berubah keras dan tegas, “ .. karna itu, berjuanglah!”

“Tapi .. ,” perkataan Hyesun terputus oleh suara tuttttttttttt berkepanjangan dari ujung telepon—kebiasaan Maiko yang tidak bisa dirubah dari dulu, yaitu memutuskan hubungan begitu saja jika dirasa semua kepentingannya sudah selesai. Hyesun menghela nafas sambil memasukkan ponsel di tangannya ke dalam tas. Sesaat dia termenung.

“Baby, .. bagaimana?”

Pertanyaan Minho menyadarkan Hyesun. Ditatapnya Minho dengan seksama.

“Kami harus pergi .. ,” katanya berkeras.

“Baby .. ,” desah Minho sedih.

“San nggak mau pergi ..,” rengek Kangsan sambil berteriak keras. “San ingin makan bersama appa …ingin makan bersama appa seperti dulu lagi .. “

“Mengapa sekeras kepala itu?” sela Mr. Lee tiba-tiba. “Kau membuat mereka patah semangatnya …,”dia menegur Hyesun dengan tajam. “Lihatlah! yang satu sedih .. ,” dia menunjuk Minho, kemudian beralih pada Kangsan, “sedangkan yang satunya lagi menanggis. Apa ini yang ingin kau lihat?” Mr. Lee mengelengkan kepalanya. “Hanya untuk malam ini, mengapa tidak mengabulkannya?”

“Saya .. ,” Hyesun tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Ditatapnya Kangsan. Anak itu terisak-isak menyedihkan. Kemudian perlahan-lahan diliriknya Minho. Wajah sendu itu membuat hatinya teriris.


“Terserah saja apa maumu .. ,” Mr. Lee menyerah. “Yang penting tinggalkan Yuri di sini malam ini … Saya ingin bermain-main dengannya .. “

“Mwo?” mata Hyesun terbelalak lebar.

“Appa .. ,” Minho tidak kalah terkejutnya dengan Hyesun. “Appa tidak boleh melakukannya. Yuri akan menanggis tanpa Hyesun di sisinya .. “

“Kau masih membelanya?” tegur Mr. Lee. “Setelah apa yang dilakukan dan dikatakannya, kau masih membelanya?”

“Appa ..,” desis Minho, diikuti desahan. “Bukan begitu … saya hanya .. hanya memikirkan kepentingan Yuri .. Dia membutuhkan seorang omma dalam usia sekecil ini .. “

“Lihat itu!” Mr. Lee menoleh kearah Hyesun sambil telunjuknya mengarah ke Minho. “Dia bukan saja seorang calon suami yang baik. Dia juga seorang ayah yang sangat bertanggung-jawab. Apalagi kekurangannya? Apa yang kau harapkan selain kedua syarat itu, Hyesun-ssi?”

Hyesun tidak mampu menjawab. Kepalanya tertunduk perlahan. Dia tidak sanggup membalas pandangan tajam dari Mr. Lee. Pria setengah baya ini seperti berusaha menyelami hati yang tidak dipahaminya sendiri.


“Kami .. akan tinggal .. untuk makan malam di sini .. ,” akhirnya dia berkata.

“Jeongmal?” tanya Minho tak percaya. Dia segera meraih tangan Hyesun. “Jeongmal, baby?”

“Ne .. ,” jawab Hyesun pelan sambil melepaskan tangan Minho.

“Yuhuyy!!!” Minho bersorak kegirangan. “Kau dengar itu, San-a?!” diangkatnya tubuh Kangsan ke atas. “Kau dengar omongan omma?”

“NE!!” teriak Kangsan. “Gumawo, omma .. “

“Gumawo, baby .. “ Minho menyolek dagu Hyesun—membuatnya tersentak kaget.

Mr. Lee ikut tersenyum. “Gumawo, Hyesun-ssi .. ,” katanya, mengikuti yang lain.

Hyesun membungkuk dengan kikuk. “Ne. Sama-sama .. “

Kegembiraan dalam ruangan itu berlangsung selama beberapa menit. Minho berputar-putar sambil tertawa lebar, diikuti Kangsan yang berjingkrak-jingkrak di sebelahnya. Mr. Lee memperhatikan mereka dengan Yuri dalam rangkulannya. Bayi mungil itu ikut tertawa walaupun tidak tahu apa yang ditertawakannya. Berulangkali Mr. Lee mendaratkan ciuman lembut di tangan kecil Yuri. Sedangkan Hyesun hanya bisa tersenyum tipis melihat kebahagiaan mereka. Dalam hati, dia ikut merasa bahagia. Minho menghentikan kelakuannya yang kekanak-kanakan kemudian menoleh pada Hyesun.

“Saya akan menjelaskan semuanya pada appa jika kau mengijinkannya, baby .. “

“Mwo?” tanya Hyesun tak mengerti.

“Tentang San .. ,” sahut Minho pelan.

“O .. ,” Hyesun mengangguk, “Tapi .. “

“Dengan syarat, tidak boleh diketahui San .. ,” sela Minho—sangat pelan.

Hyesun kembali mengangguk.

“Ne, araso .. ,” pemuda itu tersenyum. “Saya berjanji .. “, dia kemudian berjongkok menghadapi Kangsan. “Sekarang kau bermain di luar sama omma dan dongseng, San-a. Ada yang harus appa bicarakan dengan haraboji .. “

Anak itu membungkukkan badan dalam-dalam. “Siap, bos .. “

Minho tertawa lebar. “Ha .. ha .. anak pintar .. “


Kangsan membusungkan dada, bangga. “Tentu saja! San sepintar appa .. “


***** oOo *****



”Apa kau bilang?” mata Mr. Lee terbelalak lebar. “Kangsan bukan putra kandung Hyesun?”

Minho mengangguk sambil mendesah halus. “Ne. Kangsan putra kandung dari onnienya yang sudah meninggal. Karena itu dia melarang keras merubah marga Kangsan ..”

Mr. Lee mengerutkan alis perlahan. “Tapi mengapa mesti begitu?” tanyanya tak mengerti. “Bukankah dengan ikut marga kita, status Kangsan lebih jelas? Dia akan menjadi bagian utuh dari keluarga ini?”

“Karena Hyesun merasa bersalah pada kakak dan kakak iparnya .. ,” suara Minho berubah parau. “Dia merasa bertanggung-jawab atas kematian mereka. Walaupun seharusnya tidak perlu begitu, karena kematian mereka bukan kesalahannya--itu sudah takdir, namun .. begitulah Hyesun. Dia lemah, perasaannya terlalu peka .. Dengan mempertahankan marga Kang San, merupakan satu-satunya cara terbaik yang terpikirkan olehnya buat membayar semua hutang dan dosa-dosa tersebut .. “

“Appa tidak mengerti .. ,” Mr. Lee mengeleng perlahan. “Apa jadinya jika Kangsan sampai mengetahui kebohongan itu? Apa kemungkinan itu tidak terpikirkan olehnya?”

Minho terdiam selama beberapa detik. Dia merenungkan pertanyaan ayahnya. Sebenarnya masalah tersebut sudah dipikirkannya setahun yang lalu—ketika dia mengetahui asal-usul Kangsan untuk pertama kalinya. Perlahan pandangannya diarahkan keluar jendela.


“Itu .. biarlah diselesaikan kelak. Kami akan berusaha menjelaskannya pada San. Untuk anak seumur dia, saat ini, yang paling dibutuhkannya adalah kasih sayang keluarga. Hyesun tidak ingin San merasa diasingkan begitu mengetahui peristiwa tragis yang menimpa orangtuanya .. walaupun sekarang dia tahu tidak mempunyai aboji, paling tidak masih ada Hyesun yang dianggapnya ibu kandung sendiri, yang menyayanginya dengan tulus dan berperan sebagai ibu sekaligus ayah kandung baginya .. “

Mr. Lee menghela nafasnya. “Appa tidak mengerti apa yang kau pikirkan, Minho-a .. Tindakan yang jelas-jelas tidak menguntungkan pihakmu masih saja kau lakukan .. ,” ditepuknya pundak putranya halus. “Tapi bagaimanapun, appa akan selalu mendukungmu .. ,” lanjut Mr. Lee sambil tersenyum lembut.

Minho membalas senyuman ayahnya. “Gumapta, appa .. “      


***** oOo *****



Minho mengaduk adonan dari mangkuk kaca di tangannya.


”Appa sedang apa?”

Kepala Kangsan nonggol dari balik pintu dapur. Minho mengalihkan perhatian dari kesibukkannya kearah Kangsan. Dia tersenyum.

“Appa sedang membuat kue buat menyambut kedatangan kalian di rumah ini .. “

“Jeongmal?” Kangsan melangkahkan kakinya ke dalam dapur , kemudian berhenti di sebelah Minho. “Tapi San mau sushi .. ,” lanjutnya dengan bibir diruncingkan.

Minho tergelak. Disentuhnya kepala bocah itu. “Ne, appa tahu San suka sushi. Sudah appa buat, ada di kulkas .. “

“Horeee!” San berteriak keras.

Minho tertawa sambil kembali ke kesibukannya, mengaduk-aduk adonan warna coklat gelap.


”Apa ini?” Kangsan berjinjit di sebelah Minho.

“Adonan buat kue .. ,” jawab Minho.

“Bisa dimakan sekarang?” tanya Kangsan polos.

“Tidak, sayang. Kita harus memanggangnya dulu .. “

“Di kompor?” tanya Kangsan lagi.

“Di oven .. ,” Minho tersenyum.

“San mau rasa coklat .. “

“Ne, rasa coklat … ,” Minho mengangguk. “Omma suka rasa coklat juga, kan?”

“Ne!!” Kangsan mengangguk keras-keras. “Boleh San bantu?” tawar anak itu dengan mata berbinar-binar.

Minho tertawa. “Tentu saja .. “

“Apa yang bisa San lakukan?” Kangsan melirik kesana-kemari.

“Ambil gula pasir dalam kantong plastik dekat kulkas buat appa .. ,” sahut Minho.

“Siap bos!” Kangsan menempelkan telapak tangannya ke jidat sebelah kanan.

Secepat kilat dia melesat ke tempat yang ditunjuk Minho dan kembali lagi dengan sekantong gula pasir di tangannya.

“Sukses bos!” lapornya dengan sungguh-sungguh.

“Bagus .. ,” puji Minho sambil mengacungkan jempol ke atas. “Sekarang tuang gula itu ke sini .. ,” katanya sambil menunjuk adonan dalam mangkuk.

“Ne .. “ Kangsan melakukan perintah Minho.

“Cukup, San-a .. ,” teriakannya hampir tak berguna ketika gula pasir di tangan Kangsan hampir tertuang seluruhnya. Minho segera memindahkan kantung dalam genggaman Kangsan ke tangannya, kemudian meletakkannya di atas meja.

“Apa ini, appa?” Kangsan meraih kaleng di dekat situ dan mengacungkannya ke atas.

“Mousse, sayang .. ,” jawab Minho setelah melirik sekilas.

“Apa boleh dimakan?” tanya Kangsan sambil menekan mulut kaleng.

“JANGAN, SAY!!”

Tapi terlambat, mousse dalam kaleng tersebut menyemprot kemana-mana. Kangsan tertawa terbahak-bahak setelah keterkejutan sesaat.

“Salju, appa .. Salju .. ,” teriaknya sambil menekan-nekan mousse dari atas meja dengan tangannya.

“Yaa—hentikan, San-a! Kau membuat seisi dapur berantakan .. “

“SALJU, SALJU!!” teriak Kangsan tanpa mempedulikan omelan Minho.

Tiba-tiba dia mengarahkan tangannya yang berlepotan mousse ke wajah Minho.

“Yaishh--,” pemuda itu berusaha menghindar, tapi percuma, tangan Kangsan mendarat di cuping hidungnya.

“Appa kayak badut .. ,” Kangsan tertawa terbahak-bahak.

“Badut?” Minho tak kuasa menahan senyumnya.


Dia mengambil kaleng mousse kemudian menyemprotkan cream ke telapak tangannya. “Kalau begitu, rasakan ini badut kecil .. “ Diangkatnya Kangsan ke atas meja, lalu menyapukan gumpalan mousse di tangannya ke wajah anak itu.

“APPA!!” protes Kangsan. Tangan-tangan mungilnya mengibas-ngibaskan tangan Minho berulangkali.

“Minta maaf, badut kecil .. “

“Anhi .. ,”tolak Kangsan.

“Kalau begitu, terima hukumannya .. “

Kali ini tidak hanya wajah Kangsan yang menjadi bulan-bulanan Minho, tapi juga perutnya. Minho mengelitiknya dengan gemas.

“Minta maaf?!”

“Anhi .. ha .. ha .. ,” Kangsan mengeliat-geliat kegelian.

Tanpa mereka sadari, Hyesun memperhatikan semua adegan tersebut dari balik pintu.


Bola matanya bergerak perlahan, dan airmatanya mengalir keluar. Dia terisak halus. Dihapusnya airmata tersebut dengan telapak tangannya. Kepalanya menunduk, bertemu dengan pandangan tak berkedip dari Yuri.

“Weeyo? Kau ingin main juga?” tanyanya halus.

Disentuhnya cuping hidung Yuri, kemudian dia tersenyum lembut.    


***** oOo *****



”SELAMAT MAKAN APPA, OMMA, HARABOJI DAN YURI DONGSENG!!” teriak Kangsan bersemangat.

“Ne, selamat makan, sayang .. ,” jawab yang disapa secara bersamaan.

Kangsan tersenyum dan mulai menyumpit piring yang terisi penuh oleh sushi di hadapannya.

“ENAK!!” jeritnya puas.

“Jaga suaramu, San-a .. ,” tegur Hyesun dari posisinya. “Nanti kau menakuti Yuri .. “


“O Jeongmal?” Mulut Kangsan mengangga. Dia segera berpaling kearah Yuri yang sedang digendong Mr. Lee. “Miane, dongseng-a ..”

Minho tertawa. “Sudah. Dimakan sushinya, San-a …”

“Ne .. ,” jawab Kangsan sambil menyumpit sushi lagi.

Minho mengalihkan perhatiannya pada Hyesun. “Setelah makan, bisa tinggal sebentar? Ada yang ingin kubicarakan .. “

Hyesun terlihat ragu-ragu. “Apa?”

Minho berdeham pelan. “Nanti saja kuceritakan .. “ Dia menunduk, meraih sepotong sushi, kemudian memasukkannya ke dalam mulut.

Mr. Lee melirik mereka dari seberang meja. Hanya sebentar, karna di saat berikutnya, dia sudah bermain kembali dengan Yuri. Ditiupnya tangan Yuri sehingga bayi berusia tiga bulan itu cekikikan.  


***** oOo *****



”Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Hyesun setelah berhasil menidurkan Yuri di atas ranjang.

Bayi kecil itu sempat rewel sehabis makan malam tadi. Dia berteriak-teriak dan menanggis dengan suara nyaring memekakkan telinga. Tidak mau ikut siapapun, bahkan dengan Mr. Lee yang sudah bermain seharian dengannya. Sedangkan Minho, hanya bisa gelabakan tak karuan melihat emosi putrinya yang besar— dia tidak menyangka bayi sekecil itu bisa merengek sehebat itu. Hyesun ikut kewalahan. Walaupun dia memahami benar emosi putrinya yang kadang-kadang tak terkendali kalau sudah tidak suka, tetap saja itu membuatnya kalang kabut.

Minho tidak segera menjawab pertanyaan Hyesun. Kepalanya terjulur mengamati putrinya yang tertidur lelap. Garis-garis mata yang panjang itu tampak masih digantungi bulir-bulir airmata yang belum kering.

“Dia biasa serewel itu?”

“Ne .. ,” jawab Hyesun pelan sambil memandang Yuri dari sebelah Minho. “Jangan tertipu oleh paras dan senyumannya …”

“Benar juga.” Minho mengulum senyum. “Saya kaget setengah mati tadi. Tidak mengira wajah malaikat ini kalau rewel bisa sedasyat itu .. “

Hyesun ikut tersenyum. Sejujurnya, dia juga tidak begitu mengerti mengapa emosi Yuri bisa begitu besar. Dia sudah memeriksakan putrinya itu ke dokter, dan kata beberapa dokter yang didatanginya, Yuri normal-normal saja. Sejak saat itu, dia selalu menghibur diri dengan satu jawaban. Mungkin perngaruh dari kandungan. Memang, sewaktu mengandung Yuri, emosinya sendiri sering tak terkendali. Dia marah dan sedih. Benci dan terluka. Tidak hanya pada Minho, namun juga pada dirinya sendiri—parahnya, bahkan pada dunia.

“Jadi, apa sebenarnya yang ingin kau bicarakan?” Hyesun mengulangi pertanyaannya tadi.

Minho menoleh padanya. Tidak menjawab, dia malahan berjalan ke meja teh di tengah ruangan. Dia menjatuhkan diri ke salah kursi di sana dan kembali menikmati secangkir capuccino yang sempat ditinggalkannya tadi. Diraupnya buih-buih susu dari cangkir dengan sendok kecil di tangannya kemudian dimasukkan ke dalam mulut.


Hyesun mengikuti segala gerak-gerik Minho dari sudut matanya. Keningnya berkerut. Dia tidak suka dianggap angin lalu ataupun barang yang transparan oleh Minho.

“Jika kau tidak ngomong juga, aku akan keluar dari sini!” ancamnya dengan mata mendelik.

Minho tersentak. Secepat kilat dijatuhkannya sendok dalam genggamannya.

“Jangan, baby!!”

Dia meloncat bangun sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar—seakan takut Hyesun akan melakukan ancamannya.

“Saya sedang memikirkan cara yang tepat untuk mengutarakannya, jadi .. please, jangan pergi .. ,” sambungnya dengan suara memelas.

Hyesun menghela nafas. Disingkirkannya tangan Minho yang menghalangi jalannya. Pemuda itu terbelalak lebar—mengira Hyesun benaran akan keluar dari kamar itu. Tapi dia salah. Hyesun memutar tubuh kemudian menjatuhkan diri ke kursi di sebelahnya.

“Kalau begitu, katakanlah sekarang! Kami masih harus kembali ke Katada’s Palace. Kau tahu sendiri, tempat itu tidak dekat .. “

Minho menatap Hyesun sendu. Apa rencana itu tidak bisa dirubah sedikitpun? Apa tidak bisa menetap di sini barang sehari saja? Ingin dia menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini. Tapi melihat kesungguhan Hyesun, dia sadar belum saatnya dia mengutarakan maksud ini.

Minho bergerak ke seberang ruangan. Diliriknya Yuri sekilas. Bayi itu masih tertidur lelap di ranjangnya. Minho tersenyum. Kemudian dia mengalihkan perhatian ke lemari pendek dekat ranjang. Dia agak membungkuk ketika membuka salah satu laci dari lemari itu. Sebuah kotak dari kayu berkilat dikeluarkannya. Kotak berisi cincin yang dibelinya setahun yang lalu, yang senantiasa menemaninya melewati masa setahun yang menyesakkan ini, yang untuk pertamakalinya rela dilepaskan dari tubuhnya setelah pertemuannya kembali dengan Hyesun. Dia membawa kotak tersebut dan menyodorkannya pada Hyesun.

“Mwo?” tanya wanita itu tak mengerti.

“Untukmu .. ,” jawab Minho pelan. Sudah terbayang dalam pikirannya reaksi Hyesun selanjutnya.

Hyesun menerima kotak tersebut dengan ragu-ragu. Ditatapnya Minho sesaat, kemudian dibukanya kotak itu. Mulutnya mengangga begitu mendapatkan sepasang cincin tersimpan rapi di sana.

“Ini … ,” suaranya tak keluar. Selama beberapa detik dia tidak bergerak. Kemudian tampangnya berubah keras. Perlahan-lahan ditutupnya kotak itu. “Saya tidak bisa menerimanya .. ,” disodorkannya kembali kotak cincin itu pada Minho.

“Baby … ,” Ya, sudah dikiranya. Minho mendesah.

“Saya tidak bisa menerima cincin ini. Saya .. saya tidak ingin terikat apapun denganmu.. “

Minho menyentuh tangan Hyesun. “Bukan bermaksud apa-apa, jadi terimalah.. please, .. ,” katanya menyayat. “Anggap saja sebagai ucapan terimakasihku telah memberikan Yuri padaku .. “

Hyesun mengatupkan gerahamnya. “Melahirkan Yuri adalah keputusanku. Tidak ada sangkut-pautnya denganmu .. ,” lanjutnya ketus.

“Baby .. ,” Minho menjatuhkan pandangan ke kotak di tangan Hyesun. “Tahukah kau bahwa cincin ini sudah kubeli lama sekali--sebelum kepergianmu. Semula memang dengan maksud melamarmu tapi sekarang, .. saya sudah tidak mengharapkannya lagi. Mereka akan lebih berarti jika kujadikan sarana pengucapan terimakasih padamu .. “

Hyesun tertegun. Cincin ini dibeli Minho setahun yang lalu? Dengan maksud melamarnya? Berarti benar, … dia serius selama ini? .. Tapi, setelah dipikir, apakah egonya mampu menerima pernyataan ini? Menerimanya tanpa dihantui perasaan bersalah? Ditambah, apa adil terhadap Minho jika dia melakukannya? Tidak! Hyesun mengeleng sekeras-kerasnya.

“Wegude, baby?” tanya Minho khawatir. “Gwencana?”

“Benar hanya sebagai ucapan terimakasih?” Hyesun balas bertanya.

Minho mengangguk pelan. Alisnya berkerut. Dia tidak mengerti mengapa Hyesun menanyakan pertanyaan ini. Bukankah dia sudah mengatakannya dengan sangat jelas?

Hyesun menarik tangannya. “Kalau begitu, saya menerimanya .. “

Mata Minho melebar—tak percaya. “Jeongmal?”

“Ne .. ,” ujar Hyesun tanpa berani membalas pandangan Minho.

Pemuda itu tersenyum. “Gumawo .. ,” katanya berupa desahan.

Dia terlalu bahagia untuk berteriak, ataupun bersorak. Berlainan dengan persetujuian Hyesun ketika menerima permintaan makan malam yang diutarakannya tadi, keputusan ini lebih dari segalanya. Kedua hal ini sangat berbeda. Kali ini, Hyesun seakan bisa melihat ketulusannya, kemurnian perasaannya. Mau menerima cincin yang diperolehnya dengan susah payah—yang sangat dicintai sekaligus telah menemaninya hampir selama setahun lamanya. Walaupun kekasihnya ini belum bersedia menerima cintanya kembali, namun paling tidak dia menghargai ucapan terimakasihnya. Untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup buat Minho.

“Gumawo, baby .. “

Hyesun berdeham membersihkan tenggorokannya.

“Saya .. saya melihat Yuri dulu .. ,” katanya kikuk. Kotak kayu tersebut dimasukkannya ke dalam tas yang tergeletak di atas meja. Dia memutar tubuh kemudian berjalan lebar kearah ranjang.

Minho mengangguk. “Malam ini kau menginap di sini, kan?” tanyanya dengan nada dibuat sewajar mungkin.

“Mwo?” langkah Hyesun terhenti. Dia berbalik, “Apa katamu?” tanyanya dengan alis berkerut.

Minho terbatuk kecil. “Menginap di sini .. ,” ulangnya pelan.

“Anniyo!” Hyesun mengeleng dengan cepat. “Saya tidak pernah berkata seperti itu .. “

“Saya tahu .. ,” sela Minho. “Saya sadar kau tidak akan mengabulkannya, baby, tapi … saya benar-benar berharap kau bisa menginap di sini malam ini .. ,” lanjutnya sambil menatap Hyesun lekat-lekat. “Saya ingin menghabiskan waktu yang hilang selama setahun ini bersama Yuri dan San. Dan saya yakin appa juga. Kau bisa melihat sendiri bagaimana bahagianya beliau .. “

Hyesun tidak menyahut. Rautnya masih terlihat keras. Dia tidak membalas tatapan Minho, tidak juga bergeming terhadap penjelasan-penjelasannya.

“Bukankah kau pernah berkata begini, baby .. ,” lanjut Minho sambil mendekati Hyesun. “ … bahwa kau berharap bisa melihatku berbaikan kembali dengan appa? Kau berharap aku bisa memaafkannya? Itu yang kau harapkan, bukan?” ditatapnya Hyesun dengan seksama. “Aku mencobanya selama setahun ini, berusaha dengan sangat keras, tapi aku tidak berhasil, baby. Ganjalan-ganjalan itu tetap ada .. “

Hyesun mengangkat wajah, menghadapi Minho.

“Kau tahu kenapa?” sambung Minho lagi. “Itu karena tidak ada kau di sisiku. Aku tidak bisa berbuat apapun tanpamu .. tidak berarti apapun .. ,” dia menarik nafas dalam-dalam sambil mengeleng perlahan. “Perjalanan selama setahun itu sangat berat .. ,” pikiran Minho melayang, kembali ke masa lalu. “Aku selalu berdoa kau tiba-tiba muncul di hadapanku waktu itu. Tersenyum dan berkata padaku, ‘bogoshipo, Minho-a’ … kemudian memelukku erat-erat. Sumpah, aku bisa melupakan semua yang terjadi selama setahun ini jika kejadian itu sungguh terjadi .. tapi sayang, semua hanya harapan dan impianku saja .. Hanya bayangan kelabu yang senantiasa mewarnai pikiranku .., bayangan yang tidak pernah terwujud .. “ Minho mendesah, kemudian menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Hyesun bergerak sedikit. Sungguh, ingin rasanya dia memeluk tubuh jangkung di hadapannya saat ini. Ingin dia berkata, ‘bogoshipo, Minho-a’—seperti yang diharapkannya. Ingin menengadahkan wajah yang tertunduk itu dengan kedua tangannya. Mengelus pipi dan mengecup lembut cuping hidungnya yang agak memerah itu. Tapi dia tahu, tidak boleh melakukannya. Sekali dia mengambil langkah ini, dia tidak bisa berbalik lagi. Perasaan takut kehilangan seperti yang sudah-sudah itu terlalu kuat menguasai hatinya. Yang bisa disuarakannya dalam hati saat ini, hanya kata, ‘Miane, Minho-a’.

“Saya yakin kehadiran anak-anak bisa mencairkan hubungan di antara kami .. ,” lanjutan Minho membuyarkan lamunan Hyesun. Ditatapnya pemuda yang sekarang sudah mengangkat wajahnya itu. “Karena itu saya minta, tinggal-lah di sini .. malam ini .. “, pinta Minho.

Hyesun tidak menjawab. Dia berpikir untuk waktu yang cukup lama. Lima menit berlalu dan Minho tetap setia menunggu jawabannya. Sampai akhirnya Hyesun menghembuskan nafas, kemudian menjawab.

“Baiklah. Tapi hanya untuk malam ini—tidak lebih .. “

“Yeahh—“ Minho menempelkan sepasang lengannya sambil menghentaknya ke belakang. Dia berseru keras. Bagian di sekitar hidungnya berkerut sangat dalam ketika dia melakukan pose ini.

“Ssuttss .. ,” Hyesun langsung menempelkan telunjuknya di bibir. “Kau bisa membangunkan Yuri!” tegurnya dengan kening berkenyit.

“Upss!!” Minho ikut membungkam mulutnya dengan tangan. “Miane .. ,” katanya pelan.

Hyesun mengelengkan kepalanya. “Kau masih seperti anak kecil saja .. tidak berubah .. “

“Saya begini karna kau di sisiku .. ,” sahut Minho apa adanya.

Hyesun kembali mengelengkan kepalanya. Entah harus marah atau geli kalau sudah menghadapi tingkah laku Minho yang seperti ini. Dia mengalihkan perhatian pada Yuri. Selimut yang menutupi tubuh mungil putrinya agak tersibak. Hyesun meraih ujung selimut kecil itu kemudian membetulkan posisinya pada tubuh Yuri.

“Sabtu depan kau pergi dengan siapa, baby? Apa kadonya sudah siap? Jika belum, bagaimana kalau kita beli bersama?” Minho sampai di sebelah Hyesun. Pemuda itu tersenyum begitu melihat Yuri mengerak-gerakkan bibir mungilnya. “Ha .. ha .. menurutmu apa yang dimimpikannya?”

Hyesun menghentikan kesibukannya. “Kado?” ulangnya, tanpa mempedulikan pertanyaan terakhir Minho. Pertanyaan-pertanyaan awalnya lebih menarik perhatiannya. “Apa maksudmu dengan kado? Memangnya ada yang ulang tahun? Siapa?”

Minho mengerutkan alisnya. “Apa kau belum tahu?” dia balas bertanya.

Hyesun mengeleng perlahan.

“Kau belum menemui Soeun?” tanya Minho lagi. “Apa dia tidak tahu kepulanganmu ke Seoul?” sambungnya keheranan.

Sekali lagi Hyesun mengeleng. “Saya bermaksud mengunjunginya beberapa hari lagi. Saya terlalu sibuk. Memangnya kenapa?”

Minho melebarkan matanya. “Sahabat karib sendiri?” tanyanya tak percaya.

“Yaa—sudah kubilang terlalu sibuk .. ,” protes Hyesun. “Katakan sekarang, ada apa dengan Soeun?”

“Kau tak tahu dia akan menikah hari sabtu nanti?” lanjut Minho.

“MWO?!” Hyesun melotot. Bola matanya seakan mau tanggal dari rongganya. “Apa katamu? Soeun menikah?”

“Ne .. ,” jawab Minho. “Saya kira kau sudah tahu .. “

Hyesun mengeleng lemas. Tubuhnya lunglai ketika dijatuhkan di atas ranjang.


“Kau akan menghadiri acara pernikahannya?”

Hyesun menganggukan kepala perlahan.

“Perlu kujemput?” Minho menatapnya pedih.

Hyesun mengangguk lagi.

“Besok kita cari kado buatnya … “

“Ne .. ,” Hyesun mendesah. Pertama kalinya dia mengeluarkan suara setelah kabar mengemparkan tadi. “Gumawo .. ,” katanya pada Minho.

Pemuda itu menyentuh pundaknya. “Gwencanayo .. Soeun tidak akan menyalahkanmu untuk itu, percayalah!”

Hyesun mengigit bibirnya. “Gomawo .. ,” hanya kata terimakasih itu yang dapat dikeluarkannya.

Tiba-tiba Minho menariknya ke dalam pelukan. “Gwencana, baby .. gwencana .. “

Hyesun memejamkan matanya. Tanpa sadar, kepalanya menyandar ke dada Minho.  

  
***** oOo *****
« Last Edit: December 10, 2010, 09:50:50 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
Aduh mami trims buat updateannya...itu hyesun ngomong nga..nga aja nolak permintaan mino tpi akhirnya ngeiyahin juga gmna sih hyesun mau apa nga si ma mino..next yg diupdate si ranjang ya mi...cayoo..mam si ABK tagih updatean secara mami kan uda update bengkok abis dia hiatusnya lama bnget..ok..ok..ok

Chainezz_Vian

  • Guest
Gumawo mii [flowers]           
uo, Love 119   mamii tau aja lagu yg bagus. Salah satu lagu favorit aQ loh mii [lovestruck]               
         
yahh, aQ pikir d chap nie. Hye sun uda mau balik ama minong lagii, ckck. Pala batu bnget ya mii c hye sun.   Tapii gpp dech, uda mulai ada kmajuan. . .   Tar nyari kado breng do0nx mii. .  Asik.    Mino pasti gk bkal nyia-nyia'in kesempatan langkah ky gini kn. . .   Yuppy >.<       
         
duh. Jd gk sbar nie ama next chap'a. . .    Mii go update rath Hot. Hwaiting! [lovestruck]